.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Warning : T Rate/AU/Typo(s)/OOC (maybe)/Hinata-centric/Multi hint/Dark ending

Main Pair : SasukexHinata

Genres : Romance/Mystery/Horror/Friendship/Hurt-comfort/Angst

.

Only Doll Still Doll

Chapter 24

.

Di dalam mobil

Mobil hitam itu meluncur cepat menyusul mobil Orochimaru yang juga sedang melaju kencang di depan. Sakura memasang mimik tegang dan tatapannya terus tertuju ke arah depan. Gadis itu mengeratkan tangannya yang sudah dibanjiri keringat.

"Sakura, sebenarnya ada apa? Bisa kau menjelaskan apa yang terjadi pada kami?" tanya Sasuke yang merasa tidak tenang melihat tingkah Sakura yang begitu gelisah.

"Aku takut, kalau Orochimaru-sensei merencanakan untuk menjadikan Hinata sebagai tumbal," jawab Sakura yang sukses membuat ketiga pemuda yang berada di dalam mobil itu sangat terkejut dan bertanya-tanya, ada apa sebenarnya ini.

"Apa maksudmu menjadikan Hinata tumbal? Memangnya apa yang mau dilakukan Orochimaru-sensei padanya?" tanya Sasuke dengan tidak sabaran dan firasat buruknya semakin menjadi-jadi.

"Sebenarnya aku adalah seorang shaman dari Otogakure..." Sakura akhirnya membongkar identitas siapa dirinya. "Orochimaru-sensei merekomendasikanku untuk sekolah di Konoha dengan satu syarat, yaitu...," Neji, Sai dan Sasuke mendengarkan penjelasan gadis itu dengan seksama, "dengan menyegel boneka milik Hinata yang didiami oleh roh jahat," lanjutnya.

"Aha! Sudah kuduga sejak awal kalau boneka itu memang 'berpenghuni!'" Sai malah berseru bangga karena dugaannya selama ini benar. Neji dan Sasuke sempat melirik tajam ke arahnya.

"Ops, maaf. Silahkan dilanjutkan." Sai langsung terdiam begitu mendapat deathglare dari kedua temannya dan meminta Sakura untuk kembali bercerita.

"Orochimaru-sensei sempat mengutarakan kekhawatirannya pada Hinata, karena dia selalu tertimpa nasib buruk, dan dia mencurigai kalau nasib buruk Hinata terjadi karena boneka kutukan yang ia temui di sekolah." Sakura menceritakan mengenai informasi yang ia dapat dari Orochimaru. "Tapi setelah berbicara dengan Hinata, reaksinya berbeda..." Sakura masih bisa mengingat dengan jelas senyuman yang terukir tipis pada bibir gadis itu tatkala mereka membicarakan tentang boneka tersebut.

"Apa yang dikatakannya?" Sasuke bertanya dengan rasa penasaran. Dia juga ingin tahu bagaimana perasaan Hinata terhadap boneka itu.

"Hinata bilang kalau dia selalu merasa nyaman dan sudah menganggap Aka-chan sebagai temannya..." Sakura terdiam sesaat dan kemudian tertunduk sedih.

"Nasib buruk dan kesialan yang dialami Hinata itu tidak ada hubungannya dengan boneka atau roh apa pun, tapi hal itu karena dari Hinata sendiri," sambar Neji secara tiba-tiba.

"Jangan bicara begitu kepada Hinata. Biar bagaimana pun, dia itu masih saudaramu Neji!" sambar Sai yang tidak suka dengan cara bicara Neji yang lebih tepat dibilang seperti sedang memberi kutukan pada Hinata.

"Aku tidak mengada-ngada, karena Hinata tidak seharusnya berada di dunia ini," balas Neji dengan enteng dan sukses membuat Sai, juga Sasuke naik pitam.

"Apa maksudmu bicara seperti itu, Neji?" geram Sasuke, tapi masih ditahannya emosi yang nyaris meledak keluar itu.

"Hinata bukan bagian dari dunia manusia ini, tapi dia berasal dari dunia lain." Entah apa yang dikatakan Neji itu benar atau tidak, tapi penuturannya mampu membuat ketiga orang lainnya mengernyit.

