Terima kasih atas reviewnya di chapter sebelumnya :

anna chan—Tenang aja, Anna-chan. Saya ingat, kok. Gak mungkin lah saya lupa ma orang yg sering review fic saya./ Bener banget. Itu tuntutan cerita. Makasih, masih nyempetin review ya.

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): Keiko Eni Naomi | Azalea Yukiko | ai-haibara777 | hyourinyuki | nabillaifada | Kujo Kasuza Phantomhive | Kiki RyuEunTeuk| Yukizawa Aiko Michinobe | Austine Sophie

.

.

.

Bleach © Kubo-sensei (Tite Kubo)

.

Characters :

Toushiro Hitsugaya

Rukia Kuchiki

Yuuichi Shibata

Ganju Shiba

Seizo Harugasaki

.

Warning :
Kemungkinan OOC itu ada (karena author bukan Kubo-sensei), typo (berseliweran kayak kecoa), action (tidak masuk akal), romance (lambat kayak keong), dan lain-lain.

.

.

.

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

.

.

320 DISTRICTS

.

South Rukongai Arc

.

# 4 #

Kau Tidak Sendiri, Toushiro!

.

.

.

Terasa begitu susah ketika kelopaknya mulai membuka; butuh waktu lama bagi Haruka untuk menangkap jelas raut cemas seorang gadis yang telah mengobatinya. Menyunggingkan senyum tanpa ia sadari memberinya balasan senyum dari si gadis Shinigami. Membantunya duduk sembari memegangi kepala yang terbalut perban seraya perlahan menggerakkan paha yang agak berat; menggeser kepala si bocah yang menjadikan pahanya sebagai bantalan.

"Bocah yang hebat," spontan berkomentar sembari mengelus lembut rambut Yuuchi ketika si bocah sedang terlelap.

"Apa Anda—"

"Tidak," sanggahnya, tahu benar maksud si gadis bersurai hitam; apa ia ingat tentang Yuuichi. "Aku benar-benar tidak ingat, dan tidak mengenalnya."

"Tapi, tadi Anda—"

"Mungkin ... cuma sebatas kasihan," Haruka sendiri ragu ketika mengatakannya bahwa dengan kasihan ia rela mengorbankan nyawa. Tapi tetap saja nalarnya sulit menerima kalau bocah yang tertidur ini adalah putranya.

Rukia memahami itu sehingga ia tidak akan mendesak lagi dan mengeluarkan cara terakhir. Dirogohnya sesuatu di tas selempang yang tergeletak di sampingnya; sebuah bungkusan, dan digenggamnya sebelum berdiri dan kontan membungkuk.

Perhatian Haruka jadi milik si Dewa Kematian ketika permintaan tegas mengudara.

"Kalau begitu, saya mohon. Saya mohon untuk berpura-pura menjadi ibu Yuuichi saja sampai dia bisa menerima kenyataan. Tolong. Jadilah ibu Yuuichi untuk sementara waktu." Diulurkannya bungkusan berwarna coklat itu dengan sikap tubuh yang belum berubah; jadi tak perlu heran jika senyum pahit yang terbusur di bibir Haruka tak dilihatnya.

"Kau begitu tahu menggunakan isi bungkusan ini ya, Nona Shinigami?"

Rukia mengangkat kepala, dan bohong besar jikalau ia tak paham maksud kalimat di atas. Ia bersimpuh kembali sambil menampilkan gerut wajah yang sama ketika melantangkan hasrat menjadi seorang Shinigami saat di Bukit Inuzuri.

"Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan Anda, hanya saja saya mengerti. Saya rasa Anda yang terlahir di kampung halaman seperti saya, boleh jadi berpikir sama. Berpikir kalau dikasihani akan lebih baik daripada harus melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak Anda senangi."

Senyum pahit yang persis kembali tersungging di paras manis Haruka. "Kau benar sekali. Aku kadang-kadang berpikir seperti itu." Menarik napas sebelum menerawang ke masa lalu; alasan yang membuatnya terjun pada profesi yang digelutinya sekarang.

Adalah dulu, ia amat menyenangi anak kecil. Tak lama ketika mulai beradaptasi dengan provinsi ini, ia berani mengangkat seorang anak tanpa tahu kalau hanya dalam waktu tiga hari mereka hidup bersama, tabungannya ludes beserta sosok anak yang hilang tak tentu rimbanya. Bagai jatuh ketimpa tangga pula, tak tanggung-tanggung si anak membuatnya menderita dengan melimpahkan tanggung jawab: mesti membayar barang-barang yang telah dicuri anak itu, yang jumlahnya nyaris sama dengan harga sepetak tanah. Tak tahu harus membayar dengan apa, si korban yang tak lain tak bukan yakni si pemilik kastil menawarkan Haruka bekerja padanya selama lima tahun. Mau tak mau, wanita malang itu mengiyakan, kecuali ia ingin jadi bulan-bulanan pukulan anak buah si pria gemulai atau mati kelaparan di Inuzuri.

"Hidup di sini sedikit sulit," lanjut Haruka, getir, "jadi ... mau bagaimana lagi."

"Bukan sedikit," Rukia meralat bersama genggaman pada bungkusan yang mengerat, "tapi sangat, sangat sulit."

Haruka melirik sebelum kemudian membelai pipi Yuuichi dan terdengar gumaman 'Mama'. Hidup perempuan di sebelahnya tak kalah sulit darinya sehingga ia tidak mau bertanya jauh, kecuali Rukia sendiri yang buka mulut.

"Saya hidup tidak berbeda jauh dari Anda. Merampok ke sana ke mari bersama teman-teman saya. Hingga saya memutuskan untuk menjalani hidup lebih baik dengan menjadi Shinigami."

Tak ada yang lebih melegakan batin Haruka ketika mendengar cerita yang tak kalah pedih darinya.

"Kau tidak perlu membayarku," membuatnya tak 'kan menyesal menolak kebaikan hati Rukia. "Aku akan senang hati menjadi ibu untuk bocah seberani ini. Kurasa, itu sama menyenangkannya dengan punya uang banyak."

Tak ayal, raut berbinar dan senyum lega mengembang di bibir Rukia; membungkuk sambil berkata, "Terima kasih banyak, Haruka-san."

