Disclaimer: I don't own Harvest Moon. It belongs to NATSUME.
Chapter 25: Tanpanya
Claire duduk terpaku sambil memandangi pekerjanya yang sedang bersusah payah membenahi ladangnya yang hancur. Jack tampak kelelahan menanami tanaman nanas yang ia dapatkan dari teman barunya, Kai yang ternyata menjadi korban tanam paksa Claire.
"Claire, aku boleh istirahat, kan? Dah capek banget nih," seru Kai sembari melambai-lambaikan tangannya persis seperti boy band kepanasan.
"Gak boleh! Kau harus menanam semua benih nanas itu! Terutama kau Jack, kau harus memperbaiki semua kerusakan yang ada di ladang!" Claire terus mengomel-ngomel hingga menyebabkan ternak-ternaknya berguling tak karuan.
Kai yang telinganya hampir berdarah akibat omelan Claire mendadak terkejut ketika melihat Jack yang tetap asyik melakukan pekerjaannya, "Eh, Jack kamu betah yah kerja sama Claire yang galaknya minta ampun itu?"
Jack hanya menggangguk sambil tetap menggali tanah di sekitarnya, "Pada awalnya memang aku gak betah gara-gara dia seenaknya saja membeli farm yang merupakan warisan kakekku. Tapi kini aku sadar bahwa dia terlalu berharga dibandingkan dengan semua yang aku miliki selama ini." Jack lalu melirik dan tersenyum pada Claire yang langsung menggembungkan pipinya tanda kalau ia masih kesal akibat hilangnya Jack yang tidak jelas.
"Heh, si bodoh Jack itu senyum-senyum ga jelas lagi! Lihat ajah, aku gak akan semudah itu memaafkanku!" gumam Claire dalam hati, pikirannya lalu melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu ketika Jack baru kembali setelah seminggu lebih menghilang.
-x-
"Ih, kemana ajah sih kamu, kenapa baru kembali sekarang?" tanya Claire sembari memukul-mukul dada Jack, ia tak kuasa menahan air mata kesedihannya.
"Tenang Claire aku bisa jelaskan. Sebenarnya aku terkena kutukan sabit dan bu-"
"JDUAK!" Claire menghajar wajah Jack dengan kencangnya.
"Ih, bohong! Pasti kamu habis pulang ke kota besar, kan? Terus nyari cewek di sana?" duga Claire yang gemas pada lelaki yang hidungnya sekarang mimisan.
"Apa?! Ga-gak mungkin Claire. Beneran kok aku terkena kutukan sabit dan baru bisa melepaskannya selama beberapa hari. Aku terperangkap dalam gua musim dingin saat melawan monster tikus tanah," jelas Jack singkat karena takut akan dihadiai bogeman yang lain dari Claire.
"Ooowh, gitu? Tapi kalau gak salah tadi kau bilang kutukannya lepas dalam beberapa hari? Terus kenapa kau menghilang lebih dari semingguuu?!"
"DUAAK!" Claire kembali menghajar Jack, kali ini dagunya yang jadi sasaran hingga membuatnya terbang bebas dan jatuh tersungkur dalam beberapa detik.
"A-ampun, Re. Aku gak bakalan ninggalin kamu lagi, deh. Beneran," pinta Jack sembari mencoba untuk bangkit dari tempatnya.
Claire hanya bisa mendakati Jack dan memeluknya, selama beberapa detik ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Jack mengerti maksud dari majikannya itu dan mencoba untuk menenangkannya. "Aku takut." Claire mulai angkat suara, "Aku takut, Jack. Aku takut kau pergi dariku. Aku ingin bersamamu selamanya."
Jack tahu kalau dia telah bersalah pada Claire karena telah mengabaikannya, kali ini ia tidak akan meninggalkan majikannya lagi. "Ya, aku akan selalu berada di sisimu. Kau begitu berharga bagiku, Claire."
"Yes! Berarti kita sudah resmi pacaran! Hahaha!" Claire mendadak ceria dan langsung mencubit-cubit pipi Jack.
"Hee? Jadi tadi?" Jack hanya bisa melongo ketika mengetahui kalau tadi adalah event red heart dan Claire memang sengaja memancing Jack untuk menyatakan perasaannya.
Claire hanya bisa tersenyum melihat Jack yang sekarang sedang kebingungan. Mendadak pacar baru Jack itu ingat akan sesuatu, "Eh, Jack emang kamu ngapain ajah sih ampe betah banget di dalam gua itu?"
