Sepertinya dokter muda bermata rusa yang sering berkilau cantik itu sudah mendapatkan kebahagiaannya kembali setelah dua hari dia tinggal serumah dengan pria yang di cintainya dan juga mencintainya.

Ibarat musim semi, hatinya bermekeran dengan perasaan membuncah bahagia setiap kali menerima perlakuan manis sang kekasih yang memperlakukannya seperti seorang ratu di dalam hidupnya.

Sehun sangat perhatian dan selalu mempunyai waktu untuk berdua dengannya, setidaknya hal itulah yang bisa Luhan simpulkan.

Seperti saat ini, Setelah pulang dari kantor, sebelum makan siang Sehun bersama beberapa paper bag di tangannya untuk memenuhi wardrobe Luhan langsung memeluk menciumnya dan menanyakan apa saja yang Luhan lakukan hari ini.

Luhan merasa senang tentu saja, tidak banyak pria yang perhatian dan sangat manis seperti Sehun, tidak banyak pria yang mencintai wanitanya sebesar Sehun mencintai dirinya sehingga pria itu rela melakukan apa saja demi dirinya termasuk menentang keputusan Jaejoong yang terus mendesaknya untuk segera meresmikan pertunangannya dengan wanita pilihan Jaejoong.

Luhan bukannya tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, salahkan Sehun yang terlalu percaya padanya sehingga pria itu sering meletakkan phonselnya di sembarang tempat tanpa curiga sedikitpun pada Luhan yang kerap kali mencuri baca sederet pesan dari Jaejoong yang memintanya pulang dan menemani Jessica melakukan ini dan itu.

"Ada apa dengan wajah sendu itu?"

Luhan menghentikan lamunan dan prasangka buruknya tentang Jessica yang ternyata masih tinggal di rumah Sehun, betapa beruntungnya wanita itu yang bisa menjadi pilihan terakhir Jaejoong untuk kandidat calon istri Sehun.

"Luhan-ah.."

"N-ne?"

"Kau melamun"

Luhan tersenyum, beralih berbaring di atas tubuh kekasihnya yang sedang beristirahat di sofa di depan TV yang sedang menyala, "Sehun-ah maafkan aku..."

Sehun membenarkan posisi Luhan yang sedang tengkurap di atas tubuhnya, "Maaf untuk?"

"Beberapa kali aku membuka phonselmu dan membaca beberapa pesan yang di kirim oleh ibumu dan wanita itu", sesuai saran dokter, dia tidak boleh memikirkan dan menyimpan semuanya sendiri, jadi dengan keyakinannya bahwa Sehun tidak akan memarahinya Luhan memilih jujur dan mengakui perbuatannya.

"Lalu apa yang kau temukan?", sejujurnya tanpa Luhan beritahu pun Sehun sudah tahu, matanya beberapa kali tanpa sengaja melihat Luhan yang membuka phonselnya. Tapi merasa dia tidak melakukan kesalahan apa pun yang bisa membuat Luhan marah Sehun hanya diam saja dan berpura-pura tidak tahu. Dan ketika Luhan mengakui perbuatannya maka jangan salahkan Sehun jika kadar cintanya pada wanita jujur itu semakin besar.

"Hubunganmu dengan ibumu semakin memburuk karenaku, aku merasa tidak enak"

"Bukan salahmu, salahnya yang tidak mau melihat anaknya bahagia"

Luhan ingin menangis rasanya, dia tahu seberapa dekat hubungan anak dan ibu itu namun saat melihat kerenggangan di antara keduanya Luhan benar-benar merasa bersalah, "Apa kelebihan wanita itu sehingga ibumu sangat menyukainya?"

"Pantaskah aku memuji wanita lain di depan kekasihku yang sedang bersedih?"

Luhan menggeleng namun berujar, "Katakan saja, aku hanya ingin tahu"

Sehun menghela dalam nafasnya, memilih menuruti kemauan sang kekasih, "Kau sudah pernah bertemu dengannya, fisiknya kau bisa nilai sendiri"

"Aku jauh lebih cantik", celetuknya tidak mau kalah.

"Kau benar, lalu apa lagi yang ingin kau ketahui?"

"Sifatnya?"

"Sama seperti mu, dia baik bahkan saking baiknya dia mau-mau saja di atur eommaku untuk di jodohkan dengan ku"

"Kau tampan dan kaya raya makanya dia mau, wanita mana yang tidak mau"

"Apa kau menyukaiku karena aku tampan dan kaya?"

"Itu salah satu alasannya tapi untuk alasan utamanya adalah...", Luhan menggigit bibirnya, menatap polos sang kekasih. Dia tidak bermasud menggoda tetapi itulah yang terlihat di mata Sehun saat ini, "Rahasia, aku tidak akan memberitahu mu"

"Apa alasannya, ayo beritahu aku..!?"

"Kata orang kalau mencintai itu kita tidak butuh alasan"

"Kenapa begitu? Bukankah kita harus mempunyai alasan"

"Kenapa jadi mengalihkan pembicaraan, aku sedang bertanya tentang calon tunangan mu"

"Apa lagi yang harus ku katakan, dia cantik, kaya raya dan berasal dari keluarga terpandang", Sehun melirik Luhan, melihat reaksi sang kekasih saat ia mengungkit tentang keluarga, "Dia wanita pintar saat kami berada di fakultas dan univeristas yang sama beberapa tahun lalu, kami sempat berteman dan yaaa you know what I mean"

"Aku yakin jika kalian pernah terlibat sebuah hubungan yang spesial, apa aku benar?"

"Kau tidak cemburu?"

"Aku cemburu, hanya saja itu masa lalumu dan aku akan menjadikan semua itu sebagai pelajaran untukku"

"Kau sangat dewasa"

"Aku mempunyai kehidupan yang sangat berat bahkan setelah aku bertemu dengan mu, bisa di bilang aku sudah melewati semua masalah dari masalah terbesar bahkan masalah terkecil sekalipun, jadi aku sudah kebal dengan semuanya, aku rasa aku bahkan sudah mati rasa mengingat beratnya kehidupan yang ku lalui", curhatnya tanpa sadar, ia ingin mengeluh lelah pada kekasihnya dan berharap dapat hidup dengan bahagia bersama orang yang di cintainya setelah semua cobaan yang dia lalui. Namun sayang, lagi-lagi nasib baik belum berpihak padanya sehingga dia masih harus bersembunyi sementara pria yang di cintainya, pria yang di harapkan akan menjadi sumber kebahagiaannya justru sudah di jodohkan dengan wanita lain yang jauh lebih sempurna dari dirinya.

Saat Sehun memuji Jessica, bohong jika hatinya tidak berdenyut sakit dengan perasaan luar biasa iri, iri pada kesempurnaan hidup yang di miliki wanita blasteran tersebut, "Hiks..", Luhan menggigit kuat bibirnya, tidak tahu juga kenapa air matanya bisa jatuh semudah itu di depan sang kekasih yang sedang menatapnya kasihan.

"Menangislah, jangan di tahan..!", Sehun membawa tangannya untuk mengusap punggung bergetar wanita di pelukannya, "Terima kasih sudah mencurahkan sebagian isi hatimu padaku, teruslah lakukan itu, jadikan aku satu-satunya orang yang kau cari saat kau sedang membutuhkan teman untuk bercerita"

"Aku sakit, Hiks.."

"Ara, hatimu pasti sakit sekali, maafkan eomma ku, aku berjanji akan menyelesaikannya setelah ini"

"Bagaimana jika dia tetap melarangmu bahkan untuk bertemu dengan ku?"

Sehun mengelap air mata sang kekasih dengan ibu jarinya, mengecup kedua mata basah tersebut dan berujar, "Ingatlah aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa menjanjikan apa pun tapi jangan pernah meragukan seberapa besar cinta yang ku berikan untukmu"

Meskipun tidak puas dengan jawaban Sehun, wanita yang masih menangis sedih itu hanya bisa mengangguk lemah dan menyembunyikan wajahnya di leher pria di bawahnya, "Luhan-ie.."

"..."

"Jangan memikirkan apa pun, aku tidak mau kau setress"

"Emh.."

"Katakan saja jika ada yang mengganggu pikiranmu, jika tidak kau bisa memanggil kedua sahabat mu untuk mencurahkan isi hatimu?"

"Aku tidak mau terlalu membebani mereka"

"Selain mereka, siapa yang menjadi tempat berbagimu selama ini, bagaimana dengan ibumu?"

Luhan bangun, masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang hampir meledak saat Sehun menanyakan tentang ibunya, 'Aku bahkan tidak tahu siapa dan bagaimana rupa ibuku, aku bahkan tidak tahu dia masih hidup atau sudah tidak ada. Sehun-ah bagaimana ini? Dadaku sesak sekali rasanya'

Dari luar kamar mandi, Sehun menatap sedih pintu berkaca buram tersebut. Dia tidak bermaksud membuat Luhan semakin sedih, hanya saja dari dulu dia benar-benar penasaran siapa orang tua Luhan dan bagaimana keluarga Luhan yang sebenarnya.

Sehun ingin bertanya baik-baik pada Kyungsoo dan Baekhyun, bahkan pada Myungsoo dan Tuan Xi, tapi Sehun selalu mengurungkan niatnya saat tidak pernah sekalipun dia mendengar mereka membahas tentang ibu. Saat Baekhyun bercerita tentang masa lalu bagaimana ia bertemu dengan Luhan pun wanita itu tidak mengatakan apa-apa tentang Luhan. Baekhyun hanya mengatakan jika mereka bernasib sama yang membuat kepala Sehun pening memikirkannya, Sehun tahu, kata ibu sangat sensitif untuk seorang Xi Luhan, dan Sehun berjanji tidak akan mengungkit masalah itu lagi agar wanita yang di cintainya tidak merasa sedih.

Membiarkan Luhan melampiaskan kesedihannya, Sehun keluar apartmen untuk menyelesaikan salah satu masalahnya, masalahnya dengan sang ibu yang ngotot ingin menikahkannya dengan wanita yang tidak dia cintai. Sejujurnya Sehun agak ragu, jika saja Luhan mau menceritakan bagaimana keluarganya mungkin Sehun punya kesempatan untuk membela Luhan di depan ibunya, namun sayang, wanita berwajah sendu itu justru memilih bungkam sehingga Sehun harus memutar otak bagaimana caranya dia menjunjung tinggi harga diri Luhan di depan ibunya.

