Title : Throbbing Tonight
Author : Thazt
Pair : Yunjae
Cast : All DBSK member and Super Junior
Genre : Adventure, fantasy, romance, humour.
Rating : PG15
Lenght : Chapter 25
Disclaimer : Throbbing Tonight Koi Ikeno and all Character of this fanfiction is belong to themseleves and God.
Ket : umur 1 tahun dunia manusia sama dengan umur 3 tahun dunia setan. Umur dewasa di dunia setan adalah 54 tahun atau setara dengan 18 tahun di dunia manusia.
Warning : Some Character is OOC [Out of Character]. AU [Alternatif Universe]. BL [Boys Love].
DON'T LIKE DON'T READ
Happy Reading!
"Apa yang terjadi?" Seru Changmin keras. Ia membuka pintu ruangan utama dengan keras. Dibelakangnya Yesung menyusulnya dengan langkah yang tak kalah terburu-buru.
Kangin yang sedang berbicara dengan beberapa panglima langsung menolehkan kepalanya ke arah Changmin. Raut wajahnya terlihat tegang. Dan Changmin dapat menyimpulkan jika telah terjadi sesuatu. Sesuatu yang sangat penting.
"Boxylic telah hancur." Ucap Kangin cepat tanpa Changmin perlu bertanya.
"Bagaimana bisa? Bagaimana dengan cincin dunia kegelapan?" tanya Changmin bertubi-tubi. Dengan langkahnya yang semakin cepat ia bergabung ke dalam pembicaraan.
"Donghae dan Eunhyuk menyerang boxylic. Cincin dunia kegelapan berhasil mereka raih." Jelas Kangin kembali.
"Bagaimana dengan Siwon hyung? Siwon hyung sedang berada di sana bukan?" tanya Yesung dengan suara keras. Ia ingat, sejak kemarin hyung-nya itu berada di boxylic. Dan Siwon belum pulang sampai tadi pagi. Dan ia merasa khawatir pada Hyungnya itu.
Kangin menunduk dalam. "Siwon saat ini sedang kritis. Ia berada di Hostfaerd (semacan rumah sakit- di dunia setan). Para surdock (sebutan dokter di dunia setan) ahli telah menanganinya saat ini." Yesung langsung berlari keluar dari ruangan utama setelah mendengar penuturan sang Appa.
Yesung berlari di koridor dengan cepat. Ia ingin secepatnya tiba di bangunan timur yang merupakan bangunan Hostfaerd.
Ia ingin menemui sang kakak.
Yunho dan Jaejoong tiba di halaman istana dengan menggunakan teleport. Tak lama kemudian, dibelakangnya Heechul, Hankyung, dan Ryowook menyusul mereka dengan menggunakan lorong cahaya.
"Ayo cepat." Seru Hankyung yang langsung memipin mereka berjalan menuju ruangan utama.
Heechul menyusulnya dengan tangan yang mengandeng erat tangan Ryeowook yang tak tahu apa-apa. Yunho dan Jaejoong pun berjalan dengan cepat menyusul Hankyung.
Mereka berlima masuk ke dalam ruangan utama.
"Kalian datang!" seru Yoochun yang merupakan salah satu panglima kerajaan dunia setan.
"Cincin Yunho dan Jaejoong tiba-tiba bercahaya. Dan juga tiba-tiba firasatku menjadi buruk." Urai Hankyung. "Apa yang terjadi?"
"Boxylic telah hancur." Ucap Kangin. "Cincin dunia setan kembali pada pemiliknya." Tambahnya.
"APA?" Seru Heechul terkejut. "Bagaiamana dengan guard yang menjaga di sana?"
"Rata-rata guard mengalami luka parah bahkan ada dari mereka yang kehilangan nyawanya." Kangin mengambil nafas dan menghembuskannya pelan. "Siwon kritis dan saat ini dia sedang di tangani."
Jaejoong membelalakkan matanya, "Apakah dia ada di hostfraed?" tanya Jaejoong cepat.
Kangin mengangguk pelan. "Leeteuk, Kibum, dan Yesung saat ini sedang berada di sana. Sebaiknya kalian juga pergi ke sana."
"Ayo pergi, Yunnie." Jaejoong langsung menarik Yunho keluar dari ruangan utama.
Yunho dan Jaejoong berlari di sepanjang koridor menuju bangunan timur. Kenapa mereka berlari? Padahal Yunho jelas-jelas mempunyai kekuatan teleport yang bisa membuatnya berpindah tempat dalam satu kedipan mata.
Rupanya Yunho sibuk mengejar Jaejoong yang kali ini entah kenapa berlari dengan sangat cepat. Dan itu membuat Yunho harus semakin melebarkan langkah kakinya demi bisa mengejar langkah cepat Jaejoong.
