Session Talkshow

Bella : Hai hai ada yang kangen Bella? X3

Krik krik krik

Kazusa : Kasihan banget nggak ada yang ngangenin :v

Karin : Iya, author ngenes banget XP

Bella : #pundungdipojokan

Akira : Minna gomenasai, author sudah tiga bulan melantarkan fic ini.

Niimi : Setelah bertapa dari Sabang sampai Marauke. Akhirnya author dapat ilham untuk menulis lanjutan fic ini.

Ruka : Dan kabar baiknya, tinggal dua chapter lagi fic ini akan tamat :D

Kazusa dan Karin : Seriusan? Horeeeeeee!

Akira : Kalian bahagia banget sih -_-

Kazusa : Iya dong, aku sudah capek main di fic ini.

Karin : Yap betul betul.

Sena : Kalau begitu kita langsung buka saja chapter ini. Chapter 25 : Farewell has been updated. Cekidot!


Title : De Angela

Chapter 25 : Farewell

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~De Angela~ © Milky Holmes

Rated : T

Genre : Fantasy ; Friendship

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Aku tidak terima. Kenapa kami harus pergi dari surga?!" / "Cih, aku tidak menyangka seorang manusia akan mengorbankan dirinya demi orang sepertimu." / "Dari bicaramu itu, aku menangkap kalau kau ingin memusnahkan manusia." / "Aku percayakan masa depan dunia ini padamu. Apapun yang terjadi jangan menyerah!" / "Selamat tinggal!"

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~De Angela~

.

.


Normal POV


Flashback

"Aku tidak terima. Kenapa kami harus pergi dari surga?!" Suara Sela terdengar jelas dan keras di aula sebesar ini.

"Ini adalah keputusanku. Jadi mau tidak mau kau harus menerimanya," jelas God dengan nada tenang.

"Katakan padaku, apa ini semua gara-gara manusia bernama Hawa itu?" tanya Sela tajam.

"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Hawa, apalagi Adam," terang God. "Sudah kubilang ini adalah keputusanku sendiri," lanjutnya.

"Kalau begitu katakan padaku. Atas dasar apa Kau mengusir bangsa iblis dari sini!" seru Sela kesal.

"Bangsamu sudah banyak membuat keributan di surga," jawab God.

"Kenapa kenapa kenapa?! Kenapa selalu bangsa kami yang disalahkan!" seru Sela marah. "Apa karena kami iblis. Jika saja kami diciptakan sebagai malaikat tentunya kami tidak akan membuat keributan!" lanjutnya.

"Sela cukup!" seru God tegas. "Aku tidak pernah membeda-bedakan bangsa iblis maupun malaikat. Kalian sama-sama makhluk yang Kuciptakan dengan karakternya masing-masing," jelas God tenang.

"Kalau begitu biar bangsa malaikat yang pergi dari surga. Aku yakin mereka tidak akan protes jika Kau yang menyuruhnya," tantang Sela.

Sena yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia langsung menoleh kaget menatap saudari kembarnya.

"Keputusannya adalah bangsa iblis yang pergi bukan bangsa malaikat," ujar God.

Sela menggeram kesal.

"Bagaimana menurutmu Sena? Sejak tadi Aku belum mendengarkan pendapatmu," ucap God seraya menoleh menatap Sena.

"Aku akan menerima semua keputusanmu," ucap Sena.

Untuk seperkian detik, Sela hanya menatap saudari kembarnya itu.

"Cih, baiklah jika itu kemauan kalian berdua. Aku dan bangsaku akan pergi dari surga. Tapi bukan berarti aku menuruti apa kata kalian. Kami pergi atas dasar keinginan kami sendiri. Lagipula aku sudah muak hidup bersama para malaikat!" Setelah mengatakan itu, Sela pergi meninggalkan God dan Sena.

Aneh. Kenapa Sena merasa bersalah. Bukannya ini hal bagus jika bangsa iblis pergi. Dengan begitu surga akan damai. Tapi kenapa ia merasa sudah membuat suatu kesalahan besar dengan membiarkan Sela pergi. Lagipula ia tidak bisa menolak keputusan dari God, karena dia adalah seorang malaikat.

