Previous
"Dan Kai, Yeol, kenalkan dia orang asing yang begitu mirip dengan Luhan kita, matanya, senyumnya, tapi sayang dia bukan Luhan."
"Apa maksudmu?" Kai bertanya dibalas suara lirih Sehun yang memperkenalkan pria didepannya sebagai "Rein, dia Rein."
"Rein? / Apa yang kau bicarakan?"
.
.
Je'Te Veux
.
.
.
Main cast : Lu Han as Xi Luhan
Oh Sehun as Oh Sehun
Rate : T-M
.
.
.
.
.
.
.
Aku tidak bisa membencimu lagi…
Lagi-lagi mimpi yang sama, sebuah suara yang terdengar kesakitan entah milik siapa.
Aku tidak bisa membencimu lagi, aku sangat mencintaimu…
Pada siapa kalimat cinta itu ditujukan? Kenapa suara tersebut melewatkan satu kalimat yang begitu sulit diingatnya? Dia bertanya dalam mimpi, tak mendapat jawaban hingga di dunia nyata peluh membasahi wajahnya yang kini mengerutkan dahi karena terlalu keras mencari tahu di dalam mimpinya sendiri.
Aku bisa menjelaskannya, aku melakukan semua itu untuk melindungimu sayang, kumohon
Suara siapa?
Kenapa kami bertengkar?
Pergi—PERGI ATAU KAU MELIHATKU MATI MALAM INI!
Dalam tidurnya, pria berparas cantik itu terlihat kesulitan bernafas, wajahnya dipenuhi keringat sementara tangannya secara refleks mencengkram dada yang luar bisa dipenuhi sesak dan sakit secara bergantian.
Apa itu suaraku?
Kenapa aku berteriak?
Dengan siapa aku bertengkar?
Samar yang bisa dilihatnya dalam mimpi, gelap yang seolah menyapa dalam mimpi berulang yang dialaminya setelah hampir dua bulan berlalu.
Selalu seperti ini, dia akan terus mencoba mengingat sekuat tenaga walau berakhir merasakan sakit di sekujur tubuh terlebih saat suara yang lebih asing terdengar mengerikan di mimpinya
Kau harus mati!—Setidaknya biarkan mereka mengira kau sudah mati.
"tidak…."
Dia mengigau dalam mimpi, kepalanya bergerak resah, ingin dia membuka mata namun sesuatu menariknya didalam mimpi, keingintahuan yang menyiksa yang kemudian berlomba dengan potongan suara lain yang terus berdengung bergantian.
Maafkan aku. Baiklah aku pergi, hanya jangan sakiti dirimu sendiri sayang
"siapa yang berbicara?"
Aku mencintaimu.
"Siapa yang-…"
Luhan.
"hah~"
Kedua mata cantik itu akhirnya membuka, bibir mungilnya yang terengah, keringat yang membasahi seluruh wajahnya seolah menunjukkan dirinya baru saja mengalami mimpi yang sulit.
Matanya terus berkedip mencari pencahayaan yang layak, berharap tak lagi melihat kegelapan karena gelap yang dialaminya didalam mimpi sudah lebih dari cukup. Matanya kemudian fokus pada satu bayangan, entah melihat apa, pria berparas cantik itu tertegun cukup lama sampai merasakan asin di sekitar bibirnya.
"Menangis lagi?"
Tangannya secara naluriah mengusap rasa asin dibibirnya, menyadari bahwa ada kristal bening yang menetes dari mata turun ke hidung dan bibirnya hingga membuat dirinya tersenyum getir.
"Ya, aku melakukannya lagi."
Entah mengapa setiap kali bermimpi buruk dia akan berakhir menyedihkan, kembali bertanya-tanya siapa dirinya, kenapa semua terlihat samar, kenapa dia merasa marah pada banyak hal lalu berakhir merasakan mual karena tak bisa mengingat satupun tentang hidupnya, tentang dirinya sendiri.
"Dan aku merasa lelah."
Dia kemudian menyingkap selimut hangatnya, berjalan menuju cermin rias yang tersedia di kamarnya lalu sejenak duduk menatap dirinya sendiri.
Wajar dia mengatakan lelah, ya, semua ini sudah diluar batas kemampuannya untuk bertahan melewati mimpi yang selalu datang berulang, dia tidak mendapatkan apapun dari beberapa potong suara yang seperti mengenalnya, yang terdengar begitu mencintainya hingga lagi-lagi air mata itu menetes selagi dirinya menatap tak berkedip cermin yang merefleksikan bagaimana menyedihkan dirinya dengan kondisi saat ini.
"Harus berapa kali aku bertanya siapa kau? kenapa kau tidak mengingat apapun?" tanyanya pada cermin dibalas hening yang menyiksa "tsk! Apa kau sudah gila? Atau kau memang sedang melarikan diri dari sesuatu?" hardiknya kesal pada diri sendiri.
Tangannya sudah terkepal erat, siap memukul cermin sampai bahunya terasa begitu sakit, dia seperti merasakan rasa panas di tubuhnya untuk menyadari bahwa bahunya memiliki bekas luka bakar yang bersikeras dikatakan oleh Taecyeon hanya luka gores biasa.
"Aku rasa ini cukup serius."
Dia sedikit menurunkan lengan piyama tidurnya, menatap dalam luka di bahunya yang kini bersahutan dengan suara Taecyeon
Itu bukan luka bakar, kau hanya tergores.
Tapi ini seperti luka bakar
Rein, kau hanya tergores, itu saja!
Jinyoung dan Taecyeon terus menyangkalnya, setiap kali dia bertanya apa alasan hingga dirinya tidak bisa mengingat apapun keduanya kompak menjawab
Kau mengalami kecelakaan yang cukup serius.
Dan hanya sampai situ dia diijinkan mengetahui alasan dan sebab dirinya kehilangan ingatan. Selebihnya, jika dia bertanya hal yang sama lagi, Jinyoung akan bungkam sementara Taecyeon akan terlihat marah karena pertanyaan yang dia ajukan.
Luhan, Pria yang dijadikan Rein oleh Taecyeon, tersenyum getir, dia menaikkan lagi piyama tidurnya untuk menatap dalam-dalam wajah yang kini sedang ditatapnya. Satu tangannya mencoba untuk menyentuh bayangannya sendiri di dalam cermin, sedikit mengingat satu suara terakhir di mimpinya malam ini yang memanggil nama
"Luhan?"
Dia menatap serius bayangan dirinya dan kembali bertanya "Siapa Luhan?" lalu tak lama terdengar suara diluar yang cukup menarik perhatiannya. Suara bersahutan itu terdengar bahagia, tak seperti dirinya yang sedang bertanya banyak hal karena tidak bisa mengingat apapun.
Jadilah dia tergoda, mencoba untuk berkumpul dengan suara keramaian di luar kamarnya lalu terlihat Taecyeon dan Jinyoung sedang berbincang dengan seorang pria yang ditebaknya adalah remaja sekolah menengah akhir dilihat dari seragam yang dikenakannya saat ini.
"Yap! aku resmi mendaftar di Seoul University, aku mungkin akan mengambil kedokteran seperti Jinyoung hyung atau penulis seperti Rein hyung."
"Segera tentukan pilihanmu anak nakal!"
"Nanti setelah aku bertanya pada Rein hyung akan kuberitahu."
Luhan mengintip dari balik pintu kamarnya, jujur dia selalu merasa tidak nyaman jika bertemu dengan orang asing yang tak dikenalnya, tapi melihat remaja sekolah itu berbeda, dia tersenyum seperti bisa merasakan kebahagiaan dari si remaja yang sedang tertawa.
"Ah ya, dimana Rein hyung?"
"Hyung sudah tidur, besok pagi kau bisa bicara dengan-….."
Buru-buru Luhan membuka lebar pintu kamarnya, mencoba untuk meniadakan jarak dengan keluarga yang masih terasa asing untuknya "Aku belum tidur."
Lalu Jinyoung menoleh, begitupula Taecyeon yang melihat ke arahnya cemas sementara remaja yang sedang tertawa itu memekik tatkala melihat wajahnya.
"HYUNG!"
Sedetik kemudian tubuhnya ditabrak oleh tubuh yang lebih tinggi darinya, Luhan hampir terjungkal jika si remaja tidak mengeratkan pelukannya, membuat dia benar-benar tidak mengerti harus bereaksi seperti apa dan hanya mengatakan
"hey." Sebagai jawaban singkatnya.
"hey?" si remaja bertanya lagi, melepas pelukannya lalu menatap kecewa pada pria yang lebih tua darinya "Hyung, kenapa kau terlihat bingung?"
Luhan bergerak cemas, suaranya juga terdengar serak sampai Jinyoun membantunya dan merangkul lengan remaja di depannya "Baiklah, ini sudah malam jadi segera tidur dan bicara dengan Rein hyung besok setelah kau lebih baik."
"Tapi aku ingin bicara lebih lama dengan hyung."
"Eunwooya, dengarkan hyung! cepat tidur."
Remaja bernama Eunwoo itu menatap tak suka pada Jinyoung sebelum tertawa tanda dia kalah dan menyerah "Baiklah baiklah….Aku tidur. Selamat malam hyung!"
Lalu dia membawa tas berisi pakaian dan buku pelajarannya ke kamar dan meninggalkan ketiga kakaknya di ruang keluarga "Besok kita akan bicara." Katanya berbisik pada Luhan dibalas senyum canggung dari kakaknya.
"Oke."
Lalu setelah Eunwoo memasuki kamar, Jinyoung mulai merangkul Luhan dan menjelaskan siapa remaja yang membuatnya bertanya-tanya "Namanya Eunwoo, dia adik kita."
"ah, begitukah?" tanyanya canggung seraya duduk disamping Taecyeon yang mulai merangkul pinggangnya "Begitulah, tapi dia adik tirimu."
"Dan sialnya kau lebih menyayangi Eunwoo daripada ak."
"nde?"
Jinyoung mengambilkan segelas jus untuk Luhan lalu memberikannya pada sang kakak "Enam bulan setelah ayah kita meninggal, ibu menikah dengan pria lain, kita cukup bahagia dengan keluarga baru kita saat itu dan tak lama Eunwoo lahir." Katanya memberitahu Luhan yang sama sekali tidak mengingat bagian dirinya pernah bahagia, sama sekali tidak mengingat apapun.
"Dan kau yang memberikannya nama saat itu."
"Aku?"
"Ya! Cha Eunwoo adalah nama yang kau berikan untuknya."
"…"
Lalu Luhan diam, rasanya hangat jika dia bisa mengingat dia memiliki dua adik yang tumbuh dengan tampan dan sehat, namun sayang satupun kenangan itu tak bisa dia rasakan. Dia hanya bisa merasakan kebahagiaan dari cara Jinyoung bercerita sementara rasa hangat memiliki seorang pernah dia rasakan walau bukan pada Jinyoung dan Eunwoo, entah pada siapa, tapi Luhan bisa mengingat rasa bahwa dia begitu menyayangi seseorang yang juga mengenakan seragam sekolahnya.
