Author: Thewi Choi
Genre: FriendShip, Romance, little humor
Warning : YAOI!
Rating: Teen
POV: author
"Ohshin High School"© 2013 by Thewi Choi
Summary: Ini adalah kisah kehidupan sekolah biasa seorang siswa bernama Do Kyungsoo. / Perasaan Jongin sebagai idola terungkap. Kyungsoo dan Jongin berusaha lagi mendapatkan jalinan persahabatan Chanyeol/CP 24 :Honest. YAOI. Kyungsoo!MAIN
Chapter 24 : Honest
"Hyuung...?"
Belum sempat melangkah. Jongin sudah nampak berdiri kokoh didepan. Namja tinggi berdiri memunggungi Kyungsoo dan Tao. Kyungsoo nampak terkejut, tapi tidak dengan Tao. Dia sudah tahu namja hampir sempurna itu mengamati dari kejauhan. Bersiap untuk kemungkinan terburuk seperti sekarang ini.
"PRINCEE!" Gadis itu memekik senang melihat Jongin tampak berdiri menghadapnya.
"Kya! Kyaa! Jongin Princee!" Para fans itu histeris melihat wajah serius Jongin yang justru nampak menggoda.
Tao tersenyum miring lalu melangkah dan merangkul sebelah tangan Jongin.
"Kalian mengertikan maksudku? Aku setingkat lebih tinggi dari kalian. Aku Sahabatnya sekarang" Namja panda itu tersenyum menang melihat para fans Jongin nampak marah.
"Brengsek kau, Huang Zi Tao! Lepaskan tanganmu!" Jongin menghela nafas. Mereka ini ribut sekali.
"Kemari, Kyung..." lirih Jongin seraya mengulurkan tangan hangatnya. Kyungsoo mengangguk ragu lalu menggapai tangan Jongin.
"Tidak apa, Kyungsoo. Kau harus menunjukkan eksitensimu sekarang" timpal Tao sambil terus merangkul lengan kanan Jongin. Kyungsoo tersenyum tipis ketika merasakan lengan kiri Jongin merangkul bahu kecilnya.
Para fans Jongin semakin menggila. Mereka berteriak memaki Tao dan Kyungsoo.
Jongin nampak sangat aneh dengan dua orang uke dikanan -kirinya. Dia seperti om-om haus belaian uke. Ckck... Kasian.
Jongin menghela nafasnya. Benar-benar kacau. Memang salah wajahnya yang terlalu tampan hingga keadaan jadi begini.
"Berhentilah. Aku mohon..." sepatah kata lembut mengalir dari bibir Jongin.
Para fans Jongin menahan nafasnya. Lembutnya suara Jongin membuat mereka seakan melayang. Belum lagi senyum indah itu.
Dan apa itu? Mereka bahkan merasakan sedang ditaman penuh bunga dan kupu-kupu dengan diiringi koor paduan suara yang membahana, Jongin benar-benar menghipnotis.
"Ahh, Amaziing~"
Bruuk!
salah satu gadis itu pingsan tak kuat menahan gejolak ketampanan Jongin.
.
"Princee..."
"Aku mohon...Kalian menghormati keputusanku. Jika kalian menyayangiku tolong biarkan aku bahagia dengan orang pilihanku..." tambah Jongin. Para gadis itu terdiam, seakan menunggu kata-kata yang mungkin akan diucapkan Jongin lagi.
"Hyung..."Lirih Kyungsoo. Mata bulatnya menatap manik onix Jongin. Tao tersenyum tipis, perasaannya menghangat ketika mendapati dua sejoli ini saling bertatapan penuh cinta.
"Kalian dengar apa yang Jongin Hyung katakan? Aku mungkin pernah bersama kalian. Tapi tidakkah kalian lelah seperti ini? Bersikap kekanakan dengan menganggap Jongin hanya milik kalian. Hell, Memangnya kalian membiayai hidupnya..." dengus Tao. Tangannya masih saja melingkar dilengan Jongin.
"Berhentilah bersikap egois..."ujar Tao dengan wajah serius. Para gadis itu menegang.
