You


Setelah sibuk belajar selama satu tahun, hasil akhir para siswa ditentukan dalam satu minggu yang seperti neraka.

Seluruh murid sibuk belajar dan mulai mencari soal.

Perpustakaan yang tadinya sepi juga mulai ramai dengan banyaknya siswa bertobat.

Termasuk Baekhyun.

Selama satu minggu ini, dia selalu bolak balik keluar masuk perpustakaan – ruang belajar – perpustakaan – ruang belajar – dan seterusnya.

Baekhyun sendiri lupa kapan terakhir kali ia minum air putih.

Selama masa ujian kenaikan kelas berlangsung, Baekhyun selalu menegak lebih dari dua gelas kopi perharinya.

Penampilannya juga semakin tidak karuan. Rambutnya lepek karena belum keramas lima hari.

Bagian bawah matanya sudah seperti terkena mascara yang luntur.

Sangat hitam.

Dan itu juga bisa dilihat pada wajah letih lesu siswa yang lain yang sedang sibuk menghafal sebelum mereka mengicip rasanya sedikit api neraka di waktu ujian.

Ah.

Mungkin terkecuali untuk Chanyeol yang hanya diam merenung lalu kadang tertawa ketika diajak bersenda gurau bersama Tzuyu.

Duh.

Rasanya trigonometri, sifat logaritma, dan rumus abc yang sudah susah – susah Baekhyun hafalkan di otak kecilnya itu hangus begitu saja terbakar api cemburu.

Memilih mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang laknat, Baekhyun malah melihat Sehun yang modus minta diajarkan oleh Luhan.

Lalu ia mencoba melihat ke arah lain dan menemukan Guru Kim –mengajar biologi serta Guru Shin –mengajar kimia sedang pendekatan.

Baekhyun membayangkan anak mereka menjadi guru fisika.

Sial.

Baekhyun mendengus, "Sialan. Ini minggu ujian dan kenapa semua orang dalam suasana kasmaran."

"Makanya Baek, cari kekasih sana!" Sehun memeletkan lidahnya ke arah Baekhyun.

Baekhyun merasa terkena karma pada Henry.

'Bagi para siswa diharap bersiap di ruangan kelas tanpa membawa apapun kecuali pensil dan penghapus. Ujian terakhir akan dimulai lima menit lagi'

Seluruh siswa meneriakan kata semangat.

Hanya tinggal seratus dua puluh menit lagi, neraka sudah selesai.

Dan hari jumat ini mereka sudah bisa merasakan indahnya surga kebebasan.


Baekhyun menghela napasnya kasar ketika tangan kanannya memberikan kertas jawaban ke arah guru di depannya.

Di sepanjang hidupnya, kini ia baru pertama kali pasrah dengan nilainya.

Dia hanya berharap supaya ia bisa melanjutkan kelas.

Masa bodoh dengan nilainya.

"BaekBaek!"

Luhan berlari tergopoh – gopoh memanggil Baekhyun.

"Ada apa?"

"Kau mau ikut ke acara camping sabtu - minggu ini?" ujar Luhan sembari menangkupkan kedua tangannya pada pipi kenyal Baekhyun.

Baekhyun mengernyit dan melepaskan tangkupan Luhan.

"Camping? Apa?"

"Camping antar kelas satu di Nanji. Hitung – hitung refreshing, kau tinggal membayar 20000 won ke Jongdae, sudah dapat makan, tenda, dan lainnya!" Luhan excited.

Baekhyun mengangguk pelan, "Baiklah."

"Yeay! Aku ada teman!"

Luhan bertepuk tangan senang dan hampir memeluk Baekhyun apabila tidak mendengar nama Baekhyun dipanggil oleh Sehun dan Jongin.

"Kau ikut camping kan?" tanya manusia kopi susu.

"Iya."

Jongin menggerakan tangannya senang, "Kalau begitu, tolong tanya Chanyeol. Dia mau ikut apa tidak."

