.
.
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Gender : Romance, Humor, Friendship
Rate : M
Pair : Sasuke, Sakura
Accidentally in Love
Part 25
'Marvin Gaye'
enjoy
Udara dingin menghadirkan kemuning sinar matahari naik ke atas singgasana.
Untuk pagi yang indah, mata Sakura terbuka, emerald teduhnya menatap langit-langit kamar.
Selamat Pagi.
"Sssshhhh..." Sakura bergerak ke sisi kiri ranjang, haya rasa sakit di sekujur tubuh yang ia rasakan saat ini. Pukul 06.00 am, Sakura kembali meletakkan ponselnya di samping bantal lalu bangkit perlahan, rintihannya tedengar saat ia mencoba untuk berdiri. Semua ototnya terasa kaku dan jeram, terpusat pada kedua betis dan lengannya. Mengingat apa yang terjadi kemarin, sampai terbawa mimpi semalam. Sakura berdengus geli sambil bergeleng. Hari kemarin, bagaimanapun baik atau buruknya telah berlalu. Hari ini adalah waktu untuk melihat langit biru yang cerah dan Sakura pun beranjak bersiap pergi ke studio.
Hei, tidakkah kau butuh istirahat? Sasuke memerintahkan Sakura untuk beristirahat sehari. Tapi tidak melakukan apa-apa menjadi faktor utama Sakura enggan mengambil ijin kerja. Sepertinya gadis itu menganggap semua rasa sakit di tubuhnya seperti hembusan nafas seekor kalajengking. Naruto menautkan alisnya saat ia melihat Sakura berdiri di balik pintu apartemennya.
"Kukira kau bermalam di tempat Sasuke." Penampakan Naruto seperti boneka jerami jadi-jadian karena nyawa pria itu belum sepenuhnya lengkap, a.k.a bangun tidur. Sakura hanya mengatakan sepatah kata 'tidak' sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam. Apartemen Naruto gelap, kordennya belum dibuka, komputernya bahkan masih menyala. Ada dua tempat mie instans kosong dan kulit kacang yang sedikit berserakan di samping meja komputer. Tapi apartemen Naruto lumayan bersih dari biasanya. Karena sebelum jadian dengan Hinata, apartemen Naruto tampak seperti kamp perang Vietnam.
Sakura lalu menuju ke jendela. "Kau mengerjakan apa?" Sakura menautkan alisnya saat melihat jendela Autodesk 3ds di layar komputer Naruto. "Kau bisa 3d?" Tanya Sakura sambil membuka korden.
"Ah, aku sedang mempelajari sesuatu." Naruto malas menjelaskan panjang lebar. "Kau yakin pergi bekerja hari ini?" Naruto mengalungkan handuk sambil berjalan menuju kamar mandi. Tersisa tiga puluh menit lagi sebelum pergi ke studio, sepertinya Sakura bersiap lebih pagi dari biasanya. Sakura hanya mengatakan sepatah kata 'Hem' lalu menuju kulkas Naruto, ada dua kotak susu dan... sejak kapan Naruto perduli dengan buah-buahan? ternyata Hinata merawat Naruto dengan baik. Sakura memastikan tanggal kadaluarsa susu itu sebelum meminumnya. Oh, aman, bisa diminum. Sakura membawa segelas susu ke sofa lalu berkutat dengan ponsel, terlintas di kepalanya untuk menjadi orang pertama yang menyapa Sasuke.
To Sasuke-kun : 'aku ingin memastikan kau merapikan tempat tidurmu setelah bangun.'
Sakura mengirim pensan itu sambil senyum-senyum sendiri. Ok, Kita tidak bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta, secara otomatis hormon mereka bekerja dengan sendirinya. Seperti yang pernah dilansir Konohmaru dalam seminar Cinta-nya dulu, ingat hormon Norepinephirne? astaga serius, siapa yang menciptakan nama hormon itu? susah sekali pengejaannya. Tampaknya Sakura sudah memasuki tingkatan hormon itu, tingkatan tertinggi hormon yang berpengaruh pada peranan jiwa asmara, salah satu efeknya adalah senyum-senyum sendiri. Lalu bagaimana dengan Sasuke? apakah hormon Norepi... ah sudahlah, hormon Nore pada pria itu juga bekerja?
Dan jawabannya adalah..., susah kawan, tidak mudah menebak apa yang dirasakan Uchiha Sasuke. Kusimpulkan pria itu juga senang membaca pesan Sakura karena ia memasang wajah datar yang 'berseni'. Sasuke duduk di tepi ranjangnya, sudah mengenakan pakaian rapi. Sasuke mengenakan jeans biru dongker dengan atasan kemeja putih dipadu rompi abu-abu dan jas coat biru gelap serta syal krem panjang yang menggantung pada lehernya. Kesimpulannya keren. Sasuke lalu membalas pesan jagoan Pink-nya dan dua detik kemudian pesan itu terkirim pada Sakura.
Sasuke-kun : 'sudah rapi.'
Padahal belum. Sakura tersenyum tipis lalu membalas pesan Sasuke.
To Sasuke-kun : 'benarkah? lain kali aku akan menanyakannya pada Mukade-san.'
Beberapa detik kemudian Sasuke membalas pesannya.
Sasuke-kun : 'Silahkan, tanyakan juga padanya apa aku sudah menggosok gigi.'
To Sasuke-kun : 'Baiklah, akan kutanyakan pada Mukade-san apa dia juga menggantikan pakaianmu.'
Sasuke-kun : 'Boleh saja, mungkin Mukade malah akan menyuruhmu melakukanya.'
Sasuke sukses membuat Sakura merona dalam sekejap. 'Shannaro...'
"Kau kenapa?" Naruto sudah siap, wajahnya sudah cerah bak bunga matahari. Pria itu berdiri memandang heran Sakura yang merona melihat layar ponsel. Sakura menggeleng, ia mengacuhkan pesan Sasuke dan mereka beranjak ke studio.
Officially yours - craig david
Sakura menghubungkan kabel USB antara ponselnya dan pemutar musik mobil Naruto. Lagu itu teralun santai mengiringi perjalanan mereka, tenyata Sakura sudah men-download lagu itu. Sakura ikut bernyanyi sambil bergeleng-geleng kepala. Naruto hanya menyimak saja tapi batinnya juga ikut bernyanyi. Lagu itu diputar sampai tiga kali dan Naruto pun menautkan alisnya.
"Ganti lagu..." protes Naruto.
"Kenapa? Lagu ini sangat baperable padaku saat ini." Sahut Sakura, disaat bersamaan mobil Naruto berhenti di lampu merah.
"Kau harus move on, ada yang lebih baperable untukkmu." Naruto mengganti ponsel Sakura dengan ponselnya, tidak ada satu menit Naruto menemukan lagu yang akan ia putar.
Let's Marvin Gaye and get it on...
Lagu terdengar, Naruto menaikkan alisnya dua kali menggoda Sakura lalu menginjak gas saat lampu hijau menyala. Sakura tidak paham maksud Naruto jadi ia ikut menganguk-angguk mengikuti irama lagu itu.
"Hem, boleh juga lagu ini.." Gumam Sakura.
Cahaya matahari berkilauan di atas permukaan salju. Burung berkicau dengan bangga, mengajak para pegawai studio Gamabunta bergabung dalam kegembirannya.
Haruno Sakura.
Kedatangannya bagaikan tokoh utama dalam film action, gadis itu menjadi perhatian para pegawai saat menelusuri taman menuju gedung unit 2D. Naruto yang berjalan disamping Sakura merasa seperti pengawal seorang ketua gengster Pink. Kejadian kemarin membuat nama Sakura diingat di studio Gamabunta dan yang terpenting dari itu semua adalah Sakura diakui sebagai kekasih Uchiha Sasuke. Malaikat juga tahu siapa yang jadi pemenangnya.
"Wo..wo..wo..lihat..lihat, Damn..." Para artist background 2D sedang berkumpul di ruang tengah melihat video gulat Sakura melawan 10 penggemar Sasuke dari ponsel salah satu artist. Mereka heboh seperti melihat siaran ulang turnamen tinju internasional, setelah lima menit berlalu tibalah Sakura.
"Wooooaaaaa ini dia..." Plok plok plok plok plok Plok plok plok plok plok...
Sakura disambut tepuk tangan meriah saat dirinya tiba di ruang background 2D. Devisi itu seperti usai memenangkan satu peperangan sengit, peperangan melawan penggemar Sasuke. Mereka memuji aksi gulat Sakura kemarin dan juga tidak lupa mem-bully setelah itu.
"Kalian lihat bagaimana Sakura melempar Karin?" Kiba memperagakan gerakan Sakura dan dia terlihat seperti hulk yang mengamuk, membuat semuanya terkekeh. Sakura hanya memasang wajah datar melihatnya.
"Kami akan mendaftarkanmu ke dalam anggota Avengers, Pinky." Konohamaru mengacungkan jempol, spontan mereka menyebutkan beberapa julukan yang pantas untuk Sakura. Terdengar konyol apalagi ide Kiba mengusulkan nama 'Badak bercula Pink', mereka tertawa lepas. Sakura memandang rekan-rekannya dengan senyuman tidak ikhlas. Sekejap ia melihat luka cakaran pada beberapa dari mereka dan terbesit dipikiran Sakura untuk mengucapkan rasa terimakasih.
"Guys, apa kalian mau makan pizza?" Tanya Sakura.
"O yeaaah..." semua langsung bersemangat. Ino menghubungi pizza delivery atas nama Sakura, artist background 2D akan sarapan pizza pagi ini.
Morning Gamaners! Bersama Kotetsu di sini untuk membuat hidup kalian semakin bewarna...
Penyiar Kotetsu menampakkan pita suaranya menyapa para pegawai. Pagi ini penyiar Kotetsu mengaktifkan semua speaker di area studio Gamabunta. Didengar dari suara charming-nya yang sangat bersemangat, mungkin suasana hati penyiar radio Gama itu sedang sangat baik. Sakura tidak akan melupakan suaranya karena pria itu salah satu penyebab pertempuran kemarin terjadi. Shannaro! Beruntungnya Kotetsu masih bisa mengoceh pagi ini karena masalah kemarin sudah ditutup.
Seindah-indahnya hidup yang berwarna tidak terlepas dari peranan cinta. Bagaikan kupu-kupu merah yang mengepakkan sayap. Keindahan sayapnya memancarkan pesona. Ada cinta di matanya yang dapat menarik kita mendekat, kita bisa saja mendapat kesulitan karena dia tapi kita juga akan senang didalam kesulitan itu, sulit untuk dilupakan. Haha.. Ok baiklah, Gamaners! Karena Seni itu abadi maka buatlah dengan cinta. Selamat bekerja dan keep love...
Hampir semua pegawai Gamabunta memasang wajah bodoh. Mereka tidak mengerti apa yang barus saja penyiar itu katakan tentang kupu-kupu merah. Mungkin hanya seseorang yang memahaminya, yaitu Karin. Penyiar Kotetsu mengakhiri kata sambutannya dengan memutar lagu, Charlie Puth feat Meghan Trainor berjudul Marvin Gaye. Eherm!
"Ah Ino! aku tahu sekarang!" Tenten menepuk kepalan tangannya, ia bertatapan dengan Ino sekejap. "Dengarkan lagu ini."
"Menurutmu begitu?" Tanya Ino.
"Hemm, kuarasa begitu..." Tenten mengangguk. Kau benar Tenten, aku juga berpikiran sama sepertimu.
Let's Marvin Gaye and get it on...
You got the healing that I want
Just like they say it in the song
Until the dawn, let's Marvin Gaye and get it on...
Sasuke sedang fokus melihat laporan berkas dari Jugo, pria itu tenang membolak-balik kertas sementara Jugo memandang Sasuke dengan tenang. Jugo merasa turut bahagia mengetahui hubungan asmara atasannya itu. Selama ini Jugo sendiri dibuat bingung menganalisis Sasuke, sekarang analisis itu sudah terjawab, pria kesepian dihadapannya itu sudah tidak lagi sendiri. Sekarang Sasuke sudah memiliki cintanya. Jugo pun tersenyum.
Sasuke mengalihkan pandangan dari berkas dan sedikit menautkan alisnya saat melihat ekspresi Jugo yang damai. "Kenapa?" Tanya Sasuke.
"Tidak." Jugo menggeleng. Sasuke lalu menyodorkan laporan itu kembali. "Sasuke, aku sudah mengatur keberangkatanmu ke Los Angeles."
"Aa, apa Jiraiya-sama dan lainnya sudah diberitahu soal ini?"
"Sudah. Lusa beliau sudah ada di sana, besok malam pesawatnya berangkat. Team juga akan berangkat besok." Jawab Jugo. "Em, Sasuke, apa kau mau didampingi seseorang dalam acara itu?" Maksud Jugo mungkin Sakura. Siapa lagi? tidak mungkin Mukade.
Sasuke diam tidak menjawab. Ia meraih ponselnya, tidak ada balasan pesan dari Sakura setelah pesan terakhir yang ia kiriman. Sasuke hanya tersenyum samar. Jugo menunggu respon Sasuke, masih dengan wajah damai.
"Aku akan memberitahumu nanti." Jawab Sasuke kemudian.
"Baiklah." Jugo berdiri.
"Aa, Jugo." Panggil Sasuke. "Aku ingin kau mencari tahu sesuatu."
.
.
"Guys! Pizza-nya sudah datang, dua orang pergi mengambilnya di gerbang depan!" Seru Ino, dua artist pun diutus untuk mengambil pizza itu setelah Sakura menitipkan uang untuk membayar. Saat ini jam 10 pagi, pizza bisa mengganjal perut mereka sebelum makan siang.
"Nana..nana..nananana..." Sakura bersenandung irama musik Marvin Gaye. Ternyata lagu itu membekas di kepalanya. "Hei Konohamaru." Sakura menggerakkan kursinya mendekat ke meja kerja Konohamaru. "Kau tahu lagu yang diputar radio Gama tadi? judulnya apa?"
"Marvin Gaye?" Konohamaru menoleh, "Charlie Puth feat Meghan Trainor" sambungnya sambil tersenyum penuh arti. Sakura hanya menautkan alisnya melihat ekspresi Konohamaru.
"Ok..., bagaimana tulisannya?" Sakura mendorong kursinya kembali dan langsung mencari lagu itu di mesin pencarian Google. Konohamaru mengejanya dan beberapa artist background menoleh ke arah mereka termasuk Ino.
"Ah! dapat. Ok sip." Ucap Sakura, Lagu langsung di-download.
"Kenapa kau susah-susah men-download-nya? lagu itu ada di loker server 2D." Konohamaru heran tapi Sakura sudah terlanjur men-download lagu itu, biarkan saja.
"Hei, dimana Obito? dia tidak masuk?" Tanya Sakura kemudian. Melihat duo morron tidak lengkap rasanya seperti sayur tanpa garam.
"Entahlah." Konohamaru mengedikkan bahu. "Dia tidak memberitahuku, coba tanya Ino." Sambungnya, Konohamaru kembali meneruskan background-nya yang rumit itu, tampaknya sudah hampir jadi. Sakura hanya memandang meja kerja Obito sekejap lalu fokus ke layar komputernya lagi. Ternyata ketidak lengkapan duo morron membuat hati Sakura serasa sepi. Loh.. kan sudah ada Sasuke...
Dua pria background 2D berjalan membawa tujuh kardus pizza ke unit 2D. Perhatian pegawai yang berlalu lalang tertuju pada mereka, beberapa diantaranya menanyakan ada gerangan apa mereka membeli banyak pizza dan ada juga yang meminta bagian padahal tidak kenal.
"Pizzaaaa...!"
Perhatian semua artist background langsung terpusat pada utusan pengambil pizza. Mereka meninggalkan assignment sejenak untuk memanjakan lidah, tapi belum sempat kotak pizza dibuka, Ino memberikan kabar baik.
"Guys! Lima menit lagi chek approval art director !"
"Oh! Ayolaaaaah!" Seru semua artist background serempak.
"Ada apa ini?" Obito datang, ia melihat raut wajah malas semua rekan-rekannya yang terpampang jelas. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing sambil menggerutu, mungkin ada yang mendoakan Orochimaru terserang diare pada detik-detik terakhir saat menuju ruang background 2D.
"Siapa yang membeli pizza-pizza itu?" Tanya Obito, ia duduk di kursi kerjanya lalu menghidupkan PC.
"Pinky yang membelinya." Jawab Konohamaru.
"Wah, apa ini bentuk rasa syukurmu?" Tanya Obito, "Ah..., aku datang di waktu tepat." Pria itu tersenyum pada Sakura yang menoleh sekejap.
"Kau darimana saja? Jam segini baru masuk.." Sakura melengos menatap layar komputernya kembali.
"Kenapa? kau merindukanku? aku tidak ingin berurusan dengan Sasuke. Berat..." Sahut Obito dan Sakura hanya memutar bola matanya.
Lima menit teng kemudian Orochimaru datang. Art director 2D itu memulai chek approval artist background 2D dengan teliti. Semua artist menghentak-hentakan kaki mereka menunggu giliran sambil berdoa chek approval cepat selesai karena pizza sudah melambai-lambai. Orochimaru memandang background Sakura cukup lama, dilihat dari ekspresi Orochimaru, art director itu sepertinya terpukau dengan hasil background Sakura yang satu ini. Background medan pertempuran Jack yang dibuat Sakura sangat dramatis, artist background menyebut background sejenis itu dengan istilah 'master piece'. Feel Background itu sangat mengena, membuat orang bisa terbawa suasana. Orochimaru pasti tidak menyangka kalau background medan perang luluh lantah itu dibuat oleh seseorang yang sedang kasmaran. Tidak ada yang adil dalam cinta dan perang. Cinta adalah seni. Aku mulai gila.
Sakura menjadi artist terakhir yang melakukan chek approval, begitu Orochimaru enyah dari ruang background 2D, pizza langsung diserbu.
"Tunggu!" Seru Sakura. Semua artist menghentikan pergerakan mereka. "Ada seseorang yang harus diundang." Sambung Sakura, ia berjalan menuju meja kerja Ino.
"Siapa lagi kali ini? kau mau mengundang CEO Gamabunta?" Tanya Konohamaru dan backsound Cie terdengar seperti biasa. Sakura melambaikan tangan dengan cepat sambil mengangkat ganggang telpon.
"Lalu siapa yang akan kau undang? Obama?" Tanya Kiba. Sakura menggelengkan kepalanya sambil melihat daftar sambungan telpon studio, yang lainnya masih menunggu sampai Sakura mengatakan
"Hallo unit kebersihan, apakah Hayate ada?"
Sosok Hayate muncul lima belas menit kemudian, itu waktu yang cukup lama untuk membuat lidah artist background 2D gatal. Mereka bertanya dalam hati kenapa Sakura memanggil Hayate, tapi hal itu tidak perlu dipikirkan, pizza keburu dingin. Mereka langsung mengesekusi pizza. Hayate malu-malu bergabung dan artist background menjamunya dengan baik.
"Sering-sering seperti ini Pinky..." Ucap Kiba.
"Aku bisa makan rumput kalau sering-sering." Sahut Sakura dan semua terkekeh. "Guys, aku minta maaf sudah merepotkan kalian kemarin, terimakasih banyak sudah mendukungku." Ucap Sakura kemudian.
"Ah sudahlah, berjuang untuk cinta adalah suatu kebajikan tiada tara." Sahut Obito, ada yang tertawa dan ada yang tetap fokus melahap pizza. Lihat, mereka rebutan saos tomat. Untung saja Sasuke tidak diundang.
"Let's Marvin Gaye and get it on..." Sakura bersenandung ria sepanjang perjalanan menuju kafetaria, serempak Tenten dan Ino menoleh memandang Sakura yang berjalan di tengah-tengah mereka. Sakura masih saja menjadi pusat pandangan para pegawai yang berlalu lalang. Gadis itu terkenal sekarang.
