Disclaimer: Harry Potter bukan milikku, tapi milik dari J.K. Rowlings

Warning: AU, Slash, OOC, Mpreg, Twin!Draco, typo, etc

Rating: M

Genre: Romance, Adventure

Pairing: DMHP, BZNL, OCHG, etc


CHASING LIBERTY

By

Sky


North Hill, Inggris Utara

Kalau ada seseorang yang mengatakan hari ini akan menjadi hari yang indah, Daphne akan memukul kepala orang itu lalu melemparnya ke St. Mungo. Sekarang ini seharusnya peperangan belum dimulai, namun kenyataan yang terjadi berbeda dengan apa yang mereka rencanakan. Dumbledore mengingkari perjanjiannya yang telah dibuat olehnya bersama Tom, penyerangan dilakukan satu jam lebih awal dari kesepakatan.

Gadis itu menarik dua anak panah yang ia pegang di tangan kanannya yang telah ia kaitkan dengan busur, dengan gerakan yang cepat anak itu menggumamkan sebuah mantra pengendali dan langsung dilepaskannya kedua anak panah itu. Sang anak panah pun melesat dan membidik jantung dari dua orang vampire dan membunuh mereka secara telak. Daphne tidak berjengit ketika darah dan sebagainya membanjiri tanah, maupun ia tidak peduli kalau jubahnya menjadi kotor setelah ini. Ada sebuah peperangan yang harus mereka menangkan daripada memikirkan masalah yang tidak penting.

Daphne merasa berterima kasih karena Perenelle berada di sisi mereka, pihak mereka bisa mengetahui kalau Dumbledore akan menyerang mereka lebih awal sehingga dengan pemberitahuan dari Perenelle (yang seorang seer) maka Tom bisa mengantisipasinya. Gadis itu mendongak ke atas, ia bisa melihat Antonio Dolohov menggunakan sapu terbang untuk menghalau musuh-musuh yang ada di udara, bahkan karena itu berbagai mantra yang tentunya sangat berbahaya saling beterbangan di sana-sini. Dan tidak sekali atau dua kali ia melihat para Dragonian membantu pihak mereka.

Perang ketiga dunia sihir memang lebih menakutkan daripada perang dunia yang pertama maupun kedua, pasalnya mereka yang terlibat bukan hanya para penyihir dari kedua belah pihak, namun para makhluk selain manusia pun juga mengikutinya. Sihir dan fisik adalah senjata yang digunakan, bahkan dari tempatnya berdiri Daphne bisa melihat Blaise menebas leher lawannya dan Draco serta Alex menghalau musuh untuk tidak mendekati manor utama.

"Ini semua kacau." Gumam gadis berambut pirang tersebut, ia mencabut tongkat sihir yang ia simpan di wand holster-nya dan melemparkan Protego kepada dirinya sendiri ketika ia merasakan mantra Cruciatus dilemparkan seseorang padanya. Gadis itu memutar dirinya dengan cepat, tongkat sihir ia pegang dengan erat dan kedua matanya menyipit ketika ia menemukan sosok Ginny Weasley berdiri dengan angkuh tidak jauh di belakangnya.

"Well… Well, si kecil Weasley ternyata ikut dalam perang juga." Komentar Daphne, ia melambaikan tongkat sihirnya ke kanan untuk menghilangkan mantra pelindung yang berwarna merah tersebut. Sebuah seringai tipis muncul di wajah cantik Daphne, ia tidak menyangka dirinya akan diberi kehormatan untuk melawan fangirl nomor satu dari Harry, oh… ia akan menceritakan pengalaman ini pada Harry nantinya.

"Greengrass, aku akan membunuhmu. Berani-beraninya kalian menculik Harry yang tidak bersalah dan memperalatnya seperti ini. Kembalikan dia padaku!" Teriak Ginny, ia melemparkan mantra pemotong kali ini kepada Daphne. "Dia adalah milikku!"

Putri pertama dari keluarga Grengrass hanya mengernyitkan dahi sebelum tubuhnya menunduk untuk menghindari serangan Ginny, dan dengan cepat ia pun menghindar lagi saat Ginny memanipulasi beberapa batuan yang ada di sekitarnya untuk menyerang gadis itu.

