Di sela-sela kebingungan menyiapkan judul skripsi, aku iseng2 ngelanjutin fic ini... selamat membaca!


One Piece © Eiichiro Oda

Two Schools, Two Worlds

Chapter IV

Battle of Student Council – Part 6

Wind of Change


"Sanji, aku ingatkan lagi, perhatikan kosakatamu... aku nggak mau dengar kata-kata 'sialan', 'brengsek', f**k, atau mellorine saat kamu berada di depan kelas nanti," Nami membetulkan letak kacamatanya, dengan tangan kanan mendekap sebuah buku di depan dadanya. Dia mengenakan kemeja merah maron dan rok sepanjang lutut berwarna hijau lumut, lengkap dengan dandanan minimalis: lipstik pink cerah dan pemulas pipi dengan warna senada yang manis banget. Tak lupa tongkat kecil tergenggam di tangan kanannya.

Wow... sedang cosplay guru cewek yang seksi, Nami?

"Sesuai perintahmu, mellorine-sensei..." muridnya, cowok pirang bernama Sanji, menyandarkan sikunya di atas meja dengan pandangan mesum pada sang guru.

"Tuh, kamu sudah mulai lagi."

"M-maaf, Nami-san, kebiasaan sejak kecil."

Huh? Apa kita telah melakukan lompatan ke dimensi lain di mana Nami adalah guru SMU?

...

Ternyata bukan! Setelah mendengar penjelasan even terakhir dari pak Ray, yaitu menggantikan guru mengajar selama setengah hari, Luffy dengan mantap menunjuk Sanji maju soalnya dia satu-satunya cowok pintar di SH. Tapi karena sifat dan omongan Sanji kasar, Nami dan Robin memutuskan untuk memberinya pelatihan cara mengajar di apartemennya. Tentu saja ini bagaikan durian runtuh buat cowok pirang itu.

Diajari 2 cewek cantik berpakaian guru?! Yes, please!

Sayangnya, Zoro merusak surga dunia Sanji dengan meminta Usopp ikut dan merekam pelatihan, katanya sih untuk kenang-kenangan even pemilihan OSIS. Sekalian menjaga sikap Sanji karena tak ada yang tahu apa yang akan dia lakukan pada 2 cewek cantik itu. Protes dan umpatan Sanji nggak diabaikan karena Nami menyetujui ide itu.

"Fufufu. Emangnya apa saja yang diajarkan pak Zeff padamu?" tanya Robin yang duduk di samping Sanji. Saat itu, dia mengenakan kemeja dan rok panjang serba ungu, menguncir rambutnya dan memakai kacamatanya.

"Memasak, berkelahi, merayu cewek, dan mengumpat."

"Wow, dia ayah yang baik," komentar Usopp.

"Ayah baik yang memasukkan anak satu-satunya ke markas okama untuk belajar..." kata Sanji dengan wajah murung. Bahkan di sekitarnya muncul awan gelap, yang sepertinya bukan ulah Nami dengan set peralatan kimianya, Clima Tact.

Sejak dia naik ke kelas XI, Zeff memang memaksa Sanji untuk belajar teknik masak baru di luar restoran. Sialnya, tempat yang ditunjuk Zeff adalah Restoran Kamabakka milik teman lamanya, Ivankov. Restoran itu terkenal dengan… staf dan pelayannya yang… unik.

Para okama. Atau newkama. Terserah.

Sanji nggak mau tahu apa perbedaan 2 spesies baru manusia itu, yang jelas mereka semua keturunan iblis. Meskipun okama, paling nggak harusnya ada 1 atau 2 yang "cantik" lah…

Tapi di Kamabakka, kalau bisa dikatakan dengan halus, kacau semua. Minggu-minggu pertama berlatih di sana bagaikan neraka dunia karena para demi-human itu merayunya gila-gilaan, tapi Sanji nggak bisa mundur karena dia sudah diplot menjadi manajer cabang Baratie baru setelah lulus nanti. Walaupun Sanji dan sikap kasar (kepada cowok) sepertinya sudah tak terpisahkan seperti halnya roti dan Nutella, Sanji sangat menghormati Zeff.

"... dia ayah yang jahat," Usopp mengubah pendapatnya, sebulir keringat mengalir di dahinya.

Trilililit!

Nada dering ciptaan Brook berdering kencang dari arah HP di dalam tas oranye Nami, menandakan ada telepon masuk. Nami pun segera mengambilnya dan izin untuk berbicara di luar ruangan.

"Saatnya istirahat, ya?" kata Usopp sambil melipat layar handycam-nya. "Oi Sanji, snack-nya mana?"

"Kadang-kadang kau mengingatkanku pada Luffy. Padahal sudah untung kakak-kakaknya menahan dia biar nggak maksa ikut…" Sanji beranjak dari sofanya dengan wajah enggan. "Tapi para ladies butuh asupan nutrisi. Sebentar."

Sanji segera berjalan ke dapur apartemennya untuk memasakkan sesuatu, juga mengisi ulang kopi dan teh untuk para tamunya, meninggalkan Robin yang langsung memusatkan perhatiannya pada buku milik Sanji berjudul "Sejarah Masakan Dunia" dan Usopp yang mengedit rekamannya.

"Oh ya, Robin-san,"

Nggak tahan dengan sepinya suasana, Usopp dengan gugup memulai pembicaraan. Nggak biasanya dia memulai pembicaraan dengan Robin karena sungkan (dan takut) pada sang senior yang misterius itu.

"Soal year book pesananmu... mau diisi rubrik apa aja?"