"Kenapa tidak kalian saja?"

"Sudah sih. Tapi jawabannya tidak." Ujar Sehun.

Baekhyun menaikan alisnya, "Nah itu sudah ada jawabannya. Kenapa harus ditanya lagi?"

"Kupikir kalau kau yang mengajak, mungin ia mau ikut." Kata Jongin.

Sehun mendengus, "Kalau kataku, pasti jawabannya masih 'tidak'."

Jongin menggeleng dan mengulurkan tangannya, menawarkan sebuah jabat tangan ke arah Sehun.

"Taruhan, apa bila Baekhyun berhasil mengajak Chanyeol, kau akan memberikan lima puluh ribu won tunai."

"Lima puluh ribu saja? Itu uang jajanku sehari lagian. Seratus ribu, deal." Ujar Sehun sembari membalas jabat tangan Jongin.

Baekhyun yang tidak terima dirinya menjadi bahan taruhan pun menyahut, "Aku ikut pihak Jongin. Bayarkan uang camping Luhan dan diriku, deal."

"Woah! Baekhyun optimis sekali! Jongin semakin sayang pada kakak ipar!"

"Sialan. Berisik Jongin! Hingga tua pun aku tak akan merestui kalian!"


"Semangat Baek!" bisik Luhan pada Baekhyun yang bersiap – siap menghampiri Chanyeol yang sedang membaca buku di depan kelas.

Baekhyun pun mencoba menghela napasnya pelan, menghilangkan grogi.

"Chan."

Chanyeol mendongakan kepalanya.

"Hm?"

"Kau mau kan ikut acara camping besok?"

"Hm."

Baekhyun akhirnya duduk di hadapan Chanyeol.

"Jawab yang jelaass!" Baekhyun merengek tanpa sadar.

Chanyeol menghela napasnya dan meletakkan buku yang sedari tadi ia baca di sampingnya.

Kemudian mengangkat kedua tangan guna mencubit kedua pipi Baekhyun pelan dengan senyum kecilnya.

"Iya, iya. Aku ikut."

"AZZA! HAHAHA AKU MENDAPAT SERATUS RIBU WON! HOR–Mphhtt!" Jongin yang muncul dari balik tembok langsung dibungkam oleh Sehun menggunakan dua lembar uang lima puluh ribu won.

Luhan yang kelabakan mendorong Sehun dan Jongin pergi dari hadapan Chanyeol dan Baekhyun.

"Hehehe, maafkan kelakuan mereka. Kalian lanjutkanlah!" ujarnya lalu menyeret manusia kopi susu itu pergi.

Chanyeol yang masih mencubit pipi Baekhyun menurunkan tangannya perlahan lalu berdeham.

Baekhyun juga jadi malu sendiri.

"K-kau juga ikut kan?"

"Y-ya."

Baekhyun menahan senyum malunya.

Dalam hatinya, ia bersumpah untuk meminta traktir pada Jongin.


"Baiklah teman – teman, sebelum masuk bus, kalian dipersilahkan meletakan ponsel, tablet, kamera, dan barang – barang sejenisnya ke dalam keranjang ini ya. Tersedia dua bus, silahkan pilih yang mana saja." Jongdae tersenyum lebar dengan toa di tangannya.

Banyak murid yang mulai mengeluh dan satu telunjuk mengudara.

"Ada apa Sehun?" tanya Jongdae.

"Apa kalian tak punya keranjang yang lebih bagus lagi? Heol! Bahkan itu keranjang baju kotor!"

Seluruh murid tertawa sedangkan Jongdae menghela napasnya kasar, "Iya, keranjangnya hanya ada ini. Jadi tolong beri label nama pada barang kalian masing – masing lalu letakanlah di keranjang pakaian kotor ini! Yang tidak mau tidak usah ikut camping!"

