Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Inspiride by : OreImo
Summary : Semua masih sama. Adiknya masih menjengkelkan seperti biasa. Tapi semua makin rumit saat banyak gadis yang menunjukkan sinyal-sinyal ketertarikannya dan ditambah lagi sebuah bahaya besar mengancam kedamaian dunia shinobi. Bagaimanakah Bolt menghadapi semua ini?. Simak saja ceritanya. . .
Genre : Romance, Sci-fi, Adventure, Drama, & Family
Rate : T
Setting : Canon, Dunia Shinobi Modern, Konoha Metropolitan
Warning : Teen Naruto New Generation, Typo, OOC, Gaje, Menistakan banyak chara dll.
Jum'at, 22 Januari 2016
Happy reading . . . . .
.
My Cute Sister? Season II
By Si Hitam
Chapter 25. Mulai dari Awal Lagi.
"Haaaaahh….." seorang anak laki-laki berumur 9 tahunan menghembuskan nafas panjang setelah berhasil menahan nafas beberapa menit dengan wajah yang ditenggelamkan didalam air bak mandi, "Enaknya berendam sore" katanya lagi. Dia anak laki-laki yang berambut pirang dan memiliki dua pasang goresan tanda lahir serupa kumis kucing dikedua pipinya.
Brakkk,,,,
"Onii-chan, aku juga mau mandi" tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar mandi yang tadi dibanting, seorang anak perempuan imut berumur 6 tahunan. Dia sudah melepas semua pakaiannya, sama seperti si anak laki-laki yang berendam didalam bak mandi.
Anak perempuan ini tampak mirip dengan anak laki-laki tadi, jelas saja karena mereka berdua adalah kakak adik, bahkan mereka memiliki tanda lahir yang sama dikedua pipinya. Warna iris mata, warna kulit, dan bentuk wajahnya yang agak bulat juga sama. Yang membedakan keduanya, hanyalah warna rambut saja. Si kakak berwarna pirang, sementara si adik rambutnya berwarna indigo gelap.
"Tidak boleh!" sergah si kakak lalu membalik badan memunggusi si adik.
"Eh,, kenapa?" tanya si adik karena kakaknya tidak mau mandi bersamanya, padahal setiap hari mereka selalu mandi bersama.
"Mulai hari ini, kita mandi sendiri-sendiri..!"
"Tapi, kenapa?. Bisanya juga kita selalu mandi bersama" si adik jadi bingung.
"Makanya. Aku tidak mau kalau terus-terusan begitu" si kakak tetap keras kepala pada pendiriannya.
"Ha?"
"Kau tidak bisa keramas dengan benar, kau langsung nangis kalau busa shamponya kena mata, sabunannya juga tidak bersih. Kau benar-benar merepotkan!" ejek si kakak.
Si adik mulai nangis karena ejekan kakaknya.
"Bukan hanya saat mandi saja. Kau takut sama anjing, lamban, dan selalu saja berlindung di belakangku. Aku sudah tidak tahan dengan sikapmu." tambah si kakak lagi.
Si adik beneran nangis, walaupun hanya terisak kecil tanpa teriakan, tapi air mata sudah mulai mengalir dipipinya.
"Lagian, kalau aku terus-terusan bermain bersama adikku, itu sama sekali tidak keren."
"Hah? Apa-apaan itu?!" si adik tiba-tiba berhenti nangis, malah balas membentak kakaknya dengan tatapan marah.
Si kakak membalik badan menatap sang adik lagi dengan tatapan terkejut, ekspresi adiknya yang marah kali ini benar-benar pertama kali ia lihat.
"Sombong sekali kau.. Seperti sudah jadi kakak yang baik saja. Aku bisa keramas dengan benar, aku menyukai Akamaru, dan lariku sangat cepat,,,,!" kata si adik dengan nada tinggi.
"Hi-Himaaa..." si kakak yang sekarang terpojok tidak bisa membalas perkataan adiknya.
"Apa maksudnya 'tidak keren', hah?. . . Lagian mana ada perempuan di dunia ini yang menganggapmu laki-laki keren. Ditambah lagi, seharusnya kau bersyukur dan berterima kasih karena memiliki adik perempuan yang manis dan populer sepertiku. MENGERTI!"
