Created by : jitan88 | 2013-2015 |
Genre : Sci-Fi, Adventure, Romance
Rating:T+|Alternate Universe & OOC|
Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto. Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita Naruto yang sebenarnya adalah fiktif dari hasil pemikiran penulis.
.
.
"AWAS! HA-HATAKE-SAN!"
Teriakan Hinata dari bawah membuyarkan konsentrasi Naruto. Secara otomatis ia mendongakkan kepalanya, lalu terbelalak, "Oh, shit! AWAAAS, di belakangmu!"
ZRASSH!
Semua hanya berlangsung dalam sekejap.
Naruto tidak sempat bertindak saat tubuhnya melayang jatuh dalam jarak satu setengah meter dari atas permukaan tanah. Saat melayang jatuh, sekujur tubuhnya terasa kaku saat menatap bagaimana mengerikannya keadaan di atas sana. Sepersekian detik sebelumnya, Kakashi Hatake yang seharusnya membantu menopang tali tak menyadari bahwa ada sekelebat bayangan raksasa yang menghampirinya dengan kecepatan mengerikan. Saat ia menyadari kedatangan sang monster, semua sudah terlambat.
Sang monster mengayunkan senjata besarnya dengan cepat, menembus permukaan kulit juga daging milik Kakashi Hatake … lalu membelahnya menjadi dua bagian.
Tubuh Naruto jatuh bebas, ia hanya bisa memposisikan dirinya agar tidak mengalami cedera parah.
Hinata menjerit.
Kakashi Hatake terbelah dua … separuh tubuhnya yang penuh darah ikut jatuh hingga membentur lantai dasar. Cipratan daging dan darah langsung menyeruak dan bertebaran di sekeliling ruangan, hanyir.
Mati.
.
.
.
HEGEMONY
CHAPTER 24 : AXIS
.
.
"Brengsek—arggghh!" dalam posisi kurang menguntungkan, Naruto yang jatuh bebas di udara mencoba mempertahankan postur tubuhnya agar tetap stabil saat membentur tanah. Ia berbalik, lalu menutupi kepalanya dengan gaya batu; melindungi organ vital sekaligus mencegah belakang kepala atau tulang punggungnya terantuk lebih dulu. Tapi tetap saja, benturan keras yang ia alami membuatnya berteriak kencang, kesakitan sambil terbatuk-batuk, "Ukkh … si—sial, sakit sekali! Uhuk-uhukk!"
BRAKK!
"Na—Naruto … itu … i—itu …. GYAAAAA, TIDAAK!" Hinata menjerit setelah mengetahui bahwa bunyi debam setelah Naruto terjatuh adalah bunyi separuh tubuh Kakashi Hatake yang ikut jatuh ke lantai bawah. Ditambah lagi, keadaan di lantai dasar ternyata sangat gelap. Keduanya hanya bergantung pada senter yang mereka punya, dan cahaya senter milik Hinata kini terarah pada … wajah Kakashi Hatake yang bersimbah darah, dengan mata masih terbelalak namun tak lagi bernyawa.
"AAaaa—tidaaak! Tidak, tidak mungkin! Hatake-san, Hatake-saaan!"
Naruto Uzumaki tidak ingin melihatnya, dia tidak melihat bagaimana kondisi Kakashi Hatake saat ini. Dalam situasi seperti ini, ia menyadari satu hal; tentang pengalamannya menghadapi pemandangan penuh kematian. Dibandingkan anggota Children of Konoha, Naruto-lah satu-satunya member yang pernah melihat bagaimana mengerikannya sebuah pembantaian massal. Dia tahu bagaimana bau hanyir darah akan mengganggu akal sehat juga logika, menciptakan kengerian bagi manusia normal. Untuk itulah, Naruto merasa perlu melakukan sesuatu … terutama pada Hinata.
Mengindahkan rasa penasarannya, Naruto memilih untuk tidak melihat sama sekali. Melihat jasad dengan bentuk mengenaskan hanya akan membangkitkan kenangan lamanya, sementara kondisi mereka berdua tidak aman. Rasa pusing akibat terjatuh tiba-tiba masih menguasainya, tapi ia tidak punya waktu untuk berdiam diri. Mereka harus segera lari dan menyelamatkan diri! Memaksakan dirinya sendiri sambil meringis, Naruto menyadari bahwa pergelangan tangan kirinya juga terasa sedikit nyeri akibat terbentur lantai … tapi ia menghiraukannya.
.
Tidak ada waktu lagi, tidak ada waktu lagi ….
Lari! Lari atau monster itu akan menemukanmu!
Kau harus cepat lari, Naruto!
.
"Hinata!" panggilnya tegas, ia berusaha bangkit, "Tenangkan dirimu!"
"Na—Naruto, lihat … Ha—Hatake-san—" Hinata yang tengah panik bahkan tidak dapat memberikan perhatian lebih pada sosok kliennya. Kedua tungkai kakinya sekarang terasa begitu lemas, ia lunglai setelah melihat sosok senior yang menjadi panutannya rebah begitu saja menjadi seonggok mayat.
"Jangan lihat dia, Hinata … dengarkan aku, jangan melihatnya lagi!" dengan sigap Naruto menarik tubuh Hinata ke dalam pelukannya. Ia berusaha memalingkan pandangan Hinata dari tubuh Kakashi yang sudah terbelah, Naruto memeluknya erat, "Pikirkan saja Hatake-san yang ceria … yang masih bersama-sama dengan kita beberapa menit yang lalu. Kau harus tenang, kita harus kuat."
Hinata mulai terisak … dan kali ini, agen wanita itu balas memeluknya, "Aku tahu. Kita … harus … lari."
"Ya. Kau benar, Hinata … kita harus cepat lari. Aku takut monster itu ikut melompat," bisik Naruto sambil menepuk-nepuk punggung Hinata, berusaha menenangkan. Kedua tubuh mereka sama-sama bergetar ketakutan, tapi tak ada satu pun yang ingin membahasnya lebih jauh. Hinata sendiri sudah mengalihkan pandangannya dari tubuh Kakashi, ia berlindung di balik hangatnya pelukan Naruto yang tanpa disadarinya … terasa menenangkan. Membuatnya kembali siaga dan berpikir untuk bertahan hidup.
Hinata mengangguk, "I—Iya, kita harus cepat la ... NARUTO, MINGGIR!"
.
Dengan satu gerakan, Hinata mendorong tubuh Naruto yang masih memeluknya ke samping … ke sisi berlawanan dengan jasad Kakashi Hatake. Bersamaan dengan itu, terdengar bunyi dentingan senjata yang jatuh dari ketinggian lalu membentur lantai, suaranya memekakkan telinga. Naruto mendongakkan kepala seraya menyipitkan mata, ternyata itu adalah senjata raksasa milik sang monster berjubah! Pasti monster tadi mendengar ada suara teriakan keduanya di bawah sehingga ia melemparkan senjata. Tujuannya? Sudah pasti … monster itu juga memburu mereka berdua.
"Shit ...lari! Kita harus lari!" Naruto beranjak dari tempatnya, namun mengerang kesakitan ketika memijakkan kaki, "Arrgh … sial! Bukan hanya tangan, tapi kaki kiriku juga?!"
"Kau terkilir?!" Hinata sedikit memekik. Perhatiannya terbagi antara Naruto dan si monster yang tak bisa diprediksi ada di mana, "Apa kau bisa berdiri … apa kau bisa berjalan sedikit, Naruto?!"
"Tch, harus! Tidak peduli bagaimana sakitnya … tapi kita harus bisa lari dari sini," gerutu Naruto pada dirinya sendiri, "jangan pikirkan cederaku, Hinata! Ayo, cepat!"
"Ke arah sana!" tunjuk Hinata, "Kita—"
.
BRAKK!
.
Baik Hinata dan Naruto, keduanya tidak perlu lagi menebak suara apa yang baru saja mereka dengar. Tentunya bukan lagi suara separuh tubuh Kakashi yang jatuh, atau senjata milik sang monster. Karena kali ini … mereka tahu; ini adalah suara si monster berjubah itu sendiri.
Ia ikut melompat ke bawah dan berteriak bagaikan raungan!
"LARIII!" spontan Naruto berteriak kencang setelah melihat siluet monster setinggi dua meter lebih itu berada di tengah-tengah kegelapan ruangan, "MONSTER BRENGSEK ITU MENGEJAR KITA!"
Sambil memapah tubuh Naruto, jemari Hinata yang masih gemetar ketakutan segera menggenggam pucuk senjatanya, siaga pada pelatuk. Ia berpikir keras … dalam keadaan genting seperti ini, apa yang harus ia lakukan? Kliennya tengah menderita cedera pada pergelangan kaki juga tangan, secara langsung gerakan mereka juga melambat. Kemampuan monster itu tidak diragukan lagi sangat cepat dan buas, dalam waktu singkat saja mereka berdua bisa terkejar lalu dibunuh dengan mudah.
Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia prioritaskan sekarang?! Hinata menggertakkan gigi, dalam hati ia tahu apa yang harus ia lakukan. Di atas tugasnya sebagai agen, dan di atas dirinya sendiri … Hinata ingin agar Naruto Uzumaki bisa tetap selamat. Dan ia akan melakukan apa saja untuk itu.
"Aku akan menghambatnya, Naruto!" sahut Hinata kemudian. Dengan sedikit dorongan, ia ingin membiarkan sosok kliennya itu segera menyelamatkan diri, "Pergilah ke sana, itu arah pintu utama!"
Naruto terperangah, "A—Apa?! Hinata, jangan bodoh … kau—"
"Tidak ada waktu lagi!" Hinata sudah menyiagakan senjatanya. Ia menatap ngeri pada sosok monster yang tengah berjalan ke arah senjatanya yang jatuh, "Naruto, cuma ini satu-satunya kesempatan kita! CEPAT LARI!"
.
"Tidak mau!" tolak Naruto dengan tegas, menolak mentah-mentah perintah yang diajukan oleh Hinata untuknya, "Untuk apa aku selamat sementara kau mengorbankan diri, Hinata?!"
Menoleh sekilas, tersirat kebingungan dari wajah manis milik Hinata. Ia menatap Naruto dengan pandangan tidak mengerti, "Apa maksud—"
"Aku sudah pernah kehilangan segalanya, Hinata. Semua orang yang penting bagiku sudah tiada, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi," Naruto tidak tinggal diam. Berada di sisi wanita itu, ia mengeluarkan sepucuk senjata milik salah satu jasad pasukan Secret Service di lorong, senjata yang telah diberikan Kakashi untuknya, "sampai mati pun, aku akan tetap di sini bersamamu. Kita akan menghadapi monster keparat ini bersama-sama. Kau dengar itu?"
Hinata tertegun.
"Aku menyayangimu, Hinata … kau penting bagiku," perangai Naruto berubah menjadi ekstra serius, ia melirik ke arah Hinata sambil menyunggingkan senyum sempurna … seakan sangat yakin pada keputusannya. Dalam sepersekian detik berikutnya, senyuman itu berubah menjadi seringai lebar khas Naruto, "dan aku tidak akan membiarkan orang-orang yang kusayangi pergi meninggalkanku lagi. Tidak akan."
Agen wanita yang berada di sisinya itu hanya diam tak percaya, antara bingung harus bertindak biasa dan terfokus pada sang monster, tapi ia tidak bisa mengabaikan perkataan Naruto begitu saja. Tak bisa dipungkiri, sebagian dari hatinya merasa terkejut sekaligus berbunga-bunga. Ada sebuncah rasa hangat yang mengaliri hatinya meski Hinata sadar bahwa mereka berada dalam situasi bahaya.
Jika mengesampingkan segala hal tentang profesi, sejujurnya Hinata merasa senang dengan pengakuan pria yang menjadi kliennya selama beberapa bulan terakhir ini. Ada seorang pria yang menyatakan perasaannya, dan bersedia menjalani mimpi buruk ini bersama-sama. Dia belum mengenali bagaimana bentuk perasaannya sendiri terhadap Naruto, tapi yang jelas ini bukan sesuatu yang menyebalkan. Setidaknya, Hinata tidak merasa keberatan dengan pernyataan Naruto, tidak sedikit pun.
Naruto menyukainya ….
Apa yang harus ia katakan?
Tapi, saat ini terlalu berbahaya untuk membahas masalah tersebut. Kesempatan untuk mengalahkan monster di hadapan mereka juga bukan persoalan mudah. Stamina mereka sudah habis dan tak ada lagi peran Kakashi Hatake sebagai penembak jitu. Mereka bisa kapan saja ditebas dan mati seketika … tapi jalan mundur sudah tidak tersisa dalam opsi keduanya.
Mereka hanya bisa bertarung dan melawan, atau mati mengenaskan berdua.
.
"Jujur saja, tenagaku sudah tidak banyak tersisa untuk melakukan manuver serangan," Hinata mengubah senjatanya menjadi sebilah pedang, "kita harus bekerja sama, Naruto."
"Kau menyerang dan aku yang menembak?" usul Naruto yang dijawab dengan satu anggukan dari partnernya, "Kemampuan menembakku biasa saja … tapi bisa sempurna kalau kau melihatnya di televisi karena sudah mengalami pengeditan. Tapi sekarang … haah—aku harus bersungguh-sungguh nih!"
"Kurasa pilihan kita di sini hanya satu, Naruto … membunuh atau terbunuh."
"Hmm … kalau begitu aku pilih opsi pertama." Jawab Naruto sekilas, "Kau siap, Hinata?"
Partnernya menganggukkan kepala. Keduanya mengeratkan senjata masing-masing, sementara jemari Naruto telah siaga pada pelatuk, siap menembak. Monster itu sendiri sudah berdiri tepat di hadapan mereka, menjulang tinggi bagaikan sebuah raksasa dengan senjata tajamnya, siap menebas lawan. Melihat keberadaan monster itu saja sudah cukup menciutkan nyali Naruto, dalam hati ia mengumpat. Sial, dia tidak sudi mati di tempat seperti ini!
.
.
"Fire! Tembak kepalanya!"
DOR!
DOR! DORR!
Monster itu meraung keras, langkahnya terdengar berdebam di atas permukaan tanah. Sementara sang monster mengeluarkan suara nyaring, Naruto dan Hinata sama-sama kebingungan. Kesiagaan keduanya buyar ketika menyadari tidak ada seorang pun di antara mereka yang menembak. Ruangan gelap itu sekarang diterangi cahaya dari senjata api … lusinan peluru memborbardir tubuh robot KISAME itu tanpa ampun, tanpa jeda sedikit pun. Derap langkah kaki juga terdengar di sela-sela desingan peluru, tampaknya lantai dasar ini telah dihadiri banyak tamu lain.
"Bravo Team, incar kepalanya! Jangan biarkan dia bergerak!" teriak seseorang lagi di tengah kegelapan.
Naruto mengerjapkan mata berkali-kali, dan baru menyadari Hinata Hyuuga tengah menggenggam tangannya. Wanita itu mengajak agar Naruto mundur dan menyelamatkan diri. Tembakan-tembakan yang luar banyaknya itu terarah pada sang monster, dan itu berarti … mereka bukanlah musuh!
Pasukan bantuan telah datang!
.
"Uzumaki-sama, Anda baik-baik saja?! Mundur, di sana tidak aman!"
Naruto menoleh, mendapati seorang pria beralis tebal dan berotot kekar tengah menggiring tubuhnya dan Hinata agar segera menghindar dari rentetan peluru. Mereka mundur dalam kegelapan pekat, sementara pria bersenjata ini menerangi langkah-langkah mereka menggunakan senternya. Setelah keadaan dinilai aman, barulah ketiganya berhenti melangkah.
"Guy-san?!" ketika lavender Hinata melihat keberadaan pria di hadapannya ini, Naruto melihat adanya pengharapan. Seakan-akan separuh bebannya terangkat naik oleh adanya bala bantuan, "A—Anda … yang memimpin operasi ini?"
"Ya, Hyuuga. Kantor pusat telah mengirimkan bala bantuan, aku ikut masuk bersama enam regu yang lain. Ada dua regu di luar sana sedang berjaga-jaga, kami sudah mengaktifkan komunikasi internal dan bisa berkomunikasi dengan tim di luar sana." Kata pria itu, "Uzumaki-sama … namaku Might Guy. Aku yang memimpin Operasi Akishima kali ini. Syukurlah Anda masih selamat, rupanya kami datang di saat yang tepat. Bagaimana kondisi orang-orang lain yang kau tahu?"
Naruto tersenyum miris. Berharap jika saja mereka datang lima menit lebih cepat, mungkin nyawa Kakashi Hatake masih bisa diselamatkan … dia tidak perlu terbelah dua seperti itu.
"Mereka mengincar kami semua. Pertama-tama menyerang Neji, lalu Sasori-sama … kemudian Ha—Hatake-san … dia juga sudah …." Hinata tidak mampu melanjutkan. Pasti bayangan bagaimana jasad Kakashi yang jatuh terpelanting hingga buyar di lantai dasar membuat lidah Hinata kelu, tidak sanggup berkata-kata.
"Aku mengerti," sambil menepuk pundak agen wanita di hadapannya, Might Guy berpaling dan memandang Naruto, "Uzumaki-sama … jalan keluarnya ada di sana. Kami masuk melalui jalur rahasia yang ditunjukkan Senju-sama, lorong itu akan terhubung langsung dengan Galeri Seni Konoha. Sebaiknya kalian berdua segera keluar, bagian medis akan segera menangani kalian. Oh ya, Shikamaru Nara juga sudah berhasil diselamatkan. Kami sudah mengadakan kontak dengan beliau, mereka sudah keluar dari gedung ini. Sekarang, serahkan sisanya kepada kami; Secret Service!"
.
Naruto mengangguk.
"Ayo, Naruto," ajak Hinata seraya tersenyum simpul, manis sekali.