"Ara, kamu sudah mulai mengerjakannya?" pertanyaan itu membuat Robin tertarik, sehingga dia mengalihkan perhatiannya dari buku yang dibacanya. "Tapi kenapa kamu menanyakan ini? Kupikir aku takkan dikabari sampai bukunya jadi, sebagai kejutan…"

"Hehe. Anak-anak jurnalistik sangat senang mengerjakan ini, apalagi karena rencananya pesananmu akan dijadikan contoh untuk year book kelas XII nanti. Sebagian besar artikel sudah tertulis, foto-foto sudah terkumpul… ini daftar isi sementaranya," Usopp merogoh tasnya dan memberikan secarik kertas pada Robin yang langsung membacanya dengan mata berbinar, sangat tertarik. "Tapi kita merasa kalau isinya terlalu banyak. Jadi, apa ada yang harus dikurangi?"

"Nggak usah, aku suka buku tebal," Robin mengembalikan kertas itu.

"Oke. O-oh, satu lagi…"

"Soal biaya, nggak usah khawatir."

"B-bukan itu! Aku masih penasaran… kenapa senpai masih belum memberitahukan rencanamu ke anak-anak?" tanya Usopp. "J-jangan bilang sebagai kejutan, ya. Aku yakin anak-anak terutama Nami dan Chopper akan sangat terpukul kalau senpai memberitahu mereka secara mendadak sebelum berangkat ke Ohara."

Tiba-tiba terdengar bunyi sendok terjatuh.

…..

Usopp membelalakkan matanya, sementara Robin mengerutkan alisnya. Mereka terlalu asyik ngobrol rupanya... sampai lupa kalau Sanji biasa memasak cepat!

Benar saja, Sanji berdiri di dekat mereka dengan wajah terperangah, membuat rokoknya terjatuh.

"O-Ohara, katamu, Usopp?"

"Sanji-kun. Cepat sekali…" Robin berbasa-basi, berusaha menunda topik ini diangkat selama mungkin, sembari dia mempersiapkan alasan dalam pikirannya.

"… maaf. Aku… nggak sengaja dengar pembicaraan tadi," gumam Sanji. Dia lalu memungut puntung rokoknya dan mematikannya di atas telapak tangan, pertanda dia sedang serius.

Robin menutup buku yang dibacanya, dan tanpa sengaja saling menatap dengan Usopp, yang tampak amat menyesal.

"M-maaf, senpai..." Usopp memberi isyarat minta maaf pada sang senior. Robin hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

"Fufufu, tak apa, Sanji-kun. Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk memberitahu ini pada semua anggota SH satu-persatu..."

Sanji masih kelihatan bingung. Kenapa hal sepenting ini baru dia dengar sekarang, padahal kelulusan Robin tinggal kurang dari 3 bulan lagi?

Apa Robin masih belum mempercayai dia dan anak-anak SH sepenuhnya?

"Jangan berpikir seperti itu, Sanji... Robin-chan adalah nakama..." Sanji kemudian menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan pemikiran negatif tadi."Fuuuh... ehm. Oke, aku ingin memperjelas. Robin-chan, kamu pergi ke Ohara setelah lulus nanti?"

"Benar, Sanji-kun. Universitas Ohara memberikan beasiswa padaku berkat koneksi yang dimiliki mama. Aku akan berkuliah di jurusan Sejarah dan Sosial Politik."

"Ohara, ya… seingatku, negara itu amat ketat dalam urusan warga asing. Sekali tinggal di sana, kau langsung dipaksa membuat kewarganegaraan Ohara, dengan kata lain… paling nggak kau akan berada di sana selama 5 tahun lebih."

"Wow. Kau tahu banyak, Sanji," komentar Usopp.

"Berita tentang Ohara sering muncul di koran. Negara itu mirip Korea Utara…" gumam Sanji. Dia menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu menghembuskannya di sela-sela senyumannya. Matanya berkilat penuh semangat. "Baiklah kalau begitu, untuk hadiah perpisahan akan kubuatkan pesta yang takkan kamu lupakan, Robin-chan!"

Robin tak percaya dengan apa yang dia dengar. Sanji, cowok yang biasanya overprotektif padanya, melepas dia begitu saja? Apa ini berarti dia sekarang menjadi tak terlalu penting bagi Sanji, setelah dia tahu rencananya?

"Terimakasih Sanji-kun, tapi tolong jangan ceritakan ini dulu pada yang lain. Aku ingin memberitahu mereka sendiri jika saatnya tepat," pinta Robin dengan senyuman manisnya. Dia juga memegang tangan Sanji untuk menekankan maksudnya.

"Melloriiiine! Jika Robin-chan yang memintanya, rahasia ini akan kubawa sampai mati~!" Sanji bersumpah dengan kedua mata berbentuk hati.

"Apa dia serius...?"

Cklek.

Nami memasuki ruangan, memotong alur pikiran Robin.

"Hmm? Kenapa dengan Sanji-kun?" Nami menyadari Sanji yang masih berpegangan tangan dengan Robin, dan entah kenapa pemandangan itu membuatnya kesal. Sempat-sempatnya dia merayu Robin? "Hey, kamu nggak menggoda Robin-neechan 'kan?!"

"Mana berani aku menggodanya, kalau ada Nami-swan di sini!" Sanji langsung berlari ke Nami, bermaksud memeluknya... yang tentu saja dihindari dengan mudah.

"Kembali pada latihanmu, Sanji-kun!" Nami menjewernya dan menyeret anak itu duduk.

"Haaai~~"

Pelatihan pun dimulai kembali. Selama itu Robin nggak banyak bicara seperti biasa, dia cuma berkomentar membantu saat Nami sudah mulai panas karena Sanji merayunya habis-habisan (sepertinya anak itu benar-benar menghayati perannya sebagai murid Nami) dan saat Usopp kehilangan fokus rekamannya karena menertawakan tingkah Sanji.

"Setiap orang punya jalan masing-masing menuju impian mereka. Aku senang karena kau berani mengambil keputusan seperti itu. Yang akan kau lakukan itu penting demi cita-citamu," Zoro membetulkan letak Shuusui. Matanya memandang lurus ke depan. "Yang membuatku kecewa adalah karena kamu nggak memberitahukan ini pada yang lain."

