Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


"Kau Tidak Sendirian, Yuki"

Tak ada yang berbicara, semuanya terdiam dalam pikirannya masing – masing. Yuki yang memperhatikan raut keempat saudaranya merapatkan bibirnya, menolak untuk menceritakan lebih lanjut. Ia sudah menjelaskannya pada mereka. Alasan mereka tidak mengingat dirinya, tujuannya yang sebenarnya, semuanya telah ia ceritakan pada mereka. Ia sempat merasa lega ketika telah mengaku pada saudaranya. Namun, disisi lain ia juga merasa sesak dan ketakutan. Ia takut tragedi itu kembali terjadi karena dirinya telah lalai. Ia membiarkan calon Adam, Subaru menghisap darahnya. Menurut pengalamannya selama ini, jika ia membiarkan calon Adam menghisap darahnya, itu akan menjadi pemicu gagalnya rencana Adam dan Eve.

Padahal, ini kesempatan terakhirku! Andai aku mendengarkan perintah Ruki nii, pasti tidak akan begini jadinya! sesalnya.

"Berapa lama lagi waktu yang kau punya?" tanya Ruki tiba – tiba.

"Eh? Maksudnya?" Yuki berbalik tanya.

"Berapa lagi kesempatan yang kau punya untuk mengulang waktu?" ulang Ruki memperjelas.

"Tunggu! Kau percaya begitu saja apa yang diucapkan olehnya?!" seru Yuuma.

"Kau tidak percaya apa yang diucapkan Yu-chan, Yuuma-kun?" tukas Kou. "Yu-chan tidak mungkin berbohong pada kita."

"Berisik! Pokoknya, aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya!"

Setelahnya, Yuuma langsung kabur begitu saja, meninggalkan Yuki dan yang lainnya. Ada perasaan bersalah yang melanda Yuki dan ia bermaksud untuk mengejar Yuuma. Namun, tangannya langsung dicekal oleh Azusa, menyuruhnya untuk tidak melakukan hal itu. Yuki menurut dan langsung duduk kembali.

xxx

Entah apa yang terjadi hari ini, Yuuma sama sekali tidak tahu. Mungkin hari ini adalah hari sial untuknya. Paginya, ketika ia ingin membangunkan Yuki, ia melihat gadis itu tidak ada. Lantas, ia langsung mencari gadis itu, mengingat kondisinya yang belum pulih benar. Ia mencoba mencari ditaman belakang, tempat biasanya Yuki melarikan diri. Namun, sosok gadis itu justru tidak ada disana. Sebuah tempat yang mungkin saja dikunjungi oleh Yuki terlintas dibenaknya. Tapi, untuk apa gadis itu pergi kesana, mengingat identitasnya sudah terbongkar. Karena ia sudah mencari diseluruh mansion dan hasilnya nihil, ia akhirnya mencoba nekat pergi kesana, mansion milik Sakamaki bersaudara.

Benar dugaannya. Yuki berada disana, tengah berbicara dengan sibungsu Sakamaki bersaudara. Baru saja ia akan menarik gadis itu pulang, kejadian yang membuat emosinya memuncak terjadi. Sibungsu Sakamaki bersaudara, Subaru, menggigit leher adik perempuannya itu. Hati juga pikirannya sudah berteriak untuk segera menolong gadis itu. Namun, aroma manis yang melebihi gula batu kesukaannya mendadak menyeruak, membuatnya terdiam sejenak. Ia tidak ingin mempercayainya, tapi itulah kenyataannya.

Aroma manis itu berasal dari Yuki, adik perempuannya.

Ia sama sekali tidak menyangka kalau adik perempuannya itu memiliki aroma darah semanis itu. Mungkin karena ia sudah bersama cukup lama hingga ia tidak menyadari aroma manis itu. Tapi, sedekat apa pun dirinya dengan Yuki, ia sama sekali tak pernah mencium aroma darah dari gadis itu. Seolah gadis itu tidak mempunyai darah didalam tubuhnya.

