22

SEMUA YANG LAMA JADI BARU

.

.

.

Begitu kehangatan fajar yang lemah meninggalkan Markas Liga, anggota Liga jga meninggalkan Markas.

Kyungsoo berdiri di bawah pohon ek terinfeksi jamur, beberapa langkah dari lubang masuk, mengawasi kedua belas pahlawan Lama berpencar ke Hutan; tas berisi pakaian, makanan, dan minuman membebani punggung mereka. Peter Pan, Tinkerbell, dan Cinderella berjalan ke barat, Pinokio dan Si Tudung Merah pergi ke timur, Jack dan Briar Rose ke utara, sementara Sunny, Yuba, dan Kelinci Putih pergi ke selatan, Hansel dan Gretel mengikuti di belakang mereka dengan kursi roda reyot.

Kai muncul di samping Kyungsoo. "Padahal aku baru mulai menyukai kakek nenek tukang kentut itu," kata pemuda itu, gemetar dalam balutan pakaian yang terbuka talinya, menyibak tulang selangka yang sempurna. "Menurutmu kita akan bertemu mereka lagi, Merlin?"

"Kuharap begitu, Nak. Karena itu artinya kita semua masih hidup," ujar sang penyihir seraya mengeluarkan dua jubah hitam dari topinya dan memberikan satu jubah kepada Kyungsoo. "Sementara itu, ada banyak pertanyaan lebih besar yang harus terjawab." Merlin diam-diam menatap Kyungsoo tajam. "Misalnya, kapan Soojung akan menghancurkan cincin itu."

"Menurutmu apa yang ditunggunya?" tanya Kai, berusaha keras mengancingkan jubah ketatnya. "M, kau yakin ini punyaku?"

Kyungsoo menatap Merlin, bertanya tanpa suara apakah mereka sebaiknya memberi tahu Kai yang sebenarnya. Memberitahunya bahwa Soojung berbohong akan menghancurkan cincin itu. Memberitahunya bahwa Soojung tidak akan membunuh Sang Guru sampai dia mencium Kai untuk membuat pemuda itu sadar apa yang telah dia lewatkan, sampai sang pangeran membawa Soojung ke Camelot sebagai ratu. Namun Merlin menutup mulutnya rapat-rapat, matanya menerawang. Kyungsoo pun tahu sang penyihir sedang berpikir.

Soojung sudah memperingatkannya. Dia akan tahu Kai berpura-pura tertarik sebelum sempat mengatakan apapun. Jika Soojung tahu, tidak ada cara untuk memutar waktu kembali.

Tidak, pikir Kyungsoo. Agar Soojung menghancurkan cincin itu, dia harus mendapatkan Kai tanpa berpura-pura.

Perutnya terasa berpilin lebih keras.

Artinya Kai harus sungguh-sungguh jatuh cinta pada Soojung.

"Ya?" desak Kai sambil mengerang menaklukkan kancing terakhir. "Apa yang ditunggunya?"

Bibirmu menempel pada bibirnya, Kyungsoo berujar dalam hati. Bibirmu yang pernah menciumku menempel pada bibirnya,bibirmu yang rasanya seperti gumpalan vanila menempel pada bibirnya, bibirmu yang bersumpah "Selamanya" kepadaku menempel pada bibirnya.

Kyungsoo menoleh. "Dia butuh tempat aman untuk berpikir," jawabnya cepat. "Sejujurnya, itu yang kita semua butuhkan."

"Tenang saja, tukang cemas," kata Kai seraya memijat bahu Kyungsoo. "Aku tahu kau tidak pintar berbohong, tapi ini bukan panggung teater. Bersikaplah tidak nyaman kalau di dekatku, seolah-olah kau tidak yakin bisa bahagia kalau jadi ratuku, dan aku akan berpura-pura sulit memilih antara kau dan dia."

Kyungsoo menatapnya.

"M, kau bilang rumah perlindungan itu berada di belakang Dataran Beku?" tanya Kai. "Itu dua hari perjalanan ke arah timur laut."

"Dan jalur di Dataran Never cukup sempit," tambah Merlin. "Berhubung sekarang kita berlima, tentu kita tidak bisa jalan bersama-sama sementara Pasukan Kegelapan memburu kita." Dia menatap Kyungsoo tajam. "Artinya kita harus menempuh perjalanan berdua-dua dengan jarak cukup jauh antara masing-masing pasangan agar tidak menarik perhatian."

"Tidak apa-apa," Kai menggenggam tangan Kyungsoo dengan yakin. "Tunjukkan saja jalannya, M, dan aku akan jalan bersama−"

"Yuhuu, aku di sini!"

Kai dan Kyungso berbalik, melihat dua lengan berotot mendorong Soojung keluar lubang gua seperti penari yang muncul tiba-tiba dari kado ulang tahun. Gadis itu buru-buru menyusul mereka, tubuhnya terbalut baju atasan merah menyala yang memamerkan perutnya, rok mini kulit hitam, jubah kulit beruang besar, dan sepatu bot bulu cokelat tua.

Kancing jubah Kai terbuka seketika.

Kyungsoo menjatuhkan tasnya.