Baekhyun di tempatnya cemberut. Padahal dia sudah membawa camcorder milik kakaknya diam – diam.

"Tidak seru sekali sih." Celetuk Luhan namun tetap ditanggapi oleh Jongdae.

"Kita ini camping di hutan supaya terasa semakin bersatu dengan alam! Bukan dengan gadget!"

Luhan memutar bola matanya malas.

Setelah beberapa lama mengantri masuk bus, akhirnya giliran Baekhyun.

Ketika sedang mencari keberadaan Luhan duduk di mana, Baekhyun mendapati Luhan sudah dipeluk Sehun di salah satu bangku.

Sehun sialan.

Terpaksa Baekhyun mencari kursi kosong di daerah dekat Luhan dan menemukan Chanyeol yang sudah duduk manis dekat jendela.

Dan masih ada kursi kosong yang sangat menarik untuk Baekhyun duduki di samping Chanyeol.

Tanpa disadari, banyak murid yang mengantri di belakang Baekhyun dan saling mendorong. Mengakibatkan dirinya terdorong.

Dan hampir menabrakan jidatnya ke kaca jendela.

Jika saja tidak ada sepasang tangan besar yang melingkari pinggangnya.

"Sebaiknya kau duduk di sini saja." Ujar Chanyeol sembari berdiri dan memaksa badan Baekhyun duduk di dekat jendela.

Lalu mengambil seluruh barang bawaan Baekhyun dan meletakannya di bagasi atas bus.

Sialan. Baekhyun jadi merona sendiri.

Selama di perjalanan, bus ramai dengan nyanyian dan tarian riang dari anak – anak.

Baekhyun pun turut dalam keramaian itu. Dan ia sadar, Tzuyu tidak ada di situ. Yuan juga. Mereka ada di bis lain.

Untuk Nayeon yang paling anti kotor, camping itu sesuatu yang mustahil.

Kali ini, hatinya sungguh bahagia.

Setelah puas ikut meramaikan bis, Baekhyun kembali ke tempat duduknya.

Ia kelelahan.

Chanyeol yang sibuk dengan bukunya mengambil botol minum dan meminumnya.

Melihat air, Baekhyun jadi haus. Ketika mengambil botol miliknya, yang ditemukan hanyalah botol kosong.

"Butuh minum?" Chanyeol menawarkan minumnya yang tersisa setengah.

Baekhyun mengangguk malu dan mencoba meminum secara tidak langsung dari bibir botol namun selalu gagal karena busnya yang berbelok ke kanan – kiri.

"Sialan." Umpatnya.

Chanyeol tertawa dan mengusak kepala Baekhyun lembut, "Langsung saja tidak apa kok. Lagipula kita sudah pernah–"

"–Oke! Terimakasih Chanyeol!" Baekhyun memutus omongan Chanyeol dan segera minum.

Dirinya sungguh malu.

Sungguh.

Saking malunya, ia tidak sadar menghabiskan air milik Chanyeol.

Makin saja Baekhyun tidak tahu malu.

"Maaf airmu jadi habis."

"Tak apa, bisa diisi lagi nanti ketika sudah sampai."

Baekhyun mengangguk dan mencoba menyibukan dirinya dengan melihat pemandangan di sepanjang jalan.

Di mana itu membuat dirinya bosan.

Iseng, Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol.

Memperhatikan Chanyeol yang sedang serius membaca bukunya.

Dalam hati, Baekhyun pikir apa ia tidak mabuk membaca buku di tengah perjalanan seperti ini?

Matanya kemudian melirik buku yang dibaca Chanyeol sedari kemarin.

Lalu ia kembali memperhatikan Chanyeol.

Yang sialnya juga menatap dirinya.

"Ada apa?"

Baekhyun menggeleng salah tingkah lalu menengok ke arah jendela dengan senyum tertahan.

Tiba – tiba terasa tarikan di pundaknya bersamaan dengan beban di puncak kepalanya.

