Cuplikan Chapter Sebelumnya:
-Masih POV Minana-
"Bukankah tadi sudah kukatakan? Aku akan mengirimnya ke alam baka," 'gumam' Kyo-sensei yang memberikan penekanan di setiap ucapannya.
"Kau berlebihan, Bocah," balas Lucky dengan nada dingin. Wajahnya terlihat sangat serius. Ah, bukan. Tatapan Lucky itu... itu terlihat seperti tatapan ingin membunuh. Bahkan, 'gumpalan-gumpalan' air tiba-tiba melayang di sekitar Lucky. Sesuatu yang buruk benar-benar akan terjadi.
'Lucky sudah dalam mode tempur. Akan gawat kalau dia dan Kyo-sensei sampai saling bunuh. Kyo-sensei, cepat hentikan ini!'
"Berlebihan? Kau yang berlebihan, Kek. Lagipula kalau Kakek tidak melepas pedangku, aku tidak tanggung jawab kalau tangan Kakek lepas."
'Gawat! Kenapa Kyo-sensei malah membuat keadaan lebih buruk? Hoi, berhentilah, duo-sialan!'
BRUK
Lagi-lagi ada yang ambruk karena hawa membunuh yang dikeluarkan Kyo-sensei. Kali ini yang menjadi korban adalah Kaa-chan. Tapi tidak seperti Choza, Tsume, dan Mebuki. Kaa-chan bahkan sampai tidak sadarkan diri.
"K-Ku..shina, bertahanlah."
'Percuma saja, Minato,' pikirku saat melihatnya.
Pandangan Kyo-sensei dan Lucky mengarah kesini. Lebih tepatnya, melihat kearah Kaa-chan yang pingsan. Kyo-sensei melepas hawa membunuhnya.
"Ohh..." gumam Kyo-sensei pelan. Sepertinya ia sudah sadar kenapa Lucky bersikeras 'tuk menyuruhnya berhenti. Yah, kalau dipikir lagi, mana mungkin Lucky melakukan semua ini kalau bukan karena Kaa-chan.
Mendengar gumamannya, Lucky melepas pedang Kyo-sensei. Lalu Kyo-sensei memasukkan kembali pedangnya ke sarung pedang. 'Gumpalan-gumpalan' air yang melayang di sekitar Lucky juga sudah menghilang. Keadaan jadi sedikit lebih tenang sekarang.
Walau banyak peserta yang sudah tak berdaya, tapi sepertinya Kyo-sensei tetap akan menjelaskan aturan pada ujian stage ke-3 ini.
"Ujian chunin stage ke-3 adalah pertarungan 1 lawan 1. Ujian akan dilakukan minggu depan. Lawan kalian juga akan ditentukan minggu depan. Waktu ujiannya pukul 10 pagi. Tempatnya disini. Jangan sampai terlambat." Setelah menjelaskannya, iapun menghilang, seolah tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan.
Kemudian para pembimbing jounin segera menghampiri murid mereka, seperti Hentai-sannin yang datang menghampiri kami.
"Kushina-chan..." Dengan wajah khawatir, Lucky segera menghampiri Kaa-chan. Begitu sudah berada di sampingnya, Lucky sedikit berjongkok dan memegang kening Kaa-chan dengan tangannya yang tidak terluka. Kemudian ia mengalirkan sedikit chakra padanya.
"Bagaimana keadaannya, Lucky?" tanya Minato khawatir.
"Tenang saja. Dia hanya tertidur," jawab Lucky.
Begitu Lucky selesai, Minato segera membawa pergi Kaa-chan. Tanpa kusadari, dia sudah tidak berada di ruangan ini. Gerakannya benar-benar cepat.
Kemudian Luckypun bangun dari posisi jongkoknya. Padahal dilihat darimana pun, kondisi Kaa-chan pasti tidak apa-apa. Harusnya dia tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Harusnya dia lebih mengkhawatirkan luka di tangannya, tapi dia malah mengabaikannya, seolah tidak peduli. Darah terus mengalir deras dari lukanya. Darahnya sama sekali tidak berhenti.
"Lucky, tanganmu..."
Lucky tidak menghiraukan ucapanku. Dia hanya melihat lukanya saja... tanpa melakukan apapun, seolah tidak memerdulikannya.
'Apa dia tidak merasa sakit?' pikirku terheran-heran. Habisnya, wajahnya sama sekali tidak ada ekspresi saat melihat lukanya yang menurutku... cukup dalam.
PLOK
"Dasar bodoh! Jangan dilihatin saja! Harus segera diobatin!"
Seseorang menepuk pundak dan memarahinya. Lucky terlihat terkejut. Aku tidak mengenalnya. Entah sejak kapan dia sudah ada di samping Lucky. Seseorang itu jauh lebih tinggi dibandingkan Lucky. Dia memakai rompi chunin yang sama seperti Lucky. Rambutnya panjang, halus, dan berwarna putih kebiruan, seolah membuatnya terlihat seperti perempuan.
"Dan-san? Oh, ayolah, ini bukan luka yang serius."
Dari nada suaranya, sepertinya Lucky akrab dengannya. Dan, huh? Rasanya aku pernah mendengar namanya.
"Huh, bilang saja kau tidak bisa menyembuhkannya. Sini, biar kuantar kau pada ninja medis terhebat." Orang yang dipanggil Dan menarik Lucky dengan paksa. Lalu mereka berdua juga pergi dari tempat ini.
Entah kenapa aku merasa pernah mendengar nama shinobi itu. Dan..? Dan..? Ah, iya aku ingat. Kyo-sensei yang di masa depan pernah memberitahuku sebelumnya.
Kato Dan.
Dia adalah seseorang yang memiliki mimpi untuk menjadi hokage, sama seperti Naru-nii-chan. Paman dari Shizune. Pacar nenek Tsunade. Tapi, dia tewas saat menjalankan misi. Atau lebih tepatnya mati karena memakai kalung kristal hokage pertama.
"Sepertinya hanya tinggal kita berdua." Suara Hentai-sannin membuyarkan informasi di kepalaku. Tunggu, dia tidak pergi dengan Minato?
"Apa yang kau katakan? Mereka juga masih disini," balasku sambil menunjuk Fugaku dan yang lainnya. Walau sedikit terkejut dengan keberadaanya, aku tetap berusaha tenang.
"Maksudku bukan itu, Bodoh."
Hentai-sannin terlihat sedikit kesal, tapi aku tidak memerdulikannya. Kemudian, aku juga pergi dari sini. Sudah tidak ada hal yang bisa kulakukan disini.
-End of Minana POV-
..
Rating: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort
Warning: OC, Death Character
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Main Chara: Uzumaki Minana (OC), Lucky (OC), Mibu Kyo (dari anime Samurai Deeper Kyo), Uzumaki Kushina, Namikaze Minato
Pembuat fic: Kuroki
Chapter 25: Tidak Adil
.
Setelah berjalan mengikuti chakra Minato dan Kushina, Minana sampai di tempat mereka. Di suatu ruangan putih, Rumah Sakit Konoha.
"Orang itu keterlaluan," desis Minato.
"Maksudmu Mibu Kyo? Yah, sebelumnya sudah kubilang kan kalau dia orang yang suka mengintimidasi?" balas Minana.
BRAK
"Tapi ini sudah kelewatan!" Minato memukul dinding di dekatnya. Dia terlihat sangat kesal.
Kali ini Minana mengabaikannya. Melihat Minato yang seperti ini, sepertinya apa yang akan ia katakan tidak akan didengar. Lalu Minana memilih melihat keluar dengan mata iblisnya. Sesuatu mengganjal dipikirannya.
'Dia benar. Sikap Kyo-sensei tadi berlebihan. Tapi kenapa? Kenapa dia melampiaskannya pada mereka yang masih genin? Ya, Kyo-sensei memang suka seperti itu, ttebane, tapi maksudku... hmph, biasanya ada alasan kuat setiap dia melakukan itu. Tapi ini... dia... Aargh, kuso!' Minana memegang kepalanya. Selain pusing memikirkan tingkah aneh Kyo, dia juga berusaha menutup ekspresi dimukanya. Itupun jika ekspresinya terlihat.
"Ne, Minato..." panggil Minana mencoba mencairkan suasana, termasuk suasana di kepalanya. "Kau tidak pulang? Ini sudah malam," lanjutnya.
