Chapter 25: Another Issue

Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa Minna-san~
Ohisashiburi desu~

Akhirnya tinggal menunggu pengumuman UN tanggal 7 mei depan. Masih menunggu hasil SNMPTN, semoga aja keterima.

Sekarat, itulah satu kata yang bisa saya deskripsikan untuk fict ini. Kenapa? Karena semua karakternya sudah 'sekarat', dalam artian konflik yang mereka hadapi sejak awal memang sudah ditakdirkan 'beranak' dan tidak ada yang terselesaikan. Maksudnya, biar nanti tambah 'complicated' dan para karakternya akan 'gila' dengan caranya sendiri-sendiri.

Langsung dimulai aja, oke?

~Phantasm~

Main Character: Kagamine Len, VY2 Yuuma, IA, Kagamine Rin

Main Pair:
Len X Rin
Yuuma X IA

Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator

Summary :

"'Tragedi berdarah dari kedua dunia tersembunyi dalam kutukan abadi keegoisan manusia'/"Harus ada orang yang memainkan peran jahat demi kedamaian dunia yang sebenarnya! Dan akulah orang yang akan melakukannya!"/'Dan… Mereka bahkan tidak tahu, apital yang sebenarnya baru akan dimulai sekarang…'"

Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.

'Abc' (italic): Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau apital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.

HAPPY READING!


XOXOX

-Len's POV-


Kami sudah dekat dengan tempat yang kami tuju, bagian selatan dari benua Afrika, di sanalah letak dari salah satu Black Forest terbesar di dunia. Ryuto berkata dia sudah mendapatkan tempat persembunyian di tempat tersebut. Aku tidak ingin bertanya lebih jauh lagi, aku hanya bisa percaya kalau Ryuto benar-benar sudah menyiapkan tempat persembunyian beserta perbekalan di sana.

Semenjak Ryuto menyadari apa yang telah terjadi setelah menyusup ke tempat musuh, dia menyiapkan semuanya sendiri dengan asumsi jika keadaan akan menjadi buruk seperti sekarang ini.

Aku tidak bisa menyanggah, ketidaktahuan yang aku alami hanya membuat masalah semakin melebar dan melebar. Tidak, bukan hanya masalah, tapi rasa gelisah dan juga pasrah menyelimuti seluruh hati kami yang sedang dilanda perasaan putus asa. Andai aku mengerti tentang diriku sendiri, semuanya tidak akan jadi seperti ini.

"Len."

Wajah Leon yang sangat suram tiba-tiba tertangkap di jarak pandang ku, lebih tepatnya, aku menoleh ke arah nya karena panggilannya yang terdengar sangat hampa itu.

"Apa kau butuh sesuatu?" Aku mencoba membalasnya dengan tenang.

Pada dasarnya, hubungan di antara kelompok ini sudah tidak erat lagi. Kerenggangan yang terjadi hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar dan lebih buruk, pada akhirnya aku yakin, kelompok ini akan hilang ditelan waktu. Kehangatan dan juga rasa saling menghargai yang pernah ada di dalam kelompok ini akan perlahan menghilang dan terus menghilang sebagai efek dari berbagai jeratan masalah yang datang silih berganti.

Aku sudah tahu, sudah tidak ada lagi orang yang bisa tenang dan berpikir jernih dalam situasi sekarang ini, tidak ada satu pun dari kami yang bisa berpikir demikian. Kami semua jenuh, tidak ada harapan, 'kewarasan' kami menghilang perlahan.

"Katakan padaku satu hal…" Ucap Leon, menggantung di tengah pembicaraan yang baru saja dimulai ini.

"Apa yang ingin kau ketahui?" Percayalah, aku tidak tahu apa-apa.

"Black Mist Project. Aku yakin kau tahu banyak." Ucapnya pelan.

"Ada apa memang nya?" Tanpa sadar aku malah bertanya balik karena rasa penasaran.

Kenapa Leon ingin tahu tentang percobaan tersebut? Apa ada hal yang membuatnya tertarik? Tapi, hanya dengan mengetahui nama dan garis besar percobaan tersebut saja, sudah membuat ku banyak berspekulasi tentang apa yang diinginkan Leon dari penjelasan ku.

Dan yang paling mungkin adalah…

"Rion…" Ucapku pelan.

"Kau ingin mencari cara 'menyelamatkan' adikmu, benar bukan?" Ucap ku lagi, dengan menekan kata menyelamatkan.

Wajah Leon awalnya terlihat terkejut, tapi dalam sekejap, wajah geram yang baru-baru ini dia tunjukkan sudah menghiasi wajahnya lagi.

"Kalau iya, kau mau apa?" Ucap Leon dengan nada yang sangat menusuk.

