Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin – XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang(Flashback) mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma disetiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.
.
.
-e)(o-
.
.
Pergi ke China Luhan Dikabarkan Lakukan Bulan Madu.
Beritanya menyebar dalam hitungan detik, diterjemahkan dalam berbagai bahasa, Korea, China, Jepang dan Inggris, stasiun penayang berita banjir bahan, Luhan menjadi bahan pembicaraan dimana-mana mengalahkan comeback artis.
Hanlu diserang paparazzi, yayasan Hanlu dipenuhi orang-orang membawa kamera dan notebook. Baekhyun secara ketat mendapatkan pengawalan dan dikabarkan belum keluar rumah, Sehun belum sampai disekolah dan keamanan di perketat, pelajar Hanlu yang biasanya menggunakan pintu gerbang depan, kini mereka melalui basement untuk masuk ke sekolah, antrian sangat panjang seperti audisi pencarian artis oleh agency.
Terdapat empat puluh lift disana dan setiap lift hanya bisa di isi lima orang. Setiap siswa masuk dengan tab di tangan, membaca kajadian apa yang sedang terjadi sehingga sekolah seperti diserang masal karena tuntutan kenaikan gaji.
Notifikasi situs resmi Hanlu jebol karena bom protes, kebanyakan dilakukan oleh para orangtua yang merasa kesal lantaran anak-anak mereka disuruh mengantri dan berdesakan di dalam ruangan bernama lift.
Sementara itu dibalik kursi dengan layar datar sebesar lukisan galeri, Jaehyo tersenyum simpul.
"Siapa manusia paling cerdas di dunia ini?"
.
.
a Fanfiction
by
Moonbabee
.
.
"Luhan?"
Minseok melilir dengan mata terkantuk-kantuk hampir terlelap, drama mingguan yang diikutinya sedang berada dalam konflik, isinya tangisan dan tuntutan, mengenai tokoh utama harus memilih dan semacamnya, lagu pengiring terdengar mendayu, Minseok merasa mengantuk jadinya, alhasil dia mengganti-ganti channel hingga mata kantuknya menangkap gambar Luhan pada layar besar.
Sayup-sayup pembaca berita membacakan narasi mengenai Luhan, tapi Minseok tidak peduli, ia hanya melihat Luhan, memandangi wajah suaminya yang beberapa hari tidak dia lihat, masih belum kembali, masih belum menghubungi.
Akhirnya dia jatuh terkapar diatas karpet bersama cemilan menemani menonton. Dramanya sudah tidak menarik sampai membuat Minseok tertidur, beberapa saat setelah dirasa nona kecil itu lelap, pelayan berdatangan, mematikan tivi terburu-buru.
Memindahkan Minseok ke kamar lalu beberes sampah dan remah kripik, roti juga jajajnan lain yang sedang di gemari si mungil, dia mulai suka makan cemilan. Biasanya cemilan akan habis oleh Sehun, kali ini semua di lahab Minseok sendiri jika sedang menonton.
"Bahkan berita Lee Sooman akan membuat NCT Asia kalah dari rumor perselingkuhan Luhan" pelayan menggumam seraya meletakan remot diatas tivi "Ny. Byun benar-benar mengibarkan bendera perang"
"Benar, daripada tuan Lu, ny. Byun sepertinya lebih menyukai produser tampan bernama Park Chanyeol itu"
"Apa kalian dibayar untuk bergosip" kepala pelayan menegur dengan suara galak, melirik setiap pekerja yang bukannya segera membereskan tempat malah sibuk membicarakan majikan mereka. "Jangan pernah berbicara hal yang tidak perlu, ingat dinding dan lantai istana Lu bisa berbicara"
"Ne"
Tentu saja, selain dilengkapi kamera pengintai, pavilion Minseok dilengkapi perekam suara, juga para bodyguard yang seperti patung diam-diam mereka memberikan laporan mengenai apa yang mereka dengar dan lihat kepada Luhan, semua terintai. Tidak ada yang bisa main-main. Luhan menematkan Minseok pada tempat dimana dia dalam pengawasan Luhan sepenuhnya.
Minseok persis seperti berlian termahal yang harganya milyaran dolar. Julukannya ratu yang tak bertahta.
.
.