"Aku akan menginap disini," jawab Minato tanpa menoleh kearah Minana.
"Dengan badan bau keringat seperti itu? Hmph, jangan membuatku tertawa."
Minato sedikit melupakan amarahnya. Ia sedikit memikirkan ucapan Minana barusan. Lalu ia mencium bau badannya sendiri. Wajahnya sedikit memerah.
"Y-ya, a-apa boleh buat. Aku akan pulang sebentar," ucap Minato gelagapan. Kemudian ia keluar dari ruangan ini.
'Hmph, padahal aku hanya asal bicara, tapi tidak kusangka itu bisa membuatnya pergi,' pikir Minana sambil melihat kepergian Minato dengan mata iblisnya.
Lalu Minana bersandar di dinding. Pandangannya kembali keluar. Tentunya dengan bantuan mata iblis. Tingkah Kyo tadi mungkin sudah mengganggu pikirannya, tapi ternyata ada masalah baru lagi yang harus ia pikirkan.
Saat memandang keluar, mata iblisnya menangkap suatu sosok. Sosok tersebut memakai mantel bertudung dan topeng putih polos. Walau penampilannya tertutup, tapi Minana tetap bisa melihat apa yang dibalik mantel tersebut. Dibalik mantel sosok tersebut, dia berpakaian seperti shinobi, atau lebih tepatnya ANBU. Walau bisa melihat wajah ANBU tersebut dengan mata iblisnya, tapi Minana tidak mengenalnya. Namun melihat ciri-ciri ANBU tersebut, Minana yakin kalau dia berasal dari klan Hyuga.
Hyuga itu berada cukup jauh dari rumah sakit. Jaraknya mungkin sekitar 500 meter. Walau jaraknya jauh, Minana tahu kalau Hyuga itu sedang memata-matai dirinya.
'Kali ini apa?' pikir Minana.
"Minana?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Minana. Lalu Minana menoleh ke sumber suaranya. Setelah ia lihat, ternyata itu adalah suara Kushina.
"Kau sudah sadar?" sapa Minana.
Minana sedikit melirik keluar. Tapi saat melihat ketempat ANBU tadi, ternyata dia sudah menghilang.
"Ini dimana?" tanya balik Kushina.
"Ini di kuburan," jawab asal Minana.
Kushina sweatdrop mendengar jawaban Minana. "Aku tahu kamu bohong. Ini di Rumah Sakit Konoha, kan?" balas Kushina.
"Tuh tahu."
Minana merasa ada yang aneh. Lalu ia memutuskan untuk pergi.
"Kamu mau kemana?" tanya Kushina sebelum Minana membuka pintu.
"Aku mau pulang dan mandi. Nanti aku akan kesini lagi," jawab Minana.
"Ah, kamu tidak perlu menginap disi–"
"Baiklah," potong Minana sebelum Kushina menyelesaikan ucapannya.
'Cepatnya,' batin Kushina yang sweatdrop mendengar jawaban Minana.
Pada akhirnya, di ruangan ini hanya menyisakan dirinya. Kushina sedikit merasa kesepian, tapi ia tidak mau meminta Minana menemaninya. Ia tidak mau menyusahkan Minana. Namun beberapa saat setelah Minana pergi, pintu di ruangan ini terbuka. Seseorang datang menjenguk Kushina. Mereka adalah Minato dan Lucky.
"Yo, Kushina-chan," sapa Lucky dengan cerianya.
"Lucky? Minato? Kenapa kesini?" tanya Kushina bingung.
"Memangnya kenapa?" gerutu Lucky. Lalu ia menoleh kearah Minato. "Ngomong-ngomong, Minato. Kau bilang Minana ada disini, tapi kenapa dia tidak ada?"
"Yah, itu..."
Kushina malah bingung mendengar ucapan Lucky. Padahal Minana baru saja keluar. Tidak mungkin mereka tidak berpapasan. "Eh, kalian tidak bertemu dengannya di depan?"
Lucky langsung menghela napas setelah mendengar penjelasan Kushina. "Fuuh, dia pasti mengambil jalan memutar karena tahu ada kami. Dasar, Es Batu menyebalkan," omel Lucky. Tapi siapa yang tahu kalau omelan Lucky itu adalah kebohongan yang sudah disiapkan. 'Dia menyuruhku untuk berhati-hati pada setiap hal yang akan dilakukan, tapi dia malah memakai jurus hiraishinnya tanpa melihat situasi. Dia selalu saja bersikap seenakknya dan menyerahkan sisanya (?) padaku. Hanya karena diriku yang dimasa depan menyukaimu, tapi bukan berarti aku yang sekarang juga demikian.'
"Sampai disini saja pemanasannya, Kushina-chan," intruksi Lucky pada gadis di depannya, Uzumaki Kushina.
Seperti yang Lucky janjikan, ia akan membuat Kushina lolos ujian chunin. Karena itu, waktu 1 minggu yang diberikan Kyo ia gunakan untuk melatih Kushina. Lalu hari ini adalah hari dimulainnya ujian chunin stage ke-3. Karena itu, hari ini mereka hanya melakukan latihan 'ringan' saja agar Kushina sendiri tidak kelelahan.
"Hai'," balas singkat Kushina. Lalu ia beristirahat sejenak. "Ne, Lucky. Apa kau tahu dimana Minana? Terakhir aku melihatnya saat di rumah sakit itu. Huh, kira-kira dia dimana, ya? Apalagi lagi ujiannya dimulai hari ini, ttebane"
Lucky hanya mendengarkan ucapan Kushina. Dirinya bingung harus menjawab apa. Lucky sendiri memang tidak tahu dimana Minana berada sekarang, tapi kalau mau, ia bisa mencarinya dengan mudah. Sudah terlalu sering ia menyembunyikan kebenaran (baca: berbohong) dari 'tuannya'. Dirinya tidak mau berbohong lagi, tapi... kalau tidak berbohong, 'tuannya' sendiri akan...
"Hmm, entahlah." Pada akhirnya, Lucky tetap berbohong. Suara, nada bicara, dan ekspresinya ia buat seolah tidak tahu tentang keberadaan Minana. "Ngomong-ngomong, Kushina-chan, sekarang sudah pukul 09.34. Kamu bisa telat, loh."
"Gawat!" Kushina terlihat panik. Lalu iapun bergegas pergi. "Terimakasih sudah mau melatihku, Lucky," teriak Kushina dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
Lucky tersenyum saat mendengarnya. Ia juga membalas lambaian tangan Kushina.
"Gomen ne, Kushina-chan," gumam Lucky pelan sekali. Ia menunduk, merasa menyesal dengan kebohongan yang selalu ia lakukan pada Kushina.
"Tentang apa?"
Tiba-tiba Lucky mendengar suara seseorang di belakangnya. Namun Lucky tidak terlalu terkejut. Dia seperti sudah 'memperkirakannya'. Kebiasaan orang itu yang selalu tiba-tiba muncul di belakangnya. Hanya karena 'sedikit' lebih tinggi, ia selalu meletakkan lengannya di atas kepala Lucky. Lalu menempelkan dagu diatas lengannya sendiri, menganggap kepala Lucky seperti meja sendiri.
"Harusnya aku yang bilang begitu, Bodoh," balas Lucky yang sudah tidak semangat. "Kali ini tentang apa?"
-Ujian Chunin Stage Ketiga-
Semua peserta sudah berkumpul, kecuali untuk 1 orang. Padahal sekarang sudah pukul 10.20, tapi ujiannya masih belum dimulai. Pengawas ujian a.k.a Mibu Kyo juga belum datang. Bahkan tidak ada tanda-tanda Kyo akan segera datang.
Sejak tadi Kushina terus mondar-mandir seperti gosokan. Selalu menggerutu kesal tentang Minana yang tidak kunjung datang. Ia mungkin senang karena Mibu Kyo juga belum datang, tapi sampai kapan ini akan berlangsung?
"Mou, ini sudah jam berapa, ttebane? Kenapa Minana belum datang juga? Seminggu tidak memberi kabar dan sekarangpun belum datang? Memangnya apa yang sedang dia lakukan?" Kushina terus mengulangi omelannya. Bahkan Jiraiya yang berada jauh dari tempat Kushina sampai menutup telinganya karena tidak tahan mendengar Kushina yang terus menerus mengulangi kalimat itu.