"Terima kasih untuk cinta yang telah kalian berikan untukku selama ini. Aku sungguh menghargainya. Sejak awal aku tidak pernah membayangkan kalian hadir untukku. Memberiku hadiah, dan selalu menyemangatiku." Lanjut Jongin dengan suara dalam. Para fans Jongin mulai gentar. Mereka terdiam mendengarkan kalimat per kalimat Jongin.
"Ini permohonanku seumur hidup. Tolong biarkan aku bahagia dengan apapun pilihanku..."Jongin tertunduk. Helaian poninya sedikit menutupi wajahnya. Entah bagaimana ekspresinya saat ini.
Sedihkah?
Marahkah?
Memohonkah?
Para gadis itu mulai menangis. Bahu mereka bergetar hebat melihat orang yang mereka kasihi tertunduk dalam.
"Hiiks... Huu...Huu..."
"Maafkan aku. Biarkan aku egois untuk kali ini saja" ujar Jongin seraya mengangkat wajahnya. Wajah tampan berhias senyum tipis. Senyum tipis yang sangat nampak dipaksakan.
Mereka tahu. Jongin mungkin tidak tega pada mereka sekarang.
"Hikss... Princee... Huhuu..." Tangis itu semakin meledak
Kyungsoo menunduk. Apa ini artinya dia sudah menyakiti hati para gadis ini? Begitu jahatnya dia sekarang. Tao, Chanyeol, dan sekarang gadis-gadis ini.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Tapi aku akan mengatakannya. Mungkin kalian sangat mencintai Jongin Hyung. Tapi aku tidak akan kalah dengan itu. Cinta yang kumiliki ini juga sangat besar. Aku mencintainya hingga tidak tertahankan. Aku berjanji akan menjaganya dan membuatnya bahagia, bahkan lebih bahagia dari saat dia masih sendiri. Jadi komohon restuilah kami..." timpal Kyungsoo dengan sungguh-sungguh. Jongin tersenyum mendengar penuturan kekasihnya ini. Rasa bangga menyusup dihatinya.
"Aigoo, kau sudah dewasa ne..." celetuk Tao sambil mengusak rambut halus Kyungsoo sambil cengengesan.
"Ne, kalian dengar...?"
.
Chen menatap kumpulan gadis yang menangis itu dengan padangan bosan. Jendela lantai dua ini benar-benar stategis. Dia jadi bisa melihat adegan tangis-tangisan para Fans Jongin.
"Woh apa ini?" saru Yesung yang entah kapan ikut-ikutan melihat dari samping Chen. Ditangannya nampak teropong jarak jauh. Merasa teropongnya diperhatikan Yesung pun membela diri.
"Ini berguna memantau siswa yang kabur" jawabnya konyol. Chen menggeleng prihatin. Gurunya ini... sesuatu sekali...
"Oii... Kenapa mereka menangis begitu? Berkelahi ya?" tanya Yesung sambil terus mengamati dengan teropongnya.
"Sedang konferensi pers..." Jawab Chen asal.
"Aiguu... Itu tidak efektif. Seharusnya mereka ketempat Jumyeon saja. Kan bisa disiarkan keseentero sekolah" kometar guru muda itu.
"Benar. benar. Lalu kita membuka acara gosip di radio sekolah..." Timpal Xiumin. Yesung mendelik lalu menggeplak kepala Xiumin.
"Gosip saja kerjaan. PR mu kemarin mana? Sini!" tagih Yesung.
"Aahh... Saemniimm~"
Chen membiarkan saja dua orang murid dan guru itu mengoceh disampingnya. Dia hanya terfokus pada Jongin dan Kyungsoo yang kini nampak melempar senyum menguatkan satu sama lain.
Chen tersenyum tipis. Dia senang Kyungsoo bahagia.
.
.
3 hari. Selama itulah Kyungsoo benar-benar kehilangan kontak dengan Chanyeol. Tetangganya itu masih berada dirumah ayahnya. Dan ibunya masih setia membungkam mulut tentang alamat mantan suaminya itu. Ponselnya tidak pernah aktif sejak kejadian itu.
Kyungsoo sungguh merasa bersalah.
"Melamun?" Kyungsoo tersentak dan segera tersenyum setelah mendapati Jongin ada disampingnya.
"Haaah, cuacanya cerah" desah Jongin sembari memejamkan matanya. Merasakan angin musim semi menyapu wajahnya. Taman sekolah nampak lenggang, hanya ada beberapa murid yang lewat.
