Author Note: Update! :D
hope you are enjoy this story/chapter! ^^
The Half Blood
Chapter 24
Hari demi hari berlalu, clan werewolf yang di pimpin oleh Leon perlahan-lahan mulai mandiri tanpa perintah dan kendali darinya. Beberapa werewolf yang dulu tetap setia dan tidak berhianat mulai terbiasa tanpa adanya perintah dari Sephiroth dan mereka juga tidak terlihat dendam pada werewolf yang berhianat. Itu karena sekarang mereka lebih bebas dan tidak terlalu banyak tekanan, tidak seperti dulu, begitu banyak tekanan dan banyak peraturan.
Castle yang dulunya dingin dan angker terlihat lebih hangat dan tidak seangker dulu, dan tempat itupun di perbaiki sehingga terlihat bersih dan terlihat indah karena dihiasi oleh tanaman-tanaman hijau agar castle itu terlihat hidup...
"Sungguh nyaman jika semua tidak terlihat tegang dan saling tertawa sekarang ya, Kyle. Tidak seperti dulu..." Kata Reala sambil membawa sebuah tanaman hijau bersama Kyle, mereka sedang menghiasi castle ini agar suasana castle itu menjadi lebih riang dan tidak tegang seperti dulu.
"Yeah..." Kata Kyle sambil tersenyum, dia sedang memegang tanaman yang lebih berat dari Reala. "...sudah itu, misi-misi yang ada bisa kita pilih sesuai dengan kemampuan kita dan kita dapat mengerjakan misi itu kapan saja jika kita mau."
"Tapi, aku merasa sedikit bersalah pada Leon, aku tahu sejak dulu dia ingin berkelana, tetapi tidak pernah bisa akibat padatnya misi yang di berikan padanya. Dia bahkan mau menunda niatnya berkelana karena kita..." Kata Reala dengan murung.
"Well, dia pasti akan langsung berkelana setelah ini, aku merasa seluruh werewolf di sini cepat mandiri dan kurasa sebentar lagi Leon akan segera lepas tangan bukan?" Tanya Kyle dengan senyum. "Sebenarnya aku ingin ikut Leon berkelana. Aku ingin melihat seluruh kota yang ada di dunia ini..." Katanya sambil menatap Reala dengan senyum. "...oh, apakah kau akan marah jika aku ikut berkelana, Reala?" Tanyanya dengan cemas.
"No..." Jawab Reala sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "...karena, kemanapun kau pergi, maka aku akan ikut denganmu, Kyle."
Kyle lalu tersenyum mendengarnya. "Kurasa, petualangan kita yang sebenarnya baru di mulai..." Katanya sambil menatap langit biru yang tinggi.
Di Twilight Town...
Di mansion, Roxas sedang mengelilingi mansion sambil mencari sesuatu, dia mengelilingi mansion itu hanya dalan lima menit dan berhasil menemukan apa yang dia cari...
Sebuah cahaya kecil terbang melewatinya. Cahaya itu terlihat terbang ke arah kamar Sora yang tidak terlalu jauh...
"Riku!" Panggil Roxas ketika melihat cahaya itu.
Cahaya kecil itupun berhenti bergerak. "Apa?"
"Bisakah kita bicara berdua saja? Di luar..." Kata Roxas sambil menatap cahaya kecil itu.
"Okay..." Kata cahaya kecil itu setuju.
Roxas dan cahaya kecil itupun terlihat berjalan keluar dari mansion dan menuju suatu tempat di hutan yang mengelilingi mansion itu. Tempat itu terletak tidak terlalu jauh dari Mansion dan pohon di sekitar tempat itu sangat banyak dengan daun hijau lebat yang tumbuh subur. Cahaya matahari tidak menembus masuk karena padatnya dedaunan di pohon itu, sehingga Roxas tidak perlu khawatir akan terkena sinar matahari meski curse miliknya masih bekerja hingga beberapa hari kedepannya...
"Aneh, mengapa kau tidak terbakar sinar matahari ketika tadi kita keluar?" Tanya cahaya itu, dari nada bicaranya, dia terdengar sangat heran.