BOOF!
Kepulan asap tiba-tiba muncul di depan para peserta. Cara datangnya benar-benar menarik perhatian semuanya. Di balik asap itu terdapat seorang pemuda yang seusia dengan para peserta ujian. Ia memakai rompi chunin dan warna matanya adalah merah darah.
"Lucky?" gumam Kushina heran.
"Yo!" sapa Lucky pada semuanya. "Maaf aku terlambat. Tadi saat di tengah jalan, aku diceramahi oleh bocah yang tak tahu diri," lanjut Lucky tanpa menyaring lagi kata-katanya.
"Maksudmu dia?" tanya Tsume memastikan sambil menunjuk ke belakang Lucky.
Lucky menoleh kearah yang di tunjuk Tsume. Ia langsung sweatdrop melihat apa yang ada di belakangnya. Seorang gadis berambut merah tepat berada di belakangnya. Dia salah satu peserta ujian ini, Uzu–... ah, ralat. Dia adalah Minana.
'Lagi-lagi dia memakai jurus hiraishin level 4-nya tanpa melihat situasi. Hoi, berhentilah memanfaatkanku. Aku mulai lelah merangkai kata (baca: mencari alasan), nih,' pikir Lucky sweatdrop.
"Yo!" sapa Minana pada semuanya. Ia juga meniru pose yang di lakukan Lucky saat menyapa yang lainnya. "Maaf aku terlambat. Tadi aku tersesat di jalan yang bernama kehidupan," lanjut Minana dengan ekspresi datarnya. Lalu Minana berjalan dan ikut berbaris dengan peserta yang lainnya.
"Minana, selama ini kamu kemana saja?" tanya Kushina.
Namun Minana hanya diam saja. Yah, Kushina sendiri sudah menduganya.
"Baiklah semuanya, bagaimana kalau kita mulai saja ujiannya," intruksi Lucky pada para peserta.
Semuanya terlihat bingung. Memulainya? Bagaimana? Padahal Mibu Kyo sendiri belum datang.
"Memulainya? Tapi pengawas i–"
"Sstt!" Lucky memberi intruksi untuk diam. Mikotopun tidak melanjutkan kata-katanya. "Namaku adalah Lucky. Karena ada urusan penting, Mibu Kyo menyuruhku untuk menggantikannya. Iya kan, Hokage-sama?" jelas Lucky seraya menoleh ketempat Sandaime berada.
Sandaime mengangguk, menjelaskan kalau yang dibilang Lucky adalah benar. Sama seperti yang di masa depan, Hokage juga ikut menonton ujian chunin stage ke-3 ini. Kemudian setelah melihat jawaban Hokage, Lucky mengambil sebuah kertas dari kantung shuriken-nya. Itu adalah aturan untuk ujian chunin stage ke-3 yang sudah disiapkan Kyo.
"'Seperti yang sudah kuberitahukan sebelumnya, ujian chunin stage ke-3 adalah pertarungan 1 lawan 1. Peraturan kali sangat-sangat mudah. Sekali saja menang, kalian akan dianggap berhasil mengikuti ujian chunin. Dengan kata lain, yang menang akan langsung menjadi chunin. Lalu peserta yang kalah akan bertanding lagi dengan peserta lain yang kalah. Peserta yang terus kalah sampai akhir adalah orang yang dinyatakan tidak lulus.'" Lucky membacakan isi kertas tersebut.
"Jadi pada ujian tahap ini, hanya 1 orang yang akan gagal, ya?" gumam Hiashi saat mendengar penjelasan Lucky.
Lucky menjawabnya dengan anggukan. Kemudian ia membaca lanjutan isi kertas tersebut. "'Cara agar bisa menang adalah dengan membuat lawanmu mengaku kalah. Membuatnya pingsan, setengan mati, setengah tepar (?), atau semacamnya tidak akan membuatmu menang. Pertandingan akan terus berlanjut sampai salah satu diantaranya menyerah. Tapi, jika kalian sampai membunuh lawan, aku akan langsung mengeksekusi pembunuhnya ditempat. Lalu semua peserta kecuali si pembunuh akan aku luluskan menjadi chunin. Yah, itu sama seperti yang sebelumnya. Lawan kalian akan ditentukan dengan undian.' Yah, itulah yang dikatakan Kyo," jelas Lucky pada semuanya. Kemudian di tangan Lucky muncul sebuah kotak kecil, kotak yang sudah ia siapkan sebelum kesini. Karena Kyo tadi hanya memberikan kertas berisi peraturan saja. "Baiklah, silahkan diambil kertasnya. Satu orang hanya boleh mengambil 1. Ah, jangan dibuka dulu sebelum aku perintahkan," lanjut lagi Lucky.
Lalu setiap peserta mulai mengambil undian di dalam kotak. Yang pertama mengambil adalah Minana. Kemudian dilanjutkan oleh Minato, Kushina, dan yang lainnya. Bahkan dengan metode undian seperti inipun, siapa yang menyangka kalau 'kecurangan' masih bisa dilakukan. Minana sangat menyadari hal itu.
Begitu semua sudah mendapatkan bagian, Lucky segera mencatatnya. Bahkan sebelum kertas itu dibuka, Lucky sudah tahu isi kertas yang diambil para peserta dengan mata iblisnya. Setelah menulis, ia menunjukkannya pada para peserta. Mereka terlihat sangat bingung. Kalau lawan mereka sudah ditentukan seperti itu, untuk apa mereka mengambil kertas undian itu?
(1) Uzumaki Kushina Vs Minana (2)
(3) Hyuga Hiashi Vs Hyuga Hizashi (4)
(5) Yamanaka Inoichi Vs Morino Ibiki (6)
(7) Uchiha Fugaku Vs Inuzuka Tsume (8)
(9) Namikaze Minato Vs Haruno Kizashi (10)
(11) Nara Shikaku Vs Akimichi Choza (12)
(13) Mebuki Vs Aburame Shibi (14)
(15) Uchiha Mikoto
"Silahkan kalian buka kertas itu dan bandingkan dengan yang kutulis," suruh Lucky sebelum mereka mempertanyakannya.
Mereka melakukan apa yang disuruh Lucky. Kemudian membandingkannya sendiri dengan yang ditulis Lucky. Dia benar. Angka yang ditulis Lucky sama dengan yang angka yang tertulis di kertas mereka.
"Wow, bagaimana kau tahu?" gumam Kizashi yang heran dengan 'trik' yang dilakukan Lucky.
Tentu saja Lucky tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum mendengar pujian (?) dari Kizashi.
"Matamu itu..." Suara Hiashi membuat semua orang tertuju padanya. Apalagi melihat Hiashi yang telah mengaktifkan byakugan-nya. Byakugan Haishi pasti bisa melihat aliran chakra pada tubuh Lucky, termasuk melihat chakra yang mengalir ke mata Lucky. "Itu doujutsu, kan? Apakah kemampuan matamu adalah melihat tembus pandang?" tebak Hiashi dengan nada serius.
Lagi-lagi Lucky hanya diam. Ia hanya tersenyum menjawab pertanyaan Hiashi. Senyumnya itu... jelas sekali kalau ekspresinya seperti berkata "iya". Lalu dengan senyum yang sama, Lucky berkata, "Hiashi, padahal kau sudah besar, tapi kau masih saja memakai pantsu bergam–"
Ucapan Lucky terhenti setelah sebuah kunai mengarah padanya. Kunai itu berhasil menggores pipi kirinya. Siapapun yang melihat itu pasti tahu siapa yang melempar kunai itu.
"Lebih baik kau tutup mulutmu, Hentai-san. Kalau tidak, kunai-ku yang selanjutnya tidak akan meleset."
Lucky tersenyum mengejek saat mendengar 'keluhan' Hiashi. "Wow, seram," kata Lucky terlihat tidak peduli. "Kau setuju kan, Minana-san?" lanjut Lucky sambil menoleh kearah Minana.
Minana langsung menutup mata merahnya dengan tangannya. Melihat tingkah Minana, semua yang ada di ruangan ini langsung tahu kalau mata kanan Minana juga doujutsu yang sama seperti mata Lucky. Sandaime yang baru menyadari hal itu sedikit terkejut. Pasalnya, shinobi yang dijuluki profesor itu sama sekali tidak tahu kalau mata kanan Minana adalah suatu doujutsu. Bahkan dengan pengetahuannya yang luas, Sandaime benar-benar tidak tahu kalau ada doujutsu selain sharingan, byakugan, dan rinnegan.