"Petricio!" Gumam Daphne, di depan tempatnya berdiri tiba-tiba muncul sebuah rajutan-rajutan benang tipis seperti sarang laba-laba. Benang-benang tersebut bertautan menjadi satu dan menangkap batuan yang dilemparkan Ginny padanya.

Jadi anak ini masih berpikiran kalau Harry kami culik, sebenarnya apa yang Dumbledore katakan pada mereka? Pikir Daphne. Kalau Ginny menginginkan duel di antara mereka berdua, maka ia akan meladeninya dengan senang hati.


Perang dunia ketiga adalah perang yang sangat dahsyat dibandingkan perang yang lainnya, dalam hitungan menit setelah tembakan pertama untuk menandakan penyerangan dimulai sudah banyak korban yang berjatuhan, baik itu dari pihak Tom maupun pihak Dumbledore. Satu jam setelah perang dimulai, tidak ada tanda-tanda akan berhentinya penyerangan dari kedua pihak, bahkan dari darat maupun udara pun penyerangan tidak ada habis-habisnya.

Kedua mata silver kebiruan milik Draco mengamati semua itu dalam diam, ia tidak bergeming bahkan ketika musuh mulai menyerangnya. Hanya dengan bantuan bayangan yang ia kuasai, mereka sudah terlempar karena tameng sihir yang Draco ciptakan menggunakan bayangannya. Pemuda berambut pirang platinum itu menyipitkan kedua matanya ketika ia melihat semuanya bertarung demi satu tujuan, yaitu kemenangan. Bahkan dari sejauh mata memandang Draco bisa melihat mayat-mayat berjatuhan, bersimbah darah yang mengotori tanah.

"Jumlah pasukan Dumbledore lebih banyak dari yang aku perkirakan." Gumam Alex, ia berjengit penuh jijik saat melihat pedangnya bersimbah darah korban yang barusan ia bunuh, lawan tentunya.

Draco memejamkan kedua matanya untuk beberapa saat sebelum dirinya menoleh ke arah kakak kembarnya. Ia tahu kalau ini adalah kali pertama Alex mengambil nyawa seseorang secara fisik (menggunakan pedang), tidak peduli kalau ia sangat mahir berpedang karena sebagai pureblood kemampuan menggunakan pedang sudah ia kuasai sejak kecil. Kebiasaan seorang penyihir pasti akan bergantung kepada tongkat sihir mereka, menggunakan sihir sehingga baik membunuh atau melakukan sesuatu yang sederhana pun akan terlihat begitu mudah tanpa harus mengeluarkan tenaga yang berlebih, terlebih lagi juga lebih bersih. Kita ambil contoh untuk membunuh, para penyihir cukup menggunakan Avada Kedavra dan saat sinar hijau yang keluar dari ujung tongkat sihir mereka mengenai korbannya, sang korban akan langsung tewas di tempat. Tanpa darah atau rasa sakit.

Dan Draco harus mengakui meski saat ini adalah pertama kali Alex menggunakan pedangnya dalam pertarungan yang sesungguhnya, kakak kembarnya tersebut sudah bisa mengontrol rasa takutnya dengan baik, tidak terkecuali pada rasa jijik saat menggesekkan ujung tajam pedangnya pada tubuh lawannya. Bibir Draco berkedut sedikit, rasanya sebuah senyum ingin terbentuk di ujung bibirnya namun pemuda itu menahannya karena ini bukanlah saat yang tepat.

"Kita memang kalah jumlah dari mereka. Bahkan dari apa yang kuperhitungkan jumlah pasukan kita hanya sepertiga jumlahnya dari pasukan Dumbledore." Jawab Draco.

Alex menoleh dengan begitu cepatnya untuk melihat Draco, "Apa! Kenapa tidak ada yang memberitahukannya padaku?!" Teriak Alex.

"Tidak ada gunanya, kurasa kita harus terima saja kalau pekerjaan kita untuk bertahan diri jauh lebih berat dari apa yang kau bayangkan."

"Cih, ini menyebalkan."

Draco memutar kedua bola matanya karena perkataan Alex. Apa yang ia katakan tadi memang benar, pekerjaan mereka untuk bertahan diri menjadi lebih berat. Setidaknya ia dan ayahnya memiliki pasukan yang bisa diandalkan dan berkompeten, kalah jumlah bukan berarti mereka akan kalah dalam segalanya. Pemuda itu men-summon pedangnya sendiri dan menangkapnya pada pegangan pedang tersebut dengan tangan kirinya. Kedua mata Draco dan Alex bertemu saat mereka merasakan gerakan mendadak dari kedua arah mereka berdua, tanpa melakukan komunikasi secara verbal keduanya pun langsung menghindar dari serangan wolf shifter yang sangat cepat.