.

.

.

"Kejadian ini adalah kesalahan bangsa iblis. Jadi Kau tak perlu menghukum mereka dengan mengusir mereka dari surga!" seru Sena.

"Sena kau tidak mendengarnya tadi. Mereka sudah mengakui kesalahannya jadi kau tidak perlu membelanya," jelas God.

"Tapi-"

"Ini semua salahku, padahal aku sudah tahu untuk tidak termakan ajakan iblis. Tapi aku malah menurutinya dengan memakan buah itu bahkan aku sampai mengajak Adam," sesal Hawa.

"Aku juga ikut bersalah!" seru Adam. "Kami akan menerima apapun hukumannya meski itu berarti kami harus pergi dari surga," sambungnya.

"Tunggu!" seru Sena. "Mereka tidak perlu dihukum. Ini semua... ini semua adalah salahku. Aku sudah ceroboh membiarkan para iblis berhasil masuk menembus pertahanan kami. Jadi aku mohon hukum aku saja!" lanjut Sena mantap.

Baik Adam maupun Hawa langsung menatap tak percaya ke arah sang pemimpin bangsa malaikat

"Sena kau tidak perlu mengorbankan dirimu demi mereka," ujar God.

"Itu benar, kami lah yang bersalah maka kami lah yang harus dihukum. Kau tidak perlu ikut campur." Entah mengapa, nada bicara Adam terdengar dingin.

Sena menunduk. Dia merasa sedih. Dia tahu dan sadar bahwa Adam bersikap dingin padanya. Entah itu sejak Hawa diciptakan atau sejak Sela pergi meninggalkan surga. Dia hanya tahu kalau hubungan mereka merenggang.

"Kalau begitu tengah hari nanti, aku akan mengirim kalian ke Bumi," jelas God.

Adam dan Hawa pun mengangguk mengerti lalu meninggalkan God dan Sena berdua di aula.

Lagi-lagi Sena ditinggalkan dan untuk pertama kalinya dia merasa kesepian.

.

.

.

"Karenamu, kami diusir dari surga dan tinggal di dunia bawah. Kau tidak tahu betapa sengsaranya kami karena ulah bangsamu itu!"

Sena menatap horor begitu melihat seorang iblis sedang mengacungkan pedangnya ke arahnya.

"Matilah kau!"

JLEB

Darah menciprat ke wajah dan pakainnya. Di depan matanya sendiri, ia melihat orang dibunuh untuk pertama kalinya.

"Hawaaaaaa!" Sena langsung menoleh dan mendapati Adam berlari menghampirinya. Wajahnya terlihat panik sekali.

"Cih, aku tidak menyangka seorang manusia akan mengorbankan dirinya demi orang sepertimu," ujar iblis itu sambil menarik pedangnya kembali.

Sena hanya diam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia merasa kesal, dia merasa marah pada dirinya sendiri. Tapi dia tidak tahu bagaimana cara melampiaskan kemarahannya.

Tampak Hawa membisikan sesuatu kepada Adam. Setelahnya Adam langsung berdiri dan menarik tanganku membawaku pergi.

"Hei mau kemana kalian?" teriak iblis itu.

Berniat untuk mengejar mereka, iblis itu mulai mengepakkan sayapnya. Tapi sebelum ia berhasil terbang pergi, Hawa dengan sisa tenaganya langsung melemparkan air suci yang kebetulan ia bawa dari surga. Membuat iblis itu mengerang kesakitan.

"Sial... apa yang kau lakukan?!" seru iblis itu kesal sambil meringis kesakitan.

Hawa hanya tersenyum lemah sebelum menutup mata untuk selamanya.

.

.

.

"Kita harus kembali, kita tidak bisa meninggalkan Hawa. Aku yakin aku bisa menyembuhkannya dengan kekuatanku," ujar Sena sambil berusaha melepaskan cengkraman Adam.

