Judul : Twins; the Queenka and the Geek

Genre : Sisterhood, Romance, School Drama

Main Cast :

Yoon Jeonghan (Svt) fem

Choi Minki (Ren; Nuest) fem

Kim Jonghyun (JR; Nuest)

Hong Jisoo (Joshua; svt)

Choi Seungcheol (Scoups; svt)

Aron Kwak (Nuest)

Other Cast :

Other SVT member, Fem for uke

Other Nu'est Member

Special Guest : Pristin & Produce 101 s2 memberdeul

. . .

Hari-hari berlalu dengan penuh asmara dua sejoli yang masih hangat-hangatnya dalam fase percintaan mereka. Minki dan Jonghyun sampai geli sendiri melihat sahabat dan saudara mereka.

"Mereka seperti baru bisa pacaran." Komentar Jonghyun. Minki mengangguk.

"Benar kalau Jeonghan, tapi untuk Seungcheol ku rasa ia cukup berpengalaman." Kata Minki. Minki kemudian menoleh pada kekasihnya. "Oh Iya mulai hari ini kita akan jarang kencan malam lagi…"

Jonghyun tersenyum maklum. "Karena kau mengikuti les privat itu kan? Tidak apa-apa, aku lebih senang kau belajar di rumah."

"Tapi aku tidak suka belajar di rumah, aish!" Kesal Minki mengerucutkan bibirnya yang terlihat sangat lucu di mata Jonghyun.

"Itu untuk kebaikan mu sendiri sayang, kalau begitu aku pergi latihan dulu, semangat belajarnya!" Jonghyun lalu mengecup kening Minki membuat Minki bersemu.

"Semangat latihannya!" Balas Minki melambaikan tangan yang di balas senyuman manis Jonghyun. Jonghyun hilang dari pandangan, Minki mengedarkan pandangannya pada sekeliling taman belakang sekolah. Di sisi yang berlawanan ia melihat Jeonghan melambaikan tangannya pada Seungcheol yang mulai menaiki motor besarnya. Setelah Seungcheol tidak terlihat lagi, Jeonghan menghampiri Minki.

"Sudah pacarannya?" Tanya Jeonghan. Minki mengerutkan kening kemudian terkekeh geli.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, cih dasar, ayo, kasian supir kita sudah menunggu lama." Minki bangkit dari bangkunya dan menyampirkan ransel pink metallic nya.

Sesampainya di rumah, mereka segera membersihkan diri dan bersiap untuk les privat hari pertama mereka. Keduanya menunggu di perpustakaan pribadi milik mereka. Dulunya ini adalah ruang kerja mendiang ayah mereka yang beralih fungsi menjadi perpustakaan alias ruangan favorit Jeonghan.

Minki jarang sekali menginjakan kakinya ke ruangan ini. Sedangkan Jeonghan, sebagian waktu hidupnya ia habiskan di tempat ini. Entah sudah berapa ratus buku yang dibacanya. Bahkan saat ini pun ia menganggurkan Minki dan memilih fokus pada novel inggris klasik di tangannya. Minki melirik sebal buku tebal itu dari ujung matanya.

Tak lama pintu perpustakaan terbuka. Nana melongokkan kepalanya dan tersenyum lebar pada kedua putrinya. Lalu ia membuka lebar pintu, seorang pria bertubuh atletis bermata besar dan berhidung mancung. Pria itu memakai kemeja putih dan celana jeans biru juga sepatu kets keluaran terbaru. Ia tersenyum ke arah si kembar.

"Ini Shin Wonho, dia ini mahasiswa SNU, dan dia akan menjadi guru les kalian mulai hari ini." Ucap Nana mengenalkan pria itu.

Pria itu membungkuk sopan. "Annyeonghaseo, Shin Wonho imnida." Ucapnya. Minki dan Jeonghan tampak terpesona sesaat. Tetapi setelah itu mereka segera mengendalikan diri.

Jika Minki terpesona karena ketampanannya, Jeonghan justru terpesona karena ibunya mengatakan pria ini adalah mahasiswa SNU, Seoul National University, universitas yang hanya menerima siswa yang pintar dari yang ter-pintar. Peluang para siswa siswi ter-pintar di korea untuk bisa masuk di universitas itu hanya 1%. Universitas itu juga yang menjadi salah satu pilihan Jeonghan untuk berkuliah.