"Ti-tidaak,,,,," jawab si kakak sambil menggelengkan kepala.
"HAAAAAHHH….?, JAWAB YANG BENAR…!" si adik yang ternyata bernama Himawari makin nyaring membentak kakaknya.
"Tidak mungkin,,,,. Hima yang kasar dan membentakku seperti ini, bukanlah adikku. TIDAK MUNGKIN ADIKKU SE-, , ,"
Ccrriiinnggggg. . . . . . Brukkk...
Suara alarm jam weker, membuat seorang pemuda terjatuh dari ranjangnya, membangunkan dia dari mimpi anehnya. Sama seperti ketika cerita ini dimulai.
.
BOLT POV
Sreekkkkk...
Ku geser horden yang menutup jendela kamarku, lalu ku buka jendelanya, dan menghirup udara sejuk dan segar khas pagi hari. Aku mengingat lagi mimpi anehku barusan, mimpi tentang adikku. Mimpi yang kurang lebih sama dengan yang ku alami satu tahun lalu.
Adik perempuanku, Uzumaki Himawari yang sekarang sudah berusia 15 tahun. Dia sangat hebat dan berbakat. Memiliki tubuh yang kuatnya seperti Papa, punya chakra besar dan stamina yang banyak. Dia juga mewarisi byakugan dari Mama, teknik mata (doujutsu) yang sangat terkenal didunia ninja, sangat mahir menggunakan taijutsu khas Klan Hyuga, sudah mampu menggunakan sennin mode - sage katak, bahkan dengan sempurna menggunakan teknik hiraishin. Ditambah lagi sekarang dia adalah jinchuriki dari setengah eksistensi kyubi. Hima adikku, sudah tidak bisa bahkan tidak mungkin ku jangkau dalam hal kekuatan.
Adikku memiliki paras yang sangat cantik, imut, manis, dan membuat orang lain tidak ada yang tahan untuk melewatkan pesonanya. Selain karena wajahnya, tubuhnya yang ideal layaknya wanita dewasa membuatnya sukses di dunia permodelan. Foto-fotonya selalu eksis di beberapa cover majalah remaja terkenal, menjadikannya sebagai model remaja dengan pendapatan tertinggi di Konoha.
Selama ini kami tidak pernah akur, bahkan saling mengacuhkan satu sama lain. Tapi semua keadaan itu berubah dalam setahun ini, sejak latihan berbahaya yang dia lakukan. Benar, sudah setahun berlalu sejak saat itu. Saat dia melakukan latihan yang beresiko besar pada tangannya hingga berakibat cidera bahkan cacat, di marahi Mama,,,,,,, hinnga aku berhasil menyeretnya pulang. Aaaaahh,,, waktu memang cepat sekali berlalu….
BOLT POV END
.
.
.
Waktu masih pagi, matahari juga belum tinggi dan suhu udara masih terasa dingin. Oleh karena itulah, setelah bangun tidur, Bolt tidak langsung mandi, hanya cuci muka saja. Bolt berjalan turun dari kamarnya, maunya sih mengambil minum. Minum air putih hangat-hangat kuku sangat bagus dijadikan sebagai kebiasaan pagi hari. Itulah kebiasaan baik yang selalu diajarkan Hinata pada semua anggota keluarganya. Saat menuju dapur, Bolt melewati ruang keluarga. Disana ada Himawari yang sedang asik bicara di telepon, mungkin berbicara dengan teman seangkatannya.
"Yo..." sapa Bolt singkat.
Himawari hanya menatap Bolt dari ekor matanya sejenak, kemudian fokus lagi berbicara di telepon, mengacuhkan Bolt yang baru saja menyapanya.
'Gh,, dicuekin nih. . . .' cibir Bolt dalam hati.
Bolt lanjut berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Dia mengambil dua buah gelas dan diisi air putih sampai penuh, lebih baik minum di ruang keluarga saja, sekalian kalau-kalau Himawari ingin minum. Bolt kembali ke ruang keluarga, meletakkan satu gelas berisi air putih didekat Himawari dan dia juga duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.
