LUNA
BTS fanfiction
Characters belongs to God, BTS belongs to Bighit
ABO dynamics
.
.
.
"As I dozed,
The man I love
appeared, so
It is dreams that
have begun to comfort me."*
.
.
.
Dia mendengar senandung yang samar. Pelan. Lembut. Seperti gumaman, tapi bernada. Jimin bangun di samping Yoongi. Di atas matras, mereka sama-sama terbaring. Ketika melirik, omega itu berhenti bersenandung. Yoongi memberinya senyum tipis yang manis. Lalu Jimin sadar, kalau sebelah matanya tertutupi sesuatu.
"Apa yang terjadi?" Dia bangun dengan sentakan. Tangannya meraba apa yang tutupi mata. Itu perban. Sakit di mata kirinya kembali dia rasakan. Nyatanya, dia memang tak bisa membuka sebelah kelopak itu.
"Tenanglah," Taehyung yang berbicara. Dia memegang bahu Jimin dan turut memandang ke arah yang dituju oleh satu mata yang masih berfungsi baik itu.
"Kita di kubah?"
"Ya. Kita di kubah. Meski semua terluka... tapi aku bersyukur tak ada yang tewas dalam pertarungan." Taehyung ditatap Jimin habis mengatakan ini. Lantas, alpha pirang itu pun melanjutkan kalimatnya. "Anggota kelompok mereka banyak. Sembilan. Yang di hutan, lalu di sini. Namjoon, Seokjin dan Hoseok berusaha mempertahankan kubah. Dua beta dari kelompok itu menjegalku di jalan tapi aku berhasil melumpuhkan mereka. Setelah itu aku datang padamu, dan kalian. Jimin, kenapa kau tak mendengarku? Aku minta kau jangan gegabah, bukan?"
Jimin hanya bisa menunduk sedikit.
Saat itu Yoongi turut bicara. "Tapi, apa yang perlu kita sesali? Bukankah kita bisa mempertahankan kubah ini, dan mengalahkan musuh tanpa ada satu orangpun yang tewas?"
"Yoongi." Taehyung menggigit bibir. Dia tak mengerti kenapa Yoongi bisa mengatakan itu seolah-olah hatinya lapang. Padahal, pasca penyerangan itu, Yoongi terluka parah dan kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan. Walau tak tahu pasti, bisa dikira kalau ada bagian dari tulangnya yang retak atau memar. Jimin mungkin belum tahu, tapi Taehyung segan juga untuk memberitahunya mengenai kabar buruk ini.
"Jadi, semua selamat?"
"Ya," angguknya. "meski macam-macam di kubah ini jadi berantakan, dan sebagian persediaan makanan kita terhambur, rusak sia-sia. Tapi semua selamat."
Jimin dan Taehyung hanya saling bertatapan lama. Entah alpha abu itu memikirkan apa. Taehyung berinisiatif untuk memecah keheningan di antara mereka.
"Minum dulu. Kau baru sadar."
Taehyung memberikan sebotol air yang kemudian diterima Jimin. Lalu alpha itu beranjak, ke tempat di mana Seokjin dan Jungkook sedang ribut. Jimin terus memandang Taehyung sampai alpha itu berhenti di ambang pintu sebuah ruangan. Dari kejauhan terdengar Taehyung menggerutu.
"Sudah kubilang itu tak mungkin hanya berupa pajangan... gasnya ada."
Lalu dia dengar Yoongi tertawa.
"Mereka mau memasak," kata omega itu. "Kalau lapar, walau terluka pun masih punya tenaga, ya?"
Candaan Yoongi seperti cara untuk mencairkan suasana. Tapi Jimin merasakan hal yang berbeda ketika menatap omega-nya yang terbaring. Dia merebahkan dirinya lagi, merapat pada Yoongi, bertopang dengan siku tertekuk. Sebelah tangannya mengamit jari-jari Yoongi di atas dada itu.
"Aku sempat mengira bahwa aku akan kehilanganmu," lirihnya, sembari meninggalkan topangan tangan dan beralih mengadukan dahi dengan Yoongi. Omega itu kemudian memeluknya, hingga Jimin menyelipkan tangan di bawah ketiak Yoongi untuk balas memeluknya. "...Yoongi."
