FINAL FANTASY VERSUS


025

NOCTIS & LUNAFREYA


20.07.752 M.E. | 02.13 PM

"Besok ujian Matematika!" seru Prompto. "Aku buruk sekali dalam Matematika. Tidak—aku buruk dalam semua mata pelajaran!" Noctis menenteng tas sekolah di satu pundak ketika dia bersama temannya itu berjalan di trotoar sepulang sekolah yang melelahkan otak. Mereka baru berteman dua minggu, tapi Noctis merasa sangat nyaman di dekat Prompto, apalagi temannya itu bisa menyeimbangi dirinya yang lebih banyak mendengar daripada berkata-kata. "Aku berani bertaruh kamu lancar mengerjakannya."

Otak Noctis memang encer, hanya saja dia memiliki kemauan rendah untuk belajar tekun. Di kelas, dia terkesan tidak memerhatikan ketika guru sedang menerangkan teori demi teori, tapi sebenarnya dia mendengarnya dengan seksama. Dia hanya tidak ingin mencari muka untuk membuatnya menonjol di kalangan siswa lainnya. Menjadi orang normal adalah impiannya sejak kecil dan sekarang dia diizinkan untuk hidup mandiri di luar Citadel. Dia bahagia memperoleh kesempatan menikmati bagaimana cara rakyat jelata menjalani hidup mereka.

"Aku tidak mendapat ekstra kredit sebagai seorang Pangeran," tukas Noctis.

"Hooo," gumam Prompto, membuka mulut sampai monyong. Tiba-tiba dia ingin menyikut Noctis, tapi sang Pangeran dapat mengelak dengan lincah. "Hei, tolong bilang Raja Regis untuk menghapus ujian!"

Dalam jalannya menuju apartemen, Noctis memikirkan Lunafreya. Jadi perempuan tercintanya itu sudah menjadi Oracle dan dia masih seorang Pangeran. Ingin sekali dia menghadiri koronasi Lunafreya, tapi dengan kondisi perang yang masih berkelanjutan, tentu saja tindakan itu berbahaya baginya. Dua hari lalu dia menonton upacara itu melalui televisi. Terkejut melihat perubahan fisik Lunafreya yang begitu pesat. Lunafreya bukanlah seorang gadis lagi, dia tumbuh menjadi wanita dewasa dengan penampilan yang memesona. Delapan tahun mereka berpisah, baru kali itulah dia mendengar suara Lunafreya lagi. Andaikan dia bisa mengirimkan telepon genggam untuk merekam suara mereka daripada menggunakan buku agenda, semuanya akan menjadi lebih praktis.

Sebagai ungkapan selamat, dia merasa perlu membelikan Lunafreya sebuah hadiah spesial. Dia menoleh kepada Prompto. "Hei, apa kau punya informasi lowongan kerja sambilan?"

"Huh? Untuk siapa?" tanya Prompto, mengangkat alisnya.

"Siapa lagi kalau bukan aku," jawab Noctis.

"Memangnya kamu kekurangan uang? Aku bisa meminjamkan beberapa Gil kalau kau butuh," Prompto menawarkan, setitik kecemasan terpancar dari wajah tirusnya.

Noctis menggeleng cepat. "Tidak sama sekali. Ignis mengurus semua keuanganku. Aku ingin membeli kado untuk Luna dengan uang hasil kerjaku sendiri."

"Wow, apa aku tidak salah dengar? Ternyata seorang Pangeran Noctis punya sisi romantis!" ejek Prompto, tertawa lepas sampai giginya terlihat. Dia terpingkal-pingkal, jalannya menjadi sedikit oleng. Merasa jengkel, Noctis memukul punggung temannya dengan tas dalam genggamannya. "Aduh, jangan kasar begitu, dong!"

