Tittle: Brand New World

Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya

Genre: Adventure, Friendship

Pairing: nanti aja hehehe

Rated: M (jaga-jaga)

Summary: Naruto dan madara yang telah mati dalam perang dunia Shinobi keempat kini sedang menghadapi putusan dari hakim dunia akhirat untuk memasuki neraka atau surga, tanpa diduga, madara melakukan hal diluar dugaan yang membuat raja dunia akhirat menjatuhi mereka berdua hukuman aneh nan unik. More friendly madara! Strong-Naru!

Warning: OOC (Amat sangat),Typo, Miss Typo, Adult theme, violence, gore,etc.

A/N : Hai-hai, kembali lagi dalam BNW hehehe. Di chap ini masih transisi dan memulai arc Rating game. Tapi, sebelumnya akan ada arc Ori yang bakalan saya buat hehehe. Apa dan kapan tunggu saja hehehe. Akhir kata, selamat menikmati.

Chapter 25

"Hmm, apa yang harus kukatakan pada mereka ya?" Uzumaki Naruto salah satu tokoh utama kita kini sedang berjalan menyusuri sebuah lorong di dunia bawah bersama-sama dengan para peeragenya. Dirinya akan menghadiri pertemuan para iblis muda yang diadakan sebelum rating game. Namun, firasatnya sudah mulai tak enak saat mulai mendekat ke tempat pertemuan.

Brakh!

Benar saja apa yang ia pikirkan. Hampir saja dirinya menjadi korban dari sebuah bola energi yang melayang sembarangan menuju ke arahnya dari sebuah dinding yang ghancur akibat serangan benda tadi. Sementara itu, Asuna dan Tatsuya segera memasang pose siaga sebelum akhirnya Naruto memberikan tanda agar keduanya menurunkan pengawasannya. Perlahan dirinya mengintip dari balik dinding tersebut dan menyaksikan kedua belah kubu iblis yang tengah bertukar pandang satu sama lain dengan tatapan pembunuh kepada lawannya.

"Wah, wah. Kadang firasatku tak salah juga ya." Bisik Naruto saat melihat keduanya saling ejek satu sama lain.

"Zefordoll, bisakah kamu tidak memulai pertarungan di tempat seperti ini? Apa kamu benar-benar mau mati di sini? Aku bisa membunuhmu di sini kapan saja." Seorang gadis dengan pakaian yang cukup ketat tampak menatap tajam pemuda dengan dandanan urakan mirip dengan yankee di hadapannya.

Yankee tadi tertawa sinis menanggapi respon lawan bicaranya. "Ayolah, Agares-sama. Aku bisa mengajarimu 'ini dan itu' di kamar pribadiku. Onee-san Agares tidak suka tanpa penjagaankan? Karena itukah kamu masih perawan. Hmmpp, dasar kalian para iblis perawan membuatku jijik!" Mulut vulgarnya hanya membuat Naruto terkikik sejenak melihat orang itu. Sementara itu, dirinya melihat seseorang yang datang kesana dan masuk kedalam kerumunan tadi.

"Sairaorg?" Naruto tampak heran melihat Sairaorgh yang auranya beda kali ini. Ia lebih tegas dan auranya terasa menekan sekitar hingga membuat para pembuat keributan tadi mundur kebelakang karena tak kuat menahan tekanan tersebut.

"Aula ini adalah tempat bagi kita untuk menunggu sebelum dipanggil masuk dan sekarang kalian berdua mengacaukannya. Seharusnya kita saling memperkenalkan diri secarfa baik-baik sebagai penerus keluarga bangsawan. Sekarang lihatlah tindakan tidak berguna yang kalian lakukan." Pemuda Bael itu berjalan ke arah keduanya dengan langkah gagah yang membuat beberapa bangsawan yang sedang berada di sana terhenyak melihatnya. Terlihat juga Issei yang mencoba mencegah Sairaorg namun dicegah oleh Rias.

"Seekvaira, Tuan putrid dari keluarga Agares dan Zefordoll anak pembangkang dari keluarga Glasya Labola. Kalau kalian masih berniat membuat keributan maka aku yang akan melawan kalian. Dengar, ini peringatan terakhir bagi kalian sebelum aku benar-benar bertindak." Sairaorg memberikan penekanan kuat pada setiap kata-katanya seakan kata-kata tersebut mengandung kekuatan tersendiri.

"Hmp…" Namun tampaknya Zefordoll tidak juga insyaf dan masih mencoba mencari gara-gara dengan Sairaorg. "Hmmp, beraninya keluarga Bael yang tidak kompeten mencampur-"

Brakh!

