Disclaimer: Naruto bukan punya saya. Naruto punya Masashi Kishimoto. Ceritanya punya saya.
Dedication: Untuk Ajeng, yang sudah semangatin untuk selesaiin ini. Dan untuk Jejo, yang pertama kali dengar akhir dari cerita ini :)
Warning: Mature content.
Suggestion: Bagi yang udah agak-agak lupa ceritanya, disarankan baca dari chapter 1.
Chapter 25
Gaara and Hinata
"And wherever you go I'll hold you forever, maybe I could cope if I could hold you..."
Sejak meninggalkan Australia sembilan tahun yang lalu, tidak pernah terpikirkan oleh Gaara bahwa ia akan kembali lagi ke rumah tersebut.
Seperti dugaannya, tidak ada satu bagian pun dari rumah tersebut yang berubah. Ayahnya pasti melakukan segala cara untuk memastikan agar rumah tersebut tetap sama seperti ketika ibunya terakhir kali tinggal di sana. Gaara bisa melihatnya dari taman bunga dan gazebo tempat ibunya dulu selalu menghabiskan waktu dengan membacakan dongeng untuknya.
Gaara tidak bisa membohongi dirinya. Rumah itu mencerminkan kepribadian ibunya. Setiap sudutnya menyimpan semua memori tentang ibunya. Ketika Gaara pertama kali melewati pintu depan rumah tersebut, ia merasa seperti melihat hantu ibunya dari masa lalu.
Dalam perjalanannya ke Australia, Gaara sebenarnya telah membayangkan ratusan skenario yang ingin ia lakukan pada rumah tersebut.
Mungkin ia akan membiarkannya seperti semula, membersihkannya, membuatnya layak untuk ditinggali dan ia akan tinggal di sana sampai akhir hayatnya bersama memori ibunya.
Di sisi lain, Gaara juga tergoda untuk merombak rumah tersebut, mengecat ulang seluruh permukaannya, mengganti semua perabotannya, mendonasikan piano ibunya, menyembunyikan semua pigura, foto, serta piring-piring hitam koleksi ibunya di gudang. Ia bahkan berpikir untuk merombak taman bunga di bagian belakang rumah dan membangun sesuatu yang lebih bermanfaat, seperti kandang atau kebun.
Lalu Gaara akan memulai kehidupannya yang baru di sana. Ia akan tinggal dan bekerja di sana, meninggalkan semua apa yang diingatnya sampai detik itu di Jepang. Namun itu artinya ibunya akan pergi selamanya dengan rumah tersebut. Tidak akan ada lagi yang tersisa.
Atau Gaara bisa menghabiskan waktu menjelajahi gurun—hal yang selalu ingin ia lakukan waktu kecil. Dulu ibunya selalu berjanji akan mengajaknya menjelajahi gurun, menemukan oasis, menggelar tikar dan piknik di sana. Namun ibunya tak pernah cukup sehat untuk melakukannya, sampai akhir hayatnya.
Namun Gaara sudah cukup dewasa untuk melakukannya sendiri sekarang.
Skenario yang manapun akhirnya sama saja, yaitu Gaara ingin memulai kehidupan baru di Australia, melupakan Jepang, melupakan semua orang yang ia percaya untuk tak menyakitinya, namun ternyata menghianatinya.
Terutama Hinata.
Dia masih muda, ada banyak hal yang bisa ia lakukan. Hidupnya tidak terikat hanya pada satu perempuan.
Ada banyak hal yang bisa ia lakukan, sangat banyak.
Namun selama dua hari pertamanya di Australia, Gaara justru menghabiskan waktu duduk di teras, menunggu matahari terbenam. Di kakinya berjejer berbotol-botol bir dan asbak yang terlalu penuh setelah ia menghisap entah berapa batang rokok sambil menghela napas.
Siapa yang mau ia bohongi?
Hatinya hancur.
Berada di rumah yang menyimpan memori ibunya, malah membuatnya mengerti hal yang merusak tubuh dan pikiran ibunya sampai mati adalah karena mengetahui bahwa cinta ayahnya terbagi dua. Cinta itu sangat berbahaya, sangat merusak.
Namun ketika Gaara memikirkannya, ia sadar, hati seseorang tidak mungkin hancur tanpa merasakan cinta sebelumnya. Jika kau tahu bahwa hatimu telah hancur, maka setidaknya kau tahu bahwa kau sudah mencintai orang tersebut dengan sungguh-sungguh.
Gaara betul-betul jatuh cinta pada Hinata.
Di hari ketiga, Gaara akhirnya memberanikan diri mengunjungi makam ibunya.
Ia tahu sampai saat ini ayahnya masih menghabiskan banyak uang untuk mengkonservasi tubuh ibunya sedemikian rupa. Ayahnya pikir Gara tidak tahu keberadaan makam tersebut,dan tak pernah repot-repot memberitahunya. Namun lelaki itu punya cara sendiri untuk mengetahui kebenaran di balik abu ibunya yang disimpan di gereja lokal. Salah satu pendeta di gereja tersebut adalah sahabat kecil Paman Yashamaru, yang pada suatu makan malam yang menyenangkan tanpa sengaja membocorkan fakta bahwa tubuh Karura sebenarnya tidak dikremasi, namun disimpan oleh suaminya di suatu tempat.
Dengan bertanya pada beberapa orang yang tepat, Paman Yashamaru akhirnya mengetahui keberadaan kapel yang dibangun Hisagi Sabaku persis di belakang gereja tempat mereka mengikat janji pernikahan mereka dulu.
Kunjungan Gaara ke makam ibunya menimbulkan berbagai macam emosi.