Sambil dipapah Hinata … langkah-langkah Naruto terasa luar biasa ringan sekarang. Mereka berjalan menjauh dari desingan peluru dan raungan sang monster. Akhirnya mereka berhasil selamat, akhirnya ia dan Hinata bisa tetap hidup dari monster keparat itu! Merasa luar biasa bahagia, tanpa canggung sedikit pun lengan kanan Naruto perlahan naik … lalu merangkul bahu Hinata dengan erat. Ia menarik tubuh Hinata, mempersempit jarak antar mereka tanpa ada perlawanan sedikit pun dari partnernya.
Menyunggingkan senyum tiga jarinya, Naruto menatap lorong gelap gulita di depan sana bagaikan melihat pintu kemerdekaan. Rasa lega yang meluap-luap membuat segalanya terasa ringan. Ia menoleh, dalam kegelapan mencuri pandangan pada partner wanitanya … orang yang sudah berjasa banyak untuk menyelamatkan hidupnya. Sementara pandangan Hinata tetap tertuju ke depan, ia tidak bisa melihat bagaimana tatapan yang ditujukan padanya.
"Hinata-chan?" panggil Naruto pelan, menunggu respon sang bodyguard.
"Ya?" Hinata menoleh, "Ada apa? Apa kakimu terasa sa—nngh?!"
Tidak menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya, Naruto lebih dulu membungkam bibir Hinata menggunakan miliknya. Hinata membatu saat Naruto menciumnya … lagi! Bukan ciuman untuk menghentikan ocehannya yang terdengar berisik, tapi kali ini terasa lebih tulus dan lembut.
Ciuman itu hanya berlangsung sesaat, sebelum Naruto melepaskan bibirnya lalu terkekeh senang, tidak peduli dengan kedua pupil Hinata yang masih terbelalak, "Hehehe, akhirnya kita bisa keluar dari tempat ini, Hinata-chan! Ayo kita pulang lalu makan ramen!"
.
.
.
"Senang melihat Anda, Uzumaki-sama."
Senyuman di wajah Naruto yang terarah hanya pada Hinata kini menghilang … ia kembali menatap lorong gelap di hadapannya sambil mengerutkan alis, terkejut. Tepat di hadapannya telah berdiri Shikamaru Nara, berdampingan dengan seorang pria yang ia kenal … namun seharusnya tidak berada di sini. Di mana Yahiko Pain yang seharusnya menjaga Shikamaru? Kenapa orang kepercayaan sahabatnya; Sasuke Uchiha, bisa ada di tempat ini menggunakan seragam agen keamanan? Dan, satu hal lagi yang membuatnya bertanya-tanya adalah … tepat di sebelah kaki Shikamaru Nara, tampak dua orang anggota berseragam Secret Service yang jatuh tergeletak tak sadarkan diri.
Ada apa ini?
"Sai?" Naruto terperangah tak percaya, rangkulannya pada bahu Hinata otomatis lunglai, "Kenapa kau bisa ada di sini bersama … Nara-san?!"
Shikamaru Nara tidak menjawab, dia terlalu sibuk menatap sebuah layar komputer mini di hadapannya.
"Kami sengaja menunggu kalian," jawab Sai tanpa sekali pun melupakan guratan senyum manisnya, "Banyak hal yang terjadi hari ini, jadi tolong jangan tanyakan apapun untuk saat ini. Tapi kita harus segera pergi, dan sebaiknya kita menolak untuk diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis di luar. Ini demi keamanan dan keselamatan kita semua. Seperti halnya Anda mempercayai Sasuke-sama … maka untuk kali ini, kumohon … percayalah padaku."
"Hah? Tapi … kenapa? A—Apa maksudmu, Sai?!"
Apa-apaan ini?
Apa mimpi buruk ini belum berakhir?
"Aku akan menjelaskannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah; percaya padaku atau kita semua akan habis di sini," jawab Sai pendek, "lalu … Anda Nona Hinata Hyuuga, bukan? Anda yang bertanggung jawab atas keselamatan Uzumaki-sama, 'kan? Maka Anda bisa membantuku untuk menolak bantuan medis di lokasi, dan beralasan bahwa kita akan segera pergi memeriksakan diri ke Rumah Sakit Konoha … dalam pengawasan langsung Tsunade Senju."
Hinata menoleh sekilas pada Naruto. Ia tidak mengenali pria ini … tapi tampaknya, Naruto mengenalnya. Keputusan bagaimana ia mau bekerja sama atau tidak akan bergantung pada respon pria di sampingnya ini, "Siapa dia, Naruto?"
"Sai adalah orang kepercayaan Uchiha bersaudara, Hinata. Dia satu-satunya orang yang berhak mengurus TAKA Corporation sekaligus kediaman Uchiha," Naruto mengangguk, "aku sangat menghormati Itachi-san … dan sejelek-jeleknya si Sasuke-teme, aku tetap percaya padanya. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi di sini, tapi kurasa kita bisa mempercayai Sai."
"Baik, aku akan ikuti rencanamu," Hinata langsung membuat keputusan tegas. Ia bahkan mengambil beberapa langkah di depan, menghampiri Sai dan menatapnya tajam, "tapi jika rencanamu ternyata membahayakan klienku, maka aku tak akan segan-segan padamu, Sai-san."
"Well … terima kasih, Nona," ujar Sai lengkap dengan senyum manisnya. Ia berbalik badan, dan mulai berjalan ke arah pintu keluar, "ayo … ikuti aku. Kita akan meninggalkan lorong pengap ini dan bertingkah seolah-olah tidak butuh tenaga medis di luar sana."
Baik Sai, Shikamaru, juga Naruto dan Hinata … keempatnya secara beriringan berjalan meninggalkan lorong, lalu keluar jalur tersembunyi melalui Galeri Seni Konoha.
.
.
.
Unknown Place
"Apa ini tempatnya?" Itachi berdiri tegap. Dengan punggung tangannya ia menghapus beberapa jejak keringat yang tertinggal pada kening, wajah tampannya terlihat sedikit letih karena berjalan kaki seharian, "Ini markas HEBI? Kau yakin, Sui?"
"Tch, kenapa memangnya? Apa bangunannya terlihat seperti pabrik peti mati dibandingkan perusahaan respiratory support ternama, hee? Tapi nyatanya … ya, memang di sini," dengan seringai hiunya Suigetsu berkata dengan bangga, "percayalah padaku … kantor besar yang dilihat orang-orang di Suna adalah kedok belaka. Mereka memulai segalanya dari tempat kumuh ini, tempat terpencil di tengah hutan seperti ini. Mencurigakan, mereka seperti menyembunyikan sesuatu. Aku tidak akan heran jika seandainya mereka melakukan percobaan tentang manusia ... seperti zombie atau sejenisnya."
"Terlalu menyeramkan tapi nyata, apa itu maksudmu?" Itachi tersenyum simpul. Berada beberapa pekan bersama satu-satunya rekan kerja secara tak langsung membuat kecanggungan antara Itachi dan Suigetsu Hozuki sedikit mencair. Meski tetap saja, tujuan utama si sulung Uchiha ini belum juga terbongkar, "Lalu … apa 'orang itu' juga ada di sana?"
"Yep, tak salah lagi." Suigetsu mengangguk, "Aku sudah memastikannya berkali-kali … informasi yang kudapatkan itu tidak sembarangan lho, Itachi. Orang yang kau cari itu ada di tempat ini, percayalah."
Entah atas dasar apa, segurat senyum tipis terpancar dari bibir Itachi. Ia seperti menatap adanya keajaiban di depan mata, "Hn … kalau begitu bisa kukatakan; saatnya telah tiba."
Bukannya mulai berjalan ke arah bangungan besar yang merupakan laboratorium utama HEBI, Itachi justru berjongkok, lalu meninggalkan barang-barang pribadinya dalam tas. Ia menaruhnya di balik semak-semak belukar hingga letaknya tersamarkan. Kegiatan itu kontan membuat Suigetsu mengerutkan alis.
.
"Hei, apa yang mau kau lakukan selanjutnya? Kenapa kau menaruh tasmu di sana, Itachi?" Tanya Suigetsu tak mengerti. Ia ikut berjongkok di samping Itachi, "Satu hal lagi, kita sudah sampai sejauh ini … aku sudah melakukan tuga. Sekarang, beritahu aku. Apa sebenarnya rencanamu terhadap HEBI?"
"Aku tidak berurusan dengan HEBI, tapi aku punya urusan dengan orang yang kuperlihatkan padamu lewat foto. Sudah kubilang sebelumnya, 'kan? Aku akan membalaskan dendam atas hancurnya keluargaku," jawab Itachi singkat. Ia mengeluarkan sebuah kotak hitam dengan beberapa tombol aneh, layaknya sebuah radio pemancar. Itachi mengoperasikan benda itu dengan hati-hati, "Dextrale milikku sengaja ditinggalkan di Konoha, tapi benda ini punya fungsi yang hampir mirip dengan itu. Dan apa yang sedang kulakukan sekarang adalah … memanggil orang yang berusaha menangkap sinyalku. Tepatnya, memberi tahu posisiku orang yang memang mencari keberadaanku di sini."