"Apa kau menyesal menjadi kekasihku?" tanya Jongin santai. Kyungsoo menoleh cepat.
"Tidak! Siapa yang bilang!" bantahnya keras. Jongin tersenyum lalu mengusap rambut hitam Kyungsoo.
"Aku bercanda. Hanya saja aku berpikir, kau terlihat lebih murung setelah resmi menjadi kekasihku" ujar Jongin tanpa menghilangkan senyumnya. Kyungsoo tertunduk lesu.
"Ini bukan karenamu. Aku hanya memikirkan Chanyeol. Aku ingin tetap menjadi sahabatnya" Jongin mengangguk. Ia juga merasakannya. Chanyeol adalah salah satu teman terdekatnya dikelas selain Jumyeon. Dia juga merasa bersalah karena ini.
"Dibandingkan pukulannya kemarin. Tatapan terlukanya lebih membekas untukku. Aku juga berharap dia mau menerimaku lagi sebagai temannya" Gumam Jongin sambil menatap langit cerah.
"Bagaimana ini Hyung?" Kyungsoo mulai merasa goyah. Matanya mulai basah. Jongin menarik Kyungsoo dalam rangkulannya. Jongin mengusap bahu mungil itu sayang. Berusaha menenangkan sebisanya.
"Oi, dilarang bermesraan di area sekolah" Kyungsoo dan Jongin menoleh dan menemukan Chen tengah berdiri menatapnya malas.
"Kau apakan Kyungsoo sampai menangis begini?" tanyanya lagi sambil berkacak pinggang. Jongin hanya tersenyum maklum dengan kelakuan aneh Chen. Chen menghembuskan nafasnya berat. Dia tahu masalah anak jadi-jadiannya ini.
"Jika kuberikan alamat ayahnya Chanyeol, apa kau akan berhenti menangis?" tanyanya lagi. Kyungsoo dan Jongin segera menatap serius Chen. Kyungsoo bahkan sampai berdiri.
.
.
Hari ini minggu. Stasiun kereta bawah tanah itu masih nampak ramai, meskipun ini masih terbilang cukup pagi.
Kyungsoo menatap papan pengumuman yang menyatakan keretanya akan berangkat sebentar lagi. Dia sendirian. Dia benar-benar menutupi kepergiannya ke kota sebelah dengan rapi. Jika yang lain tahu keberangkatan Kyungsoo. Dapat dipastikan kunjungannya ini tak ubahnya liburan akhir pekan. Mengingat sifat teman-temannya yang abstrak itu. lagipula ini masalahnya dengan Chanyeol, dia harus menyelesaikannya sendiri.
Namja mungil mulai melangkahkan kakinya ketika pintu kereta dibuka. Dengan tekat sekuat baja, dia memberanikan diri berpergian sendirian. Ini demi sahabatnya. Chanyeol.
Syukurlah. Kereta ini masih sangat lenggang. Kyungsoo pun bisa leluasa memilih bangku. Namja mungil itu pun duduk disamping ibu-ibu hamil. Sebenarnya dia sedikit takut duduk sendirian, dengan duduk disamping ibu-ibu hamil setidaknya dia merasa aman. Menurut Kyungsoo ibu-ibu hamil pasti orang baik. Jadi dia tidak perlu khawatir.
Kyungsoo mulai mengambil ponselnya dan mengutak-atik game untuk menghilangkan bosan sementara perjalanan panjang ini masih berlangsung.
Clans Of War. Ia benar-benar hanyut dalam permainan perang itu hingga tidak menyadari seseorang duduk disampingnya.
Kyungsoo merasakan ponselnya bergetar, namun dihiraukannya. Gamenya masih terlalu seru untuk ditinggalkan.
"Ish, goblinnya mati" ringis Kyungsoo mengomentari permaiannnya sendiri.
Sekali lagi. Ponsel itu bergetar. Pesan singkat lagi. Kyungsoo masih keukeh dengan gamenya.
"O..o.. Ooh. Archerku habis!" Jari Kyungsoo makin cepat menyentuh layar ponselnya.
Pesan ketiga. Kyungsoo masih tetap berjibaku dengan permainan COC nya.
"Ehheemm, jadi permainanmu lebih penting?" suara berat nampak mengagetkan Kyungsoo. Suara ini... Kyungsoo kenal. Jangan bilang ...