Percakapan ini berubah ke arah yang tidak aku sangka, siapa sangka kalau Leon masih saja memikirkan adiknya?

"Tapi Leon, aku tahu walau proyek tersebut adalah proyek kloning, itu akan berbeda dengan adikmu yang sebenarnya. Ada kemungkinan kau bisa membuat klon baru dari sejumput DNA yang tersisa dari adikmu dan menanamkan ingatan yang ada di dalam dirimu kepada klon itu menggunakan sihir, walau aku tidak tahu pasti bagaimana kinerja nya, tapi cara itu memang mungkin. Akan tetapi, dia…" Ucapan ku terputus di tengah, itu karena Leon menatap ku dengan mata yang dingin.

"Kau, sejauh apa kau menyelidiki tentang keluargaku?" Tanya nya lagi.

Sial… Aku sudah kelewatan…

Leon memang pernah berkata punya adik, tapi dia hanya berkata adiknya sedang sakit parah dan tidak bisa dia temui. Aku penasaran dengan itu dan menyelidikinya sendiri. Aku tahu itu hal yang salah, tapi dengan adanya masalah pribadi dalam tim, aku yang saat itu takut kalau hal tersebut akan mempengaruhi kinerja tim. Akhirnya aku menemukannya, alasan kenapa Leon tidak bisa menemui adiknya lagi.

Karena Rion, Rione Lestarr, adik dari Leon, sudah lama mati.

Aku akhirnya bungkam, sama seperti saat aku menyadari Yuki adalah mayat hidup. Tapi…

Pada akhirnya, aku membongkar kejahatan ku sendiri. Dengan mengatakan adanya cara pembuatan klon dan penanaman ingatan. Dengan ini, aku sudah mengatakan kepada Leon bahwa aku tahu kenyataannya, kenyataan yang tidak pernah diberitahukan oleh Leon kepadaku atau siapa pun bahwa adiknya sudah mati.

Aku… Kenapa? Kenapa aku sungguh bodoh...?

"Percayalah, apapun yang kau lakukan, dia tidak akan menjadi adikmu yang dulu lagi. Lagipula, kenapa kau tidak meminta Kiyoteru dulu untuk menghidupkan adikmu?"

Hentikan!

Hentikan, aku!

Apa yang aku katakan?!

Kenapa aku memperkeruh suasana?!

"Apa kau mengira membuat mayat adikmu hidup lagi adalah hal yang buruk? Apa kau tetap ingin adikmu mati dengan tenang sedangkan kau membuat replika yang sama sepertinya untuk keegoisan mu sendiri?" HENTIKAN! CUKUP! HENTIKAN MULUT BODOH INI!

LEON! AKU TIDAK BERMAKSUD! AKU TIDAK BERMAKSUD MELUKAIMU LEBIH JAUH!

"Percayalah Leon, apa yang kau lakukan tidak ada bedanya dengan Kiyoteru jika kau masih membawa perasaan tentang adikmu sendiri, kau tidak mencintai adikmu sendiri sebagai seorang perempuan kan?"

HENTIKAN!

KUMOHON! HENTIKAN, DIRIKU! Kumohon... Hentikan...

BUAK!

Tiba-tiba mataku berputar, tidak, tubuhku sudah berputar dari posisinya semula. Langit-langit dari kabin menjadi pemandangan yang tertangkap di mataku.

"Salah menanyai mu hal ini, dasar pecundang." Leon akhirnya pergi setelah meninju ku dengan sangat kencang.

Aku menyeka darah di bibir ku, ada apa ini? Apa aku sudah mulai kehilangan kewarasan ku juga?

Apa yang aku pikirkan dan apa yang aku perbuat sudah tidak lagi sama, iya kan?

Apa kegilaan ini akan terus berlanjut?

Kenapa... Kenapa semua berjalan ke arah yang tidak pernah aku harapkan?

.

.

.

"Kita sudah sampai, mode stealth akan terus diaktifkan selama pendaratan."

Suara Ryuto di intercom terdengar sangat jelas. Airship yang kami tumpangi sudah mulai menurunkan ketinggiannya, mendarat secara vertikal, tanah lapang yang luas sudah menunggu kami. Suara pegas yang menahan beban kendaraan ini ketika bertubrukan dengan tanah, terdengar walau sangat pelan.

Kami semua akhirnya turun dari kendaraan tersebut, Neru, Teto dan Dell membuat penghalang dari Mana untuk membuat sebuah teritori yang terpisah pada airship tersebut. Sekarang, hamparan rumput tempat kami mendarat benar-benar kosong, tidak ada objek yang terlihat.

"Dengan begini, walau ada orang yang melewati daerah ini, mereka akan menembus tempat airship kita mendarat tanpa mengetahui atau menyentuh apapun." Ucap Ryuto.

