Chapter 25
Legion
Hades berjalan tanpa bicara menuju pintu masuk sanctuary bersama tiga hakimnya, Aiacos, Minos dan Radamanthys. Jalan setapak menuju pintu masuk sanctuary diapit oleh pepohonan yang tumbuh teratur sepanjang jalan tersebut. Hades menuju gerbang velocity, pintu dimana Athena membiarkan tamu istimewanya masuk dan langsung menuju kuilnya tanpa halangan. Hanya para olympians, beberapa dewa minor dan gold saint yang mengetahui jalan istimewa ini tak terkcuali sang dewa orang mati Hades.
Hades menaiki tangga batu yang diapit oleh pilar-pilar batu, langkahnya terhenti begitu sampai puncak tangga dia menghela nafas cepat melihat pelataran luas di depannya, dia harus menyeberangi pelataran luas gersang berbatu itu untuk mencapai tangga naik langsung menuju kuil Athena.
Tanpa banyak bicara Hades kembali berjalan melintasi pelataran luas itu. Namun, sampai ditengah perjalanan langkahnya terhenti matanya menyipit memandang sosok yang ada di depannya, dia menyunggingkan bibirnya begitu mengetahui siapa yang ada di depannya.
"Oh, ternyata kau datang juga!" seru Hades keras dengan nada menyindir.
Sosok itu menghentikan langkahnya spontan menoleh, wajahnya terlihat seperti maling tertangkap basah saat melihat Hades yang berjalan mendekatinya.
"Poseidon, saudaraku." Sapa Hades dengan keramahan yang dibuat-buat.
"Cih! Tidak usah beramah tamah padaku, Hades!" Poseidon melirik kearah tiga hakim neraka. Sebaliknya Hades memandang kearah dua marine shogun yang dibawa oleh Poseidon.
"Kau datang kemari untuk membantu Athena?" Tanya Hades tanpa basa basi begitu dia sampai di depan Poseidon.
Dewa laut itu mendengus sinis. "Jangan menyimpulkan seenaknya!" tukasnya.
"Lalu?"
"Aku datang kemari karena aku tidak memercayai Athena. Itu saja."
Hades menyipitkan matanya.
"Lalu kau sendiri? Jangan-jangan malah kaulah yang mau membentu Athena." Tempak Poseidon, membuat Hades mendelik pada saudaranya itu.
"Kau salah Poseidon! Aku datang kemari karena aku mengkhawatirkan segel itu, karena bagaimanapun juga segel itu adalah bagian dari tanggung jawabku juga. Aku tak mau ambil resiko kalau Samael berhasil mendapatkan tubuhnya." Jelas Hades, tetapi Poseidon menanggapinya dengan seringai mengejek. "Aku tidak memercayaimu Hades." katanya.
"Akupun begitu Poseidon, kau hanya berkelit mengatakan kalau kau tidak memercayainya padahal kau hanya ingin membantunya kan?" tuduh Hades.
"Oh, jadi kau benar datang kemari untuk membantunya."
"Aku tidak membicarakan diriku! Aku bicara tentangmu, Poseidon!" suara Hades meninggi.
"Oh ya? Jadi itu alasan sebenarnya."
Ketiga hakim neraka dan kedua marine shogun menghela nafas berbarengan, mereka sudah sangat hafal dengan tingkah tuan mereka ini, mereka selalu saja berdebat jika bertemu padahal mereka tahu, kedatangan Hades maupun Poseidon ke sanctuary memang untuk membantu Athena mengalahkan Samael, terlebih setelah serangan-serangan aneh yang menghancurkan kediaman mereka beberapa waktu lalu.
"Bagaimana ini?" Issac mengeluh.
"Apa kau berani menyela mereka?" kata Sorento, memandang ketiga specter.
"Kita biarkan saja dulu." Balas Aiacos, dia tidak mau kena getah dari amarah mereka berdua.
"Tapi seseorang harus menghentikan mereka." Ucap Radamanthys.
"Kalau begitu kenapa tidak kau saja." Balas Minos.
Radamanthys bergantian memandang dua rekannya dan marine shogun. "Apa kalian tidak merasakannya?" kata Radamanthys tidak percaya.
Kening Minos berkerut. "Maksudmu?"
"Ini terlalu aneh." Radamanthys mengedarkan pandangannya ke sekeliling lapangan luas itu, begitu juga dengan Minos, Aiacos, Sorento dan Issac.
"Benar juga…" gumam Sorento, mereka berlima saling berpandangan, lalu pandangan mereka beralih pada Poseidon dan Hades yang masih berdebat. Lalu mereka menghela nafas lagi.
Radamanthys memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat, dia harus memberitahu kedua dewa ini. Radamanthys melangkah mendekati Poseidon dan Hades, dia sudah siap dengan segala resikonya.
"Maaf yang mulia." Kata Radamanthys berlutut di depan Poseidon dan Hades.
"Jangan berani kau…."
"Maaf yang mulia tetapi aku harus menyela perdebatan anda!" tegas Radamanthys membuat kedua dewa itu terdiam dan memandang galak Radamanthys.
