...School Of Magic...
.
.
.
Disclaimer : Naruto [Masashi Kishimoto]
Created By : Al – kun666
Rated : T
Genre : Action, Adventure, Fantasy, Martial Arts, School, Sci-Fi, SuperPower, Romance and Etc.
Pairing : ?
Warning : Typo (s), Miss Typo (s), OOC, OC, Alternative Universe (AU) and Etc.
Don't Like Don't Read ..
Ide ini dihasilkan oleh otak author sendiri, jadi harap maklum jika masih banyak kesalahan.
.
.
Summary : Kyoto Akademi, salah satu sekolah sihir terbesar dijepang, Namikaze Naruto, seorang pemuda dengan minat yang kurang tentang sihir, terpaksa harus masuk sekolah tersebut karena paksaan kedua orang tuanya.
.
.
Chapter 25 : Magical Beast 'Shukaku'
.
.
"Matilah kau sialan !"
Blaaarrr ...
Suara ledakan terdengar dengan keras diikuti kepulan debu yang mengepul disana saat boneka Kankuro berhasil mencapai targetnya, wajah Kankuro menunjukan seringai keji dengan gerakan jari dia kembali menarik boneka yang dia pakai untuk menyerang Gaara, namun tak lama kemudian wajahnya menunjukan ekspresi bingung dengan sedikit kejutan dimatanya, itu karena pada saat dia akan menarik kembali bonekanya, dia menemukan fakta kalau dia tidak bisa menarik kemballi bonekanya seakan ada sesuatu yang menahannya.
Naruto dan Zetsu yang sedang mengamati tak jauh dari situ saling berpandangan untuk sejenak dengan raut wajah Zetsu yang terlihat bingung, faktanya mereka berdua melihat sebuah lingkaran sihir pemanggilan Magical Beast didepan Gaara tepat beberapa saat sebelum boneka Kankuro menyentuh Gaara.
"Astaga, i-itu .."
Zetsu tersentak pelan saat dia kembali mengalihkan pandangannya kearah pertempuran, dan dia kini bisa melihat sebuah lingkaran sihir besar didepan Gaara yang mengeluarkan sebuah tangan raksaksa berwarna cokelat pasir dengan corak – corak kecil berwarna biru tua disekitarnya, tangan tersebut nampak seperti tangan monster dengan jari yang tidak mempunyai kuku namun terlihat sangat tajam, dan tangan tersebut kini nampak tengah mencengkram sesuatu, dan Zetsu yakin itu adalah boneka milik Kankuro.
"T-tidak mungkin, bagaimana mungkin Magical Beast legendaris itu ada disini, bahkan membuat kontrak dengan seorang bocah?"
Zetsu berguman pada dirinya sendiri saat dia meihat tangan monster tersebut dengan keringat dingin yang membanjiri seluruh tubuhnya, Naruto yang mendengar gumanan Zetsu hanya mengangkat alisnya sambil mmemperhatikan dengan seksama kearah Gaara, namun dia hanya diam dan tak menunjukan reaksi apapun meskipun sebenarnya dia juga sedikit terkejut.
"K-kau, bagaimana mungkin kau sudah membuat kontrak dengan Magical Beast ini?!"
Berbeda dengan Zetsu dan Naruto yang tidak terlalu menunjukan reaksi mereka saat melihat tangan monster tersebut, Kankuro melotot tak percaya dengan ketakutan yang sangat terlihat jelas dimatanya, wajahnya kini pucat pasi bahkan kakkinya juga gemetar pelan.
Karena Kankuro tahu tangan monster macam apa itu, itu adalah tangan monster Shukaku, yang dalam legenda keluarga Sabaku, monster tersebut adalah monster rakun berekor satu yang menghancurkan desa tempat tinggal mereka dulu, konon, dulu saat Shukaku mengamuk perlu beberapa ahli sihir tingkat 8 untuk menyegelnya di sebuah gua diwilayah mansion Sabaku, itu juga dengan korban yang tidak sedikit.
Dan karena letak penyegelan monster itu ada dalam wilayah keluarga Sabaku, setiap generasi muda yang lahir dari keluarga Sabaku, mereka akan mencoba untuk membuat anak – anak mereka membuat kontrak dengan monster tersebut namun hanya berakhir kegagalan, jadi bagaimana mungkin Kankuro tidak kaget saat menngetahui kalau Gaara sudah membuat kontrak dengan monster mengerikan itu?
Gaara yang kini tengah terengah – engah dibelakang lingkaran sihir tersebut hanya memperlihatkan senyum sinis pada Kankuro yang kini menatapnya dengan kaget dan juga takut, bukan apa – apa hanya saja dia terlalu lelah untuk bahkan bicara dengan Kankuro, dia sudah kesusahan memanggil Shukaku dan itupun dia hanya bisa memanggil tangannya saja karena mana nya sekarang tidak stabil dan bahkan hanya memanggil tangan Shukaku membuat mananya hampir terkuras setengah.