"Jangan bicara sembarangan, Neji!" balas Sai sambil geleng-geleng. Sebegitu bencinya kah, Neji kepada Hinata, sampai-sampai pemuda itu dengan tega menyatakan Hinata dari dunia lain.

"Aku juga tidak sedang asal bicara!" ketus Neji agak kesal karena sepertinya dari tadi tidak ada yang mempercayai omongannya.

"15 tahun yang lalu kedua orang tuaku dititipkan seorang bayi perempuan yang dibawa oleh seorang wanita, dan wanita itu bukanlah manusia..." Neji kembali mengenang cerita yang didengarnya dari Hiashi, paman sekaligus ayah Hinata.

Flashback

Saat itu Neji masih berusia 10 tahun, ketika ia sedang mengunjungi makam kedua orang tuanya, tanpa sengaja ia mendengar semua penuturan Hiashi mengenai apa yang menyebabkan kematian kedua orang tuanya. Jelas sekali ia mendengar kalau Hiashi menyebut Hinata adalah anak dari dunia lain yang dititipkan kepada keluarga mereka.

"Paman..., apa itu benar?" tanya Neji mempertanyakan kebenaran ucapan Hiashi.

"Ne-Neji? Sejak kapan kau ada di situ? Apa kau mendengar semuanya?" Hiashi sangat terkejut saat mendapati sosok bocah laki-laki berusia 10 tahun itu sudah berada di belakangnya.

"Cukup untuk mendengar semua ceritamu, Paman," jawab Neji kalem tapi jelas tersirat rasa penasaran dari sorot mata itu. "Jadi, apa benar kalau kematian orang tuaku karena Hinata?" tanya Neji dengan datar.

"Semua ini bukan salah Hinata, Neji. Tapi orang-orang yang mengejar Hinata." Hiashi mencoba meralat pemahaman Neji yang seolah-olah menyalahkan Hinata atas kematian kedua orang tuanya.

"Sama saja 'kan? Orang-orang itu mencari Hinata dan yang terkena imbasnya adalah kedua orang tuaku." Neji mulai bicara dengan nada suara yang meninggi. Ia mengepalkan erat tangannya dan mulai memupuk rasa kebenciannya pada Hinata.

"Aku tidak akan pernah memaafkan Hinata...!" Neji meluapkan amarahnya. Bocah laki-laki itu berteriak sambil menangis, dan tak lama ia berlari menjauhi Hiashi.

Sejak saat itu Neji jadi selalu bersikap dingin kepada Hinata atas dasar kebencian.

End Flashback

"Kalau yang dikatakan Neji itu benar, berarti semuanya jadi masuk akal tentang nasib buruk yang selalu menaungi Hinata...," ucap Sakura sambil berpikir.

"Apa maksudmu dengan masuk akal?" Sai melirik ke arah Sakura.

"Penyebab Hinata mengalami nasib buruk dan kesialan karena sebenarnya keberadaan dirinya di dunia manusia tidak diperhitungkan dan aura buruk itu berasal dari Hinata sendiri. Kehadiran Hinata di dunia manusia, merusak keseimbangan dunia..." Sakura mulai berteka-teki. Ada suatu penjelasan yang sepertinya ia sembunyikan. Tetapi Sasuke adalah orang yang pintar. Dia dapat menangkap apa maksud dari penjelasan Sakura.

"Jangan main-main! Kau mau bilang kalau Hinata itu adalah iblis? Begitu maksud kalian, hah!?" Sasuke terbakar emosi. Matanya menatap nanar ke arah kaca spion dan menatap Sakura serta Neji langsung.

Neji dan Sakura terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Sementara Sai saat ini sedang berkutat dalam pikirannya sendiri.

"Itu baru dugaan saja, Sasuke...," gumam Sakura sambil tertunduk lesu. Dia juga tidak tahu, apakah Hinata memang benar-benar iblis atau bukan.

"Hinata bukan iblis!" sambar Sasuke dengan cepat sambil setengah menoleh ke belakang. Sakura langsung terdiam begitu dibentak oleh sang raven. Suasana di dalam mobil menjadi hening.