"hyung!"
Suara teriakan Jinyoung membuatnya tersentak, dia menatap bingung pada Jinyoung lalu Taecyeon berbisik padanya "Kau baik-baik saja?"
"oh, ya….Ya aku baik."
"Baguslah, karena jika kau benar-benar sudah lebih baik aku akan memintamu untuk berkemas karena kita akan kembali Seoul."
"Seoul? Aku kira disini rumah kita." Tandasnya terdengar kecewa entah karena alasan apa. Lalu baik Jinyoung dan Taecyeon terlihat serius dan menatap menyesal pada Luhan "Rumah kita di Seoul, maaf harus membuatmu beradaptasi lagi."
"Lalu apa yang kita lakukan disini?" katanya tak mengerti dibalas tatapan lembut Jinyoung yang mengatakan "Alasan kita di Pyeongcang adalah karena kau harus menjalani pengobatan."
"Pengobatan? Apa aku sakit?"
Kini Jinyoung terdiam, selalu seperti itu jika ini berkaitan dengan masa lalu Luhan dan semua hal asing yang dibebankan untuknya. Membuatnya tertunduk sesaat karena kehabisan kata-kata sampai lagi-lagi Taecyeon mengambil alih dari semua sikap canggung Jinyoung padanya.
"Dulu, kau sakit keras beberapa bulan yang lalu. Tapi sekarang kau baik-baik saja sayang."
"Tapi…."
"Jinyoung sudah berusaha dengan keras, jadi hargailah usahanya dalam menyembuhkanmu. Lagipula kita tidak bisa terlalu lama disini karena Eunwoo tidak tahu kau sakit."
"Kenapa dia tidak mengetahuinya?"
"Karena dia sangat bergantung hidup padamu, pada kakaknya. Dia tidak akan bisa menerima kenyataan jika kakaknya sakit, terutama kau, dia sangat menyayangimu."
"…."
"Rein, kumohon jangan memaksakan dirimu, banyak hal yang perlu kau ketahui secara perlahan. Jadi bersabarlah dan jangan-….."
"Dimana ibu dan ayahku?" lalu dia bertanya, terdengar serius hingga membuat tangan Jinyoung terkepal karena gugup "hyung, sudahlah."
"Apa?"
"Ibu sudah meninggal sejak kita kecil, hanya tersisa kita bertiga dan Eunwoo sangat bergantung hidup padamu. Dia tidak bisa melihatmu sakit jadi aku dan Taec hyung memutuskan untuk tidak memberitahu alasan mengapa kita pindah ke Pyeongchan dan meninggalkan dia seorang diri di Seoul. Ini bahkan sudah enam bulan sejak kepindahan kita ketempat asing ini."
Luhan diam, matanya bisa menangkap dengan jelas raut mata lelah adiknya, membuatnya sedikit menyesal karena tidak mengingat apapun termasuk bagaimana dirinya berjuang dari penyakit. Jadilah dia mengangguk pelan lalu memutuskan untuk tidak membuat Taecyeon dan Jinyoung merasa lebih bersalah.
"Baiklah, kapan kita pergi ke Seoul?"
Keduanya tampak puas untuk mengatakan "Lusa."
"Secepat itu?"
"Ya, Lusa adalah hari kelulusan Eunwoo, kita harus menghadirinya."
Ada sejumput rasa tak rela dihatinya, Luhan bahkan ingin menawar agar setidaknya mereka bisa menetap hingga minggu depan. Terlebih saat pertemuannya dengan dua orang asing yang bersama Sehun siang tadi, membuatnya benar-benar ingin mencari tahu dan berakhir hanya tersenyum kecil saat tak bisa melakukan apapun selain mengatakan "Baiklah."
"Baguslah, besok biarkan aku mengemasi barangmu. Kau harus pergi ke satu tempat sebelum kita kembali ke Seoul."
"Kemana?"
"Eunwoo mengetahui kau adalah seorang guru taman kanak di Pyeongchan. Dan ya, kau memang menjadi guru walau hanya sebentar, jadi kembalilah kesana. Eunwoo akan mengantarmu ke taman kanak tempat kau pernah mengajar sebelumnya. Setelah kita membuatnya yakin kau baik-baik saja kita akan pergi lusa."
"Apa yang kau katakan? Aku bahkan tidak bisa berinteraksi dengan anak-anak."
"Kau bisa hyung."
"Aku tidak bisa."
"Tapi hyung…"
"CUKUP! Entah apa yang ada dipikiranmu, tapi Eunwoo lalu sekarang menjadi seorang pengajar? Ini benar-benar gila! Kenapa kau mengistimewakan dia?"
"hyung…"
"Aku akan kembali tidur." Katanya melepas rangkulan Taecyeon di pinggangnya lalu beranjak menuju kamar. Luhan sudah cukup mengalami mimpi buruk dan rasa sakit dikepalanya, ditambah dia belum mengingat apapun dan jadilah dia merasa begitu marah karena Jinyoung terlalu memaksanya. Dia tidak mendapat penjelasan mengenai kondisinya lalu dipaksa untuk terus menjadi orang lain yang begitu asing untuk dia jalani
Membuat seluruh kepalanya sakit hingga tak sengaja Luhan bergumam "Gila." Karena sangat kesal sampai suara Jinyoung terdengar lirih memberitahunya.
"Dia sakit." Luhan berhenti melangkah, sekilas menoleh pada Jinyoung lalu adiknya tersenyum kecil penyesalan "Dia memiliki kelainan pada jantungnya."
"mwo?"
"Eunwoo sama sekali tidak boleh lelah, jika lelah dia akan kesulitan bernafas, jika tertekan kondisinya akan semakin buruk dan yang paling parah dia tidak akan bisa membuka mata lagi saat pagi menjelang."
"Tapi dia masih sangat muda."
"Kau benar." Jinyoung menarik dalam nafasnya lalu menatap dalam ke mata Luhan "Tapi itu yang terjadi, Eunwoo sudah memakai katup jantung sejak dia lahir dan akan terus memakainya hingga nafas terakhirnya berhembus, namun semua itu tidak membantu jika kondisinya lemah, jika dia merasa tertekan."
Luhan terkejut, lagi-lagi dia merasa bersalah untuk menatap kamar dimana si remaja itu terlelap. Lalu tak sengaja dia menatap Taecyeon yang sedang menatapnya lembut dan beralih lagi pada Jinyoung yang menatap seperti memohon padanya.
"haaah~"
Dan lagi-lagi, entah sudah keberapa kalinya Luhan harus berada di dalam posisi ini. Posisi dimana dia harus memakan mentah-mentah apa yang dikatakan Taecyeon dan Jinyoung hanya untuk bertanya "Lalu apa yang harus aku lakukan?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan pagi,
.
"Whoa…..Jadi disini tempat hyung mengajar?"
"ya, begitulah."
Sejujurnya Luhan sendiri tidak mengetahui dimana dirinya, yang dia tahu hanya sekilas informasi tentang tempat yang dikatakan Jinyoung adalah tempatnya mengajar. Tempat itu memang dipenuhi mainan yang menunjang proses belajar mengajar, halaman bermain yang cukup luas lalu dipenuhi bunga dan tanaman hias di pagar depan sekolah.
Tidak terlalu besar, tapi melihatnya cukup membuat Luhan senang karena ada beberapa anak-anak yang tengah tertawa di lapangan bermain dan itu membuatnya bahagia. Keduanya cukup mengagumi tempat Rein mengajar sampai suara seorang wanita terdengar menyapa mereka
"Rein Soengsaenim."
Luhan menoleh, mendapati wanita cantik yang dia tebak memiliki usia tak berbeda jauh dengannya untuk tersenyum canggung menyapa "nde, anyeonghaseyo, Mrs. Park." Beruntung wanita cantik itu memakai name tag hingga Luhan bisa berpura-pura mengenalnya walau ini adalah pertemuan pertama dirinya dengan wanita bernama Park Jiyeon di depannya.
"Jiyeon saja, kau tidak perlu canggung saem."
"ah….Baiklah, Jiyeon."
Luhan memperbaiki kalimat panggilannya hingga membuat Eunwoo menggodanya "Apa nona ini sangat cantik hyung? Kau terlihat bingung?"
"Cha Eunwoo…" ujarnya mendesis lalu Jiyeon dan Eunwoo tertawa bersamaan "haah…Aku guru sekaligus teman dari Rein Seongsaenim. Senang sekali bisa kembali bertemu denganmu Saem. Terakhir kau mengajar kau jatuh pingsan dan semua orang termasuk anak-anak sangat cemas melihat kondisimu."
"Hyungku pingsan?" Eunwoo memastikan hingga membuat Luhan harus menyela "Hanya kelelahan. Benar Nona Park?"
"huh?"
Luhan memberi kode dan guru wanita itu mengerti "Ya! hanya kelelahan dan kau tertawa saat sadarkan diri."
"Benar, aku tertawa." Katanya terkekeh dan segera meminta Eunwoo untuk segera pergi "Aku rasa ini waktunya kau pergi, jemput aku sekitar pukul dua belas siang."
"Baiklah, aku akan menjemputmu saat jam makan siang."
"Oke."
Eunwoo membungkuk berpamitan, memegang pundak kakaknya lalu pergi dengan mengemudikan mobil milik Jinyoung "Aku kira adikmu hanya Dokter Park."
Luhan tertawa kecil dan menjawab lirih guru di sampingnya "Aku bahkan tidak tahu siapa mereka."
"nde?"
"Lupakan, lalu apa yang harus aku lakukan saat ini?"
Guru cantik bernama Park Jiyeon itu tersenyum kecil, mata bulatnya menatap iba pada Luhan seraya berkata "Aku turut menyesal dengan hal yang terjadi padamu Rein Saem."
Tak mengerti, Luhan bertanya "Apa yang terjadi padaku?"
"Ya, Presdir Ok sudah menjelaskannya, kau mengalami amnesia dan aku ditugaskan untuk mendampingimu sampai di kelas nanti."
"Presdir Ok?"
"Ya, suamimu adalah donatur tetap untuk taman kanak-kanak ini. Semua fasilitas bermain adalah pemberian darinya."
Seolah tak mempedulikan apa yang dilakukan Taecyeon untuk taman kanak-kanak ini, Luhan lebih tertarik apa yang terjadi padanya "Lalu apa yang terjadi padaku."
"mmhh, sebenarnya aku dilarang untuk mengatakan ini."
"Katakanlah, aku membutuhkan semua hal agar bisa mengingat siapa diriku."
"Maaf harus mengatakan ini , tapi aku dan sebagian besar guru di taman kanak-kanak ini telah pergi ke acara pemakaman dirimu."
Luhan tercekat nafasnya sendiri, baru dari perempuan didepannya dia mengetahui jika dirinya pernah mati dan memiliki pemakamannya sendiri "pe-Pemakaman? Apa yang kau bicarakan?"
