Master of Solomon and Dark Magic

.

.

.

.

By Victorianus

.

.

.

.

.

Namikaze Naruto

.

.

.

.

Supranatural, Fantasy, Adventure, Romance

.

.

.

.

.

.

Halo ketemu lagi dengan saya, Victorianus. Maaf jika saya lama update, karena saya cukup sibuk di dunia nyata. Langsung saja, saya ada baca reviews yang katanya cerita saya cukup mengecewakan karena tidak sesuai dengan selera kalian. Saya sudah bilang dari awal, jika saya mencara redears yang mengerti alur cerita saya, dan saya membuat setiap chapter saling menyambung satu sama lain permasalahannya. Jika kalian memaksakan saya untuk mengikuti alur yang kalian inginkan, itu sama saja menghancurkan alur saya sendiri yang sudah saya buat sampai END, jadi mohon maaf, saya tidak bisa mengikuti kehendak kalian. Fiksi saya genre utamanya adalah Supernatural, yang berarti berhubungan dengan sesuatu berbau mistis, magic, iblis, siluman, malaikat dan sebangsanya, jadi untuk Adventure, Action, Romance sudah saya buat masing-masing di setiap chapter kapan akan muncul. Saya menerima masukan, tapi tolong jangan memaksakan untuk mengubah alur cerita saya. Mau unfollow, unfavorite, terserah, saya hanya mencari redears yang fokus terhadap alur, bukan hanya action semata.

Maaf jika saya terlalu banyak ngomong, tapi itulah jawaban saya jika kalian masih memnta saya untuk mengubah ini itu, saya sudah bilang tidak bisa, tapi jika masukan, akan saya pertimbangkan. Sekian dan terima kasih.

.

.

.

.

.

.

Chapter 25

.

.

.

.

.

.

Naruto menjatuhkan tubuhnya perlahan, terduduk di ranjang ruang kesehatan istana dengan bantuan Zetsu yang memapahnya dari lapangan istana tempat dirinya dan Gaara bertarung. Wajahnya masih menunjukkan ringisan kesakitan, juga lengan kanannya yang terluka akibat cakaran yang dilancarkan oleh Gaara sebelumnya di ruang interogasi. Hiruzen, Danzo, Jiraiya, Orochimaru, Kushina, Tsunade, Kakashi, Obito, Asuma, Ibiki, bersama squad Yahiko maupun anggota squadnya menemani pemuda itu, menatap tidak percaya dengan luka yang di terimanya setelah melawan Gaara tersebut. Zetsu yang sebelumnya berdiri di samping pemuda Namikaze itu, tiba-tiba saja dirinya berlutut di hadapan Naruto dengan kepala yang tertunduk dalam, membuat naruto menatap bingung ke arahnya.

" Tuan muda, maafkan saya yang tidak becus melindungi anda. Anda boleh membunuh saya sekarang juga jika itu bisa membuat dirimu puas." kata Zetsu tiba-tiba membuat Naruto yang mendengarnya menatap diam ke arahnya. Menghembuskan nafas pelan, pemuda Namikaze itu tersenyum tipis ke arahnya, menggeleng.

" Ini bukan kesalahanmu ataupun siapapun, Zetsu. Musuh yang aku hadapi sebelumnya bukanlah musuh sembarangan dan aku tidak ingin kalian terluka. Tapi Zetsu, terima kasih dengan mantra sihirmu sebelumnya di ruang interogasi, luka cakaran yang aku terima sudah tidak terlalu parah." katanya sambil memberi senyum tipis membuat Zetsu mendongakkan kepalanya, menatap ke arah wajah tuan mudanya yang terdapat luka gores di beberapa bagian. Pintu ruangan kesehatan itu terbuka, terlihat Kimimaro dengan wajah yang begitu pucat juga raut cemas yang terlukis di wajahnya. Kedua mata hazel cerahnya itu menatap ke arah Naruto yang juga menatap ke arahnya, langsung saja pria berusia tiga puluh tahun lebih itu berjalan cepat mendekati ke arah putranya itu.

" Naruto, bagaimana keadaanmu?" tanya Kimimaro cemas melihat keadaan pemuda Namikaze itu, sedangkan yang bersangkutan hanya tersenyum tipis.

" Naru baik-baik saja ayah. Tubuh Naru sudah terlatih untuk menerima luka-luka fatal seperti ini." jawabnya mencoba menenangkan pria tersebut. Kimimaro menghembuskan nafas lega, lalu dirinya dudu di samping anaknya itu dengan ekspresi sedih yang terlihat jelas di wajahnya. Kedua azurenya menangkap Ryuusuke, Daisuke, juga Chika yang nangis sesegukan, sedangkan Azumi hanya menatap nanar dengan kedua matanya yang sudah memerah menatap ke arahnya. Naruto hanya tersenyum makluk melihat keempat adiknya itu yang menangis seperti itu, walaupun Azami tidak sampai mengeluarkan air mata, tapi dirinya tahu jika bocah yang selalu memperlihatkan sifat dingin itu sedih di dalam.

" Kalian tidak ingin mendekati Kak Naru?" tanya Naruto dengan kedua tangannya yang sedikit terbuka untuk menyambut keempat adik-adiknya itu, tapi malah di jawab gelengan kuat oleh mereka semua.

" Na-nant-ti ta-tamb-bah sa-sak-kit." jawab Chika terbata-bata dengan air mata yang mengalir semakin deras juga kedua tangannya yang mengenggam erat dress ungu polosnya, kembali terdengar suara isakan yang keluar dari dalam mulut bocah tersebut. Naruto yang mendengar hanya memberi senyum kecil, menggeleng pelan kepalanya mendengar jawaban gadis berusia enam tahun itu.

" Tidak. Luka Kak Naru tidak akan sakit jika kalian memeluk Kak Naru, malah akan membuatnya cepat sembuh." jawabnya lembut membuat keempat bocah itu menatap ke arahnya dengan wajah mereka yang memperlihatkan bekas air mata masing-masing.

" Su-sung-guh?" tanya Daisuke terseguk-seguk dengan kedua tangan mungilnya yang mengelap bekas air mata di wajahnya, sedangkan Naruto menjawab dengan anggukan mendengar pertanyaan bocah berambut coklat terang tersebut.