Bagi para penyihir, bukan hanya kapasitas mana mereka yang penting, tapi juga pengendalian mana mereka juga penting, karena jika pengendalian mana mereka kacau atau buruk, mereka akan dengan boros menghabiskan mana mereka, bahkan dibeberapa kasus sihir yang mereka gunakan tidak akan berjalan stabil seperti sihir pemanggilan Gaara sekarang, karena Gaara tahu kondisinya sendiri dia tidak membuang waktu lama dan dengan perintah batin dia meminta Shukaku untuk menghancurkan boneka Kankuroo yang ada ditangannya.
Krraaakk ..
Shukaku yang menerima perminataan Gaara dengan segera mengepalkan tangannya dengan keras hingga boneka Kankuro yang berada dalam genggamannya hancur lebur, Kankuro mundur dengan perlahan saat dia melihat kejadian itu, matanya penuh dengan ketakutan dan terror.
Blaaarr ..
Kankuro melompat dengan panik saat tangan Shukaku menerjang kearahnya dengan cepat, beruntung dia mempunyai refleks yang cukup bagus sehingga dia bisa menghindari tangan mengerikan Shukaku dengan cepat dan membuat nyawanya terselamatkan.
Namun saat dia melompat mundur, mata Kankuro menyipit saat dia melihat kalau Shukaku tidak keluar dari lingkaran sihir yang dibuat Gaara dan hanya menunjukan tangannya saja yang itupun tidak bisa lebih jauh 10 meter dari lingkaran sihir Gaara, melihat ini ekspresi ketakutan yang sebelumnya dia tunjukan segera menghilang digantikan dengan seringaian yang sama seperti yang sebelumnya dia tunjukan, bagaimanapun Gaara sedang terluka oleh racunnya dan pengendalian mana nya tentu saja payah.
"Ah, jujur aku terkejut saat melihatmu sudah membuat kontrak dengan mahluk mengerikan seperti Shukaku, tapi nampaknya kau tetap akan mati hari ini"
Seringai Kankuro makin lebar saat dia melihat Gaara yang nampak terengah – engah dari jauh, matanya menunjukan niat membunuh yang dengan jelas dia tunjukan pada Gaara.
"Baiklah adikku, aku akan memberikanmu hadiah spesial di akhir hidupmu"
Kankuro mengambil sebuah bola kecil berwarna hitam dari sakunya dan dengan cepat dia melemparkannya kearah Gaara, Gaara yang melihat sebuah bola kecil berwarna hitam yang dilemparkan Kankuro tentu saja dia tidak mau gegabah, dengan perintah batin dia menggunakan tangan Shukaku untuk menangkap bola tersebut dan menghancurkannya.
Namun Gaara hanya bisa mengernyit tidak suka saat bola tersebut nampak terbang dengan lincah menghindari tangan Shukaku, tentu saja dia tahu kenapa bola kecil itu bisa terbang lincah, itu karena kakaknya Kankuro, dia kini sedang menggerakan jari – jarinya dengan lihai mengendalikan bola kecil itu dengan aliran mana yang terhubung antara bola kecil itu dengan jari – jarinya.
Swuusshh ..
Gaara nampak berekspresi muram saat tangan Shukaku tidak bisa menangkap bola kecil tersebut, gerakan tangan Shukaku terbatas, belum lagi kecepatannya jauh lebih lambat dari bola kecil Kankuro, sehingga sangat sulit untuk dia menangkap bola kecil itu, dia hanya bisa diam – diam menggertakan giginya sambil melihat bola kecil itu yang kini sudah semakin dekat dengannya.
Kraaakk ..
Saat bola kecil milik Kankuro tiba didepan Gaara, bola kecil itu nampak retak seolah – olah sesuatu akan meledak dari situ, dan dengan cepat sesuatu keluar dari bola kecil itu dan langsung masuk kemulut Gaara dengan cepat bahkan Gaara tidak bisa bereaksi karena kecepatannya.
Gaara yang merasakan sesuatu masuk ke tenggorokannya dengan panik mencengkram lehernya, sesuatu yang masuk ke mulutnya itu nampak menggeliat ditenggorokannya dan berusaha menerobos untuk masuk kedalam perutnya, wajah Gaara menunjukan ekspresi kesakitan dan dia dengan segera berlutut ditanah dengan mulut terbuka seolah mencoba memuntahkan sesuatu yang masuk dalam mulutnya.