Keadaan kritis Siwon lah yang membuat Jaejoong melupakan kekuatan Yunho dan malah berlari sepanjang koridor. Ia merasa sangat khawatir pada keadaan Siwon, terutama pada keadaan Kibum yang menurutnya pasti mengalami syok saat ini.
Dia tahu, Kibum mempunyai trauma jika ia ditinggal oleh orang-orang di sekitarnya yang sangat ia sayangi. Jika itu terjadi Kibum tidak akan dapat mengontrol emosinya dan akan berubah menjadi medusa yang dapat menyerang siapa saja.
Dan Jaejoong tidak mau Kibum berubah menjadi medusa lalu melukai orang-orang yang ada di sekitarnya.
HAP
Yunho akhirnya berhasil menyamai langkah Jaejoong dan langsung mencengkram tangan Jaejoong yang langsung membuatnya terhenti. Yunho langsung menarik Jaejoong dalam pelukannya kala tubuh kekasihnya itu sedikit limbung kerena berhenti secara mendadak tadi.
"Tenanglah, Boo." Bisik Yunho lembut. Dirasakannya tubuh Jaejoong yang sedikit bergetar dan sedikit isakan yang terdengar pelan.
"Aku tak bisa tenang, Yun! Siwon kritis dan Kibum pasti sangat syok kali ini! Aku mau secepatnya pergi ke bangunan timur." Ronta Jaejoong dalam pelukan Yunho, ia ingin secepatnya tiba dan menghibur Kibum dan melakukan apapun yang bisa ia lakukan.
Namun Yunho tak memberikannya kesempatan untuk lepas, Yunho malah semakin mengencangkan pelukannya pada Jaejoong, tak membiarkan Jaejoong lepas sedikit pun.
"Lepaskan aku, Yun." Ronta Jaejoong lagi.
"Kau melupakan kekuatanku, Boo?" tanya Yunho gemas.
-Jaejoong POV-
Apa tadi yang dikatakan Yunho? Kekuatannya?
Oh, sial!
Kenapa aku bisa melupakannya? Bukankah Yunho punya teleport yang bisa membuat kami berpindah dengan sangat cepat?
Kenapa aku mesti berlari seperti orang kesetanan sementara Yunho bisa membawaku menuju bangunan timur hanya dalam satu kedipan mata!
Aish... sepertinya otakku menjadi kacau karena berita ini.
"Bawa aku ke sana, Yunnie." Kuseka air mataku yang hampir jatuh dan menatap Yunho penuh permohonan.
Yunho tersenyum ke arah ku dengan senyuman tiga jarinya, "As you wish, my princess." Ucapnya pelan yang langsung di susul dengan kecupan lembutnya di keningku.
Sedetik kemudian, dia telah membawaku berpindah menuju bangunan timur.
Yunho melepas pelukannya yang langsung membuatku bergerak cepat menuju daftar tempat pasien dirawat.
Jung Siwon :: Runaway room :: 0406
Aku langsung menarik tangan Yunho dan mengajak berjalan cepat bahkan bisa disebut berlari menuju runaway room yang berada di lantai tiga.
Dengan rasa tak sabar, aku terus memandang angka penunjuk lantai di lift yang dalam pandanganku bergerak sangat lambat. "Lama!" rutukku pelan.
Yunho mengusap kepalaku dengan lembut. "Sabar, Boo."
Begitu terdengar punyi 'ting' yang menandakan bahwa lift telah sampai di lantai tiga, aku kembali menarik tangan Yunho dan kembali berlari menuju ruangan Siwon.
"Hyung!" seruan Yesung dari depan kamar Siwon semakin membuatku mempercepat langkah.
"Bagaimana dengan Siwon? Mana Kibum?" tanyaku bertubi-tubi pada Yesung yang wajahnya tak kalah pucat.
"Leeteuk Umma membawanya ke ruang istirahat. Sejak tadi Kibum terus-terusan menangis dan pingsan." Jelas Yesung. "Sementara Siwon hyung, dia masih ada di dalam, sejak tadi belum ada satu pun dokter yang keluar."
Kutundukkan kepalaku dalam-dalam. "Semoga Siwon baik-baik saja." Doaku pelan.
"Sebaiknya kau melihat Kibum sekarang, Boo." Ucap Yunho pelan disertai dengan tangannya yang melingkar di pundakku. Meremasnya dengan lembut seolah memberiku kekuatan. "Kibum pasti membutuhkan kehadiranmu saat ini."
Kubuka pintu ruang istirahat dengan pelan.