Suigetsu diam tak mengerti, sementara Itachi telah selesai mengoperasikan kotak hitam tersebut lalu menaruhnya kembali ke dalam tas, "Nah, sekarang semuanya sudah siap … ayo."
"Hah? Kau belum mengatakan rencanamu padaku! Apa yang mau kau laku—EH?!" pertanyaan Suigetsu terhenti saat Itachi mengeluarkan sepucuk senjata yang disodorkan untuknya.
"Kau bisa menembak?" tanyanya pendek, "Haha, sudahlah … ambil saja, tidak perlu kau jawab. Aku sudah membaca datamu sebelumnya, kau ingat? Itu termasuk data-data penilaian tentang kemampuan militermu. Aku sudah tahu bahwa semua peserta cryonics telah dibekali ilmu mengenai penggunaan berbagai senjata sebagai upaya untuk penyelamatan diri, jadi aku yakin kau pasti bisa menggunakannya … terlebih jika mengingat bahwa kau memiliki nilai yang baik dalam tingkat akurasi. Oh ya, senjata ini semi otomatis, kau tidak perlu menarik pelatuknya berkali-kali."
.
Meninggalkan Suigetsu yang masih terkejut, Itachi sudah lebih dulu berdiri, "Sekarang yang harus kita lakukan adalah masuk ke dalam markas HEBI, lalu menemukan orang yang kucari. Temukan orang itu bagaimana pun caranya ... dan jika semuanya sudah selesai, akan kukabulkan permintaanmu. Pengalihan kewarganegaraan ke Suna atau Konoha, suplai Zephyr tanpa batas, juga sejumlah materil yang nominalnya tak akan bisa kau habiskan sepanjang hidup. Apa itu bayaran yang adil untukmu, Sui?"
"Tch, dasar konglomerat," Suigetsu memamerkan deretan gigi tajamnya seraya bangkit berdiri, menatap sepucuk senjata yang tengah digenggamnya, "yah, kurasa bayaran itu setimpal dengan semua misteri menyebalkan ini. Tapi ... apa kau sendiri bisa menggunakan senjata, Itachi? Seorang komisaris utama TAKA sepertimu mahir menggunakan senjata api? Hahaha, aku takjub mendengarnya."
Tidak terlalu menanggapi ucapan bernada sarkastis dari lawan bicaranya, Itachi Uchiha hanya menaikkan kedua bahu. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan di tempat ini. Sekilas onyx miliknya hanya memperhatikan postur Suigetsu dari ujung kepala hingga kaki seperti menilai kualitas partnernya, "Pastikan saja kau tidak tertembak lalu mati sia-sia. Tapi pertama-tama … kita akan menyapa dengan cara halus, jadi sembunyikan senjatamu dan bersikaplah sebagai seorang tamu."
Suigetsu segera menyelipkan senjatanya di balik jubah yang serupa dengan yang dikenakan Itachi, ia tersenyum sinis seraya menggerakkan kesepuluh jemari layaknya pemanasan, "Siap, bos. Apa bisa kita mulai 'acara bertamu' ke markas HEBI ini secepatnya?"
Mengangguk sekilas, Itachi dan Suigetsu segera berjalan ke arah bangunan besar yang diyakini sebagai kantor utama HEBI … dengan sepucuk pistol yang disembunyikan di balik jubah masing-masing.
.
.
.
Iwagakure
Aku sudah mencoba menenangkan diri dari semua cerita yang diutarakan Gaara. Memasak membuat perasaanku jauh lebih baik, meski aku tetap memilih diam dari keduanya. Kelak, aku pasti menceritakan semua yang kudengar dari Gaara pada Sasuke, hanya saja waktunya belum tepat. Acara makan malam kami lalui dengan keheningan, aku memilih duduk di samping Nenek Chiyo yang terlihat lelah. Di usia senjanya, Nenek Chiyo benar-benar terlihat rasional dan tegar … aku salut padanya.
Di sela-sela makan, tanpa diminta sekalipun akhirnya Nenek Chiyo bercerita soal Nova Vida. Meski tidak mendetail, namun dari sana aku tahu … dulu Nova Vida memang dirancang sedemikian rupa untuk menghadirkan kehidupan sehari-hari di tengah-tengah kehancuran dunia. Ayahku masih berperan penting dalam mengatur segala sesuatunya, dan seluruh individu memiliki porsi pekerjaannya masing-masing. Tapi pada kenyataannya, sepandai-pandainya manusia dan secanggih apapun peralatan yang bisa mereka buat, ketahanan mental adalah modal utama dalam bertahan dalam situasi sulit di zaman kehancuran semacam itu.
Sayangnya, tidak semua tenaga ahli dan penghuni Nova Vida bisa bertahan dari tekanan mental. Sebagian tokoh-tokoh penting di sana melakukan aksi bunuh diri yang membuat penghuni awam lainnya merasa semakin terpuruk, seolah-olah mereka akan terjebak dalam bahtera raksasa itu sampai ajal menjemput. Mereka merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup dengan normal. Tekanan mental membuat akal sehat mereka tumpul, mereka memilih untuk mengakhiri hidup masing-masing. Karena kehilangan sebagian orang-orang yang memiliki andil penting dalam roda kehidupan internal di Nova Vida, sistem kehidupan yang aman tenteram pun perlahan berubah menjadi tidak kondusif.
Di sisi lain muncul juga pemberontakan, mereka menuntut kebebasan dari bahtera tanpa tahu konsekuensinya. Mereka bahkan berhasil meledakkan salah satu bagian bahtera yang juga berpotensi menghancurkan seluruh kehidupan Nova Vida. Bahtera raksasa ini dibangun saling berhubungan, maka jika salah satu bagiannya hancur, bagian lainnya pun akan mendapat imbas. Mereka akan mati secara bersamaan. Alhasil, beberapa orang berjiwa heroik mencoba melepaskan bagian yang telah hancur dan menutup aksesnya, dengan konsekuensi menukar keselamatan penghuni lain dengan hidup mereka sendiri. Mereka adalah para pahlawan yang berkorban demi visi utama Nova Vida, yang menjanjikan kehidupan baru bagi ras manusia di masa depan.
Masalah-masalah lain juga terus bermunculan … lambat laun sisa-sisa manusia menjadi tidak percaya satu sama lain. Seiring pertambahan waktu, beberapa diantaranya juga wafat karena penyakit juga usia lanjut. Persediaan makanan yang semakin menipis sementara kondisi bumi belum juga stabil membuat tiap individu tidak lagi mengutamakan kehidupan sosialnya. Mereka hanya perlu hidup, tidak peduli jika sesamanya mati … bahkan mungkin sebagian dari mereka akan merasa bersyukur karena pasokan makanan bisa bertambah. Mereka telah membuang jauh-jauh rasa kemanusiaan dan lebih mengutamakan keserakahan demi bertahan hidup.
.
"Lalu … bagaimana akhirnya?" aku bertanya tanpa sekali pun menanyakan nasib ayah dan ibu, berharap Nenek Chiyo bersedia menjelaskannya padaku.
"Kau sudah lihat sebelumnya, 'kan? Hanya aku yang tersisa di Nova Vida," ujar Nenek Chiyo seraya tersenyum pahit, "ah … sebelumnya ada juga sekumpulan penghuni yang berhasil keluar lewat jalur barat, hal itu mengakibatkan Nova Vida karam dan terdampar di tempat ini, hutan yang kau sebut dengan nama Iwagakure. Aku tidak tahu apa sekumpulan orang itu selamat atau tidak."
Pupilku membulat, "A—Apakah mungkin … ayah dan ibuku juga …."
"Tidak, bukan orang tuamu. Ayah dan ibumu itu orang yang berdedikasi tinggi, Sakura. Mereka tidak akan melakukan hal-hal bodoh semacam itu. Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak membaca buku harian ibumu sampai selesai?"
Aku menggeleng lemah, dari pandanganku tampaknya Nenek Chiyo juga mengerti … bahwa aku takut menerima kenyataan. Aku terlalu takut untuk mengetahui kondisi orang tuaku di saat-saat terakhirnya, karena aku masih berharap ada secercah harapan atas hidup mereka. Meskipun hanya bernilai satu persen, tapi aku tidak ingin memadamkan harapan jika orang tuaku masih hidup. Meski mustahil, tapi aku masih berharap ada keajaiban yang akan terjadi pada orang-orang di masa laluku.
.
"Kita akan tidur di sini, aku sudah membuat dua buah tenda," ujar Sasuke seraya menghampiri kami, "Sakura dan Nenek, kalian gunakan tenda yang pertama … sementara aku dan bocah rambut merah itu akan tidur di tenda kedua."
Aku mengerjapkan mata beberapa kali.
Gaara akan tidur dengan Sasuke? Wow, aku sama sekali tidak percaya pada keputusan Sasuke … dan aku juga belum siap untuk melihat perang dunia ketiga di tempat ini. Mana mungkin mereka berdua akur setelah adegan pemukulan tadi?! Bahkan pipi Gaara juga masih terlihat lebam karenanya!