'Kalau begitu, itu artinya mata Kyo juga doujutsu seperti Lucky dan Minana,' batin Sandaime.
Walau mata kanannya ia tutup, tapi Minana masih bisa melihat sekitarnya dengan kemampuan mata iblis. Minana melirik ketempat Sandaime Hokage. Namun bukan Sarutobi Hiruzen yang Minana lihat. Yang ia perhatikan sekarang adalah seseorang yang ada di sebelah Hiruzen. Penasehat hokage sekaligus pendiri ANBU NE, Shimura Danzo.
'Kyo-sensei, sepertinya memang tidak mungkin untuk menyembunyikan semua kemampuan mata iblis dari orang itu. Setelah ujian ini selesai, dia pasti akan melakukan apapun agar aku mau buka mulut,' pikir Minana.
'Es Batu, tolong aku. Kebiasaanku yang suka memancing emosi orang kambuh lagi. Aku juga keceplosan menggunakan kemampuan mata iblis di depan 'umum' dan juga mengatur lawan kalian. Bagaimana ini? Hokage-sama pasti akan menanyaiku hal macam-macam. Lalu, Kyo pasti akan menusukku tanpa henti karena ini. Tasukete.' Dalam hati, Lucky terlihat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Hatinya berteriak histreis membayangkan apa yang akan ia alami nanti.
Kemudian Minana menoleh kearah Lucky. Lucky sekarang sedang mencoba mengajaknya bicara. Minana tahu kalau Lucky sekarang tidak tahu harus mengatakan apa agar para peserta, jounin, atau hokage tidak mengorek informasi dari Lucky. Lucky mencoba melempar pernyataan itu pada Minana. Karena Minana berasal dari masa depan, harusnya ia sedikit lebih baik 'tuk mengambil tindakan selanjutnya di bandingkan Lucky.
"Apanya, Penguntit-san? Tolong jangan pernah menyamakan kemampuanku dengan dirimu yang mesum," jawab Minana tidak peduli.
"Aku ini tidak mesum! Dan lagi, sudah kubilang berapa kali kalau aku ini bukan penguntit!" jawab Lucky refleks. Tapi pada akhirnya, Lucky terlihat pasrah. "Yah, sudahlah. Kalau berdebat denganmu, ini tidak akan selesai. Kita mulai saja ujiannya. Untuk yang lain, silahkan menunggu dan menonton pertandingan ini di tempat yang sudah disediakan," lanjut Lucky dengan nada yang tidak semangat.
Semuanya kecuali Kushina dan Minana sudah pergi ketempat yang dimaksud Lucky. Lucky sendiri juga sedikit mundur, agar ia tidak mengganggu jalannya pertandingan.
"Aku tidak akan kalah, ttebane. Aku yang sekarang jauh lebih kuat dibanding minggu lalu. Jadi bersiaplah. Akan kubuat kau bertekuk lutut dan mengaku kalah," kata Kushina dengan semangatnya.
Tapi seperti biasa, Minana sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan Kushina.
"Bersiap... Mulai!"
Mendengar aba-aba mulai dan tanpa membuang waktu, Kushina langsung melakukan sebuah handseal. "Taju, kagebunshin no–"
"Aku menyerah."
"..."
Hening.
Semuanya langsung terdiam dengan pengakuan kalah Minana.
"Pemenangnya, Uzumaki Kushina." Suara Lucky memecahkan keheningan tersebut.
"EEEHHHH?!" teriak Kushina tidak terima. "Tunggu dulu! Aku bahkan belum memukulmu. Kenapa, Minana? Jangan meremehkanku hanya karena kau lebih kuat, tteba–"
"Kau salah, Kushina-san," potong Minana sebelum Kushina memulai ceramahnya lagi. "Aku melakukannya karena ini adalah pilihan yang terbaik. Mencoba membuatmu menyerah sama saja seperti aku mencoba membuat Tsume menjilat kakiku–"
"CUIH! SAMPAI MATIPUN AKAN TIDAK AKAN MAU MENJILAT KAKI BUSUKMU!" Tsume langsung menolaknya mentah-mentah, bahkan sebelum Minana menyelesaikan kalimatnya. Padahal Tsume sendiri tahu kalau itu hanya perumpamaan saja.
"Lihat? Itulah alasan kenapa aku menyerah. Dari semua pilihan yang telah kupikirkan, inilah pilihan yang terbaik. Daripada membuang-buang chakra, lebih baik aku fokus pada lawanku selanjutnya, Hiashi atau Hizashi. Yah, siapapun diantara mereka yang kalah, aku pasti bisa menang dengan mudah," lanjut Minana. Lalu ia berjalan ketempat Minato dan Jiraiya.
Setelah mendengar penjelasan Minana, Kushina akhirnya pasrah menerima keputusan tersebut. Yah, dia juga memang berpikir tidak akan menyerah apapun yang terjadi, tidak jauh berbeda dengan reaksi yang dilakukan Tsume.
Begitu Kushina dan Minana keluar arena, pertandingan keduapun dimulai. Pertarungan Hyuga Hiashi dan Hyuga Hizashi.
Siapapun yang menang dalam ujian chunin stage ketiga, yang tereliminasi hanya 1 orang. Tidak peduli sehebat apapun pertarungan yang terjadi pada ujian tersebut, tetap saja yang tereliminasi adalah 1 orang, yaitu orang yang terus menyerah sampai akhir. Dan itulah yang dilakukan Minana.
Minana sudah tidak ada urusan lagi di tempat itu. Begitu ujiannya selesai, Minana segera pergi. Tapi saat di Hutan Kematian, ternyata 10 ANBU sudah disiapkan untuk menangkapnya. Minana sudah tahu siapa yang memerintahkan ANBU-ANBU ini. Lalu Minana sengaja membiarkan dirinya diikat dan ditangkap.
...
Hanya dalam hitungan detik, Minana sudah berada di tempat lain. Cahaya di tempat ini sangat redup, tapi Minana sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Lagipula, ini bukanlah pertama kalinya ia ke markas NE.
TAP TAP
Minana bisa mendengar suara langkah kaki seseorang. Langkahnya terdengar sangat jelas. Orang itu sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikan hawa keberadaannya. Dengan kemampuan sensoriknya, Minana bisa merasakan chakra orang tersebut. Minana mengenal chakra orang ini. Karena dia adalah salah satu orang yang ia benci. Di masa depan, orang itu dijuluki Shinobi no Yami, Shimura Danzo. Danzo di zaman ini belum menutup mata kanannya dengan perban. Keriput di wajahnya juga tidak sebanyak seperti yang di masa depan, tapi luka x di dagunya masih ada.
"Siapa?" tanya Minana tanpa basa-basi. Walau Minana sendiri sudah tahu, tapi ia harus tetap berakting selayaknya bocah yang tak tahu apa-apa.
Tapi Danzo tidak menghiraukan ucapannya. Danzo terus melihat mata merahnya.
"Sudah seberapa banyak yang kau tahu tentang Konoha?"
Minana menaikkan alisnya. Ia cukup bingung dengan maksud Danzo. Atau mungkin... itulah ekspresi yang harus Minana buat pada situasi ini. Tapi, tanpa memerdulikan ekspresi kebingungan Minana, Danzo mengarahkan kunai pada mata merah Minana.
Namun serangan Danzo terhenti. Padahal jarak kunai itu dari mata Minana hanya terpaut 3 cm. Kunai yang di pegang Danzo tiba-tiba diselimuti oleh air. Merasa 'bahaya', Danzo membuang kunai yang ia pegang. Dan benar saja. Air itu membungkus kunai Danzo. Lalu, kunai yang terbungkus air itu langsung melebur... berubah menjadi butiran-butiran besi yang halus. Danzo dan anak buahnya sangat terkejut melihat hal itu. Bahkan Minana sendiri juga begitu. Padahal air adalah sesuatu yang 'lunak'. Siapa yang menduga kalau 'air' itu bisa membuat benda padat menjadi lebur seperti pasir.