"Kau tampaknya demam lagu itu." Ucap Ino. Sakura hanya menoleh sekejap sambil terus bersenandung.
"Maklum Ino, dia kan sedang menuju ke masa itu." Sambung Tenten, Ino hanya mengedikkan bahunya sambil tersenyum.
"Menuju ke masa apa?" Sakura spontan menghentikan senandungnya.
"Marvin Gaye..." Tenten menaikkan kedua alisnya naik turun. Sakura tidak mengerti dan dia memasang wajah bodoh. Tenten langsung paham artinya.
"Memangnya Marvin Gaye itu apa? Kukira itu nama orang.." tanya Sakura.
"Coba kau katakan itu pada Sasuke." Ucap Ino, Tenten mengangguk setuju.
"Apa itu semacam istilah?"
"Hem." Tenten mengangguk "Istilah lain dari kasih sayang." Sambungnya dan Ino menahan senyum. "Semacam ungkapan untuk lebih saling mencintai."
"Oh.." Sakura mengangguk-angguk. "Apa itu bahasa slank?"
"Yup." Sahut Tenten. Sakura tersenyum, sepertinya ia mendapat kosa kata baru untuk mengungkapkannya pada Sasuke.
"Sakura-saaaaan..." Izumo menyambut Sakura dengan antusias. "Kemarin kau sangat menakjubkan, kami juga ikut melihat dan mendukungmu, iya kan Genma?" Izumo tidak melewatkan pembahasan soal pertempuran kemarin. Genma hanya menaikkan kedua alisnya satu kali sambil mengangkat jempol untuk Sakura.
"Bagaimana keadaanmu? Tampaknya kau sehat-sehat saja setelah melawan sepuluh orang wanita?" Tanya Genma.
"Yah, kau bisa lihat sendiri aku masih bisa berjalan ke kafetaria." Jawab Sakura. Genma tersenyum simpul dan Izumo terkekeh lembut, disaat bersamaan munculah Karin. Suasana menjadi hening, sehening samudra Antlantik. Dingin. Karin hanya melirik Sakura dari sudut matanya yang tajam dan Sakura mengerling pada Karin seadanya. Tidak ada percakapan.
"Izumo tiga lemon tea." Ucap Sakura.
"Genma, satu cappucino." Ucap Karin.
Keduanya memesan secara bersamaan lalu saling melirik lagi. Tenten dan Ino hanya membatin sementara Izumo dan Genma pergi menyiapkan pesanan.
"Let't Marvin Gaye and get it on..." Tenten besenandung sambil melirik Karin. Tidak sampai semenit Genma kembali membawa pesanannya, Karin langsung menyaut minuman di tangan Genma dan pergi tanpa mengatakan kata magic. Izumo yang melihatnya sedikit cemberut.
"Aku bersyukur kau bisa mengalahkannya kemarin Sakura-san..." Ucap Izumo, ia membawa tiga lemon tea pesanan Sakura.
"Ya, begitulah..., suatu kehormatan bagiku bisa menghajarnya." Sakura menoleh kembali lalu memikirkan kata magic.
"Satu kata magic untuk tiga lemon tea." Izumo sedang berbaik hati.
"Marvin Gaye." Sakura mengucapkan kata magic-nya sambil tersenyum tipis. Izumo dan Genma langsung bertatapan. Gadis itu beranjak pergi setelah mengambil minuman dan satu buah apel. Ino mengikuti Sakura sambil menahan senyum sementara Tenten mengedikkan bahu penuh arti pada Genma dan Izumo.
Sakura, Ino, dan Tenten menuju movie box studio. Perut mereka sudah terisi pizza dan mereka libur pergi ke kantin hari ini, kecuali para pria background, bagi mereka makan siang itu wajib hukumnya.
"Let's Marvin Gaye and get it on..." Sakura bersenandung saat melihat Gaara dan gengster Yakuza berjalan menuju kantin. Mereka berpapasan, Gaara lalu berhenti menyapa Sakura. Tenten dan Ino jalan duluan begitu pula Gengster Yakuza, kecuali Deidara, pria itu ikut berhenti.
"Pinky-head. Aksimu luar biasa kemarin, apa aku bisa mendapat tanda tanganmu?" Goda Deidara. Sakura hanya tersenyum menanggapi pria kopian duo morron itu.
"Mau makan siang?" Tanya Sakura.
"Hem.." Gaara mengangguk. "Aku cukup terkejut kau memiliki banyak tenaga untuk bekerja hari ini."
"Tenaganya seperti oger, kita harus berpikir dua kali untuk mengganggunya Gaara." Sahut Deidara.
"Yeah..., dan kau tidak berpikir dua kali saat mengucapkanya." Balas Sakura dan Gaara tersenyum tipis.
"Kau tidak makan siang?" Tanya Gaara. Sakura menjawab dengan mengangkat lemon tea dan satu buah apel. Gaara cukup paham artinya. "Ok,kami duluan." Gaara hampir saja menyentuh kepala Sakura tapi untung saja itu tidak terjadi karena bisa memicu perang kedua. Gaara melihat pemilik gadis ini melintas bersama Jugo sambil melihat ke arah mereka dari kejahuan.
"Ok, komandan." Sakura berhormat. "Selamat makan siang dan salam Marvin Gaye." Sakura tersenyum polos. Deidara menautkan alisnya dan Gaara diam dalam ketenangan. Keduanya menoleh kebelakang memandang Sakura yang berlalu pergi. Sakura..., lebih baik kau melompat ke jurang sekarang.
"Man, selera humornya cukup tinggi." Deidara menepuk pundak Gaara. "Ayo isi perutmu." dua pria itu pun melanjutkan langkah mereka lalu berpapasan dengan Sasuke. Hanya terjadi adu pandang selama tiga detik antara Jade dan Onyx.
Ponsel Sakura bergetar saat ia menuju cinema box menyusul Ino dan Tenten. Sasuke menghubunginya.
"Hallo?"
"Kukira kau istirahat di apartemen." Sahut Sasuke, langkahnya cepat seperti biasa menuju parkiran basement bersama Jugo.
''Tidak masalah jika hanya duduk di depan komputer." Jawab Sakura. "kau sudah makan siang Sasuke-kun?'
"Belum. Aku akan makan siang bersama Jugo di luar usai menyelesaikan urusan. Nanti kau pulang denganku. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Sakura menutup telpon sambil tersenyum, ia melanjutkan langkahnya menuju gedung tiga. Ino dan Tenten sudah sampai di depan movie box menunggu Sakura, gadis itu datang lima menit kemudian dan masih dengan raut wajah yang tersenyum sambil menyanyikan lagu Marvin Gaye.
"Tetanic?" Tanya Ino saat mereka melihat daftar film yang diputar cinema box pekan ini. Semua setuju dan mereka masuk cinema box 1 saat film baru saja diputar. Suasana di dalam sepi, hanya ada lima orang di dalam. Sakura, Ino, dan Tenten duduk di deretan tengah. Ketiganya menonton film Tetanic dengan penghayatan yang mendalam, melihat setiap drama cinta Jack dan Rose di atas kapal yang melegenda. Ekspresi Sakura sangat serius saat melihat adegan Jack menggambar Rose tanpa busana, gadis itu tersenyum tipis, terlintas di kepalanya bagaimana jika seandainya itu terjadi pada dirinya dan Sasuke.
"Serius sekali." Tenten menyenggol tangan Sakura, membuat kefokusan gadis itu terpecah belah. Kefokusan terhadap apa Sakura? Film atau khayalanmu?
"Pasti kau berpikir untuk memperaktekan adegan ini." Bisik Ino dan Sakura sedikit salah tingkah.
"Apa maksud kalian? dia bahkan tidak bisa melukis." Sakura berusaha memasang wajah lebih rileks.
"Kau tahu darimana dia tidak bisa melukis? Setiap orang punya jiwa seni dalam diri mereka." Sahut Tenten.
"Ini bisa menambah tingkat Marvin Gaye kalian." Bisik Ino dan Sakura menoleh memikirkan sesuatu, ada semburan tipis di wajahnya.
"Terimakasih sudah memberiku ide." Padahal idenya sudah datang dari tadi. "Tapi, tidak perlu seperti itu untuk meningkatkan Marvin Gaye." Sambung Sakura, ia kembali memandang layar sedangkan Ino dan Tenten serempak menoleh ke sisi lain menahan kekehan.
"Let's Marvin Gaye and get it on... na..na..nananana..." Sakura bersenandung di dalam mobil Sasuke sementara kekasihnya yang sedang menyetir itu memasang tampang datar yang berpikir. Sakura tidak tahu lengkap lirik lagunya jadi ia hanya mengulang-ngulang sepanggal kalimat depannya saja dan seterusnya dilanjutkan dengan nanananana... Sasuke mungkin sedang memikirkan sesuatu saat mendengar Sakura menyanyikan lagu itu sejak tadi, tapi Sasuke tidak menanggapinya secara lisan. Jadi..., apa yang kau pikirkan Sasuke?
"Sakura, kau mau makan apa?" Sasuke menginterupsi senandung Sakura.
"Hmm? mau makan di luar? tidak memasak di apartemen saja?" Sakura balik bertanya.
"Tidak, kita makan di luar saja. Apa kau tidak terlalu lelah saat ini?"
"Tidak juga. Hanya pegal-pegal sisa kemarin." Jawab Sakura.
"Bagaimana keadaan luka di kakimu? apa semakin membengkak?"
"Ah ya, sedikit. Aku terus mengoleskan saleb lebam, sudah lumayan mereda sakitnya." Jawab Sakura dan Suasana hening sekejap. Sakura bersenandung lagi tapi kali ini cuma nananana.
"Kita akan ke mall Konoha, ada sesuatu yang ingin kubeli sekalian kita makan di sana." Ucap Sasuke kemudian. Sakura langsung berhenti bersenandung, ia menoleh menatap Sasuke.
"Kenapa kita harus makan di mall?" Raut wajah Sakura berubah.
"Kita akan membeli kado untuk Itaru, hari minggu dia ulang tahun. Lusa aku akan ke Los Angeles jadi kupikir beli sekarang saja."
Sakura ingin menginterupsi tapi ia bingung karena ini menyangkut kado ulang tahun Itaru. 'Gawat, mall...' Sakura berharap mall Konoha tidak ramai pengunjung, tapi sepertinya harapan itu tidak akan terwujud mengingat tadi Ino dan Tenten bergegas menuju bazar awal bulan. Shannaro...
Mobil Sasuke terparkir cantik di basement Konoha city mall dan Sakura menjadi sedikit resah. Keduanya lalu berjalan menuju lift. Sakura bersyukur mereka tidak masuk lewat pintu depan untuk mengarungi lantai demi lantai seperti dulu. Sebelumnya, Sakura sudah mengusulkan pergi ke toko mainan lain tapi Sasuke enggan, pria itu bermaksud sekalian makan malam tanpa harus berpindah tempat. Sakura terpaksa setuju, gadis itu hanya diam berjalan di samping Sasuke.
"Ada apa?" Sasuke menyadari gelagat Sakura yang sedikit berubah. Lift yang mereka tumpangi sedang menuju lantai empat. Sakura hanya menggeleng sambil tersenyum samar menanggapi pertanyaan Sasuke.
Ting!
Pintu lift terbuka dan suara keramaian gedung mall menyambut Sakura. Menelan ludah, gadis itu mengikuti langkah Sasuke keluar lift. Ramai, itu keterangan yang pas untuk menggambarkan suasana mall Konoha saat ini. Ada bazar awal tahun dari lantai satu sampai dua, musik hiburan bergema di lantai dasar, suaranya terdengar jelas sampai ke lantai empat dimana Sakura dan Sasuke sedang menuju toko mainan sementara Sasuke menjadi pusat perhatian para wanita yang berlalu lalang.
Lantai empat juga lumayan ramai tapi tidak segila di bawah. Sakura masih bisa mengontrol mentalnya, ia bernapas secara teratur sampai mereka berbelok ke persimpangan dan melihat wahana bermain mall. Ada dua boneka badud di depan wahana bermain, badud itu dikelilingi banyak orang yang berlalu lalang, berbagai macam suara dari wahana bermain terdengar bising di telinga Sakura, suara tulilat tulilit bercampur pyar-pyar itu mulai mempengaruhi konsentrasinya. Jantung Sakura perlahan berdegup kencang, kepalanya menunduk saat melewati wahana bermain itu. Sasuke yang berjalan di samping Sakura hanya diam sambil melirik.
"Sasuke-kun, ayo cepat." Sakura mempercepat langkahnya mendahului Sasuke.
Mereka tiba di toko mainan yang dimaksud. Sakura bisa mengambil napas lega. Suasana toko mainan santai dan tenang seperti toko buku, tidak banyak pengunjungnya. Sasuke mencari benda yang ingin dibeli, tidak membutuhkan waktu sepuluh menit untuk mencari benda yang dimaksud. Sasuke memilih satu lampu tidur luar angkasa. Lampu itu bisa memproyeksikan luar angkasa bertabur bintang dan roket. Sakura bingung mau memilih kado apa dan ia mendapat ide setelah mengingat film Tetanic. Sakura memutuskan memberikan Itaru satu set cet poster beserta satu kanvas kosong berukuran 40x40 cm yang sudah terbingkai.
"Kau akan mengajari Itaru melukis?" Tanya Sasuke.
"Setiap orang punya jiwa seni dalam diri mereka. Aku ingin Itaru mengabadikan itu di hari ulang tahunya yang ke-delapan." Sakura tersenyum.
"Benarkah?" Sasuke tersenyum samar, mereka menuju kasir untuk transaksi.
Sasuke dan Sakura pergi ke restoran Jepang setelahnya. Restoran itu letaknya di lantai paling atas. Sakura mengalami ketergangguan mentalnya kembali setelah berjalan menelusuri lantai empat untuk mencapai eskalator. Sasuke masih diam dan hanya mengamati gelagat Sakura.
"Ittadakimasu..."
Sakura mengambil potongan sayur dari panci Sukiyaki berukuran jumbo di hadapannya, ia yang memesan menu itu. Sasuke menurut-menurut saja dan makan dengan lahap tapi tidak selahap Sakura yang tampaknya sangat kelaparan.
"Tadi siang makan?" Tanya Sasuke. Sakura hanya menggeleng sambil menyuapkan jamur ke dalam mulutnya.
"Pagi tadi aku makan banyak pizza dan siangnya aku tidak makan." Jawab Sakura sambil mengunyah makanan. Jangan dicontoh... nanti bisa tersedak.
"Usai ini langsung istirahat." kata Sasuke.
"Loh, habis ini tidak mampir ke apartemen?"
"Aa, mampir sebentar." Tidak usah ditanya, tentu saja Sasuke mampir...
"Baiklah, hehe.." Sakura menampakkan cengiran. Melihat ekspresi wajah Sakura yang tampak bahagia itu Sasuke pun tersenyum samar.
"Kau tampak bahagia sekali." Sasuke mengambil potongan daging dari panci lalu melahapnya. Sakura memandang Sasuke, ia tersenyum lalu menunduk.
"Yup. Kita bisa melewati Marvin Gaye bersama malam ini." Ucap Sakura dan Sasuke langsung tersedak.
"Pelan-pelan makannya." Sakura menyodorkan segelas air. Sasuke masih batuk-batuk dan Sakura berdiri sekejap untuk menepuk punggung Sasuke sampai batuknya reda. Sasuke berdeham lalu meneguk air putihnya sampai habis. Sakura masih memandang Sasuke sampai pria itu meletakkan gelasnya. Seperti apa raut waut wajah Sasuke saat ini? Wajah datarnya tersirat keterkejutan karena onyx Sasuke cukup lama memandang Sakura yang sudah meneruskan melahap makanan kembali. Kenapa Sasuke? apa kau bertanya-tanya dimana Sakura membenturkan kepalanya? Idenya itu briliant kan?
Mereka beranjak setengah jam kemudian usai makan malam. Sakura berharap mereka cepat sampai ke lift tapi Sasuke malah menuju eskalator dan Sakura spontan menghentikan langkahnya.
"Sasuke-kun.." Panggil Sakura. Sasuke berhenti persis di depan ekskalator, ia bergerak ke samping kiri karena ada gerombolan gadis yang mau lewat. Mata mereka membelalak melihat sosok Sasuke. Good Damn, so handsome.
"Kita naik lift saja." ajak Sakura. Sasuke mendekat lalu menggadeng tangan Sakura. Sasuke tidak mengatakan apa-apa, ia menatap Sakura sekejap lalu melangkah menuju ekskalator tapi Sakura masih tidak mau bergerak. "Naik lift saja." Sakura mengulangi permintaannya.
"Aa, kalau begitu aku duluan." Sasuke melepas genggamannya dan melangkah ke ekskalator. Sakura tidak punya pilihan lain saat Sasuke benar-benar pergi duluan, gadis itu akhirnya mengikuti.
Sasuke menoleh ke belakang, ia berpandangan dengan raut wajah Sakura yang tampak resah. Sasuke menunggu Sakura di tepi ujung ekskalator setelah anak tangga membawanya ke bawah. Menelusuri lantai empat, Keduanya berjalan sampai di depan ekskalator selanjutnya. Sakura tampak ragu mengikuti Sasuke tapi pria itu tetap melanjutkan langkahnya. Sakura mengambil napas dalam, suara pertunjukan musik di bawah sana semakin terdengar jelas saat ekskalator membawanya menuju lantai tiga. Pengunjung semakin ramai dan jantung Sakura mulai tidak beres. Sasuke kembali menunggu di bawah ekskalator sambil memandang Sakura.
"Sasuke-kun, ayo kita naik lift saja." Ajak Sakura lagi.
Sasuke masih bungkam, ia menggandeng tangan Sakura menelusuri lantai tiga menuju ekskalator selanjutnya. Pandangan Sakura mulai pusing saat ia berpapasan dengan banyak orang di sepanjang lorong lantai tiga. Mall Konoha tidak pernah sepi, bahkan di weekday seperti ini. Sakura berusaha mengatur napas, ia menutup mata sambil berjalan. Jantungnya mulai berirama cepat. Sakura menutup sebelah telinganya, mencoba mengabikan suara kegaduhan di bawah yang berasal dari gabungan musik dan komentator bazar. Namun ini tidak berhasil, kondisi mall sudah terlanjur menggangu sistem mentalnya. Sakura menyentuh dada, jantungnya mulai berdegup lebih kencang. Rasanya seperti diterjang ombak sangat besar. Orang-orang yang berlalu lalang mulai mengaburkan pandangan Sakura saat ia membuka mata.
Sasuke dan Sakura sampai di ekskalator selanjutnya menuju lantai dua. Wajah Sakura mulai serius sekarang. Tangannya masih dalam genggaman erat tangan Sasuke, ia dibawa naik ke ekskalator dan keramaian lebih padat menyambut Sakura di lantai dua. Shannaro. Bising sekali, pertunjukan musik pop bergema sangat keras, jantung Sakura sampai berirama mengikuti ketukan drum. Sakura memejamkan mata kembali saat menelusuri lantai dua. Kejadian ini terulang lagi, memori Sakura terputar saat pertama kali ia mengunjungi mall ini, saat ia bertemu Kenji, saat ia bertemu Gaara.
Tidak bisa. Suasana ini tercampur aduk menjadi satu di perut.
Mual.
Sakura tidak bisa lagi melanjutkan langkah, ia menarik tangannya dari Sasuke dan langsung menuju ke tepi menubruk pengunjung yang berlalu lalang. Sakura menutup kedua telinganya, ia menunduk dan memejamkan mata. Mencoba menenangkan dirinya sendiri, mengatur napas dalam. Mualnya sudah terlanjur datang. Sulit untuk bersugesti jika semuanya akan baik-baik saja.
Sasuke menghampiri. Pria itu mengamati Sakura dengan tenang sambil menunggu, membiarkan semua ini mengalir begitu saja. Sasuke sepertinya tahu masalah Sakura dan dia sengaja membawanya dalam kondisi ini. Perlahan Sasuke menarik satu tangan Sakura dari telinga, spontan gadis itu menggeleng dan menarik tanganya kembali. Sasuke lalu mendekatkan wajahnya dan menepuk bahu Sakura dua kali.
