Disclaimer : Still Masashi Kishimoto.
WOW... Lama tak update, ternyata sudah tembus lebih dari 1000K Review... Terima kasih semuanya... Sekali lagi terima kasih...
Honto ni Arigato Gozaimasu.
Dan mohon maaf karena updatenya lama. Tapi sesuai janji, saya tidak akan membiarkan fict ini Discontinued seperti fict-fict lain yang membuat saya jengkel... Hehehe...
Special Thanks for the reviewer.
paramarthauzumaki45, Donquixote Tamao, The KidSNo OppAi, kainan, Jefri Hia-Sama, Madara Ootsutsuki, kiiro no kitsune.197, Energi flow, .5, Yami No Be, NaraBee, sandysantanu87, Indah605, Hageuy, Azzahra Moudy813, Setya566, Zhai Beh, asd, Kaoran, Sunrisehime, namikazeall, UzuHyuu689, 34, Jefri Hia-Sama, darmadarma83, azuramode, Okhi-san, Hany Hyuuga,.5, Zombie-NHL, Indah605, .940, Raihan, h, yuko, mustika-chan, Pian-Sama, XavierLucifer87, pedofillgila, putra uzumaki, Tenshisha Hikari, Namikaze fajar lucifer, darmadarma83, .3, fujiwarajannah, Cybrus contractor, Akuma no Arman, Seneal, dianrusdianto39, Cuka-san, Byakugan no Hime, Tenkuryuu, hutamara senju, tanpanama, admin, VV Love, Namefrenz, IndigoRasengan23, AidenP, piiip, thiyahrama, septi, Guest, hutamara senju, fujiwarajannah, The BaLanDa619, Onpu885, KillYouLove, Archilles, Awim Saluja, enZans, arif senpai, Seneal, ahmad. .9, Tedi, Onpu885, VV Love, Namichan, darkshinobi, thiyahrama, Namikaze'Minato 123, XXX, , Uchiha Tedjo, Pian-Sama, Hadinamikaze, ima, 666, rivaldiagustien, .5, .330, .31, Chiper Pol Aegis, harem no jutsu, Dedek635, Vari Rushifa, AripRif'an368, UnKnOw'S, arinasution5, Sopian 31, uzumaki megami, 7, namw, Uchiha Tedjo, Aru Hasuna 2409, tian, Nameboe-sama, febri, Cah uzumaki, akbarjr121, aldo. , dedek dwipayana 2, NHLOVERS, Razor04, arinasution5, Byakuren Hikaru83, Namikaze45, Hany Hyuuga, joshsua93, Onpu885, Deri Vlady, Ryuuki Namikaze Lucifer, ara dipa, YoukoNoInari, Laras781, .980, uzumaki megami, Dante Sparda07, Raihan, harem no jutsu, ted Austin, gua suka, La saldi, Vivi-chan, triple-X, Sheva, acunhutamara, reader 007, septi, Jasmine DaisynoYuki, fujiama17, syiffa975, vira-hime, .3, Issei07, dra zoLdyck, Natsu489, Lusy922, Khairil Anwar253, Deri Vlady, damar wulan, Iwas, .980, Hami Namikaze, David997, MATA.
# AOI DOUJUTSU #
Genre
Adventure/Romance
Warning
Doujutsu!Naruto Smart!Naruto Slight!Romantic Matrix!Inspired
Pair
Naruto X Hinata, Sasuke X Sakura
Chapter 25 :
Shinobi World War Arc 1
OPEN MENU - PLAY YOUTUBE – " Naruto AMV Runnin ". "
Last Time,
Melepas ciumannya, Naruto mengelus pipi Hinata. " Bagus. Dengan begitu kau sudah melihat perbedaan pergerakkannya kan? Jadi jika terdapat pergerakkan seperti itu lagi kau harus cepat memberitahuku. Apa kau mengerti cintaku, manisku, sayangku?" Ucap Naruto menggoda, Hinata yang semula ingin menangis, seketika tergagap lengkap dengan kedua pipinya yang memerah.
Disisi lain, Orochimaru tersenyum melihat apa yang dilakukan Naruto dan Hinata didepannya. " Khukhukhu... Shinzen no Kuni memiliki banyak kamar yang tersisa, pilihlah kamar yang kalian suka. Naruto-kun, Hinata-chan." Orochimaru berkata, membuat pipi Hinata semakin memerah.
Naruto menyeringai, dan mulai mendirikan tubuhnya dibantu Hinata, " Lebih baik kita lanjutkan." Naruto berkata, " Tapi, saranmu bagus juga. Bukan begitu Hinata-chan?" Tambahnya, membuat Hinata benar-benar hampir pingsan.
...
## AOI DOUJUTSU ##
Chapter 25 : Shinobi World War Arc 1
Satu bulan kemudian.
Seiring berjalannya waktu, dalam hidup seharusnya memiliki sesuatu yang berarti dalam setiap detiknya. Tapi, memang semua hal tidak bisa sepenuhnya di mengerti, bahkan jika kita menganggap bahwa kita bisa memahami beberapa diantaranya, semua itu masih belum cukup untuk mengerti akan arti dibalik waktu, apalagi arti dari kehidupan.
Berfilosofi. Yah, mungkin terdengar naif. Tapi, mencoba mengerti tidak ada salahnya kan? Karena dia tahu, Ia punya hak untuk berfilosofi, dan semua orang punya hak untuk itu. Namun dia, seorang 'Naruto', sampai saat ini sulit untuk bisa memahami arti kehidupannya sendiri, karena semua yang Ia lakukan sejauh ini ibarat melemparkan sebuah batu kerikil ke air yang tenang.
Saat kelahirannya adalah wujud nyata dari sebuah gelombang yang disebabkan oleh batu kerikil. Semua yang ia pikirkan adalah tentang 'Jika' dan 'Mungkin', sebuah hubungan sebab akibat yang tak mungkin terjadi.
Jika seandainya Ia tak di lahirkan, mungkin ayahnya akan bahagia bersama dengan saudara kembarnya dan membangun Konoha dengan damai. Jika Ia tak dilahirkan, mungkin Shisui Nii-sannya masih hidup sampai saat ini. Jika Ia tak dilahirkan, mungkin Konoha akan tetap utuh.
Berfilosofi membuatnya mendengus geli. Karena bagaimanapun, disini Ia sekarang, dilahirkan dan bahkan telah hidup untuk 18 tahun lamanya, takkan pernah menua jika Ia kembali membuat mata Shusseigan tentunya. Dan dari itu semua, dia hanya bisa menghela nafas. Yah, Ryuu sensei yang mengajarkannya apa itu filosofi, tapi sampai saat ini, Ia belum juga memahami secara mendalam apa itu sebenarnya. Tapi, mengingat apa yang Ia alami bersama senseinya tersebut, membuatnya tersenyum.
Tersenyum karena masih ada didalam kondisi ini yang membuatnya tetap bertahan. Satu hal, Jika Ia tak dilahirkan, Ia takkan bertemu Ryuu sensei, membentuk organisasi SSS yang kini Ia pimpin bahkan bertemu dengan kekasih yang Ia sangat sayangi. Untuk itu, Ia akan terus maju dan mencari tahu lebih dalam akan arti kehidupannya.
Ia sadar, bukan lagi batu kerikil yang Ia jatuhkan, melainkan batu besar yang membuat air tenang menjadi pusaran air. Konoha, ayah, ibu, Shisui Nii-san, semuanya sudah menghilang akibat gelombang tersebut. Jadi, untuk apa Ia kembali, karena itu hanyalah masa lalunya, dan Ia tak bisa mengubahnya. Seperti yang Ryuu sensei katakan padanya, ' simpanlah kenangan, dan tataplah masa depan', sesuatu yang berkaitan dengan yang dikatakan olah Shisui Nii-sannya, ' Jangan pernah lupakan masa lalu, karena dengan semua itu kau tidak akan terjatuh lagi di masa depan'.
Masa depan, yang pastinya sebuah teka-teki, entah itu baik atau buruk. Namun, ' bahaya adalah hal yang pasti, tapi rasa takut adalah sebuah pilihan.' kata-kata senseinya terngiang di kepalanya, yang membuatnya harus yakin untuk menatap masa depan karena takut bukanlah pilihannya.
Semula Ia hanya ingin semua sesuai keinginannya, membuat mata yang menyerupai Shusseigan yang Ia yakin akan menjadi batu besar berikutnya yang akan Ia lemparkan ke dalam air. Ya, dia kira itu adalah hal yang Ia yakin bisa Ia capai dengan yah, lancar. Menurutnya!
Tapi, bukankah ini mudah? Tidak! Dia menjawab pikirannya dengan lantang, karena semua keinginannya lagi-lagi keluar dari yang seharusnya. Membuatnya seakan tak siap akan apa yang terjadi kedepannya, bukan berarti Ia takut, Ia hanya tak siap jika memang riak air yang Ia buat menjadi terlalu besar untuk Ia hadapi.
" Jadi, bagaimana penglihatanmu? Sudah lebih baik?" Hinata berpaling, hanya untuk melihat Naruto mendudukan diri, bersandar dan menatap langit malam dalam diam, " Naruto-kun? Apa kau baik-baik saja?"
Hinata menyipitkan matanya, Ia tak tahu apa yang sedang di pikirkan kekasihnya. Memanggil namanya lagi, namun sang kekasih 'Naruto' kembali tak menanggapinya. Semua sudah cukup, mendudukan diri tepat di hadapan sang kekasih, Hinata hendak memarahi sang kekasih yang dengan tega mengabaikannya. Namun, Ia hanya bisa terdiam, tak ada kata yang keluar dari mulutnya karena disana Ia melihat Naruto nya terlihat begitu murung.
" Naruto-kun?" Gumamnya.
Tangannya tergerak untuk menyentuh kedua sisi pipi Naruto, namun kedua tangan tegas kekasihnya terlebih dahulu menariknya dan memeluknya erat. " Aku mencintaimu." Suara serak mendalam terdengar di telinganya, dan Ia tahu suara itu milik kekasihnya. Ia seharusnya bahagia mendengar kata ajaib tersebut, jika dalam keadaan lain mungkin Ia akan langsung pingsan. Namun ia tahu ada sesuatu yang terjadi dengan kekasihnya, untuk itu Ia mencoba melepas pelukan erat sang kekasih.
" Tidak." Naruto kembali menarik Hinata dalam pelukannya, " Tetap seperti ini. Ku mohon, aku ingin terus seperti ini." Naruto semakin mempererat pelukannya pada Hinata.
" T-Tapi?" Hinata selalu menyukai pelukan hangat sang kekasih, namun Ia harus tahu apa yang terjadi dengan Naruto dan mengapa kekasihnya terlihat murung? Kekasihnya memang sedikit berubah sejak hari dimana duplikat Shusseigan terealisasikan, memang tak sekuat mata yang di rencanakan tapi Ia tahu Naruto nya sudah berusaha.
Hinata terus mencoba untuk melepas eratnya pelukan yang di berikan Naruto, namun semua percuma karena Naruto tak berniat untuk melepasnya. Menyerah dengan usahanya, Hinata tahu ada sesuatu dengan Naruto namun untuk saat ini Ia harus bersabar dan hanya bisa membalas pelukan kekasihnya sebelum akhirnya mendongak untuk memberikan kecupan singkat pada bibir Naruto.
