JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyeong, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Seven
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]
[Ada perubahan nama, Jinyoung = Jinyeong]

.

TRIPLE UPDATE TONIGHT!

.
.
.


[Next day]

.

Hari ini, Daehwi memutuskan untuk menghampirinya, pemuda dengan surai mencoloknya yang kini tengah terduduk sendirian di bawah salah satu pohon di lapangan. Dari yang Daehwi lihat, teman–teman pemuda itu pergi meninggalkannya yang masih sibuk mengatur nafas sendirian. Dan di dorong dengan rasa –entahlah rasa apa itu, Daehwi beranjak dari kelasnya dan turun ke lapangan, perlahan mendekati pemuda itu.

"Hey."

Pemuda di depannya menoleh, terkejut mendengar suara Daehwi yang menginterupsinya. Maniknya menatap lekat pada pemuda kurus yang berdiri di depannya sebelum akhirnya mengulas senyuman lembut.

"Hey, duduklah."

Daehwi menurut. Ia mendudukkan tubuhnya di sisi kiri pemuda itu, pemuda yang ia sendiri tidak ketahui namanya.

"Apa yang membuatmu kemari?"

"Entahlah, aku hanya ingin kemari."

"Ah, begitu?" pemuda di sebelahnya bergerak, membenarkan posisinya yang semula setengah tiduran di batang pohon. Maniknya sekali lagi melirik Daehwi. "Sepertinya kau sudah bosan melihatku dari kelasmu ya?"

Daehwi tersentak. Ia ketahuan?

Buru–buru sang surai coklat berdeham. "Kenapa bermain saat pulang sekolah begini?"

"Kenapa ya," sang lawan bicara memindahkan fokusnya pada lapangan. Terik mentari nampak garang di ruang kosong itu. "Hanya ingin?"

Kepala Daehwi mengangguk beberapa saat. "Kenapa tidak pulang? Temanmu.. sudah pulang, kurasa."

Tawa mengalun dari sang lawan bicara. "Aku akan pulang nanti. Dan sepertinya kau memang pengamat yang baik ya? Atau kau sudah hapal jadwalku bermain bola? Yah, karena kau terus memperhatikanku dari mejamu."

"Eh– tidak juga," balas Daehwi canggung. Telapaknya bergerak mengusap tengkuknya, menyalurkan rasa canggung yang mungkin bisa merambat di suaranya.

Keduanya terdiam setelahnya. Daehwi sesekali melirik pemuda berhidung bangir di sisi kanannya, melihat bagaimana pemuda itu memejamkan matanya dan menikmati angin yang berhembus, tanpa memperdulikan murid lain yang berlalu lalang di dekat mereka. Atau bahkan beberapa yang sempat berhenti sejenak dan berbisik –Daehwi rasa membicarakan keduanya.

"Kenapa kau tak pulang?"

"Sebentar lagi. Aku akan menjenguk temanku yang sakit."

Kepala sang lawan bicara mengangguk samar. "Semoga temanmu itu cepat sembuh."

"Terima kasih."

Lagi, keduanya terdiam. Daehwi mulai melirik murid yang berjalan melintasi lapangan, mencari sosok Seonho yang belum ia temukan keberadaannya sejak tadi. Padahal, anak ayam itu yang memperingatkan Daehwi agar tidak terlambat menemuinya di lapangan sekolah, mengingat Seonho harus bertemu sepupunya sejenak sebelum pergi dengan Daehwi. Nyatanya, Daehwi yang harus menunggu anak ayam itu.

Untuk yang kesekian kalinya, Daehwi melirik pemuda di sebelahnya. Kali ini, maniknya terfokus, memperhatikan fitur wajah di sebelahnya dengan seksama. Menatap bagaimana tegasnya rahang pemuda itu, bagaimana hidung bangir itu nampak pas di wajahnya yang nampak asing, pula bagaimana bisa seluruh hal di pemuda itu terasa pas dengannya.

"Ada yang salah dengan wajahku?" gumam sang pemuda, menyentakkan Daehwi dari kegiatan mengobservasinya.