Kankuro yang melihat ini hanya diam mengawasi dari jauh sambil menyeringai perlahan, sesuatu yang masuk kedalam mulut Gaara adalah Magical Beast yang ditangkapnya beberapa waktu lalu, itu adalah jenis ular yang tidak terlalu berbahaya namun akan sangat menakutkan jika ular itu berada didalam tubuh mahluk hidup, karena ular itu akan memakan setiap daging dan organ dalam mahluk itu dan membunuhnya dengan siksaan rasa sakit yang begitu hebat, bahkan ular ini juga mengkonsumsi mana.
"Aaaarrgghh !"
Gaara nampak berteriak kesakitan dan menggeliat ditanah seperti cacing, bersamaan dengan itu lingkaran sihir yang mengeluarkan tangan Shukaku menghilang, Kankuro yang melihat hal itu segera menyeringai lebar dan dengan langkah pelan dia menghampiri Gaara.
"Oh adikku yang manis, apakah itu rasanya enak?"
Saat Kankuro tiba didepan Gaara, dia bertanya dengan raut wajah mengejek saat melihat Gaara yang tak henti – hentinya menggeliat kesakitan ditanah. Gaara yang melihat Kankuro mendekat dengan keras menggiling giginya dan menatap Kankuro dengan raut wajah penuh kebencian, bahkan ada niat membunuh disana.
Duuaakkhh ..
"Kenapa kau menatapku seperti itu hah? Kau harus tau batasanmu adik bodoh"
Kankuro dengan tanpa perasaan menendang wajah Gaara dengan keras hingga menyebabkan hidungnya berdarah, dengan pelan Kankuro segera berjongkok didepan Gaara dan mencengkram raut wajah kesakitan Gaara.
"Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu, biarkan ular didalam tubuhmu itu memakanmu sedikit demi sedikit dan menyisakan tengkorakmu hahaha"
Kankuro tertawa senang saat dia melihat raut wajah tersiksa Gaara, menepuk – nepuk pipi Gaara dengan pelan, Kankuro kemudian merobek sebagian baju Gaara dan mengambilnya, dengan raut wajah yang menunjukan rasa bersalah dia berkata denngan pelan.
"Hanya ini yang tersisa dari Gaara saat aku mencoba menyelamatkannya dari sergapan Magical Beast di gunung"
Raut wajah bersalah Kankuro segera menghilang dan digantikan dengan raut wajah keji, dia terkikik geli saat dia memandang Gaara yang kini tengah mengerang kesakitan dan menggeliat ditanah seperti cacing gila.
"Hehe selamat tinggal adikku, semoga dikehidupanmu selanjutnya kau lebih menggunakan otakmu"
Kankuro mulai berdiri dan dengan sebagian baju Gaara ditangannya dia berjalan pergi dengan santai tanpa mempedulikan teriakan kesakitan yang berasal dari Gaara, dia juga nampaknya yakin kalau Gaara tak lama lagi akan terbunuh oleh Magical Beast yang ada ditubuhnya dan hanya akan meninggalkan tulang – belulang, jadi dia tidk membunuhnya secara pribadi, karena itu akan terlalu mudah untuknya.
Melihat Kankuro yang pergi dengan santai, Gaara hanya bisa menggertakan giginya marah, meskipun dia kesakitan, dia masih sempat menatap siluet Kankuro dengan penuh niat membunuh, dia bersumpah jika dia selamat dia akan menyiksa Kankuro hingga kematian adalah hal yang paling dia inginkan, dengan kemarahan dan kesakitan yang memuncak tak lama kemudian pandangan Gaara menggelap dan dia jatuh pingsan.
Zetsu menatap kejadian didepannya dengan raut wajah jelek, dia sama sekali tidak suka dengan perlakuan Kankuro, meskipun mereka adalah orang asing namun Zetsu masih merasakan prihatin atas apa yang dialami oleh Gaara.
"Ayo kita selamatkan dia"
"Hah?"
Zetsu melotot tidak percaya pada Naruto, dia mengorek kupingnya seolah mungkin dia salah dengar tadi, tapi raut wajah Naruto menunjukan kalau dia sama sekali tidak salah dengar. Mulut Zetsu sedikit terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tak lama kemudian bibirnya kembali tertutup, Fu*k sejak kapan Naruto jadi seorang yang baik hati pada orang lain? Nampaknya Zetsu sama sekali tidak mempercayai apa yang baru saja dikatakan Naruto.
"Dia mungkin akan jadi temanku di masa depan"
Zetsu memiringkan kepalanya tanda dia bingung oleh perkataan Naruto, belum sempat dia membuka mulutnya untuk bertanya pada Naruto, namun Naruto sudah terlebih dahulu melompat dan berlari menghampiri Gaara, Zetsu hanya menghela nafas pelan dan tak lama kemudian mengikuti Naruto menghampiri Gaara.