" Baik, jika kau tak mau bicara sekarang. Tapi ingat, aku selalu ada untuk mu." Hinata berkata tegas, Naruto tersenyum dan mengangguk sebelum menerima kecupan lain dari Hinata.
Bibir lembut Hinata selalu bisa mengobati hatinya, tapi..." Aku telah bermain dengan kehidupan maupun kematian. Hiruzen Oji-san, Tsunade Hime, Ero Jiraiya, semuanya, mereka seharusnya telah mati jika aku dan sensei tak bermain dengan kehidupan. Aku hanya takut Kami-sama akan murka dan memberikan hal yang di luar kemampuanku. Gomenne, Hime. Aku hanya tak ingin membebani mu dengan apa yang saat ini ku pikirkan." Naruto hanya bisa memejamkan matanya, menyembunyikan mata birunya yang kini telah bermutasi menjadi Shusseigan.
….
Bintang masih memenuhi malam, namun waktu terus berputar. Cahaya rembulan membantu penerangan bagi sepasang kekasih juga para anggota clan Hyuga yang berlalu lalang untuk melihat keindahan malam, yang tentunya tanpa di ketahui Naruto dan Hinata, mereka kini menjadi bahan perbincangan bagi para anggota clan Hyuga yang terlihat hanya bisa tersenyum-senyum melihat betapa romantisnya sepasang kekasih yang berada di puncak kastil.
Sementara para anggota clan Hyuga terutama wanita sedang tersenyum-senyum melihat sepasang kekasih di atas kastil, para pria termasuk ketua clan Hyuga tengah berkumpul bersama dengan anggota SSS terkecuali Sasuke yang sejak sebulan lalu pergi menemui Itachi dan sampai saat ini belum kembali. Mereka mulai mendudukan diri memenuhi sebuah ruangan besar yang sepertinya akan menjadi pertemuan besar jika di lihat dari suasana yang terlihat sedikit formal.
" Jadi, perang shinobi ke empat akan segera di mulai. Saya tak mengira akan jadi seperti ini, apa kita akan berpartisipasi?" Salah satu anggota cabang clan Hyuga memecah keheningan dengan kata-katanya.
" Naruto-sama belum membuat keputusan ikut atau tidaknya kita pada perang nanti. Kita hanya perlu bersiap diri jika memang kita akan berpartisipasi." Anggota utama clan Hyuga berkata datar, yang hanya hanya dibalas anggukan dari anggota cabang Clan Hyuga.
Perhatian semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut teralihkan karena pemimpin mereka yakni Hiashi Hyuga mulai berjalan menuju panggung. Bersamaan dengan itu, tim SSS kecuali Sasuke tentunya, berdiri sejajar disisi panggung menghadap para anggota utama dan cabang clan Hyuga yang mulai merapihkan tempat duduk mereka.
Dengan menegakkan tubuhnya, Hiashi menatap semua anggotanya. " Seperti yang kalian ketahui, Akatsuki telah melemah setelah menerima serangan dari desa-desa besar shinobi. Dari semua daftar anggota Akatsuki yang kita terima, hanya dua orang anggota yang berhasil dimusnahkan yakni Kakuzu dan Sasori, dan sisa dari mereka memang harus diakui cukup kuat untuk di musnahkan." Hiashi memulai, mendapat anggukan dari semua anggotanya yang memang mengakui kekuatan Akatsuki karena mereka telah menyaksikan bagaimana kekuatan Akatsuki dari siaran langsung sebulan yang lalu.
" Dari pihak desa-desa Shinobi, juga memiliki kerugian yang cukup membuat desa mereka rapuh. Gaara dari Suna telah berhasil di tangkap, bahkan jika bukan karena pengorbanan Hachibi, Raikage dan Tsuchikage hampir kehilangan nyawa mereka ketika menghadapi pemimpin Akatsuki dan ribuan mahluk berwarna putih. Dari itu semua, desa-desa besar telah bersatu dan menyatakan perang terhadap Akatsuki serta pasukan putihnya." Lanjut Hiashi, namun belum sempat Hiashi kembali berbicara, Ia menoleh hanya untuk melihat Naruto telah memasuki ruangan bersama dengan Hinata. Memberikan senyumannya, Naruto membungkuk singkat dan mengangguk agar Hiashi kembali melanjutkan perkataannya.
Hiashi kembali menatap anggota clannya, " Naruto, telah meminta clan Hyuga untuk ikut berpartisipasi dalam perang tersebut, akan tetapi Naruto telah memintaku agar kalian dapat ikut berdasarkan kemauan kalian. Jadi bagi kalian yang ingin ikut berpartisipasi bersama dengan ku dan Naruto dalam perang, silahkan angkat tangan." Hiashi menyatakan, sebelum akhirnya Hizashi melangkah dan berdiri beberapa meter di depan panggung menatap Hiashi.
Membungkuk singkat, Hizashi mendapat anggukan dari Hiashi. " Maaf Hiashi-sama, kami hanya terdiri dari 200 anggota aktif, sedangkan Akatsuki memiliki beberapa anggota kuat. Selain setengah chakra Kyubi, dapat dikatakan kini seluruh Biju juga mereka telah miliki dan seperti yang kami saksikan, mereka juga memiliki ribuan mahluk putih yang menjadi pasukan mereka. Kami ingin ikut bersama anda dan Naruto, tapi kami ingin mengetahui strategi atau bagaimana kami dapat melawan? Kami hanya tak ingin mati sia-sia." Hizashi berkata, membuat semua anggota clan Hyuga mengangguk dan menunggu apa yang akan di katakan oleh Hiashi.
Hiashi mengangguk, Ia juga mengerti kekhawatiran para anggotanya, terlebih mereka juga telah mengalami hal buruk ketika melawan pasukan Hokage, Minato. " Untuk itu aku hanya meminta bagi mereka yang dengan suka rela dan ingin untuk menuju medan perang bersama ku dan Naruto." Hiashi berkata, yang sepertinya hanya membuat semua anggotanya sedikit melemah karena berarti mereka akan menuju ke kematian secara sia-sia.
Disisi yang sama, Hizashi juga tengah berfikir. Naruto, Hinata dan tim SSS, sangatlah kuat, namun Ia tahu seberapapun kuatnya mereka, takkan mungkin selalu menjaga anggota clan Hyuga yang menurutnya mungkin hanya akan menjadi penghambat mereka di perang nanti.
Ruangan hening sesaat, sebelum akhirnya sebuah desingan keras membuat semua orang berpaling ke arah yang ternyata suara tersebut berasal dari dua alat yang Naruto tancapkan ke lantai yang kini hancur di depannya. Semua dapat melihat dua benda tersebut mulai bersinar dan mulai membentuk sebuah pintu yang terbuat dari cahaya, sebelum akhirnya dua orang dengan pakaian aneh keluar dari pintu tersebut dengan salah satu dari mereka berlutut di depan Naruto.
" Lord Naruto." Naruto hanya tersenyum, sedangkan Hinata hanya mengernyit karena Ia tak tahu siapa dua orang di depannya terlebih dua orang tersebut menggunakan panggilan yang aneh pada kekasihnya.
" Don't call me like that, but nice to see you again, eh… Tirion." Naruto menyapa, sebelum beralih ke satu orang lain di sebelah seseorang yang ternyata bernama Tirion.
Naruto membungkuk, " King Wrynn ,I apologize for not noticing you. But, I…" Sebelum Naruto melanjutkan pertanyaannya, seseorang yang ternyata Wrynn menggerakkan tangannya untuk menghentikan ucapan Naruto.
" Don't worry. Everything is yours, and all clan is already to fight beside you. Don't hesitate to open all the cube and we can win the glory together like before." Wrynn berkata, Naruto tersenyum karena sesuai perkataan Wrynn bahwa semua pasukan serta clan-clan lain sudah siap tempur baginya.
Semua anggota clan Hyuga hanya bisa terdiam, dan hanya bisa menyaksikan Naruto dan dua orang baru tersebut dengan ketidak pahaman. Sedangkan Tim SSS kecuali Sasuke tentunya, tersenyum mendengar ucapan Tirion.
Hiruzen mendekat dan mulai menjabat tangan dengan Wrynn sebelum akhirnya mengadu tinjunya pada Tirion sebagai tanda persahabatannya. Sebelum akhirnya tim SSS yang lainnya juga mendekat dan membungkuk pada Wrynn yang hanya dibalas bungkukkan lain oleh Wrynn.
….
Sementara itu, di tanah gersang yang kini menjadi wujud baru Konoha, terdapat beberapa gubuk yang tak terlalu besar berdiri di sekitar tanah Konoha tersebut. Beberapa wajah familiar nampak berkumpul di suatu gubuk yang berada di tengah gubuk-gubuk lain, dan cukup jelas bahwa mereka tengah berdiskusi.
" Apa kau yakin kita cukup kuat untuk berpartisipasi dalam perang?" Asuma bertanya, asap masih mengepul keluar dari bibirnya.
" Diam menunggu kematian lebih merepotkan, akan lebih berguna jika mati sebagai Shinobi." Shikaku menjawab, sambil menjentikkan rokok yang terapit pada dua jarinya. Seiring abu rokok jatuh ketanah, Shikaku dapat melihat anggukan dari Asuma, yang hanya membuatnya tersenyum sebelum kembali memasukkan rokok nya kembali kemulut.
" Tou-san, berhentilah merokok." Shikamaru berjalan mendekat , mendapat perhatian Asuma dan Shikaku.
Shikaku hanya mengangkat bahu, " Yah, aku juga mengatakan yang sama padamu dulu ketika kau mulai merokok."
" Mendokusai." Respon Shikamaru atas ucapan sang ayah.
Perhatian mereka teralihkan ketika mereka mencium aroma ramen dari beberapa mangkuk yang tersusun rapih di atas meja besar.
" Semua! Makanan siap!" Ayame berteriak, mendapat antusias dari semua orang yang berlari mendekat, tak terkecuali Shikaku, Asuma dan Shikamaru.
Beberapa orang telah berkumpul dan mendudukan diri mengelilingi meja, sedangkan ayame kembali ke gerobak kecil yang kini menjadi tempatnya memasak ramen setelah mereka harus merelakan restorannya hancur bersama desanya.
" Kiba, Sakura, Shino, Tenten, kalian harus memakan ramen kalian. Aku tahu ini berat, tapi ku yakin keluarga kalian di alam sana akan bersedih melihat kalian seperti ini." Kurenai berkata, sambil menatap Kiba dan yang lainnya yang masih hanya menundukan kepala mereka.
Shikaku yang melihat empat shinobi didepannya hanya diam, mengehela nafas sebelum akhirnya memukul meja dengan keras tak memperdulikan ramennya yang tumpah. " Shinobi dilihat bukan bagaimana mereka hidup, tapi Shinobi dilihat dari bagaimana mereka mati. Tentukan pilihan kalian, berdiam diri menunggu kematian atau mati sebagai Shinobi sejati dan temui keluarga kalian di alam sana dengan bangga."
Ucapan Shikaku sontak mengejutkan semua pasang mata, bahkan ucapan tersebut terus terulang dan terngiang di kepala Kiba, Sakura, Shino dan Tenten. Mereka semua memikirkan apa yang di ucapkan oleh ayah Shikamaru, butuh beberapa menit bagi mereka untuk mengolah kata-kata itu secara mendalam hingga akhirnya mereka mengerti ucapan itu dengan baik. Apa arti dari Shinobi?
