WARNING! RATE M! SEXUAL CONTENT!

7000 words++

HAPPY READING! ^^

.
.
.

"Kau benar-benar berengsek!"

Kyuhyun membanting ponselnya keatas kasur. Wajahnya lalu ia telungkupkan kebantal, menjerit disertai tangisan sekencang yang ia bisa. Siwon tidak menghubunginya sama sekali.

Pintu kamarnya terbuka dengan kasar. Siapa lagi kalau bukan ibunya.

"Berhenti menangis meraung-raung seperti gadis!" Seru Heechul dengan tangan berkacak dipinggang.

Wajah Kyuhyun menyembul dari dalam selimut, hidungnya sangat merah. "Eomma tidak tahu rasanya bagaimana!" Kyuhyun menjerit lalu kembali menangis.

Heechul mengurut pelipisnya. Si Choi itu. Beraninya dia membuat putra manisnya kacau seperti ini. Ini sudah hampir satu minggu berlalu dan Kyuhyun masih melakukan hal yang sama setiap berada dirumah. Mengurung dikamar, meraung-raung memanggil nama Siwon. Dan sebagai ibu, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya. Ia sadar, ia ikut andil dalam hal ini karena ia sendiri yang menyodorkan putranya pada Siwon.

"Jika tahu begini, kenapa kau mau saja pergi dari sana?"

"Memang aku harus bagaimana kalau diusir? Aku punya harga diri eomma!" Kyuhyun mengecek ponselnya lagi, tapi tidak ada yang berubah.

"Putus hubungan itu sudah biasa. Ayo makan."

"Shireo!"

Heechul rasanya benar-benar ingin mengutuk Choi Siwon. Kyuhyun mogok makan, walaupun masih suka makan camilan tapi itu tidak cukup untuk mengisi perutnya. Sepertinya dia memang harus melakukan sesuatu. Tinjuan di perut Siwon belum mampu juga membuat aktor itu bergerak.

"Kau benar-benar tidak mau makan?"

"Shireo!"

Setelah itu Kyuhyun mendengar pintunya tertutup.

"Kau tidak berguna!"

Kyuhyun melempar dompet beserta beberapa kartu juga black card ke lantai. Itu semua milik Siwon yang ia ambil dengan sengaja sebelum ia pergi. Berharap Siwon akan datang menemuinya untuk mengambilnya. Namun tidak terjadi apa-apa. Bahkan ia sudah memakai kartu itu untuk berbelanja barang-barang mahal yang entah berapa juta won yang ia habiskan. Tapi Siwon tetap diam, tidak juga memblokir kartunya. Mustahil Siwon tidak menyadarinya karena ia sudah mengirim pesan tentang apa yang sudah ia lakukan.

Ia lebih banyak menggunakannya untuk membeli barang-barang yang ditujukan untuk Siwon, Minho maupun Suho. Semua barang itu teronggok menggunung disamping almarinya. Dia juga tahu diri, uang itu bukanlah haknya. Walaupun ia meminta 'sedikit' untuk membeli makanan.

Tangisannya terhenti mendengar sesuatu dari jendelanya. Matanya membulat melihat ada seseorang yang memasang palang kayu menyilang dijendelanya. Iapun menghampiri bersiap untuk memaki tapi tidak jadi karena ia melihat ibunya dibawah sana berteriak memberi instruksi.

Kyuhyun berlari menuju pintu tapi pintu tidak mau terbuka. Sudah dikunci dan jika tidak salah ingat kuncinya ia tinggal diluar kamar. Sial. Harusnya ia menyadarinya ketika ibunya keluar begitu saja tanpa melakukan apapun karena ia tidak mau makan.

"Eomma! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau mengurungku?!" Kyuhyun berteriak sambil memukul jendelanya dan menarik-narik teralisnya seolah ia bisa melepasnya. Orang suruhan Heechul sudah pergi.

"Aku hanya membantu." Ucap Heechul santai.

"Aku bukan rapunzel, eomma! Yang harus diisolasi seperti ini!"

"Kau memang bukan rapunzel. Tapi kau Fiona."

"Aku tidak sejelek Ogre itu!" Bantah Kyuhyun. Bagaimana bisa Heechul menyamakannya dengan mahluk hijau yang hidup di rawa itu? Dia tampan! Bahkan lebih tampan daripada Ken!

"Bercerminlah sebelum kau mengatakan itu." Heechul merapikan rambut sebahunya. Tidak menghiraukan Kyuhyun yang memelas diatas sana.

"Appa!" Percuma memanggil ayahnya, karena Hangeng juga tidak bisa melakukan apapun. Bahkan ayahnya memilih pergi berkencan dengan ibunya. Keluarga macam apa ini?!

Kyuhyun berjalan kearah lemarinya, bermaksud mengambil persediaan makanan yang ia simpan, yang ia beli dengan uang Siwon. Setidaknya ia tidak akan terlalu kelaparan ketika menunggu Heechul kembali.

"Aku benar-benar mengerikan." Alih-alih membuka pintu lemari, Kyuhyun malah bercermin. Matanya sembab dengan kantung mata besar dan menghitam. Pipinya sedikit tirus, bibirnya pecah-pecah. Dan rambutnya... Astaga! Berapa hari ia tidak keramas dan bersisir?! Apa penampilannya juga seburuk ini ketika bertemu dengan Minho tadi? Dia harap iya, agar Minho tahu bagaimana kacaunya dia setelah meninggalkan Siwon.

"Aku lebih buruk dari Ogre menjijikkan itu." Kyuhyun berjongkok, menenggelamkan wajahnya diantara dada dan lutut.

Kyuhyun memang sudah dua hari meliburkan diri dari sekolah. Tak ada gunanya. Di sekolahpun rasanya ia ingin menangis setiap waktu. Belum lagi ejekan dan cibiran yang dilontarkan para siswi padanya. Gosip menyebar dengan cepat seperti api yang menyambar jerami kering. Teman-temannya termasuk Seungyoon dan yang lain tidak bisa banyak membantu. Karena mereka hanya punya dua tangan. Jadi Kyuhyun hanya bisa berusaha menulikan telinganya dan tetap bersikap biasa dihadapan mereka, tidak akan sudi menundukkan dagu. Tapi dia membutuhkan waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.

Kyuhyun merangkak, meraih ponsel untuk mengecek jam. Masih jam 03.08 PM. Seharusnya ini waktunya ia pergi untuk latihan akting di agensi Siwon. Jika beruntung dia akan bertemu dengan pria itu lalu melakukan sesuatu agar Siwon kembali padanya. Entah bagaimana caranya.

Kyuhyun menggelengkan kepala. Ia tidak bisa pergi karena ia dikurung. Lagipula ia sendiri yang bilang bahwa ia memberikan waktu untuk Siwon dan dia akan menunggunya. Dia laki-laki, dia tidak akan menarik kata-katanya. Ada perasaan menyesal karena telah mengatakan itu. Ia tidak tahu bahwa rasanya akan semengerikan ini. Baru lima hari dan Kyuhyun seperti hidup di neraka. Berapa lama lagi ia harus menunggu?

Kyuhyun berhenti menggeser layar ponselnya tepat di kontak Minho. Haruskah?

Sekali lagi ia menggelengkan kepala. Tidak. Ia marah dengan anak itu. Minho yang membuat semua bencana ini terjadi. Jika ia membujuk, anak itu akan merasa diatas angin. Dan dia tidak yakin Minho akan mengalah begitu saja hanya dengan bicara empat mata, seperti tadi.

Alisnya tertaut. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan Minho tadi? Wajah anak itu terlampau serius, jauh berbeda dengan sebelumnya yang terkesan main-main.

Kyuhyun meletakkan kembali ponselnya, memutuskan akan menunggu sedikit lagi. Biarkan Siwon yang berjuang untuknya kali ini. Jika dalam jangka waktu yang telah ditentukannya Siwon tidak muncul juga, ia akan bertindak.

.

"Untuk apa kau kesana lagi Chullie? Biarkan saja mereka berpisah. Kyuhyun masih sangat muda untuk terikat hubungan." Hangeng memutar kemudinya, berbelok kekiri. "Sebenarnya kenapa kau bersikeras seperti ini?"