"Jongin Hyung!" pekiknya. Jongin merengut. Tiga pesan singkatnya kalah dengan para Archer yang sana-sini hobi mengahncurkan kota orang.
"SEDANG APA KAU?" Pekik Kyungsoo makin melengking. Nampak beberapa penumpang menoleh padanya. Termasuk si ibu hamil yang duduk disamping Kyungso.
"Aku yang harusnya bilang begitu? Sedang apa kau dikereta sendirian? Rumah ayahnya Chanyeol itu jauh. Mau jadi apa nanti? Memangnya tahu arahnya kemana heoh?" omel Jongin. Kyungsoo menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut. Oh iya, dia lupa tidak pernah kekota sebelah. Salah-salah dia hanya akan jadi anak yang tersesat. Teman-temannya yang luar biasa itu bisa gempar. Bisa-bisa nanti para tim pencari elit dan kepolisian turun tangan. Sehun dan Kris lumayan berkuasa untuk itu. Ihh, merepotkan.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Jongin penuh penekanan seraya terus menyundul-nyundul dahi Kyungsoo dengan jarinya. Giliran Kyungsoo yang cemberut.
"Aku ingin menyelesaikannya tanpa harus melibatkan mereka. Ini masalahku, Hyung" sungut Kyungsoo. Jongin mendesah lalu bersidekap.
"Menurutmu aku tidak ada hubungannya begitu? Inikan gara-gara aku" ujarnya lugas. Kyungsoo berdecak.
"Ish, aku bilang bukan. Memang salah kalau kita pacaran. Aku kan memang menyukai Hyung" desisnya pelan. Jongin tersenyum tipis lalu menyodorkan sekotak donat pada Kyungsoo.
"Cemilan? Aku tidak butuh makanan manis lagi. Melihatmu saja aku sudah cukup. Nanti aku diabetes" gumam Jongin ambigu. Kyungsoo berbinar. Ini sudah cukup membuat suasana hatinya membaik. Dia harus menyiapkan tenaga lebih untuk bisa membujuk Chanyeol agar memaafkannya.
.
Kyungsoo kini berdiri didepan rumah minimalis dengan halaman yang luas dan asri. Rumah yang setipe dengan rumah-rumah yang sering dilihatnya di film-film barat. Terlihat nyaman dan hangat.
Kyungsoo mengigit bibirnya mencoba meyakinkan diri sekali lagi.
"Jangan takut. Aku bersamamu" Jongin tiba-tiba saja mengenggam erat tangan Kyungsoo.
"Justru itu Hyung. Bagaimana kalau nanti kau dipukul lagi?" Desah Kyungsoo yang hanya dibalas kekehan lucu Jongin. Jongin percaya Chanyeol bukan tipe yang menyukai kekerasan, kemarin mungkin dia hanya terbakar emosi sesaaat. Lagipula dia percaya pada Chanyeol.
"Ayo.." ajak Jongin.
Bel pintu berbunyi nyaring setelahnya. Kyungsoo masih nampak gugup menunggu respon penghuni rumah.
Perlu beberapa menit hingga seorang namja setengah baya membukakan pintu.
"Ya? Kyungsoo ne?" tanyanya kebingungan melihat dua tamu yang setahunya tinggal dikota sebelah datang berkunjung. Jongin membungkuk hormat.
"Chanyeol ada?" tanya Kyungsoo tidak sabaran. Namja yang merupakan ayahnya Chanyeol itu tersenyum.
"Syukurlah kami membatalkan acara memancing kami. Masuklah..."
.
"Chan?" panggil Kyungsoo ketika menemukan namja yang beberapa hari ini absen dari penglihatannya itu. Chanyeol nampak sedang bermain dengan anjing siberian huskynya dihalaman belakang. Anjing besar berwarna putih itu mengonggong ketika menemukan Kyungsoo dan Jongin menatap kearah Chanyeol.
Chanyeol menoleh dan segera terperanjat ketika menemukan dua orang teman sekolahnya sedang berdiri melihatnya.
"Kalian..."
.
Jongin dan Kyungsoo kini duduk dikursi yang ada diberanda belakang rumah Chanyeol. Chanyeol meletakkan dua gelas Es jeruk dimeja yang ada disamping mereka.
