24
HARAPAN DI TOILET
.
.
.
Murid-murid di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan mengira sihir berarti mantra. Namun bagi Kyungsoo, ternyata ada sesuatu yang lebih kuat dari sebuah senyuman.
Ke manapun dia pergi, disaksikannya ekspresi takjub dan bisik-bisik keheranan, seakan-akan dia telah mempraktikkan ilmu sihir lebih dalam dari yang pernah dilihat para murid atau guru. Suatu hari, dalam perjalanan ke kelas pagi, Kyungsoo mendapati dirinya mulai menantikan pelajaran-pelajaran itu.
Perubahan-perubahan yang lain juga sama menggelikannya. Dia tidak merasa ingin muntah lagi bila mencium aroma seragamnya. Dia sudah tidak keberatan lagi mencuci muka, mencuci dan menyisir rambutnya lebih teratur. Dia begitu semangat berlatih menari untuk Pesta Dansa sampai melonjak saat para serigala melolong di akhir kelas. Dan jika dulu dia pernah mengolok-olok PR Kebaikannya, sekarang dia mau membaca halaman-halaman yang wajib dibaca dan terus membaca, terpesona oleh kisah-kisah para tokoh wanita yang memperdaya para penyihir, membalas kematian orangtua mereka, dan mengorbankan tubuh, kebebasan, bahkan hidup mereka demi cinta sejati.
Setelah menutup buku pelajarannya, Kyungsoo memandangi peri-peri yang menghias Hutan Biru dengan lentera-lentera kerlap-kerlip untuk Pesta Dansa. Kebaikan memang sungguh bisa menghasilkan keindahan.
Pesta Dansa tinggal dua hari lagi dan Sirkus Bakat akan diadakan esok malam. Pollux berkeliling ke kelas-kelas, kepalanya bergerak di atas tempurung kura-kura yang kurus kering untuk mengumumkan peraturan-peraturannya.
"Perhatian! Atas perintah Sang Guru Sekolah Pencerahan dan Pesona Kebaikan serta Sekolah Pendidikan Kejahata–"
"Langsung saja!" bentak Profesor Ahn.
Dengan muram, Pollux menjelaskan bahwa Sirkus Bakat adalah kompetisi bakat antara Kebaikan dan Kejahatan, peringkat 10 teratas anak Ever dan Never masing-masing akan naik ke panggung untuk memperlihatkan bakat mereka. Di akhir kontes, pemenang akan menerima Mahkota Sirkus dan Teater Dongeng secara ajaib akan menjadi hak sekolah yang ditempatinya.
"Tentu saja, Teater belum berpindah tangan selama berabad-abad," dengus Pollux.
"Lalu siapa jurinya?" tanya Seulgi.
"Sang Guru. Meski kau tidak akan melihatnya, tentu saja," Pollux menghela napas. "Sekarang mengenai perlengkapan, kusarankan kalian memakai pakaian yang sederhana, sopan, dan–"
Profesor Ahn menendang kepalanya keluar pintu.
"Cukup! Tidak ada lagi yang berlatih untuk Sirkus sampai subuh. Aku tidak mau kalian kurang tidur dan istirahat. Ah ya, lamaran-lamaran akan dimulai besok. Jadi, satu-satunya yang harus kalian pikirkan malam ini sebelum tidur adalah wajah pangeran kalian."
Ketika guru itu mengelilingi ruangan, Kyungsoo memperhatikan gadis-gadis menerima lamaran dengan mata terpejam, berkonsentrasi hingga hidung mereka mengerut, sementara Pollux mengerang di luar.
Dengan peringkatnya sekarang, Kyungsoo pasti akan masuk tim Sirkus untuk Kebaikan dan dia tidak punya bakat! Siapa yang mau melamarnya setelah dia mempermalukan diri di depan seisi sekolah? Dan bagaimana kalau tidak ada yang melamarnya–
"Berarti kau seorang penyihir dan kau akan gugur," Rosé memperingatkannya ketika Kyungsoo masih belum bisa melihat wajahnya.
Sepanjang pelajaran Sunny dihabiskannya dengan mata terpejam, tetapi yang bisa dilihatnya samar-samar hanya siluet pucat yang pudar setiap kali dia mendapatkannya. Dia kembali ke kastel dengan langkah lesu, tak bersemangat, dan melihat beberapa murid berkerumun di bawah tangga. Dia menghampiri Baekhyun.
"Apa yang–"
Dia menarik napas. Lukisan huruf V berhias malaikan di dinding sekarang tercoreng dengan goresan-goresan semerah darah:
MALAM INI
"Apa artinya?" tanya Kyungsoo.