'Aku sama sekali tidak menggerakkan air itu. Tidak, ini bukanlah pertama kalinya air itu melindungiku. Saat Minato melempar kunai kearahku [saat ujian chunin], air itu juga melindungiku. Apa saat menyegel Kurama didalam tubuhku, Lucky juga memberikan kekuatannya padaku? Tapi kalau memang begitu, kenapa baru sekarang? Kenapa saat Ameyuri Ringo menusukku, air itu tidak melindungiku? Argh, aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi.' Minana mencoba memikirkan berbagai hal saat melihat kejadian ini. Yang terlintas dipikirannya sekarang, itu pasti adalah jurus Lucky yang ia kenal.
"Sepertinya mata itu sudah di tanam fuinjutsu untuk mencegah serangan dari luar. Merepotkan," gumam Danzo mencoba menarik kesimpulan dari apa yang baru saja terjadi. "Dengan mata itu, kalian pasti sudah tahu banyak tentang rahasia Konoha. Padahal aku sudah menyuruhnya untuk tidak percaya dengan orang luar, tapi dia malah menerima kalian hanya karena memiliki hubungan dengan klan Uzumaki. Kau dan anak yang bernama Lucky itu sangat berbahaya."
"Hmph." Minana tersenyum mengejek mendengar semua ocehan Danzo. Sebelum Danzo memberi perintah pada bawahannya, Minana kabur dengan Hiraishin level 4.
Danzo dan '10' anak buahnya sangat terkejut. Di tempat Minana tadi hanya ada talinya saja. Semuanya langsung mencari keberadaan gadis berambut merah itu. Hingga pandangan mereka tertuju pada sesuatu yang mengambang di atas mereka. Itu adalah Minana. Tidak ada benang atau trik apapun. Semuanya termasuk Danzo sangat terkejut melihat Minana yang melayang di udara.
'Yang barusan itu... apa itu hiraishin no jutsu? Cih, sepertinya dia sudah membaca gulungan rahasia hokage kedua dengan penglihatan tembus pandangnya itu,' pikir Danzo saat melihat Minana yang tiba-tiba menghilang dan muncul di tempat lain.
"Kau memang menyebalkan seperti biasa, Danzo-sama. Pantas saja dari dulu aku selalu membencimu," gumam Minana dengan entengnya.
Para bawahan Danzo sudah bersiap-siap menyerang Minana. Melihat hal itu, Minana membuat 'pencegahan'. Tanpa melakukan handseal, Minana sudah menyiapkan tombak es dalam jumlah yang sangat banyak. Karena sudah sejauh ini, bagaimanapun juga ia harus membuat Danzo jadi sedikit 'penurut'.
"Kusarankan kau untuk tidak melawan, ttebane." Minana mencoba mengancam Danzo. Tapi sepertinya, itu tidak akan berhasil.
"Sebenarnya siapa kau?"
Minana tidak menjawabnya. Tanpa menghiraukan pertanyaan Danzo, Minana berkata, "Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Danzo-sama. Jadi, bisakah kau menyuruh semua anak buahmu pergi? Ah, saat kubilang semua, maksudku adalah semuanya, ttebane. Kau paham?"
"Kalau aku menolak?"
"Aku mungkin membencimu, tapi aku bukanlah musuh Konoha. Jadi kuharap kau mau bekerja sama. Lagipula selama kau tidak mencoba menyerangku, aku juga tidak akan menyerangmu. Adil, kan?"
"Cih!" Danzo mendecih kesal mendengar semua itu. Adil? Jelas sekali kalau itu sama sekali tidak adil. Mungkin dia hanya anak kecil, tapi Danzo tidak mau meremehkannya. Melihat Minana menggunakan ninjutsu tingkat tinggi seperti itu, sudah jelas kalau gadis kecil itu bukan anak biasa. Terlebih lagi melihat ekspresi yang ditunjukkan Minana tadi. Ekspresi kebingungan yang ditunjuk Minana tadi benar-benar terlihat asli. Gadis kecil itu pasti sudah diberi pelatihan khusus agar bisa mengatasi situasi seperti ini. Bagian mananya yang adil?
Mau tidak mau, Danzo menyuruh 10 anak buahnya—yang menangkap Minana tadi—pergi. Juga termasuk anak buahnya yang sedang bersembunyi di ruangan ini. Begitu yakin semuanya sudah pergi, Minana melenyapkan tombak es yang tadi ia siapkan. Tombak itu berubah menjadi serpihan-serpihan es. Setelah selesai, Minana mendarat di dekat Danzo.
"Sudah lama kita tidak berbicara seperti ini, ya? Kau pasti tidak mengingatku. Yah, itu wajar, sih."
Danzo mengerutkan dahinya. Mendengar nada bicara Minana, sepertinya ini bukanlah pertemuan pertama mereka. Yah, itu mungkin benar. Pasalnya, ia memang merasa pernah bertemu dengan Minana. Tapi dirinya tidak ingat kapan, dimana, dan bagaimana bisa.
"Kau bilang kalau kau bukanlah musuh Konoha. Hmph, kau pikir aku akan percaya? Apa buktinya kalau kau memang bukan musuh Konoha, Uzumaki Minana!"
Minana diam sejenak. Sebelum akhirnya ia menjawabnya. "Kalau kau bersedia untuk merahasiakan apa yang kita bicarakan, akan kuberitahu apa yang ingin kau ketahui. Tentu saja, aku tidak akan memberi tahu semua yang kuketahui padamu."
"Hmph, kalau memang seperti itu, bukankah pembicaraan kita ini jadi tidak berarti?" jawab Danzo. Ia juga melakukan beberapa handseal... bersiap menyerang Minana jika melakukan gerakan yang mencurigakan.
"Kau yakin? Kau pasti akan menyesal."
Melihat Danzo yang sudah bersiap-siap, Minana tidak punya pilihan selain melakukan rencana B. Dengan jurus hiraishin level 4-nya, Minana memindahkan 4 shuriken es yang ada di kantung shuriken-nya. Ia memindahkan shuriken tersebut keempat tempat berbeda, seperti membentuk kubus dan menjadikan Danzo sebagai pusatnya. Kekkai-pun terbentuk dari keempat shuriken itu. Danzo menyadari itu. Tanpa segan, Danzo melancarkan jurusnya pada Minana yang berjarak 3 meter di depannya.
"Fuuton: Shinku Taigyoku!" Danzo menembak bola angin yang kuat dari mulutnya. Jurus ini diatas 1 tingkat dari fuuton daitoppa no jutsu.
Serangan itu telak mengenai Minana. Walau begitu, Danzo sama sekali tidak mengurangi rasa kewaspadaannya. Entah bagaimana, gadis kecil yang bernama Minana itu pasti tidak akan mati hanya karena serangan seperti itu.
Dugaannya ternyata benar. Minana masih berdiri tegak. Tapi, Danzo terlihat sangat terkejut melihat Minana yang sekarang. Tubuh Minana... diselimuti oleh chakra berwarna jingga. Chakra jingga itu terlihat seperti rubah dan mengeluarkan ekor 1. Di kedua pipinya muncul 3 garis seperti kumis. Lalu mata kiri Minana yang semula berwarna biru berubah menjadi merah, seperti mata rubah berekor sembilan atau Kyuubi.
"Apa kau masih tidak mau mendengarkanku? Jika iya, jangan salahkan aku kalau Konoha kehilangan 'senjata terkuatnya'."
Setelah melihat apa yang sudah terjadi..., setelah mendengar apa yang dikatakan Minana..., sudah jelas kalau itu adalah chakra Kyuubi. Danzo benar-benar syok dengan apa yang ia lihat sekarang. 'T-tidak mungkin. Bukankah Kyuubi tersegel di tubuh Uzumaki Kushina? Dan kalaupun Kyuubi dicuri, harusnya Uzumaki Kushina sudah mati. Tapi, bagaimana mungkin dia..?' Kalau sudah begini, mau tidak mau Danzo harus melakukan apa yang disuruh Minana. Jika tidak, ia akan kehilangan senjata terkuat Konoha dan informasi yang sangat berharga.
Melihat Danzo diam saja, Minana mulai menjelaskan semuanya. "Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku bisa memiliki chakra Kyuubi dan kenapa Kushina masih hidup. Jawabannya mudah. Karena aku hanya mengambil setengah chakra Kyuubi yang ada di dalam tubuh Kushina. Itu sebabnya dia masih hidup. Tadi juga aku sudah bilang padamu kan kalau aku bukanlah musuh Konoha. Kenapa? Karena aku datang dari masa depan."