"Maaf, darlings, aku tadi perlu waktu untuk keramas setelah keriuhan pagi ini. Aku berhasil menciptakan kostum kreatif dari tirai dan karpet menggunakan alat jahit Cinderella. Ternyata perempuan raksasa itu bersedia menukar apapun demi sisa daging asap," tutur Soojung centil sementara Hort merayap keluar dari gua di belakangnya. "Nah, tadi kau bilang soal berpasangan? Aku ingat saat aku dan Kai duduk di balkon di atas Hutan Biru, dia bercerita tentang pemandangan indah di Hutan. Waktu itu aku jadi cowok, tentu saja. Tapi sekarang aku cewek, jadi dia bisa menunjukkan langsung padaku−" Soojung berhenti bicara ketika melihat sang pangeran berusaha tidak melihatnya. "Pakaiannya, ya?" kata Soojung, merah merona. "Aku pikir sudah agak lama sejak terakhir kali aku menjadi diriku sendiri−"

"Bukan. Kau kelihatan sangat keren. Percayalah," kata Kai, memaksakan kontak mata. "Tapi aku berpasangan dengan Kyungsoo. Merlin bisa jalan duluan dan kau mengikuti bersama si musang itu setelah kami. Dia pengawalmu, bukan?"

Raut wajah Soojung redup. "Oh, begitu ya?" Dia menatap Kyungsoo untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu di balik tirai, tapi tidak ada pernyataan maaf pada wajah Soojung, tidak ada tanda-tanda rasa bersalah dan memberi penjelasan karena merebut pangerannya. Alih-alih, Soojung menatap penuh harap pada Kyungsoo, seakan mereka sahabat lama yang bekerja sama untuk tujuan yang sama. "Hanya saja..." Soojung mulai bicara, "aku yakin sekali Kyungsoo lebih suka kau jalan bersamaku."

"Apa?" dengus Kai.

Kyungsoo memelototi Soojung, menahan dorongan untuk menghantamnya dengan batu. Namun Kyungsoo tahu Soojung memang benar: inilah momen yang menentukan. Kalau Soojung melakukan perjalanan ini berdua saja dengan Kai, saat mereka sampai di rumah perlindungan dua hari lagi, Soojung sudah beberapa langkah lebih dekat untuk mendapatkan ciuman Kai. Beberapa langkah lebih dekat untuk membunuh Sang Guru.

Asalkan Kai sudah melupakan putri lamanya.

"Kyungsoo?" ujar Kai, keningnya berkerut.

Dia sempat menangkap tatapan Merlin kepadanya di antara tatapan Soojung dan pangerannya. Dia tak berani menampakkan keraguan. Seperti melepas perban, dia harus berkomitmen untuk merasakan sakit dan melepasnya.

"Ya," katanya. "Ajaklah Soojung bersamamu, aku bersama Merlin."

Pipi Kai semerah jambu, seakan tiba-tiba terbakar matahari. "Tapi Merlin senang sendirian! Ini tidak masuk akal. Kyungsoo, perjalanan ini memakan waktu dua hari melewati jalur paling sulit di Hutan, dengan penjahat di mana-mana. Kita perlu tidur berdekatan dan saling melindungi entah dari apa yang mungkin kita temui."

Ekspresi wajah Kyungsoo tidak berubah. Kai memegangi lengannya dan berbisik di telinganya agar Sojung tidak bisa mendengar, "Dengar, aku tahu tadi aku bilang supaya kita berpura-pura, tapi ini keterlaluan! Aku pangeranmu dan aku tidak akan jauh-jauh darimu. Kita harus bersama−"

Kyungsoo menjauh.

Sekarang Kai melihat wajah Kyungsoo dengan ekspresi ragu yang sama seperti dilihatnya di menara.

"Oh, Tuhan. Kau serius, ya? Kau benar-benar meragukan akhir bahagia kita," bisik Kai, matanya terbelalak. "Tapi kita sudah dekat. Camelot menunggu kita, Kyung."

Kyungsoo berusaha menghindari tatapan Kai dan memusatkan perhatiannya pada Soojung di belakang sang pangeran, pada cincin yang melingkar di jarinya, pada ribuan nyawa Kebaikan yang bergantung pada cincin itu. "Kita sudah menghabiskan waktu bersama dan aku tidak yakin kalau jadi ratumu bisa membuat kita bahagia," desaknya, berpaling dari Kai agar Soojung bisa mendengar. "Soojung mengambil risiko maut dengan meninggalkan sekolah bersama kita. Kau dan dia memerlukan kesempatan untuk saling mengenal lagi. Lembaran baru, ingat?"

Terpana, Kai melihat Soojung yang menawan, terbengong memandangnya, dan bersemangat menjadi putri, lalu beralih memandang Kyungsoo yang kaku dalam jubah hitamnya. "Kau pasti tidak serius!" bantah Kai. "Kau tidak mau seluruh penduduk Camelot menyaksikanmu berdiri di sampingku memakai mahkotamu? Kau tidak mau menjadi wajah kerajaan sebagai ratu yang sah?"

Kyungsoo menggeleng, tatapannya jatuh ke tanah. "Tidak," jawabnya serak. "Aku tidak mau."