Heechul menurunkan cermin kecil dengan cover Anna dari depan wajahnya. "Karena mereka berjodoh, tentu saja."

"Kau bukan Tuhan. Bagaimana bisa kau menyimpulkan begitu?"

"Kau ingin bertaruh?"

"Kau mempertaruhkan hidup anakmu sendiri?"

"Jika mereka menikah, aku ingin kita bulan madu keliling Eropa selama dua bulan." Ujar Heechul tak acuh.

Hangeng hanya menggelengkan kepala dan berdecak. Istrinya ini mempunyai tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Dan ajaibnya hampir selalu akurat. Seperti kasus Ahra. Heechul menolak semua pria yang dikenalkan putrinya itu. Tapi begitu Ahra mengenalkan Yuta untuk pertama kali, pria cantik itu tanpa basa basi bertanya kapan Yuta akan menikahi anak sulungnya. Dan Hangeng masih sangat ingat dulu Heechul bersumpah tidak akan mengijinkan anak-anaknya menikahi orang dari negara lain. Beda kota saja dia juga menolak.

Hangeng menghela nafas. Penolakannya terhadap Siwon masih ia pertahankan. Rasa tidak sukanya semakin banyak dengan pria itu menyakiti putra manisnya. Lalu ketika ia melihat Kyuhyun yang begitu menderita, ia tak tega. Ia pikir itu hal yang biasa terjadi pada remaja kalau putus cinta. Menangis dan meratap. Menatap rindu rumah Siwon saat mereka melewatinya pagi hari berangkat sekolah atau pulang. Ia hanya takut, psikis Kyuhyun akan terganggu. Terlebih dalam waktu dekat dia harus tampil drama musikal, impiannya. Jika terus begini bukan tidak mungkin penampilannya tidak maksimal, panggung debutnya gagal. Lagipula dirinya dan Heechul juga harus ke Jepang secepatnya, menemani Ahra yang akan melahirkan. Kyuhyun tidak bisa ikut karena ujian. Ia yakin Kyuhyun tidak akan kesulitan dalam ujian. Namun tetap saja dia tidak bisa meninggalkannya sendirian dengan keadaan seperti itu. Kyuhyun tidak akan bunuh diri, ia tahu itu. Mungkin akan mogok makan lagi yang sama saja bisa berakhir tragis.

Hangeng memutar kunci mobil, mematikan mesin.

"Hannie, apa kau ingin ikut masuk?"

"Ya. Kupikir aku juga harus memberikan beberapa petuah dan beberapa pukulan agar otaknya kembali bergeser ketempat yang benar."

Heechul tertawa. "Kau memang harus melakukannya. Tapi Kyuhyun mungkin tidak akan suka, honey."

Heechul tersenyum puas. Suami tampannya akhirnya angkat tangan. Mana ada orang tua yang ingin anaknya menangis walaupun itu hanya semenit? Begitu pula dengan Hangeng dan Heechul. Kyuhyun harus selalu tersenyum.

"Tapi aku tetap tidak akan setuju kalau mereka cepat menikah." Hangeng mengangkat bahu.

"Berharap saja Kyuhyun tidak akan hamil lebih dulu."

.

"Bayi besar eomma yang cengeng. Aku membelikan ayam goreng dan jjajangmyeon kesukaanmu." Heechul meletakkan dua piring keatas meja disamping ranjang Kyuhyun. Anak itu masih betah membungkus tubuhnya seperti kepompong dengan selimut.

"Shireo~~"

"Makan atau kusuruh Han ahjussi memasang infus ditanganmu?" Ancam Heechul.

"Tapi aku tidak lapar, eomma."

"Kau pikir aku percaya? Kau itu punya perut seperti karet."

"Eomma~" Kyuhyun menahan selimutnya yang ingin disibak Heechul paksa. Dia yang menang dan mendengar ibunya itu mendecak.

"Kau ingin membunuh dirimu sendiri, hah? Kau pikir dengan begini Siwon akan kembali padamu? Kau mati lalu Siwon menyusulmu? Jangan berkhayal!" Dengan sentakan keras selimut berwarna biru itu tersibak, memperlihatkan Kyuhyun yang meringkuk.

Heechul memaksa Kyuhyun agar duduk lalu menyodorkan satu piring berisi mie hitam. Perlahan Kyuhyun menyuapkannya kedalam mulut. Jujur saja, dia memang sangat lapar.

"Dengar. Jika kau memang mau bersamanya, jangan hanya berdiam seperti ini."

"Aku ingin kali ini dia yang memperjuangkanku."

"Tapi setidaknya lakukan sesuatu. Buat dia tidak tahan untuk menginginkanmu." Heechul menyibak tirai jendela yang tertutup, membuat suasana kamar tidak terlihat suram lagi. Papan kayu menyilang masih terpasang disana. Alisnya naik. "Bocah-bocah itu masih saja disitu? Apa mereka dibuang orang tuanya?"

"Kenapa eomma tidak menyuruhnya masuk? Cuaca hari ini sangat dingin." Kyuhyun meletakkan piring kotornya dan beralih kepiring yang lain.

"Dia terus saja menggeleng dan berkata tidak." Bocah itu sekarang berjongkok didepan gerbang rumah.

"Harusnya kau membopongnya, eomma. Dia bisa hipotermia." Kyuhyun meninggalkan makanannya lalu beranjak kesamping Heechul, melihat bocah yang dibicarakan. Matanya seketika membulat melihat wajahnya. "Ya Tuhan, eomma! Dia calon cucumu!" Kyuhyun langsung berlari cepat.

"Oh, dia yang namanya Suho?"

...

"Suho~ya?" Kyuhyun cepat-cepat membuka pintu pagar.

Suho mendongak, mendengar suara yang familiar. "Kyu hyung~"

"Astaga apa yang kau lakukan disini?" Kyuhyun menangkup pipi Suho. Dingin. Sudah berapa lama ia berdiri disini? Jaket tebal coklat yang dipakainya hampir basah. "Bagaimana bisa kau kesini?"

"Keriseu."

Kyuhyun menoleh kesekitar dan menemukan Kris beserta sopirnya berjalan kearah mereka. "Ayo masuk, kau sudah kedinginan. Kalian juga."

"Ah tidak usah. Tuan Kris harus les setelah ini." Jawab sang sopir.

Kris menyodorkan satu kantung plastik pada Suho, yang baru dibelinya dari mini market. "Aku pulang dulu. Kyu hyung sudah ada. Besok kita bertemu lagi." Kris mengacak rambut Suho lalu membungkuk pada Kyuhyun untuk pamit.

"Ayo kita masuk." Kyuhyun meraih Suho kedalam gendongannya.

.

Kyuhyun menyodorkan segelas susu coklat hangat yang dibuat Heechul untuk Suho. Selimut yang membelitnya ia benahi, tubuh Suho masih terasa dingin walaupun suhu pemanas ruangan sudah ia naikkan.

"Kenapa tidak minta ahjussi untuk memencet bel?"

Kyuhyun menerima gelas kosong yang disodorkan Suho. Anak itu lalu menggeleng. "Kalau Kyu hyung sedang tidur, Suho akan mengganggu."

Kyuhyun tersenyum kecil. Suho sangat polos dan berhati murni.

"Tapi kenapa tidak masuk ketika noona mengajak?" Heechul berjongkok didepan Suho lalu memainkan pipi anak itu.

Kyuhyun memutar bola matanya, ibunya benar-benar tidak sadar umur. Dengan segera ia menampik tangan Heechul yang menganiaya makhluk lucu disampingnya. "Dia cucumu eomma." Gumamnya pelan.

"Aku tidak mengenal noona."

Kyuhyun ingin menepuk wajahnya mendengar jawaban polos Suho. Heechul tertawa puas.

"Tidak, jangan begitu sayang." Hangeng mengambil alih setelah melemparkan tatapan tajam pada istrinya. "Panggil kami dengan haraboji dan halmoni karena kami ayah dan ibunya Kyu hyung. Lagipula nanti Kyu hyung juga akan jadi ibumu, kan?" Hangeng mengusap bagian diatas bibir Suho yang ternoda susu.