"Tubuhku di curse supaya aku dapat berjalan di bawah sinar matahari layaknya manusia normal..." Jelas Roxas sambil menatap tangannya. "...dan curse ini berasal dari Sora." Katanya memberitahu sambil menatap Riku.
Roxas dan Riku berhenti di sebuah tempat dimana banyak bunga-bunga cerah dengan warna-warni yang indah tumbuh dengan subur. Sekeliling tempat itupun penuh dengan pepohonan dan semak belukar yang di rawat dengan baik. Terdapat gundukan tanah terlihat di tempat bunga-bunga itu tumbuh subur.
Sebenarnya, tempat itu adalah makam mayat werewolf, Slayer maupun hunter yang datang menyerang Roxas dan keluarganya. Mayat-mayat itu di kuburkan dengan layak di tempat ini. Mayat-mayat itulah yang menjadi pupuk dan membuat tanaman di sekitar sana tumbuh subur...
"So, what are you trying to say to me? Kau terlihat selalu ingin bicara denganku, tetapi kau selalu membatalkan niatmu setiap kali Sora berada di dekatku sejak Sora dan aku tinggal di sini..." Kata cahaya itu, cahaya itu terlihat sangat redup di tengah terangnya siang hari, meski tidak ada cahaya matahari yang menembus masuk melalui celah-celah dedaunan.
"Sebenarnya, aku hanya ingin meminta maaf karena telah membunuhmu..." Kata Roxas dengan wajah penyesalan. "...aku tidak dapat mengontrol emosiku dengan baik waktu itu karena teringat kejadian dua tahun lalu..." Jelasnya.
"Kejadian waktu itu..." Kata cahaya itu dengan nada kecil sambil mengingatnya.
Flash back...
Seekor werewolf berbulu silver terlihat tengah mengejar mangsanya yang terlihat berlari darinya, mangsanya adalah seorang vampire. Seorang pemuda berambut brunette yang berada di punggung werewolf itu terlihat menembakkan magic blizzard dari atas punggung werewolf itu. Magic itu tepat mengenai sasarannya dan vampire itu, yang berlari dari werewolf dan pemuda yang berada di punggung werewolf itu, terlihat terjatuh. Vampire yang terjatuh itu tidak dapat bangun maupun bergerak akibat tubuhnya yang membeku...
Pemuda yang berada di atas punggung werewolf itu segera melompat turun dari punggung werewolf itu dan mendekati vampire itu sambil membawa knife...
"Kau tidak bisa lari lagi..." Kata pemuda itu sambil tersenyum sinis.
"To...tolong lepaskan aku..." Kata vampire itu memohon dengan wajah ketakutan.
Pemuda brunette itu tidak mendengarkan permintaan vampire itu dan langsung membunuhnya dengan cara menusukkan knifenya tepat di jantung vampire itu. Vampire itu tidak berteriak saat knife itu menancap di jantungnya, dia hanya terlihat shock bersamaan dengan tubuhnya yang perlahan berubah menjadi abu...
"We better go now, Sora..." Kata werewolf berbulu silver itu pada pemuda brunette itu.
Pemuda brunette itu lalu mengangguk dan mereka berdua berjalan keluar dari hutan itu perlahan-lahan agar keberadaan keduanya tidak di ketahui penghuni hutan itu.
Lokasi keduanya saat ini berada dekat dengan Twilight Town. Hutan yang sangat gelap sekali di malam itu tidak membuat keduanya tersesat, hanya saja kepekaan penglihatan werewolf yang selalu menjadi andalan werewolf tidak dapat di gunakan dengan baik, sehingga jika ada musuh mendekat, dia hanya dapat menggunakan penciumannya yang tajam untuk mencari keberadaan musuh jika ada yang mengintai keduanya...
Langkah werewolf berbulu silver itupun tiba-tiba terhenti.
"Ada apa, Riku?" Tanya Sora yang bingung melihat werewolf silver itu berhenti.
Werewolf silver itu, Riku lalu menggeram keras terhadap sesuatu yang berada di depannya yang saat ini sosoknya tidak terlihat akibat gelapnya malam. Tetapi perlahan, sosoknya mulai terlihat karena sinar bulan yang mulai menyinari tempat itu setelah tertutup oleh awan. Terlihat sosok lelaki, vampire yang menatapi keduanya...