"Temanmu?" tanya Bolt yang sudah duduk ketika melihat Himawari sudah menutup teleponnya. "Apa dia kaget karena kau tiba-tiba pulang setelah kau tiba-tiba pergi tiba-tiba setengah tahun lalu.? Tapi waj-, , , "
Ucapan Bolt terpotong karena dengan riangnya Himawari kembali berbicara di telepon. Ya, saat Bolt bicara tadi, ternyata Himawari kembali mencari nomor lain untuk ditelponnya.
'Ck,, Jadi aku benar-benar dicuekin?' pikir Bolt di benaknya.
Setelah hampir dua jam bertelepon, menelpon banyak orang silih berganti, Himawari masih saja mengutak-atik smartphonenya. Bolt sudah bosan menunggu dan sudah tidak tahan diam saja sejak tadi.
"Hoi,, memangnya ada berapa orang sih yang ingin kau hubungi?" tanya Bolt geram melihat tingkah Himawari sejak tadi.
"Enggak tahu, aku bisa saja sih mengirim pesan singkat saja. Tapi akan lebih baik kalau mereka mendengar suaraku langsung kan?" jawab Himawari tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya pada Bolt, masih asik mengutak-atik smartphone paling canggih keluaran terbaru pemberian kakek Hiashi sebagai hadiah kepulangannya dari Pulau Kura-Kura. "Lagian, kenapa sejak tadi kau terus memandangiku.? Menjijikkan banget tahu..."
"Eh,,,," Bolt gelagapan. Dia memang memandangi adiknya, tapi bukan bermaksud aneh apalagi sampai berpikiran yang tidak-tidak. Bolt hanya ingin bicara lebih lama dengan Himawari saja. Sejak berhasil memaksa Himawari pulang dari Pulau Kura-Kura, keduanya memang semakin dekat, tidak lagi saling mengacuhkan satu sama lain. Tapi tetap saja, interaksi berupa pertengkaran masih mendominasi keseharian mereka berdua ketimbang interaksi lainnya. "Aah, tidak ada apa-apa. Aku hanya malas saja kalau sendirian di dapur pagi-pagi" kilah Bolt.
"Cih" dengus Himawari.
Merasa tidak nyaman di ruang keluarga, Bolt berdiri dan beranjak keluar dari ruangan itu.
"Oey, tunggu…. Sekalian tuh bawa…! Jangan pemalas" perintah Himawari sembari menunjukk gelas yang baru saja dipakainya untuk minum.
"Ck" Bolt balas mendengus, tapi walau begitu dia tetap mengambil gelas Himawari dan membawanya ke dapur.
.
.
.
Hari sudah menjelang siang, karena tidak ada kerjaan dan tidak ada siapa-siapa dirumah, jadi Bolt memutuskan untuk mencari angin keluar. Dia sedang dalam posisi berbaring di bangku taman, tidak tidur namun tampak uring-uringan sejak tadi. Membuat aneh seorang gadis yang bersamanya di taman itu.
Sarada, yang baru saja mengantarkan data rekam medik pada ibunya di rumah sakit, saat perjalanan pulang melihat Bolt sedang di taman, jadi dia berhenti untuk menyapa. Sekalian mengambil kesempatan,,,, kesempatan berduaan di taman. Kapan lagi Sarada bisa mendapatkan kesempatan langka seperti ini?. Walau Sarada memasang wajah dingin tak mengenakkan, tapi dalam hatinya berteriak kegirangan, tipikal gadis tsundere yang selalu jaga image.
Sarada memandang aneh akan sikap Bolt kali ini. Biasanya kan Bolt kalau di bangku taman pasti tidur beneran, tapi kali ini hanya tidur-tiduran saja. Masih dalam posisi berdiri, lalu ia pun bertanya, "Bolt, ada apa?"
"Eh, memangnya kenapa?" tanya balik Bolt lalu bangkit dan duduk di bangku. Duduk tepat disamping Sarada, yang kini juga telah duduk.