Sampai di rumahnya Sehun bertemu dengan sang ayah yang sepertinya baru pulang dari kantor, "Tumben pulang", Yunho menyindir sang pewaris tunggal keluarga Oh, dia tidak marah, dia hanya bercanda, buktinya Sehun terkekeh dan langsung memeluk pinggangnya, "Ada yang harus ku bicarakan, dan itu penting"

"Tentang wanita simpanan mu?", Tebak Yunho tepat sasaran sehingga mengundang kekekan ringan dari si anak semata wayang.

"Dia bukan simpanan ku, dia calon menantu appa", bisiknya sehingga menciptakan kekehan ringan dari sang ayah.

Dari lantai dua, mata cantik itu menatap sendu momen hangat antara sang suami dan sang anak, dulu mereka sering bersenda gurau seperti itu, tapi sekarang semuanya lenyap karena keegoisannya dan kenekatan Sehun yang mempertahankan Luhan dan menolak keras keinginannya.

"Eomma, kenapa melamun?", seperti biasa, satu kecupan untuk sang ibu setiap kali ia baru pulang ke rumah.

"Kau terlihat bahagia? Apa sesuatu terjadi?"

Sehun mengendikkan bahunya, tersenyum tipis pada ayahnya yang lebih memilih masuk kamar dari pada harus meladeni mulut istrinya yang akhir-akhir ini sering menyakitinya, "Ada yang ingin ku katakan pada eomma"

"Tentang apa?"

"Aku, Jessica dan Luhan"

Jaejoong mundur, "Sudahlah, eomma tidak punya waktu"

"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku tidak akan kembali lagi ke rumah ini"

"Oh Sehun bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Lupakah kau siapa yang melahirkan, merawat dan membesarkanmu?"

"Eomma tidak ikhlas merawatku? Eomma menyesal melahirkan ku sehingga eomma meminta balas budi dengan cara memaksaku menuruti semua kemauan eomma?"

"Bukan begitu", Jaejoong panik, dia tidak bermaksud demikian, sungguh hadirnya Sehun adalah anugerah terindah dalam hidupnya di tengah penyakit parah yang sudah di deritanya sejak ia kecil, "Tidak begitu sayang, kau salah paham"

"Tapi eomma selalu memaksaku menuruti semua kemauan eomma, sementara aku hanya meminta waktu untuk berbicara serius sebentar saja eomma langsung menolak"

"Itu karena kau ingin membicarakan Luhan"

"Memangnya apa salahnya dengan Luhan?"

"Kau tahu jika eomma tidak menyukainya"

"Eomma tidak adil, aku tidak bahagia sedikitpun saat sedang bersama wanita pilihan eomma tapi eomma justru melarangku berhubungan dengan wanita yang membuatku bahagia"

"Kau bahagia? Bertengkar setiap hari dan berjauhan dengan eomma adalah hal yang membahagiakan untuk mu?"

Sehun mengusap kasar wajahnya, mengutuk penyakit jantung yang di miliki sang ibu sehingga dia harus hati-hati dalam mengolah mulutnya yang terkadang jauh lebih pedas dari mulut Kyungsoo yang sedang memarahi Kai, "Baiklah aku salah, aku memang salah, aku salah kembali ke rumah ini", Sehun mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya, langsung melangkah cepat karena tidak tahan berada di dekat sang ibu. Sehun kesal, dia marah tentu saja. Apa semua anak harus mengalah pada ibunya? Apa semua anak harus menuruti segala perintah ibunya termasuk perintah yang tidak membuatnya bahagia dan malah membuatnya tertekan?

Baru satu langkah Sehun keluar rumah namun dia berhenti saat wajah sedih sang kekasih terngiang di benaknya. Seperti apa kata ayah Luhan jika ia tidak boleh menunda masalahnya, terlebih lagi Luhan, wanita yang sangat ia cintai itu sudah melewati banyak kesulitan dalam hidupnya, jadi, dengan besarnya cinta yang dia berikan dan kebahagiaan yang dia doakan agar segera menghampiri mereka, Sehun masuk kembali ke dalam rumah guna menemui sang ibu yang masih terdiam di posisi sebelumnya, "Eomma.."

Jaejoong yang sedang melamun menatap sendu wajah lelah putranya, "Mau bertengkar lagi?"

"Ini permintaan terakhir ku sebagai anak eomma", Sehun menatap lekat bola mata ibunya yang mengingatkannya dengan mata sang kekasih, "Bisakah eomma kembali seperti dulu? Eomma yang sangat menyukai Luhan dan merestui hubungan kami. Jika eomma merestui kami aku akan kembali lagi ke rumah ini dan menjadi Sehun yang eomma mau"

"Jika eomma tidak merestui?"

"Maka.., Selamat tinggal eomma", enggan berlama-lama, Sehun yang sudah bisa menebak jawaban ibunya langsung melesat pergi, dia belum mau pulang ke apartemen dan menemui Luhan. Wajahnya sedang kusut dan pikirannya sedang kacau, Luhan akan semakin merasa bersalah jika wanita itu mengetahui keadaannya, dan lebih parahnya Luhan lebih memilih meninggalkannya karena rasa bersalahnya. Tidak bisa, Sehun tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Setelah Sehun pergi, sang kepala keluarga yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran anak dan istrinya hanya bisa menatap sendu punggung bergetar Jaejoong.

Sampai kapan pun dia tidak akan bisa membela salah satu di antara keduanya. Anggap saja dia pengecut karena di saat dua orang tersayangnya bertengkar dia justru diam saja tanpa melakukan apa pun. Tapi Yunho bisa apa, dia tahu apa yang Jaejoong pikirkan, dan dia pun tahu bagaimana kekehnya putranya menentang keinginan Jaejoong.

Yunho rasa, Jaejoong pastilah sedang menyamakan kisah cinta mereka dua puluh delapan tahun lalu dengan kisah cinta Sehun sekarang. Dulunya, kenapa mereka bisa menghasilkan Sehun di antara mereka bukanlah karena cinta. Mereka menikah karena perjodohan, alasan yang sangat klise, ibunya dan ibu Jaejoong bersahabat dekat dan keduanya terlibat perjanjian konyol yang harus menikahkan kedua anak mereka ketika mereka sudah besar. Dan hal itulah yang membuat Jaejoong kekeh ingin menjodohkan Sehun.

Yunho rasa, istrinya pasti menganggap Sehun sama seperti dirinya yang bisa mencintai Jessica seiring berjalannya waktu, sama halnya dengan dia yang mencintai Jaejoong setelah satu tahun lebih mereka di jodohkan. Tapi Jaejoong salah, Sehun memang mirip dengannya, tapi dalam urusan cinta Yunho yakin mereka jauh berbeda. Sehun sangat kekeh dengan keputusan yang ia buat, Sehun sangat mencintai Luhan. Dan Yunho hanya bisa menyaksikan siapa yang kalah dalam pertengkaran keduanya. Sehun yang menyerah atas cintanya pada Luhan atau justru Jaejoong yang menurunkan harga dirinya dan mau menerima Luhan yang bukan berasal dari keluarga terhormat sama seperti Jaejoong.

Banyak alasan kenapa Jaejoong tidak menyukai Luhan. Salah satunya tahta dan status sosial yang begitu Jaejoong junjung tinggi. Jaejoong berasal dari keluarga terhormat dan terpandang. Wajar jika Jaejoong bersih kekeh ingin mendapatkan wanita yang terhormat pula untuk menantunya; pendamping hidup putra semata wayangnya. Tapi sayang, sepertinya Jaejoong melupakan betapa keras pendirian Sehun dalam menentukan pilihannya, dan beberapa menit lalu Sehun sudah menentukan sikap untuk memilih kebahagiannya sendiri dan meninggalkan Jaejoong yang menyesal atau Jajeoong yang semakin membenci Luhan.

Yunho kembali masuk ke kamar mereka, tidak tega melihat istrinya yang terisak menangisi kepergian putra kesayangannya, "Aku tidak tahu siapa yang salah, maaf tidak membelamu", matanya menatap sendu foto keluarga kecil mereka. Tidak tahu kapan lagi mereka bisa berfoto bertiga seperti itu setelah semua yang terjadi hari ini.

.

.

.

.

.

"Dia KO?"

Nyatanya, memiliki visual mengagumkan, harta berlimpah dan kedudukan yang tinggi tidak menjamin kebahagiaan seseorang, setidaknya itulah yang ada di pikiran kedua pemuda tampan tersebut untuk sahabat mereka.

Kai dan Chanyeol, kedua pengusaha muda tersebut sebelumnya menatap malas pada Sehun yang sudah tergolek di karpet berbulu Chanyeol, namun setelahnya keduanya merasa kasihan saat Sehun yang sebelumnya masih setengah sadar mencurahkan isi hati dan masalahnya pada mereka.

Tidak ada anak yang baik-baik saja saat kehilangan ibunya, apa lagi Sehun yang teramat dekat dengan wanita cantik itu. Chanyeol dan Kai rasa mereka pun akan sama terpuruknya dengan Sehun jika mereka mengalami nasib serupa.

Setelah menjauhkan semua botol alkohol di atas meja, kedua pria itu menatap prihatin pada Sehun yang sudah teler akibat menenggak dua botol minuman memabukkan itu, kaki Chanyeol bahkan sudah sibuk menendang kaki panjang Sehun untuk menyadarkan pria malang tersebut, "Sehun-ah, mau ku telponkan Luhan untuk menjemputmu atau ku telpon Jae eomma saja?"

Plak

Kai menggeplak kepala berotak bodoh sang pemilik apartmen, "Bodoh, jangan memberitahu Luhan apa lagi Jaejoong eomma", marahnya pada sahabat super tingginya.

"Lalu bagaimana? Apa yang harus kita lakukan padanya? Apa yang harus kita katakan pada Luhan? Wanita itu pasti sedang cemas menunggu Sehun pulang"

Kai bertopang dagu, berdengung sambil berfikir guna mencari alasan yang tepat agar Luhan tidak cemas dan bisa melewati malam ini dengan mimpi indah meskipun tanpa Sehun di sisinya, "Apa ya, aku tidak tahu"

Chanyeol mendengus, menyindir otak tumpul sahabatnya, "Tidak mungkin kan jika aku mengatakan Sehun tidak pulang karena dia merindukan ku dan menginap di apartment ku?"