"Omoni." Sapaku pelan pada Leeteuk omoni yang sedang duduk di kursi samping ranjang tempat Kibum tertidur. "Apa Kibum baik-baik saja?" tanyaku.
"Dia mengalami sedikit syok." Ucap Leeteuk Omoni.
"Syukurlah dia masih bisa mengontrol emosinya." Syukurku.
"Umma, mau ke mana?" tanya Yunho begitu melihat Leeteuk omoni bangkit dari kursinya.
Omoni melemparkan senyumnya pada kami, "Kalian jaga Kibum, ya. Omoni mau melihat keadaan Siwon." Direngkuhnya aku kedalam pelukannya lalu ganti merengkuh Yunho.
"Semoga kalian semua baik-baik saja." Ucapnya sebelum keluar dari ruangan ini.
Begitu Omoni menutup pintu, Yunho langsung menarikku dan mengajakku duduk di sofa.
-END Jaejoong POV-
"Aku lelah." Yunho menyandarkan punggungnya di bantalan sofa yang empuk sembari memejamkan matanya.
"Mianhae.." sesal Jaejoong. "Aku mengajakmu berlari tadi."
Yunho membuka matanya dan menatap Jaejoong. "Bukan karena kamu mengajakku berlari, Boo. Aku lelah membuatmu tenang agar tidak kalap seperti tadi." Jelasnya.
"Aku khawatir pada mereka berdua." Balas Jaejoong.
"Kemari Boo." Ucap Yunho yang langsung menarik Jaejoong dalam pelukannya. "Rileks." Ucap Yunho memberi sugesti. "Mereka berdua akan baik-baik saja."
Jaejoong menyandarkan kepalanya dengan rileks di dada Yunho. Matanya terpejam sembari ia mencoba mengatur pernafasannya.
"Sudah tenang?" tanya Yunho.
Jaejoong mengangguk, "Gomawo, Yunnie." Jawabnya.
"Engh-" erangan pelan yang keluar dari Kibum langsung membuat Jaejoong bangkit dan berjalan menuju tempat laki-laki yang sudah dianggapnya adik itu.
"Kibummie." Panggilnya pelan.
"Hyung." Balas Kibum lemah. Ia menatap Jaejoong dengan matanya yang sembab dan merah. Bahkan jejak-jeka air mata masih terlukis jelas di pipinya.
"Siwon akan baik-baik saja. Tenanglah Kibummie." Hibur Jaejoong. Kibum langsung memeluk Jaejoong dan membenamkan kepalanya di daerah sekitar dada dan perut Jaejoong.
"Tapi.. Aku.. Takut.." ucapnya terbata-bata. "Aku takut Siwonnie meninggalkanku, hyung." Isakan kembali terdengar dari Kibum.
Jaejoong mengelus lembut kepala Kibum dan terus menghiburnya. "Siwon tidak akan meninggalkanmu. Dia itu kuat."
Yunho terus memandang adegan Jaejoong yang terus menghibur Kibum agar lebih tenang. Ia suka melihat wajah dewasa Jaejoong, itu membuat wajahnya tampak semakin manis.
Cukup lama Jaejoong meghibur Kibum hingga akhirnya Kibum berhenti menagis dan nampak sedikit lebih tenang.
"Gomawo, Hyung." Bisik Kibum lemah. "Aku merasa lebih baik sekarang."
"Tetaplah tenang, Kibum. Semua akan baik-baik saja." Hibur Yunho yang akhirnya berbicara juga.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan keras dan memunculkan Leeteuk dengan wajah yang terlihat cerah. "Kibummie! Siwon sudah melewati masa kritisnya!" serunya lantang.
Kibum langsung menarik dirinya dari pelukan Jaejoong dan menatap Leeteuk dengan wajah berbinar-binar, "Jeongmal?" tanyanya memastikan.
Leeteuk mengangguk. "Saat ini ia sedang dipindahkan ke ruang pemulihan."
"Bisakah aku melihatnya?" tanyanya lagi. "Aku ingin memastikan Siwonnie baik-baik saja."
"Pergilah Kibummie." Ucap Leeteuk lembut.
Kibum langsung turun dari atas ranjang dan bergegas keluar. Jaejoong hanya tersenyum lembut melihat kepergian Kibum. "Siwon akan menyadari betapa Kibum sangat menyayanginya." Gumamnya kecil tak terdengar.
Leeteuk berjalan mendekati sofa dan duduk di dekat Yunho. "Gwaenchana?" tanya Yunho pada sang Umma yang terlihat sedikit pucat dan lelah.
"Hanya sedikit lelah." Jawab Leeteuk.