Pria itu menarik kursi yang ada di hadapan Jeonghan. Pria bernama Wonho itu terus memasang senyuman berlesung pipinya itu. Membuat si kembar menatapnya tidak berkedip.

"Bagaimana kalau kita mulai dengan perkenalan." Aduh suaranya maskulin banget. Batin Minki. Minki segera mengangguk dan ia menunduk sopan.

"Minki imnida~" ucap Minki melembut-lembutkan suara.

"Salam kenal Minki." Ucap Wonho masih dengan senyumannya. Ia lalu beralih pada Jeonghan. "Kau?"

Jeonghan membetulkan letak kacamatanya dan membungkuk sedikit. "Jeonghan." Jawabnya dengan nada yang sedikit datar.

"Kau pecinta klasik?" Tanyanya sambil melirik ke arah buku yang dipegang Jeonghan.

"Pada dasarnya aku membaca semua buku, tapi klasik tetap yang terbaik." Jawab Jeonghan. Wonho menatapnya takjub.

"Wah, jarang sekali menemukan gadis muda yang masih menikmati bacaan seperti ini, aku salut padamu, eum bagaimana kita bahas itu nanti dan kita mulai pelajarannya sekarang?" Ajaknya menatap Minki dan Jeonghan bergantian.

Jeonghan segera menutup novelnya dan Minki menaruh ponselnya. Sekarang mereka siap menerima ilmu dari guru privat tampan ini. Tampan dan cerdas, kombinasi sempurna. Pikir Jeonghan lalu ia segera menggelengkan kepala.

. . .

"Sungguh aku tidak menyangka, kau benar-benar gadis yang asik." Ucap Wonho memuji Jeonghan. Setelah satu setengah jam belajar bersama, Minki pamit karena terlalu lelah mencerna rumus-rumus fisika.

Tertinggal Wonho dan Jeonghan yang berbincang soal buku. Mereka berdiskusi soal novel klasik yang menurut mereka adalah karya sastra terbaik. Mereka rupanya memiliki banyak kesamaan yang membuat pembicaraan mereka mengalir begitu saja. Tanpa terasa mereka hampir menghabiskan waktu tiga jam ngobrol soal karya sastra dan universitas.

"Sudah hampir makan malam, aku harus segera pergi, sampai bertemu lagi, senang berkenalan denganmu." Ucap Wonho menepuk pundak Jeonghan bersahabat. Jeonghan mengantarnya sampai ke pintu depan.

"Baik, sampai berjumpa lagi saem." Ucap Jeonghan.

"Ah tua sekali rasanya dipanggil saem, bagaimana kalau kau panggil aku sunbae, atau… oppa?" Tawarnya.

Jeonghan tersenyum kikuk. Ia tidak pernah memanggil siapapun dengan sebutan intim itu. Rasanya agak aneh.

"Hahaha aku bercanda panggil sunbae saja, aku pergi dulu." Pamitnya melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Jeonghan melambaikan tangannya. Setelah mobil hilang dari halaman, Jeonghan berbalik masuk.

Ia sempat melirik kamar Minki sebelum masuk ke kamarnya sendiri. Minki ternyata sudah tidak sadarkan diri alias tertidur nyenyak. Jeonghan seperti biasa, ia menyelimuti Minki dan mematikan lampu kamar Minki kemudian pergi ke kamarnya sendiri.

Di kamar ia merasakan getaran-getaran aneh dari ranjangnya. Ia pun tersadar kalau sejak tadi ia meninggalkan ponselnya di bawah bantal. Jeonghan segera meraih ponselnya dan mengerenyit menatap puluhan panggilan tak terjawab dari Seungcheol.

Belum sempat Jeonghan ingin menelpon balik, ponselnya kembali berdering. Jeonghan segera mengangkatnya.

"Halo."

"Kenapa baru diangkat?" Sahut Seungcheol dengan nada bicara yang cukup tinggi sampai membuat Jeonghan tersentak.

"Maaf aku meninggalkan ponselku di kamar saat les," jawab Jeonghan. Seungcheol mendengus.

"Apa les privat selama 5 jam?" Sahutnya masih dengan nada bicara yang sama.

"Tidak, tapi-"

"Oh jangan bilang kau senang berlama-lama dengan gurumu yang kekar itu?" Jeonghan mengerenyitkan kening.

"Apa maksudmu choi?"