"Kau tidak bisa. Lagipula kau lah yang diincar oleh iblis itu. Jadi kau harus pergi dari sini secepatnya," balas Adam tanpa menoleh ke arah Sena.

"Tapi bagaimana dengan Hawa, dia bisa... dia bisa mati," ujar Sena pelan.

Adam pun menghentikan langkahnya membuat Sena ikut berhenti. Adam hanya diam membisu sambil menundukkan kepalanya.

"Yang terpenting adalah keselamatanmu," ucapnya pada akhirnya.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku ini hidup kekal, aku tak bisa mati. Jadi biarkan aku mengurus iblis itu lalu menolong Hawa," ujar Sena.

"Tidak bisakah kau mengerti?!" seru Adam kesal sambil membalikkan badan untuk berhadapan dengan Sena. "Kau tidak boleh bertarung dengan iblis. Apalagi di Bumi. Jika kau melakukannya, kau hanya menciptakan kekacauan," lanjutnya.

"Tapi aku-"

"Kembalilah ke surga. Tidak seharusnya kau berada disini," ujar Adam sambil membelakangi Sena.

"Aku menolak, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu," ujar Sena.

"Aku mohon kembalilah ke surga," ujar Adam sekali lagi.

"Tidak mau," ucap Sena keras kepala.

"Kembalilah ke surga!" seru Adam kesal.

Sena kaget mendengarnya. Belum pernah Adam berbicara dengan nada seperti itu padanya. Yang itu artinya, Adam memang sedang marah padanya.

"Apa kau membenciku?" tanya Sena pelan.

"Yah aku membencimu, makanya cepatlah menghilang dari sini!" bentak Adam keras.

Sena menangis. Air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.

Begitu Adam berbalik, ia sudah tidak menemukan sosok Sena lagi.

"Maafkan aku," sesal Adam seraya tersenyum sendu. "Dan selamat tinggal."


~De Angela~


"Akulah yang bersalah atas kematian Hawa dan Adam. Maafkan aku," sesal Karin.

"Ini tidak mungkin!" sahut Rika datar.

"Maaf karena sudah menyembunyikan kenyataan ini darimu. Tapi itu memang benar, akulah yang meminta pada God untuk mengusir bangsa iblis dari surga. Dan akulah penyebab Adam dan Hawa diserang oleh para iblis karena pada saat itu aku datang ke bumi dan mereka melindungiku," jelas Karin panjang lebar.

"Bukankah kau dilarang untuk pergi ke bumi." Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan.

"Yah, aku memang menugaskan Yukito, Miya, dan Akita untuk mengawasi keluarga Adam menggantikan. Tapi pada saat itu mereka kembali ke surga karena suatu alasan. Dan aku melanggar peraturan dan turun ke bumi," terang Karin.

"Seorang malaikat sampai berani melanggar peraturan. Kau sudah menjadi malaikat yang terkutuk," ungkap Rika.

"Aku tahu, jika saja God tidak mensucikanku. Aku mungkin sudah berubah menjadi iblis," ujar Karin pelan.

Rika hanya diam saja menanggapinya hingga suasana mendadak menjadi hening di antara mereka.

"Jadi apa keputusanmu setelah mendengarnya. Aku berharap kau akan memaafkanku, tapi sepertinya itu mustahil. Jadi aku akan menerima keputusanmu apapun itu," ujar Karin seraya tersenyum sendu.

"Kau akan menerima apapun keputusanku," ulang Rika. "Kalau begitu-" Rika segera menciptakan sebuah pedang yang diselimuti oleh cahaya kegelapan.

Karin langsung kaget begitu melihat Rika tengah memasang kuda-kuda bersiap untuk menyerang. Dia memang mengatakan akan menerima apapun keputusan yang diambil oleh Rika. Tapi ia tidak bisa membahayakan tubuh Karin karena Sena sudah berjanji pada Kazune bahwa ia akan membawa Karin dalam keadaan selamat tanpa luka. Melihat Rika yang sudah maju untuk menyerang. Mau tak mau Karin juga menciptakan pedang cahaya. Dan akhirnya-

JLEB

Salah satu dari mereka pun tumbang.