"Kau juga seharusnya memberi dia kado spesial. Kau 'kan bisa berteman denganku karena bantuan Luna. Tunjukkan sedikit rasa terima kasih padanya," kata Noctis. Jalan mereka terhenti ketika lampu lalu lintas untuk pejalan kaki berubah menjadi merah. Di tepi jalan, mereka menunggu kendaraan lalu-lalang.

Prompto tampak sedang berpikir keras. "Hmm, kurasa aku tahu satu tempat kalau kau benar-benar berminat kerja sambilan. Aku sering mengecek satu toko kamera kalau-kalau mereka menjual kamera SLR jenis terbaru. Aku bisa menanyakan pemilik toko apakah ada lowongan untukmu. Tapi apa kau mengerti fotografi?"

"Aku bisa mempelajarinya darimu," jawab Noctis, tersenyum penuh arti pada lelaki berambut pirang di sampingnya. "Sebagai teman, berbagilah ilmu padaku."

Satu tangan Prompto diletakkan di depan dahinya, memasang pose siaga. "Siap, Pangeran! Katakan saja padaku kapan kau siap untuk bekerja."

"Kapan pun aku siap. Sekarang juga boleh, kok."

"Apaaa? Sebegitu cepatnya kau ingin mengumpulkan uang?"

Noctis menempeleng kepala Prompto. "Kalau aku berlama-lama, nanti kado itu tidak spesial lagi karena nuansa perayaan kenaikan Oracle sudah meredup. Pakai otakmu, dong."

Prompto manggut-manggut, mencerna pernyataan temannya itu. "Benar juga. Kau tidak boleh melewatkan momen bersejarah ini." Lampu pejalan kaki berubah menjadi hijau, dan mereka segera menyeberangi zebra cross. "Ayo kita mampir sebentar ke toko kamera langgananku. Letaknya cuma beberapa blok dari sini, kok. Masih satu distrik dengan apartemenmu."

Mengikuti saran temannya, Noctis berjalan berdampingan, bergantung sepenuhnya pada arahan Prompto. Sesampainya di toko yang dimaksud, Prompto menyapa seorang pria tua yang sedang berjaga sebagai kasir. Toko itu tak terlalu besar, berada di ruko khusus barang-barang elektronik. Ada lima buah meja konter kaca tempat beragam kamera, mulai dari SLR, kamera kantung, spare part kamera, dan tongkat swafoto terpajang di sana.

"Halo, Pak manajer! Apa kau ada lowongan kerja?" tanya Prompto. Telunjuk teracung pada Noctis di belakangnya. "Temanku ingin bekerja di sini."

Pria tua itu tampak terkejut melihat kehadiran Noctis di sana. Para pengunjung tokonya bergumam rendah, sesekali menyebutkan nama Noctis. Rakyat Insomnian memang mengenal Noctis sebagai anggota Kerajaan. Tidak jarang foto Noctis beredar luas, jadi Noctis sudah memasang ekspektasi bahwa dirinya akan membuat gempar rakyat jelata. "Se-Selamat datang di tokoku, Pangeran Noctis! Aku siap membantumu. Masalah pekerjaan, kebetulan ada slot kasir yang kosong. Apa kau keberatan menjalani pekerjaan rendahan ini?"

Noctis tersenyum ramah, menggeleng cepat. "Tidak sama sekali. Terima kasih atas bantuanmu. Kapan aku bisa mulai bekerja?"

"Lebih cepat lebih baik," jawab sang manajer. "Tapi aku takut upah bekerja di sini tidak setinggi standarmu. Aku bisa menghubungi temanku untuk pekerjaan lain yang lebih layak."

"Nah, terima kasih atas tawaranmu, tapi aku tidak keberatan sama sekali. Bisa diterima kerja saja aku sudah senang," tukas Noctis.

"Kalau begitu, kau bisa mulai bekerja besok. Jam berapa biasanya kau pulang sekolah?"

"Jam satu siang. Aku bebas sampai sore."