"Artinya Soojung akan menyerang kita lagi," jawab sebuah suara.
Kyungsoo menoleh pada Kai yang memakai kemeja biru tanpa lengan, berkeringat dan berkilat-kilat seusai Seni Anggar. Tiba-tiba dia tampak sadar diri, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh, maaf. Aku harus mandi."
Dengan kikuk, Kyungsoo melekatkan tatapannya ke dinding. "Kukira serangan-serangan itu sudah berakhir."
"Kali ini aku akan menangkapnya," kata Kai, berdiri di sebelah Kyungsoo sambil menatap tajam ke dinding. "Dia itu racun."
"Dia terluka, Kai. Dia kira kau berjanji padanya."
"Bukan janji kalau dibuat dalam keadaan pura-pura. Dia memanfaatkan kau dan aku untuk memenangkan Uji Dongeng. Sudah jelas betapa liciknya dia, bukan?"
"Kau tidak tahu sedikitpun tentang dia," ujar Kyungsoo pelan. "Dia masih mencintaimu dan masih sahabatku."
"Astaga. Jiwamu pasti lebih Baik dariku, karena aku tidak tahu apa yang kau lihat dalam dirinya. Yang kulihat hanya penyihir yang manipulatif."
"Kalau begitu, lihat baik-baik."
Kai menoleh. "Atau lihat yang lain."
Kyungsoo merasa mual lagi.
"A-aku terlambat," kata Kyungsoo, berlarian mencari tangga yang tepat–
"Sejarah lewat sini."
"Kamar mandi–"
"Tapi itu menara cowok!"
"Aku lebih suka toilet–cowok."
Dia bersembunyi di balik patung putra duyung setengah telanjang, lalu mengais udara. Sebenarnya ada apa? Kenapa dia tidak bisa bernapas dengan benar di dekat laki-laki itu? kenapa dia merasa gugup setiap kali Kai menatapnya? Dan mengapa dia kini menatapnya seolah dirinya seorang... perempuan! Kyungsoo menahan teriakan.
Dia harus menghentikan serangan Soojung.
Jika Soojung mengakui kesalahannya, jika dia meminta maaf pada Kai, masih ada harapan Kai mau menerimanya kembali dan itulah akhir bahagia dongeng ini! Dengan begitu, tidak ada lagi tatapan-tatapan aneh, tidak ada lagi perut mual, tidak ada lagi khawatir, tidak ada lagi sesuatu yang bisa mengendalikan hatinya sendiri.
Setelah murid-murid dan para guru mengerumuni dinding cacat itu, Kyungsoo berlari cepat ke Margasatwa Merlin. Tanaman-tanaman pagar di sana akhirnya kembali pada kejayaan lamanya setelah kebakaran itu. Dia melesat ke pahatan Arthur muda, menceburkan diri ke kolam portal, lengan kuatnya menarik pedang dari batu. Hanya saja, sekarang dia tidak memperhatikan Arthur melainkan putranya, mengedip ke arahnya. Kyungsoo merona ngeri dan melompat ke dalam air sedingin es.
"Biarkan aku lewat!" bentaknya, menghambur ke pantulannya di Jembatan Separuh Jalan. "Aku harus menghentikan Soojung sebelum dia–" matanya membelalak. "Tunggu. Di mana aku?"
Seorang putri cantik jelita berambut hitam disisir ke atas, mengenakan gaun biru tua berhias dedaunan emas indah, kalung batu di lehernya, dan tiara anggrek biru berkilau, tersenyum padanya.
Rasa bersalah menusuk perut Kyungsoo. Dia mengenali seringai itu.
"Soojung?"
"Baik dengan Baik, Jahat dengan Jahat. Kembalilah ke menaramu sebelum terjadi huru-hara."
"Yah, sekarang aku jelas-jelas Jahat, jadi biarkan aku lewat," perintah Kyungsoo.
"Memangnya kenapa?" tanya sang putri.
"Karena aku mulai memikirkan pangeranmu!"
"Sudah waktunya."
"Bagus. Sekarang biarkan aku lew–apa?" Kyungsoo menatap marah. "Tapi itu Jahat, Soojung. Dia cinta sejatimu!"
Sang putri tersenyum. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya."
"Apa? Kapan? Memperingatkan siap–"
Kemudian Kyungsoo ingat terakhir kali dia berada di sini.
Dia milikmu.
Matanya membeliak. "T-tapi itu artinya... k-kau–"
"Baik sekali. Sekarang aku permisi dulu, kita harus bersiap-siap ke Pesta Dansa."
Dan begitu saja, Putri Kyungsoo lenyap dari pantulannya, meninggalkan pembatas yang utuh.