"Kemarikan tangan Umma." Yunho meraih tangan Leeteuk. Menggumamkan mantra hingga tangannya terselimuti cahaya abu lalu menempelkan tangannya dengan lembut di atas tangan Leeteuk.
Tak lama kemudian, Yunho menghentikan aksinya saat dirasanya ia sudah cukup mentransferkan kekuatannya pada sang Umma. "Umma, merasa lebih baik kan?"
Leeteuk melemparkan senyumannya. "Nde, gomawo Yunnie." Ucap nya.
Jaejoong melangkah menuju sofa dan mendudukkan dirinya di antara kaki Yunho karena sofa itu hanya muat untuk dua orang. Yunho langsung melingkarkan tangannya di pinggan Jaejoong dan menarik Jaejoong untuk bersandar di dadanya.
"Sebaiknya Omoni pulang dan beristirahat. Biar Kibum dan Yesung yang menjaga Siwon." Ucap Jaejoong.
"Aah- sepertinya itu ide yang bagus. Omoni juga merasa sangat lelah." Leeteuk langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. "Sampai bertemu nanti." Ucapnya singkat.
"Kita pulang juga atau kau mau melihat Siwon, hmm?" tanya Yunho pada Jaejoong setelah kepergian Leeteuk.
"Kita lihat Siwon sebentar lalu pulang. Aku ingin tidur, badanku masih terasa lelah." Jawab Jaejoong.
"Kajja. Kita ke ruang pemulihan." Ajak Yunho.
Jaejooong membuka pintu ruang pemulihan dengan perlahan. "Kibummie." Panggilnya pelan.
Kibum menoleh pada Jaejoong dan Yunho yang masuk bersamaan dengan sebuah senyuman pucat. "Hyung mau melihat Siwonnie?" tanyanya meski ia tahu Jaejoong pasti ke sini untuk melihat Siwon.
Jaejoong tak menjawab, ia hanya mengangguk pelan. "Mana Yesung?" tanyanya balas.
"Dia pergi membeli minum bersama Ryeowook?" jawab Kibum.
Jaejoong memandangi tubuh Siwon yang terbaring lemas dengan infus yang tertancap di lengan kirinya. Wajah, lengan, dan kakinya penuh dengan luka-luka gores dan luka-luka dalam yang telah diperban oleh para surdock dengan sangat baik.
Jaejoong mengucap sebuah mantra dan menempelkan tangannya di lengan Siwon. Beruntung dia telah menguasai cincin dunia surga yang pada dasarnya adalah cincin yang berguna dalam dunia medis karena kemampuan penyembuhannya yang cukup hebat.
Seperti saat ini, Jaejoong tengah mendeteksi luka-luka yang terjadi pada tubuh Siwon.
"Bagaimana keadaan Siwon?" tanya Yunho. "Kapan dia akan sadar?"
Kibum menghela nafas untuk sejenak. "Doker bilang, Siwonnie akan sadar dua minggu kedepan. Obat penyembuh nya memaksanya untuk tetap tertidur." Jelasnya
"Itu waktu yang cukup cepat, bukan? Mereka pasti menggunkan obat penyembuh dosis tinggi untuk mempercepat penyembuhan luka yang diderita Siwon. Biasanya luka yang dialami Siwon ini butuh waktu selama satu hingga dua bulan karena luka yang dialami Siwon ini mampu berakibat fatal bagi tubuhnya." Urai Jaejoong tiba-tiba.
Yunho melihat Jaejoong dengan tatapan tak percaya, "Darimana kau tahu semua itu?"
Jaejoong tersenyum. "Sama seperti cincinmu yang mampu membuatmu mentransfer sedikit kekuatanmu pada orang lain. Cincinku mampu membuatku mendeteksi luka apa yang terjadi pada tubuh manusia." Jelas Jaejoong. "Dan aku melihat bahwa luka yang diderita Siwon cukup parah."
Yunho menatap Siwon yang hampir seluruh tubuhnya terperban. "Kenapa kamu nggak sekalian nyembuhin Siwon?" tanyanya pada Jaejoong.
"Obat yang ditanam oleh mereka sangat kuat. Jika aku masuk dan mencoba menyembuhkan Siwon dengan kekuatanku, obat itu akan rusak dan malah balik menyerang tubuh Siwon." Ucap Jaejoong panjang.
"Arraseo." Balas Yunho.
-[Ruangan Utama. 03.01 PM]-
Hampir satu jam terlewati dengan beragam perdebatan yang terus terjadi.
"Daripada kita berdebat tentang hal yang terjadi pada boxylic, lebih baik kita membicarakan Donghae!" seru Kangin tegas.
Seluruh orang yang berada di ruangan langsung terdiam dan menatap Kangin.