"Baguslah. Jam kerjamu dimulai dari pukul setengah dua sampai enam sore. Mengenai upah, kita bisa membicarakan berdua saja besok."

Noctis mengangguk setuju. "Baik. Aku akan datang kembali besok. Terima kasih banyak atas bantuanmu."

Keesokan hari kerja sungguhan dimulai. Siang pertama masa-masa kerja sambilan perdananya dia habiskan dengan melayani pembeli di balik mesin uang. Ternyata toko itu tak begitu ramai pengunjung, terutama di hari-hari sekolah. Tidak jarang Noctis menguap begitu lebar. Menunggu pembeli yang tidak jelas kapan datangnya membuat penyakit kantuk menerjang dia berkali-kali.

"Kau terlihat kurang tidur," manajer berkata sambil mengelap lensa kamera dengan cairan khusus dan lap lembut. Keningnya berkerut skeptis. "Apa kau masih kuat bekerja sampai malam? Jangan memasang tampang malas di depan pelanggan!" serunya galak. Tanpa diduga, sikap manajer berubah seratus delapan puluh derajat dari kemarin. Pundaknya melorot dan tampang masamnya sudah satu paket dengan seragamnya, seperti kaus polo biru yang harus mereka kenakan selama bekerja. Di dalam toko itu, kedudukan manajer jelas lebih tinggi darinya, dan Noctis harus menerima semua kritikan pedas karena dia cuma seorang karyawan, terlepas dari statusnya sebagai Pangeran.

"Bukannya kemarin kaubilang jam kerjaku sampai pukul enam sore," kata Noctis, sebab dia memang bilang begitu.

"Delapan malam. Penjualan hari ini belum mencapai target jadi aku harus memperpanjang jam kerjamu," dia bersikeras sambil menggeleng-geleng menyesali seolah Noctis seekor kuda balap yang pincang, sedangkan dia sang pembaca pistol bergagang mutiara. Timbul keheningan yang singkat namun canggung. Dia masih terus menggeleng-geleng, tatapannya berpindah-pindah dari Noctis ke kamera, lalu kembali kepada sang Pangeran. Noctis memandanginya dengan sorot mata kosong seakan tidak mampu menangkap sindiran pasif-agresifnya.

"Ohhh," kata Noctis akhirnya. "Maksudmu aku harus bekerja ekstra tanpa dibayar?"

"Yang jelas, tidak ada upah lembur di sini," sang manajer berkata jujur.

"Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu, Bos." Dia sengaja menguap sampai suaranya bergema di toko kecil itu. Para pengunjung toko terkaget-kaget, memandang sambil berbisik tak jelas melihat Noctis.

Wajah manajer seketika berubah sewarna buah delima asak. Seharusnya dia memecat Noctis detik itu juga, tapi Noctis tahu dirinya dimanfaatkan untuk menjadi daya tarik unik pengunjung ke sana berkat status Pangerannya.

Sebulan berlalu sejak dia bekerja di sana, dia berkali-kali nyaris dipecat dari toko kamera itu. Dia tidak sengaja datang terlambat, lagi dan lagi. Dia tidak sengaja salah memberikan uang kembalian, bahkan menaruh barang-barang di rak yang keliru. Dia berusaha mati-matian menjadi karyawan yang baik, tetapi dia sangat tidak terbiasa bekerja keras. Seberapa payahnya kinerja dia, manajer masih tetap mempertahankan dia sebagai pegawai.

Pokoknya mustahil bagi Noctis untuk dipecat dari toko itu. Karyawan lain pasti sudah langsung disuruh angkat kaki begitu melakukan kesalahan sedikit saja. Itu pelajaran pertama dia dalam dunia kerja. Sebabnya dia tidak bisa dipecat adalah Ignis mengetahui persoalan ini dan melaporkannya kepada ayah. Alasan dia tidak bisa berhenti dari situ: karena magang di toko itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi Noctis untuk berbaur dengan rakyat, ayah memberikan "sedekah" bagi manajer untuk mempertahankan dia sebagai karyawan. Jadi, ujung-ujungnya Noctis seperti digaji tidak langsung oleh ayah.