Marah, tentu saja. Gaara selalu menjaga amarahnya pada ayahnya yang membuat ibunya merenggut nyawanya sendiri. Namun diam-diam Gaara juga selalu marah pada ibunya yang meninggalkannya sendirian di dunia ini, dan mengabaikan kasih sayangnya.
Namun di sisi lain, Gaara juga merasa sangat tenang berada di kapel tersebut bersama ibunya. Seolah-olah mereka berkumpul lagi di sana.
Gaara sangat merindukan ibunya.
"Kau mungkin akan sangat kecewa kalau melihatku sekarang, Ibu. Ini pertama kalinya aku mengunjungimu. Aku memang anak yang durhaka. Tapi kurasa kau akan senang karena sekarang aku tak lagi marah padamu. Aku mengerti sekarang. Aku mengerti apa yang membuatmu melakukan apa yang kau lakukan."
Mereka sangat egois. Baik itu ibunya, ataupun Gaara, mereka sangat egois. Mereka ingin cinta mereka terbalaskan. Mereka tidak sanggup menanggung fakta bahwa cinta mereka tidak terbalaskan.
"Aku mengerti, Ibu."
Inilah takdir mereka.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir itu, Gaara pun merasa tenang.
Keesokan harinya, Gaara mengeluarkan Jeep Wrangler ayahnya untuk menjelajahi gurun pasir. Di hari pertama penjelajahannya, Gaara tidak menemukan apapun. Ia kembali ke rumah dengan rambut dan wajah penuh debu.
Keesokan harinya, Gaara belajar dari kesalahannya dan menggunakan scarf untuk menutupi separuh wajahnya. Di hari kedua penjelajahan tersebut, Gaara menemukan seekor unta liar. Gaara sempat tergoda untuk menangkap unta tersebut dan memeliharanya. Namun ia takut ketidaktahuannya soal unta malah akan menyiksa binatang malang itu.
Di hari ketiga penjelajahannya, Gaara akhirnya menemukan tempat yang tepat. Oasis, yang tersembunyi di jantung gurun pasir Australia.
Tempat yang tepat untuk menghilang selamanya.
Oleh karena mereka tinggal di tempat terpencil di padang pasir, mereka selalu berhadapan dengan kemungkinan orang asing yang menyelinap masuk ke rumah. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, Paman Yashamaru selalu menyimpan beberapa senjata api di gudang bawah tanah. Dan Gaara masih menemukannya di sana. Nampaknya Paman Yashamaru tidak membawanya saat ia meninggalkan rumah itu.
Selama tiga hari, Gaara memainkan ide tersebut di dalam pikirannya. Ide untuk bertemu dengan ibunya. Ide yang sangat menggoda. Gaara memikirkannya baik-baik. Ia memikirkan sisi positif dan negatifnya. Apa hal terburuk yang dapat terjadi dengan kepergiannya?
Ayahnya masih memiliki Temari dan Kankurou, dan kedua orang itu masih memiliki satu sama lain. Dia tidak benar-benar punya teman yang menyayanginya, karena semua orang hanya menyukai uangnya. Dan dia tidak pernah benar-benar punya seseorang yang mencintainya.
Sakura Haruno.
Hinata Hyuuga.
Semua sama saja.
Tidak ada yang akan ia sesali dengan meninggalkan dunia itu. Dunia yang penuh dengan kebencian, dunia yang penuh ketidakadilan. Dunia konyol yang penuh dengan candaan tak lucu.
Gaara sering mendengar kisah orang-orang yang merenggut nyawa mereka sendiri, baik itu karena putus cinta, dipecat dari pekerjaan, atau karena rasa takut. Dulu Gaara merasa orang-orang tersebut adalah para pengecut yang lari dari masalah mereka. Kematian tidak akan menyelesaikan apapun. Kau hanya menghancurkan hati orang-orang di sekitarmu.
Namun sekarang...Gaara merasa bahwa mungkin orang-orang tersebut telah terjebak, terjebak dalam dunia yang bagai labirin ini, dimana setiap belokan merupakan jalan buntu, dan kematian adalah satu-satunya jalan keluar.
Gaara memikirkannya baik-baik. Ia memikirkannya siang dan malam. Ia memikirkan Temari, ia memikirkan Kankurou, ia memikirkan ayahnya.
Sebetulnya ayahnya lah yang paling Gaara pikirkan. Sanggupkah ayahnya menghadapi kematian ketiga dalam keluarga mereka?
Kemudian ada Hinata.
Apakah Hinata akan menangis? Gaara tidak tahu, dan ia tidak mau tahu.
Tempat tersebut sangat indah. Rumput hijau, pohon palma, danau kecil dengan air jernih, tempat yang tepat untuk piknik. Pikiran Gaara melayang pada suatu siang di masa lalu ketika ia mengajak Hinata bolos kelas dan mereka duduk berdua di bawah pohon sakura. Gaara bercerita mengenai kampung halamannya. Ia masih ingat wajah polos Hinata yang kaget ketika mendengar bahwa rambut merahnya adalah warna asli.
Itulah yang paling ditakutkan oleh Gaara. Ia tidak tahu. Ia tidak tahu apakah semua memorinya tentang Hinata adalah asli, ataukah semuanya hanya suatu sandiwara kejam yang dimainkan oleh gadis itu?
Tangisnya, tawanya.
"K-Kenapa kamu begitu buta?" isak Hinata di dadanya.
Apakah itu benar? Apakah dia memang begitu buta? Apa yang dimaksud Hinata saat itu? Apa yang tidak ia lihat?