"Bukan dari kelompok kita. Tribal dari Greyback berbeda dengan mereka." Gumam Alex, ia melompat menjauh ke belakang saat wolf shifter tersebut menggunakan cakar tajamnya untuk menyerang Alex.

"Ignis." Kata Draco dengan suara yang lirih. Keadaan sekitarnya yang tadi tidak ada apa-apa kini langsung dipenuhi api berwarna hitam yang membentuk lingkaran mengelilingi shifter yang menjadi lawannya.

Pemuda bermata silver kebiruan tersebut melirik ke arah shifter yang melolong ke arahnya, entah apa shifter tersebut bodoh atau memang terlalu bernafsu untuk mencabik-cabik tubuh Draco, ia langsung menerjang kobaran api hitam dari sihir Draco, menghiraukan rasa panas yang langsung membakar tubuhnya saat pertama kali sang shifter bersentuhan dengan api. Tanpa basa-basi lagi, Draco mengayunkan pedangnya dan ia langsung menebas leher dari sang shifter yang berlari ke arahnya dengan tubuh yang terbakar tersebut. Detik berikutnya lawan Draco tewas ditempat dengan tubuh terbakar dan kepala yang menggelinding di ujung pemuda itu, sungguh pemandangan yang sangat menjijikkan. Pemuda itu menggunakan api abadinya untuk membakar jasad dari sang shifter sampai tidak tersisa lagi, setelah melihat pekerjaannya sudah beres maka Draco pun menggumamkan finite untuk meredamkan lidah api yang tidak terkontrol.

Draco mendengus kecil ketika ia melihat kakak kembarnya juga sudah melakukan pekerjaannya sendiri, cipratan darah membanjiri ujung bawah jubah yang Alex kenakan. Meski mereka sudah melakukan pekerjaannya di sana, tapi masih banyak lagi yang harus mereka bereskan.

"Keuntungan sebagai seorang Mage, kau tidak memerlukan tongkat sihir lagi untuk melakukan sihir yang bersifat menyerang." Gumam Draco pada dirinya sendiri.

Alex berjalan menghampiri Draco, ia tidak lagi berjengit melihat darah yang menetes dari pedangnya maupun dari milik Draco, mungkin bisa dikatakan kalau ia sudah terbiasa dengan semua ini.

"Kurasa pekerjaan kita di sini sudah selesai, kau dan aku sudah menghalau mereka untuk tidak menyentuh manor. Ya… meskipun aku bisa melihat kalaupun mereka bisa melewati kita, mereka tidak akan bisa menembus pertahanan yang Lord Voldemort pasang." Kata Alex, kedua mata kelabunya menatap ke arah adiknya yang masih diam di tempat, tidak memberikan komentar apa-apa. "Hei, Draco.. kau tidak apa-apa?"

Draco tidak menjawab pertanyaan dari Alex untuk sementara waktu, malahan pemuda itu memegang dada kirinya dengan tangan kosongnya serta wajahnya mengisyaratkan kalau ia tengah berpikir begitu keras. Pemuda bermata silver kebiruan tersebut bisa merasakan degupan jantungnya begitu kencang, ada sesuatu yang tidak beres dan entah mengapa perasaan Draco menjadi tidak enak.

"Draco." Panggil Alex, kedua matanya mengisyaratkan kekhawatiran di sana.

Mendengar namanya dipanggil membuat Draco mengangkat dagunya, sehingga kedua matanya bisa bertemu dengan milik Alex.

"Kau yakin dirimu tidak apa-apa?" Tanya Alex untuk sekali lagi, ia mendekati sosok adiknya yang masih diam tersebut.

"Perasaanku tidak enak." Jawab Draco singkat, ia melihat ke samping dan kedua matanya menemukan sosok Daphne yang saat ini tengah berduel dengan seorang gadis berambut merah menyala dari tempat si kembar berdiri, kedua gadis itu berduel di tempat yang sedikit jauh dari tempat Draco namun ia masih bisa merasakan sihir keduanya. "Sesuatu akan terjadi."