Tepat sebelum ucapannya selesai, Zefordoll telah diterbangkan oleh Sairaorg dengan sebuah sapuan ringan dari tangannya dan membuatnya terhempas kedinding hingga tak sadarkan diri.

"Sudah kubilang ini peringatan terakhir untuk kalian." Ucapnya sambil membersihkan tangannya dari debu.

Sementara itu, para peerage Zefordoll tampak hanya bisa terdiam ketakutan melihat majikan mereka terkapar tak berdaya di hadapan Bael muda itu.

"Seekvaia, segera rapikan kembali dandanmu sebelum acara di mulai." Perintah Sairaorg yang hanya dibalas dengan anggukan cepat tanda takut dari putrid Agares itu. Dirinya dan peeragenya pun pergi meninggalkan ruangan tadi dengan wajah penuh terror setelah melihat sedikit pertunjukkan dari Sairaorg.

Naruto yang melihat keadaan menjadi lebih kondusif memutuskan untuk memasuki aula tersebut dengan pengawalan Tatsuya dan para peeragenya.

"Sairaorg! Lama tak jumpa!" Pemuda pirang tersebut mengangkat tangan kanannya dan memberikan lambaian pelan kearah pemuda bertubu kekar tadi sembari menebar senyuman lebarnya.

"Oh, Naruto! Lama juga tak bertemu!" Seketika juga raut wajah Sairaorg berubah saat bertemu dengan pemuda Uzumaki itu. Keduanya kemudian saling mendekat satu sama lain dan berhadap-hadapan bersama-sama.

"Yo, bagaimana dengan yang waktu itu? Masih belum puas?" Ucap Naruto dengan nada sedikit mengejek kepadalawan bicaranya. Tentu dirinya mengingat bagaimana serunya pertarungan antara keduanya sewaktu menyelamatkan Kuroka dari hukuman mati.

"Ya, tentu saja. Kita harus lebih banyak lagi bertukar pukulan setelah ini." Balas Sairaorg dengan nada penuh percaya diri sambil menawarkan kepalan tangannya.

Dukh!

"Tentu saja, laki-laki hanya bisa bicara satu sama lain dengan baik melalui pukulan." Balas Naruto sambil membalas Brofist dari Sairaorg. Keduanya kemudian saling tertawa satu sama lain karena mengingat apa yang mereka lakukan tadi.

Setelah puas tertawa, Sairaorg mengalihkan perhatiannya kea rah Peerage Naruto dan mencoba mengamati wajah mereka satu persatu. "Naruto, kenapa kamu cuma membawa dua?" Tanya Sairaorg dengan wajah penasaran.

Naruto yang mendengarnya hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Ya, untuk saat ini aku cuma bisa memperkenalkan mereka berdua saja. Selanjutnya mungkin saat pertarunganlah kau akan menemui mereka." Jawab Naruto yang membuat Sairaorg mendengus paham. "Nah, perkenalkan diri kalian." Naruto memberikan perintah kepada keduanya yang dibalas anggukan singkat.

."Yuuki Asuna, salam kenal. Bael-sama." Ucap gadis berambut coklat itu sambil membungkuk sopan kepada lawan bicaranya.

"Shiba Tatsuya, Senang bertemu dengan anda Bael-sama." Tatsuya lebih formal lagi dalam tutur katanya.

'Jadi, mereka Peerage Naruto-kun? Asuna-san yang itu?...' Rias terdiam sendiri melihat gadis bernama Asuna yang pernah melawan mereka saat menghadapi Kokabiel tempoh hari kini menjadi peerage Naruto.

'Shiba Tatsuya… nama yang tak asing di telingaku.' Asia yang mendengar nama Shiba menjadi bingung sendiri karena pernah mendengar nama tersebut entah di mana.

Sementara itu, dari sudut matanya Tatsuya bisa mendapati bahwa Asia melihat dirinya dengan tatapan penasaran namun tidak ia hiraukan.

Akhirnya, kekacauan tersebut segera dibereskan oleh para panitia dan akhirnya pertemuan tersebut dimulai dengan ketidakhadiran Zeforfdoll di sana karena sudah terkapar akibat dihajar Sairaorg sebelumnya.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

"Namaku Seekvaira Agares. Kepala berikutnya dari keluarga Agares,peringkat Archduke." Perempuan berkacamata yang tadi bertengkar dengan Zefordoll itu mengenalkan dirinya kepada Naruto beserta para King yang lain. Mereka berenam sedang duduk di sebuah meja bundar yang mengitari mereka dengan para anak buahnya berjajar di belakang.