"Kau bisa menyembuhkan luka bekas sayatan Zetsu – Nii?"
"Yeah kurasa"
Setelah mendengar jawaban Zetsu, Naruto segera berjongkok didepan Gaara dan menyingkirkan sebagian baju yang masih dipakainya hingga Gaara kini bertelanjang dada, mereka juga bisa mellihat sesuatu yang menggeliat didalam perut Gaara, dan mereka berasumsi kalau itu adalah Magical Beast yang ditinggalkan Kankuro, dengan sebuah pikiran muncul lingkaran sihir berwarna kuning diatas tangan kanan Naruto dan memunculkan sebilah pisau tajam.
"Tunggu Naruto, apa yang kau .. Fu*k !"
Sreeett ..
Zetsu mengumpat pelan dan dia bisa merasakan kalau dia nampak mengeluarkan keringat dingin saat Naruto yang tanpa aba – aba apapun langsung menikam perut Gaara dengan pisau ditangannya dan dengan gerakan santai dia menggerakan pisau secara vertical sehingga perut Gaara kini terbuka lebar dan menyemburkan banyak darah. Tanpa membuang waktu dan tanpa merasa jijik sedikitpun Naruto memasukan sebelah tangannya kedalam perut Gaara dan mencoba mencari sesuatu, tak lama berselang Naruto mengeluarkan tangannya dari perut Gaara.
"Cepat rawat luka – lukanya Zetsu – Nii, sebelum dia mati karena kehabisan darah"
Zetsu tentu saja tidak lengah, dia dengan cepat mengeluarkan sihirnya dan mulai melantunkan mantra.
[Green Plant In This World]
[Give Me A Strenght]
[Element Magic : Healing Plant]
Lingkaran sihir segera muncul diatas luka Gaara, dan dengan sinar kehijauan yang berasal dari lingkaran sihir tersebut, luka Gaara mulai sembuh secara perlahan, dan tentu saja itu membuat Zetsu diam – diam menghela nafas lega, setelah beberapa lama luka Gaara nampak sembuh sepenuhnya, dan Zetsu segera menghentikan sihirnya lalu merogoh sesuatu dari tasnya.
Mengabaikan Zetsu yang nampak tengah mengobati Gaara dengan ramuan nya, mata Naruto fokus pada ular kecil ditangannya, ular itu nampak berukuran seukuran jari kelingking, dan hanya mempunyai panjang sekitar sepuluh cm, kepalanya nampak seperti ular biasa namun tubuhnya agak berisi seperti ikan. Menatapnya untuk beberapa saat, tak lama kemudian Naruto menghancurkan kepalanya dengan kedua jarinya.
"Bagaimana keadaanya?"
Setelah membuang Magical Beast ular kecil tadi, Naruto segera bertanya pada Zetsu yang kini sedang memeriksa keadaan Gaara, sambil menunggu Naruto mengeluarkkan sapu tangan dari lingkaran sihirnya untuk mengelap noda darah yang ada dilengannya.
"Organ dalamnya baik – baik saja, beruntung ular itu tidak terlalu lama ditubuhnya dan kau juga mengeluarkannya dengan cepat sehingga tidak ada cedera berat di organ dalamnya, tapi mengingat dia lumayan kehilangan darah dan aku sudah memberinya ramuanku untuk mengatasi itu, dia hanya perlu beristirahat beberapa hari dan dia akan sembuh total"
"Lalu racun nya?"
"Itu sama sekali tidak mempengaruhi nyawanya, racun itu hanyalah tipe racun untuk mengacaukan aliran mana, mungkin dalam beberapa hari dan juga beberapa perawatan aliran mana nya akan kembali normal"
"Baiklah, akan kuserahkan dia padamu Zetsu – Nii, lalu apakah kita akan meneruskan penncarian kita?"
"Kau pasti tahu apa jawabanku"
"Baiklah ayo kita kembali dan cari penginapan, aku lelah"
...xxXxx...
Kaguya menatap kosong pantulan dirinya didepan cermin, mengabaikan penata rias yang sedang menata penampilannya, dia hanya memandang kosong wajah cantiknya didepan cermin, dia kini mengenakan gaun mewah berwarna putih dengan beberapa corak indah dibeberapa bagian, anting – anting perak yang menggantung ditelinganya terlihat bersinar saat terkena cahaya lampu, rambut peraknya nampak diikat ekor kuda sehingga menampilkan leher putih mulus yang bisa membuat orang meneguk ludahnya dengan susah payah hanya dengan melihatnya.
"Naruto .."