.

.

.

Kazune POV

Sial. Sial. Sial. Sial. Sial.

Entah sudah berapa kali aku melafalkan kata itu berulang-ulang. Yang pasti aku merutuki apapun yang tengah terjadi sekarang ini. Mulai dari dimana kami tiba-tiba diminta untuk melakukan ritual cahaya atau saat dimana ritual yang kami lakukan mulai kacau.

Yah benar baik sihir Micchi maupun Himeka mulai mengacaukan jalannya ritual ini yang menyebabkan keseimbangan alam. Aku tahu, aku tidak bisa menyalahkan mereka karena siapapun pasti akan panik di saat kau melakukan tugas penting untuk pertama kalinya dan tanpa latihan. Termasuk aku, aku juga panik. Tapi setidaknya aku bisa mengontrol emosi dan sihirku dengan baik. Aku melirik Kak Ruka. Tampak wajahnya terlihat pucat. Apa ia khawatir dengan keberhasilan ritual ini. Mustahil ini akan berhasil kecuali jika ada keajaiban yang bisa membuat kami berhasil melakukan ritual ini sampai akhir. Tapi apakah keajaiban itu akan datang pada kami? Oh Tuhan jika kau melihat kami, aku harap kau memberikan kami sebuah keajaiban. Yah keajaiban.

Tiba-tiba ada cahaya menyilaukan yang menyelubungi tubuhku. Membuatku harus menutup mata. Dan begitu aku kembali membuka mata, aku mendapati diriku di sebuah tempat dimana hanya ada warna putih di sekelilingku.

"Aku berada dimana?" tanyaku bingung.

"Ini di alam bawah sadarmu," jawab sebuah suara.

Aku langsung berbalik dan mendapati sosok malaikat berpakaian putih lengkap dengan jubah yang menjuntai yang menyelimuti tubuhnya. Tapi yang membuatku penasaran adalah wajahnya terlihat tidak asing. Wajahnya mirip seperti-

"Yuuki!"

Hanya saja terlihat lebih dewasa dan tinggi. Selain itu warna rambutnya juga coklat bukan hitam.

Sosok itu tersenyum lalu berkata, "Mungkin kau lebih mengenalku sebagai Yuuki. Tapi namaku sebenarnya adalah Yukito."

Aku terpengarah. Memang dari kejadian tadi, aku berhasil menarik kesimpulan kalau malaikat penjaga merupakan reinkarnasi. Tapi tetap saja aku masih shock menerima kenyakataan kalau mereka adalah reinkarnasi dari Yukito, Miya, Akita, dan juga Adam.

"Aku membawamu kemari karena aku ingin berbicara denganmu," ujar Yukito.

"Bagaimana dengan ritual cahayanya?" tanyaku panik begitu mengingat ritual cahaya kami.

"Kau tak perlu khawatir. Waktu di luar sana berhenti selama kita berbicara disini," sahutnya santai.

Aku menghela napas panjang lega. "Baiklah apa yang ingin kau bicarakan?" tanyaku.

"Apa kau mengetahui penyebab dari kekacauan ini?" tanya Yukito.

"Aku tidak tahu penyebab pastinya. Tapi aku rasa kekacauan ini dimulai sejak masamu," ujarku mencoba menerka.

"Awal mulanya bangsa iblis dan malaikat berteman baik," terang Yukito. "Tapi sejak manusia diciptakan, timbulah konflik antara bangsa iblis dan malaikat," lanjutnya.

"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanyaku to the point.

"Aku ingin mengatakan bahwa sumber dari masalah ini adalah keberadaan manusia. Jika saja manusia tidak diciptakan mungkin bangsa iblis dan malaikat masih hidup damai di surga dan kejadian ini pastilah tidak akan terjadi," jelasnya. "Tapi bukan berarti aku menolak penciptaan manusia. Hanya saja jika manusia diciptakan langsung di bumi tidak di surga. Mungkin manusia tidak akan berhubungan dan mengenal dengan bangsa iblis maupun malaikat," sambungnya.