Itu Chanyeol yang bersandar pada Baekhyun.

Diperjelas.

Kepalanya disandarkan ke kepala Baekhyun.

Sedangkan kedua tangan raksasa itu memeluk si marmut yang mulai bergerak gelisah.

"Sebentar saja. Sepertinya aku mabuk darat." Ujar Chanyeol sembari mengeratkan pelukannya.

Baekhyun kini hanya bisa diam.

Berusaha menahan letupan keras di dadanya.

Lalu menyamankan posisinya dan membiarkan Chanyeol tidur bersandar padanya.

Terkadang, Baekhyun juga iseng mengusap pelan pipi Chanyeol yang ditanggapi dengan usakan hidung Chanyeol pada rambut Baekhyun.

Sialan.

Baekhyun semakin tidak bisa menahan senyumnya.

Di kursi depan di mana Jongin dan entah ada Sehun serta Luhan menatap usil ke arahnya.

Dan Baekhyun semakin malu ketika dirinya membaca gerakan mulut Jongin.

Jangan lupa traktir kalau sudah resmi.

Baekhyun hanya bisa tersenyum malu.

Setelah beberapa saat, bus berhenti dan Jongdae dengan toanya memberitahukan kalau mereka sudah sampai di Nanji Camping site.

Serentak semuanya bangun dari kursinya mulai turun dari bus.

Dan setiap murid yang melewati kursi Baekhyun langsung berdeham dengan sengaja.

Baekhyun cepat – cepat membangunkan Chanyeol, berusaha tidak mengacuhkan segala godaan jahil dari temannya.

Ketika Baekhyun ingin mengambil tasnya, Chanyeol menahan tangannya.

"Biar aku saja."

Kemudian berakhir dengan Chanyeol yang membawa tiga tas –dua tas Baekhyun dan satu tas Chanyeol.

Sedangkan Baekhyun hanya membawa novel Chanyeol di tangannya.

Sepanjang jalan mencari tenda kosong, keadaan sangat hening di antara Baekhyun dan Chanyeol.

Hingga teriakan Luhan terdengar di salah satu tenda.

"Baek Baek! Tolong selamatkan aku! Aku tidak mau setenda dengan Sehun!", badan Luhan muncul setengah di pintu tenda namun kembali menghilang ke dalam tenda.

Baekhyun mendengus.

Sehun sudah dengan Luhan. Terpaksa dirinya bersama Jongin.

"Baek! Aku bersama Johnny ya!" Jongin berlari ke arah tenda di seberang tenda Luhan.

Sungguh sialan.

"Ayo masuk."

Di sana, di pintu tenda yang terbuka lebar, berdiri Chanyeol yang mengulurkan tangan ke arahnya.

"M-masuk?"

"Iya. Ayo kita satu tenda."

Woah.

Jangan tanyakan bagaimana keadaan pipi Baekhyun sekarang.

Sangatlah merah.

"Baiklah." Dan uluran tangan Chanyeol disambut Baekhyun dengan malu – malu.

Di dalam tenda yang cukup luas –ada dua kasur terpisah oleh meja kecil dan sofa kecil yang ada di dekat pintu tenda.

Melihat kasur yang terlihat, Baekhyun jadi gemas sendiri ingin tidur di situ.

"Chan, aku tidur dulu ya. Kalau sudah dipanggil Jongdae, tolong bangunkan aku." Ujar Baekhyun sembari mulai menutup kedua matanya.


"Baekki…"

Mata Baekhyun perlahan terbuka dan mengerjap pelan.

"Eungh.."

Chanyeol –yang membangunkan duduk di pinggir kasur sembari tertawa kecil.

"Ayo, kita sudah dipanggil Jongdae untuk memulai acara games."

Baekhyun bangun dan duduk.

Masih setengah sadar.

"Ayoo!" Chanyeol sedikit berteriak dan memeluk Baekhyun lalu berdiri.