"Jadi kapan kira-kira Donghae akan melakukan penyerangan lagi?" tanya Kangin tak sabaran. "Dari tadi kita hanya membahas hal-hal yang tak penting!"
"Aku tak tahu." Jawab Changmin singkat. "Dia bisa menyerang kapan saja yang dia inginkan."
Brak!
Kangin memukul meja dengan sangat keras. "Seluruh panglima A hingga D siagakan pasukan masing-masing di seluruh kerajaan, jika ada kejadian aneh segera laporkan dan beri peringatan pada yang lainnya." Perintahnya. "Panglima E dan pasukannya berjaga di pintu utama."
"Siap yang mulia!" koor seluruh panglima yang langsung bubar tanpa perintah.
"Hankyung, katakan pada Yunho dan Jaejoong agar bersiap-siap kapan saja."
"Nde." Sahut Hankyung cepat.
"Kenapa kau menyuruh seluruh pasukan berjaga? Kau ingin banyak korban jiwa?" sembur Heechul langsung. "Seharusnya kau menyuruh para tetua memasang kekkai cahaya di seluruh lingkungan istana!"
"Kekkai tidak akan berfungsi, Heechul-ah! Donghae pasti akan bisa menghancurkannya dengan mudah!" balas Kangin.
"Setidaknya itu bisa memperlambat gerakannya!" serunya lagi.
"Aku tak tahu... Aku pusing.." ucap Kangin. "Semua pikiranku menjadi kosong saat mengetahui Siwon sedang kritis karena serangan Donghae!"
Pintu ruangan utama terbuka dengan pelan. "Siwon sudah tidak apa-apa. Masa kritisnya sudah lewat." Leeteuk muncul dari balik pintu.
"Kau terlihat pucat, Teuki." Bisik Kangin saat Leeteuk duduk di sampingnya.
Leeteuk mengangguk kecil, "Aku sedikit merasa lelah."
"Sebaiknya kau beristirahat, Leeteuk." Saran Hankyung yang langsung di sambut anggukan oleh Leeteuk.
"Memang itu yang akan kulakukan." Sahut Leeteuk.
"Istirahatlah, Teuki." Perintah Kangin. "Nde." Jawab Leeteuk. Ia bangkit dan melenggang menuju kamarnya dan Kangin yang berada di balik ruangan utama.
"Menurut kalian, apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanya Kangin pada Hankyung dan Heechul. "Kalian adalah pengatur strategi terbaik di negeri ini."
Heechul tertawa lembut. "Kami sudah melepas gelar itu, Kangin-ah."
"Yang jelas, kalian masih yang terbaik." Bantah Kangin.
-[Darkdown Backed. 03.00 PM]-
"Apa yang kau rasakan?" tanya Eunhyuk pelan.
"Aku sangat senang." Jawab Donghae. "Cincin ku sudah berada kembali ditanganku. Dengan begitu, rencanaku bisa dimulai secepatnya." Senyuman diwajahnya semakin melebar.
"Yayaya.. aku tahu." Sahut Eunhyuk. "Sebaiknya kau bersiaga terhadap penerus cincin yang tersisa, Hae. Aku yakin mereka telah menguasai cincin mereka sepenuhnya. Tadi cincin mu bersinar saat kau pegang kan? "
"Aku mengerti, Hyukkie. Jika keempat cincin telah berada di tangan pemiliknya masing-masing dan telah sepenuhnya dikuasai maka keempat cincin akan bersinar dengan sangat terang sesuai dengan warna mereka." Sahut Donghae. "Tenang saja, kali ini akan kupastikan cincin mereka hancur satu persatu. "
Eunhyuk tersenyum. "Aku akan membantu mu."
-[Kediaman Keluarga Kim. 06.00]-
"Umma, Appa, dan Ryeowook belum pulang." Sungut Jaejoong sedari tadi. Yang ia lakukan sejak satu jam yang lalu hanya duduk, berdiri, duduk, berdiri, duduk, berdiri, dan terus berulang.
"Hei! Tenanglah.. Mereka baik-baik saja." Ucap Yunho santai.
"Apa yang mereka lakukan sampai selama ini sih?" kesal Jaejoong.
Yunho langung menarik tangan Jaejoong yang sedang berdiri hingga terhempas duduk di sofa yang ada di sampingnya. "Lebih baik kau memasak untukku, Jae-.. Aku lapar." Gumam Yunho manja.
Jaejoong membulatkan matanya. "Mau makan apa?" tanyanya.
"Apapun yang kau masak akan kumakan kok. Bahkan jika kau memasak dirimu sendiri, aku akan tanpa sungkan akan langsung memakanmu." Yunho mengedipkan matanya pada Jaejoong dan ditambah dengan seringaian mesum miliknya.