"Aku melihatnya. Aku melihatmu melambaikan tangan dan tersenyum manis padanya." Ada nada kecemburuan di sana. Jeonghan mengusap wajah.

"Kau mengintaiku?" Tanya Jeonghan dengan nada bicara yang sama. Giliran Seungcheol yang terdiam.

"Aku mengkhawatirkanmu karena kau tidak mengangkat telponku selama berjam-jam, makanya aku mendatangi rumahmu, tetapi aku malah melihat adegan menyebalkan itu, haruskah kau tersenyum seperti itu padanya? Dan di mana Minki? Kenapa hanya kau yang mengantarkannya sampai keluar segala?" Jeonghan memijat kening mendengar omelan panjang lebar Seungcheol yang masih berlanjut. Lama tak terdengar suara lagi, Jeonghan pun kembali berbicara.

"Sudah bicaranya?" Tanya Jeonghan dengan nada menyindir. Seungcheol hanya menghela napas. "Baiklah kalau sudah, selamat malam." Piip. Jeonghan putuskan sambungan.

Tak lama ponsel Jeonghan kembali berdering tetapi tidak dihiraukan Jeonghan. Sambil mengganti pakaiannya menjadi baju tidur, Jeonghan mengabaikan telepon itu. Merasa jengah, Jeonghan mematikan ponselnya. Tidak peduli lagi sudah, sikap cemburu Seungcheol ternyata berlebihan. Dan itu membuat Jeonghan kesal.

Di sisi lain Seungcheol menatap ponselnya dengan kesal. Ia hampir membanting ponselnya kalau saja ia tidak mengingat sudah berapa kali ia ganti ponsel tahun ini. Seungcheol pun hanya bisa menggeram kesal melampiaskan emosinya.

Benar-benar membakar hati, siapa sih laki-laki kekar itu, bisa-bisanya ia tersenyum pada Jeonghan seperti itu. Lihat, gara-gara laki-laki itu sekarang mereka bertengkar.

Seungcheol tidak bisa terima. Jeonghan miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya. Tidak seorang pun boleh tersenyum padanya ataupun mendapatkan senyumannya. Tidak ada. Hanya dirinya yang boleh.

. . .

Wajah Jeonghan hampir sepanjang hari menekuk. Bahkan hari ini ia tidak memiliki mood untuk berdandan. Jeonghan datang ke sekolah seperti dulu. Rambut di ikat satu dan memakai kacamata. Hampir sepanjang jalan juga ia terus mendecak kesal.

"Kalian bertengkar?" Tanya Minki saat ia sengaja mengajak Jeonghan ke toilet. Minki tahu ada yang tidak beres. Jeonghan tidak keluar kelas seharian ini. Ia sampai mengirim pesan hanya untuk pergi ke toilet. Dan Seungcheol diam seharian ini, wajahnya tidak enak di pandang. Situasi seperti ini tidak asing bagi Minki.

"Ntah." Jawab Jeonghan singkat. Minki menghela napas dan ia menahan Jeonghan.

"Ceritakan." Perintahnya memaksa. Jeonghan menghela napas. Kata demi kata meluncur dari bibir Jeonghan. Jeonghan menceritakan kronologis mengapa mereka bisa bertengkar.

"Ck kenapa kau tidak jelaskan padanya?" Tanya Minki lagi.

"Percuma, dia pasti tidak mengerti." Jawab Jeonghan mengeringkan tangan lalu pergi meninggalkan Minki.

Minki mendecak dan berderap menuju kelas. Ia menemukan Seungcheol sedang memandang sebal ponselnya lalu mendengus dan sesekali mengumpat. Minki memposisikan tubuhnya di samping Seungcheol.

"Aku tahu sekarang." Gumamnya membuat Seungcheol menoleh. Minki meliriknya sinis. "Sikapmu keterlaluan."

"Jeonghan yang mengatakannya?" Balas Seungcheol.

Minki memutar bola mata sebal. "Kau terlalu bodoh, hanya karena kau melihat apa yang kau lihat kau langsung menyimpulkan sesuatu dan menuduh seseorang sesuka hati? Begitu kah laki-laki? Astaga aku benar-benar tidak habis pikir."

Seungcheol menghela napas. "Ya ku akui kebodohanku yang cepat sekali cemburu, karena kebodohanku sekarang Jeonghan menjauhiku,"

"Lalu kau menyesal?" Seungcheol mengangguk. "Kalau menyesal kenapa kau tidak minta maaf?" Sindir Minki.

