YOUR BODYGUARD

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pair: Naruto-Hinata, Gaara-Sara, Naruto-Matsuri dan Sasuke-Sakura

Genre: Fluff/Romance, action

Rated: T

A/N: OOC, Typo(s), terinspirasi dari K-Drama DoTS, Bold (Flashback), Bold Italic (Isi Chat), dan kesalahan yang tidak pernah disengaja lainnya. Bagi yang menemukan kesalahan saya, mohon pengertiannya karena sudah saya cantumkan disini, OK?

.

.

Enjoy

.

.

"Sepertinya kau sudah sehat, Kapten," sapa Gaara yang melihat sang pirang tidak memakai oksigen lagi dimulutnya.

"Kau berharap aku tidur terus, heh?" ejek Naruto. "Kenapa lagi dengan dirimu,Letnan?"

"Dia terluka saat Black Mission, Naruto-nii," jawab Sara. Sara hanya mendapati Naruto mengangguk mengerti, gadis itu lalu melirik pada Dokter Cantik yang sedari tadi berdiri disisi ranjang Naruto. "Apa kami menganggu?" tanya Sara jahil.

Hinata seketika memerah, "ke-kenapa Sara-chan berkata begitu? Ten-tentu saja tidak," jawab Hinata yang kesal sendiri kenapa kalimatnya terbata.

Naruto, Gaara dan Sara sontak terkekeh kecil. Hal itu membuat Hinata semakin memerah.

.

.

Minato menatap Naruto dengan serius tengah malam itu, pemuda pirang itu kini sudah tidak mengalami koma lagi.

"Harusnya kau sudah tidur dari tadi, Naruto," ucap sang Ayah pada anaknya yang masih sibuk dengan buku novelnya.

"Entahlah, aku tidak mengantuk sama sekali Otousan, mungkin efek tidur terlalu lama hehe," jawab Naruto sambil nyengir.

"Kau ini," kata Minato lalu meraih gelas kopinya. "Apa kepalamu masih sakit?" tanya Minato lagi.

Naruto menggelengkan kepalanya,"sudah tidak, hanya saja pusingnya masih ada," jawab Naruto. Naruto menutup buku novelnya, pemuda itu melirik sang Ayah yang sudah lama tak dilihatnya itu. "Hanya saja.. ada satu yang mengganjal, boleh aku bertanya padamu, Otousan?"

"Hn."

.

.

Matsuri membuka matanya ketika alarm HP-nya berbunyi, ah sudah jam 7 pagi ternyata. Gadis itu meregangkan otot-otot tangannya yang terasa pegal. Tentu saja, dia tidur dalam posisi menyandar pada ranjang sang kakak. Kakak laki-laki nya itu belum sadar juga.

"Ohayou Oniichan," sapa Matsuri pada pemuda yang masih memejamkan matanya.

.

.

Kushina membersihkan bibirnya dengan tisu, rutinitas sarapan sudah selesai. Wanita cantik itu memeperhatikan sang suami yang masih menyantap sarapannya. Suaminya kurang tidur tadi malam, dia menemani Naruto sampai jam 2 pagi, dan sampai di rumah jam 02.30 a.m dan sekarang dia menemaninya sarapan. Padahal, Kushina sudah melarangnya dan menyuruhnya untuk tidur saja sampai jam 9 pagi.

"Apa kepalamu pusing?" tanya Kushina pada sang suami yang kini sedang membersihkan bibirnya dengan tisu. Kushina melihat sang suami menggelengkan kepala. "Syukurlah," lanjut Kushina.

"Kapan kau akan mengatakannya pada Naruto, Sayang?" tanya Minato menatap wajah sang istri dengan lekat.

"Biar Hinata saja yang mengatakannya, walaupun berat, Naruto harus tahu," jawab Kushina lembut.

Minato hanya diam, laki-laki dewasa yang menurunkan ketampanan wajahnya pada sang anak langsung meraih Hp-nya. "Aku berangkat ya," ucapnya lalu mengecup kening sang istri.

.

.

Hinata memasuki kamar pasien tampannya, dia melihat Naruto sudah bangun dan sedang memainkan PSP-nya. Hinata menghelanafas sebelum melangkahkan kaki untuk mendekati sang kekasih. Ah, sekarang status mereka sudah naik ternyata.

"Ohayou, Kapten," sapa Hinata lalu memeriksa infusan milik Naruto.

"Ohayou mo Dokter cantik," balas Naruto tanpa melirik Hinata, game-nya terlalu seru.

"Kau sudah sarapan?" tanya Hinata kini duduk disisi ranjang Naruto, lalu menarik tangan Naruto yang sedang memegang PSP-nya, dan memeriksa denyut nadi sang kekasih.

"Sudah," jawab Naruto sedikit kesal karena bermain game-nya terganggu. "Ng... bolehkah aku keluar? Diam di kamar terus membuatku tambah tua," ucap Naruto menatap Hinata.

Hinata terdiam, "harus?"

"Tentu saja, kau masih mau bersamaku kalau aku keriputan karena alasan dikurung terus disini heh?" kata Naruto sedikit cemberut.

"Tapi..."