Haruka tertawa kecil dengan sikap hormat si gadis Kuchiki. "Sebagai seorang Shinigami dan bangsawan, kau pintar memperlakukan orang yang lebih tua darimu," komentarnya; lalu lanjut bertanya, "Kalau tidak keberatan, boleh aku tahu namamu?"

"Saya ... Rukia."

"Hanya itu? Tanpa marga?"

"Saya hidup di sini, lahir di sini tanpa marga. Jadi Anda bisa memanggil saya seperti itu saja."

"Rukia. Nama yang aneh."

Si empunya nama tersentak. "Anda ... orang kedua yang mengatakan nama saya aneh."

"Orang kedua? Yang pertama siapa?"

"Aku tidak suka memanggil orang dengan nama depannya apalagi gelar seperti 'Senpai', jadi sebutkan margamu."
"Sudah tidak punya marga, nama depanmu pun aneh."

"Seseorang yang seharusnya ada di sini, tapi karena saya ... dia harus pergi."

Haruka tersenyum saja sebelum kembali menyibuki jari menyentuh rambut Yuuichi. Sedang Rukia memandang langit siang di balik kisi-kisi jendela; bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan si junior sombong yang baru membayangi di benaknya. Junior yang langsung mengeluh tentang namanya ketika pertama kali berbincang di prosesi pengenalan akademi.

"Hitsugaya-taichou ..."

Tanpa sadar, Rukia bergumam; menyebutkan nama si junior.

.

.

.

.

.

Rukia berani bertaruh apa pun. Tak pernah sekali pun ia melihat Yuuichi berwajah sesenang ini. Senyum lebar yang terpatri sejak tadi, bola mata coklat yang berkilat-kilat gembira, dan rewelnya ucapan bocah enam tahun bak kereta api tanpa rem. Sang ibu pun entah memiliki kemampuan sandiwara kelas wahid atau telah berpengalaman menghadapi manjanya seorang anak kecil, ia bisa meladeni dengan baik tingkah Yuuichi seolah insiden penolakan di kastil tak pernah ada.

Haruka dan Yuuichi berkelakuan seperti sepasang ibu dan anak pada umumnya. Ibu yang amat mencintai anaknya, begitu pula sebaliknya. Saling merengkuh dan memeluk; menyalurkan kebahagiaan dan kasih-sayang. Membuat gadis yang tak pernah mengecap bagaimana hangatnya dekapan seseorang yang disebut ibu merasa sedikit iri. Iya, Rukia iri.

Tangan kiri tanpa sadar menggenggam lengan kanan bersamaan dengan sebulir air yang menggenang di pelupuk mata. Air asin itu akan menuruni pipi seputih gadingnya andai saja ia lupa kalau tak sendiri berada di pinggir jalan Bukit Inuzuri.

Buru-buru, ia menyekanya sebelum Ganju, yang masih memerhatikan Yuuichi dan ibunya yang duduk di pinggir bukit (di depan tiga makam sahabat Rukia), menyadari.

"Apa yang kau katakan pada wanita itu hingga mau mengakui Yuuichi?" tanya Ganju, dengan pandangan yang masih memaku di tempat yang sama.

"Hanya sedikit berunding," jawab Rukia, sekenanya. "Omong-omong, ke mana Seizo?"

Ganju mengambil langkah tepat di sebelah si rambut raven. Ia bilang kalau pria Kusajishi itu sedang ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan sebagai perayaan suksesnya misi ini. Si gadis bangsawan mengangguk saja. Hingga perbincangan berimbas pada pemuda yang diusir ketika di bukit Mikawa. Si pelaku pun sedikit sesal mengajak Ganju bercengkerama, yang hobinya menggoda orang.

Raut suram tatkala mengingat kejadian tadi pagi menjalar di wajah Rukia.

Si kolektor babi hutan menangkap wajah muram itu. Mumpung hari ini ia sedang hobi menyemangati orang ketimbang menggoda, ia berkata bak motivator handal. "Toushiro pasti kembali, Kuchiki. Aku yakin itu, yakin 100 persen. Aku berani mempertaruhkan apa pun, bahkan untuk Conny, Tony, dan Ronny. Dia sekarang pasti sedang dalam perjalanan ke sini sambil membawa sekeranjang makanan enak dari Seireitei, seperti daging atau buah-buahan. Kalau untukmu, dia pasti membawa sekeranjang bunga mawar."

Tanpa peduli dengan maksud pernyataan terakhir Ganju, Rukia merasa ingin berterima kasih, setidaknya pria ini tidak mengejeknya. Namun lantas urung begitu adik Kuukaku ini melanjut.

"Yah, kalau Toushiro tidak kembali, jangan kecewa, ya? Kau juga yang salah telah mengusirnya. Kalau aku jadi dia, aku pasti gengsi untuk pulang ke sini."

Cuma tiga detik Ganju bertahan jadi tukang motivasi sebelum kembali jadi tukang cemooh. Rukia merutuki diri sendiri setelah untuk sesaat merasa agak terharu.

Jadi cepat-cepat si Shinigami mengubah topik sebelum pria ini kian mengolok-oloknya. Ia menyuruh Ganju kembali ke pusat Provinsi Inuzuri untuk membantu Seizo, khawatir jikalau pria berambut merah pucat itu kerepotan sendiri. Pria bermarga Shiba ini ogah-ogahan, tapi ia lekas pergi ketika Rukia mewanti-wanti tentang keselamatan hewan kesayangannya bahwa warga Inuzuri sangat suka berburu babi hutan dan dijadikan sup babi (tentu saja, bohong). Tapi manjur ketika langkah seribu diambil Ganju menuju ke pusat provinsi untuk menyelamatkan antek-anteknya.

Sepeninggal si kolektor, Rukia menoleh pada suasana keakraban ibu dan anak di bibir bukit. Cekikikan dan tawa renyah mewarnai bukit kenangan untuknya. Bukit kenangan bersama Renji dan kawan-kawannya, bukit ia melantangkan tekad untuk meneruskan hidup di Seireitei menjadi Shinigami, bukit atau lebih tepatnya makam ketiga sahabatnya. Ia kemudian memandang hamparan atap-atap perumahan yang mengisi salah satu distrik terkumuh di Rukongai yang notabene distrik kelahirannya.

"Hitsugaya-taichou, misi ini sudah selesai. Anda pulang duluan saja ke Seireitei."

Kata-kata ini kembali terlintas. Jika diingat lagi, terdengar sedikit kejam. Tapi yang mengusik pikiran sekaligus hatinya sejak kepergian pemuda itu adalah kalimat terakhir si kapten.