Gaara berbaring di rumput. Sinar matahari menyinari wajahnya, dan ia memejamkan mata. Pistolnya ia biarkan tergeletak di sampingnya. Untuk terakhir kalinya, ia ingin menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya.
Kenapa kamu begitu buta? Apa yang tidak dilihatnya? Dia sudah cukup melihat banyak hal.
Kematian ibunya, pengkhianatan ayahnya, kebohongan semua orang, kebohongan Hinata. Semuanya membuat dia muak.
Kenapa kamu begitu buta? Suara gadis tersebut terus terngiang di kepalanya.
Aku mencintaimu, Gaara.
Kedua mata Gaara terbuka.
Tidak, tidak, tidak. Ia tidak bisa melakukan ini. Gaara mendadak berdiri, meraih pistol di hadapannya, lalu melemparnya jauh-jauh. Ia melihat pistol tersebut melambung sebelum akhirnya jatuh ke dalam danau.
Ia tidak bisa menjadi ibunya.
Ibunya tidak ingin dia menjadi seperti itu.
Dia tidak ingin menjadi seperti itu.
Mungkin Hinata mengkhianatinya, dan ia tidak tahu apakah yang dikatakan gadis itu tulus atau tidak. Namun yang pasti ia tahu bahwa itu benar.
Gaara selama ini telah dibutakan oleh kematian ibunya. Ia sangat buta hingga ia tidak melihat dirinya sendiri. Ia tidak menyayangi dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa menuntut orang lain untuk mencintainya jika ia tidak mencintai dirinya sendiri?
"PERSETAN KAU, HINATA! KENAPA KAU MEMBOHONGIKU? KENAPA? KAU TAHU AKU AKAN MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUKMU! AKU AKAN MEMUKUL SASUKE UNTUKMU KALAU ITU YANG KAU MAU!"
Oke mungkin dia terdengar seperti orang gila sekarang, tapi persetan. Gaara merasa jauh lebih baik dengan setiap teriakan.
"PERSETAN KAU, SASUKE! PERSETAN KAU DAN SEMUA BALAS DENDAM KEPARAT ITU! KENAPA KAU MENYERET ORANG LAIN KE DALAM MASALAHMU?!".
Gaara terengah-engah kemudian jatuh ke lututnya.
"PERSETAN KAU, IBU! KENAPA KAU MENINGGALKANKU? KENAPA? KENAPA KAU TIDAK BERSAMAKU? KAU TAHU AKU AKAN MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUKMU!"
Gaara menarik napas dalam-dalam, kemudian, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun terakhir, Gaara akhirnya menangis.
Gaara yakin ia berhalusinasi ketika melihat sosok berambut panjang yang berdiri di muka rumahnya.
Tidak. Tidak mungkin itu Hinata.
Selain Gaara, hanya ada dua orang yang masih hidup yang mengetahui keberadaan rumah tersebut, yaitu Paman Yashamaru dan ayahnya.
Bahkan ketika Gaara turun dari jeep dan melepas kacamata hitamnya untuk memastikan bahwa terik matahari tidak membuatnya berhalusinasi, sosok tersebut tetap berdiri di sana.
Semakin Gaara mendekat, semakin Gaara yakin bahwa sosok tersebut memang adalah Hinata Hyuuga.
Kaget? Ya.
Marah? Tidak usah ditanya lagi.
Namun di antara semuanya, Gaara tidak bisa berbohong bahwa ia bersyukur melihat Hinata di sana.
Apalagi mengingat beberapa jam yang lalu ia sempat membuat keputusan yang ia tahu akan disesalinya.
Ketika mereka bertemu di tengah-tengah, Gaara merasa lega. Ia tidak tahu bagaimana Hinata bisa ada di sana, namun ia bersyukur bahwa sekali lagi ia masih bisa menyentuh kehangatan kulit gadis itu. Berada di dekat Hinata membuatnya merasa hidup.
"Syukurlah kau ada di sini."
Di dalam pelukannya, ia mendengar gadis itu terkesiap akibat kata-katanya, lalu mempererat pelukannya sambil berulang kali membisikkan, "Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku."
Bibir Gaara melengkung ke bawah saat mendengar suara gadis itu pecah dan tubuhnya bergetar. Ia juga menyadari bahwa dalam setiap permintaan maafnya, gadis itu mengencangkan pelukannya, seolah-olah ia ingin mencegah Gaara pergi kemanapun.
Ketika Gaara akhirnya melepas pelukannya, ia pun menanyakan hal pertama yang paling membuatnya bingung. "Apa yang kau lakukan di sini, Hinata? Tidak, bagaimana kau bisa ada di sini?"
"Ayahmu." Hinata mendongak. Wajahnya basah karena air mata. Lalu mendadak ia mencium Gaara. Lelaki itu tidak siap ketika Hinata menciumnya dengan menuntut dan penuh perasaan. "Oh, Gaara," bisiknya di antara ciumannya.
Namun Gaara mendorongnya, dan kedua mata gadis itu nampak terluka. "Ayahku?" tanya Gaara bingung.
"Ceritanya panjang. T-tapi aku bertemu ayahmu, dan ia mengantarku ke sini."
"Ayahku mengantarmu ke sini? Dia di sini?" Mata Gaara secara otomatis mencari-cari mobil ayahnya, namun tak menemukan apapun. "Dimana dia?"
Hinata juga ikut berbalik, dan tampak bingung melihat ayah Gaara yang menghilang. "D-dia tadi ada di sana," kata Hinata menunjuk teras rumah.