Alex memutar kedua matanya ketika mendengar jawaban dari Draco. "Tentu saja sesuatu akan terjadi, kita berada di medan pertempuran, Draco."

"Bukan itu yang kumaksud, Alex. Entahlah, tapi instingku mengatakan sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan akan muncul."

Kali ini giliran Alex yang diam, ia menatap Draco lekat-lekat dan menimang-nimang perkataan itu. Dari apa yang ia dengar dari Blaise, insting yang dimiliki oleh Draco hampir selalu tepat, jarang meleset dari apa yang telah ia prediksikan. Sehingga bila Draco mengatakan sesuatu yang tidak terduga akan terjadi, maka mau tidak mau Alex harus mempercayainya, meski ia sendiri tidak yakin apa itu.

"Aku tidak melihat Dumbledore di sekitar sini, apa ini yang kau maksud? Apakah ia merencakan sesuatu dari balik layar sementara boneka-bonekanya menyerang kita secara langsung?" tanya Alex.

Draco yang sedari tadi memasang wajah dingin akhirnya menggeleng kepalanya. "Entahlah, kurasa itu salah satunya. Penyihir tua yang kau sebut sebagai kepala sekolah Hogwarts itu tidak bisa ditebak, bahkan Phinneas Black sendiri yang sering memperhatikan gerak-geriknya tidak bisa menerkanya." Komentar Draco.

"Phinneas Black? Maksudmu kepala sekolah Hogwarts dua generasi sebelum Dippet?" Tanya Alex yang penasaran, kedua alisnya bertautan ketika ia mengernyitkan dahinya. Dan ia bertambah semakin penasaran saat Draco memberikan anggukan sebagai jawaban positifnya. "Dan darimana kau tahu hal itu?"

"Aku pernah berbicara dengan Phinneas sendiri."

Kedua mata kelabu milik Alexander Malfoy terbelalak lebar saat dirinya mendapatkan jawaban yang mengejutkan seperti itu. Berbicara dengan Phinneas? Bukankah itu tidak mungkin karena setahu dirinya lukisan kakek buyut mereka hanya tergantung di Hogwarts dan Grimmauld Place. Apakah Draco pernah menyusup ke dalam kantor kepala sekolah? Rasanya yang ini tidak mungkin sebab itu tindakan bunuh diri, lalu menyusup ke manor lama Black rasanya juga tidak mungkin, mengingat tempat itu menjadi markas Order of the Phoenix.

Melihat Alex yang masih memberinya tatapan tidak percaya seperti itu membuat dirinya mau tidak mau menghela nafas panjang. Ia memberikan tatapan yang mengatakan 'Apa-kau-bodoh-karena-berpikir-demikian' kepada Alex, yang tentu saja diberi sambutan sebuah glare dari sang pewaris keluarga Malfoy tersebut.

"Sebelum ia meninggal, Phinneas membuat tiga buah lukisan dirinya yang bisa bergerak. Dua diantaranya seperti yang kau ketahui di pajang di kantor kepala sekolah Hogwarts dan di salah satu ruangan yang ada di Grimmauld Place. Aku berbicara dengan lukisan ketiga miliknya itu." Kata Draco yang menjelaskan aoa maksudnya tadi.

"Di mana lukisan yang ketiga berada?"

"Di salah satu manor Black yang ada di Milan. Aku menghabiskan waktu musim panasku di usia ketujuh di sana."

"Aku mengerti." Gumam Alex, ia baru ingat kalau adiknya ini menghabiskan waktu masa kecilnya di Italia. Entah apa alasan Tom menyuruh Draco untuk tinggal di negara itu, tidak ada yang tahu alasannya kecuali Tom sendiri.

Tapi harus Alex akui kalau perkataan Draco mengenai Dumbledore memang benar, penyihir tua itu terlalu licik untuk ukuran seorang Gryffindor. Biasanya seorang Gryffindor itu akan menggunakan kekuatan mereka dalam menyerang, bahkan strateginya pun tidak seperti ini. Rasanya mereka seperti melawan seorang Slytherin yang pintar memanipulasi orang-orang di sekitarnya.

