Lesson 14

Ask before you assume (part one)


Song inspiration: Cigarettes After Sex - Nothing's gonna hurt you baby

.

Aku menyaksikan dengan senyum jari-jari kakiku yang mengintip di pasir. Sebelumnya aku selalu benci pantai, benci pasir dan benar-benar benci masuk ke air asin. Barangkali ketika itu aku tidak menyadari betapa cantik dan liarnya lautan. Lautan tidak lagi terasa menjengkelkan bagiku. Aku mengangkat kepalaku untuk melihat sekilas ombak pasang surut yang merangkak naik sedikit demi sedikit. Kugigit bibirku, berpikir tentang bagaimana Sehun memenangkan hatiku sebagaimana ombak menyapu daratan hingga aku sepenuhnya berada di bawah sihirnya.

Tawa kecil terdengar di sebelah kiriku. Aku menoleh menemukan Sehun yang mengarahkan kamera ponselnya padaku. Aku tersenyum dan bertanya. "Apa yang kau lakukan?"

"Memotretmu." Sehun terkekeh. "Kau tampak sangat menggemaskan terbungkus mantel besar itu..."

"Ini karena sangat dingin." Aku cemberut sementara berjalan mendekat.

"Aku tahu," katanya, menarik hidungku. "Hidungmu merah seperti hidung badut."

Aku menjulurkan lidah padanya sementara dia tertawa. Aku tidak punya alasan untuk mengeluh, angin dingin yang bertiup tidak akan bisa menyentuhku... Tidak ketika senyumnya yang secerah mentari membuatku merasa hangat di dalam...

"So, ini dia Luhan." Dia berkata, mengarahkan kamera pada wajahku. "Tengah berada di pantai, bergoyang-goyang di dalam mantel kebesarannya itu dan terlihat seperti kacang kecil lucu menggemaskan..."

Aku terkekeh dan membiarkannya melanjutkan.

"Tidak ada yang tahu dia di sini." Dia menyeringai. "Menghabiskan akhir pekan bersama Profesor Kimianya... Semua lapisan bahan yang menempel di tubuhnya akan dilepas ketika dia di rumah dan dia terlihat sangat seksi dalam posisi yang belum pernah dia lakukan sebelumnya saat tubuhnya digunakan oleh Profesor..."

Aku menggigit bibirku, menatap ke dalam mata gelap penuh gairahnya.

"Harusnya dia tahu." Sehun berkata dengan suara rendah. "Bahwa dia lebih dari indah... Profesornya hampir tidak bisa menahan diri setiap hari karena Luhan luar biasa menggairahkan!"

Aku memerah menyadari dia masih merekam wajahku.

"Tidak peduli berapa kali mereka bercinta." Sehun mencondongkan tubuhnya mendekat. "Itu tidak pernah cukup. Tidak akan pernah cukup... Profesornya terangsang lagi sekarang... Jadi apa yang akan Luhan lakukan?"

Aku tidak bisa menahan diri dari mencium bibir merah itu, begitu penuh dan tampan. Dia masih merekamku sementara aku menciumnya penuh hasrat. Aku bertanya-tanya apakah dia tahu bagaimana ciumannya menghembuskan kehidupan di dalam diriku, sebuah perasaan lebih dari nafsu, yang membuatku ingin terseret selama-lamanya...

"Luhan akan meminta Profesornya untuk menyetubuhinya lagi dan lagi sampai keduanya tidak lagi bisa cum," bisikku. "Bagaimana dengan itu?"

"Itu terdengar brilian." Dia menyeringai dan aku meleleh.

.

Sehun memanfaatkan lingkungan sekitar yang gelap dengan mencium dan menggerayangiku dalam perjalanan pulang. Aku menggeliat dalam pelukan eratnya sementara dia mengarahkanku pada jalan setapak yang aku asumsikan akan membawa kami kembali ke rumah pantai. Kudengar gerutuan tidak sabarnya ketika dia berusaha membuka pintu, berusaha bertahan dengan gigitan menggodaku pada lehernya. Bibirku menyusuri hingga bahunya, meninggalkan tanda merah kecil bersamaan dengan dia yang mendorongku melewati pintu yang akhirnya terbuka. Di dalam rumah lebih gelap; Lampu teras remang yang mengintip melalui jendela depan adalah satu-satunya sumber penerangan. Aku melihat matanya, mengilap dan mengantisipasi pergerakanku selanjutnya seolah aku adalah seekor rusa yang hendak ia mangsa. Dia tahu aku tidak akan melarikan diri. Rusa ini telah terperangkap kuat dalam jeratnya...

