Don't Like, Don't Read

Warning: cerita didominasi oleh konten Boys Love a.k.a Yaoi, OOC demi keperluan cerita, miss typo, no sensor. Cross Over. Alur nge-slow~. Penggunaan bahasa Gue-Elo pada beberapa scene.

Pairing: AkaKuro, MuraHimu, MidoTaka, AoKise. Random pair. Slight! NijiHimu, Bro!KaruAka (maybe). Request dipertimbangkan.

Note: Teikou di sini adalah nama SMA. Akashi di cerita ini adalah Ore-shi, switch ke boku-shi disesuaikan jalan cerita. Slight character dari fandom lain (beberapa berperan penting tapi tidak semua). Tokoh utama tetap para karakter KnB dan jalan cerita fokus pada karakter mereka.

Summary: Hanyalah hidup yang kujalani di bawah langit ini. Inilah kisah yang kupilih bersama warna-warninya. Tawa dan tangis. Bukankah tak ada artinya bila sendirian?—/ Poin satu: pagi ini dia nemu anak orang di depan rumahnya. Poin dua: anaknya dari keluarga titisan entah dewa entah iblis yang gemerlap kekayaannya bikin silau mata apalagi jiwa/—/RnR/CrossOver/Gintama/Ass. Classroom/Yaoi/AkaKuro(main pair)


.

Pukul satu dini hari dan tidak sedikitpun mata itu tertutup.

Sungguh tidak biasa bagi seorang Akashi Seijuurou untuk melanggar jadwal tubuhnya meski dia sudah berada di pembaringannya yang nyaman.

Kurang lebih dia memahami kenapa. Fisiknya memang lelah, namun otaknya nampak tidak mau berhenti sejenak untuk beristirahat. Tidak mau berhenti untuk memikirkan kalut yang menari-nari dalam dirinya.

Sebuah kecemasan. Dan tentu tidak jauh dari seseorang.

Atau mungkin dua orang. Atau mungkin tiga.

Hela keras. Dia pun memutuskan bangun dari tidur ayamnya. Lebih daripada itu dia sama sekali tidak mengantuk. Dan hal itu sungguh mengganggunya karena dia masih harus sekolah keesokannya. Tidak lucu kalau besok Akashi mendapati dirinya tidur di kelas karena begadang semalaman.

Beranjak bangun. Niatan hati untuk mencari sesuatu yang sekiranya bisa membantunya tidur. Mungkin, minum air bisa sedikit membantunya.

"Ah, anda masih bangun Seijuurou-san."

Sedikit terkejut karena dia mendapati dapurnya masih menyala dan menemukan ada seseorang yang tengah berkutat di meja makannya. Ah, dia tahu siapa jadi dia tidak terkejut. Tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan sepele yang sama seperti yang tengah dia pikirkan pula, Akashi memilih untuk diam saja tanpa menjawab. Mengambil air di dapur sesuai kehendak awalnya.

Bola mata merah bergulir melirik, menimang untuk mengajak bicara atau tidak sosok bocah bersurai biru yang sibuk dengan tugasnya.

"Kau sendiri juga sama, apa yang kau lakukan, hm?"

"Tugas dari sekolah."

"Semalam ini?"

"Aku bisa menyelesaikannya dengan cepat biasanya, tapi aku sempat lupa dan terbangun lagi." Si biru tersenyum. Senyum yang meminta untuk tidak bertanya lebih lanjut. Yah, Akashi sendiri paham kenapa. Jadi dia hanya menggulirkan mata dan duduk di salah satu kursi sambil minum air. Toh, dia sudah tahu karena alasan apa sampai anak ini rela mengerjakan tugas rumahnya semalam ini.

"Kalau begitu boleh aku balik bertanya Seijuurou-san?" tangan tetap berkutat pada tulisan, mata masih menelusuri rumus matematika.

"Soal apa?"

Sejujurnya, Nagisa sudah tahu mengenai hasil dari pertanyaan yang akan dia ajukan. Lebih tepatnya hanya tebakan. Tapi, dia merasa hampir yakin kalau semua ini ada hubungannya dengan gurunya itu.

"Tentang kenapa kau tidak jadi menjemput Karma-kun? Apa Koro-sensei yang memintamu?"

Muka Akashi mendadak jelek.

'Kelihatannya aku benar.' Batin Nagisa. Dia mengikik sedikit. Membayangkan seperti apa bentuk pembicaraan yang terjadi di antara kedua orang itu tanpa sepengetahuannya.

"Kau membenci Koro-sensei karena yang dia katakan itu benar dan mau tidak mau kau harus mengikuti anjurannya demi masalah yang terselesaikan dengan lebih baik dan damai bukan?"

"Kau tahu itu, Nagisa. Dan jangan buat aku ingin memukulmu." hela Akashi. "Dia mengatakan untuk tidak memberitahumu, tapi apa peduliku."

"Ah, tenang saja. Nanti aku akan buat perhitungan karena ikut campur dengan pekerjaanku tanpa sepengetahuanku."

"Baguslah."

Sebenarnya, hal itulah yang merisaukan Akashi. Dia membuat Karma bermalam di tempat orang yang selama ini dia pastikan hindari. Bermalam dengan seorang Kuroko Tetsuya yang memiliki tingkat penasaran tinggi dan kepala batu. Bagaimana jika Karma kelepasan dan kemudian merecoki dengan berbagai pertanyaan yang pada akhirnya akan terlempar pada dirinya dan membuat dirinya yang harus disepahi. Ah, walau dia berpikir apapun yang terjadi dia tetap akan kena imbasnya.

Akashi berdecak sampai Nagisa kaget sendiri.

Gelas sudah tidak berisi dimainkan di atas meja. Namun, masih tidak ada satupun yang beranjak dari meja. Baik Akashi maupun Nagisa. Mungkin, karena Nagisa yang masih berkutat pada tugasnya. Walau, pertanyaan untuk Akashi seolah tidak bosan memainkan gelas di tangannya walau tahu waktu semakin berjalan mendekati fajar tiap detik yang berdetak. Tidak seperti keinginan awalnya untuk segera tidur setelah selesai berurusan dengan dapur, dia malah memilih duduk seolah menunggui sesuatu.

Menunggui, kapan kinerja otaknya tidak terus-terusan bersinkron dengan gejolak kekhawatiran di dalam dirinya.

"Sejujurnya aku penasaran Seijuurou-san."

Sebuah percakapan kembali dibuka oleh si biru, buku sudah ditutup, tanda pekerjaannya sudah selesai.

Akashi hanya mendelik, tapi tidak sedikitpun membuka suaranya. Nagisa yang seolah memahami, melanjutkan kata-katanya.

"Semua yang dilakukan oleh Akashi-sama... sebenarnya untuk siapa?"

Untuk siapa...?

Sungguh pertanyaan yang aneh. Dan sungguh berani. Dari posisi seorang majikan yang memberikannya pekerjaannya sungguh tidak sopan pertanyaan yang dilontarkan itu. Seorang bawahan harusnya tidaklah mempertanyakan maksud dan tujuan dari tindak-tanduk. Ada kalanya mereka akan diberikan pengertian seadanya, namun, bertindak sendiri demi mendapatkan kepuasan akan rasa penasarannya itu sungguhlah tabu—sungguh berani.

Seperti seseorang yang pernah dikenalnya.

"Dalam pekerjaan itu terkadang tidak membutuhkan emosi di dalamnya. Apalagi pekerjaan sepertimu."

Sebuah dengus, lalu senyum. Meski, bibir itu terukir pandangan itu masih menerawang jauh.

"Apa itu sebuah penolakan untuk menjawab?" balas si biru kalem. "Dan, mungkin kau harus tahu Seijuurou-san. Justru, aku diminta memasukkan emosi dalam pekerjaan kali ini." Nagisa menutup mata, dalam hati mungkin membenarkan. Karena, untuk pertama kalinya dia memasukkan perasaan manusia mengesampingkan professionalitasnya. Mungkin, karena perintah yang bertujuan hanya untuk mengawasi targetnya membuat dia mencoba ingin lebih dalam mengetahui maksud dari perintahnya.

Karena, dia diminta mengawasi dari dekat.

Seolah permintaan itu memastikan dia berteman dengan Karma.

"Sejujurnya aku tidak tahu, kenapa ayahku melakukan hal ini. Dasar dari tindakannya... terkadang masih kupertanyakan."