"Ada apa mencariku?" tanyanya langsung. Namja tinggi itu lalu duduk dikursi yang masih kosong. Kursi lain yang terpisahkan dengan meja tadi. Kursi kayu itu memang diletakkan satu sudut pandang menghadap halaman rumput didepannya.
Kyungsoo menatap wajah Chanyeol yang nampak datar menatap jauh kehalaman asrinya.
"Chan, maafkan aku." Ujarnya. Chanyeol tak bergeming. Dia tetap diam.
"Aku tahu kau benar-benar membenci ku sekarang. Tapi kumohon maafkan aku" lanjutnya sungguh-sungguh.
"Kau tahu apa yang kupikirkan?" potong Chanyeol. Kyungsoo menggeleng dalam diam.
"Jongin beruntung. Dia mendekatimu sebentar, dan kau tahu-tahu jadi pacarnya. Aku yang bahkan mengikutimu sejak kita masih bocah ingusan, tidak dapat melakukannya. Apa kekuranganku Kyung?" tanyanya sedih. Kyungsoo merasakan matanya basah.
"Tidak. Kau baik Kau sangat baik.. Aku tahu itu. Hanya saja ini bukan jalan kita. Aku menganggapmu sebagai saudaraku. Aku yang anak tunggal dan telah kehilangan ayah ibu selain nenek dan pamanku, hanya kau bisa kugantungi. Kau saudaraku Chan..." Terang Kyungoo sambil terisak. Jongin tertunduk dalam, dia merasa sangat bersalah saat ini.
"Sekarang kau punya Jongin. Kau tidak memerlukan aku lagi" ujar Chanyeol lirih. Kyungsoo menggeleng keras dengan air mata berlinangan.
"Tidak. Aku masih memerlukanmu. Kau sahabatku. Kau saudaraku. Nanti siapa yang akan menghabisakan makan malam kalau kau masih marah padaku? Hiks..." tangis Kyungsoo semakin menjadi. Chanyeol tersenyum sendu.
"Kau bisa panggil Jongin. Atau yang lain mungkin" Balas Chanyeol singkat. Kyungsoo berdiri dan segera memeluk Chanyeol yang masih duduk di bangkunya.
"Tidak. Aku ingin Chanyeol. Hanya kau yang bisa kuaniyaya dan ku marahi sesukaku. Kumohon maafkan aku. Aku tahu bersalah. Kumohon ijinkan aku menjadi sahabatmu lagi. Nanti aku kesepian. Kau tega membiarkan ku sendirian nanti. Bukankah kau bilang akan selalu bersamaku. Huuu... Hiks" Kyungsoo tersedu hebat.
Jongin menatap dua orang itu dengan pandangan sendu. Dia benar-benar ingin melihat Chanyeol dan Kyungsoo tertawa seperti dulu. Kesakitannya saat ini adalah melihat Kyungsoo tak bisa tersenyum selepas dahulu lagi.
"Chan, mungkin ini permohonanku pertama dan terakhirku. Tolong tersenyumlah lagi bersama Kyungsoo. Anak itu benar-benar tidak bisa tertawa tanpamu. Apapun kulakukan untuk melihat Kyungsoo tertawa lagi. Meski aku harus melepaskannya..." Suara Jongin sedikit bergetar pada kalimat terakhir.
"Hyung!" kaget Kyungsoo. Namja mungil itu melepaskan pelukannya pada Chanyeol.
"Aku tidak mau melihatmu bersedih lagi. Dengan begini kita akan membangun hubungan seperti dahulu. Sebelum kau bertemu denganku. Kau dan Chanyeol bisa tertawa lagi bersama sekarang" ujar Jongin seraya tersenyum miris. Kyungsoo merasa lututnya melemas. Air matanya semakin mengalir tak terkendali.
Apakah Jongin benar-benar melepasnya? Apakah hanya seperti ini cerita mereka? Apa mungkin harga dirinya terluka saat mengetahui Kyungsoo begitu menginginkan Chanyeol kembali.
Tidak. Kyungsoo bahkan merasa sesak didadanya karenanya. Namja mungil itu menangis dalam diam. Dia terpukul begitu keras.
Apakah pilihan selalu sesulit ini? Sahabat atau cinta?
