BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

Previous

Sehun menenggelamkan kepalanya, dan dia menyapukan bibirnya pada bibir Jongin, seolah ia mencoba untuk menghirup napasnya.

"Ya Tuhan aku menginginkanmu," Sehun berkata hampir marah, sebelum dia menangkap bibir Jongin, lidahnya memisahkan bibir Jongin. Bersentuhan langsung dengan Sehun seolah Jongin tiba-tiba menyelam kedalam api. Susah payah memaksanya, rasa itu membanjirinya. Jongin sedikit terhuyung di atas sepatu haknya, dan Sehun menariknya lebih merapat padanya, tubuh Jongin menyatu pada otot dan tubuh pria yang bergairah.

.

.

.

BAB 24

Jongin tidak punya pengalaman sama sekali berhubungan dengan gairah seorang pria. Apakah gairah membara ini telah terbangun dalam diri Sehun sepanjang hari? Sepanjang minggu?

Jongin mengerang di mulut Sehun, tubuh wanitanya meleleh di atas tubuh pria yang keras dan panas. Tangan Sehun bergeser ke ikat pinggang yang membalut gaunnya. Ketika Sehun menutup ciuman mereka dengan kasar beberapa saat kemudian, Jongin merasa pusing karena bahagia. Sehun melangkah mundur. Tepi gaun Jongin terbuka lebar, memperlihatkan kulit telanjangnya pada sinar bulan.

Sehun mendorong kain itu ke samping, memperlihatkan tubuh Jongin yang hampir telanjang. Tatapan Sehun menelusurinya. Nafas Jongin terhenti di paru-parunya saat ia melihat ekspresi menghormat pada wajah Sehun yang kaku bercampur gairah yang menyala.

"Aku ingin kau mengingat ini seumur hidupmu." Kata Sehun kasar.

"Aku akan mengingatnya," jawab Jongin tanpa ragu. Siapa yang akan lupa pada pengalaman luar biasa ini? Meskipun Jongin bingung oleh arti dibalik kata-kata Sehun.

"Duduk di sini," Kata Sehun, meletakkan tangannya di pinggang Jongin.

Jongin membuka mulutnya untuk menunjukkan kebingungannya, tapi Sehun memandunya ke meja tempat pemujaan yang mengelilingi Aphrodite. Jongin duduk dan merasa kedinginan, meja yang keras di bawah kain tipis gaunnya. Sehun meletakkan tangannya pada lutut Jongin dan membuka lututnya. Sehun berlutut di depannya.

"Sehun?" Jongin bertanya dengan bingung.

Mengapa tangannya bergetar saat Sehun menurunkan celana dalamnya menuruni paha dan di turun ke lututnya? Organ kewanitaannya mengepal kuat oleh antisipasi yang semakin meningkat.

"Kupikir aku bisa menunggu. Ternyata aku tidak bisa." Sehun bergumam dan Jongin mendengar penyesalan pada suaranya. Sehun menatap wajah Jongin seraya tangannya mengelus paha dan pinggang Jongin, dan Jongin merasa dirinya memanaskan marmer yang dingin. "Jika aku tidak mencicipi rasamu sekarang, kurasa aku akan mati. Dan jika aku mencicipi rasamu, aku tidak akan bisa berhenti. Aku akan bercinta denganmu di sini dan sekarang."

"Oh, Tuhan," Jongin mengerang dengan gemetar. Jongin merasa aliran panas yang akrab diantara pahanya. Kepala Sehun turun ke pangkuannya. Tangannya membuka kewanitaan Jongin lebih lebar untuk dinikmatinya. Mata Jongin terbelalak oleh sensasi dari kehangatan ujung jari Sehun, lidah pria itu yang licin tenggelam diantara labianya, menggosok dan menusuk pada klitorisnya.

Jongin berpegangan pada rambut tebal Sehun dan merengek. Kepala Jongin terkulai ke belakang. Di tengah gairah berkabut yang meluap, dia sekelias melihat Aphrodite menatap tenang, dengan kepuasan tertingginya.

.

.

.