Dia bahkan tidak berbohong.

Rasa sakit Kai membeku. Dia memasang ekspresi sama dengan Kyungsoo, kaku dan waspada. "Kau benar. Mungkin Soojung dan aku memang perlu menghabiskan waktu bersama," katanya, lalu menggandeng lengan Soojung erat sambil terus menatap Kyungsoo bengis. "Ayo, Soojung. Kita pergi."

Soojung terlihat senang bukan main. Dia berterima kasih pada Kyungsoo dengan senyum−senyuman yang sama ketika Kyungsoo berjanji akan membantunya mendapatkan ciuman Kai di tahun pertama.

Kyungsoo tidak membalas senyum Soojung. Dia bergegas melangkah cepat-cepat di jalurnya sehingga Merlin terpaksa mengangkat jubah dan berlari mengejarnya.

Sementara Kai dan Soojung mulai menjauh di belakang, Kyungsoo bisa mendengar Soojung berkata dengan suara rendah, "Aneh, Kyungie masih memanggilmu 'Kai'. Kusangka kalian sudah punya nama panggilan sayang sekarang."

Kyungsoo mengatupkan rahangnya dan memacu langkahnya lebih cepat lagi supaya tidak mendengar jawaban Kai.

Di dekat lubang gua, Hort menyaksikan semua itu dengan ngeri.

"DIA? Kau pergi dengan dia?" lengking Hort, kesan pemberontak yang keren sudah hilang. "Aku bagaimana?"

"Kau mengikuti di belakang kami dan menghindarkan kita dari bahaya, darling!" seru Soojung tanpa menoleh. "Itulah tugas pengawal."

Dada Hort naik-turun, kemarahannya hampir meledak, tapi sudah terlambat.

Soojung sudah bermesraan dengan cowok lain, meninggalkan si musang sendirian jauh di belakang−padahal tujuan Hort jauh-jauh ke sini adalah menyelamatkan Soojung dari cowok itu.


Kyungsoo mengintip ke belakang.

Sudah puluhan kali dia melakukannya selama empat jam terakhir, mencoba memeriksa apakah semua baik-baik saja. Tapi sekarang sosok-sosok kecil berkepala bulat dengan latar belakang rumput kuning sudah berada satu kilometer di belakangnya. Dia butuh Soojung menghancurkan cincin itu. Dia butuh Soojung memenuhi janjinya setelah memaksa Kai memberinya kesempatan.

Tapi bagaimana kalau Soojung mengacaukannya?

Tiba-tiba Kyungsoo merasa seperti Kyungsoo yang dulu: Kyungsoo yang mempelajari buku-buku mantra dan mengajari Soojung dalam wujud kecoak serta melakukan apapun demi Kai mencium sahabatnya dan mengirim mereka pulang. Tapi rencana-rencana sebelumnya gagal dan sekarang juga akan gagal jika Soojung yang baru bertingkah seperti Soojung yang lama. Kai tidak akan mau mencium Soojung yang itu, dulu maupun sekarang.

Lagi-lagi Kyungsoo menoleh ke belakang dengan cemas−

Dia terjatuh keras, sepatu bot barunya terpeleset di jalur becek dan terperosok ke dalam rawa berair hitam. Sehelai daun sawgrass menampar pipinya seperti cambuk. Sambil mengertakkan gigi, dia naik ke jalur berlumpur melalui dataran kuning berlumut, mengejar Merlin yang sudah habis kesabaran menunggunya yang lamban karena pikirannya terpecah. Namun pikiran Kyungsoo terus teraduk-aduk. Di satu sisi, dia dan Merlin memerlukan Kai mencium Soojung. Di sisi lain, dia bisa muntah membayangkan Kai mencium cewek pembohong, penikam dari belakang, pengkhianat−

Rasa sakit menusuk-nusuk tulang rusuknya, rasa sakit yang dia rasakan tiap kali pikirannya keliru.

Dia sudah menjelek-jelekkan Soojung dengan menyamakannya dengan Soojung yang dulu, Soojung si Penyihir Jahat yang menipu demi mendapatkan pangeran. Tapi apa dia sudah pernah melihat sisi lain dari sudut pandang Soojung? Di balik tirai gua tadi, Soojung terlihat begitu menyesal, seolah tahu perbuatannya salah. Tapi seperti yang dikemukakan Soojung, sejak awal ini salah Kyungsoo sendiri. Dia sudah bersedia memberikan lembaran baru untuk Kai di menara, meskipun saat itu Kai belum menyadarinya. Dia bersedia memberi mereka semua lembaran baru ketika dia menolak keras untuk menjadi ratu. Dan dengan lembaran baru, Soojung melakukan apa yang akan dilakukan siapa pun yang mendapat kesempatan kedua dalam dongeng mereka, seperti zombi-zombi penjahat di Sekolah Lama. Mereka kembali ke momen yang salah dalam kisah mereka dan berusaha memperbaikinya. Bagi Soojung, momen itu adalah ketika dia hampir mendapatkan ciuman Kai dua tahun lalu.

Selama ini Kyungsoo meyakini dirinya dan Kai adalah cinta sejati dalam kisah dongeng mereka. Bahwa Soojung memang tidak pernah ditakdirkan mendapat ciuman pangerannya di tahun pertama.