"Dari awal, aku tahu kau tidak pernah membutuhkanku. Yah, kupikir hanya aku yang membutuhkanmu. Kau bisa melakukan segalanya tanpaku, sedangkan aku tidak bisa melakukannya segala tanpamu."

Rukia duduk dengan ujung kaki sampai belakang lutut menggelayut di pinggir jalanan bukit dan tangan yang saling menggenggam di pangkuan. Ia menarik napas yang semakin berat, mengisi dadanya yang terasa sesak jikalau mengingat bagaimana raut penuh harap si kapten ketika itu. Ia memejam mata dengan tangan yang kian tergenggam erat seiring pengalaman bersama sebulan penuh yang terekam mulus di memorinya.

Kapten itu ... bukankah sangat tampan ketika berwajah serius atau sangat manis ketika tersenyum, apalagi tertawa. Iya kan, Rukia?, entah dari mana pertanyaan itu mendadak menggema di kepala si gadis bangsawan.

Membuatnya membuka mata, menarik kakinya ke atas, lantas memeluknya, dan terakhir membenamkan wajah yang merona merah.

"Jangan terlalu baik padaku!"

"Cepat atau lambat, Anda akan paham. Tergantung ... Anda memiliki perasaan yang sama atau tidak."

"Selama apa pun, aku akan menunggumu. Jadi tidak apa-apa. Biarpun lama aku akan menunggumu."

"Kau lebih senang kita bersahabat?"

"... hati tidak akan pernah berbohong."

Rukia mendapati dirinya menahan napas di kala sekeping jawaban dari kebingungan yang mengusiknya belakangan ini menghampirinya. Ia paham. Iya, ia paham sepenuhnya. Ia benar-benar paham. Mengapa ia bodoh selama ini—atau benar-benar-amat-sangat tidak peka?

"Hitsugaya-taichou, saya—"

Pada saat itulah reiatsu cukup berat menyingsing, menekan udara di sekeliling Bukit Inuzuri, membuat Rukia berdiri nyaris bersamaan dengan kemunculan pengepung berjubah hitam.

.

.

.

.

.

Jika ada kategori lomba orang-orang yang kerap dikepung, mungkin Rukia-lah yang keluar sebagai pemenang. Dan jika ada kategori orang-orang yang sering mengepung adalah pasukan Keigun jadi kampiunnya. Atau bukan? Karena orang-orang ini hanya mengenakan jubah hitam ketat layaknya pasukan pembunuh, tanpa masker penutup wajah bak ninja. Tunggu dulu. Mereka berpakaian mirip dengan pasukan yang mengepung Oda-san di Mikawa. Rukia kian jeli mengamati mereka satu per satu hingga tiba pada pria yang berbicara dengan rekannya tentang kesadaran Hinamori-fukutaichou.

Pasukan yang sama ... Pria-pria ini mengikuti mereka sampai ke sini?

Secara naluriah, Rukia menarik katana sebelum—"Kau yakin ingin melawan kami, Rukia Kuchiki?" salah satu dari mereka bersuara. "Aku sarankan jangan, kalau tidak ..." ia meneruskan dengan mengedikkan dagu ke arah berlawanan.

Rukia menoleh ke belakang. Haruka dan Yuuichi tidak lepas dari pengepungan. Mereka digiring ke bibir tebing oleh dua pasukan yang mendorong paksa pundak ibu dan anak itu. Si gadis bangsawan berdengap dengan apa yang akan terjadi berikutnya.

"Menurutmu apa yang akan terjadi jika mereka terjatuh dari ketinggian ratusan meter? Masih hidup atau ... mati?"

Bukan malaikat saja yang tahu, Rukia juga tahu kalau yang terjadi adalah pilihan terakhir.

Membuat si Shinigami mau tak mau melempar katana-nya ke kaki pria itu ketika mendapat isyarat untuk menyerahkan senjata tanpa perlawanan. Pria itu meraih pedang yang masih tersarung bersamaan dengan dua pria yang menguncir pergelangan tangan si gadis Kuchiki, dan memaksanya tersungkur berlutut.

Rukia hampa senjata.

Tapi ia lupa kemungkinan kalau orang-orang ini bisa jadi selicik Aizen. Ia setengah berbalik (maklum, lehernya masih dibekuk) ketika Haruka berteriak tentang Yuuichi yang tidak ditarik dari pinggir tebing. Bocah itu tetap pada posisi dicondongkan untuk dibuang ke bawah sana.

"Kau ..." Rukia menyela. Giginya berderit geram. "Aku sudah menyerahkan senjataku, kenapa kau tidak lepaskan mereka?"

Pria itu malah mengorek kupingnya. "Aku rasa kau perlu memeriksa telingamu, Rukia Kuchiki. Aku tidak bilang akan melepaskan mereka, kan? Aku hanya memberikan pilihan hidup atau mati, tapi aku tidak berjanji."

Benar-benar! Rukia mengepalkan tangan sampai buku-buku tangannya memutih.

"Heh, kau sungguh naif."

Komentar terakhir sebelum melewati si nona bangsawan, membawa langkah angkuhnya menyaksikan lebih dekat prosesi pembuangan seorang anak kecil; di belakang, mengekori pasukan yang menyeret si Shinigami. Menggerakkan jari telunjuk sebagai sinyal memulai prosesi ketika usai membuat Haruka dan Rukia tertelungkup tak berkutik. Hingga terdengar sesuatu seperti, 'Kenapa berhenti?', pada dua pria yang bertugas menjatuhkan Yuuichi. Yang dilanjutkan dengan insiden aneh dengan satu pria yang mendadak memukul tengkuk pria satunya hingga pingsan; melempar Yuuichi pada Haruka seusai melayangkan pukulan pada dua penjaga wanita itu. Langkah bak shunpo, ia bergerak cepat sambil menyarangkan tinju pada ulu hati rekan-rekannya; tak mengacuhkan teriakan berang sang pemimpin.

Kemelut menguasai keadaan, Rukia memanfaatkan kelengahan dengan melafalkan hadou untuk melepaskan diri. Setelah mengatasi dua pria yang membuatnya tak berdaya, ia meraih Sode no Shirayuki lalu membantu si pria penyelamat membereskan pasukan yang tersisa; tanpa tahu sebotol berisi bubuk aneh menggelinding keluar dari saku celana pria yang telah dibuatnya terkapar, menuruni tebing, tersangkut pada ranting pohon yang mencuat keluar dari dinding tebing dengan posisi tutup botol berada di bawah. Lantaran tidak tertutup kencang, tutupnya terbuka seiring isi bubuk yang menyeruak, dibawa angin dan membaur bersama udara.