Sora menatap vampire yang memiliki rambut blond yang bersinar indah terkena cahaya bulan dan mata biru indah. "Dad..." Kata Sora dengan terkejut.
Di belakang vampire blond yang Sora sebut sebagai 'ayah'nya, terlihat beberapa vampire lain yang memasang sikap waspada terhadap werewolf di samping Sora, Riku.
"Sora!" Teriak salah seorang vampire yang seumuran dengan Sora, dia memiliki rambut blond yang indah dengan mata biru, sama seperti vampire dewasa di sampingnya itu. "Kaukah itu?" Tanyanya, dia terlihat senang melihat Sora.
Sora melangkah mundur, merapat mendekati werewolf silver di sampingnya...
Werewolf di samping Sora menggeram marah pada vampire-vampire yang baru datang itu. "Jangan ganggu kami!" Teriak werewolf itu dengan marah.
"Kau yang seharusnya jangan ganggu kami!" Teriak vampire blond yang seumuran dengan Sora, teriakannya sama kuatnya dengan werewolf itu.
"Roxas! Tenanglah..." Kata salah seorang vampire, dia seorang wanita berambut hitam panjang, dia mengatakannya sambil memegangi bahu pemuda blond yang seumuran dengan Sora itu.
Expresi marah masih melekat di wajah werewolf itu, dia masih menggeram kearah vampire-vampire itu agar mereka tidak mendekatinya dan Sora.
"Kembalikan Sora pada kami..." Kata vampire blond yang dewasa, umurnya terlihat sekitar duapuluh lima tahun, dia mengatakannya dengan tenang.
"No!" Kata werewolf itu dengan tegas. "I will never give him back to you, Cloud!"
"Lebih baik kau mengembalikannya pada kami..." Kata vampire blond dewasa itu, Cloud dengan tenang.
Sora lalu menaiki punggung werewolf itu dan memeluk punggung werewolf itu dengan erat setelah di perintahkan oleh werewolf itu...
"Sora!" Kata Cloud dengan tegas padanya dan Sora hanya terdiam dengan perasaan takut sambil memeluk Riku dengan erat.
"Kembalikan Sora!" Teriak Roxas sekuat mungkin, dia terlihat marah.
"Roxas!" Kata vampire berambut hitam itu sambil memeluknya dengan erat agar dia tidak tiba-tiba menyerang werewolf itu.
"Kembalikan dia pada kami..." Kata Cloud sambil menatap Riku dengan tajam dan Riku juga memberi tatapan tajam juga. "...dia adalah anggota keluarga kami dan kami bertanggung jawab atas keselamatannya." Kata Cloud mempertegas seberapa seriusnya dia menginginkan Sora kembali padanya.
"Aku tidak akan menyerahkannya pada kalian jika dia sendiri tidak ingin bersama kalian..." Kata werewolf itu mempertegas mengapa dia tidak ingin mengembalikan Sora pada mereka.
"Kau bohong!" Teriak Roxas yang marah mendengar kata-katanya. "Dia adalah keluarga kami! Dan dia pastinya lebih ingin tinggal bersama keluarganya di bandingkan dengan kalian! Musuh vampire!"
Sora terlihat memeluk Riku lebih erat sambil menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin bersama mereka, dia ingin bersama Riku dan tidak ingin berpisah darinya...
"Sora, kau ingin bersama kami bukan?" Tanya Roxas dengan sedih.
Sora hanya terdiam dan tidak menjawab. Ketika werewolf itu sedikit menggerakkan kakinya, ketika dia melangkah mundur, terasa aura membunuh yang kuat dan tertuju padanya...
"Kurasa... Kita akan mengalami kesulitan untuk keluar dari sini..." Bisik Riku pada Sora yang berada di punggungnya. "Pegangan yang erat, Sora." Perintahnya.
Sora lalu memeluk seerat mungkin pada Riku dan werewolf itupun mulai berlari, menjauhi vampire-vampire itu secepat mungkin. Cloud segera berlari mengejar werewolf itu sebelum dia jauh.
Roxas lalu memberontak dari wanita yang memeganginya itu, ibunya, dan segera mengejar werewolf dan ayahnya...