" Aku akan membuat kalian tersenyum ketika aku menemui kalian." Shino tersenyum di balik kerah baju yang menutupi hampir setengah wajahnya.
" Aku dan Akamaru akan membuat kalian bangga, dan tunggu aku disana selama aku mencatat sejarah disini." Akamaru menyalak, melihat seringai Kiba.
" Bersedih takkan mengembalikan mereka kembali, dan aku ingin menemui mereka tanpa rasa malu." Sakura mengeratkan tinjunya, " Yeah, semangat! Chaa!" Batin sakura menambahkan.
" Sepertinya, aku membutuhkan lebih banyak senjata." Tenten mengelus segel menyimpanan senjatanya.
Bahkan Konohamaru dan timnya serta Iruka yang membantu Ayame dan Teuchi merapikan gerobaknya, diam-diam memikirkan perkataan Shikaku.
Disisi lain, Shikaku tersenyum, " Melihat kalian sepertinya sudah mengerti, kurasa ini saatnya mengembalikan semangat api yang ada di dalam diri kalian. Kita akan berpartisipasi dalam perang dan untuk tahap awal yang perlu kalian lakukan adalah memakan ramen kalian. Apa kalian mengerti?"
Kiba, Sakura, Shino dan Tenten, tersenyum dan mengangguk antusias. " Hai." Jawab mereka semua. Shikaku tersenyum lebar, sebelum akhirnya menatap muram ramennya yang jatuh ketanah. " Mendokusai." ucapnya, yang hanya membuat semua yang orang yang mengililingi meja tertawa.
" Yosh, semangat muda." Guy sensei akhirnya berkata, setelah tersadar dari rasa kagumnya akan ucapan Shikaku.
" Benar Guy-sensei, aku akan mambuat anda bangga dan menjadi ninja yang menakjubkan!" Teriak Lee, lagi-lagi membuat suasana semakin cerah.
Ino menyikut Shikamaru yang tak memperdulikan Guy dan muridnya dan hanya menatap ayahnya aneh, " Kau tahu, sudah lama aku tak melihat genjutsu terkuat Konoha." Ucap Ino, Shikamaru tak mendengarkan dan terus menatap ayahnya. " Hei, apa kau tak mendengarku!" Ino berteriak.
" Tenanglah Ino, ku yakin Shikamaru hanya terkejut melihat ayahnya ternyata bisa memberikan motivasi." Choji berkata sambil terus memasukkan mie ke dalam mulutnya. Ino hanya menggerutu akan hal itu.
Kurenai terkikik melihat tingkah laku semua temannya, sebelum akhirnya berpaling ke arah Shino yang masih belum memakan ramennya. " Shino-kun, mengapa kau tak memakan ramenmu? Aku tahu kau jarang memakan itu, tapi untuk saat ini hanya ramen yang mudah kita dapatkan."
Shino menggeleng, " Bukan itu sensei, tapi aku hanya bingung. Aku tak mengendalikan seranggaku untuk mengangkat mangkuk ramen ku." Shino menunjuk serangga-serangga yang mengangkat mangkuk ramennya lebih dekat ke wajahnya.
Kurenai mengerutkan dahinya, sebelum akhirnya semua terdiam ketika sebuah kunai tertancap tepat di depan mangkuk Tenten. Tak hanya sampai di situ, Akamaru bahkan menggonggong terus menerus ke arah bukit atau gundukan yang dulu menjadi monumen Hokage.
" Semua bersiap! Kita mungkin telah terkepung oleh musuh." Shikaku berkata, membuat semua orang yang mendengarnya bangkit dari duduknya dan berdiri membentuk lingkaran saling memunggungi.
Perlahan namun pasti, langit mulai gelap membuat Shino melebarkan matanya di balik kaca mata yang Ia pakai. Ia sangat tahu apa ini, karena Ia melihat langit kini di penuhi serangga yang sangat akrab baginya. Seiring langit menggelap, gonggongan anjing mulai terdengar di sekelilng mereka yang kali ini membuat Kiba meneteskan air matanya karena Ia dapat mencium aroma tubuh yang sangat familiar baginya.
Semua berpaling ketika mendengar suara kereta kuda mendekat disertai dentingan logam. Shikaku dan yang lainnya akhirnya meredakan kesiagaannya, karena mereka tahu siapa yang telah datang kepada mereka.
" Tenten-chan, maafkan ayah dan ibu karena tak segera datang!"
Tenten melebarkan matanya, air mata mengalir pada kedua pipinya. " Ayah! Ibu!" Teriaknya. Sebelum akhirnya Shunshin dan memeluk sang ayah erat.
Disisi lain, " Apa kau tak mau memeluk Tou-san mu, Shino?" Shibi ternyata sudah berada di belakang Shino bersama dengan beberapa anggotanya, Shino bergetar sebelum berbalik dan menjatuhkan kepalanya kedalam pelukan sang ayah.
Kiba juga melompat dan mendekat ke arah orang yang sangat Ia kenal, " Mengapa kau mengendus ibumu seperti itu?"
Kiba menangis, sebelum tersenyum lebar memperlihatkan taringnya. Melompat, Kiba segera mendapatkan pelukan hangat dari sang ibu, dan mendapat elusan dari sang kakak, Hana Inuzuka diiringi gonggongan anjing-anjing dari beberapa anggota klannya.
keluarga kini kembali berkumpul, langit kembali cerah setelah Shibi menarik serangga-serangganya. Para Inuzuka juga sudah berkumpul menemui ahli waris mereka. Namun, dibalik itu semua, Kurenai dapat melihat wajah muram dari Sakura yang sepertinya hanya keluarganya yang tak datang menemuinya. Mendekat ke arah Sakura, Kurenai memeluknya membiarkan Sakura menangis karena sepertinya apa yang di harapkan Sakura tak terwujud.
" Tou-san, Kaa-san, mereka hanya warga sipil. Seharusnya aku sadar bahwa mereka takkan bisa bertahan." Sakura menangis, dan hanya bisa mengeratkan pelukannya pada Kurenai yang kini sudah menjadi senseinya dalam hal Genjutsu.
" Maaf jika aku menyela reuni kalian." Seseorang berkata, membuat semua orang berpaling.
Semua bersiaga, karena mereka tengah melihat seseorang bertudung berdiri tak jauh dari mereka. Shikaku menyipitkan matanya, sebelum akhirnya mengerutkan kening ketika melihat seseorang tersebut membuka tudungnya.
" Sasuke." Ucapnya, mendapat perhatian Sakura yang dengan cepat melepas pelukan Kurenai dan mencari keberadaan orang yang Ia cintai.
Disisi lain, Sasuke berjalan mendekat ke arah Shikaku yang semakin siaga, Ia memang tahu bahwa Sasuke masih berpihak pada Konoha, namun seiring berjalannya waktu tak ada yang tak mungkin bahwa teman bisa menjadi musuh.
" Apa yang kau inginkan?" Shikaku bertanya, membuat Sasuke menghentikan langkahnya dan memandang Shikaku datar, walaupun matanya sempat melirik Sakura.
Sasuke hampir tersenyum ketika memandang Shikaku, " Aku hanya ingin memberikan ini." Shikaku menangkap gulungan kecil yang di lemparkan oleh Sasuke, sebelum akhirnya Sasuke membalikkan badannya untuk pergi.
" Jangan pergi." Suara Sakura, menghentikan langkah Sasuke yang hanya tersenyum dibalik wajah yang kembali datar.
Tampilan datar, menjadi topeng Sasuke ketika menoleh dan menatap Sakura yang ternyata hanya tinggal beberapa meter darinya. Fumetsu Mangekyou Sharingan seketika aktif, menghentakkan Sakura dan yang lainnya untuk bersiaga, tak terkecuali Kurenai yang sudah menarik kunainya dan hendak menyerang namun di tahan oleh Asuma.
" Jika dia ingin menyakiti Sakura, dia bisa melakukannya sejak awal. Tenanglah, jika memang terjadi sesuatu kepada Sakura, aku pastikan Sasuke tidak akan bisa bertahan melawan kita semua." Asuma berkata santai, namun ternyata dia juga sudah menyiapkan pedang chakranya ( Chakura to ).
Kembali ke Sasuke yang kini tengah menatap Sakura. " Sasuke-kun, apa yang kau lakukan?" Tanya Sakura, namun Sasuke hanya terdiam sebelum akhirnya mengedarkan pandangan matanya ke arah kelompok Konoha disekitarnya.
Sasuke menghela nafas kecil, namun hampir tak dapat terlihat dan terdengar oleh Sakura. " Mengapa mereka bertindak seakan-akan aku akan menyakitinya?" Sasuke kembali menatap Sakura dengan Sharingan abadinya. " Sudah lama aku tak melihatmu, kau tumbuh menjadi lebih cantik, Sakura." Sharingannya mulai mengamati tubuh Sakura dari atas hingga bawah. " Sial, tubuhnya lebih dari apa yang ku harapkan. Dan 'itu' memang tak lebih besar dari Tsunade-chan, tapi… Aargh… Sial, apa yang ku pikirkan? Naruto aku bersumpah akan membunuhmu."
" Sasuke-kun, mengapa kau diam saja?" Sasuke tersentak dari lamunannya, dan mencoba mengalihkan pandangannya dari Sakura, namun sayangnya kini Sharingannya terfokus pada bibir Sakura.
" Naruto dan Hinata sering berciuman, aku bertanya-tanya bagaimana rasanya? Her lips, I want to endorse it." Sasuke kembali tersentak dari apa yang baru saja Ia pikirkan, bahkan Ia bertanya-tanya mengapa Ia sampai menggunakan bahasa Azeroth? " Sial, Naruto! Aku akan benar-benar membunuhmu untuk ini." Tapi, bagaimanapun Naruto tak bisa di salahkan karena pada dasarnya Ia seperti ini karena beberapa kali Ia melihat Naruto mencium Hinata. " Tidak, bagaimanapun Ia dengan seenaknya berciuman tanpa memperdulikan sekitar." Sasuke menggeram dan ingin segera kembali ke Shinzen no kuni hanya untuk meninju Naruto. Namun, tanpa disadari, ternyata geraman Sasuke terdengar di telinga Sakura dan membuatnya memundurkan langkah.
" Sasuke-kun!" Nada suara Sakura mulai naik, kakinya kini dua langkah menjauh. Sasuke yang melihat Sakura menjauh, tersentak dan membodohi dirinya sendiri karena mungkin Sakura telah salah pengertian akan geramannya tersebut.
" Aku.." Sasuke memulai, Sakura menghentikan langkahnya. Namun, Sasuke tak bisa berkata lebih ketika Ia sadar Ia sedang menjadi tontonan banyak pasang mata. " Usuratonkachi." Ia berkata pada dirinya sendiri, sebelum akhirnya Ia menutup matanya dan membukanya kembali tepat menatap mata Sakura yang seketika membeku.