Apa dia melakukan itu untuk Karma? Atau hanya untuk kepuasan dirinya? Pembalasan sebuah dendam? Atau mungkin sebenarnya ...

"Aku mengikutinya karena ada hal yang ingin kujaga saat ini."

Untuk melindungi orang itu?

Nagisa tersenyum tipis dengan kata-kata bagai seorang pembangkang itu. Namun, dia sudah tahu sejak awal karenanya dia diam saja. Selain itu dia paham, Akashi Seijuurou hanya melakukan sesuatu sesuai apa yang dia inginkan. Terdengar ironis saat dia berpikir alasan pemuda itu menuruti ayahnya adalah karena tujuan yang sama—separuhnya, mungkin juga karena doktrin yang masih membekas. Tapi, sekali lagi. Nagisa mengatup bibir. Tahu diri untuk menjaga jarak dari batas yang tidak bisa dia lalui.

"Kurokono Tasuke ya... aku hanya pernah mendengar namanya dari Koro-sensei. Tapi, sejujurnya aku cukup tertarik..." mendadak dia teringat, sebuah senyum ganjil yang terulas saat nama itu disebutkan oleh bibirnya di suatu masa. Kala bola mata hitam itu membentuk sebuah pandangan yang mengatakan sebuah ketertarikan akan sesuatu yang tak jelas bentuk kasatnya. Seperti keinginan menggali potensi. Seperti keinginan untuk menorehkan sesuatu yang akan bergurat abadi dalam hidupnya. Namun, ada emosi yang bertolak belakang degan semua itu.

Seperti ingin menguji sesuatu dan menantikan hasilnya.

"Aku tidak paham apa yang dipikirkan guru sintingmu. Yang pasti jangan berurusan terlalu jauh dengan kehidupan orang-orang di sekeliling Kurokono Tasuke."

Ya, Akashi sangat tahu siapa yang selalu di sekeliling orang itu.

Siapa orang yang dimaksud oleh dirinya ini.

Beberapa detik dilakukan olehnya untuk mendegus dan tertawa. Saat membayangkan sosok biru itu mengetahui semua ini. Hal merepotkan apa yang akan dia lakukan untuk menyeretnya dalam memenuhi rasa penasaran seorang Kuroko Tetsuya. Membayangkan, sosok itu akan datang sambil memaksa Akashi untuk membantunya dengan mengabaikan bagaimana perasaannya.

Lalu, membayangkan apa saja yang harus dia lakukan untuk menjauhkannya dari semua itu.

Melihat sang kakak yang mulai tertawa remeh dengan mengerikan, Nagisa mulai khawatir kalau-kalau isi otaknya sudah sungguhan geser entah kemana saking lelahnya mental itu. Bisa gawat kalau mendadak semaput nanti.

"...Kelihatannya kau benar-benar lelah Seijuurou-san. Bagaimana kalau kau tidur sebentar?"

Akashi mengusap wajah,"Yah, memang aku membutuhkan itu."

"Aku akan memastikan semuanya terkunci. Selamat malam Seijuurou-san."

Sebuah angguk dilakukan sebagai balas. Sejenak Akashi berdiri, mendadak dia sadar kalau dirinya sudah merasa mengantuk.

Mungkin, karena beban yang terpendam sudah sedikit terangkat.

'Begitu, ya. Aku hanya perlu membicarakannya.'

Meski, tidak sepenuhnya lega, karena masih ada yang menempel lekat dalam kepalanya. Setidaknya ini sudah jauh lebih baik.

Memiliki seseorang untuk diajak bicara itu benar-benar jalan terbaik untuk mengatasi insomnia.

.


.

12 Seasons In My Life

(...karena itulah kami di sini. Bersamamu. Bersama kalian semua. Di tempat yang akan menjadi kenangan...)

.

Original Story by Rin

Disclaimer Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Gintama © Hideaki Sorachi

Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Drama, Humor, Romance, Friendship, Family

Rated T

.


18th. Season: [Summer] New Way.


.

"Aku menemukanmu... Nii-chan..."

Bola mata hitam melebar. Satu kata itu membuatnya tersadar dan kemudiannya mati rasa dengan sentuhan dekap yang menerjangnya erat. Sedetik kemudian dia merasakan ada sedikit basah menyerap kain hingga terasa di kulit.

Kurokono menyangka bahwa Karma yang menangis. Namun, dia salah—ah, maksudnya bukan hanya Karma.

Tanpa dia sadari air mata itu menetes jatuh dari dirinya pula.

Sejujurnya, dia merasa senang.

Dia memahami perasaan ini. Sebuah kelegaan. Rasa rindu yang terbalas. Sekian lama dia menahan diri untuk tidak bertindak seenak hati dan menghindari kontak fisik dari anak-anak yang dia rindukan.

Hal yang selalu dia hindari, namun juga dia inginkan.

Dirinya sudah mendapatkan sebuah gambaran akan pertemuan ini. Namun, membayangkan dan mengalami adalah hal yang sangat berbeda.

Betapa perilaku Karma membuatnya ingin menangis bahagia.

sekaligus tangis sesal.

Karena, dia paham kalau hal ini tidak akan berlangsung lama.

Tangan itu balas merengkuh, mengusap kepala merah yang masih menenggelamkan diri dalam peluknya. Dia tidak gemetar. Dia tidak terisak. Hanya memeluk. Menyalurkan rindu dalam hangat sebuah dekapan yang sudah lama tak dia rasakan.

Si merah terpejam. Menikmati sentuhannya. Setelah sekian lama, mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak ada rasa puas yang melebihi hal itu.

Setelah sekian lama, hingga akhirnya sekarang dia sudah menemukan yang dia cari selama ini.

"Nii-chan, ayo kembali ke sana."

Seulas bibir terkatup dengan rapat.

.

"Akhir-akhir ini ada bocah dengan rambut merah yang mencari informasi tentangmu."

Itulah yang Takasugi katakan beberapa hari lalu di suatu pagi.

Sesungguhnya, saat itu dia tidak terkejut. Lebih tepatnya lagi, dia sudah bisa menebak.

Bertahun lalu, saat dia diusir oleh keluarga Akashi. Nyatanya, kekeraskepalaan tetaplah menjadi dasar dari pribadinya.

Dia menuruti, kata-kata Akashi Masaomi untuk tidak menunjukkan wajahnya di hadapan mereka lagi.

Namun, janji lain yang tertinggal dalam dirinya membuatnya berulang kali untuk berpikir dan berpikir. Hingga terkadang terbawa lamun dan mimpi.

Sebuah janji yang dibuat oleh sang wanita ibu dari keluarga Akashi.

Permintaan terakhir yang ingin dia tepati.

Kenyataannya, dia selalu mencari tahu kondisi dua balita itu.

Mungkin, karena rasa sayang yang sudah terlanjur dipupuk. Mungkin, karena sudut hatinya merasa belum jera dengan semua itu.

Dia selalu. Selalu meminta. Meminta agar bisa mengetahui bagaimana perkembangan mereka selama ini. Bagaimanapun caranya. Apapun konsekuensinya.

Tidak ada yang berubah sejak saat itu. Malahan, rasa sayang pada kedua balita yang dulu ia asuh justru semakin dalam. Bercampur bersama rasa rindu dan kekhawatiran. Bercampur dengan rasa harap dan kelegaan.

Meski begitu...

.

"Aku... Tidak bisa."

Kembali ke sana.

.

Tidak bisa lagi.

Sebagai ganti dari semua keegoisannya. Hanya ini yang bisa dia lakukan agar mereka tetap ... Selamat.

Dari dirinya.

.

Ulas senyum membeku di udara. Getir terkekeh surai kemerahan itu dalam getar.

"Kenapa?" nada itu masih ceria. Senyumnya masih terpahat. Namun, tak ada yang bisa dibohongi dari sinar redup yang terpancar dari si jingga. Binar yang begitu ceria itu perlahan pupus bersamaan dengan hitam yang tak kuasa memandangnya karena dirundung rasa bersalah.

"Kau masih memikirkan kata-katanya...?" tanya lagi kali ini lebih pelan.

"Bukan begitu—... Tidak, memang begitu... Kenyataannya aku tidak punya hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga kalian..." meskipun, ingin. Tapi, tentu saja dia tidak bisa mengatakannya. Hal egois yang kekanakan seperti itu. Hanya karena terbawa emosi, dan mungkin yang dia lakukan hanya membawa sebuah keterpurukan yang lain.