Daehwi menggeleng cepat. "Maaf, aku tak bermaksud."

"Tidak masalah," jawabnya diselingi tawa ringan yang meluncur dengan manis dari celah bibirnya.

"Daehwi hyung!"

Daehwi menoleh, memperhatikan Seonho yang melambaikan tangannya dari kejauhan.

"Kurasa, temanmu sudah menunggumu."

Daehwi menarik sudut bibirnya. "Aku pergi dulu."

Baru Daehwi berdiri dan hendak beranjak dari sana, sesuatu yang hangat terasa mencengkram pergelangan tangannya, menahan dirinya sejanak untuk tidak pergi dari sana. Daehwi melirik telapak tangan yang melingkari pergelangan kurusnya. Alisnya terangkat, menanyakan maksud penahanan pemuda bersurai mencolok itu atas dirinya.

"Namaku Samuel, Kim Samuel."

Daehwi tersenyum manis. "Lee Daehwi, salam kenal."


.

.

.


Akhir–akhir ini, Jihoon merasa bahwa Guanlin lebih banyak tertawa ataupun tersenyum. Hey, menarik sudut bibir sekian senti itu sudah bisa disebut tersenyum untuk ukuran seorang Guanlin. Akhir–akhir ini pula, Jihoon mulai menyadari bahwa Guanlin adalah seorang pemuda yang mudah berbaur. Nyatanya, pemuda Taiwan itu sudah bisa menembus masuk ke dalam lingkaran pertemanan Jihoon –yang okay memang tertutup.

Seongwoo dan Daniel sangat suka mengerjai pemuda Taiwan itu hingga wajahnya memerah. Pernah sekali, Seongwoo menceritakan sebuah lelucon yang berhasil membuat Guanlin tertawa hingga terbungkuk dan menitikkan air mata.

Harusnya, Jihoon mengenalkan Guanlin pada Seongwoo sejak awal kalau tau sang kakak kelas bisa membuka pribadi Guanlin.

Dari sudut matanya, Jihoon melirik Guanlin yang tengah tersenyum sembari memainkan game di ponselnya. Di sebelahnya, Daniel pun melakukan hal yang sama. Dasar, para manusia itu, tidak bisa sekali saja dipisahkan dari game.

"Ya, Jihoon. Apa kau ada urusan setelah ini?"

Jihoon meletakkan fokusnya pada Seongwoo. "Entahlah hyung, kurasa aku harus pergi. Sebentar lagi, tepatnya."

"Oh, ada urusan mendesak?"

"Sangat," kekeh Jihoon.

Seongwoo mengendikkan bahunya. Kalau Jihoon sudah berbicara seperti itu, pasti ini ada hubungannya dengan Jinyeong, sang kekasih. Gagal sudah rencana Seongwoo untuk mengajak Jihoon mampir ke kedai ice cream baru dekat sekolah.

"Kemana?"

Jihoon menoleh pada Guanlin yang sudah mengangkat pandangannya dari ponselnya.

"Oh, aku harus pergi ke rumah Jinyeong."

"Jinyeong?" Guanlin mengerutkan alisnya sejenak. "Jinyeong kekasihmu itu?"

"Oh, kau tau Guanlin–ah?" Seongwoo memajukan tubuhnya, mendekatkan jarak pandangnya dengan Guanlin. Binar tertarik tergambar di kedua maniknya.

"Ya, semua orang mengatakan padaku soal itu."

Tawa Jihoon lolos. "Benarkah?" di akhir, sebuah semburat menghias pipi pemuda Park itu.

Guanlin mengendikkan bahunya, membenarkan pertanyaan Jihoon padanya. Sebenarnya, ia sering mendengar soal Jinyeong dari teman–teman sekelasnya. Bagaimana tampannya seorang Bae Jinyeong atau bagaimana manisnya ketika Jihoon dan Jinyeong berdua.

Guanlin hanya menarik sudut bibirnya kecut setiap mendengar itu.

