FF ini milik TaniaMs, saya hanya meremake dari cerita aslinya.

Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Etc.

Happy reading

.

.

Kyuhyun menatap jam tangannya dengan resah. Jam mengajarnya sudah habis. Seharusnya dia sudah bisa pulang, tapi kakinya terlalu berat menuju apartemen. Takut kalau apa yang di carinya tidak ada disana.

Tanpa sadar dia kembali mengusap jari manis di tangan kirinya, tempat cincin yang diberikan Siwon berada. Namun sekarang cincin itu tidak di sana. Bukan karena dia lupa memakainya, melainkan dia tidak tahu dimana keberadaan cincin itu sekarang. Dengan bodohnya, dia baru sadar cincin itu tidak ada di jarinya ketika dia sedang menyeka tangannya setelah makan siang. Dan itu adalah satu jam yang lalu.

Aku tidak mungkin menghilangkannya, bukan? Batin Kyuhyun mulai panik.

Kalau ingatannya tidak bermasalah, tadi malam dia masih mengenakan cincin itu, karena Eunhyuk menggodanya. Eunhyuk bilang dia pasti sangat bahagia memakai cincin yang di berikan Siwon tersebut, dan dia tersenyum sambil mengusap cincinnya. Dia tidak mungkin menjatuhkan cincin itu ketika mandi. Lagi pula, rasanya dia juga tidak membuka cincin ketika mandi, jadi mustahil cincin itu tertinggal.

Apa Siwon akan memaafkanku kalau dia sampai tahu cincin yang diberikannya hilang?

Kyuhyun sudah mengirim Eunhyuk pesan beberapa saat lalu. Bertanya apakah sahabatnya itu menemukan cincin di apartemen, dan Eunhyuk bilang tidak sama sekali. Semenjak sabtu dini hari lalu, Eunhyuk ikut menginap di apartemen Siwon, karena kebetulan suaminya sedang keluar kota.

Kyuhyun masih sibuk memikirkan apakah sebaiknya dia pulang ke apartemen, atau pergi ke toko perhiasan dan mulai mencari cincin yang sama persis dengan cincin yang diberikan Siwon saat ponselnya bergetar.

"Ya Eunhyuk? Kau menemukan cincinnya?" tanya Kyuhyun langsung.

"Astaga! Kau benar-benar menghilangkannya?" Eunhyuk balik bertanya dengan cemas. "Bagaimana kalau Siwon tahu?"

"Dia sedang di luar negeri, jadi dia tidak akan tahu kecuali kau memberi tahunya," tukas Kyuhyun tajam.

"Calm down, Kyu." Eunhyuk berdehem. "Bukan aku yang menghilangkannya, jadi jangan menyerangku."

Kyuhyun menggigit bibirnya. Nyaris menangis. "Jadi, ada apa meneleponku?"

"Bukankah kau sudah selesai mengajar?"

"Kenapa?"

"Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat."

"Suatu tempat?" tanya Kyuhyun curiga. "Kau tidak ingin bertemu selingkuhanmu, kan?"

Eunhyuk mendengus. "Hei! Suamiku sudah sempurna, jadi kenapa aku harus mencari namja lain, hah?!"

Kyuhyun terkekeh kecil. "Baiklah. Kau masih di apartemen? Aku akan menjemputmu kesana."

Eunhyuk berdehem pelan. "Well, sebenarnya aku sudah berada di depan gedung sekolah tempatmu mengajar."

"Astaga!"

oOoOoOoOo

Kyuhyun menatap Eunhyuk yang duduk di hadapannya dengan curiga. Sahabatnya itu minta ditemani ke sebuah cafe yang berada di depan High School mereka dulu. Memang, cafe itu adalah tempat hangout favorit mereka—dia, Eunhyuk, Ryeowook, Siwon dan Kibum—saat masih bersekolah disana.

Setelah memesan sebuah minuman yang tak lain hanyalah lemon tea, bahkan Eunhyuk tidak menghabiskannya sama sekali, yeoja itu mengajaknya pindah ke tempat lain. Dan mereka pun mendekam di Steak House selama hampir satu jam. Eunhyuk memesan beberapa menu, namun hanya memakan dua sendok di setiap piring yang ada. Kyuhyun nyaris saja mengomel ketika akhirnya Eunhyuk memutuskan untuk menghabiskan tenderloin, dan mengabaikan tiga pesanannya lain.

"Kau sedang hamil?" tanya Kyuhyun sangsi.

Eunhyuk mendongak dari makanannya. "Aniyo," ujarnya. "Suamiku selalu memakai pengaman setiap kali melakukannya."

Kyuhyun mencibir jijik. "Aku tidak mau dengar bagian itu."

Eunhyuk tertawa. "Well, pekerjaan suamiku masih mengharuskannya untuk berpindah-pindah. Dan dia tidak ingin anak kami menjalani suasana yang berbeda terlalu sering. Mungkin akhir tahun ini kami baru akan fokus pada penciptaan penerus kami."

Kyuhyun mengusap wajahnya dan menatap Eunhyuk kesal. "Tolong gunakan bahasa lembut yang bisa diterima telingaku," ujarnya sarkastik.

Eunhyuk mendengus. "Lihat siapa yang bicara," gerutunya. "Orang yang tidak bisa melewati harinya tanpa adanya kata makian sama sekali."

Mengabaikan sindiran Eunhyuk, Kyuhyun mengalihkan pandangannya pada jendela besar di sampingnya. Menyuguhkan pemandangan langit kota Seoul yang sore itu terlihat sangat menakjubkan. Langit seolah di lukis dengan warna kuning, oranye dan awan-awan berpendar di sekitar matahari yang mulai bergerak turun.

"Ayo kita ke taman hiburan," ujar Eunhyuk dengan santainya.

"Mwo?!"

"Ayolah, Kyu," bujuknya. "Kita sudah lama tidak berjumpa. Jadi kabulkan permintaanku. Jebal?"

