Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto.
A Way
o
o
o
o
o
Chapter 25: A Way To An End
Pengkhianatan selalu menyisakan dendam, apalagi disertai dengan penipuan. Seperti itulah pandangan Danzo mengenai keponakannya sendiri. Kandidat perdana menteri itu sedang mengamati Sai di tengah pertemuan keluarga, di mana Sai seperti tidak menganggap bahwa segala pengkhianatannya pernah ia lakukan. Di sisi lain, ada perasaan takut menyeruak dari balik kerasnya amarah yang Danzo rasakan. Ia menyadari bahwa Sai telah mengetahui banyak hal. Terlalu jauh.
Danzo hanya dapat memandangi punggung Sai yang kian mengecil ketika ia meninggalkan kediaman keluarga Shimura malam itu. Ia tahu keponakannya sudah siap dengan segala risiko karena sudah berani bermain-main dengan si raksasa, dalang dari semua kericuhan yang ada. Jika ia tak salah mengartikan, ucapan pamit Sai seperti menyiratkan kalimat terakhir, seakan esok ia akan pergi sangat jauh. Mungkin Sai sudah menyadari bahwa bahaya mengancam dirinya.
Tepat satu jam setelah perginya Sai, Danzo terduduk lemas di kursi goyang milik mendiang kakeknya. Pesan yang dikirimkan oleh Torune sangat mengguncang mentalnya. Sama halnya dengan Danzo, di akhir kalimat pesan Torune, calon kepala kepolisian negara itu juga mempertanyakan apakah mereka sudah berurusan dengan orang yang salah.
'Maaf, aku terpaksa mencelakai keponakanmu. Aku sungguh tak punya pilihan. Kuharap ia masih memiliki kesempatan dan tidak menyusul keponakanku.'
Perlahan tapi pasti, Danzo dapat merasakan seperti ada sebuah tangan yang begitu besar meremas jantungnya tanpa ampun. Tak sanggup lagi ia tanggung beban ini. Ia tak dapat menipu diri sendiri; bahwa ia sangat menyayangi keponakan yang selalu ia banggakan karena kecerdasannya. Malam itu, ia tersungkur tak sadarkan diri, membuat seluruh keluarga Shimura kalang kabut.
XxX
Naruto dan Karin duduk terpaku di sofa ruang tamu rumah Sakura sambil memandangi si pemilik rumah yang mondar-mandir. Sang pengacara muda sangat gelisah sebab tak satu pun pesan maupun panggilannya dijawab oleh Sai. Di detik-detik menegangkan itu, entah mengapa firasatnya sangat buruk dan pikirannya tertuju pada Danzo. Kemarin, rekannya itu memberitahu bahwa ia akan menghadiri rapat keluarga besar Shimura.
Sakura tahu, Sai pasti bertemu dengan Danzo yang kadung marah besar akibat pengkhianatan yang ia lakukan dengan menjadi mata-mata. Ia belum lupa kalau Danzo adalah boneka milik si dalang yang masih berkeliaran bebas. Bukan Madara. Madara tak mungkin melakukannya sebab ia masih di dalam sel tahanan. Ia tak dapat menekan rasa marah yang ia tujukan pada dirinya sendiri saat ia merasa tidak berdaya untuk berbicara dengan Madara. Kode etik profesi melarangnya melakukan hal itu; kode etik yang ia tanggung dengan status hukumnya dan Madara. Madara adalah tergugat dan terdakwa, sementara Sakura adalah kuasa penggugat. Tak ada jalan.
Ia sangat membutuhkan Sai sebelum sidang dilanjutkan esok hari, setelah tiga hari berselang dari sidang sebelumnya. Ketika suara jejak-jejak kaki terdengar, ia pun merasa lega dan berharap bahwa Sai-lah yang datang, namun semuanya meleset. Itachi dan timnya yang datang dengan raut wajah serius.
"Aku tak akan berbasa-basi," katanya. "Shimura Sai sedang tergeletak di rumah sakit dan belum melewati masa kritis."
Ketiga pasang mata membulat sempurna. Karin sudah menjambaki rambutnya, sedangkan Naruto terperanjat hingga berdiri dari tempat duduk.
"Bagaimana bisa?" desis Sakura.