"Wow, kau tau lebih cepat dari ekspektasiku," Jihoon mengacak surai hitam Guanlin kilat, menciptakan tatapan kesal di manik yang lebih muda. Iris Jihoon bergerak melirik layar ponselnya. "Oh, kurasa aku harus pergi sekarang."

"Akan kuantar."

Kali ini, Daniel menaikkan fokusnya dari layar ponselnya. Iris itu menatap dalam Guanlin dan Jihoon bergantian. Ia diam, meski mesin dalam otaknya mulai bergerak secara perlahan, memproses kemungkinan yang ada.

"Tidak! Aku tidak mau merepotkanmu, lagi."

"Aku tidak merasa kerepotan, dan aku memaksa. Cepat, aku juga ingin pulang."

Jihoon diam saja ketika Guanlin menarik tangannya menjauh dari Seongwoo dan Daniel. Salam perpisahan singkat Jihoon ucapkan sebelum ia benar–benar menjauh dari kedua kakak kelasnya.

Daniel melirik Seongwoo, memperhatikan bagaimana kekasihnya menarik sudut bibirnya sementara manik hitamnya menatap kepergian Jihoon dan Guanlin.

"Hey, Dan."

"Hm?"

Seongwoo memindahkan fokusnya pada dua iris Daniel. Senyuman –entahlah senyuman apakah itu, masih terukir di bibirnya.

"Aku sudah mengatakannya padamu."


.

.

.


Jinyeong mengerang. Pusing yang mendera kepalanya belum juga hilang sejak pagi. Padahal, ia sudah terbaring diam di atas kasurnya dan tak melakukan apapun. Helaan nafas meluncur. Flu sialan. Kenapa ia harus jatuh sakit? Padahal seingatnya, ia tak –oh benar, dua hari lalu ia makan ice cream dengan Daehwi dengan porsi yang cukup banyak.

Karena itu kah ia sakit?

Suara ketukan halus menyapa pendengarannya. Jinyeong melirik pada seorang maid yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.

"Tuan muda, diluar ada teman–"

"Tidak, aku tidak mau bertemu," ucap Jinyeong mantap. Tak perlu penjelasan, ia juga tau bahwa yang menjenguknya bukanlah Jihoon. Jihoon itu sudah mendapat izin dari sang appa untuk keluar masuk kediaman keluarga Bae tanpa harus menunggu maid menanyakan pada Jinyeong.

Tampaknya, sang appa sedikit excited mengenai dirinya dan Jihoon eh?

Hening merambat kembali setelah maid itu keluar dari kamar Jinyeong. Baru saja Jinyeong hendak memejamkan matanya kembali, sebuah pekikan kencang dari luar sana menerobos masuk hingga kamarnya.

"Ya! Jinyeongie! Aku dan Daehwi hyung sudah membawakan bubur untukmu, tapi kau tidak mau bertemu kami eh?! Aku habiskan saja buburmu kalau begitu!"

Jinyeong mengernyit.

Itu suara Seonho.

Tapi, bukan pemuda itu yang berhasil menegakkan punggung Jinyeong. Bukan juga karena ancaman Seonho yang akan menghabiskan bubur yang ditujukan untuknya. Ini karena sebuah nama yang terucap di kalimat Seonho.

Maid kembali masuk ke dalam kamar Jinyeong. Raut cemas terlukis di wajahnya. "Tuan muda, mereka tidak–"

"Suruh masuk, suruh keduanya masuk," ucap Jinyeong dengan suara seraknya.

Maid itu menunduk, berpamit undur diri untuk memanggilkan Seonho dan Daehwi di luar sana. Tak perlu menunggu lama, dua pemuda berbeda tinggi masuk ke dalam kamar Jinyeong tanpa canggung.

"Sudah kuduga, kau memang menyayangi bubur ini."

Jinyeong tertawa hambar.

"Kenapa kalian datang mendadak?"

Daehwi meringis dalam posisinya. "Maafkan aku, aku yang memaksa Seonho untuk menemani kemari."