"Siapa kau?" pertanyaan lumrah yang terlontar ketika Rukia tiba di sebelah si penolong.

"Sepertinya Anda lupa dengan pria yang menjegal Anda ketika di Danau Hokutan," jawabnya sembari mengontrol napas yang terengah-engah, tapi ia tak lupa tersenyum.

Rukia tampak berpikir, menguraikan ingatan ke beberapa minggu yang lalu. Iya. Pria ini adalah salah satu dari dua pria yang menghadangnya dan membuatnya tenggelam di danau dengan sulur-sulur penghisap reiatsu. Tapi ... kenapa?

"Kalau kejadian di danau saja lupa, saya tidak yakin Anda ingat dengan tukang kebun yang pernah bekerja di Rumah Besar Kuchiki."

Pria ini tak 'kan ambil pusing kalau memang Rukia lupa karena cuma dua kali mereka bertatapan muka di Kuchiki Manshion sebelum keluar dari sana dan memutuskan bergabung dengan divisi ke-12; yang ujung-ujungnya membuatnya berakhir di Nest of Maggots setelah dianggap tersangka atas kasus menghilangnya ramuan berharga Kurotsuchi. Demi iming-imingan bisa kembali bekerja di keluarga bangsawan tersebut, ia menerima pinangan Central 46 untuk dijadikan pasukan gelap mengejar Oda dan Nobutada. Dengan alasan dipindahkan ke penjara bawah tanah Sejyotoukyourin, para hakim itu berbohong pada Batalion 13 tentang adanya ruang pelatihan rahasia (yang anggotanya adalah orang-orang yang dibuang ke Nest of Maggots) yang bertempat di bawah residen Central 46; bersebelahan dengan puluhan penjara yang jarang terpakai.

Mengetahui gadis bangsawan yang dikenalnya masuk jajaran orang-orang yang akan dihabisi Central 46, ia mengajukan diri untuk jadi anggota pengejar di Hokutan. Berniat menolongnya, tapi pada akhirnya ia-lah pelaku yang membuat gadis itu jatuh ke danau sulur pembunuh. Berkali-kali mengutuk diri sendiri setelah yakin bahwa gadis itu telah mati, namun amat lega begitu terdengar berita bahwa gadis itu masih hidup. Kembali mengajukan diri untuk ikut sebagai pengejar di Owari, tapi tak berhasil ketika ia terkena hukuman atas berita tidak benar tentang kematian gadis itu di danau. Lebih mending di hukum penjara selama tiga minggu dengan makanan seadanya ketimbang mesti mengalami nasib serupa dengan ketua misi ketika itu dan rekan yang satunya: pemenggalan kepala.

Berdiri di sini, menumbangkan rekan-rekannya yang senasib dengannya sebagai orang buangan di Seireitei dengan tujuan yang masih serupa: menolong Rukia, menolong gadis bangsawan yang hanya ditemuinya tak sampai tiga kali. Kendati demikian, ia tidak pernah lupa bagaimana gadis itu memperlakukannya beda dengan anggota Klan Kuchiki lainnya; hingga ia cukup sering memerhatikan si gadis bangsawan.

Sejujurnya Rukia ingat, tapi tak berkata apa pun, dan menarik Sode no Shirayuki ketika pasukan yang masih berdiri kembali mengepung.

"Nama saya Tokichi. Senang bertemu dengan Anda lagi, Nona Rukia."

Rukia setengah menoleh. "Senang bertemu denganmu juga, Tokichi," ia tersenyum. "Kita bisa lanjutkan obrolannya setelah kita membereskan orang-orang ini." Dipasangnya kuda-kuda siap bertempur ketika pasukan kompak menarik katana.

Ketika pertarungan mulai memanas, Krak!—langit berderak di atas sana bak tembok beton yang mulai retak. Seiring waktu, retakan bertambah tiap detik seolah langit akan runtuh, jebol, hancur, sampai ... tekanan roh super kuat menyongsong, menekan mereka yang berdiri untuk berlutut serentak dengan kemunculan lima jari raksasa yang mencengkeram tiga orang pasukan yang masih pingsan.

Langit tak ada lagi, dikonversi oleh area gelap berawan dan menampakkan sosok raksasa yang mengunyah tiga orang mangsanya.

"Arrancar?"

Rukia tahu betul aura reiatsu ini. Arrancar ... tapi, bagaimana bisa?

"Mustahil ... Jangan-jangan ada di antara mereka menggunakan bubuk umpan pemanggil Menos?"

Rukia serta merta menoleh pada Tokichi. "Apa maksudmu seperti tablet pemanggil Hollow?" Ia ingat ketika Ichigo menceritakan umpan bak tablet yang digunakan Ishida untuk menentukan siapa yang terkuat saat dua pria itu berduel di Karakura.

Tokichi mengangguk, lalu menjelaskan bahwa yang dibawa mereka adalah umpan berbentuk bubuk dengan khasiat yang lebih kuat; digunakan sebagai jaga-jaga pemancing kedatangan Hollow sebagai cara terakhir untuk menarik keluar Oda dari tempat persembunyiannya. Ia tak tahu bahwa khasiatnya sampai bisa memancing Arrancar karena mereka tak pernah mencoba menggunakannya.

Rukia sedikit lega ketika sadar kalau monster ini belumlah Arrancar sepenuhnya, setidaknya makhluk ini tidak setingkat Espada atau Numeros. Tapi tetap saja raksasa ini Arrancar dengan setengah topeng yang tersemat di sisi kiri wajahnya, pedang raksasa di punggung, sepasang tanduk di kepala, dan dua kaki berbulu yang menopang tubuh besarnya; ciri-ciri Arrancar, yang memang menyerupai postur manusia, kecuali sepuluh ekor yang menggeliat di belakangnya membuatnya terlihat seperti makhluk setengah rusa setengah cumi-cumi.

.

.

.

.

.