"Kau akan tidur dengan pria rambut merah itu? Hahaha—menggelikan," tiba-tiba Nenek Chiyo ikut tertawa, "jangan bercanda. Aku tidak ingin ada keributan di tempat ini … dan jangan pikir aku terlalu bodoh untuk urusan percintaan remaja. Kau akan membunuh bocah itu sebelum fajar tiba, pantat ayam. Jadi, lebih baik aku yang tidur dengan pria bernama Sabaku Gaara itu. Kalian berdua bisa bermesraan di tenda pertama, bukankah itu lebih baik, hmm?"
Pupil emerald-ku justru terbuka lebih lebar setelah mendengar ide Nenek Chiyo, "EHH?! Ti—Tidak, Anda salah paham tentang ka—"
"Tenang saja. Aku sudah berbincang lebih dulu dengan si rambut merah, dan kami berdua memilih opsi ini. Tidak akan ada pertikaian darah di tenda kami berdua," Sasuke tersenyum sinis, "Meski sebenarnya aku sangat ingin tidur berdua denganmu, Sakura."
EH?! Ti—Tidur berdua denganku?!
Ugh … mendadak jantungku terpompa beberapa kali lipat gara-gara ucapan Sasuke!
"Baiklah, aku akan tidur duluan, Sakura." Menepuk pelan bahuku, Nenek Chiyo bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan tertatih-tatih menuju tenda. Ia juga menepuk pundak Gaara, memintanya agar segera masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Di saat-saat seperti ini tampaknya Nenek Chiyo ingin memberi waktu agar aku bisa berdua dengan Sasuke. Setelah menunggu sampai Gaara berjalan lunglai memasuki tenda, kini yang tersisa hanyalah aku dan Sasuke.
.
"Kau tidak tidur?" Tanya Sasuke seraya membelai pelan rambutku, pandangannya ikut melembut, "Maafkan soal kejadian tadi sore. Aku tidak sengaja mendengar separuh pembicaraan kalian … dan tanpa pikir panjang aku juga memukul si rambut merah itu."
Aku mengangguk kecil.
"Besok, apa rencanamu?" tidak berniat untuk membahas hal tersebut, aku memilih untuk mengalihkan pertanyaan, "Kemana kita harus mencari Itachi-san … sementara kita sendiri terasing di tempat ini? Ini sudah dua hari sejak kita meninggalkan Konoha, dan tidak ada tanda-tanda mengenai kakakmu. Apalagi Jiraiya-san juga sudah …."
"Aku akan pikirkan langkah selanjutnya malam ini, terutama karena perjalanan kita tidak lagi berdua. Sekarang kita berempat, ditambah lagi satu di antaranya lansia. Tapi kau tenang saja, hari ini banyak yang terjadi dan aku tahu kau pasti lelah. Istirahatlah," tak bisa kubayangkan, sifat Sasuke berubah seratus delapan puluh derajat ketika bersamaku. Sifat dinginnya seolah mencair dan dia terlihat jauh lebih hangat, "selamat tidur, Sakura."
"Oyasumi, Sasuke-kun." Tanpa canggung aku memanggilnya dengan sebutan itu seraya tersenyum, lalu balas menatapnya yang tengah berseri-seri. Hehe, sepertinya Sasuke senang setelah dipanggil dengan sebutan "-kun". Wajahnya yang tersipu seperti itu benar-benar langka sekaligus menggemaskan.
Aku mulai membalikkan badan dan berjalan ke arah tenda. Ya, aku sangat berharap besok kita akan segera menemukan jalan keluar mengenai posisi Itachi Uchiha sehingga kita bisa secepatnya pulang ke Konoha. Mengenai buku harian ibuku juga … kupikir aku memang harus memberanikan diri dan—
.
.
"Sakura."
Aku menolah dan … membatu.
Tiba-tiba wajah kami hanya berjarak sekitar beberapa sentimeter, hingga akhirnya tak terpisahkan lagi. Kami berciuman … ti-tidak, tepatnya Sasuke tiba-tiba menciumku! Sementara Sasuke menahan kepalaku menggunakan sebelah tangannya, aku hanya bisa diam di tempat layaknya batu karang. Dengan mata yang terpejam, Sasuke menciumku dengan begitu lembut … membuat perasaanku meleleh dan sekujur tubuhku dialiri rasa panas yang menjalar hingga ke seluruh tubuh. Ciuman ini seakan meneriakkan isi hatiku dan memperjelas bagaimana perasaanku yang sesungguhnya terhadap Sasuke.
Ternyata, aku memang menyukai Sasuke …
Dan perasaanku tetap tidak terbantahkan meskipun Gaara sekali lagi hadir dalam kehidupanku.
.
"Aku tidak akan menyerah," bisik Sasuke pelan setelah bibir antar kami terpaut jarak, "aku sempat mendengar tentang cerita masa lalumu dengan si rambut merah itu dulu, di Jepang. Kau memang sudah mengenalnya lebih lama daripada aku mengenalmu, kalian juga terbilang cukup dekat. Kau bebas memilih, Sakura. Tapi aku sendiri … aku tidak akan menyerah terhadapmu."
Senyum Sasuke Uchiha saat ini terlihat begitu tampan, sangat manis, dan terlihat begitu tulus. Dia memperlihatkan sosoknya yang seperti ini hanya padaku … sifat lembut yang tidak pernah diperlihatkannya pada siapa pun di lingkungan Konoha atau TAKA Corporation.
Hanya padaku … ya, hanya padaku.
"Terima kasih, Sasuke. Tapi, saat ini aku sedang tidak ingin memperumit masalah pencarian kakakmu dengan perasaanku padamu, atau dengan hubunganku dulu dengan Gaara. Jujur saja aku sangat senang melihat Gaara masih hidup, tapi tentang perasaanku terhadapnya … aku sendiri tidak ingin memikirkannya dulu." Sebagai gantinya, aku balas tersenyum ke arah Sasuke, "Bagiku sekarang yang terpenting adalah soal keberadaan kakakmu."
Pemilik onyx itu hanya menganggukkan kepala, "Hn, aku mengerti. Sekarang tidurlah, sudah malam."
"Oyasumi, Sasuke-kun."Kataku sambil tersenyum. Dan ketika aku memanggilnya demikian, pupil Sasuke melebar, dan muncul seringai yang tidak bisa ia tutupi, "He? Kenapa, ada apa?"
"Aku suka panggilan itu," jawabnya masih dengan raut yang sama, "hn … yah, aku suka sebutan itu. Bagaimana jika mulai sekarang kau akan memanggilku dengan suffix '-kun', Sakura? Hnn ... apa kau … keberatan?"
Ya ampun, lucunya ….
Sungguh, saat ini ekspresi dingin sang tuan muda Uchiha Sasuke sudah hilang seratus persen! Apa yang kulihat sekarang hanyalah seorang pria berambut pantat ayam yang sedang menyeringai bahagia, dan sedikit tersipu malu ketika aku memanggilnya dengan sebutan itu. Hehehe, Sasuke … ternyata kau bisa juga berekspresi manis seperti ini, ya?
"Kalau begitu, aku akan memanggilmu dengan sebutan itu. Kau senang?"
Layaknya seorang anak kecil yang kegirangan, tanpa pikir panjang Sasuke segera mengangguk-anggukkan kepalanya … menyatakan bahwa ia sangat menyukai panggilan itu. Dengan senyum tampan ia melambaikan tangan ke arahku, mengucapkan selamat tidur. Selanjutnya, sambil terus mengingat bagaimana senyum manis si pantat ayam, aku pun berpamitan dengan Sasuke lalu masuk ke dalam tenda, membungkus diriku dengan kantung tidur lalu beberapa menit kemudian terlelap.
.
.
.
"Sakura."
Aku mendengar namaku disebut.
"Sakura, bangunlah! Sakura, kau dengar aku?"
Entah berapa jam semenjak aku tertidur, tiba-tiba aku mendengar suara Sabaku Gaara tengah memanggilku seraya mengguncang tubuhku tak sabaran. Sial, rasanya mataku berat sekali … aku masih sangat ngantuk ketika dibangunkan mendadak seperti ini!
"Sakura, bangun!" katanya lagi, "HEI!"
Pada panggilan ke sekian kalinya, barulah aku membuka mata yang terasa rapat. Benar, ternyata Gaara memang ada di dalam tendaku, ia sedang berjongkok sambil menepuk-nepuk tubuhku. Mengenakan pakaian milik Sasuke yang ternyata pas di tubuhnya, Gaara berusaha tersenyum simpul, "Akhirnya kau bangun juga, Sakura-chan. Sini, kubantu kau duduk."
Gaara menggenggam tanganku, lalu membantu tubuhku hingga berada dalam posisi duduk.
"Hnng? Sepertinya ini masih sangat pagi … ada apa?" tanyaku sambil menguap lebar-lebar, tanpa canggung sedikit pun. Masih sama seperti dahulu, saat merasa Gaara aku merasa kami dekat dan juga akrab … maka tidak ada lagi perasaan canggung atau malu, dalam keadaan baru bangun tidur sekali pun. Menoleh ke kanan-kiri, aku juga tidak menemukan Nenek Chiyo, "Lho, mana Nenek Chiyo?"