"Aku di sini. Tapi... Jimin... maafkan aku karena sudah membawa petaka bagi kelompok kita. Maafkan aku yang melulu mementingkan perasaanku sendiri. Gara-gara aku..."
"Sudah, aku tak mau mendengar itu." Jimin menelisik. Di leher, pundak, dan sekitar tulang selangka omega itu ada banyak bekas gigitan. Jimin bersedih melihat ini. Bukan marah, bukan. Dia bersedih karena Yoongi mesti merasakan sakitnya jadi objek pelampiasan para alpha dari kelompok yang jahat itu. Dia menyesal, harusnya dia bisa menjaga Yoongi betul-betul. "Yang penting kita semua selamat."
"Maafkan aku..." Yoongi mulai menangis.
Jimin jadi lemah. Dia tak suka melihat Yoongi begini. Maka, dipeluklah omega-nya dengan erat. Kening Yoongi dicium.
"Jimin..." panggil Yoongi sambil berusaha membendung tangisan itu. "Aku..."
"Apa?"
"Aku takut... kakiku... tak bisa kugerakkan. Aku takut kalau nantinya aku akan jadi cacat... dan ketika aku cacat... kau akan meninggalkan aku..."
"Apa yang kau katakan?"
"Ini sangat sakit." Lirihan Yoongi bercampur getar. Jimin melepaskan pelukannya, membiarkan Yoongi yang sedang berusaha untuk bangun. Omega itu merintih. Dia berhasil duduk dan sedikit menekuk kaki. Tapi gigit bibir dan pejam matanya membuktikan kalau yang dia coba lakukan benar-benar menyiksa.
"Yoongi?"
Jimin sontak menangkap tubuh yang lemah itu. Dia peluk Yoongi sambil setengah kosong karena terkejut. Yoongi mengalungkan tangan di lehernya. Omega itu mengubur wajah di bahunya. Yoongi bergumam, itu berupa sebutan nama. Jimin dengar, tapi hatinya serasa diobrak-abrik.
"Aku takut..."
Jimin mencium ceruk leher itu lama. "Aku tak akan meninggalkanmu."
"Ehem."
Si alpha abu menengadah, di tangga ada Hoseok dan Namjoon yang baru turun. Mereka tak sengaja melihat Jimin dan Yoongi yang berpelukan. Menyadari ini, Yoongi pun perlahan melepaskan rangkulannya dari leher Jimin.
"Abaikan saja aku," kata Hoseok, sembari menggeluyur pergi ke tempat di mana yang lain berkumpul.
Sementara, Namjoon tak ikuti beta yang jalan buru-buru itu. Dia malah menghampiri Jimin.
"Ada sesuatu yang kau perlu tahu," katanya.
"Apa?"
"Tentang rencana melindungi kubah ini dan mencegah serangan lain yang mungkin saja datang tanpa terduga. Kupikir kita mesti membuat perangkap, jebakan. Ranjau. Atau apapun di batas teritori."
"Kau benar."
Namjoon beralih menatap Yoongi. "Yoongi. Lain kali cobalah untuk menjadi jahat dan tak peduli."
Omega itu terenyak. Namjoon seperti menyindir tapi juga mengingatkan. Kebaikan terkadang mendatangkan hal buruk memang. Lantas setelah alpha jangkung itu pergi, Jimin membelai kepala Yoongi.
"Jangan pikirkan itu."
"Dia ada benarnya. Aku memang bodoh."
Dengusan kasar Jimin keluarkan. "Kalau kau bicara seperti itu lagi aku akan benar-benar meninggalkanmu."
Jimin hendak melepaskan diri darinya. Tapi Yoongi menahan lengan itu agar tak menjauh. Dia berwajah bingung, dibuat takut dengan yang Jimin katakan. "Apa maksudmu?"
Tak dia kira, Jimin akan tersenyum sampai giginya terlihat. Alpha itu mendorong Yoongi pelan-pelan sampai punggungya menyentuh matras. Yoongi direbahkan kembali. Jimin suka melihat omega-nya kebingunan seperti ini.
"Aku bercanda. Tak lucu, ya?"