Keluar dari mulut singa, masuk ke mulut buaya, istilah yang amat tepat disematkan pada kondisi yang menerpa Rukia detik ini. Ia tak akan bersyukur dengan kedatangan Arrancar yang secara tak langsung telah membebaskannya dari kepungan pasukan Keigun. Membebaskan tanpa ia harus turun tangan; sebagian pasukan melarikan diri dengan shunpo atau bahkan rela jatuh ke dasar tebing, dan sebagian lainnya jadi santapan hidup-hidup sang Arrancar. Tidak perlu memeras keringat sebutir pun, tapi ia tidak akan sudi berterima kasih dengan pertolongan yang tak cuma-cuma. Setelah pasukan ini beres, mulut si monster akan menganga pada mangsa berikutnya, yang tak lain tak bukan adalah ia, Tokichi, Yuuichi, dan Haruka.

Jadi, selama si Arrancar masih sibuk mengunyah mangsa terakhirnya, ia mengisyaratkan Tokichi untuk membawa Haruka dan Yuuichi menjauh dari sini. Hanya satu anggukan pelan, pria itu mengerti dengan menarik ibu-anak itu. Tapi baru tiga langkah Tokichi berjarak, ekor si raksasa menghadang jalannya seolah punya mata di belakang kepala (karena si monster masih memunggungi). Rukia mencetuskan Shakkahou, melemahkan ekor besar itu; hingga tiga orang tersebut bisa memutarinya dan lanjut berlari, namun malang untuk si gadis bangsawan yang menyulut kemarahan si monster.

Arrancar itu berpaling padanya; Rukia tak punya jalan lain, kecuali menarik Sode no Shirayuki. Ia tahu, si raksasa marah besar setelah ia membakar salah satu dari delapan ekor kesayangannya. Dan memang marah besar dengan tanpa tedeng aling-aling melontarkan ...

"Cero?"

Refleks bagus meski tak menduga, Rukia melompat tinggi ke atas. Tapi hukum gravitasi tak berlaku di sini; ia tidak kembali ke bawah dengan tubuh yang terjebak dalam kungkungan lima jari si Arrancar. Tak kepalang tanggung, satu ekor bergerak ke depan bersama tajamnya duri-duri yang menyembul di kepala ekor siap menghabisi nyawa sang Dewa Kematian.

Trang!

Duri beradu dengan sebilah pedang.

"Tokichi?"

Si pemilik nama menjadi tameng, membalas kebaikan hati sang putri Kuchiki yang telah berlaku ramah padanya saat di Kuchiki Manshion. Membalas dengan menyelamatkan Rukia dari ambang kematian; memotong tangan si monster setelah berhasil mendorong mundur si duri-duri tajam. Tak ayal jeritan sakitlah yang kemudian terdengar; dua orang itu memanfaatkannya dengan mulai mengambil langkah menjauh, hingga ...

Crash!

Rukia yang harus seorang diri untuk kembali menghindar karena tubuh pria yang menolongnya telah tertikam dari belakang. Ia mematung, syaraf geraknya mendadak berhenti, seluruh sendi tubuhnya seolah dalam keadaan mati rasa ketika Tokichi runtuh bersama aliran darah dari dada hasil tusukan duri tajam ekor si monster. Menopang tubuh pria itu pun tak sempat karena si Arrancar langsung meraihnya, dan dibuang ke dalam liang mulutnya; menjadi makan siang ke-15.

"TOKICHI!"

Bertolak belakang dengan si Dewa Kematian yang berteriak pilu, si Arrancar malah menjilat bibir untuk menikmati sisa-sisa makan siangnya. Tak ada santapan yang lebih enak selain seorang Shinigami; ia kenyang, tapi belum puas ketika masih ada satu makanan lezat yang berdiri tegak. Tapi raksasa itu tak tahu kalau mangsa berikutnya ini bukanlah mangsa yang mudah seperti sebelumnya dengan tekanan roh yang mendadak meninggi dan katana biasa yang berubah jadi katana putih.

Rukia bergerak cepat dengan mencoba mengontrol gejolak amarahnya. Ia akan menjadikan Arrancar Jelek itu debu salju setelah membekukannya ke dalam Hakuren atau Tsukishiro. Tiba di belakang si raksasa, diayunkannya sang Zanpakutou tanpa pikir panjang, memutuskan salah satu ekor si monster. Pekikan perih terdengar, tapi tak dipedulikan ketika ia siap mencincang ekor berikutnya.

Trang!

Regenerasi super cepat, ekor yang terputus itu kembali beserta duri-durinya. Duri tajam bergesekan dengan bilah es. Sayang, Rukia lebih kuat dan memenangkan adu pedang dan duri tersebut. Tapi kemenangan tak lama ketika satu ekor melilit tubuhnya dari belakang.

Bukan sakit yang dirasa sang Shinigami, namun lelah dan letih sampai Sode no Shirayuki terlepas dari genggaman kuatnya dan kembali dalam bentuk katana. Bak daya hidupnya dikuras habis atau tepatnya reiatsu yang dihisap oleh ekor si Arrancar, membuatnya runtuh terduduk lemah ketika ia dilepas. Tak pelak, Rukia tanpa perlawanan ketika ekor itu menghempaskan tubuhnya, menabrak batang pohon, dan jatuh terjerembab.

Mangsa sudah tak berkutik, tak berdaya, tanpa pertahanan; makanan yang ideal sampai ...

"Jangan berani dekati Rukia-neechan, Cumi-cumi Jahat!"

Bocah sok berani mengganggunya dengan lemparan puluhan kerikil. Bocah konpaku, bocah tanpa reiryoku bukanlah seleranya, tapi ia benci jika harus diusik ketika sedang makan siang. Jadi, dialihkannya perhatian pada si bocah dengan mengejarnya.

Yuuichi berhasil!, bocah itu bersorak girang dalam hati. Rencana untuk menarik perhatian si cumi-cumi jelek agar mamanya punya waktu untuk mengamankan Rukia-neechan berjalan mulus. Kini ia tinggal berlari ke dalam hutan, dan mencebloskan si monster buruk rupa ke jurang di ujung hutan sana.

Bukan rencana buruk, tapi juga bukan rencana brilian. Anak ini lupa kalau lawannya adalah monster yang tak sejenis dengan monster yang sering dilihatnya atau yang membunuh mamanya. Ukurannya saja beda, ratusan kali lipat. Jadi ketika akar pohon menyandungnya, membuatnya terjatuh saat baru menginjakkan kaki di pinggir hutan, ia tidak sempat berbalik ketika duri tajam akan membuatnya bernasib sama dengan Tokichi.