Jongin merasa dirinya meleleh pada lempengan marmer dingin, kehilangan semua rasa dirinya, kehidupan hanya untuk mengalami dorongan listrik berikutnya, slide sensual berikutnya adalah lidah Sehun pada pusat dirinya. Jari-jarinya terjerat di rambut Sehun, menyukai teksturnya. Bagaimana bisa manusia mengatur hidupnya, bekerja, tidur dan makan ketika kesenangan begitu banyak tersedia untuk mereka?

Mungkin Sehun adalah jawaban dari pertanyaannya. Tidak setiap orang mempunyai bakat, atau kekasih yang luar biasa yang tersedia bagi mereka. Karena sesungguhnya lidah Sehun dan mulutnya adalah yang paling terampil di planet ini dalam hal memberikan kenikmatan.

Sehun mendesak Jongin dengan tangannya, dan Jongin bersandar jauh kembali bertumpu, menguatkan dirinya dengan tangannya, memiringkan panggulnya ke sudut agar lebih akomodatif. Geraman kepuasan Sehun bergetar rendah di dalam tubuh Jongin. Sehun melebarkan paha Jongin lebih luas, untuk menggali dan melihat. Teriakan bergema di langit-langit ketika lidah Sehun terjun jauh ke dalam celah Jongin.

"Sehun,"

Lidah Sehun bercinta dengan Jongin, lambat dan lesu pada awalnya, tetapi beberapa detik kemudian mejadi lebih liar ketika pinggul Jongin bolak-balik melawannya. Sehun mengerang, menangkupkan tangannya yang besar di pinggul Jongin, jari-jarinya mencengkeram pantat Jongin, dan menahannya agar tetap bisa menjadi santapannya.

Sehun tersentak ketika Sehun mencium pusat dirinya, lidah Sehun melesak jauh ke dalam vaginanya, dan menggunakan bibir atasnya untuk menerapkan tekanan yang mantap pada klitorisnya. Sehun seketika memutar kepalanya, dari sisi ke sisi di antara pahanya, merangsang dirinya dengan sangat tepat. Matanya terbelalak.

Jongin menatap dewa seks dan dewa cintanya, terpaku, saat ia menggigil dalam orgasme yang hebat.

.

.

.

Sehun memeluk erat Jongin, mulutnya bergerak dengan kekuatan terbatas, lidahnya menggali, mendesak lebih dalam menghisap semua ledakan kenikmatan dan rasa manis tubuh Jongin yang bergetar.

Ketika Jongin tenang, Sehun mengambil dan menjilat lagi sari-sari kenikmatan hasil dari kerjanya. Sehun tahu Jongin sangat lezat mulai dari mulut dan kulitnya, tetapi dia belum siap untuk menyerang ke pusat milik Jongin.

Sehun sangat mabuk kepayang akan Jongin, dan dia ingin lebih.

Kejantanannya keras dan ia berpikir liar, semua tertuju kepada Jongin, menekan dan mencium basah di perut kencang Jongin. Dia berdiri, mengernyitkan rasa sakit di kejantanannya. Rasa puas yang terpancar di wajah Jongin sementara ini bisa memuaskan nafsunya.

Sehun datang menderu kembali saat ia menatap lekat-lekat ke tubuh telanjang yang tergeletak di atas tempat tidur. Cahaya bulan berkilauan di mata Jongin yang gelap dan juga berkilau pada kewanitaannya yang basah.

Sehun mengangkat Jongin, menyukai cara Jongin meringkuk di pelukannya. Jongin bisa begitu keras kepala, dan itu disengaja. Jongin meletakkan kepalanya di bahu Sehun dengan penuh kepercayaan.

Hal itu membuat Sehun semakin ingin memiliki Jongin.

Sehun menurunkan Hongin di depan Aphrodite—sofa malas yang cocok untuk seorang raja yang dihiasi beludru yang berumbai dan memposisikan Jongin dengan benar. Bukannya mendudukkannya, Sehun membuat Jongin berdiri. Ia cepat-cepat melepaskan gaun Jongin dan menggantungkannya di sandaran kursi terdekat. Selanjutnya, Sehun melepaskan jaketnya, dan menaruhnya sebagai alas. Jongin menatap Sehun dengan bingung ketika ia dengan hati-hati mengatur bantal di sofa.

"Louis XIV pernah bersantai di sini. Nenek akan mencekikku jika aku... mengotorinya."