Sambil berjalan di antara meja konter, manajer menohokkan jarinya ke dada Noctis dan hendak mengatakan sesuatu yang kecut, tapi dia membatalkannya. Diserahkannya amplop putih kepada Noctis sambil berkata, "Ini gaji pertamamu. Terserah kau mau lanjut bekerja di sini atau tidak. Tidak ada paksaan dariku."

Noctis membuka amplop itu dan melihat ada sepuluh ribu Gil di sana. Itu lebih dari cukup untuk membelikan Lunafreya sebuah hadiah yang mahal. Sang manajer melotot pada dia sementara Noctis mundur, meninggalkan tampang masamnya sambil berkata, "Aku resign dari pekerjaan ini. Silakan cari penggantiku mulai detik ini."

Dia melepas seragam jeleknya, dan menggantinya dengan kaos hitam kesukaannya. Langkahnya terasa ringan ketika dia keluar selamanya dari toko itu. Hari sudah malam, udara mendingin dan lampu-lampu jalanan dinyalakan. Para mahasiswa berlalu-lalang di Distrik B, berkelompok dengan teman-teman mereka.

Noctis segera masuk ke sebuah toko perhiasan. Dengan gaji pertama dan terakhirnya, Noctis membeli sebuah kalung mewah. Terdapat kristal-kristal kecil pada talinya yang terbuat dari logam keperakan. Di bagian tengah ada hiasan bulan sabit kecil yang mengilat. Mengetahui bahwa penggalan "Luna" dalam "Lunafreya" berarti bulan, dia percaya Lunafreya akan bergejolak bahagia ketika menerima kado itu. Meletakkan kalung itu dalam kotak perhiasan yang cantik, Noctis tersenyum, senang dapat membelikan Lunafreya benda mahal dengan jerih payah keringatnya sendiri.

Tunggu aku, Luna. Ketika kita bertemu lagi, aku akan melamarmu dengan kalung istimewa ini karena aku sungguh mencintaimu.


24.07.752 M.E. | 07.00 AM

Lunafreya tengah menunggu. Dari jendela-jendela kastil, dia melihat orang-orang berdatangan dan berkumpul di beranda Fenestala Manor. Sejak menjadi Oracle, dia memiliki tanggung jawab baru untuk menyembuhkan para pasien yang terjangkit Starscourge. Walaupun tugas ini membuka babak baru kehidupannya, dia menunggu sesuatu yang lain. Hal yang ditunggunya tidak lain adalah buku agenda yang digunakan dia dan Noctis untuk berkomunikasi.

Lunafreya telah tumbuh menjadi wanita dewasa, baik dari segi fisik dan mental. Dia bukan lagi seorang anak kecil atau remaja perempuan. Di dalam kamarnya, Lunafreya duduk di depan meja riasnya, memandangi bayangan dirinya. Wanita yang balas memandangnya itu terlihat tidak sama seperti gadis yang delapan tahun lalu memandangnya. Pebedaan fisiknya begitu kentara: rambutnya panjang sampai melewati bahu, matanya yang dulu polos kini penuh kewibawaan, sekarang senyumnya memudar dengan cepat dan muram. Pergeseran yang besar, pikir Lunafreya, yang mencerminkan bahwa dia bukanlah manusia biasa, tapi seorang Oracle yang dipuja-puja penduduk seantero Eos. Sudah menjadi tradisi bahwa berkat Astral hanya diturunkan ketika wanita dari Nox Fleuret menapaki usia minimal dua puluh tahun. Kematian dini Ratu Sylva menyebabkan Lunafreya dinobatkan sebagai Oracle termuda sepanjang sejarah yang tercatat.