Merasa jengah, Kai membaringkan tubuhnya di samping Sehun, "Katakan saja jika Sehun lembur?"

"Lembur bekerja? Di apartemen ku?"

"Eoh, bukankah itu lebih baik, bukankah Luhan sudah mengetahui jika kita mempunyai proyek yang baru kita garap bersama"

Chanyeol mengangguk, menyetujui alasan cerdas Kai, "Tumben kau cerdas", cibirnya, tangan panjangnya mulai merogoh saku celana Sehun guna mengambil phonsel dan mencari nomor Luhan.

"Waah~ aku tidak menyangka jika Sehun akan semanis ini saat sedang bersama Luhan", sama seperti Baekhyun, pria beranak dua itu bukannya mendial nomor Luhan tapi justru membuka aplikasi chatting guna membaca percakapan manis antara sang pemilik phonsel dengan kekasihnya, "Ohhh aku baru tahu jika Luhan cukup kasar dan berani memaki Sehun"

Mendengar kekehan Chanyeol yang sangat bahagia, Kai sengaja menendang jauh bantal di dekatnya, Chanyeol dan keingin tahuannya yang sangat tinggi memang harus di puaskan, jika tidak pria itu akan heboh karena tidak berhasil mencari tahu apa yang dia inginkan, "Cari nomor Luhan, bukan malah membaca pesan dan membuka galeri orang"

"Ssstt, mumpung Sehun sedang mabuk, aku penasaran saja bagaimana gaya pacaran ala Oh Sehun"

Kai mendesah pasrah, membiarkan Chanyeol melakukan sesukanya, dia bahkan sempat berdoa agar Sehun segera sadar dan menarik telinga lebar Chanyeol yang tidak mengerti istilah menjaga privasi, "Sadarlah Oh Sehun, ponselmu sedang di bajak sahabatmu sendiri"

Chanyeol terkekeh mendengar sindiran itu, "Sehun sangat setia, tidak ada satupun pesan dan telpon dari wanita di luaran sana yang dia gubris"

"Dia sangat terigila-gila pada Luhan, mana mungkin dia bisa selingkuh, lagi pula Luhan sangat cantik"

"Lebih cantik Kyungsoo atau Luhan?"

"Luhan terlalu kurus untukku, aku lebih suka yang sedikit berisi seperti Kyungsoo. Kau sendiri, Baekhyun atau Luhan?"

"Karena dia ibu dari kedua anakku jadi tentu saja Baekhyun yang lebih cantik"

Kai berdecih, "Aku rasa jika Luhan sedang makan wanita itu akan tersedak karena terus kita bicarakan"

Chanyeol tertawa renyah, ikut berbaring di samping Kai setelah ia menyudahi aksi mengintip gaya pacaran ala Oh Sehun dan segera menghubungi nomor Luhan.

.

.

.

.

.

"Luhan-ah ini aku, Chanyeol"

"Ada apa?"

Luhan membuka pintu balkon kamar, menikmati hembusan angin malam yang membuatnya semakin sedih.

"Tidurlah yang nyenyak, jangan memikirkan Sehun karena dia baik-baik saja"

"Sehun sedang ada dimana?"

"Dia sedang ada di apartmen ku, kami memilih lembur untuk mengerjakan proyek baru kami"

"Begitukah?"

"Hm, jangan khawatir, hanya kami bertiga, tidak ada perempuan di sini. Aku sendiri yang akan memukul Sehun jika dia berani selingkuh dari mu"

Mata rusa itu memandang sendu langit malam yang terlihat lebih gelap dari malam-malam sebelumnya, menghapus setitik air matanya saat ia mendengar kekehan masam Chanyeol, pria itu pasti berbohong, Luhan tahu itu, suara dan tawanya tidak seceria biasanya, kekehannya terdengar sangat di paksakan dan itu sangat menyakiti Luhan.

Luhan ingat, tadi sore Sehun mengatakan jika ia akan menyelesaikan masalahnya yang mana artinya Sehun telah menemui Jaejoong untuk memperjuangkan cinta mereka. Namun melihat apa yang terjadi saat ini Luhan yakin jika Sehun gagal, Sehun memilih menghindarinya dan belum mau bertemu dengannya karena Sehun sedang bersedih, Jaejoong pasti menolak keras permohonan Sehun.

Aku harap kau baik-baik saja...

Luhan menunduk, menatap ramainya jalanan kota Seoul di malan hari yang sangat cantik di hiasi berbagai macam warna lampu dari kendaraan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi, 'Sehun-ah bagaimana ini, kenapa aku sedih sekali, mataku tiba-tiba terasa panas', firasatnya tidak enak, kekasihnya pasti tidak sedang baik-baik saja, buktinya Chanyeol yang menghubunginya bukan Sehun. Tahu sendiri bagaimana sikap Sehun, jika dalam keadaan normal pria itu mana mungkin membiarkan Chanyeol menelponnya. Sehun menebar kecemburuaannya pada semua orang, termasuk sahabatnya sendiri sekalipun.

.

.

.

.

.

Pagi harinya, suasana apartment Chanyeol yang biasanya sepi kini cukup gaduh akibat Sehun yang membanting pintu kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya ke washtafel.

"Kau baik?", Chanyeol yang sudah bangun lebih dulu dari Sehun ikut membantu memijit tengkuk sang sahabat.

"Sialan, apa yang ku makan? Kenapa perut ku sangat mual"

"Kau lupa? Tadi malam kau mabuk"

Sehun terdiam, menatap lekat wajah kusut dan mata sayunya melalui cermin di hadapannya, sudah mengingat kembali apa yang telah terjadi padanya sehingga ia berakhir tidur di lantai apartemen Chanyeol dan bangun dalam kondisi mual seperti ini.

"Bersihkan saja tubuhmu, akan ku pesankan baju untukmu, kau harus segera pulang karena Luhan pasti-,"

"Astaga Luhan"

"...mengkhawatirkan mu"

Chanyeol bahkan Kai yang baru bangun tidur akibat kegaduhan yang terjadi di buat melongo melihat Sehun yang berlari secepat kilat keluar apartmen Chanyeol, melupakan mualnya dan penampilan berantakannya demi menemui sang kekasih yang sedang menunggunya.

"Jadi seperti itu kah gambaran orang yang tidak pernah jatuh cinta ketika ia sedang jatuh cinta? Waw..", Kai memasang wajah watados nya, kali ini dia yang penasaran dengan gaya pacaran ala Oh Sehun, pria itu bagaimana bisa senekat itu untuk menemui kekasihnya dalam kondisi berantakan khas bangun tidur, apa Sehun tidak takut jika Luhan akan ilfeel padanya?.

.

.

.

.

.

Brak

"LUHAN-AH"

Cemas, sedih, khawatir, dan takut yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak tadi malam sudah Luhan lalui. Dan ketika bangun pagi dia sudah berjanji untuk bersikap biasa seolah semunya baik-baik saja.

Setelah memasak sarapan untuknya dan kekasihnya yang ia harapkan akan pulang sebentar untuk menemuinya sebelum pria itu pergi ke kantor, Luhan yang sudah sangat cantik dengan dress baby doll-nya tersenyum hangat pada pria yang baru saja membanting pintu apartemen mereka dan meneriakkan namanya.

"Luhan-ah"

Tidak seorang pun pernah memandangku seperti caramu memandangku

Berbagai macam tatapan sudah pernah Luhan dapatkan dari mata pria yang saat ini sedang berdiri mematung di dekat pintu. Dari mulai tatapan marah, kecewa, tatapan teduh, hangat, dan tatapan memuja pun sudah Luhan dapatkan, tapi rasanya ini untuk pertama kalinya Luhan melihat Sehun menatapnya seperti itu, tatapan yang membuatnya ingin menangis lagi saat ia melihat mata Sehun yang terlihat lelah namun bibirnya tersenyum simpul, sangat di paksakan untuk berpura-pura baik-baik saja.

"Kau pulang? Sudah selesai bercinta dengan pekerjaan mu?", dia bercanda, menciptakan kekehan kekasihnya yang sudah merubah tatapannya menjadi tatapan hangat penuh cinta.

"Maaf tidak mengabari mu", Sehun yang sempat takut melihat kemarahan Luhan kini mulai mendekati kekasihnya dan memeluk wanita yang sedang tersenyum amat manis itu.

Satu-satunya hal yang bisa kupahami
Tak pernah kutahu harga sebuah senyuman mu

"Apa kau baik? Kau bau alkohol"

"Tadi malam aku minum bersama Kai dan Chanyeol"

Di balik punggung lebar kekasihnya, bibir merah itu tersenyum sendu, tangannya mengusap bahu kekasihnya yang tidak setegak hari kemarin, "Aku tebak kau belum mandi, kau bau"

Sehun melepaskan pelukannya, menatap lekat bola mata kekasihnya yang begitu menentramkan hati,

Matamu mengatakan segalanya tanpa sepatah pun kata
kau juga tidak baik-baik saja

"Aku baik Sehun-ah, aku hanya sedang mencemaskan mu karena kau tidak pulang"

Karena ada sesuatu di dalam caramu memandangku
Seakan-akan hatiku tahu kaulah bagian yang hilang

"Aku tidak akan mengulanginya lagi, kau pasti kedinginan tidur sendirian?"

"Tidak, aku sudah mengatur suhu kamar kita"

"Kau bohong, jika kau tidur dengan nayaman kau tidak mungkin bangun sepagi ini", untuk menebus kesalahannya Sehun menarik lagi tubuh kecil kekasihnya kedalam pelukanynya, "Tidur dua malam denganmu membuatku terbiasa bangun pagi"

Melepaskan pelukannya Sehun menangkup rahang kekasihnya, menyampaikan permintaan maafnya melalui tatapan mata yang membuat pipi gembil itu merona seketika, "Jangan melihatku seperti itu", katanya gugup dan malu, takut kakinya akan melumer seperti jelly berkat tatapan mematikan pria yang di cintainya, "Sehun-ah kau harus ke kantor, kau juga belum mandi dan sarapan", ia mencicit kecil, mencipatkan kekehan gemas dari kekasihnya yang teramat mencintainya.

