London Gossip
Rated : M
By : CountessCaroline
Disclamair : Harry potter punya J.K Rowling. Gossip series punya CW TV sedangkan Novelnya oleh Cecily von Ziegesar.
A/N : Hey... Hey...Hey... Kembali lagi. Kuharap kalian senang aku update.
Ha ha ha seminggu kemaren entah kenapa menurutku menyenangkan banget. Pokoknya super duper menyenangkan dan semakin luar biasa menyenangkan ketika akhirnya SISTAR COMEBACK dengan SHAKE IT mereka. AAAAAA... Aku dan S udah histeris sampai kehabisan suara. SISTAR adalah girlband favorite kami. Always. Dari awal muncul dulu, sekarang, dan nanti deh pokoknya hehehe. Ah saking senangnya aku nelantarin ch 25 ini, jadi maaf bila kelamaan update. Tapi mau bagaimana lagi? SISTAR mengguncang kami. BORA EONNI, HYOLYN EONNI, SOYOU EONNI, DASOM EONNI SARANGHAE!
(BTW BAGI YG GAK SUKA SISTAR ENGGAK USAH NGE-FLAME KEHOBAHANKU YG LEBAY DAN NORAK INI YA. AKU SAMA SEKALI GAK NIAT NGAJAK FANWAR KOK. AKU BENCI FANWAR DAN DAMAI ITU JAUH LEBIH INDAH MENURUTKU. SO PEACE GUYS)
NGOMONG-NGOMONG ini adalah chapter 25 dan itu artinya tak lama lagi LG akan tamat. Oleh sebab itu aku berharap kalian semua masih mau membaca dan merivew.
Untuk yang telah tetap setia membaca LG aku selalu ingin bilang makasih banyak. Termasuk untuk yang bersedia merivew, menjawab pertanyaan yang kuberikan, mem-follow, dan yang menyukai LG. Sekali lagi aku dan S ucapkan makasih.
So akhir kata, kuucapkan selamat membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Kalian tahu bahwa aku dan S sayang kalian...
Chapter 25
Trouble
Hermione berlari secepat yang ia bisa. Napasnya berburu, ia seakan kehabisan pasokan oksigen. Akal pikirannya menghilang. Satu yang sekarang ia pikirkan adalah menyelamatkan Draco. Ia tak sanggup lagi untuk berpikir menaiki taksi ataupun kendaraan umum lainnya. Rasanya ia hanya ingin berlari secepat mungkin. Hari benar-benar telah gelap dan juga terasa semakin dingin. Hermione bahkan dapat melihat dengan jelas uap yang ia buat tiap kali napasnya berhembus. Salju turun menemani tiap langkah-langkah kakinya. Tinggal beberapa blok lagi sebelum ia tiba ditempat yang dimaksud yaitu :
Gedung lama milik keluarga Riddle.
Hermione menghentikan larinya dan mendongak menatap gedung lama yang terlihat setengah terbakar itu. Ia menatap ragu. Gedungnya terlihat menyeramkan. Suasana sekitar pun sama sekali tidak membantu. Sangat sepi dan Hermione yakin sekali bahwa jarang orang yang akan lewat. Lampu-lampu jalan menyala dengan redup. Itu semakin membuat Hermione ragu. Bahkan tak ada tanda-tanda ada orang didalam gedung berlantai lima itu.
Hermione menghela napasnya. Benarkah Draco didalam sana? Atau ini hanya akal-akalan Lucius?
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari atas. Tawa seorang pria. Hermione kembali mendonggak keatas. Ia memincingkan kedua matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ia dapat melihat dipuncak gedung itu ada seseorang. Keraguan Hermione menghilang.
"Miss Granger?" Suara tawa itu menghilang dan digantikan dengan teriakan bertanya. "Itu kau?"
Hermione menelan ludahnya. Keraguannya memang menghilang namun sialnya sekarang ia merasa gugup. "Iya ini aku" Sahut Hermione dengan berteriak juga.
Sosok itu tertawa. Hermione menatap penuh benci. Ia yakin sekali itu Lucius. Hermione sangat kenal dengan suaranya. "Naiklah! Kenapa kau diam begitu? Apa kau tak berniat menyelamatkan pria yang kau cintai? Jangan bilang kau berubah pikiran, dear! Ini menjadi tidak menarik"
Kedua tangan Hermione terkepal kuat. "Tunjukkan aku dulu Draco dan aku akan naik"
Lucius tertawa terbahak-bakah mendegarnya. "Kau tidak percaya padaku?"
"Kau bukan orang yang patut dipercayai"
Lucius mendegus. " Aku tak yakin apa kau mau melihat wajahnya yang babak belur"
"Kau..." Hermione terdengar marah. " Aku sudah katakan padamu untuk..."
Lucius menyela. "Bukankah katamu aku bukan orang yang patut kau percayai Miss Granger? Lalu mengapa kau percaya aku tidak akan memukulinya?"
"Bagaimana bisa kau..."
Lagi-lagi ucapan Hermione harus terpotong oleh Lucius. "Kau tak perlu repot-repot untuk memakiku Miss Granger. Aku tak butuh itu." Lucius mendengus dan melihat kebelakangnya. "Greyback sepertinya Miss Granger kita ini tidak percaya kekasihnya disini, bisa kau membuatnya percaya?" Teriak Lucius dengan keras bermaksud membuat Hermione mendengarnya.
Tak berapa lama setelah itu, Hermione dapat mendegar suara teriakan dan rintihan kesakitan seseorang. Dari suaranya Hermione tau betul itu suara Draco. Bagai kehilangan pikiran, Hermione berlari masuk kedalam. Ia menaiki tangga-tangga rapuh itu dengan kecepatan yang bisa dibilang luar biasa. Ia membuka pintu terakhir dilantai lima dengan suara yang keras. Napasnya ngos-ngosan tak beraturan. Ia dapat melihat Lucius, Greyback, dan beberapa anak buah lainnya. Tapi ada yang kurang.
Dimana Draco?
Kening Hermione berkerut. Ia melangkah lebih dekat. Angin langsung berhembus dan salju masih turun. Hermione merapatkan mantelnya. Ia menahan rasa dinginnya dan terus berjalan.
"Dimana Draco?" Tanyanya ketika berhenti dalam posisi berdiri sekitar satu meter dari Lucius kini berdiri.
Lucius menyeringai menyebalkan. Terdengar pintu dibelakang Hermione tertutup dengan suara keras. Hermione seketika menoleh kebelakang karena terkejut. Namun itu justru membuat Greyback menahannya dan menutup mulutnya. Dengan kasar ia menyeret paksa tubuh Hermione dan mendudukkannya pada sebuah kursi kayu. Hermione memberontak. Ia menendang-nendang kesegala arah tetapi itu sepertinya sia-sia. Ia kalah jumlah dan ia hanya wanita.
Apalah arti tenaga wanita dibanding pria?
Tubuh Hermione diikat dengan tali dalam lilitan yang keras dan kencang. Hermione semakin sulit untuk menggerakkan badannya. Lagipula Hermione ragu apakah darahnya dapat mengalir dengan lancar apabila diikat sekencang ini?
Lucius tertawa dengan kegembiraan yang meluap-luap melihat Hermione terduduk dengan terikat tanpa perlawanan seperti itu. "Oh ya ampun! Lihatlah dirimu!" Lucius menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku sangat penasaran sekali bagaiman reaksi putra bodohku itu jika melihatmu seperti ini Miss Granger"
"Apa maksudmu?" Hermione bertanya ngeri. Sekarang ia diam-diam merasa takut.
Lucius melangkah mendekat dengan ekspresi menyebalkan. Ia berdiri didepan Hermione. Ia menyentuh dagu Hermione dan Hermione sendiri segera mengelak. Ia memalingkan wajahnya, benar-benar merasa jijik dengan sentuhan tersebut. Rahang Lucius mengeras. Ia kembali menyentuh dagu Hermione, kali ini dengan cengkraman yang kuat bermaksud membuat Hermione menatapnya. "Dengarkan aku baik-baik Miss Granger! Maksudku barusan kau benar-benar kelewat tolol mempercayai Draco ada disini. Kenyataanya dia tak ada disini"
Lucius melepaskan pegangannya pada dagu Hermione. Pria berambut pirang platina yang dikucir itu menyeringai. "Cinta memang butakan? Buktinya kau bahkan langsung dengan mudahnya percaya itu suara Draco. Demi merlin..." Lucius kembali menggelengkan kepalanya dan berdecap. "Ck...Ck...Ck...itu hanya rekaman Sweetheart" Lucius mengeluarkan handphone dari saku mantel hitamnya. Ia menyentuh layar handphone tersebut dan terdengar kembali suara jeritan dan rintihan kesakitan Draco.
Lucius tersenyum penuh kemenangan dan kegembiraan. Ia mematikan rekaman itu. "Merasa menyesal karena telah mempercayaiku heh?" Tanya Lucius seratus persen bermaksud menyindir Hermione yang kala itu memejamkan kedua matanya.
Hermione membuka kembali matanya dan langsung memberikan tatapan penuh kebencian pada Lucius. Ia meludahinya tepat pada wajah arogan tersebut. "Aku mencintai Draco dan kupastikan aku tidak akan menyesal"
Lucius tertawa dan dengan santai ia mengelap ludah Hermione di wajahnya. "Meludahi seseorang bukanlah suatu tindakan yang sopan Miss Granger. Itu bukanlah hal yang dilakukan seorang lady"
Hermione mendegus mendengarnya. "Bagiku kau bukanlah orang yang pantas diperlakukan dengan sopan. Kau benar-benar iblis keparat yang tak pantas berada di hidup Draco, kau tau itu heh?"
"Jaga bicaramu!" Lucius membentak dan menampar dengan sangat keras salah satu pipi Hermione. Bunyi tamparan terdengar dan pipi Hermione tersebut memerah dengan telapak tangan Lucius sebagai tandanya. "Sudah kubilang aku tak butuh pujianmu! Jika sekali lagi kau mengatakannya, aku menjamin kau akan merasakan tamparan yang jauh lebih keras mengenai pipimu yang satu lagi Miss Granger. Jangan buat aku sampai melakukannya!"
"..." Hermione diam saja. Ia muak untuk berkomentar.
"Gadis pintar" Lucius tersenyum melihat Hermione hanya menatapnya tajam. "Kita langsung saja pada intinya Miss Granger. Sudah waktunya mengabari pacarmu bahwa kau ada disinikan?"
Lucius menekan kembali layar handphonnya. Terdengar nada panggilan. Belum ada sama jawaban. Draco belum mengangkatnya. Lucius mendegus kesal. "Kemana anak itu? Apa dia belum juga tiba diapartemennya?" Lucius melirik Greyback yang berdiri tak jauh didekatnya.
Greyback menunduk hormat. "Anak buahku sudah melaporkan tuan Draco telah berada di apartemennya" Ucapnya seakan mengerti maksud tatapan dari Lucius barusan.
"Lalu kenapa?"
"Mungkin kerena..."
"Hallo?" Panggilan itu terangkat. Hermione seketika berubah panik.
Oh no no no no... Draco tak boleh kemari. Hermione semakin meresa ketakutan.
"Oh akhirnya" Ucap Lucius senang. "Kenapa lama sekali son? Apa kau terlalu sibuk menunggu Granger heh?"
"Kau..." Draco terdengar kesulitan untuk berkata-kata.
Si iblis Lucius tertawa mendengar reaksi Draco tersebut. "Oh ya benar sekali. Dia bersamaku. Kau mau mendengar suaranya?" Lucius menyodorkan handphone itu tepat ke Hermione. "Ayo bicaralah sweetheart!"
Hermione menggeleng. Air matanya yang muncul turun begitu saja. Wajah perlahan-lahan dibasahi dengan air mata. Ia menahan isakannya dan tetap menutup mulutnya rapat-rapat. "Bicaralah sialan!" Lucius menjambak rambut Hermione. Wanita itu sampai harus mendonggak tertarik kebelakang. Hermione tetap diam. Namun air matanya semakin banyak yang keluar. Ia menggigit bibinya dengan keras seiring tarikan tangan Lucius pada rambutnya.
"Oh ayolah!" Untuk kedua kalinya Lucius menampar Hermione. Kini kedua pipinya memerah namun pendiriannya begitu kokoh. Dia tetap menutup rapat mulutnya.
"Benar-benar menyusahkan"Lucius menghembuskan napasnya dengan kesal. "Greyback!" Ia berteriak memanggil. "Ukir kata mudblood disalah satu tangannya. Buat dia berteriak kesakitan"
"Tapi..."
"Cepat idiot!"
Greyback menurut. Ia menghampiri Hermione dan melonggarkan ikatan itu. Ia membebaskan salah satu tangan Hermione dan memerintahkan amak buahnya yang berjumlah lima orang disana itu menahan kaki Hermione serta mengencangkan kembali ikatan pada tubuh Hermione.
Sebuah pisau lipat yang selalu berada di saku jasnya Greyback keluarkan. Itu pisau yang terlihat tajam. Hermione menggeliat memberontak. Ia menendang-nendang kakinya, menggerakkan tangan dan juga kepalanya tetapi seperti sebelumnya itu hanya menjadi sia-sia. Tubuh Hermione tertahan sepenuhnya dengan kelima anak buah Greyback.
Hermione menggigit semakin keras pada bibirnya ketika mata pisau itu menggorekan suatu huruf di lengannya. Darahnya mengalir ditiap goresan. Rasanya begitu sakit dan pedih. Apalagi ketika angin berhembus. Hermione merintih begitu pelan di tengah isakkannya. Draco tidak boleh sampai kemari.
"Love?" Terdengar suara Draco memanggil dari handphone tersebut. Hermione hanya menggeleng. Ia memang menangis dan kesakitan tetapi ia menelan itu bulat-bulat dengan tetap menutup rapat-rapat mulutnya.
"Bicaralah sialan! Kau tak mau kekasihmu menolongmu heh?" Ucap Lucius semakin tak sabar. "Tekan dalam-dalam Greyback!"
Greyback menekan lebih dalam dengan sengaja. Siapapun sontak akan berteriak, termasuk Hermione. Seakan semua belum usai, Greyback tetap melanjutkan. Wajahnya begitu tenang walau melihat betapa kesakitannya Hermione.
"Sialan dimana kau brengsek?" Tanya Draco dengan amarah yang sangat terdengar jelas.
Oh tidak.
"Jangan Malfoy! Kumohon jangan kemari... A..Aku...aowwwwwww nggggh..." Hermione kembali berteriak kesakitan ketika Lucius mencengkram kuat lengannya tersebut.
"Kau dengar itukan? Dia bersamaku Draco. Aku tak berbohong"
"KATAKAN SAJA DIMANA KAU SIALAN?"
Lucius terkekeh. "'Keselamatan Granger yang kau cintai ini berada di tanganku son. Aku bisa membunuhnya sekarang juga jika kumau"
"FUCK DIMANA KAU?"