Gaara kemudian melepas pelukan mereka dan membimbing Hinata masuk ke rumahnya. Mereka tak menemukan Hisagi Sabaku dimanapun, seolah-olah pria tersebut sama sekali tak pernah berada di sana.
Setelah Gaara memarkir jeep-nya, memandu Hinata masuk, dan meletakkan barang-barang gadis itu yang hanya terdiri dari satu tas ransel di kamar tamu, Gaara menemukannya di dapur, mengisi gelas dengan air keran.
Ketika Hinata menciumnya tadi, Gaara bisa merasakan bibir gadis itu yang pecah-pecah. Udara yang kering pasti membuatnya dehidrasi.
Ia berdiri di belakang gadis itu ketika ia menenggak airnya dengan rakus. Di luar jendela, matahari musim gugur perlahan-lahan terbenam.
"Aku sangat yakin aku bertemu ayahmu, Gaara. Kami bertemu di pesawat. Kami sempat berpisah ketika turun, namun ketika aku tidak mendapatkan mobil sewaan, ia menghampiriku. Dan ketika aku menyebut namamu, ia langsung menawarkan diri untuk mengantarku kesini," kata Hinata sambil mengisi gelas keduanya.
"Apa dia bilang sesuatu padamu?" tanya Gaara.
Hinata berbalik dan menghabiskan gelas keduanya. Setelah selesai, baru ia berbicara, "A-ayahmu? Tidak, dia tidak bilang apapun."
Gaara melipat kedua lengannya, lalu menyipit, menantang Hinata untuk mengulang pernyataannya sekali lagi.
Ketika gadis itu menggigit bibir bawahnya, Gaara langsung tahu bahwa gadis itu menyembunyikan sesuatu.
"B-baiklah," ujar Hinata yang menyerah di bawah tatapan Gaara yang intens. "Ayahmu...ayahmu mengunjungi makam ibumu, k-karena hari ini adalah..."
"Hari peringatan kematiannya," Gaara menyelesaikan kalimatnya. Ia lalu menghela napas. "Lalu?"
Hinata mendekatinya, lalu dengan hati-hati berkata, "Ayahmu sangat mencintaimu, Gaara. Aku bisa melihatnya, meskipun kau tidak."
"Bagaimana aku bisa melihatnya, Hinata? Jika ia hampir tidak pernah melihatku. Aku beruntung jika bisa melihatnya satu kali dalam sebulan."
Hanya Tuhan dan ayahnya saja yang tahu apa yang berada di pikiran ayahnya. Selain Hinata, Gaara tidak bisa berbohong bahwa orang yang paling ia ingin temui saat itu adalah...ayahnya.
Namun seperti biasa, orang tua itu tidak pernah ada di saat ia paling membutuhkannya. Gaara menghela napas, tubuhnya membungkuk ke depan.
Hinata mendekatinya, namun sebelum tangannya menyentuh lelaki itu, ia sudah kembali tegak, matanya dengan tajam menatap Hinata.
"Bagaimana denganmu sendiri? Mengapa kau ada di sini? Apa yang kau lakukan di sini?"
Dengan canggung, Hinata kembali mundur untuk bersandar di bak cuci piring. "A-aku...ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Gaara."
"A-aku...ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Gaara."
Gaara menaikkan sebelah alisnya. "Baiklah, kau di sini sekarang. Apa yang ingin kau katakan?"
"Apa...apa kau...masih marah padaku?"
Gaara mengernyit. Pandangannya seolah-olah berkata "Kau terbang seribu mil untuk bertanya hal yang kau seharusnya kau sudah tahu jawabannya?". Lalu dengan tegas lelaki itu menjawab, "Tentu saja."
Hinata merasa hatinya retak mendengar jawaban tersebut. Apa yang ia harapkan? Gaara menjawab "Tidak, Hinata, aku mencintaimu, aku sudah memaafkanmu"? Ia sudah membayangkan seratus macam versi pembicaraan ini, dan sudah mempersiapkan hatinya mendengar jawaban apapun yang mungkin keluar dari mulut lelaki itu.
Namun kenyataan rasanya selalu jauh lebih pahit dibandingkan imajinasi.
"Tentu saja aku masih marah, Hinata. Tapi aku tetap senang kau ada di sini. Aku..." Apapun yang hendak Gaara katakan terhenti di lidahnya, dan apapun tersebut nampaknya membuat ia malu, karena ia kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan ke ruang tamu.
Hinata menyusulnya. Ketika Gaara berhenti di tengah-tengah ruang tamu, ia mendekatinya dan menyentuh punggungnya. Dengan seluruh ketulusan yang bisa ia rasakan sejak lahir, Hinata sekali lagi berkata, "Gaara, maafkan aku."
Dan sebelum ia bisa menahan diri, ia pun memulai.
"Sepanjang ingatanku, Sasuke sangat membenciku. Aku tak pernah berpikir untuk langsung bertanya padanya mengapa ia benci padaku. Kurasa aku takut, padanya. Ya, aku memang selalu takut pada Sasuke."
Gaara tidak menjawab. Namun ia juga tidak meninggalkan Hinata, jadi gadis itu menganggapnya sebagai sinyal untuk melanjutkan ceritanya.
"Aku juga tak pernah berpikir untuk membalasnya. Yang kuinginkan adalah lulus secepat mungkin dan meninggalkan Konoha Gakuen. Belajar di universitas, membuat teman baru, dan memulai hidup baru yang tidak ada Sasuke-nya."