"Tiga bulan yang lalu Dokter Park mengumumkan kematianmu, kami semua datang sebagai penghormatan terakhir. Aku bahkan melihatmu dimasukkan ke dalam peti, tapi Puji Tuhan, satu bulan yang lalu Dokter Park mengkonfirmasi bahwa kematianmu adalah kesalahan."
Wajah Luhan berkeringat, dia tidak pernah mendengar kenyataan yang membuatnya begitu sesak seperti saat ini "Kesalahan? Kenapa kematianku menjadi kesalahan?"
"Karena kau berdiri didepanku saat ini Saem."
Luhan memijat kasar kepalanya, dia butuh bernafas tapi dia perlu mengetahui lebih banyak. Membuatnya terus bertanya sampai suara bel di taman kanak itu berbunyi dan semua anak-anak dibawah lima tahun berlarian menuju taman bermain dan sebagian sudah bersiap pulang karena orang tuanya sudah menunggu.
"Saem, Kita harus menyambut mereka. Ayo!"
Dengan keringat memenuhi peluh di dahinya, Luhan hanya mengangguk agar tidak menarik perhatian. Dia juga mulai berjalan gontai menuju kerumunan anak-anak yang kini memeluk nona Park begitu ceria.
"Anak-anak! Lihat siapa yang datang?"
Guru wanita itu berteriak, membuat anak-anak penasaran lalu tiba-tiba dia menunjuk kearah Luhan yang masih mencoba untuk bertahan dari kepalanya yang sedang berdenyut menyakitinya "REIN SAEM KEMBALI!"
Diam,
Anak-anak menatap Luhan dalam diam. Mata mereka mengerjap lucu lalu secara mengejutkan satu suara memekik "LEIN SAEM!" dan menghambur memeluk Luhan diikuti beberapa suara teriakan dari anak-anak yang lain
"LEIN SAEM KEMBALI YEEEYYY! LEIN SAEM TIDAK DIAMBIL MALAIKAT HOLEE!"
Sejujurnya teriakan anak-anak itu membuat Luhan sesak, seperti sebuah kesalahan dirinya berdiri di tengah-tengah mereka. Awalnya Luhan tidak tahu harus melakukan apa, lalu nalurinya mengatakan dia harus tersenyum dan memutuskan untuk berjongkok menyambut anak-anak yang memeluk erat kakinya.
"Hey, anak-anak, Saem kembali." Katanya merentangkan tangan lalu sekitar sepuluh anak berebut untuk memeluknya erat "astaga….ha ha ha….Hey tenanglah."
Lalu dalam sekejap, pelukan anak-anak seolah mengisi kekosongan hati Luhan, rasanya hangat seperti dia pernah dalam posisi ini, posisi dimana dia pernah begitu bahagia karena kehadiran seorang anak dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
.
.
Selang beberapa jam kemudian, tugasnya hampir selesai menemani anak-anak bermain. Hanya tersisa satu anak bernama Yeon yang sedang menunggu orang tuanya datang menjemput.
Membuat Luhan memutuskan untuk duduk di kursi taman anak-anak sementara Yeon sedang melambai ke arahnya, tertawa dan sesekali berteriak "SAEM…YEON MELUNCUL!"
Sesekali pula Luhan melambai lalu memperingatkan anak tiga tahun itu yang sedang bermain seluncur "HATI-HATI YEON!" katanya takjub sedikit tak menyangka bahwa dia akan sedekat ini dengan anak-anak.
Ada saat dimana Yeon akan mencoba seluruh permainan, membuat Luhan terkadang lengah karena kepalanya dipenuhi tentang siapa dirinya yang pernah diumumkan tiada oleh Jinyoung dan Taecyeon.
Membuatnya terkadang tertunduk, memikirkan banyak hal sampai sebuah suara terdengar menyapa entah kepada siapa "Dokter Oh?"
Merasa asing Luhan tidak menjawab, dia hanya terus tertunduk namun suara itu tetap terus memanggil "Dokter Oh?" entah pada siapa.
"Dokter Oh!"
Lalu panggilan terakhir cukup membuat Luhan tersentak, membuatnya mendongak untuk menemukan seseorang yang terlihat mengenalnya namun memanggilnya dengan sebutan "Benar! Anda Dokter Oh!"
"Dokter Oh? Apa aku mengenal anda?"
"Tidak, tapi anda menolong anakku beberapa bulan yang lalu. Anakku mengalami dehidrasi hebat dan anda menanganinya di klinik kecil tempat anda bekerja.
"Tapi aku bukan seorang dokter."
Lalu raut wajah nyonya di depannya mendadak pucat, dia juga mulai salah tingkah lalu membungkuk meminta maaf "ah, Sepertinya saya salah mengenali orang. Jadi anda bukan dokter Oh?"
Luhan menggeleng menyesal lalu berujar lirih "Namaku Rein."
"Rein? Astaga, anda guru dari keponakanku?"
"Keponakan?"
Nyonya itu mengangguk cepat lalu menoleh ke segala arah untuk menemukan keponakannya "Yeon keponakanku Saem, maafkan aku salah memanggilmu sebagai dokter Oh. Kalian memiliki wajah yang sama."
Lalu tanpa alasan yang jelas Luhan merasa gundah karena tak lagi dipanggil dokter Oh. Nyatanya dia lebih suka dipanggil dokter daripada sebagai Saem, tapi kenyataan tidak mengijinkannya untuk mengingat hingga membuatnya tersenyum canggung "Ya, tidak apa." lirihnya lalu berdiri menyapa bibi dari muridnya yang berusia tiga tahun "Aku akan memanggilkan Yeon." Lalu dia mencoba berteriak namun bibi Yeon memasang wajah cemasnya.
"Saem!"
"Ya?"
"Yeon tidak akan senang melihatku datang, ibunya berjanji akan datang menjemput tapi dia sibuk, ayahnya sedang berada di Seoul. Jadi jangan membuatnya kesal ya? Aku kerepotan mengurus anak dan keponakanku." Katanya cemas membuat Luhan tertawa kecil "Baiklah." Lalu tak lama Luhan berteriak
"YEON! BIBIMU DATANG MENJEMPUT!"
Lalu seperti kata sang bibi, entah mengapa wajah Yeon berubah menjadi marah, dia tak lagi tertawa lalu tiba-tiba berteriak "IMO SHILHEO! EOMMA! EOMMA!"
Lalu tiba-tiba dia berlari keluar pagar dan itu cukup membuat Luhan serta bibi Yeon terkejut "YEON!"
Keduanya segera berlari mengejar Yeon, namun sial, anak tiga tahun itu berlari cukup cepat hingga membuat Luhan dan bibi dari Yeon kehilangan jejaknya "YEON!" Sang bibi terus berteriak, Luhan juga terlihat panik dan ikut berteriak
"YEON!"
Keduanya mulai pucat, tak tahu harus kemana lagi berlari sampai terdengar suara berat dari seorang pria yang bertanya "Apa anak ini yang kalian cari?"
Baik bibi Yeon dan Luhan sama-sama menoleh, keduanya terengah lalu sangat bersyukur saat seorang pria berkulit tan tengah menggendong Yeon dan membelikan gulali untuknya.
"Oh Syukurlah YEON!"
Bibinya memekik, mengambil Yeon dari pelukannya sementara Luhan hanya diam menyadari bahwa pria berkulit tan itu adalah pria yang sama yang memanggilnya Luhan saat mereka bertemu kemarin di depan kafe.
"Rein Saem. Aku pulang dulu membawa Yeon, oh Tuhan."
Luhan hanya mengedip canggung, membiarkan bibi Yeon pergi membawa keponakannya dan meninggalkan dirinya sendiri dengan pria berkulit tan yang sedang tersenyum padanya saat ini
"Kau?"
Luhan bertanya, dibalas senyum singkat pria asing itu yang mengatakan "Hay Rein." Katanya tergelak pahit saat menyebut nama orang lain di wajah yang begitu dia kenali sebagai Luhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Secanggung-canggungnya keadaan adalah saat ini, saat dimana Luhan harus duduk berhadapan dengan pria asing yang menatapnya seolah mereka kenal dekat untuk waktu yang lama. Tak ada yang berbicara, Luhan sibuk mengaduk cup americano miliknya sementara si pria berkulit sedikit lebih gelap darinya hanya terus menatap seperti dirinya akan hilang jika dia berkedip.
Dan sama seperti cara Sehun menatapnya, pria yang tidak dia ketahui namanya ini juga menatap seperti dirinya adalah hantu yang bisa terlihat kasat mata dan bisa dipandangnya sesuka hati.
"Terimakasih untuk pertolonganmu, tapi apa yang sedang kau lakukan disini?"
"Mengikutimu."
"huh?"
Tanpa berbasa-basi pria didepannya mengatakan "Sebenarnya aku memiliki seorang teman, tidak, dia teman Luhan, bukan temanku atau Sehun, dia seorang pemilik club sekaligus informan untuk semua hal yang ingin kami ketahui. Untukku, aku ingin mengenal lebih jauh tentang Park Rein, jadi aku disini, sedang berbicara denganmu."
"Untuk memastikan dengan mataku sendiri kau bukan Luhan."
Sementara Luhan terlihat gugup, maka pria didepannya sangat tenang, dia tak tahu cara mengalihkan perbincangan ini, beruntung ponselnya bergetar dan nama adiknya, Eunwoo tertera disana.
"Sebentar." Katanya memberitahu lalu menggeser cepat slide ponselnya "Hyung? kau sudah selesai?" Luhan menjawabnya "Ya, sudah selesai." Dan tak lama remaja yang malam tadi dia ketahui adalah adiknya membalas "Baiklah aku akan segera kesana. Sampai nanti hyung."
"Sampai nanti."
Dia mematikan ponsel, meletakkannya lagi di atas meja dan kali ini cukup menarik perhatian dari pria di depannya "Siapa?"
"Adikku." Balasnya, dibalas lagi oleh pria didepannya dengan "Oh." lalu keadaan menjadi canggung lagi.
Luhan tidak tahan, dia memutuskan untuk tidak berbicara dengan orang-orang yang membuat kepalanya sakit hingga memutuskan untuk segera pergi darisana "Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan aku permisi untuk-….."
"Apa kau ingat namaku?"
"huh?"
"Tidak?"
Luhan menatapnya tak enak hati lalu menggeleng sebagai jawaban jujurnya "Aku tidak mengingatnya."
"Whoaa…Ini pertama kalinya Luhan melupakan aku dan rasanya sangat sakit."
"Aku bukan Luhan." sergahnya cepat, lalu wajah didepannya terlihat sedih untuk mengatakan "ara…."
Sunyi, tak ada yang berbicara lalu pria itu membuka mulutnya lagi "Namaku Kim Jongin tapi panggil aku Kai karena aku lebih menyukai Kai dibanding Jongin."
"Baiklah, Kai dan terimakasih karena sudah membawa Yeon padaku."
"Yeon?"
"Anak muridku."
"ah, Anak tiga tahun itu?"
"Kau tahu usianya?"