"Senang bertemu denganmu. Namaku Rias Gremory, kepala berikutnya dari keluarga Gremory." Ucap Rias dengan nada lembut dan penuh percaya diri. Memang sebetulnya aneh sekali bila Rias yang notabene adalah tunangan Naruto membawa Nama Gremory pada turnamen ini. Namun, para tetua mempertimbangkan bahwa Rating game kali ini akan diikuti oleh peerage Rias dengan alasan Milicas, anak Sirzechs masih terlalu dini untuk menggantikan posisi Rias sebagai kepala keluarga sehingga jabatan tersebut tetap berada di tangan gadis itu.

"Aku Sona Sitri. Kepala berikutnya dari keluarga Sitri." Tenang dan anggun. Itulah kesan yang selalu dijaga oleh Sona yang berbanding terbalik dengan sang kakak.

"Namaku Sairaorg Bael, Aku adalah kepala berikutnya dari keluarga Bael. Peringkat Great King." Dengan penuh percaya diri Sairaorg memperkenalkab dirinya.

"Namaku Diodora Astaroth. Kepala berikutnya dari keluarga Astaroth. Mohon kerja samanya." Pemuda pirang itu memberikan senyuman lembutnya yang hanya bisa membuat Naruto mendengus kesal di dalam hatinya karena merasakan semacam ketidaktulusan dari sana.

"Namaku Naruto Lucifer, penerus Lucifer pertama. Senang bertemu dengan kalian semuanya." Akhirnya tiba giliran Naruto untuk memperkenalkan dirinya kepada mereka semua.

'Jadi, dia orang yang membuat Sairaorg babak belur waktu itu?' Seekvaira memandangii Naruto dengan tatapan menyelidik. Dirinya merasakn semacam tekanan kuat yang mengalir dari tubuh pemuda tersebut. mirip dengan Sairaorg namun lebih kuat lagi.

'Naruto-kun? menarik…' Diodora menatap pemuda pirang tersebut dengan tatapan tajamnya.

Mereka semua saling bertukar pandang satu sama lain mencoba mengenal sesamanya dengan intens begitu pula Naruto yang lebih asyik berbincang-bincang dengan Rias dan juga Sairaorg sehingga suasana tegang tidak terlalu terasa. Namun, lain dengan para peeragenya yang cenderung kaku karena aura yang ditebarkan oleh keenamnya begitu intens terutama dari Naruto dan juga Sairaorg.

Sekian saat berbincang, datanglah seorang tetua yang memberikan mereka beberapa nasehat dan juga wejangan yang kiranya tidak terlalu penting untuk diceritakan mengingat bahwa kata-kata adalah perkataan yang percuma bila tidak direalisasikan. Tampak juga Zefordoll akhirnya datang juga setelah disembuhkan meskipun meninggalkan bekas memar ditubuhnya akibat serangan dari Sairaorg.

"Baiklah, kalian para iblis muda merupakan harapn bagi kita para iblis-iblis tua yang semakin rentah. Kemampuan kalian semua tidaklah diragukan lagi. Namun, kalian masih harus tetap melakukan tes ini sebelum terjun langsung." Salah seorang tetua kemudian menampilkan sebuah diagram pertempuran di mana ditampilkan daftar pembagian pertarungan.

"!" Mata Rias dan Naruto membulat sempurna saat melihat siapa lawan mereka dalam pertandingan perdana keduanya. Disana tercantum nama Gremory VS Lucifer.

Naruto yang kembali tersadar dari rasa terkejutnya kemudian menghampiri Rias dan menatapnya dengan tatapan serius. "Rias, mari kita bertarung dengan sungguh-sungguh." Ucapnya sambil menawarkan sebuah jabatan tangan kepada gadis berambut merah itu.

"Tentu. Akupun tidak sabar untukmenghadapimu." Balas gadis tadi dengan wajah percaya diri. Keduanya kemudian saling berpandangan untuk waktu yang cukup lama seolah meyakinkan satu sama lain bahwa mereka tidak akan mengecewakan.

Sementara itu, Issei yang melihat bahwa lawan mereka adalah Naruto tampak tertantang adanya kala kedua tangannya mengepal karena tensi semangat yang membuncah ke seluruh tubuhnya. ' Aku pasti akan mengalahkanmu, Naruto!' Janjinya dalam hati.

Sementara itu, Sirzechs yang hadir juga di sana hanya tersenyum puas melihat keduanya tampak bersemangat bertarung tanpa ada ras canggung satu sama lain.

"Ya, kurasa pertempuran ini akan menjadi sangat menarik nantinya." Ucapnya dengan santai sembari meminum tehnya. Kemudian ia berdiri dari singgasananya untuk membuka suara.