"Kita lanjutkan?" Tanya Sasuke.
"Bawa aku ke tiolet." Pinta Sakura, yang ia butuhkan saat ini adalah mencuci tangannya. Air.
Sasuke menunggu Sakura di depan toilet. Pria itu duduk di bangku panjang sambil bersedekap memikirkan sesuatu. Sakura sedang menikmati aliran air membasuh kedua tangan, rasanya sangat sejuk bagai penawar mujarab. Dua puluh menit kemudian Sakura keluar toilet mengampiri Sasuke.
"Sudah?" Tanya Sasuke. Sakura mengangguk, wajahnya sudah tidak pucat seperti tadi.
"Aku mau kita naik lift Sasuke-kun..."
"Aa. Baiklah."
.
.
"Tadaimaa..."
Sasuke dan Sakura masuk ke dalam apartemen. Mereka melepas jaket dan menggantungkannya di tiang gantung dekat pintu. Sakura langsung menuju dapur untuk meneguk segelas air putih sedangkan Sasuke duduk menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa tuang tengah. Sakura lalu menghampiri setelah mengganti celananya dengan celana rumah sependek lutut, ia menuju buffet TV untuk memutar lagu slow. Suara Ed Sheeran memecah keheningan menyanyikan lagunya berjudul Thinking Out Load, volumenya sedang dan bersyukur gadis itu tidak memutar lagu Marvin Gaye disaat-saat seperti ini.
Sakura beranjak duduk di samping Sasuke, ia menyadari betapa nikmatnya aroma pria di sebelahnya ini saat ia ikut menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa. Sakura menghirupnya, memerintahkan diri sendiri untuk bersantai dan menikmati kebersamaan dengan Sasuke sebelum pria itu pulang. Keheningan terjadi, keduanya menikmati alunan lagu sambil melepas lelah sejenak. Kepala Sasuke menoleh ke samping, pria itu memandang Sakura yang tengah memejamkan mata menikmati aroma Sasuke yang mengeruak.
"Sakura."
"Hem?"
Sasuke menjauhkan punggungnya dari sandaran dan bergerak meraih kedua kaki Sakura, mengangkatnya naik ke atas. Sakura tersentak kaget, tubuhnya berputar dan merosot untuk berbaring. Kedua kakinya berada dalam pangkuan Sasuke, pria itu mengarahkan Sakura untuk terbaring rileks.
"People falling love in mysterious way..." Sakura ikut bersenandung, matanya terpejam sambil membenarkan posisi kepalanya pada bantal sofa. Sasuke melihat luka kaki Sakura yang masih belum kering, jarinya menyentuh pinggiran luka membuat Sakura sedikit tersentak.
"Jangan disentuh Sasuke-kun..."
"Aa, aku hanya melihatnya saja." Sasuke menyandarkan punggungnya menyamping, menghadap Sakura. "Aku ingin mendengar masalahmu." Ucap Sasuke kemudian.
"Masalah tentang apa?" Sakura membuka mata.
"Apa kau punya masalah di keramaian?" Tanya Sasuke. Keduanya berpadangan dan terdiam. Sakura berpikir apakah ia harus menceritakan ini dan sepertinya memang harus begitu saat melihat wajah Sasuke menunggu cerita darinya.
"Ya, aku bermasalah dengan keramaian di tempat umum, terutama di dalam ruang tertutup yang dibatasi langit-langit atap." Jawab Sakura. Sasuke diam seperti ingin mendengar ulasan lebih jauh. Onyx-nya menatap Sakura dengan tenang disaat bersamaan lagu Ed Sheeran berhenti teralun.
"Sudah berapa lama itu berlangsung?"
"Em, kurasa saat menginjak bangku SD."
"Ceritakan padaku." Pinta Sasuke. Sakura terdiam lalu melihat langit-langit ruang tengah.
"Saat aku menginjak umur sekitar lima tahun, aku mengalami halusinasi." Sakura diam sejenak. "Aku akan membayangkan sesuatu yang kecil menjadi besar dan banyak. Seperti satu helai rambut yang akan menjadi beribu helai, satu lembar kertas yang akan berubah menjadi banyak sekali kertas yang akan menimpaku dan menguburku. Aku merasakannya, rasanya sangat nyata dalam kepalaku, aku ketakutan sendiri." Terang Sakura.
"Orang tuamu tahu hal itu?"
"Aku tidak menceritakan pada mereka, di usiaku saat itu aku sendiri bingung bagaimana berkomunikasi dengan orang dewasa, aku memenyimpannya sendiri sampai menginjak bangku SD." Sasuke terdiam mendengarnya.
"Halusinasi itu berawal saat aku tidur dengan ibuku di malam hari. Di usiaku saat itu aku takut tidur sendirian." Sambung Sakura. "Suasana kamar saat itu gelap remang-remang. Aku tahu ibuku akan meninggalkan kamarku saat aku tertidur. Aku melingkarkan rambutnya pada jari telunjukku bemaksud agar terbangun saat ibuku akan beranjak dari kamar dan itu menjadi kebiasaanku. " Sakura menceritakan lebih detail awal mula ketakutannya.
"Saat ibuku tengah tertidur, aku menatap sudut langit-langit kamar yang gelap. Aku menatapnya cukup lama dan tiba-tiba saja aku membayangkan satu helai rambut yang berubah menjadi ribuan helai yang sangat banyak. Aku memejamkan mata, aku meringkuk pada ibuku sambil ketakutan, aku memanggil namanya berulang kali dan ibuku hanya mengelus lenganku. Aku merasa aman saat disentuh, halusinasiku perlahan berakhir dan aku bisa tertidur."
"Berapa sering kau mengalami halusinasi itu?" Tanya Sasuke.
"Tidak sering, intensitasnya berkala dan disaat-saat tertentu saja. Awalnya itu terjadi hanya ketika menjelang tidur. Tapi halusinasi itu kian lama berkembang bahkan saat aku melakukan aktifitas. Hal itu pertama kali terjadi ketika aku menginjak bangku SD, saat aku sedang mengerjakan soal matematika. Aku menatap seisi ruangan kelas agar tersadar dari ketakutanku sendiri. Aku menepuk teman satu bangku dan memancingnya untuk mengobrol. Ketakutanku akan hilang dengan sendirinya secara perlahan. Naruto adalah orang pertama yang menyadari keanehanku, aku menceritakan semua padanya, ia tahu cara menenangkanku. Naruto akan mengusap lenganku atau memelukku sama seperti yang dilakukan Kakakku setelah ia mengetahui masalah itu."
"Aa.." Sasuke mengangguk paham, tampaknya ia mengetahui sesuatu. "Apa sekarang kau masih mengalami halusinasi itu? Kenapa kau tidak pergi ke Psikiater?"
"Oh ayolah, dulu jaman ponsel monokrom sebesar batu bata. Kami tidak berpikir untuk pergi ke Psikiater. Aku berusaha menanganinya sendiri, dengan kesadaran penuh aku berusahan melawan ketakutanku. Aku bersugesti bahwa halusinasi itu tidak nyata, apa yang kubayangkan tidak bisa membahayakanku. Lama-kelamaan aku berhasil mengendalikannya."
"Lalu kenapa kau takut dengan keramaian?" Tanya Sasuke. Sakura terdiam. Gadis itu memandang Sasuke cukup lama untuk menceritakan masa lalunya.
"Sasuke-kun, saat aku berusia delapan tahun, terjadi sesuatu yang tidak akan aku lupakan." Sakura mengambil napas dalam, wajah Sasuke menjadi lebih serius sekarang. "Ibuku meninggal di tempat umum, ia meninggal di dalam stasiun."
Suasana menjadi hening. Sakura menghentikan kalimatnya, ia dan Sasuke berpandangan dalam. "Tidak masalah jika kau tidak ingin mengingatnya kembali." Ucap Sasuke, tangannya menyentuh telapak kaki Sakura.
"Tidak apa, aku sudah bisa menerimanya." Sakura menggeleng. "Saat itu ayahku bertugas keluar kota. Darah tinggi ibuku kambuh. Aku menemaninya ke dokter bersama Naruto. Kakakku belum pulang dari kegiatan ekstrakulikulernya di sekolah. Kami tidak tahu apa yang terjadi, ibuku tiba-tiba jatuh pingsan saat kita berjalan keluar stasiun. Suasana stasiun sangat ramai saat jam pulang kerja, semua orang berkerumun dan..." Sakura menghentikan kalimatnya.
"Ibuku sudah tidak ada saat ambulans datang, dokter mengatakan pembuluh darahnya pecah." Nada Sakura lirih, ia terdiam menatap langit-langit ruangan. "Bersamaan dengan kejadian itu, aku merasakan ketakutan yang sama seperti halusinasiku, aku melihat banyak orang berkerumun, sangat menakutkan, aku panik." Sakura menghela napas panjang. Suasana hening kembali. Sasuke paham sekarang, ia diam sambil mengusap telapak kaki Sakura yang lembut.
"Dan kebiasaanmu dengan air muncul setelah itu." Ucap Sasuke dan Sakura langsung melihat ke arahnya.
"Kau tahu darimana Sasuke-kun?"
"Saat kita mengunjungi wahana bermain dulu. Aku melihatmu membasuh tangan setelah naik roller coaster. Naruto juga sempat memberitahuku tentang masalahmu di tempat ramai sebelum ia pergi."
"Ah..." Sakura mengangguk, mengingat waktu itu Naruto membisikkan sesuatu pada Sasuke sebelum pergi mengantar Hinata. Ingatan itu mengalir lebih dalam ketika Sasuke menggandeng tangannya saat mereka berpapasan dengan kerumunan pengunjung, dan juga saat Sasuke memeluknya di bianglala karena Sakura panik bertemu Utakata. Sakura pun tersenyum.
"Apa yang lucu?" Sasuke menautkan alisnya.
"Tidak." Sakura mengembangkan senyumannya. "Terimakasih, Sasuke-kun..."
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sasuke.
"Tidak ada." Sakura bangkit dari sandarannya. "Kau benar, aku memang berhutang banyak padamu." Sakura merangkul leher Sasuke lalu mencium pipinya.
"Kalau begitu bayar hutangmu." Sasuke berseringai, tangannya menarik pinggul Sakura, wajahnya mendekat dan ia menempelkan bibirnya pada bekas luka cakaran di rahang Sakura, membuat gadis itu menutup mata, merasakan nafas Sasuke menerpa lehernya yang menegang.
"Geli.." Sakura sedikit menggeliat, tangannya menyisir rambut lembut Sasuke, menyesap aroma nikmat yang memenuhi hasratnya untuk mencium. Perlakuan Sasuke selalu membuatnya terbuai, merasa disayangi melalui sentuhannya yang sederhana. Sasuke mengangkat kepala, beranjak menuju bibir tipis Sakura. Ciumannya bagai sihir, sekejap menghapus semua kenangan Sakura yang baru saja ia ungkapkan.
"Wajahmu selalu memerah." Gumam Sasuke saat menyudahi ciumannya.
"Karena kau ahlinya." Sakura mengalihkan pandangan sambil mengedikkan bahu. Sasuke tersenyum samar, tangannya yang lebar mengusap belakang kepala Sakura. Suasana menjadi hening, Sakura menoleh dan mencolek hidung Sasuke. "Aku ingin ber-Marvin Gaye denganmu." Sekali lagi Sakura membuat Sasuke terkejut, rahang pria itu sekejap menegang. Tidak tahu harus bereskpresi bagaimana. Sasuke berdeham, mengalihkan onyx-nya memandang objek lain.
"Kenapa Sasuke-kun? Kau tidak tahu caranya?" Tanya Sakura dan Sasuke langsung menatapnya kembali. Astaga Sakura, kau tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Semoga Kesatria Sasuke tidak terprovokasi.
"Sakura, kau.."
"Aku akan mengajarimu..." Potong Sakura dan Onyx Sasuke bergetar, mungkin warnanya akan berubah menjadi merah seperti legenda mata Sharingan yang mendunia itu. Tunggu, kau bahagia atau bingung Sasuke?
"Bersiaplah." Sakura beranjak dari sofa, gadis itu menuju buffet TV. Sasuke masih diam terpaku menunggu apa yang akan dilakukan Sakura.
Let's Marvin Gaye and get it on..
You got the healing that I want...
Lagu Charlie Puth feat Meghan Trainor terputar, kali ini volumenya sedikit dibesarkan. Sakura berdiri, ia tersenyum memandang Sasuke yang menatapnya dengan wajah datar yang artististik. Naruto sedang berdiri di depan pintu Sakura berniat mencari jus jeruk. Merasakan firasat tertentu, pria itu tidak jadi menekan bel dan kembali ke tempatnya.
"Ayo berdiri, kita berjoget." Sakura menggoyangkan bahunya, Jari-jarinya memetik seirama dengan beat lagu. Ekspresi gadis itu membuat Sasuke tidak yakin apa yang menjadi pikirannya saat ini. Memangnya kau memikirkan apa Sasuke?
"Come on..." Sakura menarik tangan Sasuke untuk berdiri. Gadis itu sudah berjoget bak manusia tahun 70an. "Ayo Sasuke-kun, goyangkan badamu." Sakura mengayunkan tangan Sasuke ke kiri dan kanan.
There's loving in your eyes
That pulls me closer
It's so subtle, I'm in trouble
But I'd love to be in trouble with you
Sakura terhanyut ke dalam lagu, dirinya bergerak santai mengikuti irama. Sasuke tersenyum geli, ia hanya melangkahkan kakinya ke kiri dan ke kanan saat Sakura menuntunnyan untuk bergerak. Terlihat lucu.
"Sakura, apa kau tahu arti yang baru saja kau katakan?" Tanya Sasuke.
"Apa?" Tanya Sakura.
"Marvin Gaye."
"Hem." Sakura mengangguk. "Istilah lain dari kasih sayang." Raut wajah Sakura yang polos membuat Sasuke semakin yakin gadisnya ini tidak paham. Sasuke berseringai tipis lalu merengkuh pinggang Sakura untuk mendekat.
"Mengajakku berdansa?" Sakura merangkul leher Sasuke. Langkah mereka bergerak pelan ke kiri dan ke kanan.
"Sakura, kau ikut aku ke Los Angeles."
"Ha?" Mata Sakura sedikit membelalak, "Tapi untuk apa aku ikut?"
"Aku ingin kau mendampingiku ke acara Annie Award." Jawab Sasuke. Sakura ragu-ragu, banyak yang menjadi pertimbangannya untuk ikut dengan Sasuke ke Los Angeles. "Kapan kakakmu kembali?"
"Rencananya dia kembali minggu ini, ia memajukan jadwalnya."
"Aa. Kita cuma sehari di sana, masih ada waktu untuk pergi ke acara ulang tahun Itaru sekalian mengundang kakakmu makan bersama."
"Tapi Sasuke-kun." Sakura masih ragu. "Kakakku harus diberitahu dulu soal ini. Kita belum membicarakan hubungan kita padanya. Lagi pula aku tidak pergi keluar kota, aku akan ke luar negeri, dia harus kuberitahu."
"Baiklah, aku akan menghubunginya." Sasuke berhenti, ia melepas tangannya dari pinggang Sakura lalu mengeluarkan ponsel, "Berapa nomor kakakmu?" Shannaro. Sakura tidak yakin dengan ini tapi mau apa dikata saat Sasuke menunggunya memberitahu nomer ponsel Sasori. Sakura gugup, ia berharap semoga semuanya berjalan lancar. Mereka berdua lalu duduk di sofa kembali menunggu jawaban panggilan.
Ponsel Sasori berdering gagah menginterupsi kegiatannya. Pria itu sedang mengamati bintang melalui teleskop di atas atap rumah seorang diri. Nomer baru yang muncul di layar ponselnya membuat Sasori menautkan alis.
"Hallo." Suara berat Sasori menjawab panggilan Sasuke.
"Hallo, ini aku." Sahut Sasuke.
"Aku siapa?" Sasori menautkan alisnya lagi.
"Sasuke."
"Oh. Kau ada apa?"
"Aku ingin memberitahumu sesuatu." Nada Sasuke terdengar formal seperti berbicara saat meeting. Hei, dia itu kakak iparmu Sasuke...
"Beritahu soal apa?" Sasori kembali meneropong bintang.
"Aku akan mengajak Sakura ke Amerika untuk menghadiri acara. Kuharap kau tidak keberatan dengan hal ini." Sasuke langsung to the point. Sasori yang sedang aman damai melihat bintang langsung memfokuskan perhatiannya.
"Kapan itu? Kenapa kau harus mengajaknya?"
"Lusa kami berangkat. Aku ingin Sakura mendampingiku." Sasori langsung paham maksud Sasuke tanpa penjelasan yang lengkap, tapi pria itu ingin mendengarnya secara lisan dari mulut Sasuke.
"Kenapa harus Sakura yang mendampingimu?" Pertanyaan yang membutuhkan satu jawaban.
"Karena, aku dan Sakura sudah menjalin hubungan." Jawab Sasuke tanpa keraguan.
"Hubungan apa?" Sasori mengklasifikasikan 'hubungan' ke beberapa kelas, wajahnya serius sekarang. Sakura gugup menunggu percakapan mereka, ia memberi kode Sasuke agar dia saja yang bicara tapi Sasuke menolak dengan menyiratkan kode di Onyx-nya saat menatap Sakura.
"Kami." Sasuke masih bingung mengucapkan 'kita sudah berpacaran'. "I'm dating her, she is my girlfriend." Bingung dengan bahasanya sendiri, Sasuke pun memakai bahasa Inggris.
Sasuke menutup sambungan telpon setelah setengah jam berlalu. Terjadi tawar-menawar serta tanya jawab yang cukup serius antara dirinya dan Sasori. Mungkin Sasuke menganggap menghadapi ayah Sakura akan lebih sulit karena kakaknya saja sudah cukup sulit. Ehem.
"Sasuke-kun, apa yang dia katakan?" Tanya Sakura dan disaat yang bersamaan ponselnya bersering.
Sasori menelponya. Pria itu mana tahu Sasuke dan Sakura ada di tempat yang sama. Sakura menjawab telpon Sasori dengan tenang, ia mendapat beberapa bertanyaan terkait hubungannya serta kepergiannya ke Amerika bersama Sasuke. Sakura menjawab dengan santai dan ditambah dengan bumbu-bumbu kenyakinan untuk meyakinkan Sasori bahwa semuanya akan berjalan sesuai prosedur. Setengah jam berlalu, telpon introgasi itu berakhir dengan mengantungi restu serta ijin dari Sasori untuk pergi bersama Sasuke. Tidak lupa Sasori mengangkat kartu kuning. Oh ayolah! Kau pikir berapa usia Sakura sekarang?
"Sasuke-kun, kau yakin mengajakku?" Sakura masih ragu.
"Hn. Ikutlah denganku."
"Tapi semua ini sangat mendadak. Aku belum menyiapkan segala keperluannya."
"Menyiapkan apa? bawa saja baju ganti."
"Bahasa Inggrisku tidak lancar, bagaimana jika aku ditanya-tanya."
"Kalau begitu tidak usah bicara."
"Aku tidak punya passport, waktunya sangat mepet."
"Jugo akan mengurusnya besok."
"Bagaimana jika hubungan kita terekspos media?" Entah Kenapa Sakura mengingat StarStalker.
"Memangnya kenapa? aku tidak mempermasalahkan hal itu."
Shannaro..
.
Keesokan harinya Sakura pulang kerja besama Ino dan Tenten. Sakura meminta Ino untuk memilih gaun untuknya, mereka pergi ke butik Kurenai untuk melihat-lihat. Ino dan Tenten sangat bersemangat, keduanya sibuk sendiri memilih gaun untuk Sakura kenakan di acara Annie Award. Sakura sampai lelah bolak-balik ganti baju, mereka sudah menghabiskan waktu sejam untuk memilih gaun yang cocok.