Kyuhyun tersedak ludahnya. Sedikit kaget ayahnya berkata seperti itu. Setahunya ayahnya belum setuju mengenai hal itu. Ia menoleh menatap Heechul, bermaksud bertanya. Tapi ibunya itu hanya mengedipkan salah satu matanya.

"Eum." Suho tetap mengangguk walaupun wajahnya menampakkan kebingungan.

"Ingin bermain dengan halmoni?"

"Aniyo. Suho ingin bersama Kyu hyung saja."

Hangeng dan Heechul lalu pergi. Memberikan waktu untuk calon ibu dan anak itu melepas rindu. Mereka juga melihat bagaimana Suho sangat menempel pada Kyuhyun.

"Kenapa kesini?" Kyuhyun menarik Suho kepangkuannya lalu ia dekap agar suhu tubuh Suho cepat naik.

"Suho rindu Kyu hyung." Telunjuk Suho menggambar abstrak didada Kyuhyun.

"Halmoni tahu Suho kesini?"

Suho menggeleng. "Daddy?" Menggeleng lagi. "Minho hyung?" Kembali menggeleng.

Kyuhyun menghela nafas. Sedikit banyak ia tahu alasan kepanikan Minho di kafe tadi. "Jangan begini lagi. Mereka akan mengkhawatirkan Suho."

Suho mengangguk. Ia meminta turun dari pangkuan lalu meraih kantung yang tadi diberikan Kris. "Untuk hyung."

Kyuhyun yang penasaranpun membukanya. "Uwaahhhh." Matanya berbinar. Isinya coklat dan lolipop dengan jumlah banyak.

Suho merenggut kantung itu dari genggaman Kyuhyun. Kyuhyun langsung saja merengut. "Suho akan memberikannya kalau Kyu hyung mau pulang." Kantung itu disembunyikan dibalik punggungnya.

Kyuhyun tidak tahu harus tertawa atau terharu. Suho sangat lucu, memperlakukannya seperti anak seumurnya. Tapi disisi lain dirinya merasa sangat dicintai. Ia tidak tahu jika Suho mencintainya sebesar ini. Ia pikir Suho seperti anak lainnya yang hanya akan bertanya kapan ia akan pulang tanpa berbuat apa-apa.

"Tapi ini rumah hyung."

Suho menggeleng keras. "Ani! Rumah Suho, itulah rumah Kyu hyung!"

Kyuhyun menarik Suho kedalam pelukan. Puncak kepalanya ia kecup. "Kyu hyung akan pulang, tapi tidak bisa sekarang."

"Wae?" Mata Suho mulai berkaca-kaca.

Bagaimana Kyuhyun harus menjelaskan situasinya? Mungkin Suho akan mengerti, tapi ini bukanlah ranah anak sekecil Suho. "Hyung juga harus menjaga appa dan eomma."

"Tapi... Suho..."

"Yang pasti Kyu hyung akan pulang." Setelah ayahmu menjemputku.

"Jinjja?"

Kyuhyun hanya bisa memberi anggukan. "Nah, sekarang Suho makan dulu."

Kyuhyun mengambil ponselnya sambil memperhatikan Suho yang makan dengan lahap. Siapa yang harus ia hubungi? Mereka pasti sangat khawatir, mengira ada sesuatu yang buruk terjadi pada Suho. Siwon? Dia ayahnya, orang yang pastinya paling cemas. Hal ini juga bisa ia manfaatkan untuk bertemu. Menunjukkan bahwa tidak hanya dirinya yang membutuhkan Siwon, Suhopun sangat membutuhkan dirinya. Sebelum icon call ditekan, bel rumah lebih dulu berbunyi.

.

Keheningan menyelimuti mereka berdua, entah sudah berapa lama. Kali ini Minho lebih memilih diam, tidak bersikap menyebalkan. Suho bersama ayah dan ibunya, setelah berhasil membujuknya dengan iming-iming melihat akuarium besar dibagian belakang rumah.

"Bagaimana kau tahu Suho ada disini? Aku belum memberi tahu siapapun."

Minho mengangkat bahu. "Hanya menebak."

Kyuhyun melirik Minho yang duduk disampingnya sekilas. "Apa yang akan kau bicarakan di kafe tadi? Sebelum pergi?"

Minho menghembuskan nafas kasar. Punggungnya ia sandarkan disofa dengan kedua tangan dibelakang kepala. "Aku menyukaimu."

"Kau tidak perlu mengulang kalimat itu lagi." Ujar Kyuhyun dengan kesal.

"Aku belum bisa menerimamu sebagai ibuku. Calon." Sambar Minho.

Walaupun sudah tahu, tapi rasa nyeri tetap hinggap dihatinya. "Aku tahu itu. Tapi apa alasanmu?"

"Tidak ada dari kita yang menjalani hari dengan baik selama seminggu ini."

Kyuhyun memilih diam, menunggu Minho untuk melanjutkan bicara.

"Kau tahu alasan pertama."

Tangan Kyuhyun saling meremas, gugup. Tidak sabar ingin mendengar kalimat lanjutan Minho. Takut, jika alasan Minho terlalu kuat hingga bisa memukulnya mundur. Menyerah akan cintanya.

"Keluargaku bisa dibilang sempurna, tapi aku tidak merasakan semua itu. Aku tidak mau Suho juga mengalami nasib yang sama denganku. Hanya merasakan beberapa tahun pelukan seorang ibu. Seorang ayah dalam kasusku."

Minho menerawang ke masa lalu dimana ia masih berumur lima tahun tiba-tiba mendapatkan ayah. Dia tidak seperti Suho yang mudah akrab dengan orang lain. Dirinya membutuhkan banyak waktu untuk dekat dengan Siwon walaupun ia adalah ayah kandungnya. Disaat sudah sangat dekat ia harus terpisah lagi karena Siwon menjalani wajib militer. Setelah empat tahun ia kembali hidup hanya bersama ibunya, juga ayah tirinya.

"Ibuku yang sudah berusia matang saja bisa berpaling. Apalagi kau, yang masih berumur belasan tahun."

Kyuhyun menatap Minho yang masih setia melihat langit-langit ruangan. Ada kesedihan, kecewa dan luka dimatanya. Sedikitnya ia mengerti perasaan Minho, ditinggal orang tua. Merasa asing tinggal dirumah sendiri. Tapi dirinya masih bisa bersandar pada Ahra yang merasakan itu juga. Sedangkan Minho? Ibunya pasti lebih memperhatikan ayah tirinya dibanding Minho. Apalagi dia juga akan mempunyai adik. Semua perhatian akan tercurahkan pada sang adik. Mungkin itu sebabnya Minho pindah kesini, mencari perhatian pada sang ayah tetapi ternyata ayahnya memiliki kekasih. Membuatnya marah hingga membenci Kyuhyun yang merebut perhatian Siwon juga Suho.

"Aku memang tidak bisa menjamin bahwa aku akan selalu disamping ayahmu, memberikan perhatian lebih untukmu dan Suho karena aku tidak tahu bagaimana jalan takdirku. Aku hanya bisa berusaha untuk mempertahankannya."

Tidak mudah memang menghilangkan trauma, sekalipun ia mengalaminya sewaktu kecil. Masih segar diingatan Minho bagaimana ayah dan ibunya beradu argumen hingga berujung perceraian. Dikamar dirinya yang memegangi botol susu Suho untuk menenangkan sang adik agar tidak menangis. Siwon yang memeluk dirinya sambil menangis dan meminta maaf atas segalanya. Diusia tiga belas ia hanya tahu mereka akan berpisah, dia meninggalkan ayah dan adiknya yang masih terlalu kecil. Semuanya selalu terbayang-bayang dikepalanya dengan jelas.

"Aku mengerti bahwa Suho membutuhkan figur seorang ibu yang akan mengurusnya, menjelaskan hal-hal kecil padanya. Tapi aku yang belum bisa, tidak siap. Takut."

"Kami saling mencintai."

"Ya. Itulah perbedaan kau dan ibuku."

Pernikahan tanpa cintapun bisa bertahan, mereka bisa berpegang pada komitmen. Tapi ibunya tidak mau. "Tapi walaupun mereka tidak saling mencintai, sikap mereka seperti kau dan Daddy."

"Aku tidak bisa melepaskan Siwon hyung. Bahkan aku ingin cepat-cepat terikat dengannya. Karena aku takut, justru dia yang berpaling dariku."