"Emm, itu potongan keenam," celetuk Baekhyun, mata sipitnya mengawasi Kyungsoo memakan potongan pai ceri lagi.
Kyungsoo tak menghiraukannya dan menjejalkan pai itu ke dalam mulutnya, menelan rasa bersalahnya. Dirinya seorang Putri? Kai adalah cinta sejatinya?
"Itu mau kau makan?" tanyanya dengan mulut penuh.
"Padahal kukira kau ada kemajuan," Baekhyun mendesah, menyodorkan potongan painya.
Sambil melahapnya, Kyungsoo berkonsentrasi untuk kembali menyelinap ke Sekolah Kejahatan. Selama serangan-serangan pertama, para guru telah meliputi Menara Kebaikan dengan jampi-jampi anti-mogrif karena mereka berpikir Soojung menerobos masuk sebagai lalat, katak, atau daun lili air. Namun Soojung tetap bisa menyelinap ke Sekolah Kebaikan.
Berarti ada rute lain, pikir Kyungsoo. Tanpa berpikir panjang, tahu-tahu dia sudah bergegas keluar dari Aula Makan ke tempat yang selalu didatanginya saat dia membutuhkan jawaban.
Kyungsoo segera mengenali tambahan baru di Galeri Kebaikan. Tunik Uji Dongeng yang berlumuran darah milik Kai kini memiliki lemari kaca tersendiri, berlabel UJI DONGENG ABAD INI yang sejajar dengan rangkuman singkat tentang persekutuan Kai dan Soojung yang mendatangkan bencana. Terlihat olehnya lusinan sidik jari di kacanya, sudah pasti bekas gadis-gadis pengagum.
Sambil mual, Kyungsoo melesat ke pameran Sejarah Sekolah, dilengkapi lusainan peta yang merekam perkembangan menara-menara dari tahun ke tahun. Dia berusaha mempelajarinya untuk menemukan jalan rahasia, tetapi tak lama kemudian matanya lelah dan tahu-tahu dia sudah menysuri sudut yang dikenalnya.
Dilewatinya semua lukisan Pembaca menuju yang bergambar dirinya dan Soojung, tampak dilingkari cahaya dari pantulan danau. Matanya mulai berkaca-kaca melihat mereka bersama-sama, sahabat karib. Masih tersangkut di pikirannya bahwa di menara Sang Guru yang tinggi, Storian akan segera menulis akhir kisah mereka.
Dia melihat lukisan di sebelahnya, yang terakhir dari barisan itu. Pemandangan anak-anak yang melemparkan buku-buku dongeng mereka ke api unggun di malam hari sementara lautan asap menyelubungi Hutan di sekeliling mereka.
Ramalan Pembaca, begitu kata Lady Kwon.
Apakah ini Jangho di masa depan?
Keningnya berdenyut, berusaha memahami itu semua. Siapa peduli kalau anak-anak membakar buku-buku dongeng itu? Kenapa Jangho penting bagi Sader dan Sang Guru? Bagaimana dengan desa-desa lainnya?
"Desa lain yang mana?"
Sudah lama dia menyingkirkan ucapan Sang Guru sebagai pemikiran yang tak terpecahkan. Dunia terbuat dari desa-desa seperti yang ditinggalinya di suatu tempat di balik hutan Jangho. Tapi kenapa mereka tidak ada di galeri ini? Kenapa anak-anak mereka tidak diculik?
Sementara bulu kuduknya berdiri, konsentrasinya kembali teralihkan pada lautan asap yang menyelimuti di atas anak-anak di lukisan itu. Apa yang dilihatnya sekarang bukan awan sama sekali.
Melainkan bayangan.
Besar dan hitam, mengendap-endap dari Hutan ke desa.
Dan tidak terlihat seperti manusia.
Tiba-tiba bayangannya sendiri membesar dan menonjol di beberapa sisi. Kyungsoo berputar ngeri–
"Profesor Sader," dia menghembuskan napas.
"Sayang sekali aku bukan pelukis yang baik, Kyungsoo. Reaksi-reaksi terhadap koleksi terbaruku agak menyedihkan," katanya, memegangi koper yang serasi dengan warna setelan hijau daunnya.
Kyungsoo bergeming, tak tahu harus merespons apa.
"Kupikir sebaiknya mengecek galeri ini setelah menemukan beberapa duri yang hilang dari Pameran Kejahatan. Terkadang penjahat bersikap persis seperti dugaanmu," dia mendesah lalu berjalan ke pintu.
"Tunggu! Kenapa itu lukisan terakhir Anda? Begitukah dongengku dan Soojung berakhir?" desak Kyungsoo.