"Dugaan sementara adalah kecelakaan. Salah satu anak buahku yang menerima panggilan seseorang yang melaporkan kejadian itu," jawab Itachi.
Kini, terjawablah semua prasangka dan kekhawatiran Sakura. Tak ada yang bisa mencegah kesesakan yang ia rasakan hingga paru-parunya kembang kempis. Ia menggeleng kuat-kuat agar dapat mengikis rasa syoknya.
"Dengar, Sakura! Aku minta agar kau tetap melaksanakan tugasmu, besok Ino akan hadir sebagai saksi. Sementara ini, ia masih disembunyikan di rumahku. Tak akan ada yang berani menjamahnya di sana," ujar Itachi.
"Lalu, kau?" tanya Sakura.
"Aku akan menahan pelakunya. Dengar, apa pun yang terjadi nanti, kuharap kau tidak akan mundur," jawab Itachi.
"Apa maksudmu?" Naruto menyela.
"Tidak ... ." Sakura tersungkur lemas. "Jangan lakukan apa pun! Berhentilah, kumohon! Kita hentikan saja semuanya."
Dengan lembut, Itachi berjongkok dan memegangi bahu kekasihnya. Ia tatap wanita tercintanya yang masih menunduk untuk menyembunyikan air mata.
"Jauh sebelum aku menjadi diriku sekarang, aku telah disumpah untuk melaksanakan tanggung jawabku. Bukankah kau juga begitu?" katanya mulai menjelaskan. "Aku tidak ingin berakhir menjadi pengecut. Jadi, apa pun nanti, tetaplah menjadi seorang pengacara yang bisa diandalkan. Bisakah kau mengabulkan harapanku ini?"
Akhirnya, Sakura mengangkat wajahnya.
"Bagaimana pun juga, berjanjilah kalau kau akan menjaga diri dan kembalilah secepatnya," pinta Sakura.
"Pasti."
Derai air matanya membawa Itachi ke dalam rasa takut, sejujurnya. Namun, ia tak bisa mundur sekarang.
"Jadi, siapa pelakunya?"
Itachi tak sempat menjawab pertanyaan sang kekasih karena ponsel pria itu berdering. Sakura menduga bahwa salah satu anak buah Itachi yang menelepon sebab pria itu sontak berdiri, lalu meninggalkan mereka setelah mengecup bibir Sakura dengan penuh perasaan. Seakan itu adalah kecupan terakhirnya. Sakura tak suka dengan ini.
Naruto dan Karin perlahan mendekatinya, lalu memeluknya bersama-sama. Mereka berharap bahwa dekapan mereka cukup untuk meredakan getar tubuh Sakura yang tak terkendali.
Andai ... andai Shino masih hidup, maka semua akan lebih mudah karena ia juga merupakan saksi kunci, atau mungkin malah saksi yang bisa menjadi tersangka. Namun, sang pelaku selalu tahu siapa yang harus ia habisi terlebih dahulu dan setelah ini mungkin Itachi yang akan ia lenyapkan.
XxX
Untuk pertama kalinya, Sakura tidak dapat berkonsentrasi di tengah persidangan. Hal itu disebabkan oleh absennya Itachi. Tak ada kabar, tak ada tanda-tanda bahwa ia baik-baik saja. Mengenaskan. Padahal, sidang ini akan menjadi puncak sekaligus jalan penyelesaian utama, namun sepertinya ia tidak akan melakukannya dengan maksimal.
Sakura sangat ketakutan. Saat persidangan memasuki masa rehat, Fugaku yang tak disangka-sangka hadir di sana memberinya kata-kata penyemangat. Sebagai ayah, Fugaku memang merasakan ketakutan yang sama, atau bahkan lebih, namun sebagai seorang polisi, ia telah menyadari risiko profesi yang harus ditanggung oleh semua polisi. Itachi tidak terkecuali dan apa pun itu, mereka semua harus siap.
Kenyataan bahwa ia masuk ke ruang persidangan dan menanyai Madara dengan tubuh gemetar membuat Obito terheran. Obito tahu bahwa ada yang salah dengan diri Sakura dan mungkin ada yang tidak beres dari semuanya. Sebagai pengacara, ia pun merasa bodoh sejak Madara sulit diajak berkomunikasi. Berkomunikasi dengan jujur. Ia tak tahu apa yang harus dibela dari seorang Madara jika pria tua itu sendiri tampak menutupi banyak hal.