"Tenanglah! Aku belum membunuhnya. Ia masih bernapas dan jantungnya masih berdetak. Mungkin hanya sedikit lecet, tapi tak apalah. Dia perlu diberi sedikit pelajaran."
"JANGAN BANYAK OMONG! KATAKAN SAJA APA YANG KAU MAU?"
Lucius terkekeh. "Sederhana sebenarnya, Aku hanya mau barter. Kau serahlan bukti itu dan aku akan menyerahkan Grangermu ini. Mudah bukan?"
"Baiklah!"
"NO MALFOY!" Teriak Hermione sekencangnya. "INI JEBAKAN"
Lucius mendengus melihatnya. "Tutup mulut berisiknya itu Greyback!"
Mulut Hermione tertutup dengan sebuah sapu tangan oleh Greyback. Hermione terisak tertahan. Ukiran mudblood ditangannya sudah terukir dengan sempurna. Darahnya terus mengalir dan jika terus seperti itu, ia bisa kehabisan darah.
"Katakan dimana kau?" Suara Draco terdengar pelan kali ini.
"Aku berada di gedung lama Rddle. Kau tau itukan?"
"..." Draco tak menyahuti.
"Pastikan jangan menusukku dari belakang son. Aku akan segera tau jika kau membuat rencana lain untuk melawanku. Aku pastikan Granger mu akan berhenti bernapas jika kau berani melakukan itu. Jangan juga repot-repot memanggil polisi dalam permasalahan keluarga kita ini. Apa kau paham?"
"Baiklah"
Dan itulah akhir pembincaraan tersebut. Lucius tersenyum senang. Ia langsung mengelus wajah Hermione dan membuat wajah cantik itu tercoreng dengan darah.
"Tersenyumlah Dear, pahlawanmu akan datang kemari. Tak lama lagi kau akan mati bersamanya bagaikan romeo dan juliet. Akhir cerita yang romantis bukan?" Lucius tertawa senang saat itu juga. Raut wajahnya begitu gembira. "Kau tak perlu berterimakasih untuk itu sweetheart. Aku dengan senang hati melakukannya untukmu"
000
"Cepat sekali heh?" Tanya Lucius ketika Draco telah berdiri tak jauh dari depannya. "Kau kemari dengan kesetanan?"
Draco menatap Hermione. Kedua matanya memandang dengan perasaan sedih yang bercampur dengan penyesalan. Hermione yang masih menangis, menggelengkan kepalanya dengan pelan seolah memberitahu Draco untuk tidak menyerahkan bukti itu. Mulutnya masih tersumpal dengan gulungan saputangan milik Greyback. Ia tidak bisa berkata apa-apa selain sebuah gelengan kepala.
Draco mengalihkan tatapannya. Kedua tangannya terkepal kuat ketika menatap Lucius. "Lepaskan dia!"
Lucius hanya tersenyum. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dan berjalan dengan santai disekitar Hermione yang duduk terikat. Terlihat sekali ia berusaha memainkan Draco. "Kenapa harus terburu-buru heh? Ayo kita saling bicara dulu"
"Jangan mempermainkan aku. Lepaskan Granger dan aku akan menyerahkan barang buktinya" Draco mengeluarkan sebuah amplop dari saku mantelnya. Ia melemparnya kebawah begitu saja.
Lucius hanya tersenyum tipis sebagai respon. Ia sama sekali tak mempedulikan Draco. "Kau tau Draco begitu banyak yang kuharapkan darimu. Aku berusaha keras untuk menjadikanmu melebihi diriku tapi..." Lucius mendadak berhenti, ia menatap Draco dan terkekeh. "Kau bahkan tak bisa menjadi sepertiku, apalagi untuk melebihiku. Kau terlalu lemah dengan semua perasaanmu itu. Sudah pernah kukatakan padamu untuk dapat berhasil didunia kejam ini, kau pun harus sama kejamnya. Buanglah semua perasaanmu dan jadilah kuat. Pria tak butuh perasaan. Khususnya cinta. Cinta hanya akan membuatmu lemah. Lihatlah dirimu sekarang ini! Kau tak berdaya didepanku karena hanya Granger ini? Cih mengejutkan sekali"
"Bisa kau lepaskan saja dia. Ini masalah kita, kumohon jangan libatkan Granger!" Draco menunduk. Ia sepenuhnya menyerah.
Lucius mendengus kesal sekaligus jijik mendengar permohonan itu. Ia selalu benci jika putranya itu terlihat memalukan dengan memohon seperti sekarang ini. "Lihatlah Granger dear! Lagi-lagi kau berhasil membuat putraku memohon heh? Apa kau puas membuatnya terlihat lemah?" Lucius menyentuh dagu Hermione dengan kencang.
"KENAPA KAU TIDAK LEPASKAN SAJA DIA?" Draco membentak membuat Lucius melepaskan dagu Hermione dengan tertawa.
"Nah ini baru Draco malfoy yang kukenal"
Rahang Draco mengeras. "Aku bukanlah pria yang lemah seperti yang kau pikirkan. Aku bisa melebihi dirimu dengan caraku sendiri tanpa aku harus menjadi dirimu"
"Yang benar saja!"
"Aku bisa membuktikannya"
"Sayangnya aku tak butuh pembuktian son. Aku sudah muak denganmu. Lagipula setelah kupikir-pikir aku tak butuh seorang putra. Semua yang kudapat sekarang ini adalah berkat jerih payahku sendiri, buat apa aku harus menyerahkannya padamu suatu hari nanti heh?"
"Jerih payah katamu!" Suara Draco bergetar marah. Ayahnya semakin terlihat menjijikkan dimatanya.
"Iya jerih payahku"Sahut Lucius dengan penekanan.
"Dengan cara menjijikan seperti itu kau sebut jerih payah?" Suara Draco mengeras dua kali lipat dari sebelumnya.
"Itu sebuah bukti bahwa aku serius dengan apa yang kukerjakan. Aku akan lakukan apa saja. Dan tak akan segan-segan untuk menghancurkan semua penghalang. Termasuk membunuh. Aku bangga dengan itu. Buktinya kini gedung Riddle ini berhasil kubuat menjadi sampah yang tak berguna. Kuhancurkan semua keluarganya satu persatu dengan cara yang siapapun tidak pernah pikirkan sebelumnya. Itulah jerih payahku untuk membuat Malfoy corps seperti sekarang ini. Kejam memang, namun dunia yang kita tinggali ini jauh lebih kejam. Orang lemah seperti mu akan binasa, aku akan buktikan itu sekarang juga." Lucius menatap kelima anak buah yang dibawa Greyback. "Bisa kalian atasi putraku itu?"
Kelimanya berjalan kearah Draco. Salah seorang dengan cepatnya mengepalkan tangannya dan langsung menyerang, memberikan sebuah tinjuan yang begtu mudahnya Draco tangkis. Dalam kecepatan yang ia miliki Draco justru menangkap tangan pemukul itu, memutarnya tanpa ragu dan membalik keadaan. Tangan pengawal itu pasti patah. Bunyinya cukup terdengar. Sedangkan sisanya berbondong-bondong menyerang secara bersamaan. Draco dengan kemarahan yang meluap-luap dalam dirinya menggunakan tubuh orang yang ia tahan itu untuk menghalau semua pukulan. Ia mendorongnya kuat dan membuat dua orang termasuk pengawal yang pertama memukulnya itu terjatuh. Sisa dua orang lagi, salah satunya menerjang langsung dengan begitu bodohnya. Harusnya ia tau itu akan percuma. Siapapun dapat melihat kemampuan Draco diatas mereka semua. Lucius tersenyum melihatnya. Ia sengaja mencoba bermain-main.
Pengawal keempat itu terjatuh. Sisa satu lagi dan dia memutuskan menyerang Draco saat itu juga dari belakang. Dia sudah pasti sama bodohnya dengan yang lain. Draco tentu menyadari keberadaannya dan telah bersiap ketika pengawal terakhir itu berniat menyerangnya. Dengan tendangan berputar yang mendadak ia lakukan, Draco berhasil menendang pengawal tersebut. Pertarungan yang tidak seimbang sebenarnya. Kelima pengawal itu terjatuh dan meringis kesakitan. Rasanya untuk bangkit berdiri pasti akan sangat sakit sekali. Tentu tulang mereka setidaknya ada yang patah.
Draco berjalan mendekat kearah kelimanya. "Pergi sekarang juga!"
"Maafkan kami tuan Draco, kami hanya..."
"PERGI!" Draco membentak. Ia tau itu memang percuma. Ayahnya pasti akan segera mengambil nyawa kelima orang tak berguna itu. Tentu sepenuhnya bermaksud menghilangkan saksi yang lebih banyak lagi. "Bukan di tanganku kalian akan mati. Pergilah!"
Kelimanya menurut dengan kesakitan. Langkah-langkah mereka terseret-seret pelan. Bangkit berdiri dan berjalan menjadi suatu penderitaan saat itu juga bagi mereka berlima. Tapi itu harus dilakukan.
Lucius tertawa seolah itu adalah hiburan. Untuk beberapa saat ia bertepuk tangan. "Rupanya kau memiliki bakat yang luar biasa dalam berkelahi. Well aku terkejut son."
"Aku bahkan bisa membunuhmu"
"Tapi sayangnya tidak semudah itu. Tadi hanya permainan Draco" Lucius mendengus. "Ini baru dimulai" Ia menganggukan singkat pada Greyback. "Habisi dia!"
Greyback membuka jas hitamnya dan melemparnya begitu saja. Ia melonggarkan dasinya dan menatap Draco. Ia berdiri sekitar satu meter. Draco ikut membuka mantelnya dan menggulung lengan kemeja putihnya. Ia menatap sama seriusnya pada Greyback dengan sekali waktu menoleh pada Hermione yang semakin menangis. Kini bahkan kekasihnya itu menggeliat memberontak dari lilitan ikatan tali yang mengikatnya.
"Mmmpppp...Emmmmppp...mmmm..." Hermione bergumam tak jelas dengan menggeleng kuat-kuat kepada Draco.
Greyback ikut menoleh kearah Hermione. Ia juga langsung menatap Draco. Untuk sesaat ia bergantian menatap kedua orang itu. Greyback menghela napasnya. Ini tidak benar.
"Apa yang kau lakukan Greyback? Ini bukan waktunya bermain-main lagi. Serang dia keparat!" Ucap Lucius tidak sabar sama sekali.
Greyback membalikkan badannya. Ia menatap Lucius. "Setidaknya bisakah anda melepaskan Miss Granger?"
Lucius menatap terkejut. Pria berkucir itu tertawa tidak menyangka. "Apa-apaan kau heh? Kemana pikiranmu sialan?"
"Aku tidak akan melakukannya jika anda tidak melepaskan Miss Granger"
"Kau berani mengancamku?"
"Aku bukan mengancam. Itu hanya syarat yang kuminta Tuan"
Lucius terkekeh kesal. Sulit mempercayai Greyback yang begitu loyal padanya kini mulai bertingkah. "Aku akan melepaskannya dan aku mau kau langsung menembak putra sialanku itu, kau mengerti heh?" Lucius berjalan kearah Hermione. Ia membuka sapu tangan yang menyumpal mulut Hermione. Greyback mengambil pistol tersembunyi dibelakang kemejanya.
"Jangan!" Jerit Hermione begitu saja ketika mulutnya telah terbuka. "Jangan bunuh Draco kumohon"
Lucius terkekeh. "Nikmati saja pertunjukkannya dear. Ditembak lebih baik dibanding aku memancungnya didepanmu bukan?" Ucap Lucius ketika berusaha membuka ikatan Hermione. Pria itu benar-benar sadis. Dia bukan manusia. Dia iblis segala iblis.
"Diamlah Granger!" Ucap Draco lagi-lagi menatap Hermione dengan rasa bersalah. "Jangan mempersulit keadaan"
Hermione semakin menangis. "Draco kumohon jangan lakukan ini untukku"
"Apa lagi yang harus kulakukan heh? Sudah kubilang keselamatanmu yang terpenting untukku"
"Kau begitu saja percaya pada iblis ini?"
Lucius tertawa senang. "Lagi-lagi kau memujiku Miss Granger. Rasanya aku ingin sekali menamparmu atau mungkin menjahit bibir menggodamu itu. Benar-benar kau ini wanita sialan. Ayo berdirilah!" Lucius dengan kasar mendirikan Hermione. Salah satu tangan gadis itu masih mengalirkan darah akibat sebuah ukiran kata mudblood yang baru saja didapatkannya. Wajahnya sudah pucat dan ia terlihat makin kacau.
"Ayo Greyback tunggu apa lagi?"
Greyback mengarahkan pistolnya tepat kearah kepala Draco. Bisa dibilang itu pasti akan langsung mengenai kepala Draco, mengingat betapa ahlinya Greyback menembak. Tidak peduli dekat atau jauh jaraknya. Greyback menoleh kearah Draco. "Mau mengatakan sesuatu tuan Draco?"
Lucius mendengus. Ia akan memberikan pelajaran pada Greyback karena tidak mendengarnya dan justru membuang-buang waktu seperti ini.
Draco menatap Hermione. "Kau akan selamat Granger. Jalani hidupmu dengan baik dan berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja"
"Enggak akan Malfoy" Isak Hermione. "Kau pikir akan semudah itu heh?"
"Lupakan aku Granger."
"Oh ayolah" Geram Lucius sudah muak. " Mau sampai kapan lagi kita mendengar omong kosong ini heh Greyback? Tembak dia sialan!"
Greyback menghela napasnya. Ia menatap Draco. "Maaf" Ucapnya disertai dengan suara tembakkan.
"Jangan kumohoooooon..." Hermione berlari seketika itu juga. Jantungnya seakan berhenti ketika mendengar suara tembakkan dan bau mesiu. Ia terus memejamkan matanya dan tak berani membuka matanya. Kenyataanya ia terlambat. "Malfoy" Isaknya belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh shit aaaahhh..." Hermione bisa mendengar suara teriakan kesakitan Lucius. Kening Hermione mengerut. "Brengsek apa yang kau lakukan?"
"Hanya menembak tepat dikaki kananmu" Terdengar suara Greyback menyahuti dengan suara yang begitu datar.
Hermione memutuskan membuka matanya. Dia dapat melihat Draco berlari kearahnya dan langsung memeluknya. "Oh demi apapun ini kau kan?" Tanya Hermione yang saat itu juga membalas pelukkan Draco.
"Iya ini aku Granger" Draco menciumi ubun-ubun Hermione. Ia juga membelai rambut cokelat wanitanya tersebut.
"Kau mencari mati denganku heh keparat?" Lucius yang awalnya terjatuh kesakitan kini bangkit berdiri. Ia merinngis merasakan luka tembak itu. "Ini balas budimu padaku?"