Tapi bagaimana kalau Soojung benar? Bagaimana kalau Soojung memang cinta sejati Kai dan kita telah mengambil jalan yang salah? Bagaimana kalau Kai memang tidak ditakdirkan untuk bersamaku? pikir Kyungsoo.

Dada Kyungsoo serasa hampa. Ekspresi wajahnya melunak setelah mendapat pemahaman. Untuk mengetahui jawabannya, satu-satunya cara adalah memberi Soojung kesempatan untuk bersatu dengan Kai. Dia tidak boleh membenci Soojung karena berusaha menjadi ratunya, tapi harus memberinya kesempatan itu, seperti yang dijanjikannya di menara Sang Guru. Selama satu bulan ini Kyungsoo sudah menghabiskan waktu berdua bersama Kai, yang ternyata berjalan penuh ketegangan dan rintangan serta kesalahpahaman, ditambah lagi dengan masa depan yang suram dan meragukan. Dia sudah mendapat giliran kesempatan untuk berbahagia bersama Kai namun tidak berhasil sampai pada akhir cerita. Sekarang giliran Soojung.

Lalu bagaimana kalau ciuman mereka nyata? Bagaimana kalau Kai memang benar-benar cinta sejati Soojung? Dan nama di jari Soojung itu benar adanya?

Kyungsoo menahan napas.

Berarti aku memang ditakdirkan hidup sendiri.

Dia menghentikan langkah dan menoleh ke belakang, tapi sudah tidak bisa melihat Soojung dan Kai sama sekali di dataran becek itu.

"Nak, kalau kau lebih sering melihat ke belakang daripada ke depan, perjalanan ini akan sangat lama."

Kyungsoo menoleh dan melihat Merlin jauh di depannya. Tertutup kabut, dengan ekspresi galak, topi kerucut terkulai, dan tongkat berjalan di tangan, dia terlihat seperti Penyihir Putih Agung dari buku-buku dongeng kepahlawanan yang tahu semua jawaban (kalau tidak salah namanya Gandalf, pikir Kyungsoo). Lalu seekor serangga mendarat di hidung si penyihir, membuatnya berlari sambil mengusir dan mengutuki serangga itu; jubahnya terangkat dan kaus kaki cokelat mokanya terlihat.

"Apa yang akan terjadi pada para anggota Liga?" tanya Kyungsoo saat mereka sudah berjalan berdampingan lagi. "Yuba memasang lebih banyak buku dongeng. Semuanya sudah memiliki akhir cerita baru−"

"Sebelas. Bertambah sebelas yang mati, termasuk Jack Horner, Kucing Bersepatu Bot, dan Anya Si Duyung Merah, semua ditemukan tewas pada usia sangat tua dibunuh oleh Nemesis mereka yang bangkit dari kubur," ujar Merlin sedih, mengusap kacamatanya yang berkabut. "Tinggal tunggu waktu sampai Pasukan Kegelapan mulai menambah kesuksesan menemukan target-target lama mereka. Tapi aku yakin para anggota Liga kita akan selamat di Hutan sampai Soojung memutuskan untuk menghancurkan cincinnya. Dulu kala, para pahlawan itu dilatih di Hutan Biru, sama seperti kau. Bedanya hanyalah mereka lulus saat dunia belum akan kiamat." Dia tersenyum geli pada Kyungsoo.

Hingga saat ini, melelehnya matahari yang terbit dan terbenam setiap hari selama ribuan tahun gara-gara mereka tampak terlalu ajaib dan konyol bagi Kyungsoo. Namun penuturan Merlin membuatnya nyata.

"Apa yang terjadi kalau matahari jadi gelap?" Kyungsoo mengamati lingkaran emas kecil di langit tanpa warna, begitu redup sehingga dia bisa menatap langsung ke arahnya tanpa perlu menyipit. "Sekarang saja sudah hampir tidak bisa menerangi Hutan."

"Kalau sudah meneteskan cahaya terakhirnya, matahari akan terbenam di balik kaki langit dan dunia kita akan musnah seperti lilin dalam lautan," jawab sang penyihir. "Setiap kisah harus berakhir, Kyungsoo. Begitulah cara dunia dongeng bertahan hidup. Tapi dongengmu membatalkan tiap akhir ceritanya: pertama kau dan Soojung, lalu kau dan Kai. Yah, momen menentukan dalam ceritamu kini telah mendekati akhir sesungguhnya dan mendapatkan tempat dalam cinta abadi−atau menjadi akhir bagi kita semua."

"Berapa lama lagi sisa waktunya?" tanya Kyungsoo, rute becek yang dilaluinya mulai keras dan mengering. "Waktu untuk Soojung mencium Kai, maksudku."

Merlin memandang matahari sepintas lalu. "Sudah meleleh lebih cepat. Paling lama tiga minggu lagi. mungkin tidak akan bertahan sampai pelantikan anak itu. Tapi mungkin itu satu hal lagi yang harus kita rahasiakan darinya sampai Sang Guru mati. Kai bisa frustasi kalau tahu kemungkinan pelantikannya gagal sangat besar." Dia mengeluarkan lolipop rasa melon dari topinya, tapi ternyata berlumut. "Bahkan sihir terbaik pun kehilangan kejayaannya," gerutunya.