" Tentu saja Daisuke." jawabnya terlihat bibir bocah itu bergetar menahan suara yang akan keluar dari dalam mulutnya, tidak lama setelahnya dirinya berlari kencang menuju ke tempat Naruto berada, meloncatkan dirinya ke atas, memeluk Naruto dengan kedua tangannya yang melingkar kencang di leher pemuda tersebut dengan wajahnya yang di benamkan dalam di bahu kanan pemuda itu, kembali menangis kencang melihat sosok kakak yang di kaguminya terluka begitu parah. Naruto hanya meringis pelan atas tindakan tiba-tiba yang di berikan oleh bocah itu, dirinya juga melihat Chika yang membenamkan wajahnya di perutnya dengan kedua lengan mungilnya yang melingkar di pinggangnya itu, menangis tersendu-sendu, Ryuusuke juga Azami berjalan mendekatinya, kedua bocah itu menatap nanar ke arah lengan kanannya yang terluka cukup parah.

" Kak Naru, aku sudah memutuskan." kata Azumi tiba-tiba yang kedua matanya masih belum lepas pandang dari lengan pemuda itu. Naruto yang mendengar perkataan bocah berambut hitam itu menatap ke arahnya.

" Aku akan menjadi magic knight yang hebat jika sudah dewasa dan melindungi Kak Naru dari orang jahat." sumpahnya mantap yang kemudian kepalanya mendongak menatap ke arah Kolonel muda itu, terlihat iris malamnya yang memancarkan sirat keseriusan setelah mengucapkan kalimatnya itu, terlihat Naruto yang terdiam mendengar sumpah bocah tersebut, tapi tidak lama setelahnya pemuda itu tersenyum tipis, tangan kanannya terangkat sedikit, menepuk pelan kepala bocah itu.

" Kakak tunggu kamu menjadi magic knight di sini, jadi berlatihlah sungguh-sungguh." ucapnya membuat Azumi mengangguk sekali mendengarnya, begitupula Ryuusuke yang mengangguk mendengarnya. Semua orang-orang yang melihat interaksi keluarga itu hanya tersenyum tipis dan baru saja Neji ingin mengucapkan sesuatu, seseorang membuka pintu ruangan tersebut, terlihat Toneri bersama dengan Kaguya yang berjalan bersama dengan pemuda itu. Zetsu yang melihat adik perempuannya yang datang itu bangkit, kemudian dirinya mengangguk sekali ke arah gadis itu, terlihat Kaguya yang mengangguk pelan. Zetsu menatap ke arah Naruto yang mencoba menenangkan Daisuke yang masih mencoba menenangkan bocah energik itu, kemudian tubuhnya membungkuk sedikit.

" Tuan muda Naruto, biarkanlah Kaguya untuk menyembuhkan luka anda." ucapnya membuat Naruto menatapke arahnya, begitupula Daisuke yang berhentih menangis mendengar perkataannya itu, lalu menatap ke arah pria Otsutsuki tersebut. Naruto yang mendengar perkataan pria itu mengangguk sekali, kemudian menatap ke arah Daisuke.

" Daisuke, bolehkan Kak Naru minta kamu turun sebentar?" tanyanya membuat bocah itu memalingkan wajahnya menatap ke arahnya dengan wajah yang begitu berantakan juga umbel yang mengalir dari dalam hidungnya tersebut. Mengangguk menurut, dirinya melepaskan rangulannya, melompat turun ke bawah, begitupula Chika yang menyingkir menjauh sebelum Daisuke melompat.

" Apa Kaguya bisa menyembuhkan luka yang di terima oleh Kolonel Naruto? Nona Hinata saja tidak bisa menggunakan sihir penyembuhnya untuk menyembuhkan beliau." kata Neji sangsi karena dirinya tahu sendiri jika Kolonelnya tidak bisa di sembuhkan dengan sihir apapun.

" Jangan samakan level Kaguya dengan Hinata, Hyuga. Kemampuan yang di miliki Kaguya tidak sebanding dengan kemampuan yang kalian miliki semua." jawab Zetsu dingin membuat Neji baru saja ingin protes dengan jawaban yang di lontarkan oleh sulung Otsutsuki itu, tapi di tahan Shikamaru yang ada di sampingnya.

" Sudahlah, jangan di masukan ke dalam hati. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti." katanya menenangkan pemuda Hyuga itu, terlihat Neji yang menarik nafas sejenak, mengangguk paham mendengarnya. Naruto kemudian meposisikan dirinya duduk bersila dengan kedua tangannya yang memegang lutut kakinya membuat Zetsu meminta adik-adik tuan mudanya untuk sedikit menjauh dari pemuda tersebut. Kaguya berjalan mendekati ke arah tuan mudanya itu, berhenti beberapa meter di depan Naruto yang memejamkan kedua matanya, menunggu dirinya untuk melakukan tugasnya. Aura ungu kegelapan keluar dari dalam tubuh gadis Otsutsuki itu, begitupula aura ungu kegelapan milik Naruto perlahan-lahan keluar dari dalam tubuhnya, membuat semua orang yang menyaksikannya terkejut.

" Dark Magic : Dark Illumination." ucap gadis Otsutsuki itu yang kemudian sebuah lingkaran sihir ungu dengan simbol bintang segi enam kecil muncul di tengah-tengah lingkaran itu, juga tulisan-tulisan kuno Yahudi yang tercetak melingkari lingkaran sihir itu. Cahaya ungu kegelapan perlahan-lahan menyelimuti seluruh tubuh Kolonel muda itu, lalu terlihat luka cakaran bekas serangan Gaara itu perlahan-lahan tertutup kembali juga luka gores yang ada di beberapa bagian tubuhnyapun menghilang. Tidak lama setelahnya, cahaya ungu kegelapan itu perlahan-lahan menghilang memperlihatkan sosok Naruto yang seluruh tubuhnya tanpa luka sedikitpun di seluruh tubuhnya begitupula pakaian sihirnya yang sebelumnya berantakanpun kembali seperti baru kembali. Zetsu tersenyum bangga melihat kemampuan sihir yang di perlihatkan oleh adiknya itu, kemudian pria Otsutsuki tersebut menatap ke arah petinggi-petinggi Konoha, anggota squad Yahiko beserta rekan sesama squadnya yang terkejut dengan apa yang di lihat oleh mereka sebelumnya barusan. Kaguya menghembuskan nafas pelan, dirinya tersenyum lega melihat jika keadaan tuan mudanya sekarang bisa di katakan kembali seperti biasanya.