Kulepas mantelku, kemudian segera menghampirinya. Dia menangkapku dalam pelukannya sementara kakiku melingkari pinggangnya dan bibir kami bertemu lagi dan lagi dalam gairah yang menggila. Sejak pertama melakukannya kami tidak pernah menutup mata ketika kami berciuman dan aku menyukai itu. Aku suka bagaimana aku bisa melihat gairah yang berkembang dalam iris coklatnya yang terhubung denganku. Dia berusaha membawaku ke lantai atas, ke kamar tidur sehingga dia bisa menggagahiku di tempat tidur yang pegasnya sudah goyang. Kami meninggalkan kekacauan di sana setelah dua hari bercinta tanpa henti dan membuat tempat tidur malang itu tidak lagi memiliki harapan untuk bertahan lebih lama. Itu mungkin akan rusak sepenuhnya setelah malam ini usai. Percintaan bisa menjadi sangat merusak...

Dia tidak bisa melangkah lebih jauh, merasa seolah itu terlalu panjang untuk ia melangkah dengan mulutnya yang bekerja keluar masuk dalam mulutku; menjilat, menghisap dan menggigit bibirku serta memainkan lidahku dengan lidahnya. Aku merasakan punggungku menempel pada dinding dan tubuhnya yang kuat menekanku. Aku menurunkan kakiku dari pinggangnya, berpijak pada tangga sementara perlahan aku mengusap tengkuknya dan meraih jarinya yang memegang pinggangku erat kemudian melepasnya. Aku memutar tubuhnya sekuat tenaga hingga punggungnya yang kini menempel di dinding.

Mulut kami masih terus saling melumat ketika aku mendorongnya ke dinding. Aku mulai menggesekkan selangkangan kami bersama-sama, geramannya menggema pada lorong yang kosong. Kulepas kancing kemejanya kemudian membuangnya, kurasakan jari-jarinya menyusup pada helai rambutku dan ia menarikku lebih dekat padanya. Dia melakukan usaha sia-sia untuk menangkup wajahku dengan jari-jarinya karena aku meraih pergelangannya dengan cepat kemudian membantingnya menekan dinding, bibirku merangkak dengan sensual pada leher dan tulang selangkanya. Aku menatap dengan takjub pada bagaimana otot-ototnya terbentuk, bagaimana tubuhnya menggigil dan bibirnya mengeluarkan erangan memesona ketika dia membiarkanku memimpin. Aku melepas salah satu tangannya untuk bergerak ke bawah, meraih ereksinya dan membelainya di luar jins ketat yang dia pakai. Lidah menggodanya keluar, bermain-main dengan lidahku lagi ketika aku menurunkan jinsnya dan menggenggam batangnya yang tabal. Kubelai kejantanannya dengan gerakan sembarangan; kepalaku turun kemudian ke bawah untuk menjilati putingnya. Tanganku menahan tangannya yang menempel di dinding dengan kuat sementara kecepatan tanganku yang lain pada kejantanannya meningkat.

Aku menggoda ujung kejantanannya itu dengan ibu jariku dan aku bisa membaca matanya yang mengatakan bahwa dia putus asa ingin memasukkannya ke dalam mulutku. Aku melepaskan tangannya dan berlutut, masih mengelus kejantanannya sebelum kemudian mengarahkannya ke mulutku. Aku menggoda lingkaran ujung kejantanannya dengan lidahku, mendengar dia menggeram dalam kesenangan setelah itu. Dengan sayang dia mengusap rambutku sementara aku menjilatnya dari pangkal ke ujung, membasahinya dengan liurku sembari mempertahankan kontak mata kami. Dia menggeram, mendorong pinggulnya ke depan ketika aku menggerakkan kepalaku lebih cepat di penisnya. Dia mendorongnya dengan keras pada mulutku kemudian, menyaksikan mataku yang berair karena tenggorokan yang tercekik batang tebalnya.

Dia melepas kejantanannya dari mulutku setelah itu, menarik rambutku untuk berdiri kemudian mencium bibirku yang basah. Pakaian basah berkeringatku terlepas melewati kepalaku dan aku mengerang merasakan kulit panasnya bergesekkan langsung dengan kulitku.