"Roxas!" Teriak wanita itu, Tifa dengan cemas.
"Mom!" Kata salah seorang vampire yang mirip dengan Roxas sambil memegang lengan Tifa. "Roxas akan baik-baik saja, akan sangat berbahaya jika kita menyusulnya, itu akan memancing hunter atau slayer datang dan menyerang kita..."
"Ven..." Kata Tifa sambil menatap kembaran Roxas dengan wajah cemas.
"Let's go home and waiting them..." Kata vampire blond yang mirip dengan Roxas itu, Ventus, kembaran Roxas. Ventus lalu menatap kearah vampire brunette yang berada di sampingnya. "Let's head back, Terra..."
"Yeah..." Kata vampire brunette, Terra sambil menatap sekelilingnya. "...sebaiknya kita segera kembali, aku dapat mencium bau manusia dari kejauhan..." Katanya memberitahu.
"Come on, mom..." Kata Ventus sambil menggenggam lengan Tifa, tetapi Tifa masih menatap kearah Roxas dan Cloud pergi. "Mom?"
"..." Tifa lalu menatap kearah Ventus. "...ayo... Kita segera kembali..." Katanya yang menatap kembali kearah Roxas dan Cloud pergi, lalu tatapannya kembali ke Ventus.
Riku berlari secepat mungkin dengan kecepatannya yang paling maximal. Saking cepatnya dia berlari, Cloud maupun Roxas kesulitan untuk mengejarnya. Sayangnya, Cloud lebih menghafal jalan di hutan ini karena ini adalah wilayahnya, sehingga dia mengambil jalan pintas menuju jalan keluar hutan. Sedangkan Roxas, dia terus mengejar Riku yang semakin jauh darinya tanpa menyadari bahwa Cloud mengambil jalan lain.
"Riku..." Kata Sora sambil menggenggam erat pada punggung Riku. "...kita tidak akan berhasil lolos darinya..." Katanya dengan tubuh gemetaran.
Riku hanya terdiam dan terus berlari semakin cepat, dia juga merasa bahwa kemungkinan mereka berdua lolos dari Cloud sangatlah kecil seperti yang Sora katakan. Tetapi, dia terus berlari dan tidak akan putus asa sebelum mencobanya...
Ketika jalan keluar sudah terlihat di mata Riku, tiba-tiba sebuah serangan mengenai Riku ketika dia tengah berlari. Tubuh Riku terlempar ke samping bersamaan dengan Sora yang berada di punggungnya. Sora langsung pingsan ketika dia dan Riku terjatuh dan terhantam ke tanah yang keras. Tubuh Sora terlihat berguling beberapa meter dari Riku setelah tubuhnya menghantam tanah...
"Sora!" Teriak Roxas yang berhasil menyusul setelah Riku berhenti berlari akibat terkena serangan. "Sora!" Teriaknya sekali lagi sambil memegang tubuh Sora yang terbaring di tanah.
Sora tidak menjawabnya karena dia pingsan...
Riku langsung menggeram keras dan menyerang Roxas agar dia menjauhi Sora. Roxas lalu menahan serangan Riku dengan tangannya. Tangan Roxas terlihat mengeluarkan darah akibat gigitan Riku yang kuat...
"I won't... Let you take away Sora from me!" Teriak Roxas sambil menyerang balik Riku.
Tangan Roxas yang terluka akibat gigitan Riku terlihat sembuh dengan cepat. Riku lalu menyeruduk Roxas dengan kepalanya dan berhasil menjauhkan Roxas dari Sora. Terlihat Cloud, yang tadi menyerang Riku, berjalan mendekatinya dan Sora. Riku langsung memberi geraman keras pada Cloud ketika dia melihat Cloud berjalan mendekatinya. Dia menggeram agar dia menjauh, sayangnya, geramannya tidak membuat Cloud takut...
Cloud lalu menghela napas ketika jaraknya dan Riku yang sedang melindungi Sora darinya hanya tertinggal dua meter. "Let's make a deal..."
Geraman Riku terhenti saat mendengarnya. "What kind of deal?" Tanyanya waspada.