"Apa yang ingin kau katakan, specter!" kata Poseidon.
"Cepat kau katakan dengan jelas Radamanthys!"
"Tidakkah tuan menyadari keanehan kondisi sanctuary saat ini? lihatlah di sekeliling anda yang mulia, bukankan seharusnya sanctuary ada dalam posisi siaga karena serangan Samael. Tetapi ini aneh sekali yang mulia." Jelas Radamanthys.
Hades mengedarkan pandangannya. "Kau benar, tidak ada penjaga disini."
"Bukan hanya disini yang mulia, sejak kita memasuki wilayah sanctuary aku sama sekali tidak melihat satupun para saint berjaga, paling tidak Athena mengutus silver saint untuk menjaga gerbang velocity ini." Radamanthys menambahkan.
Hades dan Poseidon terdiam sejenak, mereka menyadari kebodohan mereka, mereka berdebat karena hal yang sepele, padahal memang tujuan mereka sama datang kemari, untuk memberi bantuan pada Athena. Tepatnya untuk mencegah bumi ini hancur sebelum waktu yang ditentukan tiba.
"Kita harus segera menemui Athena. Sepertinya dia juga belum menghabisi gadis itu!" Hades berjalan melewati Poseidon, tetapi langkahnya terhenti di depannya berdiri seorang lelaki berambut merah menyala, dibahunya bertengger sabit besar.
"Selamat datang yang mulia Hades." dia membungkukan badannya.
"Orion!"
"Senang sekali anda masih mengingat namaku yang mulia."
"Cukup basa basinya, menyingkirlah kau dari sana kalau kau sayang nyawamu!" ancam Poseidon.
"Sayang sekali yang mulia saya tidak bisa membiarkan anda memasuki wilayah atas sanctuary. Dan apakah anda ingin mengetahui kemana para penjaga Athena? Mereka sudah…." Orion terdiam sejenak memandang satu persatu Hades dan Poseidon dengan pandangan meremehkan. "MATI" lanjutnya.
Poseidon mengeratkan pegangan trisulanya. "Athena masih memliki gold saint!"
Orion tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat Poseidon. "Gold saint tidak bisa menghalangi yang mulia Samael untuk mendapatkan tubuhnya. Karena gold saint ada di pihak kami."
"Aku tidak percaya!" tukas Hades.
"Itu karena gold saint sekarang tunduk pada Lecca."
Hades menggertakkan giginya, dia sudah menduga ini bakal terjadi mengingat sejarah dari gadis yang bernama Lecca itu dengan gold saint, dia tahu Athena tidak akan bisa mengendalikan para gold saint lagi. semua karena gadis itu. "Kurang ajar!" maki Hades.
"Anda percaya diri sekali, datang ke sanctuary hanya dengan tiga specter, dan," pandangan Orion beralih ke Poseidon "hanya dengan dua dari tujuh marine shogun."
"Kami tidak perlu datang bertujuh untuk menghabisi kau Orion, bahkan aku sendiri bisa menghabisimu!" ujar Issac, terlihat geram dengan Orion.
"Wah, aku jadi takut. Tetapi bukan aku lawan kalian, aku tidak mau buang tenaga melawan kalian yang…yah, terlalu mudah untuk ditumbangkan, aku hanya akan menjadi penonton disini."
"Sombong sekali!" tukas Minos.
Orion menempelkan jari telunjuk dan tengahnya ke bibirnya, lalu siulan memekakan telinga terdengar, sampai-sampai baik Hades dengan tiga specternya dan Poseidon dan dua marine shogunnya menutup telinga.
Siulan itu berhenti, tiba-tiba langit yang ada diatas Hades dan Poseidon menggelap, seakan ada yang menutupinya. Dan…
BUUM!...BUUM!...BUUM! sesuatu berwarna hitam jatuh tidak hanya satu tetapi puluhan bahkan ratusan, tidak, lebih banyak dari itu, mereka mendarat seperti kubangan ter hitam, menngepung Hades dan Poseidon. Mereka semua terdesak dengan cairan hitam yang memaksa mereka berkumpul dalam lingkaran, punggung mereka saling beradu.
Lalu cairan hitam pekat itu membentuk sebuah sosok, mereka tanpak seperti manusia normal dengan cloth berwarna hitam metalik, hanya saja yang membedakan mereka adalah dua taring yang mennyembul dibalik bibir mereka yang kehitaman, kuku jari mereka panjang dan runcing, sejak mereka membentuk, Hades, Poseidon, para specter dan marine shogun terus mengereyitkan wajahnya, mereka mencium bau busuk yang lebih mengerikan daripada bau mayat.
"Legion…" pandangannya beralih pada Poseidon disampingnya. "Berhati-hatilah dengan leher kalian!" Hades memperingatkan, lalu dia melirik tiga specternya, yang mengangguk, mereka mengerti apa Legion itu.
"Apa hubungannya dengan leher, Hades?" tanya Poseidon seraya menghunuskan trisulanya pada para legion yang mulai merangsek maju.
"Mereka adalah pasukan yang tinggal dalam dunia bawah."
"Dia pasukanmu!" tukas Poseidon.