" Terima kasih, Kaguya. Bukan hanya menyembuhkan semua luka yang aku miliki, tapi juga membantu mengalirkan energi sihir di dalam tubuhku yang sebelumnya terputus, kini kembali mengalir seperti biasa." kata Naruto yang membuka kedua matanya, terlihat iris azurenya yang begitu indah juga bibirnya yang membentuk senyum tipis terima kasih. Kaguya yang mendengar perkataan pemuda itu hanya menundukkan kepalanya sedikit.

" Sudah tugas saya untuk membantu anda, tuan muda Naruto." jawabnya sopan membuat Naruto tersenyum tipis mendengarnya. Pemuda itu bangkit dari duduknya, menatap ke arah Kimimaro yang juga menatap ke arahnya.

" Kak Sara ada dimana?" tanya pemuda itu ingin tahu terlihat Kimimaro yang tersenyum tipis mendengarnya.

" Dia sedang menemani Shion yang masih tertidur. Sara sempat heran kenapa Shion tidak terbangun mendengar suara gaduh yang kamu buat saat melawan pemuda itu." kata Kimimaro menghembuskan nafas panjang, kemudian pria itu tersenyum ke arah anaknya itu. Kimimaro kemudian bangkit, menepuk bahu pemuda itu beberapa kali, tersenyum kecil.

" Sebaiknya kamu ke tempatnya sekarang. Sara cemas mengetahui jika kamu terluka parah saat melawan Kapten Sunagakure itu. Temuilah dia agar membuatnya sedikit tenang setelah melihat kondisimu yang sekarang." katanya membuat Naruto mengangguk mendengarnya.

" Baik ayah." jawabnya singkat, kemudian dirinya menghadap ke arah Hiruzen, Danzo, Kakashi, Ibiki, Obito juga Asuma yang sejak tadi berdiri memperhatikan mereka.

" Maafkan atas tingkah hamba yang tidak sopan, Yang Mulia Kaisar. Hamba melupakan anda yang berkunjung untuk melihat keadaan hamba." katanya bersalah dengan tubuhnya yang membungkuk hampir sembilan puluh derajat ke arah Kaisar maupun Perdana Mentri itu, terlihat Hiruzen juga Danzo yang tersenyum, menggeleng mendengarnya.

" Tidak masalah, lagipula setelah melihatmu sudah tidak apa-apa, kami sudah tenang." jawab Hiruzen sambil tersenyum, begitupula Danzo yang mengangguk mendengarnya.

" Benar apa yang dikatakan Hiruzen, kamu sudah tidak kenapa-napa sudah membuat kami senang." jawabnya terlihat Naruto yang menegakkan tubuhnya, tersenyum tipis ke arah kedua orang tertinggi di Kerajaan Api itu. Kakashi berjalan mendekati salah satu Kolonel di Kesatuannya itu, pria Hatake tersebut menepuk pelan bahu pemuda tersebut, tersenyum tipis ke arahnya.

" Syukurlah kamu tidak apa-apa Naruto aku panik mendengar jika kamu terluka parah mendengar kamu melawan Gaara yang tiba-tiba mengamuk." kata pria Hatake tersebut, membuat Naruto menundukkan kepalanya di depan pemimpinnya itu.

" Maaf jika membuat anda khawatir, Jendral Kakashi." jawabnya bersalah tapi Jendral dari Kesatuan Kepolisian itu menggeleng kepala pelan mendengarnya.

" Yang penting kamu sudah tidak apa-apa, dan bersyukur jika Kaguya bisa menyembuhkan lukamu itu karena tubuhmu selalu menolak untuk kami sembuhkan menggunakan sihir. Terima kasih, Kaguya." kata Kakashi tulus, menatap ke arah Kaguya yang membungkukkan tubuhnya sedikit ke arah pria Hatake itu.

" Sudah tugas saya sebagai salah satu anggota squad Kolonel Naruto. Saya hanya melakukan apa yang saya bisa lakukan untuk Kolonel Naruto." jawabnya membuat Kakashi mengangguk mendengarnya, kemudian menatap kembali ke arah Naruto.

" Sebaiknya kamu temui kakakmu juga kekasihmu. Alangkah baiknya jangan sampai membuat kekasihmu tahu karena dia pasti akan pank mengetahui kejaidan yang kamu alami sebelumnya." saran Kakashi yang di jawab anggukan patuh oleh Kolonel Namikaze itu.

" Tentu saja Jendral Kakashi, saya memang tidak ingin menceritakan pertarunganku bersama Gaara dengannya. Yang penting, kekashinya yang tampan ini masih hidup juga kondisi seluruh badan utuh sudah cukup." katanya sedikit narsis membuat mereka tertawa mendengarnya. Yahiko berjalan mendekat pemuda Namikaze itu, mengacak rambut pirang gelap Kolonel muda itu gemas.

" Kamu sudah mulai narsis, eh? Apa karena bergaul dengan kami, jadi kepribadianmu banyak berubah?" tanyanya terlihat Naruto yang menepis tangan pria berambut jingga itu, bibirnya membentuk seringai kecil.

" Who know, asalkan aku tidak semesum kamu, sampai-sampai membaca buku karya Jendral khusus Jiraiya seperti Jendral Kakashi." sindirnya ke pria di depannya itu membuat Yahiko mendelik ke arahnya, tapi tidak lama setelahnya pria tersebut membatu di tempat, merasakan aura membunuh yang begitu peka. Sebuah tepukan tangan dari belakang terasa di bahu kanan pria itu, membuat Yahiko berjengit kaget, dengan gerakan patah-patah, dirinya menyampingkan wajahnya ke kanan, kedua iris coklat cerahnya membulat melihat wajah Konan yang menghadap ke arahnya dengan aura hitam angker yang keluar dari tubuhnya juga kedua matanya yang memancarkan sinar yang begitu menyilaukan.

" Apa. itu. benar. Kolonel Yahiko?" tanyanya menekan setiap kata-kata yang di keluarkan oleh wanita berambut biru itu membuat Yahiko menelan ludah susah juga keringat yang sudah mengalir deras di wajahnya.