Roxas lalu melemparkan tatapan heran pada Cloud saat mendengarnya juga.
"I will let both of you go..." Kata Cloud yang hendak memulai penjelasan, sayangnya di sela oleh Roxas.
"What! Apa maksudmu, dad!" Tanya Roxas yang tidak terima jika membiarkan Riku dan Sora pergi begitu saja.
Cloud mengacuhkan protes Roxas dan melanjutkan penjelasannya. "...tapi dengan sebuah syarat." Lanjutnya.
"Apa?" Tanya Riku curiga.
"Dad! Apa maksudmu!" Teriak Roxas kesal karena di acuhkan.
Sekali lagi, Cloud mengacuhkan pertanyaan Roxas. "I will take him if he starting becoming like us, vampire. Hingga sampai saat itu tiba, kau harus berjanji bahwa kau akan melindunginya dan menjaganya..."
"..." Riku hanya terdiam setelah mendengarnya dan Roxas masih terlihat berusaha menyela karena tidak setuju.
"Kau menyetujui perjanjian ini?" Tanya Cloud.
"..." Riku terdiam sejenak sambil memikirkannya. "Yeah." Jawabnya dengan mantap.
"Maka, itu adalah sebuah perjanjian." Kata Cloud sambil menatapnya. "Now go..."
"No!" Teriak Roxas sambil menghalangi Riku yang hendak pergi membawa Sora. "I not gonna let you go!"
"Roxas..." Kata Cloud sambil memegang salah satu tangan Roxas. "...biarkan mereka pergi..."
"Tapi..." Kata Roxas yang mencoba membantah.
Pada saat Roxas menatap kearah Cloud, Riku langsung berlari pergi ketika Roxas lengah.
"Ah! Wait!" Teriak Roxas yang hendak mengejarnya, tetapi lengannya yang di tahan oleh Cloud membuatnya tidak dapat menyusul Riku. "Lepaskan aku dad!" Katanya sambil memberontak dengan expresi marah dan kesal.
"Dengarkan penjelasanku dahulu, Roxas..." Kata Cloud sambil memegang lengan Roxas. "...kubiarkan mereka pergi karena Sora memang tidak ingin tinggal bersama kita..."
"No! Kau bohong! Tidak mungkin Sora ingin tinggal bersama werewolf itu! Musuhnya dad!" Kata Roxas yang berteriak kesal dan tidak terima penjelasan Cloud.
"Roxas..." Kata Cloud dengan tenang sambil menutup matanya sejenak, lalu membukanya perlahan dan menatap kearah mata Roxas yang terdapat amarah padanya. "...dia lebih ingin tinggal bersama mereka dan itu merupakan haknya untuk memilih..." Jelasnya sambil menenangkan Roxas.
"Tapi dia bersama werewolf, dad! Nyawanya pasti selalu terancam! Lagipula dia setengah vampire! Sudah pasti keberadaannya di tolak oleh werewolf, musuh kita!" Kata Roxas dengan marah.
"I know, tetapi pemuda itu akan melindunginya, Roxas..." Jelas Cloud dengan tenang. "...pemuda itu, maksudku werewolf tadi, sebelumnya adalah half werewolf dan half human sebelum dia diubah menjadi werewolf seutuhnya..."
"But still, dia itu werewolf, dad!" Roxas bersikeras tidak menerima alasan yang diberikan oleh Cloud.
Cloud lalu menghela napas dalam melihat anaknya yang keras kepala. Dia lalu menyentuh kepala Roxas dengan lembut. "Lupakanlah kejadian ini untuk sementara waktu, Roxas..."
"Huh?" Kata Roxas dengan heran.
Entah mengapa, Roxas merasa sangatlah mengantuk, padahal rasa kantuk tidak pernah datang padanya karena vampire tidak dapat benar-benar tertidur.
Pandangan Roxas terlihat semakin buram dan menggelap, diapun mulai melupakan kejadian hari itu saja karena ingatan itu dikunci di dalam memorynya...
End Flash back...
"Ketika itu, aku sangat emosional karena aku tidak terima, setelah sekian lama Sora menghilang, dia harus menghilang lagi untuk ketiga kalinya..." Jelas Roxas dengan expresi sedih. "...aku sungguh menyesal setelah mengingat kembali memoryku yang terkunci."