"Kenapa..."

"Karma-kun... Tolong dengarkan aku. Aku sudah tidak bisa kembali ke sana. Tapi, aku sayang padamu—pada kalian, sungguh..."

Karena, dia tahu. Jika, lebih dalam lagi melangkah yang dia temukan hanyalah rasa sakit. Lebih daripada itu dia merasa akan ada yang hancur dan hilang.

Mungkin, dirinya sendiri. Mungkin, orang di sekitarnya.

"Kenapa... Kenapa kau tidak bisa kembali." tangan mengerat, bibir gemetar. "Aku selalu mencarimu."

"Aku minta maaf, karena seperti mengabaikan perjuanganmu selama ini."

Sejujurnya aku bahagia karena kau mengingatku. Mencari diriku. Namun, aku tahu ada batas untuk semua itu.

"Karma-kun..."

Batas yang dulu seenaknya aku langkahi karena aku terlalu tidak tahu diri, hingga akhirnya batas itu pulalah yang membuangku. Membuatku melarikan diri seperti pengecut.

"ARRRH!"

Tangan mencengkeram rambut merah frustasi.

"KENAPA... tua bangka itu selalu menggangguku...!?"

"Karma-kun! Hentikan! Kau tidak boleh berkata seperti itu tentang ayahmu!"

Kurokono terkesiap. Mendapati air mata sudah membanjiri wajah sang pemuda dengan begitu deras. Tersengguk dengan wajah merah.

"Tidak ada artinya kalau kau tidak ke sana!"

Plak!

"Karma-kun!"

"Apa kau tahu kenapa aku mencarimu selama ini!? Tidak, kan? Tidak ada yang mengerti? Bahkan, dia juga tidak mau mengerti!"

Jerit. Frustasi. Depresi. Dan bola mata hitam itu hanya bisa melihat sosok yang berusaha berdiri namun tak kuat lagi karena bendung itu semakin memancurkaan deras alirannya.

Semua kata-katanya. Semua alasannya. Sejujurnya aku hanya bisa menebak.

"Apa ini... Soal Seijuurou-kun?"

Namun, hanya ini yang bisa kuterka.

Karena, baginya. Mungkin, tidak ada lagi tersisa sesuatu yang lebih berharga selain sang kakak.

"Kalau kau sudah tahu kenapa kau tidak mau kembali?!"

Dia beringsut jatuh, nyaris berlutut andai dia tak menggenggam baju Kurokono untuk menahan dirinya agar tidak jatuh.

"Aku tahu... hanya kamu yang bisa—karena itu... tolonglah..."

Seolah itulah pertahanan terakhirnya.

"Tolonglah Nii-san..."

.


.

Kenapa?

Kenapa Karma ingin Kurokono menolong Akashi?

Di balik derak pintu yang tak rapat tertutup. Di atas kasur ada tubuh yang masih tertidur—walau, mata itu terbuka dan tangan itu memaksa rapat selimut lebih dalam lagi.

Sekiranya itulah isi kepala Kuroko saat ini. Ya, dia tidak tertidur. Lebih tepatnya, dia terbangun. Mendengar suara-suara ricuh macam umpatan dan teriakan tidak mungkin bagi Kuroko untuk tidak terganggu tidurnya. Meski, disebut-sebut kebo sama Ogiwara karena bangun saja harus digulung dari kasur, Kuroko tetap mahluk sensitif yang bisa ngamuk kalo tidur sepuluh jam buat kulit muyusnya terganggu.

Ditambah insiden terjadi tepat di depan kamarnya, mana mungkin dia gak notis.

Meski, begitu Kuroko memilih diam.

Mungkin, karena dia tidak ingin menginterupsi. Atau, mungkin karena dia bisa mendapatkan semua jawaban yang dia inginkan dari hal ini.

Sebersit rasa tidak nyaman menggelung kala Karma meminta Kurokono untuk pergi—mungkinkah itu iri, atau perasaan tidak rela apa yang dimiliki akan direbut orang lain. Kuroko tidak tahu pasti, namun sekejap dia merasa lega akan penolakan sekejap kemudian dia merasa jahat telah memikirkannya.

Karena, saat itu dia tidak tahan untuk terbangun dan melihat hal itu.

Karma yang menangis.

Mungkin, ini pertama kalinya, atau mungkin bisa juga terakhir kalinya dia akan mendapati sosok jahil itu seperti manusia kebanyakannya.

Mendapati sosok iblis bersurai merah tersengguk bagai anak yang kesepian.

Sampai suara bantingan yang terdengar membuatnya beranjak dari tidurnya.

.

Sementara Kurokono terdiam di depan pintu, dirinya sudah didahului oleh sosok yang berlari lebih cepat mengejar Karma.

Sosok sepupunya.

Kemudian, dia mematung sambil terdiam. Sadarlah, dia kalau Kuroko pasti sudah mendengar semuanya.

"Tetsuya-kun!"

Tangan menangkap sosok yang lebih kecil untuk menghentikan lajunya. "Kau mau kemana? Jangan keluar!"

"Aku harus mengejar Karma-kun!"

"Jangan... Tetaplah di rumah. Biar aku yang mencarinya."

"Tapi—!" Kuroko memandang sepupunya tegas. Seolah ada sirat yang tak terucap dipendarkan dari balik bola mata birunya. Sosoknya yang menyerngit seolah menahan emosi. Bukan, marah. Namun, sesatu yang lebih rumit daripada itu.

Kurokono menyadari hal itu.

Tapi, dia tahu ini bukanlah pada tempatnya.

"Tetsuya-kun!"

Bentakan yang membuat semua sel terkunci. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal sang sepupu raut wajah itu tak lagi berhias senyum jahil dan penuh rahasia. Yang ada hanyalah raut kalut, teraduk dalam rasa cemas dan permohonan.

"Aku yang akan mencarinya... Tolong... Tetap di sini..."

Permohonan yang dia tidak bisa terka sama sekali.

"Aku tidak ingin terjadi apapun padamu."

.

.

Aku ingin sekali bertanya. Bukan berarti aku tidak mempercayaimu.

Aku hanya ingin mengetahui. Tentang dirimu yang begitu asing namun begitu baik padaku.

Mungkin, karena aku takut kebaikan hatimu padaku hanyalah pelampiasan dari rasa sepimu. Namun, aku mencoba mengabaikannya.

Tapi... Hal itu semakin goyah saat tahu bahwa ada orang lain yang kau rindukan sampai saat ini.

Kenapa kau melindungiku sampai seperti ini?

.


.xOx.


.

Ada beberapa hal yang membuat Akashi uring-uringan hari ini.

Satu, dia kurang tidur.

Dua, dia kepikiran soal adik yang berada di sarang penyamun dan memungkinkan menyamuni seekor hantu warna biru.

Tiga, berdasarkan informasi Nagisa pagi hari (iya, anaknya sudah hilang pas dia bangun tadi pagi. Sungguh dedikasi tinggi atas pekerjaannya. Akashi kagum juga mahfum), Karma sudah tak berada di tempat orang itu. Yang berarti dia kabur lagi. Atau, kemungkinan melarikan diri setelah bertemu dengan Kurokono Tasuke.

Memang, Nagisa mengatakan tak ada tanda-tanda keberadaan Kurokono Tasuke saat dia menyelidiki. Namun, Akashi bisa membuat kesimpulan itu karena satu hal.

Dia tahu kenapa Karma mencarinya, dan memikirkan posisi Kurokono seperti apa, tentu dia akan menolak. Membuat Karma sakit hati dan akhirnya memilih lari dari kenyataan.

Dan, saat ini dia yakin kalau Kurokono tengah mencari Karma.

Dan kemungkinan besar Kuroko mengetahui hal itu.

Buktinya sampai sekarang belum ada batang hidungnya, padahal sudah masuk jam pelajaran—dan, dia tidak ikut latihan. Lagi. Bayangkan Riko yang mengaum dengan ganasnya karena ada dua orang yang tidak hadir latihan pagi ini. Dua-duanya kelas satu pula. Akashi yang dibebankan sebagai pentolan kelas satu ikut disalahkan pula. Maaf saja kalau tanding hari ini Akashi bakal mengganas, ya.