Harusnya penghargaan semacam Oscar sudah menumpuk di lemari Baekhyun sejak lebih dari dua puluh tahun, untuk mengatakan kalau dia masih menunggu Luhan dan akan menerima semua yang terjadi, itu bukanlah sesuatu yang sulit, siapa aktris terbaik Korea saat ini, Jun Jihyun? Lee Youngae? Song Hye Kyo? Atau Han Ga In?
Mereka semua lewat, Byun Baekyun sangat hebat jika ia berada dalam dunia yang sama seperti mereka. Buktinya, modal mata memerah dan raut sedih, wartawan percaya, Baekhyun menjadi pihak yang di untungkan, ia banjir simpati dan dukungan.
Dengan begini, merebut setengah dari apa yang Luhan miliki dan apa yang akan dia terima rasanya akan sangat mudah, tidak akan ada bagian untuk Luhan yang berasal dari Byun K, tapi Baekhyun, dia akan dapatkan lebih dari empat puluh persen Hanlu, dengan ini Baekhyun akan mewujudkan impiannya, mengenyahkan pengganggu dan meletakan Jongin ditempat tertinggi.
"Buatkan jadwal untuk pertemuan dengan keluarga Kim"
Chanyeol memandang taktut pada Baekhyun yang tersenyum licik di kursi kerjanya, Baekhyun yang manis sudah berubah menjadi wanita gila harta, setengah hatinya mendukung, tapi setengah lagi merasa menyalahkan, bukan ini yang dimaui oleh Jongdae atau Jongin juga Chanyeol.
Entah siapa yang salah dalam kasus ini, dia yang membantu Baekhyun, cinta Baekhyun yang terlalu dalam atau darah Byun yang mengalir dalam dirinya.
Yang jelas semua sudah terlambat untuk dibenarkan, terlambat untuk di perbaiki, tidak bisa kembali pada masalalu untuk mengubah cerita.
Yang Chanyeol bisa lakukan hanya, melakukan apa yang Baekhyun minta dan terus berdiri dibelkangnya, jika ada yang bisa ia lakukan, maka Chanyeol akan mencoba meluruskan, supaya ketika cerita ini berakhir ada kesan baik yang ada pada Baekhyun dan dirinya.
.
.
Minseok mengalami mimpi yang indah, dalam tidur wanita mungil yang belum mandi itu tersenyum, Sehun yang mengamati bagaimana ibunya sedang tersenyum begitu merasa sangat senang melebihi apapun.
Tidak sekolah, Sehun dilarang keluar karena pemberitaan, media dan paparazzi memenuhi jalanan menuju istana Lu, awalnya Sehun datang ke pavilion untuk mencari Jaehyo, menanyakan kebenaran yang ada pada lelaki itu, sayangnya Jaehyo tidak ada.
Belakangan dia jarang terlihat, sesuatu yang sedang terjadi pati diketahui oleh Jaehyo, Sehun tahu benar, Jaehyo sebenarnya lebih dari sekedar pengawal pribadi, supir atau apapun. Jaehyo satu-satunya orang yang berada pada garis terdalam hidup Sehun, masa kecilnya banyak bersama lelaki itu ketimbang Luhan. Jaehyo lebih seperti ayah daripada Luhan.
Tanpa ia mengatakan Jaehyo tahu, orang yang mengetahuinya lebih baik setelah Minseok adalah Jaehyo, bukan hanya karena dia sejak kecil bersama, tapi seperti Jaehyo mendapat atau memiliki tempat khusus yang diberikan Luhan kepadanya.
"Ah tidakkah ini seperti aku pedofil" Sehun menarik wajahnya yang hidungnya sudah akan menempel dengan milik Minseok, "Bagaimana mungkin ibuku seperti bocah 12 tahun" lagi desahnya. Lalu bangkit, sambil menunggu ibunya bangun, Sehun mencari sesuatu yang menyenangkan.
Dia menuju rak buku, hampir tidak ada yang bisa dia baca atau lihat gambarnya, semuanya isinya tentang bisnis, management dan segala tetek bengeknya, tapi ketika Sehun akan mengembalikan salah satu buku yang baru dia ambil, ia menemukan mesin sken, kotak dengan ukuran untuk telapak tangan kecil, seperti telapak tangan kecil bayi, apa didalam sini terdapat ruangan lain? Melihat tangannya sepertinya miliknya terlalu besar, tapi tidak mungkin ini tangan Luhan atau Minseok.
