CHAPTER 25

Kyuhyun tak tahu harus berkata apa lagi. Lidahnya kelu, jantungnynya berdegup kencang. Kini di depannya tengah berdiri berhadapan dua orang yang begitu dekat dengannya. Choi Siwon, kakak yang sangat disayanginya dan Cho Soo Man, kakek yang dihormatinya.

Mereka saling menatap tajam. Choi Siwon tampaknya sudah kehilangan sopan santunnya. Ia tidak menyapa atau membungkukkan badannya dengan sopan. Ia hanya menatap kakek adiknya itu dengan bibir terkatup rapat.

"Aku sangat ingin tahu, Choi Siwon-ssi, bagaimana caramu membawa cucuku pergi tepat dari hadapanku sekarang?" kata Cho Soo Man dingin.

Choi Siwon masih terdiam. Tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Dadanya bergemuruh mendengar nada menantang dari mulut kakek Kyuhyun itu.

"Kyuhyun adalah bagian dari keluarga kami. Aku yakin ia tidak mau pergi dari rumah dan tinggal bersama Anda dengan sukarela, Tuan Cho. Meski ia menunjukkan perilaku yang biasa saja, tapi batinnya pasti tersiksa. Kalau Anda memang menganggapnya sebagai cucu kesayangan, Anda tentu tidak ingin membuat hidupnya menderita," ujar Choi Siwon.

"Menderita katamu. Kyuhyun tidak akan pernah merasa menderita jika ia tinggal bersamaku. Apa kau ingat keteledoran apa saja yang pernah dilakukan oleh keluargamu? Ia pernah sakit keras, kecelakaan, dan sekarang ia mempermalukan nama keluarganya sendiri karena perbuatannya yang melanggar aturan sekolah. Kau kira ia akan mengalami semua itu kalau ia tinggal bersamaku, Choi Siwon-ssi?" kecam Cho Soo Man.

"Ada banyak hal di luar jangkauan kami yang terjadi pada Kyuhyun, Tuan Cho. Tapi, itu bukan keteledoran. Setiap orang pernah sakit. Kyuhyun pun kadang bersikap bandel. Tapi, itu semua bukan karena keluarga kami yang kurang menjaganya. Orang tua kami juga mendidiknya dengan sangat baik. Tak ada perbedaan perlakuan antara saya dengan Kyuhyun. Kami mencintainya dan Kyuhyun merupakan bagian tak terpisahkan dari keluarga kami," jawab Choi Siwon.

"Kau kira aku juga bukan bagian dari keluarganya? Kyuhyun adalah darah dagingku. Ia keturunan dan penerus keluargaku. Apa kau pikir aku tak punya hak untuk membawanya tinggal bersamaku?" kata Cho Soo Man meradang.

"Saya tidak pernah mengatakan Anda tidak berhak terhadap Kyuhyun. Saya tahu Anda juga keluarganya. Tapi, bukan begini caranya, Tuan Cho. Bukan dengan cara mengambilnya secara paksa dari rumah kami. Anda sudah membuat perjanjian dengan eomma kan sebelumnya, bahwa Kyuhyun akan tinggal bersama Anda setelah ia lulus sekolah, setelah ia berusia 18 tahun" kata Choi Siwon mengingatkan.

"Perjanjian itu sudah tidak berlaku lagi. Aku sudah cukup menahan diri dengan semua yang terjadi pada Kyuhyun selama ia tinggal bersama keluargamu. Batas kesabaranku sudah habis. Kyuhyun akan jauh lebih baik dan bahagia tinggal bersamaku," seru Cho Soo Man.

"Anda tidak bisa berbuat seenaknya, Tuan Cho!" seru Choi Siwon lantang. Ia sudah kehilangan rasa sabarnya.

"Jaga bicaramu, Choi Siwon!" sembur Cho Soo Man tak kalah lantangnya.

Keduanya tak ada yang mau mengalah. Masing-masing dari mereka tengah memperebutkan apa yang menurutnya sangat berharga untuk dimiliki, merasa paling berhak untuk memiliki. Dan Kyuhyun tak menyukai hal itu. Ia tak mau orang-orang yang disayanginya bertengkar karena dirinya.