"Dari bicaramu itu, aku menyimpulkan kalau kau ingin memusnahkan manusia," sahutku dingin.

"Daripada dibilang pemusnaan, mungkin lebih cocok dibilang regenerasi," sahut Yukito tenang.

"Regenerasi?" tanyaku tak mengerti.

"Mengulang lagi penciptaan manusia. Tentunya dilakukan di bumi tanpa harus melibatkan bangsa iblis dan malaikat," jawab Yukito.

"Kau berkata seolah-olah kau adalah penguasa yang bisa melakukan apa saja sesuka hatimu," sahutku.

Yukito menggeleng sambil berkata, "Aku tidak seperti itu. Jika aku bisa melakukan apapun, aku pasti akan menghentikan kekacauan pada masaku."

"Benar juga. Kalau begitu kau menginginkan ritual cahaya ini gagal. Tapi bukannya malaikat penjaga menginginkan gerhana ini berhenti," ucapku masih bingung.

"Itu sebelum aku mendapatkan ingatan Yukito kembali. Ingatanku mengatakan satu-satunya cara untuk mengakhiri siklus kekacauan ini dengan melenyapkan semua keturunan Adam dan melakukan regenerasi," terang Yukito.

"Aku menolak!" seruku tiba-tiba.

"Apa?" tanya Yukito bingung.

"Aku menolak untuk ikut rencanamu," ucapku tegas.

"Kenapa? Aku pikir kau cukup pintar untuk mengerti apa maksudku," balas Yukito.

"Aku mengerti makanya aku menolak," ujarku lagi.

"Atas alasan apa kau menolak?" tanya Yukito penasaran.

"Dulu seseorang pernah mengatakan padaku bahwa satu nyawa sangat berharga karena itu aku akan berusaha melindunginya," ujarku mantap.

Yukito terpengarah lalu seulas senyum terbentuk di wajahnya. "Selamat kau lulus!" ujarnya tiba-tiba.

"Hah?"

"Aku hanya mengujimu tadi," ujarnya santai. "Kemarilah aku akan memberikanmu sesuatu yang menarik," lanjutnya.

"Sesuatu yang menarik?" tanyaku tak mengerti.

"Sesuatu yang nantinya akan berguna untukmu," ujar Yukito seraya memberi isyarat padaku untuk mendekat.

Aku pun menurutinya dengan maju mendekat ke arah Yukito.

"Tempelkan tanganmu denganku," ujarnya seraya memposisikan tangan kirinya ke depan.

Untuk beberapa saat aku bingung, tapi akhirnya aku menempelkan tanganku pada tangannya. Dan begitu tangan kami bersentuhan. Muncul lingkaran sihir api dan aura berwarna merah oranye mulai menyelimuti tubuh kami berdua. Tiba-tiba aku merasakan ada kekuatan besar yang masuk ke dalam tubuhku.

"Dengan ini kau bisa melindungi apa yang ingin kau lindungi. Termasuk dengan ritual cahaya," ujarnya seraya tersenyum begitu kami menurunkan tangan kami.

Tiba-tiba ada cahaya putih yang menyelimuti tubuh Yukito. "Ah sepertinya waktuku disini sudah habis."

"Tunggu!" seruku lumayan keras. "Apa Yuuki dan malaikat penjaga yang lain akan sadar?"

Yukito tersenyum kecil. Tubuhnya lambat laun mulai mengjilang bagai dimakan oleh cahaya.

"Aku percayakan masa depan dunia ini padamu. Apapun yang terjadi jangan menyerah!"

Hanya kalimat itu yang diucapkan oleh Yukito sebelum ia benar-benar mengbilang dari hadapanku.


~De Angela~


"Apa yang terjadi pada kalian? Cahaya apa yang menyelimuti tubuh kalian?" tanya Jin bertubi-tubi.