Sungguh. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia ingin kesimpulan yang dia pikirkan ini salah.

Oh, dia memang menyetujui Shinigami sial itu untuk membiarkan Karma menginap di tempat Kuroko. Tapi, bukan berarti dia berharap Karma bertemu dengannya, ya.

Niatan Akashi adalah menarik informasi dari Kuroko saat latihan pagi ini. Tentang bagaimana mereka bertemu dan alasan kenapa dia memperbolehkan Karma menginap di tempatnya. Menanyakan apa orang itu sudah pulang dan Karma bertemu dengannya (dia harap tidak). Juga, memastikan semua selamat dan sentosa tanpa dirinya harus diubek-ubek dari tiga sudut mematikan.

Namun, sebuah rencana tidak selalu berjalan dengan lancar saat realisasinya.

"Kuroko tidak masuk, ya?"

Adalah kata yang dia dengar saat latihan selesai dan matahari semakin menanjakkan diri.

"Apa ada pesan dari Kuroko pada salah seorang dari kalian?" tanya dari guru yang mengabsen ketidakberadaan si biru (yang tumben ingat buat ngabsen).

Gelengan para murid sekelas sebagai jawaban.

"AKASHI! KAU TAHU APA YANG TERJADI PADA KUROKO?"

Adalah teriakan Ogiwara di depan muka. Menghalangi jalannya saat melewati koridor yang ramai menuju kelas pagi-pagi. Wajah begitu cemas ditunjukkan. Keringat mengalir deras membasahi permukaan. Nafas memburu tanda berlari sekuat tenaga.

Bukti, bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik.

"Akashi, hei, Akashi!"

Ogiwara menapak kesal dan berjalan lebih cepat nyaris berlari. Mengikuti langkah Akashi Seijuurou dari belakang yang tidak mau menoleh padanya sama sekali.

Urat mampir di pelipis. Rasa takut disodori gunting lenyap entah kemana dan berakhir menarik kasar pundak si merah.

"Akashi! Jawab dulu pertanyaanku!"

Tidak ada jawab. Hanya pandangan si merah lebih tertarik mengulas pesan yang masuk ke ponselnya. Terang itu membuat Ogiwara kesal.

"Aka—!"—bruk! "Aduh!"

"Apa yang kau tahu tentang ini Shigehiro?"

Nafas terhenyak dalam satu tarikan.

Pandangan membunuh yang pernah dia rasakan beberapa waktu yang lampau. Berharap iblis yang terkekeh sambil melambaikan tangan di belakang Akashi itu hanya ilusi belaka.

"Aku bertanya. Apa kau tahu sesuatu, sampai kau mengekoriku seperti ini?"

Telan ludah. Dalam hati komat-kamit minta pengampunan andaikan dia mati disodok gunting hari ini.

"Aku berpikir, kau tahu sesuatu. Karena... Kuroko sempat mengatakan bahwa adikmu bersamanya—Karma, kan? Aku pernah bertemu dengannya kebetulan."

"Kau juga tahu tentang Karma?"

"Ah, begitulah... Kuroko sempat mengirimi pesan padaku semalam."

Jadi, dia mengirim pesan soal adiknya ke orang lain tapi, tidak pada dirinya yang masih kakaknya. Wow. Hebat sekali Kuroko Tetsuya. Batin Akashi sarkas. Melupakan fakta mereka tuker nope aja belum pernah.

"Lanjutkan."

"Eeh... Pagi ini... Aku bermaksud menjemput Kuroko."

.

Pagi ini, harusnya menjadi pagi yang biasa. Anggap Ogiwara saat menjalani kegiatan sehari-harinya sebelum sekolah. Menjemput Kuroko terutama. Karena, hari ini kasus spesial—berhubung Kuroko lagi ditinggal sendirian di rumah—Ogiwara berangkat lebih pagi. Siapa tahu si biru itu masih molor sambil nungging dengan celana melorot sampai kaki.

Mendapati di depan Cafe masih gelap bagai tak ada nyawa. Ogiwara meyakini bahwa Kuroko masih menyelam dalam genangan iler. Dia pun pergi ke belakang, dengan maksud menekan bel secara ganas agar si baby blue bangun dan sadar hari sudah siang.

Namun, begitu terkejutnya dia mendapati Kuroko masih memakai piyama. Wajah biru itu nampak kuyu. Lemas dengan garis hitam menggantung. Rambut berantakan kayak habis bergulat di kasur.

Ogiwara punya firasat buruk kalau Kuroko diapa-apakan sama adik Akashi. Dia langsung panik.

"KUROKO KAMU HABIS DIAPAIN!?"

Teriak Ogiwara dengan tidak tahu malunya sampai bapak tukas pos menoleh heran.

Biasanya kalau sudah begini polanya Ogiwara bakal ditabok sama Kuroko. Tapi, sungguh langka sepersekian detik Ogiwara bergaung dia tidak menerima sakit yang biasanya.

Ogiwara kedip-kedip melihat Kuroko menghela tanda tak berharap dirinya datang.

Aduh, kok jleb.

"Ogiwara-kun... Kau duluan saja ke sekolahnya."

"Eh? Lho, kamu gak sekolah?"

"Sekolah... Tapi, aku masih menunggu Tasuke-nii..."

"Lho, lho. Kurokono-san kan memang pergi ngapain ditunggu? Hei, Kuroko!"

Bam!

Pintu ditutup di depan muka.

.

Ctikctik

Kejadian juga.

Akashi sungguh naif berharap nasib baik akan mengkabulkan permintaannya. Agar si-kepala-batu-Tetsuya tidak ikut andil dalam hal ini. Dengan drama semelankolis ini mana mungkin si kepala batu itu tidak tergugah untuk ikut campur sekarang.

'Kenapa mereka begitu bodoh, sih!' rutuk Akashi. Lebih ke arah Kurokono sebenarnya. Bisa-bisanya dia membiarkan Kuroko mengetahui hal itu. Sebagai sepupunya Kurokono pasti tahu seberapa kepo saudara tersayangnya itu, kan? Hh... Akashi benar-benar tidak habis pikir.

"Berikan aku nomor Kuroko, Ogiwara."

"Heh?" Ogiwara kaget ditodong minta nope. Biasanya Akashi kan menolak mentah-mentah pas dikasih, ini tumben minta dengan senang hati.

Mendadak bunga mekar setaman—mungkinkah, mungkinkah sang Iblis akhirnya luluh jug—CKRIS!

"Dan jangan beritahu kalau aku minta padamu atau kugunting kau."

.

.

Kabar dari Ogiwara sungguh membawa mudarat bagi para penghuni kelas A. Dalam hati beberapa saksi, mereka menyumpahi Ogiwara yang membangunkan iblis untuk mengamuk dalam keheningan yang mencekam.

Bwoooosh

Akashi mengeluarkan miasma pekat dengan persentasi 100 persen bisa bunuh orang. Guru yang mengajar menangis tak kuat dengan hidup yang begitu durjana.

Ngomong-ngomong soal sosok satu lagi yang tidak latihan pagi nampaknya juga mempengaruhi kadar miasma selain Akashi di kelas A.

Sebut saja Midorima Shintarou. Yang stay dengan tampang cool tapi pensilnya menggurat penuh kekejaman di atas kertas.

Ah, ya. Mengenai Midorima semua kembali berhubungan dengan sosok seorang pengayuh gerobak yang tidak datang menjemput pagi tadi.

.


.xOx.


.

Semua ini berawal dari sebuah pagi di kediaman bermarga Takao di suatu pelosok bumi. Terduga si sulung yang (mengaku) tampan, gagu di depan pagar rumahnya dengan mulut tersumpal roti dan susu di tangan sambil garuk-garuk pantat yang tiba-tiba gatal.

Dia bengong sambil mikir.

Sruupppp

Kenapa ada cowok cakep nge-gembel di depan rumahnya?

...

...

krik

.

Takao ingin percaya ada kesalahan pada matanya tapi dia sadar kalau matanya masih tokcer seperti biasa.