" Ti-tid-da-dak Ko-Kon-na-nan sa-say-yan-ng. A-ak-ku ti-tid-da-dak ba-bac-ca bu-buk-buku la-lakn-na-nat i-it-tu.." jawabnya terbata tapi seakan tidak peduli, Konan langsung saja menjewer telinga pria tersebut, menarik keras keluar dari ruangan itu terlihat wajah Yahiko yang pucat pasi, meminta pertolongan kepada sahabat-sahabatnya yang hanya tertawa melihat penderitaan yang sebentar lagi akan di terima pria tersebut. Jiraiya yang tertawa terbahak-bahakpun tiba-tiba saja kepalanya di pukul keras oleh Tsunade yang ada di sampingnya membuat pria berambut putih bermodel bulu landak tersebut mengelus bagian kepalanya yang di pukul keras oleh wanita tersebut.

" Sakit Tsunade. Kenapa kamu memukulku?" tanyanya meringis karena tiba-tiba saja wanita berambut pirang pucat tersebut memukulnya, sedangkan Tsunade memberikan tatapan mematikannya kepada pria tersebut.

" Kamu masih membuat buku sialan itu? Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain membuat buku mesum itu?" tanyanya garang membuat Jiraiya tertawa gugup mendengar mendengarnya.

" Me-memangnya kenapa? Aku juga ingin membagikan pengalaman-pengalamanku kepada orang-orang, khususnya pria dan juga buku karyaku tidak di jual sembarangkan kok." belanya membuat kedua mata Tsunade memicing curiga, tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh pria di hadapannya itu.

" Sudah-sudah. Kalian ini seperti anak kecil saja dan Tsunade, tidak ada salahnya jika Jiraiya menulis buku walaupun kita tahu jika itu buku dewasa, tapi itu juga tidak di jual secara bebas." lerai Orochimaru menenangkan wanita berusia tiga puluhan itu membuat Tsunade mau tidak mau menghembuskan nafas pelan, mengangguk paham. Kedua iris madunya melirik kembali ke arah Jiraiya yang menghembus nafas lega.

" Jika aku sampai menemukan buku laknatmu itu di tempat-tempat yang tidak seharusnya berada, siap-siap saja kamu akan aku kirim ke alam lain." deliknya sekali lagi membuat Jiraiya berdiri tegak, mengangguk patuh bagaikan robot kepadanya membuat yang lain tertawa melihat interaksi keduanya.

.

.

.

.

.

Sara yang ada di ruang kerja Naruto duduk gelisah di bangku panjang yang ada di ruang tengah tersebut. Mengambil cangkir berisikan teh yang beberapa saat lalu di buatnya entah ke berapa, meneguk habis tehnya yang tidak terlalu panas. Meletakan kembali cangkirnya sedikit keras, wanita itu melipat kedua tangannya di depan dada cemas. Mengetahui jika orang yang sudah di anggap seperti anak sendiri terluka parah akibat serangan tiba-tiba, siapa yang tidak akan panik mendengarnya. Toneri sebelumnya sudah memintanya agar tenang karena Kaguya bisa menyembuhkan luka yang di alami oleh pemuda Namikaze tersebut. Sara menatap ke depan, tepatnya dimana Shion yang tertidur pulas di kursi panjang yang ada di sebrangnya. Dia sempat heran kenapa gadis cantik itu bisa tertidur lelap tanpa terganggu sedikitpun, padahal dirinya sangat yakin jika keributan yang di timbulkan terdengar sampai di sini.

Lamuna Sara buyar mendengar suara pintu utama ruangan itu terbuka, membuat dirinya menghadapkan wajahnya ke kiri, terlihat sosok Naruto yang berjalan masuk, diikuti oleh Zetsu, Toneri, Kaguya, Kiba, Neji, Shikamaru, Lee dan Hinata yang ada di belakang pemuda tersebut. Sara langsung bangkit dari kursinya, berjalan cepat mendekati Naruto.

" Kamu tidak apa-apa? Masih ada yang sakit?" tanya wanita itu cemas dengan kedua tangannya memegang kedua pipi pemuda tersebut, kemudian ke kedua pundaknya, kedua mata violetnya menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki mengecek tubuh pemuda tersebut. Naruto yang melihat kepanikan dari wanita berambut merah di depannya tersebut hanya memberi senyum tipis, mengangguk sekali.

" Tenanglah Kak Sara, Naru sudah tidak apa-apa. Semua luka yang Naru terima sudah di sembuhkan oleh Kaguya-san dan lagi, tubuh Naru sudah kembali fit seperti biasanya." jawabnya menenangkan wanita di depannya itu. Sara yang mendengar menghembuskan nafas panjang, memundurkan dirinya beberapa langkah, tersenyum tipis ke arah pemuda tersebut.

" Syukurlah. Aku kira kamu akan kenapa-napa. Ternyata hasil latihan yang membentuk tubuhmu seperti ini memberikan hasil yang bagus." katanya membuat Naruto tertawa pelan mendengarnya.

" Naru menekuni ilmu bela diri bukan untuk pamer, melainkan untuk mengantisipasi jika sampai terjadi luka cukup fatal yang di terima tubuhku, jadi luka seperti itu bukan apa-apa untuk Naru." candanya membuat Sara menjitak pelan kepala pemuda di depannya itu, tertawa kecil mendengar jika kondisi pemuda tersebut. Kedua dark azure Naruto melirik ke arah tempat tubuh Shion tertidur, begitupula Sara yang mengikuti arah pandang pemuda tersebut.

" Baru kali ini aku melihat Shion tertidur nyenyak seperti ini, padahal dia akan terbangun jika mendengar suara bising sekecil apapun." celutuk Sara menatap ke arah gadis centik tersebut, sedangkan Naruto hanya terkekeh pelan mendengarnya. Berjalan mendekati ke arah gadis tersebut, perlahan-lahan menjatuhkan tubuhnya duduk di samping wajah pulas yang begitu polos gadis yang di cintainya itu. Telapak tangan kanannya di selimuti oleh aura ungu kegelapan, yang kemudian di kibasnya perlahan ke bawah di depan wajah gadis tersebut.