"Sudah lama tidak berjumpa bagaimana?!" Kyuhyun memutar bola matanya malas. "Kau bahkan sudah menetap di Korea sejak awal tahun. Sudah hampir tiga bulan. Kau ini benar-benar!"

Eunhyuk menunjukkan wajah memelas. "Bagaimana kalau aku benar-benar hamil? Kau mau mengabulkan permintaan bayiku?"

Kyuhyun mendengus keras. "Cih! Bukankah kau bilang suamimu selalu memakai pengaman? Jadi kau tidak mungkin hamil!"

Eunhyuk memanggil pelayan, membayar pesanannya dan segera menyeret Kyuhyun menuju parkiran. "Ppali! Antar aku kesana," ujarnya tegas. "Aku ingin melihat matahari tenggelam dari atas bianglala."

Kyuhyun menggelengkan kepalanya. "Kau ini sudah lupa berapa usiamu?!" omelnya, namun dia tetap masuk dan duduk di belakang kemudi.

Kyuhyun berjalan dengan malas di belakang Eunhyuk. Berbanding terbalik dengan Kyuhyun, sahabatnya itu tampak sangat bersemangat menuju atraksi bianglala. Tidak banyak pengunjung di sore itu. Ini masih awal minggu, masih senin! Hari sibuk di dunia, jadi tidak mungkin orang-orang bertebaran di taman hiburan. Kecuali mereka tidak punya kegiatan sama sekali.

Kebanyak pengunjung adalah anak sekolah. High school maupun middle school. Terlihat dari seragam yang mereka kenakan.

Yeah, mungkin mereka sedang kencan, batin Kyuhyun.

Mendadak dia teringat kencan pertamanya bersama Siwon yang juga di taman hiburan. Benar-benar tidak normal sama sekali. Lihat? Hanya anak sekolahan yang berkencan di taman hiburan! Sejauh yang dia ingat, Siwon punya hotel di penjuru dunia, tapi namja itu malah memilih taman hiburan sebagai tempat kencan. Sulit di percaya!

Berusaha tidak cemberut, Kyuhyun duduk di salah satu sisi bianglala yang berbentuk kotak persegi itu. Eunhyuk duduk di hadapannya. Kyuhyun benar-benar mengurut dada karena kelakuan sahabatnya itu. Bahkan semenjak menginjakkan kaki di taman hiburan ini, yeoja itu tak henti-hentinya tersenyum. Tepat saat pintu bianglala itu akan menutup, Eunhyuk melompat keluar, meninggalkannya sendirian dan benda itu pun mulai bergerak.

"YAK! Eunhyuk, kau yeoja sialan!" makinya keras sambil menatap Eunhyuk yang tengah melambai dengan semangat ke arahnya.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi sahabatnya itu. Bahkan dia mulai mempertanyakan status sahabat yang disandang Eunhyuk. Pada dering pertama, Eunhyuk langsung mengangkat dan terdengar tawanya yang menyebalkan.

"Aku akan membunuhmu begitu aku berhasil keluar dari bianglala sialan ini!" bentak Kyuhyun. "Aku akan memotong tubuhmu menjadi bagian-bagian kecil! Memberikan potongan bokongmu yang sangat kau banggakan itu pada buaya kelaparan, dan menebarkan sisa tubuhmu yang lain di seluruh penjuru rumahmu! Kau dengar itu, dasar sahabat kurang ajar?!"

Eunhyuk semakin tertawa mendengar makian yang dilontarkan Kyuhyun padanya. Bahkan ancaman yang dilontarkan yeoja itu tidak membuatnya gentar sama sekali.

Kyuhyun menatap tubuh Eunhyuk yang semakin jauh dari pandangannya, tapi dia masih bisa melihat dengan jelas kebahagian di wajah sahabatnya itu. "Kau mengerjaiku?! Demi Tuhan! Ini bukan April mop!"

Eunhyuk terkekeh kecil, sebelum akhirnya berusaha menguasi dirinya. "Lebih baik kau tenang, dan menikmati pemandangan kota Seoul dari atas sana. Matahari mulai tenggelam!"

"Aku tidak butuh melihat matahari tenggelam dari bianglala menyebalkan ini!"

Eunhyuk kembali tertawa, dan segera memutuskan sambungan.

Kyuhyun menatap ponselnya tajam. Kalau matanya bisa mengeluarkan laser, ponselnya pasti sudah hangus terbakar.

Berusaha menenangkan diri, Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah barat. Matahari semakin menurun, seolah tenggelam di balik gedung-gedung pencakar langit kota Seoul. Well, pemandangan yang cukup membuatnya lupa akan kekesalan pada Eunhyuk. Warna langit semakin indah.

Kyuhyun mengabadikan momen itu ke dalam sebuah foto, dan meng-uploadnya ke instagram, dan mengetikkan beberapa kalimat disana.

Wherever you are, I always miss you.

Tepat setelah fotonya tersebut ter-upload, ponselnya bergetar. Ada panggilan masuk, dan itu dari Siwon. Tanpa sadar Kyuhyun langsung mengulum senyum. Dia baru saja memikirkan namja itu, dengan kebetulan Siwon meneleponnya. Apa Siwon sudah menerima video yang dia kirimkan? Dan mendadak saja, dia kembali teringat akan cincinnya yang hilang.

"Yeoboseo?" sapa Kyuhyun ragu.

"Yeoboseo," balas Siwon. "Kau sedang dimana?"

Belum sempat menjawab, Kyuhyun terdorong kedepan karena bianglala tersebut berhenti mendadak. Dengan cemas, Kyuhyun melihat ke bawah namun dia tidak melihat apapun selain kegelapan. Melihat keadaan sekitar, tampaknya dia sedang berada di puncak ketika kerusakan ini terjadi. Gedung-gedung lain di sekitar sana baik-baik saja. Lampu menyala terang, tapi kenapa taman hiburan ini gelap?! Apa listriknya rusak? Dan yang hal terburuknya, dia terjebak! Aku benar-benar akan membunuh Eunhyuk karena ini! Batin Kyuhyun penuh tekad.