Kai mengangkat dua bahunya hanya untuk menjawab "Mudah, aku juga memiliki seorang putra dan usianya dua tahun bulan depan."
"Benarkah?"
Luhan tampak tertarik dan itu membuat Kai benar-benar seperti bicara dengan Luhan "Ya."
"Siapa namanya?"
"Taeoh, Kim Taeoh."
"Kau pasti sangat menyayangi putramu."
"Dengan hidupku, walau putraku lebih menyukai ibunya dan kau."
"huh?"
"Luhan maksudku."
"Sayangnya aku bukan Luhan."
Kai hanya tersenyum pahit, menyadari kesalahannya berharap untuk mengatakan hal yang tak lagi membuat keduanya canggung "Kau benar, Kau bukan Luhan, Luhan tidak akan melupakan cinta pertamanya, aku."
"Kau cinta pertama Luhan? bukan Sehun?"
"Bukan, aku cinta pertamanya dan kau ingat pria tinggi yang bersamaku kemarin?"
"Ya,"
"Namanya Dobby."
"Mwo?"
"Sebenarnya itu panggilan Luhan untuknya, kau menyadarinya kan? Telinganya sedikit lebih besar, seperti peri Dobby di Harry Potter."
"Ah, Dobby." Katanya menahan tawa lalu bertanya lagi "Ada apa dengannya?"
"Dia cinta kedua Luhan."
"Benarkah? Lalu Sehun?"
"Sehun? tsk, Bajingan itu mencuri cinta kami."
Dan rasanya sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu, karena saat pria bernama Kai membicarakan tentang siapa dirinya dan Sehun untuk Luhan, tiba-tiba dia merasa iri pada Luhan karena memiliki tiga pria yang sangat menyanyanginya, yang rela melakukan apapun hanya untuk membuatnya bahagia, mungkin. Lalu Luhan tertawa dan itu membuat Kai takjub karena sekuat apapun pria cantik didepannya mengelak bahwa dia adalah Luhan maka dia akan terlihat seperti Luhan untuknya.
"Tapi aku rasa Luhan hanya mencintai Sehun, aku benar?"
Masih tertawa lepas, pria bernama Rein itu bertanya dibalas senyum kecil Kai yang membenarkan "Hanya Sehun, dia hanya mencintai Sehun di hidupnya, bahkan setelah semua yang terjadi pada hubungan mereka, Sehun dan Luhan akan saling mencintai dengan hati dan jiwa mereka."
Terdengar miris, dan lucunya hati Luhan memukul sakit saat mendengar penuturan Kai, dia tetap tertawa tapi seperti menangis jauh di dalam hatinya "Semua yang terjadi? Apa yang sudah mereka lalui?"
"Semua hal mengerikan sudah mereka lalui bersama, tapi hanya satu yang tidak bisa mereka lalui berdua."
"Apa?"
"Kematian."
"ah."
Kai bisa melihat Rein tertunduk, entah mengapa pria didepannya bertingkah seolah dia juga merasakan sakit menjadi mereka, namun semua itu hanya perasaan rindunya pada Luhan mengingat pria didepannya adalah Rein, bukan Luhannya.
"Alasan mengapa aku dan temanku datang adalah hanya untuk memastikan pria gila itu tidak melakukan hal mengerikan pada dirinya sendiri."
"Hal mengerikan apa yang kau bicarakan?"
"Entahlah, tapi aku rasa Sehun akan mengakhiri hidupnya jika pekerjaan yang sedang dia lakukan telah dia selesaikan."
"Mwo? Kenapa dia harus mengakhiri hidupnya?" dia bertanya, terlihat cemas dan itu membuat Kai entah mengapa merasa tertarik untuk mengatakan lebih jauh tentang Sehun "Karena Luhan sudah mati, dia tidak memiliki alasan lagi untuk hidup."
"Apa dia sudah gila? Kenapa dia harus mati? Dia bisa melanjutkan hidupnya walau tanpa Luhan disisinya."
"Dia tidak bisa dan dia-…."
"DIA BISA!"
Kai terkejut, begitupula Rein yang tak mengerti mengapa dia berteriak. Keduanya saling memberi tatapan terkejut sampai tak sadar Kai bertanya "Siapa kau?"
Luhan kembali salah tingkah, entahlah, refleksnya selalu berlebihan jika menyangkut Sehun, seperti sebuah kesalahan jika Sehun mencoba untuk mengakhiri hidupnya hanya karena istrinya meninggal dan itu membuat Kai menaruh curiga padanya.
"Aku Rein." Kilahnya dibalas tatapan curiga Kai padanya "Kau terdengar familiar untukku, apa kau yakin kau bukan Luhan?"
"Aku Rein."
"Lalu kenapa kau begitu peduli pada sahabatku, pada Sehun?"
"Aku hanya bertanya karena untukku alasannya tidak masuk akal untuk mengakhiri hidupnya begitu saja."
"Selain kau, kami semua mengatakan adalah hal wajar jika Sehun ingin mengakhiri hidupnya, dia kehilangan cinta pertamanya, kekasih hatinya, istrinya di saat hubungan mereka sedang bertengkar dan mengalami krisis kepercayaan! Jadi bukankah itu wajar jika Sehun ingin mengakhiri hidupnya?"
"Sudah kukatakan itu tidak wajar!"
"APA KAU LUHAN? KENAPA KAU MENGATAKAN BAHWA HAL ITU TIDAK WAJAR? SEHUN BANYAK TERLUKA KARENA KEMATIAN ISTRINYA!"
"aku bukan Luhan dan dia bisa hidup lebih baik tanpa istrinya!"
"ah, benarkah? Lalu siapa dirimu." Kai mendesaknya, membuat wajah cemas sangat terlihat di wajah cantik Luhan sampai terdengar
Tin….tin…
Bersamaan dengan pertanyaan Kai terdengar suara klakson dibunyikan, keduanya menoleh lalu seorang remaja berteriak "HYUNG! AKU SAMPAI!" membuat Luhan bernafas lega karena memiliki alasan untuk mengakhiri percakapan gilanya bersama dengan pria asing di depannya.
Buru-buru dia mengambil ponsel dan tas miliknya untuk berujar pelan tanpa menatap Kai "Aku permisi." Dibalas tatapan panik Kai yang merasa percakapan ini belum selesai sementara pria yang menyerupai Luhannya terlihat bergegas menghindari pertanyaan sensitif ini.
"hey….kita belum selesai bicara!"
BLAM!
"Hyung? kau baik-baik saja?"
"Jalankan mobilnya."
"REIN!"
Luhan menutup matanya, membuang rasa gugup yang begitu mengganggu hanya untuk membiarkan Kai bahkan dirinya sendiri dilingkupi rasa tidak tahu yang begitu menyesakkan.
"Hyung kau baik-baik saja?"
Luhan menoleh sekilas pada Eunwoo, diam-diam matanya memperhatikan dari kaca spion untuk memberitahu adiknya "Hanya jalankan mobilmu."
Tak ingin banyak bertanya, Eunwoo mengangguk tak mengerti "Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyung? Kau baik-baik saja?"
Saat ini Luhan sedang berbelanja keperluan makan malam bersama Eunwoo, mengikuti apapun kemauan adiknya untuk membeli barang sementara dia lebih banyak melamun dan diam sejak pertemuannya dengan Kai.
Tatapan terakhir yang diberikan Kai untuknya seperti menaruh curiga padanya, salahnya juga karena bersikap berlebihan jika itu menyangkut Sehun hingga membuat kesalahapahaman ini terjadi tak hanya pada Sehun tapi juga pada Kai.
"Hyung?"
Dan entah sudah berapa kali Eunwoo memanggilnya, entahlah, Luhan hanya malas merespon atau sebenarnya dia tidak sadar jika Eunwoo memanggilnya sampai sang adik berteriak
"HYUNG!"
Barulah Luhan menoleh, dia sadar sudah meletakkan banyak kaleng tuna kedalam trolley belanja, membuat Eunwoo menatapnya horror sementara dirinya terkekeh mencari alasan "Wae? Kau butuh nutrisi lebih untuk kesehatan jantungmu kan?"
"Tidak dengan tiga puluh kaleng tuna hyung!" protesnya dan mengembalikan satu persatu kaleng ikan tuna ke tempatnya sementara Luhan beralih ke section makanan sehat untuk membelikan quaker yang bisa dikonsumsi Eunwoo malam nanti.
"Mau kemana lagi hyung?"
"Tunggu sebentar disana, aku akan mengambilkan quaker untukmu."
"quack-…What! Ayolah hyung aku sedang sehat dan tidak butuh makanan nenek tua seperti quacker dan-….."
Bunyi jangkrik mungkin sedang menjadi backsound untuk Eunwoo, bagaimana tidak dia berhenti bicara jika didepannya ada sepasang nenek dan kakek yang membeli banyak quacker di trolley sementara dirinya sibuk menghina.
Jadilah dia menggaruk asal tengkuknya, menatap tak enak hati pada sang kakek dan nenek untuk kembali berteriak "Hyung belikan aku tiga quacker." Katanya dibalas "Dengan senang hati adik kecil." Oleh Luhan yang sedang mencari dimana makanan sehat pesanan Jinyoung untuk Eunwoo.
Dan sialnya, persediaan terakhir berada di lemari paling atas, bukan Luhan gengsi meminta bantuan, tapi ayolah, sekelilingnya hanya ada pegawai wanita jadi dia tidak akan mengganggu apalagi meminta bantuan karena dirinya adalah seorang pria.
"Sedikit lagi, ayolah."
Dia berjinjit, mencoba menggapai satu bungkus quacker tersisa walau membutuhkan tenaga extra "oh ayolah!" lalu dia memutuskan untuk memanggil Eunwoo sampai seseorang berdiri di belakangnya dan mengambilkan satu bungkus quacker yang diinginkannya.
"Ini milikmu."
"Terimakasih sudah membantuku."
"Tidak masalah."
Luhan meletakkan lagi bungkus terakhir quacker di trolley belanja, berniat untuk mengucapkan terimakasih sampai tak sengaja matanya bertatapan dengan mata pria tinggi yang memiliki lesung di pipinya.
Awalnya dia tidak mengenali, tapi saat dua mata mereka bertatapan Luhan mengenali pria yang sedang menatapnya terkejut adalah salah satu teman Sehun juga, yang bertemu dengannya kemarin di kafe.
"Kau."
Si pria lesung pipi lebih dulu berbicara, dibalas tawa meremehkan dari Luhan yang tanpa segan mengatakan "Apa kau mengikuti aku juga?"
"Aku apa?"
Kesal, Luhan mendorong lagi trolley keduanya, mencari ke bagian buah dan sayur sementara si pria lesung pipi seperti tidak terima dikatakan mengikutinya "Hey! Apa yang kau katakan?"
"Kau mengikuti aku, seperti temanmu."
"Siapa?"
"Kai."
"ah, jadi dia benar-benar mengikutimu?" tanyanya berjalan disamping Luhan dan membantu Luhan mengambil sayur seperti wortel dan beberapa labu yang menjadi pilihannya.