Takao Kazunari itu punya mata sakti. Walau, kalau dibandingkan dengan Akashi tentu saja kastanya sungguh jauh. Ibarat dia ksatria pengelana yang jalannya saja terseok, Akashi Seijuurou adalah Maha Dewa nan agung bertahta berlian dan emas di sekujur tubuh. Tapi, yang namanya sakti tetap saja sakti. Bukti, bahwa dia bisa menemukan Kuroko yang ngumpet-ngumpet saat telat kumpul latihan merupakan kebenaran akan berkah dan anugerah kelahiran (dia tahu, tapi diem aja. Toh, ada yang sudah siap maki-maki moduspedekate dia seharian; baca, Akashi.).

Karena Takao anak baik yang sedikit (sangat) hiperaktif, dia tidak pernah memanfaatkan mukzizat ini untuk berbuat dosa macam ngintip celana dalam cewek yang lagi naik tangga di kejauhan sana. Zinah mata itu emang bikin kalap. Tapi, Takao harus kuat iman. Kuat-kuatin iman biar gak ngelirik cewek yang bikin dia malah ngelirik cowok. Ironis emang. Untung yang dilirik itu berondong bintang lima yang langsung dapat restu dari orang tua. Daun hijau yang sok cool, tapi hati selimut domba memang tak bisa ditolak racun biusnya.

Ketahuan banget siapa gebetannya.

Jadi, kalau seandainya dia melihat ada cowok cakep yang terdampar di depan pagarnya Takao pingin ngucek mata, siapa tahu ini azab karena sering ngintip si gebetan pas ganti baju.

Ngomong-ngomong benar terdampar yang itu, lho.

Helooo, pagi-pagi, dalam kondisi buru-buru karena kalau datang latihan telat disabet harisen pelatih yang ganasnya nyaingin Poldemort beranak, pas mau ngelangkah keluar sadar ada gembel yang lagi selonjor badan seenak jidat ngalangin jalan. Lebih-lebih dia tahu identitas mahluk yang ngegembel itu.

Rambut merah? Muka unyu? Aduuh, Takao tahu banget siapa. Itu Akashi. Tapi, bukan Akashi yang durjana. Itu yang adiknya yang lebih durjana lagi kelakuannya. Yang semalem sempat kenalan dengan muka polos dan cerianya. Yang semalem ditemuin jalan malam berdua sama Kuroko dengan mesra. Yang dia dengar-dengar bakal nginap berduaan di rumah Kuroko semalaman. Curiga kalau sebenernya tuh bocah dua lagi backstreet di belakang Akashi tapi ketahuan dan sekarang salah satu korban dibuang di depan kediamannya sebagai bukti ancaman bisu untuk diam saja karena dia saksi yang sempat bercengkerama semalam.

Tidak. Tidak. Tidak salah lagi kalau memang benar. Yang namanya Akashi apa sih yang gak bisa. Debus aja yang paling jago dia.

Roti ditelan sekaligus. Keselek dan batuk-batuk.

"GYAAAA!" Takao teriak banci dengan sangat telat.

"BERISIK ONII-chan! PAGI-PAGI JANGAN BIKIN RUSUH!"—tung—Takao dilempar sepatu. "Kenapa sih teriak-teriak? Memang ada pup guguk di depan?" Sang adik berkuncir kuda maju ke arah pagar.

Pas melihat apa yang ditunjuk Takao dia langsung pucat.

"KYAAAAA!"

"Tuh, kamu sendiri seriosa."

.

("Kaa-saaan! Tolong! Ada gembel ganteng di depan rumah!", "Hah! Gembel ganteng! Temanmu Kazu-kun?", "Kaa-san! Kok bisa duga aku temenan sama gembel, sih!?" Takao terluka dikira maennya sama gembel. Padahal gebetan aja bintang lima. Apa wajah ini begitu miskin sampai ibunya menganggap kastanya begitu rendah? Jahat! "Ya, sudah bawa masuk. Ajak sarapan.", "Kaa-san, itu gembelnya modar.", "HAAAAH! YA AMPUN KOK GAK BILANG DARI TADI BAWA KE ATAS TIDURKAN DI KAMARMU TAPI JANGAN DIPERKAOS YA NAK. JANGAN SELINGKUH!", "Idiiih! Kaa-san! Hatiku kan cuman buat Shin-chan! Ya, masa aku selingkuh!?", "Halaah, kemarin ada yang bening di TV aja teriak-teriak kayak orang kesambet.", "Habis mirip Shin-chan siih! Kan, jadi berdelusi!", "Onii-chan! Bantu angkat dong kamarmu kan di lantai dua!", Keberadaan seorang lelaki lain yang diduga adalah sang kepala Keluarga hanya diam mematung sambil pegang koran pagi. Memperhatikan pemandangan yang gubrakgabruk sambil geleng-geleng herman, "Bukannya harusnya telepon polisi atau semacamnya, ya?" angkat bahu tak peduli lalu lanjut ngopi pagi.)

.


.xOx.


.

Senja yang merah. Malam dan rembulan. Pemandangan di balik kaca. Tangis dan isak seorang anak.

Entah itu visual atau ilusi. Atau sesungguhnya kenangan yang tereka dalam mimpi.

Mimpi dari balik jingga yang tertidur.

.


.

"Sei nii-chan?"

Ingatannya yang paling jelas dalam hidupnya adalah saat pemakaman ibunya, lalu—sosok sang kakak yang duduk di balik meja memunggunginya. Berkutat di balik buku selama berjam-jam tanpa menoleh ke belakang.

Dia tahu. Karena dia selalu mengintip dari balik pintu. Setiap hari. Saat itu dia berusia lima tahun—usia yang cukup untuk memetakan sebuah kenangan untuk diingat selamanya.

Sepanjang ingatannya, dia selalu menanti kapan sang kakak akan beranjak dari sana. Meminta dengan desah lirih yang tak terdengar. Dengan harapan dia bisa bermain dengan sang kakak. Walau, begitu dia tetap menunggu. Menunggu setiap menitnya. Menunggu setiap jamnya. Mengawasi dengan manik jingga bulat yang menyayu tanpa sedikitpun mengganggu.

Karena sosok kecil itu... merasa kesepian.

.

.

Semua terasa aneh sejak sang ibu sudah tidak ada. Sejak 'Nii-channya' tidak ada,

Karma ingin bisa bermain lagi dengan kakaknya. Lebih dari itu, dia merindukan 'nii-channya'.

Sebelum 'Nii-chan' datang, Karma juga merasa seperti ini. Tidak bisa bermain dgan kakak. Takut dengan Ayahnya yang besar. Meski, begitu saat itu masih ada sang ibu di sampingnya yang menemani dirinya hingga dia tidak terlalu merasa kesepian.

Tapi, saat ini berbeda.

'Kaa-chan' sudah tidak ada.

Sei-nii bilang 'kaa-chan' tidak akan pulang lagi. 'Kaa-chan' sudah meninggal. Sudah jadi abu dan kembali ke langit menjadi malaikat.

Karma tidak paham dengan asas sebuah kematian. Namun, dia mengerti karena ibunya suka menceritakan tentang para malaikat-malaikat salam dongengnya.

Malaikat selalu ada untuk melindungi kita, namun kita tidak bisa melihatnya.

Tidak bisa melihat. berarti tidak bisa bertemu.

Lalu, dia menangis seharian.

.

Di suatu ketika, teringat dirinya masa-masa 'Nii-chan' yang selalu ada bersama mereka dan mengajak mereka bermain setiap harinya.

Masa yang menyenangkan dalam benak Karma. Masa saat dia tidak memandang sang Ayah sebagai sosok yang meyeramkan. Karena, 'Nii-chan' membuat ayahnya menghabiskan waktu bersama mereka.

"Nii-chan..."

Tapi, sekarang 'Nii-chan' tidak ada.

'Nii-chan' sudah pergi karena ayahnya mengatakan hal-hal yang jahat padanya.

'Nii-chan' sudah pergi, tapi tidak seperti 'Kaa-chan'nya yang menjadi malaikat dan tidak bisa bertemu lagi.

Dia masih bertemu 'Nii-chan' lagi.

Kalau dia mencari 'Nii-chan' dan membawanya pulang dia bisa main dengan Sei-nii lagi, kan?

.

.

Semuanya... adalah harapan polos seorang anak kecil yang masih memiliki binar indah di bola matanya.

Hanya kenginan agar semuanya bisa bahagia termasuk dirinya.

.

.

PLAK—tangan kecil yang terngadah, telapaknya bergaris kemerahan?