'Tidak, Hinata bukan iblis. Dia adalah manusia, dia tidak mungkin seorang iblis. Aku tidak mau mempercayainya!' berkali-kali Sasuke menepis perasaan itu.

Sasuke teringat kembali akan sosok Hinata yang selama ini dikenalnya. Bagaimana cara gadis itu tersenyum, berjalan dan bersikap pada orang-orang sekitar, apalagi ketika bibir itu merekah, melepas tawa. Hinata adalah sosok yang rapuh bagai kupu-kupu, namun disaat yang sama ia juga kuat bagaikan tembok raksasa. Gadis itu mewarisi keelokan seekor kupu-kupu yang berterbangan dengan warna-warninya yang mengagumkan, juga ketahanan yang luar biasa.

Tidak mungkin gadis seperti itu adalah iblis, mahkluk yang berasal dari dunia bawah dan merupakan penghisap energi manusia dan selalu menebarkan kejahatan serta kegelapan di dunia. Hinata tidak seperti itu. Karena dia selalu membawa kebaikan dan kelembutan bagaikan malaikat.

'Aku harus cepat menemui Hinata di mana pun dia berada!' Sasuke menginjak gas mobilnya untuk memacu kecepatan. Ia benar-benar ingin bertemu dengan Hinata saat ini dan memastikan semuanya.

"Sial! Kenapa si teme itu ngebut sekali?" Naruto yang mengikuti mobil Sasuke dari belakang tampak terkejut ketika tiba-tiba mobil itu melaju kencang.

"Sakura, ada baiknya kau coba menghubungi Hinata dan tanya posisinya di mana sekarang," ucap Sai mengusulkan karena mereka mulai kehilangan jejak mobilnya Orochimaru.

Sakura mengangguk dan melakukan apa yang diusulkan oleh Sai. Tapi berkali-kali ia menekan nomor Hinata, gadis itu sama sekali tidak mendapat respon. Hal itu membuat Sakura dan yang lainnya semakin cemas.

"Tidak ada jawaban..." Suara Sakura terdengar lemah. Dia benar-benar sedang memikirkan nasib temannya itu.

"Sial! Kalau begini bagaimana caranya kita mencari Hinata?" Sasuke berteriak frustasi.

"Tenang saja, aku bisa melacak keberadaan Hinata dari segel emas yang terpasang pada tubuh boneka itu." Sepertinya mereka masih bisa mengharapkan kemampuan Sakura.

"Tolong ya, Sakura." Untuk pertama kalinya Sasuke memberikan kepercayaan seutuhnya kepada orang lain.

"Serahkan saja padaku." Sakura mengangguk mantap.


Di sisi lain Hinata sudah sampai di suatu tempat yang asing di matanya. Kini ia berada di depan sebuah gedung tua yang tampaknya seperti bekas gedung sekolah. Bagian halamannya ditumbuhi oleh ilalang serta tanaman liar, sementara bagian pagarnya sudah ditumbuhi lumut dan tanaman jalar. Cat gedung yang sudah mengelupas di sana-sini dengan warna pudar, serta beberapa pohon besar yang tak terurus membuat gedung itu tampak menakutkan.

"Hinata, ayo turun." Orochimaru membukakan pintu mobil ketika dilihatnya Hinata masih berada di dalam sambil memandang ke arah luar jendela.

"Ba-baik," balas Hinata yang akhirnya mau tak mau turun dari mobil, meskipun jujur ada rasa ragu dalam benaknya. Hinata benar-benar ingin pulang.

"A-ano, Orochimaru-sensei..., kenapa kita harus ke tempat ini?" tanya Hinata dengan perasaan heran. Dari sekian banyak tempat, kenapa Orochimaru harus memilih bangunan tua yang sudah dimakan usia dan tidak terawat seperti ini.

Hinata berdiri sambil menatap gedung besar itu dengan perasaan takut. Berkali-kali dalam hati ia berdoa agar dirinya terselamatkan dan bisa segera menyelesaikan urusannya serta pulang bersama dengan Aka-chan.

