( ini soal alurnya. disini, Jungkook sebenarnya sudah semester terakhir, tahun kelima kuliah. Namjoon, Jin, dan Yoongi sudah lama lulus.)

.

.

(XXIV) chapter dua puluh tiga.


.

.

.

Di dalam mimpi Taehyung, dia melihat pundak Jungkook yang membelakanginya. Perlahan menjauh, mengecil, dan tidak sekalipun membalikkan badan walau kerongkongan Taehyung telah kering karena tak henti menyerukan namanya.

"Jungkook! kau mau kemana?!"

"Selamat tinggal, Tae."

"Jungkook!"

"Jungkook! kembali!"

"JUNGKOOK!"

Mata Taehyung terbuka paksa, spontan melompat bangun dari posisi baringnya. Nafasnya tak teratur, binarnya penuh ketakutan, keringat dingin mengalir di sekujur tubuh. Mimpi tadi terasa sesak dan menyakitkan.

"Ah, anda sudah bangun, Tuan?"

Pandangan buram Taehyung bergulir ke sekelilingnya. Orang-orang berbaju putih, bermasker, sibuk melakukan sesuatu di alat-alat yang berada di sekitar mereka. Ruangan putih dengan helai gorden sebagai pembatas. Semuanya hilir mudik, sibuk, berseru-seru entah berkata apa. Taehyung tidak terlalu mendengarnya. Pandangannya buram, sekujur tubuhnya terasa sakit, telinganya berdenging.

"Apa yang terjadi pada–Akh!" ucapannya tak selesai. Tiba-tiba saja dadanya berdenyut terlampau menyakitkan. Taehyung menunduk, mencengkram kausnya. Nafasnya terengah, jantungnya terasa di robek menjadi dua. Samar-samar, ia bisa melihat kaos putihnya yang penuh akan darah.

Ruangan ini semakin berisik, tempat Taehyung berbaring berdecit. Dua orang memegang sisi tempat tidur, satu orang memegang infus, dan yang lainnya berseru-seru panik. Taehyung tak lagi memperhatikan. Sakit di dadanya sangatlah menyakitkan, merobek warasnya ke titik paling parah. Tempat tidurnya di dorong tergesa-gesa keluar dari ruangan, di ikuti beberapa orang berbaju putih.

Di tengah rasa perih dan sakitnya, Taehyung akhirnya ingat apa yang telah terjadi.

Jungkook.

Ya.

Jungkook diculik.

"Brengsek! Lepaskan aku!" mengais sisa tenaganya, Taehyung spontan memberontak di atas tempat tidur. Ia menarik infus di tangannya kasar, mendorong badan para pegawai rumah sakit yang menahan badannya, berteriak marah. "Aku harus pergi dari sini, sialan! Luka ku tidak masalah!"

Suasana menjadi ricuh. Para pegawai kesusahan mencoba menenangkan Taehyung yang mengamuk, meronta ingin di lepaskan dengan segala runtutan umpatan kasarnya.

"LEPASKAN AKU BRENGSEK! JUNGKOOK DI CULIK! AKU HARUS PERGI DARI SINI!" Taehyung berseru keras, melayangkan tinju dengan mata merah melayang. Sakit di dadanya terlupakan. Ia tak peduli. Nyawa Jungkook jauh lebih utama.

"Jangan bergerak, tuan! Luka anda akan semakin parah!" pegawai rumah sakit berteriak jeri.

"Persetan! Biarkan aku pergi!"

Seorang wanita berjas putih dan berkacamata tebal mencengkram pergelangan tangan Taehyung kuat-kuat, tatapannya tajam menusuk Taehyung yang penuh emosi dengan nafas terengah. "Tidak bisa, tuan! Anda harus di operasi sekarang juga! Ada peluru yang bersarang di dada anda! Aku tahu kalau anda sedang mengejar seseorang, tapi untuk saat ini nyawa anda juga terancam!"

"LALU KENAPA?!" Taehyung berteriak frustasi, sakit di dadanya telah menjalar menyakiti saraf otaknya, begitu menyakitkan dan membuat nafas Taehyung sesak, tapi ia mengabaikannya. "AKU TIDAK AKAN MATI! Tapi, Jungkook! Jungkook akan mati, sialan! jadi biarkan aku pergi sekarang!"

Wanita itu menghela nafas kasar, ia mengibaskan jubah, menyuruh orang-orang untuk lanjut membawa tempat tidur Taehyung ke ruang operasi. Taehyung spontan berseru marah, ia kali ini tidak main-main. Kepalan tinjunya melayang mengenai rahang pegawai rumah sakit pria di sampingnya. Pria itu langsung jatuh tersungkur. Orang-orang membelalakkan mata tak percaya, apalagi ketika Taehyung menendang dua pria lain di sekitarnya lalu melompat bangkit dari tempat tidur.

"TUAN! APA YANG ANDA LAKUKAN?!" Wanita dokter itu berseru histeris.

Suasana semakin tegang. Taehyung berdiri dengan susah payah, memasang kuda-kuda. Persetan dengan peluru di dada. Persetan dengan rasa sakit yang begitu memuakkan ini. Jungkook, Jungkook di culik oleh orang tak dikenal, diperlakukan sangat kasar, dan nyata akan di siksa. Kekasihnya, Taehyung tidak akan membiarkan kekasihnya disiksa orang lain.