"Bisa-bisanya kau kabur dari guru lesmu—apa kau ingin mau jadi anak pembangkang Seijuurou!"

Berang seorang pria besar di hadapan bocah kecil yang tertunduk merahnya. Gemetar, namun tak kuasa untuk menangis dan terlihat lemah. karena, tahu hal itu akan membuat ayahnya lebih marah lagi.

Pada akhirnya, dia hanya bisa meminta maaf dengan lirih.

"Nii..." sosok merah lain yang lebih kecil keluar setelah Seijuurou ditinggal sendirian di kamarnya. Karma bersembunyi di kolong kasur, melihat kejadian itu degan mata berkaca-kaca karena memahami kalau dia yang membuat kakaknya dimarahi begini. "huu... maaf... kalena Kalma ajak main sei-nii..."

Dia terisak, mengusek-ngusek mata dengan tangan mungilnya. Sang kakak hanya memandang sikecil yang menangis tanpa berkata banyak.

"Ya..." hanya itu katanya. "Tapi, kita gak bisa main bareng lagi..."

Si kecil tertunduk, terisak semakin keras.

"Hiks...hiks... Nii... aku kangen Nii-chaan..."

"Lupakan Karma. Dia tidak akan kembali. Dia sudah punya kehidupannya sendiri."

"Bohong... Bohong... Nii-chan pasti ke sini! Sei-nii jangan bohong... Huhu..."

"Karma." bibir itu menekan. "Dengar kata-kataku."

"Tapi... Tapi..."

"Jangan tanyakan tentang dia lagi."

Kenapa?

Padahal kalau ada 'Nii-chan' kakak tidak akan dipukul.

Kalau ada 'Nii-chan' kakak tidak akan dimarahi.

Kalau ada 'Nii-chan' kakak bisa main dengan Karma, kan?

Padahal... Kalau 'Nii-chan' di sini... Sei-nii, akan ditolongnya.

Tapi, kenapa Sei-nii tidak mau 'Nii-chan' di sini?

Apa Sei-nii juga tidak peduli sama Karma?

.

Jika tidak ada satupun yang peduli.

Maka dia akan mencarinya sendiri.

.


.

Bats!

Kilau jingga terbuka dalam satu sentak cepat. Keringat dingin mengalir, nafasnya memburu dan jantungnya bertalu. Beberapa saat dilalui dengan belakan mata memandangi langit-langit kamar. Kemudian, dicobanya mengangkat tangan. Memandangi putih pucat dan kelima jarinya yang besar dan remaja.

Ah, ternyata hanya mimpi.

Tangan dibawa turun mengusap wajah, dan dia sadar bahwa inilah kenyataan.

Dan menyadari pula apa yang dia impikan jugalah kenyataan.

Kenangan masa lalu.

Dan harapannya.

Awal dari semuanya.

"Eh, bangun toh."

Jingga menoleh pada sosok di ambang pintu. Dia tidak mengenalnya, namun ingatan yang familiar membuatnya yakin bahwa mereka pernah bertemu.

Takao datang sambil menutup pintu dengan kaki, sibuk memegang baskom isi air sama makan hangat di tangannya. Sebelum sempat memproses apa yang terjadi Karma langsung dalam kondisi duduk.

"Kenapa... Aku...?" ucap gagu bagai orang linglung.

"Itu yang aku mau tahu malah." Takao menaruh barang-barang yang di bawa di meja. "Kamu tidur di depan pagar rumahku kayak gembel. Untung aku sadar, tadinya mau dipanggilin polisi, lho~."

Wajah pucat menjadi keruh merengut.

"Kau panggil?"

"Tidak. Nee, aku masih penasaran karena kemarin kita ketemu kau baik-baik saja paginya malah ngegembel. Tapi, kelihatannya kau masih bingung."

Karma meneleng kanan kiri seolah kesadaran memang belum sepenuhnya kembali padanya. Tentu saja Takao menyadarinya. Reaksi pertanyaan itu sepertinya hanya bentuk pertahanan diri saja.

"Mma, kau tidur saja lagi. Oh, makanannya nanti di makan, ya. Ibuku sudah membuatkannya."

"Kau mau kemana?"

"Sekolah, doong... Kalau ada apa-apa nanti minta tolong ibuku saja. Bilang saja kau temanku. Jaa, nee~... Kamarku jangan diancurin, ya."

"Tunggu! Kau... jangan beritahukan siapa-siapa aku di sini..."

"Heh? Kenapa? Kau beneran kabur dari rumah?"

"...kumohon..."

Takao menarik alis. Sebenarnya dia curiga, dan sedikit tidak enak juga kalau harus merahasiakan dari orang lain. Secara dia kenal kakaknya—walau, yang kenal dekat itu Shin-channya. Tapi, sebagai calon kan harus punya koneksi sama kolega (masih calon) suami juga kaaan?

Tapi, melihat kondisi Karma yang nampak terpuruk begini tidak tega juga kalau ditolak.

Jangan-jangan beneran ke-gap lagi. Aduuh, beritanya begitu potensial tapi, kalau dia terseret andil bisa melarat entar.

"Baiklah... Aku gak tahu kenapa tapi, yang penting aku tidak memberitahu Akashi, kan?"

Sebuah anggukan terpantul di mata Takao. Dia garuk-garuk kepala, tapi pada akhirnya nyengir saja sambil dadah-dadah.

.

.

.

'Nah, sekarang bagaimana?'

Poin satu: pagi ini dia nemu anak orang di depan rumahnya.

Poin dua: anaknya dari keluarga titisan entah dewa entah iblis yang gemerlap kekayaannya bikin silau mata apalagi jiwa.

Poin tiga: dia gak boleh ngasih tahu sama keluarganya. Dan Takao sangat-sangat tahu kalau kakaknya itu lagi mengeluarkan miasma karena moodnya sedang jelek sejeleknya (barusan dia ganggu shin-chan di lorong tumben sekali gak menghardik, pas dilihat mukanya kayak orang keracunan, Takao harap dia keracunan cintanya sampai tak bisa ditawar tapi kayaknya bukan deh.) Informasi tambahan, Kuroko telat hari ini. Jadi, tak ada yang menetralisir efek miasma di sekitar Akashi pagi tadi.

Poin empat: nolong nyembunyiin anak orang yang kabur bakal ditangkep gak ya?

Poin lima: ya, kami-sama. Maafkan daku kalau ini hukuman karena sering ngintip Shin-chan. Habis Shin-chan seksi kotak-kotak, sih.

Sekiranya lima poin itu yang bikin anak hiperaktif macam Takao kini duduk diam sambil pundung merengutkan dahi. Takao tidak biasa diginiin, tiba-tiba dijadikan objek penulis seolah dia peran utama. Takao cukup bahagia menjadi peran pembantu yang dikabarkan selalu mengintili Shin-chan tersayang. Nggak, Takao puas banget malah.

'Bagaimana kalau kuberitahukan Akashi saja?'

Takao mengingat bagaimana keadaan Karma dan temperamen Akashi Seijuurou. Kayaknya kalau dipertemukan kondisinya bakal buruk buat kamar sama kokoronya. Mungkin, dia bakal trauma sama yang warnanya merah-merah.

Menghela penuh nestapa, poin ke empat mengaung-ngaung dalam jiwanya. Kalau urusannya Akashi, kemungkinan dia masuk lapas sangat besar. Takao tidak mau itu terjadi! Bisa-bisa Shin-channya berpaling pada yang lain!

Akhirnya, dengan tekad setengah baja dan segala kemungkinan kamarnya meledak bagai bom Hiroshima Nagasaki, di jatah istirahat 10 menit menuju mentari, Takao menjajakkan kaki ke sarang sang iblis.

Kebetulan dia belum ambil jatah manja-manja sama Shin-chan juga. Tehee~.

.

"Permisi~..." Takao Kazunari nyelonong masuk ke kelas A, tidak ada satupun penduduk yang protes, dia sudah sangat terkenal di kelas A. Sampai keberadaannya dianggap wajar, bahkan banyak yang lupa kalau Takao itu dari kelas sebelah sampai nggak diusir-usir sebelum diabsen gurunya. Tentu saja karena setiap hari dia mengintili mahluk hijau nan tampan buat dijailin juga dimodusin.

Midorima yang lagi duduk membaca buku bersama lambaian angin menerbangkan dedaunan sebagai latar hanya menghela. Dirinya sudah bersiap untuk terjangan dekap-aku-lebih-erat dari si raven dalam hitungan satu, dua...