"Bisakah kita bicara dengan kepala dingin," ucap Kyuhyun mencoba mendinginkan suasana yang mulai memanas.

Kyuhyun merasa tak enak hati karena pertengkaran panas yang terjadi di depannya itu. Belum lagi mereka bertengkar di sekolahnya. Masih ada beberapa anak yang melihat pertengkaran itu dan itu membuat Kyuhyun semakin kesal. Ia sudah menjadi topik utama di sekolah karena kejadian beberapa hari yang lalu, ditambah lagi dengan pertengkaran antara kakak dan kakeknya malam ini, pasti menambah cerita baru yang tidak enak untuk didengarnya.

"Hyung, sebaiknya kau pulang. Aku akan ikut Harabeoji pulang ke rumahnya," kata Kyuhyun.

"Tapi, Kyu," sela Siwon.

"Aku akan mengunjungimu, Hyung. Aku janji. Aku juga tidak ingin suasana panas seperti ini berlarut-larut. Aku yakin harabeoji akan mengizinkanku mengunjungi kalian dalam waktu dekat," ucap Kyuhyun memotong protes Siwon.

Kyuhyun menatap kakaknya itu dengan tatapan memohon yang Siwon tak pernah sanggup untuk menolaknya. Kakeknya itu masih menunjukkan raut muka tidak senang, namun beliau tidak mengatakan sepatah kata pun untuk menyangkal perkataan Kyuhyun.

"Aku akan mengunjungi eomma. Kita juga bisa bicara tentang banyak hal. Tapi, aku tidak bisa pulang ke rumah sekarang. Kau tahu keadaannya kan, Hyung? Aku hanya tidak mau semakin banyak kebencian yang akan memecah keluarga kita," bujuk Kyuhyun saat melihat Siwon yang nampaknya tidak menyetujui keputusannya.

"Baiklah kalau itu maumu," kata Siwon mengalah, "Tapi kau harus berjanji akan mengujungi rumah secepatnya. Bagaimana dengan Anda, Tuan Cho?"

"Apa aku punya pilihan lain? Asalkan Kyuhyun tinggal bersamaku, aku tidak keberatan kalau sesekali ia mengunjungi rumah keluarga Choi, hanya sesekali," sahut Cho Soo Man.

Choi Siwon mengangguk pasrah. Kalau memang itu jalan terbaik untuk saat ini, maka biarkanlah terjadi. Selama keluarganya tidak kehilangan Kyuhyun sepenuhnya, maka mau tak mau ia harus berbesar hati menerima keputusan Kyuhyun.

"Kami pulang dulu, Hyung. Katakan pada eomma bahwa aku baik-baik saja. Aku akan mengunjunginya dalam waktu dekat," kata Kyuhyun sendu.

Choi Siwon mengangguk meski dengan berat hati. Ia hanya bisa menatap punggung Kyuhyun yang menjauh mengikuti langkah kakeknya meninggalkan lobi sekolah. Ia tak pernah merasakan seberat ini ditinggalkan oleh adik kesayangannya itu.

Kyuhyun menutup pintu kamarnya pelan. Ia sandarkan tubuh penatnya di balik pintu kamar yang kini tertutup rapat. Hatinya resah, pikirannya pun gundah. Pertemuannya dengan Siwon dan pertengkaran antara kakaknya itu dengan kakeknya membuat batinnya kian tersiksa.

Ia tak ingin kepegiannya menjadi beban bagi keluarganya. Meskipun ia bisa memenuhi keinginan kakeknya, namun ia juga harus menepikan perasaan keluarganya yang lain, terutama ibunya.

Kalau ia boleh memilih, tentu ia akan memilih yang terbaik untuk dirinya dan keluarganya. Namun, ia tak bisa memilih. Haknya untuk memilih jalan hidupnya sudah tercabut sejak ia lahir.