"Tuan, saya mohon tenang lah." Dokter itu perlahan mendekati Taehyung, raut wajahnya pucat pasi, penuh kekhawatiran. "Dengarkan saya, tuan. Peluru itu harus dikeluarkan, anda tidak akan bertahan lama."

"Menjauh dariku!"

"Tuan, saya mohon–"

"LALU KAU MAU AKU DIAM SAJA DISINI? MENGHABISKAN BERJAM-JAM WAKTU SEDANGKAN JUNGKOOK TELAH DI BAWA PERGI? AKU MUNGKIN AKAN MATI BEBERAPA JAM LAGI, TAPI JUNGKOOK BISA SAJA AKAN DIBUNUH DETIK INI JUGA! KAU PIKIR, AKU BISA MENERIMA KENYATAAN ITU?! AKAN JADI APA HIDUPKU KALAU DIA TIDAK ADA?!"

Ruang UGD rumah sakit itu lengang.

Seluruh atensi tertuju ke arah Taehyung. Dokter itu terpaku di tempat, menatap Taehyung pucat pasi. Orang-orang yang berlalu lalang terhenti, pasien-pasien membuka gorden ruangan mereka untuk mengintip, juga petugas ambulans yang mematung di depan pintu UGD.

Taehyung mengepalkan tangan begitu erat. Ia kacau, terlampau sangat kacau. Pandangannya buram, tertutupi genangan airmata efek emosi yang telah di puncak. Nafasnya tak teratur, sakit dadanya menguasai seluruh tubuh, juga hatinya yang berdenyut menyakitkan membayangkan Jungkook.

"TAEHYUNG!"

Saat itu lah, Jimin muncul dari balik pintu UGD. Berlari-lari bersama beberapa anak claws dan Yoongi, Jin, Namjoon di belakangnya.

Jimin menghela nafas kasar, ia menerobos kerumunan, melewati dokter yang tak tahu harus berbuat apa, dan ketika sampai, preman itu langsung menarik Taehyung ke dalam pelukan serampangannya.

"Kau, bajingan tolol. Obati lukamu sekarang. Lalu kita akan sama-sama mencari Jungkook. dia tidak akan di bunuh. Jungkook akan baik-baik saja."

"Dia akan baik-baik saja, Tae."

.


sincerely


.

Pukul 9 malam, 9 jam setelah Jungkook diculik.

Berkat bujukan Andrew, Jimin, dan Namjoon, Taehyung akhirnya mau di operasi. Cukup menyita waktu, 4 jam. Selama Taehyung di operasi, anak claws yang lain pergi mencari Jungkook. Namjoon telah mengerahkan anak buahnya untuk menjadikan ini kasus dan melakukan penyelidikan resmi, serta Jin dan Yoongi yang langsung menghubungi keluarga Jungkook. Ayah Taehyung sempat menghubungi, mengatakan agar mereka merawat Taehyung karena dia dan Solar telah terbang ke Dubai beberapa jam sebelumnya bersama Baekhyun.

Setelah di operasi, Jimin dan Andrew yang setia berada di samping Taehyung, menunggu pemuda itu sadar dari efek bius. Taehyung telah meminta agar obat biusnya di takarkan menjadi 5 jam saja. Dan begitu sadar, mereka akhirnya segera membawa Taehyung pergi dari rumah sakit.

"Kau yakin baik-baik saja?" Jimin bertanya sekali lagi, memperhatikan Taehyung yang memasang sabuk pengaman di samping kursi pengemudi. Sama sekali tidak terlihat seperti habis di operasi 5 jam yang lalu dengan peluru bersarang tepat di sebelah jantungnya.

Taehyung mendengus. "Kau pikir sudah berapa kali aku sekarat begitu? Para dokter tolol itu saja yang terlalu berlebihan. Ayo, Andrew. Kita harus ke kampus Jungkook."

"Yah, si bodoh V ini memang tidak punya otak." Andrew tersenyum, gesit memutar setir keluar dari area parkir rumah sakit. Berhubung motor ninja Taehyung rusak, mereka bertiga akhirnya ikut di mobil Andrew menuju kampus Jungkook. Taehyung rasa, pasti akan ada petunjuk disana.

"Kau hapal DD penculik Jungkook, Tae?"

"Tidak. Aku bahkan tidak melihatnya sama sekali."

"Tolol." Jimin mengumpat. Ia menyesap rokoknya, menopang dagu menatap jalanan kota yang ramai akan lampu-lampu kedai. "Memakan 14 korban luka-luka, tabrakan massal di beberapa titik, juga kemacetan parah dan kerusakan di mobil-mobil pribadi warga. Begitulah yang di tulis para wartawan tentang acara panikmu mengejar penculik Jungkook."

"Bukan mauku, brengsek. Tubuhku spontan bergerak di luar kendali. Yah, kau tahu, kacau sekali. Aku melihat dengan baik dia yang diangkut ke atas mobil, mulutnya di lakban, kedua tangannya memar, aku–" Taehyung menghela nafas kasar. Ia mengacak surainya frustasi. "Aku merasa pecundang sekali karena tak bisa menyelamatkan Jungkook."

Mobil itu lengang sejenak. Andrew diam menyetir, Jimin ikut menghela nafas dalam. Mereka sama-sama mengerti kalau Taehyung butuh waktu sendiri, menenangkan pikirannya juga meyakinkan diri sendiri kalau Jungkook akan baik-baik saja.