"Tidak masuk akal," ujar Kyungsoo seraya memikirkannya sambil berjalan menanjak di rute becek. "Kenapa Sang Guru tidak mengejar kita? Kalau dia tahu Soojung bisa menghancurkan cincin itu, kenapa dia tidak berusaha menahannya di sekolah?"

Merlin memandangnya dengan tatapan ingin tahu, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Kyungsoo tidak bertanya lagi ketika mereka meninggalkan Bogland dan memasuki Gillikin, daerah pinggiran Oz, kerajaan yang terkenal dengan Kota Zamrud. Bukit-bukit di Gillikin curam dan berwarna ungu, sudah dirusak oleh rerumputan mati berwarna kuning. Kota hijau gemerlap di lembah sudah hampir tak terlihat di balik tembok bata kuning yang melindunginya dari Pasukan Kegelapan.

Kyungsoo menoleh ke belakang, berusaha mencari sosok Kai dan Soojung di bawah, kemudian dilihatnya Merlin memelototinya dan dia pun memaksakan diri untuk melihat ke depan. Mereka mendaki bukit ungu selama satu jam, Kyungsoo gatal-gatal karena serbuk sari tak kasatmata berjumlah banyak, lalu Merlin berbicara lagi. "Kyungsoo, berhubung kita punya waktu sebelum makan siang dan aku tahu kau sangat butuh pengalihan, bolehkah aku memintamu menceritakan kejadian tadi malam? Terutama pada apa pun yang kauketahui tentang Sang Guru."

Kyungsoo menarik napas dalam-dalam, melawan insting untuk mengecek Kai dan Soojung sekali lagi. Dia menceritakan setiap detail kejadian mulai saat Merlin meninggalkan mereka di gerbang sekolah. Dia mengungkapkan bagaimana dia dan Kai berbaikan sebelum berpencar sebagai Carl dan Clara, bagaimana mereka berciuman sebagai cowok dan cewek bukannya sebagai cewek dan cowok, dan bagaimana Amber menyelamatkannya supaya dia tidak menghabiskan malam bersama Mino di ruang bawah tanah.

Dia menjelaskan margasatwa di atap Honor sekarang berkisah tentang Kai dan bukan cerita ayahnya; bagaimana dia mengakali pantulannya di Jembatan Separuh Jalan; dan bagaimana penjahat-enjahat lama saling merusak potret-potret siswa. Dia menceritakan tentang kelas-kelas di Sekolah Lama, termasuk tugas para penjahat untuk menemukan kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu dan peta-peta keberadaan para Nemesis Lama mereka.

Dia menceritakan bagaimana dia menemukan Excalibur di dalam lukisan Sader, ungkapan Sang Guru tentang Dunia Pembaca, dan pemuda tampan berambut sewarna es bernama Seunghyun yang tetap tenang dan diam di jendela saat menyaksikan Soojung kabur.

Selesai bercerita, Kyungsoo harus membungkuk untuk mengatur napas karena sejak tadi dia begitu larut dalam ceritanya hingga tak menyadari mereka sudah mencapai puncak tertinggi di Bukit Gillikin yang dimahkotai kebun tulip layu.

"Seunghyun bilang suatu hari nanti Soojung akan kembali kepadanya," dia mengembuskan napas, menepis serbuk-serbuk sari membandel. "Mungkin itu sebabnya Seunghyun tidak mengejarnya. Dia tidak mengerti betapa Soojung sangat mencintai Kai."

"Atau dia sangat mengerti seberapa besar Soojung mencintai Kai," kata Merlin ragu, sambil menyiapkan piknik makan siang berupa sup ayam dan salad selada air di atas bunga-bunga yang sudah mati.

"Maksudmu bagaima−tunggu, kita makan di sini? Di siang bolong sementara zombi penjahat di mana-mana?"

"Peri-peri Gillikin adalah pengintai paling tepercaya." Merlin mengangkat segenggam batang selada air. "Kalian akan berjaga-jaga supaya kami aman kan, Gillies?"

Kyungsoo melihatnya mengayun-ayunkan sayuran itu di udara, yakin orang tua itu sudah setengah gila. Tapi kemudian dia melihat selada di tangannya berkurang sedikit demi sedikit, seakan-akan ada yang memakannya secara ajaib.

"Tak kasatmata," kata Kyungsoo, tersenyum cerah. "Ternyata bukan serbuk sari. Peri!"

Dia memandang ke atas, membayangkan langit abu-abu hambar itu dipenuhi ribuan kerlap-kerlip dan sayap transparan serta tubuh-tubuh mungil menakjubkan. Dulu dia menyangka peri itu feminin, serangga menjemukan (dia pernah nyaris menelan peri di hari pertama sekolah), tapi sekarang dia bersedia melakukan apapun demi melihat Gillie-Gillie kecil meski hanya sesaat. Dia mengulurkan tangan dan merasakan mereka merayapinya, rambut-rambut halus di kulitnya berdiri, senyumnya melebar sambil mendengarkan desingan sayap bercampur angin.