Helaan nafas pelan keluar dari bibir Minho. Dirinya tahu, ia sudah kalah sebelum berperang. Minho menoleh, memperhatikan Kyuhyun. Ia bisa melihatnya, bagaimana tatapan cinta dan memuja itu hanya ditujukan untuk ayahnya. Begitupun sebaliknya. Dua orang ini seperti mayat hidup selama seminggu ini. "Bisakah kau menundanya untuk beberapa tahun kedepan?"

Kyuhyun menoleh dengan cepat, terlalu kaget dengan respon Minho. Minho memang beberapa kali memanggilnya dengan sebutan Mommy. Yang semuanya hanya main-main atau untuk menggodanya, sehingga dia selalu ragu. Tapi kali ini, kesempatan untuknya kah? Bolehkan ia berharap begitu? Kyuhyun lalu memundurkan punggungnya, posisi yang sama dengan Minho. "Setidaknya kami bisa bertunangan dulu. Apa kau masih keberatan?"

"Biarkan aku menghilangkan perasaanku dulu." Dia sudah mencoba merelakan, namun rasa sesak tetap saja memenuhi sudut hatinya. Cintanya pada Kyuhyun memang tidak sebesar dan sedalam ayahnya. Rasa sakit akan penolakan dan rasa takut tersakiti kembali menggelayuti hatinya.

Kyuhyun menahan teriakan kemenangannya. Akhirnya ia mendapatkannya! "Carilah orang lain. Taemin misalnya?"

Minho menegakkan punggungnya dengan cepat. "Kenapa kau selalu membawa si rambut jamur itu sih?!"

Kyuhyun hanya mengerjapkan matanya polos, kontras dengan Minho yang dipenuhi rasa kesal. "Apa? Kau terlihat menyukainya."

"Yang benar saja?! Apa yang bisa disukai darinya? Dia terus saja membuatku risih, suka merengek dan menempel. Aku benci orang seperti itu." Minho membanting punggungnya kesandaran sofa. "Kau saja tidak sadar kalau aku menyukaimu, bisa-bisanya kau berkata aku menyukai Taemin. Lucu sekali." Cibirnya.

Kyuhyun menahan sudut bibirnya yang ingin menciptakan senyum. Minho sesungguhnya hanya membutuhkan teman yang bisa diajaknya berbagi dan bersenang-senang juga bisa memperhatikannya. Kyuhyun baru menyadarinya sekarang, hanya dengannyalah Minho bersikap menyebalkan.

"Bagaimana bisa aku tahu, kalau kau saja selalu bertingkah menjengkelkan? Bagian mananya yang terlihat menyukai?" Kyuhyun meraih sebatang coklat untuk dimakannya. Suasana sudah tidak mengharuskannya untuk menahan lapar.

"Because it's my style."

"Kau juga menjengkelkan saat bersama si bocah lintah."

Minho menggeram, tangannya mengepal, menahan diri untuk tidak mencekik Kyuhyun yang terus saja mengatakan kesimpulan memuakkan baginya. "Kenapa kau tidak memilihku?"

"Tentu saja karena aku lebih, sangat sangat sangat menyukai Siwon hyung."

"Nah, begitu juga denganku. Aku juga lebih menyukaimu. Jadi berhentilah menyebut nama bocah itu."

"Kenapa kau menyukaiku?"

"Kau cantik."

"Aku tampan!"

"Kalau kau tampan, kau akan lebih memilih pria-pria manis. Bukan daddy yang jelas-jelas tampan." Minho menarik sudut bibirnya melihat Kyuhyun yang mendumel tanpa suara.

"Taemin itu cantik, imut. Apa yang kurang?"

"Dia berbeda denganmu." Minho mendekatkan bibirnya ketelinga Kyuhyun, berbisik. "Bokongmu adalah daya tarik utama."

"Sialan kau Choi Minho!" Kyuhyun membuang sisa coklatnya dan dengan cepat meraih bantal sofa. Melakukan hal sama yang pernah ia lakukan pada Eunhyuk beberapa waktu lalu.

.

Siwon melonggarkan dasinya sambil menutup pintu mobil. Kepalanya pusing memikirkan banyak hal. Orang tua Kyuhyun mendatanginya, mendesaknya, menceramahinya, menyalahkannya atas keadaan Kyuhyun yang tidak baik-baik saja. Pukulan kembali ia dapatkan, kali ini dari Hangeng. Ia tidak mengira hal ini karena pembawaan Hangeng terlihat sangat tenang, tipe orang yang menyelesaikan masalah dengan diskusi baik-baik. Pengaruh dari Heechul mungkin. Mereka akhirnya pergi setelah Siwon berkata jika ia akan mengembalikan keadaan seperti semula, Kyuhyun akan bersamanya. Dia juga sudah sangat tersiksa.

Siwon menghela napas, cukup kasar hingga terdengar. Didepan pintu rumah terbaring Bugsy dan Mojo. Mereka yang biasanya menggonggong senang dengan kedatangannya kini hanya berbaring lesu. Ikut merasa sedih karena keadaan rumah yang cukup berantakan. Terlebih majikan kecil mereka yang tidak terlihat sama sekali. Siwon mengusap kepala dua anjing berbeda jenis itu lalu menyuruh mereka masuk.

.

Siwon membaringkan kepala kesofa dibelakangnya. Mengerjakan pekerjaan kantor hanya menambah penat saja. Ia melirik pintu kamar Suho yang tertutup. Ada Kyuhyun didalam sana. Ia cukup terkejut ketika tadi sore selesai mandi mendengar celotehan riang Suho, ikut membawa Kyuhyun kemari. Ia pikir Kyuhyun benar-benar akan menunggunya untuk menjemput. Tapi sepertinya Suho yang memaksa.

Ia kesal pada dirinya sendiri. Disaat peluang terbuka lebar didepan matanya, ia malah tidak melakukan apa-apa sebagai usahanya untuk memperbaiki semuanya. Tidak ada satu katapun terucap dari bibirnya maupun Kyuhyun. Ia bingung bagaimana harus memulainya, sedangkan keduanya sama-sama tahu jika mereka butuh melampiaskan kerinduan yang sudah menumpuk. Kyuhyun menghindarinya, ia maklum akan hal itu. Itu bentuk kekecewaan dan rasa marah padanya yang bersikap pengecut.

Siwon menjulurkan tangannya, tapi hanya udara kosong yang ia raih. Ia menegakkan kepala dan mendapati Minho sudah berdiri disebelahnya. Laptopnya juga sudah tertutup, kaleng birnya sudah berada jauh dari tempatnya semula.

Minho menyodorkan segelas teh hangat pada Siwon lalu duduk disebelahnya. Tiga kaleng diatasnya ia singkirkan jauh-jauh, satu kaleng sudah kosong. Seminggu ini tiap pagi ia akan mendapati botol minuman beralkohol ditempat sampah. Ayahnya yang dikenal sangat menjunjung tinggi tentang hidup sehat menyentuh minuman memabukkan juga batang tembakau penuh nikotin. Artinya masalah putus cintanya sangat membebaninya. Bahkan saat skandal dan perceraiannya dulu ia tidak sampai seperti ini. Terpuruk tapi tidak separah ini.

"Apa Suho pergi untuk menemuinya?"

"Ya." Jawab Minho lalu meneguk coklat hangatnya. Ia menoleh, ayahnya memejamkan matanya dengan dahi yang berkerut dalam.

"Apa yang daddy pikirkan?"

"Banyak hal." Siwon memijit pangkal hidungnya. Dia baru merasakan efeknya sekarang, minum berkaleng-kaleng bir, tidur kurang dari tiga jam sehari. Menyibukkan diri dengan pekerjaan dan syuting untuk drama terakhirnya sebelum benar-benar mundur dari dunia hiburan. Berusaha menyingkirkan Kyuhyun untuk sejenak tapi itu sia-sia.

"Sejak kapan kau menyukai Kyuhyun?"

Minho meneguk birnya yang langsung disesalinya. Rasanya sangat tidak enak. "Sejak daddy mengirimkan fotonya pertama kali mungkin?"

"Lalu kenapa kau tidak menghubungiku dan marah-marah seperti biasanya?"