"Omong-omong, V. ini soal pertemuan rapat tadi pagi bersama Boss Baekhyun." Andrew memecah keheningan.

Taehyung menoleh. "Ada apa?"

"Sebagian besar masalah telah terpecahkan. Setelah mengumpulkan berbagai bukti, kita akhirnya tahu kalau kekacauan itu berasal dari Amerika yang ingin memulai penyerangan ke Korea Utara. Tahap awal nya adalah merakit bom nuklir. Dan, hebatnya, salah satu pamanmu adalah pakar nuklir yang berhasil membuat eksperimen ilegal komponen bom nuklir di Kuba beberapa tahun terakhir ini."

"Paman Sam." Taehyung memotong cepat. Ia kembali mengacak surai. Teka-teki ini perlahan menemui titik terang.

Andrew menghela nafas, lalu mengangguk. "Nazi Amerika sekarang sedang berusaha merebut komponen itu dari Pamanmu. Segala cara akan mereka lakukan. Tapi, menculik Sam itu mustahil. Dia dijaga ketat dengan tingkat keamanan berlapis-lapis, mustahil di jangkau. Sam tidak memiliki anak dan istri. Akhirnya, upaya itu beralih ke Boss Baekhyun, menculik beberapa anak buahnya di Selandia Baru. Tapi percuma, seluruh anak buah Boss Baekhyun tidak takut mati. Mereka lebih memilih mati daripada menyebarkan informasi terahasia yang dimiliki keluarga besarmu. Lalu, pilihan mereka pun jatuh padamu, V."

"Kau, adalah sasaran yang sangat sempurna. Sam beberapa kali jalan denganmu, sehingga mereka pasti telah mengenalmu. Diantara seluruh sepupumu, kau satu-satunya yang terjun ke dunia underground. Kau tahu seluk beluk segala hal yang ilegal dan berbahaya. Boss Daehyun terkenal, banyak orang tahu soal dia. Dan, tidak sulit untuk mencari tahu tentangmu, V. kau si temperamental yang lebih sering bertindak dengan emosi, cepat marah dan tak senang negosiasi. Semua orang di dunia preman tahu kau memiliki kekasih yang telah bersama denganmu selama bertahun-tahun, kekasih yang melampaui kata dan telah menjadi duniamu. Dan, secara tidak langsung telah menjadi kelemahan terbesarmu. Keputusan pertemuan tadi pagi menyuruh kita untuk menjagamu dan Jungkook lebih ketat lagi, tapi siapa sangka mereka lebih dulu bergerak, dan kekhawatiran itu benar-benar terjadi."

Mobil Andrew kembali lengang. Hanya deru mesin mobil, juga klakson-klakson dari pengemudi di jalan raya. Pukul 9 malam, kota Seoul masih ramai. Hingar bingar di berbagai tempat.

Taehyung tiba-tiba menghantukkan kepala ke dashboard.

"Bajingan. Harusnya aku lebih menjaganya lagi, bajingan. Bajingan."

Jimin mendengus kasar, membuang puntung rokoknya keluar jendela. "Jangan menyalahkan dirimu."

"Tapi kenapa harus Jungkook?!" Taehyung berseru emosi, meninju dashboard lebih kencang. "Kenapa harus dia, brengsek?! Kenapa bukan aku?! Kenapa harus dia yang dijadikan sasaran?! Jungkook sama sekali tidak tahu apa-apa! Aku tidak pernah menceritakan apapun soal Paman Sam padanya!"

"V. Tenangkan dirimu, tolol. Aku sudah menjelaskan semuanya, kau adalah sasaran yang paling sempurna." Andrew berucap tajam.

Taehyung tidak menjawab. Ia masih menelungkupkan kepala di dashboard, mengumpat frustasi, melampiaskan emosinya. Ia ingin sekali marah, berteriak, mengamuk, menghancurkan orang-orang yang dengan seenak jidatnya menaruh Jungkook dalam bahaya, tapi Taehyung tak tahu apa yang harus dia perbuat. Ia bahkan tak tahu kode plat mobil penculik Jungkook, ia tak melihat dengan jelas wajah mereka, semuanya tabu. Terlewatkan efek ceroboh Taehyung tadi siang. Taehyung termakan emosi, melakukan hal gegabah, menyakiti dirinya sendiri, dan membuat Jungkook semakin sulit untuk di jangkau.

Ini salahnya. Ini semua salahnya.

Tangan Andrew bergerak mengusak kasar surai yang lebih muda, tersenyum tipis melihat bagaimana frustasinya anak buah kesayangannya sekarang.

"Jangan bertindak seolah Jungkook tidak akan selamat lagi, V. Kekasihmu itu tangguh sekali, dia kuat. Jungkook tidak lemah. Dia pasti dapat bertahan dengan caranya, karena itu kita harus melakukan segala hal yang kita bisa selagi si bocah kesayanganmu itu bertahan disana."

Perlahan, Taehyung kembali menegakkan kepala. ia mengangguk pelan, mengepalkan tangan sangat erat hingga urat-uratnya terlihat. Andrew tersenyum lebar. Momen ketika Taehyung menuruti perkataannya dan menjadi anak baik adalah hal yang sangat langka. Sekilas, pemuda itu mengingat kejadian ketika Taehyung di culik beberapa tahun yang lalu. Jungkook juga sama frustasinya, seperti orang sekarat karena kehilangan kekasihnya. Dan itu juga terjadi kepada Taehyung sekarang.