Aroma manis itu begitu menggoda dirinya. Ia hampir saja kehilangan kendali atas dirinya karena aroma darah milik Yuki. Beruntung akal sehatnya menyadarinya dan ia pun segera bertindak. Namun, seruan mendadak yang dikeluarkan Yuki membuatnya terkejut. Wajah gadis itu yang awalnya pucat semakin pucat. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi ia harus segera melakukan sesuatu. Dengan langkah besarnya, ia melangkah menuju tempat Yuki dan Subaru berada.

Ia langsung menghujani Subaru dengan pandangan menusuk. Wajah garang yang biasa ia tampilkan semakin garang, mengingat apa yang baru saja bungsu Sakamaki bersaudara itu lakukan.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tuntut Yuuma tajam.

"Hah?! Aku tidak melakukan apa – apa padanya!" bantah Subaru. "Dia sudah seperti itu."

Yuuma mendesis, tentu saja tidak percaya karena ia melihat apa yang dilakukan oleh cowok berambut putih itu. Ia hendak menarik lengan Yuki, menyeretnya untuk pulang. Namun, gadis itu justru menepis tangan Yuuma, membuatnya sedikit bingung juga marah. Ia ingin melontarkan makiannya, tapi begitu melihat sorot ketakutan dimatanya, ia langsung terdiam. Belum pernah ia melihat gadis didepannya itu ketakutan hingga seperti itu. Gadis itu hendak melarikan diri, tapi berhasil dicegah oleh Yuuma.

"Oi, kau mau ke-"

"Kuruna! Sawaruna, Cordelia!" teriak Yuki.

Baik Yuuma dan Subaru sama – sama terkejut. Mengapa gadis itu bisa mengenal Cordelia, ibu dari sikembar tiga Ayato, Kanato, dan Raito. Berbagai pertanyaan berkecamuk dan Yuuma sama sekali tidak mengerti.

Seolah tersadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan, Yuki langsung terdiam. Ia bahkan menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan saudaranya itu. Yuuma hanya menghela napas panjang dan dengan mudahnya ia mengangkat tubuh Yuki.

"Lepaskan aku Yuuma!" berontak Yuki.

Yuuma hanya diam dan menatap bengis Subaru yang sejak tadi diam. Detik berikutnya, mereka berdua menghilang dan sampai didepan mansion mereka. Meski sudah sampai dirumah pun, Yuuma belum mau melepaskan Yuki yang masih memberontak dalam gendongan Yuuma. Karena merasa lelah sendiri, Yuki akhirnya diam dan pasrah saja apa yang akan terjadi padanya nanti. Dan karena terlalu pasrah, ia bahkan tidak sadar kalau dirinya sudah berada diatas tanah. Yuuma dengan segera mengambil seember penuh air dan menyiram Yuki.

"Apa yang ka-"

"Bagus," potongnya. "Setidaknya bau orang itu sudah tidak tercium olehku."

Alis Yuki bertautan, tidak mengerti. "Apa maksudmu?" tanyanya.

Entah dari mana Ruki muncul tiba – tiba dan menutupi pandangan Yuki dengan handuk. Ia bisa melihat tubuh Yuki yang mendadak tegang ketika Ruki berusaha mengeringkan rambut pendek gadis itu. "Kau bisa masuk angin jika tidak segera dikeringkan," ujar Ruki.

Yuki hendak berkata sesuatu, tapi langsung ia urungkan. Ruki hanya menatapnya penuh arti, mengelus puncak kepala Yuki. "Masuk kedalam dan ganti bajumu," ujar Ruki memberi perintah. "Setelah itu baru kudengarkan ceritamu."

Gadis itu mengangguk patuh dan segera berlari menuju kamarnya.