"Ino, kurasa gaun kali ini harus panjang. Aku tidak mau luka kakiku terlihat." Sakura memandang long dress putih tanpa lengan yang ia kenakan saat ini, gaun itu polos selembut sutra dengan ikat pinggang emas di bagian pinggangnya.
"Coba dengan ini?" Tenten mengangkat gaun polos berwarna biru tua, gaun itu juga tidak berlengan, belahan depannya terbuka sampai bawah pusar bahkan bisa memperlihatkan dada jika dilihat dari samping. Punggung bagian belakang gaun itu juga terbuka lebar. Sakura jelas menolak memakainya. "Ini seksi, kau akan jadi pusat perhatian. Tamunya ada dari selebritis Hollywood. Jangan buat dirimu tampak seperti bodyguard Uchiha Sasuke." Ucap Tenten.
"Astaga Tenten, aku tahu itu seksi tapi terlalu terbuka. Apa kata Sasuke nanti jika aku memakainya?" Omel Sakura.
"Apa kata Sasuke? Sudah jelas dia akan senang melihatnya. Gaun ini memberi akses mudah baginya." Canda Tenten. Ino yang sedang memilih gaun terkekeh melihat ekspresi Sakura. Kurenai sedang melihat stok gaun di ruang penyimpanan.
"Sakura coba ini." Ino menyodorkan long dress berwarna peach, gaun itu polos tanpa lengan, berbahan satin dengan kerah kalung permata. Sakura menyukainya tapi setelah melihat label harganya, sangat Shannaro sekali.
"Ino.." Sakura mengangkat label harga gaun itu ke arah Ino dengan tatapan malas.
"Kenapa? Kau sedang dalam gerakan disiplin menabung?" Ino menautkan alisnya.
"Minta Uchiha membayarnya..." Canda Tenten, Sakura malas menanggapinya.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Sakura menuju ruang ganti. Lima menit berlalu, Sakura keluar dengan mengenakan gaun pilihan terakhir Ino. Sangat anggun dan berkelas. Ino mengangkat jempolnya dan Tenten mengangguk-angguk.
"Sakura, bagaimana dengan ini?" Kurenai datang membawa gaun berwarna hijau muda sewarna janur kelapa. Gaun itu bertekstur butiran kristal di seluruh permukaan gaunnya dan mempunyai belahan depan setinggi paha yang sempurna, berlengan panjang dengan kerah lurus setinggi tulang dada. Bagian belakang punggungnya terbelah di tengah. Mata Sakura sampai bercahaya melihat gaun itu.
"Ini stok baru Kurenai-san?" Tanya Tenten. Kurenai mengangkat dagunya ke arah Ino. "Ini rancangan terbarumu Ino?" Tenten mendekat untuk melihat gaunnya lebih detail, begitupun Sakura. "Kenapa tidak dari tadi saja dikeluarkan?"
"Kukira gaun itu belum jadi." Ino mengedikkan bahu, wajahnya berseri melihat hasil rancangannya sendiri.
"Gaun ini selesai dikerjakan kemarin, aku lupa memberitahumu Ino." Ucap Kurenai. "Nah, Sakura cobalah ini."
Sakura berganti gaun lagi. Begitu dia keluar dari ruang ganti, kegalauan menyelimutinya karena hatinya langsung jatuh cinta pada gaun itu.
"Sempurna." Ucapan Ino menandakan kepuasannya. Tenten dan Kurenai mengangkat dua jempol mereka. Gaun itu sangat pas di tubuh Sakura seolah-olah Ino merancangnya khusus untuknya. Apa kau sudah melihat label harganya Sakura?
"Bagaimana Sakura? Kau bisa memilih anatara gaun itu atau gaun peach ini." Tenten membuat pilihan untuk Sakura dan gadis itu galau. Setelah mempertimbangkan cukup matang, Sakura tidak keberatan jika separuh tabungannya melayang untuk gaun hijau itu. Wanita akan khilaf pada waktunya.
"Ino, pinjamkan aku tasmu. Dan kau Tenten, pinjamkan aku koleksi heels-mu." Sakura menampakkan deretan giginya. Semua keperluan sudah beres. Sekarang tinggal pergi belajar makeup ke tempat Ino. Tidak ada banyak waktu luang lagi karena besok jam sembilan Sakura sudah terbang ke Los Angeles. Terimakasih untuk Sasuke yang mengajaknya sangat mendadak, bahkan parport Sakura jadi dalam satu hari, tadi siang ia mengurusnya dengan Jugo.
"Kita makan dulu?" Ino mengendarai mobil menuju apartemennya. Tenten mengatakan 'baiklah' sementara Sakura melamun memandang jalanan. Ino melirik gadis itu dari kaca spion. "Kau kenapa Sakura?" Suara Ino memecah lamunan Sakura.
"Tidak. Sakura menggeleng. Aku hanya gugup, besok aku pergi ke luar negeri. Ke Amerika, aku masih tidak percaya." Sakura menyandarkan punggung. Ino dan Tenten hanya tersenyum tipis.
"Berapa lama kalian disana?" Tanya Tenten.
"Cuma sehari. Habis acara, besoknya kita langsung pulang."
"Serius? tidak sekalian pra bulan madu dulu?" Goda Tenten. "Marvin Gaye..." Sambungnya. Wajah Sakura sedikit merona, tapi ia merona karena kewajaran, bukan karena mengerti maksud Tenten.
"Tidak. Keponakan Sasuke ulang tahun hari minggu dan kebetulan kakakku akan kembali. Aku bahkan sudah menolak ajakan Sasuke sebelumnya."
"Oh..., kakakmu akan kembali? apa menu makan malam kita untuk menyambutnya Sakura-chan?" Tanya Tenten dan Sakura hanya memutar bola matanya.
"Yah, sebetulnya sayang juga kalau cuma sehari di sana." Sambung Sakura.
"Kau benar, kalian menyia-nyiakan Marvin Gaye kalian." Sahut Tenten, Ino hanya tersenyum tipis. "ngomong-ngomong apa kau sudah mengatakan Marvin Gaye pada Sasuke?"
"Ah, tentu saja.."
"Benarkah? bagaimana reaksi Sasuke?" Tanya Ino.
"Tidak ada, dia hanya bingung Marvin Gaye dengan caraku. Dia tidak tahu cara berdansa." Jawab Sakura. Ino dan Tenten saling melirik. "Yah.., tidak masalah. Kita bisa ber-Marvin Gaye kapanpun dan dimana-mana, tidak harus di Amerika." Sambung Sakura. Tenten dan Ino melipat bibir mereka kedalam menahan kekehan.
Mereka tiba di apartemen Ino setelah membungkus makanan untuk dibawa pulang. Apartemen Ino minimalis dan sangat rapi. Tata ruangnya menunjukkan karakteristik wanita elegan. Serba krem. Ada foto mesra dirinya besama Sai dipajang di ruang tengah dekat lampu meja. Sakura jadi ingin mengabadikan fotonya dengan Sasuke.
"Kalau mau minum ambil sendiri di kulkas." Ucap Ino, Sakura meletakkan bingkai foto ke tempat semula.
Mereka makan malam bersama setelah Tenten mengganti pakaiannya. Apartemen Tenten di lantai atas, ia dan Ino bertetangga. Mereka mengobrolkan banyak hal selama makan sampai menyinggung soal Mavin Gaye sekali lagi dan Sakura masih saja tidak paham. Usai makan, Ino memberi tips makeup. Sakura cepat belajar, ia menganggap makeup seperti seni melukis wajah.
"Jadi, apa kau akan sekamar dengan Sasuke di sana?" Tanya Ino. Sakura yang sedang fokus mengaplikasikan eyeshadow di kelopak matanya jadi tidak konsentrasi.
"Tentu saja mereka sekamar Ino, kau ini aneh-aneh saja." Sahut Tenten. Sakura tidak bisa menjawab karena ia juga belum tahu sekamar atau tidak.
"Jadi Sakura, bagaimana perkembangan kalian? Sudah masuk level mana?" Goda Ino.
"Level apa?" Sakura tidak terlalu paham atau pura-pura tidak paham?
"Level yang lebih kreatif. Sesuatu yang berseni." Tenten menaikkan kedua alisnya naik turun. Sakura langsung paham dengan level yang dimaksud Ino, sesaat pipinya merona tanpa memakai blush on. Gadis itu malu membahasnya dan dia berusaha mengalihkan perhatian dengan menanyakan makeup.
"Coba kutebak, kau dan Sasuke belum berkreasi."
"Tenten!" Seru Sakura, pikirannya sudah melayang buana dan dia sangat malu membahasnya. Ino terkekeh melihat ekspresi Sakura.
"Apa? Sasuke itu seorang pria. Jangan berlagak bodoh Sakura. Suatu saat dia akan lebih agresif dari yang kau kira." Tenten sungguh frontal. Sakura menatap Ino seakan anak kecil yang sedang mengadu 'Ino, Tenten nakal...'
Ino pun menepuk bahu Sakura lalu membisikkan sesuatu. "Bersiaplah..."
Wajah Sakura menjadi merah seperti kepiting rebus.
Satu jam berlalu, Sakura pulang setelah membawa makeup Ino beserta tas dan heels pinjaman. Sampai apartemen, Sakura langsung packing. Naruto datang dengan kostum piayama oranye bergarisnya, pria itu menemani Sakura packing di ruang tengah.
"Jam berapa besok berangkat?" Tanya Naruto, matanya sudah setengah watt tapi ia masih sempat bertamu, pria itu terbaring di atas sofa.
"Jam sembilan pesawat take off." Sakura dengan hati-hati melipat gaunnya ke dalam koper. Naruto hanya memperhatikan dalam ketenangan.
"Berapa hari di sana?" Suara cempreng Naruto mulai drop.
"Cuma semalam." Sakura menyelipkan satu boxer Sasori dan Naruto menautkan alisnya.
"Semalam yang berarti." Goda Naruto. Sakura langsung menoleh dan pria itu mengarahkan kedua jarinya membentuk bulatan. Sakura menautkan alis mencerna bulatan itu. Naruto lalu membentuk segitiga dan jajaran genjang. Otak Sakura bekerja, setelah beberapa detik akhirnya ia paham maksud kode-kode itu. Sakura mengacuhkan Naruto dan berlagak santai merapikan kopernya kembali. Pikiran Sakura terfokus pada kode Naruto barusan. Tidur sekamar dengan Sasuke. Berdua. Di hotel. Pikiran Sakura memblayang menuju pembicaraan Ino dan Tenten. Wajahnya spontan menghangat. Suasana menjadi hening, Sakura berusaha mengendalikan pikirannya yang liar.
"Besok kau akan menjemput Sasori kan?" Sakura menoleh dan mendapati Naruto sudah mengembara ke alam mimpi.
.
Let's Marvin Gaye and get it on..
You got the healing that I want...
Sakura bergeleng-geleng mendengar lagu baperable-nya melalui airphone, gadis itu duduk di ruang tunggu pesawat menghadap kaca menampakkan landasan pesawat bandara Konoha. Topeng kucingnya ia sampirkan ke atas kepala. Sasuke kembali dari toilet, ia duduk di samping Sakura yang sedang tuli. Sasuke memandangnya sekejap lalu mencabut salah satu earphone Sakura, padangan gadis itu langsung pecah.
"Ah.." Sakura mengurangi volume MP3 player. Sasuke menyilakan kaki lalu membuka ipad membaca sesuatu entah apa. Mereka menunggu selama dua puluh menit sambil mengobrol, membicarakan tentang kota Los Angeles. Sakura banyak bertanya-tanya seperti tidak pernah menanyakannya pada Sasori yang jelas-jelas sudah lama menetap di sana. Tapi berhubung sebelumnya Sasuke pernah berkunjung ke Los Angeles, Sakura jadi punya banyak bahan obrolan sampai tiba saatnya mereka masuk ke dalam pesawat.
"Sasuke-kun, berapa lama penerbangan ini?" Tanya Sakura setelah menyamankan bokongnya di kursi VIP dan memasang safety belt, gadis itu duduk di samping jendela.
"Sekitar sepuluh jam." Jawab Sasuke. Sakura mengangguk dan sekejap melihat pramugari yang berdiri di samping Sasuke untuk memperagakan panduan keselamatan. Sepertinya pramugari itu sedikit tidak kosentrasi saat melirik Sasuke. Sakura menoleh ke jendela dan menghela napas. Awak kabin berkoceh sebelum pesawat terbang, kalimatnya lucu dan pesawat siap take off.
"Ok, ladies and gentelman Turn off all your Iphone, blackberries, blueberries, strawberries. In case of emergency, disco lighting will light up the airplane. We are now going to dim the lights for take off. If you are scared of the dark or that the bogey man will get you, don't worry, he only flies with American Airlines."
"Ok, saudara-saudara. Matikan semua Iphone, Blackberry, Blueberry, Stroberi anda. Dalam kasus darurat, lampu disko akan menyala di pesawat. Sekarang kita akan meredupkan lampu untuk lepas landas. Jika anda takut pada kegelapan atau Bogey man yang akan menangkap anda, jangan khawatir, dia hanya terbang bersama pesawat Amerika."
Semua penumpang terkekeh dan Sakura tersenyum saat menangkap kata Bogey man. Sasuke hanya memasang wajah datar seperti biasa.
"cabin crew, take off position"
Ucap sang pilot dan pesawat pun meninggalkan landasan bandara Konoha. Tubuh Sakura condong ke jendela, ia mendongak ke bawah saat pesawat meninggalkan landasan. Ini mengingatkannya pada moment melihat pesawat terbang bersama Gaara. Sasuke memperhatikan Sakura dan tidak berkomentar apa-apa.
Sakura mengalihkan pandangan dari jendela. "Sasuke-kun, apa kau pernah menyaksikan pesawat, terbang tepat dihadapamu dan tingginya empat puluh meter dari atas kepalamu?"
"Belum. Kau pernah?"
"Pernah, di bawah sana. Di pinggiran landasaan bandara Konoha." Sakura mengarahkan jempolnya ke arah jendela. "Aku akan mengajakmu sekali-kali, rasanya luar biasa."
"Aa, kau ke sana dengan Naruto?"
"Bukan. Dengan Gaara-san." Jawab Sakura dengan santai. Sasuke diam tidak berkomentar dan beberapa detik setelahnya Sakura baru mengkaji ucapannya barusan. Shannaro..
"Hi, this is your captain speaking. I'm Captain Laura Smith. Yes, I'm a female pilot and as a benefit if we get lost on the way, I won't be afraid to stop and ask for directions. We are now going to attempt to fly to LA."
"Hi, disini kapten anda berbicara, aku Kapten Laura Smith. Ya, aku seorang pilot perempuan dan sebagai keuntungannya, jika kita tersesat di jalan, aku tidak akan takut untuk berhenti dan menanyakan arah. Sekarang Kita akan mencoba untuk terbang ke LA."
Sang pilot menyapa para penumpang saat mereka sudah berada di atas awan. Bahkan pilotnya pun lucu membuat penumpang senyam-senyum sendiri. Satu jam berlalu di dalam pesawat. Sasuke sedang membaca buku entah apa judulnya, sepertinya bacaan berat karena bukunya lumayan tebal. Sakura asik mendengarkan musik sambil memperhatikan setiap Pramugari yang berlalu lalang melirik Sasuke. Sesaat Sakura berpikir untuk menukar tempat duduknya ketika melihat seorang tante-tante yang duduk di seberang Sasuke juga melirik-lirik.
"Sasuke-kun, apa hanya kau saja dari pihak studio yang berangkat ke acara itu?" Tanya Sakura kemudian.
"Tidak, Jiraiya-sama dan beberapa orang sudah ada di sana." Sasuke fokus membaca bukunya.
"Benarkah? apa mereka mewakili setiap nominasi yang Greenoch raih?"
"Hn." Jawab Sasuke. Sakura kembali menoleh ke jendela, ia memikirkan sesuatu dan tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang Ayame. Sakura ingin menanyakan itu pada Sasuke tapi dia segan.
"Apa Ayame akan datang?" Ternyata Sakura tidak Segan. Sasuke pun menoleh, "Kupikir ini terkait salah satu nominasi musik terbaik, apa Grenooch mendapat nominasi itu?" Tanya Sakura.
"Aa, tapi bukan Ayame yang mewakili, komposer lagu Grenooch yang akan mendapat penghargaan jika menang dalam nominasi itu." Perhatian Sasuke kembali ke buku dan dia tidak membahas Ayame lebih lanjut, tapi kelihatannya Sakura penasaran.
"Sasuke-kun, ngomong-ngomong bagaimana kabar Ayame? dia sekarang tinggal dimana?" Sasuke menoleh sekejap menatap Sakura. Gadis itu terlihat santai walau di dalam hatinya terselubung rasa penasaran tingkat tinggi.
"Kirigakure." Jawab Sasuke singkat dan padat. Sakura hanya mengangguk-nganguk saja, ia ingin menanyakan lebih jauh tapi sebaiknya tidak usah membicarakan masa lalu. Sakura pun terhanyut ke dalam musik dan tidak sadarkan diri setengah jam kemudian. Jangan tidur hei! nanti Sasuke digoda pramugari dan tante-tante!
.
.
Naruto menjemput Sasori di Bandara Konoha pukul lima sore. Sosok pria berambut merah menyala muncul dari gate kedatangan penumpang membawa tas rangsel, teropong bintang dan apa di dalam case itu? gitar? apakah astronot tampan ini juga seorang kesatria bergitar? kita buktikan nanti. Naruto pergi bersama Hinata, mungkin mereka usai berkencan. Sasori melambaikan tangannya dari kejuhan. Naruto bertos ala anak muda dengan Sasori setelah pria itu menghampiri mereka dan Hinata tersenyum menyapa kakak iparnya karena bisa dibilang Naruto adalah adik angkat Sasori.
"Oh, gitar legenda." Naruto meletakkan gitar Sasori di bagasi mobil sedangkan pemilik gitar itu sedang memapankan teropong sakralnya dengan benar. "Aku ingat saat kita merayu kekasihmu dengan gitar ini." Goda Naruto, Sasori malas menanggapinya. Mereka lalu naik mobil dan meninggalkan bandara Konoha.
"Sakura sudah menghubungimu?" Tanya Naruto. Mobilnya menuju restoran untuk makan malam.
"Tadi pagi dia menghubungiku sebelum berangkat. Paling sekarang pesawat mereka masih di atas awan." Jawab Sasori, pandangannya lurus kedepan, wajahnya bak boneka manikin yang terbuat dari porselen.
"Ngomong-ngomong berapa lama penerbangan dari sini ke LA?"
"Sekitar sembilan sampai sepuluh jam. Mungkin mereka akan tiba saat subuh waktu setempat."
"Kau sudah tahu tentang hubungan mereka?" Tanya Naruto lagi.
"Sudah."
"Kenapa? kelihatannya kau tidak bersemangat." Ucap Naruto. Memangnya kau pernah melihat Sasori jingkrak-jingkrak? dia itu pria elegan yang berkarisma.
"Anak itu.." Gumam Sasori. "Aku jauh-jauh menjenguknya dari LA ke Jepang dan dia malah pergi ke sana, waktuku tidak banyak di sini." Sepertinya Sasori cemburu adiknya diculik si raven.
"Sudah..., bukankah kau sendiri yang mengijinkannya pergi dengan Sasuke." Sasori tidak memungkiri ucapan Naruto jadi dia diam saja. "Bagaimana kabar paman dan nenek? apa mereka sehat-sehat saja?" Tanya Naruto kemudian.
"Ya, mereka sehat-sehat saja. Ambil cuti dan pulanglah, mereka merindukanmu."
"Hem, aku sedang merencanakannya. Hinata, apa kau sudah pernah pergi Ke Sunagakure?" Ehem.
"Be-belum Naruto-kun." Jawab Hinata, gadis itu duduk tenang di kursi belakang. Naruto tersenyum memikirkan sesuatu dan Sasori hanya membatin. Cukup paham.