"Fuck me." Aku memohon. "Aku siap untuk menjeritkan namamu..."

"Aku belum selesai," geramnya, mendorongku duduk pada anak tangga. Aku mendarat di atas pantatku, bertopang pada siku untuk membantuku tetap tegak ketika dia berlama-lama pada bibirku dan menciumku dalam. Bibirnya bergerak ke tengah tubuhku, berhenti di ujung celana jinsku. Dia menariknya dari kakiku kemudian, tangannya meluncur ke pantatku sementara dia menciumi perutku. Dia berlutut ketika dia melahap penisku, dan aku merintih dalam kesenangan. Kucengkeram rambutnya dalam genggamanku ketika dia menjilatiku tanpa ampun dan mengencangkan tenggorokannya meremas batangku dengan cara yang paling sempurna.

"Berbalik." Dia memerintahkan. Aku menungging sekarang, berpegangan pada anak tangga atas sebagai topangan sementara dia membuka selangkanganku lebar-lebar. Aku gemetar dalam antisipasi namun itu bahkan tidak bisa menyamai sensasi berdosa yang datang setelahnya. Perasaan itu begitu hebat, mulutnya terbuka dan lidahnya menusuk celahku... Lebih dalam dan lebih dalam...

Aku tidak bisa menahan tubuhku untuk tetap stabil, pantatku bergerak seirama dengan mulutnya, membantu ia mencapai lebih jauh dalam lubangku. Cumbuannya yang kotor dan ceroboh membuat suara tidak bermoral yang membuatku sulit untuk menahan diri. Sehun melahapku dengan sangat lapar dan aku ingin dia berhenti. Aku menginginkannya dalam diriku sebelum terlambat...

"Tempat tidur." Dia berkata serak, mencengkeram erat pinggangku untuk membantuku berdiri. Sambil berciuman dan saling membelai, akhirnya kami menuju kamar tidur. Jarinya satu per satu menembus lubangku sementara dia meredam jeritanku dalam ciumannya. Rasanya masih sangat sakit, meski tidak sesakit pertama kali. Sehun begitu berhati-hati, memastikan aku direnggangkan dengan baik sebelum dia menembusku.

"Kau menunggangiku malam ini." Dia menyeringai dan aku menelan ludah.

Itu adalah posisi yang memalukan karena aku tidak pernah suka dipertontonkan. Aku tahu Sehun selalu menekankan bagaimana dia menganggap tubuhku sangat menarik, namun tetap saja aku merasa tidak nyaman. Kami berdua naik ke tempat tidur, Sehun meraih kondom dan lube. Dia memakaikan kondom pada batang tegaknya dan menyerahkan botol lube padaku. Dengan malu-malu aku menuang cairan lengket itu di telapak tanganku dan mempersiapkan penis tertutup kondomnya untuk bisa kunaiki.

"A-apa kau—"

"Ya." Sehun menyeringai, tahu apa yang ada dalam pikiranku. "Aku yakin...ayo..."

Aku mengangguk, melumuri jariku dengan lube kemudian memasukkannya ke dalam lubangku sendiri. Aku terengah-engah ketika tiga jariku masuk dan itu bahkan tidak sebanding dengan seberapa besarnya Sehun. Aku membuka mata, Sehun menontonku dengan semacam keinginan yang terlihat bahkan dalam keremangan ruangan. Pegas tempat tidur berdecit di bawah sana ketika aku memosisikan diri di atas penis Sehun. Dia menarikku mendekat pada bibirnya, menciumku sementara dia mengarahkan miliknya pada kerutanku. Aku menarik napas dalam-dalam ketika dia masuk, oh sial dia mengisiku dengan sangat baik! Aku merasakan mataku berkaca-kaca karena rasa sakit dan kemudian jarinya dengan lembut mengusap pipiku.

"Kau sangat cantik." Dia tersenyum, berbaring di bawahku. Aku bertanya-tanya berapa banyak lagi aku bisa jatuh cinta padanya.