Merapatkan semua jari, Sehun menempelkan telapak tangannya sebisanya, tidak berapa lama sinar biru seperti membungkus tangannya "Akses berhasil" seakan tembok bergeser, lubang seukuran pintu terpampang di depannya, ini seperti yang ada dikamarnya, bedanya Sehun membuka ruang pribadinya hanya mendorong dengan tangan setelah masuk kedalam lemari, isinya jelas berbeda dari milik Sehun.
Ini seperti ruang dalam film, alat-alat canggih menempel dimana-mana, tumpukan berkas tertata pada pada rak, Sehun tertarik pada tumpukan berkas, duduk di kursi kerja ia membuka salah satunya.
"Kim Youngwoon"
Biodata tercatat secara lengkap, di halaman berikutnya "Park Jongsoo?" wajahnya tidak asing, ah dia teman neneknya, jadi Kim Youngwoon adalah suami teman nenenknya, tunggu. Untuk apa ayahnya memiliki data pribadi ini?
Jawabannya ia temukan, pada lembar berikutnya yang berisi foto seseorang, bocah gembul yan sedang tersenyum menatap kamera, itu ibunya. Foto bocah itu adalah ibunya, tapi bukan itu yang menjadi kekagetannya yang kemudian membuat dia menjatuhkan apa yang sedang di pegang, tapi "Tahun ini…?"
.
.
Zitao terduduk sambil termangu di ruang TIK sekolah, rute keamanan dan script jaringan masih sama, masih belum diubah tapi sebanyak apapun dia mencoba, tetap saja gagal, selalu muncul huruf-huruf terangkai yang mengatakan jika anda tidak bisa masuk, apakah kunci sandi yang ia masukan salah? Tapi tidak mungkin, bukankah jika salah ia tidak akan mungkin masuk sejauh ini?
Satu pesan masuk.
Sekali ketik, sejumlah kata tertera pada layar.
Huang Zitao, Wu Zitao animyeon Li Zitao?
Jemarinya mengagantung di atas mouse ketika matanya menangkap satu nama dengan tiga marga, secepat kilat jarinya berpindah pada keyboard, keluar dari laman situs Hanlu dan mematikan komputer.
.
.
Debuman pintu kamar Sehun menggema diseluruh rumah, menghentikan semua orang yang sedang melakukan pekerjaan mereka, semua kepala kompak mendongak seakan dengan melakukan hal tersebut mereka bakal tahu ada apa dengan sang tuan muda serta mengapa ia membanting pintu.
Apakah itu karena berita mengenai Luhan berselingkuh dan sedang melakukan bulan madu ke China? Tentu saja bukan, semua orang tahu kalau itu pasti, foto bukti dalam berita adalah Minseok. Foto yang diambil dalam jarak sedekat itu, menampilkan secara jelas seorang Luhan dan seorang wanita berbalut gaun putih, itu jelas Minseok, dan yang mengambil adalah orang dalam.
Berita itu diluncurkan pagi ini, satu jam kemudian surat kabar berdatangan, asumsi yang sudah jelas kebenarannya adalah, berita tersebut dibawah kendali Baekhyun.
Lalu apa yang membuat sang tuan muda dalam emosi yang tidak baik serta mood buruk?
Sebuah potongan kertas dari Koran berhamburan, dari sekian banyak judul berita Sehun tertarik pada berita belasan tahun yang lalu yang menyeret nama Jaehyo.
Sehun menyamakan foto yang ia bawa dari kamar ibunya, foto dalam surat kabar lama itu terlihat hitam putih, tapi untuk matanya yang sehat dan muda seratus, seribu atau bahkan sejuta kali, dia sangat yakin. Minseok si bocah dalam berita adalah Minseok ibunya. Gadis trainee yang mengalami pelecehan seksual yang dikabarkan sampai meninggal adalah Minseok – ibunya. Dan bajingan gila yang seharusnya mendapat julukan mengerikan yang diterima Jaehyo adalah … Luhan –
– Ayahnya?
Seandainya kau terlahir dari seorang selir maka itu lebih baik dan sedikit terhormat ketimbang lahir dari seorang simpanan.
Bahkan sekarang simpanan masih lebih baik dari pada posisi ibunya yang sebenarnya. Dan martabat serta derajat Sehun, bahkan tidak lebih baik dari pada anak manapun, bahkan jika dibandingkan dengan anak para pelacur. Kenapa? Setidaknya mereka memiliki umur yang cukup untuk melakukan hubungan badan, bandingkan dengan Sehun?