Pluk
Sebuah bantal mendarat dengan sangat mulus di wajah Yunho. "Yak! Jangan menatapku dengan wajah seperti itu!" kesal Jaejoong. Ia segera bangkit dan berjalan menuju dapur dengan tergesa-gesa dan wajah yang memerah.
"Dasar, jelek!" batin Jaejoong kesal.
Yunho tersenyum-senyum sendiri melihat Jaejoong yang membuat sesuatu di dalam dapur dengan cekatan.
"Cepat, Jae!" perintah Yunho dengan jahil.
Jaejoong langsung membalikkan badannya dan menatap Yunho dengan tatapan tajam nan menusuk. "CEREWET!" sentaknya kesal.
Melihat raut wajah kesal milik Jaejoong, sebuah ide jahil langsung terbersit di kepala Yunho.
"You're so cute, Jaejoongie." Goda Yunho. "Wajah marahmu, membuatmu semakin manis." Ia mengerling ke arah Jaejoong.
"Yak! Jangan menggodaku, Jung Yunho!" sentak Jaejoong yang langsung membalikkan badannya dan kembali menyibukkan diri dengan masakannya.
"Jaeee-" panggil Yunho.
"..."
"Jaeeeeee—" panggilnya lagi.
"..."
"Jaejoongiee."
"..."
"BooJae.."
"..."
"My BooJae."
"..."
"My Lovely BooJae."
"..."
"Boo-"
"APA!" seru Jaejoong keras dengan diiringi bunyi besi yang beradu dengan keramik yang sangat keras. Badannya membalik dan memandang Yunho dengan tatapan super tajam dan aura ingin membunuh
"Cuma mau manggil aja." Sahut Yunho santai.
"YA! JANGAN MEMANGGILKU TERUS MENERUS JUNG YUNHO! ITU SANGAT MENGANGGU!" Yunho hanya tersenyum lebar dan memamerkan giginya yang berjejer rapi pada Jaejoong. Bersikap innocent.
Jaejoong mendengus kesal, "Sekali lagi kau mengangguku, tak ada makan malam untukmu!" ancamnya.
Setelah menit-menit yang cukup lama berlalu, akhirnya masakan Jaejoong selesai juga. Jaejoong tersenyum melihat hasil masakannya yang telah tertata rapi.
"Makan semuanya atau aku akan marah padamu!" ancam Jaejoong langsung pada Yunho. Yang diancam hanya nyegir lebar. "Tenang saja, perut winnie the pooh ku ini siap menampung semua masakan mu, chagiya." Ucap Yunho senang.
Jaejoong sedikit tersipu malu.
Beberapa menit kemudian, Yunho selesai menghabiskan seluruh masakan Jaejoong yang tak terlalu banyak itu. "Masakan mu sungguh enak, Jae." Puji Yunho. "Saat kita menikah besok, masakan aku yang enak-enak ya."
Mendengar kata 'menikah' langsung membuat Jaejoong tertunduk malu. "Jangan membuka mulutmu lagi, Jung Yunho!" desisinya. "Jangan mengombali ku lagi!"
"Malam, semua!" seruan Yoochun yang muncul di ruang makan membuat Yunho dan Jaejoong menoleh. "Malam." Sahut mereka kompak.
"Mau apa kemari?" tanya Yunho. "Kau sungguh menganggu!" desisnya.
"Ayo, temani aku membuktikannya pada Junsu." Ajak Yoochun langsung. Tak memperdulikan tatapan tajam Yunho.
"Haruskah?" tanya Yunho. Ia merasa malas jika harus keluar rumah.
"Harus!" paksa Yoochun. "Supaya Junsu percaya padaku!"
"Baiklah, kami berdua ikut." Ucap Jaejoong. "Iya kan, Yun?" tanya nya pelan.
Yunho mengangguk. Mau tak mau ia harus ikut.
Dan disinilah mereka berada. Yoochun dan Junsu berdiri berhadapan sementara Yunho dan Jaejoong berdiri di menyamping dan menghadap ke arah Yoochun dan Junsu.
Yoochun meraih tangan Junsu dan meremasnya lembut. "Kau belum percaya jika aku manusia dari dunia setan?" tanyanya pelan.
Junsu mengangguk. "Sudahlah.. tidak ada yang namanya manusia dunia setan, Chunnie." Ucap Junsu terkekeh pelan.
"Ini serius, Su." Ucap Yoochun. Perlahan, ia melepas genggaman tangannya pada Junsu dan melangkah mundur. "Perhatikan aku baik-baik, Su-ie." ucapnya pasrah.