Kyuhyun sering membayangkan betapa enaknya menjadi seorang Kim Ryeowook. Meskipun hidupnya serba kekurangan dan sering menjadi bahan ejekan di sekolah, tapi Kim Ryewook masih merdeka untuk menjadi dirinya sendiri. Kim Ryeowook juga tiap hari bisa berkumpul bersama keluarganya. Merasakan hangatnya suasana rumah yang nyaman dan penuh kebahagiaan.

Hidup seperti Shim Changmin juga enak. Meskipun ayah Changmin mendidiknya dengan sangat disiplin, namun ia tak kekurangan kasih sayang. Shim Changmin masih diberi kebebasan untuk menikmati masa mudanya selama tidak melanggar hukum dan norma-norma dalam masyarakat.

Kyuhyun merasa hidupnya kini kosong. Hidupnya bagai selongsong kosong yang tak memiliki arti. Ia punya semua kemewahan yang diimpikan setiap orang, tapi kalau semua itu harus dibayar dengan kebebasannya sebagai manusia, ia lebih memilih meninggalkan kemewahan yang disodorkan kepadanya itu.

Kyuhyun tertawa sinis. Menertawakan hidup dan nasibnya. Ia bahkan tak merasa bahagia. Bukan keadaan seperti ini yang diinginkannya, bukan situasi seperti ini yang dikehendakinya.

Ia bisa saja mulai membantah dan berontak. Tapi, itu artinya ia harus mengorbankan orang lain. Mengorbankan orang-orang yang disayanginya untuk dimaki-maki dan disalahkan oleh kakeknya. Dan Kyuhyun sungguh tak mau semua itu terjadi.

Kyuhyun mengempaskan tubuh penatnya ke atas tempat tidur. Ia mulai merasa sunyi. Seumur hidup kesunyian dan kesepianlah yang paling ia takuti. Ia tak mau merasa sendiri, Kyuhyun tak pernah mau merasa ditinggalkan.

Air mata menetes pelan dari sudut matanya. Kyuhyun terisak pelan dalam kesendiriannya. Apa yang bisa dilakukannya untuk mengubah hidupnya? Apa yang bisa diperbuatnya untuk kembali merengkuh orang-orang yang disanyanginya, yang begitu berharga dalam hidupnya?

Kyuhyun berjengit kaget saat sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Ia mendongak dan melihat Kim Ryeowook tersenyum padanya. Pemuda bertubuh kurus dan berkaca mata tebal itu lalu duduk di samping Kyuhyun.

"Kau baik-baik saja, kan?" tanya Ryeowook pelan.

Kyuhyun hanya menatap Ryeowook, lalu melemparkan botol air mineral kosong yang digenggamnya sejak tadi ke dalam tong sampah di dekatnya dengan keras.

"Aku selalu baik," jawab Kyuhyun tak acuh.

"Kau yakin? Karena menurutku kau jauh dari kata baik akhir-akhir ini," kata Ryeowook.

"Huh, menurutmu begitu?"

"Kau sekarang lebih sering sendiri dan lebih pendiam daripada biasanya. Aku sering melihatmu melamun, bahkan saat pelajaran" ujar Ryeowook.

"Kau mempehatikanku kalau begitu," kata Kyuhyun.

"Tidak secara khusus. Tapi, perubahan yang sangat mencolok seperti itu pasti akan membuat siapa pun yang mengenalmu akan menyadari kalau kau banyak berubah," jelas Ryeowook.

Kyuhyun tak menjawab ucapan Ryeowook itu. Ia akui ia memang lebih suka menyendiri sekarang. Sesuatu yang dulu amat dibencinya dan selalu dihindarinya, namun kini tampaknya semakin akrab dengannya. Kyuhyun jarang menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Ia juga jarang berkumpul dengan Changmin dan Minho, bahkan ia sering mengabaikan panggilan telepon dari mereka.

"Apa ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari yang lalu sepulang sekolah?" tanya Ryeowook hati-hati.

Kyuhyun menatap tajam Ryeowook. Kejadian beberapa hari yang lalu apa lagi yang dimaksud Ryeowook kalau bukan pertengkaran antara hyung dan harabeoji-nya di lobi sekolah.