Sebuah senyum tipis terulas di bibir pemuda Bae. "Tak apa, santai saja. Jadi... kalian mau minum apa?"

Seonho bertepuk tangan. Seringai lebar memenuhi wajah mungilnya. Daehwi yang berdiri di sebelahnya sempat terlonjak, terkejut mendengar tepuk tangan meriah Seonho. Sementara Jinyeong sendiri mengerutkan alisnya keheranan.

"Aku mau mengambilnya sendiri! Aku mau merampok kulkasmu."

Jinyeong berdecih. Sudah ia duga, Seonho dan perut karetnya memang seperti itu. "Ya sudah, sana. Kau tau dimana dapur rumahku 'kan?"

Dengan penuh semangat, Seonho mengangguk. Segera pemuda Yoo itu berbalik dan melangkah cepat, meninggalkan Daehwi dan Jinyeong, menuju gudang harta milik Jinyeong.

Daehwi menarik senyum tipis. Perlahan, tungkainya bergerak mendekat pada Jinyeong. Telapak tangannya ia arahkan pada kening sang surai hitam yang memang cukup hangat. Daehwi berdecak.

"Kenapa kau sakit eh?"

"Ini karena kau. Ice cream, dua hari yang lalu."

Daehwi menggigit bibir bawahnya. Ia baru ingat soal yang satu itu. Mana ia tau Jinyeong akan jatuh sakit setelahnya? Tau begini, ia takkan memaksa temannya itu untuk menemaninya makan ice cream di kedai baru dekat sekolah.

"Maafkan aku."

Jinyeong menggeleng. "Tidak, ini bukan salahmu."

Bibir Daehwi maju beberapa senti, memprotes bantahan Jinyeong. Ini jelas salahnya. Kenapa pemuda Bae itu tak membenarkan saja permintaan maafnya. Daehwi justru merasa semakin bersalah jika seperti ini.

"Ini salahku, Bae."

Tangan Jinyeong berpindah, beralih menggenggam telapak Daehwi di keningnya. Perlahan, ia menurunkan telapak itu hingga berada di sisi tubuhnya. Jinyeong menarik sudut bibirnya, mengulas sebuah senyum lembut pada Daehwi.

"Tidak, ini bukanlah salahmu, Lee."


.

.

.


[Other side]

.

Seonho meletakkan gelas di tangannya pada meja ruang makan kediaman Jinyeong. Kedua alisnya tertaut melihat objek lain bergerak menjauh dari kamar Jinyeong. Bukannya, baru beberapa detik lalu ya?

"Oh, hyung, kau sudah mau pulang? Kenapa cepat sekali?"

"Itu.. Eomma menelponku. Aku harus pulang cepat."

"Ah, begitu. Kau sudah bertemu Jinyeong 'kan?"

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

"Sudah, Seonho–ya."

Seonho mengangguk singkat. "Arraseo, hati–hati di jalan, Jihoonie hyung!"

Di wajah mungil itu, senyum sang surai coklat terulas. "Em, aku duluan ya?"

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


a/n: MAMPUS GA TUH HQHQHQHQ
Mamam tuh Baejin, mamammm /digampar.

.

Okay, sebelumnya banyak yang menyadari sepertinya kalau GuanHo pernah kesebut di season 1.
Iya emang pernah huhu;_;
Kan waktu itu belum tau mau ada season 2, jadi yah.. ketulis deh mereka.
Tapi udah dd ganti jadi DongPaca kapel kok wkwkwkw.
Terima kasih untuk kalian yang jeli, karena sejujurnya saya sendiri aja lupa

.

Dan kenapa nama Jinyoung ganti jadi Jinyeong?
Jadi, manager Baejin bilang kalo pengejaan Inggrisnya itu bukan Young tapi Yeong.
Dan saya baru sadar hqhqhqhq.
Jadi diganti deh, myane sebelumnya.

.

Sekali lagi, terima kasih banyak atas dukungannya huhu.
Next? Happy reading!

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]