Dia lahir, dilahirkan oleh bocah empat belas tahun yang mungkin baru saja pertama kali mengalami mestruasi, bocah empat belas tahun yang bahkan baru akan lulus sekolah darsar. Takdir semacam apa ini? Julukan pangeran yang tersemat dalam dirinya, Naga Biru yang agung atau, apapun yang terdengar hebat itu, memang sepertinya adalah hinaan baginya. Hinaan yang diciptakan untuk menggerogotinya sedikit demi sedikit.
.
.
Bersama Sehun kecil dalam gendongan Minseok. Luhan terus mengamati bagaimana si bayi yang terus bergerak aktif sambil menyusu, sesekali Minseok menjerit karena puting susunya di gigit. Sehun sudah akan berumur lima bulan, dua gigi susunya sudah tumbuh di bagian atas dan bawah.
Ketika Minseok menjerit, Luhan akan tertawa, lucu sekali menurutnya. Karena setelah menjerit. Bibir lucunya akan menggerutu, memarahi Sehun supaya tidak menggigit lagi.
Tapi namanya juga bayi kan, mau dimarahi seperti apa kalau sedang menyusu pasti akan menggigit. Terlebih karena sekarang Sehun sudah memiliki gigi, jika sedang tersenyum saat Minseok memijat perutnya dengan baby oil Sehun akan terihat begitu lucu, tapi sangat berbeda jika seperti sekarang.
Gigi Sehun menjadi musuh bebuyutan Minseok. "Kau sangat suka jika dia tertawa setelah mandi, tapi selalu memarahinya jika sedang menyusu. Kau seperti berkepribadian ganda" Luhan mengambil Sehun yang selesai mengisi perutnya. Menimang penuh sayang dan menatap dengan kebahagiaan penuh.
Minseok tidak menjawab karena sedang mengancingi gaunnya, setelah itu baru duduk menyamping memandang Luhan. "Kalau begitu kau saja yang jadi perempuan, kau yang menyusuinya dan rasakan bagaimana dia menggigit putingmu. Itu sakit dan rasanya hampir putus"
Luhan terkekah, Sehun terkekah. Minseok menjerit penuh emosi dengan gaya yang lucu, seakan sudah mengerti Sehun memegangi perutnya dengan gelak tawa bayi yang terdengar menyenangkan.
"Tapi aku mana bisa menyusuinya, hanya ada bantalan roti sobek disini, Sehun tidak akan bisa menjangkau dengan gigi kecilnya."
Buk.
Minseok memukul dada Luhan. "Molla"
"Aigoo, kau marah? Heum. Jangan marah, nanti aku belikan es krim"
"Jinja?" Minseok sangat menyukai es krim.
"Keurom, saat Sehun sudah berumur dua tahun, saat dia sudah tidak menyusu lagi"
"Mwo? Ah, apa aku harus menyusuinya sampai dua tahun? Ah, tapi aku mau sekarang. Menunggu sampai dia berumur dua tahun kan lama sekali" Minseok merajuk ala bocoh, kakinya menendang-nendang paha Luhan. Lucu sekali.
Takut kaki Minseok mengenai Sehun, diletakannya bayi mereka di atas boks, karena sudah tidur. Luhan beralih pada Minseok, menarik si cantik untuk mendekat.
"Tidak dengar ya? Dokter tidak mengizinkanmu makan es krim, nanti kalau Sehun pilek bagaimana?"
"Tapi aku mau"
"Nanti, kalau Sehun sudah berusia dua tahun"
"Ah jahat sekali. Jadi apa aku harus makan yang akan membuat ASI ku banyak?"
"Tentu, dengan begitu Sehun akan tumbuh dengan cepat"
"Tapi sekarang saja ASI ku sudah banyak, kalau terlalu banyak nanti Sehun bisa kembung"
Sekali dorong, tubuh Minseok jatuh keatas tempat tidur, Luhan mengikuti setengah menindih, mengerling nakal, ia mencium ujung bibir Minseok. "Kalau begitu aku akan membantu menghabiskan? Eotte?"