Crash!

Yuuichi baru melepas kegemingan dengan menoleh ke belakang ketika cairan merah kental menetesi sebelah pipinya atau melihat bayangan yang merentangkan tangan membentenginya.

"Ma—ma ..."

Bukan ia yang bernasib sama, tapi wanita yang baru menerimanya, baru direngkuhnya, atau baru diajaknya bercengkerama. Padahal mereka baru bertemu, tapi tak sampai seperempat hari, mamanya sudah dua kali mempertaruhkan nyawa.

"Yu—Yuuichi ..."

Memanggil namanya untuk pertama kali, namun Yuuichi sama sekali tidak senang. Bahkan ia tidak menemukan kehangatan ketika tubuh sang ibu mendekapnya ketika belum sempat berbalik. Napas berat sang ibu yang menerpa telinganya; mengiringi kalimat berikutnya atau ...

"Mama—menyayangimu."

... kalimat terakhir bersama tubuh yang tumbang.

Yuuichi masih dalam posisi yang sama: membelakangi. Ia tidak berbalik atau tidak mau berbalik ketika darah mulai membasahi kaki telanjangnya. Ketika memutuskan untuk berbalik, ia menutup mata, berharap ini mimpi, dan ketika membuka mata, hamburan pelukan hangat yang akan menyambutnya.

Ia membuka mata.

Iya. Harapannya adalah pelukan hangat sang ibu dengan senyum yang sama hangatnya, bukan pelukan dingin sang ibu dengan senyum kaku.

Yang sebetulnya adalah: harapan Yuuichi sama sekali tidak terwujud.

.

.

.

.

.

"MAMA!"

Yuuichi berteriak sekencang-kencangnya, semaksimal yang ia bisa, sebatas yang ia mampu; tanpa peduli jika pita suaranya harus putus. Tapi sang ibu masih tidak membuka mulut untuk membalas, iris berwarna senada dengan miliknya pun masih tertutup di balik kelopak mata, tarikan napas masih nihil berderu dari hidung bangirnya, kedua tangan terkulai lemas masih tanpa denyut nadi, dan cairan merah pekat yang masih mengalir dari tubuh sang ibu.

Harus berapa kali Yuuichi memanggil ibunya agar ia bangun? Harus seratus kali kah? Seribu kali? Sepuluh ribu kali? Atau—sejuta kali? Atau sampai pita suaranya benar-benar putus? Iya, benar sekali. Jika pita suaranya putus, ibu pasti bangun karena amat cemas padanya.

"Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama! Mama ..."

"Mama, ayo bangun. Jangan tidur di sini. Di sini dingin. Nanti masuk angin."

"Kalau mama bangun sekarang, Yuuchi janji akan mencuci semua baju mama. Yuuichi juga akan membersihkan rumah. Yuuichi akan rajin bangun pagi. Yuuichi ... Yuuichi tidak akan cengeng lagi."

Tapi sayang, tak ada tanggapan baik suara ataupun gerakan.

"Yuuichi ..." panggilan lemah Rukia tak digubrisnya.

Yang kemudian, tawa terbahak-bahak si Arrancar menyela isakan pilu si bocah, "HAHAHAHAHA ... Bocah bodoh! Memanggil wanita itu sampai kau mati pun dia tidak akan bangun!"

Nihil timpalan, isakan, atau teriakan; Yuuichi terdiam saja dan cuma merunduk. Ada sesuatu yang menggeliat kuat dalam dadanya, berdesir ke penjuru aliran darahnya, dan bergolak ke sekujur sendi tubuhnya.

"Tapi kalau kau ingin bersamanya, jadilah makan siangku, Bocah."

"Yuuichi, lari dari sana!"

Bocah itu bergeming, masih terduduk di samping tubuh sang ibu tanpa jiwa; tidak mendengar atau tidak peduli peringatan Rukia untuk menghindar dari tangan besar yang akan melumatkan tubuh kecilnya.

Sebelum—"A-apa-apaan ini?" tangan besar sang Arrancar berhenti ketika aliran kekuatan tak asing menguar di setiap inci tubuh si bocah.

"Yuuichi ... Dia ...?" Rukia tahu betul rasa ini, tekanan ini, aura ini, aura yang menyeruak adalah ... "Reiryoku ..."

Yuuichi memiliki reiryoku, kekuatan spiritual, sumber dari reiatsu, atau singkatnya—dasar dari kekuatan Shinigami. Kemarahan si bocah dengan ketiadaan ibunya bergumul jadi satu, bergejolak, dan meledak; membangunkan kekuatan yang selama ini tertidur lelap.

Yuuichi berdiri, berjalan melewati si Arrancar seolah makhluk itu hanyalah seonggok boneka cumi-cumi raksasa. Monster itu pun tidak menghadangnya, tampak belum keluar dari alam kejutnya bahwa bocah ini memiliki kekuatan roh. Ia baru tersadar ketika dentingan besi terdengar dan menyaksikan bocah itu meraih Zanpakutou si Shinigami mungil dalam bentuk katana. Apa yang bisa dilakukan seorang anak kecil dengan sebilah katana? Pedang terlalu berat untuk bocah cengeng itu. Tidak bisa, tidak akan bisa melukainya, tidak akan bisa—

Crash!

Tidak akan bisa apa? Tidak akan bisa membuatnya meringis kesakitan ketika salah satu ekornya terputus oleh ayunan pedang dari bocah berumur enam tahun? Omong kosong. Lihatlah buktinya.

"Aaaaakh! Ekorku!" si Arrancar bahkan menjerit. Tapi tak lama, ketika jeritan perih berubah jadi jeritan marah. "Bocah! Kau ...!"

"Ini balasan karena sudah melukai mamaku! Melukai Rukia-neechan! Aku akan membunuhmu, Cumi-cumi Super Jahat!"

Ayunan kedua dari Yuuichi. Ia akan menebas ekor berikutnya. Tapi—"Eeekh!" satu ekor melilir leher kecilnya dari belakang. Pedang terjatuh ketika tubuhnya terangkat. Sesak, ia butuh udara.

"Yuuichi!" Rukia berteriak; tak punya kekuatan cukup bahkan untuk berdiri.

"Tadi itu hanya kebetulan, Bocah," ekornya kian mengangkat anak itu dengan ketinggian nyaris sama dengan tinggi genteng rumah. "Jangan pikir kau bisa melakukannya lagi."