Di mana Baekhyun juga ikut terbawa berdiri.

"Yak! Yak! Aku sudah bangun!" teriak Baekhyun tanpa sadar di telinga Chanyeol.

Chanyeol menyeringis lalu langsung menarik Baekhyun keluar.

Di tengah kompleks perkemahan, ada segorombolan anak yang sudah berkumpul.

"Ayo cepat! Kita akan mulai gamesnya sekarang! Cepat, cepat!"

Setelah semuanya berkumpul, Jongdae kembali dengan toanya.

Yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan karena suaranya sendiri sudahlah keras.

"Jadi, bagi tim menjadi delapan orang! Nanti kalian datangi pos – pos yang sudah tersedia dan berkumpul kembali pukul enam. Yang pointnya paling sedikit akan mendapat hukuman tampil di acara api unggun nanti! Tanpa jaket!"

Wah.

Sialan sekali Jongdae.

Untuk tampil sih, Baekhyun tidak masalah.

Yang masalah ialah tanpa menggunakan jaket.

Baekhyun mana tahan dengan udara sedingin ini tanpa mengenakan jaket.

"Baiklah, silahkan nikmati permainannya!"

Anak – anak mulai berpencar mencari teman untuk satu team.

Dan ketika Baekhyun sedang sibuk mencari Luhan, tangan kecilnya digenggam erat.

Oleh Park Chanyeol.

"Chanyeol?"

"Ayo kita satu team. Luhan dan yang lainnya sudah menunggu di pos ketiga."

Yang dimaksud lainnya ialah Sehun, Jongin, Johnny, Jonghyun, dan Xiumin.

Pas delapan orang.

"Ayo kita mulai di pos nomor tiga ini! Kalian akan diberi kertas berbentuk hati, dan di sini kalian harus mengoper kertas tersebut menggunakan mulut." Ujar penjaga pos tiga yang entah Baekhyun tidak tahu namanya siapa.

Umpatan kasar kedua dari Baekhyun kepada Jongdae karena bisa – bisanya ia membuat game konyol seperti ini.

Akhirnya mereka dibagi menjadi dua grup lagi.

Baekhyun, Jongin, Jonghyun dan Chanyeol bersama.

Ketika diatur urutannya, sontak Jongin dan Jonghyun menyuruh Baekhyun yang pertama dan Chanyeol yang kedua, lalu Jongin meminta sebagai pihak ketiga yang otomatis Jonghyun terakhir.

Oh astaga.

Ini sungguh masalah besar.

Mengoper kertas menggunakan bibir untuk Baekhyun bukanlah masalah besar.

Tapi masalah besarnya, kertas itu harus ia oper ke Chanyeol.

Ugh.

Ketika Baekhyun menerima tumpukan kertasnya, umpatan ketiga ia lontarkan ke Jongdae yang entah di mana.

Demi Chanyeol yang sekarang sedang menatapnya serius!

Kertasnya sangat tipis.

Dan bunyi pluit tanda game sialan ini sudah di mulai.

Dengan posisi kepala normal, kertas hatinya jatuh.

Mendongak, kertasnya terbawa angin.

Menghela napas mencoba sabar.

Terpaksa Baekhyun harus memulai dari menunduk.

Baekhyun kembali mencoba dengan lebih perlahan mendongakan kepalanya.

Baru saja berhasil mendongakan kepalanya, angin datang dan membawa pergi kertas hati merah muda itu.

Dan membuat Chanyeol menabrakan bibirnya tepat di bibir Baekhyun.

Kejadiannya sangat cepat.

Tetapi tetap membuat anak – anak yang di sana heboh.

Baekhyun langsung memundurkan kepalanya dan kembali menempelkan kertas ke bibirnya tanpa menghiraukan sorakan tentang dirinya dan Chanyeol.