"Aku bisa saja langsung menembak tepat kejantungmu jika kumau"
"Lagi-lagi kau mengancamku"
"Maaf bila anda tidak suka. Tapi aku tak bisa membiarkan anda membunuh putra anda sendiri Aku terikat janji dengan Narcissa"
"Kalau begitu mati saja kau bersamanya sialan!" Teriak Lucius bersamaan dengan suara tembakkan yang bertubi-tubi. Rupanya ia juga memiliki pistol yang sejak tadi dia sembunyikan. Ia menembak dengan membabi buta. Sekali lagi Lucius membuktikan bahwa ia bukanlah manusia. Dia jutru terkekeh senang melihat Greyback terbaring dikelilingi darah yang mulai mengalir. Hermione menoleh kaget. Ia berteriak histeris melihat apa yang telah terjadi.
Itu sebenarnya tindakan salah. Lucius yang menggila itu menatap kearah mereka. Dia lantas mengarahkan pistolnya tepat kearah mereka berdua. Oh no... Hermione sama sekali tidak menyadari itu. Kedua matanya masih menatap ngeri akan kematian Greyback.
Suara tembakan kembali terdengar.
Akal pikiran Hermione menghilang. Tak ada jeritan seperti barusan. Ia terdiam terpaku menatap Draco yang tiba-tiba sudah memeluknya kembali. Wajahnya makin memucat. "Malfoy?"
Draco yang memejamkan matanya itu lalu membuka matanya secara perlahan. Kedua mata abu-abu itu menatap Hermione dengan lembut. Ia tersenyum. "Kau baik-baik saja?"
Hermione hanya mengangguk dalam keterkejutannya. Tangisannya sudah mengering. Ia tidak yakin air matanya dapat keluar kembali betapapun rasanya ia ingin menangis mengetahui Draco baru saja melindunginya. Kedua mata hazel itu membalas tatapan Draco. Bibirnya bergetar ketika ia juga memeluk Draco. Kedua tangannya bergerak pelan, mencoba merasakan dimana letak luka tembak itu. Kedua tangan Hermione meranjak naik dan langsung terdiam disaat ia dapat merasakan luka tembak tersebut.
"Maafkan aku" Ucap Hermione ketika merasakan luka tembak itu berada di punggung sisi kanan atas Draco. Darah pun mulai mengalir keluar, membasahi bagian belakang kemeja putih yang Draco kenakan.
"Granger..." Draco berusaha berbicara.
Hermione justru menyela."Aku tidak berguna bukan?"
"Aku baik-baik saja sungguh"
Lucius mendengus mendengarnya. Ia berjalan terpincang-pincang dengan kemarahan yang sangat besar. "Aku akan buat kau tidak baik-baik saja. Kemarilah brengsek!"Geramnya sambil menarik Draco dari Hermione. Ia mendorong Hermione begitu saja hingga terjatuh dan dia mencengkram leher Draco dari belakang dan menyeretnya dengan kekasaran dan kekejaman yang ia miliki. "Kau merindukan ibumu bukan? Aku jamin ia akan senang jika kau menemaninya di nerakan sana Draco. Kupastikan kau akan kubunuh dengan cepat. Sampaikan juga salamku buat ibumu. "
"Malfoy!"
000
Harry menatap kepergian Hermione dengan kening yang berkerut. Alisnya menyatu menandakan ia bertanya-tanya mau kemanakah Hermione? Wanita itu mendadak pergi begitu saja dengan berlari secepat kilat.
"Granger" Harry berteriak memanggil namun percuma. Hermione sama sekali tidak menoleh. Harry melihat handphone Hermione yang terjatuh, ia berjalan mendekat mengambil handphone tersebut. Harry menyentuh layarnya dan muncul nama My lovely Malfoy dalam laporan panggilan masuk. Harry mendengus sambil menggeleng tak percaya bahwa Hermione dapat membuat panggilan sayang seperti itu terhadap Draco.
Begitu cintakah Granger pada Malfoy? Apa yang sebenarnya dia lihat dari Malfoy? Pria itu bahkan playboy yang akan segera bertunangan. Dimana sebenarnya otak Granger? Oh. Shit ini gila...
Harry buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia enggak abis pikir kenapa juga terbesit pertanyaan tersebut di otaknya dan ada apa dengan perasaan sedih bercampur amarah yang tiba-tiba muncul ini? Aneh sekali. Harry kembali mendongak menatap kepergian Hermione. Wanita itu telah menghilang. Larinya benar-benar cepat. Harry menghela napasnya melihat itu. Salju telah turun dan malam tentunya semakin dingin. Harry merasa ingin segera pulang, tetapi melihat koper dan handphone Hermione yang bersamanya membuat Harry menghela napasnya. Kali ini dengan kekesalan.
Bagaimana bisa Hermione selalu saja menyusahkannya? Bagi Harry Hermione adalah wanita teratas dalam daftarnya mengenai orang-orang yang selalu menganggu kehidupannya. Hari ini bahkan semakin menyebalkan saja ketika perasaaan aneh yang timbul padanya menganggu pikirannya. Ia seolah diperintahkan untuk mengejar Hermione. Ada firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Entahlah apa? Harry belum yakin. Ia lantas menyentuh kembali layar Handphone Hermione. Ia menatap serius nama Draco yang muncul tersebut.
Ini terasa aneh di mata Harry. Draco sepertinya memang menelepon Hermione dan itu pastinya membuat Hermione senang sehingga buru-buru pergi. Pemikiran yang cukup logis, namun tetap saja aneh ketika harus meninggalkan koper bahkan menjatuhkan handphone begitu saja. Harry menyadari itu. Ia semakin yakin ada sesuatu hal yang buruk sehingga Hermione berlari dengan kesetanan. Dengan rasa khawatir yang muncul, Harry mengutak-atik handphone Hermione. Pertama ia setidaknya harus tau kemana perginya Hermione, dan ia bisa segera pergi menyusulnya.
Ia yakin Hermione menemui Draco, jadi ini akan lebih mudah jika Harry dapat melacak handphone Draco menggunakan handphopne Hermione. Ia sangat yakin handphone Hermione dan Draco saling terhubung dengan GPS.
"Gotcha!" Harry memekik senang. Ia berhasil menemukan lokasinya. Keningnya berkerut. "Gedung Riddle?" Tanyanya dengan keheranan. "Aneh sekali Granger dan Malfoy menggunakan gedung menyeramkan itu sebagai tempat kencan. Ini benar-benar tak wajar. Pasti ada sesuatu."
Harry menghembuskan napasnya memikirkan hal tersebut. Ia segera memasukkan handphone Hermione kedalam saku mantelnya sambil mendonggak menatap langit malam. Butiran salju turun mengenai wajahnya. Terasa dingin memang namun setidaknya cukup membantu Harry membuat keputusan.
000
Astoria berjalan dengan tersenyum yang menghiasi wajahnya. Sudah jarang sekali ia dapat tersenyum tulus penuh keceriaan seperti itu. Perasaan lega dan tanpa beban sepertinya cukup memberi efek yang bagus untuknya. Kepala keamanan gedung apartemen menyapanya ketika ia melewati koridor dan Astoria balas dengan senyum ceria ciri khasnya.
Baru beberapa saat yang lalu ia dan Daphne terlibat pembacaraan serius. Ini berkaitan dengan perasaanya. Astoria mencurahkan semua permasalahannya. Daphne sang kakak sangat membantunya dengan memberi solusi dan akhirnya juga berdampak menyadarkan Astoria mengenai siapa yang sebenarnya dia sukai.
Lagi-lagi senyumnya muncul ketika telah berada diluar gedung apartemenya. Salju turun. Astoria mendonggak keatas dan lalu merapatkan mantel yang ia gunakan. Ia menggigil namun bukan berari dia akan membatalkan kemana ia akan pergi malam ini. Daphne baru saja menyadarkannya dan Astoria ingin segera menyampaikan perasaanya. Ia enggak mau lagi harus menyesal karena terlambat untuk mengutarakan perasaanya. Yeah untuk kali ini ia enggak boleh terlambat.
Ia menoleh kekiri dan kekanan. Lalu lintas terlihat padat. Kendaraan berlalu lalang namun sejak tadi Astoria belum melihat taksi. Astoria menghela napas kesal. Ia sangat malas untuk mengendarai mobilnya sendiri, dan ia lupa memesan taksi. Lagipula ini memang enggak direncanakan sebelumnya. Astoria memilih berjalan terlebih dahulu, mungkin saja bakal ada taksi yang muncul kan dibanding hanya menunggu dan kedinginan bukan begitu?
Sekitar hampir lima belas menit dia berjalan. Astoria mulai berpikir ia akan melanjutkan perjalanan ini dengan berjalan kaki saja. Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku mantelnya dan terus berjalan. Ia kembali tersenyum. Kekesalan terhadap taksi tidak cukup untuk membuat keceriaanya menghilang.
"As"
Astoria menghentikan langkah kakinya. Ia menatap terkejut kepada Cedric yang berdiri tak jauh didepannya. Pria itu tersenyum sambil mengangkat salah satu tangannya. Ia berjalan mendekat. "Hey" Cedric menyapa dengan kegembiraan yang tampak sangat jelas.
"Hey" Astoria terdengar lebih terkejut melihat Cedric.
"Aku benar-benar terkejut kita dapat berpapasan seperti ini. Kau mau kemana heh?" Raut Cedric semakin ceria. Ia merasa ini seperti takdir. Ia baru saja memikirkan semua permasalahan dalam hidupnya termasuk memikirkan benar-benar ucapan Hermione beberapa waktu lalu. Cedric harus akui semua ucapan Hermione benar. Ia masih mencintai Astoria. Jadi disinilah ia sekarang. Ia bermaksud menyampaikan semua perasaanya pada Astoria, namun justru bertemu seperti ini. Bisakah itu disebut takdir?
Astoria tersenyum. "Aku mau menemui seseorang" Jawabnya dengan bersemangat.
"Seseorang?" Tanya Cedric penasaran. "Siapa?"
"Emmm well aku sebenarnya malu sekali untuk mengatakannya tapi..." Astoria terdiam dan menatap Cedric dengan kegembiraan yang disertai wajah merona. "Kau sahabatku jadi aku akan mengatakannya"
Alis Cedric terangkat. "Kau membuatku penasaran"
"Kau juga pasti akan terkejut jika kukatakan aku menyukai seseorang Ced"
"Siapa?" Nada suara Cedric berubah drastis.
"Aku baru saja menyadari bahwa aku menyukai Harry, eu jadi sebenarnya sekarang ini aku berniat mengutarakan perasaanku padanya. Bagaimana menurutmu?"
Itu pasti sangat buruk sekali buat Cedric. Ia berdiri tak bergerak, seolah membeku. "Harry? Apa Harry potter maksudmu?"
Astoria hanya mengangguk-angguk dengan bersemangat. Cedric benar-benar terpukul dengan keras. Sekali lagi Astoria melukainya. "So bagaimana menurutmu? Apakah akan memalukan jika aku yang mengatakan perasaanku duluan padanya?" Tanya nya tak peka sama sekali bahwa raut wajah Cedric berubah.
Cedric menghembuskan napasnya. Ia mendonggak keatas dan menatap langit malam yang bersalju. Udara sangat dingin, namun itu membantunya. Ia lalu memberanikan diri menatap Astoria.
"Kenapa?" Astoria bertanya keheranan. "Apa memang kelihatan memalukan ya?"
Cedric menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak" Ia lalu mencoba tersenyum. "Jika bukan kau yang mengatakannya maka siapa lagi yang mengatakannya As? Aku tidak cukup yakin Harry berani mengatakannya padamu."
"Iya itulah yang juga kupikirkan."Sahut Astoria menyetujui. "Tapi apa menurutmu ia akan menerimaku?"
Cedric kembali mencoba tersenyum betapapun itu semakin menyakitinya. "Semua penghuni hogwarts dapat melihat Harry menyukaimu As."
"Benarkah? Dari mana kau tau?"
"Well sejak smp aku selalu mendapati dia diam-diam melihatmu dengan tatapan memuja. Bagaiman mungkin ia akan menolakmu?"
Astoria tersenyum gembira disertai wajah yang memerah. Cedric terdiam sedih memandangnya. Sejenak keduanya sama-sama saling terdiam. Astoria terlalu sibuk akan pikirannya sendiri sedangkan Cedric kelewat patah hati. Ini sudah sekian kalinya ia merasakan hal tersebut, dan parahnya itu selalu karena Astoria.
"As!" Suara teriakan memanggil dari arah belakang itu membuat Astoria menoleh. Kedua matanya membulat menatap Harry yang berlari menghapiri dirinya dan Cedric. "Untunglah aku menemukanmu disini" Ucap Harry dengan napas terputus-putus kelelahan.
"Heh?" Astoria terlihat kebingungan. "Kau mencariku?"
Harry hanya mengganguk karena ia masih kelelahan. "Ada yang perlu kukatakan"
Astoria tentu merona seketika itu juga. Cedric tetap memilih diam. Ia enggak bisa berkomentar apapun lagi selain meremas kedua tangannya dalam bentuk kepalan yang kuat. Ia benci keadaan ini, namun inilah yang terjadi. Bisakah itu disebut takdir juga?
"Ada sesuatu dengan Granger" Ucap Harry sontak membuat rona wajah Astoria yang merona menghilang. "Aku mempunyai firasat buruk"
Kening Astoria berkerut tidak mengerti. "Apa maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba berkata begitu? Apa hanya karena itu kau menemuiku?"
"Well..." Harry menggaruk-garuk kepalanya. Ia menatap sekilas kearah Cedric namun sepertinya itu sama sekali tidak membantu. Cedric justru menatapnya dengan sengit. "Aku tau hubunganmu dengan Granger memburuk tapi aku benar-benar merasakan hal buruk yang akan terjadi padanya. Lagipula aku yakin ini berkaitan dengan Malfoy juga dan Malfoy adalah calon tunanganmu As" Ucapnya Harry jelas belum membaca berita terbaru dari london gossip.
Astoria terdiam. Ada perasaan kecewa yang terlihat jelas di wajahnya kerena Harry menemuinya karena hanya alasan tersebut. Bukan berati Astoria tidak peduli pada Hermione. Hanya saja Astoria terlalu yakin bahwa kini Hermione tengah berkencan dengan Draco. Tidak ada sama sekali tanda-tanda sesuatu yang buruk akan terjadi bukan?
"Aku serius As. Kau tak menganggabku bercandakan?" Tanya Harry ketika Astoria diam saja.
Cedric menghela napasnya melihat Harry. Ia melangkah mendekati Harry. "Apa maksudmu Hermione dalam bahaya?"
Harry mengangguk.