"Pertandingan pertama akan diselenggarakan pada 20 Agustus waktu manusia. Persiapkanlah diri kalian baik-baik." Ujarnya dengan penuh penekanan hingga membuat kedua kubu mengganguk patuh.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Akhirnya pertemuan para iblis muda itu selesai juga. Mereka, para bangsawan muda tersebut memilih untuk kembali ke wilayah mereka menyiapkan diri dalam rangka menghadapi Rating game nantinya. Naruto dan kedua peeragenya lebih memilih untuk berjalan-jalan di wilayah pusat kota Luciferd menikmati pemandangan tempat yang pernah menjadi ibukota Maou terdahulu.

"Tatsuya, bagaimana menurutmu dengan keadaan dunia bawah?" Tanya Naruto dikala ia sedang menyumpal mulutnya dengan permen kapas yang ia beli tadi saat berjalan-jalan di pinggiran jalan kota.

Tatsuya yang mendengar pertanyaan Naruto hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Ya, tidak buruk juga. Kuharap suatu hari nanti aku dan Miyuki bisa menghabiskan hari-hari kami di sini dengan tenang." Balasnya dengan tatapan senang sambil memandangi anak-anak iblis berlarian di taman yang tengah mereka lewati.

"Hm, aku tidak bisa berkomentar banyak soal penyakit sis-conmu itu. Namun sebaiknya Miyuki menyadari apa yang kau rasakan padanya karena setauku hal-hal semacam ini akan menjadi rumit pada akhirnya." Ucap pemuda pirang itu sembari menyandarkan kepalanya ketangan yang ia silangkan di belakang kepalanya.

"Kau mungkin benar." Jawab Tatsuya dengan nada pelan. "namun, melihatnya tersenyum sudah lebih cukup untukku." Tambahnya sembari berjalan lebih cepat meninggalakn Naruto beserta Asuna.

Naruto yang melihatnya hanya tersenyum tipis melihatnya. "Ya, mungkin saja cukup sekarang." Ucapnya dengan nada santai sembari berjalan bersama Asuna.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Malam harinya,

"Wah, tidak ada yang bisa mengalahkan nikmatnya berendam di kolam air panas setelah pertemuan yang membosankan tadi." Seloroh Naruto yang saat ini sedang merendam tubuhnya di kolam air panas milik klan Gremory yang letaknya berada di kebun. Tentu saja kolam pria dan wanita letaknya terpisah. Saat ini dirinya tengah berendam sendirian menikmati langit malam yang berada di atas kepalanya.

"Hmm, seperti apa ya kekuatan peerage Rias sekarang? Pasti mereka telah berkembang jauh dari saat terakhir aku melihat mereka bertarung." Ujarnya dengan nada penasaran. Jemarinya sibuk mengaduk-ngaduk air panas yang berada di sekitarnya.

Srakh!

Tak lama kemudian pintu pemandian tersebut terbuka dan menampilkan beberapa orang yang tak lain adalah Madara, Azazel, Issei, Kiba, serta seorang pemuda berwajah amat feminim yang ia kenal sebagai Gasper Vladi, Bishop kedua Rias.

"Kakek tua, tumben kau mau ikut bersamaku ke dunia bawah kali ini?" Naruto yang sudah berendam terlebih dahulu nampak memandang leluhur Uchiha itu dengan tatapan bingung.

Madara yang mendengarnya hanya memasang wajah bosannya sambil membilas badannya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kolam. "Memangnya salah kalau aku juga ikut? Lagipula aku punya bisnis lain dengan Sirzechs." Jawabnya yang membuat Naruto menaikkan alis kanannya.

"Urusan? Urusan apa?" Tanya pemilik iris biru langit tersebut dengan tatapan menyelidik.

"Bukan urusanmu." Balas Madara dengan cuek hingga membuat urat Naruto menyembul dari dahinya mendengar jawaban semacam tadi.

"Ya, ya, ya. Dan kenapa Azazel berada di sini?" Tanya pemuda pirang itu lagi dengan nada bingung karena aneh saja baginya melihat malaikat jatuh berkeliaran di area iblis.

Azazel yang mendengarnya hanya tersenyum saja. "Aku berada di sini sebagai pelatih tim Rias." Ujarnya sambil tersenyum namun membuat Naruto tersentak sesaat.

"Begitukah? Tak kusangka seorang gubernur Da-Tenshi sepertimu mau turun tangan melatih mereka." Ujar Naruto sembari berjalan ke pinggiran kolam dan bersandar di sana.