"Dengan begini kembalilah padanya, Chan. Maafkan aku telah merusak hubungan kalian" Ujar Jongin membungkuk dalam kearah Chanyeol. Namja tampan itu memejamkan matanya ketika merasakan air mata turun indah dipipi tannya. Dia tetap membungkuk, sampai kapan pun dia takkan menunjukkan air mata ini siapapun. Air mata pertamanya semenjak tragedi kematian ibunya.
"Kenapa...? Hyung... Kau..." hanya itu yang bisa meluncur dari bibir ranum Kyungsoo. Jongin berdiri tegak dengan senyuman tulus dibibirnya. Kyungsoo bisa dengan jelas melihat Jongin menutupi matanya dengan lengannya.
"Mataku kelilipan" desisnya. Chanyeol menatap Jongin dengan raut yang tak bisa dibaca.
"Kau... "
Buaagh...!
Dengan sekali terjangan Chanyeol tiba-tiba saja memukul Jongin. Membuat Kyungsoo terpekik kaget.
"Chan! Hentikan!"
Chanyeol segera menduduki dada Jongin dan menarik kerah bajunya kasar.
"JANGAN BERCADA?!" teriaknya keras. Jongin menatap kosong Chanyeol.
"Aku tidak sejahat itu, Jong. Bagaimana aku bisa tertawa jika Kyungsoo begitu terpukul jika kehilanganmu?! Kau tidak melihat wajahnya tadi? Tarik perkataan bodohmu itu, saekia!" ancamnya dengan wajah marah. Jongin tersenyum tipis walaupun sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Apa sekarang kau mengerti?" tanya Jongin ambigu.
"Itulah yang kurasakan, Chan" lanjutnya. Chanyeol mengertakan giginya. Namja tinggi itu melepaskan kerah baju Jongin. Membiarkan namja tan didepannya berusaha duduk dibantu Kyungsoo.
"Aku benar-benar akan membunuhmu jika kau mengucapkan kata-kata bodoh itu lagi" geramnya rendah. Namja tinggi itu kemudian berlalu begitu saja masuk kedalam rumahnya. Meninggalkan Kyungsoo dan Jongin diberanda rumahnya.
"Kau tidak apa?" tanya Kyungsoo sambil tersedu. Dia terus-terusan menangis hingga matanya benar-benar memerah sekarang.
"Hentikan. Nanti matamu berkantung" bujuk Jongin sambil mengusap air mata Kyungsoo.
"Maaf, aku tadi pasti mengejutkanmu ya?" ujar Jongin sambil mengusap kepala Kyungsoo yang tertunduk. Namja mungil itu mengangguk dalam sambil menahan tangisnya.
"Jangan membuat lelocon aneh tentang hal itu lagi" bisik Kyungsoo disela tangisnya. Jongin tersenyum tipis lalu memeluk Kyungsoo menenangkannya.
"Maaf ne?"
Chanyeol menghela nafasnya ketika melihat Jongin dan Kyungsoo tengah berpelukan. Ini mungkin saatnya dia merelakan Kyungsoo untuk mencari kebahagiannya sendiri.
Tuuk!
Jongin mengusap dahinya ketika sekotak plester mendarat indah disana.
"Obati didalam..." Ujar Chanyeol sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Jongin berdiri. Kyungsoo tersenyum dalam tangisnya.
Namja tan itu balas tersenyum tak kalah hangat. Dengan cepat dia menerima uluran tangan itu.
"Jaga Kyungsoo untuku" bisiknya saat Jongin sudah berdiri didepannya. Namja tan itu tersenyum lebar.
"Bantu aku sesekali" balas Jongin.
"Kyung, kemarilah..." panggil Chanyeol. Namja mungil itu mendekat dan segera mendapat pelukan hangat dari Chanyeol.
"Aku memaafkanmu. Aku menyayangimu, Kyung. Meski hanya sebatas sahabat untukmu" ujar Chanyeol. Kyungsoo tersenyum lembut lalu balas memeluk namja tinggi itu.
"Maaf Chan"
"Aku menyayangimu, Kyung." gumam Chanyeol seraya mengecup dahi Kyungsoo. Kyungsoo memejamkan matanya. Ini tanda kasih Chanyeol sebagai sahabatnya dan juga kakaknya. Chanyeol sudah kembali. Semoga.