"Tidak bisa, Sehun saja yang giginya hanya dua sudah sakit, apalagi kalau kau yang giginya banyak dan besar, kau akan melahab semua payudaraku. TIDAK BOLEH"
Seharusnya Luhan ingat, Minseok masih bocah dan tidak mengerti maksud kalimatnya, mendadak hati dan matanya memanas, tapi tidak mau Minseok melihatnya menangis dia melompat menjauh, berebaring disamping Minseok kemudian tertawa keras.
"Dasar menyebalkan, kenapa malah terta….
Kalimat Minseok teredam dada Luhan yang memeluknya. Tidak, Minseok tidak boleh melihatnya menangis. Belakangan Minseok mulai banyak tertawa dan mau berbicara bahkan manja dengannya. jadi sebisa mungkin Luhan harus ceria, ia harus bisa mengemong Minseok agar isteri kecilnya ini merasa diterima.
.
.
Buk.
Satu pukulan mendarat mengenai wajah Jongin yang sedari tadi berdiri di tepian sungai Han, ponsel yang sedang dipegang terlempar, masuk kedalam air saat ia akan membuka pesan yang baru saja masuk.
"Datanglah padaku jika kau ingin memukul seseorang, ini adalah janji terakhir kita sebagai seorang teman, kakak dan adik atau seorang yang berharga, karena setelah aku melewati pintu itu, kau bukan lagi temanku, kau bukan kenalanku kau adalah musuhku"
Sampai tubuh Sehun ikut tumbang dengan tangan berdarah-darah, berita ini menjadi trending topik di situs Korea, Sehun Lu dan Kai Park bertengkar dengan Sehun menghajar habis sang dancer. Sementara Sehun membabi buta, dari pihak Kai sama sekali tidak ada perlawanan, seakan dia pasrah dipukuli oleh calon penerus kerajaan Lu.
Polisi segera datang melerai, Sehun yang keadaannya masih utuh dan sehat, ia segera di bawa ke kantor polisi. Jongin di giring kerumah sakit bersama ambulan yang datang bersama.
Masyarakat yang menonton di salahkan oleh polisi karena tidak melerai hingga membuat seseorang harus dilarikan dirumah sakit.
Keluarga Lu menjadi sorotan. Mengundang spekulasi pengguna internet untuk berkomentar.
Wali Sehun di panggil ke kantor polisi. Tapi tidak ada yang datang, sampai jam menunjukan hampir pukul dua belas, pihak wali dari Sehun tidak ada yang datang. Menyebabkan Sehun dikurung dalam sel.
Baru ketika jam berdentang dua belas kali tepat, perwakilan Hanlu tiba, memberikan sejumlah uang kepada polisi dan Sehun di bebaskan.
Tapi belum sampai dia keluar dari pelataran kepolisian, Sehun menghajar semua pengawalnya dan mengambil kunci mobil, mengemudi dengan kecepatan penuh dia menuju arah bandara.
Dari belakang mobil hitam mengikutinya. Ahn Jaehyo.
Di susul beberapa mobil lain yang kecpatannya melebihi Jaehyo, mobil yang setidaknya terdiri dari empat itu bersusulan lalu mengepung mobilnya, menghentikan dia yang diikuti Jaehyo. Enam belas orang keluar, setiap mobil terdiri dari empat orang.
Mereka berdatangan menghampiri pintu mobil yang ada Sehun di dalamnya. Mengetuk serta menyuruhnya keluar namun Sehun menolak, jika yang datang ke kantor polisi adalah orang Luhan, maka yang mengejarnya adalah orang Baekhyun.
Terbukti, karena penolakan Sehun, kaca mobil belakang di pukul menggunakan tongkat baseball. Terlihat dari sepion Jaehyo keluar. "Ya" serunya, mengenyahkan beberapa orang dari sekitar mobil Sehun.
Dengan emosi yang sedang tidak baik Sehun membuka pintu dengan volume besar, menyebabkan seseorang yang berdiri di depan pintu terpukul. Disusul dia memukul yang lain.
"Tuan muda harus segera pulang"
"Lepaskan aku"
Sayangnya dia kalah bodi, juga jumlah. Sehun hanya sekedar tinggi, sedangkan yang lain bertubuh besar. "Aku akan membawanya pulang" Jaehyo turun tangan, menarik tangan Sehun segera kebelakangnya, menyembunyikan anak itu dari para pengawal Baekhyun, sialnya dia malah mendorong Jaehyo.
