Hai^^
Aku lanjutin ceritanya yaaa :)
Selamat membaca :)
"Wonwoo, ada paket buat lo."
Wonwoo yang sedang mengerjakan essay langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Paket apa Jun?"
Jun hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia pun tak tahu.
Jun berjalan mendekati Wonwoo dan memberikan sebuah paket yang dibungkus rapi.
"Thanks," kata Wonwoo seraya tersenyum.
Jun hanya membalas dengan senyum dan kedipan singkat.
Ini paket dari siapa? Perasaan gue gak belanja apa-apa. Pikir Wonwoo.
"Wonwoo, kita kuliah jam sembilan kan?"
"Iya."
Jun menghampiri Wonwoo lalu mengambil handuk yang disimpan di senderan kursi yang Wonwoo duduki.
"Gue duluan ya yang mandi. Lo kelarin dulu tugas lo."
Wonwoo hanya mengangguk tanpa menoleh pada Jun yang sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Fokus Wonwoo kembali pada paket yang ada di hadapannya.
Tangan kanan Wonwoo mengambil sebuah gunting di laci kanan meja belajarnya.
Sebelum dia buka, Wonwoo membaca sekai lagi nama penerima yang tertera di paket tersebut.
Nama penerimanya memang nama dia.
Dengan hati-hati Wonwoo membuka paket tersebut.
"Ini—Wow!"
Betapa kagetnya Wonwoo saat tahu isi paket tersebut adalah sebuah handphone dengan seri terbaru.
Wonwoo mengeluarkan HP tersebut dari wadahnya.
Mata Wonwoo masih terkagum melihat bentuknya yang sangat elegant.
Warna hitam metallic, dengan layar yang berukuran sedang dan layar tipis.
Wonwoo mengeluarkan wadah HP tersebut lalu menemukan sebuah notes kecil di dalam paket tersebut.
Jaga baik HP itu. Jangan sampai lo ilangin!
Karena lo udah punya HP, sekarang gak ada alesan lo buat gak ngabarin gue.
Di HP itu udah gue save nomor kontak gue.
Jadi tugas lo sekarang cuma tinggal kasih kabar ke gue.
Sibuk boleh, tapi tetep jaga kesehatan lo.
Percuma lo belajar giat untuk ngasah otak lo, kalo itu bikin lo lupa untuk jaga kesehatan.
Jaga diri lo. Gue selalu nunggu lo.
.
Handsome Min Gyu.
Wonwoo tak berhenti tersenyum saat membaca notes kecil yang ternyata dari Mingyu.
Wonwoo mengambil HP tersebut lalu menyalakannya.
Saat Wonwoo mengecek HP tersebut, memang benar hanya ada satu kontak yang tersimpan dengan nama Handsome Mingyu.
HP pemberian Mingyu itu sudah sangat lengkap, baik fitur maupun kelengkapan produknya.
Wonwoo membuka fitur pesan lalu mengetik sebuah pesan untuk Mingyu.
08.30 Wonwoo : Thanks buat hadiahnya. Bakalan gue jaga baik-baik.
Setelah pesan terkirim, Wonwoo beranjak dari kursinya untuk bersiap pergi kuliah.
"Tumben akhir-akhir ini lo gak ngedumel dan ngomel," kata Vernon yang sedari tadi melihat Mingyu yang terus fokus pada layar persegi di genggamannya.
Mingyu hanya menoleh sekilas dan tersenyum.
"Lo beneran beliin Wonwoo HP?" tanya Joshua.
"Yaps," jawab Mingyu singkat.
"Pantesan lo gak lepas dari HP mulu. Jangan bilang lo memperlakukan Wonwoo kaya lagi introgasi maling ayam."
Mingyu menatap bingung ke arah Vernon
"Maksud lo?"
"Lo gak nanya kabar kaya lagi introgasi maling ayam kan? Lo dimana? Lagi apa? Sama siapa? Udah makan belom? Udah mandi belom?" sahut Vernon dengan intonasi menyebalkan khasnya.
Seketika jari Mingyu berhenti mengetik.
"Nnngg... Eng..Enggak," jawab Mingyu terbata-bata.
"Ck! Dari cara lo jawab aja udah jelas kalo yang gue omongin tadi bener."
Mingyu meletakkan HP di atas meja.
"Gue cuma khawatir dia kenapa-napa. Apalagi waktu di bilang dia tinggal barengan sama Jun. Untung itu juga gue gak langsung pesen tiket ke London," kata Mingyu membela diri.
"Lo boleh khawatir, tapi jangan sampe ngeganggu dia juga. Lo jangan kaya lagi neror dia," kata Vernon.