Ryuto yang mengusulkan ini, untuk membuat sihir yang bisa menukar koordinat suatu titik. Pada dasarnya, airship kami mendarat di tempat ini, tapi benda besar tersebut mungkin sekarang ada di atas gunung atau di tempat lain yang tidak mungkin dijamah manusia. Singkatnya, sebuah sihir dimensi.

"Kita harus jalan dari sini, ada desa Elf di sekitar sini, letaknya agak tersembunyi, jadi pastikan kita tidak terpisah. Aku kenal orang di tempat tersebut, dan dengan adanya Teto yang seorang High Elf, aku yakin kita bisa masuk tanpa kesulitan yang berarti." Ucap Ryuto.

Akhirnya kami berjalan kaki melanjutkan perjalanan kami.

Dari daerah Sabana yang cukup luas, kami memasuki hutan hujan lebat tanpa perlu waktu yang lama. Karena sekarang malam hari, suasananya sangat tenang diikuti perasaan yang tidak menyenangkan dan hawanya sangat dingin.

Ketika berjalan, sku mencoba menoleh ke arah yang lainnya.

Neru, dia sepertinya tidak apa-apa.

Teto, aku kasihan padanya karena dia terlihat sangat lelah.

Leon, ugh… Aku anggap dia baik-baik saja.

Dell, wajahnya masih dihiasi amarah.

Ryuto, entah aku tidak ingin menebak yang satu ini.

Sedangkan Rin, dia sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Hanya ada suara gemerisik semak dan juga angin yang menabrak dedaunan, aku bahkan tidak tahu lagi apa kami memang akan sampai di tempat yang sedang kami tuju sekarang, Hutan ini terlalu tenang, tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Len."

Neru menghampiri ku perlahan, dia terlihat memiliki sesuatu untuk dibicarakan.

Matanya menerawang diriku, dia terlihat mengharapkan sesuatu.

"Aku tahu, Mana di dalam tubuhmu sudah mulai aktif."

"!"

Aku langsung terkejut, dengan cepat aku menutup mulut Neru dengan satu tanganku, sedangkan tanganku yang lain mengisyaratkan baginya untuk tidak berkata terlalu kencang.

Aku melihat ke depanku, sepertinya tidak ada yang mendengar ucapan Neru.

Ini terlalu mengejutkan, kenapa Neru bisa tahu?!

"Kenapa kau bisa tahu?!" Ucap ku dengan bisikan.

"Ada yang berbeda darimu, tanpa aku sadar, aku bisa merasakannya. Teto juga bisa merasakannya, tapi dia memilih diam." Ucap Neru pelan.

Jantung ku terasa mau copot karena perkataan Neru yang tiba-tiba, tanpa aku sadari, aku mengepalkan tanganku sendiri dengan kencang.

"Len, apa kau ingat janji kita?"

Aku langsung mencoba menggali lagi ingatanku.

...

Tidak, tidak mungkin aku bisa melupakannya. Sosok Neru yang berdiri dengan darah di seluruh tubuhnya, dengan mata yang menakutkan dan mennyiratkan kesedihan, serta air mata yang bercampur darah yang mengalir di pipinya. Neru tidak ingin lagi melihat realita, realita tentang dirinya pada saat itu.

Pada saat Neru, seorang gadis normal yang hidup dengan normal, berubah menjadi vampire yang tidak bisa mati.

Aku menjanjikannya satu hal, iya, satu hal.

Bahwa aku akan membunuhnya, aku akan mencari cara untuk membuatnya tenang di alam sana dengan tanganku sendiri.

Tapi, apa aku sanggup? Perlahan, aku melihat telapak tanganku lagi.

Apa dengan kekuatan ini, aku bisa mengabulkan permohonannya? Apa dengan membunuhnya menggunakan kekuatan ini, semuanya akan terselesaikan?

Walau aku menjanjikan hal tersebut kepada Neru, tapi aku tetap tidak ingin Neru merasakan rasa sakit lagi. Baik di hatinya atau di tubuhnya, aku ingin membuat pemakaman yang sudah dia tunggu sangat lama dengan cara yang paling mulia dengan tanganku ini. Memberinya kematian yang membahagiakan baginya, dan juga tidak membawa rasa sakit yang lain lagi kepadanya.

Karena aku tahu, hidup abadi lebih menyakitkan daripada bisa mati.

Aku ingin dia bisa mengakhiri hidupnya dengan senyuman, walau senyuman itu tidak pantas untuk diriku yang akan membunuhnya.

"Ya, aku tidak akan bisa melupakan akan hal itu." Ucap ku pelan sebagai balasan.