"..." Cahaya kecil itu terdiam sejenak. "...sebenarnya, sebelum kau membunuhku, aku ingin Sora tidak tinggal bersama kalian dan mempunyai hidup normal seperti manusia biasa dan mungkin itu adalah keegoisanku, karena sebenarnya aku-lah yang ingin dapat hidup normal. Tetapi, aku tidak dapat hidup normal jika memikirkan bahwa aku sudah menjadi werewolf seutuhnya, bukan half werewolf lagi. Setidaknya, aku ingin Sora dapat hidup normal, menggantikan diriku..." Katanya dengan nada sedih. "...aku tidak ingin dia bernasib sama denganku." Jelasnya.
"Riku..." Roxas menatap cahaya kecil yang bersinar redup itu. "...ada satu hal yang tidak dapat membuat Sora hidup normal layaknya manusia..." Katanya sambil menatap kearah rumput hijau cerah, terdengar cicitan burung di pohon yang berada dekat dengannya dan Riku, Roxas baru menyadarinya karena dari tadi dia terlalu focus pada Riku. "...sesungguhnya, half vampire akan diakui oleh clan werewolf suatu saat karena umur mereka akan berhenti bertambah tua suatu saat, itu di karenakan mereka meminum darah juga meski makanan manusia dapat membuatnya bertahan hidup juga, tetapi ada kalanya mereka tetap perlu meminum darah." Jelas Roxas sambil menatap sekelilingnya, dimana burung-burung terbang kesatu pohon ke pohon lain.
"..." Cahaya kecil yang terlihat redup tadi, sekarang bersinar cukup terang setelah mendengar kata-kata Roxas. "...bukankah half vampire tidak akan diakui oleh clannya jika tidak di ubah menjadi vampire utuh?" Tanyanya dengan heran.
"No, you're wrong..." Kata Roxas sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. "...saat ini, pemimpin yang memimpin seluruh clan vampire telah mengakui half vampire yang sama-sama abadi. Meski half vampire tidak sekuat vampire utuh, mereka memiliki keunggulan, yaitu dapat berjalan di bawah sinar matahari, tidak seperti pure vampire."
"I see..." Kata cahaya itu, cahaya itu terlihat redup kembali dan dari nada bicaranya, dia terdengar kecewa. "...akhirnya, Sora-pun akan bernasib sama denganku..."
"I'm sorry to hear that..." Kata Roxas dengan sedih. "...tetapi, jika Sora tinggal disini, dia akan aman karena saat ini slayer sedang rutin memburu half vampire karena keberadaan half vampire telah mengusik mereka setelah half vampire di akui juga." Jelasnya dengan wajah cemas.
"Jadi, alasan para slayer memburu half vampire hanya karena half vampire telah diakui oleh vampire?" Tanya cahaya itu dan Roxas hanya mengangguk. "Wajar saja Vanitas berada di Hollow Bastion karena cemas akan Sora yang di serang oleh slayer, jika saja Cloud tidak menolong Sora, maka dia-lah yang akan menolongnya..." Katanya memberitahu.
"Huh! Apakah Vanitas selalu mengawasi Sora?" Tanya Roxas dengan heran sekaligus terkejut.
"Yeah, dan Cloud mengetahuinya..." Jawab cahaya itu.
"Ayah mengetahuinya!" Kata Roxas yang tambah terkejut. "...mengapa selama ini ayah tidak mengatakan apapun pada kami..." Kata Roxas dengan heran.
"..." Cahaya itu hanya terdiam mendengarnya.
"Riku..." Terdengar suara Sora dari kejauhan, dia memanggil Riku dari mansion. Meski Sora memanggilnya dari tempat yang jauh, tetapi Roxas dan Riku dapat mendengar panggilannya dengan jelas.
"I better head back..." Kata cahaya itu sambil terbang menjauhi Roxas, menuju ke mansion.
Roxas terdiam di tempat sambil merenung. 'Dad, did you hiding something from us?' Pikirnya dengan heran.
To Be Continued...
Author Note: one chapter left, sisa chapternya kutahan. Sorry guys