"Kau melihatnya?" tanya Kyuhyun.

"Aku tak sengaja. Aku hanya mau pulang waktu itu. Tapi, aku tidak bermaksud ingin tahu atau apa. Ada beberapa anak lain yang kebetulan juga melihat kejadian itu, bukan hanya aku," ucap Ryeowook yang merasa tak enak hati apalagi saat Kyuhyun menatapnya tak senang.

Kyuhyun segan menceritakannya pada Kim Ryeowook. Ia tak mau membagi kegundahan hatinya dengan siapa pun. Toh, mereka juga tak akan bisa melakukan apa-apa untuk membantunya.

"Orang-orang pikir, begitu juga aku, hidupmu sangat beruntung dan sangat bahagia. Kau punya segalanya. Kau tak perlu mengkhawatirkan hidupmu. Apa yang kaumakan esok hari, apa yang akan kaupakai hari ini, kau tinggal menunjuk apa yang kau mau dan dalam sekejap semua bisa menjadi milikmu. Tapi, saat aku melihat dengan lebih dekat, aku tahu kau pun punya masalah yang membuat hidupmu berat untuk melangkah. Hidupmu tak seindah yang terlihat. Maaf, Kyu, bukan aku bermaksud iri atau menyindirmu. Aku hanya mengatakan pendapatku. Tapi, seberat apa pun masalah keluargamu, aku yakin pasti ada jalan keluarnya. Mungkin tidak sekarang, tapi aku yakin solusi itu pasti ada," hibur Ryeowook.

"Ryeowook-ah, katakan padaku, apa menurutku aku kurang bersyukur akan hidupku? Apa aku terlalu banyak menuntut dan mengeluhkan hidupku?" taya Kyuhyun lirih.

"Mungkin ya, mungkin juga tidak. Kalau kaubandingkan hidupmu dengan hidupku seharusnya kau sangat bersyukur. Tapi, kalau melihat masalahmu, meskipun aku tidak tahu seperti apa yang sebenarnya, aku maklum kalau kau merasa hidupmu terlalu berat. Kita masih remaja, kita perlu menikmati masa muda kita. Aku pun juga akan merasa sepertimu kalau menanggung beban seberat itu di usiaku yang masih sangat muda seperti sekarang ini," jawab Ryeowook.

"Aku baru tahu kalau bisa sebijak itu, Ryeowook," kata Kyuhyun.

"Bijaksana? Mungkin kurang cocok kalau kaubilang bijaksana. Tapi, aku akan berusaha memahamimu. Aku tak bisa menolongmu, tapi aku bisa menjadi tempatmu bercerita dan berkeluh kesah. Hanya supaya bebanmu tidak terasa semakin berat, supaya kau tak merasa sendiri. Kau jauh dari keluargamu, tapi kau masih puya teman-teman yang akan selalu mendukungmu," ucap Kim Ryeowook sambil menepuk pundak Kyuhyun pelan.

Kyuhyun tersenyum samar. Meskipun masalahnya belum selesai, namun ia masih punya teman-teman yang akan mendukungnya. Jangan lupakan juga orang tua dan hyung-nya yang akan selalu berada di pihaknya meski mereka tak tinggal satu atap lagi.

'Kau harus optimis, Kyu. Selama ada kemauan di situ pasti ada jalan,' kata batinnya menyemangati.

Kyuhyun merasa hatinya terasa lebih ringan sekarang. Ia hanya perlu memikirkan orang-orang terdekatnya. Yang selalu peduli padanya dan mendukungnya. Ia hanya perlu memikirkan itu sekarang. Seberat apa pun hidupnya selama ia masih memiliki teman dan keluarga, semuanya akan terasa baik-baik saja.

"Bagus, Ryeowook, kau bisa membuatnya bicara bahkan tersenyum," kata Shim Changmin dari balik dinding di mana ia dan Choi Minho mengintip apa yang dilakukan Ryeowook barusan.

"Aku sudah tak yakin kalau kau bisa membuatnya bicara, Ryeo. Kyuhyun tak menghiraukan kami hampir seminggu ini," kata Choi Minho sambil tersenyum lebar.