Pernah Alex dan Theo berpendapat kalau mungkin saja Dumbledore itu adalah seorang Slytherin, tapi pendapat itu langsung ditepis keduanya jauh-jauh sebab tidak ada seorang Slytherin yang lebih berpihak kepada Gryffindor. Tapi kalau melihat bagaimana cara Dumbledore memanipulasi segalanya untuk memenuhi ambisi yang ia miliki, Alex jadi sedikit ragu akan "Dumbledore yang seorang Gryffindor", ini lebih tepat dengan "Dumbledore, seorang Slytherin berkedok Gryffindor" atau istilah populernya adalah serigala berbulu domba.

Gesekan hawa sihir yang sangat kuat di sekitar mereka langsung menyita perhatian si kembar Malfoy dengan cepatnya. Pergantian sihir ini tidak pernah Alex rasakan sebelumnya, begitu kuat dan menyesakkan, rasanya seperti ada seseorang yang mengambil pasokan oksigen dari udara. Alex tidak mengerti apa yang terjadi, tapi apapun itu ia berpikir kalau inilah yang mungkin dimaksud oleh Draco tadi.

Pergantian sihir yang sangat kuat semakin mereka rasakan. Kedua mata Draco menyipit sementara tangannya begitu erat memegang pedangnya, ia berharap skenario terburuk tidak akan terjadi saat ini.

"GRRRAAAAHHHHH!" Sebuah bunyi raungan yang begitu keras dan memekakkan telinga terdengar.

Tidak. Pikir Draco. Raungan binatang buas yang liar kembali terdengar lagi. Saat ia menoleh ke arah Alex, ia melihat wajah Alex menjadi lebih pucat dari biasanya. Draco tidak menyalahkannya, sebab apapun yang menciptakan raungan tadi adalah sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang Draco sendiri tidak yakin kalau mereka bisa mengalahkan makhluk itu.

Raungan itu terdengar untuk ketiga kalinya dalam hitungan detik berikutnya, tiba-tiba sebuah gempa bumi yang sangat hebat terjadi dan hal itu membuat keseimbangan Alex serta Draco menjadi goyah. Tanah yang tadinya diam seperti seorang bayi, tiba-tiba bergetar dengan penuh amarah dan dari sudut matanya Draco bisa melihat tempat itu retak dan terbelah menjadi dua.

Sesuatu yang bergerak dan sangat besar keluar dari dalam tanah yang terbelah tersebut. Dan detik berikutnya lidah api yang sangat panas menyembur dari dalam…. Bukan… tapi lidah api tersebut dimuntahkan oleh sesuatu yang keluar dari dalam tanah yang terbelah. Sesuatu yang besar dan mengerikan, membuat kedua mata silver kebiruan milik Draco terbelalak penuh keterkejutan dan rasa horror mulai menyelimuti hatinya.

"DEMI MERLIN… MAKHLUK APA ITU!" teriak Alex yang panik dan ketakutan, wajahnya berubah menjadi pucat pasti saat kepala makhluk itu menyembul dari tanah yang terbelah dan diikuti oleh tubuhnya yang sangat besar.

Merasakan kesadarannya kembali lagi, Draco menyipitkan kedua matanya. Tangan kanannya mengepal begitu erat, membuat buku-buku jarinya memutih, dan meski ekspresinya masih dingin namun seseorang dapat melihat kalau pemuda itu tengah diliputi emosi yang dinamakan kemarahan.

"Terkutuklah Dumbledore yang telah men-summon makhluk terkutuk ini dari tidurnya." Kata Draco yang geram.

Dan raungan yang memekakkan telinga pun terdengar untuk yang keempat kalinya, kali ini diiringi dengan gempa bumi yang lebih hebat lagi serta api lava yang menyembur di mana-mana.

SHIT! Teriak si kembar Malfoy dalam hati mereka, dan hentakan kuat dari ekor yang berbentuk kepala ular milik makhluk tadi membuat keduanya terjengkal jatuh ke jurang yang tepat berada di belakang mereka.


Hammond Manor, Inggris Utara

Narcissa menatap khawatir dari balik jendela tempatnya berdiri, entah mengapa sedari tadi perasaannya mengatakan sesuatu yang ganjil, ia berharap kedua puteranya baik-baik saja. Wanita yang terlihat begitu anggun tersebut mengembalikan gorden putih yang menutupi jendela tempatnya berdiri tertutup lagi dengan rapi. Mungkin saat ini dirinya berada di dalam Hammond Manor yang dilapisi ward pelindung sehingga harusnya ia merasa aman, namun perasaannya sebagai seorang ibu mengatakan kalau kedua puteranya tengah berada dalam bahaya, dan apabila melihat Alex serta Draco sendiri tengah berdiri di medan peperangan semakin membuat dirinya khawatir.