Robin memijat dahinya. Kenapa tiba-tiba Zoro muncul dalam pikirannya? Apa dia kecapekan? Dia pun segera mengalihkan perhatiannya kembali pada buku sejarah masakan itu.

Ketegangan yang melanda Robin pun dimanfaatkan Sanji untuk mengirim sebuah SMS pada Nami...

"Nami-san, nanti malam ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Ini tentang Robin-chan. Love, Sanji."

-o0o0o0o0o-

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, peserta even sudah berkumpul di ruang OSIS. Tim SH tampak santai... mereka sangat mempercayai peserta mereka, Sanji yang didaulat memakai jas serba biru dengan kacamata berlensa orange untuk menunjukkan kepintarannya.

Para cewek mengakui, Sanji tampak tampan. Andai tingkahnya bisa lebih normal...

Suasana santai di SH berbanding terbalik dengan Supernova. Hanya tampak Kidd dan Bonney dalam ruangan itu, sementara Kira dan anggota lainnya sudah pergi beberapa saat lalu.

"Bagaimana?" tanya Kidd pada Bonney yang menempelkan dua HP di telinganya, nada suaranya terdengar khawatir, tak seperti dia biasanya yang penuh percaya diri dan cenderung sok.

"Nomor dialihkan…" jawab Bonney dengan gigi gemeretak. Sudah setengah jam lebih dari waktu berkumpul, tapi masih blm ada tanda-tanda dari Law. "... ayolah! Angkat, Traffy!"

Ya, mereka tampak amat berbeda… dengan tak adanya seorang Trafalgar Law. Anggota terpintar mereka itu biasanya juga yang paling rajin dalam urusan kelompok; dia selalu datang jauh lebih awal dari waktu perjanjian. Jadi kalau anak rajin sepertinya sampai terlambat lama banget, pasti terjadi sesuatu!

"Gimana, Kira?" Kidd berteriak di layar smartphone-nya, yang menayangkan video call dari Kira dengan topeng barunya, sebuah Anonymous Mask yang benar-benar nggak cocok dengan situasi mereka sekarang.

"Nihil, senchou," Kira menggaruk rambut panjangnya yang berantakan.

"Tch. Gimana dengan Hawkins dan yang lain?"

"Belum ada kabar. Sekarang mereka menuju Klinik Tong Fu."

Law mendedikasikan waktu luangnya untuk mempelajari sebanyak mungkin ilmu kedokteran. Karena itulah dia sering magang di klinik-klinik lokal kota. Termasuk klinik pengobatan tradisional China ini.

"Aku akan ke Klinik Dr. Hiluluk sekarang, kukabari dalam 10 menit," Kira mengambil helmnya.

"Oi Kira! Jangan ngebut!" teriak Bonney dari belakang Kidd. Sepuluh menit dari pecinan ke daerah Shakura, alias mengelilingi Raftel utara dalam 10 menit?! "Aku nggak mau kau terlibat masalah juga, ahou!"

"Oke," dengan itu, koneksi terputus.

Kidd menggenggam smartphone-nya erat. Kenapa pada momen krusial seperti sekarang, saat ada sebuah kesempatan menarik kembali kepercayaan para murid padanya, masalah ini muncul?!

"Apa Law… kabur?!"

Prak!

Kidd melemparkan smartphone-nya ke tembok, membuat benda malang itu terpecah jadi beberapa bagian. Nami bergidik melihatnya, harga model terbaru itu belasan juta beri! Tapi, Kidd merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah smartphone yang sama. Nami sweatdropped.

"Jangan berpikir seperti itu Eustass, dia takkan mengkhianati Supernova…" Kidd berjalan ke puing-puing smartphone dan memungut SIM Card-nya, lalu memasukkan benda itu ke slot barunya. "Karena Supernova adalah rumah untuknya…"

Setelah itu, sejam berlalu dan Law masih belum muncul. Kira dan kawan-kawan, yang berada di luar masih nggak menemukannya. Bonney terduduk pasrah sedang Kidd terdiam sambil menatap langit di luar jendela, entah marah atau frustasi.

Kemudian, pak Ray mendatanginya.

"Bagaimana, tim Eustass? Di mana anggotamu yang ditunjuk mengikuti even?"

Kidd menolehkan wajahnya, dan menyadari bahwa pak tua itu memasang wajah kecewa. Kidd mendengus. Peduli apa dia?

"Law..." Kidd mengepalkan tangannya erat sampai ujung jari-jarinya membiru dan telapaknya meneteskan darah. "Tidak. Datang."

Pak Ray menghela napas panjang.

"Sayang sekali..." pria berambut putih itu kemudian menoleh ke arah tim SH yang tampak antusias.

Siapa yang nggak suka kemenangan, apalagi kalau itu didapat tanpa bertanding? Peduli amat dengan idealisme kalian! Nami dan yang lain menyukai keadaan ini kok.

"Baiklah, kalau begitu dengan ini kunyatakan-"

"Tunggu, ossan!"

Luffy, yang sejak tadi diam saja mengamati usaha pencarian Law, bangkit dan menghampiri pak Ray. Wajahnya tampak kesal.

"Aku lebih suka dipanggil 'pak'..." pak Ray berbalik dengan senyuman lebar, sepertinya memikirkan sesuatu yang menarik. "Ada apa, Monkey-kun?"

"Jadi tim rambut tulip ini kalah dariku tanpa bertanding?" telinga Kidd bergerak mendengar kata 'rambut tulip', tapi dia nggak bereaksi.

"Tentu saja."

"Itu nggak seru banget! Ayolah, berikan dia kesempatan bertanding!"

"Anggotanya tidak datang, sehingga menurut aturan harus didiskualifikasi."