" Silent Night, mantra yang tepat anda gunakan untuk Nona Shion yang tertidur agar tidak terpengaruh dengan kebisingan apapun. Ternyata anda sudah menyapai tahap terakhir mantra sihir tersebut, tuan muda." puji Zetsu membuat Naruto tersenyum tipis mendengarnya.

" Begitupula denganmu dan Toneri. Aku yakin kalian pasti sudah hampir menguasai penuh mantra sihir terkuat yang kalian berdua miliki, bukan begitu?" tanyanya membuat Sara, Neji, Shikamaru, Kiba, Lee, juga Hinata menatap ke arah kedua bersaudara itu yang tersenyum, membungkukkan sedikit tubuh mereka masing-masing.

" Ternyata anda mengetahui kemampuan kami bertiga, saya tersanjung mendengar pujian anda." jawab Zetsu membuat Naruto menatap ke arahnya, menggeleng pelan.

" Itu karena kalian bersungguh-sungguh, jadi membuatku senang jika kalian benar-benar berlatih keras, dan untuk Kaguya, aku yakin kalau kamu kesulitan dalam mengendalikan mantra sihir itu. Jangan terlalu memaksakan dirimu, karena memang sihir itu cukup sulit di kendalikan seperti dua sihir yang sedang aku coba kuasai." pesannya membuat Kaguya mengangguk paham mendengarnya.

" Erg~." terdengar suara pelan keluar dari bibir gadis berambut pirang itu, membuat Naruto menunduk menyampingkan wajahnya ke kanan, menghadap ke arah wajah Shion. Kedua mata gadis itu perlahan-lahan mengerjab, yang tidak lama setelahnya terbuka memperlihatkan iris lavender pucatnya yang begitu indah. Kedua matanya bertemu pandang dengan kedua azure tajam milik Naruto, yang tidak lama setelahnya, bibir mungil gadis itu membentuk senyum tipis.

" Sudah berapa lama aku tertidur?" tanyanya membuat Naruto terkekeh pelan mendengarnya.

" Hampir tiga jam, mungkin." jawabnya terlihat gadis itu yang menguap sejenak, kemudian dirinya perlahan-lahan bangkit, duduk di samping pemuda itu, terlihat Naruto yang tersenyum, menepuk lembut rambut kekasihnya itu. Mengucek matanya sejenak, dirinya tersadar jika bukan hanya ada Naruto di dalam ruangan itu, melainkan Sara maupun semua anggota squad kekasihnya juga berada di sana. Tanpa di sangka oleh semua orang, Shion tiba-tiba saja langsung berdiri, tapi tubuhnya linglung dan hampir jatuh jika tidak di tahan oleh Naruto yang ada di belakangnya.

" Kamu ini kenapa langsung bangkit tiba-tiba?" tanya Naruto heran kemudian dirinya juga bangkit menyamai posisi gadis tersebut, sedangkan Shion menundukkan kepalanya yang wajahnya sudah memerah malu.

" A-ap-pa me-mer-rek-ka li-lih-hat a-ak-ku ti-tid-dur?" cicitnya membuat Naruto terdiam mendengarnya, tapi kemudian dirinya menundukkan wajahnya tepat di samping pipi kanan gadis cantik itu.

" Tentu saja, dan mereka bilang jika wajah tidurmu sangat cantik." bisiknya membuat wajah Shion memerah mendengarnya, juga sebuah cubitan sayang langsung melayang di perut pemuda tampan itu.

" Bodoh." balas gadis itu membuat Naruto terkekeh mendengarnya. Berdehem beberapa kali, Shion kemudian menatap ke arah mereka semua, langsung saja tanpa aba-aba dirinya membungkukkan badannya sembilan puluh derajat, membuat semua orang yang ada di sana tersentak.

" Maaf kalau aku tertidur di ruang kerja kalian. Aku yakin kalian berpikir jika aku adalah gadis yang tidak tahu malu karena selalu melekat dengan kekasihnya." ucapnya tiba-tiba membuat mereka terkejut mendengarnya. Naruto dengan cepat memegang kedua pundak kecil gadis itu, yang kemudian memaksa tubuh kekasihnya menegak kembali, terlihat wajah Shion yang terkejut dengan perilaku kasar pemuda Namikaze itu.

" Apa yang kamu lakukan, bodoh? Mereka tidak akan marah hanya cuma kamu tidur di sini." kata Naruto dengan nada sedikit tinggi melihat kekasihnya yang melakukan tindakan bodoh.

" Benar Shion, kami tidak mempermasalahkan jika kamu tidur di sini. Kami semua tahu jika kamu adalah kekasih Kolonel, jadi kami tidak mempermasalahkannya." kata Neji membenarkan perkataan Kolonelnya itu dan juga dirinya tidak ingin hubungan pemimpinnya rusak cuma karena salah paham.

" Betul Shion, kamu bebas mau melakukan apa saja di ruangan ini, asalkan mengambil buku-buku di sini mengembalikannya di tempat yang sebenarnya." sambung Shikamaru angkat bicara.

" Dengar sendiri, mereka tidak mempermasalahkannya, jadi jangan melakukan tindakan bodoh lagi." kata Naruto membuat Shion terdiam sejenak, yang kemudian dirinya mengangguk paham. Pemuda itu menghembuskan nafas pelan, tersenyum tipis juga kedua tangannya yang tadinya mencengram bahu gadis itu, perlahan-lahan menepuk lembut pundak Shion.

" Sebaiknya kamu mandi dulu, setelah itu kita jalan-jalan ke Lowtown sesuai dengan yang aku janjikan kepadamu." katanya lembut membuat Shion tersenyum mendengar perkataan pemuda itu, mengangguk paham.

" Aku mengerti. Tunggu sebentar, aku tidak akan lama." jawabnya cepat yang langsung saja gadis cantik itu meleset cepat menuju ke pintu kamar mandi ruangan tersebut.

" Ngapain kamu mandi di situ?" kata Naruto yang langsung saja menghentikan langkah gadis cantik itu, terlihat Shion yang menyampingkan wajahnya ke belakang, menatap bingung ke arahnya.

" Memangnya kenapa? Ini pintu kamar mandi kan?" tanyanya polos membuat Sara geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.