...

Eh? Kok gak berasa? Apa Midorima salah hitung. Baiklah, satu, dua...

...

Biasanya sebelum tiga dia sudah diterjang, Ini ada apa, ya?

Midorima yang tadinya bersikap sok acuh akhirnya tak sabar untuk melirik. Dia melihat kalau si raven sudah berdiri di sisinya, namun prioritasnya nampak diarahkan pada hal lain. Buktinya, dia celingak-celinguk seolah mencari.

Apa jangan-jangan misdirection Kuroko menular padanya? Bu-bukan berarti dia mau diperhatikan, ya!

"Nee, Shin-chan. Akashi gak ada ya?"

PRAANNG

Itu bukan suara kokoro terhempas jalanan dan diinjak-injak. Tapi, kacamata Midorima yang mendadak pecah saja. Iya, serius. Bohong itu dosa nanti masuk neraka, lhoo.

Dengan gerakan patah-patah menatap Takao dengan horor. Dalam hati teriak, ngapain juga dia nyari Akashi?

Anak sekelas yang lain malah ikutan mangap dan buat sugesti.

'Takao gak nyari Midorima?'

'Mereka putus?'

'Jangan-jangan gara-gara gak dinotis Takao jadi belok!'

'Seleranya dahsyat yaa...'

'TAKAAKA BERGELORA!'

Dan sebagainya. Dan sebagainya. Midorima yang dengar bisik-bisik langsung menatap nyalang penuh kemudaratan pada sekitar. Tebar aura berserk selevel Akashi yang lagi kalem dan penuh senyum (sungguh mengerihkan).

"Ngapain kau nyari-nyari Akashi, Takao?" tanya Midorima sensi.

"Humm..." Takao nampak mikir, cukup lama sampai Midorima gatal ingin menggampar.

"Oh!" jentikan jari yang membuat sumringah pendengar yang penasaran. "Kalau Kuroko liat gak?"

MAU NYATAIN PERANG YAAAA

Batin imajiner sekelas langsung panik kalang kabut. Sppekulasi bahwa Takao akan menantang Kuroko untuk membuktikan pada siapa Akashi akan tertambat menjadi trending topic kelas A. Dan langsung menyebar dalam hitungan menit ke satu angkatan. Midorima mendadak desperet. Dia dituding sebagai suami yang tak bisa menjaga istri meladur. Demi oha asa tadi pagi. Perasaan dia sudah bawa lucky item kualitas rare, apa kemampuannya langsung musnah karena ada hubungannya Akashi?

"Kamu mau apa nyari mereka berdua?"

"Eh, mereka berantem gak tadi pagi?" balas Takao gak nyambung.

Teriakan entah parno entah bahagia di sekeliling mereka. Pertanyaan Takao begitu menjurus akan permainan hati yang tercabik kanan kiri, dilontarkan dengan muka polos tak berdosa seolah dia tak ikut andil dalam drama picisan ini (memang nggak).

Midorima sendiri merengut kesal. Kesal. Kesal. Gak tahu kenapa pokoknya kesal. Walau, dia terlalu tsundere untuk mengakuinya secara gamblang.

"Ngapain kamu tanya-tanya begitu, hah? Mereka berantem atau nggak itu bukan urusanmu, kan?!" nada Midorima langsung meninggi penuh tekanan, kebetulan radar tsundere punya Takao tidak berfungsi karena otaknya lagi dipakai mikir. Jadi, dia tidak sadar kalau Midorima nahan emosi panas dingin ingin mencabik Akashi tapi tak berani.

Lalat berkerumun menggelitik. Midorima tak peduli. Takao juga mendadak tuli.

"Tentu saja itu urusanku." dia punya masalah yang sangat penting untuk didiskusikan pada mereka berdua terutama Akashi, mengenai gemb-adik yang numpang tidur di rumahnya.

Sayangnya dia gak sadar efek omongannya membuahkan riuh dan gosip di sekitarnya.

"Ya, sudah deh. Kalau Shin-chan gak tahu." tanyanya nanti saja pas latihan sore, deh. Dengus Takao menyerah sesaat. Mungkin masih belum jodoh buat kasih laporan. (Atau, ini jampi-jampi sang adik supaya dia tak bisa bicara mengenai keberadaan yang tengah menumpang di kasurnya. Seram kali kalau benar. Hiii...)

Di saat Midorima melenyapkan ke-tsunderean untuk beberapa saat dan bersiap bertanya. Bel masuk berbunyi dengan laknat.

"Wah, kalau begitu aku balik ke kelas dulu ya, Shin-chan!"

Rahang benar-benar terlepas saat istirahat itu berakhir tanpa satupun adegan skinship Takao pada Midorima.

Midorima berdiri dengan muka gusar. Takao yang sadar meneleng bingung kenapa. Biasanya juga dia ditendang dengan muka penuh sungutan, tapi jarang-jarang Shin-channya seolah tidak rela dia pergi.

Mendadak Takao dapat ilham, terus dia nyengir.

"Oh, ya! Shin-chan, jangan mikir yang aneh-aneh ya~... Sampai kapanpun aku tetap sayang Shin-chan kok!"

Syuut—clep! Clep! Clep!

Triple Critigal Trigger. Terpanah ke arah Midorima—yang kebetulan lagi sensi jadi bisa tembus pertahanannya.

Anak sekelas cekikikan.

Takao...

Kau memang rajanya modusin.

.


.xOx.


.

Matahari naik semakin tinggi, hari semakin terik. Namun, belum ada tanda Kuroko Tetsuya untuk beranjak dari meja kursi yang di dudukinya.

Dia sudah mandi. Sudah sikat gigi. Namun, niatan untuk memakan telur rebus (buatannya) sebagai sarapan sama sekali belum kesampaian. Setiap dia mengupas pasti ada jeda cukup lama untuk melirik ke arah pintu depan. Jeda yang lama sampai dua telur rebus belum rampung di kupas dalam kurun waktu tiga jam.

Berkali-kali menghela berat saat tahu belum ada tanda-tanda seseorang akan pulang sejak dini hari.

Kuap besar ditutupi tangan, mengucek mata yang terlihat begitu lelah.

Kenyataan bahwa dia tidak tertidur semenjak insiden kaburnya Karma lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa kuyunya dia. Bagaimana juga dia bisa tidur dalam perasaan cemas dan khawatir, apalagi melihat sosok sepupunya yang begitu tangguh itu nampak pias seolah tersakiti.

"Tasuke-nii!"

Kurokono nampak kaget melihat sosok sepupunya masih di sini meski hari sudah siang. "Tetsuya... Kau tidak bersiap?"

"Aku tahu... Tapi, bagaimana? Dimana Karma-kun?"

Geleng pelan dengan wajah sesal. "Maaf... Aku tidak menemukannya." Kuroko mendapati wajah itu tertunduk dalam sebelum kembaali melanjutkan kata-katanya, "Ini salahku..."

"Tasuke-nii..." sebuah cengkeram tanda untuk desakan agar tidak menyalahkan diri sendiri. Kurokono merasa sedikit terhibur dengan hal itu. Mengetahui ada yang mengkhawatirkannya dan orang itu sedekat ini tentulah membuat hati itu tergugah. Membuat sebuah gerakan mengelus lalu memeluk kepala itu perlahan.

"Aku tidak apa-apa Tetsuya. Aku akan memikirkan untuk selanjutnya." bisik bibir itu pada sang sepupu, namun entah kenapa Kuroko merasa hal itu bukan untuk dirinya sepenuhnya. Lebih seperti untuk meyakinkan diri sendiri, menurutnya. "Sekarang pergi sekolah, ya. Ah, ini memang sudah sangat telat tapi, aku tidak mau kamu bolos."

Kuroko menarik diri seolah ingin memprotes, "Tapi—!"

"Tetsuya-kun."

Ditekan dalam sebuah nada yang tinggi.

"Aku ingin istirahat sebentar."

"Baiklah... Aku akan bersiap-siap." sahutnya meski dengan setengah hati. Mungkin, karena dia merasa berkecil hati karena Kurokono tidak menganggapnya sebagai orang yang bisa membuatnya menenangkan diri.

Biru itu menggeleng keras. Mencoba menghilangkan pikiran-pikiran negatif itu.