Jelas Yoongi merasa tersinggung karena telah dipermainkan. Dia menggerutu. "Tidak. Kau anggap itu lucu? Bercanda apanya dengan wajah seperti itu? Dasar kaku."
Jimin mengulum senyum. Dia mengusakkan muka ke sisian kepala Yoongi. Di dapur sangat ribut, tapi Jimin inginkan kedamaian dalam tidur yang tenang. Kalau diam, dia baru merasa badannya ngilu, lukanya perih. Dan lagi, matanya.
"Bagaimana dengan matamu?"
Seperti telah benar-benar sehati, ketika Jimin memikirkan tentang matanya, Yoongi pun menanyakan itu. Jimin sendiri tak tahu bagaimana kondisinya. Yang dia ingat matanya sempat kena kuku tajam Suho. Suatu lapisan di sana pasti robek. Kalau tidak, tak akan sampai mengeluarkan darah semalam. Dengan ujung-ujung jarinya dia menyentuh mata yang tertutupi perban itu.
"Kita di sini hanya punya obat untuk luka ringan. Namjoon bilang kakiku mesti giberi gips, tapi kita tak punya. Matamu juga. Mestinya diobati karena itu luka yang tak ringan. Mungkin kita mesti menunggu sampai karantina ini selesai baru—"
"Iya, aku tahu."
Yoongi melirik alpha-nya dengan alis yang naik satu. Tak biasanya Jimin menyela. Tapi mungkin, yang ada di kepala itu sama. Makanya tanpa perlu Yoongi katakan, Jimin sudah tahu. Dia sudah paham kalau mereka tak bisa berharap lebih untuk penanganan luka berat. Panitia mustahil mengirim dokter ke area. Dari awal saja, tujuan karantina ini untuk menguji ketangguhan partisipan. Takkan ada bantuan. Jimin tahu.
Dia lelah. Ingin tidur. Jimin merangkul Yoongi. Omega itu pun menarik napas sebelum mengusak hidungnya ke kening Jimin. Melihat alpha-nya memejamkan mata, Yoongi jadi ingin melakukan itu juga.
"Makaaan!"
Sayang, baru terpejam, suara Seokjin menggema.
-o0o-
LUNA
-o0o-
Petang, mereka melawan panas untuk mulai memasang jebakan di sekitar batas teritori. Potongan kayu, ranting, sulur, batu, dan apapun yang sekiranya berguna, mereka gunakan. Ide Namjoon ini memang akan berguna seandainya, setelah penyerangan kemarin masih ada kelompok lain yang akan datang untuk mengambil alih K-0101. Jimin dan Namjoon mengurusi bagian depan kubah, sementara Taehyung dan Jungkook di belakang. Tadinya, Hoseok ingin ikut. Tapi dia diminta untuk menjaga para omega di dalam. Siapa tahu mereka butuh sesuatu.
"Jungkook." Ketika alpha muda itu sedang menetak patok batas dengan batu, Taehyung memanggil.
"Ya?"
"Apa kau rindu bulan purnama?"
Jungkook otomatis melihat ke langit, lalu kembali memandang Taehyung yang sedang menertawainya. "Kenapa tanyakan itu di waktu seperti ini?"
"Apa harus aku tanya saat malam saja?"
Jungkook mencebik. Tak, tak! Dia lanjut menetak patok itu. "Aku rindu. Bulan purnama sangat indah. Penuh, bersinar. Tapi entah mengapa, ketika kau mengatakan itu, aku teringat Yoongi."
Taehyung yang sedang mengurusi sulur pun menoleh. "...karena bulunya yang putih bersih?"
"Dia seperti bulan. La Luna."
"Bulan kita terluka. Ingin rasanya karantina ini segera berakhir."
Jungkook berhenti menetak. Diam, melihat rumput yang seandainya saja berwarna hijau segar. "Iya, aku pun."
Brrrmmm!
Taehyung dan Jungkook menyadari sesuatu. Secara bersamaan, mereka saling melihat. Bunyi dengung itu tak biasa. Nyaring, keras, dan terus menerus, seperti bunyi mesin. Mereka yang ingin tahu kemudian meninggalkan pekerjaannya. Mereka sedikit berlari menuruni tanah yang melandai untuk sampai ke depan kubah di mana Jimin dan Namjoon berada.