Cedric tersenyum tidak percaya. "Jangan bercanda Harry"
"Aku serius. Aku bahkan berani bersumpah. Granger pergi begitu saja setelah menerima telepon dari Malfoy"
"Hermione hanya kelewat gembira Harry." Ujar Astoria berhasil membuat Harry maupun Cedric menatapnya. "Well aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Draco. Jadi kurasa saat ini mereka tengah bersama" Astoria menatap dengan kedua mata yang sangat berharap Harry akan memberikan reaksi lebih setelah mendengar ucapannya tersebut.
Sialnya Harry bereaksi lain.
"Jika memang begitu maka enggak mungkin Granger bakal meninggalkan koper dan handphonenya begitu saja"
"Ia meninggalkannya?"Cedric bertanya kaget. Itu sama sekali bukan sifat Hermione.
"Ya. Ia langsung lari secepat kilat"
"Berarti memang ada sesuatu yang buruk"Cedric menoleh pada Astoria. Keduanya saling memandang seakan tengah berbicara. Rasa khawatir memenuhi pikiran Astoria. Ia tau betul Hermione. Sahabatnya itu tidak akan bisa seceroboh itu sampai meninggalkan koper dan Handphonenya.
"Kita harus menyusulnya" Akhirnya Astoria berbicara dan membuat kedua pria dihadapannya tersebut mengangguk menyetujui ucapannya.
000
Lucus menyeret paksa Draco. Ia juga menodong pistol tepat kearah kepala putranya tersebut. Lucius terus berjalan mendekati ujung dari gedung hingga Draco tepat berada ditepian. Jika saja ia melangkah selangkah lagi, sudah pasti saat itu juga ia akan terjatuh kebawah sana. "Aku akan mendorongmu hingga terjatuh kebawah sana son. Aku akan pastikan pada saat itu kau akan mengalami pendarahan diotakmu dan patah tulang dimana-mana lalu kau akan mati. Bagaimana menurutmu?"
"..." Draco memilih untuk tidak menyahuti. Lucius tertawa melihatnya.
"Aku akan buat ini bagaikan drama-drama di film. Akan kukarang cerita bahwa Greyback beserta kelima orang idiot barusan menyandramu beserta Granger dan mencoba meminta sejumlah uang tebusan. Aku datang menolong kalian, namun Greyback mengingkari janjinya untuk barter. Terjadi beberapa pertikaian, kemudian kelima orang idiot barusan berhasil kabur, Greyback tewas tertembak dan kalian berdua tidak tertolong. Aku enggak sempat menolong kalian yang jatuh dari atas gedung ini. Jadi hanya tinggal aku yang selamat. Bagaimana menurutmu heh? Cerita yang luar biasa bukan?"
Draco mendengus. "Kebusukkanmu akan segera tercium"
"Benarkah? Oh kau lucu sekali" Lucius terkekeh menghina. "Memang kau kira siapa yang bakal mencium kejahatanku setelah kau mati heh? Tak akan ada son. Semuanya akan tertutup rapat-rapat"
"Kumohon jangan lakukan itu!" Kali ini Hermione berbicara dengan berlutut. Ia terlihat kacau sekali. "Kami akan lakukan apa saja yang kau mau Mr Malfoy. Bahkan termasuk menghilang dari london. Kami juga akan menutup rapar-rapat mulut kami. Jadi lepaskan kami. Kumohon"
"Oh itu manis sekali" Lucius menyahuti dengan menoleh kearah Hermione yang berlutut. "Kau tidak perlu khawatir, Aku akan melepas kalian. Well salah satunyadengan cara seperti ini" Saat itu juga tanpa diduga oleh Hermione Lucius mendorong Draco jatuh kebawah. Hermione berteriak memanggil Draco. Ia begitu kacau. Rautnya sulit diartikan. Ia seakan mati seketika itu juga.
"Malfoy" Suara Hermione memelan. Teriakannya menghilang.
Lucius segera berjalan kearahnya. Ia enggak repot-repot untuk melihat kebawah untuk memastikan tubuh Draco. Raut kesedihan dan putus asa yang sekarang menghiasi wajah Hermione jauh lebih menarik untuknya. "Bagaimana Miss Granger? Itu tontonan yang menarik bukan?"
"Sayangnya ini belum berakhir brengsek" Tiba-tiba terdengar sahutan dari belakang Lucius berdiri.
Hermione lamgsung mendongak keasal suara tersebut. Kedua matanya membulat terkejut melihat Draco berusaha menaiki gedung sialan ini. "Malfoy" Hermione berlari secepat yang ia bisa. Ia menangkap salah satu tangan Draco. Ia berlutut dan mencoba membantu Draco untuk naik. Lucius tertawa. Sulit memprediksi tawa apa sebenarnya itu. Terkejut? Kesal? Marah? Atau apa?
"Kau masih hidup rupanya" Lucius menghampiri. Sialnya Draco sama sekali belum berhasil untuk naik. Hermione masih setia memengangginya tangannya dengan kuat.
"Kumohon bertahanlah!"Ucap Hermione dengan sangat khawatir dan ketakutan merasakan tiap langkah Lucius yang mendekat.
"Ah kalian benar-benar menyusahkanku"
"Kumohon Mr malfoy" Hermione kembali memohon sambil menatap Lucius.
"Aku baik-baik saja Granger. Berhenti memohon padanya" Ujar Draco dengan marah. Ia tak peduli dengan fakta ia masih bergelantungan dan hampir jatuh.
"Aishhh...Lihatlah! Dalam keadaan hampir mati seperti ini kau justru masih dapat bersikap angkuh padaku son. Kau memang luar biasa"
Draco meringis kesakitan. Punggungnya yang tertebak membuat ia semakin kesakitan apabila terus bergelantungan seperti itu. Lucius terkekeh melihatnya. Hermione buru-buru menjulurkan satu lagi tangannya. "Aku tak akan melepaskanmu Malfoy. Kumohon bertahanlah" Suara Hermione bergetar hebat.
Lucius berdecap-decap sambil menggeleng keheranan. Ia jujur merasa muak. "Bagaimana kalian tidak mati bersama saja heh? Aku akan memudahkannya untuk kalian" Lucius tanpa ragu berniat mendorong dari belakang sekuat tenaganya sehingga membuat Hermione dan Draco jatuh sekaligus. Ia melanglah dengan santai kebelakang Hermione seolah mempermainkan. "Bagaimana Miss Granger?" Lucius bertanya dengan berdiri tepat dibelakang Hermione kini berlutut menahan Draco.
"Aku tak pernah berpikir aku akan mati seperti ini. Tapi aku tidak akan pernah menyesal untuk mencintai putramu. Aku tulus mencintainya dan mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan. Aku akan berkorban apa saja untuknya"
"Granger" Draco terhentak kaget. Ia benar-benar merasa tersentuh. Ini memang bukan waktu yang tepat untuk tersentuh tapi Draco tidak dapat mengelak bahwa ini pertama kalinya ia merasa sangat dicintai bahkan dibutuhkan oleh seorang selain ibunya.
"Kau dengar aku akan Malfoy. Aku sangat mencintaimu" Hermione menatap Draco dalam-dalam. Begitu pun sebaliknya. "Jangan pernah berpikir bahwa aku akan melepas tanganmu ataupun meninggalkanmu Malfoy."
"Demi merlin kalian semakin membuatku muak" Dengus Lucius sudah sangat emosi dan tak sabar untuk segera mendorong bahkan menendang Hermione dan tentunya bakal membuat Draco ikut terjatuh. Memikirkan itu membuatnya menyeringai. Ia bahkan tidak sempat menyadari ketika pintu terbanting terbuka dan Cedric menangkapnya. Cedric mempenjarakan dan mengunci semua pergerakan Lucius. Lucius terperangkap dan tertarik kebelakang, menjauh dari Hermione dan Draco.
Astoria dan Harry yang baru muncul berlari kearah Hermione maupun Draco. Mereka membantu Draco untuk naik. Hermione pun bangkit berdiri bersamaan dengan Draco. Ia terisak-isak tanpa air mata ketika dapat kembali memeluk Draco. Draco balas memeluknya. Ia sepenuhnya menyembunyikan wajahnya di lekuk bahu dan leher Hermione. Dengan rakus ia menghirupnya.
"Kalian baik-baik saja kan?"Tanya Astoria terlihat terkejut dengan apa yang baru dilihatnya.
Hermione dan Draco menarik diri satu sama lain. Hermione menoleh pada Astoria dan menggangguk dengan tersenyum. "Trims As. Aku tak tau bagaimana kau dapat kemari. Aku benar-benar sangat berterimakasih"
Astoria tersenyum, ia melangkah mendekat dan memeluk Hermione. "Aku merasa lega bahwa kami tidak terlambat"
"Terlambat?" Tanya Hermione sambil melonggarkan pelukkanya pada Astoria. Mereka bertatapan.
"Untuk menolongmu dan Draco tentunya" Astoria melirik Draco. Ia tersenyum tulus.
"Trims Greengrass" Ucap Draco ketika tatapan mereka bertemu.
"Well kurasa kalian juga harus berterimakasih pada Harry"
Ketiganya sontak menatap Harry yang kala itu tengah menelepon polisi. "Harry lah yang menemukan kalian disini"lanjutnya membuat Hermione memerhatikan Harry. Ini sudah kesekian kalinya dia menolongku, gumam Hermione dalam hatinya. Ia lantas tersenyum tulus untuk kali ini.
"Awas!" Teriak Cedric ketika tersungkur jatuh oleh Lucius. Suara tembakan mengiringi teriakan tersebut. Kaki Cedric tertembak. Dalam kesempatan tak terduga itu Lucius berlari kearah Hermione dan Draco. Pistol masih berada ditangannya dan siap menembak. Harry yang melihat hal itu segera menghadang Lucius. Ia pun berlari kearah sebaliknya dengan Lucius. Ia menerjang Lucius terjatuh, namun Harry tak berhasil menghentikan tembakan yang sempat diluncurkan Lucius.
Hermione menyerahkan dirinya begitu saja. Ia berdiri menghalangi Draco dari tembakkan itu. Ia memberanikan dirinya untuk melakukannya. Hermione merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya dengan penuh harapan ia bisa melindungi Draco.
"Granger!" Ia bisa mendengar suara teriakan Draco memanggilnya. Cukup keras namun semakin lama semakin tidak terdengar seiring dengan penglihatannya yang memburam. Ia juga merasa berputar-putar dan kakinya tak dapat menompang lagi berat tubuhnya. Hermione yakin ia akan terjatuh, tetapi ia tak sanggup menahan untuk tetap berdiri. Rasanya sangat sakit. Peluru itu seakan menembus perutnya.
"Granger" Draco menangkap Hermione. "Bangulah Granger!"Draco menepuk pipi Hermione. Namun Tak ada respon. Astoria yang terlalu terkejut berjalan menghampiri dengan langkah-langkah pelan, Ia sulit menggerakkan badannya. Ia berlutut disamping Draco. "Aaa...Ap...apa yang harus kita lakukan?" Astoria bertanya dengan suara bergetar dan wajah yang memucat. Pandangannya menatap ngeri terhadap luka tembak disekitar perut Hermione. "Ia bisa kehabisan darah Draco"
"Teleponlah Ambulans Greengrass!" Draco membentak kesal.
"Bbbb...baiklah"Dengan tangan yang masih bergetar hebat ia mengambil Handphone disaku mantelnya dan mulai mengetikkan suatu nomor.
"Cepatlah Greengrass!"
"Aku..." Astoria mulai terisak menangis. "Aku berusaha Drake. Tanganku terus bergetar"
"..."Draco tidak menyahuti. Pandangannya teralihkan pada Lucius dan Harry yang berguling-guling berkelahi. Pistol terlempar dan Cedric bangkit berdiri dengan susah payah. Pria itu berjalan terpincang-pincang. Rupanya Lucius menembak salah satu kakinya. Ia mengambil pistol tersebut. Draco bangkit berdiri. Ia mengepalkan tangannya dan berlari. Cedric tersentak terkejut ketika Draco mengambil pistol itu dan mendorong Harry dari ayahnya. Ia mencengkram kerah Lucius. Matanya menatap dengan kemarahan yang bercampur dengan kebencian.
"Kenapa heh?" Lucius menyeringai.
Draco semakin mencengkram Lucius. "Kenapa katamu?"
"Ini belum apa-apa Draco."
"Brengsek!" Draco meninju Lucius, membuatnya tersungkur jatuh kebawah. Draco segera menerjangnya kembali dan menodongkan pistol yang ia pegang. "Kau bisa merasakan pistol ini heh?"
"..." Lucius memilih diam. Ia menelan ludahnya ketika merasakan pistol itu menempel tepat didahinya.
"Drake" Cedric memanggil dengan panik. "Kau tak bermaksud untuk membunuhnyakan?"
Draco tidak menoleh. "Aku justru sangat ingin melakukan itu. Menghancurkan kepalanya dengan tanganku sendiri sekarang juga" Kata Draco sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Lucius yang memucat. "Kau ketakutan heh?" Tanya nya pada Lucius.
"Jangan lakukan hal idiot Malfoy" Kali ini Harry berbicara. Ia telah bangkit berdiri. "Kau bisa dipenjara jika dia mati"
"DIAMLAH KAU POTTER! KAU SAMA SEKALI TIDAK TAU APA-APA" Bentaknya tetap tidak menoleh. Ia terus menatap Lucius dengan kemarahan yang amat sangat. "Sudah kubilang untuk tidak menyakitinya tapi kau tak mau mendengarku"
"Draco aku..."
"TUTUP SAJA MULUTMU DAN MATILAH!"
Cedric dan Harry sontak mengalihkan tatapan mereka. Itu terlalu mengerikan untuk dilihat. Siapapun akan menduga kalau Draco akan segera menembak Lucius.
"Mati kau!" Draco terisak-isak menangis. Ia memukuli wajah Lucius tanpa henti. Ia sudah melempar pistol itu jauh-jauh dan mengantinya dengan pukulan yang bertubi-tubi. Lucius mengerang kesakitan namun Draco nampak tak peduli. Ia terus memberikan pukulan sekuat yang ia bisa. "Aku membencimu. Aku benci mempunyai ayah sepertimu" Suara Draco tetap bergetar. Ia menangisi dirinya sendiri karena terlalu bodoh untuk tak bisa membunuh Lucius, betapapun ia sangat ingin melakukannya. Hermione bahkan tertembak dan belum juga sadarkan diri. Bagaimana jika ia tidak selamat? Apa lagi yang Draco dapat lakukan? Sekarang saja ia enggak bisa untuk membalas perbuatan Lucius. Draco merasa tidak berguna.
Harry dan Cedric menatap terkejut melihat Draco yang tidak jadi menembak Lucius. Keduanya sontak menghentikan Draco untuk terus memukul. Lucius sudah tidak sadarkan diri. Wajahnya dipenuhi luka begitu pula dengan kedua tangan Draco.