"Masih banyak hal yang belum terpecahkan. Soal bagaimana mereka tahu jadwal Jungkook, siapa dalang di balik penculikan ini, siapa yang bekerja sama dengan Nazi Amerika, banyak lagi. Untung saja Namjoon telah bergerak dari tadi."

Andrew menyeringai, menginjak pedal gas lebih dalam. "Karena itu, kita harus cepat."

.


sincerely


.

Pukul 10 malam, 10 jam setelah Jungkook diculik.

Mobil Andrew menepi di pekarangan kampus Jungkook. Ada dua mobil patroli polisi yang terpakir tidak jauh. Beberapa mahasiswa yang baru keluar dari kampus melirik penasaran ke arah mereka.

Dan ternyata, tim Namjoon lah yang sedang menyelidiki di persimpangan tempat Jungkook terakhir kali di lihat.

"Namjoon!" Jimin berseru menyapa pemuda tinggi berseragam perwira yang sedang berbincang serius dengan anak buahnya.

Namjoon spontan menoleh, tersenyum lebar melihat kehadiran Taehyung. Ia berjalan ke arah mereka. "Halo, Jimin, Andrew. Dan, Taehyung. Syukurlah kau baik-baik saja."

"Yah, aku harus baik-baik saja demi Jungkook." Taehyung mengedikkan bahu.

Namjoon tersenyum, mengacak dengan lembut surai Taehyung. "Setidaknya kau tidak seperti Jin yang menangis tidak henti dari tadi. Omong-omong, bagaimana Yoongi?"

"Dia dirumah orangtuanya. Keluarga Jungkook mungkin telah tiba di Seoul." Jimin yang menjawab.

"Bagus lah kalau begitu."

"Jadi? Bagaimana hasilnya, Pak polisi?" Andrew memotong pembicaraan mereka.

Namjoon tersadar, lalu mengangguk cepat. Raut wajahnya berubah serius. "Kami sudah menginterogasi satu mahasiswi yang ternyata melihat penculikan itu secara nyata. Dia saksi utama kita untuk saat ini. Saat kejadian, pukul dua belas siang, mahasiswi itu baru keluar dari pintu samping kampus ini untuk membuang sampah tidak jauh dari sini. Lalu, dari persimpangan pintu depan kampus, ia melihat dua orang berbadan besar yang menarik Jungkook secara paksa menuju mobil sedan hitam yang terparkir tepat di depan pintu samping kampus. Mulut Jungkook di lakban, meronta hebat. Spontan, mahasiswi itu berteriak histeris. Lalu tidak lama, Taehyung muncul dengan motor ninjanya."

Ah, suara melengking yang di dengar Taehyung saat itu. Ternyata ada orang lain yang melihat kejadiannya.

"Lalu? Apa dia melihat DD mobil itu?" Andrew bertanya cepat.

Senyum Namjoon mengembang. "Ya. Dia bahkan memfotonya, dan mengupload DD itu ke sosial media agar Jungkook segera di selamatkan."

Helaan nafas lega Andrew dan Jimin terdengar. Berbanding terbalik dengan Taehyung yang merasakan amarahnya kembali meletup-letup di dalam dada.

"Kalian datang di waktu yang tepat. Anak buahku baru saja selesai melacak mobil itu. Terakhir di lihat di Busan, pukul 9 malam. Mobil itu menuju ke arah pegunungan. Aku akan segera mengirimkan titik lokasinya kepadamu, Andrew."

Andrew mengangguk mantap, Namjoon mengeluarkan ponselnya lalu segera mengirimkan titik lokasi itu kepada Andrew.

"Gedung terbengkalai di belakang Art High School?" Jimin membaca lokasi yang tertera di layar ponsel Andrew. "Uwah, pas sekali untuk dijadikan tempat pembunuhan."

"Jaga ucapanmu, bajingan." Taehyung mendelik tajam. Jimin tertawa, mengangkat tangan santai.

"Nah, sekarang tinggal tugas kalian. Ini lokasi pasti. Sudah jelas Jungkook ditaruh disitu."

Taehyung bergerak meninju lengan Namjoon. "Terima kasih, hyung. Aku berhutang banyak padamu."

Namjoon tertawa, kembali mengacak surai yang lebih muda. "Tidak masalah. Jungkook juga bagian dari hidupku, kehilangan si bodoh itu juga berdampak banyak bagiku. Karena itu, Taehyung. Selamatkan dia demi ku, Yoongi, dan Jin."

Taehyung mengangguk. "Kau tidak perlu menyuruhku."

Benar, dia pasti akan menyelamatkan Jungkook. Pasti. Apapun taruhannya.

Mereka pun segera pamit dari Namjoon, bergegas kembali ke mobil Andrew.

"Kau yakin akan pergi sekarang? Hanya kita bertiga?"

"Tentu saja." Taehyung berjalan cepat. "Mengumpulkan yang lain akan memakan waktu banyak. Kita harus kesana sekarang. Akan kubunuh semua keparat sialan itu."

"Tapi, kau tahu–" Jimin mendengus. "Ini terasa mudah sekali. Seperti sebuah penculikan yang dilakukan kelompok payah tak berpengalaman."

"Lalu kau mau Jungkook di culik bagaimana, bajingan?!" Taehyung berseru emosi, menatap Jimin tak percaya. "Kau mau dia disiksa seperti aku dulu?!"