"Kyu? Kau sedang dimana?"

Kyuhyun tersadar saat suara Siwon terdengar di telinganya. "Aku terjebak di bianglala, kau tahu?! Ini akan menjadi hari terakhir aku menginjakkan kakiku di taman hiburan!"

Siwon terkekeh.

"Dimana letak lucunya, Choi Siwon?!" tanya Kyuhyun, nyaris membentak. "Bagiku, ini tidak lucu sama sekali!"

"Arraseo, mianhae." Siwon berdehem. "Bisakah kau melihat ke bawah?"

Meski bingung, Kyuhyun tetap menuruti permintaan Siwon dan melihat ke bawah. Dan dia pun terpana.

Dibawah sana, lampu sudah kembali menyala. Siwon berdiri sambil melambaikan tangan padanya dengan senyum lebar di wajahnya. Namun bukan itu yang membuatnya terpesona. Melainkan karena sebuah spanduk sepanjang 10 m yang bertuliskan kalimat "Will you marry me, Kyu?"

"So?"

Kyuhyun mengangguk, meskipun Siwon tidak dapat melihatnya. "Aku bersedia," ujar Kyuhyun dengan suara serak.

"Jeongmal?" tanya Siwon. Alih-alih bahagia seperti namja lain ketika lamarannya di terima, namja itu malah bertanya dengan nada tak percaya. "Well, biar aku beritahu sesuatu," ujar Siwon sambil terus mendongak ke arah Kyuhyun. "Aku tipikal orang yang selalu ingin mendapatkan kepercayaan penuh dari orang lain, sangat tersinggung bila di curigai, terkadang aku bisa sangat menyebalkan karena lupa memberi kabar, karena sibuk bekerja. Aku mungkin juga mendengkur ketika tidur. Wajah bangun tidurku mungkin juga tidak begitu menarik. Selain kekayaan orang tuaku, aku bahkan tidak punya apa-apa." Siwon menarik napas. "Setelah mendengar kekuranganku yang tadi kusebutkan, bahkan mungkin masih banyak kelakuan minusku yang lainnya, apa kau masih mau menikah denganku?"

Kyuhyun tertawa dan mengusap air matanya. "Tentu saja, dasar bodoh!"

oOoOoOoOo

Kyuhyun menatap gedung-gedung pencakar langit di sekitarnya. Jendela gedung-gedung itu seperti papan catur, karena tidak semua jendela yang lampunya menyala. Di bawah sana, jalanan masih ramai oleh kendaraan, meskipun mulai tengah malam. Bahkan orang-orang yang berjalan kakipun tidak kalah ramainya. Keberadaan apartemen Siwon yang nyaris di pusat kota membuat jalanan di sekitarnya tidak pernah sepi.

Entah bagaimana caranya, Siwon berhasil menarik Sung Si Kyung untuk menyaksikan lamaran mereka. Untung saja Siwon sudah memblokir pengunjung sehingga besok wajahnya dan Siwon tidak akan muncul sebagai berita utama di televisi. Lamaran itu terasa lebih privat karena hanya ada mereka dan sahabat mereka.

Setelah lamaran itu, mereka berempat berpesta di Blue Squirell. Merayakan kebahagian mereka. Acara mereka berakhir satu jam yang lalu karena Si Kyung harus segera kembali. Menyiapkan perilisan album barunya bulan depan.

Begitu tiba di apartemen, Kyuhyun segera mandi, membersihkan tubuhnya dan sekarang, disini lah dia. Duduk di kursi malas yang berada di balkon apartemen. Bukannya mengantuk karena dia sibuk seharian, matanya malah segar bugar. Mungkinkah karena dia terlalu bahagia sehingga kantukpun tidak ingin mengganggunya?

Kyuhyun benar-benar masih tidak percaya bahwa Siwon menyiapkan semua itu untuknya. Eunhyuk adalah pelaku yang mengambil cincinnya ketika masih tertidur, dan dia dengan bodohnya tidak sadar sama sekali. Dan tingkah aneh Eunhyuk yang mengajaknya ke tempat-tempat tadi, cafe di depan high school mereka, steak house, hanyalah untuk mengulur waktu hingga matahari nyaris tenggelam.

"Soda?"

Kyuhyun tersadar dan menerima soda yang disodorkan Siwon padanya. Tanpa sadar dia tersenyum ketika melihat cincinnya sudah berada ditempatnya semula.

"Kenapa tersenyum?" tanya Siwon heran. Dia pun duduk di kursi malas disamping Kyuhyun.

"Aku pikir, aku menghilangkan cincin ini." Kyuhyun mengangkat bahu. "Aku bahkan sudah berniat untuk membeli cincin yang sama persis dengan cincin ini jika Eunhyuk tidak menghubungiku."

"Aku akan tahu cincin yang kau beli itu adalah palsu."

"Bagaimana mungkin?"

Siwon mengulurkan tangan, memberi kode pada Kyuhyun untuk melepas cincin itu. Setelah cincin itu ada di tangannya, dia menunjuk lingkaran bagian dalam cincin tersebut. "Kau lihat ini? Di dalamnya ada tulisan Wonkyu."

Kyuhyun merebut cincin itu dari tangan Siwon dan memperhatikan tulisan yang dimaksud namja itu. "Merepotkan saja," komentar Kyuhyun.

Siwon terkekeh, lalu menatap ke depan sambil meminum sodanya.

Kyuhyun ikut meminum sodanya, dan menatap langit malam yang ditaburi bintang. Rasanya bintang-bintang itu semakin banyak saja, pikir Kyuhyun. "Siwon?"