"Ya, satu jam yang lalu. Kau melakukan hal yang sama bukan?"
"Tidak."
"haah~" Luhan merampas wortel yang berada di tangan "Dobby" untuk berkata sedikit kasar "Bohong!" lalu dia berjalan meninggalkan teman Sehun untuk memilah beberapa buah segar.
"Tapi aku memang tidak mengikutimu."
"Lalu kenapa kita bisa bertemu disini?"
"entahlah, Berjodoh mungkin."
"Omong kosong." Gertaknya dan kemudian sibuk memilah buah, lucunya pria tinggi itu juga akan memilah buah yang sama hingga menarik perhatian beberapa orang yang menyangka mereka akan adalah pasangan.
"Berhenti menggodaku, aku sudah menikah."
"Aku tidak menggodamu dan omong-omong aku juga akan segera menikah."
Luhan berhenti mengambil apel, perhatiannya kini tertuju pada ucapan pria konyol didepannya yang mengatakan akan menikah. Dan alih-alih merasa kesal dia justru menoleh ke si pria tampan untuk memastikan "Benarkah?"
"Ya, aku dan Kai kami akan menikahi kekasih kami masing-masing bulan depan."
Luhan tersenyum, dan dengan segala ketulusan hatinya dia mengatakan "Selamat untuk kalian."
"Gomawo, tapi rasanya kami dan pasangan kami tidak terlalu bahagia dengan pernikahan ini. Terlebih aku dan Chanyeol, pernikahan ini adalah salah satu hal yang aku dan Kai sesali."
"Wae?"
"Karena Luhan tidak akan menghadiri pernikahan kami."
Saat pria itu menyebut nama Luhan, saat dia terdengar sedih bahkan menundukkan kepalanya, entah mengapa Luhan ingin memeluknya, menenangkan walau berakhir harus mengepalkan tangannya karena tak bisa melakukan apapun untuk menghibur pria tampan disampingnya.
"Dia mendoakan kalian." Ujarnya, lalu si pria berlesung pipi tersenyum "Aku seperti sedang berbicara dengan Luhan."
"Aku bukan-…"
"Luhan, aku tahu kau bukan Luhan. Sehun sudah menceritakan semuanya, tenanglah."
"….."
"Namaku Chanyeol, Park Chanyeol."
Tiba-tiba pria berlesung pipi itu menawarkan tangannya, memperkenalkan diri sebagai Chanyeol yang disambut senyum kecil oleh Luhan "Rein, Ok Rein. Dan untukku, kau yang paling bersikap normal daripada Kai dan Sehun terutama."
"Aku tidak suka memaksakan kehendak, jika kau mengatakan bukan Luhan maka aku akan menghormatimu, lagipula Luhanku tidak akan memandang marah pada kami, tidak sepertimu."
"Mianhae, aku hanya merasa kalian terlalu mencampuri urusanku."
"Tenang saja, mulai besok kau akan hidup tenang tanpa kehadiran kami,"
"Wae?"
"Aku dan temanku akan segera kembali ke Seoul."
Yang mengganggu pikiran Luhan adalah "Sehun juga pergi?" tanyanya terdengar cemas namun disembunyikan dengan terus memilah buah-buah segar.
"Hari ini dia sudah kembali ke Seoul."
Luhan menjatuhkan apel di tangannya, antara gugup dan merasa kehilangan dia bertanya "Benarkah?"
"Ya."
Jujur seperti ada tusukan jarum menancap di hatinya, dia juga tidak menyukai kenyataan Sehun sudah berada di Seoul dan telah meninggalkan Pyeongchan "Lalu kenapa kau dan temanmu masih ada disini?"
"Malam ini kami juga akan kembali ke Seoul, tapi sebelum itu aku baru mengambil beberapa barang milik Luhan dari rumahnya dan Sehun."
"Mereka tinggal di Pyeongchan?" Chanyeol mengangguk, menunjuk lurus ke arah luar supermarket untuk memberitahu Luhan "Jika kau berjalan lurus menuju arah jembatan, kau akan menemukan satu gang kecil dan setelah gang itu akan terlihat satu-satunya rumah mewah yang berada di tepi jalan, itu rumah Sehun dan Luhan sewaktu mereka tinggal di Pyeongchang."
"Apa rumah mereka berwarna putih?"
"eoh! Darimana kau tahu?"
Tak tahu jawabannya, Luhan hanya tersenyum kecil dan mengatakan "entahlah, Aku hanya asal tebak." Membuat Chanyeol menatapnya cukup lama sampai terdengar suara keributan yang begitu bising di Supermarket.
"Hey nak, kau tidak apa?"
Tak lama kerumunan orang itu cukup menarik perhatian Luhan dan Chanyeol, membuat keduanya bertanya sampai salah seorang ahjumma menebak "omo! Sepertinya dia anak sekolah, bagaimana ini dia sepertinya tidak bisa bernafas dengan baik?"
Lalu Luhan, secara naluriah berjalan meninggalkan trolley belanja miliknya, dia juga menyeruak diantara kerumunan untuk menemukan adiknya sedang terkulai lemas dilantai dan terlihat sangat kesakitan.
"Eunwoo!" Luhan berteriak, mengambil alih tubuh adiknya untuk mencari tahu apa yang sedang dialami Eunwoo saat ini "Hey, hey, kau baik-baik saja?"
Eunwoo menggeleng, dia mencengkram kuat dadanya yang sesak dan berusaha memberitahu Luhan "se…sak, hyung."
"Eunwoo tenang, lihat hyung! Hey….Cha Eunwoo."
Yang dipanggil menoleh, melihat ada yang berbeda dari hyungnya untuk kembali menggeleng "tidak bisa, se…sak—haaah~"
"Jangan tekan dadamu, lepas."
Suara nafasnya menjadi memekik berbunyi, Luhan mencari tahu apa yang terjadi sampai peluh di dahi Eunwoo membuatnya sadar bahwa kerumunan banyak orang yang membuat adiknya sesak dan berkeringat.
"Eunwoo tenang, kita akan pergi."
Luhan mencoba membawa adiknya pergi namun percuma karena tubuh Eunwoo lebih besar darinya dan dia kesulitan untuk membawanya seorang diri "haaah~"
"Bernafas, jangan kau tahan."
Eunwoo tetap menggeleng dan itu membuat Luhan panik, dia kemudian mencari seseorang sampai teman Sehun datang dan membantunya memindahkan Eunwoo "Ikut aku, kita ke rumah sakit."
"Adikku bekerja di rumah sakit tak jauh darisini." Katanya memberitahu hanya dibalas tatapan sekilas dari pria tinggi disampingnya "Baiklah."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi adikmu bekerja di rumah sakit ini?"
"Ya."
"Sudah berapa lama?"
"Entahlah."
Luhan tidak fokus, sedari tadi Chanyeol mengajaknya berbicara hanya satu dua kata yang terdengar, dia berusaha mendengarkan tapi kemudian dia teringat wajah pucat Eunwoo dan itu cukup mengganggunya hingga pertanyaan Chanyeol dijawabnya asal.
"Sebagai dokter?"
"huh?"
Barulah dia menoleh, berusaha untuk bersikap baik pada Chanyeol seraya menjawab "Ya, dia dokter di rumah sakit ini."
Lalu kini Chanyeol yang tertawa getir, dia sedikit menjambak kencang rambutnya seperti tak percaya bahwa kebetulan memang benar-benar bisa terjadi.
"Ada apa?" tanya Luhan, dibalas Chanyeol yang kini menarik dalam nafasnya "Entahlah ini sebuah kebetulan atau semua orang yang memiliki wajah sepertimu akan terus berkaitan dengan rumah sakit dan seluruh profesinya?"
"Ada apa?"
"Luhan seorang dokter lalu pria yang wajahnya begitu mirip dengan Luhanku adalah kakak dari seorang dokter? tsk, Lucu sekali!"
Tak tahu harus merespon apa Luhan hanya diam, refleks, dia melihat kedua tangannya tak berkedip, bertanya-tanya perasaan macam apa yang sedang bergejolak hingga kenyataan yang membuatnya cukup terkejut mendengar profesi dari pria yang selalu dibicarakan Sehun adalah seorang dokter.
Tak ada yang berbicara, Luhan dan Chanyeol seolah tenggelam dengan pikiran masing-masing di ruang tunggu tempat dimana Eunwoo ditangani, keduanya memutuskan untuk tidak mengatakan hal yang membuat keduanya sakit sampai pintu ruang tindakan terbuka lalu menampilkan Jinyoung sedang melepas masker dan berjalan ke arahnya.
"Hyung…"
"Jinyounga, bagaimana?"
Seraya melepas sarung tangan yang dikenakannya, Jinyoung hanya tersenyum kecil untuk memberitahu pria yang dijadikannya kakak selama hampir dua bulan berlalu "Eunwoo akan baik-baik saja."
"Apa yang terjadi? Dia seperti mengalami kejang sesaat?"
"Dia baik-baik saja hyung, yang perlu kita lakukan hanya mengganti katup jantungnya dengan yang baru, aku berniat memasang ring pada jantung Eunwoo tapi sepertinya dia harus menjalani pemeriksaan lebih kompleks untuk dirinya."
"Lalu bagaimana?"
"Aku akan melakukannya setelah kita sampai di Seoul, tenanglah."
"Kau yakin?"
"Aku yakin hyung." katanya menenangkan Luhan hingga tak sengaja matanya menatap sosok asing yang berdiri di belakang kakaknya, sedang menatap Luhan tak berkedip hingga membuatnya lantang bertanya "Dan kau adalah?" tanyanya,
Chanyeol tersenyum seperlunya, mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri dibalas jabatan tangan Jinyoung untuk mencari tahu siapa pria asing yang sedang bersama Rein "Aku Chanyeol."
"Jinyoung,"
"Ya, aku tahu dokter Park, kakakmu sudah memberitahu aku."
Jinyoung tersenyum sekilas lalu bertanya lagi "Apa kau mengenal kakakku?"
"Tidak, kami hanya kebetulan bertemu dan aku melihat adik kalian sesak, hanya itu."
"Hyung mengenalnya?"
Dengan berat hati Luhan tersenyum pahit dan menggeleng sebagai jawaban "Tidak, seperti katanya kami hanya kebetulan bertemu dan dia menolong Eunwoo."
Dan sama seperti Luhan, Chanyeol merasa sedikit sesak saat Luhan mengatakan secara gamblang bahwa mereka tidak saling mengenal, hal itu cukup membuatnya marah namun dia adalah pria sejati yang tidak melampisakan amarahnya tanpa alasan.
Jadilah Chanyeol hanya mengangguk, membenarkan. Walau hatinya mencelos sakit yang dia lakukan hanya tersenyum dan memutuskan untuk pergi sebelum akal sehat hilang darinya seperti Kai ataupun Sehun.
"Baiklah, aku rasa aku harus segera pergi."