Jongin tersenyum tulus sekali lagi. Dia senang semuanya sudah berakhir sekarang. Perihnya luka akibat pukulan Chanyeol tidak terasa lagi sekarang. Jongin mengelus rambut hitam Kyungsoo yang kini ada disampingnya. Saling bergenggaman tangan satu sama lain.
.
.
.
Baekhyun sedang berwisata kuliner sore itu. Sepulang sekolah semuanya nampak sibuk. Namja imut itu kebosanan setengah mati jika harus pulang sekarang. Hingga akhirnya Baekhyun pun berjalan-jalan sendirian, meninggalkan supirnya yang menunggu didepan sekolah. Tak jarang dia digoda karena parasnya yang sangat imut itu.
Dulu dia begitu anti dengan jajanan pinggir jalan. Dia hanya makan-makanan dari koki ternama dan berlisensi. Ini adalah kali kelimanya mencoba makanan pinggir jalan ini. Pertama kalinya kesini dia diajak Kyungsoo. Perlu setengah jam untuk membujuk Baekhyun mencicipi jajanan pinggiran ini. Dia sungguh tidak tahu makanan-makanan yang dianggapnya tidak berkualitas dulu, justru membuatnya ketagihan sekarang.
"Uwoooh, paman tambahkan sedikit dagingnya. Aku kan sudah sering kemari dalam seminggu ini" rengek Baekhyun membuat paman-paman itu mengangguk saja. Dia tentu ingat pembelinya yang sangat imut luar biasa ini. Dia pembeli yang paling mencolok karena parasnya yang sempurna.
"Oh, Baek?" Baekhyun menoleh dan menemukan Chanyeol dengan baju santainya. Ah, Benar. Namja tinggi itu pasti baru pulang dari rumah ayahnya. Terlihat dari tas ransel yang ada dipunggungnya.
"Yeoli... kemari kau harus cicipi ini" ujar Baekhyun dengan mulut penuh. Chanyeol pun pasrah saja saat Baekhyun menarik kesalah satu kursi yang memang tersedia disana.
"Adduh... Yang patah hati makannya yang banyak ya.. ckck.." ejek Baekhyun sambil menyuapkan paksa sepotong gorengan kedalam mulut Chanyeol.
"Oi, Panash!" pekik Chanyeol yang dibalas tawa setan Baekhyun.
"Paman, sojunya satu!" ujar Baekhyun lantang. Chanyeol terkaget-kaget. Baekhyun memesan soju? Bahkan dia saja yang dikelas 3 tidak berani mencobanya, bocah tengik ini berani-beraninya.
"Kau masih dibawah umur. Air putih saja" ujar paman itu meletakkan sebotol air mineral dimeja Baekhyun. Baekhyun merengut, saharusnya dia tidak pakai seragam sekolah saat kesini.
"Masih dibawah umur saja sudah sok." Ejek Chanyeol. Baekhyun mendelik.
"Orang patah hati diam saja"
"Ya! Dari tadi kau menyebutku orang patah hati terus. Memang kau tahu apa itu? Dasar anak kecil" balas Chanyeol tak kalah sengit.
"Ya! Kau menyemburku! Aiishh..." Baekhyun mengusap wajahnya kasar. Seumur-umur dia tak pernah disembur dengan remahan makanan seperti Chanyeol ini.
"Aku yang traktir hari ini" ujar Chanyeol lagi. Baekhyun mengangkat wajahnya.
"Ada kejadian baik ya?" tanya Baekhyun basa-basi. Dia sudah tahu semuanya. Mungkin Chanyeol merayakan hubungan persahabatannya yang membaik.
"Hu'um" Chanyeol mengangguk dengan senyum manis terpatri kejadian beberapa hari sebelumnya membuat hatinya agak tenang. Namja imut itu ikut-ikutan tersenyum.
"Karena ditraktir, aku akan memberikanmu pelayanan tambahan!"
"Oi. Oi. Berhenti berkata ambigu! nanti orang salah paham" dengus Chanyeol.
"Khukhu... Aku akan menceritakan sesuatu padamu" Ujar Baekhyun lagi sambil menggerakkan sepotong daging dengan gerakan memutar.
"Tentang sepupuku. Kim Jongin." Chanyeol mengangguk saja.