Pada percobaan kedua ini, Baekhyun telah berhasil mengantar kertas hati itu dengan selamat ke bibir Chanyeol.

Namun sayang.

Untuk kertas yang ketiga terbawa angin lagi.

Dan membuat Chanyeol kembali menempelkan bibirnya ke milik Baekhyun.

Tapi kali ini, Chanyeol lebih berani dan melumat pelan bibir bawah Baekhyun.

Baekhyun kaget, mencoba mundur seperti tadi tetapi tengkuknya di tahan oleh Chanyeol.

Tangannya juga.

Badannya seperti jelly.

Lemah dan kemudian menjatuhkan kertas hati yang lalu terbawa angin dan terbang di sekitar dirinya dan lelaki tinggi yang ia cintai itu.

Perlahan, ia mencoba membalas lumatan yang diberikan lelaki yang lebih tinggi.

Lama – lama, kedua tangannya melingkar di leher Chanyeol.

PRITTTT

"Yak! Kalian ini! Gamenya sudah selesai!" Luhan berteriak.

Mereka berdua melepaskan tautannya.

Namun sebelum itu, Chanyeol menyempatkan diri untuk menggigit bibir bawah Baekhyun.

"Sumpah! Aku tidak menyangka kau bisa seperti ini Chan!"

"Oh Tuhan! Aku ingin mempraktekan hal ini dengan Lulu!"

Suara Jongin dan Sehun bersahutan.

Baekhyun?

Dia hanya bisa menunduk di dalam pelukan Chanyeol.

"Maaf ya aku membuatmu malu. Jangan dibawa ke hati." Chanyeol berbisik pelan.

Baekhyun menggeleng kecil lalu menautkan kedua tangannya ke badan Chanyeol.

Lalu berjalan bersama ke pos berikutnya hingga pukul enam.

Berita tentang Chanyeol dan Baekhyun yang berciuman sudah menyebar luas di area perkemahan.

Maka dari itu, Baekhyun mencoba menjaga jarak dengan Chanyeol karena masih canggung dengan berita semacam itu.

Dan mencoba menyangkal pertanyaan dari Yuan.

Sungguh, Baekhyun rasanya ingin menjambak orang itu.

Pukul enam lebih, semuanya sudah terkumpul di lapangan tengah kompleks perkemahan.

"Total di sini ada enam kelompok yang mengikuti games. Kelompok yang mendapat point tertinggi mendapatkan daging lebih tiga kilogram untuk makan malam kali ini. Dan kelompok itu ialah kelompok Kris!"

Barisan kelompok Kris heboh dan bersorak tentang bagaimana mereka akan menikmati daging itu.

Jongdae berdeham di toanya, dan kembali berbicara. "Kelompok dengan point paling kecil adalah kelompok Jongin. Kalian harus menentukan apa yang akan ditampilkan pada acara api unggun pukul delapan nanti setelah selesai makan malam. Tanpa jaket ataupun sweater!"

Jongdae sialan.

Ini sudah umpatan keempat yang Baekhyun keluarkan untuk Jongdae.

"Untuk Xiumin, kau boleh memakai baju hangat ketika tampil!"

Sangat pilih kasih sekali Jongdae sialan ini.

Dan itu merupakan umpatan kelimanya.

"Oh iya!" Jongdae kembali menyalakan toanya, "–tampilkan sesuatu yang pantas ya! Jangan menampilkan adegan ciuman seperti tadi!"

Hampir seluruh anak kembali ribut dan heboh bersiul serta mengejek Chanyeol dan Baekhyun.

Ada juga yang memberi selamat.

Menggenapi, Baekhyun mengumpat pada Jongdae untuk keenam kalinya.

Dengan suara lantang.

"JONGDAE SIALAN BRENGSEK KAU!"


"Kita mau menampilkan apa?" Jonghyun datang dengan cup ramen yang mengepulkan asapnya.

Luhan menggeleng.