Bersamaan dengan sosok yang menghilang di balik tangga, bola mata hitam itu mengalihkan pandang dengan sendu.

'Maaf Tetsuya-kun. Tapi, aku sunguh ingin istirahat dan memikirkan semuanya...'

Segala yang tidak kau ketahui.

Apa yang terjadi malam itu.

.


.

Kaki itu berlari. Terkadang berhenti di beberapa meter, menoleh kanan kiri pada keadaannya. Kemudian, menghela lalu berlari lagi.

Bulan semakin menukik, dingin mulai membias. Entah itu karena suhu tubuhnya yang meninggi atau karena fajar akan tiba sebentar lagi. Sosok itu tidak memikirkannya. Yang dia renungkan hanyalah menemukan sosok bersurai merah itu berada dalam lingkup pandangnya.

Bilah manik hitam Kurokono mengerjap menyusuri jalan yang sepi. Menulikan diri dari lelah tubuh yang merajahi dan tetap mencari.

"Hh...hh..." Kurokono bersandar pada sebuah tiang lampu. Mengelap peluh yang mengalir di sisi pipi. Rambut kehitaman jatuh di kening, dia usap pelan ke belakang lalu menunduk. Dalam hati merutuk dan menyesali semuanya.

Syuuh...

Angin dingin menerbangkan dedaunan dan debu menggersang. Sekejap dia mengatup rapat matanya menghindari debu bertebangan.

Tanpa menyadari ada sebuah sabit tengah tersenyum padanya dengan manik yang mengawasi.

"Hisashiburi, Kurokono-san."

Deg!—suara itu menggumam tepat di samping telinga, sontak kaki itu melompat untuk menghindar memberi jarak. Manik kehitaman menjadi awas, memicing untuk melihat wajah yang tersembunyi di balik bayang-bayang cahaya.

Lalu, terhenyak kala mengetahui siapa.

"Kau... Korosen?" ucap Kurokono pias.

"Halo~..." lambai santai memberi sapa dengan ramah dan senyum yang menawan. Namun, Kurokono sebagai lawan bicara memasang raut wajah penuh kegelisahan padanya.

Ya, Kurokono tahu siapa dia. Tentu saja, dia adalah pelayan keluarga Akashi yang pertama kali dia kenal. Pelayan yang selalu menjaga dua balita yang pada akhirnya dia asuh atas permintaan sang Ibunda.

Sosok pelayan muda yang kini dia paham topeng apa yang tersembunyi di baliknya.

"Nuru? Kenapa kau berwajah begitu Kurokono-san? Sudah lama tidak bertemu bukan? Kira-kira terakhir itu tiga bulan lalu."

"Kenapa kau... Tidak. Kau tahu di mana Karma?" Kurokono mencoba mengalihkan alasan keberadaan orang itu di sini. Memanggil dan menyapanya di tengah malam bahkan menghilangkan aura keberadaannya.

Karena, dia tidak ingin mendengarnya.

"Hm, mungkin aku tahu." senyum terulas sambil menimang dagu. Kurokono yang mendengar langsung membola.

"Kalau begitu—!"

"—Aku tidak akan memberitahukannya. Dan kau tahu kenapa, kan?"

—tidak mau menerima kenyataannya.

"Kontrak selesai. Kau melanggar janjimu untuk tidak bertemu dengan mereka berdua. Aku menutup mata untuk Seijuurou-kun karena itu ketidak kesengajaan yang tidak berhubungan. Tapi, sekarang sudah lain cerita."

Ah, tentu saja. Dia selalu menjadi keras kepala yang tak mau mendengar bukan. Selalu mencari tahu dengan berbagai cara agar bisa mengawasi balita yang dia asuh.

Tentu saja, alasan selama ini dia selalu tahu bagaimana kondisi mereka.

Selalu tahu perkembangan dua balita yang dulu dia asuh. Dari segi fisik maupun mentalnya. Permasalahan mereka apa yang mereka pikirkan.

Karena orang ini.

"Kau tidak bisa meminta lagi informasi tentang mereka dariku."

Karena, dia menjanjikan hal manis itu.

Sebagai ganti dari informasi tentang kedua Akashi Kurokono menepati janji untuk tidak menunjukkan dirinya di hadapan para Akashi. Menghilang dari kehidupan bahkan penciuman mereka selama ini.

Dan andai dia melanggar janji...

"Maaf, ya. Aku tidak mungkin melanggar perintah majikanku, kan?"

"Kau sudah tahu... Apa kau akan memberi tahukan dimana aku pada... Masaomi-san?"

"Kalau dia bertanya."

Andai itu terjadi sudah pastilah dia tidak akan bisa di sini lagi.

Tangan itu mencengkeram lengannya sendiri, mencoba menetralkan emosi yang bergolak di dalam dirinya. Ketidakrelaan, kepasrahan. Bercampur menjadi satu dan membuat diri itu bergumam dalam permohonan. "... Tolong... Kumohon jangan. Aku masih... Memiliki orang yang harus kujaga saat ini. Setidaknya... Sampai dia lulus."

Lebih dari itu dia tidak yakin untuk meninggalkan bibit kenangan yang sudah dia tanam sampai saat ini.

Tatap datar pada kepala yang tertunduk membuatnya menutup mata dan menarik nafas berat. Anak ini sudah membuat pertaruhan dari keadaan demi situasi yang dia inginkan, namun Korosen menyadari bahwa sudah saatnya anak itu terbangun dan menyadari konsekuensi dari setiap kenyataan. "Kurokono-san, sebagai pelayan keluarga Akashi sudah kewajibanku untuk menuruti setiap perintah majikanku."

Dia memahami, hal inilah yang selama ini anak itu takuti.

"Memberitahu keadaan kedua anak tersebut sesungguhnya juga merupakan suatu pelanggaran dan hanya rahasia kita berdua saja."

Selalu takut apa yang akan terjadi bila harapan kecilnya itu terkabul.

"Aku rasa aku tidak bisa membantumu lagi saat ini."

Harapan kecil untuk bertemu dengan kedua anak asuhnya, meski dia sangat paham kala hal itu terkabul akan memaksanya untuk kembali 'menghilang'.

Sama seperti dulu.

Andai dia sendiri, mungkin akan lebih baik. Mungkin, dia akan mengangguk setuju dengan berat hati.

Namun, kali ini dia juga sudah memiliki lagi orang untuk dijaganya lagi.

Dan tidak mungkin baginya untuk mengabaikan hal itu.

"Tapi, bukan berarti tidak ada kesempatan bagimu."

Kepala mendongak, memandang senyum di balik semburat bayang kehitaman oleh sang bulan.

Saat diri itu ditekan secara mental bersama kata-katanya, bola mata membola seolah memahami segalanya.

.

.

.

"Bagaimana kalau membantuku memusnahkan dari akarnya?"


.

.

TBC

.

.


A/N: MOHON MAAAAFFFF KARENA SAYA SEMPAT KENA WB PAS NGETIK CHAPTER INI JADINYA SANGAT TELAAT! #glesor

Karena, sempat vakum beberapa saat gegara kerjaan jadi susah buat bangun mood lagi. T^T

Mohon maaf bagi yang sudah tidak sabar menunggu. Saya akan berusaha untuk apdet lebih cepet. Tolong berikan saya sajen biar lebih mancep.

DAN AKHIRNYA AKASHI MINTA NOPE YEEEY #bukangitu

Reply for Anonymous Reviewers:

Dera190100: Apa! kamu nangis!? Sama siapa? #samalu IIHH biarin mereka Kisu-kisu kan saya pengen kamu juga pengen kaaan... Btw, saya gabung dua reviewmu sekaligus ya~... makasih dah repot-repot review dua chapter begini. #terharu Iya, ceritanya gak ketebak ya? saya juga gak bisa nebak. #dibalang Btw, saya sudah kasih sedikit pair lain dan sedikit mengembalikan AkaKuro #balikinapa. Semoga kamu puas yaa.. maaf lama apdet.

Gilbert's Wife: Uwaah, maksih dibilang meyentuh #padahaltaghumor ;_; makasih sudah baca dan review yaaa...

Kazuhita Izumi: gak nyampur juga sih. coman nyatut karakter aja. #tehee Makasih untuk reviewnya yaa

Thank's a Lot for You

Review Onegai?


Update: 7th June, 2017