Dimulailah sebuah cerita yang jika dipikir secara logika sangat mustahil untuk dilakukan. Tak hanya dirinya saja yang terkejut, semuanya terkejut hingga tak bisa berkomentar apa – apa. Bahkan Ruki pun cukup terguncang mendengar cerita yang keluar dengan mulus dari mulut Yuki.

Kenyataan bahwa adik perempuannya itu berasal dari waktu yang berbeda dengan mereka. Kenyataan bahwa adik perempuannya itu selalu mengulang kejadian yang sama. Kenyataan bahwa adik perempuannya itu berusaha menghindarkan mereka berempat dari kematian.

"Berapa lagi waktu yang kau punya?" tanya Ruki tiba – tiba, memecahkan keheningan.

"Eh? Maksudnya?"

"Berapa banyak lagi kesempatan yang kau punya untuk mengulang waktu?" ulang Ruki memperjelas.

"Tunggu! Kau percaya begitu saja apa yang diucapkan olehnya?!" seru Yuuma tak terima.

"Kau tidak percaya apa yang diucapkan Yu-chan, Yuuma-kun?" tukas Kou. "Yu-chan tidak mungkin berbohong pada kita."

"Berisik! Pokoknya, aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya!" ucapnya pergi, membanting pintu yang ada dihadapannya. Ia mendesis, melemparkan tinjunya kedinding hingga menimbulkan retakan kecil disana. Ia tak peduli tangannya terluka atau akan diomeli panjang lebar oleh Ruki. Ia tak peduli sama sekali.

Penjelasan Yuki barusan membuatnya kesal hingga ia tak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkannya. Ia tak ingin mempercayai semua hal itu, tapi ia juga tak bisa menyangkal bahwa semuanya adalah kenyataan. Tato mawar hitam dipunggung Yuki... dirinya yang sudah mati berkali – kali... semua itu sulit dipercaya.

"Kuso!"

xxx

Beruntung hari ini sekolah libur, jadi ia punya banyak waktu untuk melamun, atau setidaknya memikirkan langkah selanjutnya. Tapi, berpikir selama apa pun tak ada ide bagus yang muncul didalam benaknya. Jika pun mendapatkan ide bagus, ia tak bisa menjamin ide itu akan membawanya menuju keberhasilan. Ia sudah masuk kedalam perangkap dan tak bisa keluar. Ia telah membuat kesalahan kecil yang ia yakini akan membawanya menuju kehancuran.

Memikirkan dirinya akan melihat kejadian itu, ia kembali murung. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan raut wajahnya yang nyaris menangis.

Apa yang harus kulakukan? Batin Yuki.

Ia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikiran – pikiran buruk yang bermunculan tanpa henti. Ia mencoba memikirkan berbagai hal positif agar dirinya tidak terus menerus murung. Ia tak boleh terlihat murung didepan saudaranya hanya karena hal seperti ini.

Yuki menarik napas dalam – dalam dan menghembuskannya, menyemangati dirinya sendiri. Un, aku tak boleh begini terus, batinnya. Pasti ada cara lain sehingga aku tak perlu melihat hal itu lagi.

Meski ia berpikir seperti itu, tetap saja membuat hatinya tak tenang. Tangannya menyentuh leher yang ia tutupi dengan plester, menyembunyikan luka gigitan Subaru. Ia masih ingat ketika ia hampir kehilangan akal karena darahnya diminum oleh cowok bungsu Sakamaki itu. Entah apa yang membuatnya bisa berpikiran seperti itu, seperti bukan dirinya. Ia seolah merasa ingin darahnya diminum oleh salah satu Sakamaki bersaudara. Jika mengingat hal itu, membuatnya merinding akan dirinya sendiri.