Profesor Sader berbalik. "Begini, Kyungsoo, peramal tidak bisa menjawab pertanyaan begitu saja. Kalau aku menjawab pertanyaanmu, aku bisa langsung lebih tua sepuluh tahun di tempat sebagai hukumannya. Itulah sebabnya kebanyakan peramal kelihatan tua sekali. Perlu melakukan beberapa kesalahan untuk belajar tidak menjawabnya. Beruntung, aku sendiri baru membuat satu kesalahan."
Dia tersenyum dan beranjak lagi.
"Tapi saya harus tahu apakah Kai memang cinta sejati Soojung!" seru Kyungsoo. "Kumohon katakanlah. Apakah Kai akan menciumnya?"
"Do Kyungsoo, sudahkah kau belajar sesuatu dari galeriku?" tanya Sader, berbalik.
Kyungsoo mengamati awetan hewan-hewan di sekeliling Sader. "Bahwa Anda suka kalau awetan murid-murid Anda diisi penuh?"
Sader tidak tersenyum. "Tidak semua pahlawan mencapai kejayaan, tapi yang berhasil mencapainya memiliki persamaan."
Tiba-tiba Sader ingin Kyungsoo menebaknya.
"Mereka membunuh para penjahat?" tanya Kyungsoo.
"Tidak boleh bertanya."
"Mereka membunuh para penjahat."
"Pikirkan lebih dalam lagi, Kyungsoo. Apa yang menghubungkan para pahlawan besar kita?"
Kyungsoo mengikuti arah pandangannya yang kabur ke spanduk-spanduk biru benhur yang menggantung di langit-langit, masing-masing memuja setiap gambar pahlawan. Putri Salju terbungkus di dalam petinya, Cinderella memasukkan kakinya ke sepatu kaca, Jack membantai raksasa menjulang, Gretel mendorong si penyihir ke dalam oven...
"Mereka semua menemukan kebahagiaan," ucap Kyungsoo tertegun.
"Ah, ya sudah. Aku harus kembali mengisi kelas."
"Tunggu–"
Kyungsoo berkonsentrasi pada spanduk-spanduk itu dan memantapkan pikirannya. Lebih dalam. Di balik permukaan, apa persamaan pahlawan-pahlawan ini? Benar, mereka semua memang sama-sama memiliki kecantikan, kebaikan, kemenangan, tapi di mana mereka memulainya?
Putri Salju hidup di bawah bayang-bayang ibu tirinya. Cinderella adalah pelayan kedua saudara tirinya. Ibu Jack menyebutnya bodoh. Orangtua Gretel menelantarkannya supaya mati di Hutan...
Bukan akhir yang menjadi persamaan mereka.
Melainkan awalnya.
"Awalnya mereka memercayai musuh mereka," ujar Kyungsoo pada profesornya.
"Ya. Dongeng mereka bermula saat mereka sama sekali tidak menyangkanya," kata Sader, angsa perak berkilat lebih terang di saku bajunya. "Setelah lulus dari sekolah kita, mereka pergi ke Hutan dengan sangkaan akan mengalami pertempuran besar melawan monster-monster dan para penyihir, tapi ternyata kisah mereka bermula tepat di rumah mereka sendiri. Mereka tidak menyadari bahwa para penjahat tersebut adalah hal yang paling dekat dengan kita. Mereka tidak menyadari bahwa untuk mendapatkan akhir bahagia, pertama-tama seorang pahlawan harus melihat apa yang ada di depan matanya."
"Jadi, Soojung harus melihat apa yang ada di depan matanya. Itu saran Anda," ujar Kyungsoo cepat saat Sader melangkah pergi.
"Sejak tadi aku tidak membicarakan soal Soojung."
Kyungsoo menatapnya, kelu.
"Katakan pada mereka supaya tidak usah khawatir," kata Sader di pintu. "Aku sudah menemukan pengganti."
Pintu tertutup di belakangnya.
"Tunggu!" Kyungsoo berlari, membuka pintu lebar-lebar. "Apa Anda mau pergi–"
Namun Profesor Sader tidak ada di koridor. Kyungsoo berlari ke ruang bawah tangga, tetapi Sader juga tidak ada di sana. Gurunya menghilang begitu saja.
Kyungsoo berdiri di antara keempat tangga, perutnya serasa merosot. Ada sesuatu yang terlewat olehnya. Sesuatu yang memberitahunya bahwa dia sudah salah menangkap seluruh kisah ini. Namun kemudian dia mendengar kata-kata berdentum-dentum di kepalanya, menuntut perhatian.
Di depan mata.
Saat itulah dia melihatnya.