"Habisnya kamu kelihatan murung begitu, jadi aku ingin tahu apa penyebabnya"
Bolt menatap mata Sarada, diam sejenak lalu bicara, "Ada banyak sih masalah yang menggangguku. Apa kau tidak keberatan kalau mendengar salah satu curhatanku?" katanya sembari mengalihkan pupil matanya kearah lain walau wajahnya masih menatap Sarada. Malu mungkin, laki-laki curhat?.
"Tentu saja aku tidak keberatan"
Bolt pun bercerita tentang hubungannya dengan Himawari saat ini setelah 3 hari yang lalu berhasil memaksa Himawari untuk pulang, tentang bagaimana Himawari yang masih bersikap egois, menjengkelkan, dan sering marah-marah padanya di rumah.
"Jadi,,,, walaupun kau sudah berhasil memaksanya pulang dari Pulau Kura-Kura, tapi kamu kecewa karena sikap Himawari sama sekali tidak berubah, gitu?" tanya Sarada, memperjelas bagaimana perasaan Bolt saat ini akan sikap adiknya.
"Ya, gampangnya sih,,, aku memang merasa kecewa. Yah, walaupun ini bukan termasuk masalah yang harus ku pusingkan."
"Kamu berharap bisa jauh lebih akrab dengan Himawari dibanding sebelum dia pergi latihan ke Pulau Kura-Kura. Tapi kamu heran karena semua tak berubah, begitu kan?"
"Bu-bukan begitu" elak Bolt. "Aku malah berpikir, kalau memaksanya pulang malah akan merusak hubungan kami yang awalnya sudah berantakan. Selama setahun terakhir ini, walau kami sering bertengkar, tapi hubungan kami berdua sudah banyak mengalami kemajuan karena sebelumnya kami bahkan tidak bertegur sapa sama sekali. Tapi setelah itu, aku malah memaksanya pulang walau dia sudah menolak. Jadi ya, tidak heran kalau dia sekarang membenciku lagi. Aku tidak akan menyalahkan Hima kalau dia kembali cuek padaku, seperti yang terjadi sebelum setahun lalu. Aku juga sudah berjaga-jaga kalau itu sampai terulang. Tapi sikap yang sekarang dia tunjukkan padaku malah sama seperti sebelum dia berangkat. Jadi, intinyaaa..."
"Intinya hubungan kalian baik-baik saja" tukas Sarada.
"Ah, kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu, Sarada?"
"Karena aku lah yang paling mengerti betapa baiknya kamu itu"
"Ahhh, aaaaa,,," Bolt jadi tersipu. "Huuuhh,, kau ini ya. Aku heran kau bisa dengan blak-blakan bicara seperti itu. Emmm, tapi terima kasih ya" katanya lalu memalingkan wajah kesamping karena malu.
"Hn, sama-sama" katanya tersenyum walau yang keluar adalah dengusan khas Uchiha, "Ah, lalu Bolt? Bagaimana dengan masalahmu yang lain? Katamu yang barusan tadi hanya salah satu curhatanmu kan?"
"Eh...?" Bolt jadi teringat kejadian dengan Mirai di depan akademi ninja, dia masih bingung, tidak mengerti apa maksud Mirai melakukan itu, mencium dirinya secara tiba-tiba. Tapi, "Kalau yang itu, aku tidak bisa cerita padamu..." Bolt malu kalau harus menceritakan ini pada Sarada.
"Aa,,,, Oh, ya sudah. Tapi kalau ada yang bisa ku bantu, katakan saja padaku ya"
"Ah ya,, pasti. Arigatou, Sarada."
.
Kini sudah menjelang petang, setelah beberapa jam menghabiskan waktu mengobrol bersama Sarada di taman, akhirnya Bolt benar-benar bisa tidur siang karena mendadak Sarada pamit meninggalkan Bolt sendiri. Katanya ada urusan penting. Lalu setelah puas tidur, sekarang dia kelaparan karena lupa makan siang. Jadi lah akhirnya Bolt berada di sebuah restoran cepat saji.
Bolt tidak makan sendirian, ada Mirai yang menemaninya makan, berdua. Singkat cerita begini, tadi saat Bolt hendak ke restoran tidak sengaja bertemu Mirai di jalan. Katanya, Mirai baru saja meenyelesaikan misi diplomasi ke negara sebelah. Tidak ada rencana makan berdua, hanya saja saat bertemu dan saling sapa, perut Bolt berbunyi nyaring, membuat Mirai tertawa. Hingga akhirnya, Bolt lah yang berinisiatif mengajak Mirai makan.