"Kau sudah cukup memukulnya Drake" Ucap Cedric ketika Draco berniat kembali memukuli Lucius. Draco membalikkan badanya dan berjalan pelan tanpa tenaga kearah Hermione. Ia enggak sanggup memikirkan kemungkinan apapun untuk saat ini. Semuanya terasa hancur. Ini bukanlah sesuatu yang siapapun harapkan.
Bunyi sirine ambulans yang mendekat membuat Astoria memekik senang. Rasanya ia benar-benar hampir mati begitu panik melihat kondisi Hermione. Pintu terbuka dan para polisi pun muncul begitupula dengan para tim medis. Draco terdiam memandang sekitarnya. Ia bernapas lega namun ia tetap merasa tidak berguna untuk siapapun. Termasuk untuk Hermione.
"Aku mencintaimu Granger, tapi apa aku masih memiliki hak untuk mencintaimu?" Itu merupakan pertanyaan terbesar yang kini dipikirkan Draco.
000
"Jadi bagaimana keadaanya Carles?" Tanya Mrs Granger dengan tidak sedikitpun mengalihakan tatapannya dari Hermione yang terbaring tidak sadarkan dengan segala peraatan medis yang menghiasi tubunhya. Mulai dari alat bantu pernapasan pada hidungnya sampai infus pada tangannya membuat Mrs Granger semakin khawatir.
Dokter Carles yang dipanggil tersebut menoleh. Ia baru saja usai memeriksa Hermione. Dokter berambut pirang keemasaan yang tertata rapi kebelakang itu tersenyum menenangkan. "Dia masih tahap kondisi stabil Evelyn. Sejauh ini menurutku Hermione akan baik-baik saja"
"Menurutmu?"
Dokter Carles mengangguk yakin.
"Yang benar saja Carles! Putriku bahkan belum sadar juga selama satu hari ini dan kau bilang menurutmu itu baik-baik saja? Kau ini dokter atau apa heh?"
"Evelyn" Suara mengingatkan itu berasal dari Mr Granger yang sejak tadi berdiri disamping mantan istrinya tersebut. "Ini rumah sakit berhentilah memekik seperti itu!"
"Berhenti? Oh ayolah Will...putriku bahkan belum sadar dan kau mengira aku dapat tenang saja begitu?"
"Apa kau kira Hermione hanya putrimu saja? Aku ayahnya Evelyn dan asal kau tau aku sama khawatirnya denganmu"
Dokter Carles diam-diam menghela napasnya melihat mantan suami istri itu kini saling menatap marah satu sama lain. "Hermione anak kalian berdua guys" Ucap Carles justru sukses mendapat lototan marah. Mrs Granger bahkan mendengus kepadanya sebelum kembali menatap mantan suaminya tersebut. "Tidak bisakah kita membawa Hermione ke rumah sakitmu saja? Terus terang aku mulai meragukan Carles"
"What?" Dokter Carles bertanya kaget. Ia tentu merasa tersinggung walau Mrs Granger adalah teman lamanya.
Mrs Granger menoleh malas. "Jangan tersinggung begitu Carles. Aku hanya mengutarakan apa yang ada dalam benakku, tidak salah bukan?" Ucapnya sukses membuat Dokter Carles memutuskan diam dan hanya bergumam kesal didalam hatinya. "Bagaimana heh?" Ia kembali menatap mantan suaminya.
"Rumah sakit di perancis dan disini sama saja Eve" Jawab Mr Granger dengan bijak. "Kualitasnya benar-benar sama"
"Tapikan jika dirumah sakitmu kau bisa merawatnya. Putri kita butuh dokter ysng terbaik Will dan aku akui kau dokter yang terbaik untuk putri kita"
Mr Granger menghembuskan napasnya. "Evelyn semua dokter itu baik. Mereka akan merawat pasien mereka sebaik mungkin. Carles bisa melakukannya"
Dokter Carles tersenyum penuh kemenangan pada Mrs Granger yang mendegus dan meliriknya kesal.
"Lagipula aku pun akan lakukan yang sama percis seperti Carles lakukan. Jadi akan sama saja bukan?" Ujar Mr Granger dengan sangat bijaksana.
"Baiklah" Mrs Granger memutuskan mengalah. "Terserah! Tapi aku masih enggak mengerti mengapa putri kita belum sadar juga?"
"Itu karena pengaruh obat biusnya, bukankah Carles sudah katakan padamu?"
"Selama itu? Yang benar saja!"
"Obat bius tidak selalu memiliki jangka yang sama pada setiap orang Eve. Anggap saja putri kita salah satunya. Lagipula ia perlu tidur. Luka tembaknya begitu dalam, aku benar-benar bersyukur operasinya berhasil. Itu bisa saja menjadi fatal."
Mrs Granger memutuskan diam. Ia akui ia setuju dengan ucapan tersebut. Hermione sangat perlu istirahat. Setelah berhasil melewati masa kritisnya, Hermione memang harus istirahat. Tubuh putrinya itu sejak dulu sangat rentan. Ia mudah sekali sakit. Ia juga memiliki banyak alergi. Mulai dari kacang, udang hingga debu sekalipun. Debu benar-benar akan membuatnya bersin tanpa henti. Ia pun tak kuat dengan alkohol. Sekecil apapun kadarnya. Hujan juga dapat langsung membuatnya terkena deman dan flu. Mrs Granger menghela napasnya memikirkan itu semua. Ia masih terkejut dan tidak percaya Hermione harus mengalami hal mengerikan. Itu tentu membuat Mrs Granger sedih. Ia merasa buruk. Air matanya menumpuk dan suaranya bergetar ketika berbicara. "Aku benar-benar ibu yang buruk"
"Eve?"
"Aku serius Will" Mrs Granger menatap mantan suaminya dengan tatapan penyesalan.
"Jika kau berkata begitu, maka aku apa heh? Aku pasti ayah yang jauh lebih buruk"
"Kita sama-sama buruk kurasa" isak Mrs Granger lalu memutuskan memeluk Mr Granger dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya dengan suara isakan yang bertambah keras. Mr Granger membelai pelan rambutnya dan mencoba menenangkan. Sejenak keduanya memang berpelukkan. Dokter Carles yang melihatnya tersenyum. Pasti sudah lama sekali baginya tidak melihat keakuran dari dua orang dihadapannya tersebut.
Pintu yang tiba-tiba bergeser terbuka sontak membuat tiga pasang mata yang berada diruangan itu menoleh. Mrs Granger menatap dengan kemarahan yang amat jelas. Ia melepaskan dirinya dari pelukkan Mr Granger dan hampir saja menerjang Draco jika tidak ditahan oleh Mr Granger.
"Kau benar-benar..." Suara Mrs Granger bergetar marah pada Draco.
"Eve ayolah!" Mr Granger menahannya. "Ini rumah sakit, tenanglah!"
"Will dia itu penyebab putri kita mengalami semua ini. Kau lupa atau bagaiman heh?"
Mr Granger menghela napasnya. Ia menoleh pada Draco. Sepenuhnya ia menatap lekat-lekat pria berambut pirang platinum itu. Draco saat ini tengah mengenakan kursi roda. Bukan berati kakinya luka atau semacamnya. Ia memang dianjurkan untuk memakai kursi roda dulu mengingat keadaan fisiknya yang belum pulih seutuhnya. Ia juga mengenakan piyama rumah sakit. Jelas ia juga pasien dirumah sakit ini. Didahinya terdapat sebuah plester. Tangan kananya disanggah dengan semacam perban yang menyambung hingga kepunggungnya. Mungkin karena bekas luka tembak waktu itu. Draco mendorong kursi rodanya untuk lebih dekat dan ia menundukkan kepalanya tanpa mendongak. "Maaf" Ucapnya.
"Maaf?" Mrs Granger bertanya tidak percaya. "Hanya maaf?"
"Aku tau itu tidak berguna Mrs Granger" Draco memberanikan diri untuk mendongak dan menatap Mrs Granger dengan kesungguhan. "Tapi aku merasa perlu minta maaf"
Mrs mendengus. Ia melipat tangannya didada dengan angkuh. "Dan apa maaf mu itu menyadarkan putriku?"
"Evelyn!" Hardik Mr Granger dengan nada yang marah.
"Will dia..."
"Bisa aku saja yang berbicara padanya?" Sela Mr Granger.
"Oke terserah!" Dengus Mrs Granger berbalik menuju sofa dan duduk disana dengan pandangan mata penuh kebencian pada Draco. Jika membunuh adalah suatu yang tidak dilarang, mungkin Mrs Granger akan membunuh Draco saat itu juga.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan?" Tanya Mr Granger pada Draco.
"Aku sadar aku tidak berguna Mr Granger"
"Lebih tepatnya kau tidak pantas untuk putriku" Dengus Mrs Granger menambahkan dengan menyindir.
"Evelyn" Lagi-lagi Mr Granger menghardik mantan istrinya tersebut. Mrs Granger memutar matanya. Untuk kesekian kalinya ia mendengus menganggapi hardikan itu.
"Aku memang tidak pantas untuk Hermione. Ucapan Mrs Granger sama sekali tidak salah" Kata Draco membuat Mr Granger menghela napas begitu panjang.
"Jujur saja Draco aku hampir mempercayai itu. Aku hampir pada tahap dimana aku ingin memukulmu dan memberikan pelajaran padamu karena berani membuat putriku seperti ini"
"..."Draco terdiam. Ia menunduk merasa bersalah. Ia pasti sudah sangat mengecewakan.
"Tapi faktanya aku masih ingin percaya padamu"
"WILL!" Mrs Granger memekik kaget. Ia bahkan bangkit berdiri. "Apa yang kau..."
"Diamlah Eve. Ini rumah sakit berhentilah memekik melengking seperti itu"
"William benar" Sahut Dokter Carles lagi-lagi malah mendapat tatapan marah yang menusuk dari Mrs Granger. "Sorry" Dokter Carles segera mengalihkan tatapannya.
"Aku tidak pernah melihat putriku rela bekorban seperti itu. Dia pasti sangat mencintaimu."
"Mr Granger aku..."Draco jelas kebingungan akan sikap Mr Granger. Ia sejak awal sudah mengira akan dapat pukulan, namun yang terjadi malah hal yang tidak pernah ia perkirakan. "Aku sangat tidak berguna dan tak pantas untuknya. Aku gagal Mr Granger" Lanjut Draco ketika Mr Granger terus menatapnya.
"Lalu kau akan menyerah begitu?"
"..." Untuk kesekian kalinya Draco terdiam. Itu seakan menjawab iya.
"Kegagalan bukan untuk menyerah Draco. Hermione mencintaimu. Kau telah sangat berhasil membuatnya jatuh cinta padmu. Kau kira dengan kau menyerah pada hubungan kalian, ia akan baik-baik saja? Pikirkan itu Draco. Kau juga pasti sangat mengenal putriku. Jadi bertanggung jawablah"
"WILL KAU GILA HEH?" Mrs Granger memekik dengan sangat terkejut. "KAU HARUSNYA MEMBUATNYA MENJAUHI PUTRI KITA!"
Mr Granger tidak mendengarkan ocehan teriakan itu. Ia tetap menatap Draco. "Apa kau mencintai putriku?"
"Sangat" Draco menjawab dengan mantap.
"Oh ayolah" Sindir Mrs Granger, sama sekali enggak bisa menutup mulut pedasnya tersebut.
"Kau serius dengannya?" Tanya Mr Granger menghiraukan ucapan Mrs Granger.
"Tentu saja. Aku tidak pernah menjalin hunbungan yang main-main dengannya"
"Jadi apa lagi yang kau ragukan Draco? Kegagalan tidak harus membuatmu menyerah. Kau justru bisa menggunakan itu untuk menjadi lebih baik lagi. Kau bisa menjaga putriku. Aku masih percaya padamu"
"Oh my Goodness, Will"
Mr Granger tetap tidak mempedulikan. "Apa kau masih ingat kalau aku pernah mengatakan bahwa pria playboy dapat menjadi pria paling setia untuk wanita yang memang ia cintai?"
Draco mengangguk.
"Aku yakin itu ungkapan yang tepat untukmu"
"Oh oke cukup!" Mrs Granger datang menghampiri. Ia menatap mantan suaminya dengan tajam. "Kau akan segera menyesal telah mengatakan itu Will. Bocah ini hanya akan menyakiti Hermione. Tidak lama lagi kau akan menelan ludahmu sendiri"
"Kurasa tidak ada salahnya untuk percaya Evelyn. Aku punya firasat yang kuat bahwa putri kita di takdirkan untuknya"
"Kau semakin gila william" Ucap Mrs Granger dengan nada tidak percaya. Ia sangat terkejut sekali mantan suaminya dapat berkata begitu. "Aku melahirkan Hermione dengan susah payah bukan untuk bocah Malfoy sialan ini. Takdir apa yang kau maksud? Bagiku itu bukan takdir. Hermione bisa mendapatkan yang jauh lebih baik." Mrs Granger memandang Draco dengan pandangan penghinaan. "Aku tak akan pernah percaya padamu. Sekali Malfoy tetaplah Malfoy. Persetan dengan takdir. Aku tidak akan pernah merestuimu"
"Evelyn ayolah!" Mr Granger menghardik.
"What?" Mrs Granger mulai kehilangan kendali. "Kau kira karena kau ayahnya kau dapat membuat keputusan begitu? Kau pasti lupa bahwa aku juga ibunya."
"Eve, aku tidak membuat keputusan. Mereka berdualah yang akan memutuskan." Ucap Mr Granger gusar. Tatapannya melembut. "Hermione memang putri kita, tapi kita sama sekali tidak berhak mengatur hidupnya."
"Aku ingin dia mendapatkan yang terbaik Will. Aku ingin dia bahagia."
"Dia akan bahagia bila kau tidak mengekangnya Eve. Aku tau kau lakukan itu karena kau takut dia mengambil jalan yang salah. Namun Hermione kita sudah dewasa. Dia bisa memutuskan apa yang akan dia jalani. Kau mengerti maksudkukan?"
Mrs Granger menghela napasnya begitu panjang. Ia kalah, dan William memang benar. Pelan-pelan ia mengalihkan tatapan pada Draco. "Aku tetap tak merestuimu. Aku terlanjur membencimu. Jadi bisa kau pergi saja"
Draco langsung melirik Hermione. Ia sebenarnya tidak ingin pergi. "Aku..."
"Pergilah!" Ulang Mrs Granger bersikeras. "NOW!"
"Pergilah dulu Draco!" Ucap Mr Granger dengan jauh lebih lembut dibanding Mrs Granger.
"Saya mengerti" Draco menjawab dengan pelan. Ia mendorong kursi rodanya dan berbalik. Dorota yang berada dipintu segera mengeser pintu itu untuk terbuka. Ia juga membantu Draco mendorong kurdi rodanya berjalan keluar. Pintu kembali bergeser tertutup. Draco menoleh sekilas kebelakang. Ia menatap pintu tersebut dengan begitu banyak hal yang ia pikirkan. Ucapan Mr Granger dan Mrs Granger terus berputar-putar diotaknya dengan saling bertentangan. Bagaikan baik dan buruk.