Sang Lady Malfoy tersebut membalikkan tubuhnya, tatapannya jatuh pada sosok malaikat yang terbaring tidak berdaya di atas tempat tidur. Perlahan Narcissa menghampiri sosok itu dan berdiri di tepi tempat tidur, kedua matanya yang begitu identik dengan milik putera keduanya melembut ketika melihat sosok dari seorang Harry Potter tertidur dengan damainya. Narcissa mengambil tempat duduk di sana.

Meski awalnya Narcissa merasa berat menerima kenyataan kalau anak dari James dan Lily Potter menjadi penganti dari putera keduanya, tapi seiring berjalannya waktu akhirnya Narcissa pun menyetujuinya. Bahkan dari apa yang ia dengar dari Alex, Draco sekarang menjadi sosok yang berbeda setelah bersama dengan Harry. Putera keduanya itu tadinya adalah orang yang sangat dingin dan kejam luar biasa, namun entah mengapa kepribadiannya sedikit berubah setelah ia bersama anak ini meski itu tidak sepenuhnya.

Kedua mata Narcissa berpindah dari sosok manis Harry dan ia melihat ke arah gundukan kecil yang ada di perut Harry. Tatapan wanita itu semakin melembut ketika ia mengingat fakta kalau dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang nenek, Harry Potter tengah hamil dengan bayi Draco. Dan fakta itu pun mau tidak mau membuat Narcissa merasa senang meski ia tidak pernah menunjukkannya secara langsung.

"Kurasa kau adalah pengaruh yang baik untuk Draco, Mr. Potter." Kata Narcissa pada Harry yang masih tertidur.

Ia mengerti alasan Draco membuat Harry tertidur seperti ini, puteranya tidak menginginkan Harry untuk bertempur dengan kondisinya yang sekarang. Memang kondisi Harry sangat rentan, apalagi mengingat kondisi badan anak ini memang sedikit tidak sehat beberapa hari ini. Narcissa rasa Draco melakukan hal yang benar untuk menaruh Harry dalam tidur, sehingga Harry tidak akan memberontak dan memaksa untuk keluar, apalagi Harry itu memang terkenal dengan keras kepalanya.

"Nimphy!" Panggil Narcissa, dan detik berikutnya seekor peri rumah muncul di hadapan Narcissa.

Peri rumah itu mengenakan sebuah pakaian berwarna putih dan terlihat begitu bagus, bahkan di depan pakaian yang dikenakannya terdapat simbol dari keluarga Hammond.

Tipikal Tristan. Pikir Narcissa, sedikit terhibur ketika mengingat bagaimana sifat teman lamanya yang juga ayah baptis dari putera keduanya tersebut.

"Nimphy datang sesuai panggilan dari Lady Malfoy. Apa yang bisa Nimphy lakukan untuk Lady Malfoy?" tanya peri rumah manor tersebut.

"Tolong buatkan aku secangkir teh hangat dengan perasan lemon di dalamnya." Jawab Narcissa.

Nimphy membungkukkan badannya yang pendek tersebut lalu mengangguk.

"Baiklah, Lady Malfoy, teh hangat untuk anda akan segera Nimphy buatkan." Ujar sang peri rumah sebelum ia menghilang dari hadapan Narcissa.

Sepeninggal Nimphy, Narcissa pun kembali memandangi sosok menantunya. Mungkin selama ini ia belum pernah mencoba untuk mengenal Harry, tapi kesempatan itu masih ada 'kan? Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Draco, mungkin Harry bisa membantunya kelak.

Sebuah bunyi ketukan dari luar kamar Draco terdengar, membuat Narcissa menatap pintu tersebut dengan heran. Seharusnya tidak ada siapapun di manor ini kecuali dirinya, Harry, dan para peri rumah, jadi siapa itu?