"Kita mau makan apa?" Tanya Naruto kemudian.
"Di tempat biasanya saja yang ada menu Tempura." Jawab Sasori sambil berkutat dengan ponselnya. "Hinata, kau suka Tempura?" tanya Sasori.
"A, iya Sasori-nii." Jawab Hinata malu-malu. Naruto hanya tersenyum tipis.
.
.
Sakura terbangun dari tidur, gadis itu bersandar di bahu Sasuke. Ini yang ketiga kalinya Sakura terbangun karena ia sudah tidur sebanyak dua kali. Kepala Sakura bergerak ke samping, melihat buku yang sedang dibaca Sasuke.
"Kita hampir sampai." Ucap Sasuke. Sakura lalu menarik kepalanya, ia juga tidak tahu sejak kapan bersandar di bahu tegap itu. Sang co-pilot lalu menyapa para penumpang yang sebagian besar sudah terbangun.
"Good morning, passengers, time show at half two in the morning US time right now. I noticed a few ladies who forgot to put on their makeup this morning. I'll be dimming the lights for your convenience."
"Selamat pagi para penumpang, waktu menunjukkan pukul setengah dua pagi waktu Amerika. Saya melihat beberapa wanita lupa untuk memakai make-up mereka pagi ini. Saya akan meredupkan lampu untuk kenyamanan Anda."
"Sasuke-kun.., kau tidak tidur?" Sakura mengusap wajahnya lalu melihat jam tangan. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh waktu Jepang. Sakura melirik Tante-tanten di seberang Sasuke, wanita itu sedang memoles lipstcik warna merahnya yang cetar membahana.
"Berapa lama perbedaan waktunya?" Tanya Sakura kemudian.
"Tujuh belas jam mundur ke belakang." Sasuke menutup buku ditangannya lalu menoleh. Tuk. Sasuke mengetuk dahi lebar Sakura, mata sayup-sayup Sakura langsung bersinar terang. Gadis itu lalu beranjak pergi ke toilet. Saat kembali, Sakura melihat lipstik terjatuh di dekat bangku Sasuke. Sakura hanya memasang wajah datar membaca skenario tante itu. Sakura langsung memungut lipstik itu sebelum Sasuke yang memungutnya.
"Jangan menjatuhkannya lagi." Sakura tersenyum dalam sambil menyodorkan lipstick itu. Tante pemilik lipstik membalas senyum Sakura dengan tidak ikhlas sedangkan Sasuke hanya memasang wajah datar melihat mereka lalu menoleh ke arah jendela.
"Berapa lama lagi kita sampai Sasuke-kun?" Sakura kembali ke tempat duduknya dan Ting. disaat bersamaan lampu tanda sabuk pengaman menyala.
"cabin crew and passanger, aircraft for descend"
"Ladies and Gentlemen, in a few moments we will arrive at Los Angeles, LAX. Please return your seats to their upright and most uncomfortable position. We will landing as smooth as butter."
"Saudara-saudara, dalam beberapa saat kita akan tiba di Los Angeles, LAX . Silakan kembali ke kursi anda untuk duduk di posisi tegak dan yang paling nyaman. Kami akan mendarat sehalus mentega."
Announcement awak kabin pesawat ini memang menghibur. Sakura mendongak ke jendela, pesawat mulai turun, penampakan kota Los Angeles terlihat dari atas sana. Lampu-lampunya bertaburan bagai bintang yang jatuh ke bumi. Sakura kagum melihat pemandangan kota itu, wajahnya juga melongo. Pesawat semakin condong ke bawah menuju landasan bandara LAX. Roda pesawat terbuka dan pesawat menyentuh permukaan landasan dengan guncangan yang membuat Sakura mencengkam lengan Sasuke. Pendaratan berjalan lancar, kini pesawat sedang menuju tempat parkir.
"Ladies and Gentlemen, we have just attacked Los Angeles. Thank you, and remember, nobody loves you or your money more than Alpha Airlines. Last one off the plane must clean it."
"Saudara-saudara, kita baru saja diserang Los Angeles. Terima kasih dan ingat, tidak ada yang mencintai anda atau uang anda lebih dari Alpha Airlines. Yang terakhir turun dari pesawat harus membersihkannya."
Semua penumpang pun terkekeh kembali. Terbesit dipikan Sakura untuk tidak menjadi yang terakhir karena ia tidak mau membersihkan pesawat.
Sakura menginjakkan kakinya di bandara LAX. Gadis itu memakai topeng kucingnya dan bergandengan tangan dengan Sasuke saat melewati kerumunan penumpang yang berjalan dari gate kedatangan. Sasuke dan Sakura dijemput seseorang saat tiba disana, tampaknya Jugo sudah mengatur semuanya.
Selamat datang di kota-nya bidadari. Mobil yang ditumpangi Sasuke dan Sakura menuju hotel di kawasan Boulevard berjarak tidak jauh dari kampus UCLA tempat Annie Award akan diselenggarakan besok. Sakura menyesap pemandangan malam kota Los Angeles sepanjang perjalanan. Saat ini pukul menunjukkan 02:35 am waktu United State. Cuaca malam itu dingin namun tidak bersalju. Mereka tiba di hotel, kamar sudah dipesan dan Sakura tidak menyangka ia benar-benar sekamar dengan Sasuke. Berterimakasihlah pada Jugo, dia serketaris yang handal.
Suasana tidak semudah biasanya, ini bukan pertama kalinya Sakura sekamar dengan Sasuke tapi entah kenapa gadis itu agak canggung sedangkan Sasuke tampak biasa-biasa saja. Sakura mengedarkan pandangannya ke sekililing ruangan yang cukup luas itu. Jugo memesan satu kamar delux yang terdiri dari satu kamar tidur dan ruang tamu, nuansanya serba cokelat. Ranjangnya berukuran king dilapisi spray putih. Ada satu sofa single berwarna cokelat tua dengan sandaran kaki panjang diletakkan di samping pintu jendela yang mempunyai balkon untuk melihat pemandangan kota Los Angeles dari lantai 27. Sakura menuju balkon kamar untuk melihat pemandangan sambil menghubungi Sasori untuk mengabarkan posisinya. Sedikit introgasi dari Sasori membuat Sakura mengeluarkan banyak alibi demi meyakinkan bahwa semuanya berjalan sesuai prosedur. Lima menit berlalu setelah Sakura menutup telpon dan Sasuke menyuruhnya masuk ke dalam.
"Sasuke-kun, apa kau mengantuk?" Tanya Sakura setelah menutup pintu balkon. Sasuke merebahkan tubuhnya di ranjang melepas lelah.
"Aa." Sasuke bergerak meraih bantal. "Istirahatlah." Sasuke memejamkan mata.
"Di Jepang masih jam setengah sembilam malam. Aku masih belum mengantuk." Sakura membuka kopernya, ia mengeluarkan sebagian barang-barang dan menatanya, terutama gaunnya yang ia hangerkan ke lemari. "Sasuke-kun, kau tidak keberatan aku menata barangmu?" Sakura menoleh dan melihat Sasuke sudah terlelap. Sembilan jam lebih perjalanan dan pria itu belum tidur. Sakura lalu menarik bed cover menyelimuti tubuh Sasuke, ia ikut bergabung ke ranjang setelah mengganti pakaiannya dengan kaos polos hijau muda dan celana pendek setengah paha. Sakura ingin memakai boxer Sasori yang lebih ringan kainnya tapi setelah dipikir-pikir sebaiknya jangan.
Sakura duduk bersandar di ranjang. ia memeriksa ponsel dan mendapat beberapa pesan Line dari rekan-rekannya.
Tenten : 'Sudah sampai? Jangan gugup. biasa saja. Rileks, otot jangan tegang, santai. Semua akan lancar...'
Ino : 'Sekamar dengan Uchiha? Hei, jangan lupa mengaplikasikan foundation-mu setelah primer. Kirim fotomu saat acara.'
Naruto : (Foto Sasori sedang mengatur senar gitarnya di ruang tengah)
caption : Boy Avenue Sunagakure. LoL.
Konohamaru : 'Seperti ada yang hilang diantara aku dan Obito. Setelah ditelusuri ternyata si Pinky diculik Uchiha Sasuke ke LA. Aku minta tanda tangan Charlie Puth feat Meghan Trainor. Marvin Gaye.'
Obito : 'Bilang pada Sasuke jangan lupa memulangkan artist background 2D kembali dalam keadaan untuh.'
Wajah Sakura merona membaca pesan-pesan itu, ia menoleh ke Sasuke sekejap lalu membalas pesan satu persatu tapi kegiatannya terinterupsi oleh suara baritone Sasuke yang menyuruhnya untuk istirahat. Mengagetkan saja.
"Kukira kau sudah tidur Sasuke-kun." Sakura melanjutkan membalas pesan Line rekan-rekannya. Sasuke diam tidak menyaut. Tangannya menarik lengan Sakura untuk berbaring.
"Istirahatlah. Jika tidak, besok tenagamu akan habis." Ucap Sasuke. Sakura pun meletakkan ponselnya di meja lampu lalu terbaring menghadap Sasuke. Kenapa jauh-jauh jaraknya? mendekatlah... Sasuke tidak akan memakanmu.
"Besok acaranya jam berapa?" Sakura memandang wajah tampan pangerannya dengan hikmat.
"Sore jam lima." mata Sasuke sudah terpejam kembali.
"Besok apa kau ada acara sebelum itu? aku ingin jalan-jalan melihat kota. Bisa kan?"
"Hn. tidur dulu, besok kita pergi jam sembilan." Sasuke menarik tangan Sakura untuk lebih mendekat. Dengan jarak sedekat ini bagaimana Sakura bisa tidur Sasuke?
.
Ponsel Sakura sangat teramat ribut menyuarakan tanda alarm bangun pagi yang sudah ia seting pukul 07:30 waktu US. Sakura menggeliat ke sisi kiri, meraba-raba ponselnya di atas meja dengan mata terpejam. Rasanya sangat mengantuk. Tentu saja karena kau melewati tiga zona waktu berbeda. Ponsel itu berhasil dibungkam tapi Ketenangan Sasuke sudah terlanjur terusik, pria itu terbangun. Sasuke menoleh ke sisi kiri, ia memandang Sakura yang terlelap kembali dengan wajah damai tanpa beban. Kaosnya compang-camping, kerahnya menurun memperlihatkan belahan dadanya, pahanya putih mulus tidak tertutup bed cover. Sasuke memandang bentuk Sakura dari atas sampai bawah dan tidak mungkin jika Sasuke tidak merasakan sesuatu bergejolak dalam darahnya karena ia pria normal. Sasuke segera mengalihkan pandangan dan turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Sakura baru bisa bangun setelah lima belas menit Sasuke mencoba menyadarkannya. Sakura menggeliat kesamping kanan, kesamping kiri, mengolet, menggeliat lagi dan Sasuke memandangi bentuk Sakura dalam ketenangan. "Astaga jam berapa ini?" Gumam Sakura, matanya terbuka tertutup menyesuaikan cahaya dan akhirnya terbuka sempurna setelah menyadari bentuknya yang acak-acakan, bahkan kaosnya sudah terangkat sampai setengah badan. Merasa malu dengan Sasuke, gadis itu pun langsung meluncur ke kamar mandi.
Sasuke dan Sakura sarapan terlebih dahulu sebelum pergi jalan-jalan. Mereka menuju Longue hotel dan langkah Sakura terhenti saat menjumpai sosok yang sangat ia kenal. Tidak salah lagi itu Tsunade yang sedang sarapan bersama Jiraiya. Sakura lalu mengikuti Sasuke mengambil sarapan. Seperti biasa Sasuke mengambil salad yang didominasi dengan potongan tomat. Sakura lalu menambahkan dua potong sosis panggang ke piring Sasuke dan pria itu langsung menoleh.
"Asupan energi harus cukup." Ucap Sakura. Sasuke hanya diam tidak berkomentar. Mereka lalu bergabung dengan Jiraiya dan Tsunade. Sakura cukup grogi menyapa mereka, apalagi melihat senyum penuh arti Tsunade yang seakan mengatakan 'Rupanya kau sudah menentukan pilihanmu.' Sedangkan Jiraiya, pria setengah baya itu langsung paham kondisi yang telah terjadi.
"Wah, sekarang kau sudah tidak bepergian sendiri lagi Sasuke?" Sindir Jiraiya. Sasuke menanggapinya dengan sepatah kata 'Aa'.
"Biasanya kau selalu bepergian seorang diri seperti pendekar. Hahahaha..." Jiraiya tertawa. Sakura jadi salah tingkah karena pasalnya, suami istri inilah yang sudah pernah mendengar kegalauan Sakura terutama Tsunade yang sudah Sakura anggap sebagai master of soul-nya.
"Ceritakan pada kami bagaimana kau mengalahkan Gaara?" Shannaro! Jiraiya mengerti alurnya. Sasuke diam tidak menjawab dan Tsunade tersenyum tipis melihat Sakura yang kikuk.
"Anata, sekuat-kuatnya arus air yang bercabang, pada akhirnya yang menentukan arah perahu adalah nahkodanya." Tsunade menatap Sakura penuh arti. Jiraiya mengangguk-ngangguk setuju. Dua orang tua itu seperti sedang menggoda muda-mudi yang sedang kasmaran itu. Mereka lalu mengobrolkan hal lain selama makan, Sakura lebih banyak diam dan cenderung mendengarkan. Jiraiya sesekali bergurau mencairkan suasana.
"Kalian mau kemana? jalan-jalan?" Tanya Jiraiya kemudian.
"Ya, Jiraiya-sama." Sakura mengangguk sambil mengiris sosisnya dengan anggun padahal dalam hati menggerutu kenapa sosisnya susah sekali dipotong.
"Oh, jangan lupa ke Hollywood sign. Tidak kesana berarti belum ke LA." Ide Jiraiya itu memperkuat niat Sakura sebelumnya, gadis itu mengangguk-ngangguk setuju.
"Dan jangan lupa berciuman saat disana." Imbuh Tsunade tapi Sakura tidak mengagguk, ia tersenyum kaku sambil melirik Sasuke yang melahap salad dengan tenang.
Usai Sarapan Sasuke dan Sakura pergi jalan-jalan. Sasuke hanya akan membawa Sakura ke beberapa tempat berhubung jam tiga sore mereka harus sudah ada di hotel untuk bersiap pergi ke acara. Dimulai dari permintaan Sakura untuk pergi melihat Hollywood Sign, Sasuke pun membawa Sakura ke kawasan jantung Los Angeles dan aku harus menjadi katolog berjalan sekarang.
Untuk beberapa alasan Sasuke memutuskan pergi naik taksi dan Sakura setuju-setuju saja asalkan tidak naik angkutan umum yang ramai. Sakura melihat tulisan Hollywood bertengger di perbukitan melalui kaca jendela taksi, tidak sempat melihat ke sana karena Sasuke enggan naik ke atas sana. Cukup dilihat saja dari kejahuan, mereka harus menggunakan waktu sebaik mungkin jika ingin melihat tempat lainnya. Mereka lalu tiba di kawasan Hollywood Walk of Frame, jalan legendaris yang menjadi kiblatnya industri film dunia. Lokasinya di sepanjang jalan Hollywood Boulevards dengan deretan pohon palem seperti kelapa entahlah apa nama pohonnya. Suasana saat itu belum terlalu ramai jadi aman untuk Sakura.
Dua sejoli itu berhenti di trotoar legendaris yang menampakkan cap tangan serta nama-nama dari para celebritis papan atas dunia, baik penyanyi, bintang film, dan tokoh legenda dunia hiburan. Sakura hanya mengenal beberapa nama terkenal seperti Michael Jackson serta beberapa nama artist lain, selebihnya ia tidak kenal. Jadi tidak mengherankan jika gadis itu tidak mengenal Ayame Masao pada awalnya. Sakura mengambil beberapa foto dan tidak lupa berselfie ria dengan nama bintang terkenal, penerus Tom Cruise lah yang menjadi seksi dokumentasinya, yaitu Uchiha Sasuke. Mereka juga menjumpai beberapa cosplay di sana dan pergi setelah Sakura berfoto dengan Spiderman. Akhirnya Marvel menemukan musuh yang cocok untuk super hero mereka.
Sakura menanyakan destinasi mereka selanjutnya dan Sasuke mengatakan mereka akan mengunjungi sebuah musium. Musium?
Mereka turun dari taksi saat tiba di sebuah gedung putih bergaya tempo dulu. Sakura mengira itu musium tapi langkahnya berhenti saat mengetahui bahwa itu adalah stasiun kereta. Sasuke membawanya ke Union Station, ia mengatakan pada Sakura jika mereka akan ke musium menggunakan kereta. Awalnya Sakura enggan masuk ke dalam, tapi sekali lagi Sasuke meninggalnya dan mau tidak mau Sakura menyusul setelah memasang topeng kucingnya dan berlari menyusul Sasuke. Union station cukup ramai saat Weekend, ini adalah ide buruk bagi Sakura yang muali berkunang-kunang menelusuri lorong, menuju ruang bawah tanah mengambil jalur metro puple line dan masuk ke dalam kereta.
"Sasuke-kun, apa kau sengaja melakukan ini padaku?" Tanya Sakura, ia sedikit kesal dengan Sasuke dan memasang wajah cemberut di balik topengnya.
"Kau mau jalan-jalan kan? naik transportasi umum lebih berkesan daripada naik mobil." Jawab Sasuke. Sakura malas membahasnya lagi dan ia mengeluarkan botol mineral yang ia bawa dari hotel. Sakura menuangkan air itu ke telapak tangannya dengan hati-hati, sedikit saja yang penting ia menyentuh air. Shannaro!
Kereta sampai di western station, mereka transit di sana dan naik metro rapid ride, sebuah bus kota yang akan membawa mereka ke Musium Seni Los Angeles, LACMA. Sesampainya disana mereka disuguhkan satu blok lampu taman yang berjejer rapi membentuk persegi panjang di depan halam musium. Lampu-lampu taman itu menarik perhatian Sakura, beberapa orang mengabadikan foto mereka di sana, ada juga yang kebetulan sedang melakukan shoot photo preweed. Bisa dibayangkan bagaimana indahnya lampu-lampu itu pada malam hari.
Sasuke dan Sakura masuk ke dalam pekarangan museum, pekarangannya dipenuhi benda-benda seni seperti koleksi kontemporer dan seni modern. Sakura mengembangkan senyuman setelah membuka topeng. Mereka pun memulai ekspedisi dan Sasuke tersenyum tipis melihat Sakura kembali bersemangat. Sasuke dan Sakura masuk ke dalam musium, tempat itu mengilhami rasa ingin tahu tentang kehidupan di bumi sambil menjelajahi bagaimana hal itu terjadi dan bagaimana kita bisa bekerja untuk membuat tempat yang lebih baik.
Sakura dan Sasuke melakukan penjelajahan mereka ke setiap sudut musium, dijumpai banyak benda-benda seni di dalam sana. Sakura tiba di deretan gallery lukisan dan itu yang paling menarik perhatiannya. Dipajang sederet karya pelukis terkenal di sana. Sakura mengkhayati lukisan Pablo Picasso yang berjudul Head of a woman with hat (Dora Maar) secara mendalam sedangkan Sasuke memandang lukisan wanita berwajah tidak simetris itu dengan wajah datar.
"Sasuke-kun, bagaimana menurutmu tentang lukisan ini?" Tanya Sakura.
"Aa. Dia punya letak hidung yang unik." Jawab Sasuke.
"Pablo Picasso selalu merubah gaya lukisannya, gaya kubisme ini yang mengejutkan dunia seni. Ia mengubah persepsi tentang keindahan suatu seni. Ada lukisannya yang berjudul Mesra cinta tapi bernuansa suram dan pesimis."
"Aa.." Sahut Sasuke.
"Orang bilang Dora Maar adalah kekasih Pablo Picasso." Sakura menunjuk Lukisan itu. "Menurutku, wanita ini menggambarkan kepribadian yang tegas dan bebas."