-Junsu POV-
Kutatap tubuh Chunnie yang menjauhiku sekitar tiga langkah. Yoochun menutup matanya. Beberapa detik kemudian ia kembali membukanya.
Perlahan-lahan tubuh Yoochun dimulai dari kaki berubah menjadi kabut hingga akhirnya ia berubah total. Ia berubah menajdi kabut yang melayang ringan di sekitarku.
"Chunnie!" aku menjerit kaget melihat perubahan Yoochun. Kutatap ke arah Jaejoong dan Yunho dengan tatapan tak percaya.
Yoochun berubah menjadi kabut? Apa-apaan itu?
"Kau lihat, su?" kutolehkan kepalaku ke arah Yoochun yang sudah kembali ke sosok manusianya. Entah sejak kapan.
"A-Apa itu tadi?" tanyaku tergagap. Aku tak tahu apa yang harus kuucapkan.
"Itu adalah kekuatanku." Jawabnya cepat. Aku langsung melotot. "Kekuatan apa?" sentakku keras. "Itu pasti hanya trik!"
Yoochun menggapai tanganku dan mengenggamnya dengan kuat. "Kau harus percaya, Su. Kabut adalah perubahanku. Aku bahkan bisa melakukan sihir." Aku semakin tak percaya dengan apa yang kudengar.
"Sihir?" kusentakkan tangan Yoochun dengan kasar. "Jangan membodohiku, Park Yoochun. Aku bukanlah seorang anak kecil yang hidup dalam negeri dongeng." Ucapku sarkastik.
"Jae.. Yun... Apa yang kulihat tadi hanya trik yang kalian lakukan kan?" tanyaku pada Yunho dan Jaejoong yang mematung melihat kami.
"Dengarkan aku, Su!" Aku mundur selangkah karena bentakan Yoochun padaku. "Su." Panggilnya lembut. Aku menggeleng. "Jangan bercanda, Park Yoochun."
Bukannya aku takut. Hanya saja, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Itu semua pasti hanya sebuah trik yang dilakukannya.
Eu kyang kyang... Dia pikir ini hari halloween apa?
Aku terus mundur selangkah demi selagkah hingga aku mendengar Yoochun mengucap 'Wind' dengan sangat jelas. Sepersekian detik kemudian, tiba-tiba saja sekelebat angin membawaku dan membuatku masuk ke dalam pelukan Yoochun.
"Lepaskan!" rontaku dalam pelukan Yoochun.
"Su.. Su-ie.." panggilnya lemah. "Dengarkan aku. Aku akan mengatakan semuanya padamu, Su."
Aku berhenti berontak. "Katakan. Aku ingin mendengarnya. Mendengar leluconnmu itu." Gumamku parau.
Yoochun mengendurkan pelukannya dan menatapku. "Aku adalah Park Yoochun. Aku adalah manusia yang berasal dari dunia setan. Kekuatan utama ku adalah mengendalikan kabut. Meskipun begitu, aku juga bisa melakukan sihir." Jelasnya.
"Chunnie." Ucapku dengan senyuman. "Tidak ada yang namanya Dunia Setan."
"Ada! Aku, Yunho, Jaejoong, dan semua keluarga Jaejoong adalah manusia dunia setan!" sentakknya.
Aku terperanjat. "Yunho... juga?" tanyaku tak percaya. Kualihkan pandanganku pada Yunho. Berharap Yunho mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah lelucon. Sayangnya...
"Benar." Ucap Yunho mantap yang langsung meruntuhkan keyakinanku.
"Apa kekuatanmu?" tanyaku lagi.
Yunho melempar senyuman padaku, lalu mendekat ke arah Jaejoong dan memeluknya dari belakang.
Kurang dari sedetik, mereka telah menghilang dari hadapanku.
Tap.
Aku jatuh terduduk lemas di atas rumput. "A-Apa itu tadi?" gumamku tak percaya.
"Teleport." Suara lembut Jaejoong membuatku kembali menoleh ke arah mereka yang telah kembali berdiri di tempat mereka semula.
"Teleport?" ulangku. Jaejoong mengangguk. "Lalu, apa kekuatanmu?"
Jaejoong melirik ke arah Yunho. "Boleh?" tanyanya yang tak kumengerti apa maksudnya. Yunho langsung menggeleng. "Jangan aku!" tolak Yunho keras.
Jaejoong langsung merengut kesal. "Aku saja." Ucap Yoochun. "Gunakan kekuatanmu padaku saja." Tambahnya.
Aku semakin mengernyit, memangnya apa kekuatan yang dimiliki Jaejoong?