Seungcheol buang muka. "Dia saja tidak membalas pesanku." Ucapnya. Minki memukul kepalanya kesal.

"Datangi dia bodoh!" Seru Minki tidak sabar.

"Yak!" Seru Seungcheol sambil memegangi kepalanya. Minki malah memelototinya. Seungcheol mengerucutkan bibir. "A-aku tidak berani." Ucapnya pelan kemudian.

Minki mengangkat tangannya kembali untuk mengancam Seungcheol. Seungcheol langsung bangkit dengan kilat ketakutan. "Baiklah! Baiklah! Aku akan mendatangi nya! Eish." Seungcheol berderap kesal.

Minki geleng-geleng kepala melihat tingkah Seungcheol sambil bersedekap. "Baru pacaran seminggu sudah seperti itu, bagaimana kalau menikah? Cih, kekanak-kanakan sekali." Dumelnya.

. . .

Seungcheol memberanikan diri pergi ke kelas Jeonghan. Namun sampai disana ia tidak mendapati Jeonghan. Ia sudah mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas tetap tidak ada Jeonghan di sana. Ia hanya menemukan Jisoo yang tampak serius berdiskusi dengan teman-temannya yang lain. Salah satu temannya mengenali Seungcheol. Ia menepuk pundak Jisoo dan menunjuk ke arah pintu.

Jisoo mengernyitkan kening menatap Seungcheol, berpikir cukup lama sampai akhirnya ia menghampiri Seungcheol yang berdiri di ambang pintu. "Dimana Jeonghan?" tanya Seungcheol masih mengintip-intip kelas. Jisoo menatapnya sinis.

"Entahlah, mungkin dia di perpustakaan." ucap Jisoo malas. Seungcheol mengangguk mengerti.

"Terima kasih." ucapnya tanpa menatap mata Jisoo. Sebelum ia benar-benar pergi, Jisoo menahan nya. "Apa?" tanya Seungcheol tidak suka.

"Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi aku tidak suka kalau ternyata kau yang menyakiti hatinya." ucap Jisoo dengan nada mengancam. Seungcheol menghempas tangannya melepaskan tangan Jisoo.

"Bukan urusanmu." desis Seungcheol mengintimidasi. Kemudian Seungcheol berbalik pergi. Jisoo masih menatapnya dengan tatapan membunuh, hilang dari pandangan Jisoo mendengus. Seharian ini ia sama sekali tidak melihat senyuman di wajah Jeonghan. Jisoo menduga sudah pasti penyebabnya adalah Seungcheol. Hanya Seungcheol yang membuat Jeonghan menjadi aneh seminggu terakhir ini.

"Apa menurutmu dia laki-laki yang baik?" Jisoo menoleh pada Jihoon yang sejak tadi memperhatikannya dari balik buku yang sedang di bacanya. Jihoon menutup bukunya.

"Dia sebenarnya laki-laki yang baik hanya saja tidak bisa mengontrol emosinya." jawab Jihoon membetulkan letak kacamatanya. "Jangan resah, dan tidak perlu khawatir, kalau menurut penglihatanku, mereka tidak akan bertahan lama." Tambah Jihoon.

Jisoo menghela napas lega. Ia sebenarnya tidak pernah percaya dengan ramalan apapun. Apalagi ramalan Jihoon, meskipun Jihoon sahabatnya ia tetap tidak percaya walaupun sebagian besar apa yang di katakan Jihoon menjadi nyata. Tetapi karena kali ini ramalan Jihoon membuat hati kecilnya senang, ia ingin sedikit percaya dengan ramalan itu.

"Semoga." gumamnya berdiri menyendiri pintu kelas.

. . .

Aroma buku dan suasana yang sepi adalah kombinasi sempurna untuk Jeonghan bisa menenangkan dirinya. Ditangannya tersemat sebuah novel klasik yang kemarin ia baca. Jeonghan berniat menyelesaikan novel itu meskipun otaknya sama sekali tidak bisa fokus.

Pikirannya berkecamuk. Sejak semalam ia memikirkan bagaimana Seungcheol bisa bersikap berlebihan hanya karena melihat adegan kecil seperti itu lalu menuduhnya sembarangan. Jeonghan tersinggung sekaligus kesal.