"Baiklah aku akan mandi..", Sehun mengalihkan matanya ke dapur bersih mereka, "Kau sudah memasak?", tanyanya saat ia menemukan sarapan yang sudah tersaji di atas meja makan.

"Tentu saja, kau sendiri yang menyuruhku belajar memasak"

"Jangan di paksakan jika tidak bisa, aku takut kau mengiris jarimu, lagi pula aku mencintaimu apa adanya dirimu, jadi kau tidak perlu berusaha keras, bagaimana pun dirimu aku akan tetap mencintaimu"

"Aigoo...", si cantik berbalik, berjalan tidak tentu arah sambil mengipasi wajahnya yang memanas akibat gombalan langka kekasihnya.

"Dia semakin cantik saat sedang merona malu seperti itu", membiarkan kekasihnya sibuk menghalau rona di pipinya, Sehun memilih menuruti kemauan Luhan untuk mandi guna menghilangkan bau tidak sedap yang melekat di tubuhnya.

.

.

.

.

.

Seperti sebelumnya, setiap kali dia ada masalah dengan orang-orang yang di cintainya, putra tunggal Oh Yunho dan Oh Jaejoong itu akan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan guna melupakan masalahnya yang tidak ada habisnya.

Sehun bersama tumpukan dokumen, layar komputer yang menyala, tablet dan bolpoin di masing-masing tangannya sudah sepuluh jam yang lalu berada di ruang kerjanya, hal sekecil apa pun dia kerjakan karena tidak ingin meningat dua wanita yang paling dia cintai di dalam hidupnya.

Pagi tadi, meninggalkan Luhan yang mengkhawatirkannya, Sehun langsung pergi ke kantor dan sampai jam enam sore sekarang dia belum berniat meninggalkan kursi kebesarannya, dia butuh sendiri, dia butuh waktu untuk berfikir jernih, apa lagi saat ayahnya mengiriminya pesan yang mengatakan bahwa sejak kepergiannya kemarin ibunya tidak berhenti menangis, Sehun goyah tentu saja, wanita itu adalah wanita yang sangat di cintanya terlepas ia yang juga mencintai Luhan. Tapi saat mendengar ibunya bersedih dan kondisi kesehatannya yang tidak biak-baik saja Sehun di buat dilema. Satu sisi dia sangat menghormati ibunya dan di disi lain dia tidak ingin kehilangan Luhan.

Cklek

"Sehun-ie.."

Sehun yang sedang menatap kosong layar komputernya sambil memikirkan dua wanita tercintanya kini mengucek mata, meyakinkan jka ia tidak sedang salah lihat, "Eomma...", katanya parau, mendadak kehilangan suara melihat wanita cantik di depannya yang sedang menatapnya rindu.

"Eoh ini eomma, boleh eomma duduk?"

Seingatnya mereka tidak pernah secanggung ini, biasanya ibunya akan langsung menerobos masuk dan mengecup pipinya, tapi sekarang wanita itu begitu sopan seperti takut mengusik kesendirian anaknya, "Duduk saja eomma", Sehun berdiri, mendekati sang ibu dan duduk di depannya, "Apa yang membawa eomma kemari? ini sudah sore"

"Eomma ingin membawamu pulang"

"Bukankah kemarin semuanya sudah jelas"

"Katakan kenapa kau tidak mau pulang? Apa kau sudah mempunyai rumah baru yang membuatmu merasa lebih nyaman?"

"Iya, aku sudah mempunyai tempat pulang yang lebih nyaman dari rumah eomma dan appa"

"Apa yang membuatmu tidak nyaman?"

"Bagaimana aku nyaman saat tinggal dengan orang asing"

"Siapa? Jessica?"

"Memangnya siapa lagi"

"Lalu bagaimana dengan Luhan, apa dia bukan orang asing, bahkan kau lebih dulu mengenal Jessica daripada Luhan"

"Eomma", Sehun menatap tidak suka pada ibunya, wanita itu pasti sudah mengetahui di mana dia pulang beberapa hari ini.

"Kau tahu, jika sampai kapan pun kau tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu dari eomma, maka dari itu pulanglah, pulang ke rumah kita"

"Kalau aku tidak mau?"

"Luhan selalu ada di sana selama dua puluh empat jam"

"Eomma jangan melibatkan Luhan, jangan menggangunya karena dia tidak bersalah"

"Kata siapa dia tidak bersalah? Sejak kau mengenalnya kau berani melawan eomma bahkan tidak mau lagi tinggal serumah dengan eomma, semua gara-gara dia, sebelum kau bertemu Luhan hubungan kita masih baik-baik saja, tapi sekarang lihatlah, kau bahkan berani mengucapkan kata selamat tinggal pada eomma"

Sehun menatap memohon pada ibunya, dia saja yang sedih jangan Luhan, wanita itu sudah melewati kehidupan yang sangat berat sebelumnya, dan Sehun tidak mau menambah penderitaan wanita yang pernah ia sakiti itu, "Eomma ku mohon, jangan ganggu Luhan"

"Kalau begitu pulang sekarang, berhenti berhubungan dengannya"

"Tidak bisa, aku tidak mau tinggal serumah dengan wanita pilihan eomma. Aku tidak mencintainya eomma"

"Lambat laun kau akan menyukainya, dia cantik dan lebih segala-segalanya di atas Luhan"

"Tidak bisa"

"Pulang atau wanita simpananmu yang akan eomma temui"

"EOMMA..."

"Lihat, kau membentak eomma lagi"

Sehun menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, lelah sebenarnya, "Apa tidak ada pilihan lain? Apa tidak ada cara lain selain harus tinggal dengan wanita yang tidak kucintai itu", Sehun menunjukkan wajah memelasnya pada sang ibu, tidak apa-apa di anggap lemah, karena pada kenyataanya dia memang kalah jika itu sudah menyangkut tentang kekasihnya, Sehun takut ibunya akan menemui Luhan dan menghina wanita itu lagi, Sehun takut Luhan akan terluka dan lebih parahnya kembali bunuh diri seperi dulu karena tidak kuat dengan caci maki ibunya.

"Segeralah tunangan dengan Jessica, setelah itu eomma akan mengusirnya. Hanya tunangan sayang, bukan menikah, cobalah pendekatan dulu jika kau merasa tidak nyaman eomma sendiri yang akan memutus tali pertunangan kalian"

"Benarkah?", sejujurnya Sehun ragu, takut sang ibu membohonginya. Tapi selama seumur hidupnya sang ibu adalah orang paling jujur di dunia ini, ibunya adalah orang yang tidak pernah berbohong padanya.

"Sungguh, jika kau tidak merasa nyaman eomma akan melepaskanmu dari Jessica"

"Lalu apa yang harus ku lakukan?"

"Pulang kerumah, hadiri undangan makan malam keluarga Jung untuk membicarakan pertunangan kalian"

"Hanya itu?"

"Iya hanya itu, kau hanya perlu menerima pertunangan ini dan setelahnya jika kau tidak nyaman kau bisa memberitahu eomma"

"Hanya tunangan? tidak menikah?"

"Hanya pesta pertunangan, coba saja dulu. Siapa tahu kau akan jatuh cinta pada Jessica"

Sehun berdecih, dia sudah cinta mati pada Luhan, sulit untuk mengganti posisi Luhan di hatinya dengan wanita lain, "Janji..?

"Apa eomma pernah berbohong padamu?"

"Baiklah, aku pulang", Sehun terjebak, Sehun tergiur pada tawaran ibunya yang menjanjikan akan melepaskannya dari Jessica setelah mereka bertunangan, dan tanpa sadar ia sudah melupakan wanita cantik yang sedang menunggunya di apartmen hangat mereka.

"Baguslah, kalau begitu ayo pulang, kau tahu eomma sangat merindukan mu", bibir berlapis lipstick merah glossy itu tersenyum senang, selamanya Sehun akan menjadi Sehun-nya, Sehun yang akan menuruti segala kemauan orang tuanya.

"Aku masih ada pekerjaan, jam tujuh nanti aku pastikan sudah ada di rumah"

"Baiklah, akan eomma tunggu di rumah"

Sehun ikut berdiri, mengantar ibunya yang hendak pulang ke depan pintu, "Aku rasa aku keliru", gumamnya setelah sang ibu memasuki lift. Sehun kembali duduk, memikirkan ulang apa saja perjanjian yang sudah ia lakukan dengan ibunya. Jika dia menolak keinginan ibunya, Luhan akan menjadi tumbal sang ibu, tapi jika dia menerima tawaran ibunya, dia akan mendapatkan keuntungan dengan perginya Jessica dari rumahnya meskipun mereka harus terikat pertunangan terlebih dahulu, tapi tidak masalah, hanya bertunangan dan tidak menikah, dengan begitu Luhan akan selamat dari amukan ibunya. Ya Sehun rasa pilihannya adalah benar, semua demi Luhan dan untuk Luhan. Bukankah ibunya sudah berjanji akan melepaskannya dari Jessica jika saat bertungan nanti Sehun masih tidak merasa nyaman dan tidak bisa mencintai wanita itu, "Aku benar, iya aku benar", katanya, ragu sebenarnya, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat pertanda ia cemas dan tidak terlalu percaya diri dengan keputusannya.

Sehun melirik jam tangannya, sudah jam enam, dia hanya punya waktu satu jam untuk bertemu dengan Luhan dan mencari alasan agar Luhan tidak curiga dan tetap baik-baik saja tanpa gangguan sekecil apa pun dari ibunya.

Selalu terpikir tentangmu di tiap lakuku
Tuk bersamamu, apapun kan kulakukan

.

.

.

.

.

"Aku pikir kau lembur lagi..?"

Baru saja Sehun memasuki apartemen mereka, dia sudah di sambut dengan rengutan menggemaskan milik kekasihnya, "Aku punya waktu satu jam untuk menemani kekasihku"

Luhan yang sudah tersenyum lebar ingin memeluk kekasihnya kini berhenti, mata berbinarnya mendadak sayu, "Satu jam? Hanya satu jam?", tanyanya tidak percaya.

Memasang wajah sesantai mungkin, Sehun mengusap kerutan di kening wanita yang tanpa sadar akan ia sakiti lagi, "Iya, aku harus kembali ke kantor"

"Apa sesibuk itu?"