"Karena itu satu-satunya janji ku kepadamu." Lanjut ku dalam gelap malam.

Dadaku tiba-tiba saja sesak.

Ini sama, sama saat aku merasakan kekuatan aneh itu. Ada gejolak aneh yang membuat ku tidak nyaman. Seakan ada bagian dari diriku yang berteriak, "Lakukanlah sekarang!".

Rasa sakit ini kembali terasa, aku mengingat saat-saat dimana Neru mengorbankan kehidupannya untuk ku. Bukan hanya Neru, bahkan yang lainnya, saat dimana rekan-rekanku mempercayakan kehidupan mereka padaku kembali berputar lagi dan lagi. Membuat dadaku semakin sesak karena tidak bisa mengabulkan harapan mereka.

Aku menatap nanar Neru, walau dengan senyum yang dipaksakan, aku menepuk kepala Neru dan mengelusnya. Dengan tatapan nanar itu pula, aku memaksakan perkataan yang menyiratkan harapan untuk Neru, walau aku tidak tahu apa harapan itu akan bisa terkabulkan olehku kelak.

"Aku berjanji, akau menepati janji tersebut walau butuh ratusan tahun lamanya." Ucap ku, dengan sendu.

Neru melihat wajah ku, dia memegang tanganku yang mengelus kepalanya, dengan perlahan, dia menggenggam tanganku dan menaruhnya di pipinya. Kehangatan itu kembali kurasakan, kehangatan dimana ada orang yang bergantung kepada dirimu.

Kulit Neru yang halus mulai terasa di tanganku, aku sadar kalau Neru juga perempuan. Dalam arti lain, aku sadar kalau Neru juga butuh perlindungan, sekuat apapun dirinya.

Dia butuh tempat bergantung, dan aku menawarkan diriku sebagai tempat bergantung untuknya. Tapi, perasaan karena tidak bisa memenuhi harapan Neru yang sudah terlalu lama terasa lebih menyakitkan daripada menjadi tempat bergantung hampa baginya, bagi Neru dan juga yang lain.

"Kita sudah sampai!" Ucap Ryuto agak kencang.

Aku mengalihkan tatapan ku, yang aku lihat hanya hutan yang sepi, tidak berbeda dengan sebelumnya. Tapi sebelum aku sadari, Ryuto berjalan beberapa langkah setelah ku dan menghilang di hadapanku.

"Pelindung?" Ucap ku pelan.

Aku, termasuk yang lainnya mulai mengikuti Ryuto berjalan maju. Pandangan kami sempat buram walau sebentar, saat aku membuka mataku, cahaya yang berbeda dari yang pernah aku lihat mulai berkecimpung di mataku.

Tanaman-tanaman aneh yang mengeluarkan cahaya beserta kunang-kunang yang beterbangan membawa kesan alami dan damai. Aku bisa melihat beberapa karavan pedagang yang berjalan perlahan memasuki sebuah kawasan yang sangat besar.

Ada sebuah gerbang besar, dengan penjaga yang familiar di mataku.

Mereka Elf. Tapi, pedagang-pedagang yang masuk tidak semuanya berbangsa Elf, ada juga Ogre dan Dryad muda. Pemandangan luar biasa dengan gerbang dan barikade yang menjulang tinggi membuat diriku terkejut dan terpesona.

Ini bukan lagi desa, ini sebuah peradaban yang berbeda.

"Selamat datang di peradaban paling maju di kawasan ini, Heglar!" Ucap Ryuto dengan lantang.


XOXOX

-Normal POV-


Len dan yang lainnya mulai berjalan menuju gerbang dan mengantri di belakang karavan para pedagang dan orang-orang yang juga ingin masuk ke dalam. Len menyadari, bahwa bukan hanya Demi-Human yang ingin memasuki gerbang tersebut, tapi ada juga manusia biasa di antara para rombongan.

Saat tiba giliran Len dan yang lainnya masuk, penjaga Elf menyilangkan tombaknya dengan tegas.

"Identitas dan tujuan kalian datang!" Ucap salah satu penjaga.

Ryuto dan Len bingung, mereka tidak bisa menjawab kalau mereka sekarang adalah buronan dunia. Di saat yang tepat, Teto maju sebagai perantara.

"Maafkan atas kelancangan saya, tapi saya seorang High Elf, mereka adalah orang-orang yang berada di bawah perlindungan saya." Ucap Teto, tanpa perasaan gugup sedikit pun.

Para penjaga nampak melihat satu sama lain, tapi akhirnya mereka mengizinkan Len dan yang lainnya untuk masuk. Saat gerbang dibuka, pemandangan yang terlihat ternyata lebih menakjubkan lagi.