"Semuanya sudah bangun kecuali kamu, tahu! Kau tidur pulas sekali sampai tidak sadar kami semua sudah berkemas, dasar tukang tidur!" tertawa geli, Gaara mencubit kedua pipiku sambil menggerakkannya ke kanan dan kiri, sebelum akhirnya aku protes dan menghentikan ulahnya, "Hahahaha iya iya, aku berhenti kok. Hmm, Nenek Chiyo di luar … dia baru saja mendapat injeksi cairan yang dinamakan Zephyr, katanya itu berfungsi untuk melancarkan pernapasan manusia di zaman ini. Lalu, bosmu yang galak itu … barusan dia heboh karena alat yang dimilikinya menangkap sinyal. Katanya, alat itu sudah diprogram untuk mencari sinyal Dextrale atau apalah … dan dua puluh menit yang lalu benda itu menyala. Dia mendapatkan sinyal keberadaan kakaknya, itu yang kudengar."
Aku terbelalak tak percaya, "A—Apa?! Sudah ada sinyal dari Itachi-san?!"
"Iya, aku tidak begitu mengerti itu benda apa … tapi pria pantat ayam itu menyuruhku membangunkanmu. Dia masih sibuk melipat tenda dan mengoperasikan kotak hitam itu, juga mengenakan semacam gelang aneh di tangan kirinya. Kau harus segera berkemas, Sakura … kita akan segera berangkat." Melihatku yang langsung menganggukkan kepala tanpa pikir panjang, tiba-tiba Gaara tersenyum lebih lebar lagi, "Oh ya, supaya cepat … bagaimana jika kubantu berkemas? Aku bisa membantumu berganti pakaian atau—"
"GRRR … tidak perlu! SUDAH, KELUAR SANA, MESUM!" kataku seraya menjenggut rambut merah Gaara, memberinya hukuman meski aku tahu itu hanya candaan yang biasa ia lakukan. Gaara meronta sambil terbahak-bahak, meminta ampun padaku dengan gayanya yang khas. Dalam waktu sekejap, aku merasa hubungan kami yang semula kaku kini telah mencair dan kembali akrab seperti dulu.
Gaara sendiri sudah paham pada posisinya. Sambil terkekeh dan merapikan model rambutnya, ia segera bangkit lalu meninggalkan tenda … membiarkanku berkemas dan berganti pakaian.
.
.
"Sasuke-kun, kudengar kau sudah mendapatkan sinyal keberadaan Itachi-san?" tanyaku sedetik setelah aku pergi meninggalkan tenda. Ternyata benar, di luar tenda keadaan sekitarku sudah bersih, perlengkapan menginap kami semalam sudah dirapikan semua—kecuali tenda tempat aku tidur yang saat ini tengah dibereskan oleh Gaara. Aku melihat Sasuke duduk beralaskan pasir, kedua tangannya menggenggam sebuah kotak berwarna hitam.
"Hn," masih dengan ucapan statis tanpa arti, Sasuke terfokus pada pekerjaannya. Sekarang yang menarik perhatianku adalah … pada pergelangan tangan Sasuke kini telah terpasang Dextrale; benda yang awalnya disimpan agar pihak Konoha tidak bisa melacak keberadaan kami, "Sakura, kotak hitam ini sudah dibuat sedemikian rupa oleh Karin untuk mempelajari sistem kerja Dextrale. Beberapa tahun yang lalu, Itachi-nii yang pertama kali memulai proyek penelitian ini. Kami membuat semacam alat transmisi untuk menangkap sinyal Dextrale, dan sebagai bahan uji cobanya … Karin menggunakan Dextrale-ku dan Itachi-nii. Dengan menggunakan alat pelacak sinyal tersebut, kami berdua bisa mengenali sinyal masing-masing dan melacak keberadaannya."
Aku diam mendengarkan.
"Sejak kita tiba di Suna, aku tidak pernah menemukan sinyalnya. Tapi tadi malam, tiba-tiba saja kotak hitam ini memancarkan sinyal … dan mendeteksi bahwa Itachi-nii berada di sekitar sini! Tidak, maksudku … dia memang berada di daerah ini, meski jaraknya cukup jauh dan akan memakan waktu tiga hingga empat jam perjalanan dengan berjalan kaki. Karena itulah, kita harus segera berangkat sebelum sinyalnya menghilang. Sakura, kau juga … aktifkan chip Dextrale milikmu, untuk berjaga-jaga."
Aku mengangguk.
"Hei, Uchiha. Tendanya sudah kulipat, kita siap berangkat sekarang." tiba-tiba Gaara muncul dan berdiri di antara kami. Lebih menakjubkannya lagi, Sabaku Gaara bisa memanggil Sasuke dengan nama "Uchiha" dibandingkan "pantat ayam"?! Wow, aku menduga sudah ada pembicaraan internal antara mereka berdua tadi malam. Sasuke sendiri hanya mengangguk singkat.
"Kita tidak bisa meninggalkan Nenek Chiyo, tapi bila membiarkan beliau berjalan seorang diri … itu juga tidak mungkin," terang Sasuke, "lipatan tenda itu bisa dimodifikasi menjadi sebuah ransel dan tempat untuk menggendong seseorang—tepatnya penyandang cacat. Kupikir itu bisa—"
.
"Aku masih mampu berjalan, chicken butt … jangan menghina seorang lansia!" protes satu-satunya wanita senior di antara kami. Nenek Chiyo tampak mengerutkan kening, lalu melipat kedua tangannya, "Kau pikir karena aku sudah tidak memiliki tempat tinggal, hidup seorang diri di hutan antah berantah ini … kau bisa mengasihaniku seperti seorang penyandang cacat? Aku masih sanggup berjalan!"
"Ya, masih … tapi tak akan bertahan lama, Nenek. Lagipula aku tidak mengasihanimu, aku bicara tentang efisiensi waktu," lagi-lagi Sasuke mengutarakan teorinya dengan dingin, "jadi, aku dan si rambut mer—ah, maksudku … Gaara, kami berdua secara bergantian akan menggendongmu, Nenek. Sudah, aku tidak menerima adanya sanggahan atau apapun itu. Kita akan berangkat sekarang … ayo."
Haha, ini dia … inilah perangai khas sang direktur TAKA Corporation yang tegas dan tanpa kompromi. Jangankan untuk protes, Sasuke bahkan tidak memberi kami kesempatan untuk menanyakan lebih lanjut mengenai rencananya, atau kemana kami harus melangkah. Yang bisa kami lakukan sekarang adalah; menurut dan mengikutinya. Memang, harus kuakui, untuk yang satu ini … sifat dingin si pantat ayam Sasuke Uchiha memang tak terbantahkan.
Kami berempat kini memulai kembali perjalanan menembus hutan, mencari keberadaan Itachi.
.
.
.
TAKA Corporation
Demi menyembunyikan data-data mengenai Zephyr, Ino Yamanaka merelakan barang-barang bawaannya di tas harus ditinggalkan untuk sementara waktu. Tas tangannya kini dipenuhi oleh arsip-arsip penting sesuai yang diperintahkan oleh sang komisaris utama—yakni Itachi Uchiha—dan langkah selanjutnya yang harus ia lakukan adalah mengambil data penelitian Sakura Haruno. Ino sendiri kebingungan, karena kemungkinan besar Juugo pasti masih berada di laboratorium. Apa yang harus ia katakan pada pria berambut jingga itu?!
Masih melangkahkan kaki ke arah laboratorium, tiba-tiba Dextrale miliknya berkedip berulang kali. Ino terbelalak ketika melihat siapa orang yang menghubunginya, "Ha—Halo? Sai, kau baik-baik saja?!"
"Selamat malam Nona Yamanaka, senang mendengar suaramu yang masih bisa berteriak. Tandanya aku benar-benar sudah keluar dari gedung malapetaka itu." Jawab Sai lengkap dengan sopan santunnya, "Aku baik-baik saja, sementara Karin masih ada di Akishima. Oh ya, apa Anda masih berada di kantor? Aku perlu beberapa bantuanmu, tolong dengarkan untuk—"
"Itachi-sama menghubungiku, Sai! Beliau bilang untuk mengamankan beberapa data miliknya, termasuk data penilitian Sakura. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana … kau tahu … Juugo masih ada di sana …." Potong Ino, merasa tidak sabar apalagi setelah mengingat perkataan Itachi untuk mempercayai Sai.
Hening beberapa saat, akhirnya Ino kembali mendengar suara Sai, "Ah … Anda sudah tahu rupanya? Baiklah, akan kuurus dia. Sekarang berjalanlah menuju laboratorium, lalu tunggu di balik tembok selasar … tunggu sampai Juugo-san keluar dari ruangannya. Aku akan memanggilnya ke arah lobby dan mengulur waktu untukmu, lalu segera tinggalkan laboratorium setelah Anda mengambil data yang diperlukan. Berhati-hatilah, Nona Yamanaka."
