Kookie!
Karena Jungkook itu ceroboh, Jeon Jungkooknya Kim Taehyung yang ceroboh tapi Taehyung sayang.
Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung.
...
Hari pertama Taehyung tidak bersama Jungkook pria itu lebih banyak melamun. Banyak hal yang ia pikirkan, menimang apa dia harus melakukan ini atau itu, apakah ini baik atau tidak. Hal-hal bodoh yang biasanya tidak Taehyung lakukan hanya sekedar untuk membunuh waktu kosongnya.
Hari kedua Taehyung tidak bersama Jungkook, pria itu menurunkan semua foto yang berhubungan dengan Jungkook dari rumah. Termasuk foto berukuran besar di dinding depan ranjang mereka. Foto pernikahan Taehyung dan Jungkook, Taehyung menurunkannya. Melepas semua tidak terkecuali. Taehyung memindahkan seluruh pakaian Jungkook pada lemari di sebuah ruangan dekat kamar mereka berdua. Taehyung menjauhkan semua hal yang mungkin akan membuatnya mengingat Jungkook. Taehyung melepas cincin pernikahannya yang tak pernah ia lepas sekalipun. Taehyung melakukannya hari ini.
Taehyung melepas sebuah kertas yang menempel di pintu kamar mereka. Kertas dengan tulisan tangan Jungkook si atasnya. Jadwal makan Taehyung, lengkap dengan daftar makanan yang boleh dan tidak boleh Taehyung makan. Taehyung merobeknya, jadi bagian-bagian kecil lalu ia buang tak ramah di tempat sampah.
Taehyung melanggar semuanya. Jadwal makannya daftar makanannya. Hari itu Taehyung tidak menjadikan Jungkook sebagai alasannya tetap sehat. Ia akan menjadi sebebas yang ia mau. Bahkan setelah semua itu, setelah resiko yang ia tahu akan ia tanggung sendiri.
Sakitnya.
Taehyung tetap tidak peduli. Obatnya ia abaikan. Menikmati sakitnya sendiri hingga ia tak lagi sadar malam harinya. Lalu setelah terbangun, dengan tanpa ia pertimbangankan Taehyung memilih diskotik membuatnya terbang melayang. Melupakan satu lagi fakta ia tak seharusnya menyentuh alkohol. Sekali lagi karena sakitnya. Tapi Taehyung ingin melakukannya, saat tidak bersama Jungkook.
Menggoda wanita-wanita yang melenggokkan badannya di lantai diskotik, Taehyung juga melakukannya, mencolek bokong besar mereka. Ikut meliukkan badan bersama seorang wanita dengan dress merah pendek. Menampakan paha putih wanita itu menggiurkan. Jika sedikit saja lebih lama, mungkin Taehyung akan lepas kendali.
Taehyung membuat dirinya sendiri menjadi gila.
Sesuatu yang ia sebut bebas.
...
Hari ketiga Taehyung tidak bersama Jungkook. Pria itu terbangun dengan kepala pening luar biasa. Bajunya beraroma alkohol begitu kuat. Memorinya memutar hal-hal konyol yang sebelumnya ia kerjakan. Senyumnya mengembang tidak bisa di artikan.
Taehyung menghabiskan dua jam untuk terduduk di bawah shower kamar mandi. Mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin. Tidak merasakan air hangat yang selalu Jungkook siapkan untuknya. Taehyung menolak bekerja, meninggalkan berkas-berkas yang selalu ia sentuh setiap hari itu. Taehyung memghabiskan hampir seluruh tengah harinya untuk bermain game. Sibuk dengan teriakan histerianya.
Sore harinya Taehyung duduk di sebuah kedai kopi, menyesap secangkir espresso dengan tenang. Pikirnya ia butuh minuman dengan kadar kopi kuat itu, untuk sadar kita butuh pahit untuk mengenal manis.
Tiga hari ini Taehyung menyebut sesuatu yang terlihat hancur sebagai sebuah kebebasan. Tidak meresahkan apapun. Tidak meresahkan Jungkook. Tidak masa depan. Tidak memikirkan apapun yang membuatnya menjadi gila.
Karena Taehyung benar-benar menggila. Secara Nyata.
...
Malam harinya saat harusnya Taehyung menjemput Jungkook. Pria itu memilih diam. Duduk tenang di ruang tamu tanpa melakukan apapun. Berpuluh-puluh pesan yang Jungkook kirim padanya ia abaikan. Belasan panggilan Jungkook tidak ia jawab sama sekali. Taehyung hanya menggenggam ponselnya tidak berguna.
Diam. Seperti orang bodoh.
Lalu ketika tepat pukul sembilan malam Taehyung mendengar pintu rumahnya terbuka, diiringi suara lembut Jungkook dari luar.
Jantung Taehyung berdebar. Kuat. Berdentam-dentam menyakitkan.
Pria itu menutup matanya. Erat. Terpejam kuat. Menanti dengan sabar Jungkook masuk, mendengar dengan jelas tiap langkah Jungkook mendekat padanya. Mendebarkan.
Ketika aroma yang Taehyung kenal menyeruak dalam indra pembaunya. Taehyung tercekik. Aroma tubuh Jungkook. Kepalanya seperti di pukul beton berat. Seolah berdarah, lalu desir darah dalam sekujur tubuhnya menjadi-jadi.