Kaguya berbisik dengan pelan diikuti dengan perubahan ekspresi wajahnya yang kini menunjukan ekspresi sedih sekaligus tertekan dan bersalah, dia tentu saja masih memikirkan perkataan Sasuke beberapa hari yang lalu, dan semakin lama ia memikirkannya, semakin dia bingung dan juga tertekan.
Kemarin dia mendengar kabar dari kakaknya kalau dia tidak akan bertunangan dengan anak bungsu Sabaku, tapi anak sulung mereka, Kaguya tentu saja tidak terlalu memikirkannya karena ia sama sekalli tidak peduli, lagipula dia tidak sudi jika harus menikah dengan lelaki selain Naruto, dia lebih baik untuk mati daripada harus seperti menikah dengan orang lain.
Mengingat Naruto kembali, Kaguya menggigit bibir bawahnya pelan, jika Naruto benar – benar datang kesini untuk menyelamatkannya dari situasi ini Kaguya tentu saja akan sangat senang, memikirkannya saja sudah membuat wajahnya memerah dengan detak jantungnya yang mulai bertambah cepat, namun mengingat kembali Naruto yang bahkan tidak mempunyai kekuatan untuk mmelindungi dirinya sendiri, hal itu membuat wajah Kaguya berubah pucat seketika, dia takut akan terjadi sesuatu pada Naruto jika ia benar – benar datang kemari.
"Nona, tuan meminta anda untuk segera turun karena acara akan segera dimulai"
Seorang pelayan membungkuk dibelakang Kaguya sambil berbicara dengan pelan pada Kaguya, Kaguya meliriknya sebentar sebelum berbicara dengan dingin.
"Aku akan segera kesana, kalian semua pergilah"
Pelayan tersebut dan beberapa penata rias membungkuk mengerti sebelum mereka keluar dari kamar Kaguya dengan sopan, Kaguya menghela nafas pelan matanya berkedip dengan kesedihan dan ketidakberdayaan yang luar biasa sebelum matanya kembali terlihat dingin seperti biasa.
"..."
Kaguya menggigit bibir bawahnya sambil mencengkram gaun yang dipakainya dengan erat, meskipun ini hanya pertunangan dan bukanlah pernikahan, dia tidak akan rela jika ia harus bertukar cincin dengan seseorang yang sama sekali tidak ia cintai, namun mengingat ekspresi bersalah dan lelah ayahnya beberapa hari lalu, cengkraman Kaguya mulai mengendur,dengan menghela nafas pelan dia berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya dengan elegan.
Di aula tengah, banyak orang yang nampak sedang mengobrol, makan, maupun saling bertukar bir, mereka semua memakai pakaian mewah dan itu membuktikan kalau mereka semua berasal dari keluarga bangsawan, diantara kerumunan dapat terlihat sesosok pria berumur 20 tahunan, dengan rambut cokelat yang nampak berantakan dia duduk disalah satu kursi dengan santai, matanya tiba – tiba menunjukan kilatan nafsu saat ia melihat sosok Kaguya yang turun dari lantai atas dengan elegan, kedatangan Kaguya tentu saja mengundang perhatian semua orang dan saat semua orang melihatnya, mereka tidak bisa untuk tidak berdecak kagum, bagaimana mungkin sosok sempurna seperti ini ada di dunia fana?
"Astaga dia benar – benar cantik seperti peri"
"Aku akan mati bahagia jika aku mempunyai istri seperti itu"
"Fu*k, berhenti bermimpi bung !"
"Bungsu Sabaku itu benar – benar beruntung, dia akan mempunyai tunangan secantik ini"
"Kudengar sepertiya yang akan bertunangan dengan nona Kaguya itu bukanlah anak bungsu Sabaku tapi anak sulung mereka"
"Apa? Benarkah itu?"
Pria berambut cokelat yang menatap Kaguya dengan penuh nafsu hanya menyeringai dingin saat dia mendengar komentar – komentar orang sekitar tenntang calon tunangannya, memikirkan jika dia akan bisa membuat gadis secantik Kaguya menjerit dibawahnya dengan erotis, Kankuro tidak bisa untuk tidak menjilat bibirnya dengan pelan.
"Kau akan jadi milikku nona Kaguya"
Kankuro menyeringai jahat, menengguk bir ditangannya dengan pelan, matanya tak pernah lepas dari tubuh Kaguya, memikirkan sesuatu dipikirannya Kankuro tiba – tiba menyeringai dengan matanya yang jelas menunjukan niat jahat pada Kaguya.