"Ia hanya mau sendiri. Kalau kita terlalu memaksanya bicara, Kyuhyun akan semakin menghindar. Aku harap ia bisa kembali ceria setelah ini," ujar Kim Ryeowook pada Shim Changmin dan Choi Minho.

Sejak kemarin dua kawan karib Kyuhyun ini merengek-rengek padanya. Menyuruhnya bicara empat mata dengan Kyuhyun. Kim Ryeowook sangat tidak yakin ia akan berhasil bicara dengan Kyuhyun. Kalau dua teman baiknya saja diabaikan, apalagi dirinya yang sekarang tidak begitu akrab dengan Kyuhyun.

Untung saja semuanya berjalan lancar seperti harapannya. Kyuhyun masih mau mendengarkannya. Hanya tinggal menunggu waktu kapan anak itu mau membuka dirinya lagi.

Kim Ryeowook sedikit banyak tahu masalah apa yang dihadapi Kyuhyun saat ini. Selain karena ia tak sengaja mencuri dengar percakapan Kyuhyun dengan hyung dan kakeknya, Shim Changmin juga menceritakan banyak hal tentang Kyuhyun. Tentang keluarganya, tentang kehidupannya, dan juga tentang masa lalunya.

Kim Ryeowook merasa amat prihatin dengan keadaan Kyuhyun sekarang. Ryeowook tahu Kyuhyun sangat mencintai keluarganya. Dan sampai kapanpun seorang anak yang baik tidak akan pernah mau berpisah dengan keluarganya.

"Aku kasihan padannya," kata Shim Changmin membuyarkan lamunan Ryeowook.

"Kyuhyun tak pernah siap untuk tinggal bersama kakeknya. Bahkan saat umurnya 18 tahun nanti, ia berencana memohon pada kakeknya itu untuk diizinkan tetap tinggal dengan keluarga Choi. Dipaksa berpisah dengan keluarga yang dicintainya dengan cara seperti ini, membuatnya sangat terpukul," lanjut Shim Changmin.

"Kalau aku tak akan keberatan tinggal bersama kakekku selama semua kebutuhan hidup dan keinginanku terpenuhi," sela Choi Minho dengan komentar bodohnya.

"Siapa juga yang mau memungut babi sepertimu. Kau hanya akan menghabiskan dana untuk makan. Kau kan rakus bukan main," cela Shim Changmin sebal.

"Yak, kenapa juga kaubilang aku seperti babi. Itu haya seandainya, bukan betulan," balas Choi Minho sewot.

"Pikir dulu sebelum bicara. Bagaimana kalau Kyuhyun dengar? Dasar bodoh!" sembur Shim Changmin.

Choi Minho mencebik mendengar perkataan Changmin barusan. Memang benar, mereka harus bisa menjaga perasaan Kyuhyun sekarang. Membuat Kyuhyun merasa nyaman dalam kekalutan hidupnya adalah misi mereka bertiga. Bodoh sekali kalau mereka sampai mengacaukannya hanya karena sebuah perkataan konyol.

"Sebaiknya kita tidak terlalu mendesak Kyuhyun. Mungkin kehadiran kita bertiga malah semakin membuatnya terganggu. Kita cukup mengawasi dan memperhatikannya dari jauh. Atau kalau ia sudah mulai tenang kita bisa menemaninya dan duduk dengan tenang di dekatnya. Mungkin aku bisa lebih sering dekat dengan Kyuhyun mengingat ia mau sedikit bicara denganku. Kalau melihatnya sendirian, aku bisa menemaninya," usul Kim Ryeowook.

"Itu juga lebih baik. Yang penting kita tidak meninggalkan Kyuhyun semakin terpuruk. Kami mengandlkanmu Kim Ryeowook. Ceritakan pada kami bagaimana perkembangannya nanti," kata Shim Changmin.

Kim Ryeowook mengangguk pasti. Mereka berteman kan. Dan seorang teman yang baik tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya untuk alasan apa pun.