"Hinata, tenanglah." Laki-laki itu menyadari kalau Hinata tengah gelisah. Ia menepuk pundak kecil sang gadis, berusaha meyakinkannya. "Kita di sini hanya untuk membuktikan kutukan pada Aka-chan 'kan? Kau tidak perlu khawatir karena aku akan menjagamu, Hinata." Pria itu tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. Oh, dia benar-benar bagaikan serigala yang sedang menyamar menjadi domba untuk memakan sang gadis indigo.

"Ayo masuk." Kemudian ia melangkah masuk ke dalam halaman sekolah, beserta Hinata yang terpaksa mengikuti Orochimaru. Dia akan mengikuti pria itu kemana pun selama Aka-chan masih berada di tangannya.

...

Selang beberapa menit Sasuke tiba di tempat bersamaan dengan mobil Naruto yang berhenti tepat hanya berjarak satu meter di belakangnya. Dengan tergesa pemuda pirang itu segera turun dari mobil dan menghampiri rombongan Sasuke.

"Bukankah ini gedung sekolah lama Konoha? Kenapa Orochimaru membawa Hinata kemari?" Sai memandang ke arah gedung dengan tatapan ngeri, dan pertanyaan yang sama juga terbesit dalam hati teman-temannya yang lain.

"Jadi, Hinata di dalam? Kalau begitu untuk apa kita berdiri di sini? Ayo masuk!" Naruto, seperti biasa selalu tergesa-gesa. Pemuda itu lekas melangkahkan kedua kakinya menuju gerbang sekolah yang terbuka sedikit pada bagian tengahnya.

"Naruto, tunggu dulu! Kau tidak bisa masuk begitu saja!" Sakura berusaha menarik baju seragam sang pemuda, mencoba untuk menahannya, karena ada sesuatu yang tidak diketahui oleh teman-temannya yang lain.

"Hei, lepaskan tanganmu dariku! Aku harus segera masuk ke sana untuk menolong Hinata!" dengan cepat ditepisnya tangan gadis bersurai pink itu.

Naruto kembali melangkahkah kakinya untuk melewati pagar, akan tetapi baru sampai di depannya, mendadak tubuh dan kedua kakinya tidak dapat ia gerakkan.

"A-ada apa ini? Ke-kenapa tubuhku jadi kaku begini?" Naruto jadi kebingungan kenapa tiba-tiba saja tubuhnya jadi bisa sekeras batu dan sangat sulit baginya untuk bergerak.

"Naruto, kau jangan bercanda!" Sai yang keheranan melihat tingkah Naruto langsung berjalan mendekatinya.

"Aku tidak bercanda, Sai! Tolong bantu aku!" dari nada suaranya yang begitu panik, tampaknya Naruto memang tidak sedang bercanda.

Sai yang awalnya ingin membantu Naruto, malah berakhir sama dengan pemuda itu. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa kaku semua, seperti ada sesuatu yang menahannya agar tidak bisa bergerak. Walhasil, Sai hanya bisa diam saja di tempat.

"Aku juga tidak dapat bergerak!" ucapnya sambil menoleh ke arah tiga temannya yang lain, meminta pertolongan.

Neji maju, mencoba untuk menarik Sai, tapi lagi-lagi, hal yang sama terjadi kepadanya. Tubuh Neji juga tidak dapat digerakkan, dan dia persis berdiri diam di sebelah Sai.

"Apa-apaan ini? Apa tiba-tiba saja kita terserang penyakit diam menular?" celetuk Naruto secara asal.

"Sakura, apa kau melihat mereka?" tanya Sasuke sambil melirik ke arah Sakura yang berdiri di belakangnya.

"Eh?" Sakura sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasuke. 'Tunggu dulu, jangan-jangan Sasuke...' Sakura mulai merasa curiga pada Sasuke.

"Apa kau juga bisa melihat 'mereka' Sasuke?" tanya Sakura dan Sasuke mengangguk cepat.

"Hei, kalian berdua itu sedang bicara apa? Cepat bantu kami!" Naruto berteriak gusar melihat Sasuke dan Sakura malah diam dan membicarakan sesuatu yang tidak ia mengerti.

