Tittle : Love or Lust

Author : Momo

Genre : Romance, Drama, etc.

Pairing : SasuNaru, KakaIru, etc.

Rate : M

Warnings! : Yaoi, OOC, typos, LEMON,HardYaoi (may be), pendek, update lama, etc.

Disclaimer : Masashi Kishimoto.

A/N: Holaaa, minna-tachiiii~~~

Setelah perjuangan yang cukup berat di chap kemarin, Momo bener-bener lega! Ternyata banyak

yang puas atas hasil otak pas-pasan Momo. Dengan begini 'Love or Lust' mulai mendekati chapter

final! *Banzaaaaai~~~* (perkiraan Momo sekitar 2 ato 3 chap lg!) FYI, Momo tipe orang yang

gampang bosen, pas blm kenal lappie ama ffn, Momo biasa nulis dua jenis novel dengan genre

berbeda dalam waktu bersamaan, horror dan romance. Hasilnya, butuh satu tahun lebih untuk

menamatkan semuanya (gara2 itu Momo sering didemo ama temen2 yg nunggu lanjutnya ).

Karena itu jgnlah kaget kenapa Momo kadang malah ngepost fic oneshot baru dan dengan

santainya 'mangkir' dari fic ini :P

Yup, segini dulu ngobrolnya.

Chapter 25, douzo…

"Who can make a rule for people who are in love. Love itself is the gratest rule of all" (Voetius)

Tetesan air hujan mulai berkurang. Kilatan cahaya fajar diufuk timur menandakan pergantian hari yang baru. Awan gelappun mulai menghilang, memberi ruang bagi sang mentari untuk bersinar. Meski keadaan masih cukup gelap, hal ini tak menyurutkan para burung-burung kecil untuk meninggalkan sarangnya seraya bernyanyi riang.

Sakura melangkah perlahan keluar dari gua. Udara pagi yang masih bercampur embun menyambutnya. Gadis berambut merah muda itu tak menyangka akan menemui pagi yang sejuk dan setenang ini setelah pertempuran semalam. Beberapa kali ia mendengar ledakan dari dua tempat berbeda hingga menggetarkan dinding gua tempatnya berlindung bersama Naruto, Shizune, dan Yamato. Tiba-tiba sepasang emeraldnya memandang sedih kearah jalan setapak dimana ia dan 3 Shinobi Konoha lainnya meninggalkan Sasuke sendirian. Meski ia sempat sangat marah pada pemuda itu setelah semua perbuatannya pada Naruto, tapi Sakura tidak dapat berhenti menghawatirkannya. apalagi rasa khawatir itu juga dapat dilihatnya pada diri Naruto. Entah disadarinya atau tidak, rasa sayang Naruto pada Sasuke jauh lebih besar dari pada kebenciannya.

"Sakura!"

Sakura mendongakkan kepalanya. Tampak Kakashi, Sai, Neji, Asuma, dan Shikamaru berlari menghampirinya. Senyum lebar segera menghias wajahnya.

"Bagaimana keadaan Naruto?" tanya Kakashi.

"Naruto baik-baik saja, tapi Sasuke sendirian melawan Madara!" seru Sakura.

"Hm… seperti dugaanku, manusia merepotkan itu selalu ingin bertindak sendiri" ujar Shikamaru.

"Kakashi, sebaiknya kita segera menyusul Sasuke" Asuma mengusulkan.

Pria yang mengenakan masker disebagian wajahnya itu mengangguk mengiyakan.

"Sakura, kami mendapatkan pesan dari Hokage untuk membawa tubuh Madara, hidup atau mati, menurutnya ia bisa menyelamatkan Itachi dengan tubuh Madara"

"Benarkah?!"

"Tapi aku ingin kau rahasiakan ini dari Naruto. Kita masih belum tahu apakah metode yang ditemukan nona Tsunade akan berhasil atau tidak"

"Aku mengerti"

"Baiklah, kami pergi menyusul Sasuke dulu. Tolong jaga Naruto, Sakura" sahut Neji sebelum pergi menuju hutan.

"Pasti"

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

Kakashi dan keempat Shinobi Konoha itu melaju cepat melewati pepohonan rimbun didalam hutan. Suasana asri dan hijau yang awalnya menemani langkah mereka mulai berubah menjadi miniatur Neraka yang mengerikan. Batang-batang pohon bertumbangan, tidak sedikit yang masih digerogoti oleh kobaran api yang menyala merah, asam yang mengepul berwarna kelabu pekat terasa menyesakkan dada, aroma bangkai heawan-hewan yang turut terpanggang semakin menambah kengerian.