Selesai memilin rambut pirangnya, dia keluar kamar menuju ruang belajar. Di sana, dia membuka daun pintu yang mengarah ke taman dalam kastil. Tidak ada yang berubah di sana. Dia merasakan udara sejuk meniup gaun putihnya, suasana hening yang menenangkan jiwa dan langit biru yang memancarkan sinar matahari hangat ke kulit putihnya. Menyadari kehadiran sang majikan, Pryna bangun dari tidur malasnya di taman dan berlari cepat sambil menggonggong. Sekarang Pryna bertubuh seukuran kebanyakan anjing dewasa. Anjing berbulu putih itu duduk manis di hadapan Lunafreya, lidahnya terjulur keluar, ekornya berkibas, dan deru napasnya terdengar jelas. Lunafreya berlutut agar tingginya sepantaran dengan Pryna. Dengan lembut, dia mengelus-elus kepala anjing betina itu. Gonggongan manja terdengar. Memang Pryna tidak dapat berpisah terlalu lama dengan majikannya. Ketika Niflheim melakukan invasi dan Glauca memukulnya hingga membentur lantai, Pryna jatuh sakit mendadak. Itu cukup menjadi bukti bahwa ikatan batin antara Lunafreya dan Pryna begitu kuat.

Sejak insiden Pryna terluka, Lunafreya memutuskan bahwa Umbra lebih aman untuk menempuh perjalanan jauh bulak-balik antara Tenebrae dan Lucis. Sebagai anjing jantan, tentu saja Umbra memiliki fisik lebih kuat daripada Pryna. Selama delapan tahun menjalankan misi rahasia pengiriman surat pada Noctis, Umbra senantiasa pulang tanpa cela. Walau begitu, Lunafreya mengasihi dua pelayan setianya secara seimbang. Umbra dan Pryna memiliki manfaat yang sama-sama penting: Umbra sebagai perantara dia dan Noctis, dan Pryna sebagai teman untuk menghibur dirinya di kastil ketika dilanda kesepian. Lunafreya sering termenung melihat Umbra dan Pryna yang bisa mewakili Noctis dan dirinya karena perbedaan warna yang kentara: hitam sebagai warna resmi kerajaan Lucis Caelum dan putih sebagai warna resmi kerajaan Nox Fleuret. Seolah sepasang anjing itu mengisyaratkan bahwa dia dan Noctis memang ditakdirkan untuk bersatu.

Tidak terasa lima belas menit sudah berlalu bagi Lunafreya yang mengemong Pryna. Anjing putih itu berhenti berguling di rerumputan. Kedua telinganya bergidik. Sepasang mata birunya menerawang jauh ke belakang. Dia buru-buru bangkit dan menggonggong ceria. Ternyata Umbra telah kembali dari Insomnia. Memang dua anjing itu dapat merasakan kehadiran pasangannya dari jarak jauh.

Lunafreya menghampiri Umbra dan Pryna yang sibuk menjilat satu sama lain. Dia tersenyum lega dengan kepulangan Umbra. Lalu dia membuka kain hijau di badan Umbra dan mengambil buku agenda dari sana.

Dibacanya isi buku itu di sofa panjang yang diletakkan dekat dengan pintu taman. Sekitar tiga per empat buku telah dipenuhi dengan tulisan, foto atau gambar-gambar yang lucu. Semakin lama mereka berhubungan, semakin pendek isi surat yang mereka tulis karena tidak banyak peristiwa penting yang terjadi di lingkup kehidupan mereka akhir-akhir ini. Pertukaran informasi hanya seputar rutinitas sehari-hari. Lunafreya sama sekali tidak keberatan, malah dia bersyukur karena ini menandakan Pangeran Noctis menjalani hidup yang damai.

Dia membuka halaman yang ditandai dengan pembatas buku. Di sana dia menemukan secarik foto Noctis yang sedang berdiri tegap dengan seorang laki-laki berambut pirang dalam balutan seragam yang serupa. Noctis memasang ekspresi datar, sedangkan laki-laki satunya tersenyum lebar. Pepohonan rindang menjadi latar belakang foto itu.