"Dan juga letak hidung yang unik." Sahut Sasuke, pria itu meninggalkan lukisan Dora Maar dan Sakura masih berdiri di depan lukisan itu, ekspresi wajahnya jadi serius melihat hidung Dora Maar.
Sakura dan Sasuke melakukan penjelajahan lebih lanjut. Mereka menuju karya seni tiga dimensi, Roman art gallery peninggalan Yunani dan Romawi kuno, The hammer building yang menyimpan koleksi Asian art. Seterusnya sampai berakhir di fosil raksasa Dinosaurus Atyrannosaurus dan Triceratop.
"Lihat, Kenji harus melihat ini." Gumam Sakura, ia mendongak ke atas melihat peninggalan bersejarah jaman purba.
"Kenji sudah pernah melihatnya." Jawab Sasuke.
"Kenji sudah pernah ke sini?" Sakura baru tahu.
"Aa." Sahut Sasuke, ia mengeluarkan ponsel dan menyuruh Sakura berdiri di bawah fosil Dinosaurus itu. Sasuke mengatakan ia akan mengabadikan gambar koleksi terbaru musium untuk diperlihatkan pada Kenji. Pfft...
Satu jam lebih berlalu. Sakura masih ingin menikmati koleksi musium lainnya tapi waktu sangat mepet. Waktu menunjukkan pukul 13:00 am. Tersisa dua jam untuk makan siang lalu kembali ke hotel dan aku bersyukur atas kemepetan waktu ini, jika tidak betapa panjangnya deskripsi perjalanan wisata dua sejoli itu mengingat banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi di Los Angeles. Sasuke dan Sakura makan siang di restorant outdoor bergaya hippi di pinggiran trotoar pejalan kaki kawasan Wilshire Boulevard, tidak jauh dari hotel mereka.
"Sasuke-kun, apa lokasi acaranya nanti jauh dari hotel kita?" Tanya Sakura, ia sedang melahap steak daging.
"Tidak jauh, lokasinya di hall kampus UCLA."
"Benarkah? itu kampus Sasori. Dia melanjutkan kuliah S2 di sana."
"Aa. Dia menetap disini cukup lama?"
"Hem." Sakura mengangguk. "Dulu kau kuliah di mana Sasuke-kun?"
"Universitas Konoha, lalu melanjutkannya di sini. Di kampus yang sama dengan Sasori."
"Benarkah?!" Sakura cukup terkejut. "Wah...Dunia memang sesempit daun kelor."
"Kurang banyak bukti untuk menyatakan dunia sesempit daun kelor." Sahut Sasuke.
"Emm." Sakura menelan makananya dengan cepat. "Kau mau mendengar bukti lain? aku bertemu dengan Kenji di mall tidak disengaja, aku tidak tahu jika Kenji keponakanmu sampai kau membawaku ke pacuan kuda. Dan Jika kau bertanya kenapa Kenji mengenal Ga.." Sakura spontan menghentikan kalimatnya.
"Kenji mengenal siapa?" Tanya Sasuke. Sakura hanya menggeleng sambil tersenyum kaku.
"Usai makan kita langsung kembali ke hotel kan?" Sakura mengalihkan perhatian.
"Kenapa Kenji mengenal Gaara?" Sasuke tidak bisa dialihkan. Sakura terdiam dan memandang Sasuke yang menatapnya intents.
"Itu karena..., Gaara-san juga bertemu aku dan Kenji di waktu yang bersamaan." Sakura mengelap mulutnya dengan serbet makan lalu meneguk minuman. Sasuke hanya diam memandangi Sakura. Suasana menjadi hening, Sakura mencairkan suasana kembali dengan mengangkat topik pembicaraan acara nanti malam dan mereka kembali ke hotel saat jam menunjukkan pukul 13:20 pm.
Sasuke sedang berkutat dengan laptopnya di ruang tamu sementara Sakura memulai ritualnya lebih cepat dari jadwal. Saat ini Sakura sedang berlulur ria dan berendam di kamar mandi hotel yang menakjubkan. Baknya besar sekali ya Sakura? cukup untuk dua orang.
Sakura keluar kamar mandi hampir satu jam kemudian, ia melilit kepalanya dengan handuk dan memakai pakaian tidurnya semalam. Sasuke menghampiri setelah itu, ia melihat Sakura sedang serius mengecat kuku-kuku kakinya di atas ranjang.
"Ah, Sasuke-kun.." Sakura menoleh sekejap. "Sudah selesai urusannya?"
"Aa." Sasuke naik ke atas ranjang. Sakura menghentikan gerakan memoles kukunya karena Sasuke membuat ranjang bergoyang. Pria itu berbaring menyamping menghadap Sakura, satu tangannya menopang kepala sambil memperhatikan kuku-kuku jari Sakura yang sedang dipoles kembali dengan warna peach.
"Sasuke-kun, apa jasmu perlu disetrika lagi?"
"Hn." Jawab Sasuke. Sakura menghentikan kegiatannya sejenak untuk menelpon laundry hotel. Sasuke masih terbaring di ranjang, ia mengambil cat kuku Sakura dan mengamatinya. Kenapa Sasuke? That's girl's stuff, jangan heran.
Sakura lalu kembali ke posisi semula melanjutkan mengecat kuku. Ia sempat tersenyum saat melihat Sasuke mencium aroma cat kuku itu. Aromanya vanilla. "Kenapa Sasuke-kun? mau kucet kuku-kukumu?" Goda Sakura. Sasuke meletakkan kuteks itu kembali lalu melentangkan tubuhnya, membuat ranjang bergoyang kembali.
"Aku berdoa semoga Grenooch menang dalam nominasi best feature." Ucap Sakura. Sasuke terdiam sambil memandang langit-langit. Merasa hening, Sakura pun menoleh memandang Sasuke yang sedang melamun, pasti sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa Sasuke-kun?" Sakura memecah lamunan Sasuke, pria itu lalu bangkit dan membuat ranjang bergoyang kembali. Kenapa ranjang itu begitu empuk?
"Mau mandi?" Tanya Sakura. Sasuke menoleh, pandangannya tertuju pada kuku-kuku Sakura kembali. Sasuke lalu bergerak duduk bersila menghadap Sakura, menarik satu kaki Sakura ke atas pangkuannya.
"Kau mau mengecat kuku-ku?" Tanya Sakura saat Sasuke meminta kuas cet. Sakura memberikannya dan dia dibuat tersipu saat Sasuke mengecat kuku kakinya.
"Aku akan menjadikanmu sebagai nail profesional-ku." Sakura terkekeh. Sasuke memoles kuku jempol Sakura dengan hati-hati.
"Bayaranku mahal." Sahut Sasuke.
"Berapa? apa gaji seorang artist background cukup?"
"Tidak." Sasuke berhenti memoles kuku. Tangannya menarik satu kaki Sakura maju ke depan. Sakura tersentak kaget, ia merosot lebih dekat dengan Sasuke.
"Ka-kau belum selesai memoles kukunya." Sakura gugup. Sasuke menatapnya intens, pria itu merengkuh pinggang Sakura untuk semakin mendekat, tubuh Sasuke berada di antara kedua kaki Sakura. "Aku tidak akan menggajimu." Jantung Sakura berdendang lagu orkestra, perkataan Tenten tentang keagresifan seorang pria terlintas dikepalanya dan itu menjadi penyebab Sakura merasa sangat grogi saat ini.
"Aku sudah memoles tiga kuku. Aku akan menuntutmu jika tidak menggajiku." Sasuke mendekatkan wajahnya, mencium aroma Sakura yang menyegarkan. Sentuhan hidungnya di leher meninggalkan jejak api. Jantung Sakura berdenyut menjalar sampai ke pangkal perut.
Ting! Tong! Kita hajar saja orang dibalik pintu itu.
"Laundry servis." Ucap Sakura. Sasuke menarik kepalanya dan Tuk. Mengetuk dahi Sakura lalu turun dari ranjang.
"Good morning sir, I'm coming to loundry servis." Ucap petugas valet laundry setelah Sasuke membuka pintu. Sakura menghampiri dan menyerahkan jas milik Sasuke.
Sakura bersiap-siap. Gadis itu sudah menghabiskan waktu setengah jam di depan cermin untuk berdandan. Kesibukannya lalu terinterupsi oleh petugas laundry yang mengantar setelan jas Sasuke. Sakura hanya mengucapkan kata 'thank you' lalu memberikan uang tip pada petugas bule itu. Jas Sasuke direbahkan di atas ranjang dan Sakura kembali bermakeup ria. Beberapa saat kemudian Sasuke keluar dari kamar mandi, pria itu hanya melilitkan handuk putih di bagian bawah. Sakura yang sedang mengaplikasikan maskara langsung melebarkan matanya secara sempurna melihat Sasuke dari pantulan cermin. Shannaro!
Setting tempat dialihkan ke Naruto yang sedang tidur nyenyak.
Sakura menyeka hidungnya di ruang tamu, tisu yang meninggalkan bercak darah ia buang ke tempat sampah dengan rapi. Kita tahu apa artinya.
Sasuke sudah mengenakan celana dan kemeja saat Sakura kembali ke kamar. Parfum Sasuke menyeruak ke penjuru ruangan membuat bulu kuduk Sakura merinding. Pria itu duduk di tepi ranjang mengancingkan lengan bajunya sambil memandang gelagat Sakura yang salah tingkah. Sasuke lalu berkutat dengan leptopnya kembali di ruang tamu sambil menunggu Sakura selesai berdandan.
Setengah jam berlalu. Sakura keluar dari kamar dengan penampilan yang mempesona. Gadis itu berkilau dibalut gaun hijau muda rancangan Ino. Sasuke yang menoleh sekejap langsung menoleh kembali memandang Sakura dari atas sampai bawah.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Sakura malu-malu saat onyx kelam Sasuke memandanginya.
"Aa." Sasuke bangkit dari sofa setelah menutup laptop. Sudah tidak usah dijelaskan lagi bagaimana tampannya seorang Uchiha Sasuke mengenakan setelan jas hitam fit body. Sakura saja masih tidak yakin pria yang akan ia dampingi itu adalah kekasihnya.
Mobil Sasuke dan Sakura tiba di kawasan University of California, Los Angle (UCLA). Kampus itu terletak di perbukitan di westwood, 2,7 kilometer jarahkanya dari hotel Sasuke dan Sakura menginap. Sakura memandang keluar jendela, area kampusnya sangat besar dan sangat bersih. Diterangi lampu-lampu taman di setiap pinggir jalan dengan arsitektur bangunan kampus bergaya Italy kuno. Sosok yang Sakura ingat saat melihat kampus ini adalah Sasori. Apakah kecintaannya tentang hal-hal tempo dulu karena pria itu kuliah di kampus ini?
Mereka tiba di halaman depan Royce Hall UCLA, salah satu bangunan megah dari empat gedung utama kampus itu. Supir membuka pintu mobil. Sakura turun dan menahan diri untuk tidak mendongak ke atas, melihat artsitektur gedung yang menarik perhatiannya itu.
Menggandeng lengan Sasuke, Sakura melewati red carpet di depan jejeran wartawan yang sudah stand by di sepanjang jalan masuk Royce Hall. Kilatan foto menyambar membuat mata silau. Sudah banyak tamu undangan yang datang, diantara mereka adalah produser, sutradara, penulis naskah, orang-orang yang bekerja di industri animasi dan beberapa tokoh dubber diantaranya artist Hollywood. Sakura dan Sasuke berjalan di belakang Tsunade dan Jiraiya yang sedang diwawancara. Sakura bersikap anggun serta elegan walau sebenarnya gugup setengah mati. Sakura berharap hells milik Tenten stabil dan tidak membuatnya malu di depan media.
Mereka masuk ke dalam gedung menuju auditorium UCLA yang sangat besar. Sasuke dan Sakura menyapa beberapa orang unit 3D Gamabunta yang sudah hadir di sana, mereka adalah orang-orang produksi yang masuk ke dalam nominasi kategori film. Kehadiran Sasuke didampingi Sakura menarik perhatian mereka. Mungkin mereka terkejut melihat Sakura tapi Sakura lebih terkejut lagi saat melihat Gaara juga ada di sana. Sasuke bersalam dengan semua team-nya termasuk Gaara. Toneri juga diundang dalam acara itu. Sakura bingung mau bagaimana jadi dia hanya tersenyum menyapa Gaara yang juga tersenyum padanya. Satu team undangan duduk dalam deretan satu blok. Setting tempatnya seperti bioskop dengan panggung di depan. Sakura duduk di antara Sasuke dan Tsunade.
"Kau tidak bilang padaku Gaara-san diundang." Bisik Sakura.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" Sasuke menoleh dan menatap Sakura.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja." Sakura mengalihkan pandangan ke panggung.
Acara anual Aniie Awards dibuka dengan musik megah memanggilkan seorang pria yang menjadi tuan rumah untuk pembawa acara. Seru tepuk tangan meriah menggelegar di dalam Royce Hall UCLA malam ini.
Annie award adalah penghargaan prestasi di bidang animasi yang diadakan setiap tahunnya. Sakura sudah memasang earphone di telinga untuk meredam suara audio yang menggelegar. MC membuka acara lalu diawali dengan sambutan dari pihak International Animated Film Association (ASIFA). Suasana acara mengalir sangat meriah dan bisa dibilang lucu saat salah satu Director industri Animasi terkenal di Australia memberi kata sambutan untuk membuka sesi pengumuman pemenang nominasi.
Acara Annie award memiliki total 36 kategori penghargaan dan hanya 14 kategori yang diumumkan khusus untuk film animasi layar lebar. Greenoch cukup bersaing dengan enam film dari studio-studio animasi dunia yang masuk ke dalam nominasi best Feature animation. Gamabunta masuk ke dalam 10 nominasi dari 14 kategori.
Beberapa pemenang nominasi sudah disebutkan dan mereka meraih piala penghargaan dengan wajah kegembiraan serta kata-kata sambutan yang beragam. Tepuk tangan pertama untuk studio Gamabunta terdengar saat pembaca nominasi menyebutkan pemenang nominasi untuk kategori Best outstanding achievements for music animation (penghargaan untuk musik terbaik), composer musik Grenooch maju untuk menerima penghargaan itu dan memberi beberapa kata sambutan.
"Sasuke-kun, Kita baru membicarakannya di pesawat dan itu benar-benar terjadi." Bisik Sakura sambil tepuk tangan. Sasuke tersenyum melihat satu penghargaan diraih Greenoch.
Acara terus berlangsung. Sang Pembawa acara berkoceh kembali dengan aksen-aksen lucunya, apalagi para pembaca nominasi yang ditunjuk juga kocak-kocak. Salah satu dari mereka adalah pengisi suara Spongebob dan Patrick. Mereka dibuat tertawa saat dua orang itu menyebutkan nama Sabaku Gaara menjadi pemenang penghargaan kategori Best outstanding achievements for character design animation (penghargaan untuk karakter animasi terbaik) untuk Greenoch. Sekali lagi satu penghargaan diraih studio Gamabunta saat Art Director muda berbakat itu naik ke panggung untuk menerima piala penghargaan diiringi tepuk tangan yang meriah, termasuk Sakura yang sangat bersemangat, bahkan gadis itu ingin berteriak 'Gaara-san keren' tapi tidak enak dengan Sasuke. Gaara menerima piala itu lalu memberi kata sambutannya.
"Thank you...," Senyuman seksi Gaara terpampang di layar panggung. "Thank you for this." Gaara setengah mengangkat pialanya. "Thank you that's some amazing company to be in and some good friend represented, some new one as well so it's very humble to be even considered in Gamabunta. Thank you for all artist and team. I thank you very much." Sambutan Gaara diiringi tepuk tangan meriah. Sasuke tersenyum tipis melihatnya.
.
.
Creeesssssss...
Beberapa Udang goreng tepung sedang tergoreng cantik di atas teflon Sasori. Hinata dan Naruto sedang memasak di dapur, sementara pemilik dapurnya sedang menyaksikan siaran langsung Annie Award yang disiarkan salah satu chanel TV luar negeri. Naruto yang sedang mengiris bawang bombay di meja makan ikut tepuk tangan melihat penghargaan yang diberikan untuk Gaara dalam kontribusinya membuat film Greenoch. Hinata yang juga melihatnya dari kejauhan ikut tersenyum senang. Naruto lalu menghampiri Sasori yang duduk tenang melihat wajah Gaara dari layar 80ins-nya itu.
"Boleh juga dia.." Komen Sasori.
"Dia dulu bekerja di Dreamworks." Sahut Naruto, ia berpindah tempat mengiris bawang bombay di atas karpet sambil menyaksikan siaran Annie Award.
"Lalu kenapa dia pindah ke Gamabunta?" Tanya Sasori.
"Entahlah, mungkin jiwa Nasionalisme-nya tinggi. Lagipula berkarir di Gama tidak kalah menjanjikan." Jawab Naruto sambil memotong bawang bombay. "Ah... atau bisa juga karena panggilan cinta, tapi apa dikata, dia dikalahkan Sasuke." Sambung Naruto. Sasori diam tidak berkomentar apa-apa, perhatiannya terfokus pada nominasi selanjutnya.
"Naruto-kun... bawang bombay-nya.." Pinta Hinata.
"Ah! aku datang!" Naruto meluncur ke dapur membawa bawang bombay. Tidak ada Sakura pun, Sasori masih diperhatikan adik-adiknya yang lain.
.
.
"Hahahahaha..."
Para undangan dibuat tertawa oleh dua pria yang menjadi perwakilan untuk membacakan pemenang nominasi selanjutnya. Dua pria itu mengingatkan Sakura pada Obito dan Konohamaru. Sakura tidak terlalu mengerti apa yang mereka bicarakan tapi ia ikut tersenyum saja. Tinggal tersisa tujuh nominasi lagi yang belum diumumkan dan salah satunya nominasi yang paling ditunggu yaitu penghargaan utama Best Animated Feature yang akan diumumkan paling terakhir. Tepuk tangan meriah terus terdengar sampai nominasi yang kelima dibacakan untuk kategori Best outstanding Achievement in directing. Semua penasaran menunggu dan akhirnya nama Jiraiya disebutkan sebagai pemenangnya. Semua team Gamabunta berdiri termasuk Sasuke dan Sakura untuk memberi penghormatan untuk sutradara mereka.
"Are you sure it's for me? It's for me formidable and you know what? I'm happy but I'm little bit embarrassed by such great consideration, by such a great honor and I feel worried. I feel bizarre."
Jiraiya memberikan kata sambutan yang lucu membuat semua undangan tertawa. Sutradara Gamabunta itu sudah beberapa kali mendapat penghargaan. Jiraiya juga menyebut-nyebut istrinya Tsunade sebagai orang yang memberinya banyak inspirasi, so sweet sekali. Acara diisi dengan menampilkan hiburan musik dari beberapa penyanyi Pop ternama. Sakura mencuri satu foto panggung dan mengirimkannya pada Naruto, ia ingin berselfie ria dengan Sasuke tapi dia malu. Lagipula ruangan gelap dan memakai lampu flash adalah ide yang buruk. Acara kembali dilanjutkan. Sementara ini Greenoch sudah meraih tujuh penghargaan, termasuk Toneri beserta tiga orang teamnya yang memenangkan nominasi Best outstanding Achievement in Animated Effect, membuat Naruto semakin bersemangat menggarap Black Jack. Mendapat tujuh penghargaan sudah sangat membahagiakan apalagi menjadi pemenang penghargaan Annie Award.
Seorang pria dan nenek-nenek maju ke depan untuk membacakan nominasi yang terakhir untuk Best Animated Feature, keduanya berguyon terlebih dahulu agar suasana rileks. Cuplikan trailer semua film animasi yang masuk nominasi disiarkan terlebih dahulu. Sakura cukup deg-degan siapa yang akan meraih nominasi terakhir ini karena jika Greenoch yang mendapatkannya, mereka akan menjadi pemenang Annie Award tahun ini.