Walau tidak sehebat peradaban manusia, ada banyak mesin uap dan distribusi listrik sudah ada di tempat tersebut melihat dari adanya lampu-lampu penerangan di jalan yang berbata. Untuk sebuah peradaban di tengah hutan yang lebat, ini sudah termasuk hebat. Banyak sekali Demi-Human yang berlalu-lalang kesana-kemari. Ada banyak pertokoan dan pedagang tenda di tepi jalanan. Bangunan dari batu yang menjulang tinggi, dan juga kastil megah yang terlihat di ujung kota tersebut.

"Ini sih udah bukan desa lagi." Ucap Dell.

"Yah, mereka yang ada di sini selalu menganggap tempat ini adalah desa jika dibandingkan dengan peradaban manusia." Ucap Ryuto.

Len terkesima, menyembunyikan peradaban sebesar ini dengan sihir pasti bukan hal yang mudah. Tidak ada keraguan di dalam diri Len bahwa orang yang memerintah di sini pasti adalah orang hebat.

Len, dan keenam orang lainnya sempat terdiam setelah memasuki gerbang. Tapi, dalam beberapa saat, ada seseorang yang menghampiri mereka, seorang Ogre, walau tubuhnya agak kecil untuk ukuran ras bertubuh super seperti Ogre.

"Ryuto."

Ryuto menoleh ke arah orang yang memanggilnya, rambut putih menghias kepala orang tersebut. Dengan baju yang terlihat terbuat dari kulit dan pedang besar di pundaknya, bisa diasumsikan bahwa tenaganya pasti sangat besar terlepas dari penampilannya yang kurang memadai sebagai Ogre.

Orang itu berhenti di depan Len dan yang lain, dia melepas topi memburunya dan memperlihatkan tanduk yang menjadi ciri khas seorang Ogre, tanduk coklat dan juga sisik di beberapa bagian tubuhnya.

"Perkenalkan, aku Pinto Komaggron, seorang Ogre pengembara. Sekarang aku mengabdi untuk pemerintah di tempat ini. Aku adalah orang yang menjanjikan tempat perlindungan pada teman kalian, Dracko Cerulea, atau yang lebih dikenal sebagai Ryuto oleh kalian." Ucap Orang itu.

Ogre tersebut menundukkan kepalanya dan menaruh topinya di dadanya. Len dan yang lainnya membalas perkenalan sopannya dengan anggukan.

"Kita tidak memiliki waktu untuk mengobrol, Sang Ratu sudah menunggu kalian." Ucap Ogre tersebut.

"Ratu? Maaf, Pinto…" Ucapan Len terputus di tengah-tengah.

"Piko saja." Ucap Pinto Komaggron, menginterupsi perkataan Len.

"Oke. Piko, apa yang kau maksud tentang 'Sang Ratu'?" Tanya Len.

"Ratu dari Ras Elf, Sonika Avery, ingin segera menemui kalian, terutama menemui High Elf yang di sana. Seorang High Elf sudah sangat jarang ada, ketika mendengar Ryuto menjanjikan seorang High Elf untuk datang, Ratu terdengar sangat senang dan meminta kalian segera menghadap sang Ratu." Ucap Piko.

"Ratu Elf?!" Dell adalah orang yang pertama kali terkejut.

Teto tolah-toleh dan menunjuk dirinya sendiri, Piko mengangguk atas reaksi Teto.

"Cepatlah, Ratu tidak bisa menunggu lama."

.

.

.

Jalanan yang ramai semakin ramai ketika akan memasuki kastil yang megah. Para pegawai istana yang terdiri dari berbagai macam ras membuat suasana di istana sangat hidup.

Ketika pintu besar sudah menunggu untuk dibuka, pintu tersebut malah terbuka dari dalam dan menampilkan sosok wanita Elf yang tiba-tiba saja muncul dan memeluk Teto. Seorang wanita tiba-tiba meloncat keluar dari dalam ruangan dan dengan cepat memeluk Teto dengan erat.

"Selamat datang!" Ucap wanita itu.

"Ratu sudah aku bilang! Jangan bertingkah seenaknya!" Ucap Piko terlihat kesusahan sendiri.

Bultuh waktu lama bagi Len untuk menyadari apa yang terjadi, hingga…

"Ra—Ra—Ratu?!" Ucap Dell terkejut.

Dia adalah Ratu Elf, Sonika Avery.

"Di—Di—Dia ratunya?" Ucap Dell masih terkejut.

"Ya, dan sifat Ratu di sini memang seperti ini." Ucap Piko, dengan nada kecewa.

Len dan yang lainnya tidak bisa menghentikan rasa terkejut mereka, Teto sebagai orang yang dipeluk adalah yang paling terkejut. Maksudnya, bagaimana bisa seorang Ratu yang seharusnya berwibawa dan bijaksana malah terlihat begitu kekanak-kanakan seperti yang ada di hadapan mereka kini?