Lunafreya tersenyum simpul ketika membaca sebuah coretan yang ditulis dengan spidol merah pada foto tersebut. Coretan itu berbunyi ,"Aku punya teman baru, si cerewet Prompto," ditambah panah tebal yang menunjuk tepat ke atas kepala laki-laki itu. Tidak lama kemudian, Lunafreya mengalihkan perhatian pada rangkaian tulisan Noctis yang berantakan, tapi masih bisa dibaca. Dia mulai membaca pesan tersebut:

Dear Luna,

Terima kasih atas berkatmu. Berkali-kali aku mencoba untuk berdoa mengikuti saranmu, tapi aku tidak merasakan perubahan apapun, malah membuatku tidak sengaja ketiduran. Sepertinya doa dari seorang Oracle memang berbeda, ya?

Omong-omong, aku punya kabar baik. Untuk pertama kalinya, ada orang awam yang tidak segan tidak memperlakukanku sebagai Pangeran. Namanya Prompto Argentum (kau bisa melihat tampangnya dari foto yang sengaja kuselipkan). Kami mengunjungi sekolah yang sama. Dengan cepat kami berteman akrab, walaupun kepribadian kami bertolak belakang. Prompto cerewet sekali! Tapi hei, aku senang dengan kehadirannya yang selalu membuat suasana menjadi ceria.

Kami sempat bertemu sebentar di kelas enam SD. Dulu dia (bolehkah aku bilang ini?) gemuk dan pemalu. Kami tidak pernah mengobrol selama empat tahun. Dan tiba-tiba saja dia muncul di hadapanku di hari pertama aku duduk di bangku SMA. Sumpah, dia berubah total sampai bikin aku pangling. Aku tahu kalian sempat berkomunikasi. Prompto bahkan mengaku kalau dia tidak sabar ingin sekali bertemu denganmu. Tampaknya kamu punya seorang fans berat.

Selain itu, atas kemauanku sendiri, sekarang aku tinggal di apartemen dekat sekolah dan jauh dari Citadel. Tentu saja awalnya Dad menolak permintaanku, tapi aku memaksa karena aku ingin mencoba hidup mandiri. Untunglah Dad mengizinkan dengan syarat Ignis rutin datang ke apartemen untuk mengecek keadaanku. Aku jadi mengerti bagaimana rasanya punya asisten pribadi yang tidak pernah berhenti mengawasi hidupku. Seriusan, Ignis bisa diibaratkan seperti Gentiana versi cowok.

Aku tahu kalau kamu sudah resmi menjadi seorang Oracle. Aku ingin sekali datang ke koronasimu, tapi kondisi tidak memungkinkan. Kunjunganku ke Tenebrae bisa menarik perhatian Niflheim. Aku sungguh minta maaf karena hanya bisa menonton koronasimu melalui TV. Untuk itu, aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu ketika kita bertemu lagi suatu saat nanti.

N/B: Apa kamu pernah melihat "cahaya" aneh di langit malam? Bentuknya bulat seperti bulan. Tidak penting, tapi cukup membuatku terganggu.

Salam hangat,

Noctis

Bagi banyak orang, surat ini terdengar normal: seorang remaja yang menceritakan rutinitas di sekolah, menggosipkan teman baru, dan tempat tinggal yang jauh dari orangtua. Namun bagi Lunafreya, semua itu tidaklah normal. Dia tidak mengerti bagaimana rasanya bersekolah, dia tidak pernah memiliki teman, dan sepanjang hidup dia tinggal di dalam kastil.