"Aku tahu, kakiku sedang tidak berfungsi'kan? Aku tidak bisa berjalan dulu entah sampai kapan, dan aku harus terbiasa dengan kursi roda," jawab Naruto sedikit kecewa dengan mata melirik keluar jendela.

"..."

Naruto mengalihkan perhatiannya pada Hinata yang kini masih terdiam, ya mungkin gadis cantik itu kaget karena dia sudah tahu soal hal ini. Sedih sih, tapi menjadi tentara apapun resikonya harus dia terima dengan lapang dada. "Aku tidak apa-apa, selama Dokterku merawatku," ucap Naruto meraih tangan kiri Hinata. "Jangan bersedih, aku pasti sembuh kok," lanjut Naruto lebih pada menghibur dirinya sendiri.

.

.

"Hanya saja, ada satu hal yang mengganjal. Boleh aku bertanya padamu, Otousan?"

"Hn."

Naruto menghembuskan nafas, mata birunya menatap lurus pada kaki yang tertutupi selimut. "Kakiku tidak baik-baik saja'kan?" tanya Naruto yang kini melihat raut wajah sang Ayah berubah. Dugaannya benar ternyata.

"Kenapa kau bertanya begitu, Naruto?"

"Aku yang merasakannya, aku tidak bisa menggerakan kakiku sama sekali, jadi aku merasa aku tidak bisa berjalan untuk saat ini," jelas Naruto perih.

"Ya, Ibumu mengatakan tulang kakimu mengalami pergeseran, tapi bukan hal berbahaya selama kau mau mengikuti terapi untuk berjalan dan melakukan operasi yang kedua kalinya untuk kakimu," ucap Minato yang tidak bisa menyembunyikan hal serius seperti itu pada anak satu-satunya. "Hanya sementara, setelah operasi dan terapi dilakukan, kau akan kembali bisa berlari dan menjalani misi-misimu lagi, anakku," lanjut Minato sambil tersenyum.

"Ya..." jawab Naruto sedikit kecewa karena harus mulai terbiasa menggunakan kursi roda dan merepotkan orang lain.

.

.

"Ma-mafkan aku, Naruto," ucap Hinata setelah mendengar dari siapa Naruto tahu soal keadaan kakinya.

"Kenapa minta maaf? Kau sudah berjuang dengan keras bersama Ibuku, sekarang giliranku yang harus berjuang juga'kan?" kata Naruto sambil nyengir.

Tok Tok Tok

Naruto dan Hinata melirik ke arah pintu, terlihat pintu kamar rawat Naruto terbuka. Naruto tersenyum pada sang Komandan yang datang untuk menjenguknya.

.

.

"Maaf, aku belum bisa ke sana, Sara-san," kata Matsuri yang sedang menerima telephone dari Letnan Medis Angkatan Darat Jepang.

"Kenapa?"

"Kakakku masuk Rumah Sakit, dan belum siuman sampai sekarang," jawab Matsuri melirik sang Kakak yang masih menutup mata.

"Ma-masuk Rumah Sakit? Sasori-san? Kenapa bisa?"

Matsuri terdiam, tidak mungkin'kan dia mengatakan kalau kakaknya baku tembak saat tugas gangster nya sedang dilaksanakan. Matsuri menghela nafas, "kecelakaan," jawab Matsuri berbohong.

"Ah... turut berduka, semoga cepat sembuh ya," ucap Sara.

"Iya, terima kasih."

.

.

Kakashi memperhatikan pemuda disampingnya yang kini duduk di kursi roda, kini mereka sedang berada dihalaman belakang Rumah Sakit. Kakashi tahu bagaimana sakit hati dan kecewanya Naruto ketika tahu dirinya dinyatakan tidak bisa berjalan untuk beberapa waktu ini.

"Kau tetap tidak bisa libur, Naruto," ucap Kakashi memecah keheningan diantara mereka.

Naruto tersenyum, "jangan meledekku Komandan," jawab Naruto tanpa melirik Kakashi.

"Aku tidak meledekmu, kau masih Kapten Disivi 01, dan kau juga masih memiliki tugas dari Batalyon," ucap Kakashi lagi.

"Hn," jawab Naruto singkat. Naruto tidak mau banyak bicara.

Kakashi menepuk bahu pemuda berusia 23 tahun itu, "kau pasti sembuh, dan kau harus membayar semua kerja keras pasukanmu," hibur Kakashi.

"Ya, itu jelas."

.

.

"Bagaimana?" tanya Gaara yang duduk di tempat tidur pasiennya.

"Matsuri belum bisa kesini, katanya Kakaknya mengalami kecelakaan," jawab Sara melirik kaca jendela kamar rawat Gaara.

"Kecelakaan?"

"Iya, tadi dia bilang begitu. Kasihan ya," ucap Sara lalu menghelanafas.

.

.

To Be Continued

Alhamdulilah telah lahir putera pertama saya dan suami saya pada tgl 26 Maret 2017 pada pukul 21.58 wib dengan normal dan selamat.

Maaf lama menunggu, setidaknya saya sudah bisa Update ini fict. Dan dari lahiran sampai Up nya ini fict juga jaraknya jauh, dikarenakan saya sedang masa penyembuhan..

Terima kasih atas doa kalian semua.. Sehingga persalinan saya lancar dan normal.

Tetap Review ya...

Makasih..