Dan, Obito tahu bahwa Sakura sudah kelelahan. Wajah pucat wanita itu kian pasi seiring matahari yang merangkak ke barat. Sakura jelas sedang mempertaruhkan sesuatu yang besar. Pria itu terus mengamati Sakura sampai waktu di mana lawannya tersebut menghela napas berat.
"Saya akan menghadirkan saksi kunci dari kasus ini, Yang Mulia," katanya.
Tak ada yang tak terkejut saat melihat Uchiha Ino memasuki ruang persidangan. Ia datang didampingi oleh sang suami dan seorang petugas wanita. Sejenak, rasa haru dan rindu sama-sama dilemparkan oleh kedua bersahabat itu. Sakura dan Ino. Rasanya seperti telah beberapa windu mereka tidak bertemu yang benar-benar bertemu. Sakura menangis lega saat didapatinya kehidupan di mata sang sahabat. Ino telah kembali.
Mifune pun mempersilakan jaksa penuntut untuk menanyainya berbagai hal, namun rasa trauma masih bercokol di hatinya. Ia bungkam bahkan ketika Obito diberi kesempatan untuk bertanya. Wanita itu hanya bergetar dan menjawab sepenggal-sepenggal tanpa menjelaskan secara terang.
"Yang Mulia," sela Sakura. "Izinkah saya untuk berbicara dengan klienku."
Mifune tampak berpikir sejenak sebelum mengulurkan tangan untuk mempersilakan Sakura melakukan apa yang ia mau. Maka, dengan langkah mantap, Sakura berdiri dan berjalan mendekati Ino. Keduanya berdiri bertatapan; Ino yang sambil meremas pinggiran podium saksi dan Sakura yang lurus menatapnya.
"Ino," bisiknya saat keduanya berdekatan. "Itachi sedang berada di luar sana untuk menangkap pelaku yang sebenarnya. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padanya, tapi ... jika aku harus kehilangannya ... ." Sakura mulai terisak. "Jika aku memang harus kehilangannya, maka izinkan aku untuk melihat senyum terakhirnya, senyuman bangga karena dia tidak gagal dalam bertugas. Jadi, bisakah kau kalahkan ketakutanmu demi permohonanku ... Ino?"
Seketika, pundak Ino naik turun dengan ritme tak beraturan. Ia menangis kesakitan hingga tak dapat mengeluarkan suara. Akhirnya, ia mengangguk, lalu menatap Mifune. Keraguan dan ketakutannya seakan lenyap. Sudah cukup baginya untuk bertindak tidak adil dengan kebungkamannya.
"Yang Mulia," ia mulai berkata-kata dan nada bicaranya sama sekali berbeda dengan sebelumnya. "Saya bersumpah demi nama Tuhan dan demi orang-orang yang saya cintai, demi mendiang anak saya, bahwa saya memberikan kesaksian sebagaimana kenyataannya. Jika kesaksian saya palsu, maka saya siap dengan segala hukuman yang akan dijatuhkan kepada saya."
x
x
x
10 Juli 2016, pukul 18.15
Uchiha Ino bersenandung pelan seusainya ia berbelanja dan menutup telepon dari Shisui. Ia tampak memeriksa ulang apa saja yang ia beli untuk keperluan perayaan kecil-kecilan atas kenaikan pangkat Itachi. Kini, ia sedang menunggu taksi, namun belum ada satu pun yang lewat. Kalau pun ada, sudah ada penumpangnya.
Baru saja ia hendak menelpon Shisui dan mengubah keputusannya dengan minta dijemput, sebuah mobil SUV mewah berwarna hitam berhenti di depannya. Sejenak, ia merasa ketakutan karena mengira mobil itu adalah mobil milik Madara. Mobil itu sama, namun setelah kaca jendela belakang terbuka, ia pun merasa lega. Senyum Ino mengembang begitu melihat siapa yang duduk di kursi penumpang.
"Apa yang sedang kau lakukan, Nyonya Uchiha?" tanya pria itu.
"Halo, selamat malam, Tuan Baik Hati!" jawab Ino. "Aku sedang menunggu taksi untuk pulang ke rumah paman Fugaku, tapi tidak ada yang lewat."