Luffy bertambah cemberut. Dia nggak mau ini berakhir begitu saja! Kemenangan seperti ini meninggalkan rasa nggak enak di mulutnya… tapi, dia nggak tahu apa yang harus dia lakukan agar bisa bertanding dengan Kidd…

"Oi, Luffy, kau bisa memaksa anak itu bertanding dengan parley," tiba-tiba Zoro berceletuk dengan senyuman lebar.

"?!"

Bukan hanya anak-anak SH yang menjatuhkan dagu mereka, Kidd dan Bonney juga. Tentunya tanpa pikir panjang Luffy menjalankan saran dari sang wakil ketua kepercayaannya itu!

"Makasih, Zoro! Pak Ray, aku minta parley!"

Tawa kencang pak Ray, Zoro, dan Robin terdengar. Sepertinya mereka benar-benar menantikan perkataan Luffy itu? Tapi, di tengah-tengah kehebohan itu, Nami menghampiri Luffy.

Dan memukul kepalanya keras-keras, menghasilkan beberapa benjolan di kepala anak itu.

"Auw! Apa maumu, Nami?!"

"Aku yang harusnya tanya itu, Luffy! Kamu sadar nggak sih apa yang kau katakan?! Kamu... menantang parley pada pertandingan yang sudah kamu menangi!" Nami mencengkeram kerah Luffy, nggak bisa jaga image sebagai cewek manis lagi.

"Tapi aku menang tanpa bertanding! Itu bukan pertandingan namanya!" kali ini Luffy nggak mau kalah berargumen. Dia memegang tangan Nami di kerahnya dan menatap wajah gadis berambut oranye itu serius, samasekali tidak merasa gentar atas tinju yang bisa menghantamnya sewaktu-waktu.

"Kata-kata yang bagus, Luffy," akhirnya Zoro menengahi, dia menyingkirkan tangan Nami. "Dan Nami, ini keputusan ketua. Hanya dia yang bisa mengubahnya."

"Kau-! Kenapa membela anak ini?! Ingin hutangmu bertambah?"

"Nggak peduli," kata Zoro tegas, membungkamnya seketika. Bahkan Sanji yang awalnya mau menantang Zoro karena sudah menakuti 'Nami-swan-nya', mengurungkan niatnya sambil menggeram kesal. Dia nggak mau menambah masalah dengan rivalnya itu sekarang.

Sementara itu, Kidd masih terdiam, bengong tak percaya. Terus terang, dia senang karena dapat kesempatan bertanding lagi, tapi dia tetap nggak habis pikir kenapa sang kandidat lawan membuang kemenangannya begitu saja.

"... bagaimana ini, pak Capone?" kata pak Ray sambil mengelus jenggot putihnya, pura2 berpikir. Padahal dia akan mengabulkan permintaan Luffy apapun jawaban koleganya itu.

Pak Capone, yang menghilang bersama dengan kepergian Kira dan yang lain mencari Law, ternyata sudah ada dalam ruangan itu dengan separo batang cerutu terselip di bibirnya. Dia tersenyum karena keputusannya mengabulkan permohonan Law kemarin ternyata sangat tepat.

"Izin untuk mengikuti ujian beasiswa di Universitas Kedokteran Drum?!" Capone mengangkat kacamatanya setelah selesai membaca surat di depan wajahnya.

"Ya, father. Ini kesempatan sekali seumur hidup," jawab Law, nada perkataannya penuh hormat.

Father?

Benar, kalian nggak salah dengar. Pak Capone adalah ayah bagi Law, juga Kidd dan semua anggota Supernova. Beberapa tahun lalu, guru berpenampilan mafia itu membeli sebuah panti asuhan bobrok dan mengubahnya jadi rumah untuknya bekerja di kota Raftel. Tapi dia nggak mengusir para penghuninya; dia mengadopsi mereka semua!

Itulah Supernova, para bintang muda yang berasal dari salah satu pojok tersuram kota Raftel.

"Lalu bagaimana dengan event yang harus kau ikuti besok?! Kudengar kau sudah ditunjuk Kidd untuk mengikutinya!"

"... soal itu..."

"Kau ingin memikirkan dirimu sendiri dan mengabaikan saudara-saudarimu?! Ingat apa tujuan kalian bersekolah di Seifu! Supernova harus memegang kendali atas sekolah elit itu untuk membuktikan kemampuan kaum terbuang seperti kalian!"

"Tolong, dengarkan aku dulu, father," Law mengangkat topinya. "Walaupun aku memaksakan diri ikut, terus terang kemungkinan kalahnya sangat besar, karena beberapa hari ini aku cuma belajar untuk ujian itu. Tanpa aku mereka pasti didiskualifikasi, tapi menurutku itu lebih baik, karena Monkey D. Luffy yang polos itu pasti akan mengajukan parley agar bisa bertanding dengan adil. Sehingga Kidd bisa menang setelahnya."

Capone menggosok dagunya mendengar penjelasan itu.

"... harus kuakui itu benar," kata-kata itu membuat wajah Law sedikit jadi cerah, tapi... "Kamu harus menceritakan ini pada saudara-saudarimu, baru aku akan memikirkan jawabanku."

Pada akhirnya Law nggak menceritakan apapun pada Kidd dan yang lain, tapi kemarahan pak Capone sedikit berkurang karena tindakan Luffy sangat sesuai dengan prediksi Law.

"Menurut aturan, tantangan parley tidak boleh ditolak dan dihentikan bahkan oleh para guru sekalipun. Jadi kita tetap akan mengadakan parley," pak Capone mengunyah batang cerutunya. Pria paruh baya itu lalu tersenyum, pertama kalinya sejak pagi itu. Sekarang Kidd ada harapan menang!

"Jadi tantanganmu diterima, Monkey-kun."

"Yesssh!" Luffy melonjak kegirangan. Nami dan yang lain menepukkan tangan ke dahi.

Mendengar teriakan Luffy, Kidd tersadar dari lamunannya. Dia menggeleng-gelengkan kepala untuk melupakan pemikirannya, lalu berjalan ke arah Luffy dengan memasang "wajah Joker"-nya yang biasa, seorang yang tersenyum maniak. Mereka berdua saling menatap, dan panasnya api persaingan bisa dirasakan semua orang dalam ruangan itu.

"Kau... merasa kasihan padaku?!" Kidd membuka konfrontasi mereka.

"Bukan! Aku cuma nggak senang menang dengan cara seperti itu!"

Entah apa senyuman manusia bisa selebar senyuman Kidd saat ini.

"... heh, jawaban yang amat klise," jawabnya. "Tapi aku nggak salah menjadikanmu rival, Monkey. Kau anak yang menarik."

"Hei, hei. Berkelahinya nanti saja waktu game!" pak Capone memisahkan mereka berdua. "Baiklah. Karena waktu kita tidak banyak, kami memutuskan bahwa game parley adalah tes kecepatan."

"Kadang-kadang ketua OSIS diharuskan berkeliling sekolah untuk menyebarkan pengumuman. Jadi, simpel saja, kalian harus lari mengelilingi sekolah 5 kali. Ini menguji ketahanan fisik dan mental kalian dalam melayani seisi sekolah."

Eh, di luar dugaan parley-nya gampang banget. Entah karena para guru sudah kehabisan materi lomba atau apa.

"Mungkin pengarangnya yang kehabisan ide," gumam Luffy.

Diam, kau!

"Eh?" Kidd memiringkan kepalanya mendengar suara pria tadi, entah dari mana.

Tapi, dia mengabaikannya.

"Pokoknya jangan menyesal kalau nantinya kau kalah, ya."

"Itu nggak akan terjadi!" Luffy menjulurkan lidahnya.

-o0o0o0o0o-

Jadi, Luffy dan Kidd berganti ke seragam olahraga mereka, kaus putih dengan logo SMU Seifu di dada kanan dan celana biru gelap sepanjang lutut. Tak lupa sepatu olahraga... walaupun Luffy lebih memilih sandal jepit cap Swellow-nya.

Mereka berdua sudah siap di gerbang sekolah sambil melakukan pemanasan, didampingi anggota tim sukses masing-masing.

"Keliling sekolah adalah 2,5 km. Kalikan 5 dan kau dapat sebuah rute maraton," kata Coby.

"Huh, gampang," komentar monster trio. Nami dan kawan-kawannya yang merasa masih normal sweatdropped kompak.

"Oke, Luffy. Aku tahu ini game yang mudah, tapi jangan lengah. Si Eustass itu pasti akan melakukan apa saja untuk menang karena ini adalah kesempatan terakhirnya menyamakan skor dan menarik kembali kepercayaan para murid," kata Nami sambil berkacak pinggang.

"Ou," Luffy memutar-mutar lengannya.

Nami sweatdropped. Paling nggak, jawab dengan benar dong...

"Baiklah, kalian sudah siap?" tanya pak Ray.

Kedua peserta pun segera mengambil ancang-ancang di garis start. Mereka saling memandang, membuat percikan kilat terpencar, lalu kembali memfokuskan pandangan ke depan. Pak Capone lalu berdiri di samping garis start, merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk revolver sungguhan.

Dor!

Yang terjadi kemudian bisa ditebak, bunyi itu membuat seisi sekolah memusatkan perhatian ke halaman sekolah.

Wuuuuush...!

Dan kedua peserta langsung melesat, kaki mereka melangkah begitu cepat sampai tak terlihat.

"Majuuu, Luffy!" teriak Nami dan timnya.

Pemenang game ini adalah dia yang mencatatkan waktu lebih cepat untuk 5x mengelilingi Seifu. Dari 3 lap, tampaknya Luffy unggul cukup jauh. Tapi Kidd tampak tenang. Begitu dia sampai untuk yang ketiga kalinya di halaman belakang sekolah yang telah dia pastikan sepi, cengirannya melebar.

Cengiran yang menandakan sesuatu yang buruk.

"Perkataan cewekmu si rambut orange itu benar, Monkey. Aku akan melakukan apapun untuk menang," Kidd merogoh sakunya, menampakkan sebuah sarung tangan besi. "Magnezone."

Nguuuung...

Pecahan besi dan berbagai mur kecil di sekitar bengkel sekolah melayang perlahan mendekati tangan Kidd yang memunculkan percikan kilat kebiruan. Rupanya, Magnezone adalah sarung tangan elektromagnet super!

"Power Cogs."

Krak, krak, krak...

Benda-benda dari besi itu seolah menari di udara, Kidd sebagai pengontrolnya pun mengorkestra gerakan mereka, membentuk beberapa piringan besi. Dia lalu menyembunyikan piringan-piringan itu di antara rimbunnya semak dan rumput halaman belakang sekolah. Siapapun yang melangkah di dalamnya akan terkurung selama beberapa saat.

"Tambah ini..." Kidd menggumam senang sambil merangkaikan beberapa potong kabel dan aki ukuran kecil yang dia ambil dari bengkel. "Dan... selesai."

Puas, Kidd kembali melangkahkan kakinya… tapi baru beberapa meter, Kidd sudah mendengar langkah cepat sang rival. Si rambut merah menoleh dan melihat Luffy yang tersenyum dan melambaikan tangannya. Dia tampak sangat santai, bahkan tak berkeringat!

Menyadari kalau keberadaannya di dekat lokasi "kecelakaan" akan mengundang kecurigaan, Kidd segera mempercepat langkahnya. Sepertinya Luffy melakukan hal yang sama, sampai...

Cklek. KRASHH! BZZZZZT!

-o0o0o0o0o-

"Pemenangnya... Eustass Kidd!" pak Ray mengibarkan bendera garis finish dengan penuh energi saat Kidd melangkahkan kakinya di sana.

Kidd memperlambat langkahnya, lalu tersenyum ke arah pendukungnya. Tapi kesenangannya itu nggak berlangsung lama karena Bonney langsung menyerbunya.

"Wuooooh! Senchouuuu!"

Dan disusul anggota Supernova lain, menumpukinya satu-persatu sampai membentuk gunungan manusia di tempat Kidd tadi berdiri.

"Gah! Menyingkir dariku, yarou-dono!" terdengar teriakan Kidd dari bawah mereka, tertahan oleh sorakan kawan-kawannya.

Sementara tim SH, tanpa mengatakan apa-apa dengan kompak segera berpencar mencari sang ketua.

Beberapa saat kemudian, entah karena intusi atau apa, Nami-lah yang pertama kali menemukan Luffy dalam keadaan pingsan di tengah-tengah formasi pilar besi yang mengeluarkan percikan api.

"Luffy!"

Zoro yang secara ajaib muncul setelahnya segera memotong besi yang mengurung Luffy dengan sabetan ringan Shuusui. Nami segera menangkap badan Luffy yang terjatuh lemas, dan Chopper yang muncul bersama Usopp pun segera menghampirinya.

"Kenapa dengan dia, Chopper?" tanya Nami, perkataannya dibalut rasa khawatir.

"E-entahlah, aku nggak yakin. Tapi dia tampak amat kelelahan…" jawab sang anggota PMR.

"Ngh? Apa yang terjadi?" Luffy membuka matanya. Dia tampak amat... mengantuk?

"Luffy? Syukurlah! Tadi kamu pingsan di tengah formasi besi tua itu!" kata Chopper.

"Oh... itu? Nggak tahu... tadi aku sedang mengejar Kidd tapi tiba-tiba kakiku menginjak sesuatu dan aku langsung merasa ngantuk..."

"Hm... jebakan besi ini sepertinya membuat korbannya kehilangan energi," Usopp mengamati pecahan jebakan itu dengan kaca pembesar. "Ini keren."

Plak.

"Kenapa kau malah memuji jebakannya?"

"Ow! Aku cuma penasaran, jenius seperti apa di Seifu yang bisa menciptakan benda seperti dalam game steampunk seperti ini..." Usopp mengelus kepalanya yang benjol.

Dasar Usopp, gamer penghuni SH satu ini. Game adalah salah satu sumber inspirasinya menciptakan senjata dan peluru-peluru aneh.

"Yang jelas, ini masih baru, jadi jelas bukan kerjaan anak-anak bengkel."

"Dengan kata lain, ini ulah Eustass? That motherfuh-"

"Nggak usah cari masalah," Zoro menahan gerakan sang rival dengan pedangnya. "Menyerbunya sekarang nggak ada guna, mereka akan mengira bahwa kita cari alasan yang mengada-ada. Lagian nggak ada bukti pasti kalau Eustass pelakunya."

Semua anak SH terdiam.

Wow. Ketenangan Zoro memang benar-benar bisa diandalkan dalam masalah seperti ini. Anak-anak SH pun perlahan meredam emosi mereka dan memilih untuk merawat Luffy.

"Tapi... apa yang kukhawatirkan akhirnya terjadi. Kita kehilangan poin karena kebodohan Luffy..." gumam Nami.

Telinga Zoro bergerak mendengarnya.

"Jangan sebut itu kebodohan, Nami. Ada kalanya seorang pria harus melakukan apa yang dia percayai dengan hatinya, bukan dari logika," kata Zoro tegas.

"Hmm... untuk kali ini, aku setuju sama marimo, Nami-san," Sanji menggaruk kepalanya, nggak bisa meng-counter pendapat Zoro walaupun berlawanan dengan sang pujaan hati.

"Benar! Luffy-san, walaupun kalah pun, kamu tetap keren!" kata Marguerite. Matanya berbinar.

"Eh-ehe..." Luffy tersenyum lebar dengan mata menyipit, malu karena dipuji seperti itu.

"... Luffy adalah seorang pria, huh? Heee~" Nami mengelus rambut Luffy dengan tersenyum manis. Sementara Usopp di sampingnya tersenyum usil, membuat Nami menamparnya, lalu membuang wajahnya yang memerah.

-o0o0o0o0o-

Tiga hari setelah even terakhir itu, hari pemilihan pun akhirnya tiba.

Sejak pagi-pagi benar, seisi OSIS generasi lama sibuk ke sana kemari dengan penuh semangat mempersiapkan segala sesuatunya. Setelah pemilihan ini berakhir, mereka bisa mewariskan posisi di OSIS ke para junior dan akhirnya menikmati masa SMU mereka dengan bebas tanpa embel-embel anggota OSIS. Sebenarnya agak sedih sih, 1 tahun kebersamaan mereka di OSIS telah menghasilkan suatu hubungan persaudaraan...

Tapi begitulah kehidupan… ada pertemuan dan perpisahan. Atau, begitulah kata Hawkins.

Yang jelas, pemungutan suara akan dilakukan selepas istirahat pagi.

"Jadi, inilah saatnya. Kamu sudah siap, Luffy?" tanya Nami, ikat kepala bertuliskan 'Coblos Nomor 2!' terpancang rapi di kepalanya. Semua anggota SH pagi itu memakai atribut yang sama: kaus sleveless merah dan celana biru. Pakaian sehari-hari yang khas dari calon dukungan mereka.

"Aah?" Luffy mendongakkan kepalanya, lalu menoleh kanan-kiri, menyadari kalau dia sekarang ada di tengah aula. Semua anggota tim sukses mengelilinginya dengan wajah khawatir karena dia tampak amat lelah.

Jelas saja, setelah kena jebakan yang diberi nama Usopp sebagai "Mana Burner", malamnya Luffy didudukkan kedua kakaknya dan dinasehati tentang cara mengatur Seifu. Mereka bahkan sukses membuat Luffy memperhatikan mereka dengan iming-iming traktiran di Baratie. Padahal kemenangannya masih belum pasti…

Akibatnya, Luffy yang ngantuk. Dan, itu lebih buruk daripada Luffy yang kelaparan, yang masih bisa disadarkan dengan aroma masakan Sanji.

"Bangunkan aku kalau sudah selesai," kata Luffy dan Zoro kompak.

Untuk Luffy, mereka maklum. Tapi tidak dengan marimo di sampingnya. Pukulan Nami pun melayang ke kepala hijau Zoro, membuka matanya seketika.

"Apa maumu, penyihir?!" kali ini entah kenapa Sanji diam saja mendengar "Nami-swan"nya diejek. Mungkin karena dia yakin Nami bisa membungkan Zoro tanpa meneteskan keringat.

"Kalau Luffy tertidur nggak apa-apa karena dia capek. Tapi, kau sebagai wakil ketua SH harus menyaksikan ini sampai akhir, baka marimo!"

"Nggak perlu. Kemenangan Luffy sudah dipastikan…" kata Zoro sambil menguap.

Semua anggota SH sweatdropped. Entah anak ini terlalu pede atau sangat percaya pada sang ketua, nggak ada yang tahu. Tapi Nami nggak mau berurusan dengan keegoisan Zoro sekarang, jadi dia menjewernya.

"Pokoknya, kau harus lihat."

"A-hey! Lepaskan!" kata Zoro dengan wajah memerah karena Sanji dan yang lain menertawakannya. Perasaan ini… mengingatkannya pada masa kecilnya. Dia sering dijewer Kuina untuk menghentikan pertengkaran mereka, dan itu membuat anak-anak dojo menertawainya. Mereka kemudian pulang dengan kepala benjol sih.

Tapi Nami… dia sudah seperti adik buat Zoro, dan dia menghargai itu.

Jika Kuina adalah kakak yang cerewet, maka Nami adalah adik yang penuh perhatian walaupun dia menunjukkannya dengan kasar. Zoro dan Nami adalah 2 anggota SH paling senior, bahkan bisa dibilang pendiri SH. Zoro sudah berteman dengan Luffy sejak kelas 1 SD sedangkan Nami bertemu mereka kelas 4 SD, setelah dia terpergok mencuri sesuatu dari toko kelontong Corvo dalam keterpaksaan.

Cerita untuk lain kali.

"… baiklah," Zoro menyerah. Tapi wajahnya masih tampak kesal.

Beberapa saat kemudian, pengumuman dibunyikan ke seluruh sekolah. Isinya meminta seluruh siswa menuju aula sekolah untuk persiapan pemilihan. Nggak sampai setengah jam, dengan dipimpin pak Newgate yang intimidatif, semua siswa sudah berkumpul… dan tanpa menunda lagi, pak Ray membuka event hari itu.

"Ya, selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita akan mengadakan pemilihan ketua OSIS. Kandidat tahun ini ada 2 orang: Monkey D. Luffy dr X-4 dan Eustass Kidd dari XI-5!" suara pak Ray hampir tenggelam di tengah teriakan dukungan untuk kedua kubu. "Harap diingat, dalam memilih nanti kalian sebaiknya juga memasukkan hasil kampanye, atau serangkaian game selama minggu lalu sebagai faktor elektabilitas."

Seisi aula jadi semakin berisik karena semua siswa langsung membicarakan even-even kemarin.

"Baiklah, tanpa ditunda lagi, saya persilahkan kandidat Eustass menyampaikan pidato untuk mengajak anak-anak memilihmu."

… apa?!

Kesunyian pekat menerpa kedua tim kandidat. Pidato?! Panitia nggak pernah menjelaskan soal ini sebelumnya! Bukannya kampanye sudah dilakukan dengan game?

Dan tentu aja, kekhawatiran terbesar dialami pihak Luffy. Siapapun di sana tahu betul betapa ngawurnya omongan Luffy... walaupun kadang-kadang dia bisa mengatakan sesuatu yang amat bagus, ujung-ujungnya selalu ke daging atau makanan secara umum. Kalau nggak, hal-hal lain yang terdengar bodoh dan amat kekanakan sehingga nggak bisa dianggap serius.

"Gawat," kata mereka kompak. Bahkan Zoro sampai membuka matanya lebar, menyadari situasi tiba-tiba memburuk.

"S-segera bangunkan Luffy untuk bersiap! Walaupun mepet, paling nggak kita bisa memberitahu dia apa yang boleh dikatakan dan apa yang nggak!" perintah Nami pada para cowok.

Sementara itu, nggak lama berdiskusi dengan timnya, Kidd sudah siap dan berjalan ke arah podium. Setelah berada di atas, dia menatap tajam ke para murid, membungkam mereka seketika. Bahkan SH yang tadinya panik segera memusatkan perhatian mereka.

Lalu, tanpa ekspresi ragu sedikitpun Kidd berkata, "… sekolah ini adalah yang terburuk."

"... ?!"

Seisi aula membelalakkan mata mereka. Seorang calon ketua OSIS menjelek-jelekkan sekolahnya sendiri?! Berani benar dia!

"Sebuah sekolah elit, di mana 4 kelompok besar, Yonko menguasai. Para murid hidup dalam sekat-sekat yang didirikan keempat kelompok itu. Gesekan antar kelompok sering terjadi dalam bentuk pertempuran bawah tanah yang brutal, menghasilkan kehancuran yang bahkan tak bisa dicegah para guru," Kidd melayangkan pandangannya kepada ketiga pemimpin Yonko: Boa Hancock dari Kuja, Marco dari Blanche, dan Buggy dari Shichibukai. "Tapi yang lebih parah, kalian sebagai para murid yang berpikiran lemah menerima saja keadaan ini. Jika kalian mengambil tindakan, kalian mungkin bisa mengubah kondisi sekolah ini, tanpa menyerahkannya pada OSIS yang sibuk dengan urusannya sendiri. Kalian nggak memenuhi kewajiban kalian sebagai murid untuk membuat sekolah ini jadi tempat yang lebih baik. Karena itulah, aku akan meruntuhkan sistem OSIS yang kurang efektif dan mengubahnya jadi Dewan Siswa!"