Sehun tersenyum kecil saat mendengar Jongin tertawa. Dia menaruh tangannya di sepanjang rahang Jongin dan mengangkat wajah Jongin untuk menciuminya dengan lahap. Kejantanannya menegang ketika Jongin dengan malu-malu menjilat bibirnya, mencicipi dirinya.

"Itu benar. Mengapa kau tak harus merasakan sesuatu yang begitu manis?" Kata Sehun serak sambil menyesal karena harus melepaskan ciumannya untuk mencari kondom. Badai dalam dirinya mulai merobek sampai ke luar. Dia tak percaya pada kewarasannya, jika ia tidak segera berada di dalam Jongin segera... segera.

"Berbaringlah di atas sofa itu," kata Sehun, suaranya terdengar serak untuk telinganya sendiri.

Jongin berbaring beralaskan jaket Sehun, kaki dan perutnya tampak pucat di bawah sinar bulan dan kontras dengan lapisan hitam jaket milik Sehun. Sofa malas itu tanpa lengan, panjang dan lebar, dengan sandaran melengkung. Jongin berbaring sehingga tubuhnya berada di bagian datar, bagian atas kepalanya ke belakang, betisnya bertumpu di ujung sofa. Kecantikan Jongin sedikit mengekang Sehun, membuatnya menggertakkan giginya.

Sehun melepaskan celananya buru-buru. Dia mendorong celananya ke paha dan melepas celana boxernya yang menutupi ereksinya. Sehun berhenti membuka kondom, ketika menangkap mata Jongin terbelalak tertuju pada kejantanannya yang besar.

Jongin takut padanya.

"Ini akan baik-baik saja. Aku akan pelan-pelan, " Sehun meyakinkan, sambil memasang kondom.

"Biarkan aku menyentuhmu," bisik Jongin.

Sehun membeku, sampai ke dasar kejantanannya. Berdenyut dan mengejang di tangannya atas permintaan manis yang tak terduga dari Jongin. Sehun membayangkan Jongin melakukan apa yang dia minta, merasakan jari-jari Jongin pada dirinya, bibirnya, lidahnya.

"Tidak," kata Sehun keras, melebihi yang dia maksud. Penyesalan menusuknya ketika ia melihat ekspresi Jongin yang terkejut. "Aku harus ada di dalam dirimu sekarang," kata Sehun lebih pelan. "Aku harus. Aku sudah menunggu begitu lama. Terlalu lama."

Jongin mengangguk, matanya yang besar dan gelap terpaku pada wajah Sehun. Sehun menendang sepatu, melepas kaus kakinya dan melangkah keluar dari celananya. Sehun membuka kancing kemejanya, tapi dia tidak bisa menjaga pandangannya dari paha yang melebar dan kewanitaan yang berkilau milik Jongin. Sehun tidak sabar untuk melepaskan pakaiannya. Sehun mendekati Jongin, lututnya di dekat sudut sofa yang lebar, tangannya tepat di atas bahu Jongin. Sehun tahu dia harus meletakkan lututnya di antara paha Jongin yang terbuka, meletakkan kakinya di sekeliling paha Jongin benar-benar membuat dirinya melingkupi seluruh paha Jongin.

Begitu indah... saat Sehun melakukannya.

"Berpeganganlah di belakang sofa," Ujar Sehun.

Jongin tampak bingung dengan permintaan Sehun, tetapi tetap menurutinya, Kepatuhan Jongin membuat denyut kejantanan Sehun yang menggantung di antara pahanya, menjadi berat... terbakar.

Ketika lengan Jongin berada di atas kepalanya, berpegang pada sandaran sofa, Sehun mendengus puas.

"Aku ingin mengikatmu, tapi karena di sini tidak bisa, kau harus menjaga tanganmu tetap di belakang, kau mengerti?" Tanya Sehun tegang.

"Aku lebih suka menyentuhmu," kata Jongin, gerakan bibir pink gelap itu memikat Sehun.

"Aku juga lebih suka itu," Sehun meyakinkan dengan muram, kemudian memegang kejantanannya. "Dan itu sebabnya kau harus tetap menjaga tanganmu ke belakang, hanya itu yang perlu kau lakukan."

TBC

next chapter for nc sceneㅋㅋㅋㅋ

review juseyo~