Asuma menelan ludah, ia bisa membayangkan betapa dahsyatnya pertempuran di area ini. Disatu sisi ia sangat penasaran bagaimana pertempuran dua orang dari klan Uchiha itu, namun disisi lain ia bersyukur tidak berada ditempat ini. Karena mungkin dirinya tidak akan selamat jika berada dalam tempat yang sama dengan Madara dan Sasuke.

Tidak beberapa lama kemudian kelima Shinobi itu akhirnya tiba disebuah tanah lapang. Pohon-pohon yang hancur bertumbangan disekitarnya, tidak sedikit dari mereka yang tinggal berupa serpihan-serpihan kecil. Puluhan shuriken dan kunai berserakan diatas tanah yang gembur bersama cipratan darah yang mulai mengering.

"Sasuke!"

Suara teriakan Kakashi membuyarkan lamunan keempat Shinobi lainnya. Mereka segera mengikuti Kakashi yang telah berlari lebih dulu menuju ke tengah-tengah tanah lapang.

Dari jauh tampak sosok pemuda tengah terduduk diatas tanah. Bagian belakang pakaiannya terkoyak, rambut hitam kebiruannya jatuh menutupi wajahnya. Tapi bukan itu yang membuat para Shinobi Konoha ini bergidik ngeri, melainkan sosok lain yang terbaring kaku dihadapan pemuda itu. Sosok yang dikenal mereka sebagai Madara itu terlihat begitu menyedihkan. Luka didadanya terkoyak lebar, sementara jantungnya yang sengaja dikeluarkan dari tempatnya tercincang tepat didekat tubuhnya, kedua matanya masih terbuka dengan bercak darah yang telah mengering, sebuah katana berwarna hitam legam masih tertancap diperutnya.

Sai bisa merasakan tubuhnya yang menggigil. Selama menjadi ANBU di Ne, ia tidak pernah melihat kondisi mayat semengerikan ini. Keadaan semakin terasa tak menyenangkan ketika ia menyadari kalau sang pembunuh berada tak jauh darinya.

"Sudah selesai…" terdengar suara Sasuke menggumam pelan, "dia tidak akan kembali lagi… dia tidak akan bisa menyakiti Naruto dan yang lainnya lagi…"

Kakashi menjadi orang pertama yang memberanikan diri untuk mendekati Sasuke. Ia menepuk pelan bahu sebelah kanan pemuda itu.

"Ya, semuanya sudah selesai. Semuanya akan baik-baik saja sekarang"

Hanya kalimat-kalimat penenang seperti itu saja yang bisa terucap dari bibir Kakashi.

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

Mentari semakin tinggi. Cahayanya menghangatkan hutan yang dingin. Nyanyian burung kecil dan suara hewan-hewan hutan lainnya menambah semarak kehidupan didalamnya. Menandakan kehidupan masih dapat ditemui didalam hutan ini setelah pertempuran dahsyat semalam. Entah bagaimana makhluk-makhluk tuhan yang terlihat lebih lemah daripada manusia itu dapat bertahan hidup, sungguh tuhan begitu adil.

Rombongan Shinobi asal Konoha itu bergerak cepat menembus rimbunnya hutan. Mereka memang masih kelelahan setelah pertempuran panjang kemarin. Namun rasa rindu akan 'rumah' memaksa kaki-kaki mereka untuk terus berjalan. Semilir angin sejuk turut mengiringi para Shinobi itu, raut wajah penuh kelegaan terpancar jelas menghias wajah mereka.

Sakura menggenggam tangan Naruto lebih erat, memastikan kalau sahabat yang telah dianggapnya sebagai saudara sendiri itu masih berada disampingnya. Naruto tersenyum kecil menanggapi sikap Sakura. Namun ketika iris birunya mengarah pada sosok lain yang berjalan tidak jauh dari tempatnya… senyum itu lenyap seketika. Meski sedikit, Naruto masih memendam amarah dan kebencian pada orang yang namanya sudah lama ia lupakan. Melihat pemuda bermarga Uchiha itu berjalan tertatih-tatih sambil sesekali bersandar pada batang pohon terdekat, raut kelelahan napak jelas diwajah tampannya, tapi tak sedikitpun ia mengeluh. Sudah 3 jam sejak mereka berjalan dari tempat persembunyian, sudah sewajarnya jika mereka merasa kelelahan.

"A.. anou… apa kita bisa istirahat sebentar?"

Suara Naruto menghentikan langkah rombongan Shinobi itu.

"Ah maaf aku tidak memperhatikanmu, apa kau lelah Naruto?" tanya Kakashi.

Naruto mengangguk pelan.

"Naruto benar, istirahat sebentar tidak akan menghabiskan waktu" sahut Shikamaru.

"Baiklah, kita istirahat 20 menit!" seru Kakashi.

Para Shinobi itu segera mencari tempat masing-masing untuk sekedar menyandarkan punggung yang kaku. Meski keinginan untuk sampai ditempat tujuan amat besar, tapi mereka tidak dapat membohongi jeritan tubuh mereka yang kelelahan. Naruto mengambil tempat disamping Sakura. Tepat 2 meter dihadapannya, tampak Sasuke tengah bersandar dibatang pohon. Naruto tidak dapat menyembunyikan senyum penuh kelegaan saat melihat sosok itu tampak tenang. Kedua iris onyxnya terpejam, dadanya bergerak naik-turun dengan teratur, alur nafasnya semakin stabil. Naruto tidak tahu jika gadis berambut merah muda disampingnya diam-diam memperhatikan, segaris senyuman menghiasi pemilik iris emerald itu.

.

.

.

.

.

20 menit berlalu begitu cepat. Para Shinobi yang nampak lebih segar segera bangkit dari tempat mereka setelah Kakashi, yang ditunjuk sebagai ketua tim, menginstruksikan mereka untuk melanjutkan perjalanan ke Konoha.

Baru selangkah Naruto melangkahkan kakinya, tiba-tiba seluruh otot ditubuhnya menegang. Disusul dengan rasa perih yang membakar diarea perutnya. Sontak kedua tangan Naruto merangkul perut besarnya. Kulit coklat madunya perlahan berubah merah seakan ada bara api yang sedang membakar didalam tubuhnya.

Sakura yang menyadari kejanggalan pada Naruto segera memeriksa nadi dipergelangan tangan pemuda itu, namun ia langsung menarik tangannya menjauh setelah merasakan 'panas api' yang membakar kulit Naruto.

"Semuanya BERHENTI!"

Rombongan yang dipimpin tim Kakashi reflek menghentikan pergerakan mereka.

"Ada apa Sakura?" Neji bertanya. Ia tidak suka dengan ekspresi yang nampak amat menghawatirkan itu.

"Naruto akan segera melahirkan!"

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

Tap.. tap.. tap.. tap..

Tap.. tap.. tap.. tap..

Tsunade meletakkan alat tulis yang dipegangnya. Menghela nafas panjang. Kedua iris coklat madu itu menatap tajam sosok laki-laki yang kini tengah berjalan berputar-putar didepan meja kerjanya.

"Iruka… aku mengerti kalau kau khawatir, tapi… BISAKAH KAU BERHENTI BERPUTAR DIDEPANKU!?"

Laki-laki itu bergidik, pasalnya ia merupakan satu dari sedikit orang yang amat sangat jarang mendapatkan 'teguran' dari sang Hokage. Tapi perasaan itu segera menghilang dan kembali digantikan dengan rasa khawatir yang sebelumnya memenuhi kepalanya.

"Kenapa anda bisa begitu tenang, Hokage-sama?!" protes Iruka.

Untuk yang kesekian kalinya, Tsunade menghela nafas panjang. Jemari lentiknya memijat pelan keningnya yang terasa berat.

"Aku bukannya sedang tenang Iruka… tapi setidaknya dengan kematian Madara, Kakashi dan yang lainnya sudah dalam status aman" jelas Tsunade.

Iruka terdiam sejenak. Laporan dari tim yang dipimpin Kakashi tentang kematian Madara dan keadaan Naruto memang telah memberi sedikit kelegaan bagi Tsunade, Iruka, dan teman-teman mereka yang ada di Konoha. Tapi setelah lebih dari 7 jam sejak laporan terakhir, baik Kakashi atau anggota timnya yang lain belum juga memberi kabar. Hal ini tentunya membuat Iruka amat khawatir, apalagi mengingat keadaan Naruto yang sedang hamil besar. Tsunade memang telah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan jika ada sesuatu yang terjadi pada Naruto diperjalanan. Tapi perasaan khawatir ini tidak dapat ditahan lagi.

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

"AAAAAAAGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHH!"

Jeritan Naruto dengan segera mendominasi sunyinya hutan. Chakra berwarna oranye kemerahan menguar dari seluruh bagian tubuhnya, hal ini tak pelak membuat para hewan penghuni hutan yang berada disekitar kelompok itu pergi menjauh.

"Neji, cari air! Kakashi dan Asuma, buat api unggun! Yamato, segera buat 'tenda'! yang lainnya, sebaiknya kalian menyingkir dari tempat ini" perintah Shizune.

"Maksudmu anak itu akan melahirkan disini?! Tidak bisakah dia menunggu sampai Konoha?!" seru Raikage histeris.

"Tidak bisa!" balas Shizune, "lagipula kita tidak tahu apakah Kyuubi bisa ditahan atau tidak. Dengan berada cukup jauh dari Konoha, kita bisa meminimalisir kerusakan" jelasnya.

Killer Bee menepuk pundak Raikage dari belakang. Pria berambut putih dan berkulit gelap itu berbalik menghadap sang adik dengan wajah kesal.

"Hey Brother, sepertinya ada pertanyaan yang kurang" ujarnya.

"Apa?!"

"Naruto itu laki-laki~ bagaimana dia melahirkan bayi~"

Raikage terdiam, namun ia membenarkan ucapan Bee.

"Kami akan melakukan prosedur caesar untuk mengeluarkan bayinya" sahut Shizune cepat.

Raikage dan Bee mengangguk pelan.

"Kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi… CEPAT PERGI DARI SINI!" teriak perintah Sakura.

Tanpa banyak bertanya lagi, Raikage dan Killer Bee segera angkat kaki dari tempat itu.

Sasuke yang berada tak jauh dari tempat Naruto segera menghampiri pemuda yang tengah dilanda rasa sakit. Tampak Sakura dan Shizune kesulitan menangani Naruto, pasalnya chakra Kyuubi yang 'mengalir' keluar dan menyelimuti hampir setiap inci tubuh Naruto membuat kulit pemuda itu menghantarkan hawa panas yang mampu membakar kulit orang yang menyentuhnya.

"Sasuke, kau harus mengendalikan Kyuubi didalam tubuh Naruto!" perintah Shizune, "kami tidak akan dapat menolong Naruto jika keadaannya tetap seperti ini"

Sasuke mengangguk cepat. Ia segera duduk bersimpuh disamping tubuh Naruto. Perlahan, ia memeluk separuh tubuh Naruto, lalu mendekatkan kepalanya sedekat mungkin dengan kepala Naruto setelah sebelumnya mengaktivkan Sharingan dikedua matanya. Rasa panas yang mulai membakar permukaan kulit tak dipedulikan Sasuke. Keselamatan Naruto dan sang jabang bayi menjadi prioritas utamanya.

"Naruto… kumohon bukalah matamu…" bisik Sasuke lembut.

Mengerang pelan, Naruto membuka kedua matanya perlahan. Ia tak dapat menyembunyikan rasa terkejut dari wajahnya saat mendapati kalau sosok Sasuke berada begitu dekat dengannya, namun Naruto tak dapat menolak, chakra Sasuke yang bercampur dengan miliknya terasa sangat nyaman. Naruto juga tahu kalau saat ini Sasuke ingin membantunya. Meski kenangan buruk itu masih menghantui, Naruto berusaha menahannya. Demi bayinya…

"Uughh…. 'suke…."

"Naruto, aku ingin kau terus menatap mataku. Aku harus menemui Kyuubi, lalu Sakura akan menolong bayi kita. Kau bisa?"

Naruto mengangguk pasrah.

.

.

.

.

.

Suara auman Kyuubi menggetarkan dinding-dinding beton yang menjadi penjaranya. Genangan air turut bergetar tak tenang. Disudut ruangan, tampak sosok Naruto yang tengah meringkuk menahan sakit diperutnya akibat kontraksi yang bertubi-tubi.

Tanpa banyak basa-basi lagi, Sasuke segera mengambil gulungan segel yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh Itachi. Pemuda bermarga Uchiha itu berdiri tepat ditengah-tengah ruangan didepan 'penjara' Kyuubi. Kedua Sharingannya berputar cepat. Lalu ia mengunci gerakan sang rubah berekor 9 itu segera saat pandangan keduanya bertemu.

"GROOOAAAGHHH! Uchiha sialan! Mau apa kau kesini?!"

"Bukannya sudah jelas?"

Chakra berwarna biru menguar menyelimuti terali besi milik Kyuubi. Nampak Sharingan dikedua mata sang rubah menjadi penanda kalau ia telah sepenuhnya dikendalikan Sasuke. Perlahan namun pasti chakra Kyuubi mulai meredup, rubah itu tampak tenang meski raut kekesalan masih tercetak jelas diwajahnya. Untuk kesekian kalinya 'anak' dari klan Uchiha mengendalikan tubuh dan chakranya, hal yang bahkan Minato dan Kushina tak bisa lakukan. Jadi tidaklah salah kalau Kyuubi menyatakan kalau kekuatan anggota klan Uchiha lebih terkutuk dibanding miliknya.

"Padahal Madara akhirnya mati… dan aku memiliki kesempatan untuk bisa bebas…" suara seraknya berbisik lirih. Namun Sasuke dapat mendengarnya cukup jelas.

Chakra berwarna biru milik Sasuke yang menyelimuti terali besi penjara Kyuubi 'mengeras', membentuk lapisan berupa batu yang memperkuat terali besi yang sebelumnya mulai retak.

"Aku hanya menginginkan keselamatan untuk Naruto dan bayi kami… jika ada cara untuk membebaskanmu tanpa melukai mereka berdua, aku tak akan ragu untuk melakukannya.."

Tubuh Kyuubi terbujur lemah diatas lantai, sementara terali besi yang memenjarakannya terbentuk semakin kuat.

Tubuh Sasuke jatuh tersungkur diatas genangan air. Kehilangan chakra yang cukup besar membuat tubuhnya kehilangan tenaga.

"Sasuke!"

Suara teriakan Naruto membangkitkan semangat Sasuke. Dengan susah payah pemuda itu berusaha menegakkan kembali tubuhnya. Raut kelelahan terlihat jelas diwajah tampannya. Ini sudah melampaui batas kekuatan Sasuke.

Mengandalkan sisa-sisa tenaganya, Sasuke berjalan menghampiri Naruto yang masih duduk meringkuk disudut ruangan. Kedua saphirenya tak bergeming menatap sosok Sasuke.

"Tidak apa-apa… semuanya sudah selesai…" dua kalimat itu meluncur lembut dari bibir Sasuke. Sementara tangan kanannya terulur dihadapan Naruto.

Pemuda bersurai pirang itu hanya terpaku melihat tangan Sasuke yang terulur kepadanya. Logikanya memaksa untuk tidak menyambut tangan yang sudah berkali-kali menyakitinya, menorehkan luka yang tidak sedikit di tubuh dan memorinya, tapi sekali lagi… hatinya berkata lain. Sasuke telah menduduki singgasana tertinggi didalam hatinya, ia terlalu berarti untuk dilupakan Naruto.

Meski masih diliputi banyak keraguan, Naruto akhirnya meneguhkan hati untuk menerima uluran tangan Sasuke. Ia tak pernah tahu kalau tindakan kecilnya telah mengembangkan bunga-bunga kebahagiaan didalam hati Sasuke.

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

Chakra berwarna biru milik Sasuke nampak 'membungkus' seluruh tubuh Naruto. Shizune dan Sakura yang menyadari kalau Sasuke telah berhasil menenangkan Kyuubi segera melaksanakan tugas mereka. Pedalaman hutan itu mendadak berubah menjadi ruang operasi darurat. Berbagai jenis pisau operasi tergeletak diatas beberapa lembar dedaunan hijau yang bertugas layaknya meja operasi. Semburat aroma alkohol mulai mendominasi udara disekitar mereka.

Sejenak Sakura mengalihkan pandangannya pada Sasuke dan Naruto, ia penasaran kenapa Naruto tidak menampakkan reaksi apapun sementara perutnya dibedah, pasalnya mereka tidak menggunakan obat bius seperti pembedahan pada umumnya, mereka harus tetap mempertahankan kesadaran Naruto. Warna merah segera menghiasi wajah gadis berambut merah muda itu ketika mendapati kedua sahabatnya tengah berciuman, entah sejak kapan. Sekarang ia tahu apa alasannya.

"Sakura, aku ingin agar kau segera menjahit lukanya setelah aku mengeluarkan bayinya!" perintah Shizune.

"Baik!"

Beberapa detik kemudian suara tangis bayi dengan cepat memenuhi area hutan. Sakura dan Shizune tak bisa menahan air mata bahagia mereka saat melihat bayi yang masih berlumuran darah itu mengangis kencang seraya terus meronta digendongan Shizune. Detik-detik menegangkan itu akhirnya berakhir sudah.

Tidak jauh dari tempat itu, para Shinobi Konoha bersama Raikage dan Killer Bee bersorak gembira saat mendengar suara tangisan sang bayi, dengan begini artinya mereka telah sukses melaksanakan misi.

Sasuke mengangkat kepalanya. Ia menghembuskan nafas lega saat melihat Naruto yang tertidur. Tubuh Naruto harus membiasakan diri dengan segel baru yang dipasang Sasuke, karena segel yang baru dapat menekan chakra Kyuubi hingga 80% tentunya akan mengacaukan 'pencampuran' dengan chakra Naruto sendiri. Untuk di awal, hal ini akan membuat tubuh Naruto menjadi mudah lelah. Tapi hal ini hanya akan berlangsung selama beberapa minggu. Kira-kira seperti itulah yang dijelaskan Itachi padanya.

"Sasuke, kau mau menggendongnya?" suara Sakura membuyarkan lamunannya.

Sasuke membalikkan badan. Seketika tubuhnya membeku. Kedua onyxnya terpaku pada sesosok bayi yang telah dibalut dengan selimut berwarna biru muda. Bayi mungil berjenis kelamin laki-laki bertubuh montok itu memiliki kulit putih dengan beberapa helai rambut berwarna hitam dan sepasang mata berwarna biru yang jernih, tangan mungilnya terangkat kearah Sasuke sesaat setelah kedua mata besarnya melihat sang bungsu Uchiha.

Setetes cairan bening mengalir dipipi Sasuke. Ia mengangkat tangannya menyambut uluran bayi mungil itu, ia tak dapat menahan senyuman kebahagiaannya saat jari telunjuknya berhasil digenggam sang bayi.

"Apa kau tak mau menggendongnya, Sasuke?" Sakura kembali menawarkan.

Pemuda yang telah berstatus sebagai 'Ayah' itu menggeleng pelan seraya menarik tangannya kembali selembut mungkin.

"Tidak, aku belum siap" lirihnya seraya melepaskan jarinya dari genggaman sang bayi.

"Kenapa?" tanya Sakura.

Tak ada jawaban dari Sasuke, tapi Sakura tidak lagi bertanya lebih jauh karena bayi didalam gendongannya kembali menangis seraya berusaha menggapai jemari yang tadi digenggamnya.

Para Shinobi yang sebelumnya 'berlindung' tak jauh dari lokasi Sakura dan yang lain mulai berdatangan menghampiri bayi kecil yang masih terus menangis. Tidak sedikit dari mereka yang penasaran bagaimanakah rupa anak hasil pencampuran keturunan Uchiha yang dingin dan Naruto yang kelewat ceria itu. Dan mereka semua setuju kalau bayi milik dua pemuda berbeda sifat itu adalah bayi tercantik yang pernah mereka lihat.

_######****Sasu'momo'Naru****#####_

Tuk, tuk, tuk, tuk…

Tsunade terus mengetukkan sebelah kakinya diatas tanah. Wajahnya yang masih cantik itu menampakkan mimik tak suka. Sudah sejam lebih sang Hokage bersama Iruka, Jiraiya, Kurenai, dan beberapa Shinobi Konoha juga 3 orang Shinobi dari Kumogakure yang baru datang tadi pagi menunggu didepan gerbang utama Konoha. Tsunade segera bergegas pergi menuju gerbang utama Konoha dan meninggalkan pekerjaannya setelah tim Kakashi mengirim laporan yang berisi tentang lokasi terbaru mereka dan kelahiran bayi Naruto. Jantung Tsunade tak henti-hentinya berdetak kencang menanti mereka.

Tak terasa matahari mulai bergerak turun menuju ufuk barat, semburat cahaya oranye menghiasi gumpalan-gumpalan awan putih.