"Kalau begitu, ikutlah denganku! Aku juga akan ke sana," kata pria itu.
Dengan sekali anggukan, Ino pun menuruti permintaan sang pemilik mobil, si Tuan Baik Hati. Mereka terlibat dalam obrolan ringan di sepanjang perjalanan sampai pria itu mengatakan sesuatu yang membuat dahi Ino mengernyit samar.
"Aku sangat kagum dengan sahabatmu. Dia memang wanita luar biasa. Setelah disakiti pun, ia masih mau menyusul pria itu ke Ame dengan kereta," katanya.
Tiba-tiba, suasana menjadi lengang. Ino tahu betul bahwa pria itu baru saja kelepasan bicara. Itu tampak dari sikapnya yang tiba-tiba terdiam sambil melihat ke luar jendela.
"Ya, begitulah Sakura. Dia memang memiliki hati yang terlalu baik," jawab Ino dengan suara yang ia buat setenang mungkin, atau dengan sikap ceria seperti biasanya.
Dari mana si Tuan Baik Hati tahu tentang apa pun yang dilakukan Sakura? Ia bahkan tahu Sakura ke Amegakure dengan kereta. Saat itu juga Ino menyadari bahwa pria inilah yang memata-matai Sakura dan pria ini pula yang kemungkinan besar sebagai si dalang.
Pria paruh baya itu kembali terkekeh, menampakkan keramahan seperti biasa. Jantung Ino berdegup kencang saat ia tiba-tiba melihat raut dingin di wajah pria itu. Si Tuan Baik Hati membuka jendela, sepertinya ingin menikmati angin malam yang mengibarkan helai-helai rambut halusnya.
"Tuan," panggil Ino. Pria itu menoleh. "Bisakah kita kembali ke supermarket? Ada yang lupa kubeli. Atau Anda ke sana saja dulu, aku yakin masih banyak taksi meski harus menunggu lebih lama," lanjutnya.
Mumpung mereka masih di jalanan yang ramai. Tapi, pria itu tersenyum dan senyumannya justru tampak lebih seram dari senyum palsu Sai.
"Kau takut padaku, kan? Karena kau tahu siapa aku," jawab pria itu.
"Itu tidak benar," balas Ino dengan kekehan canggung.
"O, ya?"
Ino memejamkan mata sekali lagi, mencoba menahan gejolak emosi yang mulai menguasai. Sambil berdoa dalam hati dan memegangi perutnya, ia pun memberanikan diri untuk menyampaikan isi hatinya.
"Mengapa Anda melakukan semua ini? Jangan berbohong, Tuan! Andalah pelakunya!" desis Ino.
Pria itu menggumam panjang.
"Kau mau kuceritakan sebuah dongeng?" tanyanya.
Ino terdiam. Perasaannya sudah amburadul karena menghadapi perubahan sikap pria yang duduk di sampingnya itu. Ia pun menghela napas sedalam dan sepelan mungkin.
"Pada suatu hari, ada seorang saudagar yang belum kaya, namun bersahabat dengan pangeran dan ia jatuh hati pada seorang putri. Tapi, sang putri memilih pangeran itu, padahal sang pangeran tidak mencintainya dan mereka pun menikah setelah dijodohkan. Saudagar itu menerima keputusan sang putri dengan harapan bahwa sang pangeran akan mencintainya suatu hari nanti. Lambat laun, saudagar itu menemukan seorang wanita yang membuatnya juga menaruh hati dan menikahinya. Harapan keduanya adalah wanita itu dapat membuatnya melupakan sang putri," kata si pria.
Ino semakin gelisah.
"Kenyataannya, setelah bertahun-tahun menikah dan sampai sang pangeran menjadi raja, ia tak kunjung memberikan hatinya kepada tuan putri, sang ratu. Suatu hari, sang raja pergi berburu di hutan dan bertemu dengan seorang peri. Ia jatuh cinta pada peri itu, begitu dalam, tapi si peri malah jatuh cinta pada seorang ksatria. Ksatria itu membebaskan si peri yang diculik oleh sang raja yang bahkan sudah memiliki putri yang dinikahkan dengan seorang bangsawan penegak hukum yang jujur. Di saat itu, si saudagar sudah menjadi pria yang kaya raya dan berkuasa dengan jalan yang sedikit ... tidak baik," kata si Tuan Baik Hati.