Bukan hanya Jin, tapi Yura, Kirio, Kirika, Shingen, dan Ami juga menyimpan pertanyaan yang sama begitu melihat tubuh para hewan penjaga mulai diselubungi oleh cahaya putih.

"Sepertinya karena tidak ada lagi kekuatan dari malaikat penjaga, kami tidak bisa lama-lama disini," ujar Genbu.

"Apa maksudnya?" tanya Ami bingung.

"Kami datang ke sini karena dipanggil oleh malaikat penjaga. Maka dari itu jika kekuatan dari tuan kami hilang. Kami tidak bisa berada disini lagi," jawab Suzaku menjelaskan.

"Semoga semuanya baik-baik saja," ucap Byakko.

"Selamat tinggal!" seru Seiryu.

Setelah itu hewan penjaga benar-benar menghilang. Meninggalkan tuan mereka yang masih tergeletak lemas.

.

.

To Be continued

.

.

Please Review


Balasan Review

Dear Fujimura Inoue

Sudah di bales kan PM-nya. Maaf kalau lama, jarang buka akun ffn sih. Makasih atas dukungannya selama ini.

Dear Rin-chan 2930

Hehehehe arigatou, Bella jadi malu aisshh#plak. Dapat salam dari yang lainnya juga. Katanya lop you too (-Kazune, Kazusa, Ruka, Akira, dan Yura). Mereka berlima terlalu tsundere. Tenang Rin-chan masih ada dua chapter lagi. Just wait okay ;). Maaf ya kalau masih ada typo. Hontouni gomenasai.

Dear jj

Gomen, Bella juga pengennya nggak hiatus tapi sejak berubah status jadi mahasiswa. Waktu luang merupakan momen yang sangat langka. Sabar ya bentar lagi tamat kok :')

Dear Fusako3702

Selamat ya karena sudah penasaran di chapter kemarin. Fufufufufu#digampar. Wah kalau masalah happy ending atau sad ending atau angts ending itu masih dirahasiakan ;)

Dear KAZEnoRASSYA

Malaikat penjaga termasuk Niimi belum mati kok. Belum lho bukan tidak. Jadi masih ada kemungkinan mereka mati wkwkwkwk XD. Yap, Niimi di masa Sena adalah Adam. Untuk kontak Line, bisa cek akun ffn Bella di bagian paling bawah :)

Dear shikakim12

Amin, semoga mereka berhasil. Sabar ya, pasti dilanjutkan kok ;)

Dear HikariAnna

Omedetou, akhirnya bisa komen juga. Berarti sudah baca dari awal dong. Nggak nyangka sudah dua tahun lebih fic sejak dipublish. Sebenarnya ada keinginan buat lanjutin virtual game tapi belum dapat ide hehehe. Mungkin setelah fic ini tamat, Bella akan lanjutkan fic itu. Yah pokoknya nantikan saja deh.

Dear Karin Ashiya

Satu pertanyaan untuk Karin Ashiya, berapa lama bacanya tuh? Tapi arigatou sudah tertarik untuk baca fic ini yang super duper panjang nan membingungkan. Hahahaha mungkin karena salah satu hobi Bella adalah menonton anime. Semoga Ashiya-san bisa membayangkan cerita ini dalam imajinasi ^^

Dear Guest/ I love KAZURIN
Iya benar kok, adegan Kazusa terbunuh itu Bella terinspirasi dari adegan saat Sakura mati di tangan Syaoran. Wah situ penggemarnya ya, sama Bella juga. Bella suka semua manga/anime buatan CLAMP. Bahkan anime pertama yang Bella tonton adalah CCS. Nggak kok Bella nggak marah. Justru Bella terharu begitu tahu ada yang suka TCR juga :'). Salam peace juga.

Baiklah semua review sudah dibalas. Kalau begitu Bella balik hiatus lagi ya fufufufufu. Sampai jumpa di Chapter 26 : True Ending. Jaa ne minna!