"Ah, sebenarnya waktu itu aku sudah hampir mati gara-gara monster tikus tanah melukai seluruh tubuhku, namun untungnya seseorang menyelematkanku. Aku diberitahu mengenai cara melepaskan kutukan sabit dan dia juga melatihku kemampuan bertarung, dan selanjutnya aku main PES 2015 dengannya," jelas Jack.
"Ada yang menyelamatkanmu? Di dalam gua? E-emang siapa dia, Jack?" tanya Claire penasaran dengan orang yang menyelamatkan Jack.
"Namanya James, tuh orangnya ada di belakang kamu," jawab Jack sambil menunjukkan arah yang dimaksud.
"Wuaaah, Buto Ijo!" teriak Claire kaget dan langsung bersembunyi di balik Jack ketika melihat sosok bertubuh hijau yang mempunyai perut gendut dan wajah ingusan.
"Eh, bukan. Dia itu James, dia adalah Kappa. Makhluk penunggu gua musim salju," terang Jack seraya memperkenalkan teman barunya yang sedang asyik mencari cacing untuk dimakan.
"Ih, dia makan cacing? Perasaan di legenda Timun Emas si buto ijo makannya mentimun,"
"Ah, memang seharusnya dia juga makan mentimun, namun kebetulan dia punya penyakit jiwa jadi agak sedikit koplak."
Mendadak James mendekati Jack dan menjabat tangannya, "Jack, sekarang dulu pulang pamit mau makannya kenyang sudah James."
"Eh? Dia ngomongnya blepotan gitu, Jack," Claire semakin ketakutan dengan James.
"Coba deh baca omongan James tadi dari belakang, pasti ngerti," ujar Jack lalu mempersilahkan James untuk pergi. Mendadak James berguling-guling hingga terjebur ke sugai dan hanyut entah ke mana.
"Ih, temannya pacarku aneh kayak gitu? Jangan-jangan kamu juga ketularan anehnya, yah?" tanya Claire yang curiga dengan Jack.
"Ketularan aneh gimana? Aku cuma belum mandi selama seminggu ajah, gak aneh, kan?" tanya Jack polos.
"Jiah, aku tadi udah meluk-meluk kamu tapi belum mandi ampe seminggu?! Awas kau Jack, tak akan kumaafkaaaaaan!"
"Emaaak!"
-x-
"Ih, dasar Jack. Padahal aku dah seneng banget waktu itu bisa meluk Jack, tapi dia malah belum mandi, dasar aw-" mendadak keluhan Claire terhenti ketika orang yang dimaksudnya telah berada di sampingnya dan langsung mencubit pipinya.
"Ih, ngapain sih nyubit-nyubit pipi aku?" tanya Claire marah berpura-pura menyembunyikan perasaan malunya.
"Salah sendiri punya pipi tembem banget," jawab Jack lalu tersenyum melihat pipi Claire yang memerah.
"JDUAK!" Hidung Jack langsung mimisan setelah bogeman mentah dilancarkan oleh Claire yang kesal padanya, tak lama kemudian Jack pun ambruk dan sepertinya perlu dibawa ke klinik.
-x-
Jack tampak bersedih melihat keadaan kota Mineral yang berubah drastis akibat terjangan tsunami beberapa hari yang lalu. Beberapa rumah hancur tersapu gelombang besar tersebut dan membuat beberapa orang hilang dan lainnya luka-luka. Saibara merupakan salah satu korban yang sampai saat ini belum ditemukan. Gray yang merupakan cucu si pandai besi itu tampak bekerja keras mengerjakan orderan Jack.
"Hey? Kamu gak apa-apa, Gray?" tanya Jack penasaran melihat mata temannya merah sekali.
"Apa maksudmu gak apa-apa? Yah, tentu saja apa-apa. Aku tidak tidur selama 3 hari ini cuma untuk mengerjakan orderanmu! Lagian ngapain sih upgrade semua peralatanmu sekaligus gitu?"
Jack hanya bisa nyengir melihat temannya yang wajahnya mirip vokalis band metal kesurupan. "Ah, kebetulan aku menemukan batu Mythic di gua dekat pemandian air panas. Kakekmu dulu bilang kalau batu Mythic adalah batu tambang langka yang mampu memberikan kekuatan hebat pada peralatan ladang."
"Apanya yang batu tambang langka kalau kamu dapetnya banyak gitu!" ujar Gray kesal sambil menunjuk tumpukan batu Mythic yang Jack bawa.
"Hahaha, ini kan hadiah buat kamu. Sebagai calon master pandai besi harusnya kamu senang bisa mendapatkan batu tambang yang agak langka ini," balas Jack.