"Aku tidak mau pulang" Sehun melayangkan tinjunya pada Jaehyo, yang malah berakhir pada dirinya babak belur.
Perintahnya. Bawa Sehun pulang, jika menolak hajar dia sampai habis tapi jangan sampai mati. Yang artinya supaya kesakitan Sehun tidak segera berakhir. Supaya merasakan bagaimana yang dirasakan Jongin.
Baekhyun merasa kalau dia sakit hati atas apa yang terjadi pada Jongin, sayangnya Sehun mati rasa, bahkan ketika balok besar mengenai kepalanya dia bahkan tidak jatuh atau setidaknya bergeming, dia masih berdiri tegak dan kokoh, darah mengucur dari sana, menuruni mulai dari punggung hingga kebawah.
.
.
Minseok tidak bisa tidur, selain karena ia sudah tidur siang dalam waktu yang lama, ini juga di sebabkan oleh Sehun, Sehun menghajar habis seorang pemuda yang tidak lain adalah teman sekolah bernama Kai Park, foto sang korban bertebaran memenuhi layar tivi, entah ada masalah apa tapi pikiran Minseok sekarang dipenuhi oleh Sehun.
Melihat bagaimana luka yang diterima Kai Park, Minseok sangat yakin kalau anaknya akan mendapatkan tuntutan, belum lagi Park Chanyeol, lelaki itu terlihat seperti lelaki berpangkat yang memiliki kedudukan tinggi. Ny. Lu tidak akan membiarkan citra keluarganya rusak, apalagi jika disebabkan oleh Sehun.
Perutnya melilit, tiba-tiba nyeri mendesak di bawah dadanya. Wajahnya pucat seketika, tubuhnya hampir limbung, beruntung pelayan berdiri di samping dirinya, segera menahan untuk tidak jatuh. Masalah akan bertambah jika Minseok terjatuh, Luhan tidak bisa dihubungi jika dia kembali kemudian mendengar Minseok mengalami masalah dengan kandungannya, siapa yang akan mendapat masalah?
Tentu saja semua orang yang mengisi pavilion.
"Nona Kim"
Bersamaan dengan itu, kepala pelayan rumah utama datang bersama pengawal yang biasanya menjemput Minseok. "Anda di panggil kerumah utama"
"Ne"
"Nona" kepala pelayan pavilion menahan Minseok. "Anda tidak di izinkan keluar oleh tuan Lu" si cantik mengerjap, pandangannya jatuh pada kepala pelayan rumah utama, semua yang bekerja bersama Baekhyun memiliki garis wajah yang sama, sangar tidak bersahabat, jujur saja, itu membuat Minseok takut.
"Eoseo juseyeo"
"Aku ingin melihat tuan muda" Minseok mengelus punggung tangan kepala pelayan yang meremas kecil lengannya, di panggilnya Minseok kesana pasti ada kaitannya dengan Sehun, dia harus datang, melihat Sehunnya supaya dia tenang.
.
.
"Pikirkan dengan baik apa yang nanti Baekhyun ucapkan, seja mulailah berfikir dan menggunakan otakmu untuk menyelesaikan masalah"
Jaehyo memutar kepala menjadi menoleh pada Sehun yang duduk disampingnya dengan mata memandang lurus kedepan, tatapan yang sangat kosong, seperti Sehun kehilangan separuh hidupnya.
"Seja, kau dengar-
"Apa kau tahu? Kau mengabdikan dirimu kepada orang yang membuatmu dipanggil si penjual manusia"
Bukan kaget atas pertanyaan yang di ajukan Sehun, apa kau tahu? Tapi…
"Kau mengabdikan dirimu kepada Luhan, Luhan adalah bajingan gila dan manusia paling gila yang aku tahu. Atau.. kau sedang mencoba membalaskan dendammu kepada Luhan…
"Sehun-
"Mendengarmu tidak kaget dan menyela dengan namaku, kurasa kau sudah tahu"
Mata rapuh Sehun meneteskan beberapa tetes, untuk beberapa waktu mobil hanya di isi oleh isakan Sehun yang begitu pilu, Jaehyo tidak dapat melakukan apapu, bahkan untuk menyentuh punggung Sehun supaya tenang, Jaehyo tidak bisa.
"Seberapa banyak kau tahu?" tidak tahan, Jaehyo memecah dengan pertanyaan. Sehun tidak menjawab sampai pintu diketuk. Pengawal Baekhyun sudah tiba, saatnya dia memasuki neraka. Byun Baekhyun akan menghabisinya.