"Kau adalah faktor yang tak pernah terpikirkan olehku, Gaara. Kau pasti ingat ketika kita pertama kali bertemu di rumahmu, mengerjakan tugas tata boga, kemudian Sasuke datang dan melihat kita...b-berciuman." Hinata terbata-bata saat mengucapkan kata terakhir, namun ia tetap melanjutkan, "Aku tidak menyalahkan Sasuke karena ia berpikir itu adalah kesempatan yang bagus untuk memainkan permainan terkejamnya padaku. Yang Sasuke tahu adalah...kau tidak akan mungkin punya perasaan apapun pada orang sepertiku. Maksudku, lihat saja aku. Apa yang bisa disukai dari orang seperti ini?"
Saat itu, Gaara berbalik. Hinata tersenyum melihatnya. Namun Gaara tidak membalas senyumannya.
Hinata menghela napas. Ia tidak percaya hal ini keluar dari mulutnya. "Maksudku adalah...Sasuke tidak pernah bermaksud untuk melukaimu. Dia hanya ingin menyakitiku."
"Hinata, aku masih tidak mengerti. Kau bilang Sasuke membencimu, Sasuke ingin melukaimu, dan sekarang mengapa kau membelanya?" Suara Gaara kemudian meninggi, "Tetapkan pilihanmu! Kau ini sebenarnya kenapa? Kau benci Sasuke atau kau tidak benci Sasuke?" Hinata meletakkan tangannya di bahu Gaara untuk menenangkan lelaki itu. Namun ia tetap terlihat gusar.
"Sasuke punya alasannya sendiri, Gaara. Aku mengetahui ini dari ayahku. Kejadiannya sudah terjadi lama sekali. Tapi dulu Sasuke dan Itachi, sebelum mereka mempunyai apa yang mereka sekarang, mereka pernah tinggal di peternakan keluargaku. Waktu itu kita masih umur 5 tahun, dan aku mengalami kecelakaan yang membuatku kehilangan ingatan. Karena satu dan lain hal, Sasuke disalahkan atas kecelakaan tersebut, dan ia pun diusir. Sejak saat itu ia membenciku dan keluargaku."
"Diusir?"
Hinata mengangguk. "Kejadiannya sangat rumit. Sepupuku, Neji, berkata pada ayahku kalau ia melihat Sasuke mendorongku jatuh ke sungai, tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi. Untuk melindungi Neji, ayahku terpaksa mengusir Itachi dan Sasuke."
"Kalau begitu seharusnya Sasuke membenci Neji, bukan kau!"
Itulah yang juga dipikirkan Hinata. "Yang Sasuke tahu adalah aku, Neji, dan seluruh keluargaku membencinya. Bisakah kau bayangkan perasaan seorang bocah berumur 5 tahun yang diusir dari tempat yang ia anggap rumahnya dan mendadak teman-teman yang ia sayangi membencinya tanpa alasan? Hal itu cukup membuatnya dendam pada keluargaku."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Hinata. Kenapa kau masih membelanya?" Hinata menurunkan tangannya dari bahu Gaara, kemudian perlahan-lahan mundur.
Ia ingin meluruskan semuanya. Ia ingin membuat Gaara paham. Ia ingin membuat dirinya paham.
"Kau datang kesini untuk membela dirimu, Hinata. Bukan untuk membela Sasuke!"
Hinata memijit pelipisnya. "Aku juga tidak tahu, Gaara!" teriaknya tiba-tiba. "Bahkan setelah semua ini, aku tetap tidak bisa mengingatnya! Setelah mendengar cerita itu dari ayahku, berkali-kali aku mencoba mengingat Sasuke dan Itachi, tapi tidak ada! Kosong! Aku tidak tahu apa yang seharusnya kutahu! Aku merasa sangat jahat, Gaara. Selama ini aku hidup tenang, melupakan Sasuke, dan membenci Sasuke karena hal yang bahkan sama sekali tak kuingat! Wajar saja dia sangat membenciku, Gaara! Tindakan Sasuke adalah konsekuensi logis dari ketidakpedulianku. Aku tidak bisa menyalahkannya. Dia tidak bisa mencegah dirinya untuk membenciku. Aku sendiri akan membenci diriku!"
Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi tiga belas tahun yang lalu. Sampai saat ini, ia hanya bergantung pada cerita ayahnya. Namun, melihat kebencian di mata Sasuke selama bertahun-tahun, Hinata tahu kalau lelaki itu tumbuh bersama lukanya dari masa lalu.
Gaara tidak berkata apapun saat melihat Hinata yang mengarahkan semua kebencian pada dirinya sendiri.
"Kenapa kau menerima taruhan tersebut, Hinata?"
Hinata terdiam. Itulah pertanyaan yang paling Hinata takuti. Selama beberapa saat ia hanya diam dengan kepala tertunduk di sana. Ketika ia mendongak, napasnya tercekat saat matanya bertemu mata Gaara.
Jarum jam seolah-olah berputar kembali ke malam di Kuil Tsukimine. Angin musim semi, kembang api berwarna-warni di langit yang kelam.
Kau sudah memenangkan taruhanmu, Hinata.
Hinata menelan ludah. Inilah kesempatannya. Ini adalah kesempatan ia membeberkan semua yang ia rasakan pada lelaki di hadapannya.
"Pilihan apa yang kupunya, Gaara?" Ia bisa merasakan air mata membasahi pelupuk matanya. "Aku sendirian. Jika ada satu kesempatan untuk menyelamatkan diriku, aku akan melakukannya."
"Bagaimana kau bisa melakukan itu sementara—?"