Kaguya sendiri sama sekali tidak menyadari tatapan jahat Kankuro, dia hanya memasang raut wajah dingin yang selalu ia pakai, dia kemudian berjalan kearah ayah dan kakaknya yang nampak sedang berbincang dengan sebagian tamu, melihat Kaguya berjalan kearahnnya Toneri dengan segera menyambutnya dengan hangat. Melihat Kaguya, Hagoromo tidak bisa untuk tidak menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Maafkan ayah Kagu – chan"
"Tidak apa ayah, ini bukan salahmu"
Melihat raut wajah bersalah ayahnya, Kaguya tidak bisa untuk mempertahankan ekspresi dinginnya dan dengan tulus ia tersenyum lembut pada Hagoromo, yang membuat Hagoromo tertegun untuk sesaat, sebelum ia menghela nafas dan tersenyum tak berdaya.
"Baiklah karena kau sudah disini, mari kita mulai acara ini"
...xxXxx...
Naruto menatap langit malam dalam diam, tak lama berselang dia mengalihkan pandangannya kearah sebuah Mansion mewah yang berada tak jauh dari situ, Mansion tersebut nampak sangat besar, hampir mempunyai luas 2x lapangan sepak bola, diluar gerbang Mansion nampak terlihat beberapa orang berpakaian hitam yang sedang berdiri sambil sesekali membuka gerbang untuk beberapa mobil mewah yang masuk ke Mansion, Naruto juga melihat kalau orang – orang itu juga mengumpulkan undangan berwarna emas dari para tamu.
Naruto mengerutkan dahi, ini adalah hari pertunangan Kaguya, dan Naruto sama sekali tidak menyangka kalau pertunangannya masih akan diteruskan setelah Gaara 'mati'.Awalnya setelah insiden percobaan pembunuhan Gaara oleh Kankuro, pertunangan ini harusnya paling tidak akan diundur dan memberikannya beberapa waktu untuk menyempurnakan rencananya, tapi sayangnya sesuatu nampak tidak seperti yang dia perkirakan, tapi tentu saja itu bukan masalah untuknya, merapikan jas dan kemeja yang dipakainya, Naruto berjalan dengan elegan kearah gerbang Mansion.
Para penjaga diluar Mansion nampak mengernyit saat melihat Naruto yang berjalan dengan elegan kearah mereka, melihat penampilan formal Naruto mereka tidak bisa untuk tidak terkejut dan menatap bingung pada Naruto, bukan apa – apa tapi ini adalah kali pertama mereka melihat pada hari pertunangan nona Kaguya, ada seseorang yang datang kesini dengann hanya berjalan kaki, atau mungkin orang ini bukanlah seseorang yang diundang oleh tuan?
"Berhenti, mana undanganmu?"
Naruto yang hendak masuk dengan santai segera dihalangi oleh beberapa penjaga dan menanyakan undangannya, dengan raut wajah yang seolah – olah teringat sesuatu Naruto segera meraba – raba saku celana dan jasnya dengan santai sebelum raut wajahnya berubah sedikit panik.
"Ah sial, undanganku nampaknya tertinggal dirumah, tapi bisakah aku masuk? Aku kenal dekat dengan nona Kaguya"
Para penjaga saling pandang untuk sejenak, mata mereka yang tadinya dipenuhi kebingungan kini hanya menatap Naruto dengan tatapan mencemooh, nampaknya mereka berfikir terlalu hebat pada Naruto, dia hanyalah seorang pemuda bodoh yang mmencoba menipu mereka.
"Pergilah pengemis, ini bukanlah tempat yang pantas untuk kau singgahi"
Naruto hanya tersenyum sinis saat dia mendengar cemoohan dari salah satu penjaga tersebut, yah dia awalnya tidak ingin menyakiti mereka dan hanya ingin masuk dengan cara baik – baik, tapi nampaknya mereka membuat sulit diri mereka sendiri.
Melihat Naruto yang hanya diam saja dan tak kunjung pergi dari sana membuat beberapa penjaga kesal dan mereka berniat untuk mengusirnya secara paksa, tapi belum sempat mereka melakukan tindakan mereka, Naruto terlebih dahulu lenyap dari pandangan mereka, dan mereka hanya bisa mendengar jeritan kesakitan dari teman mereka satu per satu tanpa bisa bereaksi.
"A-apa?"
Salah satu penjaga yang masih selamat tidak bisa untuk tidak terkejut saat melihat teman – teman nya nampak terbaring dengan tendangan telak yang membuat mereka tidak sadarkan diri, menatap Naruto yang kini hanya berdiri santai tak jauh darinya, penjaga tersebut tidak bisa untuk tidak gemetar, dengan panik dia segera berlari masuk kedalam Mansion untuk melaporkan ini pada atasannya.