Yaa, makan berdua di salah satu restoran cepat saji, seperti pasangan muda-mudi yang sedang kencan. Bolt tampak lahap menikmati hidangan kesukaannya, burger. Bolt memang kelaparan. Sedangkan Mirai hanya menyantap sepiring kecil kentang goreng, serta satu gelas minuman soda dingin. Mirai memang tidak terlalu lapar, karena sebelum pulang dari negara sebelah dia sudah makan di sana dan perjalanan pulang dari desa sebelah ke Konoha hanya dua jam setengah saja dengan kereta express super cepat.
Keadaan hening karena masing-masing sedang asyik menikmati kudapannya. Mirai seperti menikmati sekali mengunyah batang-batang kentang goreng yang tampak sangat gurih dan renyah. Mata Mirai melihat kearah lain, tepatnya melihat para pejalan kaki yang lalu lalang di jalan dari balik dinding kaca lebar bangunan restoran sambil menikmati lagu yang ia dengar mengunakan earphone yang terpasang di telinganya.
Bolt sudah selesai menghabiskan burger ukuran jumbo yang ia pesan, meneguk minuman soda dingin miliknya, lalu menatap Mirai. Bolt tampak bingung, jarang sekali Mirai bersikap diam saja seperti ini. Biasanya Mirai walaupun selalu tampil anggung tapi akan sedikit berisik jika bersama tim 7 atau bersama dirinya sendiri, atau orang-orang yang sangat dekat dengannya.
"Anooo, Mirai-nee..."
Mirai tidak mengindahkan panggilan Bolt, malah tetap asik mengunyah kentang goreng sambil mendengarkan lagu dan menikmati pemandangan orang lalu-lalang di luar restoran.
"Mirai-nee…"
". . . . ." Mirai tidak menyahut, hanya menatap Bolt sejenak dengan sebelah alis terangkat lalu mengalihkan pandangannya lagi ke jalan melihat orang yang lalu lalang.
'Aneh sekali Mirai-nee sekarang. Padahal belum lama ini, dia tiba-tiba menciumku, tapi sekarang...?'pikiran Bolt kembali mengingat lagi insiden ciuman Mirai di lapangan akademi ninja empat hari yang lalu, di bawah rindangnya pohon mahoni. 'Kalau ku pikir-pikir lagi, walau kesannya berbelit-belit tapi bisa saja kan itu cara dia menyatakan cintanya padaku? Dan sekarang aku malah jadi deg-degan doki-doki begini, adduuuuuhh….' Bolt jadi berpikir terlalu jauh, tampak wajahnya sekarang seperti orang yang gelisah. Melirik kiri kanan hendak berbicara dengan Mirai, namun tak kunjung mendapat kalimat yang pas untuk diucapkan.
'Kenapa kau bisa duduk dengan tenang bersamaku disini Mirai-nee, tanpa sedikitpun menunjukkan rasa sungkan atau malu sih? Kalau kau bersikap begitu, aku jadi serius menganggap kalau kejadian kemarin itu hanya mimpiku belaka, bukan kenyataan. Kalau begitu, 'aku' yang malam tadi kayak orang bego banget dong,' kata Bolt lagi dibenaknya, dia mengingat lagi kalau tadi malam dirinya berguling-guling di kasur dan tersenyum tidak jelas karena membayangkan bahwa Mirai benar-benar mencintainya. Bahkan ketika itu dia memeluk erat bantal gulingnya seakan sedang memeluk Mirai. Eugghhh,,,, Bolt jadi merasa jijik dengan tingkahnya tadi malam. 'Gawaaaat,,,, gawat. . . . Aku benar-benar kelihatan seperti orang bego. Ya sudah, pokoknya aku harus memastikannya sekarang.'
"Naaa, Mirai-nee…." panggil Bolt lagi dengan keras
Mirai yang merasa dipanggil pun melepaskan earphone yang menempel di telinganya.
"Ada apa sih, Bolt-kun?" tanya Mirai.