Sementara itu, Kurenai yang melihat Sakura terdiam hanya mengerutkan kening. Sebelumnya ia telah melihat Sakura melangkahkan kakinya mundur, namun kini Ia melihat tubuh Sakura terdiam dan hanya berdiri mematung serta matanya yang terus menatap Sasuke. Melebarkan matanya, " Tak bisa dibiarkan, Ia menggenjutsu Sakura." Kurenai berkata, namun belum sempat Ia bergerak, lengannya di tahan oleh tangan Asuma yang menggenggamnya erat.
" Apa yang kau lakukan! Sakura dalam bahaya!" Bentak Kurenai, namun Asuma hanya menggeleng.
" Tak ada tanda-tanda kesakitan atau apapun yang menandakan bahaya pada tubuh Sakura. Lebih baik kita menunggu apa yang sebenarnya terjadi." Ucapnya, Kurenai hanya menggeram sebelum akhirnya melepas tangan Asuma kasar dan terdiam.
...
Inside Genjutsu.
Sakura tak tahu dimana Ia berada saat ini, namun yang Ia tahu kini tubuhnya tengah terbaring serta tangan dan kakinya terikat oleh tali-tali yang menancap pada rumput. Mengedarkan pandangannya, Ia menyadari bahwa Ia kini berada di padang rumput dan hari menunjukkan malam dilihat dari bulan dan bintang yang bertebaran.
" Selama 72 jam kau akan berada disini, namun hanya sesaat diluar sana." Sebuah suara membuat Sakura berpaling hanya untuk melihat Sasuke seketika menampakkan diri dan mendudukan diri disisinya. Sakura bertanya-tanya, apa jenis Genjutsu yang diberikan Sasuke padanya? Bagaimanapun Ia merasa takut karena selama hidupnya, Ia selalu menerima informasi bahwa akan selalu menyakitkan bagi siapapun yang terkena Genjutsu dari seorang Uchiha.
Sakura memberontak, " Sasuke-kun, mengapa kau melakukan ini? Kau bilang pada ku untuk menunggumu, dan sampai saat ini aku terus menantimu. Tapi, kenapa kau melakukan ini Sasuke-kun?" Air mata terancam keluar dari matanya, tangannya mengepal erat dan mencoba bergerak untuk melepas kekangannya. Ia takut, namun pelatihannya dengan Kurenai membuatnya terus mencoba melepas Genjutsu yang mengekangnya. Menguras hampir semua chakranya, namun hasilnya nihil.
" Sakura, apa kau mencintaiku?" Sasuke berkata, tatapannya tetap kedepan tak ingin melihat reaksi Sakura akan pertanyaannya. " Sial aku tak boleh melihatnya, jangan berbalik, kau harus bisa menahannya Sasuke Uchiha."
Sementara Uchiha muda menahan keinginan lelakinya, Sakura disisi lain hanya bisa terdiam membeku dengan apa yang di pertanyakan lelaki yang Ia cintai. Sudah jelas bahwa Ia mencintainya, dan Ia yakin ia sudah sangat jelas membuktikannya ketika Ia dulu bersama Sasuke. Apa itu masih belum cukup?
" K-Kau pasti sudah tahu jawabannya, Sasuke-kun. A-Aku selalu mencintaimu..." Sakura tergagap, " B-Bahkan jika kau membunuhku." Sakura berkata lemah ketika melirik sesaat tali yang mengekang tangannya.
Sasuke mengerutkan kening, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya dan mulai merangkak tepat di atas tubuh terbaring Sakura. Sasuke tak memperdulikan tubuh bergetar Sakura, Ia hanya mulai mendekatkan wajahnya pada wajah gadis di bawahnya." Terima kasih. Dan aku takkan membunuhmu. Tapi, aku hanya akan membawa mu to Heaven."
" He-Heaven?"
Belum sempat Sakura bertanya, apa maksud 'Heaven' pada Sasuke. Matanya melebar seketika, karena detik itu juga Sasuke menciumnya tepat dibibir. Tepat dibibir? Pipi Sakura merah padam akan kenyataan yang Ia rasakan sekarang, Ia tak siap untuk ini, jantungnya berdegup cepat, tangan dan kakinya melemas, Ia hendak pingsan namun pada akhirnya Sasuke melepas ciumannya.
" S-Sas.." Belum sempat Sakura menenangkan diri, Sasuke kembali menciumnya. Kali ini berbeda, ciuman itu lebih dalam dari sebelumnya. Sasuke melumat bibirnya, Ia tak tahu akan sensasi aneh yang Ia rasakan, Sakura tahu tubuhnya sudah sangat lemas namun tubuhnya kini merasakan sesuatu yang panas mengalir pada seluruh tubuhnya. Satu hal lagi yang membuat Sakura tak mengerti, rasa panas itu membuatnya ingin lebih dan lebih seakan ciuman Sasuke membuatnya gila.
Sakura tak bisa menahannya lagi, nalurinya berteriak, ciuman Sasuke membuatnya hilang kendali. Bibirnya terbuka dengan sendirinya, dan menerima bibir Sasuke agar melumat bibirnya lebih dan lebih. Ia dapat merasakan tubuh Sasuke bergetar sesaat, namun yang Ia tahu setelah itu Sasuke semakin membuatnya gila.
Disisi lain, Sasuke tak tahu apa yang terjadi padanya. Ia hanya tak bisa berhenti, bibir Sakura begitu lembut, dan membuatnya tak ingin melepaskan bibirnya dari bibir Sakura. Tubuhnya tegang sesaat ketika Ia merasakan bibir Sakura terbuka dan menyabut ciumannya. Ia merasa dorongan dalam dirinya yang membuatnya semakin liar, Ia tak sadar lidahnya mulai menyentuh lidah Sakura. Namun satu hal yang pasti, itu adalah hal yang membuatnya semakin entahlah, namun Ia menikmatinya. Ia melumatnya, lidah mereka saling bertemu yang membuatnya tak bisa berhenti.
Sasuke menyerah pada dorongan batinnya, tangannya kirinya mulai mencengkram leher belakang Sakura dan menariknya untuk memperdalam ciuman mereka, sedangkan tangan kanannya berlari di sekitar pinggang ramping wanita yang kini mulai mengerang dalam ciumannya. Erangan tersebut, membuatnya kembali tersentak dan seakan membuatnya dapat mendengar detak jantungnya sendiri semakin cepat.
Tangan kanannya bergerak dengan sendirinya, dan mulai mengusap lembut pinggang Sakura sebelum akhirnya berlabuh tepat di payudara kiri Sakura. Erangan kembali terdengar ketika tangan kanannya meremas dengan lembut payudara Sakura, Ia tak tahu apa yang Ia rasakan saat ini, namun Ia ingin terus mendengar erangan demi erangan keluar dari bibir gadis yang berada dalam kekangannya.
Erangan terhenti ketika tangan kanan Sasuke berpisah dari payudara kiri Sakura, namun erangan lain segera datang ketika tangan kanan Sasuke perlahan menarik ujung baju Sakura hingga menampakkan bra hitam yang melingkupi kedua payudara Sakura. Erangan yang semula tertahan bibir Sasuke, kini jelas terdengar ketika Sasuke melepas ciumannya, dan mulai menciumi leher Sakura seiring tangan kanannya kini mulai mengelus payudara yang hanya tertutup bra.
" Ahn~... Ss-Sasuke-kun." Mendengar Sakura mengerang dan memanggil namanya, membuat pengguna Sharingan semakin gila. Erangan dan desahan semakin jelas di telinga Sasuke ketika tangan kanannya mulai berlari menuju sisi bawah bra dan menarik ke atas menampakkan keindahan tubuh atas Sakura.
Bibir Sasuke perlahan pindah dari leher Sakura menuju payudara kanan Sakura, sedangkan tangan kanannya mulai meremas dengan lembut payudara kiri Sakura. " Ahn~..." Sakura mengerang dan membusungkan dadanya ketika lidah Sasuke mulai menghisap dan melumat payudara kirinya.
Sasuke terus mendominasi Sakura, entah sudah berapa lama Ia bermain dengan payudara kiri Sakura. Sasuke menikmati ini, tapi seketika Ia menegang, Ia telah berbuat terlalu jauh. Mulut dan tangannya seketika terlepas dari payudara Sakura, yang hanya meninggalkan erangan lain dari Sakura.
" S-Sasuke-kun." Sakura tergagap, tubuhnya masih belum normal akan apa yang baru saja terjadi.
" Maaf Sakura, Aku… lepas kendali." Ucap Sasuke, sambil mendudukan dirinya disisi Sakura.
Masih terengah-engah, Sakura menatap Sasuke tajam. " Bisakah kau melepas kekangan ini, ini membuat tangan dan kaki ku sakit." Pinta Sakura, yang terus saja terengah-engah akan sensasi yang Ia rasakan beberapa saat lalu. " kumohon." Pintanya lagi, yang akhirnya mendapat anggukan dari Sasuke dan mulai memfokuskan Sharingannya untuk melepas tali yang mengikat Sakura.
" Sudah..." Belum sempat Sasuke menyelesaikan ucapannya, Sakura sudah menerjangnya membuat Sasuke terbaring dengan Sakura yang kini mengangkanginya.
Sakura mencium bibir Sasuke singkat, " Itu tidak adil jika kau mengikat dan mempermainkan ku seperti itu." Ucapnya, sebelum akhirnya kembali mencium Sasuke singkat. " Kau tahu, aku mencintaimu. Jika kau menginginkannya, kau bisa bicara langsung pada ku tanpa harus mengikat ku seperti itu."
Sasuke tersentak, apa yang Ia khawatirkan benar-benar terjadi. Sejak awal Ia memang sengaja untuk mengikat Sakura, karena Ia tak ingin kehilangan kendali apabila Sakura meresponnya secara berlebihan ketika Ia hanya ingin menciumnya (walaupun pada akhirnya Ia lebih dari sekedar mencium Sakura).
Semua sudah terjadi. Mengalah akan nalurinya, Sasuke menyeringai disela-sela ciumannya, sebelum akhirnya melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Sakura dan menariknya lebih dalam. " Kita masih memiliki 69 jam, 30 menit dan 15 detik tersisa disini."
...
Genjutsu Off.
Seiring Genjutsu terlepas, baik Sakura dan Sasuke terengah-engah lengkap dengan semburat merah menghiasi kedua pipi masing-masing. Bagi mereka berdua, lebih dari 70 jam di dalam Genjutsu merupakan waktu yang sekiranya membuat mereka merasa puas. Namun bagi Shinobi Konoha, Genjutsu tersebut hanya sesaat.
Kurenai disisi lain tahu bahwa genjutsu terlepas dilihat dari bagaimana Sakura mulai terengah-engah ketika jatuh terduduk, sama halnya dengan Sasuke yang juga terlihat mencoba mengatur nafas. " Sakura-chan!" Panggilnya, namun Sakura tak menjawab panggilannya.
" Sudah ku bilang tak akan terjadi sesuatu pada Sakura." Ucap Asuma yang masih setia berdiri di sisi Kurenai yang mendengus. ' Dan jika ku ingat-ingat, wajah Sakura dan cara bagaimana Sakura terengah-engah hampir sama ketika malam pertama kita. Bukan begitu Nai-Hime?' Bisik Asuma pelan, yang sukses membuat kedua pipi Kurenai memerah.