Lalu senyumnya lenyap. Dia bisa melihat Soojung dan Kai di lembah pada bukit yang agak jauh darinya, sosok-sosok pirang berjalan berdekatan.

"Merlin, apa yang kulakukan ini benar?" tanyanya pelan, seringan angin.

Merlin mengamati sosok-sosok kecil Soojung dan Kai sambil menyesap anggur dari gelas yang dia keluarkan dari topinya.

"Mari kuceritakan kisah tentang ayah Kai. Beberapa tahun setelah Kai lahir, suatu hari Raja Arthur mendatangi guaku dan memaksaku memberikan mantra untuk memata-matai Guinevere, ratunya. Dia sangat yakin istrinya selalu kabur dari istana pada malam hari dan sang raja ingin tahu ke mana dia pergi. Nah, kecemasan Arthur pada Guinevere bukan hal baru. Bahkan ketika mereka masih murid di Sekolah Kebaikan pun, Arthur sering mengakali dan memanipulasi serta melakukan apa saja yang bisa dilakukannya untuk meyakinkan Guinevere supaya memilihnya sebagai cinta sejati. Saat itu, Arthur bersaing ketat dengan seorang ksatria muda yang masih dalam masa pelatihan bernama Lancelot, yang selain kutu buku dan pecinta binatang seperti Guinevere, kebetulan juga sahabat dekat Arthur. Arthur jelas melihat ketertarikan di antara mereka, tapi dia memastikan Lancelot tahu niatnya mendekati Guinevere dan bahwa dia tidak mau dikesampingkan. Lagipula, di mata Arthur, Lancelot bukan tandingannya kalau dilihat dari hal-hal yang penting bagi perempuan: penampilan, keturunan, uang, dan ketenaran.

"Maka ketika Guinevere dan Arthur dikelompokkan sebagai Pemimpin, dan Lancelot sebagai Pendamping calon raja itu, Arthur meyakinkan Guinevere bahwa dirinya adalah suami paling tepat bagi gadis itu. Bagaimana mungkin dia menikah dengan Lancelot−yang kala itu sudah menjadi ksatria bagi sang raja−kalau dia bisa menikah dengan rajanya? Arthur mengemukakan bahwa Camelot membutuhkan Guinevere: Dia tidak mau menerima ratu lain dan sudah menjadi tugas Guinevere pada Kebaikan untuk menikah dengan Arthur. Tidak ada gadis yang sanggup melawan kata-kata seperti itu, terutama jika yang mengucapkannya adalah seorang pemuda menawan dan berpendirian kuat serta berkuasa seperti Arthur.

"Pesta pernikahan mereka sangat meriah dan tak lama kemudian lahirlah bayi pangeran tampan seperti yang diinginkan Arthur. Namun, meski sudah memiliki ratu impiannya, Arthur tidak bisa mengakhiri kecurigaannya. Persis seperti yang dilakukannya sewaktu masih remaja di sekolah dulu, dia berusaha mengendalikan Guinevere, mengutus orang untuk membuntutinya, dan memastikan Guinevere hanya mencintainya. Tapi dia tetap tidak bisa tidur nyenyak, seolah dia sadar telah memaksa ratunya. Saat dia datang ke guaku mengoceh soal mantra yang bisa memastikan kesetiaan Guinevere, dia sedang marah dan terobsesi, jiwanya dikuasai ketakutan dan kecemburuan. Pada hari itu, aku berkata pada Arthur bahwa hanya ada satu mantra sihir yang bisa menyembuhkan kegundahannya selama bertahun-tahun, bahwa dia harus membiarkan Guinevere pergi dari istana setiap malam untuk melakukan apapun yang memang ingin dilakukannya."

Merlin tersenyum penuh sesal. "Tentu saja Arthur berang. Kubilang padanya bahwa sudah sepuluh tahun dia berusaha mengendalikan kisah dongengnya dan Guinevere, menyangkal kisah Guinevere sendiri hanya untuk dirinya dan itu membuat Arthur gila. Manusia tidak bisa memaksakan takdirnya sendiri. Manusia hanya bisa menghindarinya. Selama bertahun-tahun, dia selalu ketakutan Guinevere tidak mencintainya, tapi satu-satunya cara untuk mengakhiri ketakutannya adalah jika dia mau membiarkan kenyataan terjadi. Mencegah Guinevere menemukan cinta sejatinya−entah itu Arthur atau orang lain−hanya akan membuat Arthur atau ratunya tidak bahagia; mereka berdua tidak akan pernah tahu apakah cinta mereka murni. Luka itu akan terus-menerus membuka, mereka berdua saling menghukum karena akhir kisah dongeng sejati mereka dicegah."

Sang penyihir meneguk habis sisa anggurnya. "Tentu saja Arthur menganggap semua itu omong kosong yang mengkhianatinya. Dia meninggalkan guaku sambil bersumpah tidak akan berurusan lagi denganku. Itulah yang mendorongna mencuri mantra bertukar jenis kelamin dari guaku. Tidak lama setelah Guinevere kabur bersama Lancelot, Arthur menjatuhkan hukuman mati kepada ratunya sendiri, dan aku harus meninggalkan putra kesayangan yang kubesarkan sejak kecil, selamanya tidak bertemu lagi."