"Kenapa tak bilang kalau kaudatang," ucap Choi Siwon keras saat melihat Kyuhyun duduk terpekur di atas ranjang di kamarnya.

Tiga puluh menit yang lalu asisten rumah tangga meneleponnya dan mengatakan kalau tuan muda kecil mereka pulang. Siwon yang masih sibuk di kantor ayahnya, langsung melesat pulang. Setelah meninggalkan berbagai macam instruksi pada anak buahnya, ia pun memacu mobilnya untuk cepat sampai di rumah.

"Aku ingin bertemu eomma, tapi ternyata eomma tak ada," keluh Kyuhyun.

"Eomma diajak appa ke Taiwan tadi pagi. Appa sering mengajak eomma pergi sekarang biar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Eomma sering menangis dan mengurung diri di kamar, makanya appa sering mengajak eomma pergi meski sekadar menemani untuk urusan bisnis, " kata Siwon.

"Sayang sekali. Padahal aku sangat ingin sekali bertemu eomma," jawab Kyuhyun muram.

"Eomma pasti akan senang sekali. Tuan Cho tahu kalau kau ke sini?" tanya Siwon.

Kyuhyun menggeleng. Ia memang tidak akan bisa sampai ke rumah ini kalau kakeknya itu tahu.

"Harabeoji ada di Busan sampai lusa. Aku harus merengek-rengek pada Paman Han supaya mau mengantarkanku ke sini," kata Kyuhyun.

Siwon tertawa. Adiknya itu memang suka merengek kalau menginginkan sesuatu. Dan percayalah tak akan ada yang bisa menolak kalau Kyuhyun sudah mulai merengek.

"Kau masih suka merengek? Aku yakin telinganya akan gatal kalau mendengarmu merengek tanpa henti," seloroh Siwon.

"Aku mengancam akan mogok makan selama seminggu kalau tidak diantar ke rumah hari ini," sahut Kyuhyun sambil memamerkan smirk andalannya.

Siwon mengacak rambut adiknya itu gemas. Rumah ini terasa semarak dengan adanya Kyuhyun. Selama seminggu terakhir rumahnya terasa suram. Tak ada suara berisik dan manja. Tak ada gelak tawa yang biasanya memenuhi setiap ruangan di rumahnya.

"Kau sudah makan?" taya Siwon.

"Belum. Aku berniat makan di sini bersama eomma, tapi eomma ternyata tak ada di rumah. Aku sangat merindukan masakan eomma."

"Kenapa tak meneleponnya? Aku yakin eomma pasti akan memasakkan apa pun yang kauminta dan tak akan mau ikut appa ke Taiwan," kata Siwon.

"Setelah Hyung memberikan ponselku aku menelepon eomma. Tapi yang aku dengar hanya isak tangis. Eomma bahkan hanya mengatakan 'mianhe' berulang-ulang padaku. Kau tahu, Hyung, sekarang ponselku itu pun lenyap entah ke mana. Aku yakin harabeoji yang mengambilnya," keluh Kyuhyun memelas.

"Aku tak mengerti jalan pikiran harabeoji-mu itu. Kepalanya keras, sampai batu karang pun kalah kerasnya," gerutu Siwon.

"Aku juga jarang bicara dengan harabeoji selama di sana. Aku lebih suka diam di kamar sepulang sekolah. Tak ada teman, tanpa ponsel. Yang lebih menyiksa lagi tak ada game. Kau bisa merasakan penderitaanku kan, Hyung, hidup tanpa game?" kata Kyuhyun mulai mendrama.

Siwon memeluk adiknya itu. Ia tahu betapa gilanya Kyuhyun dengan game. Tiap hari barang itulah yang paling sering disentuh Kyuhyun. Adiknya itu bahkan seringkali bergadang hanya untuk menuntaskan level game-nya.

"Hyung, aku lapar," kata Kyuhyun yang membuat Siwon semakin mengacak-acak rambut adiknya itu dengan gemas.

"Arra, kau tunggu di bawah! Hyung mandi dulu," sahut Siwon.

Kyuhyun mengangguk dan tanpa menunggu waktu lama ia pun melesat meninggalkan kamar Siwon menuju ruang makan.