Lunafreya berharap dia dapat belajar banyak hal baru ketika mengunjungi Insomnia suatu saat nanti. Dia membayangkan dirinya menelusuri setiap penjuru kota, tidak berhenti tertegun melihat gedung-gedung metropolitan, mencicipi berbagai makanan khas Lucis yang belum pernah disantapnya, mencoba pakaian sesuai gaya terbaru yang tidak pernah dikenakannya, dan kegiatan-kegiatan lain yang pastinya sangat menyenangkan. Tidak lupa juga bermain bersama teman-teman Noctis. Ini dapat menjadi suatu pengalaman unik yang tak terlupakan.

Perbedaan budaya dua negara membuat Lunafreya merasa terasingkan setiap kali ingin membalas surat dari Noctis. Dia berusaha semampunya untuk menyetarakan persepsi mereka mengenai kehidupan "normal". Satu-satunya yang dapat dia lakukan adalah menyampaikan doa dalam surat. Karena tidak seperti budaya, doa berlaku untuk setiap insan tanpa pandang bulu.

Dengan pikiran ini memenuhi otaknya, dia menulis surat kepada Noctis. Suratnya penuh ketenangan dan kasih sayang.

Dear Pangeran Noctis,

Aku bahagia kau telah menerima doaku. Tiada hentinya bagiku untuk mendoakan kamu dan Raja Regis. Dan aku akan terus melakukannya hingga akhir hayatku.

Mendengarmu memperoleh sahabat membuatku dilimpahi rasa syukur. Prompto adalah orang yang baik dan meskipun kami belum pernah berjumpa, dia tampak ramah di dalam foto. Prompto sudah berusaha keras memenuhi permintaanku untuk berteman denganmu. Aku berharap persahabatan kalian tak lekang oleh waktu. Kudengar Ignis jago memasak. Aku tidak sabar ingin mencoba makanannya. Pasti makanan dia tidak kalah lezat dari makanan di kastilku. Aku sangat menantikan hari di mana aku bisa bertemu dengan teman-temanmu.

Sama sekali tidak terbesit dalam benakku untuk menyalahkanmu yang tidak dapat hadir dalam koronasiku. Keselamatanmu adalah prioritasku. Kumohon jangan melakukan kecerobohan yang membahayakan nyawamu lagi. Lebih dari cukup bagiku mengetahui bahwa kamu menaruh perhatian besar padaku.

N/B: Aku tidak tahu mengenai "cahaya" yang kau maksudkan. Aku menjadi khawatir. Bisakah kau mengecek penglihatanmu ke dokter mata untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja?

Salam hangat,

Lunafreya Nox Fleuret

Selesai menulis surat balasan, Lunafreya menutup buku dan menyimpannya di laci meja belajarnya yang dikunci rapat. Hanya dia dan Gentiana yang mengetahui di mana kunci laci itu disembunyikan. Dia harus berhati-hati agar tidak ketahuan oleh Ravus atau tentara Niflheim yang kapanpun bisa menerobos masuk ke dalam Fenestala Manor. Dia tidak langsung mengirim balik buku itu kepada Noctis. Umbra layak mendapatkan waktu istirahat. Anjing berbulu hitam itu terbiasa menghabiskan waktu tiga sampai empat hari selama pengiriman, jadi frekuensi bagi masing-masing Lunafreya dan Noctis untuk membaca surat balasan hanya sekali dalam seminggu.

Jadwal pengobatan berlangsung pukul delapan pagi hingga lima sore setiap hari. Dia mengunjungi ladang bunga sylleblossom, menikmati kesegaran dan aroma bunga yang disukainya. Bunga biru itu mengingatkan dia akan dua memori, yakni saat Ravus memberikan bunga itu ketika dia berusia lima tahun dan saat dia berbaring bersama dengan Noctis ketika usianya dua belas tahun. Keduanya adalah kenangan yang mengundang perasaan berkecamuk. Dulu Ravus adalah kakak yang dicintainya, tapi sulit baginya untuk mempertahankan perasaan itu ketika mengetahui Ravus bekerja demi kepentingan Kekaisaran. Dan Noctis adalah pasangan hidup menurut takdir yang didengarnya, tapi mereka hanya berinteraksi langsung selama seminggu. Walaupun mereka tetap surat-menyurat, hubungan mereka terasa ganjil. Tanpa memandang wajah dan mendengar suara langsung, Lunafreya tidak bisa memastikan bahwa dia berbagi perasaan yang sama seperti Noctis kepadanya.