"Ah, jika dipikir kembali semua... sudah mencoba darahku ya..." gumam Yuki pada dirinya sendiri.

xxx

Aroma darah yang harusnya busuk justru terasa manis sekali menurut mereka. Kepalanya begitu pening karena kehilangan banyak darah. Ia mendongak lemah, melihat wajah pelaku yang telah meminum banyak darah miliknya. Jika ia bisa menggerakan kedua tangan atau kakinya, ingin sekali ia menghajar pelaku itu. Tapi, mau bagaimana lagi jika keadaannya seperti ini.

"Tak kusangka, darahmu manis juga, kuso onna."

"Un, lebih manis dari Bitch-chan."

"Padahal aromanya begitu busuk hingga aku tak tahan. Tapi, aku memuji akan manisnya darahmu, Yuki-san."

Ia ingin berkata sesuatu tapi tertahan oleh muntahan darahnya sendiri. Sulur tanaman berduri itu mulai merambat seluruh tubuhnya. Ditambah dengan bayangan orang itu yang menyerang paksa masuk kedalam pikirannya, membuatnya makin tak bisa berbuat apa – apa. Melihat dirinya yang sudah tak berdaya, ia ditinggalkan sendirian didalam ruangan yang gelap dan dingin itu. Suara gembok yang bergema didalam memberi tanda bahwa ia telah benar – benar sendirian.

Ya, sendirian didalam penjara bawah tanah mansion Sakamaki.

Tak akan ada yang datang menolongnya. Tak seorang pun, termasuk Tuhan sekalipun.

Kejadian yang sama akan kembali terulang.

Semuanya karena... kesalahannya sendiri.

xxx

Kou kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Ingin sekali ia berbuat sesuatu pada Yuki untuk menceriakan kembali gadis itu. Tapi, ia sendiri juga tidak tahu bagaimana caranya. Meskipun ia berhasil membuat gadis itu tersenyum, jauh didalam lubuk hati gadis itu pastilah kebalikannya. Bertanya pada Ruki pun apa yang harus dilakukannya, cowok tertua itu juga pasti tidak tahu. Karena ia sendiri tahu bahwa Ruki juga sedang kebingungan.

"Khawatir... dengan... Yu-chan?" tanya Azusa.

"Jika tidak khawatir namanya jahat," timpal Kou. "Sejak ia menceritakan masalahnya kemarin, ia menjadi semakin murung. Aku ingin berbuat sesuatu, tapi tak yakin akan hal itu."

"Tidak... biasanya... Kou... merasa tidak... percaya diri..." sahut cowok bertopi itu.

"Karena ini menyangkut Yu-chan," jawab Kou. "Yu-chan, sejak dulu tak pernah bisa diprediksi. Meskipun aku bisa membaca hatinya, dia masih bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya."

Azusa terdiam. Matanya mengikuti arah pandangan Kou yang sejak tadi menatap Yuki terduduk diam ditaman. Ya, seperti yang dikatakan Kou, Azusa pun berpikiran seperti itu. Apapun yang terjadi pada gadis itu, meski mereka tahu yang sebenarnya, gadis itu akan berpura – pura bersikap tak ada yang terjadi. Itu semua agar mereka berempat tidak terlalu memikirkannya dan mengkhawatirkan dirinya. Sejak dulu, Yuki memang gadis seperti itu. Apapun resikonya, demi mereka berempat, ia akan sukarela melakukannya.

Meski itu mengorbankan nyawanya sendiri seperti sekarang ini.

"Kenapa... harus berbuat... sampai sejauh... itu... Yu-chan?" gumam Azusa.

xxx

"Ternyata benar kau ada disini, Yuki."

Yuki menoleh kesamping, melihat Ruki yang sedang berjalan kearahnya. Ia hanya terdiam dan kembali memutarkan mawar putih yang ada ditangannya. Ruki yang melihat itu menghela napas dan duduk disebelah Yuki.

"Ada apa? Tak biasanya Ruki nii mencariku," ucap Yuki heran. "Mungkinkah, Ruki nii sedang sakit?!"