Hinata langsung memotongnya. "Siapa yang akan menolongku, Gaara? Kau? Siapa, Gaara? Kau adalah teman baik Sasuke, kau tahu apa saja yang Sasuke lakukan padaku di sekolah, dan apa yang kau lakukan? Kau tidak melakukan apapun." Gaara hendak memotongnya, namun Hinata langsung mengangkat tangannya. "Kita pernah membicarakan ini. Aku tidak berusaha menyalahkan semuanya padamu. Aku hanya menunjukkan fakta yang ada. Faktanya, saat itu tidak ada seorang pun yang bisa, mau, dan mampu menolongku. Pada akhirnya, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Aku harus menyelamatkan diriku sendiri.
Mungkin aku terdengar seperti berusaha mati-matian menjustifikasi perbuatanku. Tapi itulah yang sebenarnya. Aku mengerti jika kau membenciku. Aku berusaha membuatmu jatuh cinta padaku supaya aku terbebas dari Sasuke. Dari sisi manapun aku tahu perbuatan tersebut tidak termaafkan!
Tapi...tapi kau tahu? Kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa kita jatuh cinta, Gaara. Dan aku tidak menyesal sudah menerima taruhan tersebut." Tangis Hinata pun pecah, ia terisak sekarang. "Jika aku tidak menerima taruhan tersebut, aku tidak akan mengenalmu, aku tidak akan jatuh cinta padamu, aku tidak akan pernah tahu bahwa aku bisa merasakan semua perasaan yang menakjubkan ini ketika aku sedang bersamamu!"
Hinata berhenti sejenak untuk menarik napas dan menghapus tetes-tetes air mata yang bergulir di pipinya. "Aku tahu yang kulakukan salah, Gaara. Namun, aku tahu bahwa apa yang kurasakan padamu sama sekali tidak salah. Aku mencintaimu Gaara. Aku bahkan berharap ada kata lain yang lebih dari 'cinta' untuk menggambarkan perasaanku padamu." Kemudian Hinata menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya dan melepaskan tangisnya.
Entah berapa lama waktu berlalu ketika Hinata akhirnya merasakan Gaara menariknya ke pelukannya. Ia menurunkan tangannya dan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu.
"Maafkan aku," bisiknya berulang-ulang.
Gaara tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, sebelah tangannya melingkari punggung Hinata, yang lain mengusap kepala gadis itu dengan gerakan yang menenangkan.
"Kalau...kalau...kau memang mencintai seseorang sebesar itu...kurasa tidak apa-apa kalau kau melakukan sesuatu yang salah."
Setelah Gaara mengatakan itu, Hinata mendongak. Ia tersenyum ketika Gaara mendekatkan bibirnya dan mereka pun berciuman.
Ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman mereka sebelumnya.
Mulut Gaara menyentuh mulut Hinata dengan lembut dan penuh perasaan. Hinata bereaksi dengan membuka bibirnya, sehingga lidah lelaki itu mendesak masuk dan bergumul dengan lidahnya.
Gaara mengerang pelan dan panjang saat lidahnya memasuki bibir Hinata, merambah jauh ke dalam. Kepalanya dimiringkan, begitu juga Hinata. Bibir mereka bersentuhan rapat. Hinata mengerang, seluruh emosi yang menumpuk sejak Gaara meninggalkannya di Kuil Tsukimine ia tumpahkan ke dalam ciuman tersebut.
Belum pernah Hinata merasakan ciuman yang sangat menggairahkan seperti ini. Tentu saja Gaara sudah beberapa kali menciumnya. Namun saat itu, sore hari, di suatu tempat di gurun pasir Australia, di rumah tempat lelaki itu dibesarkan, kehangatan yang dipancarkannya, rasa cintanya yang menggebu-gebu, semuanya cukup untuk membuat Hinata meledak.
Gaara mempermainkan lidahnya hingga HInata kehabisan napas dan menginginkan lebih banyak.
Tangan Hinata bergerak ke wajah lelaki itu, menyentuh tato di dahinya. Gaara mengeluarkan suara pelan dan serak ketika Hinata membelai-belai tato tersebut. Tangan Hinata yang satu mencengkeram rambut Gaara yang tebal dan memanjang.
Tangan Gaara kemudian bergerak di antara tubuh mereka yang berdekapan, melepaskan kancing-kancing blus kemeja gadis itu. Kancing-kancing tersebut terbuka satu per satu dan Hinata tidak berusaha mencegahnya. Ia sudah pernah melihat gadis itu tanpa bra, namun napasnya tetap tercekat ketika ia menanggalkan bra gadis itu dan melihat sepasang payudaranya yang berisi.
Mereka berdiri di sana, mulut berciuman, dagu, pipi. Gaara membawa Hinata ke sofa di depan perapian dan mereka berhasil melepas pakaian satu sama lain. Ketika masing-masing telah telanjang, Gaara membaringkan Hinata dengan hati-hati di sofa, perhatiannya terpaku pada gadis di bawahnya.
Pinggul dan payudara tersebut...Gaara ingin mengingat setiap inci detail tubuh Hinata selamanya. Rambutnya yang tergerai bagaikan langit di malam hari, matanya yang sayu, dan mulutnya yang tersenyum menggoda. Di mata Gaara, setiap lekuk tubuh gadis itu adalah definisi dari kesempurnaan.
"Kau yakin?" bisik Hinata yang tak pernah mengalihkan matanya dari lelaki itu.
"Sangat yakin."
Sejak ciuman pertama mereka di dapur lelaki itu, Hinata sudah mengalami berbagai macam emosi dan sensasi berkecamuk dalam dirinya. Tanpa henti berbagai perasaan itu menghantamnya bagai peluru dari senjata otomatis. Sebelum bertemu Gaara, Hinata merasa hidupnya sekosong padang pasir, namun sejak bertemu lelaki itu, hidupnya begitu berwarna. Dan sekarang ia ingin merasakan emosi yang paling puncak, bersama lelaki ini.