Naruto hanya berdiri dalam diam saat dia meihat penjaga itu berlari, dia bahkan tidak berniat untuk mengejarnya, bahkan dia akan lebih senang jika penjaga itu membawa seseorang yang lebih kuat untuk menghadangnya, karena tentu saja itu akan lebih sedikit menantang, mendengus pelan Naruto kemudian kembali berjalan dengan elegan kearah Mansion, namun baru saja dia memasuki gerbang Mansion Ootsutsuki sebuah lingkaran sihir besar muncul diatasnya dan memunculkan sebuah angin topan besar dengan dia terkurung didalamnya.
"Kukira siapa orang yang berani – beraninya membuat masalah di Mansion Ootsutsuki ini, ternyata hanya bocah ingusan yang masih bau kencur"
Naruto yang berada didalam angin topan samar – samar mendengar suara cemoohan seseorang dan suara itu berasal dari seorang wanita, Naruto yang melihat kejadian ini tidak bisa untuk tidak menyerigai senang, nampaknya wanita ini setidaknya adalah seorang ahlli sihir level 5 atau mungkin 6, tentu saja mana mungkin klan besar seperti Ootsutsuki mempunyai penjaga keamanan yang lemah?
Mengangkat tangannya, Naruto membuat sebuah lingkaran sihir disampingnya dan memunculkan sebuah tombak berwarna hitam kelam, ujung tombak tersebut nampak tajam dengan 3 ujung lancip, dibagian pegangan tombak tersebut terdapat pola aksara kuno dengan beberapa aksen berwarna emas, tombak tersebut juga mengeluarkkan aura kematian yang pekat, ini merupakan senjata hadiah dari Gilgamesh yang diberikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 13 dulu. Tombak ini merupakan peleburan dari tombak Gae Bolg yang hancur, ditambah dengan bahan langka seperti taring Naga, tombak ini bahkan lebih kuat dibanding Gae Bolg itu sendiri.
Gae Bolg merupakan tombak bersejarah dari mitologi Irlandia, tombak tersebut dikatakan terbuat dari tulang raksaksa laut Coinchenn yang telah meninggal pada saat berperang dengan raksaksa laut lain yang bernama Curruid. Pada saat itu Gilgamesh menerima tombak itu dari temannya yang hampir meninggal, dengan keadaan tombak tersebut patah, dan dengan tambahan taring naga dia meminta penempa profesional untuk kembali membuat tombak dengan bahan itu, dan hasilnya sangat luar biasa tombak ini bisa menembus prisai kuat seorang prajurit seperti menusuk tahu.
Karena tombak ini awalnya berasal dari tombak Gae Bolg asli, Gilgamesh juga mengatakan kalau mulai sekarang tombak ini merupakan Gae Bolg itu sendiri, meskipun sekarang mempunyai 3 ujung sedangkan Gae Bolg dulu hanya mempunyai satu ujung tombak.
Gae Bolg melayang diatas Naruto, tombak tersebut nampak berputar dengan pelan, dan dengan ayunan tangan Naruto, tombak tersebut melesat dengan cepat kearah depan, menembus angin topan seolah itu tidak ada.
Sementara itu diluar angin topan berdiri seorang wanita berambut hitam panjang, wanita itu cukup cantik, dengan rambut hitam panjang dan mata merah Ruby nya yang kontras dengan gaun berwarna kuning yang dipakainya, disekitarnya terlihat puluhan ahli sihir level 4 dan 5, mereka tentu saja merupakan divisi keamanan dalam Mansion Ootsutsuki ini.
"Kurenai – sama, bukankah lebih baik untuk menghilangkan sihir ini sekarang? Tidak akan baik jika anak itu meninggal, karena dia tidak membunuh penjaga sebelumnya dan membiarkan salah satu penjaga melapor, itu membuktikan kalau anak ini punya maksud lain dan mungkin kita bisa mendapatkan informasi dari dia"
Salah satu penjaga yang berada di samping Kurenai berbicara dengan sopan saat dia menatap angin topan besar yang mengurung Naruto, bukan apa – apa hanya saja sihir milik atasannya ini bisa mencabik – cabik target yang ada didalamnya sampai mati, dan dia khawatir jika anak itu akan mati sebelum mengungkapkan informasi apapun tentang motif dia membuat masalah disini.
Kurenai mengerutkan keningnya sebelum dia mengagguk pelan atas saran bawahannya, namun belum sempat dia menghilangkan sihirnya, sebuah tombak melesat kearahnya dengan kecepatan gila, melihat itu Kurenai dengan cepat membuat mana shield didepan nya, ahli sihir yang lain juga nampak melakukan hal yang sama dan beraksi dengan cepat saat mereka melihat tombak Gae Bolg.
Krraakk ..
"Mengindar dari jalur tombak !"