DEG
Danzo melotot tak percaya saat Minana bilang 'datang dari masa depan'. "Tidak mungkin!" jawab Danzo spontan.
Minana sangat mengerti dengan reaksi Danzo. Siapapun pasti tidak akan memercayainya tanpa ada bukti. Agar Danzo benar-benar percaya dengannya, Minana mengatakan sesuatu tentang Konoha, seperti sistem di Konoha, informasi rahasia Konoha, dan tentang ambisi Danzo yang ingin merebut posisi Hiruzen.
Awalnya Danzo selalu membantah penjelasan Minana karena mungkin itu informasi yang dikumpulkan Minana dengan doujutsu-nya. Tapi saat Minana mengatakan sesuatu tentang ambisinya, Danzo berpikir ulang lagi tentang semua yang di katakan Minana.
"Kau pasti merasa pernah bertemu denganku, kan? Itu juga salah 1 bukti kalau aku datang dari masa depan. Hanya dengan melihatku saja, siapapun yang pernah melakukan kontak denganku di masa depan pasti akan merasa deja vu atau merasa pernah bertemu." tambah lagi Minana.
Danzo mengerutkan dahinya. Gadis kecil itu benar lagi. Memang tidak ada bukti apapun, tapi semua yang ucapan Minana adalah benar, kecuali 1 hal yang Danzo curigai.
"Saat kau bilang telah mengambil setengah chakra Kyuubi, itu bohong, kan?" tebak Danzo dengan nada serius.
"Cih, ketahuan, ya?" jawab Minana dengan entengnya. Ia sudah menduganya. Memang mustahil untuk bisa menipu 'orang tua' yang satu ini.
"Tentu saja. Memindahkan chakra biju ke tubuh lain tanpa membunuh jinchuriki-nya adalah mustahil. Satu-satunya alasan kenapa kau bisa memiliki chakra Kyuubi dan Uzumaki Kushina masih hidup karena di masa depan kau adalah jinchuriki Kyuubi."
Minana hanya diam saja. Ia tidak perlu menjawab atau membalas penjelasan Danzo. Tanpa berkata apapun, Danzo pasti akan menganggap diam sebagai jawaban "benar".
"Setelah memberitahuku semua ini, kau ingin aku melakukan apa? Tidak mungkin kau menceritakan semua ini padaku tanpa tujuan apapun, kan?"
Melihat Danzo yang akhirnya 'menurut', Minana menyegel kembali chakra Kyuubi. Chakra jingga yang menyelimuti tubuh Minana mulai menghilang, termasuk tiga garis di pipinya. Mata kiri Minana juga kembali kewarna semula.
"Aku ingin kau memasukkanku ke dalam NE. Seperti kau memperlakukan anak buahmu yang lain, kau juga bebas menggunakanku seperti alat. Ah, kecuali menanamkan segel di mulutku. Aku tidak mau kau menanam segel apapun padaku. Lalu, aku juga ingin kau melupakan tentang diriku yang berasal dari masa depan. Anggaplah aku seperti seseorang yang tak tahu apapun tentang masa depan." Minana menjelaskan apa tujuannya menemui Danzo.
"Kenapa harus NE? Kalau kau mau, kau bisa saja menjelaskan semua ini pada Hiruzen dan menyuruhnya memasukkanmu kedalam pasukan khusus," tanya balik Danzo.
"Aku yang sekarang tidak jauh berbeda denganmu dan orang-orang di masa ini. Aku tidak memiliki informasi yang detail tentang perang ini. Karena itu, akan lebih mudah mendapatkan informasi jika aku melakukan pekerjaan kotor yang sering kau lakukan. Tentu saja, aku juga akan melaporkan semua yang kudapatkan dari misi pemberianmu seperti anak buahmu yang lain. Bagaimana? Cukup adil, kan?" jawab Minana sejelas mungkin.
"Ada lagi?"
"Jangan ikut campur soal urusanku. Dan kau cukup bertindak seperti biasanya saja. Jangan terlalu memikirkan apa yang kukatakan tentang masa depan. Karena itu bisa merubah masa depan kearah yang lebih buruk. Lalu yang terakhir, jangan coba-coba kau 'menyentuh' Lucky, Minato, dan Kushina. Kalau tidak, kau akan tahu akibatnya," jelas Minana dengan nada dingin.
"Baiklah, aku mengerti," jawab Danzo yang setuju. "Tapi dengan satu syarat."
Minana hanya diam setelah mendengar hal itu. Ia mungkin tidak tahu syarat apa yang akan Danzo berikan padanya, tapi Minana langsung memikirkan 1000 cara untuk bisa 'menghindar' dari syarat tersebut.
"Aku ingin kau memberitahuku kemampuan mata kananmu."
Minana masih terdiam. Orang tua itu mencoba mencari tahu tentang kemampuan mata iblisnya. Membohonginya? Mungkin memang itu yang harus dilakukan demi menjaga janji pada sensei-nya, Mibu Kyo. Tapi Minana sendiri tahu... kalau itu adalah hal yang sangat sulit. Membohongi Danzo sama saja seperti ia mencoba membohongi Kyo. Karena sudah sejauh ini, Minana tidak punya pilihan selain memberi tahu Danzo yang sebenarnya. Tentu saja, ia harus berhati-hati saat menjelaskannya pada Danzo.
"Oni no me..., atau biasa disebut mata iblis. Seperti yang kau tahu, mata ini memiliki kemampuan untuk melihat tembus pandang. Tidak seperti penglihatan doujutsu byakugan, penglihatan mata ini tidak jauh berbeda dengan melihat pada umumnya. Mata ini juga bisa melihat ketempat yang jauh. Radius penglihatan ini adalah 360 derajat, sama seperti byakugan. Saat ingin melihat kesegala arah dalam waktu yang bersamaan, radius penglihatannya sekitar 600 meter, tapi jika memfokuskan penglihatan pada satu arah, kau bisa melihat sampai sejauh 3 km."
"Apa hanya itu?" tanya Danzo karena Minana tidak melanjutkan penjelasannya.
"Akurasi. Mata ini memiliki penglihatan dengan keakuratan hingga 100%. Contohnya, jarak antara kau dan aku. Mungkin kau pikir jarak kita adalah 3 meter, tapi dari apa yang kulihat dengan mata kananku, jarak antara kau dan aku sebenarnya adalah 3,00981365... meter. Yah, mungkin kemampuan mata iblis yang 1 ini tidak begitu hebat, karena pada dasarnya, penglihatan setiap shinobi memiliki tingkat keakuratan hingga 86,96%," lanjut Minana.
"Apa hanya itu?" tanya lagi Danzo dengan nada yang sama.
"Tambahan. Mata ini membuatku tidak bisa menangis dan susah tidur. Yah, sepertinya hanya sejauh itu yang kuketahui tentang mata iblis. Apa aku sudah boleh pergi?" jawab Minana sesantai ia menjelaskan siapa dirinya. 'Yah, saat umurku 10 tahun, memang hanya ini yang kuketahui soal mata iblis,' pikir Minana.
"Silahkan saja," balas Danzo mengangguk mengerti. "Ah iya, soal matamu... tidak apa kan kalau aku juga memberitahunya pada Hiruzen?" tambah lagi Danzo.
Minana mengangguk iya. Dan itu adalah akhir dari pembicaraan mereka. Minana menghilangkan kekkai yang ia pasang sebelumnya dan mengambil kembali shuriken es yang ia gunakan sebagai perantara kekkai. Walau Danzo sudah setuju seperti ini, Minana tidak mau orang tua itu sampai menyelidiki kemampuan dan 'benda-benda' miliknya. Sudah cukup ia membocorkan informasi kemampuan mata iblis, walau hanya sedikit. Ia tidak mau jurus andalannya diketahui banyak orang, selain Lucky dan Kyo.
Sejak hari itu, Minana sudah resmi menjadi NE. Ia sudah jarang berkumpul lagi dengan tim Jiraiya. Bahkan karena sibuk menjalankan misi, Minana juga tidak pulang. Walau jarang di rumah dan desa, Minana tetap menyuruh kagebunshin-nya untuk mengawasi kegiatan Minato dan Kushina. Ia sudah jarang mendapatkan misi bersama anggota tim Jiraiya lagi. Hingga suatu hari, mereka ditugaskan dalam misi yang sama. Satu tim kecil dikirim sebagai bala bantuan. Tim itu terdiri dari Minato, Kushina, Minana, dan Lucky.
Hari itu hujan turun dengan lebatnya. Terlebih lagi, hari sudah larut malam. Walau begitu, itu tidak menghalangi misi yang dilakukan tim ini.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka sampai di tempat pertemuan. Minana sangat terkejut melihat kelompok yang harus mereka bantu. Itu adalah kelompok Tsunade. Tapi yang membuat Minana terkejut adalah... seseorang di kelompok Tsunade ada yang terluka parah, bahkan sekarat. Shinobi itu adalah... Kato Dan.
"Dan-san!"
Lucky mencoba menghampiri Dan yang sedang terluka. Ia mencoba menolongnya. Tapi, Minana mencegahnya. Minana memegang tangan Lucky agar dia tidak bisa menyembuhkan luka Dan.
"Lepaskan aku, Minana! Aku harus menolong Dan-san! Kalau tidak... kalau tidak..."
Tidak ada respon apapun dari Minana. Ia masih saja mengenggam tangan Lucky tanpa memerdulikan kesedihan yang terlukis pada wajah pemuda itu.
"Apa kau tidak dengar, huh? Kubilang LEPASKAN!"
Dengan kekuatan penuh, Lucky menarik tangannya dari Minana. Ia berhasil lepas. Lalu dengan cepat Lucky menghampiri Dan dan segera menyembuhkannya. 'Sekumpulan' air membungkus luka Dan. Perlahan luka Dan menutup. Jantung Dan yang hancur mulai terbentuk lagi. Tapi sayang... itu sudah terlambat. Lucky tahu itu, tapi dia tetap saja 'memperbaiki' organ dalam Dan yang hancur. Dia sama histerisnya dengan Tsunade. Ia terus menyembuhkan Dan, berharap ia akan bangun dan membuka matanya.
"Bohong... Ini bohong kan, Dan-san? Hoi, jawab aku..." Lucky masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Chakra Dan sudah menghilang dari tubuhnya. Tubuh Lucky terasa lemas. Lagi-lagi ia kehilangan temannya. Kyoshiro dan Dan. Sudah 2 orang temannya yang tidak bisa ia tolong, sekalipun ia mampu.
'Kalau saja dia tidak menghalangiku... aku...'
Lucky mengepalkan kedua tangannya. Seperti mengikuti emosinya, air hujan yang turun ikut merespon. Air hujan itu mulai melayang di sekitar Lucky. Bahkan air itu juga membentuk tombak yang jumlahnya sangat banyak.
"Ini tidak adil, Minana. Kenapa kau menghentikanku? Memang apa salahnya kalau aku menolong Dan-san? Aku tidak ada bedanya denganmu yang ingin menolong–Uhuk!"
Tiba-tiba mulut Lucky mengeluarkan darah. Tombak air yang ia buat hancur bersaman dengan air hujan. Lucky memegang kedua kepalanya. Ia terlihat sangat kesakitan. Karena tidak kuat berdiri, iapun tersungkur ke tanah.
"Lucky!" Minato dan Kushina segera menghampiri Lucky yang tiba-tiba jatuh. Mereka berdua sangat bingung dengan apa yang terjadi pada Lucky. "Minana, tolong lakukan sesuatu," pinta Kushina dengan wajah penuh harap.
"..."
"Kenapa kau diam sa–"
BUKH
Tiba-tiba seseorang memukul tengkuk leher Kushina. Kushinapun tak sadarkan diri. Minato langsung menoleh kearah orang yang sudah memukul Kushina. Orang itu memakai mantel bertudung dan topeng berbentung harimau.
"Yare-yare, kalau tahu bala bantuannya orang-orang tidak berguna seperti ini, lebih baik tadi kubunuh saja 'mereka'," gumam orang tersebut.
Minana melihat kearah orang tersebut. Melihat ciri-ciri, nada bicara, dan chakra-nya, Minana tahu kalau itu adalah Kyo.
"Kalau kau melakukan itu, aku jadi tidak bisa membuat laporanku. Jadi, tolong sisakan 1 orang hidup-hidup. Kalau tidak, aku jadi repot sendiri," ujar Minana pada Kyo.
Tapi sepertinya Kyo tidak peduli dengan semua itu. Kyo tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka. Dengan kemampuan sensoriknnya, Minana tahu kemana Kyo pergi. Kyo kembali ke medan perang. Satu-satunya alasan kenapa Minana dimasukkan kedalam tim ini adalah untuk membawa 1 musuh hidup-hidup.
"Minato, sebaiknya kau disini saja. Tolong jaga yang lainnya."
"Tapi, Lucky–"
"Jangan khawatir. Dia tidak apa-apa," jawab Minana sebelum Minato menyelesaikan ucapannya.
Setelah mengatakan hal itu, Minana segera pergi menyusul ketempat Kyo. Namun saat di tengah perjalanannya, Minana mendengar suara Lucky dari kepalanya.
"Kenapa aku tidak boleh menolongnya? Kalau begini, ini tidak ada bedanya dengan yang di masa depan, kan? Apanya yang mengubah masa depan, Minana?!"
Minana diam sejenak. Sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan Lucky. "Kalau Kato Dan hidup, mungkin saja hubungan Naru-nii-chan dan Nenek Tsunade tidak akan sebaik sebelumnya. Soshite, mungkin suatu hari dia akan menjadi hokage keempat. Aku tidak mau ada perubahan alur apapun. Bahkan hal kecil sekalipun."
"Hanya karena 'kemungkinan' tidak jelas seperti itu, kau sengaja membiarkan Dan-san mati seperti sampah. Dasar bocah sialan!"
Setelah mengatakan itu, suara Lucky tak terdengar lagi di kepalanya.
'Aku tidak mau mendengar itu dari orang yang hampir membocorkan informasi tentang masa depan.'
Beberapa hari telah berlalu sejak misi itu. Dan sejak saat itu pula, Lucky selalu mengurung dirinya di dalam kamar. Tidak ingin menemui siapapun... atau berbicara dengan siapapun. Lucky benar-benar menutup dirinya dari dunia luar. Bahkan ia sampai memasang kekkai di kamarnya agar tidak ada yang bisa masuk.
Kushina tidak bisa melakukan apapun pada kekkai yang di pasang Lucky. Mau tidak mau, Minato dan Kushina meminta Minana melakukan sesuatu. Minanapun menerima permintaan mereka. Lagipula, Lucky jadi seperti ini karena dirinya juga.
TOK TOK TOK
"Hoi, buka pintunya." Minana mengetuk-ngetuk pintu itu dan mencoba membukanya, tapi tidak ada sahutan apapun. Pintunya juga tidak bisa dibuka, seolah ada yang menahannya dari dalam. 'Ini kekkai pertahan yang biasa kupakai, tapi kenapa chakra yang terkandung di dalamnya 2x lipat dari yang biasanya? Terlebih lagi, kekkai itu tidak kehilangan 'kestabilannya' walau chakra yang terkandung lebih banyak. Menyebalkan, aku jadi tidak bisa menghilangkan kekkai ini,' pikir Minana setelah ia memerhatikan kekkai di dalam kamar Lucky dengan mata iblis.
"Bagaimana?" tanya Kushina.
"Percuma. Aku juga tidak bisa menghilangkan kekkai di belakang pintunya. Atau lebih tepatnya, aku tidak bisa menghilangkan kekkai yang melindungi kamarnya," jawab Minana. Ia juga terlihat pasrah memikirkan cara menghilangkan kekkai ini. "Abaikan saja. Kalau lapar, dia juga akan keluar sendiri," lanjut lagi Minana. Lalu Minana pergi dari apartemen Minato.
Minato dan Kushina sudah menduga kalau akhirnya akan seperti ini juga. Tapi walau begitu, mereka tetap mengetuk pintu kamar Lucky dan mencoba membujuknya.
-Ditempat Minana-
Begitu keluar dari apartemen Minato dan memastikan tidak ada yang melihatnya, Minana menggunakan hiraishin level 4 agar bisa masuk ke kamar Lucky dengan instan. Setelah berada di kamar Lucky, Minana melempar shuriken es ke setiap sudut kamar Lucky. Ia menggunakan shuriken esnya agar bisa membuat kekkai tambahan, yaitu agar percakapan mereka berdua tidak terdengar oleh Minato dan Kushina yang masih berdiri di depan kamar.