"Hmm?" sahut Siwon tanpa menoleh sama sekali. Dia tengah memejamkan mata karena tubuhnya terasa sangat ringan. Mungkin dia bisa tertidur sebentar lagi. Perjalanan yang memakan waktu sehari lebih dari Thailand, membuat tubuhnya benar-benar remuk. Bahkan sebelumnya dia baru saja terbang dari Australia. Namun selama perjalanan dia tidak bisa tidur sama sekali. Dia tiba di Korea sekitar pukul 10 pagi, dan diapun mulai mengatur semuanya. Cukup aneh karena dia tidak terserang jeltlag sama sekali.

"Kau tertidur?"

Siwon berdehem dan membuka matanya. "Nyaris saja."

"Kalau begitu sebaiknya kita istirahat."

Siwon menggeleng. "Kau ingin mengatakan apa?"

"Aku minta maaf soal makianku ketika terakhir kali kita bicara," ujar Kyuhyun. Minta maaf bukan hal yang mudah. Walaupun jika kau memang melakukan kesalahan itu.

Siwon mengangguk sambil tersenyum. "Ne, aku juga minta maaf," katanya. "Tapi, bisakah kau mengurangi hobimu memaki orang lain? Terutama aku."

Kyuhyun mendelik. "Aku memakimu juga bukan tanpa alasan," balasnya kesal. "Memangnya kenapa? Kau tidak suka punya istri yang suka melontarkan makian? Sayang sekali, itu sudah satu paket denganku. Kau harus menerimanya kalau kau ingin menikah denganku."

Siwon berdecak dan menatap Kyuhyun prihatin. "Tenanglah sedikit, oke? Aku hanya tidak ingin umma mendengar makian spektakulermu itu. Karena kalau itu terjadi, aku khawatir kau akan di coret dari calon menantu potensialnya."

"Mwo?! Calon menantu potensial bagaima—Oh." Kyuhyun berdehem dan merasakan wajahnya memanas. "Oh."

Siwon menyeringai. "Yeah. Oh."

"Kenapa kau melamarku lagi?" tanya Kyuhyun akhirnya. "Bukankah saat ulang tahun appa kau sudah melamarku?"

"Saat ulang tahun paman Cho, aku melamarmu lewat ayahmu," ujar Siwon. "Dan tadi adalah lamaran yang sebenarnya. Lagipula, bukankah kau ingin di lamar di taman hiburan? Aku mengabulkan keinginanmu. Dulu kau juga ingin ada seseorang yang rela mendaki gunung

untukmu gara-gara serial drama. Aku juga melakukannya." Siwon mengerling ke arah Kyuhyun yang dibalas yeoja itu dengan tatapan mau muntah. "Apa aku masih kurang sempurna untuk menjadi suamimu?"

Kyuhyun memutar bola matanya dan mendengus keras. "Astaga! Kapan aku bilang kalau aku ingin di lamar di taman hiburan, hah?! Aku juga tidak pernah bilang kalau aku ingin seseorang mendaki untukku. Kau sudah mabuk?!"

"Well, untuk hiking kau memang tidak mengatakannya secara langsung. Kau hanya iri pada Rain, tapi untuk menyenangkanmu aku melakukannya," ujarnya. "Aku tidak bohong tentang lamaran. Saat kita di middle school, tahun kedua seingatku. Kau bilang, kelak ketika kau sudah besar, kau ingin di lamar di taman hiburan. Kau di atas bianglala dan kekasihmu di bawah, merentangkan spanduk yang bertuliskan would you marry me."

Kyuhyun menatap Siwon sangsi. Samar-samar dia mengingat kalau dia memang mengatakan itu pada Siwon. Astaga! Itukan hanya ucapan tidak penting seorang bocah? Bagaimana mungkin namja itu masih mengingatnya? "Itu sudah lama sekali. Kenapa kau masih mengingatnya?"

"Karena aku mencintaimu," jawab Siwon cepat.

Kyuhyun kembali mendengus. "Benar-benar alasan yang sangat meyakinkan. Selamat, anda berhasil memenangkan hadiah utama sebesar satu juta dollar!" Kyuhyun buru-buru bangkit dari duduknya, dan berjalan cepat menuju kamar. Dia harus segara menyembunyikan wajahnya yang memerah di balik selimut.

Siwon tertawa dan buru-buru menyusul Kyuhyun. Dia mengunci pintu balkon, dan begitu tiba di kamar, Kyuhyun sudah mengubur dirinya dibalik selimut. Dia berbaring di samping Kyuhyun, dan menyibak selimut yang membungkus Kyuhyun dalam sekali sentakan. "Hei, aku ingin dengar secara langsung."

"Dengar apa?" tanya Kyuhyun pura-pura tak mengerti.

"Three words?"

"I love you," ujarnya cepat.

"Aku tidak dengar."

"I love you," ulang Kyuhyun, kali ini lebih lambat dan terucap dengan jelas.

"Kau bicara apa, hah? Aku tidak dengar apapun." Siwon merengut.

"Aku bisa muntah jika mengatakannya lagi."

Siwon menatap Kyuhyun tanpa berkedip. Menunggu yeoja itu kembali mengatakannya. Rasanya sangat menyenangkan ketika kalimat itu keluar dari mulut Kyuhyun. Seperti nyanyian dari surga.

"Astaga! Kau ini tuli atau bagaimana hah?!" protes Kyuhyun dengan emosi yang mulai memuncak. "Aku mencintaimu, sialan!"

Dan Siwon tidak dapat menahan tawanya lagi.

oOoOoOoOo

Mempersiapkan pernikahan bukanlah hal yang mudah. Meskipun beberapa hal tidak perlu dipermasalahkan, seperti gedung, makanan dan dekorasi, itu tidak membuat hal yang tersisa terasa mudah. Mereka berdebat cukup lama tentang gaun yang akan dipakainya untuk pemberkatan, lalu gaun untuk pesta setelahnya. Dan itu mereka lakukan tepat di depan wajah si desainer terkenal pilihan Siwon.