Cerita pun berlanjut di mana si saudagar berniat untuk menghancurkan sahabatnya, sang pangeran, karena telah membuat sang ratu menderita dan bahwa raja mengetahui kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh saudagar. Salah satunya adalah proyek pembangunan rumah dan ia bahkan berhasil memenangkan lelang proyek reklamasi dari wali kota yang salah arah. Ia tak peduli dan bersembunyi di balik kuasa sang raja selama itu mendatangkan uang banyak demi keberhasilannya dalam menghancurkan sang raja. Ia sangat bersemangat, terlebih saat sang ratu datang pada saudagar dan meminta untuk membantunya menghancurkan suaminya sendiri. Suami yang membuatnya menderita selama puluhan tahun, ditambah dengan pengkhianatannya; bahwa sang raja yang tidak mencintainya sebagai istri, tapi justru jatuh cinta pada orang lain.
Bagaimana bisa saudagar itu menolak permintaan wanita yang masih ia cintai meski ia sendiri telah memiliki hati pada istri yang telah ia nikahi?
Si Tuan Baik Hati berhenti sejenak saat mendapati Ino gemetaran sambil meremas-remas jari-jarinya sendiri. Ia menyeringai sinis dan tetap melanjutkan cerita.
Saudagar itu tahu bahwa niat raja menikahkan putrinya dengan bangsawan itu adalah karena keluarga si bangsawan dapat menghentikan dan membekuk si saudagar yang melakukan kecurangan-kecurangan. Beruntung, si saudagar berhasil menjebak dan mengancam sang raja dengan skandal putrinya, juga skandal dirinya yang pernah akan menodai si peri. Semua dilakukan agar si saudagar tetap aman. Sang raja dan dirinya bersaing untuk memenangkan kandidat boneka demi tujuan berbeda. Sang raja bertujuan agar keluarga mantan besannya tetap menang menjadi bangsawan penegak hukum tertinggi, sementara si saudagar menginginkan calon penegak hukum korup yang bisa ia kendalikan.
"Dongeng yang indah, bukan?" tanya pria itu.
Tak perlu menjadi jenius bagi Ino untuk mengetahui bahwa tokoh-tokoh yang pria itu maksud adalah si Tuan Baik Hati, Madara, istri Madara, Izumi, Itachi, Shisui, dan ... dirinya. Kilatan-kilatan ingatan tentang penemuan Shisui dan Izumi melintas di kepala Ino. Proyek atas nama perusahaan fiktif itu, Madara yang berkeras agar Izumi tetap bersama Itachi.
Satu hal yang tak pernah ia duga adalah istri Madara yang bernama Uzumaki Mito juga ada di balik semua ini.
"Sayangnya, seorang ksatria wanita yang telah menjadi yatimpiatu mulai membongkar semuanya. Semua ia lakukan demi menutupi skandal mantan kekasih yang merupakan adik dari bagsawan itu. Hebat sekali! Kekasihnya main belakang dengan si kakak ipar. Lucunya, setelah berpisah dari putri raja, sang bangsawan jatuh cinta pada si ksatria wanita. Saudagar ... ah, sudahlah, sebut saja aku. Aku mengetahuinya dan memafaatkan situasi." Si Tuan tidak berhenti bercerita, tak peduli dengan Ino yang semakin pucat.
Sakura ... .
Dering ponsel pria itu berbunyi. Karena suasana terlalu senyap, Ino sampai dapat menangkap sebuah suara dari seorang lelaki di seberang sana. Ia tak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi ia yakin mendengar nama Aburame Shino disebut. Jadi, Shino mengkhianati Madara? Ini gila!
Namun, Ino masih menyisakan kepintaran di tengah ketegangan yang nyaris memberangus akal sehatnya. Diam-diam, ia melepas kalung yang ia kenakan dan ia jatuhkan di dalam mobil itu. Ia berjaga-jaga andai sesuatu yang buruk harus ia alami, maka setidaknya ia sudah meninggalkan petunjuk.
"Kenapa kau diam?" tanya pria itu.
Ino memejamkan mata.
"Turunkan aku!" desisnya.
"Baiklah, asal kau berjanji akan bungkam atau Sai, si mata-mata, dan Itachi, juga ... Sakura akan menerima akibatnya. Berjanjilah bahwa kau akan diam selamanya!" jawab pria itu dengan tenang.
Dia bukan Tuan Baik Hati, melainkan serigala berbulu domba. Ino hanya bisa mengangguk lemah. Maka, setelah itu, ia pun turun dari mobil, namun naas, ia turun di kawasan hutan Mangekyo yang gelap. Ia tak peduli selama ia tidak berada di dekat pria itu.
Dengan derai air mata, ia berjalan sambil bersumpah dalam hati bahwa ia akan bungkam. Sayangnya, ia tak tahu bahwa bungkam yang dimaui oleh si serigala adalah diam untuk selamanya. Benar-benar selamanya. Mobil itu hampir menabraknya dan Ino masih berhasil menghindar. Ia terus berlari sambil berteriak, tak peduli betapa percuma teriakannya itu. Tak ada orang lain yang bisa menolong sampai akhirnya, ia pun merasakan sakit tak terkira dan tak tahu lagi apa yang terjadi.
Yang ia tahu, begitu membuka mata ia telah kehilangan bayinya, lalu Madara datang menjenguknya. Masih ada cinta dan rasa sakit dalam mata pria itu meski ia tutupi dengan sikap dingin. Ino tahu bahwa Madara merelakan dirinya demi melindungi keluarga Uchiha sebagai orang-orang dalam klan yang ia ketuai dan juga diri Ino sendiri sebagai wanita yang ia cintai.
Pria itu bahkan tidak ingin menghancurkan Sakura karena ia adalah wanita yang sangat berarti bagi Uchiha Itachi.
Ino sangat ingin menyampaikan pesan pada Madara; ia hendak meminta tolong pada pria itu agar cepat bertindak dan melupakan persahabatannya dengan si serigala berbulu domba. Demi orang-orang yang Ino kasihi. Madara harus meninggalkan hatinya yang lemah karena persahabatan itu, namun karena keadaan fisik dan psikis Ino, suaranya tertelan begitu saja. Ia pun kembali terpuruk dan dihantui ketakutan. Itu sebabnya ia diam. Selalu diam.
x
x
x
"Dengan ini, saya mohon pada Yang Mulia agar Anda memberi keadilan bagi saya dan semua orang yang menderita bahkan mati karenanya dengan mendakwa dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya ... ." Ino terengah setelah berbicara dengan gemetaran. "PADA SENJU HASHIRAMA!" teriaknya dengan sangat emosional.
Kalimat pungkasnya bagaikan godam keras bagi Tsunade dan Tobirama yang duduk di antara masyarakat. Pengakuan bahwa sepupu dan kakak mereka merupakan dalang di balik banyak kejahatan adalah seutas tali yang mencekik leher mereka dengan sangat kuat. Sementara, Izumi terbelalak dan gemetaran. Jelas sudah semuanya, ia telah menghakimi ayah yang tidak bersalah. Justru ibunyalah yang menjadi memiliki andil.
Uzumaki Naruto memeluk Uzumaki Karin yang sangat terpukul setelah mengetahui bahwa kerabat jauh mereka terlibat. Ini adalah kegilaan yang tak pernah mereka sangka. Dan, jangankan masyarakat, Mifune dan yang lain pun dibuat terkejut hingga kehilangan kata-kata. Mifune bahkan sepenuhnya abai pada kericuhan yang ditimbulkan oleh hadirin.
Lagi-lagi, Obito menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa kepalanya mau pecah. Meski Madara tetap terhitung menang, namun kemenangan itu justru bukan datang dari usahanya, melainkan dari pihak Sakura, lawannya sendiri. Kasus ini, persidangan ini adalah anomali. Ia pun menatap Madara dengan tajam seakan minta penjelasan. Obito benar-benar merasa dungu, namun Madara hanya diam dengan sikap dingin yang seperti biasanya meski keterkejutan juga tak sepenuhnya berhasil ia sembunyikan. Obito yakin bahwa Madara juga tidak menyangka bahwa istrinya juga terlibat.
Belum reda kegemparan itu, salah satu polisi yang menjaga jalannya persidangan berjalan mendekati meja hijau. Ia membisikkan sesuatu pada Mifune.
"Menimbang beberapa hal dan bahwa Senju Hashirama berhasil diamankan, maka sidang ditunda sampai waktu yang ditentukan," tukas Mifune, lalu mengetukkan palu sebanyak tiga kali.
Mendengar bahwa Hashirama telah ditangkap, Sakura langsung menghambur keluar untuk mencari seseorang; anak buah Itachi yang ditempatkan di gedung itu. Ia pun berhasil menemukan Ebisu, anak buah Itachi.
"Pengacara Haruno!"
"Ebisu-san, di mana Itachi?" tanya Sakura tanpa basa-basi.
Perasaan tak enak merayapi hati Sakura dengan cepat saat melihat Ebisu yang gelagapan.
"Di mana dia?" teriak Sakura.
"Kapten ... tertembak saat mengkonfrontasi para anak buah Hashirama dan sekarang berada di rumah sakit. Dia sedang melawan masa kritisnya. Itu kabar yang kuterima dari salah satu rekan yang bertugas dengannya," jawab Ebisu.
Napas Sakura tersengal mendengar berita itu, sementara air matanya berlinangan tanpa diminta. Namun, sebelum tubuhnya benar-benar tersungkur di lantai, seseorang berhasil menahannya.
"Sakura!" bisik Fugaku sebelum ia mengarahkan pandangan pada bawahan-bawahannya. "Ini perintah langsung dariku. Tangkap Shimura Danzo dan Aburame Torune!"
o
o
o
o
o
Bersambung...
A/N: Aaaakkk saya gak tahan untuk tidak update chapter ini. Ini adalah babak yang saya tunggu di mana kebenaran terungkap. Well, chapter depan adalah chapter terakhir yeeeeaaayy!
Lacus Clyne 123: Haha! Udah terjawab kan pertanyaan kamu di chapter ini? #grinning
sitilafifah989: Yo! Kamu udah gak perlu puyeng lagi karena pelakunya udah terungkap dan tertangkap. Gimana?
Chiharu rainy: Udah ketangkap, beibeh! Hahaha. Memang cuma Ino yang bener-bener tahu kejadiannya.
Yencherry: Haaaiii! Makasih udah muncul. Ha, saya juga suka sama ItaSaku hehehe.
Chorphile: Makasih banget udah diingetin soal typo. Udah saya perbaiki kok hehehe. Semoga chapter ini tetap gak mengecewakan ya...
Sina: Yup! Ini super fast update hahaha.
Febrichan2425: Iya, Madara di sini sangat baik. Mulia malah. Tapi, sikap diamnya juga harusnya gak dipertahankan kan... Gimana pun pokoknya Madara is the best lah #tetep
Avheril psychomonst49: Haaai... Aku paling seneng nih kalau kamu udah komen. Itu tuh bener-bener sharing dan ngasih masukan hehehe. Untuk situasi sidang, mungkin aku mengambil contoh dan mengadopsi 'atmosfer' dari sidang-sidang yang pernah aku hadiri waktu asistenin si bapak/ibu bos pas membela klien-klien beliau. Asik aja dibuat cerita, jadi bisa sharing hal baru. Gitu juga saat ada fiction yang ada pembahasan dunia kedokteran yang mana gak aku kuasain, tapi aku jadi tahu seputar dunia kedokteran. Yup, Madara memang poros dari konflik yang aku bangun di samping masalah romance ItaSaku hahaha. Pada kenyataannya, yang kamu bilang emang betul, bahwa sesuatu yang menonjol paling mudah disorot dan dipermainkan. Tapi, di sini udah kejawab kok tentang Madara. Dan, untuk saran kamu soal tanda baca, makasih banget ya... Btw, yang aku pakai itu sesuai dengan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) yang disahkan tahun 2016, yang juga membahas penggunaan tanda baca, termasuk tanda baca dalam kalimat langsung (percakapan dalam karangan narasi). Coba kamu download Pdf-nya. Cuma, yang kamu bilang itu juga gak salah karena itu gaya penulisan British hehehe. Penulisan dengan British style memang menempatkan tanda titik/koma di belakang quotation mark (tanda petik) untuk akhir percakapan. Makasih udah ngasih semangat dan aku harap kamu gak bosen ninggalin review. Makin panjang, makin seneng aku hehehe.
So, this is it. Bertahanlah sedikit lagi dan jangan lupa review-nya. Mmmuuuaaahhh!