Yang membuat Jeonghan semakin kesal, Seungcheol tidak terlihat berusaha untuk meminta maaf. Seakan-akan ia yang menunggu permintaan maaf Jeonghan.

Jeonghan jadi berpikir. Baru seminggu berpacaran saja, Seungcheol sudah bersikap posesif berlebihan seperti ini, bagaimana kalau sebulan? Setahun? Sepuluh tahun?

Jeonghan menggeleng. Tidak, mungkin karena baru seminggu itulah mengapa Seungcheol bersikap seperti itu. Rasa sayangnya masih pada fase membara. Tidak salah kalau Seungcheol takut kehilangan Jeonghan.

Mungkin kalau suatu ketika Jeonghan mendapati Seungcheol sedang tersenyum atau berbicara manis dengan gadis lain pun Jeonghan juga akan merasakan hal yang sama. Jeonghan menghela napas. Pikiran seperti ini membuatnya hanya bisa memandangi kata-kata yang tercetak dengan bahasa inggris itu tanpa memaknainya.

Waktu istirahat sudah hampir habis. Jeonghan pun menutup bukunya. Saat kakinya melangkah keluar pintu perpustakaan, Jeonghan terjingkat saat sebuah tangan tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya.

Jeonghan mengangkat kepala dan mendapati Seungcheol menatapnya serius. "Bisa kita bicara?" Tanya Seungcheol.

Jeonghan melirik tangan Seungcheol. Merasa tidak enak, Seungcheol melepas genggaman tangannya dari pergelangan tangan Jeonghan.

Setelah itu Jeonghan mundur selangkah dan berdehem pelan. "Bicara saja." Jawab Jeonghan dingin sambil bersedekap.

Diliriknya Seungcheol yang menatapnya dengan ekspresi bersalah. "Sikapku berlebihan… aku minta maaf." Sesalnya menunduk sedih dengan bibir sedikit dimajukan. Sekilas ia seperti anak anjing yang takut dimarahi oleh majikannya karena berbuat salah.

Apa dia mencoba untuk aegyo agar aku luluh? Batin Jeonghan yang tidak sadar mengakui betapa menggemaskannya Seungcheol dengan ekspresi seperti itu.

Tetapi Jeonghan mencoba mengendalikan dirinya. Jeonghan menurunkan tangannya. Ia pun mendengus. "Atas dasar apa aku harus memaafkanmu?" Tanya Jeonghan.

Seungcheol meliriknya. "Karena... kau mencintaiku?" jawab Seungcheol mengerjapkan matanya. Jeonghan menghela napas.

"tapi aku masih merasa sakit hati karena kau menuduhku seolah-olah aku ini gadis murahan, kurasa aku harus memikirkannya lagi." Ucap Jeonghan hendak berlalu meninggalkan Seungcheol.

Tapi Seungcheol menahannya lagi. "Jeonghan," nada suaranya berubah berat. Membuat Jeonghan mendadak merinding. Seungcheol melangkah mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya.

"Apa kau berpikir untuk meninggalkan ku? Lari dari ku? Ku harap kau tidak punya pikiran untuk itu, karena kau sudah menjadi milikku." Bisiknya dengan nada mengintimidasi. Jeonghan tercengang. Seungcheol seperti bukan Seungcheol. Bahkan tatapan tajam itu tidak pernah sekalipun ia lihat. Mendadak Jeonghan merasa takut. Namun ia tidak bisa melakukan apapun, Jeonghan membeku.

Melihat Jeonghan berhasil diam dan menatapnya takut. Seungcheol menyunggingkan senyumannya. Tangannya mengusap kepala Jeonghan dengan sayang.

"Jadi kau sudah pasti memaafkanku kan? Kau akan tetap bersamaku kan?" Ucapnya dengan nada yang lebih bersahabat. Namun Jeonghan masih belum sembuh dari rasa takut yang menyelimutinya.

Bel sekolah berbunyi. "Ayo kita ke kelas." Ajak Seungcheol menggenggam tangan Jeonghan. Jeonghan pasrah ketika ia digandeng oleh Seungcheol.

Dipandanginya bayangan laki-laki yang berhasil menjadi pacar pertamanya itu. Jeonghan tidak mengerti, kenapa orang ini mendadak berubah. Ataukah mungkin itu adalah dirinya yang sebenarnya? Firasat Jeonghan mulai memberikan sinyal yang tidak baik.

. . .

To be continue

. . .