Pinggulnya ia dorong ke atas dan aku berusaha menangkap iramanya. Ini dimulai dengan lamban dan tenang, kami berdua masih berciuman dengan tangannya mengusap punggungku. Kecepatan kami mulai berubah tergesa-gesa ketika dia mendorong bahuku, membuatku duduk tegak di atas kejantanannya. Dia menumbuk sweet spotku lagi dan lagi dan aku menjeritkan namanya. Jariku mencengkeram pinggangnya erat sementara aku memantul dengan menggila, melanggar inti diriku sendiri karena tidak ada lagi bagian dari diriku yang waras. Tangannya meraih tanganku kemudian dan menahannya di belakang punggungku. Itu membuatku gila karena aku jadi tidak bisa menyentuhnya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari cengkeramannya yang kuat, melotot padanya dengan kesal agar dia melepaskanku, namun dia malah menumbukku lebih cepat dan lebih cepat. Penisnya meluncur keluar masuk dalam diriku dengan menyakitkan, menumbukku berulang-ulang di tempat yang sama yang membuatku tidak waras.

Satu tangannya memutuskan untuk menyiksaku lebih banyak, meraih penisku dan mengocoknya dengan cepat sementara cengkeraman tangannya yang lain di tanganku sama sekali tidak melonggar. Aku berantakan, merintih memohon ampun ketika tempat tidur berdecit tidak menyenangkan akibat entakkan keras kami. Erangan kami memenuhi udara, aku sudah dekat dan aku tahu dia pun demikian. Alisnya menukik, dia kesulitan bernapas selama beberapa detik luar biasa ketika dia menembakkan benih dalam kejantanannya, mengisi lubangku dan mengotorinya. Dia menggeram, suaranya yang menyebut namaku adalah titik yang memicuku. Tangannya melepas pergelangan tanganku ketika aku menyemburkan cairanku di atas dadanya. Tubuhku jatuh di atasnya kemudian... Bibirku tertuju pada bibirnya dan menciumnya seolah aku mungkin akan mati apabila tidak melakukan itu...

Dia membantuku berbaring di tempat tidur, menciumku kembali dengan lembut sementara kami berdua menarik napas. Kurasakan napasnya di wajahku serta bibirnya membelai bibirku... Aku merasakan rasa sakit yang dia tinggalkan di tubuhku, kulitku serta selangkanganku, gemetar dan menginginkannya lagi...

Segalanya begitu indah... Rasa laparnya, membangkitkan gairahku.

"Terima kasih," bisikku.

"Untuk?" Dia tersenyum.

"Untuk masuk ke dalam hidupku..." Aku memerah.

Dia terkekeh di telingaku dan aku berharap semoga semua malamku selalu berakhir dengan kebahagiaan...


.


Sehun memarkirkan motornya di gang belakang asrama. Kami kembali ke kota, bertentangan dengan keinginan kami berdua. Jika saja kegiatan perkuliahan tidak dimulai esok hari, aku tahu Sehun akan membujukku untuk tetap bersamanya di rumah pantai indah itu selama beberapa hari lagi.

Sehun menggenggam tanganku erat, tidak mau membiarkan aku pergi.

"Ikutlah ke tempatku," katanya, sembari menyipitkan mata. "Kenapa kau harus kembali ke asrama?"

"Kita sudah menghabiskan seminggu penuh bersama-sama." Aku terkekeh. Dia tampak sangat lucu, merajuk ingin aku ikut bersamanya.

"Lalu? Siapa bilang itu cukup untukku?" katanya tegas.

Butuh banyak usaha untuk membujuknya agar mau membiarkan aku pergi. Dia membuatku berjanji untuk datang besok malam dan menginap. Aku hanya bisa meringis dalam kegembiraan setelah dia menghujaniku dengan ciuman kemudian pergi dengan enggan.

Aku memasuki kamar asrama untuk menemukan kegelapan di sana, tidak ada jejak teman sekamarku. Entah kenapa ransel Baek terkemas di sudut ruangan sementara tempat tidurnya kosong. Aku menghela napas, menebak apa yang Baek rencanakan. Aku telah mengancam akan pindah kamar dan Baek memutuskan dialah yang akan pindah.

Sungguh menyedihkan bagiku untuk melihatnya pergi. Dia adalah sahabat terbaikku dan aku sangat merindukannya. Apa yang dia lakukan memang salah, namun bagaimana pun aku ikut andil menjadi alasan mengapa dia melakukan itu. Aku yang tidak memberitahunya tentang rahasia besar dalam hidupku. Aku terbiasa berbagi segalanya dengan Baekhyun dan wajar saja jika dia mencari tahu. Aku akan melakukan hal yang sama pula apabila aku berada di posisinya.