Ruki menyentil kening Yuki pelan. "Bodoh. Kau memang benar – benar bodoh."

"Maaf deh kalau aku bodoh," rajuk Yuki sambil mengembungkan pipinya.

Ruki tertawa pelan. Ia kembali menghela napas dan menengadahkan kepalanya keatas, melihat langit malam yang sama sekali tak ada apa – apa. Jika tahu kalau keadaan adik perempuannya itu baik seperti ini, ia tak akan mau repot – repot meninggalkan buku kesayangannya. Tapi, ia tahu betul tabiat Yuki karena sudah mengenalnya sejak dulu. Yuki tak akan seperti ini jika ia tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Sama halnya dengan kondisinya yang nyaris kehilangan nyawa hanya karena berusaha menyelamatkan mereka berempat.

Sejak Ruki mendengar penjelasan yang hampir tak masuk akal itu, ia terus berpikir bagaimana hal itu bisa terjadi. Mengapa dirinya tidak mengingat hal itu dan semacamnya. Jika dipikir secara baik – baik dan rasional, hal yang dilakukan oleh Yuki sangatlah mustahil. Namun, jika sudah bersangkutan dengan Karl Heinz, semuanya pasti akan mungkin terjadi. Tidak. Pasti terjadi, apapun itu.

Ia kembali menatap Yuki yang masih asyik dengan mawar putih ditangannya. Jika tak diperhatikan dengan teliti, ia pasti akan menganggap Yuki sedang memainkan mawar putih itu. Tapi, dirinya tak bisa dibohongi. Karena ia tahu, meski terlihat seperti itu, pastilah pikiran gadis itu sedang berada entah dimana.

"Kalau tak salah, mawar itu mawar yang ditanam Yuuma, kan?" tanya Ruki memastikan.

"Un. Aku memetiknya," jawab Yuki. "Hanya setangkai. Lagipula, Yuuma-kun juga entah ada dimana."

"Jika dia tahu kau memetiknya, kau mungkin akan kena omelan panjangnya."

"Tidak akan," sahut Yuki yakin. "Meskipun ia tahu sekali pun, secara tak langsung ini adalah bungaku. Yuuma-kun sendiri yang berjanji untuk menanam mawar putih untukku."

"Bukankah dia berjanji untuk menanamnya bersamamu?" tanya Ruki.

Yuki hanya terkekeh pelan, terkesan pada kakaknya yang masih ingat akan hal sepele seperti itu. Ia kembali menatap mawar putih ditangannya, menolak untuk menatap mata perak Ruki. "Lalu, kenapa Ruki nii kemari?" tanyanya. "Aku yakin, Ruki nii kesini tidak untuk meledekku, kan?"

"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" Ruki berbalik tanya. "Bisa saja kan aku kesini untuk menghirup udara segar dan kebetulan kau ada disini. Sedang duduk bermain dengan setangkai mawar."

Yuki mengembungkan pipinya. "Itu tidak lucu," tukasnya. Ia menoleh dan menatap Ruki yang masih melihat langit malam. "Aku tak akan tahu apa yang Ruki nii pikirkan jika tak dikatakan. Ruki nii tahu sendiri aku ini bo-!"

Kalimatnya terpotong dengan sentuhan lembut dipuncak kepalanya. Bukan hanya itu saja yang membuatnya langsung terdiam. Sebuah senyuman lembut mengembang dibibir Ruki sembari mengelus pelan rambut hitam Yuki.

"Aku tidak tahu kau masih menyembunyikan apa lagi dari kami. Tapi, biar kujelaskan satu hal padamu," ujar Ruki.

"Kau tidak sendirian, Yuki. Apapun masalahmu itu masalah kami juga," lanjut Ruki. "Menyelesaikan masalah bersama... itulah keluarga. Benarkan?"


Kuruna! Sawaruna, Cordelia : Jangan mendekat! Jangan menyentuhku, Cordelia.