"Kau tahukan ibu kandung Jongin Hyung sudah meninggal? Beberapa bulan kemudian Ayahnya menikah lagi. Dan Jongin Hyung tahu calon ibu tirinya adalah selingkuhan ayahnya dulu. Dia menolaknya habis-habisan. Begitu juga kakaknya, Taemin. Sulli yang saat itu belum mengerti apa-apa mungkin tak ambil andil dalam hal ini" Baekhyun menyuap daging itu dengan sekali suap..
"Taemin Hyung bahkan sempat kabur keluar negeri dengan alasan sekolah. Jongin Hyung pada dasarnya dididik patuh oleh mendiang ibunya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya tersenyum, dia sudah diajarkan tersenyum apapun yang terjadi. Kau mungkin tahu. Dia dan ibu tirinya tidak akrab. Mereka jarang berbicara, kau pernah melihatnya berinteraksikan?"tanya Baekhyun.
"Benar juga. Aku bahkan bingung. Ia memangil ibunya eommonim. Formal sekali bahkan untuk ukuran ibu meski pun tiri"
"Seiring waktu Taemin Hyung mengerti. Dan Hanya Jongin Hyung yang bertahan dalam kediamannya. Hingga saat dia bertemu Kyungsoo. Dia mengajari Jongin Hyung tentang ketulusan. Maka Jongin Hyung pun seakan menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya. Kau harus melihat bagaimana berserinya wajah Yuri ahjuma saat Jongin Hyung memanggilnya Eomma" Celoteh Baekhyun.
Chanyeol tersenyum lembut. Ketulusan. Iya, dia juga mendapatkannya kemarin.
"Syukurlah. Aku kira mau sampai kapan dia begitu" ujar Chanyeol sambil mengenggak minuman kalengnya.
"Dia belajar untuk menerima kenyatan dan tulus mencintai apa yang diterimanya saat ini. Aku bersyukur kau dan Tao juga mengerti konsep itu. Aku juga pernah ada dititik itu. Titik terendah dalam hidupku" Baekhyun menyuapkan paksa sepotong daging ukuran besar pada Chanyeol.
"Oi, dipotong dulu. Nanti aku tersedak" Protes Chanyeol.
"Cerewet. Aku senang semua nampak normal. Meskipun normalnya kau itu sangat tidak wajar dimataku" Baekhyun tersenyum miring.
"Dari tadi kau mencari masalah denganku? Apa Tao tidak meladenimu hari ini!"
"Aish... menyembur lagi!"
TBC
Telat? Bangeet... Sorry nih baru sempat ngepost. Mamah opname dirumah sakit, jadinya ga sempet ngepost. Maafin akike ya boook...:*
Ada yang familiar dengan kata-kata lebai diatas. Apakah anda memikirkan apa yang saya pikirkan... Khukhuu...
Yosh. Gue penggemar naruto. Mencintai sampai tak tertahankan. Dan permohonan seumur hidup. Itu kata-kata Sakura. Sejak pertama baca komiknya tahun 2005 tiba-tiba saja kata-kata itu nempel diotak. Bahkan pas liat naruto ditivi sering ngomel, dubbingannya ga sama ama yang dkomik. #Biarkan lah tante ini bernostalgia
Oh yaa... Chap ini sekalian mau ngeluarin isi hati tentang idol yang pengen bahagia aja. Ngertilah ya... Kita fans ini keseringan ngerasa ini idol milik sendiri aja. Padahal mereka juga punya kehidupan kali. Sedikitlah tolerir ama mereka. Mereka punya pacar ga papa kali. Tulus ga sih lu sayang ama mereka. #Eaaa
Yoosh. Udah baikan. Cepet kan ya marahannya. Wkkkk
Yang nanya Luhan? Ok. Itu chapter depan kita kupas tuntas setajam goloks... #muke ga nyante
Gue udah nargetin ni ff mesti selesai dalam 5 bulan. Soalnya insyaallah ya kalo skripsi gue kelar gue mau nikahan. Kalo udah jadi ibu-ibu kan rasanya ga elit aja ketahuan laki bikin yaoi. #EaEa... Bisa-bisa laki kejang-kejang baca laki X laki. :D
Doain Skripsi gue kelar yaa... Amiiin.
Love yaaah... Review?