Aku tidak bisa tidur malam itu. Aku setengah berharap Baekhyun akan muncul, namun rupanya tidak.

Esok harinya tidaklah lebih baik. Baekhyun tidak datang pula di pagi hari, jadi aku memutuskan untuk menemuinya di Universitas. Aku mencari di seluruh halaman kampus, seorang dengan rambut berkilau tertentu yang merupakan sahabat terbaikku. Melihat ranselnya sudah terkemas dan siap pergi adalah sesuatu yang sangat mengejutkanku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi dari hidupku dan aku ingin berhenti bertengkar dengannya hanya karena hal kecil ini karena persahabatan kami jauh lebih berharga.

Aku menghabiskan hampir satu jam berusaha mencarinya di perpustakaan, tempat nongkrong favoritnya, hanya untuk menemukannya sendirian di kafetaria. Dia tidak terlihat baik, tampangnya suram. Dia cemberut menatap sarapannya tanpa sedikit pun memakannya. Aku ingin berlari ke arahnya dan memeluk ia, minta maaf dan membujuknya untuk mau jadi temanku lagi. Aku tidak tahu bagaimana dia akan bereaksi bagaimanapun, jadi aku memutuskan untuk memulainya dengan hati-hati.

"Hei," kataku setelah aku dekat dengannya.

Matanya melebar menatapku, air mata meluncur jatuh di sudut matanya.

"Han..." Dia berbisik dan aku tersenyum karena sepertinya dia tidak marah padaku.

Dengan pelan aku menempatkan cup coklat mousse di depannya sembari menatapnya penuh harap, berharap dia mengerti isyaratku. Aku melihat pandangannya melesat dari wajahku pada dessert itu berulang kali hingga dia meledak dalam tangis.

"Aku tidak ingin kau pergi ke mana pun," kataku, meraih tangannya. "Bisakah aku mendapatkanmu kembali sebagai sahabatku?"

Dia mengangguk cepat, melompat dari tempat duduknya dan meremasku dalam pelukannya.

Air mata terbentuk di mataku juga namun aku tersenyum. Aku sangat senang bisa mengenyahkan kemarahanku dan menghentikan sahabatku sebelum dia bisa menjauh lebih jauh lagi dariku.

.

"Maaf." Dia menangis. "Maafkan aku, Han,"

"Maafkan aku juga..." bisikku, membantu ia duduk di tempat tidurnya.

Kami menangis beberapa saat namun tak lama tangisan kami berubah menjadi tawa. Baekhyun dan aku pernah bertengkar karena hal-hal bodoh di masa lalu namun ini pasti menjadi alasan paling bodoh dari semua itu. Aku merasa jauh lebih baik dari minggu lalu. Aku memiliki Sehun dan sekarang aku juga memiliki Baekhyun. Hidupku tidak sempurna namun setidaknya dua orang yang sangat aku sayangi berada di sampingku. Aku tidak lagi merasa kesepian...

"Aku janji tidak akan melakukan hal seperti itu lagi," kata Baekhyun dengan tulus.

"Aku janji tidak akan menyimpan rahasia darimu lagi." Aku tersenyum, merangkul bahunya.

"Bagus!" katanya, menyeringai. "Karena aku punya banyak pertanyaan untukmu..."

"Oh Tuhan." Aku menghela napas, menatap ia yang menggosokkan kedua telapak tangannya.

Kami menghabiskan berjam-jam membicarakan hubunganku dengan Sehun. Sebelumnya aku pikir akan membosankan bagiku untuk memberitahu Baekhyun semuanya namun rupanya reaksi berharganya mendorongku untuk menceritakan lebih banyak.

"Tidak mungkin!" Dia tertawa ketika kukatakan bahwa Sehun adalah seorang yang menciumku di klub. "Bukankah sudah kukatakan bahwa kau akan menemuinya lagi?!"

Aku memutar mataku. Baekhyun membombardirku dengan lebih banyak pertanyaan, beberapa di antaranya lucu dan beberapa yang lain agak membuat risih.

"Apa kalian sudah melakukannya?" Dia bertanya, matanya melebar mengawasiku.