"Karena kupikir kalian tidak sungguh-sungguh, hanya ingin meredam gosip itu saja."

Bibir Siwon tertarik keatas. "Kesepakatan awal. Tapi beberapa hal berubah. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?"

Minho menggangguk, masih ingat perkataan Siwon di kedai es krim. Dan disanalah dia juga tahu itu semua.

"Itu juga yang membuatmu semakin gencar menyodorkan Kibum padaku?"

Minho mendecak, kesal dengan rencananya yang gagal. "Ya. Kupikir dengan itu Kyuhyun akan mundur, cemburu. Tapi-" Minho menggelengkan kepala.

"Dia berbeda dengan remaja pada umumnya. Ia tipe orang yang keinginannya harus terwujud, miliknya tak boleh disentuh. Kau mengganggunya, kau mendapatkan dua kali lipat balasan darinya."

"Daddy sangat memahaminya." Minho menatap kaleng bir dipangkuannya yang ia goyangkan.

"Tapi aku adalah ayah yang buruk. Yang paling buruk didunia mungkin." Siwon ingin menghantam sesuatu jika mengingat hal ini. Putranya memberontak dan sudah dengan jelas mengutarakan apa yang dia inginkan, tapi dirinya tetap tidak melakukan hal itu. Sibuk dengan urusan hatinya sendiri, mengabaikan kemungkinan putranya menumbuhkan rasa marah yang lebih besar.

"Maafkan daddy yang selalu menjadikanmu nomor yang kesekian."

"Bukan sepenuhnya salah daddy." Tidak dipungkiri pernah ada rasa benci dihatinya untuk kedua orang tuanya. Ia iri melihat anak-anak lain yang bebas bersama orang tuanya kapan saja dan dimana saja. Sedari kecil dia hanya bersama neneknya, ibunya sibuk bekerja. Dia senang ketika mendapatkan ayah karena ibunya akan bersamanya dirumah. Semuanya musnah ketika ibunya bertemu Henry dan mengandung Suho. Ia merasa dipermainkan. Mereka datang dan pergi sesuka hati, memberikan kebahagiaan semu untuknya.

"Semuanya salah daddy. Jika saja aku tahu dulu ibumu hamil dirimu, jika aku tidak dibutakan karir, juga jika aku bisa mencegah perceraian itu. Kau akan mendapatkan yang seharusnya, mendapatkan yang lebih baik dan lebih dari ini."

"Semuanya sudah terjadi Dad." Lirih Minho.

Siwon menghembuskan nafas dengan kasar. Dia sudah mendapatkan pelajaran dari semua ini. Sudah saatnya dia memperbaiki diri, memberikan apa yang tidak bisa ia lakukan dulu. "Maafkan aku."

"Kenapa Daddy melepaskannya?"

"Aku tidak melepaskan Kyuhyun sepenuhnya. Hanya sementara sampai orang yang mencelakainya tertangkap. Setidaknya jika tahu aku dan Kyuhyun sudah tidak bersama, ia akan berhenti. Begitu juga dengan komentar pedas fansku."

"Daddy memang melindungi fisiknya, tapi tidak dengan hatinya."

"Ya. Aku juga tahu. Dan aku juga mendapat predikat kekasih terburuk."

Minho menegakkan tubuhnya, mengamati Siwon lamat-lamat. "Jadi Daddy melepaskannya bukan karenaku?"

Siwon tertawa kecil tanpa suara. "Kau kecewa?"

"Tidak juga sih."

"Maafkan Daddy yang masih saja egois dan menjadikanmu tameng."

"Baiklah, aku sedikit sedih mendengarnya. Tapi tidak apa-apa."

Siwon memperbaiki cara duduknya dengan benar, menghadap Minho. "Tidak apa-apa jika aku bersama Kyuhyun?" Siwon menunggu dengan was was jawaban dari Minho. Ini pertama kalinya ia meminta restu pada putra sulungnya secara langsung. Tubuhnya yang semula menegang kini mulai rileks melihat Minho yang tersenyum.

"Ya. Asalkan Daddy tidak menikahinya dengan segera. Biarkan aku memilikimu dulu." Minho menggaruk rambut belakangnya, merasa aneh dengan kalimatnya.

"Ya ya aku tahu. Cho Hangeng akan memenggal kepalaku jika aku melakukannya." Siwon meraih kaleng bir yang sebelumnya disingkirkan Minho, membukanya lalu meneguk isinya.

"Apa Hangeng ahjussi juga semengerikan itu?" Bola mata Minho membesar, merasa tidak percaya. Hangeng terlihat lebih ramah dibanding istrinya. Ia merebahkan punggungnya lagi. Calon ibunya yang barbar, kakek dan neneknya yang tidak berbeda jauh. Berharap saja tekanan darahnya tidak cepat naik.

"Ya. Jika itu menyangkut putra kesayangannya."

.

Siwon berjalan menghampiri ranjang, mencium pelipis Suho lalu beralih kesamping Kyuhyun yang tidur. Dengan hati-hati ia merengkuh tubuh Kyuhyun untuk ia gendong. Ranjang Suho tidak akan cukup untuk mereka berdua, terlebih dengan kebiasaan tidur Kyuhyun. Bisa-bisa anak itu akan jatuh kelantai berkali-kali.

Kyuhyun bergerak dan perlahan membuka matanya ketika Siwon baru saja membaringkannya diranjang mereka.

"Kau lapar? Aku akan menyiapkan makanan untukmu."

Kyuhyun tak merespon, hanya melihat Siwon yang beranjak keluar kamar. "A-apa apaan itu?! Apa aku terlihat seperti orang yang kelaparan setiap saat?!"

Dengan kesal Kyuhyun turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Dia butuh mandi karena badannya terasa lengket padahal ini musim dingin tapi keringatnya tetap saja keluar. Ia juga merasa butuh merilekskan diri agar tidak berakhir marah-marah pada Siwon karena sikapnya yang membuatnya jengkel.

Nampan yang dibawanya hampir saja terjatuh ketika melihat Kyuhyun yang berdiri didepan kamar mandi.

"Kau kenapa? Kenapa hanya berdiri disitu? Aku sudah lapar." Kyuhyun berusaha untuk menutupi seringaiannya dengan berkata polos sambil berjalan ke meja belajar lalu duduk, menunggu Siwon mengantarkan makanannya. Mulut pria itu masih membuka lebar, shock atas apa yang dilihatnya.

Siwon duduk diatas ranjang setelah meletakkan nampannya. "Kenapa kau memakai itu? Sebagian pakaianmu masih disini."

Itu rencana B Kyuhyun, meninggalkan satu koper dirumah ini. Berharap bisa menyeret Siwon untuk menemuinya. Tapi tidak terjadi. Sepertinya pria itu tahu taktiknya. "Mwo? Wae? Aku suka baju ini."

Siwon menelan ludah, tenggorakannya tiba-tiba kering. Bagaimana dia bisa biasa saja melihat sang kekasih didepan matanya hanya menggunakan sweater berwarna putih miliknya? Dan sial. Kyuhyun malah duduk bersilang kaki, menyebabkan sweaternya tersingkap, memperlihatkan paha putihnya.

"Ini musim dingin, Kyu. Apa kau tidak kedinginan?"

"Ani. Penghangat ruangan sangat membantu. Apa kau tidak merasakannya?" Kyuhyun meneguk segelas susu. Ia tidak perlu banyak waktu hanya untuk makan.

"Ah!" Kyuhyun melompat dari kursinya. Siwon kembali menelan ludah karena sweaternya tersingkap lebih banyak untuk sedetik. "Apa kau sudah tahu?"

"Apa?" Siwon makin merapatkan kakinya. Ia tidak tahu hal gila apalagi yang akan dilakukan kekasih kecilnya ini.

Siwon melotot melihat Kyuhyun mengangkat kaki lalu menyingkap sweaternya. Kyuhyun menepuk pahanya. "Lihat! Pahaku mengecil!" Kyuhyun lalu berbalik. "Bokongku juga. Tidak sebesar dan sekenyal dulu." Tangannya menangkup pantatnya, menepuk sambil meremasnya sedikit. Ia berbalik kembali. Kali ini menarik kerahnya. "Lihat! Tulang selangkaku terlihat! Ah! Ah! Juga-"

"CHO KYUHYUN STOP!" Teriakan Siwon menghentikan tangan Kyuhyun yang memegang ujung sweater, bersiap menariknya keatas. Sejak kapan kekasihnya menjadi seliar ini?!