Pipi Kurenai masih memerah namun ia kini mulai memfokuskan fikirannya ke hal lain dan hanya berfokus untuk melihat Sakura yang mulai mendirikan tubuhnya, dan perlahan berjalan mendekat ke arah Sasuke hanya untuk meninju Sasuke tepat di wajah. Hal tersebut tentunya membuat Kurenai dan setiap Konoha Shinobi yang melihat melebarkan matanya atau dalam kasus khusus hanya menyipitkan mata bagi para Nara.
Pukulan Sakura tak begitu kuat, namun cukup untuk dapat menghempaskan Sasuke beberapa meter. Sakura menghela nafasnya dan mencoba untuk tetap menstabilkan nafasnya, sebelum akhirnya kembali melangkahkan kaki mendekat ke arah Sasuke yang menatapnya tak mengerti.
" Untuk apa itu?" Sasuke bertanya, namun kerah jubahnya seketika di cengkram dan tarik oleh Sakura untuk membangunkannya secara paksa.
" Untuk membuatku menunggu lama." Jawab Sakura, yang setelahnya mencium Sasuke dalam namun singkat.
Semburat merah terlihat jelas di pipi Sasuke, karena bagaimanapun Ia sedang di tonton oleh banyak pasang mata. " Sudah ku bilang jangan menciumku di depan orang lain." Gerutunya, namun Sakura hanya menyeringai.
" Yah, aku hanya ingin tahu apakah rasanya sama antara Genjutsu dan keadaan nyata." Sasuke mendengus mendengar alasan Sakura.
" Urusai." Sakura hanya tertawa melihat wajah malu dari lelaki yang kini sudah menjadi kekasihnya. Sasuke menghela nafas, sebelum akhirnya menatap Sakura yang mulai tenang. " Aku harus pergi, jika kau ingin menemui orang tua mu, datanglah ke tempat yang ku beritahu dan panggil aku jika kau sudah disana. Apa kau mengerti?"
Sakura mengangguk dan mengecup bibir Sasuke singkat. 70 jam lebih didalam Genjutsu merupakan waktu yang cukup bagi Sasuke untuk memberitahu Sakura bahwa kedua orang tuanya kini telah aman dibawah pengawasannya. Sakura senang akan hal tersebut, terlebih Sasuke menanamkan sebuah alat atau mungkin sebuah fuinjutsu pada telapak tangannya agar kapanpun bisa berkomunikasi dengan Sasuke maupun orang tuanya.
Sasuke tersenyum ketika membalikkan badannya dan mulai menghilang dengan Shunshinnya, tak memperdulikan Nara Shikaku yang melebarkan matanya saat membaca lembaran terbuka dari gulungan kecil yang di berikan Sasuke sebelumnya.
" Pastikan Sakura aman. Dengan begitu kau dan yang lainnya tak harus mati." Isi gulungan tersebut, cukup membuat Nara sedikit takut.
" Menarik, dan tidak merepotkan." Gumam ketua clan Nara.
...
Tak jauh dari lokasi tanah Konoha, Sasuke seketika muncul tepat di samping dua anggota Akatsuki yang tersenyum melihatnya.
" Sepertinya kau menemukan sesuatu yang menarik disana, bukan begitu Otouto?" Sasuke mendengus mendengar perkataan kakaknya yang tak lain adalah Uchiha Itachi. Dan tepat disisi kiri Itachi, Kisame terlihat menyeringai.
" Meh, bahkan aku mencium sesuatu yang memuakkan. Baunya seperti cairan Sperm..." Belum sempat Kisame menyelesaikan ucapannya, Sasuke sudah berdiri disampingnya lengkap dengan Katana yang menempel erat pada lehernya.
" Jika kau menyelesaikan ucapanmu, aku takkan ragu untuk membunuhmu." Ancam Uchiha muda, yang membuat Kisame menyeringai lebih, sedangkan Itachi hanya menghela nafas.
" Hentikan Otouto. Kita tak memiliki banyak waktu, dan sudah saatnya aku dan Kisame kembali. Pemimpin Akatsuki, akan curiga jika kami hanya berkomunikasi jarak jauh tanpa kembali ke pertemuan." Sasuke mengangguk mendengar perkataan Itachi.
Satu bulan lamanya, setelah Sasuke dan Itachi bertemu. Itachi selalu menyembunyikan pertemuan mereka dari Nagato, dan mereka cukup beruntung karena Kisame ternyata tak menyukai sifat Nagato setelah Konan dan Yahiko mati.
" Sampai bertemu di perang, Nii-san." Sasuke menatap Itachi yang menangguk padanya.
" Ku harap kalian bersiap. Aku akan mengabarimu jika ada hal lain yang perlu kau ketahui. Ayo Kisame." Itachi berkata, sebelum akhirnya menghilang bersama dengan Kisame.
...
Shinzen no Kuni.
Naruto dan yang lainnya telah memiliki waktu yang cukup untuk membicarakan segala hal yang di perlukan dalam perang nanti. Wrynn dan Tirion telah sepakat untuk membantu Naruto sebagaimana Naruto dan timnya telah membantu mereka dalam perang di Azeroth. Disamping itu, setelah penerjemahan terus menerus akan perkataan Wrynn dan Tirion, semua anggota clan Hyuga kini juga telah mendapatkan kepercayaan diri mereka.
" So, I must go back now. And as I said, don't Hesitate to call us, cause.. we are always ready to fight beside you." Wrynn berkata, mendapat bungkukkan hormat dari Naruto sebagai jawabannya. Wrynn mengangguk, dan mulai memasuki portal yang sejak awal memang tidak di tutup olah Naruto.
Setelah Wrynn dan Tirion memasuki portal, Naruto mulai menonaktifkan portal dan berbalik hanya untuk melihat Hiashi tengah menatapnya. " Aku tak menyangka kau memiliki teman yang menarik, Naruto-kun." Hiashi berkata, Naruto tersenyum dan menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
" Nah, itu hanya masa lalu yang ku jalani bersama sensei ku." Jawab Naruto, sebelum akhirnya menundukkan wajahnya karena mengingat kematian senseinya.
" Sensei mu, Ryuu kan?" Tanya Hiashi, Naruto hanya mengangguk sebelum akhirnya merasakan lengannya di genggam erat oleh Hinata yang membuat Naruto tersadar bahwa Ia masih memiliki kekasih yang menyayanginya.
Hiashi hanya tersenyum dalam hati, sepertinya putrinya dapat menjadi obat bagi kesedihan Naruto. Hiashi tahu siapa Ryuu, karena bagaimanapun Ryuu pernah membantunya dalam persidangan Naruto dulu yang juga membuatnya yakin bahwa Naruto dan Ryuu pasti sangat dekat. " Aku yakin Ryuu-san akan bangga padamu." Ucapnya.
" Terima kasih." Naruto mengangguk dengan keyakinan.
Pintu ruangan terbuka lebar, seiring Orochimaru memasuki ruangan dengan seringaiannya. Sejak kedatangan Wrynn dan Tirion, Orochimaru di minta oleh Naruto untuk mempersiapkan peralatan perang yang dimiliki oleh Shinzen no Kuni yang tentunya mendapat antusias Orochimaru.
" Khukhukhu... Gah!" Orochimaru seketika mendapat tinju dari Tsunade, " Sudah ku bilang jangan memulai apapun dengan tawa seperti itu!" Tsunade muda mendengus, sebelum berbalik meninggalkan Orochimaru yang mencoba bangkit dari jatuhnya.
Butuh dua menit bagi Orochimaru untuk bangkit dan berjalan mendekat ke arah Naruto yang tertawa bersama Hinata yang mencoba menahan tawanya. Orochimaru mendesis, sebelum akhirnya menyeringai ketika menatap Naruto.
" Peralatan sudah siap, Naruto-kun. Aku tak sabar untuk menampilkannya dalam perang nanti, Khu.. Yah, itu saja." Orochimaru dapat melihat Tsunade kembali bersiap ketika Ia hampir kembali tertawa.
Naruto yang mendengar ucapan Orochi-baka, hanya bisa tersenyum karena bagaimanapun ternyata senseinya dan clan senseinya memberikan peninggalan atau warisan pada nya yang sangat dapat membantunya kedepan nanti.
" Jika begitu kita hanya tinggal menunggu." Ucap Naruto.
...
Satu hari telah berlalu dengan begitu cepat, namun bagi seseorang yang kini berada di dalam kegelapan waktu terasa sangat lama baginya. ia sudah sangat tidak sabar akan apa yang akan terjadi didepannya, karena Ia telah menanti-nanti hal ini untuk waktu yang sangat lama.
" Sebentar lagi, tunggu ibu... akan tiba saatnya bagimu untuk bangkit kembali dan menguasai dunia ini lagi."Sosok bertubuh hitam atau lebih tepatnya hanya sebagian pada tubuhnya berwarna hitam tengah berkata dalam fikirannya. " Kita harus berhati-hati, bagaimanapun Madara bisa menjadi halangan yang cukup merepotkan. Rencana awal kita memang berantakan, namun sepertinya keadaan yang membuat kita kembali berada di jalur rencana." Sosok atau bagian hitam pada tubuh seseorang tersebut hanya mendengus mendengar ucapan bagian tubuhnya yang lain berwarna putih.
" Minato dan anaknya memang tak berguna, beruntung bagi kita Madara masih tetap mengikuti ambisinya. Terlebih tanpa gen kita, Nagato juga ikut dalam permainan dengan sukarela. Hal ini memberikan keuntungan lebih bagi kita untuk membangkitkan ibu."
" Kau benar. Minato dan anaknya memang tak berguna, seharusnya sejak awal kita membiarkan mereka mati ketika Kyubi menyerang. Gen yang kita masukkan ke tubuh mereka kini terbuang sia-sia. Awalnya mengontrol Minato dan anaknya bisa menjadi keuntungan bagi kita, tapi karena anak pertama Minato, kita telah kehilangan boneka yang cukup bagus. Kurasa namanya, Naruto. kita tak bisa meremehkannya, karena bagaimanapun dia yang telah membunuh kedua orang tua nya sendiri dan membiarkan adiknya kita tangkap."
" Hal itu juga menjadi pertanyaan bagiku, bagaimana mungkin sel yang kita masukkan kedalam tubuh Naruto tidak mempengaruhinya. Ku yakin, ada sesuatu dalam tubuh anak itu." Tubuh bagian putih juga bertanya-tanya akan apa yang di ucapkan bagian tubuh hitam. Semula memang berawal dari kebetulan yang membawa mereka untuk menambahkan rencana awal mereka.
...
Flashback.
Zetsu tengah mengawasi Obito yang menyusup kedalam persembunyian Kushina yang kini telah melahirkan. Dia menyeringai ketika Obito dengan mudah mengalahkan semua penjaga, termasuk istri dari Hokage ketiga.
Dalam bidang visinya, Zetsu menyeringai ketika melihat langkah Obito terhenti ketika Minato datang dan mulai bertarung di luar persembunyian. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Zetsu memasuki ruangan dan menatap kedua anak Yondaime yang kini berada di kedua sisi tubuh lemah tak sadarkan diri Kushina.
Dengan kemampuannya, Zetsu mulai memasukkan sel-selnya kedalam tubuh kedua anak tersebut. Dengan itu, Zetsu yakin sel-selnya dapat mempengaruhi kedua anak tersebut, sama halnya dengan apa yang Ia lakukan pada Madara dan Obito dalam membantu mereka untuk tetap hidup.