Napas Gaara terasa panas ketika mulutnya bergerak rakus ke leher Hinata. Tangannya membelai payudara gadis itu. Membayangkan jemari Gaara yang kuat bergerak di kulitnya yang pucat membuat perut Hinata bergejolak oleh gairah yang menyala-nyala.
Hinata mengerang ketika ujung jari Gaara menyentuh putingnya yang menegang, mempermainkannya dengan elusan-elusan lembut. Saat merasakan mulut lelaki itu di payudaranya, erangan Hinata semakin kencang dan ia mencengkeram leher Gaara dengan kedua tangannya, mendekapnya di dadarnya.
Gaara menggunakan lidah dan mulutnya tanpa menahan diri, dan seolah takkan pernah terpuaskan. Setiap belaiannya membuat Hinata melayang lebih tinggi dan lebih jauh daripada yang pernah ia alami selama ini.
Dengan tidak sabar Hinata pun menarik kaus Gaara dan melepasnya. Ia melebarkan kedua tangannya di dada Gaara. Jemarinya menekan bagian dada di antara lekuk otot lelaki itu, membelai, dan menyentuh sekilas ujung dadanya yang keras.
Gaara membenamkan wajahnya di antara payudara Hinata dan mengerang nikmat. Tangannya menyentuh paha gadis itu. Kepalanya serasa berdentum-dentum dan gairahnya bangkit. Ia tidak ingat kapan terakhir kali wanita membuatnya bergairah seperti ini. Gadis ini sudah membohonginya, gadis ini sudah menyakitinya, namun sekarang gadis ini-lah yang paling diinginkannya.
Sejak tadi melihat Hinata berdiri di depan rumahnya, dengan bibirnya yang penuh, dan kedua matanya yang lebar penuh kekhawatiran, Gaara tahu seluruh indranya telah berdengung oleh api gairah. Gaara ingin menjelajahi setiap inci tubuh gadis itu, dan mengenalinya dengan keseluruhan panca indranya.
Melihat payudara Hinata yang besar dan indah, Gaara sangat bergairah. Gadis itu tidak kurus, tubuhnya memiliki lekuk-lekuk indah dan berisi di tempat yang tepat. Sejak pertama kali bertemu dengan Hinata di dapurnya di pagi hari yang terasa sudah sangat lama tersebut, Gaara sudah bermimpi untuk membelai setiap inci tubuh gadis itu dengan telapak tangannya.
Hinata sangat cantik.
Gaara melepas celana dalam gadis itu. Rasa senang yang amat sangat menjalari tubuhnya, membuat dia mesti memejamkan mata. Gaara lalu membuka celananya sendiri dan mengambil posisi di antara kedua kaki Hinata. Saat membungkuk untuk mengecup bibir gadis itu, Gaara pun melakukan penetrasi, perlahan-lahan. Wajahnya dibenamkan dalam-dalam di antara bahu dan leher Hinata.
Hinata nyaris kehilangan napas akibat rasa sakit. Ia ingin menangis. Namun Gaara menghujani wajah dan matanya dengan kecupan untuk menenangkannya, dan tidak menghentikan gerakannya.
Lama kelamaan Hinata merasa sakitnya perlahan-lahan menghilang, dan ia benar-benar menikmatinya. Tidak, belum pernah ia merasa senikmat ini.
"Oh, oh, G-Gaara..."
Mendengar Hinata memanggil namanya, Gaara mempercepat gerakannya. Belum pernah Gaara merasa senikmat itu.
Dengan mata terpejam, Hinata membelai punggung Gaara. Gadis itu senang meraba tengkuk Gaara dengan telapak tangan. Ia lalu mengecup telinga lelaki itu, dan menggigitinya. Napasnya memburu di telinga lelaki itu saat ia memanggil namanya.
Gaara mengerang dan menggosokkan bibirnya yang terbuka di ujung payudara Hinata, lidahnya terus bergerak aktif.
"Gaara," ulang Hinata dengan napas tertahan, lalu dengan lebih keras, "Gaara!"
"Hinata...oh..."
Gairah Hinata memuncak mendengar Gaara memanggil namanya. Ia ingin mendengarnya terus, ia ingin mendengar Gaara memanggil namanya seperti itu selamanya. Ia membuka mata dan memandangi wajah Gaara yang mengerut dengan nikmat dan memasukkannya dalam ingatannya. Wajah yang tampan, liar, dan indah. Keringat melekat di dahi lelaki itu ketika gerakannya semakin cepat.
"Gaara...oh...aku ingin kau mengingat ini...aku ingin kau mengingat kita..."
Sepasang mata Gaara yang hijau menatap Hinata dengan tajam, lalu terpejam. Diangkatnya pinggul Hinata dan dipeluknya erat-erat, sementara tubuhnya sendiri bergetar keras.
Hinata melingkarkan kedua lengannya di leher Gaara dan menekankan wajahnya di dada lelaki itu, sementara tubuhnya sendiri ikut bergetar.
Tak lama kemudian, Gaara mengempaskan diri di tubuh Hinata, bibirnya bergerak-gerak di dekat telinga gadis itu, mengucapkan kata-kata yang tidak terdengar jelas. Hinata membelai belakang kepala lelaki itu, menikmati rasa rambut Gaara yang menyapu pipinya.