Tapi, tidak memberikan waktu untuk mencerna keadaan, tiba-tiba sang Ratu langsung menanyakan sesuatu dengan tegas.

"Wahai High Elf, ini adalah penawaran hebat yang tidak akan datang dua kali, tinggallah di sini dan jadilah tangan kananku!" Ucap Sonika dengan kencang.

"EEEEHHHH?!"

.

.

.

"Ada-ada saja."

"Tee~ Hee~"

Keadaan sudah lebih tenang, sekarang mereka sudah ada di dalam ruang singgasana dan melakukan pertemuan yang lebih wajar. Piko harus susah payah menarik sang Ratu dari pelukan Teto erat, Teto bahkan sampai terjatuh ke lantai saking kagetnya.

"Perkenalkan sekali lagi, wahai para ksatria pemberani, aku adalah Ratu Elf, Sonika Avery. Kami menerima kedatangan kalian semua dengan tangan terbuka di sini. Tidak ada orang yang jahat, itulah prinsip ku. Semua Elf dan orang-orang yang menginginkan kehidupan baru yang tenang diterima dengan lapang dada di sini!" Ucap Sonika.

Len dan yang lainnya mulai sweatdrop sendiri, mereka tidak menyangka kalau seorang Ratu akan sehiper aktif ini.

"Terima kasih atas sambutannya, kalau boleh tahu, kenapa anda memanggil kami semua ke tempat ini, Yang Mulia?" Len memberanikan dirinya untuk bertanya.

"Ah, kau pengikut High Elf yang di sana bukan? Alasan aku memanggil kalian, para ksatria, adalah karena aku ingin High Elf itu menjadi tangan kananku. Kalian tahu bukan? Semenjak perang besar, jumlah High Elf terus berkurang. Elf memang hidup lama, tapi reproduksi kami tidak secepat manusia. Menemukan High Elf di waktu seperti ini sama seperti menemukan permata di dalam kubangan lumpur. Tenang saja, kalian juga bisa mengabdi di istana ini sebagai pengikut High Elf, wahai para ksatria pemberani. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu wahai High Elf?" Tanya Sonika.

"Teuka Toppo, Yang Mulia." Ucap Teto.

"Teuka? Nama yang bagus, jadi maukah kau menerima tawaran ku? Keselamatan para pengikutmu juga akan dijamin!" Ucap Sonika penuh dengan semangat.

Di lain sisi.

"Siapa coba yang pengikut?" Ucap Neru sewot sambil berbisik kepada Rin.

"Yah… Gimana yah…" Jawab Rin, bingung ingin menjawab apa.

"Hei Leon, kita sekarang jadi pengikutnya dari pengikut ketua kita yang sekarang juga jadi pengikut dari pengikutnya." Bisik Dell, sambil cekikikan.

"Hah? Kecoak." Jawab Leon, tidak acuh. Perkataan Dell memang terlalu sulit untuk dicerna.

"Len, apakah tidak apa-apa seperti ini?" Tanya Ryuto.

"Kalau itu pilihan Teto, aku tidak bisa menahannya. Kehidupannya akan lebih terjamin di tempat ini daripada menjadi buronan. Dia bisa memulai hidup baru, tempat ini terisolir dari dunia luar, jadi sangat aman baginya ada di sini. Dia juga bisa mendapatkan suami dan hidup dengan tenang dalam waktu yang lama, jadi… Sepertinya pilihan ini sangat tepat untuk dipilihnya." Ucap Len.

Tapi di samping semua itu, Teto hanya tersenyum.

"Terima kasih tawarannya, Yang Mulia. Tapi, saya menolak dengan halus." Jawab Teto.

"Eh?!"

Yang terkejut adalah sang Ratu, Sonika bahkan sampai tersentak di atas kursi mewahnya.

"Saya berterima kasih atas tawarannya. Tapi, mereka adalah rekan saya yang berharga. Saya tidak ingin berpisah dengan mereka. Lalu, saya memang berkata mereka ada di bawah perlindungan saya saat ditanya para penjaga, tapi nyatanya, saya adalah anggota dari kelompok ini, saya bukan ketuanya." Ucap Teto.

"Lalu, siapa ketuanya?" Tanya Sonika.

Teto mendorong Len.

"Hoo… Tidak salah ternyata. Itu alasan kenapa aku merasakan hawa yang berbeda dari anak ini. Kau sangat mulia sekali, ksatria, berani merendahkan dirimu sendiri demi rekan-rekanmu. Aku memuji kebijakanmu." Ucap Sonika kepada Len.

"A—Ah, terima kasih, Yang Mulia." Jawab Len.