Chanyeol hanya berpamitan seperlunya, dia juga tidak berniat melihat wajah yang mirip dengan Luhannya lebih lama dari ini, sungguh, itu bukan keputusan tepat mengingat adik dari pria cantik disampingnya sedang menatapnya tak suka.
"Terimakasih karena sudah menolong adikku."
Seperlunya Chanyeol hanya mengatakan "Tidak masalah." Walau matanya tetap melihat Luhan, dia kemudian berjalan pergi meninggalkan pria yang dia ketahui bernama Rein bersama dengan adiknya.
Diam-diam mata Luhan juga mengantar kepergian Chanyeol, ada sedikit rasa bersalah karena tidak mengantarnya atau rasa menyesal karena pertemuan mereka sesingkat ini, namun lagi-lagi dia harus memendamnya terlebih saat Jinyoung terus memperhatikan.
"Kau yakin tidak mengenalnya?"
"Siapa?"
"Pria itu?"
Luhan tersenyum kecil seraya bergumam "Jikalaupun aku mengenalnya bukankah itu hal yang aneh?"
"Kenapa?"
Nyatanya Luhan sudah mulai jengah dengan sikap posesif Jinyoung maupun Taecyeon, sikap keduanya seperti mencekiknya erat, tak membiarkannya bernafas dan terus membatasi pada siapa dia boleh dan tidak boleh berhubungan dengan seseorang.
Alasan itu pula yang membuatnya kesal hingga tanpa sadar menjawab dingin pertanyaan Jinyoung dengan mengatakan "Aku bahkan belum bisa mengingat kau, adikku, lalu bagaimana mungkin aku mengingat orang asing? Bukankah itu tidak masuk akal?" katanya kesal membuat Jinyoung seketika takut jika Luhan merasa dirinya membatasi.
"Hyung, bukan itu maksudku,"
"Aku tahu, aku ingin melihat Eunwoo."
Dia berjalan ke arah ruangan Eunwoo namun Jinyoung melarangnya "Biarkan Eunwoo tidur saat ini, dia akan pulang denganku setelah aku menyelesaikan shift jaga sore ini."
"Waeyo?"
"Hyung, kau juga harus istirahat. Lusa kita pindah ke Seoul, aku tidak ingin kau kelelahan."
Kedua kakak beradik itu saling menatap, tatapan mereka berbeda, jika Luhan menatap kosong dengan aura kesal, maka Jinyoung hanya menatap memohon agar setidaknya Luhan mendengarkan saat ini.
Dan ya, seperti biasa Luhan kalah. Dia pun mengangguk lalu "Baiklah, aku pulang." Dan tak lama beranjak pergi meninggalkan rumah sakit, walau sedikit kesal dia tidak ingin berprasangka buruk pada adiknya atau apa yang sedang coba disembunyikan Jinyoung darinya.
"Sampai nanti malam hyung."
"Ya, Sampai nanti."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jika kau berjalan lurus menuju arah jembatan, kau akan menemukan satu gang kecil
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, itu artinya sudah hampir sepuluh jam dirinya berada seorang diri dirumah. Tak ada satupun dari Taecyeon, Eunwoo maupun Jinyoung yang telah kembali, dan karena alasan itu pula Luhan lebih memilih kembali ke Supermarket tempatnya bertemu dengan Chanyeol, entah apa yang sedang dia lakukan saat ini tapi kakinya justru melangkah ke tempat yang dikatakan Chanyeol adalah rumah Sehun dan Luhan.
Dan setelah gang itu akan terlihat satu-satunya rumah mewah yang berada di tepi jalan, itu rumah Sehun dan Luhan sewaktu mereka tinggal di Pyeongchang.
Kakinya terus menyusuri tanjakan menuju kediaman Sehun bersama mendiang istrinya, tak ada keraguan dalam langkahnya, sejujurnya daripada ragu Luhan memutuskan untuk mencari tahu siapa dirinya, kenapa dia terus merasa bimbang jika itu berkaitan dengan Sehun dan teman-temannya. Mengapa dia terus ragu jika Taecyeon dan Jinyoung mengatakan kebenaran yang seperti disembunyikan darinya.
Entahlah,
Dia memang tidak mengingat apapun, tapi dirinya juga bukan orang bodoh yang tidak menyadari jika seseorang sedang bertingkah canggung atau kesulitan menjelaskan hal-hal kecil seperti apa hobinya atau dimana teman-temannya.
Jinyoung dan Taeyeon selalu bersikap canggung jika Luhan bertanya, lalu kemudian datang Sehun yang seperti bisa menjelaskan kekosongan yang tak bisa dijelaskan Taecyeon walau berakhir harus diakui sebagai istrinya yang sudah meninggal.
"haaah~"
Dia terlihat putus asa, tapi keputusannya bulat untuk mencari tahu siapa Luhan atau siapa Rein yang merupakan jati dirinya saat ini.
Dan semua itu harus dimulai dari dirinya, malam ini, tanpa harus memberitahu Taecyeon, Jinyoung atau Sehun sekalipun.
Ckit….!
Dua mobil hitam tepat berhenti di sampingnya, mesin mobil dimatikan lalu mobil yang paling dekat dengannya membuka kaca jendela dan terlihat mencurigakan "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dan Luhan menyadari bahwa si pengemudi memakai id card khusus yang menunjukkan dirinya adalah seorang polisi.
"Aku sedang berjalan, apalagi?"
"Kau….!"
Belum sempat menjawab temannya yang lain bersuara sedikit jengkel "sudahlah! Tidak mungkin dia berhubungan dengan bajingan itu, kita hanya membuang waktu dengannya!"
Yang sedang mencurigai Luhan melihatnya dari atas sampai bawah, mengulangnya lagi dari bawah hingga atas lalu tiba-tiba menyodorkan satu lembar foto yang digenggamnya "Kau kenal dia?"
Mata Luhan memicing, mencoba mengenali pria yang ada di dalam foto sampai jantungnya berdegup kencang ketika melihat siapa yang ada di dalam foto pencarian polisi "Sehun?" dia bergumam dalam hati, tangannya terkepal erat karena gugup sampai suara polisi tersebut kembali membentak
"HEY! Kau kenal bajingan ini atau tidak?"
"bajingan?"
Luhan bertanya-tanya lagi, namun dia tahu posisi Sehun sedang dalam bahaya dan entah mengapa secara naluriah Luhan mengatakan "Aku tidak mengenalnya." Sebagai refleks melindungi Sehun dari para polisi berpakaian preman dengan tubuh besar mengerikan.
"Kau yakin?" dia ditanya lagi dan mengangguk adalah jawaban yang sama yang diberikan Luhan "Aku pendatang baru disini."
"Baiklah, aku sarankan jangan berhubungan dengan orang ini!"
"Kenapa?"
"Karena dia ada di list pertama tersangka kejahatan yang harus kami singkirkan."
"Singkirkan?"
Polisi bertubuh besar itu sedikit bertumpu pada jendela mobil miliknya untuk memberitahu Luhan "Jika seorang polisi mengatakan "singkirkan" itu artinya si tersangka harus dibunuh dengan atau tanpa perlindungan hukum, mengerti?"
"…"
"Ayo jalan!-… Kenapa bajingan itu tiba-tiba menghilang padahal kita nyaris mendapatkannya—sial!"
Yang duduk di kursi samping kemudi memberi perintah, dia juga menutup jendela mobil dan tak lama dua mobil hitam yang begitu mewah untuk ukuran seorang polisi melaju pergi meninggalkan Luhan yang sedari tadi menahan nafasnya dalam-dalam.
"Apa yang terjadi?"
Luhan bertanya cemas, matanya tertuju pada rumah mewah yang sudah terlihat dari tempatnya, rumah berwarna putih yang sesuai dengan deskripsi Chanyeol, lalu tanpa sadar kakinya melangkah cepat ke arah rumah mewah itu seolah ingin memastikan bahwa Sehun tak ada disana dan polisi itu tidak berbuat mengerikan pada Sehun.
"Semoga kau benar-benar sudah kembali ke Seoul."
Dia berlari menuju rumah yang ditebaknya adalah milik Sehun, berharap Sehun benar-benar sudah pergi dan bajingan yang dikatakan polisi mengerikan itu bukanlah Sehun yang dia kenal.
"semoga…"
Sementara Luhan mendekati rumah yang baru didatangi empat polisi yang menegurnya, maka satu polisi yang baru saja menginterograsi Luhan seperti mengenali wajahnya, dia masih mengingat dimana mereka pernah bertemu lalu bertanya pada rekannya.
"Bukankah wajah pria yang baru aku kita temui sangat familiar? Apa kau tidak merasa pernah melihatnya?"
"Tidak, lagipula sudahlah, Oh Sehun sudah membuat kepala kita sakit! Jangan kau tambahkan sakit kepalaku lagi." protes sang rekan dan hanya dibalas tatapan menyelidik dari si polisi yang memakai id card ketua divisi pembunuhan, Kang Seojong
"Kau benar, tapi aku yakin pernah melihatnya." Katanya mencoba mengingat seraya mengetuk jendela mobil "Tapi dimana?"
"Abaikan, kita harus memberikan laporan pada Presdir Ko, lagipula kau harus segera ke rumah sakit untuk bertemu dengan Dokter Yoon dan mengawasinya bukan?"
"Dokter Yoon?"
"Ya! Itu perintah dari Presdir Ko untuk terus mengawasi dokter-….."
"ITU DIA!"
Ckit…!
"y-YAK!"
Rem diinjak kuat ketika rekannya berteriak, hal itu secara otomatis juga membuat mobil di belakang mereka menginjak kuat-kuat rem mobil jika tidak ingin terjadi tabrakan yang konyol, jadilah rekan di mobil belakang membunyikan klakson kuat-kuat sementara Kapten Kang terlihat histeris melihat rekannya yang berteriak.
"Putar balik mobil, kita harus kembali ke rumah Oh Sehun."
"Mwo? Apa kau sudah gila? Bajingan itu sudah melarikan diri."
"Belum, aku yakin dia tidak melarikan diri."
"Apa maksudmu?"
"Pria yang tadi berpapas jalan dengan kita, dia istri Oh Sehun!"
"huh?"
"Dokter Oh—DIA OH LUHAN!"
Buru-buru Kapten Kang mengeluarkan selembar foto lain yang diberikan Ravi, meyakinkan rekannya jika itu Luhan dan benar saja, rekannya juga terlihat terkejut seraya mengambil radio jarak jauh untuk berteriak pada rekannya yang lain "PUTAR BALIK! OH SEHUN MASIH ADA DISANA!"
.
.
.
Sementara itu,
.
"Sehun! hey, Apa ada orang didalam?"
Sekiranya sudah hampir lima menit Luhan mengguncang pagar rumah yang terlihat sepi dan diabaikan, rumahnya sangat gelap dipenuhi rumput liar yang tumbuh memenuhi halaman depan rumah.
"Sehun! Apa kau ada di dalam?"