Tanpa basa-basi lagi, dihempaskannya ke daratan. Andai bocah itu tak punya reiryoku, semua tulang rusuknya pasti telah remuk. Ia mencoba bangkit sebelum bayangan besar memayungi. Ia berbalik dengan posisi yang masih terduduk. Biarpun memiliki reiryoku, kekuatan Yuuichi masih tidak bisa dibandingkan dengan Arrancar. Bahkan untuk Hollow kelas teri, ia masih kalah. Jadi tak perlu kaget jika tubuh kurus bocah itu diremukkan oleh kaki besar yang kian mendekat. Hingga ...

"Bukankah ini sedikit keterlaluan—seekor Arrancar melawan seorang anak kecil? Benar-benar lucu."

Kaki besar itu berhenti, tepatnya dihentikan oleh tapak lima jari yang tentu ukurannya jauh dari telapak kaki si raksasa. Tapi ukuran tak menentukan kekuatan.

"Siapa kau?"

Alih-alih menjawab, pengunjung itu malah menarik napas panjang dan membuangnya pelan. Ketika itulah lengkingan takut si Arrancar membahana saat es menjalar dari ujung kaki. Tak perlu lima detik untuk kita menyaksikan boneka es berwujud setengah cumi-cumi dan rusa terpampang di Bukit Inuzuri.

Yuuichi memandang lekat punggung sang pengunjung ketika mengibas-ngibaskan tangan yang pegal (maklum, tak semudah kelihatannya membekukan seekor raksasa). Dan belum berbalik, ia memanggil:

"Toushiro-niichan ..."

.

.

.

.

.

Rukia butuh menyipitkan mata untuk tahu jelas sosok yang menjegal kaki raksasa si Arrancar, atau sosok yang merupakan dalang merambahnya es ke sekujur tubuh si monster. Perlu menunggu waktu beberapa detik hingga kabut es menipis, kedua iris ungunya menangkap sosok itu.

"Hitsugaya-taichou ..."

Si pemilik nama menoleh. Sama sekali tak tampak raut marah atau kesal di sana (di luar dugaan Rukia); yang ada raut lega atau ... rindu.

Setelah melepas rindu melihat gadis itu baik-baik saja seperti yang diharapkan, Toushiro beralih pada Yuuichi yang masih terduduk. Berjongkok di depannya sambil merogoh cawan obat di kimono depannya, melumurkan di pelipis si bocah, di sepasang lutut, dan di siku seraya mencoba tidak menatap Yuuichi yang kini terisak-isak atau tidak bertanya dengan aura reiryoku yang mengelilingi anak itu. Membantunya berdiri, berjalan melalui boneka es Arrancar sambil menggenggam tangannya; sempat berpaling sepintas pada tubuh wanita tak bernyawa tak jauh dari sana.

Toushiro terlambat.

Setiba di depan gadis yang amat dicemaskannya, Toushiro tidak berkata apa pun. Ia hanya merobek pinggiran kimono-nya sendiri, lalu membalutkannya pada lengan Rukia yang terkoyak. Ia pun berupaya tak acuh dengan Rukia yang terdengar ingin berujar sesuatu, tapi ujung-ujungnya cuma bilang, "Hitsugaya-taichou ..." Setelah lengan, ia beralih pada pergelangan kaki yang tergores; menangkupkan kimono yang lagi-lagi dirobeknya.

Kini ia menyerah, ia menatap si gadis Kuchiki setelah tak menggubris panggilan sebanyak tiga kali.

"Hitsugaya-taichou, ma—"

"Jangan berkata apa-apa," kata Toushiro, makna tegas tersirat kuat dari ucapannya yang terdengar sendu. "Aku tahu yang ingin kau katakan. Tapi untuk sekarang, tidak perlu mengatakan apa pun. Anggap saja tidak pernah terjadi."

Toushiro tak ingin dengar lantunan maaf Rukia. Ia merasa, yang perlu melantunkan maaf adalah dirinya. Andaikan ia keras kepala dan kukuh, ini tidak akan terjadi. Tapi untuk sekarang, memang lebih baik melupakan kejadian tadi pagi. Karena memandang dekat gadis ini lagi, sudah lebih dari cukup untuknya. Lebih dari cukup. Tak ada yang lebih diinginkannya selain ini.

Selembar sapu tangan dikeluarkan Toushiro (sapu tangan Rukia yang diberikan Yuuichi padanya), membersihkan debu kusam di selusur wajah si gadis bangsawan. Rukia sama sekali tak menepis; ia membiarkan kain putih itu menyapu dahi, pipi, bahkan leher—bahkan ketika jari si kapten mengusap sudut bibirnya yang berdarah.

"Toushiro?"

Yang dipanggil baru berhenti ketika Ganju dan Seizo muncul dengan napas tersengal-sengal. Tidak mudah tiba di tempat tujuan dengan posisi berdiri seusai memeras tenaga berlari nyaris belasan kilometer ketika dirasa reiatsu kuat seiring tekanan roh Rukia yang melemah menyeruak hingga ke pusat Inuzuri. Setelah mengatur napas, Ganju mematung dengan boneka es Hollow raksasa, sementara Seizo menghampiri tubuh Haruka yang telah dingin tanpa aura hidup. Ia bergumam kesal karena terlambat; sejurus Toushiro yang menghampirinya dengan Yuuichi. Ia menyuruh pria itu membawa tubuh ibu Yuuichi dan si bocah untuk menjauh dari sini, dan tugas Ganju adalah menyeret Rukia pergi meski gadis itu menolak.

Karena ia tahu, pertempuran ini belum selesai ketika: Krak!—terdengar retakan yang berasal dari si boneka es. Si Arrancar masih hidup seiring dengan raungan amarah yang membahana di seluruh penjuru Inuzuri. Pertempuran kembali dimulai.

.

.

.

.

.

"Hitsugaya-taichou ...?"

"Toushiro, kau ...?"

"Apa yang kalian tunggu? Cepat pergi dari sini!"

Tampak dua pria itu tak mau melepas kaki yang bak memaku di tanah ketika Toushiro melantangkan perintah untuk membawa Rukia, Yuuichi, dan tubuh Haruka beranjak dari sini. Seizo enggan, terlebih Ganju yang entah kenapa sangat ogah untuk membiarkan kapten di depannya mengatasi si Arrancar sendirian.