Kyuhyun pulang ke rumah harabeoji-nya malam itu dengan tubuh penat. Waktu sudah melewati tengah malam. Tubuhnya memang penat, tapi hatinya senang. Meskipun hanya sebentar dan hanya bisa bertemu dengan hyung-nya, namun cukup membuat perasaannya lebih baik. Ia tidak bisa bertemu eomma-nya, tapi bisa berkeluh kesah dan bermanja-manja dengan Siwon dirasanya sudah lebih dari cukup. Lain kali ia bisa menyelinap lagi dan memaksa Paman Han untuk mengantarkannya pulang ke rumah.

"Jam berapa kau baru pulang sekarang? Jam satu pagi! Kaukira sekolah mana yang buka sampai dini hari," cemooh seseorang yang sebisa mungkin Kyuhyun hindari dari ujung tangga menuju lantai dua.

Kyuhyun mengeluh pelan. Samchon-nya tengah menatapnya tajam dan berkacak pinggang. Kyuhyun sudah lelah dan ia tak mau meladeni siapa pun yang hanya akan membuat kepalanya semakin beruap.

"Masih ada hal yang harus kuselesaikan, Samchon. Jadi, aku baru bisa pulang sekarang," jawab Kyuhyun sesopan mungkin.

"Huh, urusan macam apa sampai selarut ini! Kaukira aku orang bodoh apa yang tidak tahu kelakuan remaja zaman sekarang. Kau dari klub, mabuk, tempat karaoke, atau dari hotel?" cecar Samchon-nya itu yang membuat Kyuhyun harus menahan sabar.

"Aku tidak pernah ke tempat-tempat seperti itu, Samchon. Aku hanya bersama teman-teman sekolahku dan tidak melakukan hal-hal yang terlarang," ujar Kyuhyun.

"Kaukira aku semudah itu percaya dengan omonganmu, huh! Remaja tanggung sepertimu hanya bisa menghambur-hamburkan uang dan berfoya-foya," cerocos samchon Kyuhyun.

"Maaf, Samchon, tapi kurasa hidupku dan hidup Samchon sangat jauh berbeda. Mungkin Samchon menghabiskan masa muda dengan hal-hal seperti itu, tapi tidak denganku. Aku tak pernah mabuk atau menghambur-hamburkan uang hanya untuk bersenang-senang. Aku juga tak pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum," jawab Kyuhyun.

Cho Young Min, samchon Kyuhyun, hanya tersenyum kecut mendengar jawaban keponakannya itu. Ia tahu mengapa ayahnya sendiri tidak memercayainya untuk mengendalikan perusahaan. Ayahnya itu bahkan mati-matian menjadikan Cho Kyuhyun sebagai penerusnya, bahkan mungkin sebagai pewaris tunggalnya juga.

Hell, no, itu tak akan mungkin terjadi. Selama ia masih hidup tak akan ia biarkan anak ingusan itu melangkahinya dan mendapatkan semua yang seharusnya menjadi miliknya.

"Aku naik dulu, Samchon. Aku lelah dan besok aku juga harus sekolah," kata Kyuhyun singkat lalu beranjak naik menuju kamarnya.

Cho Young Min masih terdiam di ujung tangga. Anak itu semakin mengancam posisinya. Tapi, mencari masalah dengan anak itu dan menyeeretnya keluar dari rumah secara terang-terangan akan membuatnya bersitegang dengan ayahnya sendiri.

Ia harus punya rencana yang bagus untuk menyingkirkan anak itu. Rencana yang harus disusunnya dengan hati-hati. Harus sangat teliti, terencana, dan sempurna sehingga anak itu akan lenyap tanpa bekas dan tanpa seorang pun yang tahu.

TBC

Ada yang nunggu FF ini? Aku hanya bisa minta maaf karena FF-ku banyak yang molor. Selama sebulan lebih dipenuhi soa-soal yang bikin kepalaku sulit memikirkan hal lain. Seadanya dulu ya, yang penting update wkkkk. Jangan lupa review ya. Gomawo and happy reading.