.
.
Apa ini bagian dari rencana Luhan? Apa ini cara Luhan mengatakan pada Sehun? Apa dia semakin gila?
Jaehyo memukul stir mobil cukup keras, dadanya terasa nyeri, bahkan Sehun bukan apa-apanya, mereka hanya sebatas majikan dan pelayan, tapi melihat betapa anak itu hancur dengan fakta yang mungkin banyak dia tahu, Jaehyo merasa dia sudah gagal dalam apapun.
Untuk menunjukan wajahnya dia merasa malu. Jaehyo bahkan merasa lebih sakit sekarang ketimbang saat mendapat julukan si penjual manusia atau K.R yang gila.
"Jika pada saat kau kembali tidak ada hasil atas apa yang sedang kau lakukan, aku pastikan kau mati ditanganku"
Jaehyo tahu, meski masuk pada mile box Luhan pasti sedang mendengarkannya.
Menata emosinya sejenak, Jaehyo juga turun dari mobil menuju rumah utama.
.
.
Bau amis akibat darah yang mengering mengalahkan pengharum ruangan, ditubuh Sehun terdapat banyak sekali bekas luka pukul dan baju yang sobek dimana-mana, Minseok sudah siap berlari, menghampiri anaknya yang dilempar kelantai dan langsung berposisi bersujud.
"Tu-…
"Berhenti disana" tapi Baekhyun mendesis, menghentikan langkahnya secara otomatis, wanita dengan marga Byun itu menyusul berdiri, menggunakan jarinya, ia memberikan isyarat agar Sehun dibawa semakin dekat, dekat hingga jaraknya tidak lebih dari satu meter.
Baekhyun menoleh, menghadap Miseok dan. PLAK.
Semua mata terbelalak, mulut mereka menganga, Sehun brontak, merasa tidak terima ibunya di perlakukan demikian, tapi sayangnya tubuhnya terlalu lemah juga tangangannya di cekal dua orang berbadan besar. Dia tidak bisa apa-apa.
"Ini untuk kebodohanmu" tamparan itu berpindah, jika tadi di pipi kiri, maka sekarang di pipi kanan. "Ini untuk menggagalkan rencana bersama keluarga Kim"
PLAK
"Ini untuk membuat, keributan dan serangan paparazzi di perusahaan"
PLAK
"Ini untuk membuat perusahaan melakukan ganti rugi terhadap Kai Park"
PLAK
"Ini untuk…aku melihat Jonginku terbaring dirumah sakit ketidak bergunaanmu menjadi calon pewaris"
"Aku tidak pernah memberikan hukuman kepadamu jika kau berbuat kurang ajar"
Baekhyun menekan kedua rahang Minseok yang sudah berdarah, mungkin dingding pipinya pecah, darah terlihat mengalir dari sudut bibirnya, bagi Baekhyun ini semua tidak ada bandingannya jika Sehun melihat bagaimana Jongin sekarang.
"Mulai sekarang yang harus kau lakukan adalah menjadi penurut. Sekali saja kau membuat kesalahan, kau akan melihat wajah ibumu yang yang cantik ini menjadi tidak berbentuk"
Sehun bisa melihat darah menetes dan membekas di gaun putih bersih milik ibunya saat dengan kasar Baekhyun melemparkan wajah Minseok kebelakang, ibunya pasti pusing, dia agak limbung dan harus dibantu pelayan. "Dan kau" Baekhyun menunjuk Minseok tepat di mata.
"Jaga dan didik anakmu dengan benar, dia boleh saja berdarah rendahan karena anak dari seorang simpanan, tapi namanya tercatat sebagai keturunan Lu yang terhormat, maka sikap dan prilakunya harus terhormat"
"Ne" Minseok terbata menjawabnya, tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis, rahangnya terasa ngilu untuk dibuka.
"Bagus" Baekhyun segera berbalik. Perhatiannya kembali tertuju pada Sehun yang menatapnya begitu tajam. "Bawa dia pergi dari sini dan segera bereskan tempat ini. Jangan sampai ada jejak darah secuilpun disini."
.
.
Plak. Gantian Sehun yang mendapatkan sebuah pukulan, Minseok tidak tahan untuk tidak memukul anaknya ini. Satu yang dia tahu, dia adalah ibunya, sebagai seorang ibu jika anaknya melakukan kesalahan atau berbuat nakal bukankah dia memiliki hak untuk memberikan teguran.