"Hm, memang begini seharusnya, proyek baru ku dengan Kai dan Chanyeol sangat besar, tanyakan saja pada mereka berdua jika kau tidak percaya"

"Anio, aku percaya", -bagaimana bisa aku percaya di saat tanganmu bergetar dan matamu tidak mau menatapku, kau bohong sayang. Luhan mengangkat kepala tertunduknya, memberikan sang kekasih senyuman terbaiknya yang menunjukkan bahwa dia baik-biak saja. Yang harus Luhan ingat adalah Sehun sangat mencintainya, hanya itu yang bisa menguatkan Luhan sekarang dan tidak menjerit marah mengutuk nasib hidupnya yang tidak pernah baik.

"Aku ingin istirahat sebentar sambil memelukmu, apa itu boleh?", Sehun berujar untuk memecah lamunan kekasihnya, Luhan bersedih, mata cantik itu sudah tidak bersinar seperti sebelumnya, Luhan-nya sedang berpura-pura baik-baik saja padanya.

"Aku milikmu", Luhan tersenyum lagi, membiarkan sang kekasih memeluknya dan memangkunya saat mereka sudah duduk di sofa, "Selama aku tidak ada jangan keluar dari apartemen, jangan menerima tamu selain Kyungsoo dan Baekhyun, dan juga kau harus selalu memberi ku kabar hm?"

"Aku mengerti"

'Maafkan aku Luhan-ah'

Sehun menyembunyikan wajahnya di dada Luhan yang sedang ia pangku, melesakkan hidungnya di sana untuk menghirup aroma tubuh kekasihnya, "Aku mencintaimu", katanya di sela-sela kecupannya yang mulai merambat ke leher, rahang, dan wajah kekasihnya, "Jangan berfikiran yang tidak-tidak, yang harus kau tahu aku sangat mencintaimu", kecupannya Sehun tutup dengan ciuman di bibir Luhan, memagutnya dengan lembut penuh cinta tanpa ada keraguan di dalamnya. Ia bahkan sudah melesakkan lidahnya saat Luhan melenguh pelan, tangannya bekerja merapatkan tubuh sang kekasih pada tubuhnya dan mendekapnya erat.

Keduanya memejamkan mata, menikmati momen manis namun terasa menyakitkan untuk keduanya, walaupun lima menit sudah berlalu, bibir Sehun masih belum mau berhenti mengaut bibir kekasihnya, menggigitnya atas dan bawah dan menghisapnya dengan kuat sehingga menciptakan desahan tertahan dari wanitanya.

Jika kubisa menghentikan waktu di pikiranku
Yang akan kuhentikan adalah saat bibirmu menyentuh bibirku
Kan kuhentikan detak jam, dan kubuat waktu tak bergerak
Karena sayang, beginilah yang ingin selalu kurasakan bersama mu

.

.

.

.

.

"Berhasil membujuk anak mu"

Ibu yang sudah mendapatkan anaknya kembali itu tersenyum, masuk kepelukan suaminya yang sedang menyindir kelakuannya, "Sehunie kita tetaplah Sehun yang sangat menyayangi ku"

"Apa yang kau katakan padanya sehingga dia mau kembali ke rumah?"

Beberapa menit lalu Sehun sudah pulang ke rumah, meskipun tanpa senyum tapi setidaknya Sehun-nya sudah pulang itulah kenapa Jaejoong sangat senang, "Aku akan melepaskannya dari Jessica jika dia mau bertunangan dengan Jessica"

"Aku tidak mengerti, bukankah jika mereka sudah bertunangan maka akan semakin erat hubungan mereka?"

"Tidak begitu, alasan kenapa Sehun tidak mau pulang karena ada Jessica di sini, dan alasan kenapa Jessica masih di sini itu karena dia yang menagih janjiku untuk segera mempercepat tanggal pertunangan mereka. Jika mereka sudah bertunangan itu artinya Jessica bisa pergi dari rumah ini"

"Kau terdengar licik, kau yang berjanji tapi Sehun yang menjadi korbannya"

"Sudah ku katakan padanya jika mereka sudah bertunangan namun tidak ada kemajuan dalam hubungan mereka Sehun bisa membatalkannya"

"Aku penasaran sebenarnya apa yang terjadi padamu, apa ada yang kau sembunyikan dariku sehingga kau ngotot ingin menjodohkan Sehun dengan Jessica, kenapa harus Jessica dan bukan wanita terhormat lainnya?"

"Jessica wanita yang pantas untuk Sehun, apa salahnya dari menjodohkan anakku dengan wanita baik-baik?"

"Baiklah anggap aku percaya, tapi seharusnya kau tidak menyamakan aku dan Sehun, dulu aku bisa mencintaimu karena aku tidak punya kekasih, sedangkan sekarang Sehun sudah mempunyai wanita yang sangat dia cintai"

"Dengarkan, jika Luhan adalah wanita baik-baik dan berasal dari keluarga yang baik maka aku sendiri yang akan menyeret Luhan ke altar untuk ku nikahkan dengan Sehun", dan setelahnya istri Oh Yunho itu keluar dari kamar untuk menghindari perdebatan lebih lanjut dengan sang suami. Bebannya sudah terasa lebih ringan sekarang, janjinya dengan Jessica sebentar lagi akan terbayarkan, "Tidurlah lebih dulu, aku ingin menemui Jessica", sebelum benar-benar keluar Jaejoong sedikit berteriak pada sang suami yang sepertinya siap mencekik lehernya.

"Urus saja sana calon menantumu", Yunho mendengus, menutup pintu kamar agar istrinya segera pergi. Dan beberapa menit setelahnya, di rasa Jaejoong sudah menghilang ke kamar Jessica, Yunho berjalan cepat ke kamar Sehun, dia ingin memastikan jika putranya baik-baik saja, setidaknya fisiknya baik-baik saja.

"Sehun-ah.."

"DEMI APA PUN AKU MERINDUKAN KEKASIH KU"

Yunho terlonjak kaget mendengar teriakan anaknya yang sedang menggulung tubuhnya dengan selimut, "Sehun ini appa"

"APA? MAU MENYURUHKU APA LAGI?"

Bukannya marah, Yunho justru terkekeh, suka melihat sisi manja Sehun yang jarang sekali ia lihat, "Kau merindukan Luhan?"

Saat mendengar nama wanita yang sejak tadi menjadi objek teriakannya barulah Sehun mengeluarkan tubuhnya dari dalam gulungan selimut, "Tentu saja, dia sendirian di sana"

Yunho mendudukkan dirinya di kasur Sehun, terkekeh geli melihat wajah sepet anaknya, "Sabar saja, kau hanya perlu bertunangan, dan setelah itu kau bebas ingin berhubungan dengan Jessica atau justru mengabaikannya"

"Tentu saja aku akan mengabaikannya"

"Kau sangat mencintai Luhan?"

"Haruskah appa menanyakan hal yang sudah jelas seperti itu, bodoh"

"Sopanlah sedikit aku ini appa mu"

Sehun merengut, mendelik tidak suka pada ayahnya yang tidak membantu sama sekali, "Appa, bantu aku agar aku bisa kembali ke apartemenku dengan Luhan", pemimpin anak perusahaan Oh Enterprise itu sedang bertranformasi menjadi remaja belasan tahun yang sedang merengek minta bantuan ayahnya.

"Kau pikir untuk apa appa menelusup masuk ke kamar mu jika bukan karena ingin membantu mu?"

"Tck, tidak mungkin, appa sangat tunduk dengan wanita pemaksa itu"

"Ya sudah kalau tidak percaya, tidak jadi kalau begitu", Yunho sudah ingin berdiri dan kembali ke kamarnya, namun dia urungkan saat tangan Sehun menahannya, "Apa?"

"Bantu Sehun"

"Eomma mu belum tidur, dia sedang berada di kamar Jessica dan mungkin sebentar lagi dia akan ke kamarmu untuk memberikan kecupan selamat malam pada anak TK nya"

"Mana ada anak TK yang bisa membangun perusahaan", Sehun mendengus, tidak ayahnya tidak ibunya semuanya selalu memperlakukannya seperti anak kecil.

"Anak TK yang sudah bisa membuat anak sendiri lebih tepatnya"

"HaHaHa..", Sehun terbahak, tidak menyangka ayahnya akan mengeluarkan guyonan cabul seperti itu, "Appa benar"

"SEHUN-AH.."

"Sehunie eomma masuk ya?"

"Pura-pura tidur sekarang..!"

Sret

Cklek

"Ooh kau ada di sini sayang?"

Setelah menarik selimut Sehun dengan kecepatan kilat, ayah satu anak itu tersenyum pada sang istri, "Aah n-ne, tadinya aku ingin melihat kondisinya, tapi dia sudah tidur", katanya, berujar sesantai mungkin dan berdoa agar Sehun yang sedang berpura-pura tidur tidak tertawa mendengar suara tercekiknya.

Jaejoong mendekat, mengecup kening anaknya sebagai kecupan selamat malam yang biasa dia lakukan, "Dia kelihatan lelah"

"Menurutmu karena siapa dia seperti itu?"

"Karena pekerjaannya"

Yunho mendengus, istilah wanita tidak pernah salah dan selalu menang itu adalah benar adanya, "Benar, anakku lelah karena pekerjaannya untuk selalu menuruti kemauan ibunya"

"Mau ku cubit atau ku jambak rambutmu?"

"Tidur sana.."

"Kau tidak ingin tidur dengan ku? Bosan?"

"Nanti aku menyusul, aku ingin ke ruang kerja terlebih dahulu"

"Baiklah, aku duluan, jangan terlalu lama sayang"

"Hm..", setelah mengecup bibir istrinya yang sudah kembali ke kamar, Yunho menepuk pipi Sehun sehingga mata warisannya itu segera terbuka lebar, berbinar senang karena sang ibu sudah pergi, "Bangunlah, eomma mu sudah pergi"

Sehun bangun, merapikan rambut dan pakaian kusutnya untuk bersiap menemui kekasihnya, "Apa yang harus ku lakukan appa?"

"Pakai saja mobil appa, appa sengaja belum menyuruh pak Han memasukkannya ke garasi"

"Bagaimana jika eomma mengetahuinya?"

"Tenang saja, appa akan membuat eomma mu tidak bisa bangun sampai besok pagi, bahkan sampai siang jika perlu"

"Memangnya apa yang akan appa lakukan?"