"Diamlah, Naruto!" bukannya menjawab, Sasuke malah menyuruh Naruto untuk diam yang sukses membuat pemuda itu menggerutu tentang keangkuhan Uchiha.

Sekelebat sepasang onyx itu berubah menjadi merah darah, dan hal itu dilihat oleh teman-temannya yang lain. Sasuke menggunakan kekuatan api suci untuk melenyapkan roh-roh yang sedang memegangi tubuh ketiga temannya.

'Sasuke memiliki kekuatan api suci? Aku benar-benar tidak menyangka...' Sakura dibuat takjub saat melihat kekuatan Sasuke. Api suci adalah kekuatan penyegelan roh suci yang sudah sangat kuno dan konon katanya hanya diwariskan secara turun-temurun lewat beberapa keluarga saja.

Setelah roh-roh itu lenyap, Naruto, Sai dan juga Neji dapat kembali menggerakkan tubuhnya. Ketiganya menatap heran ke arah Sasuke. Meski tidak mengerti, tapi mereka tahu kalau barusan saja Sasuke melakukan sesuatu sehingga mereka dapat bergerak kembali.

"Apa yang sebenarnya terjadi...?" tanya Sai, bingung bagaimana pertanyaan itu seharusnya dilontarkan.

"Perlu kalian ketahui, kalau tempat ini dihuni oleh puluhan..., bukan, maksudku mungkin ratusan mahkluk astral," ucap Sakura dengan wajah serius dan sukses membuat Naruto menelan ludahnya, agak gentar setelah mendengar penjelasan Sakura.

"Ja-jangan main-main!" Naruto tampak jelas ketakutan.

"Sepertinya kita tidak punya pilihan lain..." Sakura mengeluarkan beberapa kertas mantra yang ia bawa dari dalam tasnya.

"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Naruto setengah protes saat Sakura memukul-mukulkan kertas-kertas itu tepat di depan wajahnya.

"Aku akan membuka mata batin kalian," jawab Sakura dan langsung meminta Naruto untuk diam agar dia bisa berkonsentrasi penuh.

...

Sementara itu Hinata yang sedang berada di dalam ruangan mengikuti Orochimaru dari belakang dengan perasaan yang benar-benar tidak enak. Dia ingin segera berbalik, berlari keluar, tapi dia sudah terlanjur masuk ke dalam kegelapan ruangan. Ia tak mungkin lagi berlari lagi, seakan ini adalah takdirnya yang tak bisa ia hindari.

Sesekali iris lavender itu bergerak, melirik ke arah Aka-chan yang berada dalam genggaman Orochimaru. Rasanya dia ingin sekali memeluk Aka-chan untuk menyalurkan rasa gelisahnya kini. Entah mengapa dia merasa akan terjadi sesuatu yang buruk.

"Kita sudah sampai. Masuklah, Hinata."

Orochimaru menggiring Hinata masuk ke dalam sebuah ruangan yang kemungkinan dulunya adalah sebuah ruangan kelas. Hal itu dapat dilihat dari meja-meja serta bangku-bangku yang sudah sangat berdebu dan tak beraturan berjajar sembarangan.

"O-Orochimaru-sensei..., apa yang mau ki-kita lakukan di sini?" tanya Hinata sambil mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan.

Gadis itu berdiri di tengah-tengah ruangan dan tidak menyadari kalau sang guru sedang menyusun sebuah muslihat untuk dirinya. Disaat gadis itu lengah dan tidak memperhatikan Orochimaru, pria itu mendekat, dan...

BUGH!

Orochimaru memukul tengkuk rapuh Hinata dan berhasil membuat gadis itu pingsan.

"Yuka, aku membawa Hinata seperti keinginanmu. Selebihnya aku tidak mau ikut campur." Orochimaru menyebut nama Yuka, siapa lagi kalau bukan Akasuna Yuka, iblis wanita yang memang sedang mengincar Hinata.

"Heh, kuhargai usahamu ini, Orochimaru." Sosok Yuka kemudian muncul, berdiri di sebelah tubuh Hinata, tampak menyeringai puas karena telah mendapatkan korbannya.

Orochimaru meninggalkan Hinata di dalam ruangan itu bersama Yuka. Ia berjalan keluar menuju ke lantai atap gedung sambil membawa Sasori.