Akhirnya Merlin memandang Kyungsoo, mata biru mudanya berkaca-kaca. "Kini Kai sedang mengulang kisah ayahnya tepat di depan mata kita. Benar, saat dia menjadi raja nanti, dia akan mewarisi perintah hukuman mati atas ibunya sendiri. Semua yang lama menjadi baru lagi, Nak. Hanya saja kali ini kau berada di posisi Guinevere, tidak yakn apakah kau bisa menjadi ratu untuk putranya, persis seperti dia tidak yakin menjadi ratu ayah Kai. Tapi Guinevere tidak cukup kuat untuk bisa jujur pada Arthur, meski tahu dia tidak akan bahagia di Camelot.

"Karena gagal jujur pada dirinya sendiri, dia sama bersalahnya dengan sang raja. Tapi kau gadis yang sangat bijaksana, Kyungsoo, dan Kai beruntung sudah menemukanmu. Perbedaan antara kau dan ibunya adalah kau bersedia mempertanyakan akhir kisahmu sambil menjalaninya−dan itu bisa mencegah sejarah terulang kembali. Kau memiliki kompas di dalam jiwamu yang menunjukkan arah menuju Kebaikan, bahkan jika itu berarti membebaskan pangeranmu di malam hari dan membiarkannya menguji cintamu. Bahkan jika itu artinya kau bisa kehilangan dia di akhir cerita. Karena kau maupun aku sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi, Kyungsoo. Kita semua tidak tahu apakah keraguanmu untuk menjadi ratu didasari alasan kuat ataukah Soojung memang cinta sejati Kai ataukah Soojng akan menghancurkan cincin itu. Tapi tidak seperti Arthur saat dia mendatangiku ke dalam gua, kau bersedia melepaskan yang lama dan menerima yang baru meski itu masih belum kauketahui. Itulah yang membuat Kebaikan tetap hidup, tak peduli seperti apa jadinya Kejahatan."

Sekarang Kyungsoo menangis tersedu-sedu, membersihkan dan mengeluarkan segala yang terpendam, seolah dia sudah tidak tahan lagi dibebani kata-kata Merlin. Merlin merangkulnya, membiarkannya menangis, sampai dia dengar Kyungsoo membersit ingus di jubahnya dan terpaksa menyodorkan puding pistachio ke hadapan Kyungsoo untuk mengalihkan perhatian gadis itu. Kyungsoo terisak dan menyandarkan kepalanya pada bahu sang penyihir sambil menyendok krim hijau manis. "Sebenarnya aku tidak se-Baik itu," ujar Kyungsoo parau. "Pada hari pertamaku di sekolah, di lorong permen itu, aku memakan sebagian kelasnya."

Kini giliran Merlin yang tertawa. "Aku juga, Nak. Siapa yang tahan melihat permen manis berwarna-warni cerah itu?"

Suara tawa terdengar semakin jelas dari belakang mereka. Saat menengok ke belakang, mereka melihat Soojung dan Kai sampai di puncak bukit, keduanya terbahak-bahak. "Aku berada dalam tubuh cewek dengan rambut dicat jelek sekali oleh sihir Merlin; meluncur di roller coaster cokelat yang dikemudikan tikus; harus mempersiapkan pidato di depanmu; dan sebelum sempat bicara satu kata pun, tahu-tahu kau memukul kepalaku dengan buku dongeng."

Soojung tertawa begitu keras sampai memegangi perutnya. "Yah, seandainya aku tahu kau terpaksa memegang tikus Vic!"

"Si pengerat itu mengencingiku selama peluncuran!" Kai hampir tidak bisa bicara lagi. "Bagian terburuknya: pidato yang kusiapkan benar-benar bagus!"

Soojung menggelayut di lengan Kai, tertawa melengking.

Kyungsoo belum pernah melihat Kai tertawa sekeras dan selepas ini saat mereka bersama. Dia belum pernah melihat pangerannya begitu bahagia dan santai. Bahkan Soojung pun kelihatan bebas dan apa adanya, seakan-akan gadis itu dan Kai memiliki sejarah serta kedekatan tersendiri yang tidak pernah diketahui Kyungsoo. Kyungsoo merasa mual, terdorong untuk menyambar mereka dan menarik Kai jauh-jauh dari Soojung, tapi ucapan Merlin menggaung dan menahannya seperti angin. Dia merasakan kebencian-kebencian lamanya menyingkir demi memberi tempat untuk kenyataan baru pada momen itu: pemandangan dua sahabat yang aman dan bahagia, terbahak-bahak menertawakan cerita konyol, dan tahu-tahu Kyungsoo mendengus tanpa sadar.

Sang pangeran mendongak, terkejut, lalu berhenti tertawa.

"Ya ampun," kata Soojung, mengikuti arah tatapan Kai pada Merlin dan Kyungsoo. "Entah kami yang terlalu cepat atau kalian yang terlalu lamban."

"Sepertinya dua-duanya," kata Kyungsoo.

Soojung menatapnya, menahan napas, menunggu gong yang menohok.