Andrew bertindak cepat menengahi, menepuk kepala Taehyung beberapa kali. "Calm down, jerk. Chim tidak bermaksud seperti itu. Tenangkan dirimu, V."

Jimin mendengus, Taehyung balas menghela nafas kasar.

Ketika hendak menyalakan mobil, tiba-tiba ponsel Jimin berdering.

"Chim! Kau bersama Andrew sekarang?! Kembali ke markas! Penculik Jungkook menghubungi kita!"

.


sincerely


.

Pukul 11 malam, 11 jam setelah Jungkook diculik.

"Halo, kalian. Claws, ya? Sudah berapa lama kita tidak berjumpa? Wah, aku rasa aku merindukan kalian semua."

Wajah yang terpampang di layar tiba-tiba menghasilkan denyut menyakitkan di dada Taehyung. Nafasnya terengah, pikirannya kacau. Emosinya kembali meluap hingga ke kepala. ingatan itu menghantuinya, dan orang yang berada di balik penculikan Jungkook ini adalah penyebabnya.

"Brengsek. Kenapa bajingan Chanyeol ini masih hidup?" Andrew berucap begitu tajam dan rendah. Tatapannya juga penuh akan aura amarah.

Semua anak claws mengepalkan tangan erat. Kejadian ketika Taehyung diculik masih sangat membekas di ingatan tiap anggota. Menghasilkan trauma sendiri bagi mereka.

"Yah, kalian pasti sekarang bertanya-tanya mengapa aku bisa ada disini, bukannya malah mendekam di penjara. Hei, astaga. Sudah berapa tahun kejadian itu terlewatkan? 5?6? ah, benar. 5 tahun. Ya, masa tahananku sebenarnya 15 tahun. Tapi, siapa sangka aku dikeluarkan ketika baru 5 tahun. Uwah, apa ini karunia? Atau sebenarnya aku diberi kesempatan sekali lagi untuk membalaskan dendam kepada kalian?" Chanyeol menyeringai di balik layar. Ia terlihat berada di sebuah ruangan tidak terawat, beberapa orang bertopeng berdiri mengacungkan senjata di belakangnya.

Taehyung menggeram. Senjata itu sama dengan senjata yang menembaknya.

"Jadi, mari berkisah sebentar. Ada seorang temanku di luar sana yang berbaik hati menebus uang agar aku dapat diloloskan. Sudah jelas sekali aku berhutang budi padanya, kan? Lalu, aku akhirnya tahu kalau dia adalah anggota NAZI Amerika. Organisasi besar-besaran yang akan menentukan masa depan. Dia salah satu petinggi disana. Dia kemudian memberitahuku kalau timnya sedang butuh komponen nuklir demi merakit bom nuklir. Dan, astaga. Pas sekali, bukan? Keluarga besar V adalah gudangnya. Sam seorang penggila nuklir. Aku pun menyebut nama Sam, dan mereka segera bergerak lebih lanjut untuk menganalisis laporanku."

"Dasar pengkhianat!" Myungsoo berseru marah, tidak dapat menahan emosi lagi. Yang lain ikut berseru-seru penuh cemooh, tapi Andrew cepat-cepat menyuruh mereka untuk kembali tenang.

"Lalu, dengan penuh kehormatan aku disuruh menjalankan misi merebut komponen bom nuklir ini. Wah, sebuah kehormatan. Aku pun berpikir keras. Mencoba berbagai cara. Ah, Baekhyun ternyata sulit di taklukkan. Keluarga yang lain? Tidak ada apa-apanya, percuma saja kalau aku membunuh mereka. Lalu, bagai sebuah takdir, nama V pun muncul lagi. Benar! V! V adalah sasaran yang paling tepat! V akrab dengan Sam, dia pasti tahu seluk beluk soal bom nuklir itu, dan ini saat yang pas untuk membalaskan dendam. Astaga, sungguh sebuah karunia, bukan?"

"Tapi kemudian, aku berpikir lagi. Menculik V juga tidak berguna. Dia pasti rela mati, tidak akan membuka mulut sama sekali. Semuanya akan sia-sia, dan aku tidak akan puas melihat V disiksa. Lalu apa yang harus kulakukan? Benar. Kalian tentu jawabannya. Jungkook. Ya, si manis itu adalah kuncinya."

Andrew bertindak cepat menahan tangan Taehyung yang hampir meninju layar besar di hadapan mereka. Nafas Taehyung terengah, Emosinya tersulut sempurna. Mendengar nama Jungkook membuatnya kalut.

"Sesuai prediksi, Jungkook tidak tahu apapun. Dia hanya meringkuk ketakutan, meraung marah mencoba meloloskan diri, berharap sang pahlawannya akan segera datang. Omong-omong, kalau V ada di antara kalian sekarang, kukabari soal Jungkook. Dia baik-baik saja, sudah kuberi makan. Makanan yang sama dengan makanan yang kukasihkan dulu saat kau diculik, V. Romantis sekali, bukan? Dia juga sudah tumbuh dewasa, menjadi semakin indah saja. Aku sebenarnya ingin sekali bermain-main sebentar dengan kekasihmu itu, tapi yah, nanti saja lah kalau kau sudah datang."

"Brengsek." Jimin ikut menggeram marah, wajahnya memerah efek emosi.