Pertanyaan ku langsung terjawab saat Jaejoong mendekati Yoochun lalu menggigit tangannya. Bisa kulihat dua buah taring mirip taring drakula muncul dari mulut Jaejoong dan langsung menancap di kulit tangan Yoochun.
Yunho dengan sigap menahan tubuh Yoochun yang limbung. Pingsan?
"Chunnie, kenapa?" suaraku langsung teredam begitu melihat Jaejoong yang membungkuk seperti orang yang menahan sakit. Perlahan-lahan kulit di tubuh Jaejoong mengelupas dan berubah warna. Rambutnya pun berganti warna dan model rambut. Bahkan bajunya pun berubah!
"Hallo, Su." Aku terperangah. "Chunnie!" jeritku tak percaya.
Aku melihatnya sendiri. Yoochun ada dua!
"Ini aku. Jaejoong." Ucap Yoochun yang satunya. Sementara yang satunya lagi tengah memejamkan matanya.
Aku masih mengerjab-ngerjabkan mataku tak percaya.
"Yunnie, tolong aku." Ucap Jaejoong dalam wujud Yoochun.
Yunho langsung menyerahkan tubuh Yoochun padaku yang langsung kusambut. "Tunggu sebentar." Ucap Jaejoong. "Kita ke dapur, Yun."
Yunho dan Jaejoong kembali menghilang dari hadapanku.
"Apa maksud semua ini, Chunnie?" Tanyaku parau pada Yoochun yang tengah memejamkan matanya dalam pangkuanku.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku lagi. "Apa yang harus kulakukan?"
"Percayalah padaku, Su." Tiba-tiba Yoochun membuka matanya dan tersenyum padaku.
-End Junsu POV-
"Kau sudar sadar!" pekik Junsu. Tak lama kemudian, Yunho dan Jaejoong muncul kembali dihadapan Mereka.
"Kau percaya sekarang, Su?" tanya Yunho.
Aku mengangguk lemah. "Sepertinya mau tak mau, aku percaya."
"Antar Junsu pulang, Yoochun. Aku rasa dia butuh istirahat lebih malam ini." Kekeh Jaejoong pelan.
Yoochun langsung bangkit dan membantu Junsu untuk berdiri.
Jaejoong menatap kepergian Yoochun dan Junsu hinga mereka akhirnya menghilang di turunan bukit. "Ayo kita pulang juga." Ajak Jaejoong.
"Hei, aku baru tadi itu melihat kekuatanmu secara langsung." Ucap Yunho.
"Cerewet. Ayo pulang saja." Ajak Jaejoong lagi. Yunho langsung merangkul Jaejoong dan melakukan teleport.
-TBC-
Uuurghh— akhirnya...
Masalah Yoochun dan Junsu selesai juga. Tinggal masalah Donghae sama Eunhyuk yang belum selesai.
Dan itu berarti fic ini akan segera tamat!
Ohohohoo...
.
*Review reply*
o- Shappire Pearls : Sunbae? Aku belum sesenior itu sampai kamu panggi sunbae.. hehehe.. aku juga masih belajar...
nih Yoosu udah dilanjutin, masalah mereka udah selesai. Soal Donghae cinta sama Eunhyuk bukannya pernah terungkap di chap 21 bagian akhir? DOnghae di sana ngaku cinta kok sama Eunhyuk meskipun awalnya cuma manfaatin dia doang.. ^^
umm.. ini termasuk update kilat kah?
o- Upa Upa : Yoosu sempet ketemu tuh.. Yoochun nyolong-nyolong waktu biar bisa ketemu sama Su.. :D
Ini udah termasuk update kilat kan? hehehe
o- Jung Ah Mi : Iya, panggil Eonnie gak apa-apa kok..^^
masalah pembagian cincin : Cincin Dunia Setan pemegangnya adalah Yesung, Cincin Dunia Manusia dipegang oleh Yunho, Cincin Dunia Surga dipegang oleh Jaejoong, dan Cincin Dunia Kegelapan dipegang oleh Donghae. Eunhyuk adalah pangeran dunia kegelapan yang menguasai ilmu sihir kegelapan terbaik di kerajaan dunia kegelapan.
Masih bingung? silahkan tanya apapun yang nggak kamu ngerti dari fic ini melalui fb : Thalita Laksmii atau twitter : CBThazt13
ini udah di update ya..^^
o- Uyung-Chan : Semua yang kamu tenyakan udah kejawab di chap ini..^^
o- Shin Young Rin : gpp.. santai aja.. kapan pun kamu mau baca fic ini ga ada yang larang.. ^^
iya, nama aku bener kok.. 'tha'... nggak usah pake saeng atau sejenisnya itu lah..
oke.. ini lanjutannya ya..^^
.
Mind to comment?