Dari jauh tampak Kakashi dan seluruh timnya berjalan menuju gerbang utama Konoha. Mereka semua tampak kacau, tapi raut bahagia dan kepuasan tecetak jelas diwajah mereka. Gai dan Asuma terlihat sedang mengangkut sebuah peti kayu, Sasuke menggendong tubuh Naruto, dan Sakura membawa buntalan berwarna biru muda.

Tiba-tiba Iruka berlari menghampiri mereka. Kakashi tersenyum diam-diam melihat tingkah sang kekasih. Dia telah bersiap membuka kedua tangannya sebelum sosok Iruka ternyata malah melewati dirinya. Kakashi terpatung. Dengan wajah kecewa ia menolehkan kepalanya kebelakang dan mendapati Iruka yang tengah memeriksa keadaan Naruto.

Plok!

Sebuah tepukan pelan mendarat dibahu kanan Kakashi. Pria itu menoleh kearah sang pelaku a.k.a. Jiraiya.

"Tidak lama lagi dia akan sepenuhnya menjadi milikmu, jadi… bersabarlah"

Kakashi hanya bisa menghela nafas.

Tsunade mengambil alih 'bungkusan' dalam gendongan Sakura. Air matanya menetes saat melihat bayi mungil yang tengah tertidur lelap.

"Bayi laki-laki yang sehat" Sakura menginformasikan.

"Semuanya lancar?" tanya Tsunade, kedua matanya tak bergeming dari sosok mungil dalam gendongannya.

Sakura mengangguk pelan. "Naruto baik-baik saja, dia hanya perlu membiasakan tubuhnya dengan segel baru. Tapi Sasuke sepertinya butuh banyak istirahat. Aku tidak percaya dia bisa berjalan berjam-jam sambil membawa Naruto dalam kondisi seperti itu" jelas Sakura.

Tsunade mengarahkan kedua iris coklat madunya pada pemuda keturunan Uchiha itu. Jelas sekali kalau Sasuke dapat ambruk kapan saja.

Tidak beberapa lama kemudian, datanglah dua orang ANBU tepat dihadapan Sasuke. Salah satu dari mereka memasangkan borgol penahan chakra seperti yang sebelum ini dipakai Sasuke. Neji yang berda paling dekat dengan Sasuke membelalakkan mata tak percaya.

"Hokage-sama, apa maksudnya ini?!" protesnya tak terima.

Tsunade terdiam sejenak sebelum menatap pemuda Hyuuga itu dalam-dalam. Neji bisa melihat kilat kekecewaan dimata sang Hokage.

"Setelah misi selesai Sasuke akan kembali ke penjara untuk memenuhi masa hukumannya selama satu tahun sebelum ia diterima kembali menjadi penduduk Konoha" jelas sang Hokage.

"Tapi Sasuke sudah membunuh Madara dan membantu mengendalikan Kyu_"

"Sudahlah Neji" potong Sasuke, "Hokage sudah memberitahukan semuanya. Asalkan mereka baik-baik saja, hal ini bukan masalah besar untukku"

Seluruh orang ditempat itu terdiam mendengar penuturan terakhir Sasuke sebelum pemuda itu dibawa pergi bersama dua orang ANBU yang mengawalnya.

TBC….

There is no easy way to make a perfect work!

Butuh waktu 2 bulan lebih untuk bisa menyelesaikan chap ini. Well, I can't work with empty stomach. So, I almost didn't 'touch' this thing for a whole month! Tapi Momo harap readers puas.

FYI, adegan ketika Naruto dioperasi tanpa obat bius dan hanya fokus 'make-out' sama si mesum Sasuke itu terinspirasi dari kisah nyata lho! Ada seniorku yg pernah cerita, pas ada prajurit yg ketembak waktu perang (Momo lupa g' nanya lokasinya) tim medis disana lagi kehabisan morfin a.k.a. obat bius trus si dokter nyuruh salah satu susternya yg juga pacar si tentara buat cium bibir si tentara sampe si dokter ngeluarin pelurunya, dan si tentara sama sekali g' ngerasain sakit! Yg ada malah keenakan, hohoho…

But! Do not EVER try this at home! Apalagi yg mau cabut gigi, yg ada malah diusir dokternya lagi.

Saran dan kritik amat sangat membantu.

See you next chap! (^,^)/