Siwon memberi saran—nyaris memaksa—gaun untuk pemeberkatannya setidaknya memiliki panjang tujuh sampai sepuluh meter untuk bagian belakangnya. Menurut Siwon, Kyuhyun terlihat mengagumkan jika memakai gaun seperti itu. Dan Kyuhyun tanpa sadar melontarkan makian karena ide gila Siwon tersebut hingga membuat desainer itu tersentak. Dan pada akhirnya, Siwon menerima pilihan Kyuhyun. Ekor gaun pilihannya hanya memiliki panjang lima meter tanpa banyak payet-payet hingga membuat gaunnya berat. Itu pun setelah dia mengatakan dengan ketus kalimat yang kira-kira berbunyi : lebih baik Siwon menikah saja dengan yeoja lain kalau tidak menerima gaun pilihannya. Lagi-lagi dia membuat desainer itu melotot tak percaya.

Siwon berkeras bahwa mereka akan memisahkan acara pemberkataan dan pesta perayaan. Pemberkataan hanya akan di hadiri oleh kerabat dan teman-teman terdekat, paling tidak namja itu bilang 100-150 undangan. Lalu untuk pesta perayaan, akan dilakukan di hari yang sama dengan pemberkataan, dimulai sejak pukul 7 malam sampai batas waktu yang belum mereka diskusikan. Acara itu terbuka untuk umum, dan calon suaminya itu dengan santainya akan mengundang sekitar 2000 hingga 3000 undangan. Memikirkannya saja sudah membuat Kyuhyun ingin pingsan.

"Kau pasti sudah gila," omel Kyuhyun saat Siwon tidak berusaha mengurangi daftar undangannya sama sekali.

Mereka duduk berdampingan di sofa ruang duduk. Berdiskusi cukup hebat tentang jumlah undangan untuk pesta perayaan pernikahan mereka. Televisi yang sedang menayangkan acara gosip tentang pernikahan merekapun tidak di gubris sama sekali. Meskipun tidak terlalu sering, beberapa acara gosip menayangkan berita tentang acara pernikahan mereka yang akan di langsungkan tiga bulan lagi.

Semuanya nyaris aman, kecuali undangan. Mereka sudah menentukan desainnya, hanya masalah jumlah undangan yang masih dipertanyakan. Memangnya mereka artis? Anak presiden atau anggota kerajaan? Kenapa harus mengundang orang sebanyak itu?

"Daftar tamuku hanya 150 orang. Dan kau akan mengundang 1.850 orang lagi?" Kyuhyun mendengus keras. "Kau yakin kenalanmu sebanyak itu? Jangan bercanda!"

"Aku serius. Paling tidak, aku akan mengundang seluruh manejer hotel, pengelola villa, pengelola resort, rekan bisnis, pemilik saham, teman kuliah, kenalan lainnya, teman dari temanku yang dikenalkan padaku. Lalu—"

Kyuhyun mengangkat tangan kanannya, menyuruh Siwon berhenti. "Maaf, aku lupa, aku akan menikah dengan siapa," ujar Kyuhyun, nyaris menggerutu. "Pemilik hotel yang nyaris berada di seluruh dunia, belum termasuk resort, juga villa. Benar. Aku akan menikah dengan bajingan kaya raya."

Siwon tersenyum. "Mungkin kau bisa mengganti kata bajingan menjadi namja tampan," ralatnya. "Namja tampan kaya raya. Kedengarannya sangat bagus."

Kyuhyun mengeluarkan suara seperti orang muntah, dan menyerah soal jumlah undangan. Selama apapun mereka berdebat, bahkan mungkin sampai besok, Siwon pasti tidak akan mengurangi jumlah tamunya. "Terserah," balas Kyuhyun akhirnya, dan menyambar ponsel Siwon.

Dengan santai, Kyuhyun merebahkan tubuhnya, dan meluruskan kakinya diatas paha Siwon. Mengabaikan tatapan syok Siwon, dia pun mulai memeriksa media sosial milik Siwon hingga chat namja itu. Dia bukannya tidak percaya pada Siwon, hanya penasaran apa saja yang di lakukan Siwon dengan ponsel barunya itu. Meskipun sudah tiga bulan memilikinya, Kyuhyun tetap menganggap ponsel Siwon tersebut masih dalam suasana baru.

Siwon banyak tergabung dalam grup chat, yang tampaknya dari teman-teman dekatnya semasa kuliah maupun SHS. Bahkan namja itu tidak repot-repot menghapus chat lama. Beberapa pembicaraan di grup menyinggung tentang pernikahan Siwon dengannya. Di grup high school, sebagian mengatakan senang akhirnya mereka menikah karena selama ini tampak seperti orang yang menjalani hubungan tanpa status.

"Hubungan tanpa status apanya," komentar Kyuhyun. "Kita bersahabat. Bukankah begitu?"

Siwon mengalihkan pandanganya dari Ipad, menatap Kyuhyun tidak setuju. "Aku tidak merasa bersahabat denganmu," balasnya santai. "Aku terus menempel padamu karena aku menyukaimu."

Kyuhyun memutar bola matanya. "Ya Tuhan." Hanya itu yang di ucapkannya.

Siwon terkekeh pelan dan kembali berkutat pada laporan yang dikirimkan oleh manajernya.

Kyuhyun melanjutkan jarahannya memeriksa mention di twitter Siwon. Kyuhyun akhirnya tahu Siwon menon-aktifkan notifikasi pada akun twitternya sehingga tidak ada pemberitahuan apapun yang masuk. Tetapi kenyataannya, masih banyak yang mengirim mention pada calon suaminya itu—agak aneh menyebut Siwon sebagai calon suami, tapi entah kenapa Kyuhyun menyukainya. Bahkan sebuah mention baru masuk beberapa detik yang lalu.