Dia masih berteriak, berharap ada seseorang yang menjawab panggilannya walau percuma, rumah itu tetap sepi, gelap dan tak berpenghuni. Membuat sesuatu didalam diri Luhan mendengus kecewa walau sejujurnya dia senang Sehun tidak ada di dalam sana dan itu artinya dia baik-baik saja dan sudah kembali ke Seoul "sepertinya aku terlalu berlebihan." Dan saat dia ingin menyerah, tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi yang begitu bising.
Luhan menoleh, bertanya-tanya kenapa mobil yang belum lama berpapasan dengannya kembali datang setelah mengatakan percuma beberapa menit yang lalu, tiba-tiba pula Luhan merasa tangannya berkeringat lagi hingga rasa cemas yang mulai menguasai "Apa yang terjadi?" refleksnya melangkah mendekati dua mobil hitam itu, dia bisa melihat satu tanjakan terakhir yang akan dilalui mobil polisi tersebut akan membuat mereka kembali bertemu.
Dan ya, kali ini Luhan juga sudah bersiap kalau-kalau mereka bertanya, dia memutuskan diam di tempat semenatara dirinya bertanya "Kenapa mereka datang kembali setelah-….mmph~"
Luhan sesak, tiba-tiba dia tidak bisa bernafas saat entah tangan siapa membekap erat mulutnya, dia ketakutan, berusaha meronta terlebih saat merasakan anyir darah dibibirnya "LE—mm-LEPAS…"
Dia terus meronta namun percuma, pria yang membekapnya membawa Luhan masuk kedalam rumah namun melalui pintu kecil yang tepat berada di halaman belakang. Hal itu benar-benar membuat Luhan panik, dia ketakutan, dia cemas dan seketika berteriak
"SIAPA KAU?"
Seraya mendorong tubuh itu menjauh hingga mata mereka bertatapan di dalam temaram lampu kuning yang menjadi satu-satunya penerangan di rumah tak berpenghuni ini.
"Harusnya aku yang bertanya" Suara itu terdengar sangat kelelahan untuk kembali bertanya penuh kemarahan "apa—APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? DI RUMAHKU?"
DEG!
Suara itu?
Degup jantung Luhan berpacu dengan adrenalinnya, seketika pencahayaan di matanya menjadi jelas untuk melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Sehun?"
Dia memastikan, namun mirisnya Sehun membalas dengan seringai dingin dan datang mendekati Luhan "Apa kau mengenalku? Rein?"
Entahlah, Sehun malam ini sangat berbeda dengan Sehun sebelumnya, dia terlihat sangat dingin dan murka membuat Luhan sedikit takut sampai tak sengaja melihat sesuatu menetes dari balik mantel Sehun dan itu adalah…..darah?'
Mata Luhan bekerja spontan layaknya seorang penyembuh, dia mencari darimana asal luka itu dan menyadari ada goresan dalam di lengan kiri Sehun namun diabaikan oleh si pemilik tubuh
"Sehun kau terluka!" Luhan mencoba menyentuh lengan pria yang selalu membuatnya merasakan cemas, takut juga rindu hanya untuk diperingatkan "Jangan—!" dia menjauh, tak ingin disentuh namun wajahnya begitu pucat karena luka di lengannya cukup dalam ditambah dengan darah yang terus mengalir tak mau berhenti.
"Apa yang terjadi?"
"Bukan urusanmu! Setelah mereka pergi kau juga harus pergi!"
Luhan melihat para polisi itu menggeledah rumah yang salah, entah apa yang mereka cari disana, tapi jika mencari Sehun itu artinya mereka salah karena Sehun sedang berada di rumahnya sendiri, memperhatikan dari jauh walau lengannya mengalami cidera yang serius.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka mengejarmu? Jika mereka polisi itu artinya kau-….."
"AKU SEORANG PEMBUNUH!"
"tidak…."
Luhan melangkah mundur, membuat seringai tajam Sehun terlihat walau berakhir harus terjatuh karena dirinya lemas dan tak bisa menahan lebih lama lagi tubuhnya sendiri "Sehun!" Namun lucunya Luhan hanya merasakan takut untuk sesaat, selebihnya hanya cemas yang menguasai terlebih saat melihat Sehun terduduk lemas di lantai sementara darah terus mengalir di lengannya.
"Kau terluka."
"Apa pedulimu?"
Luhan sedikit menarik mantel yang digunakan Sehun untuk mendesis "Kau benar, Apa peduliku? Harusnya kubiarkan kau mati disini! Harusnya aku memanggil para polisi itu dan mengatakan kau disini, bajingan!"
Lalu Sehun menantangnya singkat "Lakukan, keluarlah dan beritahu mereka jika aku disini, CEPAT LAKUKAN!"
"Kau….!"
Luhan memperingatkan dibalas senyum getir Sehun yang merasa begitu marah akan kehadiran pria yang menyerupai mendiang istrinya di rumah mereka, tidak, itu hanya alasan klasik. Alasan sesungguhnya dia merasa begitu marah adalah kenyataan bahwa pria yang diyakininya sebagai Luhan datang ke tempat paling berbahaya di Pyeongchan, tempat yang bisa membuat dirinya kehilangan Luhan lagi entah untuk keberapa kalinya.
Dan sebagai pertahanan diri agar tidak terlihat sangat menyedihkan, Sehun terus membentak Luhan dan berakhir menyakiti pria asing yang tanpa alasan menangis untuknya.
"Aku akan keluar." Katanya menghapus air mata, menatap tajam Sehun lalu mengatakan "Tapi bukan untuk menemui polisi mengerikan itu, aku akan membelikan obat dengan atau tanpa persetujuanmu!" kilahnya marah, berniat untuk pergi lalu tangan Sehun menggengam lagi jemarinya.
"Jangan pergi, disana berbahaya."
Sehun merubah raut wajah dinginnya menjadi begitu hangat dan lembut, merubah suara marahnya menjadi memohon hingga membuat Luhan menyadari bahwa selamanya, pria asing yang selalu membuatnya menangis sejak pertemuan mereka pastilah memiliki tempat dihatinya.
"Tapi kau terluka, aku membutuhkan sekotak peralatan kesehatan untuk mengobati lukamu."
Sehun tersenyum lagi, dia kemudian melepas genggamannya ditangan Luhan dan menunjuk kamar yang ada tepat di depan mereka "Istriku seorang dokter dan dia akan memiliki setumpuk kotak peralatan kesehatan dirumah kami, masuklah kedalam kamarku, Luhan meletakannya tepat dilaci paling bawah di meja riasnya."
Luhan ragu menatap kamar bertuliskan "S & L" di depan pintu, menatap ragu pada Sehun lalu memastikan "Apa kau yakin?"
"Masuklah, aku tidak pernah mengijinkan siapapun masuk kedalam kamarku dan Luhan."
"Lalu aku?"
"Pengecualian untukmu, aku sekarat." Katanya mengingatkan Luhan hingga membuat si pria cantik berjalan mendekati kamar mereka dan merasakan entah sesak atau rasa bahagia yang menyelimuti hatinya saat membuka pintu kamar dan melihat bingkai foto besar yang terdiri dari enam orang.
"sial! Itu benar-benar wajahku."
Luhan terpana melihat dirinya ada di bingkai paling besar di kamar Sehun untuk tertawa kecil menyadari bahwa entah Taecyeon atau Sehun, keduanya tidak berbohong tentang pernikahan dengan pria yang wajahnya menyerupai dirinya.
Matanya kemudian beralih di sisi kanan dan sisi kiri sang pengantin, Luhan tersenyum lagi ketika melihat wajah Kai dan Chanyeol berada didalam kenangan manis Sehun dan Luhan hingga tanpa sadar dia bergumam "Itu pasti calon istri kalian." Saat melihat wajah dua pria yang sedang tersenyum begitu manis di dalam sana.
"Rein, apa kau menemukannya?"
Lalu Luhan mendengar Sehun meringis kesakitan, dia segera mendekati meja rias lalu tanpa kesulitan dia seketika menemukan kotak kesehatan seolah dirinyalah yang meletakkan kotak kesehatan itu disana.
"Aku menemukannya."
Luhan menjawab, dia menutup laci paling bawah di meja rias Luhan lalu melihat lagi bingkai foto pernikahan Luhan dan Sehun berukuran kecil untuk dia masukkan kedalam saku mantelnya.
"Hey, kau baik-baik saja?"
Buru-buru Luhan duduk di depan Sehun, terkadang Sehun mendekap kepalanya saat cahaya lampu dari mobil polisi itu mengarah kerumahnya, dan jika Sehun sudah mendekapnya jantung Luhan akan berdegup gila jika tidak mengingat darah di lengan Sehun benar-benar menyebalkan untuk dilihat.
"Kita harus cepat."
Dengan cekatan Luhan membuka mantel Sehun, perlahan tapi pasti dia berhasil menyingkirkan mantel yang bagian lengannya robek karena goresan, lalu dia harus menahan tangisnya saat kemeja putih yang dikenakan Sehun tak kalah mengerikan, tak hanya bagian lengan yang dipenuhi darah tapi hampir seluruh bagian dari kemeja putih itu berubah menjadi merah.
"Aku juga harus melepas kemejamu."
Sehun mengangguk lemas, memberikan persetujuan dan membiarkan Rein melakukan apa yang diinginkan karena dirinya nyaris mati rasa di sekujur tubuh "Lakukan."
Luhan mengangguk, dia melepas satu persatu kancing kemeja Sehun, sedikit canggung, tapi entah mengapa tangannya seolah terbiasa dengan bentuk tubuh Sehun baik bahu maupun dadanya "sssh…."
Dan saat Sehun meringis, Luhan menjadi sedikit panik, dia segera membuka kotak peralatan milik istri Sehun dan mengambil alkohol untuk tindakan pertama.
Tak ada aba-aba lagi, Luhan hanya menyiramkan alkohol itu ke luka gores Sehun hingga suara ringisan Sehun terdengar sangat menggores hatinya "Tenanglah, aku akan melakukannya dengan cepat."
Secara tak sadar Sehun mengangguk dan bergumam "Aku sakit sayang, aku sakit Lu." yang dibiarkan oleh Luhan mengingat mungkin secara tak sadar pula dia sudah bersedia berada di posisi Luhan, istri dari pria yang kini sedang begitu dia cemaskan.
"Tahan."
Instruksi terakhir Luhan memang sangat menyakitkan, tapi dia benar-benar melakukannya secara profesional, menggunakan perban sebagai hal terakhir yang dilakukan untuk mengobati luka Sehun sebelum menarik lega nafasnya dan bersandar disamping Sehun yang masih lemas memejamkan mata.
"Aku selesai."
Sehun berusaha membuka matanya, samar, tapi melihat Rein duduk bersandar disampingnya sungguh hanya mengingatkannya pada Luhan. Terlebih saat Rein tersenyum kecil namun memandangnya kesal, itu terlihat seperti Luhan dan hatinya sakit menyadari bahwa jalannya masih terlalu jauh untuk memastikan bahwa Rein adalah Luhan.
"Gomawo." Katanya singkat, lalu dibalas senyum Luhan yang masih dilumuri darah Sehun ditangannya "Cucilah tanganmu, darahku mengotori tanganmu."
Tak mempedulikan Sehun, dia hanya menjawab seperlunya "Nanti, aku baik-baik saja dengan darahmu."
Lalu hening, mata keduanya memperhatikan mobil polisi itu pergi tanpa hasil. Dan alih-alih merasa takut ditinggal berdua dengan Sehun, Luhan justru mencibir bagaimana cara kerja si polisi "Idiot! Bagaimana bisa mereka menangkapmu jika mereka menggeledah rumah yang salah?"
Dan sehun tertawa mendengarnya, rasanya damai sekali mendengar suara maki Rein yang sama persis dengan istrinya saat mencibir orang lain, membuat dua mata Sehun terbuka dan memberi respon "Aku mengecoh mereka karena tidak ingin bau tubuh menjijikan mereka mengotori rumah kesayangan istriku."
"Dan kau berhasil, selamat." Katanya bangga membuat keduanya tertawa lagi, lalu hening lagi sampai Luhan memberanikan diri bertanya
"Aku kira kau sudah kembali ke Seoul."
"Harusnya, tapi sesuatu terjadi dan aku tidak bisa pergi begitu saja."
"Apa yang terjadi."
"….."
"Tidak bisa memberitahuku?"
"Sejujurnya tidak."
"Lalu bagaimana dengan Kai dan Chanyeol?"
"huh?"
"Aku bertemu mereka siang ini dan Chanyeol mengatakan kau sudah kembali ke Seoul."
"ah, Jadi kalian sudah dekat?"
Luhan tertawa kecil dan mengatakan "Tidak juga, hanya berbincang."
"haah~ Aku tidak memberitahu mereka, kau tahu mereka akan menikah?"
"Ya, mereka mengatakannya padaku."
"Itu jawabannya, aku tidak ingin menjadi masalah untuk bahagia mereka."
"Apa maksudmu?"
"Datanglah ke pernikahan mereka dan kau akan tahu maksudku."
Luhan hanya menggeleng kecil dan mengatakan "Kau tahu itu tidak mungkin." Dibalas lirih oleh Sehun "Ya, aku tahu."
Lalu diam lagi, sepertinya Sehun tidak berniat mengatakan apapun dan Luhan juga tidak menyerah untuk mencari tahu.
"Sehun?"
"hmmh…."
"Kenapa mereka mengejarmu?"
"Siapa?"
"Polisi."
"Panjang jika diceritakan."
"Lalu apa benar kau telah membunuh seseorang?"
Sehun tertawa getir, menggeleng sebagai jawaban lalu mengatakan "Aku akan membunuh seseorang, bukan telah membunuh seseorang."
"Tapi kau bilang kau seorang-….."
"Aku hanya menggertakmu."
"Kenapa?"
"Karena tidak seharusnya kau disini, aku takut mereka mengira kau Luhan dan akan melukai dirimu."
Luhan bergerak cemas, diam-diam tangannya mengambil bingkai foto pernikahan Sehun dan Luhan dari mantelnya untuk bertanya gila pada Sehun "Dan bagaimana jika benar aku adalah Luhan?"
Mata Sehun membuka lebar, pandangannya terkunci pada Luhan dan senyum kecilnya untuk bergumam tak percaya "apa—Apa yang kau katakan?"
"Hanya bertanya." Katanya santai dan menunjukkan dua foto pernikahan, milik Sehun dan Luhan serta milik Taecyeon dan Rein "Lihatlah." Luhan menunjukkan dua foto pernikahan itu pada Sehun dibalas tatapan tak percaya Sehun saat melihatnya.
"Ini….."
"Bagaimana? Aku seperti berada di dua pernikahan bukan?"
"tidak mungkin, wajah kalian terlalu sama untuk dibedakan."
Luhan mengambil lagi dua bingkai foto itu lalu tersenyum pahit menatapnya "Kau benar, aku sendiri takjub melihatnya."
Lalu dalam keadaan ini Sehun merasa harapannya mengenai kemungkinan Luhan masih bertahan hidup seolah kandas begitu saja. Karena malam ini, saat ini juga Rein seperti ingin menunjukkan padanya bahwa dirinya adalah Rein sementara istrinya memang sudah meninggal dalam kebakaran mengerikan di Seoul dua bulan yang lalu.
Dia pun tertunduk, mencoba menerima kenyataan mengerikan ini sampai Rein bertanya pada dirinya sendiri "Andai aku bisa mengingat siapa diriku."
"Rein?"
Sehun terkejut lagi, ucapan Rein seperti dirinya sedang dalam pencarian jati diri, bertanya siapa dirinya dengan mata yang melekat diantara bingkai foto dua pernikahan berbeda sementara tatapannya kosong seperti tak bisa mengingat apapun.
"Siapa aku sebenarnya? Luhan? atau Rein?"
Sehun kemudian memaksa tubuhnya bergeser tepat di depan Rein, menatap dua mata cantik yang terlihat kosong itu untuk bertanya "Apa yang sedang kau bicarakan?"
Namun alih-alih menjawab, Rein hanya membalas sendu tatapannya, dia tersenyum kecil lalu bergumam lirih "Aku pasti Luhan jika kau menemukanku lebih dulu. Tapi karena Taecyeon yang menemukan aku lebih dulu, aku menjadi Rein."
"sial! APA YANG SEDANG KAU BICARAKAN REIN?"
Sehun mengguncang bahu Luhan, mencoba untuk mencari kebenaran lalu disinilah Luhan, dengan segala pengakuan diri yang mengatakan "Aku tidak bisa mengingat siapa diriku."
"Mwo?"
"Dua bulan yang lalu aku mengalami kecelakaan, Jinyoung mengatakan aku baik-baik saja tapi nyatanya aku tida bisa mengingat apapun. Tidak diriku, tidak dirimu atau Taecyeon sekalipun."
Air mata Sehun menetes seiring dengan pernyataan mengejutkan dari Rein, itu seperti memberikan lembaran baru untuknya, alasan dirinya untuk bertahan hidup, untuk berbahagia lagi walau nyatanya Rein terlihat sangat kesakitan dan lelah karena tak mengetahui apapun tentang dirinya.
"Kau baik-baik saja?"
Luhan menoleh, memutuskan berdiri dari tempatnya dengan wajah terlihat sendu antara merasa bersalah dan bertanya, langkah kakinya perlahan menjauh disusul Sehun yang ikut berdiri dan memperhatikan gerakan dari pria cantik yang sedang mencari jati dirinya.
"entahlah, Aku merasa baik-baik saja sampai kita bertemu dan aku melihat serta mendengar suaramu."
"Aku?"
Luhan menatap kosong dari jendela rumah, memperhatikan taman bermain lengkap dengan rumah anjing disana yang menandakan bahwa Sehun memelihara seekor binatang "Ya, kau." balasnya tetap tak menatap Sehun hingga penasaran membuat Sehun terus bertanya.
"Ada apa denganku?"
Luhan diam, tak menjawab apapun untuk menenangkan diri.
Sebenarnya dia tidak perlu mengatakan ini, tapi rasanya salah jika dia memendam seorang diri jika dia ingin mencari jati dirinya. Dia pun berbalik, menatap Sehun dalam-dalam dan dengan jujur mengatakan "Saat pertama kali kita bertemu aku menangis karena sepertinya aku sangat merindukanmu, tapi aku tidak tahu alasannya. Lalu saat dipikirkan lagi aku sangat marah padamu, aku juga tidak tahu alasannya. Lalu aku rindu lagi dan aku marah lagi, lucu bukan?"
"Luhan…"
Sesaat Sehun meyakini bahwa itu Luhan, benar-benar Luhannya, terlebih saat pria cantik itu berkata "Aku sangat berharap kau yang menemukan aku lebih dulu, aku sangat berharap bahwa aku adalah Luhan." membuat Sehun nyaris berbuat gila karena terlalu bahagia sampai Rein mengatakan "Tapi sayang aku Rein."
Tak terima Sehun menuntut "Dan kenapa kau harus menjadi Rein?"
"Karena Taecyeon yang-…mmhh~"
Satu tarikan kasar, Sehun membawa Luhan merasakan sengatan dari penyatuan bibir mereka tanpa izin, tangannya menekan tengkuk Luhan sementara Luhan begitu terkejut dan berusaha memisahkan diri.
Namun sial,
Sehun dan segala kesabaran berbatas paksa itu begitu lihai bermain di bibirnya, seolah mereka sangat terbiasa melakukan hubungan intim sebatas ciuman atau bahkan lebih yang gilanya mulai merasuki Luhan yang entah mengapa merasa begitu rindu dengan sentuhan hangat Sehun padanya.
"Sehun, kumohon—ah~"
Luhan membuka pasrah bibirnya, merasakan sensasi panas dan basah saat Sehun menyelipkan lidahnya kedalam rongga bibirnya. Refleks, tangannya melingkar sempurna di leher Sehun.
Tak ada keraguan karena semua terasa begitu familiar untuknya, terlebih saat lidah mereka bertemu, saling mengecup, saling memagut dengan suara erangan tertahan dari Sehun yang begitu disukai telinganya.
"Sehun…"
Entahlah, mungkin Luhan sudah gila, terbuai dengan sentuhan dari pria yang belum bisa diingatnya namun begitu diingat oleh tubuhnya, dia tahu ini salah saat ada pria lain yang menunggu. Dia bahkan mendesahkan nama pria yang sedang mencumbu mesra dirinya dengan rasa bersalah menyiksa.
Dia teringat Taecyeon, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa diantara dua pernikahan yang pernah terjadi di antara Sehun-Luhan dan Taecyeon-Rein, dirinya menempati posisi Luhan bersama Sehun, bukan Rein bersama Taecyeon, harapnya.
.
.
.
.
.
tobecontinued
.
.
.
.
Gue baru enakan kemaren lgsng dikebut hari ini, abis itu kapok kasih tanggal UP, wkwkw, jadi biar ga nungguin intinya range UP gue 7-10 hari jangan begadang kalo belom waktunya, tepar ga enak asli :'
.
terus pertimbangan juga karena chapter sudah masuk ke chap 25, untuk mempersingkat dan biar ceper end gue memutuskan untuk dua chap sekaligus tiap UP dan artinya butuh tambahan waktu yang gue janjikan ga lebih dari 14 hari, jadi secepat mungkin pastinya,
dan siap2 gumoh baca words dari JTV di chap menjelang end
.
tapi tergantung sih, kalo lagi pengen cepet UP ya berarti normal words nya, dan itu cuma seminggu waktunya,
pesennya sabar , ga usah urusin hidup Luhan di dunia nyatanya ga menarik dan ga tertarik kalo gue sih, urusan gue cuma di dunia AFF, FFN dan Watpad wkwkwk yang bikin hepi kkkk~
btwe, maaap suka bikin orang begadang :*
.
Seeyousoon,
.
Take care gays, flu everiwer bahaya :*