"So..." Sang nenek membenarkan kaca matanya. Nenek itu adalah salah seorang dubber kartun yang terkenal.
"Hurry up Granma..." Pria yang juga pengisi suara tokoh kartun itu berbicara dengan nada snewen mirip Squidward. Keduanya membuat para undangan terkekeh.
"In category for best Animated feature is..." Sang nenek membuka amplop, lama sekali gerakannya membuat pria yang mendampinginya itu tidak sabar. Bahkan Naruto yang melihat dari layar televisi mengemut udang gorengnya karena takut tersedak.
"Ok Greenoch. Take your trophy home."
"Yeah!" Seru Naruto, membuat Sasori dan Hinata kaget.
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!Plok!
Suara tepuk tangan meriah menggema di Royce Hall UCLA, sekali lagi team Gamabunta berdiri menyambut kemenangan film mereka. Sakura tepuk tangan ikut senang dan terharu. Sasuke selaku produser Greenoch maju kedepan untuk mengambil piala dan Sasuke mendapat hadiah kecil dari sang nenek yang spontan mengecup bibirnya setelah menyerahkan piala. Semua dibuat tertawa melihat adegan singkat itu.
"Gamabunta have a Good Damn hansome producer. I just can't help." Ucap sang Nenek. Sasuke hanya tersenyum dan senyumannya menawan hati semua tamu undangan.
"Sorry boy, it's not her fault." Pendamping pria menepuk bahu Sasuke, membuat semua orang semakin tertawa.
Sasuke digoda habis-habisan di atas panggung dan Sakura hanya tertawa geli melihat raut wajah Sasuke yang sedikit bingung. Acara itu disiarkan di televisi dan disaksikan oleh penonton di seluruh dunia, termasuk pegawai Gamabunta yang sedang menikmari weekend mereka. Seperti Ino yang sedang menonton siaran itu dengan Sai, Tenten dengan Neji, Itachi dengan Konan, Jugo sendirian, Konohamaru dengan... Hei kau ada di mana itu? mewah sekali tempatnya.
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!Plok! Plok...
Suara tepuk tangan meredam saat Sasuke akan memberi sedikit kata Sambutan.
"Thank you." Ucap Sasuke, wajahnya lebih berekspresi dari biasanya usai dicium nenek-nenek.
"Thank you very much. and... it's been an incredible journey for and we're so pleased with the movie and to have recognized by your peers, by people that we love and respect and are colleagues. It's really is an amazing feeling. Thank you." Sasuke mengangkat piala ke atas.
Plok! Plok! Plok! Plok! Plok! Plok!Plok! Plok...
Suara tepuk tangan kembali terdengar. Sasuke kembali ke tempat duduk dan ia mengetuk dahi Sakura saat gadis itu berdiri menyambutnya.
"So, I'm a little curious about how Gamabunta get a young producer like him? even their artist filled by young man unless the director." Ucap sang pembawa acara dan semua tertawa kembali. Jiraiya merasa dirinya sudah tua.
Acara dilanjutkan dengan pembacaan nominasi Best TV/Broadcast Animated dan itu terdiri dari 36 kategori. Dua jam pun berlalu, acara Annie Award diakhiri dengan hiburan musik dan para tamu beranjak keluar auditorium setelah acara resmi ditutup oleh pembawa Acara. Greenoch mendapat 7 penghargaan termasuk penghargaan untuk Best Animated feature.
Sakura masih didalam ruangan sampai para tamu keluar duluan karena ia enggan berdiri menerjang kerumunan yang jumlahnya banyak itu. Sakura menyuruh Sasuke untuk duluan saja tapi pria itu tidak mau meninggalkan Sakura sendirian.
Team Gamabunta mengabadikan foto mereka bersama di red carpet setelah Sasuke dan Sakura keluar dari Royce Hall. Mereka saling berpelukan mengucapkan selamat. termasuk Sasuke dan Gaara tapi kedua pria itu tidak berpelukan, mereka hanya bersalaman dan saling bertatapan dalam.
"Gaara-san..., selamat..." Sakura bersalaman dengan Gaara. "Kau keren sekali." Ucap Sakura. Sasuke sedang dikepung wartawan bersama Jiraiya.
"Terimakasih." Sahut Gaara, pria itu tersenyum tipis. "Aku tidak menyangka kau akan datang."
"Ah, ya.." Sakura tersenyum. "Sasuke mendadak mengajakku. Aku juga terkejut saat melihatmu tadi. Apa kita juga sehotel?" Tanya Sakura.
"Kurasa tidak, kami menginap di Beverly Hilton. Kami sudah berada di sini dua hari yang lalu." Jawab Gaara, ia dan Sakura lalu mengobrol santai, tidak luput dari pandangan Sasuke.
"Hei Dude!" seorang pria bule menghampiri Gaara dan mereka berpelukan. Mungkin itu teman lama Gaara yang bekerja di Dreamworks. Mereka berdua basa basi saling menyapa dan Sakura beranjak menjauh dari orang-orang, ia berdiri di tepi, memperhatikan suasana yang membaur sampai Sasuke menghampirinya.
"Ayo kita kembali." Ajak Sasuke. Sakura mengangguk dan ia merangkul lengan Sasuke.
.
.
"Apa kau sudah lelah?" Sasuke memecah keheningan setelah lima menit Sakura berhenti mengoceh tentang acara tadi. Mobil mereka sedang menuju hotel.
"Tidak terlalu." Sakura menggeleng, ia sedang sibuk membalas pesan Line rekan-rekannya. Sasuke lalu mengatakan arah tujuan pada supir. Sakura bisa menangkap pembicaraan mereka.
"Kita tidak kembali ke hotel Sasuke-kun?" Tanya Sakura.
"Aa. Kita akan melihat sesuatu terlebih dahulu."
"Wah..." Mata Sakura menangkap gugusan cahaya berkumpul menjadi satu saat ia dan Sasuke berjalan menuju depan musium seni Los Angeles, LACM. Sasuke membawa Sakura ke musium ini lagi untuk melihat promenade light di malam hari. Lampu-lampu taman itu menyala indah, Sasuke dan Sakura masuk ke dalam dan berdiri di antara tiang-tiang lampu. Suasana di sana sangat sepi, hanya ada dua orang pria yang sedang mengambil foto di sana, kelihatannya mereka seorang turis fotographer.
"Aku sudah membayangkan lampu ini akan indah pada malam hari." Ucap Sakura, ia mengambil beberapa foto. "Ah, Sasuke-kun, aku ingin berfoto denganmu." Sakura berdiri di samping Sasuke dan mengambil foto selfie. Wajah Sasuke datar dan tidak melihat ke kamera, menghasilkan sato foto dimana Sakura terlihat seperti sadar kamera.
"Sasuke-kun, coba lebih berekspresi lagi..." Sakura mengarahkan kamera ponselnya lagi dan kali ini Sasuke melihat ke kamera tapi masih dengan wajah datar. Mending menyerah saja. Sakura memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas genggam lalu mendongak ke atas menikmati lampu-lampu itu. Sasuke memandang Sakura dalam keheningan.
"Dulu kau pertama kali ke sini dengan siapa Sasuke-kun?" Tanya Sakura, ia masih mendongak ke atas lalu mengedarkan pandangannya.
"Dengan seorang wanita." Jawab Sasuke dan Sakura langsung menoleh.
"A..., dengan kekasihmu saat kuliah ya?" Sakura mengedarkan pandangannya lagi, ada sedikit ketidak sukaan mengetahui kenyataan itu tapi masa lalu biarlah masa lalu.
"Bukan. Ini yang kedua kalianya aku mengajaknya." Jawab Sasuke. Sakura langsung menoleh lagi.
"Kedua kalinya?" Sakura menautkan alisnya. "Berarti yang pertama kali itu tadi siang?"
"Aa." Sasuke mengalihkan pandangannya. Raut wajah Sakura langsung berubah, ada senyuman tipis yang mengandung kebahagiaan.
"Sasuke-kun, terimakasih sudah mengajakku ke sini." Cup. Sakura mengecup pipi Sasuke. "Dan selamat atas kesuksesan Greenoch. You are the best." Sakura mengembangkan senyumannya.
"Aa. Terimakasih." Sasuke menarik peinggang Sakura mendekat. Mereka berdua berciuman di tengah-tengah promenade light. Salah satu fotografer mengabadikan moment mereka diam-diam.
.
.
Sasori sedang menghayati petikan gitarnya di ruang tengah. Hal ini membuktikan bahwa Sasori adalah kesatria bergitar. Kenapa? karena pria itu luwes memainkan nada accoustic dengan jari lentiknya selentik bulu mata. Ternyata astronot ini mempunyai jiwa seni selain meneliti gugusan bintang di alam semesta. Naruto dan Hinata menikmati alunan gitar Sasori bagaikan pertunjukan gratis di kafe. Usai makan siang sambil menonton siaran Annie Award yang sudah selesai itu, Televisi Off. Saatnya Quality time bersama.
"Hinata, bernyanyilah satu lagu, Sasori akan mengiringimu." Pinta Naruto. Hinata langsung menolak malu-malu. "Ayolah..." Bujuk Naruto. "Suaranya sangat bagus, cocok duet denganmu." Ucap Naruto pada Sasori. Hinata jadi salah tingkah sekarang.
"Kau mau bernyanyi lagu apa Hinata?" Tanya Sasori. Hinata masih menolak dan Naruto terus memaksanya. Sepuluh menit berlalu akhirnya Hinata mau bernyanyi. Gadis itu menyebutkan satu lagu melow berjudul A Thousand Years milik Chistina Perri. Sasori bisa memainkannya dengan mudah dan dia berduet dengan Hinata bagai Boy avenue feat Ariana Grande.
Plok Plok Plok Plok...
"Duet yang sempurna..." Ucap Naruto usai lagu selesai dinyanyikan. Hinata tersenyum malu-malu sementara Sasori kembali memainkan petikan acoustic ringan.
"Coba Pinky ada di sini. Pasti akan lebih seru..." Naruto melihat hasil rekaman duet Sasori feat Hinata pada ponselnya. Hinata langsung menengok untuk ikut melihat, Sasori masih beracoustic slow sambil memandang lovely dovey di hadapannya. "Suaramu indah Hinata." Naruto mengecup pipi Hinata, menggangap Sasori adalah obat nyamuk.
"Ah, aku akan mengirim ini ke Pinky, agar dia cepat pulang." Naruto menatap Sasori sekejap dengan senyuman menggoda.
"Besok dia sudah pulang ke sini." Sahut Sasori.
"Bagaimana jika tiba-tiba diundur? Asal kau tahu, tidak ada yang bisa menebak Sasuke. Semalam di Amerika sangat disayangkan."
Sasori pun langsung menghentikan permainan gitarnya. "Hinata, tolong ponselku." Sasori menunjuk ponselnya yang tergeletak di atas sofa persis di belakang Hinata. Sasori mencoba menghubungi Sakura untuk menanyakan keadaannya di sana. Mungkin lebih tepatnya ingin tahu sekarang Sakura sedang apa.
"Sakura mungkin sedang sibuk." Ucap Naruto setelah Sasori mencoba menghubungi Sakura dua kali.
"Sibuk apa? acara sudah selesai sejam yang lalu."
"Sibuk kegiatan lainnya, mungkin sedang sibuk dengan Sasuke." Goda Naruto. Sasori menatapnya sambil memikirkan sesuatu.
"Mens gotta do what mens gotta do, brother..." timpal Naruto, ia sukses membuat wajah Sasori sekaku teleskop bintang. Pria itu mencoba menghubungi Sakura kembali dan Naruto tersenyum tipis.
.
"Aku tidak menyangka fotografer itu mengambil gambar kita. Hehe..." Sakura tampak bahagia saat tiba di hotel. Di musium LACM tadi ia berkenalan dengan dua fotografer yang diam-diam mengabadikan beberapa gambar mereka, termasuk saat adegan ciuman Sasuke dan Sakura. Sang fotografet meminta alamat email untuk mengirim foto dan Sakura dengan senang hati memberitahukan alamat emailnya. Sakura bahkan mengajak dua fotografer itu selfie sebelum kembali ke hotel.
Ponsel Sasuke bergetar, nama Sasori terpapar di layar ponselnya. Sakura masuk ke dalam kamar sementara Sasuke menerima telpon, gadis itu tidak tahu jika yang bicara dengan Sasuke adalah Sasori. Semoga Sasuke cukup pintar menanggap kondisinya.
"Kakakmu baru saja menelpon." Ucap Sasuke saat masuk ke kamar.
"Benarkah?" Sakura membuka tas genggamnya dan melihat ponsel. Ada dua panggilan Line dari Sasori. "Apa dia menanyakan sesuatu?"
"Aa. Dia hanya mengucapkan selamat dan menanyakan kita sedang dimana." Sasuke melepas jasnya lalu duduk di pinggiran ranjang dan Sakura menelpon Sasori sambil berdiri di depan jendela menatap kota LA. Sasuke hanya menyimak obrolan Sakura sambil melepas sepatu.
"Kau dimana? ponselmu dijual saja." Sasori mengomel.
"Aku tidak tahu kau menghubungiku kak, ponselku didalam tas. Kau tahu aku sedang ada acara."
Sakura menghabiskan lima belas menit lamanya mengobrol dengan Kakaknya sementara Sasuke berkutat dengan ponselnya sendiri. Ia mendapat cukup banyak pesan dari orang-orang yang mengucapkan selamat padanya termasuk Naruto.
Dobe : 'Adik ipar, selamat atas keberhasilan Greenoch. Bagaimana rasanya dicium nenek-nenek?'
"Baiklah kak, sampai jumpa besok." Sakura menutup telpon dan bernapas lega, ia beralih membuka pesan dari rekan-rekannya termasuk Naruto yang mengirim sebuah video untuknya. Sakura membuka video itu dan suara duet Sasori feta Hinata memecah keheningan kamar. Sasuke menoleh lalu mendekati Sakura yang masih berdiri menghadap jendela.
"Apa yang kau lihat?" Sakura sedikit kaget ketika Sasuke merengkuh pinggangnya dari belakang. Sakura menunjukan video itu dan mereka bedua melihatnya bersama. Suara Sasori dan Hinata benar-benar mirip Boy Avenue dan Ariana Grande, Lagu a thousand year terdengar merdu dinyanyikan oleh mereka.
"Aku tidak tahu Hinata memiliki suara yang sangat bagus." Ucap Sakura. Sasuke tenang melihat video itu sampai habis diputar. Suasana menjadi hening, Sakura bergerak kikuk dalam rengkuhan Sasuke. "Besok pesawat kita berangkat jam berapa?" Sakura berusaha mengalihkan kegugupannya.
"Jam sembilan." Sasuke mencium kepala Sakura, mengisap aroma cerry mahkota kekasihnya. Situasi ini cukup membuat Sakura gerogi tingkat tinggi, apa lagi yang dia pikirkan selain keagresifan Sasuke yang nyaris membuatnya tegang ingin kabur dari kamar itu sekarang.
"Ah, apa kau ingin berdansa Sasuke-kun?" Tidak ada ide lain untuk mengalihkan kegugupan saat bibir Sasuke mendarat di tengkuk Sakura, rasanya seperti terbius dan menggiurkan pada saat yang bersamaan. "Kita berdansa sekarang." Dengan cepat Sakura membuka folder musik sebelum Sasuke bergerak semakin agresif, rengkuhannya kuat, menghilangkan jarak diantara mereka. Aroma tubuh Sasuke nyaris membuat Sakura gila, membuat setiap sel pada tubuhnya menginginkan Sasuke. "Ini dia." Sakura mendapatkan lagunya dan lagu itu malah membuat Sasuke tersenyum tipis. Seharusnya kau tidak memutar lagu Marvin Gaye ini Sakura, kau salah strategi.
"Ayo berdansa." Sakura memutar tubuhnya, meletakkan tangan kirinya pada bahu Sasuke, mengangkat salah satu tangan Sasuke dari pinggangnya dan merentangkannya ke samping, berpose seperti orang berdansa. Menggerakkan Sasuke untuk melangkah.
Sasuke menatap Sakura intents, senyum tipisnya memancarkan keseksian yang melunturkan dinding hati. Posisi mereka tampaknya menguntungkan bagi Sasuke dan Sakura malah semakin gugup, imannya mulai melemah. Terimakasih untuk gaun rancangan Ino yang memiliki belahan sangat praktis. Tangan Sasuke meluncur pada gaun Sakura yang terbelah, telapak tangannya menyentuh kulit punggung Sakura dengan penekanan. Mereka bergerak pelan mengikuti irama musik, memberi waktu pada Sakura untuk berpikir lebih jernih. Keduanya berdansa mendekati ranjang. Mereka tidak mengatakan apapun dan Sakura mulai rileks.
"Sasuke-kun, bagaimana rasanya dicium nenek-nenek." Sakura mengulangi pertanyaan Naruto, gadis itu terkekeh mengingat kejadian tadi.
"Rasanya tidak seaneh saat menciummu." jawab Sasuke.
"Memangnya apa yang aneh saat menciumku?" Sakura menautkan alisnya. Sasuke tidak menjawab, ia merunduk mencium pipi Sakura.
"Kau tahu apa arti lagu ini?" Gumam Sasuke, bibirnya bergerak menuju telinga Sakura. Bulu kuduk Sakura merinding dalam sekejap. Hormon gairahnya terpacu kembali.
"Ka-kasih sayang bukan?" Tanya Sakura, matanya terpejam merasakan sensasi geli bibir Sasuke.
"Aa. Lebih tepatnya..." Sasuke berbisik mengatakan sesuatu dan Sakura langsung melebarkan matanya tidak percaya.
SHANNARO..!
Sasuke langsung bergerak mengecup leher Sakura. Kecupan itu berubah menjadi ciuman panas yang membangkitkan gairah. "Sasuke-kun." Baru saja Sakura bernapas, Sasuke menarik kepala dan mencium bibirnya, begitu bergairah karena kebutuhan naluriah yang paling dasar terusik hingga Sakura sulit mengucapkan sepatah katapun. "Tunggu dulu." Sakura menarik kepalanya, kakinya menginjak gaun bagian bawah dan dia terjatuh ke ranjang.
"Tunggu apa?" satu kaki Sasuke naik keatas ranjang, kedua tangannya menopang tubuhnya, mengurung Sakura dari atas.
"Aku..." Pikiran Sakura kalut, ia bergerak mundur, kakinya menjejak permukaan ranjang dan belahan gaunnya menampakkan kaki jenjangnya hingga paha. Sekali lagi terimakasih untuk Ino. Sasuke ikut naik ke atas ranjang, masih mengepung Sakura, menikmati ekspresi gadisnya yang gugup malu-malu. Jangan menganggap Uchiha Sasuke remeh.
"Sasuke-kun, aku tidak tahu jika arti lagunya seperti itu." Ucap Sakura, tangannya menahan dada Sasuke. "Aku tidak bermaksud kearah situ. Sungguh. Kita bisa berhenti sekarang."
"Aa." Sasuke dan Sakura bertatapan dalam. Sakura berharap Spiderman, Iron man, Hulk, atau siapa saja muncul menyelamatkan jantungnya sekarang.
Tuk.
Sasuke mengetuk dahi Sakura lalu bangkit membebaskannya, pria itu bergerak ke tepi ranjang, melepas dasi dan kancing lengan kemejanya. Keheningan tercipta, lebih tepatnya sesuatu sepertinya sudah merusak suasana. Keduanya terhanyut ke dalam pikiran mereka masing-masing. Merasa ada yang salah, Sakura bergerak duduk di samping Sasuke. Pria itu terdiam, melepas jam tangannya.
"Sasuke-kun, aku.." Suara Sakura lirih.
"Istirahatlah. Besok kita berangkat pagi." Ucap Sasuke, ia berdiri menuju kamar mandi. Sakura memandanginya sampai pintu kamar mandi tertutup.