"Waaaeeee? Aku hanya ingin menunjukkan padamu kalau berat badanku sudah turun juga perutku berubah datar. Kau sangat tahu bagaimana aku sangat menginginkan ini, kan?"

Siwon memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menyangka jika pembalasan dendam Kyuhyun akan semenyakitkan ini. Sangat ampuh membuatnya menderita. Membuat benda berharganya berkedut. "Kau tahu apa yang kau lakukan ini sayang?" Siwon bertanya dengan mulut yang hampir tertutup rapat.

"Mwo?" Kyuhyun melipat tangan didepan dada. Dia berusaha menahan senyum puasnya. Siwon menekan bantal dipangkuannya. "Ah sudahlah. Kau berbelit-belit. Aku ingin tidur."

Siwon menghembuskan nafas, bersyukur Kyuhyun mengakhirinya. Iapun beranjak untuk membawa piring kotor kedapur.

Tapi dugaannya salah. Penyiksaan untuknya masih berlanjut. Kyuhyun menggosok-gosokkan kaki telanjangnya kekaki Siwon. Dengan penuh rasa sabar Siwon bertanya, "kau kenapa?"

"Gatal hyung, disini." Kyuhyun membawa tangan Siwon kepahanya paling atas, menggaruknya. Siwon mengepalkan telapak tangannya, menahan diri untuk tidak lepas kontrol.

Setengah jam kemudian Kyuhyun berbalik. Mendesak, merapatkan tubuhnya bagian belakang pada Siwon dengan alasan, "punggungku dingin, hyung." Siwon akan baik-baik saja jika saja pantat Kyuhyun juga tidak ikut bergerak menekan-nekan selangkangannya! Kyuhyun melakukannya dengan sengaja, ia tahu. Tapi ini sudah berlebihan. Ia tidak bisa menahannya lagi!

Siwon bangkit lalu menindih Kyuhyun. Lengannya berada disisi tubuh Kyuhyun, mencegahnya untuk pergi.

"Hyung, apa yang kau lakukan? Kau ini berat, tahu tidak?" Kyuhyun mendorong Siwon menjauh tapi pria itu tidak bergerak. Tidak. Siwon tidak akan berbuat sejauh itu kan? Ia hanya ingin menggoda pria itu sedikit.

"Kau kedinginan, kan? Aku bisa menghangatkanmu dengan cepat. Kau mau mencoba metode dariku?" Siwon tersenyum miring. Setan kecil dibawahnya ini tidak tahu telah membangkitkan sang iblis.

"A-a-a-ani. Aku sudah merasa hangat kok." Kyuhyun beringsut mundur. Rasa takut tergambar diwajahnya. Ia bisa melihat gundukan diselangkangan Siwon. Mati riwayatnya malam ini.

"Rileks saja, Kyu. Ini tidak akan lama juga tidak menyakitkan."

Siwon mulai menundukkan kepalanya. Tangan kanannya memegang pinggang Kyuhyun, mengelusnya, menenangkan Kyuhyun yang tubuhnya menegang. Bibirnya mulai melumat bibir sintal Kyuhyun, mengulumnya. Tangannya beralih memegang rahang Kyuhyun, mencegahnya untuk bergerak-gerak. Lidahnya menekan-nekan, mengisyaratkan agar Kyuhyun memberinya akses. Jemarinya menekan pipi Kyuhyun, memaksanya untuk membuka bibir.

Kyuhyun berusaha menutup bibirnya. Tangannya yang merenggut sisi baju Siwon, mencoba menjauhkan tubuh kekarnya, dengan mudah dicengkram Siwon lalu dikuncinya keatas kepala hanya dengan satu tangan. Panik menguasainya. Dia tidak bisa melakukan apapun. Kedua kakinya sudah ditindih Siwon, mencegahnya untuk melakukan pemberontakan. Ia ingin berteriak tapi itu hanya akan memudahkan Siwon untuk memasukkan lidahnya. Kyuhyun akhirnya menyerah setelah bibirnya digigit. Tidak ada pilihan lain ia kemudian mulai menikmatinya, berusaha mengimbangi permainan lidah yang lebih tua. Tidak apa-apa pikirnya. Toh dia akan kehilangan keperawanan -keperjakaan- nya ditangan kekasihnya sendiri, calon suaminya. Ia percaya pada Siwon. Dia juga yang memancingnya lebih dulu. Dirinya yang mencari masalah.

Siwon meninggalkan bibir Kyuhyun, beralih ke leher jenjangnya. Ia melepaskan cengkraman ditangan Kyuhyun setelah yakin Kyuhyun tidak akan melawan. Ia mengecupinya, membuatnya basah tanpa membuat tanda. Erangan dan desahan Kyuhyun membuatnya gila. Pundak putih Kyuhyun ia gigit, disesap dibeberapa tempat.

"Eeeeeuunnggghhh." Kyuhyun melenguh kala jemari Siwon menelusup dan mencubit puncak dadanya, sesekali memelintir. Tapi ia belum merasa cukup dengan ini, ia ingin lebih. Kyuhyun mendorong Siwon, menggulingkannya kesamping lalu menduduki perutnya.

Siwon menatap Kyuhyun yang berada diatasnya, mengambil nafas dengan bibir terbuka seolah hidungnya tidak berfungsi. Rambut ikal itu dalam sekejap telah basah dan berantakan. Matanya sayu, terselimuti kabut nafsu. Mengundang siapa saja untuk segera menyentuhnya.

Kyuhyun melepas sweaternya dan melemparnya sembarang, hanya menyisakan celana dalamnya. Membuat tubuh putihnya yang mengkilat karena keringat terekspos. "Persetan dengan apa yang kau pikirkan dan semuanya!"

Bak kerasukan, Kyuhyun melepas paksa kaos Siwon. Wajahnya ditangkup Kyuhyun, bibirnya dilumat habis, disesapnya dengan rakus dan digigit hingga berdarah. Tangannya sibuk mengelus punggung telanjang Kyuhyun selagi Kyuhyun melakukan apa yang ia lakukan sebelumnya, dengan tidak sabaran. Tidak buruk untuk pemula, ia melakukannya dengan cukup bagus. Leher, jakun, pundak, dada, perut lalu kembali kebibir. Cium, gigit, hisap, jilat. Siwon sangat menikmatinya, birahinya meningkat seiring dengan semakin intensnya Kyuhyun secara tidak sadar menggesekkan daerah pribadi mereka.

Siwon membalik posisi ketika Kyuhyun mulai membuka kait kancing celananya. Napas hangat mereka saling menerpa wajah. Mata mereka beradu, jelas terlihat menginginkan satu sama lain.

"Lakukan." Ucap Kyuhyun. Ia mengerat gigi melihat Siwon menggeleng. Apa yang dipikirkan pria itu?! Mereka sudah setengah jalan! Dia juga tidak menolaknya seperti pertama kali.

Siwon masih menyelami mata Kyuhyun, mencari setitik keraguan. Ia tidak ingin Kyuhyun menyesal nantinya. "Maafkan aku. Kuharap kau tidak akan menyesal."

Tanpa menunggu respon dari Kyuhyun, Siwon mempertemukan bibir mereka. Tangannya mulai bekerja didada Kyuhyun. Meremasnya, memberikan rangsangan yang membuat keduanya semakin gila. Kyuhyun meremas rambut pendek Siwon sebagai pelampiasan atas sensasi yang ia rasakan. Menekannya agar memberikan servis lebih pada dadanya. Siwon menjilat, memutari sekitar tonjolan didada Kyuhyun secara bergantian. Sesekali menggigit.

"Aaaaummmmhhh fuck!" Umpat Kyuhyun.

Ciuman Siwon mulai turun, ia memberikan kecupan bertubi-tubi dibawah pusar Kyuhyun membuat lelaki 17 tahun itu mengerang tidak sabar. Jemari Siwon berhenti ditepi celana dalam Kyuhyun. Ia mendongak, bertanya pada sang kekasih. Kyuhyun menggangguk memberikan persetujuan. Dengan itu Siwon meloloskan kain terakhir itu melewati kaki jenjang Kyuhyun. Dari ujung jari kaki kecupan Siwon bermula, meninggalkan jejak yang membakar dan berakhir dipangkal paha Kyuhyun.