"Jadi, sudah cukup cuap-cuapnya! Nah, sekarang aku akan memberitahu kalian alasan mengapa aku mengirimkan ini. Sudah jelas sekali bukan kalau kalian akan datang menyerang? Tentu saja. Gaya claws sekali. Tapi, untuk saat ini, aku telah selangkah lebih maju dari kalian." Tangan Chanyeol terangkat keatas, menampilkan papan elektronik dengan tombol merah di tengahnya yang sedang dia pegang.

Nafas Taehyung terenggut. Pucat pasi.

Dia tahu apa itu.

"Kalian tentu tahu apa ini? Haha tentu saja. Ini tombol untuk mengaktifkan bom. Ya, bom yang terpasang di kaki Jungkook sekarang. Hanya bom kecil, tenang saja. Tapi, yah, mungkin akan membuat Jungkook kehilangan dua kakinya. Jadi, aku akan katakan baik-baik. Aku mau hanya V yang datang kesini sendirian, tanpa bantuan apapun. Tanpa kehadiran Andrew, Jimin, Kwon dan Hwan, dan yang lainnya. Kalau dari jarak 200 meter aku melihat satu saja anak claws, kupastikan tombol ini akan kutekan detik itu juga. 8 jam dari sekarang, V harus telah ada di markasku. Aku akan mengirimkan lokasinya. Oke? Selamat berjuang, kawan lamaku."

Layar itu berubah warna hitam. Chanyeol dan wajah bengisnya menghilang.

Markas mereka spontan menjadi ricuh. Anak claws berseru-seru marah, meraung dan meluapkan emosi mereka setelah melihat tontonan tadi. Amarah mereka juga tersulut. Sudah jelas sekali ini jebakan, dan mereka tidak akan di untungkan. Yang lain meninju dinding emosi, sisanya melempari layar besar dengan apapun yang berada di dekat mereka.

"Tenang, brengsek!" Andrew berseru melerai, menatap marah ke anggotanya yang lain. "Kita harus tenang! Aku tahu kalian marah, tapi bertindak seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah!"

Suasana menjadi sedikit lebih tenang, walaupun berbagai umpatan marah masih dilontarkan.

Taehyung mengusak surainya lebih kasar, sangat frustasi. Ia tidak menyangka akan seburuk ini. Bom? Itu parah sekali. Begitu banyak yang dipikirkan Taehyung sekarang. Ia kacau, frustasi, marah, dan takut. Bayang-bayang Jungkook terngiang dipikirannya. Dia merindukan kekasihnya, dia takut Jungkook akan kenapa-kenapa disana. Dia takut segala tindakannya justru akan semakin membuat nyawa Jungkook terancam.

"Apa yang harus kulakukan, sialan!" Taehyung berteriak frustasi, menelungkupkan kepala di antara lengannya.

Markas itu menjadi lengang. Semuanya terdiam, menatap Taehyung dengan perasaan yang sama. Mereka tahu bagaimana pentingnya sosok Jungkook di hidup Taehyung. Walau tak pernah menunjukkan secara langsung, Jungkook adalah segalanya Taehyung.

Jimin menghela nafas. Ia merogoh kantung celana diam-diam, mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.

"Kita tidak bisa menyelesaikan ini sendirian. Para petinggi dan Boss Baekhyun harus tahu ini." Andrew berkata final, ia memberi gestur agar semua anggota berkumpul di tengah ruangan. Andrew menaruh laptop di tengah meja, duduk di samping Taehyung, lalu segera berkutat untuk menghubungi para petinggi yang sedang bertugas di Dubai.

Satu persatu anak claws meninju lengan Taehyung, mencoba memberi preman itu semangat. Satu dua mengacak surainya, memberi kata-kata penenang kalau Jungkook akan baik-baik saja. Walau begitu, senyum Taehyung tak kunjung hadir. Pikirannya terlanjur kacau, penuh rasa cemas yang telah tiba di puncaknya.

"Ini buruk. Buruk sekali, Andrew." Raut wajah Baekhyun dari balik layar laptop terlihat sangat pucat setelah penjelasan singkat Andrew kepadanya. Disampingnya, Daehyun dan beberapa petinggi ikut memasang mimik wajah yang sama.

"8 jam dari sekarang tidak akan cukup untuk menunggu kedatangan kami. Jadi kita harus mencari solusi bersama-sama melalui ini."

Andrew mengangguk. "Benar, Boss. Jadi? Apa yang harus kami lakukan? Kita tentu saja tidak bisa mengirim begitu saja V tanpa pengaman apapun. Sudah jelas ini hanya lah jebakan."

"Benar. Tidak ada yang bisa menjamin keselamatan Taehyung dan Jungkook. Tapi, tidak mengirimnya ataupun mengirimnya dengan bantuan justru akan mengancam keselamatan Jungkook juga."

"Tapi sebenarnya, mengapa mereka butuh V, Boss?" Dilan menyahut dari samping Taehyung.

Di seberang sana, Baekhyun menghela nafas. "Sam dan Taehyung itu sangat dekat. Dari segelintir orang yang mengetahui kode keamanan Sam di Kuba, Taehyung termasuk salah satunya. Taehyung tahu password, lokasi pasti, dan mungkin bahkan dimana komponen nuklir itu diletakkan. Dengan menjadikan Taehyung sebagai tawanan, mereka untung besar."

"Apalagi, Sam menyayangi Taehyung melebihi apapun. Dia tentu bisa melakukan apapun bila Taehyung yang memintanya." Ayah Taehyung ikut menjawab.