Jadi begitu rasanya, pikir Hinata senang. Tentu saja Hinata sudah mempelajari dasar-dasar reproduksi di kelas Bologi, dan kali pertama seks bagi seorang wanita seharusnya sangat sakit. Ya, Hinata memang merasa sakit. Namun buku teks Biologi tidak mengatakan bahwa rasanya juga akan sangat...memuaskan.
Hinata tidak ingat kapan terakhir kali ia merasa sedamai, setenang, dan sebahagia itu. Namun ia juga merasa sangat lelah dan mengantuk.
Rasa lelah dari hari-hari yang ia habiskan dengan terjaga karena tak bisa berhenti memikirkan Gaara seperti seolah-olah bercampur jadi satu dan membuatnya kesulitan untuk tetap terbangun. Matanya terasa sangat berat, dan Hinata pun perlahan-lahan memejamkan matanya.
"Hinata?" panggil Gaara tiba-tiba.
Hinata yang berusaha untuk terbangun hanya bergumam, "Hm?"
"Aku juga mencintaimu," bisik Gaara dengan lembut di telinganya.
Namun Hinata tidak yakin apa yang ia dengar, karena sudah setengah sadar. Ia pun bergumam lagi, "Hm?"
Ketika Gaara mengucapkannya sekali lagi, Gaara tahu Hinata tak mendengarnya, karena napas gadis itu yang teratur menandakan bahwa ia telah terlelap.
Hinata terbangun dan menyadari bahwa sekelilingnya gelap gulita.
Gaara nampaknya tidak melihat Hinata yang sudah terbangun, karena ia mengabaikan gadis itu ketika bangkit dari posisinya untuk menyalakan lampu di seluruh rumah. Hinata bangkit duduk dan tersenyum melihat Gaara yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan jinsnya. Hinata mengambil kemejanya yang tergelatak di lantai dan mengenakannya sebelum menghampiri lelaki itu dan memeluknya dari belakang.
Bibirnya menghujani punggung telanjang lelaki itu dengan kecupan-kecupan sayang.
Gaara berbalik dan mencium Hinata. Diangkatnya kedua kaki gadis itu hingga melingkari pinggangnya. Mereka terus berciuman saat Gaara membawa Hinata ke atas, menuju kamarnya.
Hinata terbangun lagi, namun kali ini karena rasa lapar yang menusuk perutnya. Ia berbalik dan menemukan sepasang mata Gaara yang hijau menatapnya dengan intens.
Mereka bercinta lima belas kali. Dan sekarang ranjang Gaara sudah menjadi tempat favorit Hinata dan ia tidak ingin meninggalkannya.
"Hei," sapa gadis itu pada kekasihnya, ia tersenyum.
"Hei," Gaara membalas senyumannya. "Kau lapar?"
Hinata mengangguk.
"Aku sudah memanaskan sup. Dan ada sedikit roti. Mungkin rasanya tidak cocok. Tapi aku memang jarang makan di rumah."
Hinata terkekeh. "Kau seperti cenayang. Bagaimana kau bisa tahu aku lapar?"
"Aku terbangun karena suara perutmu."
Wajah Hinata memerah, dan Gaara tertawa. Mereka pun makan bersama di tempat tidur. Makanan terakhir yang Hinata makan adalah sarapan di pesawat. Karena sangat lapar, bagi Hinata makanan tersebut adalah makanan terenak yang pernah ia makan seumur hidupnya.
"Kau tidak bawa banyak barang," komentar Gaara saat beranjak dari tempat tidur untuk meletakkan mangkuknya di nampan.
"Iya, aku tidak bawa banyak karena aku buru-buru berkemas."
Ketika kembali ke tempat tidur, ia berkata, "Kau harus memberitahu orang tuamu kalau kau ada di sini."
Hinata menunduk, lalu dengan suara mencicit berkata, "O-orang tuaku...seharusnya sudah tahu."
"Seharusnya?"
Hinata menceritakan kisah bagaimana ia meninggalkan rumah dan dipergoki Neji. Namun ia tidak memberitahu bagian dimana Neji menyatakan perasaannya.
"Apa kau gila?!" Gaara mendadak mencengkeram kedua bahu Hinata dan membuat gadis itu terkesiap. "Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?"
"B-bagaimana denganmu sendiri? Kau membuang ponselmu! Kau pikir bagaimana kakak-kakakmu mengkhawatirkanmu? Dan bagaimana denganku?"
Gaara pun melepas cengkeramannya. "Aku tidak berpikir akan ada yang mencariku."
"Gaara..." Hinata menyentuh bahunya.
Lelaki itu menoleh ke arahnya. "Bagaimana denganmu dan Sasuke? Kau sudah memberitahunya?"
Hinata menunduk, lalu dengan wajah merah menceritakan episode dimana dia kehilangan kendali dan memukul habis seluruh kaca di rumah kakak-beradik Uchiha. Cerita tersebut membuat Gaara takjub.
"Sasuke tidak bangga pada apa yang dilakukannya. Ino sangat marah padanya. Itachi marah padanya. Aku marah padanya. Dan dia sudah minta maaf. Dia...dia tidak menyangka bahwa semuanya akan jadi seperti ini."
Mereka berdua sama-sama terdiam selama beberapa saat.
"Kita harus kembali besok pagi," ujar Gaara tiba-tiba.
Hinata mengangguk. Sebetulnya Hinata masih lelah dari perjalanan pesawatnya. Namun Gaara benar, orang tuanya pasti khawatir. Ia harus segera kembali.
"Makanya kita harus memanfaatkan malam ini dengan sebaik-baiknya," kata Gaara dengan senyum penuh arti.
Dan Hinata pun terkekeh dibuatnya.
Author's Note: Di chapter berikutnya.
xoxo,
shiorinsan
