Disclaimer: I am not, in any way, take any profit from the story and that all creative rights to the characters belong to their original creator(s). Naruto © Masashi Kishimoto.


Jejak Bulan di Atas Air

blackpapillon


Yang Tidak Biasa

.

.

AKU tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diriku.

Setahuku hari ini aku hanya menjalani patroli keamanan seperti biasa, itu saja. Di dalam bayanganku, aku akan menjalankan tugasku seperti biasa, menyusuri sekitar istana bersama lima puluh orang shinobi yang bertugas mendampingiku hari itu, lalu meluas ke daerah sekitar ibu kota pemerintahan. Memeriksa apa semua baik-baik saja. Apa semua normal-normal saja. Dan tentu saja, memeriksa kompleks perumahan para pejabat tinggi istana adalah tugasku setiap melakukan patroli.

Bahkan hari ini pun, semua masih berjalan seperti biasa. Semua orang tahu aku adalah orang yang paling patuh pada peraturan—bahkan untuk soal kedisiplinan saja, aku lebih baik dari Uchiha. Aku hadir di acara latihan rutin, aku hadir dalam rapat-rapat penting pejabat istana, aku juga datang dalam acara-acara protokoler istana yang membosankan—aku juga masih menghadiri pesta-pesta resmi biarpun hanya sebentar. Semua tahu itu.

Hari ini aku menemui Hinata di dekat paviliun para dayang; hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dia, sebelum pergi untuk latihan dan kembali ke istana satu bulan lagi. Khawatir? Tentu saja. Tapi mungkin Hinata tidak sebegitunya mengkhawatirkan aku—saat aku menemuinya, wajahnya tampak berseri-seri, bersemu merah karena malu tapi juga terlihat bahagia. Dan ia bilang ia akan memberikan sesuatu untuk Naruto—agar si bodoh itu selalu selamat dalam perjalanan.

Cemburu?

Tidak, aku tidak cemburu. Aku akhir-akhir ini belajar terbiasa dengan semua itu. Karena bila aku masih bersikap seperti kemarin, Hinata tak akan berani bercerita padaku. Dan itu akan lebih buruk lagi (ngomong-ngomong, aku juga dapat jimat keberuntungan itu, tapi aku sadar ukurannya lebih kecil. Ya, sudahlah).

Tapi yang aneh adalah—aku berpikir untuk menemui orang lain. Selain Hinata. Selain Hanabi. Selain orang tua dan keluargaku.

Padahal rasanya kemarin masih biasa-biasa saja. Saat kami bertemu di pesta. Saat dia berkomentar, saat aku menemaninya berkeliling istana, bahkan saat berdansa di festival—aku tidak pernah berpikir aneh-aneh tentang gadis itu.

Aku hanya berpikir… dia gadis yang berbeda dibandingkan yang lain. Dan hal itu menarik perhatianku. Sedikit saja.

Tapi…

"Neji-san," aku terkesiap mendengar suara itu. "maaf membuatmu menunggu."

"A-aa." Tunggu. Seorang Hyuuga harus tetap tenang, kapan pun dan dimanapun (sayangnya sepertinya hari ini itu sulit dilakukan. Padahal ini masih pagi) "tidak apa-apa, Tenten-sama. Maaf mengganggu jadwal anda."

Ia menggeleng. "Neji-san, kau selalu lupa untuk tidak memanggilku dengan –sama." Ia tertawa geli.

Aku mencoba menyembunyikan rasa maluku. "Ah—ya. Maaf. Lagi-lagi aku lupa. Dan…. Anak-anak buahku menunggu di depan pagar sana, jadi…"

Gadis itu tertawa kecil melihat ekspresiku yang (pasti) terlihat salah tingkah. "Aku senang kita bertemu lagi, Neji-san." Kalimat pendek gadis bermata cokelat itu lagi-lagi membuatku sulit berkonsentrasi. "Ada perlu apakah? Apakah ada berita yang harus disampaikan padaku?"

Sejenak lidahku kaku lagi. Betul, tentu gadis itu akan bertanya. Dan aku sekarang bingung bagaimana harus menjawabnya. Bahkan aku juga masih belum begitu yakin mengapa aku sekarang ada di sini, tiba-tiba saja membelokkan arah jalanku sejenak…

Aku sama sekali tidak mengerti pada diriku sendiri.

Dan gadis itu hanya tersenyum manis; tidak memaksaku menjawab. "Kalian akan pergi sore ini, 'kan? Semoga sukses. Dan semoga saat pulang nanti kemampuan kalian juga akan bertambah baik. Meskipun begitu…" raut wajahnya mendadak berubah agak kesal. "Aku iri."

Aku menahan senyum mendengar kata-katanya. "Ah, sudah kuduga kau akan berkata begitu," kataku, "tapi bukankah itu berbanding dengan tanggung jawab? Kami mendapat latihan ini karena kami bertanggung jawab lebih banyak atas keselamatan rakyat Konoha—juga dirimu."

Tunggu. Aku tak sadar mengeluarkan kata itu dari mulutku. Dan kini aku melihat wajah gadis itu bersemu merah namun juga tampak bahagia.

"Kau benar," ucapnya sambil menatapku dengan matanya yang cokelat. "Lalu, Neji-san. Apakah kau datang ke sini… memang ada keperluan resmi, atau hanya ingin bertemu denganku? Katakanlah."

Mendadak aku diam. Kali ini pertanyaan gadis itu balik membuatku tak kuasa menyembunyikan rasa panas di wajahku.

"…Aku," aku terbatuk, serasa merasakan ada yang menghalangi di tenggorokan. "Aku datang… karena ingin menemuimu."

.

.

Kali ini, wajah gadis itu begitu merona. Senyuman muncul lagi dari wajahnya, membuat jantungku lagi-lagi berdegup kencang.

Tuhan…

Kau sedang memberiku banyak hal aneh, ya?


Fin


terima kasih sudah membaca.

blackpapillon