"Kau sangat cantik sayang."

Siwon menarik Kyuhyun agar duduk dipangkuannya. Belakang telinga Kyuhyun yang sensitif ia tiupi, ia tinggali tanda. Tangannya bekerja didada Kyuhyun, menarik-narik puncak dadanya. Tangan yang lain memberikan servis pada daerah pribadi Kyuhyun, mengurut, meremas seraya mulutnya bekerja mengulum daun telinga Kyuhyun. Memberikan kenikmatan pada Kyuhyun secara penuh.

"Aaaahhh aaahhh hyung... celana... aaahhhh..." Kyuhyun membuka dan menutup matanya. Testisnya diremas dan dielus. Ia bisa merasakan cairannya perlahan mulai keluar.

"Ssssttttt. Nikmati saja sayang."

Kyuhyun menggelengkan kepala, tidak sanggup menerima gelombang kenikmatan yang diberikan Siwon. Ia juga ingin memberikannya pada pria itu, tapi Siwon tidak memberikan kesempatan itu dengan terus menyerangnya. Membuatnya melayang, terlena dengan buaiannya.

"Aaahhh aaahhhh ahhhhh-" Desahan Kyuhyun semakin keras kala ia merasakan puncaknya semakin dekat. Ada yang ingin meledak dari dalam tubuhnya. Cairannya sudah berkumpul diujung, minta segera dilepaskan. "Aaaaahh cepat hyung aaaahhh cepat..." Nafasnya makin memburu.

"Aaahhhh." Desah Siwon. Kyuhyun menggerakkan pantatnya. Ia tidak menampik bahwa ia tersiksa. Tapi ia sudah menetapkan bahwa sampai disini batasnya.

Siwon menciumi leher Kyuhyun kembali. Dibawah sana tangannya bekerja naik turun dengan cepat.

"Aaakkkhhh aaakkhhh aaaaahhhhhhhh." Kyuhyun mendesah panjang sambil memejamkan matanya, ia sudah mencapai puncak.

Siwon mencium bagian antara leher dan pundak Kyuhyun. Dengan susah payah, karena Kyuhyun sepenuhnya bersandar padanya, ia menarik beberapa lembar tisu dari meja nakas. Ia membersihkan tangannya juga perut Kyuhyun yang terkena cairan Kyuhyun. Tak lupa dengan hati-hati ia membersihkan daerah pribadi Kyuhyun dan sekitarnya.

Kyuhyun masih memejamkan matanya sambil menormalkan nafasnya yang menderu. Hebat. Pengalaman paling hebat yang pernah ia alami. Matanya terbuka lebar, seolah tersadar ia bangkit menjauh dari Siwon. Ia menatap selangkangan pria itu, gundukan itu masih disana. Sedangkan Siwon memejamkan matanya, menggigit bibir. Ringisan terdengar pelan akibat menahan diri dari rasa sakit.

Siwon menangkap tangan Kyuhyun yang sudah ingin menurunkan retsleting celananya. Kepalanya ia gelengkan. "Jangan."

"Tapi-"

"Jangan, Kyu."

"Tapi kau tersiksa hyung! Biarkan aku membantumu!" Kyuhyun nyaris saja membentak karena kekeras kepalaan Siwon. Bagaimana bisa dia hanya diam saja setelah pria itu membantu melepaskan hasratnya?!

"Tidurlah. Kau pasti lelah."

"Hyung!"

Siwon membuka matanya. "Aku bisa mengurusnya sendiri. Jangan membantah." Potong Siwon saat Kyuhyun terlihat membuka bibirnya.

"Kau-"

"Jangan salah paham." Ucap Siwon menghentikan pikiran negatif diotak Kyuhyun. Ia menggerakkan ibu jarinya dipipi Kyuhyun. "Aku tidak mau melakukan hal yang lebih jauh bukan karena aku tidak menginginkanmu. Tapi aku masih ingin menjagamu dengan baik."

"Hyung~"

"Iya aku tahu kau mungkin tidak keberatan tapi aku iya. Aku yang memutuskan seperti ini." Siwon beranjak, mengambil piyama dan menyerahkannya pada Kyuhyun. "Pakailah lalu tidur."

Kyuhyun memandang pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. "Terima kasih." Gumamnya. Ia sangat beruntung memiliki kekasih seperti Siwon, yang bisa mengimbangi sifat kekanakannya. Yang tetap memprioritaskan dirinya. Membina hubungan yang sehat, tidak menuntut kebutuhan seksual.

Tapi tunggu! Pria itu sudah melihat tubuhnya. Sudah menyentuh setiap inchi nya. Ini tidak adil! Kyuhyun membanting tubuhnya kekasur dan mengeluarkan jeritan tertahan.

.

"Hyuk hyung, ini menakutkan." Ryeowook memandang sekelilingnya yang gelap. Lampu penerangan terdekat berjarak 20 meter dibelakang mereka.

"Ryeong! Berhenti mendorong. Aku tidak bisa bernafas." Eunhyuk mencoba mendorong Ryeowook menjauh tapi tidak berhasil. Pegangan anak itu ditangannya sangat erat. "Dan Hae! Berhenti menyorotkan senter kearah loker. Itu malah menakutinya."

"Tapi disana gelap Hyukkie. Bagaimana kita bisa melihatnya jika seperti itu?" Protes Donghae.

Eunhyuk meniup poninya kesal. Sudah ia duga ini tidak akan berhasil. Pengintaian mereka untuk pertama kalinya disekolah sejak malam. Cara paling jitu. Tapi tidak saat membawa teman dan kekasihnya ini. Ia merebut senter dari tangan Donghae. "Lihat! Itu cukup terang untuk melihatnya. Kita akan mengikutinya dari belakang. Hae, kau bertugas merekam." Eunhyuk menyerahkan handycam. "Cukup merekam. Jangan sentuh yang lain." Peringatnya. Ia cukup paham kalau tangan Donghae sangat bahaya. Barang apapun bisa saja rusak jika disentuhnya.

"Kau Ryeong, potret dia sebanyak yang kau bisa. Jangan gunakan flash!"

"Oke." Jawab Ryeowook lalu mulai mengotak-atik ponselnya.

Untuk yang kesekian kalinya Eunhyuk memeriksa jam. Sudah lebih dari tiga jam mereka disini, tapi pelaku penempelan sticky notes diloker Kyuhyun belum muncul juga.

"Hah! Kali ini aku yang menang Ryeong. Lihat, nyamuk yang aku dapatkan lebih besar." Donghae mengarahkan handycam ketelapak tangannya, dimana si nyamuk berada.

Dengan menggerutu dan tidak rela Ryeowook menyobek rotinya lalu menyuapkannya pada Donghae. Oh dia hanya menang tiga kali dan kalah sebanyak delapan kali. Ia merasa rugi, rotinya hampir habis.

Eunhyuk hanya menguap, tidak ingin ikut campur kedalam permainan konyol mereka. Jika saja sekolah tidak menyeramkan, ia lebih memilih bekerja sendiri. Ia nyaris saja tertidur jika Ryeowook tidak menepuk pipinya.

"Hyung, hyung. Dia datang, hyung."

Dengan tergesa Eunhyuk meraih teropong yang ia kalungkan dileher. Ia tidak bisa melihat wajahnya karena pencahayaan yang minim. Mereka mulai bergerak hati-hati setelah beberapa detik orang itu beranjak pergi. Beberapa kali harus bersembunyi karena orang itu menoleh kebelakang, merasa sedang diikuti. Mereka dibawa kebangunan sayap kanan sekolah, yang pagar besinya berlubang cukup besar. Orang itu mengendarai motor yang cukup keren.

"Ayo ayo cepat pergi. Kita tidak tahu dia bekerja sendiri atau tidak. Aku tidak mau kita berakhir seperti orang suruhan Heechul noona." Ajak Eunhyuk. Ia menyuruh mereka berjalan lebih cepat. Mereka menghela nafas lega setelah sampai dimobil, mobil yang dipinjamkan Heechul beserta sopirnya.