Selama kebangkitannya, dia memang mencari seseorang yang memiliki hati yang gelap seperti Madara dan Obito agar sel-selnya bisa semakin kuat dan mendukung tujuannya. Tapi, kali ini Ia bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi jika Ia memasukkan sel gelapnya pada anak yang baru lahir.
Dan jawabannya, adalah mengejutkan. Rambut dari salah satu anak tersebut, berubah dari semula merah menjadi hitam legam. Namun, ia mengerutkan kening karena tidak ada perubahan pada anak yang satunya lagi.
Zetsu segera menyatu dengan dinding, tepat ketika Obito memasuki ruangan dan langsung menyandera salah satu anak Minato. Dalam bidang visinya, ia dapat melihat pertempuran terus terjadi antara Obito dan Minato. Dia mengakui kekuatan Minato sehingga bisa membebaskan anaknya dari tangan Obito. Hingga akhirnya, Ia melihat Obito kabur menyisakan pertarungan antara Minato dan Kyubi yang masih mengamuk.
Zetsu tak segera pergi, Ia masih terus menonton perjuangan Minato mengekang Kyubi. Hingga pada akhirnya ia melihat Yondaime, mulai menyegel Kyubi ke dalam tubuh anak keduanya yang memliki rambut hitam yang hanya membuat Zetsu menyeringai. Namun, tatapannya beralih kepada anak Minato yang lain yang kini berada di pelukan Hiruzen, Ia bertanya-tanya mengapa Yondaime tak bisa menyegel Kyubi dalam tubuh anaknya yang pertama.
" Apakah karena sel ku? Bukan, jika karena sel ku, pasti anaknya yang kedua juga menolak." Renunganya terhenti, ketika Ia melihat Minato melindungi anaknya dari cakar Kyubi dengan tubuhnya.
Seringaiannya di perluas, ketika Ia melihat sepertinya Minato akan mati. Untuk itu Ia bergegas mendekat ke arah Minato tepat setelah para penjaga Minato termasuk Sandaime dan Kushina menjaga jarak dari amukan Kyubi. Tanpa sepengetahuan Minato atau siapapun, Zetsu memasukkan selnya dari bawah tanah dan langsung masuk kedalam tubuh Minato melalui luka yang di buat cakar Kyubi. Hal tersebutlah yang membuat Minato tetap bertahan untuk hidup dari luka-lukanya, walaupun Zetsu juga bertanya-tanya mengapa jiwa Minato tak di ambil oleh Shinigami jika rumor yang Ia dengar, siapapun pasti akan mati setelah melakukan Jutsu terlarang yang dilakukan Minato.
Zetsu kembali menjauh, dan harus menyeringai karena seperti anak kedua Minato, rambut Minato tak berubah menjadi hitam yang menunjukkan bahwa sel yang di masukkan mungkin tak memiliki efek samping pada tubuh melainkan pikiran. Dia harap begitu.
Satu hal yang Zetsu tak tahu, anak pirang Minato tak berpengaruh karena sel Shinzen sudah terlebih dahulu mendominasi tubuh anak pirang yang tak lain adalah Naruto. Sehingga sel Zetsu takkan berpengaruh sedikitpun, karena sel Shinzen di penuhi dengan energi alam sebagaimana sel tersebut menolak chakra gelap Kyubi. Sedangkan dalam kasus Minato, sel Zetsu semakin memperkuat sisi jahat Minato yang pada akhirnya mendominasi sisi baik Minato.
...
Flashback off.
Zetsu terus membahas strategi mereka untuk membangkitkan sang ibu, yang tentunya mereka lakukan dalam hati, mengingat Ia kini tengah berdiri tepat di depan pemimpin Akatsuki bersama dengan anggota yang lain.
" Zetsu, bagaimana informasi yang ku butuhkan?" Pertanyaan Nagato menyadarkan Zetsu hitam dari percakapan rahasianya bersama Zetsu putih.
" Semua desa-desa besar mulai mempersiapkan pasukan mereka dan sepertinya mereka mulai berkumpul di Kumogakure. Dalam beberapa minggu mungkin mereka telah siap, dan perang sepertinya tak bisa di hindarkan." Zetsu berkata, Nagato menyeringai.
" Hachibi berhasil mengelabuhi kita dan kita hanya memiliki setengah chakra Kyubi. Tapi dengan sedikit dari chakra tersebut kita bisa membangkitkan Juubi kembali. Kurasa dengan itu, sudah cukup untuk menghapuskan dunia Shinobi ini dan memulai semuanya dari awal." Nagato berkata antusias, sebelum akhirnya menatap Toneri yang menampakkan Tenseigannya dengan sombong. " Matanya cukup kuat, tapi ku yakin tak ada yang lebih kuat dari Rinnegan." Pikir Nagato mempertahankan seringaiannya.
" Toneri, gulungan terlarang Minato telah berhasil aku buka dan pelajari. Ketika tiba saatnya, aku akan membuka portal untuk mu agar pasukanmu di bulan bisa memasuki bumi. Sisanya terserah padamu, dan ingat, aku pastikan kematianmu akan menyakitkan jika kau menghianatiku." Perkataan Nagato hanya menjadi bumbu di telinga Toneri yang menyeringai lebar.
" Aku tak sabar akan hal itu." Jawab Toneri, " Dan aku juga tak sabar, saat dimana aku menghabisi kalian semua." Pikir Toneri, sebelum akhirnya menganggukan kepala pada pemimpin Akatsuki.
Nagato berpaling ke arah Itachi yang hanya terdiam dengan Sharingan yang aktif, " Itachi, ku yakin kau sudah mempelajari Jutsu Edo Tensei." Perkataan Nagato hanya di balas anggukan oleh Itachi, " Persiapkan dirimu, karena ada beberapa orang yang ingin aku bangkitkan." Yang lagi-lagi Itachi hanya mengangguk.
" Kisame, ku ingin kau membantu Itachi dalam mempersiapkan ritual Edo tensei. Beberapa tubuh yang ingin ku bangkitkan akan ku persiapkan." Kisame hanya memamerkan gigi tajamnya, sebelum akhirnya mengangguk.
" Dan bagaimana dengan ku, Nagato-sama?" Obito bertanya, yang kini kembali menjadi kekanak-kanakan. Nagato berpaling, dan menatap Sharingan Obito dengan Rinnegannya, membuat Obito terdiam.
" Kau, beritahu Madara tua, aku akan memenuhi permintaannya." Obito menyeringai di balik topeng spiralnya.
" Dengan senang hati, Nagato-sama." Dengan itu Obito menghilang dengan kamuinya.
...
Hanya berselang beberapa menit, hingga akhirnya Obito sampai di tempat persembunyian Madara tua. Dengan langkah kaki santainya, Obito mendekat ke arah dimana Madara mendudukan diri dan juga tengah menatapnya. Klon Zetsu tak mau kehilangan kesempatan akan informasi yang akan Ia dapatkan, untuk itu Ia muncul tepat di sisi Madara.
" Madara-sama, seperti yang anda inginkan, Nagato akan membangkitkan anda kembali dengan jutsu Edo Tensei." Obito berkata, membuat Madara tersenyum.
" Bagus. Dengan begini aku akan tenang." Madara berkata, yang tak lama kemudian Rinnegan Madara memudar seiring kepalanya yang menunduk sebelum akhirnya mati dalam keadaan terduduk.
Obito mengerutkan kening, dan tak mengerti apa yang terjadi. " Apakah dia mati?" tanyanya begitu saja.
Zetsu mengangguk, membuat Obito tersentak." Bagaimana mungkin Ia mati begitu saja?" Tanya obito tak percaya.
" Dia memutus koneksi chakra ku dengan tubuhnya, sebenarnya Ia bukanlah yang asli. Dia hanyalah jiwa yang memasuki klon ku. Dan sebenarnya, aku tercipta atas kehendak dan kegelapan hatinya." Obito tak bisa percaya apa yang di ucapkan Zetsu, " Dia mempercayakan semuanya padamu sekarang, dan untuk itu aku akan menjadi pengikut setiamu karena hal itu." Zetsu berkata lagi, menyembunyikan semua kebohongan tentang dirinya.
Obito hanya terdiam, sebelum akhirnya Ia menatap Zetsu. " Tapi, Madara memiliki Rinnegan. Aku dapat melihat aliran chakra pada matanya, walaupun itu lemah tapi bukankah Rinnegan dapat melakukan apapun sebagaimana cerita dalam sejarah?" Obito bertanya lagi.
" Untuk itu aku akan menjelaskannya." Zetsu memulai, " Rinnegan yang kau lihat pada mata Madara-sama, itu hanya hanyalah bagian kecil dari transformasiku. Sedangkan Rinnegan aslinya sudah di transplantasikan." Obito terkejut mendengar hal tersebut.
" Pada awalnya, Madara-sama mencampurkan sel Hashirama kedalam tubuhnya, hingga akhirnya Ia bisa membangkitkan Rinnegan dan aku tercipta. Namun mengingat tubuhnya terlalu lemah, Ia memutuskan untuk mentransplantasikan mata tersebut ke Nagato mengingat sel-sel gen Uzumaki cukup kuat hingga di katakan bahwa Uzumaki selalu memiliki umur panjang."
" Nagato? Apa yang kau maksud pemimpin Akatsuki?" Tanya Obito, dan hanya di balas anggukan oleh Zetsu.
" Bagaimana mungkin?" Obito tak percaya.
" Madara-sama tak punya pilihan saat itu, Ia lemah, untuk itu Ia memintaku mencari seorang anak yang memiliki darah Uzumaki yang kebetulan aku menemukan Nagato waktu itu. Ia menahan diri agar tetap hidup, walaupun raganya tak bisa berbuat lebih, Ia memaksa jiwanya untuk tetap di tempat dan menganggantikan tubuhnya dengan sel-sel ku. Sedangkan jasad aslinya, di awetkan dan saat ini berada di tangan Nagato. Ia melakukan itu semua, hanya agar ia dapat memastikan Nagato tetap berada di jalan yang sama dengannya." Jelas Zetsu, Obito mulai mengerti.
" Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Zetsu bertanya.
Obito menatap bentuk Zetsu yang sebelumnya menjadi raga Madara, sebelum akhirnya menatap klon Zetsu. " Kita hanya perlu menyelesaikan apa yang di rencanakan Madara-sama. Karena itu juga yang aku inginkan." Ucap Obito, yang hanya membuat Zetsu menyeringai dalam hati.
...
Satu bulan kemudian
Hari itu sangat cerah di dunia Shinobi, tapi itu bukan cerah sebagaimana seharusnya. Kecerahan tersebut ternyata mengakibatkan panas yang membuat tanah menjadi tandus bahkan hewan pun enggan untuk keluar dari persembunyian mereka. Namun panasnya matahari, tak berpengaruh bagi beberapa orang yang terlihat menyeringai.
" Matahari buatan telah selesai. Kita akan bersenang-senang." Toneri memulai pembicaraan.
" Meh, aku benci panas." Kisame berkata, namun tetap menyeringai ketika melihat pasukan boneka dan Zetsu putih terlihat memenuhi tanah gersang. " Apa jadinya jika berkhianat dan harus melawan pasukan sebanyak itu. Pasti sangat menantang." Pikirnya gila.
Tepat didepan Toneri, ratusan ribu pasukan boneka berbaris tak bergerak. Namun hanya tinggal menunggu waktu, sebelum Toneri mengaktifkan semua boneka tersebut. Toneri mendengus ketika memandang pasukan disebelah bonekanya, semua pasukan tersebut berwarna putih yang Ia ketahui dari klon Zetsu putih yang di kembang biakan.
" 800 Ribu...900 Ribu... Apa hanya ini pasukan yang kau punya?" Obito bertanya, sedikit mengejek.
Toneri menyeringai, "Yah, itu lebih baik. Dibanding memiliki pasukan lemah. Percuma memiliki jutaan Zetsu, jika mereka akan kalah hanya dalam sekali pukulan." Katanya, membiarkan Tenseigannya bersinar terang. Obito hanya mendengus mendengar hal tersebut. Di sisi lain, Nagato ternyata mendengar ucapan Toneri, ia marah, namun belum saatnya Ia membunuh Toneri.
Di dalam bumi atau lebih tepatnya didalam ruang bawah tanah wilayah Amegakure telah menjadi tempat bagi sebuah bola yang terus bersinar terang, jika di perhatikan lebih dekat bola besar bersinar tersebut ternyata terdiri dari jutaan pasang mata Byakugan. Bola itulah yang menjadi sumber kekuatan bagi Toneri untuk mengendalikan semua bonekanya.
Gulungan berisi jutsu ruang dan waktu ( portal ) Minato telah memberikan akses yang sangat berguna bagi Nagato yang mempergunakannya untuk dapat membantu Toneri dalam memindahkan sumber kekuatan dan pasukannya.
Tidak hanya pasukan boneka dan kumpulan dari mata Byakugan, tapi Toneri ternyata juga memasukkan matahari buatan dan semua yang Ia buat sewaktu di bulan kedalam bumi. Ia bisa saja membuat ulang semuanya menggunakan kumpulan mata Byakugan, namun itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Untuk itu, Ia memasukkan semua yang telah Ia buat ke bumi.
" Semua pasukan Edo Tensei sudah siap seperti yang kau minta, Nagato-sama." Nagato tersenyum mendengar laporan Itachi, sebelum akhirnya mengangguk dan mengalihkan tatapannya ke arah Zetsu.
" Zetsu, apa klon mu sudah mendapat informasi terbaru mengenai pasukan aliansi Shinobi?" Tanyanya.
" Ya, Nagato-sama. Jumlah mereka kurang lebih 5 juta pasang mata dan dari jumlah tersebut dibagi menjadi 5 kelompok dengan setiap kelompok memiliki pemimpin masing-masing. Saat ini mereka belum bergerak, mereka hanya berkumpul di perbatasan Kumogakure." Nagato mengernyit akan jumlah yang di utarakan Zetsu.
Nagato berpaling ke arah Toneri " ku harap pasukan kecilmu dapat bertahan melawan semua pasukan Aliansi, Toneri." Toneri menyeringai mendengar ucapan Nagato.
" Hanya tinggal beberapa saat hingga tenseigan ku sepenuhnya terbentuk, dengan itu aku bahkan tak memerlukan pasukan ku untuk menghabisi mereka semua." Ucap Toneri mempertahankan seringaiannya. Nagato hanya mengangguk, seakan kekuatan Tenseigan Toneri tak membuatnya takut sedikitpun.
" Sudah saatnya. Mulai detik ini, dunia akan berada di genggaman kita. Aku akan membuka portal penyerangan, Zetsu pastikan klon mu di perbatasan Kumo sudah siap dengan segel mereka." Nagato memberikan perintahnya, yang membuat Zetsu mengangguk dan Toneri mulai bermain dengan semua bonekanya yang Ia aktifkan.
…
Perbatasan Kumogakure.
Dua buah matahari juga tak luput untuk menyinari desa yang tersembunyi dalam awan tersebut, memberikan hawa panas bagi siapapun yang terkena sinarnya. Walaupun salah satu dari matahari tersebut adalah palsu, tapi tetap saja memberikan rasa yang hampir sama dengan matahari yang sebenarnya.
Akan tetapi, sepanas apapun matahari, pasukan Aliansi Shinobi masih tetap kuat dan bertekad untuk mendirikan tubuhnya dan berbaris untuk perang yang akan mereka jalani tak lama lagi. Begitu pula dengan lima orang yang berdiri di sebuah bangunan tinggi yang merupakan markas pusat dan menghadap lima baris pasukan besar di depan mereka.
Dari kelima orang tersebut memiliki tujuan atau divisi masing-masing. Divisi pertama di pimpin oleh Darui dari Kumogakure, yakni divisi pertempuran jarak menengah. Divisi Kedua di pimpin oleh Asuma dari Konohagakure, yakni divisi pertempuran jarak Dekat. Divisi ketiga di pimpin oleh Kitsuchi dari Iwagakure, yakni divisi pertempuran jarak dekat menengah. Divisi ke empat di pimpin oleh Temari dari Sunagakure, yakni divisi pertempuran jarak jauh. Dan yang terakhir, divisi kelima di pimpin oleh Mifune dari Tetsu no Kuni, yakni divisi khusus.
Jika dilihat dari penyusunan kelompok, semua sudah tersusun rapih. Bahkan terdapat divisi pendukung seperti divisi serangan kejutan, logistic dan medis, intelijen hingga sensor yang akan membantu jalannya perang nanti. Dan semua itu di pimpin oleh para kage dari kelima desa yang berada di dalam bangunan tinggi yang ternyata baru dibuat khusus menjadi markas utama pasukan aliansi.
" Aku menghargai Konoha karena ikut andil dalam perang ini, walaupun kurang akan sumber daya manusia. Tapi dengan mu disini, ku harap kemampuanmu senilai dengan kuantitas kami." Shikaku mendesah mendengar ejekan tak langsung dari kage tua, Ohnoki.
Disisi lain, " Huft! Disini sangat panas! Persetan dengan matahari palsu itu!" Kankuro menggerutu, sebelum akhirnya menatap Ohnoki dengan seringaiannya. " Kami disini untuk bekerja sama, orang tua. Bantuan sekecil apapun sangat diperlukan dalam perang." Kankuro dengan sesuka hati menyebut Ohnoki tua, sedangkan Shikaku hanya terdiam.
" Beraninya kau berkata seperti itu pada ku, dasar bocah ingusan!" Ohnoki marah dan hampir terbang untuk meninju Kankuro, namun raikage A ternyata menahannya.
" Selesaikan urusan kalian nanti, saat ini kita harus menghabisi musuh yang sebenarnya." A berkata, Ohnoki masih marah namun mengangguk memahami situasi sebelum akhirnya mendudukan dirinya kembali. A kemudian beralih ke arah Kankuro, " Sabaku-dono, biasanya aku yang selalu lepas kendali, tapi mengingat situasi dan keselamatan B, aku mencoba menahan amarah ku. Jadi sebagai Kage baru dari Suna, seharusnya kau bisa menjaga sikap mu." Kankuro bagaimanapun mengerti akan ucapan Raikage, untuk itu Ia mengangguk.
" Dan anda Nara-dono." A beralih ke Hokage baru Konoha, " Jangan kecewakan kami." Ucapnya lagi, membuat Shikaku kembali menghela nafas.
" Mendokusei." Pikir Shikaku, sebelum akhirnya menatap peta yang terbentak di depannya.
Butuh beberapa menit bagi Shikaku menyimpulkan Strategi apa yang cocok bagi mereka dalam perang kali ini, hingga akhirnya Shikaku menetapkan pilihannya dan hendak berbicara namun harus terhenti Karena teriakan yang berasal dari divisi sensor yang dipimpin oleh Ao.
" Ini tidak mungkin! Ledakan chakra cukup besar terjadi tak jauh dari sini!" Ao berteriak, Shikaku dan ketiga kage lainnya tersentak dari duduknya dan seketika berdiri untuk melihat gelombang besar muncul dari gelembung sensor yang di buat divisi sensor.
" Inochi hubungi semua komadan pasukan, cari informasi apa yang menyebabkan ledakan chakra itu." A berkata, Inoichi tetap diam namun Ia ternyata sedang bertelepati dengan semua komandan.
Hanya beberapa saat bagi Inoichi untuk mengetahui apa yang terjadi berdasarkan para komandan. " Ledakan tersebut berasal dari portal yang mengeluarkan ribuan pasukan Zetsu putih. Musuh telah menyerang!"
A dan Ohnoki menggeram marah, mereka tak menyangka musuh langsung menyerang secara membabi buta seperti ini. " Tunggu apa lagi! Serang mereka kembali!" A berteriak marah.
" Tunggu." Belum sempat Inoichi kembali memberitahukan pada para komandan, Shikaku menghentikannya.
" Dalam 20 menit pasukan akan melakukan kontak fisik." Inoichi berkata, meneruskan apa yang di ucapkan salah satu komandan perang. Ohnoki menatap Nara tajam, " Tunggu apa lagi, Nara! Kita harus menyerang kembali!" Teriak Ohnoki, Shikaku hanya terdiam dan memejamkan matanya.
Lima menit telah berlalu, hingga akhirnya Shikaku membuka matanya dan tersenyum.
" Inoichi, hubungkan aku dengan kelima pemimpin divisi diluar." Shikaku berkata, yang dalam hitungan detik Inoichi dengan bantuan dari 'alat transmisi chakra' langsung terhubung dengan kelima orang yang Ia ingin informasikan.
" Sudah terhubung." Inoichi meletakkan tangannya pada kepala Shikaku, dan detik itu juga kelima pemimpin divisi di luar bangunan memfokuskan pikirannya untuk mendengar suara baru yang ada di pikirannya.
….
Diluar bangunan, ke lima komandan perang mulai menatap semua pasukan di divisi masing-masing. Rencana Shikaku tercetak di kepala masing-masing komandan yang mulai berlari kedepan divisi masing-masing.
Pasukan Zetsu putih terus saja bermunculan dari portal, hal tersebut tentu membuat semua pasukan aliansi Shinobi hampir tak siap untuk mengantisipasi serangan tersebut. Tak ada pilihan bagi mereka, bertahan adalah pilihan utama saat ini. Mereka tahu hanya dengan sekali pukulan, para zetsu tersebut akan mudah dikalahkan. Akan tetapi pasukan Zetsu yang terus bermunculan, membuat mereka bertanya-tanya berapa banyak jumlah mereka sebenarnya. Hingga akhirnya, mereka melihat ke lima komandan mereka berlari kedepan barisan masing-masing.
" Divisi empat! Ikuti aku!" Temari berteriak saat Ia berlari ke arah pasukan Zetsu dan berhenti 1 kilometer lebih dekat dengan divisi satu, dua dan tiga serta masih berjarak 5 kilometer dari musuh. " Bentuk formasi! Keluarkan semua yang kalian punya! Jangan biarkan mereka semakin mendekat!" dan dengan cepat pula semua pasukan divisi empat yang merupakan petarung jarak jauh membentuk formasi atau dengan kata lain berbaris rapih.
Disisi lain, " Divisi satu! Bentuk posisi! Singkirkan musuh yang berhasil melewati batas jarak serangan divisi empat!" Darui juga berteriak, memberikan instruksi yang dengan cepat semua pasukan divisi satu berbaris tak jauh di belakang barisan divisi empat karena bagaimanapun pasukan divisi satu dapat melakukan serangan jarak menengah yang dapat membantu pasukan divisi empat jika memang divisi empat tak kuat menahan semua pasukan Zetsu.