Sakura membersikan make-up setelah berganti pakaian. Suasana canggung menyelimuti ruangan saat tidak terjadi interaksi anatara Sasuke dan Sakura. Sasuke berkutat dengan laptopnya di ruang tamu sementara Sakura pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sasuke belum kembali ke kamar saat Sakura selesai dengan acara bersih-bersihnya. Gadis itu menghampiri Sasuke di ruang tamu untuk mengajaknya beristirahat tapi Sasuke menyuruh Sakura untuk istirahat duluan. Suasana menjadi remang-remang saat Sakura mematikan lampu kamar, menyalakan lampu tidur dan menyamankan dirinya di ranjang. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan karena Sakura merasa sesak saat ini. Rasanya dingin dan hampa.
Sasuke menyusul setengah jam kemudian, tampaknya Sakura sudah tidur. Sasuke naik ke ranjang dan terbaring di sisi Sakura, pria iru memandang punggung Sakura dalam ketenangan. Mata Sakura terbuka, ia tahu Sasuke terbaring di belakangnya. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu dan Sakura ingin sekali mengajaknya bicara, ia tidak suka dengan kecanggungan ini. Sakura berbalik saat Sasuke sudah terpejam. Sakura tidak tahu apa yang menjadi pikirkan saat ini tapi batinnya mengatakan ia baru saja mengacaukan sesuatu. Sakura merasa ia baru saja membangun dinding pembatas.
"Sasuke-kun..." Panggil Sakura. Nadanya pelan. Sasuke membuka matanya lalu menoleh.
"Kukira kau sudah tidur." Ucap Sasuke.
"Apa kau marah?" Tanya Sakura.
"Marah kenapa?" Sasuke balik bertanya. Sakura terdiam sambil memandang Sasuke.
"Cium aku." Mulut Sakura terucap begitu saja. Sasuke tidak merespon dan pria itu hanya memandang Sakura, mungkin sedang membaca pikiran gadis itu. "Kau tidak mau menciumku?" Tanya Sakura. Keheningan tercipta sampai Sasuke bergerak mendekat.
"Tidurlah." Sasuke menempelkan keningnya pada kening Sakura.
"Kau tidak marah padaku?" Tanya Sakura.
"Tidak." Jawab Sasuke, matanya sudah terpejam.
"Lalu kenapa kau tidak menciumku? aku merasa kau sekejap bersikap dingin."
Suasana hening kembali, Sakura lalu mengecup bibir Sasuke. "Maafkan aku."
Sasuke menjauhkan kepalanya dan memandang Sakura dalam. "Sakura, aku tidak marah."
"Kau marah, aku tahu itu, kalau tidak marah berarti mood-mu tidak baik."
"Kau menyimpulkanya sendiri. Aku memang tidak marah."
"Lalu kenapa sikapmu jadi berubah? Kau menjauhiku." Sahut Sakura. Sasuke tidak menjawab dan hanya menatap Sakura.
"Sakura..." Sasuke bingung bagaimana mengucapkannya. "Jika aku menyentuhmu lagi aku tidak tahu apa aku bisa menahan diri."
Ekspresi Sakura berubah seketika, rasa senang, tersipu, malu, dan gugup teraduk menjadi satu. Sakura menarik tangan Sasuke lalu mengecup jari-jarinya. Leher Sasuke sedikit menegang.
"Sakura hentikan." Sasuke menarik tangannya.
"Sasuke-kun, kita..." Ucap Sakura ragu-ragu.
"Apa kau siap?" tanya Sasuke dan Sakura terdiam. Gadis itu sebenarnya ragu. "Tidak masalah jika kau belum siap." Ucap Sasuke. "Aku akan menunggumu."
Sakura tidak tahu harus berkata apa, saat ini dirinya merasa jatuh cinta lebih dalam dengan Uchiha Sasuke. Mereka bertatapan dalam, Sasuke tersenyum tipis menyentuh kepala Sakura.
"Kau tahu Sasuke-kun? aku semakin jatuh cinta padamu."
"Aku tahu itu." Sasuke mendekatkan kepalanya dan mereka berkecupan beberapa kali sambil terkekeh.
"Jadi apa kau akan membuat batasan?" Tanya Sasuke kemudian.
"Emm. Tidak." Sahut Sakura. "Kau yang lebih tahu batasanmu sendiri Sasuke-kun."
Sasuke tersenyum samar, wajahnya lebih artistik daripada lukisan Pablo Piccaso. Sasuke menarik selimut menutupi tubuh mereka sampai atas lalu mendekati Sakura lebih rapat.
"Sasuke-kun!" Sakura tersentak kaget dan menepuk lengan Sasuke cukup keras.
"Kenapa? Kau bilang aku lebih tahu batasanku." Protes Sasuke.
"Hentikan itu!" Sakura melonjak geli, sesuatu sedang bekerja di balik selimut. Aku sendiri penasaran apa yang Sasuke lakukan.
"Sasuke!" Teriak Sakura, mungkin mereka berdua sedang main glitik-glitikan. Ehem.
Langit malam Los Angeles menjadi begitu indah untuk tercatat dalam kisah cinta Sasuke dan Sakura.
.
Keesokan harinya Sasuke dan Sakura chek out hotel pukul 07:00 am. Mereka mengunjungi Walt disney concert hall sebelum menuju ke bandara LAX. Pesawat mereka take off pukul 09:30 am waktu setempat. Sasuke dan Sakura hanya berkunjung di depan halaman Walt disney concert hall untuk mengambil beberapa foto gedung yang bentuknya artistik, sudah jelas itu permintaan dari Sakura.
Tepat pukul 09:30 pesawat take off membawa Sasuke dan Sakura kembali ke Jepang. Sakura tidak perlu khawatir karena yang duduk di seberang Sasuke kali ini adalah pria setengah baya yang gemar tidur walau pramugari yang berlalu lalang cukup harus diwaspadai.
"Sasuke-kun, apa team studio juga pulang hari ini?" yang dimaksud Sakura adalah Gaara dan kawan-kawan.
"Aa, sepertinya mereka baru pulang besok." Jawab Sasuke dan Sakura mengangguk-ngangguk dengan wajah yang tersirat rasa iri.
"Memangnya kenapa?" Pertanyaan Sasuke terselubung kecurigaan.
"Tidak apa. Tanya saja." Sakura tersenyum, ia tidak menanyakan tentang Tsunade dan Jiraiya karena pasangan Yin Yang itu pergi ke hawaii untuk berbulan madu entah yang ke berapa.
Pesawat tiba di bandara Konoha pukul 12:30 pm waktu Jepang.
"Ladies and gentelman, welcome to Konoha International airport. Thank you for flying with Alpha Airlines. There may be 50 ways to leave your lover, but there are only 4 ways to leave this plane. See you again."
"Saudara-saudara, selamat datang di bandara internasional Konoha. terimakasih untuk terbang bersama Alpha Airlines. Mungkin ada lima puluh cara untuk meninggalkan kekasih anda tapi hanya ada empat cara keluar dari pesawat ini. Sampai berjumpa lagi."
Sekali lagi announcement pesawat dari maskapai penerbangan ini membuat para penumpang tertawa dan Sakura tidak mengerti kenapa Jugo memilih maskapai ini.
.
.
"Tadaimaaa...!" Sakura tiba di apartemen saat Sasori sedang menghajar Naruto lewat game PS.
"Pinky!" Seru Naruto. Mereka mem-pause permainan, menyambut kedatangan Sakura dan Sasuke. Sasori duduk tenang di sofa memperhatikan mereka.
"Kak!" Sakura meloncat ke sofa memeluk Sasori.
"Teme. Selamat!" Naruto memeluk Sasuke.
Setelah acara berpeluk-peluk ria, Sasuke langsung menghadap Sasori. Dua pria itu mengobrol di ruang tengah seperti kopral yang menghadap kapten, sementara Sakura menyiapkan teh ditemani Naruto.
"Bagaimana sehari di Los Angeles?" Tanya Naruto dengan cengiran kuda Nil-nya. "Apa terjadi sesuatu di sana?" Naruto membentuk tanda trapesium dengan kedua jarinya. Sakura hanya memutar bola mata lalu membawa teh ke ruang tengah. Mereka mengobrolkan banyak hal, Sakura bercerita tentang kampus Sasori yang ia kunjungi, kakaknya itu menanggapinya dengan senyuman tipis.
Sasuke tidak berlama-lama singgah di sana karena rencananya Itaru mengadakan pesta ulang tahun jam setengah tiga sore di rumah Itachi dan Sasuke resmi mengundang Sasori untuk hadir ke acara itu. Karena waktunya sangat mepet mereka berangkat bersama ke rumah Itachi langsung dari apartemen. Sasuke dan Sakura pergi dengan mobil Sasori sedangkan Naruto pergi menjemput Hinata terlebih dahulu.
Mereka tiba di rumah Itachi tepat waktu. Acara ulang tahun Itaru diselenggarakan di ruang tengah. Suasana ruangan sudah didekor warna-warni dengan aksen bertema anak-anak. Balon warna-warni, sisi depan dihiasi dengan papan bertuliskan 'Happy Birthday Uchiha Itaru', Serta tumpukan kado warna-warni di sudut ruangan.
"Wohohoho..." Seorang Badut sedang memainkan sulap dikelilingi teman-teman Itaru yang sudah berdatangan. Ekspresi mereka melongo melihat atraksi sulap, lucu sekali. Sedangkan Konan, wanita itu sedang menyapa para orang tua yang rata-rata terdiri dari para ibu, sementara Itachi duduk tenang memandang anak-anak kecil.
"Okasan, mana paman Sasuke?" Itaru sudah menunggu kedatangan pamannya dari tadi. Acara sebentar lagi dimulai.
"Nyonya." Mukade membisikkan sesuatu dan Konan memberitahukan pada Itaru.
Drup...drup...drup...
Lima anak kecil berlarian di sepanjang halaman rumah melewati Sasori, Sakura dan Sasuke. Rumah Itachi dipenuh anak kecil lucu-lucu, ada sekitar 20 teman Itaru yang diundang. Sakura sangat bersemangat menjumpai anak-anak yang imut, acaranya pasti akan asik.
"Itaru! Happy birtday!" Teman-teman menyapa Itaru yang muncul di teras. Mereka bersapa riang gembira, teman-temannya itu masuk ke dalam rumah sementara Itaru berlari menuju Sasori, Sasuke dan Sakura. Betapa senangnya Itaru saat melihat sosok Sasori datang.
"Pamaaaaaaaannnnnn...!"
Itaru berlari dengan kecepatan penuh menuju mereka. Itaru memeluk kaki Sasuke sekejap lalu menuju sang astronot idolanya untuk bertos ria. Itaru langsung menggandeng Sasori masuk ke dalam dengan semangat.
"Itaru sangat bersemangat." Ucap Sakura.
"Aa." Sahut Sasuke. Mereka menyusul masuk ke dalam.
"Paman Cacoli!" Seru Kenji, ia berlari untuk bertos ria. Kedatangan Sasori membuat semua anak-anak menoleh. Itaru berseru bahwa pria yang digandengnya itu adalah seorang astronot dan anak kecil langsung meninggalkan badut mengerumuni Sasori.
Konan dan Itachi menghampiri, Sasori berdiri memberi salam memperkenalkan dirinya. Sasuke dan Sakura muncul di belakang. Kenji langsung berlari memeluk Sasuke dan Sakura.
"Haruno Sasori." Dengan tegas Sasori bersalaman dengan Itachi. Tampaknya kharisma Itachi tidak membuat Sasori gugup sedikit pun. Sasori juga bersalaman dengan Konan. Wanita itu sangat ramah menyambut Sasori. Suasana membaur kembali. Sasori menjadi kerumunan anak-anak kecil mengalahkan pamor si badut yang sedang menyantap puding lezat di meja hidangan.
"Sasuke-kun...Sakura-chan..." Konan berpelukan dengan Sasuke dan Sakura. Itachi menghampiri setelahnya. Pria itu memeluk Sasuke memberi selamat dan Sakura masih saja gugup memberi salam Itachi.
Acara ulang tahun dimulai. Mobil Naruto baru saja tiba. Pria berambut jerami bersama kekasihnya Hinata masuk ke dalam rumah menuju tempat acara. Naruto membawa kado berukuran panjang besampul kuning polkadot, ia sudah menyiapkan kado itu sebelumnya atas pemberitahuan Sakura saat di Los Angeles.
Suara nyanyian selamat ulang tahun diiringi tepuk tangan sudah terdengar saat Naruto dan Hinata sampai di ruang tengah kediaman Itachi yang besar itu. Itaru berdiri di depan ditemani Kenji, Konan dan Itachi. Mereka dikerumuni teman-teman Itaru yang bernyanyi dengan sangat semangat. Sasuke, Sakura dan Sasori berdiri di sudut belakang. Naruto dan Hinata datang menghampiri mereka.
Suasana membaur, sederet acara terlaksana dimulai meniup lilin sampai memotong kue ulang tahun Itaru. Hiburan dari badut meramaikan suasana, ditambah Naruto juga ikut-ikutan beraksi bersama badut. Pria itu adalah seorang trickster sejati.
Mukade sudah mengatur semuanya, ia memeriahkan acara dengan memutar lagu Meghan Trainor berjudul Better when I'm Dancing. Lagunya sangat cerita, Anak-anak dipandu pembawa acara untuk berjoget riang gembira sambil berseru 'Oweo!'.
Anak-anak itu berjoget secara abstrack semau mereka sendiri. Naruto menggeret Hinata untuk bergabung, Konan menarik Sakura dan Sakura menarik Sasuke. Mereka berjoget dengan anak-anak, sangat lucu. Sakura memancing Sasuke untuk berjoget tapi pria itu hanya berdiri sambil tersenyum samar. Sakura mengayunkan kedua tangan Sasuke kekiri dan kekanan. Itachi memandang kemeriahan itu bersama Sasori sambil mengobrol.
I feel better when I'm dancing, yeah, yeah..
Better when I'm dancing, yeah, yeah...
.
"bye..bye...Itaru... bye..." teman-teman Itaru pulang setelah acara selesai.
"bye... thank you.." Itaru dan Konan mengantar mereka sampai halaman depan rumah. Sakura dan lainnya tinggal untuk makan malam atas permintaan Itachi. Meja makan dipenuhi hidangan Jepang, mereka bercakap-cakap selama makan malam kecuali Itachi yang hanya bicara sepatah dua patah kata. Konan yang paling banyak membuka pecakapan.
"Sasori-san, kudengar kau menetap di Los Angeles?" tanya Konan.
"Ya, saya menetap di sana sejak kuliah." jawab Sasori, ia duduk di samping Sakura yang sedikit grogi. Entah grogi karena apa.
"Sudah tidak ada misi ke luar angkasa lagi?"
"Belum tahu. Sementara ini saya bergabung dalam pusat riset Ames dan mengajar di pusat pendidikan NASA."
"Paman, apa itu sebuah sekolah astronot?" tanya Itaru.
"Emm, itu semacam tempat untuk penelitian Itaru. Jika kau ingin menjadi Astronot kau harus menyelesaikan sekolahmu terlebih dahulu."
"Tidak ada sekolah untuk menjadi Astronot?" tanya Itaru lagi.
"Itaru, kau harus sekolah hingga kuliah, lalu mendaftar menjadi astronot." Jawab Sasuke.
"Hanya bersekolah saja?" tanya Itaru lagi.
"Kau harus giat belajar Itaru. Jika rangking sekolahmu bagus, kau bisa mendaftar." jawab Konan.
"Aku mendapat ranking satu di kelas." Jawab Itaru, anak kecil ini sangat kritis membuat Sakura diam saja tidak ikut obrolan. Jangan heran Sakura, Itaru adalah pewaris gen Uchiha. Anakmu juga akan kritis nantinya. Tapi itu jika kau menikah dengan Sasuke.
"Kalau begitu rangkingmu harus satu terus sampai kuliah." Sambung Naruto, Hinata yang duduk disampingnya hanya menyimak.
"Tidak harus, yang penting Itaru memahami pelajarannya." akhirnya Sakura angkat bicara.
"Intinya Itaru, rajinlah belajar." Sasori menyudahi percakan ini agar tidak terlarut.
"Apa ada Dinosaulus di luar angkaca?"Tanya Kenji dan semua tersenyum. Sakura ingin mencium Kenji sekarang.
Usai makan mereka semua berkumpul di ruang keluarga menemani Itaru membuka kado yang ia dapat dari teman-temannya. Sasuke dan Sakura memberikan kado mereka yang sebelumnya sudah dibawa oleh Mukade. Begitu pula Hinata dan Naruto, hanya Sasori yang belum mengeluarkan kado karena tampaknya pria itu tidak membawa apa-apa. Itaru membuka semua kado dari mereka, ia mendapat lampu tidur luar angkasa, peralatan melukis, dan pemukul bisbal. Lampu pemberian Sasuke memproyeksikan luar angkasa bintang dan roket saat Itaru mencoba menghidupkannya di ruang tengah.
Lalu kado dari Sakura, satu kanvas lukis dan cet warna. Sakura mengatakan pada Itaru untuk melukis sesuatu di hari ulang tahunnya. Itaru melumuri telapak tangannya dengan warna cat yang berbeda di setiap jarinya. Telapak tangannya itu lalu dicapkan di permukaan kanvas, satu karya seni master piece milik Itaru akan dipajang pada dinding kamarnya.
Itaru menganyunkan tongkat bisbal pemberian Naruto, tongkat itu berwarna cokelat dipadu warna hitam di bagian genggamannya. Naruto mengatakan pada Itaru dia harus mencoba olahraga bisbal karena olahraga itu sangat mengasyikkan. Jangan melupakan olahraga.
Hari semakin malam. Sakura dan lainnya pamit pulang. Sasori lalu berdiri mendekati Itaru, pria itu berjongkok menyamakan tingginya. Sasori mengeluarkan sesuatu dari kantung celana lalu memasangnya pada Itaru. Sebuah lencana Astronot NASA terpasang di baju Itaru.
"Oh, lihat... ada yang mendapatkan lencana Astronot." ucap Konan. Wajah Itaru merona saking senangnya, ia melihat lencana pemberian Sasori secara intens.
"Aku akan rajin belajar. Aku akan menjadi astronot." ucap Itaru dengan yakin, semua tersenyum melihatnya.
Mobil Sasori melaju menuju apartemennya diikuti mobil Naruto di belakang. Keheningan tercipta saat Sasori fokus menyetir sementara Sakura fokus berkutat dengan ponselnya. Gadis itu sedang membalas pesan Ino dan Tenten sambil bergumam kesal.
"Kau Kenapa?" tanya Sasori.
"Tidak." Sakura menggeleng, jarinya bergerak cepat membalas pesan. Sasori tidak berkomentar lagi dan fokus menyetir.
"Kak." panggil Sakura kemudian, ia ingin menanyakan sesuatu tapi ragu. "Sejak kapan Marvin Gaye dijadikan sebuah istilah?"
Mobil Sasori sekejap oleng ke kiri. Naruto yang berkendara persis di belakang mereka spontan menautkan alisnya.
"Sakura, apa yang terjadi di LA?!" wajah Sasori berubah serius.
"Tidak ada, aku hanya bertanya saja." Sakura mengedikkan bahu. 'Shannaro salah pertanyaan...'
"Kita akan membicarakan ini nona."
sepertinya Sakura tidak bisa istirahat saat tiba di rumah.
.
to be continued :)
.
Hai semuanya.. apa kabar? Semua sehat-sehat saja kan?
maafkan aku atas keterlambatan update chapter 25. kegiatan sedang menggila. hehehehe
Sebagai permintaan maaf aku menghadiahkan satu foto Gaara untuk kalian. mau lihat? kunjungi saja link di bawah ini hehe
arai14 deviantart com/art/Sabaku-Gaara-588789008
jangan lupa untuk menambahkan titik bagian (arai14 deviantart) dan com
jangan ada spasi
.
ok sampai jumpa di chapter selanjutnya!
semoga harimu menyenangkan! ^^v