"Ya, kupikir ini adalah hal yang menarik karena rasanya kurang menarik jika hanya melatih Vali saja. Lagipula sekarang dia tengah menyibukkan dirinya dengan aktivitas lain sehingga rasanya pria tua ini merasa kesepian." Jawaban dari Azazel hanya bisa membuat Pemuda pirang itu mencibirnya saja mengingat bahwa orang seperti Azazel bukanlah tipe pekerja keras. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana ia bekerja sebagai Gubernur yang kerjanya hanya memancing serta mondar-mandir pelacuran.

"Satu lagi, sekarang yang menjadi gubernur adalah Shemhazai bukannya aku , bisa dibilang aku sekarang lebih bebas, ha ha ha." Tambah pemilik rambut emas tersebut sembari meneguk secangkir sake panas sebelum menuju tempat keramas.

"Oh, jadi sekarang kau bisa lebih bebas mondar-mandir ke pelacuran kan?" Ejek Naruto yang sekarang merasa bahwa dibebastugaskannya Azazel adalah hal yang baik mengingat dengan begitu pria ini bisa melakukan penyelidikan terhadap Khaos Brigade secara lebih efisien sekaligus menjaga Issei dan lainnya dari incaran organisasi teroris tersebut.

Sementara itu, Issei tampak kesusahan setengah mati menarik seorang pemuda yang membalu tubuhnya dengan handuk sampai ke dadanya. Pemuda itu memiliki rambut perak serta wajah yang seolah menampik kenyataan bahwa dirinya memiliki 'sesuatu' di selangkangannya.

"Gasper, ayo cepat masuk kolam! Kenapa handukmu seperti itu. Cepat turunkan!" Walaupun Issei terlihat serius, namun wajahnya yang tampakseperti pelaku pemerkosaan membuat Naruto merasa jijik menatapnya.

"Kya! Hentikan Issei-san! Ah, jangan sentuh sebelah situ!" Madara yang mendengarnya berusaha untuk tidak mimisan karena suara tadi sungguh kelewat feminim untuk seorang pria.

Byur!

Akhirnya gasper berhasil Issei dorong ke dalam kolam tanpa memberikankesempatan bagi pemuda tersebut agar dapat membilas tubuhnya. Sementara itu, Kiba hanya tersenyum saja melihat tingkah keduanya.

Madara yang akhirnya selesai membilas tubuhnya kemudian masuk ke dalam kolam sembari membawa sebotol sake. "Hmm, rasanya dunia bawah tidak buruk juga selama ada kolam air panas ini." Ujarnya sambil menatap langit malam dunia bawah yang terlihat lebih berbeda karena warnanya ungu.

"Hm, tumben sekali kamu menjadi filosofis kakek tua. Ada apa denganmu?" Tanya Naruto dengan nada penasaran sembari mencoba mengambil secangkir kecil sake dari tangan Madara namun dengan cepat ditepis oleh pria tadi.

"Masih remaja mau minum sake. Kencing saja belum lurus." Ejek Madara sembari menatap selangkangan Naruto yang berada di bawah air. "Kecil." Ejeknya sembari membuang muka melihat kelangit.

Naruto yang mendengarnya hanya bisa menggerutu dalam hati karena perkataan pria tadi memang kenyataan namun dirinya sedang dalam masa pertumbuhan kan? Apa salahnya ukurannya masih segitu. Pemuda pirang ini yakin 3-4 tahun lagi ukurannya akan bertambah dan lebih membanggakan.

"Yare-yare, kenapa kalian meributkan soal sake sih? Meskipun Naruto-kun masih remaja tapi kurasa saat seseorang sudah mengerti arti hidup maka wanita,uang, serta sake bisa menjadi hak pribadinya." Azazel ikut bergabung dalam pembicaran keduanya sembari menyesapi nikmatnya kehangatan sake.

"Diam kau, Malaikat rusak. Pemikiranmu itulah yang membuatmu jatuh." Madara menoleh kepada Azazel dengan nada kesal sembari menunjuknya dengan jari kanannya.

"Heh, begitukah, setidaknya aku lebih dewasa ketimbang dirimu Madara. Sudah tak terhitung banyaknya wanita yang jatuh kepelukkanku ini." Ujar Mantan gubernur tadi dengan percaya diri. "Tidak seperti dirimu perjaka tua yang menghabiskan stok tisu dikamar setiap hari." Tambahnya yang membuat Leluhur Uchiha tersebut memamerkan mata saktinya.

"Apa kau bilang?! Asal kau tahu, sudah tak terhitung jumlahnya Kunoichi yang kutiduri tau! Jika mau istri Hashirama bisa saja kutiduri jika aku mau." Ucapnya secara besar mulut kepada Azazel yang diiringi tawa menghina dari naruto.