"Tapi, tawaranku masih tidak berubah. Silahkan tinggal di sini selama yang kalian mau, kalian disambut dengan baik sebagai rekan dari seorang Elf. Jika kau, Teuka, berubah pikiran, aku siap menerima dirimu kapan saja." Ucap Sonika.

Setelah itu, Len dan rekan-rekannya pamit undur diri bersama Piko juga.

Di luar ruangan.

"Ada apa dengan Ratu itu? Dia percaya diri sekali dengan keamanan tempat ini, 'Tidak ada orang yang jahat' ucapnya? Omong kosong sekali." Ucap Leon.

"Ssst! Jaga ucapanmu Leon. Aku tidak ingin dipenggal oleh orang yang memberiku kebaikan." Sahut Dell.

"Tapi, Ratu memang begitu, dia sangat percaya bahwa nantinya akan ada toleransi dan rasa saling mengerti antar ras. Itulah alasannya dia membuka tempat ini sebagai tempat yang terbuka bagi siapapun, Sang Ratu percaya bahwa akan ada kedamaian di masa depan, dan tempat ini adalah langkah awalnya. Setiap orang yang datang di sini sudah mengerti kebaikan Sang Ratu, jadi mereka tidak pernah melawan kebijakannya. Walau begitu, keamanan di sini sangatlah ketat, bukan hanya Elf, banyak orang-orang dari ras lain, termasuk Orc yang bengis dan Goblin yang licik yang sudah tunduk di bawah perintahnya. Kebanyakan orang-orang di sini adalah buangan dari tempat aslinya, mereka mencari kehidupan kedua mereka di tempat ini." Jelas Piko.

Di tengah penjelasan lanjut dari Piko, Len berbisik dengan pelan, berharap tidak ada yang mendengar perkataannya.

"Ratu itu pasti sangat dicintai rakyatnya." Balas Len.

Tapi, Rin mendengar apa yang dikatakan Len walau pelan. Merasa Len sedang terpuruk, Rin mendekatkan dirinya kepada Len dan mereka berdua mulai membuat jarak dengan rombongan mereka.

"Ada apa Len?" Melihat Len yang mengeluarkan nada sedih, Rin merasakan kalau Len sedang memikirkan sesuatu.

"Tidak apa, hanya saja, aku tidak pernah memberikan kalian semua kebebasan dan rasa cinta seperti yang Sang Ratu Elf lakukan selama ini. Entah kenapa aku merasa gagal." Ucapnya dengan tawa yang dipaksakan.

"Tidak Len, kau hanya belum bisa melakukannya. Walau sekarang kita sedang dalam kesulitan, aku yakin tidak ada yang membuang harapannya tentang dirimu yang bisa memberikan kami semua jalan dan tujuan." Ucap Rin.

"Terima kasih, aku merasa lebih baikan. Tapi, aku harap kalian tidak berharap terlalu banyak." Jawab Len.

"Kenapa?" Tanya Rin.

"Karena aku sudah bukan orang yang bisa kalian semua andalkan seperti dulu." Jawab Len.

Rin tidak bisa berkata banyak, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Len melalui puluhan kata semangat. Terkadang, memberi semangat kepada orang yang sedang terpuruk hanya membuat mereka menyadari betapa tidak bergunanya diri mereka karena harus disemangati orang lain sedangkan dirinya sendiri tidak bisa meluapkan masalahnya tersebut menjadi sebuah semangat.

"Len, aku akan selalu ada di sampingmu, bukannya aku sudah berjanji? Jika ada suatu saat dimana kau tidak bisa lagi menjadi sandaran, bersandarlah padaku dan bergantunglah padaku hingga kau mampu berdiri sendiri lagi." Ucap Rin, dengan senyuman manis.

Rin memegang tangan Len yang tergantung lemas, menggenggamnya erat seakan-akan Len akan lepas jika dia mengendurkan genggamannya.

"Kita akan mencari penginapan setelah ini, aku harap kita tidak terpisah di tengah keramaian!" Ucap Ryuto.

Rin masih menggenggam tangan Len, Teto menoleh ke belakang dan melihat Rin yang menggenggam tangan Len dengan erat. Ada rasa sesak di dalam hatinya, tapi dia juga merasakan ada rasa lega di dalam hatinya pada waktu yang bersamaan.

"Hoi." Dell menyahut ke arah Leon.

"Apa?" Sahut Leon.

"Entah kenapa, tapi sekarang aku lebih beranggapan kalau Ryuto lebih banyak mengarahkan dan memerintah kita daripada Len." Ucap Dell.

Dia akhirnya merasa bersalah juga karena sudah ikut emosi dan mendesak Len pada saat di airship. Tapi, jawaban Leon ternyata lebih cuek dari yang Dell kira.