Lunafreya mendengar Gentiana mendekatinya ketika dia mencium sekuntum sylleblossom. Sudah saatnya bagi dia untuk mulai menyembuhkan pasien. Seolah mampu membaca kebimbangan hati sang Oracle, Gentiana berkata, "Raja Sejati sendiri dapat mengenakan Ring of Lucii. Namun Raja yang diurapi Kristal Agung bertumbuh semakin kuat dengan Oracle di sisinya. Dengan Ring of Lucii di tangannya, Raja Sejati dapat memberantas kegelapan. Maka dari itu, Nona Lunafreya harus mencintai Noctis tanpa pamrih."

Gadis itu tidak menoleh kepada dayangnya. "Gentiana, maafkan aku," gumam Lunafreya pelan, menyadari bahwa dayangnya tidak akan mendengar suaranya di tengah angin kencang yang menerpa ladang itu, tapi dia tidak peduli. Mengucapkan permohonan maaf itu lebih untuk Noctis ketimbang untuk Gentiana. Ini kata hatinya yang dia perlukan. Berbalik, dia berjalan menyusuri jalur panjang yang mengarah ke kastil. Dia tidak akan pernah melupakan kebersamaannya bersama Noctis, meskipun itu yang dia inginkan. Tapi dia tidak akan pernah membiarkan dirinya menyakiti perasaan Noctis lagi. Dia tidak akan membiarkan takdir mengubah hatinya menjadi dingin atau menghancurkan pandangannya terhadap kehidupan dan cinta. Tidak. Dia telah berbohong kepada Pangeran. Sang Pangeran telah terperdaya oleh kata-kata yang membangkitkan harapan kosong. Kenyataan itu tidak akan berubah. Takdir tak akan mengendalikan perasaannya bagaikan boneka dengan benang yang rusak. Pesan ibunya untuk berpura-pura mencintai Pangeran tak akan menjadi kesalahan yang tak bisa dia atasi di masa depan.

Tiba di puncak tangga, Lunafreya berhenti sejenak. Bahunya terasa lebih berat, hatinya terasa berlubang begitu besar dan dalam. Dia melihat ke atas, dengan bibir mengatup di wajahnya. Bicara soal memperbaiki kebohongannya, dia perlu memperbaiki kesalahannya yang fatal. Berhadapan langsung dengan Noctis untuk mengutarakan kebenaran, tidak melalui surat yang bisa ditafsirkan berbeda dan mengundang masalah baru karena kesalahpahaman. Noctis bertepuk sebelah tangan. Pangeran pasti akan sangat membencinya. Aku tak berdaya melihat wajahnya nanti, pikir Lunafreya sembari meneruskan jalannya. Aku yakin wajahnya akan merah karena marah dan dia akan mulai menangis sambil memohon padaku untuk mencintainya. Mungkin dia akan mengumpat padaku. Atau dia akan mulai bertingkah seperti Kak Ravus. Pikiran itu membuat Lunafreya ingin menangis.

Membiarkan dirinya dilanda penyesalan, Lunafreya mempercepat langkahnya. Sampai detik ini, dia bertanya-tanya kapankah dia berani mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Tapi sekarang dia yakin: menunda kenyataan ini lebih lama lagi tidak ada gunanya. Dia memantapkan hati dan mentalnya mulai dari sekarang.

Maafkan aku, Noctis. Ketika kita bertemu lagi, aku akan jujur padamu bahwa aku sungguh tidak mencintaimu.


AKHIR BUKU SATU