"Miss mione akan baik-baik saja Mr Malfoy. Walau fisiknya kelihatan lemah seperti itu, tapi ia memiliki jiwa dan semangat yang kuat. Percaya padaku" Ucap Dorota mencoba menghibur.
Draco mengalihkan tatapannya. Ia menatap kembali kedepan dan tersenyum. "Kau sangat mengenalnya"
"Tentu saja" Dorota kembali mendorong pelan kursi roda Draco. "Aku merawatnya sejak kecil. Dia sudah seperti anakku"
"Trims Dorota" Draco lagi-lagi tersenyum.
"Heh? Trims for what?" Tanya Dorota kebingungan karena tiba-tiba Draco berterimakasih padanya.
"Untuk merawat Hermione tentunya" Jawab Draco dengan menoleh padanya.
Dorota sontak berhenti mendorong kursi roda Draco. Dorota menghela napasnya. "Apa yang kulakukan tidak akan ada artinya jika kau akhirnya memutuskan menyerah pada hubungan kalian berdua, Mr Malfoy."
Draco tersenyum sedih. "Begitukah?"
"Iya tentu saja." Jawab Dorota yakin. "Ketika kau meninggalkannya, dia sangat bersedih. Baru pertama kali aku melihatnya terluka seperti itu. Jadi jangan berpikir untuk meninggalkannya lagi"
"Apa menurutmu aku masih pantas untuknya?"
"Oh ayolah jangan berpikir seperti itu. Bagiku kau yang terbaik. Kau sangat mencintainya begitu pula sebaliknya. Aku pendukung fanatik kalian"
Draco lagi-lagi tersenyum. Dorota benar-benar membawa atmosfer kebahagian. "Kau tau Dorota, bagiku Hermione adalah cinta pertamaku. Aku sudah lama mencintainya."
"Benarkah?" Dorota terlihat terkejut. "Kau tidak bercandakan?"
Draco mengangguk. "Itu pasti sulit dipercayai, tapi dia memang cinta pertamaku. Aku serius."
"Wow!" Raut wajah Dorota semakin terkejut. "Oh ya ampun kurasa kalian benar-benar berjodoh" lanjut Dorota kini berdiri didepan Draco.
"Iya?" Draco bertanya tidak mengerti kenapa Dorota berkata begitu.
"Dengarkan aku baik-baik Mr Malfoy" Dorota berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Draco yang duduk dikursi roda. Ia menatapnya lekat-lekat dan berbicara dengan nada serius. "Perlu kau tau, sejak dulu Miss mione tak ada henti-hentinya membicarakanmu. Dia akan terus mengoceh segala hal tentangmu jika kami hanya berdua saja. Aku bahkan akan diomelin jika aku tidak mendengarkan setiap ocehannya tersebut. Memang sih sebagian besar isinya tentang kejelekanmu dan betapa jahilnya kau padanya. Tapi tetap saja dimataku dia terlihat menyukaimu. Dia juga akan marah-marah tidak jelas tiap kali melihatmu bersama wanita lain. Seharian itu ia pasti akan mengomel tanpa henti karena cemburu. Sayangnya dia selalu mengelak jika aku berkata dia menyukaimu. Tapi aku justru semakin yakin kalau ternyata diam-diam dia sudah menyukaimu. Itu seperti takdir iyakan?"
"..."Draco terdiam. Itu suatu hal yang sangat mengejutkannya. Ia tidak pernah berpikir bahwa Hermione telah menyukainya sejak dulu.
Dorota tersenyum melihat Draco. Itu pasti merupakan suatu hal yang sangat mengejutkan. Dorota kembali bangkit berdiri. Ia tetap tersenyum karena kini melihat wajah pucat Draco merona.
"Carles demi merlin kemarilah" Suara melengking Mrs Granger yang terdengar membuat Draco dan Dorota menoleh kearah pintu ruangan Hermione. "Hermione sadar kemarilah! Oh ayolah cepat! Astaga kenapa kau lama sekali. Cepat periksa dia!"
"Hermione" Kali ini yang terdengar suara Mr Granger. "Oh my little princess ini aku sayang"
Dorota tersenyum. Ia menoleh kepada Draco dengan semangat. "Ucapanku benar bukan? Miss mioneku itu wanita yang kuat Mr Malfoy. Dia setidak serapuh yang kau pikirkan"
Draco mengangguk dengan tersenyum. Ia menatap kearah pintu dan merasa benar-benar bersyukur.
"Granger"
000
Draco Pov,
Aku membuka kedua mataku dan sepenuhnya tidak bisa tidur. Aku menatap langit-langit kamar dimana aku dirawat. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Hermione. Ia sudah sadar dan Dorota mengabariku bahwa ia baik-baik saja. Aku memang bernapas lega dan merasa bersyukur untuk itu, namun tetap saja aku ingin melihatnya secara langsung. Aku sangat merindukannya. Aku butuh bersamanya, walau itu hanya sebentar saja.
Aku mengambil handphoneku yang terletak diatas meja kecil disamping ranjangku. Sudah pukul 12 malam. Aku tau itu bukan waktu yang tetap untuk mengunjungi Hermione, tetapi tekadku sudah terlanjur bulat. Aku enggak bisa menahannya lagi. Aku tidak akan peduli dengan Mrs Granger. Ia bisa melarangku tapi tidak bisa untuk menghentikanku.
Aku turun dari ranjang sepelan mungkin, tapi tetap saja aku meringis kesakitan terhadap luka tembakku. Kali ini aku tidak akan menggunakan kursi rodaku. Aku berjalan keluar. Suasana sepi menemani langkah-langkah kakiku. Tidak satupun aku melihat suster atau siapapun lewat. Itu menguntungkanku. Kamar rawatku dengan kamar Hermione berada dilantai yang sama. Aku terus berjalan. Hampir sampai ketika kulihat Mr Granger keluar dari kamar Hermione, kami saling menatap.
"Malam Mr Granger" Ucapku bingung mau berkata apa.
Ia tersenyum. "Mau mengunjunginya?"
Aku mengangguk. Ia berjalan mendekat kearahku dan senyum semakin melebar. "Masuklah." Kata Mr Granger sambil menepuk pelan bahuku yang tidak terluka. "Aku akan ke kafeteria dan meminum kopi. Aku butuh kopi" lanjut Mr Granger seolah menjelaskan kenapa ia keluar dari kamar Hermione. Ia melangkah melewatiku dan berjalan menuju lift. Aku sendiri lantas membuka pintu. Aku melihat Hermione tertidur. Senyumku muncul. Keadaanya memang membaik. Ia sekarang tidak memakai alat bantu pernapasan lagi dan hanya memakai infus. Aku berjalan mendekat padanya dan duduk disebuah kursi disampingnya.
Pandanganku tidak berhenti menatapnya. Ia terlihat sangat tenang sekali. Napasnya sangat teratur dan betapa cantiknya dia saat tidur seperti ini. Aku selalu suka melihatnya yang tertidur. Itu berhasil membuatku merasa damai. Pelan-pelan kujulurkan tangan kiriku, mengingat jika kugerakkan tangan kananku maka luka tembakku akan terasa sakit.
Dalam pergerakkan yang pelan-pelan sekali aku membelai rambutnya. Perasaanku menghangat. Aku membelai dengan lembut, takut ia terbangun. Belaianku kemudian turun kedahinya. Aku kembali tersenyum. Kusentuh alisnya. Ia memiliki alis yang bagus. Semua tentangnya begitu sempurna untukku. Ia juga memiliki hidung yang bagus. Mata yang tidak kalah sempurnanya. Kedua mata hazelnya selalu kurindukan dan bibir menggoda ini. Aku menyentuh bibirnya. Tiba-tiba aku teringat setiap moment kami berciuman, Benar-benar seakan berputar diotakku bagaikan film. Itu moment yang tak akan pernah kulupakan. Setiap moment yang bersamanya tidak mungkin kulupakan.
Kesedihan dan rasa bersalah menghantamku. Moment berciuman kami berganti menjadi moment yang mengerikan itu. Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku berharap semua itu sirna di otakku. Rasanya terlalu menyakitkan tiap kali mengingat bagaimana dia melindungiku. Akulah yang seharusnya melindunginya dan bukanlah sebaliknya. Memikirkan hal tersebut membuatku menghela napasku. Aku menoleh kembali pada Hermione dan menyentuh tangannya yang tidak berinfus. Aku melihat lengan itu dibalut perban. Sial, pikirku kepada diriku sendiri. Itu ukiran yang berhasil dibuat Lucius. Pria keparat itu telah membuat kata mudblood pada lengan Hermioneku. Benar-benar brengsek. Aku memang tidak berguna.
"Apa yang harus kulakukan Granger?" Gumamku dengan sepenuhnya menenggelamkan kepalaku dilengan Hermione. Ku pejamkan mataku. "Ibumu sepenuhnya benar Granger" Ucapku pelan seolah berbicara padanya. "Aku pecundang, pengecut, dan sama sekali tidak berguna. Aku merasa tidak pantas untukmu Granger."
Aku kembali menghembuskan napasku. "Tapi aku kelewat egois. Kau tau itukan? Aku ingin kau bersamaku dan menjadi milikku tanpa berpikir apakah itu yang terbaik untukmu. Aku menyadari kalau aku selama ini hanya melihat dari sisiku." Aku mendongak dan menatapnya. Ia masih tertidur. Aku lalu kembali membelai lengannya. "Aku pria yang sangat jahat, Granger. Jelas-jelas sejal awal aku tau bahwa jika kau bersamaku maka kau pun akan ikut masuk kedalam kegelapanku. Tapi aku egois. Aku begitu ingin memilikimu. Aku bahkan melakukan apa saja demi itu. Sejak pertama kali kita bertemu aku tidak bisa menghentikan otakku untuk memikirkanmu. Tiap hari aku selalu muncul ditempat itu, berharap kita kembali bertemu. Tapi kau tidak muncul. Seseorang pria tua berkata kau telah pulang ke inggris. Kurasa itu pertama kalinya aku patah hati." Aku tersenyum sedih mengingat itu semua. Saat itu aku memang benar-benar patah hati dan usiaku baru sepuluh tahun.
"Aku mencoba melupakanmu namun pada akhirnya aku justru memohon pada ibuku untuk pindah ke inggris. Butuh usaha untuk hal tersebut Granger. Ayahku mencambukku untuk pertama kalinya karena kau bersikeras ingin tinggal diingris tapi akhirnya ia mengabulkannya. Aku pindah ke inggris dan bersekolah di hogwarts. Aku tidak mengira dapat langsung bertemu denganmu di hogwarts. Aku sangat gembira bahwa akan semudah itu. Rasanya luar biasa sekali ketika melihatmu berdiri didepanku dengan tersenyum dan menjulurkan tanganmu sambil mengucapkan namamu dengan penuh percaya diri. Hermione granger. Aku tidak akan melupakan itu. Aku bahkan terdiam mematung tidak bergerak. Aku tau kau sama sekali tidak mengingatku. Lagipula kita memang tidak pernah berkenalan sepenuhnya dan saat pertama kali kita bertemu pun aku malah membentakmu untuk menjauh dariku. Kau menangis dan pergi. Kita tidak pernah bertemu lagi sampai pertemuan kita di hogwarts. Belum sempat aku menjabat tanganmu dan mengucapkan namaku, kau malah menyapa Diggory. Dia datang menghampiri kita dan mengecup pipimu didepan mataku. Seketika itu juga aku sangat membencinya. Aku ingin memukulnya dan membentakmu karena membiarkannya mencium pipimu. Aku sangat marah Granger. Oleh sebab itu aku berubah dingin padamu. Aku tidak menjabat tanganmu. Aku pun hanya mengucapkan namaku dengan ketus. Aku juga menutup mulutku rapat-rapat selama kau mengajakku berkeliling hogwarts. Demi merlin rasanya sangat lucu mengingat itu semua. Kau pada akhirnya marah padaku dan mengataiku anak baru yang menyebalkan. Sejak itu tiap kali kita bertemu hanya ada pertengkaran diantara kita. Tapi perasaanku tidak berubah Granger. Aku memang marah padamu karena telah bersama Diggory namun itu semua segera sirna ketika aku melihatmu tenggelam. Satu dalam pikiranku adalah segera menolongmu. Aku memberikanmu napas buatan dan jika kau ingat, itu bisa dibilang ciuman pertama kita. Kau sama sekali tidak mengucapkan terimakasih padaku dan justru memarahiku. Kau membentakku dan berkata bahwa aku mencuri ciuman pertamamu. Oh damn. Kau tau aku hampir meloncak gembira. Tapi lagi-lagi kau bersikap menyebalkan dengan mengungkit-ungkit Diggory. Rasanya menyebalkan sekali. Pada saat itu aku langsung bertekat untuk merebutmu darinya dan membuatmu menjadi milikku. Segala cara kucoba lakukan. Salah satunya dengan berteman dengan Cedric. Kupikir dengan begitu, mau tidak mau kau juga akan dekat denganku. Aku kemudian mencoba membuatmu cemburu dengan menggaet banyak wanita. Lalu aku pun belajar sangat keras untuk mengalahkan peringkatmu. Itu semua kulakukan untuk membuatmu melirikku Granger. Aku bahkan telah sampai pada tahap frustasi ketika sikapmu padaku sama sekali tidak berubah. Aku tidak tau cara apalagi yang harus kulakukan."
Hermione tetap tertidur ketika aku menghentikan ceritaku. Aku mengangkat tangannya itu dan mengecupnya. "Aku sangat senang ketika akhirnya kau menjadi milikku Granger. Itu benar-benar semacam anugrah bagiku. Aku mencintaimu Granger. Tidak pernah terpikirkan olehku aku akan kehilanganmu. Namun aku sadar hubungan kita justru akan membuatku kehilanganmu. Aku tidak bisa membunuh Lucius seberapapun aku ingin lakukan itu. Dia memang dipenjara, tapi bagaimana setelahnya? Aku sangat takut tapi aku mencintaimu. Aku ingin bersamamu." Aku lantas memejamkan kedua mataku sambil tetap memenggang tangannya. "Aku enggak mau melepasmu. Granger, aku mau kita berjuang bersama. Yeah itu pasti terdengar egois namun bisakah aku bersikap egois seperti itu?" Ku membuka mataku. Tatapanku langsung bertemu dengan tatapannya. Aku tentu terkejut. Ia bangun? Atau aku telah membangunkannya?
"Granger kau..." Aku sepenuhnya terkejut. Aku kesulitan untuk melanjutkan ucapanku.
Ia hanya tersenyum, dan membelai wajahku menggunakan tangannya yang kupegang. "Aku selalu ingin berjuang bersamamu Malfoy. Kau tau itukan?" Suaranya begitu parau. Oh Granger...