"Begitu?" Ucapnya.

Dell hanya bisa menghela nafas.

.

.

.

Di gerbang kota, seseorang dengan mudahnya memasuki pemeriksaan.

Dia melepas tudung yang menutupi kepalanya dari bentuk telinganya, sudah jelas dia adalah seorang Elf.

"Nah, sekarang dimana aku bisa menemukan bocah Len itu?" Ucap Elf tersebut.

Dia menerawang arah, mengecap jarinya dengan lidahnya untuk mencoba merasakan arah angin. Pada dasarnya dia melakukan hal yang bodoh.

"Utara? Selatan? Barat? Timur?" Ucapnya lagi.

"Kemana aku harus pergi?"

Dia mengarahkan jarinya ke satu arah.

"Kesana!"

Tapi, bukannya jalan, tempat yang ditunjuknya adalah sebuah bangunan dengan pencahayaan remang.

"Bocah Len bisa menunggu, Ratu juga bisa menunggu, Misi juga bisa menunggu~ Tapi, kakak-kakak cantik yang ada di sana tidak bisa menunggu~" Ucapnya.

Dan, dia dengan genitnya masuk ke bangunan itu tanpa rasa bersalah.

.

.

.

"Teritori Neraka."

Oliver sudah terbang di atas tempat yang sering disebut sebagi tempat 'berkumpulnya kejahatan', daerah para Iblis, Teritori Neraka.

Pulau luas tersebut dikucilkan di bagian paling selatan dunia, dekat dengan Antartika sehingga hawanya sangat dingin. Lapisan pelindung pulau tersebut sangat tebal sampai-sampai kau bisa melihatnya dengan mata telanjang.

Dengan merentangkan tangannya, Oliver membuka pelindung itu satu persatu. Dia sudah hafal susunan Mana yang menyusun pelindung itu, karena susunannya sama seperti yang ada di pulau terbang tempat para Malaikat. Ini adalah kebijakan yang kedua kubu lakukan untuk mengisolasi keterhubungan mereka dengan urusan dunia luar.

Hanya orang-orang tertentu yang bisa keluar-masuk pelindung itu, Oliver salah satunya. Pelindung tersebut digunakan untuk menahan para Iblis atau Malaikat awam yang nekat ingin terjun ke dunia para Manusia dan Demi-Human.

Saat Oliver sampai di gerbang pertama untuk memasuki peradaban di pulau tersebut, beberapa Iblis veteran mendatanginya.

"Ketua Gumi sudah menerima pesan Anda, Tuan Oliver. Silahkan ikuti kami untuk bertemu dengannya."

Oliver akhirnya mengikuti para Iblis tersebut untuk menemui pemimpin Iblis yang sekarang.

Sejauh mata memandang, yang bisa Oliver lihat adalah warna gelap. Tempat ini selalu berputar pada waktu gelap, setiap hari layaknya malam. Ada beberapa Iblis yang berlalu lalang.

Yang paling membuat Oliver ingin menutup matanya adalah, ada Iblis yang dihukum dengan berbagai hukuman. Dicambuk, direndam di lumpur, di kurung dalam kurungan gantung, di salib, bahkan sampai dikubur di tanah hingga hanya menyisakan kepala. Itu adalah metode yang dilakukan oleh pemimpin sekarang untuk menahan Iblis yang kehilangan akal sehatnya. Pemimpin yang sekarang tidak memiliki kekuatan sekuat Raja Iblis sebelumnya yang bisa menekan para Iblis untuk berbuat jahat. Pilihan satu-satunya hanya mengkarantina mereka yang sudah kehilangan akal sehat.

Keadaan tersebut membuat Oliver lebih ingin membuat Len kembali. Demi dirinya sendiri dan juga demi Ras-nya.

"Len… Tidak lama lagi, tunggulah…"


XOXOX


"And Reality Teach Us How To Give Up."


XOXOX


Chapter 25 selesai

Kembali ke 4K perchapter, paling chapter-chapter akhir baru bakalan panjang-panjang.

Chapter depan bakalan ada kekacauan besar-besaran lagi, lihat aja minggu depan~

Balas anon review~


-To reviewer named: Guest


Wow, reviewnya di chapter dua, tapi saya sangat menghargai review dari kamu, maaf kalau baru balas dan ngebalasnya di chapter 25. T^T

Dan yup, analisis mu tentang Mana tepat. Saya sudah pernah membahas ini dengan seorang Author lain dengan perumpamaan Psion dari Mahouka. ^^

Semoga nggak bosen ya bacanya, makasih banget udah mau nyempetin review~


Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.

Jaa~~ Matta ne~~ ^^

Best Regards,