Ino menutup jalur komunikasi, dan tanpa sadar sekarang ia sudah melangkahkan kaki di area selasar laboratorium—jalur alternatif yang menyambungkan perkantoran TAKA dengan ruang penelitian mereka. Biasanya jalur ini lebih banyak dilalui oleh para direktorat atau tamu-tamu penting karena aksesnya lebih sepi dan sedikit lebih dekat daripada jalur yang biasa dilalui para pekerja. Berbelok ke arah green space yang dipenuhi taman sintesis, wanita cantik itu berjongkok dan menutupi dirinya di balik tembok, bersembunyi.
.
Tepat sesuai perkataan Sai, beberapa saat kemudian ia melihat sekelebat pria berjubah putih dan berambut jingga tampak berlari-lari kecil menuju elevator … akhirnya, Juugo keluar dari ruangan laboratorium! Tampaknya Sai sudah berhasil memanggil pria itu ke lobby dan memberi Ino kesempatan untuk masuk. Masih dengan jemari yang gemetar ketakutan, Ino bangkit lalu kembali bergerak cepat menuju laboratorium. Ia masuk dengan tergesa dan super tegang, bahkan ketika mengetikkan kode sandinya saja Ino nyaris melakukan kesalahan.
Yamanaka Ino berlari ke arah meja kerja Juugo juga Karin; tempat ia duduk berbincang beberapa saat yang lalu. Ternyata data-data mengenai Sakura Haruno masih berserakkan di atas meja, sementara Ino tidak mengerti data mana yang dianggap penting dan yang tidak. Tak berpikir lagi, ia langsung meraup berkas-berkas tersebut menggunakan kedua tangannya, merapikannya secepat kilat lalu memasukkannya ke dalam tas. Ya … sudah … selesai, yang harus ia lakukan selanjutnya adalah pergi dari TAKA menuju lokasi yang ditunjukkan Itachi Uchiha.
Baru saja keluar dari laboratorium, Dextrale-nya kembali berkedip. Sebuah telepon masuk, lagi-lagi dari Sai, "Halo, Sai? Aku sudah berhasil mengambilnya, sekarang—"
"Juugo menutup telepon dariku! Kurasa ia sedang berada dalam perjalanan kembali ke laboratorium. Nona Yamanaka, cepat ambil jalur selasar dan pergilah menuju basement!" perintah Sai, "Tinggalkan kendaraanmu, aku akan menjemputmu di sana. Aku sendiri hampir sampai, bergegaslah!"
"Oh, shit …." Bahkan gadis sopan seperti Ino akhirnya mengeluarkan umpatan.
Ia tidak punya waktu banyak, Ino harus segera lari dari tempat ini! Tidak lagi memperhatikan penampilannya, Yamanaka Ino segera menanggalkan sepasang high heels miliknya, ia segera berlari sekuat tenaga sambil menjinjing tas dan sepatunya, berlari kencang tanpa menggunakan alas kaki. Ino melintasi area selasar dan berlari seorang diri, lalu memilih rute elevator terdekat dan yang paling sepi ... yakni elevator yang biasa digunakan Uchiha bersaudara. Tidak mungkin mencapai basement dalam waktu singkat tanpa menggunakan elevator, jadi ia tidak punya pilihan lain. Ino segera menekan tombol elevator, dan pintunya segera terbuka dalam hitungan detik.
"YAMANAKA-SAN! TUNGGU, HEI … TUNGGU AKU!"
Keringat dingin yang disertai detak jantung yang kembali melonjak tinggi mampu membuat sekujur tubuh Ino merinding seketika. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa orang itu … karena ia mengenal suaranya. Itu suara Juugo! Pria bersurai jingga itu sekarang tengah berlari kencang seraya memanggil-manggil namanya berulang kali. Juugo berlari sekuat tenaga, berusaha mengejarnya. Dilihat dari gelagatnya … jelas-jelas Juugo sudah mencurigai Ino yang mengambil berkas Sakura!
"YAMANAKA INO! HENTIKAN! HEI, YAMANA—"
Pintu elevator lebih dulu tertutup … dan Ino sekuat tenaga menekan tombolnya tanpa terlepas sedikit pun, "Turun … turun … cepatlah turun!"
.
.
Elevator yang dinaiki Ino turun lantai demi lantai, dan memang sudah diatur agar tidak berhenti di tengah-tengah. Alasannya sudah jelas, karena elevator ini hanya dikhususkan untuk kalangan direktorat, maka sebagian dari mereka—terutama Sasuke Uchiha—adalah orang-orang yang tidak ingin waktunya terbuang hanya untuk menunggu hilir mudik orang yang turun di lantai lainnya.
TING!
Pintu terbuka … dan tidak ada hal lain yang membuatnya lebih bahagia saat ini, selain kehadiran Sai yang masih mengulas senyum sempurna. Rasanya ketegangannya berkurang separuh, meski ucapannya masih bernada sedikit histeris, "Sai! Ju—Juugo … dia mengejarku sampai elevator! Tapi aku berhasil menutupnya lebih dulu … oh, ya Tuhan … aku takut sekali!"
"Tenanglah, kita akan pergi sekarang." Tapi sebelum sempat melangkahkan kaki, Sai terkekeh kecil saat melihat penampilan asisten elegan tuannya kini tampak begitu kacau. Rambut acak-acakan, banjir keringat, terengah-engah … dan tengah menjinjing sepatunya sendiri, "Well … apa Anda berencana menukarkan sepatu milikmu dengan sepatu kaca Cinderella, Nona Yamanaka?"
"Ah?! Eh—bukan … ini … hanya untuk …." Ino baru tersadar pada penampilannya.
"Tidak baik berjalan di basement tanpa menggunakan alas kaki, Nona. Meski aku tidak punya sepatu kacanya, tapi aku bisa membantumu," bahkan tidak meminta izin, Sai segera menggendong Ino menggunakan kedua tangannya. Dalam sekejap, Yamanaka Ino sudah berada dalam kedua tangan Sai, pria itu membopong tubuhnya ala bridal style.
"WAA! Tu—Turunkan aku!" Ino mendadak panik.
"Daripada menunggumu mengenakan sepatu, cara ini lebih cepat, Nona." Seakan tidak membawa beban apapun, Sai mampu mempertahankan posisinya dan berjalan cepat menuju mobil.
"Jangan. Tidak! Ini memalukan … aku masih sanggup berjalan … Sai!"
"Oh ya, aku juga bersama tiga tamu lainnya … mereka akan ikut bersama kita." Mengacuhkan gerutuan Ino, Sai tetap berjalan cepat menuju mobil besar yang tidak pernah dilihat Ino sebelumnya. Tidak seperti kendaraan standar yang hanya dapat mengangkut empat orang dewasa, kendaraan futuristik yang satu ini mampu menampung lebih banyak orang, "Nah, itu mobilnya."
.
Yang lebih membuat Ino melongo adalah … ada seseorang yang membantu Sai membukakan pintu mobil, dan orang tersebut adalah … sang aktor tampan Naruto Uzumaki! Ditambah lagi, di sebelah Naruto telah duduk seorang wanita manis beriris lavender dengan lambang Secret Service melekat pada lengan kirinya. Di sisi pengemudi, ia bahkan melihat ada Shikamaru Nara yang namanya sudah tersohor di se-antero Konoha berkat penemuan Dextrale-nya. Dua orang anggota Children of Konoha dan seorang wanita cantik? Oh sial, saat ini Ino merasa seperti sedang mempertontonkan opera sabun "adegan menggendong tuan putri" di hadapan mereka.
"Hai, Nona sekretaris! Senangnyaa digendong~" sapa Naruto dengan seringai tiga jari, yang segera ditepuk oleh wanita lavender di sisinya. Seakan memperingatkan bahwa itu tindakan yang kurang sopan, "Hee—iya iya, Hinata-chan … aduuh sakit nih! Aku kenal kok dengan Nona Yamanaka, dia itu orang kepercayaannya si Sasuke-teme juga, Hinata ... jangan pukul-pukul dong, tangan kiriku masih sakit lho! Kemarilah, Yamanaka-san … kubantu kau naik."
Sai membantu Ino sampai naik dan duduk di kursi penumpang, duduk tepat di sebelah Naruto. Karena rasa kikuk yang tak kunjung hilang, Ino hanya bisa mengangguk singkat pada pria di sebelahnya, lalu cepat-cepat mengenakan sepatunya kembali. Sementara Sai sudah kembali pada bangku pengemudi, dan mereka langsung melesat pergi meninggalkan basement. Dari kejauhan Sai melihat Juugo akhirnya berhasil mengejar mereka sampai ke lantai basement, namun sayangnya harus berakhir sia-sia karena mobil mereka telah pergi meninggalkan gedung, bersama dengan tubuh Ino Yamanaka yang ikut lenyap.
.
.
"Kemana kita sekarang?" Shikamaru Nara bertanya tanpa melihat ke arah lain. Ia hanya terpaku pada sebuah layar komputer kecil, penglihatannya seakan terisolasi pada pekerjaannya, "Tobirama masih ada di dalam Akishima, ia ditangkap musuh. Jadi, apa rencanamu berikutnya?"