Aku menyentuh tangannya yang masih menempel dipipiku. Aku pun mengangguk. "Aku tau Granger. Kau sangat sering mengucapkan itu" Air mataku kurasa menumpuk disudut mataku.
Ia kembali tersenyum. "Lalu kenapa kau bertanya lagi? Aku pasti akan jawab ya. Aku tidak peduli dengan keegoisan yang kau maksud. Faktanya aku jauh lebih egois Malfoy. Aku ingin kau bersamaku melebihi apapun. Aku akan melakukan apa saja untuk mempertahankan hubungan kita. Kau harus bersamaku Malfoy. Bahkan sampai kita merasa muak dengan hubungan kita ataupun kita telah saling membenci, kita akan tetap bersama. Pokoknya harus bersama."
Aku terkekeh dengan air mata yang jatuh membasahi pipiku. Granger mengelapnya dengan tangannya. Aku sangat bahagia ketika melihatnya dengan raut yang sama bahagianya denganku. "Aku tidak akan pernah muak apalagi membencimu Granger. Aku sangat mencintaimu love. Sangat-sangat mencintaimu" Aku bangkit berdiri dan lantas mencium keningnya. Wajah kami begitu dekat. Mata kami bertemu ketika ia menyahuti ucapanku.
"I love you too Malfoy" sahutnya dengan suaranya yang masih parau. Ia lagi-lagi tersenyum, namun kali ini aku dapat melihat kedua matanya dipenuhi oleh air mata. Ia mendekatkan wajahnya keatas, tepat kearahku, kemudian mencium tepat kebibirku. Matanya terpejam dan aku pun memejamkan mataku. Kami berciuman. Granger membuka mulutnya. Aku memasukinya dengan lembut. Setiap lumatan yang kami lakukan dilakukan dengan lembut dan penuh perasaan. Aku mengungkapkan semua perasaanku begitu pula sebaliknya.
"Aku sungguh mencintaimu" Ucap kami bersamaan. Itu tentu membuat kami berdua terkejut. Wajah kami yang masih begitu dekat ini menunjukkan sebuah senyum yang kemudian digantikan dengan kekehan. Aku duduk kembali dikursi. Namun Granger tiba-tiba berubah cemberut.
"Kenapa?" Tanyaku dengan menyentuh tangannya.
"Kemarilah!" Ucapnya sama sekali tidak menjawan pertanyaanku. Ia mengeser dirinya, menyisahkan ranjangnya itu untukku. Ia menepuk-nepuknya. "Ayolah!"
Aku melihat kekiri dan kekanan. Pokoknya melihat kesegala arah. Aku pun menatapnyan kembali. "Bagaimana kalau ada yang lihat?"
Dia tertawa. "Oh come on Malfoy! Kita kan tidak melakukan apa-apa. Kita hanya berbaring oke? Jangan bilang kau berpikir aku mengajakmu untuk melakukan itu? " Nada suaranya menekan pada kata itu.
Aku ikut tertawa. "Tentu saja tidak. Kau masih sakit oke? Aku sudah pasti tidak akan menyerangmu. Aku bahkan tidak kepikiran sampai kesitu. Aku hanya mengkhawatirkan ayahmu. Bagaiman jika dia lihat?"
"Aku akan bilang kalau aku kedinginan dan aku memintamu tidur disampingku. Jadi ayolah!"
Aku lagi-lagi tersenyum. Aku menurutinya. Kami berbaring diranjangnya bersama-sama. Ia menyender padaku. Aku pun menyender padanya. Kepala kami saling menyender dan kami tiada henti-hentinya untuk tersenyum.
000
London Gossip Net
Sebelum
Selanjutnya
Ajukan pertanyaan
Email masuk
Foto
Ps : Semua nama tempat, orang, dan peristiwa asli telah diubah atau disingkat demi melindungi pihak yang tidak bersalah, yaitu aku.
Who am I? That's a secret I'll never tell...
Hey girls and meybe boys...
Selamat datang di London Gossip dimana kalian akan mendapat informasi terbaru mengenai Bee, A, D, C, dan orang-orang yang berada disekitar mereka.
Belum seminggu berlalu dari peristiwa mengerikan yang terjadi pada Bee dan D itu, terus terang masih membuatku bergidik ngeri. Aku enggak bisa membayangkan itu terjadi padaku. Jika aku jadi Bee aku pasti tidak akan mengorbankan diriku untuk terkena peluru. Oughh itu pasti sakit sekali, belum lagi kemungkinan aku bisa saja mati. Oh ya ampun. Untuk soal pengorbanan itu aku salut pada Bee. Akui saja kalau kalian ragu untuk melakukan hal yang serupa!
Untunglah Mr M telah berada di penjara. Sidang perdananya akan segera dilaksanakan. Semua media membicarakan itu. Kejahatannya sangat mengerikan. Dia telah banyak berbuat jahat. Aku ragu dia manusia. Dia juga begitu kejamnya meninggalkan cacat pada queen bee kita. Ia menulis kata mudblood pada lengan Bee dengan menggunakan pisau. Itu keterlaluan.
Lihatlah gambarnya.
(Gambar tangan Hermione yang masih menggunakan perban)
Well memang lukanya enggak kelihatan. Tapi guys percayalah itu lengan Bee dan ada tulisan kata mudblood dibalik perban itu. Aku mendapatkan fotonya dari orang terdekat Bee. Dia mengirimnya melalui email. Aku enggak bisa bilang siapa, karena aku sudah berjanji padanya untuk tak menyebut namanya sekalipun dengan inisial.
By the way, membicarakan Bee yang masih dirawat dirumah sakit. Kini itu menjadi sebuah trending topik. Orang-orang khususnya kaum wania di hogwarts berbondong-bondong ingin datang menjeguk. Seperti biasa sebagian besar hanya ingin mencari muka, sisanya ingin masuk tv dan diwawancarai, mengingat begitu banyak wartawan yang begitu kepo. Tapi itu tidak semudah itu guys. Kau kira dengan datang sambil membawa bunga dan buah-buahan Bee akan mengijinkanmu masuk? Jawabannya No! Kau harus melewati DRT. Pelayan setia Bee itu yang sepenuhnya memilih kau diperkenankan masuk atau tidak.
Dengar-dengar sih hari ini A, C, dan si freak akan mengunjungi Bee. Well seperti yang kita tau A dan Bee telah kembali bersahabat. Yeah tak ada sama sekali pesta pertunangan yang terjadi. Pertunangan A dan D sudah batal secara total, lalu Bee dengan C sudah pasti tidak akan meneruskan pertunangan mereka. Bee telah kembali pada D. Aku akui sepertinya mereka saling mencintai. Akhir yang indah, tapi jujur aja nih aku terganggu sekali dengan kehadiran Mr freak. Apa-apaan dia itu? Mengapa dia menjadi berada dintara kita? Oh demi merlin... Helloooooo dia bahkan tidak memiliki apa yang kita miliki. Maksudku kekayaan dan kekuasaan. Memang jika dia yang menjadi pahlawan dalam peristiwa mengerikan itu maka ia berhak menjadi populer? Tentu saja tidak kan? Aku tetap akan memperlakukannya sebagai si freak bin norak. Sudah cukup aku bertoleransi dengan Little J. Aku akui dia punya bakat. Tapi tetap tidak untuk kakaknya itu. Iuchhhhh...
Email kalian
Dear LG,
Berita mengerikan tentang Mr M itu memang sangat mengerikan. Aku sangat terkejut D memiliki ayah sepertinya. Aku bersyukur ayahku tidak begitu. Oh iya ngomongin kunjungan Bee itu benar sekali. DRT akan menyeleksi kita dengan berbagai pertanyaan. Aku harus katakan dia hebat sekali. Dia akan segera tau jika kita hanya datang berkunjung untuk sebuah kepopuleran ataupun niat lain yang tidak penting lainnya. Aku jadi ingin mempunyai pelayan pribadi seperti itu By : ElectraMalfoy
Dear ElectraMalfoy,
What? Kau ingin pelayan seperti DRT? Wah itu sih aku juga mau. Tapi itu susah sekali. Percaya padaku. Aku sudah mencoba mencari pelayan seperti itu. By : LG.
Dear LG,
Aku sangaaaaaaaaaaat setuju tentang pendapatmu tentang Mr freak. Bukan berati aku menilai orang dari harta ataupun nama keluarganya, hanya saja tetap tidak untuk Mr Freak. Cukup Little J yang menjadi populer. Toh anak itu lumayan asik dan ia memiliki selera yang bagus tentang fashion. Namun kakaknya yang Freak itu kelewat norak. Dia tidak pantas untuk menjadi populer. By : andreanibebe
Dear andreanibebe,
Ha ha ha aku senang sekali ada yang setuju denganku. Kau tau, aku bahkan berniat membuat klub anti Freak. Apa kau mau ikut bergabung? Kirim jwabanmu lewat email oke? By : LG.
Yeah itu dia beberapa info dariku. Aku yakin itu bermanfaat untuk kalian untuk tidak menjadi kuper. So guys ketemu lain waktu.
XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
000
"Kudengar Dorota akan mengintrogasi siapapun yang berniat berkunjung." Ucap Cedric memecahkan keheningan yang terjadi diantara dirinya, Astoria, dan Harry ketika berada di lift.
Astoria tersenyum menanggapi itu. "Yah Dorota sudah seperti bodyguard kepresidenan"
"Jadi kita akan diintrogasi?" Tanya Harry.
Astoria dan Cedric menoleh pada Harry yang berdiri diantara mereka. Keduanya sontak memberikan senyum yang serupa. "Tidak jika ada kami" katanya dengan sama kompaknya. Pintu lift terbuka. Astoria dan Cedric keluar, disusul dengan Harry dibelakang mereka. Ia masih belum terbiasa dengan kedekatan baru ini, tapi jika berkunjung sendiri, ia pasti tidak akan diijinkan masuk. Sedangkan Cedric sendiri berjalan menggunakan sebuah tongkat, mengingat salah satu kakinya masih dalam masa pemulihan akibat tembakan Lucius waktu itu. Astoria membantunya berjalan. Harry semakin terasa menjadi orang asing untuk mereka.
"Hey Dorota" Astoria langsung memeluk Dorota yang berdiri didepan pintu kamar Hermione. "Aku membawakan sarapan untukmu" Astoria menunjukkan paper bag bawaanya.
"Kau tidak bisa menyogokku Miss Greengrass" Lotot Dorota sengit.
"Itu bukan songgokan Dorota, percayalah" Kali ini Cedric yang berbicara. Pria itu tersenyum. "Kami membawa itu karena kupikir selagi kami masuk kedalam, kau dapat menikmati sarapan"
"Uhuh? Kau yakin itu bukan sebuah sogokkan Mr Diggory?"
"Oh ayolah Dorota. Kau tau siapa kami" Keluh Astoria.
"Tapi aku enggak tau siapa dia?" Dorota melirik tajam itu membuat Harry gugup.
"Dia Harry. Harry potter. Dia yang menolong Draco dan Hermione. Kau tidak baca London Gossip? Kupikir sejak dulu kaulah pembaca setia dari situs misterius itu" kata Astoria menjelaskan.
"Jadi dia si Mr Freak itu?" Dorota terdengar terkejut. "Ah... Dia memang kelihatan aneh sekali"
"Heh?" Harry terlalu terkejut mendengar itu. Ia sontak menatap penampilannya yang mengenakan seragam Hogwarts. Ia terlihat normal, tidak jauh beda dengan Astoria maupun Cedric yang juga mengenakan seragam.
"Ayolah Dorota ijinkan kami masuk" Ucap Astoria membuat Dorota menoleh kembali padanya.
Dorota berjalan mendekat kearahnya dan berbisik. "Miss mione sedang tertidur. Sebaiknya kalian jangan menganggunya"
"Kami tidak akan membangunkannya Dorota" Ucap Cedric mencoba menyakinkan. "Kami berjanji"
Dorota menatap ketiganya secara bergantian. Ia ragu dan sama sekali belum memutuskan.
"Kami hanya sebentar" Ucap Harry mencoba menyakinkan. "Lagipula kami harus kesekolah"
Dorota terdiam seolah memikirkan apa keputusannya. "Baiklah" Akhirnya Dorota menjawab. "Tapi please kumohon jangan bangunkan dia"
Astoria dan Cedric mengangguk. Keduanya masuk kedala secara bersamaan. Lagi-lagi Harry hanya menyusul. Kedua orang itu berdiri didepan ranjang Hermione. Astoria tersenyum lebar.
"Ah aku tau kenapa Dorota melarang keras kita membangunkan Hermione" Ucapnya ketika melihat Hermione tertidur bersama Draco dengan begitu mesra.
"Hermione dan Draco pasti akan benar-benar marah kalau kita membangunkan mereka" Cedric tersenyum.
"Mereka serasi sekali. Aku sangat iri" Astoria melangkah mendekati meja didekat sofa yang telah dipenuhi berbagai bingkisan. Ia meletakkan bingkisan yang ia bawa.
Cedric terkekeh. "Kau tidak bermaksud mengatakan bahwa kau cemburu terhadap Draco kan?"
"Oh tentu saja tidak" Astoria menoleh dengan cepat kepada Cedric. "Jangan memancing pertengkaranku dengan Hermione Ced. Perasaanku pada Draco benar-benar telah berubah. Kami hanya berteman sekarang."
"Jika kau iri dengan betapa mesranya mereka, mengapa kau tidak berpacaran saja heh?" Jelas sekali Cedric masih berharap pada Astoria. Ia enggak peduli walau kini Astoria langsung melirik Harry. Harry sendiri anehnya tidak melirikknya balik. Pria berkaca mata yang sejak tadi terdiam itu hanya menatap Hermione dan Draco dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Apa yang sebenarnya ia pikirkan?
"Harry?" Astoria memanggil.
Harry menoleh dengan terkejut. "Heh?"
"Kau baik-baik saja?"
Harry mengangguk namun ia memegang dadanya. Dia aneh sekali. Bahkan semakin aneh ketika berjalan keluar duluan. Langkahnya benar -benar sangat cepat sekali. Ia juga hampir menabrak Mrs Granger yang baru saja datang.
"Kau?" Tanya Mrs Granger merasa tak asing dengan Harry. "Aku kenal kau"
Harry terdiam. Apa yang harus dia katakan? Astoria dan Cedric segera datang menghampirinya. "Pagi Mrs Granger" Sapa Astoria berhasil menyelamatkan Harry.
"Astoria!" Mrs Granger menoleh senang. Ia juga menoleh pada Cedric. " Oh Ced kau datang berkunjung?"