.

.

Drap... Drap... Drap... Drap...!

Keempat remaja itu berlari menelusuri ruangan demi ruangan untuk mencari Hinata dengan sesekali menghindari para mahkluk penghuni dari gedung tersebut. Sai, Neji dan Naruto berlari di posisi depan, sementara Sakura dan Sasuke melindungi dari belakang dengan kekuatan mereka.

"Aku dapat merasakan sinyal kekuatan dari segel itu berada pada bagian paling atas dari tempat ini!" seru Sakura dengan yakin.

"Maksudmu, Hinata ada di lantai paling atas?" Sasuke melirik Sakura yang sedang berlari di sebelahnya dan ditanggapi oleh anggukan cepat oleh gadis itu.

"Tunggu apa lagi, ayo kita ke sana!" Naruto memacu langkahnya lebih cepat.

.

.

Di dalam ruangan itu Hinata terbaring tak berdaya, tidak sadarkan diri. Sementara sosok Akasuna Yuka sedang mengulurkan tangannya, berniat untuk mengambil jantung Hinata yang sudah lama dia incar. Dia akan melakukan hal yang pernah ia lakukan rerhadap Sasori kepada Hinata.

Tangannya bergerak semakin mendekat, hingga pada akhirnya tangan itu menembus kulit kulit mulus gadis itu dan mulai secara perlahan merangsek masuk. Darah terciprat pada wajah pucat Akasuna Yuka yang tengah menyeringai. Sebentar lagi, jantung itu akan segera menjadi miliknya.


Atap gedung sekolah

Orochimaru meletakkan tubuh boneka itu di tengah-tengah dan memerintahkan Manda untuk membuat lingkaran segel dari darahnya. Setelah lingkaran itu terbentuk Orochimaru menggunakan kekuatannya untuk kembali menyadarkan sosok Sasori dari dalam tubuh boneka tersebut.

Sasori kembali menampakkan wujudnya yang sedang terikat benang segel itu di dalam lingkaran yang telah dibuat oleh Orochimaru. Sosok itu tampak dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan. Ia menatap Orochimaru dengan sengit ketika pria itu berjalan mendekatinya.

"Koroshite...!" Sasori menatap tajam ke arah Orochimaru, seakan menantangnya. (Koroshite : Kill me/bunuh aku).

"Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu, karena kau tahu kalau aku menginginkan kekuatanmu itu 'kan." Orochimaru menyeringai senang. Ini adalah saat-saat yang dinantikannya, saat di mana dia mendapatkan keabadian itu.

"Watashi wa..., anata no ni naritakunai..." Meski Sasori berada dalam keadaan tak bisa melawan. Dia tetap menolak tegas dan tidak akan pernah mengakui Orochimaru. ( I don't want to be yours). "Koroshite..., koroshite, onegaishimasu..." Dengan sisa kekuatannya dia meminta Orochimaru untuk melenyapkan dirinya saja.

"Aku akan 'memeliharamu' dengan baik, jadi diamlah!" Orochimaru tampak gusar karena sosok yang menjadi incarannya terus menolak dirinya sebagai sang master.

Dari dalam mulut laki-laki itu keluar sebuah pedang tak kasat mata, dia bersiap untuk melakukan penguncian pada sosok Sasori.

BRAKH!

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.

"Di mana Hinata!?" tanya Sasuke dengan geram pada Orochimaru dan kedatangan murid-murid itu secara tidak langsung menyelamatkan Sasori untuk sesaat.

TBC


A/N : One chapter left :D (Tidak akan ada death chara). Dengan begini terkuak sudah alasan kebencian Neji pada Hinata.

Tidak bisa berkomentar banyak selain ingin segera menamatkannya, dan semoga tidak terhalang oleh apa pun dan beribu ucapan terima kasih bagi readers yang sejauh ini memberikan dukungan kepada saya. Jujur saja sempat sangsi untuk menamatkan fic ini mengingat ada 'suatu hal' kejadian yang kurang menyenangkan dan saya nyaris keluar dari FFN ini...

T

H

A

N

K

S

For Support!