Ini bukan karena Sehun membuatnya di pukul Baekhyun, tapi karena kenakalan Sehun hari ini, anak itu mendapat hinaan yang tidak seharusnya dia terima, meski pada dasarnya Sehun memang hanya anak seorang simpanan tapi secara hukum Sehun adalah anak dari Lu Han dan Byun Baekhyun.
Maka perlakukan yang harus diterimanya adalah, selayaknya keturunan Lu yang terhormat.
"SEHUN LU!" Minseok menjerit, memanggil nama lengkap Sehun membuat yang ada disana terperangah kaget. Termasuk Sehun yang awalnya berdiri menunduk, kini mengangkat wajah untuk menatap ibunya.
"Eomma. Jadi ini caranya?" Sehun kembali mulai menjatuhkan air dari matanya. Isakan mulai terdengar lagi. "Jadi jika aku terluka parah penuh darah aku bisa mendengarmu memanggil namaku"
Buk.
Minseok memukul dada Sehun. "Hanya dengan begini, aku merasa kau adalah ibuku." Para pelayan menggigit tangan mereka untuk meredam isak, memperhatikan dari balik tembok bagaimana Sehun terdengar begitu terluka. Tentu, siapa yang paling terluka? Sehun.
"Saat aku berusia sepuluh tahun, saat aku tahu kalau ibuku seorang simpanan aku nyaris bunuh diri karena tertekan, dua tahun setelah aku merasa lebih baik, aku kemudian tahu satu fakta, ayahku menggunakan cara kotor untuk mendapatkan ibuku. Ayahku memerkosa ibuku sehingga ibuku menjadi miliknya" darah dan air mata bercampur di wajah Sehun, mengalir menuruni wajah yang kehilangan ketampanan akibat luka, terbukti dengan ini kalau tangis Sehun begitu deras.
"Lalu, saat aku berusia tujuh belas tahun. Saat aku mengabaikan pendidikanku demi mencari tahu siapa ibuku, wanita yang bisa memasuki kehidupan Luhan padahal Luhan memiliki Baekhyun, fakta yang aku dapat rasanya membunuh jiwaku tapi tidak dengan ragaku. Rupanya, berita belasan tahun lalu, hal mengerikan belasan tahun lalu, menyebabkan seseorang terjerembab pada lubang neraka, adalah karena aku?
Ayahku, melakukan tindak seksual terhadap bocah, bocah yang bahkan belum lulus sekolah dasar….
Intensitas tangisan dan gema isakan seperti OST drama, seakan para penyanyi menlantunkan nada indah bersama suara merdu mereka, mengiringi kepedihan tuan muda. "Aku? Aku bahkan merasa hari ini langit runtuh di depan mata. Jauh lebih rendah daripada anak seorang simpanan, jauh lebih rendah dari anak seseorang yang bekerja sebagai penjual diri-
Bugh.
Sehun tersungkur kebelakang, Jaehyo datang dan menendang perut Sehun. "Seharusnya aku memukul wajahmu, menendang mulutmu sehingga kau tidak berkata kurang ajar pada ibumu"
"Wae? Setidaknya, mereka yang menjual diri sudah layak melakukan hubungan badan, keunde naneun…
Tangan Jaehyo menggantung di udara, kepalan yang erat itu melukai telapak tangannya sendiri. Dia merasa percuma memukul Sehun, rasa sakit dihatinya mengalahkan sakit ditubuhnya.
"NAEGA WAE? Tidak cukupkah hanya anak seorang simpanan? Tidak cukupkah aku tidak bisa memanggil ibuku dengan bebas, tidak bisakah cukup. Aku bahkan…
"Cukup, Sehun. Kau mabuk sekarang lekas mandi dan aku akan memanggilkan dokter" Jaehyo membantu Sehun berdiri, menggotong anak itu meninggalkan ruangan dimana Minseok terduduk. Sehun menghilang dari pandangan, pelayan akan datang menolong, langkah mereka dihentikan.
"Maafkan aku" Minseok menggumam lirih.
.
.
Laras Sekar Kinanthi Hehe, mian lama banget. iya ChenBaekYeol emang nggak kalah menyedihkan ama LuMin.
.
.
Moonbabee