"Bersembunyi," kata Sai dengan tenang. Kecepatan mengemudi yang handal namun tetap stabil membuat pergerakan mereka lebih gesit dibandingkan kendaraan lain di sekitarnya, "kita akan menemui Kawarama Senju dan untuk sementara waktu, kami akan mengamankan kalian di sana sampai keadaan benar-benar aman. Mereka memang sudah mendapatkan Tuan Senju, tapi tidak berarti keberadaan kalian bisa disebut aman."
"Tapi untuk apa mereka memburuku juga?!" Naruto tampak protes tidak terima, "Bukankah mereka hanya mengincar Uchiha, Nara, dan Senju? Aku 'kan tidak termasuk?! Padahal aku sudah membayangkan uap panas ramen yang beraroma nikmat, lalu lembaran daging yang menyatu dengan—aduuuh! Sakit, Hinata-chan! Tanganku masih terkilir nih, jangan dipukul dong!"
"Diamlah. Kami semua juga lapar, Naruto. Daripada menceritakan soal ramen, lebih baik kau diam dulu dan mendengarkan Sai-san bicara." Ucap Hinata sambil menatap tajam, membuat Naruto lagi-lagi mengerucutkan bibir. Menurut layaknya seorang anak kecil yang takut pada omelan ibunya, sang aktor terkenal akhirnya mengangguk patuh.
Keadaan di dalam mobil mendadak riuh karena pertengkaran kecil antara Naruto dan Hinata, sementara Shikamaru Nara hanya bisa berdecak kesal.
"Di sana Anda bisa memasak ramen, Uzumaki-sama … aku akan membuatkannya untuk Anda," Sai melanjutkan perkataannya yang sempat terhenti, "Menyambung perkataanku sebelumnya … sebenarnya musuh berniat menghancurkan ketujuh Children of Konoha, meskipun incaran utamanya adalah Senju, Nara, dan Uchiha. Itu sebabnya mereka juga menghabisi Kiba Inuzuka dan Sasori, lalu sekarang menyandera Tuan Senju. Bisa dikatakan, kejadian ini diprakarsai oleh beberapa perusahaan saingan kalian semua, namun yang paling terlihat gerakannya adalah … HEBI. Aku menebak bahwa HEBI juga telah mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sampai bisa berjalan sejauh ini. Sekarang tidak ada yang bisa kita percayai, karena siapa saja bisa menjadi musuh yang berniat menghancurkan kita."
.
"Untuk apa?" Tanya Naruto, "Kenapa mereka mengincar nyawa kita semua?"
Sekali lagi, sang jenius pencipta Dextrale berdecak kesal.
"Haah—ya ampun. Apa otakmu terbuat dari batu, rambut jagung? Kenapa kau belum mengerti juga?" Shikamaru menjawab dengan nada sarkastisnya, "Ketujuh anggota Children of Konoha memiliki pengaruh yang besar dalam laju perekonomian dan pemerintahan negara. Meskipun berada dalam jalur pekerjaan yang beraneka rupa, kita semua tetap berada dalam poros yang sama; yakni berada di puncak! Dengan kata lain, kita bertujuh adalah sekumpulan orang yang memiliki kendali primer terhadap Negara Konoha. Jadi, jika ada yang mau mereka hancurkan, mereka tidak akan mengincar kedaulatan Konoha … melainkan kita semua, tujuh anggota Children of Konoha."
Keadaan berubah menjadi hening.
"Musuh kita … bukanlah rakyat awam yang tidak memiliki jabatan penting dalam perekonomian. Mereka punya uang, kekuasaan, cerdas dan juga licik. Selama ini mereka terus mengumpulkan informasi demi menghancurkan kita semua dengan cara menyebar anggotanya di berbagai instansi. Tidak ada yang tahu siapa saja anggota mereka dan tergabung di instansi mana saja. Para pengkhianat itu bisa saja berada di perusahaanku, ANBU, TAKA, bahkan Secret Service sekali pun. Mereka mengincar titik kelemahan kita, mencari celah untuk mencelakai para anggota Children of Konoha dengan surat ancaman dan menyebarkan teror. Setelah kematian Kiba dan beberapa kecelakaan beruntun lainnya, Akishima adalah pilihan terbaik mereka untuk membunuh sisa-sisa Children of Konoha."
Uzumaki Naruto mengerutkan alis, mencoba menyerap penjelasan panjang lebar Shikamaru Nara. Kali ini rautnya berubah serius, dan membenarkan seluruh perkataan pria sarkastik itu. Ia teringat pada sosok misterius yang hampir mencelakainya dengan cara memasang jammer pada mobil, untung saja Naruto dan Hinata luput dari kecelakaan maut karena lebih dulu melihat sosok misterius tersebut. Sekarang ia paham sepenuhnya … paham bahwa nyawanya juga tengah terancam.
"Tidak hanya mengincar kalian sebagai target utama, tapi … aku juga? Apa karena itu juga Sasori—" Naruto tercekat pada perkataannya sendiri. Kilasan kematian Neji, Sasori, juga Kakashi membuat sekujur tubuhnya terasa dingin menggigit.
"Ya, tepat sekali. Dengan kata lain, tidak perlu melihat siapa tiga anggota yang paling berpengaruh … karena kita identik dengan satu nama, yakni Children of Konoha." Lanjut Shikamaru menerangkan, "bukankah itu yang mereka katakan di surat ancaman? 'Karena tujuh tidak lebih baik dari satu', itu merujuk pada kita dan tujuan mereka. Artinya, tebas dan hancurkan ketujuh poros yang paling berpengaruh, lalu bentuk hegemoni baru untuk menguasai Konoha. Itulah satu-satunya rencana mereka … yakni mengincar tanduk kekuasaan tertinggi setelah menjatuhkan kita semua."
"Membentuk hegemoni baru tanpa Children of Konoha," gumam Naruto sambil memejamkan mata.
Sai mengangguk, mengiyakan ucapan Shikamaru sambil terus mengemudi. Dan tidak ada seorang pun yang menyanggah perkataan si jenius Shikamaru Nara, mereka semua berubah diam … tenggelam dalam pikiran masing-masing.
.
Ino Yamanaka sendiri menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya sekedar untuk beristirahat sejenak, lalu memejamkan mata. Hari yang melelahkan, dan tampaknya situasi mereka saat ini belum berada dalam titik aman. Yang mereka lakukan sekarang hanyalah bersembunyi untuk sementara waktu, menghindari ancaman dari orang-orang jahat yang mengincar nyawa mereka hanya untuk memperebutkan tanduk kekuasaan di Konoha.
Tapi, terbesit pikiran lain dalam benak Ino … yakni mengenai percakapannya beberapa saat yang lalu dengan sang tuan, Itachi Uchiha. Ia meminta pertolongan Ino untuk mengambil berkas mengenai Zephyr, juga data penelitian milik Sakura Haruno … gadis yang sama sekali tidak dikenalnya sebelum Itachi menghilang. Sekarang, nyatanya Itachi dan Tobirama juga sudah menyusun langkah preventif untuk mempertahankan situasi mereka dari musuh dan para pengkhianat yang tersebar di Konoha. Dilihat dari sudut mana pun, jelas-jelas si sulung Uchiha ini telah merencanakan segala sesuatunya dengan matang dan sangat terperinci.
Tapi, bagaimana bisa?
Bagaimana mungkin Itachi Uchiha mampu melakukan semua itu?
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Chapter dua puluh empat selesai! Maaf ya telat, ada keadaan mendadak di dunia nyata yang tidak bisa saya skip, dan dengan sangat terpaksa jadwalnya akan bertabrakan dengan tanggal 20. Yah, intinya untuk chapter ini … semuanya sudah mulai terkumpul jadi satu. Ada Sasusaku dan Gaara yang menemukan lokasi Itachi, Naruhina yang berhasil keluar dari Akishima bersama Shikamaru dan Sai, sampai akhirnya Ino juga keluar dari TAKA meski harus kejar-kejaran dulu sama Juugo.
Mereka berlima akan bertemu dengan Kawarama Senju – Kurenai di tempat persembunyian rancangan Tobirama dan Itachi. Tentunya tidak lupa, akhirnya Itachi berhasil sampai di markas HEBI … dan saatnya "balas dendam" pada orang yang selama ini ia cari di foto. Hehehe, gimana cerita chapter ini? Apa masih seru? Semoga kalian masih tetap setia untuk baca dan review, ya!
Oya, yang mau add LINE saya, ini ID-nya : devin-jitan. Tapi maaf, saya nggak onlen setiap waktu, hehehe.
Yang sudah review di chapter kemarin, plus fave dan follow yang sudah masuk : TERIMA KASIH BANYAK! *bungkuk hormat*. Saya mohon dukungannya dan jangan sungkan untuk memberi review sesingkat apapun, ide atau kritik saya terima dengan senang hati untuk perbaikan ke depannya. Terima kasih untuk support kalian untuk Hegemony!
Sampai jumpa di chapter depan! :D
-jitan-