Merasa penasaran, Narcissa pun berdiri dari tempat duduknya dan ia berjalan menghampiri pintu. Dengan perlahan wanita yang juga ibu dari Alex dan Draco pun membuka pintu kamar tersebut, saat pintu sudah terbuka cukup lebar Narcissa menemukan sosok Mundungus Fletcher yang berdiri di depan pintu sambil membawa nampan yang di atasnya terdapat sebuah cangkir yang berisi teh hangat.

"Fletcher, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Narcissa sedikit curiga.

Mundungus Fletcher adalah orang dalam Voldemort yang bertugas untuk memata-matai Dumbledore. Seharusnya pria bertubuh pendek ini tengah ada di medan perang bersama dengan lainnya, dan fakta kalau ia berada di dalam manor sambil membawa sebuah nampan tentu membuat Narcissa penasaran.

"Maafkan saya, Lady Malfoy. Tapi Lord Voldemort menyuruh saya untuk tinggal di sini, dia mengatakan untuk membantu anda mengawasi manor ini serta Harry Potter." Ujar Mundungus dengan senyum kecil yang ramah di wajahnya.

"Lord Voldemort menyuruhmu begitu? Baiklah, lalu mengapa kau membawa nampan berisi segelas teh hangat?" tanya Narcissa lagi.

Laki-laki berubuh pendek dari Narcissa masuk ke dalam kamar tersebut setelah Narcissa mengijinkannya. Narcissa melihat Mundungus berjalan ke arah tempat duduk yang ada di ruangan besar tersebut dan meletakkan secangkir teh yang ia bawa tadi di atas tatakannya di meja.

"Tadi saya tidak sengaja melihat Nimphy membuatkan anda teh, karena saya sedang bosan makanya saya menawarkan diri untuk membawakan teh ini ke anda." Jawab Mundungus.

Narcissa mengangguk mengerti, tapi ia heran mengapa seorang penyihir mau menolong peri rumah untuk melakukan pekerjaannya. Tapi mengingat Mundungus adalah orang dalam dan salah satu dari pelahap maut, maka ia pun mempercayainya.

"Terima kasih kalau begitu." Ujar Narcissa dengan senyum kecil di wajah cantiknya. "Letakkan saja di meja sana."

"Sama-sama, Lady Malfoy." Jawab Mundungus, ia membungkuk seperti seorang butler ketika sang lady memberikan ucapan terima kasih padanya. "Kalau begitu saya keluar dulu, silakan nikmati teh hangatnya."

Narcissa tersenyum kecil, ia pun mengambil tempat duduk di atas sofa dengan nyaman sebelum mengambil cangkir teh dari tatakannya. Asap putih yang menandakan betapa hangatnya teh itu sedikit mengepul, Narcissa pun akhirnya menyeruput teh yang nikmat tersebut. Rasanya begitu hangat dan nyaman, bahkan rasa stress yang ia rasakan beberapa hari ini langsung hilang begitu saja. Wanita itu meminum tehnya lagi sampai teh yang ada di dalam cangkir tersebut tinggal setengahnya, namun pada hirupan yang kedua tiba-tiba ia merasakan dadanya sesak dan kepalanya pening.

PRANG…. Cangkir yang dipegang oleh Narcissa jatuh ke lantai dan pecah, menumpahkan isinya ke lantai. Narcissa merasakan kesadarannya semakin memburuk, ada satu kalimat yang ada di pikirannya 'Tehnya sudah diracuni'.

Wanita itu berdiri dengan cepatnya, ia menoleh ke arah Mundungus yang masih berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan, namun laki-laki bertubuh pendek itu tidaklah berdiri seorang diri sebab di samping Mundungus telah berdiri seorang laki-laki yang sangat Narcissa kenal.

"Weasley!" Ujar Narcissa, kedua matanya menyipit penuh amarah sementara nafasnya semakin tersengal-sengal. Pandangan Narcissa terasa begitu kabur dan detik berikutnya tubuh sang Lady pun jatuh dan tertidur tepat di atas sofa.

Ron Weasley menyeringai kecil melihat tubuh Lady Malfoy jatuh dan tidak sadarkan diri. Pemuda berambut merah itu melirik ke arah Mundungus dengan senang, rencana yang Dumbledore buat ternyata berjalan dengan lancar tanpa ada ganjalan sedikit pun. Awalnya Ron protes ketika kepala sekolahnya mengatakan ia tidak terjun ke medan peperangan, padahal Ron ingin menghajar Alex Malfoy dengan tangannya namun setelah mendengarkan penjelasan dari Dumbledore maka ia pun menyetujuinya.

Anak laki-laki termuda dari keluarga Weasley itu pun masuk ke dalam kamar yang besar itu dengan tenang, ada perasaan cemburu karena ia tidak bisa memiliki tempat supermewah seperti ini namun ia segera mungkin menepisnya sebab setelah pihak mereka menang, ia pasti akan mendapat emas yang banyak dan menjadi orang kaya. Ron berjalan mendekat tempat tidur besar yang ada di sudut ruangan, di sana ia bisa melihat sosok mantan teman baiknya (ia tidak bisa mengatakan mantan teman baik kepada Harry sebenarnya, karena bagaimana pun juga Dumbledore membayarnya untuk berteman dengan Harry). Didekatinya tubuh itu dan Ron merasakan nafasnya tercekat ketika mata biru Ron menatap langaung sosok Harry untuk yang pertama kalinya dalam beberapa minggu ini. Beberapa minggu mereka tidak bertemu dan sosok Harry berubah menjadi…. Menjadi orang yang menarik seperti ini.

Ron menelan ludahnya sendiri, Harry begitu menarik dengan tubuhnya yang kecil itu. Tidak heran kalau pihak kegelapan menahan Harry seperti ini, pasti ia dijadikan pemuas nafsu mereka, seperti itulah yang dipikirkan Ron. Pemuda berambut merah itu membelai pipi halus Harry, ia bisa merasakan tekstur yang sempurna dari wajah Harry bahkan bibir pink-nya saja terlihat menggoda, membuat Ron menjadi ingin menciumnya dan mencicipi tubuh indah milik mantan sahabatnya. Mungkin Dumbledore nanti mengijinkannya untuk memiliki tubuh yang seksi ini, kehilangan Hermione pun sekarang ini bukanlah hal yang berat untuk Ron. Bayangan dirinya menyentuh tubuh Harry dan merengkuhnya pun membuat nafsu pemuda itu semakin tinggi, kelihatannya ia tidak sadar kalau dirinya telah terkena charm seraphine yang Harry miliki.

Sebuah deheman dari belakang membuyarkan fantasi pervert yang dimiliki oleh Ron.

"Weasley, kita harus membawa Potter ke Dumbledore segera. Ingat misi kita!" Ujar Mundungus dengan suara kesal.

"Aku tahu, kau tidak perlu memberitahuku lagi." Jawab Ron yang sama kesalnya dengan Mundungus.

Pemuda itu menyibakkan selimut yang menyelimuti tubuh Harry dan tanpa mengatakan apa-apa lagi ia pun menggendong Harry di kedua tangannya, tubuh mantan sahabatnya itu bahkan tidak bisa dikatakan berat, terlalu ringan malah. Ia pun berjalan mendekati Mundungus dan detik berikutnya mereka berdua bersama Harry yang ada di gendongan Ron pun keluar dari kamar, meninggalkan Narcissa yang masih tidak sadarkan diri di atas sofa.

Keduanya berjalan menuju ruang tengah dan berhenti tepat di depan perapian floo. Mundungus mengambil bubuk floo dari dalam sakunya.

"Aku akan melemparkan bubuk ini untukmu, kau pergi dulu saja dan aku akan menyusulmu setelahnya." Kata Mundungus.

"Baiklah." Jawab Ron singkat, ia pun kini berdiri di hadapan perapian dan tidak lama kemudian Mundungus melemparkan bubuk floo ke arah Ron sambil meneriakkan 'Grimmauld Place' dan detik berikutnya Ron dengan Harry pun menghilang dari hadapannya.

Setelah Mundungus melakukan itu, ia pun juga melakukan hal yang sama pada dirinya, meninggalkan Hammond Manor. Misi yang diberikan Dumbledore adalah mengajak Ron Weasley menyelinap ke dalam Hammond Manor untuk menculik Harry, dan ternyata informasi yang Mundungus berikan kepada Dumbledore bermanfaat juga. Laki-laki bertubuh pendek tersebut tidak sabar untuk menerima emas yang Dumbledore janjikan untuknya karena ia berhasil menculik Harry Potter.


AN: Terima kasih sudah mampir dan membaca

Author: Sky