Xiumin menggedikan bahu.

Chanyeol diam membaca bukunya.

Dan sisanya masih sibuk mengunyah.

"Lebih baik kita minta daging lagi ke Jongdae. Xiu, tolong mintakan ya." Jongin memberikan ekspresi imutnya.

Yang membuat Xiumin bergerak seperti ingin muntah.

Tapi pada akhirnya, ia juga pergi ke Jongdae untuk meminta tambahan daging lagi.

Lalu keadaan kembali ramai dengan candaan di antara tujuh orang itu.

"Bagaimana kalau aku dan Baekhyun yang tampil?"

Suara Chanyeol yang sedari tadi tidak terdengar memecahkan suara ramai dan menciptakan keheningan.

Baekhyun tersedak.

Jongin serta Johnny tertawa bahagia dan mengucapkan kata – kata vulgarnya.

"Tapi bukan ciuman kalian kan?" Jonghyun bertanya dengan wajah kagetnya.

Chanyeol tertawa pelan.

"Bukan. Aku dan Baekhyun akan tampil bernyanyi."

Baekhyun melototkan matanya, "Nyanyi apa?!"

"Lagu kita." Chanyeol tersenyum.

Sialan.

Senyumnya itu membuat Baekhyun mengangguk tanpa sadar.

Pada akhirnya, mereka berdua tampil di dekat api unggun.

Di tengah kumpulan anak – anak.

Chanyeol dengan kaos tipisnya memegang gitar.

Dan Baekhyun dengan kaos lengan panjangnya.

"Ekhem. Okey, halo semuanya. Kali ini saya dan Baekhyun akan menyanyikan lagu buatan kami berdua, judulnya Sing For You. Harap perhatiannya." Chanyeol membuka penampilan dengan tenang.

Sedangkan Baekhyun sudah bermandikan keringat dingin.

Selama awal menyanyi hingga selesai, siswa memperhatikan dengan seksama.

Bahkan ada yang mengikuti irama lagu itu.

Ketika lagu telah selesai, Baekhyun merasa sangat lega lalu dengan segera pergi ke arah Luhan yang ada di pinggir gerombolan.

Sedangkan anak – anak yang lainnya sibuk bersiul dan bersorak nakal tentang Chanyeol dan Baekhyun.

"Tes, tes, tes."

Suara dari toa itu terdengar dan membuat keadaan seketika hening.

Di tengah sana, Chanyeol berdiri dan kembali bersuara dengan toanya, "Sudah lama aku ingin melakukan ini. Mungkin memang aku tidaklah romantis dan bukan tipe idealmu. Aku malah mencoba membuatmu cemburu. Tapi–"

Chanyeol menghela napasnya panjang lalu mengarah ke arah Baekhyun.

"–untuk kamu yang di sana, apa kau bersedia menjadi kekasihku?"

Jongin dan Sehun berteriak keras dan bertepuk tangan heboh.

Begitu juga anak yang lainnya.

Sedangkan Luhan, ia juga berteriak dan langsung memeluk Baekhyun, "BaekBaek! Aku tidak menyangka ini terjadi! Selamat!" bisiknya.

Baekhyun berdiri mematung.

Kepalanya terasa ringan.

Sialan sekali Park Chanyeol.

Selama hampir satu tahun ia berjuang di sekolah barunya ini, Baekhyun baru merasakan perasaan bahagia yang membuncah dari hatinya.

Benar – benar dari hati terdalamnya.

Tanpa pikiran negative apapun seperti biasanya.

Wajah terkejut tidak bisa disembunyikan dari siapapun.

Sekaligus pipi merahnya yang bahkan terlihat walau cahaya hanya berasal dari nyala api unggun.

Sangat perlahan, ia maju ke arah Chanyeol.

Dengan detak jantungnya yang sangat cepat, Baekhyun berbicara pelan.

Lebih ke arah berbisik.

"Aku bersedia."