StellaKim

Selamat malam, Siwon! Kau semakin tampan saja

Kyuhyun merubah posisinya menjadi duduk, menangkup pipi Siwon dengan tangan kanannya hingga membuat namja itu menoleh padanya. Rambut Siwon acak-acakkan—sangat—bahkan namja itu tidak bersisir sama sekali setelah mandi. Ada cikal bakal kumis karena namja itu tidak bercukur sejak kemarin, kaos hitam yang di kenakannya lusuh dan warnanya nyaris memudar karena terlalu sering di kenakan.

Jadi dimana fakta kalimat 'kau semakin tampan saja' itu? Batin Kyuhyun tak percaya.

Sambil mendengus, dia mendorong wajah Siwon dan kembali merebahkan tubuhnya. "Semakin tampan apanya," omel Kyuhyun dengan suara keras.

Siwon menatap Kyuhyun tidak mengerti. Dia meletakkan Ipadnya di meja—urusannya dengan laporan sudah selesai—lalu menggoyang kaki Kyuhyun meminta penjelasan. "Kau bicara apa?"

Kyuhyun hanya menggumam tidak jelas, dan kembali melanjutkan bacaannya.

Dalam sekejap mata, ponsel itu sudah berpindah ke tangan Siwon membuat Kyuhyun mengerang keras. Siwon mengangguk ketika melihat apa yang di tekuni Kyuhyun, setelah beberapa saat akhirnya dia mengerti maksud dari komentar Kyuhyun beberapa saat lalu.

"Kembalikan," ujar Kyuhyun dengan nada memerintah.

"Nona, ini ponselku. Kenapa aku harus mengembalikannya?" tanya Siwon dengan wajah polos.

Kyuhyun mencibir dan segera mengalihkan pandangannya pada televisi.

Siwon mengulum senyum. Dia membuka aplikasi camera pada ponselnya. Tanpa kentara, dia menggeser duduknya hingga berdempetan dengan Kyuhyun. Mengatur posisi wajahnya hingga begitu nanti Kyuhyun menoleh, yeoja itu akan langsung mencium pipinya. Setelah di rasa pas, Siwon mengangkat ponselnya, memastikan wajahnya dan Kyuhyun masuk dalam jangkauan kamera. "Kyu," panggilnya, dan Kyuhyun pun menoleh. Mencium pipinya dan dia segera mengabadikan momen itu dalam kameranya.

Kyuhyun memukul lengan Siwon karena kesal. Bisa-bisanya namja itu mengerjainya. Siwon hanya terkekeh dan tampak sibuk dengan ponselnya, membuat Kyuhyun semakin gencar memukulinya.

"Aku belum mendapat ciuman sepanjang hari ini," bela Siwon.

Kyuhyun mencubit lengan Siwon dengan gemas. "Omong kosong!" bentaknya. "Aku bahkan terpaksa menciummu supaya kau mengambil ponselku yang kau sembunyikan di atas lemari tadi siang!"

Siwon tersenyum polos, sebelum Kyuhyun kembali mengomel dia menunjuk ponsel Kyuhyun yang berkedip. "Ponselmu."

Kyuhyun memelototi Siwon sebelum akhirnya mengambil ponselnya. Dia melirik Siwon curiga karena namja itu baru saja mengirimkan mention pada akun twitternya. Sambil menduga-duga, Kyuhyun menekan pemberitahuan itu dan merasakan kekesalannya langsung meningkat tajam setelah melihat apa yang di lakukan Siwon.

Namja itu ternyata mengambil foto ketika dia dengan tidak sengaja mencium pipi Siwon, dan memasukkannya ke twitter, sebagai balasan dari tweet StellaKim sebelumnya. Siwon menulis,

SiwonChoi

Hei StellaKim tidak hanya semakin tampan, aku juga semakin bahagia karena KyuhyunCho

A few minutes ago

"Apa dosaku sampai harus memiliki calon suamimu sepertimu, hah?!"

Siwon mengerlingkan matanya dengan nakal. "Dan perbuatan baik apa yang sudah aku lakukan sampai memiliki calon istri sepertimu, Kyuhyun sayang?"

oOoOoOoOo

Kyuhyun dengan terpaksa mengumbar senyumnya pada orang-orang yang tidak di kenalnya sama sekali. Siwon—entah kepalanya terbentur dimana—mendadak mengajaknya menghadiri jamuan makan malam yang di adakan oleh rekan bisnisnya. Namja itu bahkan mengatakannya di hadapan appa juga ummanya sehingga dia tidak bisa mengutarakan berbagai alasan untuk menolak. Padahal biasanya Siwon tidak berminat sama sekali dengan acara seperti ini dan menyuruh manajernya yang menghadirinya.

"Mr. Jang, ini Kyuhyun. Tunanganku."

Kyuhyun menjabat namja paruh baya berambut sewarna jagung itu sambil tersenyum. "Cho Kyuhyun imnida."

Namja itu tersenyum hangat. "Aku harap aku menerima undangan pernikahan kalian," ujarnya.

"Tentu saja," ujar Siwon sambil tersenyum tipis. "Aku akan segera mengirimkannya begitu undangan itu selesai di cetak."

Siwon dan namja itu berbasa-basi selama beberapa menit sebelum akhirnya Mr. Jang permisi pergi karena di panggil oleh kenalannya.

"Aku cukup dekat dengannya," ujar Siwon.

Kyuhyun hanya mengangguk. Tidak tahu harus berkomentar apa.

Mereka kembali mengelilingi ruangan itu dan Siwon tidak melewatkan satu orangpun untuk mengenalkannya. Hanya segelintir orang dari sekian banyak yang dia sukai. Entah Siwon menyadarinya atau tidak, tapi Kyuhyun merasa kebanyakan dari orang-orang itu memakai topeng. Bahkan beberapa diantaranya malah tidak repot-repot menyembunyikan aksi menjilatnya. Yeah, mungkin begitulah dunia bisnis atau dunia kelas atas.