"Pffttt, bahkan melihat wanita telanjang saja aku tidak yakin kau pernah." Tambah Naruto dengan nada menghina.

Mendengar hal tersebut, rasanya api amarah Madara terpantik dengan sempurna. "Jaga bicaramu bocah, aku bisa saja meniduri Kaguya, Rossweisse bahkan Ophis bersamaan jika aku mau." Perkataannya ini akhirnya berhasil memantik ide gila Azazel.

"Begitukah?" Tanya Pria berponi emas itu dengan nada menggantung.

"Ya, dan itu pasti." Jawab Uchiha sombong itu sembari memberikan anggukan mantap sembari mengambil sake dan mencoba menengguknya.

"Kalau begitu tiduri Rossweisse. Kudengar dia sudah menjadi perawan tua untuk waktu yang lama. Buktikan kalau omonganmu itu benar." Seketika Madara menyemburkan sake yang ia minum kala mendengar tantangan Azazel.

"Y-yang benar saja. Kau pasti bercanda." Seru Madara dengan tatapan tak percaya pada Azazel.

Azazel yang melihat Madara panik hanya tersenyum meremehkan. "Heeehh….jangan bilang kalau Madara-sama ini hanya seorang pembual kelas teri yang tidak mau merasa malu karena menjadi perjaka dua kehidupan."

"Tentu aku tidak berbohong! Lihat saja saat tur Kyoto nanti! Kau akan mendengar Valkyrie itu menjerit nikmat sepanjang malam." Acung Madara dengan penuh emosi.

"Kuharap ia tidak menjerit ketakutan melihatmu." Ejek Naruto yang hanya dibalas Madara dengan siraman air panas ke wajah pemuda pirang tersebut hingga membuat anak yondaime itu menjerit kesakitan.

"Hee, aku tidak menyangka kisah Azazel-sensei begitu menarik. Lalu apa karena itu juga Sensei jatuh?" Tanya Issei yang turut bergabung dalam kelompok laki-laki mesum yang sedari tadi membual itu.

"Ya, bisa dibilang begitu."Jawab Azazel dengan nada singkat. "Ngomong-ngomong Issei, apakah kau pernah menghisap dada wanita?" Tanya Azazel secara sembarangan hingga membuat Sekiryuutei itu membelalakan matanya.

"Belum! Bahkan aku selalu kehilangan kesempatan untuk meremas dada Asia-chan, Koneko-chan, ataupun dada subur Akeno-senpai." Jawabnya dengan nada jujur yang membuat Madara menepuk jidatnya sendiri.

Azazel yang mendengar niat Issei meremas dada Akeno hanya bisa tertawa garing. 'Ya, semoga Barakiel tidak membunuhmu setelah itu'. "Kau sendiri Naruto?" Tanya Azazel dengan nada bercanda.

"Rasanya belum pernah. Lagipula hidupku selama berada di dunia Shinobi lebih banyak dijadikan objek untuk buku porno ero-sennin dan juga berlatih untuk menjadi Shinobi. Memangnya kenapa?" Tanya Naruto balik dengan nada bingung.

"Ya, kalian tidak asyik. Asal kalian tahu ya. Dada wanita itu memiliki tombol on/off pada putingnya. Sekali kau pencet ataupun kau hisap maka dia akan terbakar." Azazel memberikan wejangan yang dianggap oleh Madara begitu menjijikkan namun diam-diam ia mencermati perkataan malaikat nista satu itu.

"Benarkah, sensei?!" Tanya Issei dengan antusias.

"Tentu! Sekali kau sentuh maka dia akan membara!" Azazel mengepalkan tinjunya kelangit seperti mendapatkan semacam inspirasi.

Mendengar hal tersebut, Issei hanya bisa memukul tanah sembari menggerutu kesal. "Kuso! Kupikir aku sudah mengerti banyak soal Oppai! Tidak kusangka aku masih pemula! Kuso!" Air matanya mengalir hingga terjadi efek dramatis yang mengingatkan Naruto pada dua orang makhluk hijau Konoha.

Selagi mereka berbincang-bincang mesum, Kiba serta Gasper lebih memilih berendam dengan tenang hingga terdengar suara dari pemandian sebelah.

"Wah, punya Rias-san begitu besar. Lembut serta merah muda lagi!" Suara antusias seorang gadis yang Naruto yakin sebagai Asuna terdengar dari sebelah dan membuatnya menoleh langsung ke dinding pembatas tersebut.

"Hyan!~ jangan disentuh seperti itu Asuna-chan. Punyamu juga lembut dan besar." Balas suara yang Naruto kenal sebagai Rias.