"Katanya lo percaya sama dia," sindir Joshua.
"Iya, iya gue tahu. Kalian selalu nasihatin gue ini-itu soal cinta tapi kalian sendiri jomblo!" jawab Mingyu kesal.
Sama seperti hari-hari sebelumnya, setiap malam Mingyu selalu menelpon Wonwoo.
Meskipun pembicaraan mereka hampir selalu sama setiap harinya.
Mingyu tak lagi meneror Wonwoo dengan pesan singkat setiap saat.
Akhir-akhir ini Mingyu memilih untuk menelpon Wonwoo saat malam hari saja.
Jadi Mingyu selalu meluangkan waktunya di sore hari untuk menelpon Wonwoo karena perbedaan waktu yang cukup lama.
Jika Mingyu menelpon Wonwoo sore hari, di London sudah malam hari.
Oleh sebab itu, sore menjadi waktu paling tepat untuk menelpon Wonwoo.
"Lo lagi nugas?" tanya Mingyu saat Wonwoo mengangkat panggilan darinya.
"Iya, tapi udah mau selesai."
"Lo cape ya hari ini?" tanya Mingyu khawatir.
"Lumayan, hari ini ada 2 ujian. Otak gue berasa udah panas."
"Tunggu bentar ya," kata Mingyu lalu untuk beberapa saat tak ada suara dari Mingyu.
"Gyu, lo kemana?"
Tiba-tiba terdengar suara petikan gitar mengalun dari ujung telepon.
"Gyu?"
Heart beats fast
Colors and promises
Sama seperti lirik yang Mingyu nyanyikan, jantung Wonwoo mulai berdegup kencang.
Fokusnya tak lagi pada tugas yang ada di depannya, melainkan pada suara petikan gitar yang berpadu dengan suara lembut Mingyu.
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall?
But watching you stand alone~
Wonwoo tak berhenti tersenyum menikmati setiap lirik yang dinyanyikan Mingyu.
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer~
Senyum Wonwoo semakin lebar saat lagu tersebut akan memasuki bagian chorus.
Tapi tiba-tiba Mingyu menghentikan petikan gitarnya.
Tak ada suara sama sekali dari ujung telepon.
"Gyu? Are you there?" tanya Wonwoo karena tidak terdengar suara sama sekali.
"Gue di sini. Dengerin kalimat selanjutnya baik-baik ya."
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more~
Tanpa sadar mata Wonwoo sudah berkaca-kaca.
Setiap kata yang Mingyu nyanyikan mengingatkan Wonwoo tentang semua momen bersama Mingyu.
Meski terlihat kuat dan tegar, Wonwoo pun sama seperti Mingyu di sana.
Wonwoo sering berpikir apakah keputusannya untuk berada di London itu tepat?
Wonwoo juga selalu mengkhawatirkan Mingyu di sana.
Time stands still
Beauty in all he is
I will be brave
I will not let anything take away
What's standing in front of me
Air mata Wonwoo menetes tanpa bisa dicegah.
Tekadnya untuk selalu terlihat kuat, luluh sudah.
Every breath
Every hour has come to this
One step closer~
Wonwoo sangat merindukan Mingyu.
Dia merindukan candaan Mingyu, wajah menyebalkan Mingyu.
Wonwoo selalu ingat bagaimana Mingyu selalu memaksa Wonwoo untuk melakukan sesuatu.
Meski awalnya Wonwoo tolak, tapi pada akhirnya Wonwoo melakukannya juga.
I have died everyday waiting for you
Darling don't be afraid
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more~
Wonwoo tak tahu apa yang Mingyu coba sampaikan padanya.
Apakah itu hanya sebatas lirik lagu atau memang curahat hati Mingyu.
And all a long I believe I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I'll love you for a thousand more~
"Terpesona, huh?" tanya Mingyu saat tak mendengar suara apapun dari Wonwoo.
Wonwoo menghapus air matanya, tak ingin Mingyu tahu bahwa dia sedang menangis.
"Biasa aja," jawab Wonwoo berbohong.
Mingyu hanya tersenyum mendengarnya.
"Wonwoo.." panggil Mingyu dengan lembut.
Wonwoo berusaha mengendalikan napasnya yang masih terisak karena menangis.
"Hmmm?" jawab Wonwoo.
"I'll love you for a thousand more."
Kalimat Mingyu tadi berhasil membuat hati Wonwoo tersentuh.
Untung saja Mingyu saat ini tak bisa melihat pipi Wonwoo yang sudah memerah.
"Hmmm," jawab Wonwoo pelan.
Tunggu kelanjutannya ya^^