"Mr. Choi, senang bertemu denganmu," sapa seorang namja paruh baya berperawakan gendut. Perut buncitnya benar-benar terlihat jelas, dan kepalanya nyaris botak. Meskipun namja itu tersenyum, senyumnya tidak menyenangkan sama sekali. Terlihat sedikit culas. "Aku tidak tahu kau akan hadir."

Siwon tersenyum, menjabat tangan namja itu. "Senang bertemu denganmu, Mr. Kwon."

Mr. Kwon melirik Kyuhyun dengan sinis. "Wah, kau membawa calon istrimu?" namja itu kembali tersenyum. "Belakangan ini aku sering melihat kalian berdua di televisi."

Memangnya kenapa kalau kami sering muncul di televisi? Membuatmu rugi, Pak Tua?, batin Kyuhyun gemas. Demi kesopanan, Kyuhyun hanya tersenyum hambar.

"Ne, dia Cho Kyuhyun," ujar Siwon sambil meletakkan tangannya di pinggang Kyuhyun. Mengusapnya perlahan. Dia tahu Kyuhyun tersinggung dengan ucapan Mr. Kwon.

Kyuhyun menjabat tangan namja itu malas-malasan, dan tersenyum tipis. Bahkan nyaris tidak seperti tersenyum. "Senang bertemu denganmu."

"Nah, perkenalkan. Ini putri tunggalku. Kwon Yuri." Connelly menatap putrinya penuh sayang. "Aku yakin kau sudah kenal dengannya," ujarnya pada Siwon.

Siwon terlihat kaget, namun dia tetap tersenyum. "Yuri. Kejutan."

Yuri tersenyum lebar, membuat Kyuhyun sedikit bergidik karena gigi putih yeoja itu. Tidak masalah memutihkan gigi, tapi gigi yeoja itu nyaris seputih kertas, dengan lipstik merah darah di bibirnya membuat wajahnya tampak menyeramkan. Astaga! Haruskah giginya seputih itu? Batin Kyuhyun bertanya-tanya.

"Akhirnya aku bertemu denganmu," ujar Yuri dingin.

Kyuhyun tersadar dari lamunannya dan mendapati dia ditinggalkan bersama Yuri. Dengan panik Kyuhyun mengedarkan pandangannya. Dia melihat Siwon tengah berbincang-bincang dengan beberapa namja di seberang ruangan. Dia bahkan tidak tahu kapan namja itu pergi dan sekarang dia malah terjebak dengan yeoja si gigi putih. "Maaf?"

Yuri mengibaskan rambut hitamnya dengan elegan, memperlihatkan anting-antingnya—yang menurut Kyuhyun pasti sangat berat. "Yeah. Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Secara langsung."

"Waeyo?" tanya Kyuhyun tanpa sadar. Dia tidak melihat fakta kenapa dia harus bertemu secara langsung dengan yeoja itu.

Yuri menatap Kyuhyun dari atas ke bawah. "Meskipun ayahmu pemilik stasiun televisi, kau tidak terlihat berkelas sama sekali. Kau seorang guru, bukan? Ya Tuhan! Apa tidak ada profesi lain yang bisa kau lakukan?"

Jika tatapannya bisa membunuh orang, Yuri pasti sudah terkapar di lantai dengan keadaan tak bernyawa. Mereka baru pertama kali bertemu, dan yeoja itu sudah mengibarkan bendera perang. "Sejauh yang kuingat, apapun profesiku, itu bukan urusanmu sama sekali. Aku kan tidak makan dari uangmu," ujar Kyuhyun sambil tersenyum manis. Dia bahkan memberikan pujian pada dirinya sendiri karena berhasil tidak mengumpat.

Yuri menyeringai. Tidak terlihat tersinggung sama sekali dengan ucapan Kyuhyun, atau mungkin hanya pura-pura tidak mendengarkannya. "Kau bahkan lebih pendek dari yang terlihat. Tubuhmu tidak ideal, dadamu seperti anak Middle School. Hah! Apa yang dilihat Siwon darimu?"

Ucapan itu sukses membuat senyum Kyuhyun lenyap. Dia mencengkram dompet malamnya kuat-kuat, berusaha menahan keinginannya untuk memaki yeoja di hadapannya. Well, Yuri boleh

terlihat berkelas, glamor dan sebagainya, tapi mulut yeoja itu lebih menjijikkan dari gelandangan.

"Nona-nona." Siwon muncul sambil tersenyum dan langsung berdiri disamping Kyuhyun. Dia mendapati wajah Kyuhyun sangat keruh, bahkan Siwon yakin yeoja itu dapat meledak dalam beberapa detik ke depan.

Kyuhyun langsung mendengus keras begitu wajah Yuri langsung berubah 180 derajat. Yeoja itu menunjukkan senyum terbaiknya pada Siwon. Benar-benar manusia rendahan, batin Kyuhyun.

"Kyuhyun benar-benar orang yang menyenangkan," ujar Yuri sambil terkekeh kecil. "Aku merasa langsung akrab dengannya."

Dengan terang-terangan, Kyuhyun menatap horor pada Yuri, seolah-olah yeoja itu baru saja berbicara menggunakan bahasa hewan.

Siwon menyadari tatapan yang di tunjukkan Kyuhyun dan segera mengambil alih. "Well, Yuri, aku ingin mengenalkan Kyuhyun pada yang lain." Sambil merangkul pinggang Kyuhyun, dia berkata, "Sampai bertemu lagi."

oOoOoOoOo

"Bagaimana mungkin kau bisa punya kenalan seperti dia, hah?!" sembur Kyuhyun begitu mereka memasuki apartemen.

Kyuhyun sudah menunggu selama dua jam untuk melontarkan seluruh pikirannya. Dia terpaksa bersabar menahan keinginannya karena tidak mungkin dia mengomel bahkan mungkin sampai memaki di jamuan makan malam itu, bukan hanya dia yang akan malu, Siwon juga pasti kena getahnya.

"Dia teman semasa kuliah," ujar Siwon.

Kyuhyun menghempaskan tubuhnya di sudut kasur dan membuka high heelsnya lalu melemparnya sembarangan. Sambil menghentakkan kaki, dia berjalan menuju meja rias yang bisa memantulkan bayangannya sampai pinggang. "Dia bilang aku pendek, tubuhku tidak ideal dan dadaku seperti milik anak middle school. Jadi apa yang kau lihat dariku?" Kyuhyun mendengus. "Semuanya tidak selalu tentang fisik, kan? Lagipula aku yakin dadanya hasil operasi! Apa bagusnya punya dada sebesar itu?!"

Siwon mengabaikan omelan Kyuhyun, dan berkonsentrasi membuka dasinya. Berusaha untuk tidak memikirkan yang aneh-aneh mengingat Kyuhyun berkoar-koar tentang dada Yuri di dekatnya. Demi Tuhan, dia namja normal dan kenapa Kyuhyun tidak memikirkannya sama sekali. Bagaimana kalau sebuah gambaran muncul di benaknya? "Bukannya aku tidak mau mendengarkan ocehanmu," potong Siwon saat Kyuhyun masih berkoar-koar tentang hal yang sama. "Tapi, bisakah kau tidak menyinggung masalah dada Yuri atau dadamu sendiri?"

Kyuhyun melotot dan langsung menyilangkan tangannya di depan dada.

"Nah. Kau mengerti, kan?" Siwon tersenyum lega. "Aku ini normal."

"Kau sudah melewati batas normal, sehingga mencapai zona mesum!" Kyuhyun mencibir. Dia menggeser tubuh Siwon yang berdiri di dekat lemari, mengambil pakaian gantinya dan segera berlalu menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian, Kyuhyun keluar dengan pakaian santai dan segera melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Siwon juga sudah berganti pakaian dan ikut menyusul Kyuhyun. Dengan santai, dia menarik yeoja itu mendekat hingga kepala Kyuhyun berbaring di atas dadanya dan kedua lengannya mengurung Kyuhyun dengan posesif.

"Tidak usah sok romantis," cibir Kyuhyun. "Biasanya juga kau memunggungiku."

Siwon tertawa hingga tubuhnya bergetar. "Hei, jadilah yeoja normal selama beberapa saat. Merusak suasana saja."

Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. "Well, kau pernah tidur dengan Yuri?"

"Tidak," jawab Siwon. "Kenapa?"

"Sikapnya seperti seolah-olah kau meninggalkan ranjangnya lalu naik ke ranjangku."

Siwon kembali tertawa. "Sejauh yang aku ingat, aku tidak pernah naik ke ranjangnya. Jadi tidak bagaimana mungkin aku meninggalkan ranjangnya itu? Dan satu lagi. Bukan aku yang naik ke ranjangmu. Tapi kau yang naik ke ranjangku."

Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dari Siwon dan memukul kepala namja itu dengan keras. "Menghinaku tidak akan membuat hidupmu tenang, sobat."

"Tidak usah pedulikan dia."

"Tidak usah pedulikan bagaimana?" protes Kyuhyun. "Dia menghinaku fisikku terang-terangan. Bahkan dia juga menghina pekerjaanku. Memangnya apa yang salah dengan keduanya? Aku seorang guru dan menurutku, fisikku baik-baik saja." Kyuhyun mendesah, dan menyesali dirinya karena tidak sempat mencakar wajah Yuri ketika ada kesempatan. "Seharusnya aku langsung memakinya begitu racun pertama keluar dari mulutnya itu!"

"Sayang, kau tidak perlu semenyeramkan itu," ujar Siwon. Dia kembali menarik Kyuhyun ke dalam pelukannya.

"Asal kau tahu, gigi yeoja itu lebih menyeramkan." Dan Kyuhyun pun bergidik ketika teringat senyuman Yuri.

Siwon mengusap pundak Kyuhyun. "Seperti yang kau katakan. Semuanya tidak selalu tentang fisik."

"Menurutmu begitu?"

Siwon mengangguk. "Aku bohong kalau bilang aku tidak tertarik pada fisikmu. Aku suka wajahmu. Menurutku tubuhmu memang baik-baik saja, dan dadamu tidak seperti milik siswi middle school." Siwon tersenyum ketika Kyuhyun menatapnya tajam. "Tapi, di atas itu semua, aku lebih menyukai dirimu. Bukan fisikmu, tapi dirimu. Kau mengerti?"

Kyuhyun bisa saja berkata dengan pongah : Tentu saja aku mengerti. Menurutmu aku bodoh? Tapi, karena suasana tidak memungkinkan dan Siwon pasti akan membunuhnya jika berkata begitu, akhirnya Kyuhyun hanya mengangguk. Lagipula, kata-kata Siwon cukup membuatnya melayang hingga beberapa meter dari permukaan tanah. "Siwon?"

"Hm?"

Katakan. Tidak. Katakan. Tidak. Katakan? Kyuhyun merasa dirinya sangat konyol karena untuk mengatakan saranghae pada Siwon saja, dia sangat malu. Padahal dulu dia mengatakan kalimat itu sesantai mengucapkan makian.

"Ada apa?" tanya Siwon dengan suara parau. Tampaknya namja itu mulai mengantuk.

"Aku mencintaimu," ujar Kyuhyun. "Aku ingin mengatakan itu saja."

Siwon terkekeh. "Aku bahkan lebih mencintaimu," balasnya sambil mencium puncak kepala Kyuhyun.

***TBC***

Thanks for R&R ^_^