"Ara, sepertinya Buchou sedang senang hari ini." Suara lain yang kedengarannya berasal dari mulu Akeno juga ikut memeriahkan suasana 'ero' tersebut.

"Surga di sebelah kita!..." Desis Naruto kepada Issei dan juga Azazel. Keduanya mengganguk dan segera beranjak dari kolam mengikuti Naruto yang terlebih dahulu berangkat dari tempatnya berendam.

Madara yang melihat ketiganya mau beraksi hanya bisa memperingatkan mereka. "Hey, aku tidak tanggung jawab kalau nanti mereka mengamuk." Namun ucapannya tidak ditanggapi oleh ketiga laki-laki yang libidonya sudah naik itu.

"Azazel, Issei. Aku duluan kalian jadi pijakkanku." Ujar Naruto dengan nada memerintah yang membuat Issei naik darah.

"Hey, kenapa mesti kamu dulu?!" Pemuda berambut coklat ini tidak terima melihat pemuda pirang itu terlebih dahulu naik. Namun, sudah terlanjur karena Naruto sudah menginjak telapak tangannya dan juga Azazel.

"Hey, maju sedikit dong! Terlalu berkabut! Tidak ada yang bisa kulihat." Protes Naruto sembari menajamkan penglihatannya mencoba mencari 'keindahan' yang tersembunyi itu.

Sementara itu, para gadis sedang asyik berbincang satu sama lain mengenai persiapan pertandingan mereka.

"Begitukah, jadi Asuna-chan menjadi knight Naruto-san?" Tanya Akeno sembari tersenyum melihat anak dari Kokabiel itu mengganguk pelan.

"Ya, karena itu marilah nanti kita saling menunjukkan kemampuan satu sama lain tanpa ragu-ragu." Balas Asuna dengan senyum mantapnya.

"Asuna-san, seperti apa Shiba Tatsuya itu?" Asia yang sedang memeluk lututnya tiba-tiba bertanya kepada perempuan berambut coklat panjang tadi dengan nada penasaran.

"Tatsuya-san? Aku juga belum begitu mengenalnya. Namun yang aku tahu dia berasal dari kalangan Exorcist sebelum bergabung dengan kami. aku hanya mengenal baik adiknya, Shiba Miyuki." Jawab Asuna sembari memicingkan matanya kepada Asia.

"Asia-chan, jangan bilang kau suka padanya." Goda pengguna Rapier itu yang sukses membuat mantam biarawati itu memerah wajahnya.

"T-tidak kok. Aku cuma merasa tidak asing saja dengannya." Jawab Asia dengan wajah memerah.

"Benarkah…" Namun, sebelum Asuna melanjutkan godaannya, tiba-tiba saja dinding pembatas kolam air panas tempat mereka berada roboh dan menampakkan tiga laki-laki mesum sedang tumpang tindih satu sama lainnya. Mereka tak lain adalah Azazel, Naruto, dan Issei yang sekarang sedang berkeringat dingin melihat para gadis menatap mereka layaknya target buruan.

Untunglah Rias dan lainnya masih berendam menggunakan handuk. Tak lama setelah itu, ketiga orang mesum tadi merasakan aura membunuh yang kuat menuju kea rah mereka.

"Ara-ara, tampaknya Issei-kun dan Azazel-san belum mengerti bagaimana tata karma itu ada." Akeno berdiri sembari memamerkan petir di tangannya yang membuatnya keduanya membeku di tempat.

"Hmm, tampaknya penyakit cabulmu kembali kambuh, Naruto-kun." Rias telah siap dengan energi iblisnya yang membuat pemuda pirang itu segera mencoba berbalik namun lehernya ditodong dengan pedang panjang yang rupanya milik Asuna.

"Kau tidak akan kemana-mana, Hentai." Ucap Asuna dengan nada membunuh.

"TIDAKKKK!" Pekik ketiganya membelah sunyinya malam. Madara yang mendengarnya hanya tertawa halus mendengarnya.

"Dasar pemula,seharusnya kalian memakai otak sedikit bukannya terburu nafsu." Desisnya pelan sambil mengedipkan mata kanannya ke arah pepohonan dekat kolam wanita di mana ada seekor burung yang melihat ke kolam wanita tersebut.

'Pakai bunshin kek'

Akhirnya, ketiganya melewati malam nista itu dengan siksaan dari para iblis muda yang sedang naik pitam tersebut.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Keesokan harinya,

"Madara, kenapa kita berada di hutan ini? Apa yang istimewa di wilayah Gremory ini?" Tanya Naruto dengan nada bingung saat Madara membangunkannya pagi hari sekali dan menyuruhnya bergegas untuk menyelinap menuju wilayah pelosok Gremory.