" Kamu itu seharusnya tahu jika nanti kamu akan berkencan, berkencan. Jadi, seharusnya kamu menggunakan pakaian yang lebih modis untuk berjalan bersama dengan pria tampan seperti Naruto-kun." kata Sara membuat Shion terdiam sejenak tapi tidak lama setelahnya wajahnya di penuhi dengan warna merah jambu setelah mengetahui maksud dari perkataan wanita itu.

" Ayo kita ke kamar Naruto-kun, pakaian kamu ada di sana semua kan?" tanyanya terlihat Shion yang mengangguk malu-malu mendengarnya. Sara yang gemas melihat tingah gadis itu, dirinya berjalan mendekatinya kemudian menarik lengan kanan Shion cepat. Melintasi melewati Naruto, mata kanan Sara berkedip ke arah Kolonel muda itu.

" Aku akan membuat Shion cantik sore ini dan kamu pasti akan tercengang melihat penampilannya nanti~." ucapnya misterius membuat Naruto menaiki alis kanannya.

" Oh ya?" tanyanya tidak tertarik membuat Sara mengangkat wajahnya angkuh.

" Lihat saja nanti, aku akan membuat kamu tercengang dengan penampilannya nanti." jawabnya yang kemudian berjalan meninggalkan semua orang yang ada di ruangan itu dengan Shion yang wajahnya menunduk malu dengan warna merah yang sudah menguasai wajah gadis tersebut. Setelah kepergian kedua wanita itu, Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya pelan kemudian dirinya berjalan menuju mejanya berada, menjatuhkan tubuhnya ke kursi kebesarannya tersebut, sedangkan Zetsu, Toneri juga Kaguya duduk di kursi ruang tengah dan Neji, Kiba, Shikamaru, Lee juga Hinata duduk di kursi masing-masing.

" Ah benar Zetsu, Toneri." kata Naruto tiba-tiba membuat kedua Otsutsuki bersaudara menatap ke arahnya.

" Ada apa, Kolonel Naruto?" tanya Zetsu terlihat pemuda itu menatap datar ke arahnya.

" Naruto cukup, sekarang kita tidak dalam tugas." katanya datar membuat Zetsu terkekeh pelan mendengarnya, mengangguk paham.

" Baik Naruto." ralatnya membuat Kolonel muda itu tersenyum tipis mendengarnya.

" Jendral Kakashi bilang, kamar yang akan di tempati kalian berdua sudah di bereskan. Kamar itu ada di samping kamar Lee, jadi kalian bisa memindahkan barang-barang yang kamu maupun Toneri bawa nanti." jelasnya terlihat Zetsu dan Toneri mengangguk paham mendengarnya.

" Terima kasih Naruto, maaf jika merepotkanmu." kata Zetsu berterima kasih, terlihat Naruto yang menggeleng pelan mendengarnya.

" Itu bukan apa-apa, lagipula aku yakin kalian berdua tidak enak dengan Lee, jadi aku meminta Jendral Kakashi untuk memberikan satu kamar lagi kepada kalian berdua. Dan ini kuncinya." kata pemuda itu sambil meletakan sebuah kunci di atas mejanya membuat Zetsu langsung saja berdiri, berjalan mendekati ke arah meja pemuda tersebut, menerima anak kunci kamarnya juga Toneri nanti.

" Sekali lagi terima kasih, Naruto." ucapnya hormat dengan tubuhnya yang sedikit di bungkukkan sedikit ke arah pemuda itu, terlihat Naruto yang menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, mengangguk sekali.

" Bukan masalah, dan besok kita sudah menempatkan kantor baru. Aku harap kamu bisa berteman baik dengan anggota squad Yahiko maupun squad Iruka nanti." katanya membuat Zetsu mendongakkan kepalanya, menatap lurus kedua azure pemuda di depannya itu.

" Aku tidak yakin dengan beberapa anggota squad Yahiko, tapi kalau squad Iruka, sepertinya aku bisa bekerja sama dengan mereka." jawabnya membuat Naruto terdiam mendengarnya, menatap balik kedua iris topaz milik pria di hadapannya sekarang. Keduanya satu sama lain terdiam untuk beberapa saat, tapi tidak lama setelahnya, Naruto menghembuskan nafas pelan, tersenyum lemah mendengarnya.

" Kamu masih ingat apa yang kita bahas sebelumnya bukan?" tanyanya yang di jawab anggukan mantap oleh pria berambut putih hitam itu.

" Tentu saja. Aku ingat betul apa yang anda sampaikan kepada sebelumnya di dalam Gereja di panti ayah anda, tuan muda Naruto." jawabnya pasti terlihat pemuda itu mengangguk mendengarnya.

" Kalau begitu, lakukanlah seperti yang aku bilang sebelumnya." kata pemuda Namikaze itu yang di jawab anggukan oleh pria tersebut.

" Tentu saja, Naruto." jawabnya membuat Kolonel muda itu tersenyum mendengarnya.

" Kalian bisa menjelajah istana ini jika ingin, aku yakin kalian juga butuh pengenalan kawasan istana juga agar tidak tersesat." saranya membuat Zetsu tersenyum tipis, mengangguk paham.

" Saya mengerti dan terima kasih atas sarannya." jawabnya membuat Naruto tersenyum mendengar.

" Kalau begitu, kamu bisa bergabung dengan kedua saudaramu, Zetsu." kata Naruto akhirnya sambil mengambil salah satu dokumen yang ada di atas mejanya.

" Naruto kalau boleh, aku ingin membantumu mengecek beberapa dokumen yang kamu kerjakan." tawar Zetsu membuat Naruto menatap ke arahnya, tapi kemudian memberi senyum kecil.

" Terima kasih, Zetsu. Kalau begitu, tolong periksa dokumen-dokumen ini." katanya yang kemudian memberikan beberapa dokumen tebal kepada pria tersebut, yang di terima terbuka oleh Zetsu. Zetsu kemudian berjalan ke tempat kedua saudaranya berada, meletakkan dokumen-dokumen di atas meja tersebut, kemudian di bagikannya dengan kedua saudaranya. Neji, Kiba, Lee, Shikamaru juga Hinata yang melihat kedekatan Naruto dengan Zetsu hanya diam dalam pikiran masing-masing yang tidak lama setelahnya Lee mulai kembali mengecek dokumen miliknya, diikuti oleh Hinata sedangkan Shikamaru melanjutkan tidurnya. Semuanya serius dalam dunia mereka masing-masing, tidak tahu sudah setengah jam berjalan mereka bekerja dalam keheningan.

