Winter In Tokyo (Kaisoo Remake)

Novel by Illana Tan

Kaisoo

GS

Korean Version

Cerita bukan milikku. Aku hanya mengubah latar tempat dan menghapus beberapa hal yang menurutku nggak penting. Semoga kalian menikmatinya.

Happy Reading

Cahaya matahari yang silau membuat mata Jongin menyipit ketika menatap anak perempuan yang sedang berjongkok dan mengorek-ngorek tanah bersalju dengan ranting di samping gedung sekolah. Sepertinya anak itu sedang mencari sesuatu. Sesekali ia meniup tangannya yang tidak bersarung tangan. Dan sepertinya ia juga sedang menangis.

Jongin menoleh ke belakang. Teman-temannya belum keluar. Tadi mereka bilang mereka tidak akan lama, hanya akan memberikan hadiah ulang tahun kepada guru SD favorit mereka. Jongin tidak terlalu setuju dengan ide itu. Memang benar, guru itu guru favorit mereka semasa SD, tetapi kini mereka sudah menjadi murid SMP. Menurut Jongin mereka tidak pantas lagi bersikap sentimental dan kekanak-kanakan seperti itu. Namun teman-temannya tidak mau mendengar alasannya. Ia ikut ke sini karena terpaksa, tetapi ia menolak untuk masuk dan bertemu dengan guru mereka. Menurutnya laki-laki harus bersikap tegas. Biar saja teman-temannya yang masuk. Ia akan menunggu di luar sini sampai mereka kembali. Walaupun di luar sini dingin sekali.

Jongin kembali menatap anak perempuan itu. Teman-temannya belum kembali. Daripada melamun saja, mungkin ia bisa membantu anak itu. Jongin membetulkan letak topi wol birunya dan menghampiri anak itu. "Sedang apa?" tanyanya.

Anak perempuan itu mendongak. Matanya menyipit menatap Jongin. Dari dekat, Jongin menyadari rambut panjang anak itu yang diikat ekor kuda terlihat agak miring dan ada sedikit noda tanah di pipinya yang kemerahan. Jongin juga baru tahu anak itu tidak sedang menangis seperti yang diduganya tadi, tetapi anak itu memang hampir menangis. Matanya terlihat berkaca-kaca.

"Sedang apa?" tanya Jongin lagi karena anak itu tidak menjawab.

Setelah ragu sejenak, anak perempuan itu bergumam pelan, "Mencari sesuatu."

"Mencari apa?"

"Kalung." Lalu anak perempuan itu kembali menunduk dan mengorek-ngorek tanah.

Kalung? Tanpa bertanya lebih jauh, Jongin pun ikut mencari. Ia baru mulai berlutut ketika sudut matanya menangkap sesuatu yang berkilau. Ia memungut benda itu dan mengamatinya. Kalung itu kalung yang sederhana, tetapi indah, dengan liontin berbentuk tulisan 'Kyungsoo'.

Nama anak itukah?

"Namamu Kyungsoo?" tanyanya.

Anak itu menoleh ke arahnya. "Ya." Nada suaranya terdengar ragu-ragu. Jongin tersenyum puas dan mengacungkan kalung yang dipegangnya itu. "Ketemu!"

"Benarkah?" Wajah anak perempuan itu langsung berubah cerah. Ia berlari menghampiri Jongin dengan mata berkilat-kilat senang dan pipinya semakin merah.

Jongin berdeham dan menyerahkan kalung itu kepadanya. "Jaga baik-baik. Jangan sampai hilang lagi."

Tepat pada saat itu ia mendengar namanya dipanggil. Ia menoleh dan melihat teman-temannya ternyata sudah keluar dan melambai-lambai ke arahnya. Jongin mendesah. Kenapa mereka memilih sekarang untuk keluar? Ia mendesah pelan sekali lagi dan menoleh kembali kepada anak perempuan yang berdiri di depannya. "Aku pergi dulu," katanya. "Kau juga lebih baik cepat pulang."

Setelah itu ia pergi bergabung dengan teman-temannya.

"So Hyun, cepat ke sini," Kyungsoo menarik So Hyun yang baru datang. "Dan jangan berbalik! Nanti dia melihat kita."

"Siapa?"

"Kau kenal anak laki-laki di lapangan itu? Tapi kau jangan berbalik. Nanti dia melihat." So Hyun mendelik ke arah saudara kembarnya. "Kalau tidak berbalik bagaimana aku bisa melihat siapa yang kau maksud?"

"Baiklah, baiklah. Tapi pelan-pelan saja. Jangan sampai ketahuan."

So Hyun menoleh diam-diam dan memandang ke arah lapangan.

"Kau tadi bicara dengan siapa, Jongin?" tanya Eunji sambil menoleh ke belakang.

Jongin memutar kepala temannya kembali ke depan. "Bukan siapa-siapa. Kenapa kalian cepat sekali?"

"Cepat?" Mata Sehun melebar terkejut. "Kami pikir kau pasti sudah uring-uringan karena menunggu begitu lama di luar."

Jongin pura-pura tidak mendengar.

"Sekarang kita mau ke mana?" tanya Gayoung sambil melirik jam tangan.

Chanyeol sambil mengusap-usap kepalanya yang hampir botak. "Bagaimana kalau kita pergi makan?" usulnya.

"Kenapa pikiranmu makan melulu?" omel Sehun dan menyikut lengan Chanyeol.

"Memangnya kalian tidak pernah dengar cuaca dingin membuat orang-orang gampang lapar?" tanya Chanyeol sambil memandang teman-temannya satu per satu. "Apalagi aku."

Eunji terkikik. "Maksudmu karena ibumu salah memotong rambutmu sampai hampir botak dan sekarang kepalamu kedinginan?"

"Jangan mengingatkanku pada rambut jelek ini," erang Chanyeol. "Aduh, kenapa aku lupa bawa topi hari ini?"

Jongin melepaskan topinya dan melemparkannya ke arah Chanyeol. "Pakai ini saja kalau kau malu rambutmu yang jelek itu di lihat orang."

Teman-temannya tertawa. Sambil bersungut-sungut, Chanyeol mengenakan topi wol biru itu.

"Sekarang jam pulang sekolah, kau tahu?" kata So Hyun. "Di lapangan banyak orang. Anak laki-laki yang mana maksudmu? Beri aku petunjuk."

"Tadi dia bersama teman-temannya," gumam Kyungsoo sambil berpikir-pikir. Tiba-tiba ia menjentikkan jari. "Dia memakai topi biru. Topi wol biru!"

"Topi biru?" So Hyun menyipitkan mata dan mencari-cari. "Ah, itu dia. Topi biru dan... dia bersama teman-temannya. Yang itu? Bukankah mereka kakak kelas kita?"

"Ya, ya, ya," sahut Kyungsoo cepat tanpa berbalik. "Kau tahu siapa namanya? Anak laki-laki bertopi biru itu?"

So Hyun mengangguk. "Itu Park Chanyeol."

"Park Chanyeol," gumam Kyungsoo sambil tersenyum sendiri.

So Hyun menyikut saudara kembarnya. "Ngomong-ngomong, kenapa kau ingin tahu?"

Kyungsoo tersenyum lebar penuh rahasia. "Akan kuceritakan di rumah. Ayo, kita pulang."

Beneran end sekarang, makasih dah baca dari awal sampai akhir yah, sampai bertemu lagi.