"Apa kalian tidak dengar, hah?"

Ia paham maksud Toushiro menyuruh mereka pergi, ingin melindungi mereka dengan caranya sendiri meskipun terkesan bahwa ia dan Seizo tidak bisa membantu apa-apa jika melawan Hollow sekelas Arrancar. Tapi bagi Ganju, ia merasa dianggap tak lebih dari onggokan beban; bukan saat ini saja, bahkan sejak misi ini dimulai. Ia akui, meski mustahil ia katakan terang-terangan di depan Toushiro, kapten itu sangat kuat. Misi ini tak akan berhasil tanpa bantuan laki-laki itu; mereka ada di sini dan bertemu dengan ibu Yuuichi, semuanya karena Toushiro.

Namun Ganju sadar, yang mengusiknya bukanlah sekadar Toushiro yang seolah mengganggapnya beban, tapi Toushiro yang seakan tidak menganggapnya rekan atau ... kawan? Iya, itulah yang ia benci. Kapten itu berusaha menyelesaikan semuanya seorang diri, tak pernah sekali pun berpaling ke belakang bahwa ada orang yang akan senantiasa mengulurkan bantuan kapanpun ia butuh.

Bahwa ada dirinya, Ganju Shiba, yang siap membantunya.

Ganju berjalan, membawa langkah mantapnya ke depan. Kapten itu, kini, tidak membelakanginya lagi, tapi tepat di sampingnya. Seizo berpikiran sama, dengan berdiri di sisi Toushiro yang satunya.

"Kalian ...?"

"Kau juga hobi mengusir orang ya, Toushiro? Kupikir Kuchiki saja yang punya hobi seperti itu."

"Shiba ..."

"Aku memang tidak kuat. Tapi Hollow jadi-jadian yang plin-plan memilih wujudnya, seekor gurita atau rusa, bukan masalah untuk Ganju-sama."

Tak ada seorang pun di sana yang tidak menangkap suara gentar Ganju ketika melantangkan pernyataan di atas (buktinya, ia salah menyebut cumi-cumi dengan gurita). Toushiro pun merasakan, tapi ia tahu bahwa pria ini berusaha membangkitkan mental keberaniannya dengan berucap sombong. Kadangkala kesombongan itu perlu untuk membangun kepercayaan diri.

"Anda tidak sendiri, Hitsugaya-taichou. Saya dan Ganju siap membantu Anda."

Seizo lebih lihai membentengi rasa gentarnya. Pengalaman memang tidak pernah berbohong.

Toushiro menghela napas. "Dasar," ia tersenyum.

Ganju tertawa menang ketika tahu bahwa kapten itu tak akan menghindar lagi. "Aku tahu kau cuma malu meminta bantuanku, Toushiro."

"Bodoh. Aku tidak akan pernah meminta bantuanmu. Kau saja yang menawarkan."

"Setelah ini, traktir aku, ya?" kata Ganju bak diberi hati minta jantung. Udah untung diizinkan ikut bertarung, masih saja minta lebih.

"Jangan harap," tolak Toushiro mentah-mentah, meski ia tahu itu hanya gurauan Ganju. "Untuk kali ini saja kalian kubiarkan, lain kali aku akan menyelesaikannya seorang diri."

"Okkie dokkie."

Seizo tersenyum saja menyaksikan keakraban tak biasa Ganju dan Toushiro. Mendengar kedua laki-laki itu sepakat akan satu hal ibarat salah satu keajaiban di Soul Society. Rukia dan Yuuichi menjauh ke pinggir hutan, tak lupa dengan tubuh Haruka yang senantiasa direngkuh Yuuichi. Untuk sekarang, Rukia tak boleh ikut campur, membiarkan ketiga pria itu mengatasi si Arrancar.

Ganju memasang kuda-kuda sambil menarik pedang yang jarang digunakan.

"Siapa bilang Ganju-ojichan tidak berguna? Aku, Toushiro-niichan, Rukia-neechan, Seizo-ojisan, teman-temannya Ojichan. Kata Hideyoshi, tidak ada yang namanya teman tidak berguna."

Barangkali, kata-kata Yuuichi itu bukan sekadar kalimat indah yang tercetak di manga. Mungkin benar tak ada yang namanya teman tidak berguna, tapi lebih pada dirinya yang merasa seperti itu. Oleh karenanya, Ganju akan membuang rasa tidak enak itu dengan senantiasa menolong Toushiro walau pemuda itu menolaknya. Meski secara langsung ia telah mengakui bahwa kapten dingin ini adalah temannya.

Entah sejak kapan pengakuan itu muncul.

Keempat orang ini bak keluarga barunya; Toushiro, Seizo, dan Kuchiki adalah teman-temannya dan Yuuichi yang telah dianggap adiknya sendiri (mumpung, ia tidak punya adik).

Entah kapan terakhir kali ia merasa sesenang ini menghadapi sebuah pertarungan.

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

.

.

A/N : Saya gak nyangka jadi sepanjang ini. Awalnya saya pikir cuma 3 ribu words, eh jadi 2x lipat yaitu 6 ribu words. Oh, iya, kalo kalian baca lagi chapter2 awal, saya munculin Tokichi*namanya kok aneh banget*karakter lu 'ndiri, Ray# tapi masih tanpa nama. Lalu masalah Arrancar, saya ragu semua Arrancar telah musnah meskipun Aizen sudah tidak menguasai Hueco Mundo. Jadi saya munculkan satu ekor di chapter ini, hehe.

Oke. Pengumuman! Siapin obat anti serangan jantung ya, sebelum saya beritau kan fic ini baru tamat di CHAPTER 30*readers langsung pingsan* Di chapter awal saya pernah bilang kalo tamat di chapter 20. Sebenarnya itu baru perhitungan kasar, nah perhitungan yang tepatnya, yah pengumuman di atas, hehe*cengengesan dengan muka inosen* Kalo kalian nanya kenapa panjang amat, saya juga gak tau*lu authornya apa bukan sih* Dari awal, plotnya memang kayak gini. Ada yang saya ubah, tapi saya gak tambah-tambahin.

Ada yg mau ngeluh, protes, silakan tulis lewat surat*plak* lebih praktis dan biaya dikit, tulis di kotak review di bawah sana saja. Sampai jumpa lagi, ya*melarikan diri sebelum digebukin*

Ray Kousen7

13 Januari 2013