"Tentang yang waktu itu, saat kita bersantai di bawah pohon rindang di depan akademi ninja..."
Mirai jadi terkejut, dia berhenti memasukkan kentang goreng ke mulutnya, bahkan kentang goreng yang sudah terlanjur masuk ke mulut, tidak lagi dia kunyah dengan benar, langsung telan saja. "Ah,,, eeee. . . " Mirai tak tahu harus menyahut apa.
"Aku kurang mengerti, sebenarnya apa maksudmu dengan . . . , itu, , , , yaaaang kau la-lakukaaan pada pipiku...?" tanya Bolt malu-malu seraya meletakkan jari telunjuknya di pipi kanannya, tempat Mirai menciumnya. Ciuman di pipi yang pertama kali Bolt dapat dari seorang gadis yang bukan keluarganya.
Mirai benar-benar kelimpungan sekarang, bingung sekali mau menjawab apa. Hampir dua menit berlalu tapi Mirai tidak kunjung memberikan jawaban, wajahnya semakin memerah karena teringat lagi kelakuan nekatnya waktu itu. Hanya menundukkan kepala memikirkan bagaimana memberikan jawaban yang tepat untuk pemuda yang 3 tahun lebih muda darinya ini.
Akhirnya Mirai memberanikan diri menatap Bolt, membuka mulut untuk bicara, "A-aa , , ,"
"Loh? Kau disini juga, Mirai-nee?" seorang pemuda seumuran Bolt tiba-tiba saja menyela pembicaraan penting sepasang muda-mudi tadi. Pemuda berambut hitam dengan kunciran serta raut malas yang selalu terpampang di wajahnya. Sahabat Bolt, dan sekaligus anak dari sahabat ayahnya Bolt, Shikadai. "Tou-san ku tadi mencarimu? Katanya tadi kau sudah pulang dari misi, tapi tidak kunjung ke kantor Hokage untuk melaporkan kepulanganmu" kata Shikadai pada Mirai.
Mirai mendapat kesempatan untuk kabur dari masalah ini, memang tidak selamanya bisa menghindar, tapi dia tidak bisa mengutarakan apa yang dirasakannya waktu itu kepada Bolt sekarang. Mirai butuh sedikit waktu lagi, paling tidak untuk memantapkan hati, "Ah, iya. Terima kasih Shikadai. Kalau begitu aku pamit ya, aku akan ke kantor hokage dulu" katanya lalu segara beranjak pergi.
Bolt pasrah saja ketika Mirai pergi, dia melirik Shikadai yang tanpa permisi langsung duduk di kursi bekas Mirai tadi.
"Ada apa kau kemari, hah?" tanya Bolt, dia kesal karena sedikit lagi dia bisa mendapat kepastian dari Mirai, tapi kedatangan sahabat kuncir nanas nya ini membuat berantakan.
"Ck, kau ini. Aku sudah mencarimu dari tadi. Karena ini tempat makan favoritmu, jadi aku yakin pasti kau sedang makan disini" jawab Shikadai.
"Memangnya untuk apa kau mencariku?"
"Aku mau membicarakan proyek kita"
"Ohhh,, kenapa?" tanya Bolt dengan raut wajah tidak bersemangat. Proyeknya memang sangat penting, tapi karena sudah terlanjur badmood akibat ulah Shikadai, jadinya Bolt begitu.
"Kita kekurangan banyak dana"
"Ya sudah, aku akan membicarakannya dengan Bibi Hanabi" jawab Bolt dengan entengnya.
"Enak ya, jadi orang kaya"
"Ck"
"Kalau proyek kita selesai, maka apa yang kita temukan akan menjadi titik awal revolusi ninja dan langkah pertama memasuki era baru teknologi digital persenjataan militer. Ingat itu..!, Proyek kita ini proyek besar. Jadi aku berharap sekali kalau ini benar-benar terealisasi" kata Shikadai serius.
"Iya ah. Aku tahu." Bolt jadi kesal, dirinya sudah tahu tapi masih saja diingatkan seperti tadi. "Aku sudah menyelesaikan 70% rancangannya. Bagaimana dengan bagianmu?"