"Bukan calon lagi, aku dah jadi master pandai besi sungguhan. Buktinya seka-"
"JDUER!" Bunyi ledakan terdengar dengan dahsyatnya dari arah luar disusul dengan gempa kecil yang mampu meruntuhkan semua dekorasi yang ada di dinding blacksmith.
"Suaranya dari Inn! Gawat!" teriak Gray lalu bergegas keluar dan meninggalkan Jack.
"Hey, tunggu, Gray! Deuh, apanya yang master pandai besi kalau kerjaan ajah belum kelar dah capcus duluan," keluh Jack lalu mengejar Gray yang telah pergi jauh.
Hanya berselang beberapa menit bagi Jack untuk sampai di Inn. Matanya langsung terbelalak lebar ketika mendapati Doug, ayah Ann sedang disantap oleh seekor cacing raksasa yang seluruh tubuhnya terbuat dari es.
"Kyaaa! Ayah!" teriak seorang gadis berambut kepang orange yang sedang ditahan oleh Gray.
"Jangan, Ann! Terlalu berbahaya! Cacing Es itu bisa saja memakanmu juga!" cegah Gray mencoba menenangkan Ann.
Tampak bangunan Inn porak poranda akibat serangan Cacing Es tersebut. Jack segera bertindak cepat dengan memperingati temannya, "Gray cepat bawa Ann pergi dari sini, dan tolong selesaikan peng-upgrade-an peralatanku, aku tidak bisa melawan monster ini tanpanya."
"Ba-baiklah!" jawab Gray lalu membawa Ann pergi.
Cacing Es yang menyadari dua mangsanya pergi mendadak marah dan menyerang Jack yang langsung menghindari serangan ekor Cacing Es tersebut. Jack mengamati keadaan sekitar yang tidak menguntungkannya, puing-puing Inn bisa saja menghambat langkahnya untuk menghindari serangan Cacing Es. Dan benar saja Jack langsung memuntahkan banyak darah akibat terjangan ekor Cacing Es yang sekarat.
"KRAUK!" Cacing Es membuka mulutnya lebar dan siap melahap Jack yang mencoba berdiri dari tempatnya namun sedetik sebelum kepala Jack berhasil dikunyah salah satu tangan Jack berhasil meraih puing-puing Inn dan memaksa Cacing Es memakannya. Kesempatan emas bagi Jack untuk memulai serangan balasan, ia mendapatkan sebuah pisau pemotong buah yang mempunyai ukuran cukup besar dari lantai Inn.
"Toushand Blade Slash of Pain!"
"TRANG!" Jack menyabetkan pisau dapurnya berkali-kali pada Cacing Es, cairan dingin pun memancar dari tubuh Cacing Es yang ternyata mengikis habis mata pisau Jack dan menyisakan gagang pisaunya saja.
"BWEET!" Jack terpental terkena ayunan ekor Cacing Es, namun ia mampu berdiri lagi meski perutnya terkoyak akibat serangan tadi. Kali ini Jack berlari mendekati Cacing Es dengan membawa tabung LPG 3 kg yang ia temukan saat terjatuh, namun Cacing Es telah bersiap mengayunkan kepalanya yang berukuran sebesar tubuh Jack.
"BWOOSH!" Ayunan kepala Cacing Es tepat mengenai Jack kalau saja Jack tidak sempat menghindarinya, kini Jack yang berada di sisi kiri kepala Cacing Es memanfaatkan kesempatan tersebut dengan menaiki kepala Cacing Es dan menghajarkan tabung LPG-nya. Mendadak Cacing Es kembali sadar dan menggelengkan kepalanya hingga melemparkan Jack ke atas.
"Sekaranglah akhir hayatmu, cacing kepanasan!" teriak Jack lalu melepaskan tabung LPG-nya ke Cacing Es disusul dengan korek api yang Jack pungut tadi.
"JDUEERR!" Tubuh Cacing Es meledak terkena tabung LPG Jack, radiasi hawa panasnya membuat tubuh Jack terbakar dan menghempaskannya hingga ke perkebunan anggur Duke.
Jack terkapar tidak berdaya, seluruh tubuhnya hampir hangus terkena ledakan tadi, namun ia masih tetap bisa berdiri untuk memastikan keadaan Cacing Es.
"DRUAK!" Tanah di belakang Jack mendadak bergetar dan muncullah Cacing Es dari sana, ekornya yang sekarang berubah seperti pedang diarahkan tepat ke punggung Jack yang lengah.
"JLEB!"
Bersambung.
Judul chapter ini (Tanpanya) terinspirasi dari judul lagu Vierratale: Tanpamu, gak tau kenapa tapi saya lagi galau gak punya kerjaan :D Btw Piala Dunia 2014 dah mulai, dukung Belanda jadi juara!