Aku bergeser sedikit dari tempatku duduk, masih merasakan rasa sakit dari shower sex yang kulakukan dengan Sehun sebelum meninggalkan rumah pantai kemarin. Aku menatapnya, berharap dia mengerti tanpa harus aku mengucapkan sepatah kata pun.

"Kalian sudah melakukannya!" Dia tersentak. "OMG berapa kali?!"

"Baek!" Aku melotot padanya untuk membuatnya diam.

Aku menyadari sahabatku bisa jadi super memalukan saat membahas seks. Kami tidak pernah benar-benar melakukan diskusi rinci tentang itu sebelumnya. Aneh rasanya ketika Baekhyun mulai menceritakan semua posisi yang dia tahu dan bertanya padaku mana yang sudah aku coba.

Kami tidak berhenti bicara sampai makan siang. Aku bodoh karena mengira aku tidak membutuhkan Baekhyun dalam hidupku. Dia telah menjadi temanku sejak TK. Tidak ada orang lain yang bisa memahamiku lebih baik, bahkan Sehun sekalipun. Baekhyun adalah sumber kehidupanku dan tanpanya, aku bisa berpura-pura bertahan hanya untuk kemudian gagal total pada akhirnya.

.

Keheningan menyelimuti kami namun kami tetap tersenyum. Kami duduk di sudut kafetaria yang dipenuhi mahasiswa.

"Kita punya kelas setelah ini." Baekhyun menghela napas dan aku juga ikut menghela napas.

Kusandarkan kepalaku di bahunya dan berbisik. "Baek, sekarang kau tahu segalanya tentang aku dan Sehun. Apa menurutmu dia juga mencintaiku?"

"Aku tidak berpikir dia akan mengejarmu dengan sebegitu putus asa jika dia tidak mencintaimu." Baekhyun meyakinkanku dengan senyum. "Atau bahkan melakukan sesuatu yang dia lakukan minggu lalu... Dia sangat peduli padamu..."

"Tapi..." Suaraku terhenti.

"Dia mengatakan padamu bahwa dia tidak menginginkan sebuah hubungan, dan itu mengganggumu..." Baekhyun menyelesaikan apa yang ingin aku katakan.

"Haruskah aku khawatir?" tanyaku tidak berdaya.

"Tidak." Baekhyun tersenyum. "Bisa kukatakan dia sudah berubah pikiran."

Aku tersenyum dan berharap dia benar.

.

Makan siang berubah menjadi begitu dramatis. Sahabatku yang lain terkejut melihatku duduk bersama Baekhyun dengan senyum di wajahku.

"Luhan!" Yixing memekik, mendorong nampan makan siangnya ke tangan Chanyeol kemudian memelukku erat. Aku terkejut. Kukira Yixing membenciku dengan segenap hatinya. Namun rupanya, anak itu bahkan menolak melepaskanku dari pelukannya, sampai Baekhyun memutar mata.

Aku tidak tahu betapa Yixing merindukanku hingga dia mengatakannya sendiri. Dia minta maaf dan begitu pun aku. Kami berdua idiot, bertengkar hanya karena sesuatu yang sangat konyol dan bukannya mencari jalan keluar untuk kesalahpahaman kami.

"Dia tidak bisa berhenti menangis tentangmu." Baekhyun mengejek.

"Bagaimana denganmu kalau begitu?" balas Yixing.

Aku terkekeh ketika dua sahabatku melotot pada satu sama lain tanpa berkedip. Chanyeol tersenyum dan mendorong tinjunya untuk menyenggolku.

"Hei." Kris menyapa. Dia berdiri di belakangku dan aku nyaris menyadari postur tingginya karena Yixing sudah membuatku tidak fokus karena pelukannya beberapa saat lalu.

"Hai." Aku tersenyum lemah. "Senang melihatmu,"

"Aku juga." Kris mengangguk.

"Apa kita baikkan?" tanyaku ragu.

"Tidak juga tapi aku akan berusaha," katanya dan rasa lega memenuhi jiwaku.

Rasanya seperti potongan-potongan hidupku akhirnya terjatuh bersama dan hampir menjadi lengkap kembali. Ada keterdiaman di sisi ayahku, tidak ada komunikasi apa pun. Aku belum siap menghadapinya namun aku tahu satu hari aku harus melakukannya.


.


520!