Lari mereka terhenti dengan sendirinya, memelan menjadi langkah. Mereka mendapati serombongan mobil berdatangan dari arah yang jauh, membelah rerumputan kering dan tanah berdebu. Ada dua truk dan satu jeep. Mobil-mobil itu menggilas tanah berkontur. Roda-rodanya yang kuat tak sulit untuk menjangkau kubah dengan cepat. Empat alpha di batas teritori itu bersiaga. Tak tahu siapa yang datang pada mereka.
"Apa itu?" Hoseok, di pintu kubah, muncul. Deru mesin mobil yang berhenti di depan sana terdengar sampai ke dalam. Dia juga ingin tahu. Hoseok terkejut ketika melihat ada banyak orang yang mulai turun dari truk-truk itu. Dia berjalan pada kawan-kawannya. Seseorang yang turun dari sebuah jeep pernah dilihatnya sebelum ini. Dia tahu siapa.
Pria berbadan gemuk itu berjalan dengan elegan, diikuti sederet pengawalnya yang berbaju hitam-hitam. Dia melepas kacamatanya yang berdebu, lantas meniup kacanya supaya bersih sebelum dia kenakan kembali. Setelah itu, dia memberi senyum yang lebar. "Debunya luar biasa. Omong-omong, selamat sore. Kalian ingat aku? Kita telah bertemu di opening ceremony."
"...Tuan B..." gumam Hoseok.
Kawan-kawannya seolah diingatkan tentang siapa pria yang berdiri di depan mereka. Tuan B, adalah walikota K-01. Dialah yang meresmikan pembukaan karantina musim ini. Mereka tak sangka kalau Tuan B akan datang ke area. Entah maksudnya apa, mereka belum tahu.
"Kalian mungkin bertanya-tanya mengapa aku sampai mau masuk ke area yang gersang ini. Kalian perlu tahu bahwa aku datang dengan suatu maksud, untuk menyampaikan kabar."
"Kabar apa?" Semua ingin tahu, tapi yang menyahut hanya Namjoon.
"Sebelum aku mengatakannya, kenapa tak kalian biarkan aku melihat keadaan di dalam kubah? Kami mencatat kalau ada tujuh orang yang tinggal di sini. Ke mana dua dari kalian?" Tuan B berjalan. Sepatunya memijaki tanah dengan hati-hati. Di ujung tanjakan itu dia melihat seseorang di ambang pintu. Seokjin di sana, memandang penuh rasa ingin tahu.
Mereka yang di luar kemudian mengikuti Tuan B. Sedang, para pengawal tetap berdiri di dekat mobil-mobil yang terparkir. Jimin tak lantas melupakan orang-orang itu. Dia tetap mengawasi.
"Kekacauan di sini benar-benar nampak." Tuan B memerhatikan sekeliling isi kubah. Saat itu, Yoongi mencoba untuk bangun dan Seokjin dengan sigap membantunya. Pria gemuk ini tersenyum pada mereka. Dia mengangguk-angguk setelah jumlah anggota kelompok yang tercatat memang benar ada tujuh. "Halo. Kau yang terluka, tak perlu khawatir karena esok hari kau akan mendapat perawatan nomor satu di Rumah sakit K-01."
Yoongi merasa aneh dengan ucapan itu. Esok? Dia bertanya dalam hati, belum cukup paham apa maksud kalimat yang diucapkan Tuan B.
"Kabar apa yang ingin Anda sampaikan pada kami?" Jimin tak begitu sabar pada Tuan B yang nampak terlalu lama menghabiskan waktu dengan diam berdiri dan mengamati sekitarnya.
"Sebagai kelompok yang memiliki paling banyak anggota sampai hari ini, dan sebagai yang berhasil menduduki K-0101, kalian dinyatakan sebagai pemenang," tuturnya. Tujuh orang itu jelas terkejut. Tuan B membalik badannya pada mereka yang berdiri di belakang punggung. "Karantina resmi kuakhiri hari ini. Aku datang memberi kabar sekaligus untuk menjemput kalian keluar dari area." Pria gemuk itu kemudian berjalan ke arah pintu. "Selamat untuk kalian."