Seisi aula terdiam, mencerna perkataan Kidd sementara si pembicara mengambil napas.

"Aku juga akan membuang sistem pemilihan ketua melalui voting dan game nggak penting, yang menjadikan sekolah ini tempat di mana reputasi dan kemampuan individu adalah segala-galanya. Aku berharap akulah ketua OSIS terakhir yang terpilih melalui sistem ini, tapi biarlah voting ini menjadi wadah kalian mengutarakan pendapat. Aku ingin mendengar suara kalian semua, suara murid-murid yang membentuk komunitas keluarga besar Seifu, untuk menciptakan sebuah sekolah yang dicintai semua orang."

Kidd berdehem, menandakan akhir pidatonya. Lalu dia mengangkat tangannya.

"Viva la revolucion!"

-o0o0o0o0o-

"Pidato yang luar biasa," kata Robin, memecah kesunyian yang menerpa SH setelah Kidd turun dari podium. "Seperti yang kuharapkan dari anak-anak asuh pak Capone."

"Apa?!"

"M-mereka anak asuh pak Capone? Kenapa kamu baru memberitahu kami sekarang, Robin-neesan?! Kalau tahu mereka di back-up guru pembimbing OSIS, kita 'kan bisa membuat strategi untuk melawannya!" protes Nami.

"Kupikir ini informasi yang kurang penting. Kalaupun kalian tahu soal ini dari dulu, apa yang akan kalian lakukan? Melaporkan mereka ke pak Ray karena di back-up pak Capone? Percuma, semua senior di Seifu tahu tentang ini," kata Robin dengan wajah serius. "Sekarang sebaiknya kalian memikirkan bagaimana cara mengalahkan pidato Kidd."

"Benar. Anak itu berhasil menguak apa yang ada dalam hati para murid senior. Julukan sekolah elit yang ngaco, dan kenyataan yang sudah kita jalani selama ini," Sanji mengunyah tusuk giginya dengan kalut.

"Nggak ada yang bisa kita lakukan, kita hanya bisa berharap pada intuisi Luffy," kata Zoro, menunjuk sang ketua yang maju dengan sendirinya ke podium tanpa disadarkan teman-temannya. "Kalau dia sudah bergerak sendiri seperti itu, dia pasti punya sesuatu yang bagus."

"Eeeeh?! Kita belum selesai mendiskusikan materi pidatonya!"

"Sudahlah, Nami-san, kita percaya saja pada Luffy-san," Marguerite menahannya.

"T-tapi~!"

Gerakan Nami pun terhenti ketika Luffy mengetuk mic-nya, menandakan dia siap bicara. Seisi aula melayangkan pandangan mereka padanya…

"Aku nggak mengerti pidatomu tadi, Kidd!"

Hanya untuk dikejutkan oleh ucapan anak itu.

Seisi aula terjatuh komikal setelahnya, menciptakan gempa kecil. Tapi anak yang bertanggungjawab atas bencana itu cuma cengar-cengir di atas podium.

"Sebenarnya aku nggak tahu harus ngomong apa, karena pidato Kidd tadi kayaknya benar-benar keren walaupun aku nggak ngerti. Tapi, aku ingat, Ace dan Sabo pernah bilang kalau Seifu sekarang kacau. Tiap hari ada saja perkelahian dan guru-guru nggak tahu itu. Itu karena OSIS yang sekarang masih belum bisa mempersatukan anak-anak… dan aku nggak yakin, apakah aku bisa."

"Kok, kata-katanya bagus?" komentar Marco di bangku penonton.

"Lihat tangan kanannya," jawab Ace sambil nyengir.

Benar saja, di tangan kanan Luffy ada secarik kertas. Marco facepalmed.

"Jadi, pinjamkan kekuatan kalian padaku! Aku nggak bisa melakukan semuanya sekaligus, aku butuh bantuan orang lain. Aku nggak bisa pakai pedang, aku nggak tahu apa-apa soal peta, aku tak pernah berbohong, aku juga nggak bisa masak! Aku nggak tahu apa-apa soal ilmu pengobatan, aku bodoh, aku nggak paham soal mesin, aku nggak bisa bernyanyi, dan… aku juga nggak bisa memanah! Aku yakin, jika nggak ada teman-teman, aku nggak akan bisa bertahan di sini sampai sekarang. Aku nggak bisa melakukan apa-apa…"

Luffy menghela napas panjang, lalu merentangkan kedua tangannya ke udara dan berteriak.

"Tapi, aku bisa melakukan satu hal. Aku akan… mempersatukan Seifu!"

Ace dan Sabo nyaris melakukan standing ovation karena bagian terakhir itu adalah kata-kata Luffy sendiri. Tapi, mereka ditahan Marco dengan senyum pengertian.

Kidd juga tampak amat terhibur. Baginya, Luffy adalah lawan yang tepat untuk mewujudkan mimpi Supernova.

Sementara tim SH tampak tersentuh.

"Maju, Luffy!" teriak Nami dan yang lain.

"Begitulah seharusnya," komentar Sanji.

"Kalau kau sampai kalah setelah semua ini, akan kuhajar kau," kata Zoro.

"Aku akan mendukungmu dengan doa!" kata Usopp.

Setelah pidato itu, pemilihan pun dimulai…


A/N Corner

Oke. Tinggal 2 part lagi sebelum Chapter V, chapter paling aku tunggu.

Bersiaplah untuk pertumpahan darah di Seifu (akhirnya)!


Next in Two Schools, Two Worlds

"Ada kalanya ketua OSIS harus melindungi sekolah dari ancaman luar. Karena itu... tes terakhir kalian adalah tes kekuatan."