" Divisi dua! Bentuk parameter di sekitar bangunan! Keamanan markas utama adalah mutlak! " Asuma berteriak ketika Ia menginjak rokoknya, memberikan intruksi bagi divisi kedua yang merupakan petarung jarak dekat untuk mengitari bangunan dimana para kage dan divisi intelijen serta sensor berada.
" Divisi tiga! Lapisi parameter divisi kedua! Perkuat pertahanan!" Kitsuchi berteriak, yang seketikanya berlari menuju posisinya diikuti oleh semua pasukan divisinya yang kini mulai berlari dan mulai menetapkan posisi mereka untuk melapisi divisi dua.
" Divisi Lima! Jaga semua pintu masuk bangunan!" Mifune berteriak, yang langsung diikuti oleh pasukan shinobi khususnya (samurai). Dengan menjentikan Jari pada samurainya, Mifune yang kini berdiri di depan pintu siap kapanpun menarik samurainya keluar mencari darah.
Semua divisi telah berada di posisi masing-masing, dan mulai bersiap untuk apapun yang akan mereka hadapi. Namun dalam hal ini pasukan divisi empatlah yang pertama kali akan kontak fisik dengan musuh.
" Divisi satu, siap!"
" Divisi dua, siap!"
" Divisi tiga, siap!"
" Divisi empat, siap!"
" Divisi lima, siap!"
Semua komandan pasukan dari tiap-tiap divisi melaporkan pergerakkan mereka pada Shikaku yang masih bertelepati dengan mereka.
…
Kembali dimana Shikaku yang menyeringai kecil, " Pertahankan barisan." Katanya, yang dibalas 'hai' dari semua komandan perang. " Inoichi, tolong hubungkan aku dengan Sakura Haruno."Pinta Shikaku, tepat setelah telepatinya dengan para komandan terputus.
" Terhubung." Inoichi berkata.
" Sakura." Suara Shikaku menyentakkan Sakura yang sedang mempersiapkan peralatan medis di dalam bangunan.
" Siapa ini?" Tanya Sakura ragu.
" Shikaku. Maaf mengejutkanmu. Aku yakin kau memiliki cara untuk menghubungi Sasuke, bukan begitu?" Tanya Shikaku, membuat Sakura mengerutkan kening.
" Bagaimana anda tahu, Nara-sama?" tanya Sakura.
" Hanya menebak." Shikaku yakin, tak ada kekasih yang begitu saja melepas kekasih nya dan mempercayakan kekasihnya pada orang lain hanya dengan sebuah gulungan. Dan beruntungnya, ternyata pikirannya memang benar. " Bisakah kau menghubunginya untuk ku? Ada hal yang harus ku informasikan padanya." Shikaku meminta, Sakura disisi lain tahu ini pasti ada hubungannya dengan serangan dadakan yang dilancarkan Akatsuki.
" Baik. Apa yang harus ku sampaikan padanya?" Shikaku tersenyum dan mulai memberitahu Sakura apa yang Ia ingin katakan pada Sasuke.
….
Shinzen no Kuni,
Sasuke sadar bahwa ada dua matahari yang menyinari bumi, namun Ia hanya mengangkat bahu. Ia tahu matahari itu buatan, dan kapanpun Ia yakin bisa menghancurkannya. Dua minggu lalu Sasuke telah kembali ke Shinzen no Kuni hanya untuk melihat Naruto tengah bermesraan dengan Hinata, yang hanya membuatnya jengkel, tapi setidaknya Ia sudah sedikit mendapatkan apa yang Ia inginkan dari kekasihnya bulan lalu.
" Ehem." Sasuke berdehem, membuat Naruto dan Hinata tersentak dan berpaling hanya untuk melihat wajah datar Sasuke.
" Kau selalu mengganggu kesenanganku, teme!" Naruto berteriak, Sasuke hanya mendengus. Sedangkan Hinata hanya memerah, sebelum akhirnya bangkit dari duduknya bersama dengan Naruto.
" Maaf, jika kami membuatmu tak nyaman Sasuke-kun." Hinata meminta maaf, mendapat anggukan dari Sasuke.
" Wh-what! Kau tak harus meminta maaf, hime. Teme ini lah yang harusnya meminta maaf karena menganggu kita!" Naruto berteriak jengkel, dan mulai mengacungkan tinjunya didepan Sasuke.
" Dobe, it's still Dobe." Sasuke berkata, membuat perempatan pada dahi Naruto semakin jelas terlihat. Hinata hanya terkikik geli, walaupun Ia tak mengerti ucapan Sasuke dan hanya mengerti arti kata 'Dobe', tapi tetap saja lucu ketika melihat kekasihnya selalu bertengkar dengan Sasuke.
" Ohoo… Said again. And you will die!" Naruto berkata diiringi dengan gerakan tangan seakan-akan menggorok lehernya sendiri.
" Dobe." Kata Sasuke santai, Cukup sudah, Naruto hendak meninju Sasuke, namun di hentikan oleh Hinata yang menggenggam lengannya erat.
" Sudah Naruto-kun. Ku yakin ada yang ingin di bicarakan oleh Sasuke-kun." Hinata mencoba menenangkan Naruto, sebelum berpaling ke Sasuke. " Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan, sampai kau kesini menemui kami, Sasuke-kun?" tanya Hinata halus.
Sasuke tersenyum, sebelum menatap Naruto. " Nah, You're lucky Dobe. Because you have a smart girl to help you fool." Katanya, sambil menunjuk Hinata.
Sasuke kembali menatap Hinata yang masih menahan Naruto dari memukul Sasuke, " Aku kesini hanya ingin mengetahui apakah kita akan masuk kedalam perang lebih awal atau di pertengahan perang? Itu saja." Sasuke berkata, Hinata hanya memberikan 'oh' sebagai jawabannya.
" Kita akan masuk kedalam perang setelah pasukan Shinobi hampir kalah. Itu saja, kau bisa pergi sekarang!" Naruto menjawab pertanyaan Sasuke dengan cepat.
Sasuke mengangkat bahu sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya untuk pergi, namun langkahnya terhenti karena lingkaran biru yang merupakan alat komunikasi di telapak tangannya bersinar. Sasuke memfokuskan chakranya untuk menerima panggilan telepati dari orang yang sangat Ia tahu.
" Sakura?" Sasuke berkata, Naruto dan Hinata seketika memfokuskan pendengarannya ketika mendengar Sasuke menyebutkan nama Sakura.
" S-Sasuke-kun." Sasuke dapat mendengar tangisan Sakura.
" Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya, menyipitkan matanya.
" To-tolong. *Hiks* Me-Mereka menyerang. *Hiks* Ka-kami terkepung." Mendengar Sakura menangis terlebih berada dalam bahaya, membuat tangan Sasuke mengepal.
" Katakan, dimana posisimu sekarang?" Tanya Sasuke cepat.
" K-Kumogakure." Jawab Sakura terus menangis, " Bertahanlah, aku akan kesana secepat mungkin." Sasuke berkata, yang setelahnya memutuskan komunikasinya.
Sasuke berpaling ke arah Naruto dan Hinata yang menatapnya penasaran. " Aku akan ke Kumogakure sekarang. Sakura terkepung. Dengan atau tanpa kalian, aku akan masuk kedalam perang." Sasuke berkata yang setelahnya mengaktifkan Fumetsu mangekyou Sharingannya, seiring Susano'o terbentuk sempurna menyelubungi tubuhnya dan langsung terbang menuju ke arah Kumogakure berada.
Naruto yang mendengar dan melihat Sasuke pergi, mengeratkan rahangnya. " Hime, kita kembali ke kastil. Siap atau tidak, kita akan masuk kedalam perang lebih awal dari seharusnya." Naruto berkata, mendapat anggukan dari Hinata.
Tak butuh lama bagi Naruto dan Hinata untuk sampai di kastil dan langsung disambut oleh Orochimaru yang tengah memeriksa peralatan perang. " Oh… halo, Naruto-kun." Sapa Orochimaru.
" Orochi, persiapkan peralatan dan panggil semua anggota. Kita akan berangkat berperang sekarang." Ucap Naruto, sukses membuat Orochimaru melebarkan matanya, sebelum akhirnya Orochimaru menyeringai dan mengangguk.
….
Sementara itu, kembali ke sebuah bangunan yang merupakan markas utama pasukan aliansi Shinobi. Sakura harus merengut setelah Ia selesai berkomunikasi dengan kekasihnya, " Mengapa aku harus berakting seperti itu, Shikaku-sama? Aku tak ingin Sasuke marah pada ku saat Ia sampai disini." Katanya mempertahankan cemberutnya.
" Yah… Karena dengan begitu, Sasuke bisa dengan cepat sampai disini dan kita bisa mengurangi jumlah korban." Shikaku menjawab Sakura, masih dengan telepati yang memang tak pernah terputus.
Sakura mengerti, tapi tetap saja Ia masih tak terima karena Ia telah membohongi kekasihnya. Namun, sepertinya Sakura memang harus bersyukur Karena Ia telah meminta Sasuke untuk segera datang, karena ia dapat mendengar ledakan demi ledakan yang sepertinya mulai mendekat ke arah bangunan.
...
## CONTINUED ##
Terima kasih karena senpai sekalian sudah setia membaca dan review fict saya...
Maaf jika kurang memuaskan untuk chap ini. So, please review and jangan lupa Fav dan Foll ya... agar saya semangat untuk melanjutkan fict ini...
Sekali mohon reviewnya agar menambah semangat saya dalam menulis fic ini. Baik itu Judge, saran ataupun Kritik pasti akan tersaring dalam otak saya. Karena biar bagaimanapun nilai fic ini bagus atau tidaknya tergantung seberapa banyak review, Fav & Fol senpai sekalian... Hehe...:)
Naruto : 18 Tahun ( Kembali kekal setelah membuat duplikat Shusseigan )
Sasuke : 18 Tahun ( Takkan pernah menua seiring bertambahnya usia )
Kakashi : Tetap diusia 28 saat mendapat keabadian
Hiruzen : 32 Tahun ( kembali muda dari yang seharusnya setelah mendapat keabadiannya )
Ryuu : 35 Tahun ( kembali muda dari yang seharusnya setelah mendapat keabadiannya )
Orochimaru : 28 Tahun ( kembali muda dari yang seharusnya setelah mendapat keabadiannya )
Kabuto : Walaupun hanya pelayan setia dari Orochimaru dan Ryuu, Ia pantas menerima keabadian dan bertahan di usia yang sama dengan kakashi yakni 28 Tahun.
Tsunade : 17 Tahun ( Setelah operasi yang dilakukan Naruto)
Jiraiya : 17 Tahun ( Setelah operasi yang dilakukan Naruto)
Hinata : 17 Tahun ( Takkan pernah menua seiring bertambahnya usia )
Terima kasih atas review readers senpai sekalian, saya sangat membutuhkan review readers senpai sekalian karena bisa menjadi kritik dan saran yang berguna untuk saya. Ditunggu reviewnya ya...
Mohon maaf jika masih ada penulisan yang salah atau hal-hal lain yang tak berkenan.
Thanks Mina,
Link Off.