Tapi Kyungsoo malah tersenyum.

Wajah Soojung berubah cerah seakan merasakan perubahan diam-diam di antara mereka berdua.

Di sisi lain, Kai memandang Kyungsoo dengan dingin. Oh, bahkan dia tidak menyadari jejak air mata Kyungsoo yang baru setengah mengering.

"Tidak terlalu cepat atau terlalu lambat, seperti kata Goldilock, tapi pas," kata Merlin sambil mengeluarkan hidangan-hidangan baru dari topinya. "Sengaja supaya kalian menyusul dan bisa makan siang selagi makanannya masih hangat. Kai, ini pai ayam dan sayuran segar untukmu dan Soojung. Sementara itu, Kyungsoo dan aku akan meneruskan perjalanan. Besok kita akan bertemu di rumah perlindungan saat matahari terbenam. Ayo, Kyungsoo."

Namun Kyungsoo sedang memperhatikan garis cakrawala. "Apa itu?"

Soojung menyipit ke bukit ungu di seberang dan melihat bayangan Hort berjalan di rute. "Oh, dia pasti baik-baik saja. Ya ampun, ayahnya dulu seorang bajak laut−"

"Bukan," kata Kyungsoo. "Itu."

Dia sedang memandangi bayangan pemandangan, jauh di sana, nyaris tak terlihat di bawah langit kelabu. Warna-warnanya transparan dan impresionis seperti lukisan August Sader, tapi Kyungsoo masih bisa melihat garis yang membentuk desa itu: rumah-rumah pondok lancip, gedung sekolah kuning, menara jam bengkok−semua tertutup balon pelindung transparan yang sekali-kali memantulkan warna pelangi. Mulut Kyungsoo ternganga.

"Jangho. Itu... Jangho."

"Penampakan awalnya, paling tidak," sahut Merlin.

Kyungsoo memandangnya, akhirnya paham. "Setiap kisah lama yang diubah akan membawanya lebih dekat denagn Dunia Pembaca. Itu yang dikatakannya."

"Dan maksudnya memang secara harfiah," kata sang penyihir. "Sepertinya teman-teman Pembacamu sedang membaca dongeng-dongeng baru."

Kyungsoo dan Soojung sama-sama kelihatan bingung.

"Begini, selama para Pembaca percaya pada dongeng lama−dan pada kekuatan Kebaikan yang mengalahkan Kejahatan−Sang Guru tidak punya akses untuk memasuki dunia kalian, selain sekadar menculik dua murid untuk dibawa ke sekolah setiap empat tahun sekali. Benar, dia telah mengungkapkan kelemahannya sendiri pada Kyungsoo," tutur Merlin sambil meneliti bayangan itu dengan saksama. "Tapi begitu para Pembaca membaca cerita-cerita baru dan mulai kehilangan keyakinan pada Kebaikan, dunia mereka semakin bertambah dekat dalam jangkauan Sang Guru. Setiap ada pahlawan yang mati, kekuatan lapisan pelindung akan berkurang dan penampakan desa itu akan semakin jelas, hingga akhirnya pintu masuknya terbuka untuk Pasukan Kegelapan. Ada sesuatu di Jangho yang diincar Sang Guru demi menyempurnakan dongeng kalian. Sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa menghancurkan Kebaikan selamanya. Apapun itu, pasti sesuatu yang akan didapatkannya, kecuali jika kita menghancurkan cincin itu."

Merlin, Kyungsoo, dan Kai menoleh ke arah Soojung.

"Aku tidak mengerti, Soojung," kata Kai, menatap tajam lingkaran emas di jarinya. "Apa yang kautunggu?"

Soojung menegang. "Kai, lihat! Makanan yang disediakan Merlin terlihat lezat! Kau pasti kelaparan." Dia menarik Kai duduk berpiknik sebelum mendongak pada Kyungsoo. "Kau dan Merlin sebaiknya meneruskan perjalanan, bukan? Jangan sampai ada penjahat yang menangkap kita siang bolong begini."

Kyungsoo melihat Merlin bersiap menjelaskan tentang keajaiban peri-peri Gillikin, tapi Kyungsoo menyodoknya dan Merlin tersenyum konyol memahami isyarat Kyungsoo.

Kemudian, ketika mereka berdua menyeberangi danau desa Agape yang sunyi, melompat-lompat di antara sesuatu yang terlihat seperti papan permainan genangan air raksasa, Kyungsoo masih bisa melihat Merlin tersenyum. Dia menyimpulkan Merlin pasti merasa luar biasa bisa melompat-lompati kubangan yang memantulkan warna merah muda-biru matahari terbenam, melewati rintangan atau hampir terpeleset dan memercik-mercik air sedingin es sambil tertawa dan memekik-mekik, seperti dua anak kecil sedang bermain lompat kodok.

Tapi bukan karena itu Merlin tersenyum.

Dia tersenyum pada Kyungsoo.

Karena selama empat jam setelah sang putri meninggalkan pangeran dan sahabatnya dalam cerita mereka sendiri, Kyungsoo muda yang bijaksana belum sekali pun menengok ke belakang.

.

.

.

Go read the next chapter : )