"Aku sudah menyusun algoritmanya, tinggal menuliskannya kedalam bahasa porgram, maka tugasku selesai"
"Bagus deh…."
Dan mereka terus berbicara sampai langit petang menggelap, membicarakan tentang proyek besar mereka.
.
Hari sudah agak malam, Bolt pulang sendirian karena sekarang waktunya jam makan malam di rumahnya dan Shikadai juga harus pulang ke rumahnya sendiri. Mereka berdua cukup lama mengobrol tadi, membahas tentang proyek penting mereka.
Sekarang Bolt di jalan dan masih cukup jauh dari rumahnya, karena masih terngiang di benaknya, memikirkan kejadian di depan akademi ninja waktu itu dan sikap Mirai saat di restoran tadi, jadinya Bolt bicara sendiri.
"Jadi aku belum bisa mendapatkan kepastiannya. Sebenarnya seperti apa perasaan Mirai-nee padaku ya?
Bolt jadi ingat kejadian sebelum Mirai menciumnya,
Flashback.
Bolt sudah tidak mengantuk lagi, sehingga dia bangkit dan duduk bersandar di batang pohon di samping Mirai.
Mirai yang pegal duduk di rumput, akhirnya ikut bersandar juga. Tidak bersandar di batang pohon, tapi Mirai malah menyandarkan punggungnya di tubuh Bolt yang lebih besar darinya.
"Mirai-nee?" tanya Bolt yang merasa aneh dengan kelakuan Mirai yang tiba-tiba.
"Dekat denganmu dan bersandar di tubuhmu seperti ini, rasanya nyaman sekali, Bolt-kun"
"Ahh,, harusnya kau menghindari hal yang bisa menimbulkan kesalahpahaman di pikiran laki-laki, Mirai-nee."
"Hihihiii" Mirai cekikikan pelan.
"Ataauuu,,, jangan-jangan kau mencintaiku, Mirai-nee?"
"Iya"
"hah?" Bolt terkejut,
"aku mencintaimu, sama besarnya dengan perasaan cinta adikmu padamu"
Flashback End.
"Jadi, sama seperti perasaan Hima yaaa..." gumamnya. Lalu Bolt mengambil ponsel di sakunya, dan menelpon seseorang.
"Moshi-moshi, Hima.." kata Bolt saat panggilannya sudah tersambung.
"Apa?" jawab Himawari ketus dari seberang sana.
"Aku mau tanya, seberapa besar rasa cintamu padaku?" tanya Bolt dengan nada datar.
"HAAH. . . .!" Himawari teriak keras, terpaksa Bolt menjauhkan ponselnya dari telinganya, "Kau bilang apa sih? Jangan konyol..! Begini ya, aku memberimu nomor HP ku padamu jika ada sesuatu yang penting. Jika hanya karena ini, lebih baik kau tidak menghubungiku. Menyebalkan tau... Tuuuuttt" panggilan berakhir.
.
.
.
To be Continued. . . . .
.
Note : Kita lanjut ke paruh kedua cerita. Dari sini kita mulai serius ceritanya, panjangnya mungkin akan sama dengan season I atau bahkan lebih. Dan juga alur cerita season I berlangsung selama setahun. Jadi ini tahun kedua Bolt akan di buat repot oleh tingkah Himawari. Pair? Lihat ajat nanti. Ada kok.
Karena cerita sudah berlangsung satu tahun sejak season I, maka umur pemeran cerita ini,
Uzumaki Himawari – 15 tahun
Uzumaki Buroto/Bolt – 18 tahun
Uchiha Sarada – 18 Tahun
Naruto – 38 tahun
Sarutobi Mirai – 21 tahun
Dan chara-cara lainnya umurnya menyesuaikan canon, seperti teman seangkatan Bolt yang seumuran dengan Bolt, teman setim Himawari yang seumuran dengannya juga, serta bapak-bapak dan ibu-ibu mantan Rokie 12 yang pasti seumuran dengan Naruto.
Saya masih punya banyak kekurangan, jadi mohon bantuannya baik itu kritik atau saran di Kolom Review atau lewat PM agar lanjutan fic ini lebih bagus kedepannya.