" Zetsu." panggil Naruto tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumennya itu, sedangkan Zetsu yang tadinya terfokus dengan dokumen bersampul biru itu meletakan di atas meja, menatap ke arah pemuda tersebut.

" Ada apa, Naruto?" tanyanya membuat semua orang yang ada di sana melirik ke arah Kolonel muda itu, terlihat Naruto yang membuka lembaran baru dokumen yang sedang di bacanya.

" Jika aku menerima misi 'itu', apa kamu, Toneri dan Kaguya mampu?" tanyanya tanpa melirik ke arah pria itu. Zetsu terdiam sebentar, mencerna perkataan pemuda tersebut tapi tidak lama setelahnya kedua matanya sedikit terbelalak, yang setelahnya kembali seperti biasa. Mengangguk pasti mendengar pertanyaan tuan mudanya itu, dirinya membuka suara.

" Tentu saja. Anda sudah tahu kemampuan yang kami bertiga miliki, jadi jika menjalankan 'tugas' itu bukanlah halangan untuk kami." jawabnya mantap membuat Naruto melirik ke arahnya, tidak lama setelahnya pemuda Namikaze itu tersenyum tipis. Menutup dokumennya, pemuda Namikaze itu bangkit berdiri, berjalan menuju ke tempat ketiga bersaudara Otsutsuki tersebut.

" Persiapkan diri kalian bertiga, setelah kita menjalankan yang satu ini, aku akan mengajuhkan untuk melakukan misi tersebut." katanya yang kemudian dirinya berjalan menuju pintu keluar ruangan tersebut. Membuka pintu di depannya, pemuda itu keluar dari kantor miliknya, kemudian di tutup kembali, meninggalkan Zetsu yang tersenyum mendengar perkataan pemuda tersebut. Neji yang sejak tadi hanya memperhatikan menatap ke arah Zetsu yang tersenyum setelah kepergian Kolonelnya itu.

" Memang misi apa yang akan Kolonel Naruto maksud?" tanyanya membuka suara membuat senyum Zetsu perlahan-lahan menghilang, menatap datar ke arah pemuda Hyuga tersebut.

" Bukan urusanmu." jawabnya dingin yang kembali mengecek dokumen miliknya. Kiba yang mendengar jawaban pria itu membuat tubuhnya bergetar menahan amara terlihat kedua tangannya yang menggengam erat dokumen miliknya itu, tapi mengingat jika emosi tidak akan membuat semuanya menjadi lebih baik, maka pemuda Inuzuka itu menahan luapan emosinya yang siap keluar. Mendengus kasar, pemuda itu kembali membaca dokumen yang di periksanya kembali, begitupula Zetsu yang mengecek dokumennya kembali, tidak mempedulikan lingkungan sekitarnya.

.

.

.

.

.

Naruto berjalan tenang di lorong istana menuju ke kamarnya. Hari ini dirinya akan menikmati kencannya bersama dengan gadis yang di cintainya. Kolonel muda itu kadang membalas sapaan magic knights yang berpapasan dengannya. Langkah pemuda itu terhenti, bukan karena waktu yang tiba-tiba membeku, tapi karena sosok seseorang yang di kenalnya berdiri tepat di depannya. Sosok seorang gadis berambut pirang pucat panjang bergelombang berdiri di hadapannya dengan sebuah pita bando ungu muda, menggenakan dress selutut tanpa lengan berwarna ungu lembut dengan pita ungu yang melingkari di pinggang langsingnya, sebuah tas selempang kecil ungu yang melingkari di pundak gadis cantik itu, juga sepatu berhak pendek berwarna senada dengan pakaiannya. Wajah gadis itu menunduk terangkat sedikit, memberanikan menatap ke arah Naruto yang masih terdiam di tempat, meneliti dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.

" Shion." suara keluar dari mulut pemuda itu setelah lama keduanya terdiam membuat gadis cantik itu tersentak kaget mendengar nada pemuda tersebut yang sedikit serak.

" Y-ya.." cicit gadis itu membalas perkataan pemuda di depannya itu. Naruto terdiam sejenak, mencari kata-kata yang pas untuk di berikan gadis di depannya itu. Perlahan-lahan, wajah tampannya memperlihatkan senyum lembut yang tidak pernah di perlihatkan kepada orang-orang.

" Kamu bagaikan peri bunga yang keluar dari dalam kelopak bunga selama tidur panjang, menampakan dirinya di hadapanku dengan membawakan keindahan juga keanggunanmu. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa melihat kecantiakan yang kamu miliki sampai-sampai membuat otakku tidak bisa merangkai kata-kata yang pantas untuk melukisi kecantikanmu sore ini." katanya membuat wajah Shion memanas mendengar pujian yang di lontarkan oleh kekasihnya itu.

" Gombal." jawabnya dengan wajah yang memerah, tapi Naruto langsung menggeleng cepat mendengar jawaban gadis tersebut.

" Aku tidak gombal, aku membicarakan fakta. Kamu sangat cantik sore ini sampai-sampai membuatku takut jika ada lelaki lain yang melirikmu." ungkapnya membuat Shion terkekeh pelan mendengarnya. Wajah gadis itu mendongak, menatap iris azure tajam milik pemuda tampan itu, tersenyum kecil.

" Jadi, apa kita berangkat sekarang?" tanyanya terlihat Naruto yang tersenyum tipis, kemudian pemuda itu berjalan mendekatinya. Tangan kirinya berdecak pinggang, terlihat wajahnya yang memberikan kode kepada gadis cantik itu. Shion tersenyum kecil, kemudian tangan kanannya melingkari tangan kiri pemuda itu, yang kemudian keduanya berjalan beriringan untuk menikmati waktu mereka berdua. Di perjalanan mereka berdua, keduanya menjadi sorot perhatian selama di perjalanan mereka, terlihat banyak tatapan kagum, iri juga memuja yang orang-orang berikan kepada kedua pasangan itu. Naruto yang memang sudah asalnya tampan, menggunakan pakaian apapun akan tetap terlihat tampan, apalagi di tambah dengan tatto api yang menghiasi di lengan pemuda itu, membuatnya terlihat semakin manly, sedangkan Shion sore ini begitu cantik dengan dress selutut lavender lembutnya.