Satu lemparan bantal Yunho berikan pada anaknya yang sedang berlagak polos, "Appa akan membuatkan adik untuk mu"

"Cih, yang ada aku akan membuatkan cucu untuk mu, kau sudah tua, tidak pantas bertingkah mesum seperti itu, kasihan eomma"

"Haruskah appa mengurungmu di dalam kamar sekarang juga?"

"Anio", Sehun mendekati sang ayah, menatap serius pada wajahnya yang tegas namun lembut secara bersamaan yang sering ia kagumi, "Appa, di saat eomma mati-matian ingin memisahkan ku dengan Luhan tapi kenapa appa justru merestui ku bahkan ingin membantu ku?"

Yunho tersenyum hangat, menggenggam tangan putranya yang sudah berperan besar membesarkan perusahaan mereka, "Meskipun kau paling dekat dengan eomma mu tapi appa lah yang paling tahu siapa dirimu. Lebih dari sembilan puluh persen kau benar-benar mewarisi semua gen appa, maka dari itu appa tahu apa yang kau rasakan dan kau pikirkan, appa mengerti anak appa yang sangat mencintai wanita yang sudah menjadi pilihannya, dan pastinya wanita pilihan mu bukanlah wanita sembarangan, dibanding eomma mu appa lah yang paling tahu siapa dirimu dan bagaimana dirimu yang sebenarnya", Yunho menjeda kalimatnya, dia memang jarang bicara dengan Sehun selain membicarakan pekerjaan, tapi sekalinya memiliki kesempatan bicara sebagai anak dan ayah seperti ini dia akan mencurahkan semuanya, "Selama dua puluh lima tahun kau hadir di tengah-tengah appa dan eomma mu, selama itu pula kau tidak pernah mengecewakan kami. Kau anak yang baik, kau anak yang penurut. Dari dulu semua keputusan yang kau ambil adalah keputusan yang tepat dan tidak pernah salah. Dulu eommamu menangis karena kau yang memutuskan untuk kuliah di luar negeri dan meninggalkan kami, tapi beberapa tahun setelahnya kau pulang dengan membawa prestasi mengagumkan yang membuat kami bangga padamu. Setelahnya kau memutuskan membangun bisnis sendiri yang juga sempat di larang eomma mu karena tidak ingin kau terlalu sibuk dan lelah berada di dunia bisnis yang kau tahu sendiri betapa tidak mudahnya itu, tapi hasilnya apa, lagi-lagi kami tersenyum bangga melihat keberhasilan mu. Dan appa rasa semua keputusan yang kau ambil adalah benar"

"Termasuk menentang keinginan eomma?"

"Hm, kau pasti bisa membedakan mana wanita yang pantas dan tidak pantas untuk mu. Appa yakin Luhan tidaklah seburuk yang eomma mu katakan"

"Jika saja aku memiliki eomma seperti appa"

"Haruskah appa operasi agar cantik seperti eomma mu?"

"Kau sudah tua, walaupun operasi tidak akan secantik Luhan"

"Kau sangat mencintai wanita itu, secantik apa dia?"

"Appa sudah sering melihatnya"

"Hanya fisiknya, appa tidak tahu keperibadiannya"

"Aku rasa kapan-kapan aku harus membawa appa makan siang bersama dengan Luhan, appa tahu, dia sangat cantik, luar dan dalam"

"Kau tidak takut jika Luhan akan berakhir menyukai appa?"

Sehun mendengus, padahal beberapa detik lalu baru saja dia sangat mengagumi ayahnya yang begitu bijak karena sudah sangat mengerti dirinya, "Aku tidak jadi memelukmu", kata Sehun yang di hadiahi Yunho pelukan singkat dan tepukan di bahu, "Semangat, berdoa saja eomma mu mau menurunkan harga dirinya"

Sehun melepaskan pelukan singkat dan langka mereka, "Terima kasih appa, appa yang terbaik"

Yang di puji mengibaskan poninya, memamerkan kening berwibawanya pada sang anak, "Pergilah, appa akan menidurkan eomma mu dulu, appa akan mengirimi mu pesan jika dia sudah tidur", katanya sambil beranjak pergi dari kamar Sehun.

"Gomawo appa, jeongmal gomawo"

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam, istri beruang kutub yang sangat pemaksa yang merupakan ibu kandungnya sudah tidur sehingga Sehun sudah bisa keluar rumah dan sudah mengemudikan mobil sedan ayahnya yang sering ayahnya gunakan untuk kabur ketika sedang bertengkar dengan Jaejoong. Flat mobil yang sedang dia gunakan sekarang tidak di ketahui Jaejoong sehingga Sehun akan aman dari pengawasan wanita cerewet tersebut. Terima kasih pada ayahnya yang luar biasa pengertian padanya.

Di pertengahan jalan, Sehun teringat dengan kekasihnya yang tidak pandai mengolah bahan makanan, Luhan pasti belum makan, walaupun sudah makan pasti tidaklah kenyang karena pikiran wanita itu yang pasti sedang memikirkannya.

Sehun memilih mampir di cafe dua puluh empat jam yang menjual pizza di dalamnya, membeli satu kotak untuk mengisi perutnya dan perut kekasihnya. Jika dalam kondisi baik-baik saja Luhan pasti sudah tidur, tapi Sehun berani bertaruh jika saat ini jangan kan menutup mata, wanita itu pasti sedang memasang wajah sendunya karena mengkhawatirkan dirinya.

Sehun kembali melajukan mobilnya, memilih menelpon sang kekasih untuk menemani perjalanannya, "Sayang belum tidur?"

"Sehun-ah?"

"Lupa dengan suara kekasihmu?"

Di seberang telpon si cantik terkekeh membuatnya ikut menarik kedua sudut bibirnya ke atas, "Kenapa kantor mu? Tidak jadi lemburnya?"

"Kantornya tutup, bos-nya sedang libur, cuti melahirkan"

"Bisa begitu?"

Keduanya tertawa kecil sebelum Sehun berujar, "Aku membawa pizza untuk mu, aku harap kau menyukainya"

"Bawakan aku ice cream juga"

"Aku tidak mau mempunyai kekasih bertubuh gendut"

"Ya sudah tidak usah pulang, aku sudah tidur"

"Aku punya kunci dan ingat dengan jelas password apartemen kita"

"Satu cup jumbo ice cream ya? Satu ciuman untukmu"

"Kau sedang mengidam? Jika iya akan ku belikan toko ice cream-nya untuk mu"

"Mengidam kepala mu, hamili aku dulu baru aku akan membuatmu setress karena menuruti masa ngidam ku"

Sehun meringis, mendengar kata menghamili membuatnya sukses membayangkan yang tidak-tidak yang membuatnya tegang seketika, "Aku akan menghamili mu ketika aku sudah sampai di apartemen, sekarang buka pintunya"

"Kau sudah sampai?"

"Iya cepat buka"

"Kau punya kunci dan password di otakmu"

Pip

Cklek

Baru beberapa langkah Sehun memasuki apartemen mereka, dia langsung di hadiahi Luhan lompatan indah yang sudah masuk kedalam gendongannya, "Kau yang akan ku jatuhkan atau kantong makanan yang ada di kedua tangan ku?"

Tidak perduli dengan kekasihnya yang kesusahan menahan beban tubuhnya, Luhan justru semakin mengeratkan lingkaran kaki tangannya yang sedang melingkari tubuh Sehun, "Kau harus berlatih menggendong"

"Kau bukan bayi, bukan pula Dennis dan Jasper", Sehun menghempaskan wanita manja itu duduk di sofa, membuka kotak pizza dan satu cup jumbo ice cream pesanan kekasihnya, "Ayo makan, mau ku suapi?"

Luhan menggeleng, ikut duduk di lantai dan langsung melahap satu potongan besar makanan khas Itali itu, "Aku sudah lama tidak memakan pizza", katanya di sela-sela kunyahannya, "Pelan-pelan sayang", Sehun mengelap bibir kekasihnya, menggeleng heran melihat cara makan Luhan yang sangat lahap.

Uhuk

Si cantik tersedak, berlari ke dapur untuk mengambil sebotol air minum.

"Sudah ku bilang pelan-pelan"

Luhan kembali duduk di dekat Sehun, mulai melahap ice cream-nya untuk mengisi perutnya yang memang lapar, "Jangan ilfeel padaku, aku memang belum makan", Luhan menoyor pipi Sehun, menghentikan sang kekasih yang sedang memperhatikan cara ia makan.

"Aku tidak tahu kenapa aku bisa cinta mati pada wanita seperti mu", Sehun menggeleng tidak mengerti, membiarkan wanita di sampingnya makan dengan rakus, berdoa saja semoga perut kekasihnya tidak bermasalah dan berat badannya tidak bertambah karena mengkonsumsi makanan cepat saji di tengah malam seperti ini.

"Aku kenyang", beberapa menit setelahnya Luhan menyandarkan tubuhnya di kursi, perutnya benar-benar terasa full setelah melahap habis tiga potong pizza dan menghabiskan satu cup ice cream-nya

"Mana bayaran untukku?", Sehun yang masih di posisi tadi menepuk perut kekasihnya, "Masih rata, baguslah", katanya yang membuatnya di hadiahi Luhan dengusan keras.

"Bayaran apa?"

"Satu cup ice cream ya? Satu ciuman untuk mu", Sehun menirukan suara kekasihnya beberapa menit lalu sehingga membuat sang kekasih tertawa renyah, "Ayo ci-,"

Cup

"...um, cium sayang bukan kecup"

Luhan mendekat, duduk mengangkang di pangkuan sang kekasih, menempelkan bibirnya dengan bibir Sehun yang langsung memagutnya sensual namun penuh cinta, "Aku butuh seseorang yang bisa menghentikan waktu saat ini juga"

"Kalau begitu akan ku pinjamkan robot doraemon milik si kembar"

Sehun terkekeh, menggendong koala sang kekasih untuk masuk ke kamar mereka, kembali menciumnya dan melumat habis bibir yang terasa semakin manis akibat dari rasa ice cream yang tertinggal di mulut kekasihnya.

Tanpa melepaskan tautan bibir mereka Sehun menghempaskan tubuh Luhan ke ranjang, menindihnya karena tidak ingin kehilangan bibir kekasihnya. Favoritnya adalah tidur dalam kondisi telanjang, jadi tanpa kesulitan yang berarti kedua tangannya sudah bekerja melucuti piama tidur kekasihnya dan pakaian yang sedang ia gunakan saat ini sehingga mereka sama-sama polos, menciptakan desiran panas ketika kulit telanjang mereka bersentuhan. Entah sampai kapan Sehun tidak akan melepaskan bibir Luhan, sampai kapan juga dia bisa menahan dirinya untuk tidak membobol vagina kekasihnya saat ini juga dia pun tidak tahu. Yang jelas malam ini akan dia habiskan untuk menyirami Luhan dengan sejuta cinta dan semua perlakuan manis nan romantis yang ia bisa untuk menebus dosanya yang sudah membohongi Luhan.

.

.

.

.

.

Setelah menghabiskan momen malam dan pagi harinya bersama Luhan yang lagi-lagi dia tinggalkan di apartmen, di jam sebelas siang Sehun pulang ke rumah berkat paksaan ibunya. Dan karena tidak ingin berlarut-larut siang hari itu juga Sehun gunakan untuk mengundang keluarga Jung makan siang bersama guna membicarakan tanggal pertunangan mereka. Dia tidak mau membicarakannya di acara makan malam yang sangat formal seperti apa yang sudah ibunya katakan, alasannya adalah tentu saja karena dia tidak mau melewatkan malamnya tanpa Luhan.

Saat ini, di dining room kediaman keluarga Oh semuanya sudah berkumpul. Orang tua Jessica sudah menghabiskan makan siang mereka sehingga inilah saatnya untuk membicarakan tanggal pertunangan mereka yang Sehun kutuk dan harapkan akan terjadi badai besar di hari itu sehingga dia tidak perlu melingkarkan cincin di jari manis wanita yang tidak dia cintai.

"Aku rasa satu minggu lagi saja"

"Itu terlalu cepat"

"Bagaimana kalau bulan depan"

"Itu terlalu lama"

"Kita ambil tengah-tengah, dua minggu lagi kalian akan resmi bertunangan, kalian hanya perlu duduk diam saja karena aku dan Jaejoong lah yang akan mempersiapkan pesta pertunangan kalian"

Membiarkan keempat orang dewasa di sana berdebat guna membicarakan hari pertunangan mereka, Sehun dan jari-jari lincahnya di bawah meja bergerak lihai saling tukar pesan dengan kekasihnya, dia tidak perduli, mau tunangan hari ini atau tahun depan pun hasilnya sama saja.

"Dua minggu lagi pesta pertunangan kalian akan di gelar, bersiaplah"

Sehun mengangguk, membalas remasan di bahunya dengan senyuman, ayahnya sangat luar biasa, dari tadi ayahnya hanya diam tidak mengatakan apa pun dan tidak ikut berdiskusi, Sehun benar-benar beruntung memiliki ayah seperti ayahnya, "Aku ke kamar", di rasa semuanya sudah selesai, Sehun bersama ponsel di tangannya langsung menuju kamar, membiarkan orang dewasa di sana dan Jessica bercengkerama hangat.

"Bagaimana?"

Chanyeol, Kai bahkan Suho yang juga menghadiri acara makan siang tersebut, namun bedanya mereka tidak mau ikut makan dan berakhir menunggu di kamar Sehun guna mencari tahu hasil dari acara makan siang hari ini langsung memberondong sang pemilik kamar dengan pertanyaan, mereka penasaran tentu saja.

"Dua minggu lagi", Sehun menjawab singkat, ikut bergabung dengan ketiga sahabatnya tanpa mengakhiri chatting nya bersama sang kekasih.

"Baguslah, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama", Suho menimpali, bergeser untuk duduk di samping Sehun dan mengintip layar phonsel sang sepupu sekaligus sahabatnya, "Luhan lagi?"

"Hm.."

"Aku sudah pernah bertemu dengannya atau belum ya? Aku lupa", tanyanya yang sepertinya sudah tertular penyakit pikun kekasihnya.

"Salahmu yang selalu berpindah dari satu negara ke negara lain, sekali-kali bisa tidak menetap di satu negara saja"

Menyahuti sindiran Kai, pria multi miliuner itu berujar, "Aku mencari uang, lihat hasilnya, aku sangat kaya raya kan?"

Ketiganya mendengus, termasuk Sehun sekalipun, jika kalian ingin tahu siapa orang yang paling kaya dan paling sombong di dunia itu adalah Kim Junmyeon, sepupu Oh Sehun yang sering tidak Sehun akui karena kesombongannya. Lupakah kau jika kau juga sama sombongnya Oh Sehun?

Menghentikan kesombongan Suho, ayah dua anak di sana meletakkan kasar gelas minumannya sebelum berujar, "Sehun-ah aku dengar ayahmu tidak begitu suka dengan perjodohan yang di lakukan Jae eomma, apa itu benar?"

"Dia memiliki selera yang bagus"

"Itulah kenapa dia bisa membantu mu keluar rumah agar bisa kembali menemui Luhan?"

"Dari mana kalian tahu?"

"Ayahmu sendiri yang memberitahu kami, sebelum kau datang kami sudah lebih dulu bercengkerama dengan ayahmu, tenang saja, kami akan membantumu sebisanya untuk lepas dari Jessica dan menyembunyikan semua ini dari Luhan"

'Luhan..'

"Aku rasa aku harus pergi, dia sendirian di apartmen"

"Boleh aku ikut? aku akan membawa si kembar juga, aku sangat merindukan wanita cantik itu"

"Siapa yang kau rindukan yang kau panggil cantik itu?"

Chanyeol tersenyum lima jari, memberikan vsign nya pada pria pencemburu nomor wahid di dunia ini, "Bercanda, aku ikut ya, aku akan menjemput si kembar dulu tapi"

"Alasan, aku berani bertaruh jika tidak hanya kedua anakmu yang kau bawa, namun juga ibu dari anak-anak mu"

Chanyeol terkekeh, "Baguslah jika kau tahu"

"Ya sudah aku pergi, hyung, Kai mau ikut tidak?", Sebelum benar-benar pergi Sehun mendial kedua sahabatnya, "Aku harus menemui kekasihku", kata Suho yang juga ikut berdiri, dia memang punya janji dengan kekasihnya, mumpung dia sedang berada di Korea jadi ini saatnya menghabiskan waktu dengan sang kekasih yang sering dia tinggalkan karena kesibukannya.

"Aku juga tidak, aku ingin menemui kekasihku"

"Siapa kekasihmu?"

Kai tertawa kecil, "Sahabat Luhan dan Baekhyun", katanya malu, takut di bully oleh mulut kurang ajar Sehun dan Chanyeol.

"Akhiri dulu pertunangan mu Kai, Kyungsoo punya banyak pisau untuk memotong penis mu"

"YA! AKU NGILU"

Sehun dan Chanyeol langsung berlari keluar kamar, di ikuti Suho yang mengekor di belakang mereka, membiarkan Kai sendirian yang mereka tebak akan menumpang nonton atau mencuri majalah dewasa milik Sehun.

"Hati-hati hyung...", saat hendak memasuki mobil -dia berjalan cepat untuk menghindari orang tuanya dan orang tua Jessica- Sehun melambai pada sang sepupu yang sudah melesat pergi. Dan setelahnya Sehun ikut memasuki mobilnya saat ia melihat Chanyeol sudah menyalakan mesin mobilnya.

"Sehun-ah mau ku bawakan makanan apa untuk mu dan Luhan?", Chanyeol menurunkan kaca jendelanya membuat Sehun melakukan hal yang serupa, "Apa saja, kami pemakan segalanya"

"Oke tunggu sekitar satu jam lagi ya?"

"Kenapa lama sekali?"

"Aku ingin menemani Baekhyun dan si kembar makan siang sekalian"

"Tck, pantas saja kau menawariku makanan"

"Aku belajar darimu bagaimana caranya mencari alasan yang menguntungkan", katanya lagi sambil melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang.

"Berkencan di restoran itu tidak asik", Setelah mematahkan semangat sang sahabat, Sehun bersama Porsche-nya melesat cepat untuk menemui sang kekasih, tapi sebelum itu tidak lupa pula ia mampir untuk membeli bunga kesukaan kekasihnya yang tidak lebih cantik dari sang kekasih.

"Aku tidak makan bunga, aku ingin makan makanan lezat khas restoran bintang lima"

Saat sudah sampai si cantik langsung bergelayut di lengannya dan melempar sembarang bunga yang baru saja ia beli, "Seharusnya kau mengucapkan terima kasih", Sehun menatap kasihan bunga cantik namun bernasib malang yang sudah tergeletak di lantai berkat lemparan sang kekasih.

"Terima kasih sayang, cup"

Sehun terkekeh, mengusap pipi basahnya berkat kecupan basah sang kekasih, "Memangnya kau belum makan? Kenapa mengeluh lapar?", Sehun membawa Luhan duduk di balkon kamar, ingin bersembunyi dari Baekhyun dan Chanyeol yang sebentar lagi akan mengganggu momen manisnya dengan Luhan. Di tambah lagi ada dua bocah nakal itu, Sehun berani bertaruh keduanya akan merebut Luhan darinya.

"Aku tadi sudah memasak, tapi hasilnya berantakan"

"Gosong?"

"Tidak, lebih parah"

"Oke aku tidak ingin membahasnya, itu pasti lebih buruk dari kotoran hewan"

"YA! berani-beraninya kau menyamakan masakan kekasih mu dengan kotoran hewan, memang mirip sih"

Melihat cengiran polos kekasihnya Sehun tergelak, "Sudah ku bilang jangan memaksakan diri", katanya sambil mengusap pipi kekasihnya yang sudah berbaring nyaman di pangkuannya.

Ting

Tong

Bugh

Bugh

"LULU EOMMA~ SEHUN SAMCHON~"

Sehun yang hendak menunduk untuk mencuri ciuman di bibir kekasihnya kini di buat meringis saat mendengar suara bel diikuti gedoran dan teriakan dari mulut Dennis, si sulung berambut keriting itu benar-benar, "Tunggu di sini biar aku yang buka"

"Apa itu Dennis dan Jasper?"

"Berapa banyak anak kurang ajar yang kau punya?"