Cedric kembali tersenyum dengan menawan. Ia juga mengangguk sebagai jawabannya. "Aku tentu datang berkunjung Mrs Granger"
"Oh kau baik sekali. Aku jujur masih merasa sedih untuk kehilanganmu sebagai calon menantuku. Kau jelas-jelas yang terbaik untuknya"
"Hermione bahagia dengan Draco Mrs Granger" ujar Cedric. "Aku pun akan bahagia untuknya"
"Bagiku tidak" Sahut Mrs Granger dengan ketus sekali. Ia tersenyum pada Astoria. "Kurasa ada baiknya aku melihat Hermione, ini pasti sudah waktunya ia sarapan. Aku harus mengawasinya, jika tidak ia pasti tidak akan makan sarapannya itu"
Astoria tersenyum sebelum akhirnya sadar dan segera mencegah Mrs Granger. Pasti akan kacau sekali jika Mrs Granger melihat Draco dan Hermione tidur bersama. "Eu...Mrs Granger"
"Iya Astoria dear"
"Aku sebenarnya ada urusan denganmu. Apa bisa kita bicara" Astoria berkedip pada Cedric dan Harry untuk pergi duluan. Ia harus menangani Mrs Granger. Seakan mengerti Cedric dan Harry pergi. Harry bahkan pergi dengan cepat. Mr freak itu semakin aneh saja.
"Tentang?"
Astoria mencoba tersenyum semanis mungkin. "Ini berkaitan dengan tawaranmu untuk menjadi model dari koleksi terbarumu waktu itu. Well aku mulai tertarik. Apa kau masih dapat menerimaku?"
"Oh tentu saja Astoria" Mrs Granger menjawab dengan bersemangat. "Kau sudah pasti pilihan terbaik."
"Jadi apa bisa kita mendiskusikannya?"
Mrs Granger menoleh kearah pintu kamar Hermione. Kelihatan ia bingung untuk memutuskan. Dorota yang ada disana segera menunduk memberikan hormat dengan wajah pucat. Jika Mrs Granger sampai tau, Dorota pasti akan terkena amukannya.
"Aku sangat excited sekali Mrs Granger." Astoria berhasil membuat Mrs Granger menoleh padanya. Ibu Hermione itu tersenyum. "Aku juga sangat excited untuk menjelaskan konsepku padamu. Ayolah kita berbicara. Aku rasa ada cafe yang cukup terkenal didekat sini"
Astoria tersenyum penuh kemenangan. Ia diam-diam saling berkedip pada Dorota. Untuk saat itu Dorota benar-benar bernapas lega karena terselamatkan.
000
Hermione Pov,
Aku tidak bisa berkata apa-apa ketika terbangun dengan Draco disampingku. Aku masih mengira itu mimpi, tapi aku sadar itu sama sekali bukalah mimpi. Ini nyata dan semalam ia baru saja mengatakan mencintaiku untuk pertama kalinya didepanku. Wajahnya sangat serius saat mengatakan itu, namun ia tak bisa menyembunyikan wajahnya yang juga merona. Oh betapa manisnya dia.
Aku mencoba bangkit duduk. Pertama yang kurasakan adalah rasa sakit disekitar perutku. Aku meringis sepelan mungkin untuk tak membangunkan Draco. Ia tetap tertidur, aku lagi-lagi tersenyum melihatnya. Kuulurkan salah satu tanganku, dan menyentuh rambut pirang platinumnya itu. Rasanya lembut sekali. Aku berlama-lama membelainya. Ia tetap tertidur dengan tenang. Oh damn dia seperti anak kecil yang begitu manis. Terlintas di otakku begitu saja bagaimana kalau kami memiliki seorang anak? Anak itu pasti sangat mengemaskan. Aku tertawa pelan memikirkan itu. Jujur sepertinya itu bayangan yang terlalu jauh. Memikirkan menikah diusia muda saja tidak pernah ada dalam rencana kehidupanku. Apalagi memiliki seorang anak. Lagipula kurasa aku belum siap untuk itu. Aku terkadang bahkan masih bersikap bagai anak kecil. Bagaimana bisa aku memiliki anak? Tapi... Tadi memang terlintas begiu saja.
Pasti akan menyenangkan sekali bila tinggal seatap dengannya. Aku pun semakin memandang Draco dengan lembut. Yeah itu ide gila untuk mulai tinggal bersama. Tapi aku begitu ingin. Aku sangat ingin tiap aku terbangun, orang pertama yang kulihat adalah dia. Aku akan mengucapkan selamat pagi untuknya dan dia akan memberikan ciuman manis sebagai balasannya. Aku juga akan membuat sarapan sementara dia mandi dan menungguku menyelesaikan memasak sarapan untuknya. Setelahnya kami pergi bersama untuk menjalankan kesibukan kami. Aku akan kuliah, well entah dimana, mengingat aku baru saja menghancurkan wawancaraku dengan yale dan Draco mungkin akan sibuk dengan Malfoy Corpsnya. Aku sih sebenarnya belum tau ia akan kuliah atau tidak? Nanti aku harus tanyakan itu. Emmm malamnya mungkin kami akan makan malam dan menonton siaran tv sambil mengobrol dan akhirnya tertidur bersamanya. Itu sudah pasti sangat menyenangkan.
"Lihatlah alismu ini Mr Malfoy yang arogan" Aku terkekeh sambil menyentuh kedua alisnya tersebut. Ia mempunyai lekukan alis yang bagus. Sentuhanku kemudian beralih kematanya yang terpejam itu. Aku semakin terkikik senang. "Ah matamu benar-benar menghipnotisku walau saat terpejam seperti ini"
Aku pun lantas beralih ketulang hidungnya. "Kau sangat terlihat angkuh dengan tulang hidungmu yang sempurna ini Malfoy. Belum lagi dengan dagu runcingmu" Aku juga menyentuh dagunya. Aku kembali tertawa pelan. Ini sangat mengasikkan. Aku menyentuh bibirnya tanpa sengaja. Sialnya itu justru sukses membuatku merasakan getaran yang selalu kurasakan tiap kali bibir kami bersentuhan.
"Miss Granger" Pintu bergeser terbuka. Seorang suster datang masuk dengan membawa sarapan untukku. Ia menganga terkejut melihat apa yang dilihatnya.
"Ststttttt..." Ucapku buru-buru. Aku berbicara dengan suara berbisik. "Kau bisa membangunkannya"
"Oh iya baiklah" Suster itu ikut menyahuti dengan berbisik juga.
"Trims. Kau bisa meletakkan sarapannya disitu saja. Aku akan memakannya nanti" Aku menunjuk meja yang berada didekat ranjangku.
Suster tersebut mematuhi dengan masih bertanya-tanya didalam hatinya sejak kapan Draco tidur disitu. Ia ingat betul kamar rawat Draco sama sekali bukan disitu. "Aku eu...Miss Granger...eu... Maaf tapi..."
Aku menoleh padanya dan segera menyela. "Trims kau bisa pergi" Aku mengulangi seolah suster itu tidak mengerti ucapanku barusan. "Pergilah" Ucapku lagi penuh penekanan namun dengan tersenyum. Itu jelas senyuman yang menyuruh untuk segera keluar.
"Eu...baiklah" Suster itu berbalik pergi tapi dengan raut yang masih tidak mengerti mengapa Draco berada disana.
Aku mendegus melihat suster itu akhirnya pergi. Aku mengalihkan tatapanku pada Draco kemudian lagi-lagi tersenyum. Keceriaanku kembali muncul. Aku lalu mendekatkan wajahku kearah Draco. Ku merapihkan rambutnya. Kedua mataku kemudian terpejam seiring semakin dekatnya wajahku pada Draco. Bibir kami bertemu. Ku mengecupnya pelan dan tidak menggerakkan sama sekali bibirku.
Aku menarik diri. Kedua mataku membelalak terkejut melihat Draco menatap balik padaku. Rona merah menjalar keseluruh tubuhku. Aku menduga wajahku pasti sudah memerah seperti tomat. "Aku...eu...aku..."
Draco langsung merengkuh leherku dan mendekatkan kembali bibir kami. Ia mengecup sangat lembut. Ia juga tersenyum lebar ketika menyudahinya. "Selamat pagi"
"Pagi" balasku dengan tetap berdebar-debar. Oh God. Dia selalu bisa memberikan efek yang luar biasa untukku. Draco pelan-pelan bangkit duduk. Ia tetap menatapku dengan senyuman yang pasti membuat setiap wanita iri padaku.
"Aku pasti membangunkanmu." Ucapku merasa menyesal membangunkannya. "Maaf"
Draco mengeleng dan terkekeh. "Jangan meminta maaf begitu Granger. Aku suka kau membangunkanku. Aku pasti akan sangat menyesal bila tidak menyadari baru saja dicium" Dia langsung menyeringai. Oh ya ampun dia menggodaku. Aku memberengut. "Aku tidak akan menciumku lagi" Ucapku kesal karena ia senang sekali mempermalukanku.
"Benarkah?" Draco mengelitikku. Aku menggeliat kegelian dengan tetap menahan ekspresi marahku."Malfoy!" Namun itu tidak bertahan lama. Aku malah langsung tertawa karena geli. "Malfoy hentikan" Tawaku meledak. Aku berbaring kembali diranjangku dengan menggeliat. Rasanya percuma saja, Draco terus menggelitikku.
"Tarik kata-katamu barusan dan aku akan berhenti"
"Oh ya ampun" Aku tetap tertawa. "Astaga Malfoy hentikan!"
"Katakan dulu"
Aku tidak mau mengatakannya. Enak saja dia. Aku lantas hanya tertawa saja sementara ia terus menggelitikku. Aku enggak tau kapan ini akan berakhir. "Aow..." Aku memekik kesakitan. Sialan itu pasti karena luka itu.
Draco langsung terdiam. Ia mematung dalam posisi setengah berbaring diatas tubuhku. Napasnya menerpa wajahku. "Maaf" Ucapnya dengan raut sedih penuh penyesalan. Oh no no no Malfoy. Jangan bersedih.
Aku segera merengkuh wajahnya lalu mencium kembali tepat dibibirnya. Ia terlihat terkejut. "Aku baik-baik saja." Kataku sambil tersenyum seceria mungkin. Raut wajah Draco sedikit rileks. Ia membenarkan posisinya. "Jika begitu ini sudah waktunya kau sarapan Miss Granger" Draco segera mengganti topik diantara kami. Sialnya aku enggak suka topik itu.
Ia membantuku untuk duduk. "Aku belum lapar" Ucapku terdengar lebih seperti merengek menolak.
"Aku lihat sarapanmu sudah ada, jadi kau harus segera makan" Katanya dengan tegas. Ia turun dari ranjang dan menuju meja dimana sarapanku terletak. Ia kembali dengan sarapanku tersebut. "Ayo makanlah" Ia meletakkan senampan penuh sarapanku. Ada semangkuk bubur dan teman-temannya. Aku malas menyebutnya.
Aku mengambil sendok dan mulai mengaduk-aduk bubur itu. Oh ya ampun melihatnya saja, aku tau itu enggak akan enak. "Makan Granger!"
Aku menoleh padanya dengan tatapan memohonku. Aku berakting dengan bagus. Aku bahkan berhak mendapat piala oscar untuk aktingku. Tapi pengecualian untuk Draco. Ia sama sekali tidak berpangaruh. "Makan!"
Aku menghela napasku panjang sekali setelah mendengar perintahnya tersebut. Dengan semakin cemberut aku memasukan sesuap bubur menjijikan itu. Aku segera menelannya dan buru-buru minum. Draco melihatku dengan kening yang berkerut. "Apa rasanya sangat tidak enak?" Tanyanya sambil mencoba memakan sesuap. "Ini sama sekali tidak buruk love. Ini termasuk enak"
"Lalu kenapa tidak kau saja yang makan?"
Dia terkekeh. Antara lucu dan kesal padaku pastinya. "Hubunganmu dengan makanan benar-benar buruk rupanya"
"Kami sebenarnya saat ini sedang bermusuhan" Candaku sukses membuatnya tertawa. Aku tidak bisa menahan senyumku melihatnya tertawa seperti itu.
"Oke cukup love, kau harus makan" Ia mengambil sesuap dan menyodorkannya padaku. "Ayo buka mulutmu.". Tangannya bergetar. Aku baru menyadarinya. Aku tentu mengernyitkan keningku melihat itu. Tangan seorang Draco Malfoy bergetar karena hanya mengangkat sesuap bubur?
Oh shit. Pasti lukanya parah. Aku jadi teringat ia terkena tembakan ketika melindungiku. Triple damn! Kenapa aku bisa melupakan itu?
"Ayo love. Jika kau tidak makan, kau akan semakin lama dirumah sakit ini" Bujuknya. Pandanganku beralih padanya. Demi apapun aku sangat mencintainya. Aku kembali menatap sesuap bubur itu dan segera membuka mulutku. Aku cepat-cepat menelan dan kembali membuka mulutku. Dapat kulihat Draco tersenyum.
"Hubunganmu dengan makanan membaik rupanya heh?"
Aku hanya mengangguk dan lagi-lagi membuka mulutku. Ia rela menahan sakit demi menyuapiku, maka setidaknya aku harus membuka mulutku dan mulai menelan.
"Aku mencintaimu Malfoy"
000
Nah itu dia Ch 25. Maaf bila tidak memuaskan. Aku sendiri enggak PD dengan chapter kali ini. Akui akui ini sangat mirip dengan ya sudahlah ya? Aku ingin segera menamatkan LG ini dan sekarang lagi dalam proses pembuatan chapter 26 dan itu artinya LG tamat. Seperti kataku epilognya kubuat khusus di Ch 27. Jadi jangan bosan-bosan untuk menantikan LG oke?
Seperti biasa mari kita tanya jawab.
Pertama, bagaimana ch kali ini? What do you think?
Kedua, adakah moment yang mengejutkan untuk ch kali ini? Jika ada waktu scene apa?
Ketiga, bagaimana dengan scene DRAMIONEnya? Adakah yang kalian suka?
Keempat, siapa yang benar-benar kalian tidak suka dari fict LG ku ini? Kalau aku sih mungkin Mrs Granger dan Lucius Malfoy. Aku sendiri jujur mendekati membenci mereka berdua ketika aku membaca ulang fict ku ini. Hahaha. Ngomong-ngomong aku membayangkan Mrs Granger seperti nicole kidman loo. Ahhhh cocok sekali menurutku.
Kelima, aku bertanya-tanya apakah sebaiknya aku meneruskan fict ku yang berjudul " jatuh cinta lagi" atau kubuat fict baru? Well kan LG sebentar lagi tamat. Menurut kalian bagaimana?
Nah sampai disini dulu guys. Aku akan segera kembali di ch 26. Jika kalian berkenan silahkan jawab pertanyaanku. Tapi tidak juga tidak apa-apa. Aku dan S akan selalu mengucapkan terimakasih. Jangan lupa setidaknya tinggalkan jejak kalian guys.
Bila ada typo, tolong dimaklumi saja oke? Entah kenapa aku memang selalu disertai typo. Ha ha ha ha...
So see you next chapter. Kalian tau bahwa aku dan S sayang kalian.
XOXO. YOU KNOW YOU LOVE ME. LONDON GOSSIP.