Eunhyuk bermaksud menyuruh sang sopir untuk pergi, tapi saat mendongak ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang. "Huwaaa!"

Seseorang itu hanya menampilkan senyum, yang cukup menyeramkan.

"Noona! Kau mengagetkanku! Bagaimana kau bisa tiba-tiba disini?!" Seperti setan saja, gerutu Eunhyuk dalam hati. Ah dia kan memang setan.

"Itu tidak penting." Heechul mengibaskan tangan. "Apa yang kalian dapatkan?"

Donghae yang pertama kali menyerahkan handycamnya. Heechul memutuskan meloncati beberapa jam setelah lima menit ia hanya disuguhi nyamuk mati.

"Ryeong, kau dapat fotonya, kan? Terutama plat nomornya?"

"Ya. Walaupun gelap tapi dengan pencahayaan yang diatur bisa terlihat cukup jelas." Ia menyerahkan ponselnya pada Heechul.

"Kerja bagus anak-anak. Aku yang akan menyelidiki sisanya. Sekarang ayo pulang sopir Go."

.

"Setidaknya kau memberikan apa yang aku inginkan selama ini. Aku yang memberikan keuntungan paling besar di perusahaanmu ini."

"Aku tidak memaksamu untuk memperpanjang kontrak." Siwon sibuk menandatangani beberapa dokumen, tidak terpengaruh dengan protes salah satu artisnya.

"Siwon, apa yang kurang dariku?"

Siwon meletakkan pulpennya cukup kasar ke meja. Ia mendongak untuk menatap lawan bicaranya. Tangannya tertaut dibawah dagu. "Aku sudah memberi tahumu jika aku tidak bisa membalas perasaanmu. Kita hanya bisa jadi teman, Kibum. Jadi jangan bahas ini lagi."

"Teman? Kau bahkan tidak memperlakukanku begitu sejak ada dia."

"Aku tahu apa yang selama ini kau lakukan pada Kyuhyun. Dan kau berharap aku memperlakukanmu dengan baik? Apa kau bercanda?"

Kibum mengepalkan kedua tangan tangannya. "Kenapa? Aku yang selama ini ada disampingmu, tapi kenapa dia yang mendapat cintamu?! Ini tidak adil!"

Siwon bangkit dari kursinya lalu berjalan kehadapan Kibum, memegang kedua bahunya. "Aku tidak merasakan perasaan itu padamu. Maaf. Tapi perasaan tidak bisa dipaksakan." Siwon melepas tangannya lalu mundur beberapa langkah. "Jangan hanya berpusat padaku. Lihatlah sekitarmu. Masih banyak pria ataupun wanita yang menunggumu."

"Kau jahat!"

Kepalan tangan itu berhasil ditangkap sebelum mendarat kewajah Siwon. "Berani menyakitinya, kubalas kau sepuluh kali lipat lebih kejam." Kyuhyun menatap tajam Kibum dengan dagu terangkat. Ia melepaskan tangan Kibum dengan kasar.

Tanpa berkata apapun lagi Kibum pergi.

"Baby~" Siwon merengkuh Kyuhyun kedalam pelukan. Belum sempat mendaratkan ciuman, ia sudah mendapatkan tonjokan diperut.

"Aku tidak sebaik itu untuk memaafkanmu secepat ini." Kyuhyun mendorong Siwon untuk menjauh. "Aku masih marah dan kesal padamu!" Kyuhyun mengacungkan jari telunjuknya pada Siwon.

"Aku sudah menjelaskan alasannya padamu bukan?" Siwon masih membungkuk dengan memegangi perutnya. Pukulan Kyuhyun tidak main-main.

"Alasan ditolak!"

Siwon menghela nafas. Kyuhyun kembali ke sifat kekanakannya. Entah apa yang menyebabkannya tiba-tiba seperti ini. Tiga hari kebelakang mereka baik-baik saja walaupun tidak bisa dikatakan mesra juga.

"Jangan mendekat!" Kyuhyun menjulurkan telapak tangannya. "Aku akan pulang ke rumahku. Jangan peluk aku dan jangan temui aku sebelum kau bisa membuktikan cintamu padaku! Kau dengar itu? Aku pergi."

Siwon mendecak. Tidak berusaha mencegah Kyuhyun pergi karena hal itu tidak ada gunanya. Siwon berkacak pinggang sembari membasahi bibirnya, bahkan dia masih bisa merasakan luka yang dibuat Kyuhyun.

"Setan kecil itu benar-benar mengujiku."

.

"Dia benar-benar idiot jika tidak tahu apa yang kumaksud." Gerutu Kyuhyun sambil menendang kerikil sepanjang trotoar. Ia terpaksa jalan kaki sampai halte karena ia tidak tahu kemana Minho. Anak itu tidak ikut latihan ke agensi.

Ia menyipitkan mata. Ia perlu es krim untuk mendinginkan kepalanya. Kyuhyun menoleh kebelakang mendengar suara motor yang mendekat. Tapi ia terlambat untuk menghindarinya. Pengendara itu mendorongnya dengan sengaja hingga tersungkur. Perlahan ia berdiri, beruntung tidak terkilir hanya lecet saja. Ia berbalik hendak memaki. Ternyata pengendara itu juga terjatuh, sepertinya parah karena orang itu berjalan tertatih sambil memegangi lengannya. Motornya jatuh sedikit jauh.

Kyuhyun menghampiri, ingin bertanya kenapa dia berbuat seperti itu padanya. Tapi orang itu terlanjur pergi. Matanya yang tadinya menyipit kini terbelalak. Helm itu, motor itu, plat nomor itu. Ia mengenalnya, sangat mengenalnya. Dengan tergesa Kyuhyun meraih ponselnya untuk mengambil beberapa foto lalu menghubungi seseorang, ingin memastikannya sendiri.

"Ayo angkat ayo angkat. Jangan membuatku berpikir bahwa itu kau." Kyuhyun menggigiti kuku, kakinya tidak berhenti menghentak kecil.

"Aissshh." Sekali lagi Kyuhyun menghubunginya.

"Ya! Kenapa lama sekali kau mengangkatnya?!"

"Aish wae?"

"K-kau dimana?"

"Aku? Aku latihan basket."

"Jinjja?"

"Kau kenapa sih?! Apa aku perlu memanggilkan Jonghyun agar kau percaya?!"

"Aku baru saja melihat motormu."

"Hah? Apa? Aku tidak mendengarmu."

Kyuhyun bisa mendengar Minho mengumpat, menyalahkan teriakan cheerleader yang riuh.

"Apa kau menjual motormu?"

"Kau gila ya? Tentu saja tidak. Oh apa kau melihatnya dipajang disalah satu toko? Aku akan membunuh Key jika dia melakukannya."

"Si-siapa? Key?"

"Iya. Tadi ia pinjam, katanya ingin menemui pacarnya. Ah sudah dulu ya, aku harus latihan."

Kyuhyun menurunkan ponselnya dari telinga. Jadi selama ini Key yang melakukannya? Tapi kenapa?

.

.

.

aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Selamat! Anda telah melalui ujian yang panjang! #plakkkkk

Akhirnya saya bikin itu rate M *tetesin obat mata* *biar dramatis*

Ini percobaan pertama, jadi cuma bisa sampai situ. Saya jg gak tau kenapa itu Kyuhyun jadi bitchy bitchy gitu. Hahahaa.

Di chapter ini semua udah jelas kan? Iyain aja biar cepet. wkwkwk. Untuk chapter depan sepertinya akan full wonkyu deh. Eh gak juga sih, kan masalahnya belum kelar.

Yang tanya, "Kyuhyun beneran hamil gak sih?" Mohon bersabar, jawabannya di 2 chapter lagi *evil laugh* Ya dikira-kira aja yah. Kan udah ada clue tuh diatas, tapi yaaaaaa bisalah ya berubah. kekeke~

Pesan saya sih, Kencangkan sabuk pengaman kalian.

Okay. Cawwwww

THANK YOU SO MUCH ALL, maaf aku gak bisa sebutin satu satu
Pokoknya 1-4-3 selalu buat kalia XD
THANKSEU THANKSEU THANKSEU

...

...