Luhan terkekeh, "Mereka anakku juga, kau tidak pantas berkata seperti itu"

"SEHUN SAMCHON"

Bugh

Bugh

"Oke tunggu di sini, sebelum pintu kita lepas dari tempatnya", berjalan cepat Sehun membuka malas pintu apartemennya, apa lagi saat ia melihat cengiran polos dari keempat makhluk di depannya, sadar betul jika mereka sudah mengganggu momen manis sang tuan rumah, "Masuklah..!", katanya yang membuat si kembar langsung berlarian sambil meneriaki nama Luhan, "Lulu eomma kalian tidak ada", bohongnya yang membuat si kembar mendelik lagi padanya.

"Samchon bohong"

"Cari saja jika tidak percaya", Sehun membawa sang tamu ke ruang tengah, menyalakan televisi guna menyamarkan teriakan heboh Dennis dan Jasper yang sedang mencari Luhan, "Kenapa cepat sekali? Kau bilang ingin ke restoran dan makan siang terlebih dahulu"

Chanyeol memilih duduk di samping Baekhyun yang sedang fokus memperhatikan si kembar, "Niatnya memang begitu, tapi saat aku mengatakan ingin memesan makanan sekaligus makanan untuk kau dan Luhan mereka langsung merengek ingin kemari", Chanyeol menunjukkan celana kusutnya, membuktikan jika kedua bocah itu tidak hanya merengek namun juga menarik-narik celananya.

"Ambil saja piring di dapur, kalian makan di sini saja. Aku lihat kalian membeli banyak makanan"

"Kami memang ingin makan di sini", Baekhyun ke dapur, mengambil perlengkapan makan untuknya dan si kembar, urusan Chanyeol pria itu bisa ambil sendiri.

"BOCAH! jangan sembarangan masuk ke kamar orang..!"

Brak

"LULU EOMMA~"

Terlambat, keduanya sudah melompat heboh menduduki perut Luhan yang masih berbaring saat mata mereka melihat kaki sang ibu di balkon kamar, "Kalian datang? Bersama siapa?", Luhan membiarkan Dennis menduduki perutnya dan menarik gemas pipi Jasper yang sedang merengut karena tempat duduk favoritnya di kuasai sang hyung.

"Bersama eomma dan papa", Si sulung menjawab lesu, kontras dengan sang hyung yang tertawa bahagia bisa memeluk sang ibu.

"Memangnya di mana Luhan?", di luar, setelah menyiapkan makan siang untuk dirinya dan si kembar, Ibu dari dua bocah menggemaskan itu bertanya pada Sehun yang sedang merutuki kelakuan kedua anaknya.

"Dia sedang dalam mode malasnya, tiduran di balkon kamar"

"Luhan pasti sedang bersusah payah menjauhkan salah satu dari mereka yang sedang menduduki perutnya sambil menciumi wajahnya"

"Apa kau bilang?", secepat kilat Sehun berlari ke balkon, matanya melotot lucu melihat pemandangan di depannya, "Jangan menduduki perut kekasihku, di dalamnya ada adik kalian", Sehun menurunkan Dennis dari perut kekasihnya, mengelap wajah basah sang kekasih dengan telapak tangannya, "Kau terlihat seperti pedofil", mulutnya menyindir sikap pasrah sang kekasih.

"Kau terlihat seperti penjahat yang suka menyiksa anak kecil"

"Samchon turunkan Dennis", si sulung meronta, tidak nyaman berada di gendongan sang paman.

"Tidak mau, ayo keluar, eomma dan papa kalian tidak boleh di biarkan bedua saja", Sehun mendial Luhan, mengkode sang kekasih untuk mengikutinya dan menyudahi mode malas gerak yang sedang ia lakukan.

"Hai Lu.."

Luhan mencomot udang goreng di piring Baekhyun, mengecup pipi sang sahabat dan duduk di sampingnya, meninggalkan Sehun yang sedang sibuk beradu mulut dengan si kembar, "Boleh aku ikut makan? Aku lapar"

"Mana ada kekasih yang membiarkan kekasihnya kelaparan", Merasa terganggu dengan kedatangan Sehun yang terlalu cepat, Chanyeol menyindir kelakuan Sehun yang sudah membiarkan Luhan kelaparan.

"Abaikan mereka, ambil alat makanmu dan kita makan bersama"

Luhan mengangguk, menuruti perintah Baekhyun untuk makan bersama, liurnya benar-benar hampir menetes melihat beberapa olahan sea food yang di bawa Baekhyun, "Dennis, Jasper, ayo makan sayang, biar eomma suapi", Luhan menarik Dennis dari apitan Sehun yang sedang menghalau keduanya untuk mendekatinya.

"Eomma, Dennis tidak menyukai Sehun samchon"

"Siapa juga yang menyukai mu"

"Bwee samchon jahat"

"Kau bocah nakal"

"Sudah-sudah hentikan, sekarang beri cacing-cacing di perut kalian makan"

Saat dua wanita cantik itu sibuk mengisi perut mereka dan si kembar, Chanyeol melirik Sehun, mengatakan padanya bahwa inilah yang terjadi setiap kali dia sedang bersama Baekhyun, dia selalu kalah dari si kembar, dan semua ibu di dunia ini selalu lebih memilih anak mereka dari pada pria tampan namun tidak bisa mengurus anak seperti dia dan Sehun.

"Rasakan..", Cibir Sehun pada nasib sang sahabat.

"Ku sumpahi kau memiliki dua belas anak", Chanyeol membalas, berharap Sehun nanti akan merasakan apa yang dia rasakan. Di kalahkan oleh anakmu sendiri itu tidaklah keren, Chanyeol sudah merasakannya.

"Baguslah, akan ku masukkan mereka ke sekolah bola agar mereka tidak menggangu ku dan Luhan"

"Kau yakin menyukai pria seperti itu?"

"Kau yakin tidak menyesal sudah menghasilkan keturunan dari pria seperti itu?"

"Aku tidak yakin"

Di sela-sela kunyahan mereka, kedua wanita cantik itu terkekeh, membuat Sehun dan Chanyeol ingin sekali meremas mulut mereka yang tidak sungkan-sungkan menyindir mereka, "Biarkan saja, mereka punya pisau bedah dan jarum suntik di jas putih mereka", Sehun menimpali, sudah terbiasa dengan mulut menggemaskan kekasihnya.

Ting

Tong

"Siapa lagi ya Tuhan"

"LUHAN-AH, BAEKHYUN-AH, BUKA PINTUNYA"

Kontras dengan wajah masam kedua pria tampan di sana, Luhan dan Baekhyun justru berbinar senang mendengar suara teriakan Kyungsoo, "Chanyeol-ah bukakan pintunya..!"

Yang mendapat perintah membuat gerakan mencakar wajah Baekhyun yang enggan mengalihkan fokusnya dari makanan lezat di depannya, begitu pun dengan Luhan. Keduanya sibuk menyesap cangkang kepiting yang membuat tangan dan bibir mereka belepotan, "Aku buka..", katanya pasrah, berjalan gontai sambil mengumpulkan tenaga untuk menggeplak kepala Kai, ini pasti ulah pria itu yang membawa Kyungsoo kemari karena ada Baekhyun dan si kembar.

"Aku mengganggu ya?", seperti sudah tahu dengan reaksi yang akan dia dapatkan, Kai langsung merangkul Chanyeol dan membekap mulut sang sahabat yang siap mengocehinya.

"Tangan mu", Chanyeol melepaskan bekapan Kai, membiarkan Kyungsoo masuk menemui kedua sahabatnya dan menelan bulat-bulat ocehannya.

"Untungnya aku hanya membawa kue untuk kalian, padahal tadi aku sudah berniat membawakan kalian menu makan siang", Kyungsoo ikut bergabung, mengambil alih Dennis dari pangkuan Luhan.

"Lalu kenapa tidak jadi?"

"Salahkan Kai yang langsung menyeretku sehingga aku terburu-buru"

Sepasang mata rusa dan mata sipit berlapis polesan eyeliner itu kompak menatap tajam Kai yang menyembunyikan wajahnya di balik punggung lebar Chanyeol, "Sudah mengganggu, bertamu dengan tangan kosong lagi", - Luhan.

"Kamjong, kamjong, kau sangat pelit naak, naak", - Baekhyun.

"Mereka cantik, tapi mulut mereka sangat kejam"

Chanyeol dan Sehun terkekeh mendengar gerutuan sang sahabat, ketiganya lebih memilih duduk di karpet di depan tv, membiarkan ketiga wanita cantik itu menghina mereka sampai perut mereka kenyang.

"Bagaimana dengan proyek baru kalian?", beberapa saat terjadi keheningan, Luhan memilih bertanya, ingin menebak ekspresi ketiga pria yang sedang berpura-pura fokus menonton tv.

"Baru berjalan sepuluh persen", Kai menjawab sesantai mungkin, meskipun menjawab jujur tapi rasanya dia tidak bisa menyembunyikan raut tegangnya sama seperti kedua sahabatnya.

"Begitukah? Apa saja yang kalian lakukan sehingga kalian memilih lembur?"

"Sayang, habiskan makananmu baru bicara"

Mengabaikan teguran kekasihnya Luhan berujar, "Aku hanya bertanya, siapa tahu kau mengalami kesulitan"

"Kami punya otak yang encer dan sangat berpengalaman dalam pekerjaan kami, jadi kau tenang saja"

"Jawab yang kompak, sampai di mana pembahasan proyek kalian di malam kemarin?"

"Pembangunan gedung/mencari lahan/aku ketiduran"

Luhan tersenyum masam Sehun menatap sendu, tahu benar apa yang sedang kekasihnya coba lakukan. Luhan mencurigainya. Luhan tahu kebohongannya, wanita itu tidaklah selemah dan selugu yang terlihat, pengalaman pahit yang sering dia rasakan membuatnya begitu jeli dan bisa membaca kecurangan yang sedang di lakukan orang sekitarnya.

Dan aku tahu dia tahu aku tak jujur
Aku sungguh menyakiti hatinya
Saat dia tahu aku terikat dengan wanita lainnya
Aku bisa melihatnya merana
Aku tak ingin melakukannya lagi
Aku tak ingin menyakitinya lagi
Aku tak ingin mencabut nyawanya
Aku tak ingin membunuhnya
Membunuh senyumnya dan binar matanya.

.

.

.

.

.

Tbc

Baby

Thanks so much for your support guys, 520