Mereka kembali terdiam. Helaan nafas frustasi terdengar dimana-mana. Taehyung menelungkupkan kepala semakin dalam. Diskusi ini sepertinya tidak akan menemui titik terang.

"Mungkin memang sebaiknya aku pergi saja sendirian."

"Kau gila?!" Andrew menghardik, menatap marah ke arah Taehyung. "Tidak! Kau tidak akan pergi selagi tidak ada satupun persiapan yang ada. Kita akan pergi bersama-sama, V. kita selamatkan Jungkook bersama."

"Lalu bagaimana dengan bom itu? Chanyeol yang memegangnya, brengsek! Dia tidak akan ragu menekan tombol itu! saat SMA dulu dia saja pernah mencoba membunuh Jungkook!"

"Tidak, kuyakin untuk kali ini dia tidak akan menekannya. Jungkook akan–"

"BERHENTI MENGATAKAN DIA AKAN BAIK-BAIK SAJA!" Taehyung meraung marah. dia berdiri, menarik kerah Andrew kasar. Tatapannya menusuk, penuh aura emosi yang telah menguasai dirinya. "SUDAH CUKUP! DIA TIDAK BAIK-BAIK SAJA! JUNGKOOK PASTI MENANGIS DISANA! DAN MENURUTMU ITU HAL YANG BAIK, HAH?! AKU AKAN PERGI MENOLONGNYA, JADI JANGAN MENGHALANGI JALANKU, BRENGSEK!"

Tepat ketika teriakan marah Taehyung selesai, Taeyeong datang mendekat. Sebuah tinjuan tiba-tiba dia layangkan ke rahang preman itu, dan sebelum jatuh tersungkur Gerr dengan cepat menendang ulu hati Taehyung.

Taehyung terlempar, jatuh tersungkur di lantai. Nyeri di dadanya langsung terasa, menusuk dan menyakitkan.

"Bajingan," Taehyung terbatuk, dia mencengkram erat kausnya. Untuk sepersekian detik kepalanya terasa berputar, pening luar biasa. Belum lagi rahangnya yang perih akibat tinjuan tak main-main Taeyeong.

"Baru di tendang seperti itu saja kau sudah kalah, hah? Sok ingin menjadi pahlawan Jungkook?" Taeyeong berdecih.

Gerr mencibir mengejek. "Jangan sok menjadi kuat, tolol. Kau tidak bisa menafik lukamu itu. kau baru di operasi beberapa jam yang lalu, tubuhmu tidak fit. Jadi, jangan menjadi sombong dan terima saja seluruh rencana misi ini, bajingan."

Taehyung tak menjawab. Dia hanya menggeram, mengepalkan tangan semakin erat. Semuanya semakin kacau, tapi dia tidak bisa menolak apa yang kawan-kawannya katakan. Kondisi tubuhnya memang masih rentan.

"Yah, kuanggap kau telah membuat kesepakatan, V." Andrew mengedikkan bahu cuek, kembali menghadap layar. "Jadi? Apa yang harus kami lakukan sekarang?"

Baekhyun tertawa kecil, mengangguk pelan. "Terima kasih karena telah menenangkan si bocah berandalan itu. Ya, langkah pertama yang sedang dilaksanakan Para Petinggi sekarang adalah mencari tahu siapa yang telah membebaskan Chanyeol. Kita harus menindaki itu secepat mungkin, masalah ini harus didengar seluruh dunia. Dan, untuk Jungkook. maaf, tapi kami sama sekali tidak bisa membantu. Yang kuinginkan hanya lah, Taehyung selamat juga Jungkook. Namun kurasa membiarkan Taehyung pergi kesana adalah saran yang tepat. Dia tidak mungkin di bunuh duluan. Chanyeol pasti akan membawa mereka ke Kuba dulu. Mungkin, kalian dapat memikirkan bagaimana misi penyelamatannya."

"Kami akan menghadiri rapat lagi. Maaf, Andrew tapi kami benar-benar sangat sibuk sekarang. Aku percaya pada tim mu sepenuhnya."

Sebelum Andrew menjawab, layar itu lebih dulu mati.

Semua kembali menghela nafas dalam-dalam. Diskusi ini tidak menemui titik temu, mereka masih belum tahu apa yang harus dilakukan sekarang.

"Sudah kubilang harusnya aku pergi kesana saja sendir–Jangan memotong ucapanku!" Taehyung membentak emosi. "Maksudku, aku akan pergi kesana sendirian, dan kalian bisa memikirkan bagaimana cara menyelamatkanku dan Jungkook nanti! Setidaknya, aku harus bisa melepas bom itu dari kaki Jungkook dulu."

"Itu skenario yang bagus." Kyungsoo berkomentar sembari menyesap rokoknya.

Disampingnya, Vernon mengangguk setuju. "Setidaknya Chanyeol harus percaya dulu kalau V memang berniat membantunya."

"Oke, saran kuterima." Andrew memijat pangkal hidung. "Lalu, bagaimana misi penyelamatan V dan Jungkook? kita tentu tidak bisa menyerang lewat darat."

"Lewat udara kalau begitu."

Sebuah suara memaksa mereka untuk menoleh bersamaan. Ada Jimin yang membuka pintu markas, dan Namjoon muncul di baliknya. Tersenyum menawan dengan masih mengenakan pakaian dinasnya.

"Selamat malam."

"Namjoon?" Andrew mengeryit. Dia berdiri, menatap heran ke arah Jimin. "Apa maksudnya menyerang lewat udara?"