"Bukan!" tegas Hades "Mereka berasal dari dunia yang lebih dalam dari underworld, mereka adalah hidup dengan menghisap darah."
"Vampir?"
"Tidak, mereka lebih kuat dari vampire ataupun ghost. Pasukan yang dibuat hanya untuk membunuh, apapun yang hidup, memakannya sampai tidak bersisa, mereka pasukan kematian yang disiapkan untuk hari perjanjian." Jelas Hades. "Selain itu mereka juga…" kata-kata Hades terputus segerombolan legion menyerang Hades, mengarahkan cakarnya pada dewa orang mati itu dan membuka mulutnya lebar-lebar memamerkan taring mereka seraya menggeram seperti binatang.
Hades mengangkat pedangnya dan menebas kearah legion tersebut, setidaknya lebih dari sepuluh legion putus kepalanya akibat tebasan pedang Hades, darah hitam memancar dari leher mereka kepala mereka terlempar ke udara dan jatuh dengan bunyi tumbukan yang membuat merinding.
Hades menyeka pipinya yang terkena cipratan darah legion, nafasnya setengah memburu, dia menatap tubuh legion yang berserakan, legion yang lain hanya terpaku memandang rekannya yang tergeletak.
"Ternyata aku bisa mengandalkanmu Hades." kata Poseidon menepuk bahu Hades.
"Diam ini belum selesai!" tukasnya, matanya masih menatap tubuh legion. Poseidon melempar pandangannya pada legion yang tertebas pedang Hades.
"APA!" seruya tidak percaya. Para specter dan marine shogunpun bereaksi sama seperti Poseidon, dengan apa yang dilihatnya.
Tubuh-tubuh tanpa kepala itu bangkit berdiri meski dengan gerakan yang ganjil. Kepala mereka yang terpisah jauh dari tubuhnya meleleh menjadi ter hitam dan bergerak mendekati tubuh tanpa kepala itu menaikinya kemudian menempel di bekas penggalan mereka mulai membentuk kepala baru lagi.
"Mereka tidak bisa mati?!" ujar Poseidon.
"Hanya ada satu yang bisa membuat mereka mati."
"Jadi mereka punya kelemahan."
"Ya hanya majikan sejati mreka, yang bisa membinasakan mereka semua."
"Apakah cecunguk itu!"
"Bukan…dan bukan Samael" kata Hades sebelum Poseidon menyebutkan nama Samael.
"Lalu?"
"Bunuh mereka, jangan sisakan satupun!" seru Orion. Dengan satu perintah itu bagai gelombang legionpun mulai menyerang Hades dan Poseidon.
"Tidak ada waktu, mereka datang! Berhati-hatilah Poseidon!" ujar Hades, dia berlari menyongsong para legion tanpa ampun melepas jurusnya, disisi lain Poseidon melihat Issac dan Sorento sudah masuk kedalam pertempuran, sama halnya dengan para specter.
"Yang mulia Poseidon!" teriak Minos melancarkan serangannya membuat legion tumbang dengan posisi aneh, badannya terpuntir 360 derajat, kedua tangan dan kakinya pun terlipat kearah sebaliknya.
"Anda tidak apa-apa yang mulia?" tanya Minos.
"Terimakasih Minos." Poseidon mengeratkan peganggan ada trisulanya tidak ada jalan selain melawan mereka, meskipun sepertinya pertempuran ini tidak ada akhirnya. Poseidon terus bertanya dalam hati siapakah orang yang menghentikan para legion ini, samar dalam ingatannya Poseidon mengetahuinya tetapi ingatan itu seperti tertutup kabut tebal. Dia tidak bisa mengeluh inilah keterbatasan tubuh manusia.
Orion tersenyum puas melihat pertarungan di gerbang velocity ini, dia tahu mungkin legionnya tidak akan bisa mengalahkan dua dewa itu, para specter ataupun marine shogun, tetapi dia ingin tahu sampai mana kekuatan mereka dengan 'baju' manusia itu. Mereka pasti akan lelah dan kemudian tak sanggup melawan, kemudian mati. Orion tertawa sinis, apa yang direncanakannya untuk dua dewa itu terasa sempurna, kemenangan sudah terlihat di depan mata.
Senyum Orion lenyap seketika, dia merasakan kosmo besar dibelakangnya tepatnya dipuncak tangga. Orion membalikkan tubuhnya meskipun sekejap dia melihat cloth itu, dan wajah pemiliknya yang terlihat amat murka, lalu sosok itu menghilang.
"Tidak mungkin! Bagaimana dia melewati para legion!" kata Orion dalam hati.
Masih segar ditelinganya perkataan Samael beberapa waktu lalu.
"Hanya ada dua dewa yang aku segani dan aku khawatirkan Orion. Mereka bisa saja menghancurkanku. Dan itu bukan para olympians."
"Siapa mereka yang mulia?"
"Hypnos dan Thanatos."
Tanpa berpikir panjang Orion berlari menaiki tangga gerbang velocity, dia harus segera menuju kuil Athena. Meski hanya sekejap dia tahu yang dia lihat tadi adalah sang dewa tidur, Hypnos.