Setelah selesai, Minana menghadap kearah Lucky. Pemuda itu duduk di atas kasur sembari menyelimuti seluruh badannya dengan selimut.
"Yo, Lucky," sapa Minana pada pemuda itu dengan wajah datarnya.
Namun Lucky sama sekali tidak menggubrisnya. Pandangan matanya terlihat kosong. Walau Lucky tidak menghiraukannya, tapi Minana tahu kalau Lucky mendengar suaranya.
"Apa kau membenciku sampai segitunya?"
"..."
"Kalau begitu, kenapa kau tidak membalaskan dendam Dan dan membunuhku?"
Setelah Minana mengatakan hal itu, Lucky menoleh kearah Minana. Mata mereka saling bertemu satu sama lain.
"Jika dengan membunuhmu akan membuat Dan-san hidup kembali dan membuat Kushina-chan bahagia..." Saat mengatakan hal itu, Lucky mengarahkan tangan kirinya pada Minana. Tiba-tiba cairan berwarna merah mengepung Minana. Cairan merah itu adalah darah. Ada goresan luka pada tangan Lucky yang mengarah padanya. Minana yakin kalau darah ini berasal dari luka itu. "...dengan senang hati aku akan melakukannya, Minana," lanjut lagi Lucky.
Minana hanya diam. Dadanya terasa sakit saat melihat Lucky yang seperti ini. Seumur-umur, baru kali ini Minana melihat Lucky yang seperti itu. Lucky yang di masa depan tidak pernah sekalipun mengacungkan 'senjatanya' pada dirinya, terlebih lagi menggunakan darahnya sendiri sebagai senjata. Walau Minana tahu kalau Lucky tidak akan membunuhnya, tapi...
"Tidak yang di masa lalu, tidak yang di masa depan, kalian ini sama-sama terlalu baik. Kalau mau bunuh seseorang, ya bunuh saja. Tidak perlu ada alasan untung rugi. Aku sama sekali tidak keberatan mati di tanganmu, yah, selama kau yang melanjutkan apa yang ingin kulakukan," ujar Minana setenang mungkin.
Lucky langsung tertawa kecil mendengar ucapan Minana. "Haha, apa kau mencoba memancingku? Sayang sekali karena aku tidak terpancing, Minana. Dan lagi, walaupun kau memberitahuku semua informasi masa depan kemudian membunuhmu, aku tidak akan pernah melakukan apa yang kau suruh itu, sekalipun itu untuk Kushina-chan."
Minana heran dengan apa yang dikatakan Lucky barusan. Ya, Lucky mungkin benar soal dia yang mencoba memancing emosi, tapi apa yang dikatakan Lucky tadi tidaklah bohong.
'Sebenarnya apa maksudnya itu? Bukankah dia sangat menyukai Kaa-chan sampai-sampai ingin selalu melindunginya?' pikir Minana saat mendengar ucapan Lucky.
Setelah hening untuk beberapa saat, Lucky 'menarik' darah yang mengelilingi Minana. Darah itu kembali masuk lewat luka kecil di tangan Lucky.
"Lupakan saja apa yang kukatakan barusan," kata Lucky saat melihat wajah kebingungan Minana.
Minana merebahkan tubuhnya di atas kasur Lucky. Lalu ia menghela napas panjang. Minana memutuskan untuk mengabaikan itu, menuruti apa yang Lucky sarankan.
"Aku akan pergi," kata Minana tiba-tiba.
Tapi Lucky tidak terlihat terkejut dengan hal itu. "Kali ini rubah itu menyuruhmu kemana?" tanya Lucky dengan tenangnya. Ia juga tidak menoleh kearah Minana yang sedang tiduran di sampingnya.
"Dia menyuruhku untuk memata-matai 3 negara besar. Haha, bisakah kau bayangkan itu?" jawab Minana dengan entengnya. Ia merasa geli sendiri saat membayangkan melakukan misi itu.
"..."
"Karena ini adalah misi jangka panjang, aku ingin kau menjaga Minato dan Kushina selama aku tidak ada. Yah, mungkin sesekali aku akan mengirim bunshin-ku untuk melihat keadaan kalian," pinta Minana pada Lucky.
"Tanpa kau katakan pun, aku tetap akan melindungi Kushina-chan," balas Lucky. Nada bicaranya masih datar seperti tidak peduli.
"Aku bilang Minato dan Kushina. Tapi, yah, terserah kaulah," ujar Minana mencoba memperjelasnya lagi. Lalu tiba-tiba, 2 gulungan kecil muncul di tangan Minana. Kemudian Minana meletakkan 1 gulungan itu di dekat Lucky. "Jika terjadi sesuatu, beritahu aku dengan menulis di gulungan itu. Semua yang tertulis disana akan langsung muncul di gulunganku. Begitu pula jika aku menulis sesuatu di gulunganku. Kita akan saling berkomunikasi dengan gulungan ini," jelas Minana.
Lucky mengambil gulungan yang di kasih Minana. Ia sedikit heran dengan 'fungsi' gulungan yang di jelaskan Minana. Tidak ia sangka ada metode seperti ini untuk berbagi informasi. Terlebih lagi, informasi itu akan langsung terkirim saat itu juga, seolah kita mengatakan informasi itu secara langsung.
Setelah menjelaskan itu, Minana bangun dari posisi tidurnya. Kemudian menghilangkan kekkai yang ia buat dan mengambil kembali shuriken esnya. "Baiklah, aku serahkan sisanya padamu," bisik Minana agar suaranya tidak terdengar oleh Minato dan Kushina. Lalu ia menghilang dengan jurus hiraishin.
Walau Minana sudah tidak ada di kamarnya, Lucky masih bisa melihat keberadaanya. Minana berada di ruangan sebelah kamarnya. Ya, itu adalah kamar Minana sendiri. Minana sedang bersiap-siap untuk melaksanakan misi jangka panjangnya itu.
"Kau yakin tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jiraiya dan kedua orang tuamu? Yah, terserahlah. Paling saat kau pulang nanti Kushina-chan akan menceramahimu 7 hari 7 malam," gumam Lucky entah pada siapa.
.
.
Bersambung . . .
A/N: Nih, lanjutan yang kemarin. Akhirnya selesai juga.
Chapter depan sudah beda tahun lagi. Yah, bisa dibilang kalau mulai chapter depan adalah shippudennya :3
Padahal chapter depan sudah Kuroki ketik beberapa tahun yang lalu (?), tapi file-nya malah berubah jadi .rem , jadinya nggak bisa dibuka. Huwee~ T.T
Bisa dibukanya lewat hp BB yang dulu (kayaknya), tapi hpnya sudah dijual #nangis #pundungdipojokan
Ah, menurut Reader-san, gimana chapter ini? Word-nya juga sampai 7k+. Apa masih kurang panjang?
Seperti sebelumnya, Kuroki minta maaf kalau ada kata yang membuat Reader-san marah.
Arigatou karena sudah mau mampir kesini. Kita akan bertemu lagi setelah beberapa tahun lagi *langsung dihajar*
Hehe, hanya bercanda XD
Jaa ne #BOOF
*Hanya mau mengingatkan lagi
Nama: Lucky
Gender: Male
Umur: ?
Status: Chunin
Sifat dan Watak: Ceria, humoris, hanya peduli pada tuannya, suka memancing emosi orang, jahil, sedikit ceroboh.
Elemen Dasar: Air
Kemampuan: (Tanpa mengandalkan kemampuan khusus doujutsu mata iblis) Sensor tingkat tinggi, Taijutsu tingkat high jounin, genjutsu tingkat mid chuunin (jarang digunakan dalam pertarungan), menguasai semua jurus yang berbasis elemen air, bisa mengendalikan air disekitarnya semudah Gaara mengendalikan pasirnya, dan memiliki doujutsu mata iblis.
Penampilan: Terlihat seperti karakter Kirito dalam anime 'Sword Art Online' atau dalam game SAO, namun kedua matanya berwarna merah. Dan yang disini, terlihat lebih pendek a.k.a terlihat seperti bocah berumur 10 tahun.