Tuan B membayangi matahari. Angin berembus kencang. Debu dan dedaunan kering beterbangan. Jas hitamnya berkibar diterpa angin dari luar. Orang-orang yang semula berjaga mulai kembali naik ke truk. Mobil-mobil besar itu berderu lagi. Itu tanda kalau mereka sudah ditunggu, diminta segera naik juga ke truk yang disediakan untuk menjemput.
Sebagian dari tujuh orang itu mengambil barang-barangnya, mengambil kantung mereka sembari masih kebingungan, antara percaya atau tidak dengan selamat yang diucapkan oleh walikota K-01 itu.
"Namjoon-ah." Hoseok menepuk pundak Namjoon dan menyodorkan kantung miliknya. Alpha itu mengkerut. Kantungnya diterima, tapi dia masih begitu.
"Dia tidak bohong, kan?" tanya Namjoon ragu.
"Mesin mobil-mobil itu berderu. Yang datang pada kita adalah walikota K-01 sendiri. Aku pun tak percaya kalau... karantina berakhir dengan cara begini. Aku tak sangka. Tapi mereka minta kita naik. Namjoon, kita akan pulang sekarang."
Ketika Namjoon terdiam, Seokjin menghampirinya. Omega ini mendengar percakapan antara alpha dan beta itu. Dia paham apa yang Namjoon rasakan. "Aku tak peduli jika ini terasa aneh, tapi dengan menaiki truk itu, aku akan meninggalkan mimpi burukku di sini."
"Seokjin," ucap Namjoon.
"Ayo." Omega itu mengulurkan tangannya. Namjoon menyambut.
Hoseok menunggu mereka untuk berjalan bersama. Di dalam hanya tinggal empat orang. Taehyung dan Jungkook sempat melihat ke arah luar di mana Tuan B menggerakkan tangannya sebagai tanda supaya mereka cepat naik ke truk juga.
"Jimin-hyung."
"Ya." Jimin hanya menjawab panggilan Jungkook dengan gumaman. Dia hendak membantu Yoongi berdiri. Omega itu ditopang Taehyung dari belakang. Jimin di depannya kemudian berjongkok, memposisikan diri untuk menerima Yoongi yang akan digendongnya.
"Kau tak apa?" Taehyung bertanya pada Jimin. Walau terlihat baik, luka di matanya itu tak bisa diabaikan. Tapi, dengan gelengan Jimin, Taehyung tahu kalau si alpha abu tak mau terlihat payah. Lantas setelah Yoongi naik ke punggung Jimin, dia bertanya pada omega itu. "Yoongi, kau tak apa?"
Yoongi meringis, tapi sedikit menyunggingkan senyum. Kakinya sakit ketika ditekuk, tapi dia tak mungkin menyeret dirinya untuk pergi dari tempat itu. "Aku tak apa."
"Tahan sebentar. Tahan sakitnya. Kau bisa, kan?" Jimin meminta. Ada sirat menyemangati. Yoongi mengulum bibir dan mengangguk.
"Yoongi." Tiba-tiba, Jungkook mengusak di punggung omega itu. Sesaat, entah untuk apa.
Taehyung menggendong kantungnya dan segera keluar dari kubah. Jungkook menyusul. Jimin lebih membungkuk supaya Yoongi nyaman dalam gendongannya. Dia berjalan keluar. Meski sedikit berat, tapi dia tak apa.
"Kita berhasil menyelesaikan karantina?"
"Ya."
"Kita akan pulang?"
"Ya, Yoongi."
"...ini bukan mimpi, kan?"
Setelah semua naik, jeep Tuan B pergi lebih dulu, disusul truk pengawalnya. Truk yang mengangkut tujuh orang itu jadi yang terakhir. Mereka melihat bagaimana kubah yang besar dan kokok menjadi kecil, lama-lama mulai tak terlihat, menghilang dari pandangan mata. Mereka meninggalkan K-0101, menuju gerbang area karantina.
-o0o-
LUNA
CONTINUED
*) Ono no Komachi—KKS XII: 553