Jimin mengedikkan bahu, menyeringai. "Si perwira berbintang dua ini akan membantu kita dalam menyelamatkan Jungkook."

Taehyung ikut berdiri, menatap Namjoon lekat-lekat. Pemuda itu balas tersenyum lebar, spontan kembali mengusak lembut surai Taehyung. "Kan sudah kukatakan padamu kalau Jungkook juga bagian dari hidupku. Jadi, aku akan membantumu menyelamatkan Jungkook, Tae."

"Berkat bantuan Ayahku, aku berhasil mendapat izin untuk menggerakkan tim tempur angkatan udara. Cukup rumit dan susah, tapi yah mereka akhirnya mau setelah membawa nama keamanan dunia." Namjoon tertawa. "Kuharap 16 pesawat itu dapat membantu kalian. Tenang saja, kepolisian Korea Selatan juga akan bergerak bersama claws untuk menangkap para penjahat itu."

Semuanya tak bersuara. Para preman itu saling tatap, dan detik berikutnya, teriakan kencang mereka lancarkan. Berseru-seru senang, mengepalkan tinju bahagia.

Bibir Andrew tersungging senyuman yang sangat lebar. Ia menjabat tangan Namjoon erat-erat. "Terima kasih, Namjoon. Baru kali ini aku berhutang budi pada polisi."

Namjoon tertawa, mengangguk santai. Dia kemudian menatap satu-satu para preman di dalam ruangan itu. Padahal, pekerjaannya selama ini adalah untuk menumpas para preman ini. Tapi lihat lah sekarang, dia malah membantu mereka.

"Jadi," Seringai di bibir Namjoon tercipta. Ia menatap Taehyung. "Apa rencanamu, Taehyung-ah?"

.


sincerely


.

Pukul 3 malam, 15 jam setelah Jungkook di culik, dan 4 jam sebelum waktu perjanjian Chanyeol.

Mobil yang dikemudikan Taehyung membelah jalanan Kota Busan yang sepi. Hanya satu dua mobil yang melintas dari arah berlawanan, sesekali juga truk-truk besar yang mengangkut hasil laut yang di bawa ke arah Seoul. Suasana lengang. Hanya suara musik pelan yang mengalun dari speaker mobil.

Taehyung terlihat tenang mengemudikan mobilnya. Berbelok arah, mengikuti petunjuk lokasi yang telah di kirimkan Chanyeol. Tidak begitu sulit menemukan jalan menuju bukit itu. Suasana ruyam, sepi, dan mencekam. Tapi Taehyung tetap tenang.

Dua puluh menit berkelok-kelok, melintasi jalanan menanjak, dan curam, sebuah gedung besar berlantai dua tak berpenghuni akhirnya terlihat. Sekitar 200 meter dari mobil Taehyung.

Taehyung menepikan mobilnya, mematikan mesinnya, lalu kemudian berjalan keluar. Samar-samar, Taehyung dapat melihat tiga orang yang berdiri di atap gedung memegang sniper. Semakin dekat, 5 orang penjaga bertopeng berdiri di depan pintu masuk. Semuanya sama, memegang senjata api di tangan.

Taehyung melangkah dengan tenang dan mantap. Melintasi tiga penjaga yang langsung mengikuti dari belakang.

"Subjek, clear! Daerah, clear! Subjek dipastikan datang sendiri!"

Mereka kemudian berhenti di depan pintu masuk. Taehyung menunggu dengan sabar. Tidak lama kemudian, deritan pintu yang terbuka perlahan terdengar.

Begitu pintu terbuka, wajah Chanyeol yang menyeringai terpampang dengan jelas.

"Selamat datang, V." Chanyeol merentangkan tangan, seringai di bibirnya semakin terlihat bengis. "Aku sudah lama menunggumu."

.

.

.


To Be Continued


hei. it's been a long time.

tbh, banyak banyak sekali yang saya mau ungkapkan kepada reader-nims, dan saya jadi bingung mau merangkainya gimana. pertama, saya ingin berterima kasih sekali kepada kalian yang memberikan saya dukungan tidak terhitung banyaknya. setiap review itu benar-benar menjadi acuan saya, benar-benar menjadi penyemangat saya, dan yah, become my moodbooster. really. yang review di chap kemarin malah lebih banyak daripada biasanya kkkk. harusnya saya sering2 ngambek kali ya/? #disleding. intinya, saya merasa be loved banget. thanks, saya ga nyangka fiction hasil karangan tangan saya ini membawa begitu banyak pengaruh bagi kalian:" dan jujur saya jadi ingat, itu lah alasan kenapa saya memulai untuk menulis. to pleasure my readers:"

kedua, saya minta maaf karena udah buat kalian cemas. astaga, seriusan deh saya merasa bersalah banget. walaupun saya bilang saya kayak muak, it doesnt mean saya mau berhenti menulis sincerely:" i will end this story in a nice way. i promise. maafkan saya yang masih berjiwa labil ini

oke, sudah cukuplah cuap-cuapnya.

AND YASH! BANGTAN WILL HAVE A COMEBACK! WHOSE EXCITED WITH OUR SUNSHINES NEW CONCEPT?!

Hope you like this chapter as well!

thank you for all the readers who read + review + favorite + follow this absurd fiction!

(saya harap kedepannya kalian juga semangat mereview kayak kemarin pas saya bilang mau vakum hehehehehe)

Last,

Mind To Review?

XiRuLin.