Jejak remah cokelat ke atas tangga Honor.
Noda cokelat mengular naik tiga tingkat kaca biru, dari balik mozaik kulit kerang di lantai asrama, dan mendadak hilang di depan kamar kecil anak laki-laki.
Kyungsoo menempelkan telinganya ke pintu berlapis mutiara itu dan cepat-cepat mundur saat dua murid laki-laki Ever keluar dari kamar di seberangnya.
"Maaf–" katanya gugup. "Aku, eh, cuma–"
"Itu gadis yang suka toilet cowok," dia mendengarnya saat kedua cowok itu berlalu dengan langkah terseret-seret.
Sambil menghela napas, Kyungsoo mendorong pintu.
Toilet Honor lebih mirip mausoleum ketimbang kamar mandi, dengan lantai marmer, hiasan dinding berupa putra duyung melawan ular-ular laut, air seni dibilas menjadi air biru, dan bilik-bilik besar berwarna kuning gading yang masing-masing terdapat kloset dan bak mandi safir. Jika toilet perempuan Ever berbau parfum menyengat, di sini dia menghirup bau kulit bersih bercampur secercah keringat.
Mengikuti jejak cokelat di samping bilik-bilik dan bak mandi biru yang basah, tahu-tahu dia memikirkan mana yang habis digunakan Kai. Wajahnya memerah seperti tomat. Sejak kapan kau memikirkan soal cowok? Sejak kapan kau memikirkan soal bak mandi? Kau benar-benar sudah berada pada tahap akhir mencapai batas kewarasan–
Isakan tangis dari bilik terakhir.
"Halo?" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Dia mengetuk pintu.
"Maaf ya," balas suara berat, kentara dibuat-buat.
"Luna, buka pintunya."
Setelah terdiam lama, kunci pintu dibuka. Pakaian, rambut, dan bilik Luna bertaburan irisan cokelat, seolah dia berusaha mengubah tisu toilet menjadi diet yang berkelanjutan dan hanya berhasil membuat kekacauan.
"Aku kira Soojung temanku!" Luna tersedu-sedu. "Tapi kemudian dia mengambil kamarku juga teman-temanku dan sekarang aku tidak punya tempat tinggal!"
"Jadi, sekarang kau tinggal di toilet cowok?"
"Kalau aku bilang pada anak-anak Never, mereka pasti mengusirku! Mereka akan menyiksaku lebih lagi!" raung Luna, membuang ingusnya keras-keras ke lengan bajunya.
"Tapi pasti ada tempat lain–"
"Aku sudah mencoba menyelinap ke Aula Makan, tapi seorang peri menggigitku sebelum aku sempat kabur."
Kyungsoo meringis, tahu benar peri yang mana itu.
"Luna, kalau ada yang menemukanmu di sini, kau pasti digugurkan!"
"Lebih baik gugur daripada jadi seorang penjahat yang tak punya tempat tinggal dan teman," Luna menutup wajahnya sambil tersedu-sedu. "Apa Soojung melakukan ini karena ada yang berbuat jahat padanya? Bagaimana perasaannya kalau kau mengambil pangerannya? Tidak ada yang bisa se-Jahat itu!"
Kyungsoo menelan ludah. "Aku hanya perlu bicara padanya," katanya gugup. "Aku akan menolongnya mendapatkan Kai kembali, oke? Aku akan bereskan semuanya, aku janji."
Isakan Luna mereda.
"Teman sejati bisa memperbaiki keadaan, tak peduli seburuk apa itu." Kyungsoo bersikeras.
"Bahkan penyihir-penyihir seperti Amber dan Victoria?" rengek Luna.
Kyungsoo menyentuh bahu Luna. "Bahkan penyihir sekalipun."
Perlahan Luna mengintip dari celah jarinya. "Aku tahu Soojung bilang kau seorang penyihir, tapi kau sama sekali tidak akan cocok berada di sekolah kami."
Kyungsoo merasa mual lagi. "Omong-omong, bagaimana kau bisa sampai ke sini?" dia mengerutkan keningnya sambil memunguti remah-remah cokelat di rambut Luna. "Tidak ada jalan lagi antara dua sekolah ini selain Jembatan."
"Tentu saja ada. Kau kira bagaimana Soojung melakukan serangan-serangan malam itu?"
Kyungsoo menarik rambut Luna saking kagetnya.
.
.
.
TBC
Quadruple update! Go read the next chapter, thank you.
Buku ketiga sudah keluar di Gr*m*d** mulai 29 Agustus 2016. Saya sudah beli dan baca sampai tamat. DAYUMM, buku ketiga itu nguras emosi banget :')