Lalu ketika netranya terbuka menangkap sosok Jungkook berdiri di hadapannya. Indah sekali. Seolah Taehyung baru saja melihat Jungkook yang bertahun-tahun lalu membuatnya jatuh hati. Mata bulatnya, hidung bangirnya, gigi kelincinya dan pipi gembul Jungkook, favorit Taehyung. Taehyung merasa seperti akan meledak. Hatinya. Jantungnya. Seperti ribuan kembang api meledak-ledak, begitu riuh terdengar jelas menggempur akal sehatnya.
Taehyung merindukannya.
Seperti mau mati.
Jungkook dengan seluruh cacat dan sempurnanya. Setiap inchi. Taehyung rindu.
"Sepertinya banyak hal berubah selama tiga hari ini hyung." Taehyung mengamati Jungkook yang tengah mengedarkan pandangannya pada seluruh isi rumah. Semua fotonya menghilang. "Hyung...apa kau baru saja membuat suatu keputusan atau hal lain?"
Taehyung mengangguk.
"Melepaskanku?"
Taehyung menggeleng. Menarik tangan Jungkook kuat sekali. Jatuh dalam pangkuannya. "Aku menghancurkan diriku sendiri selama dua hari terakhir saat kau pergi. Menghindari semua hal tentangmu." Taehyung mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jari manisnya yang telah kosong. Jungkook menutup mulutnya refleks.
"Aku mencari jawabannya Jungkook. Ku pikir aku akan memilih hidup tanpamu."
"Lalu?"
"Nyatanya aku rindu kamu."
"Kenapa begitu yakin?"
"Hatiku bilang begitu."
"Bagaimana jika dia berbohong." Jungkook menyentuhkan tangannya pada dada Taehyung.
Berdebar. Cepat sekali. Sangat ketara. Jungkook tersenyum.
"Apa ini yang dari beberapa waktu lalu hilang hyung?" Tanya Jungkook. Taehyung mengangguk.
"Aku mencoba hidup seolah tidak ada kamu di hidupku sebelumnya. Aku minum alkohol, ke diskotik, menggoda wanita seksi. Aku hidup seolah aku belum menikah. Hal-hal yang tidak aku lakukan saat aku bersamamu." Jungkook diam. Menunggu memperhatikan dengan sabar.
"Saat kamu datang. Kamu menyadarkanku. Kapalku terlanjur berlabuh, jauh. Aku terbiasa hidup di tengah laut lepas. Lalu aku bosan hidup di sana, ingin kembali ke darat, hidup bersama orang-orang baru di sana. Setelah aku kembali. Aku rindu laut Jungkook. Nanti mungkin aku akan bosan laut, lalu rindu laut lagi. Bagaimana menurutmu?"
"Tidak tahu. Aku suka laut, bagiku tidak membosankan?"
"Benarkah? Kenapa?"
"Karena aku menemui badai di sana, menemui tenang, menemui indah. Panas dan hujan menantang. Juga merasakan perahuku tidak stabil. Tidak selalu sama, tidak selalu menyenangkan, tapi aku menikmatinya. Karena sudah terlanjur aku lalui. Aku suka di tengah laut bersamamu, walaupun tidak mudah tapi tidak seperti di daratan sana, terlalu banyak orang hyung. Mereka mengganggu. Aku tidak suka pengganggu."
"Bagaimana jika kita mati di tengah laut?"
"Memangnya kalau di darat kau tidak akan mati? Kalau sudah waktunya mati ya mati saja. Sejauh mana kita akan hidup itu tergantung seberapa besar kita berusaha hyung. Jika memang dirasa perlu singgah sebentar di suatu pulau supaya tetap hidup ya tidak apa-apa. Asal kau tidak memasukkan orang baru dalam perahumu. Kalau tidak kuat nanti bisa tenggelam." Taehyung tersenyum. Puas dengan jawaban Jungkook. Bagaimana Jungkook mengibaratkan kehidupan mereka begitu apik. Taehyung menyukai jawaban Jungkook. Taehyung, Tangannya merambat naik menarik tengkuk Jungkook, membawa sosok pengisi buku diarynya kedalam cumbuan penuh cinta. Penuh debar menggembirakan. Jungkook menyentuh dada Taehyung sesekali meremas kemeja pria itu. Menikmati apa yang tangannya rasa begitu nyata.
Debar Taehyung yang tadinya hilang.
Taehyung dan Jungkook tersenyum dalam ciuman dalam penuh perasaan malam itu.
Tbc...
Ga usah marah-marah atuh. Kalian kan belum tahu kemarin itu sad ending apa enggak. Ih dasar.
Kalau kalian mau aku masukkan orang ketiga. Tidak. Konsep ceritaku yang ini tidak begitu.
Selalu ada alasan penulis memasukkan cerita-cerita yang aneh. Aku juga. Kalian tidak harus suka, tapi mengertilah juga.
Kadang aku memikirkan kalian lho saat aku menulis cerita ini. Readers yang kusayangi. Kalau ku tanya apa kalian memikirkanku saat menulis review kalian untukku? Jawabannya apa?
Ada yang sedikit menyakitiku. Cuma sedikit doang, takut dikatain alay. Tapi jangan begitu ya, nanti penulis kalian tidak mau menulis lagi buat kalian kan bahaya, bukan cuma aku ya tapi ke semua author jangan begitu.
Chapter depan akan benar-benar ending. Secara resmi.
Salam hangat.