Kurenai berteriak panik saat dia dengan cepat melompat kearah kiri, mendengar teriakan Kurenai, bawahnnya tentu saja segera menjauh dari jalur tombak, tombak tersebut terus melesat sebelum menghantam air mancur besar tak jauh dari situ, sehingga menimbulkan ledakan yang cukup keras, dan membuat patung air mancur tersebut berantakan secara total bahkan ditempat air mancur itu kini terbentuk kawah seluas 10 meter.
Melihat hal itu, Kurenai tidak bisa untuk tidak berkeringat dingin, apa – apaan itu? Pada saat tombak itu menyentuh mana shieldnya, mana shieldnya langsung retak dan tentu saja jika ia tidak berfikir cepat dan memerintahkan bawahannya menghindar mungkin sekarang akan banyak korban jiwa, tombak itu terlalu mengerikan.
Dengan perasaan dingin ditulang belakangnya, Kurenai menatap sihir angin nya dengan ekspresi horror dan juga terkejut, tombak itu jelas – jelas berasal dari dalam sihir angin yang dibuatnya, dan dia yakin hanya satu orang yang berada didalam sihir angin miliknya sekarang, bukankah itu berarti tombak itu berasal dari anak nakal yang terkurung dalam sihirnya? Namun bagaimana mungkin itu bisa terjadi, siapa sebenarnya anak ini? sekarang dia nampaknya harus berfikir kembali apakah dia akan menghilangkan sihirnya atau tidak, karena siapa tahu apa yang akan dilakukan oleh anak itu saat dia menghilangkan sihirnya, Kurenai merasa jika tombak itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan anak ini.
Saat Kurenai dan bawahannya terkejut karena kejadian barusan, mereka tidak menyadari kalau sihir angin milik Kurenai saat ini sudah menghilang karena lingkaran sihirnya hancur oleh Naruto. Saat mereka sadar kalau sihir Kurenai sudah menghilang mereka hanya menatap Kurenai dengan heran. Namun ekspresi Kurenai kini dipenuhi dengan raut wajah terkejut dan juga bingung, pasalnya dia sama sekali tidak menghilangkan sihirnnya, jadi bagaimana mungkin sihir itu bisa hilang begiitu saja? Mugkinkah anak itu menghancurkan lingkaran sihirnya? Memikirkan itu Kurenai kembali mengingat tombak yang hampir membunuhnya beberapa saat lalu, dan dia tidak bisa untuk tidak menahan kengerian yang ada dalam hatinya saat dia mengingat itu.
"K-kurenai – sama, i-itu.."
Salah satu penjaga disamping Kurenai nampak berkata dengan ekspresi tak percaya diwajahnya saat dia menunjuk kearah diamana sihir angin milik Kurenai dibuat, Kurenai mengernyit sesaat sebelum dia mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh penjaga tersebut.
Saat dia melihat apa yang ditunjuk oleh penjaga tersebut dia tidak bisa untuk tidak terkejut dengan ekspresinya yang sangat jelas menunjukan ketidakpercayaan yang luar biasa. Apa yang ditunjuk oleh bwahannya adalah Naruto, tapi bukan iitu yang membuat dia terkejut, keadaan Naruto yang baik – baik saja yang bahkan pakaiannya pun tidak tergores sama sekali lah yang membuatnya sangat terkejut.
Sihir yang dia gunakan tadi adalah sihir level 4, yang harusnya bisa membuat ahli sihir level 5 pun sedikit kewalahan jika terkurung didalamnya, karena sihir tersebut bisa mencabik – cabik orang yang ada didalamnya bahkan sampai mati, dan sihir itu juga tidak mudah untuk dihancurkan, melihat Naruto yang bisa menghancurkan sihirnya sudah sangat membuat Kurenai terkejut dan kali ini dia melihat Naruto yang tidak tergores sedikitpun saat dia terkurung dalam sihirnya, itu membuat Kurenai tanpa sadar meneguk ludaknya dengan susah payah.
"S-siapa sebenarnya kau?"
...xxXxx...
To be continued ..
A/N : Yo minna, maaf banget buat keterlambatan updatenya, yah saya tidak akan membuat alasan apa – apa, hanya saja ada beberapa faktor yang membuat fic ini lama diabaikan oleh saya, yah kalian bisa tebak sendiri, saya terlalu sibuk di duta.
Makasih buat yang ngedukung saya buat lanjutin fic ini bahkan ada yang sampai tekun banget ngingetinnya, yah sekali lagi saya minta maaf buat keterlambatannya, dan sekali lagi terima kasih buat yang udah fav, fol, rev dan baca fic ini.
Mungkin sekian saja dari saya, terima kasih sekali lagi.
See you next time ...