Madara hanya diam hingga mereka sampai di sebuah reruntuhan kuno yang tampak terbengkalai serta sudah lama sekali usianya.

"Tempat apa ini?" Tanya Naruto dengan nada bingung. Namun, Madara tidak memberikan jawaban dan memberikannya aba-aba untuk mengikutinya masuk ke dalam tempat tersebut.

Beberapa waktu mereka berjalan hingga akhirnya mereka sampai di bagian akhir tempat tersebut dan menemukan sebuah relik kuno dengan gambar-gambar wajah yang taka sing bagi Naruto terutama pada bagian mata mereka.

"I-ini…" Naruto terperangah saat melihat salah satu wajah orang yang menyerupai seseorang yang mereka berdua amat kenal, kaguya.

"Ya." Madara mengganguk pelan. "Kemungkinan besar negeri yang amat jauh yang dikatakan oleh Zetsu hitam kala itu merupakan dunia ini. Terlalu jauh sampai tak bisa dilukiskan dengan kata-kata." Jelas pria raven tersebut sembari mengelus dinding tadi.

"Kau benar. Rasanya aku sedikit mengerti kenapa Erebus mengirim kita ke sini. Dia mengirimkan kita untuk menjaga namun apa yang kita jaga rasanya lebih dari sebuah dunia." Ucap Naruto sambil mencoba melihat sekeliling relik tersebut.

"Ya, kau benar. Mungkin suatu hari nanti jawaban itu akan kita dapatkan." Ujar Madara sembari berjalan keluar dari tempat tersebut.

"Ya, mungkin saja begitu. Namun, sepertinya kita masuk terlalu jauh hingga tidak berada di wilayah yang aman lagi." Ujar Naruto yang melihat bahwa di atas kepalanya sudah muncul seekor naga berwarna ungu besar sedang berdiri di atas reruntuhan tempat mereka berada.

"Siapa kalian?! Beraninya menyusup ke wilayah ini!" Suaranya begitu berat dan membuat Naruto sedikit terkejut saat naga itu menembakkan bola api ke arah mereka berdua.

"Suiton: SuijinHekki!" Dengan cepat Naruto merapal segel dan memunculkan dinding air yang meluncur ke atas dari celah-celah keramik kuno lantai reruntuhan tersebut.

"Amaterasu!"

Brozzzhhhh!

Sebuah api hitamtiba-tiba saja muncul dari samping makhluk tersebut namun berhasil dihindari dengan mudah oleh naga tersebut.

"Hmm,sepertinya aku akan terlambat memenuhi janjiku kali ini." Gumam naga tersebut sambil mengepakkan sayapnya keudara dan bersiap menembakkan bola api berukuran super besar ke arah Naruto dan juga Madara.

Naruto yang melihatnya segera merapal segel dan membentuk sebuah jurus. "Mokuton: Kajukai Korin!" bersamaan dengan itu, Madara melompat ke udara dan mencoba menarik ekor naga tersebut ke tanah menggunakan Susano'o miliknya.

Bwush!

Api tersebut ditembakkan menghantam mereka berdua hingga sebuah ledakkan besar muncul dan menghancurkan area tersebut.

"Apakah mereka mati?" Gumam naga tersebut sambil terbang di sekitar wilayah tersebut mencoba memastikan.

Bwosh!

Angin kencang tiba-tiba saja muncul dan menampilkan Naruto dan Madara sedang dalam posisi bersiaga menatap naga tersebut dari bawah.

"Madara, tampaknya kita harus melumpuhkannya dulu agar bisa membuatnya mendengar kita." Pemuda pirang itu membuat sebuah segel tangan sederhana dan memunculkan bunshinnya.

"Ya, kau benar. Kadang tangan lebih baik dari mulut." Ujar Madara sambil melompat keudara sembari mengeluarkan selubung Susano'o miliknya.

"Hm, kalian mencoba melumpuhkanku? Coba saja kalau bisa." Ujar naga tersebut sambil melesat kea rah keduanya.

TBC

Sekian Chap 25nya hehehe. Semoga kalian menikmatinya. Tapi, jangan lupakan review hehehe. Karena review kalian merupakan sumber semangat saya dalam melanjutkan cerita ini hehehe. Tak lupa juga saya ucapkan terima kasih bagi para reviewer, para pemberi fav ataupun follow dan bagi kalian semua yang mau meluangkan waktu membaca karya gaje saya. Sekian dulu dan sampai jumpa.