" Ngomong-ngomong, apa Kak Sara yang mendadanimu seperti ini?" tanya Naruto yang tanpa di sadari oleh gadis itu, pemuda tersebut mengeluarkan aura membunuh kepada pria-pria yang menatap memuja ke arah Shion, sampai-sampai membuat semua lelaki yang menatap ke arah mereka menundukkan kepala dengan tubuh yang bergetar ketakutan. Shion yang mendengar perkataan kekasihnya itu tersipu malu, mengangguk pelan mendengarnya.

" I-iya. Kak Sara bilang jika aku berpakaian seperti ini kamu akan terkejut, juga dia bilang kamu pasti akan suka." jawabnya membuat Naruto terdiam mendengar jawaban gadis tersebut. Keduanya akhirnya tiba di sebuah pintu besar terbuat dari pagar besi. Dua penjaga pintu besar itu memberi hormat kepada pemuda tersebut.

" Selamat sore Kolonel Namikaze Naruto." sapa mereka membuat Naruto tersenyum mendengarnya.

" Selamat sore juga. Bolehkah saya ke Lowtown karena akses di sinilah yang terdekat." kata pemuda itu yang di jawab anggukan mantap oleh kedua penjaga itu.

" Tentu saja Kolonel Naruto, dan jika kami berdua boleh tahu, apakah ini adalah kencan anda dengan gadis cantik yang ada di samping anda?" tanya salah satu penjaga itu, mengedip mata kanannya ke arah Shion yang merona, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

" Hahaha, kalian ada-ada saja." jawab Naruto dengan tawa membuat kedua penjaga tersebut membalas tawanya.

" Tunggu sebentar Kolonel Naruto, kami akan membukakan akses jalan untuk anda menuju Lowtown." kata salah satu penjaga itu membuat Naruto tersenyum mendengarnya.

" Terima kasih." jawabnya tulus membuat kedua penjaga itu tersenyum mendengarnya. Salah satu penjaga itu mendekati pintu besar tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah kunci yang ada di sakunya, memasukan anak kunci ke lubang kunci pintu tersebut.

Krek..

Terdengar suara jika pintu tersebut sudah terbuka, penjaga itu kemudian mendorong pintu raksasa tersebut ke depan, membuka akses secukupnya di masuki oleh kedua sejoli itu, terlihat di hadapan mereka adalah anak tangga, juga penerangan dengan lampu lab yang menggantung di langit-langit.

" Silakan menikmati kencan anda di Lowtown, Kolonel Naruto. Anda benar-benar pria yang bisa mencari tempat yang sangat bagus untuk berkencan." kata pria itu membuat Naruto mengangguk mendengarnya.

" Terima kasih. Kami permisi dulu." pamit Naruto yang berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut, menuruni satu persatu anak tangga dengan Shion yang mengikutinya, sedangkan kedua penjaga itu melambaikan tangan mereka sebagai salam perpisahan. Kedua pasangan itu hening selama menuruni tangga satu per satu dnegan penerangan yang cukup untuk mereka melihat akses jalan mereka. Perlahan-lahan, keduanya bisa mendengar suara keramaian orang-orang yang menandakan jika mereka sebentar lagi akan sampai. Tidak jauh dari mereka, sebuah lubang akses yang sama seperti pintu mereka masuk sebelumnya terlihat di depan mata keduanya, yang menandakan jika mereka sudah sampai di tempat yang di tujuh. Kedua iris lavender Shion membulat setelah sampai di tempat tujuan mereka, terlihat lampu gantung yang tersambung satu sama lain yang memenuhi jalan, penduduk-penduduk yang berjualan berbagai macam barang. Seekor mahkluk berbentuk bola bercahaya berwarna biru mendekati ke arah mereka, terlihat mahkluk tersebut memberikan senyum ramah ke arah keduanya, yang di balas senyum oleh pemuda Namikaze itu, sedangkan Shion masih dalam keterkejutannya. Anak-anak juga ada yang mengambil air yang mengalir di selokan, kemudian meminumnya tanpa takut air tersebut kotor ataupun tercemar, lingkungan tempat tersebut begitu bersih juga beberapa bangunan yang sepertinya merupakan penginapan.

" Wah, wah.." kagum Shion yang kemudian melepaskan lingkaran tangannya dari pemuda Namikaze itu, dirinya berlari melihat-lihat setiap tokoh, juga mencoba mencoba meminum air yang ada di selokan tersebut. Kedua mata gadis itu memancarkan binar kekaguman yang besar, dirinya tidak menyangkah jika di bawah istana ada kota yang begitu indah seperti ini.

" Naru…. ini luar biasa." ucap Shion yang menghadapkan wajahnya ke arah pemuda itu, dimana gadis itu berada di tenga-tengah jalan kota tersebut. Kedua iris lavender Shion menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, kemudian dirinya mendekati tokoh yang menjual perabotan terbuat dari keramik itu. Naruto yang di temani oleh bola bercahaya itu hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya, kemudian wajahnya menghadap ke arah bola lampu tersebut, yang ternyata juga menatap ke arahnya. Menyentil bola bercahaya itu, tiba-tiba saja warnanya berubah menjadi warna merah muda, juga senyum lebar di perlihatkannya kepada pemuda tersebut, kemudian Naruto berjalan tenang, menyusul kekasihnya.

.

.

.

.

.

Pada malam harinya, rapatpun di adakan oleh Kaisar Hiruzen dengan Danzo, Kakashi, Asuma, Ibiki, Obito, Jiraiya, Kushina, Tsunade, Orochimaru juga squad Kolonel Naruto, Iruka dan Yahiko berkumpul bersama di ruang pertemuan. Orang-orang peting di ruangan tersebut melakukan pertemuan rahasia tanpa sepengetahuan magic knight yang lain, karena pertemuan ini menyangkut salah satu anggota mereka yang sudah lama menghilang, Jendral khusus Minato.

" Baik, karena semuanya sudah berkumpul, mari kita membuka rapat malam ini." kata Hiruzen wibawa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC