BAB 24
"Itu hanya kebiasaan saja, Minho! Yeri selalu membiarkan Yoogeun mengunyah biskuit sehingga tubuh anakmu jadi gemuk seperti ini. Lalu dia menjadi kebiasaan."
"Dia akan berteriak kalau tidak diberikan sesuatu yang bisa dimakan!"
"Ya, Yoogeun belum mengerti kalau tidak semua hal bisa didapatkannya."
"Apakah menurutmu aku harus melakukan hal itu sejak dini?"
"Aku sudah bilang, kan? Berhentilah memanjakannya!" Jiyeon yang baru saja masuk ke kamar ikut ambil bicara.
Ia membongkar-bongkar lemari untuk mencari gaun yang cocok digunakannya saat makan malam nanti. Malam ini, ia dan keluarga kecilnya akan bersenang-senang bersama-sama seperti akhir pekan sebelumnya.
"Kau tau Jongin? Yoogeun bahkan sudah bisa mengkonsumsi lasagna pedas. Jika dibiarkan dia bisa mengembung seperti balon gas!"
"Aku hanya tidak ingin Yoogeun menjadi anak yang merasa kekurangan, sayang!"
"Ya, tapi seharusnya aku yang bersikap seperti itu, kan? Kau seorang ayah, sayang. Semestinya kau yang bersikap lebih tegas untuk memelototinya jika dia melakukan kesalahan. Kau sudah membiarkan anakmu lebih takut kepada ibunya!"
Jiyeon berhasil menemukan sebuah gaun flannel berwarna krem lalu membawanya keluar kamar. Mungkin Jiyeon akan mencari pelayan yang bisa menyetrika gaunnya dalam sekejap di dapur. Setelah Jiyeon keluar dari kamarnya, Jongin tidak lagi bisa menahan tawanya. Ia sudah lama tidak melihat Minho dan Jiyeon berdebat tentang anak mereka. Jiyeon memang sangat tegas, ia bahkan sempat membuat mendiang Daehyun membencinya karena sikap tegas yang tanpa toleransi itu. Sekarang Jiyeon melakukannya lagi kepada anaknya. Sedangkan Minho bersikap sebaliknya.
"Yah, teruslah tertawa. Kau terlihat sangat bahagia setiap kali melihat prahara di rumah tanggaku!"
"Astaga, Minho! Bukan itu maksudku. Aku hanya merindukan hal yang seperti ini. Sudah setahun aku meninggalkan Seoul dan merindukan banyak hal tentang rumah ini."
"Juga Kris?"
"Kau mulai lagi!"
"Kau tidak merindukan Kris?"
Jongin menggeleng, ia bahkan nyaris tidak mengingat Kris selama di Jeju kecuali bila Kris menghubunginya. Semua itu karena Sehun. Sehun tidak pernah membiarkan Jongin merasa kosong dan sekarang Jongin merindukannya. Padahal mereka baru berpisah beberapa hari.
"Aku terlalu sibuk disana!"
"Ya, kau pasti sibuk mengurusi kehamilan Baekhyun, kan? Rumah ini gaduh saat dia mengatakan akan ada seorang bayi dalam rumah tangganya. Semua orang sangat senang, kehamilannya begitu cepat!"
"Ya," Hanya itu.
Jongin merasa kebingungan tentang respon yang harus diberikannya. Bukan Baekhyun yang mengandung, tapi Jongin. Meskipun begitu, bukankah tidak ada seorangpun yang boleh tau saat ini?
"Bagaimana rasanya menjadi ibu kedua dari Haowen?" Jongin tersenyum.
Ibu kedua? Dialah satu-satunya ibu Haowen. Tapi Jongin tidak mungkin mengatakan hal itu, bukan?
"Sangat menyenangkan. Tapi, bukankah aku menjadi sedikit pemalas belakangan ini? Bobot tubuhku naik karena tidak mengerjakan apa-apa di rumah ini."
"Ayah tidak mengizinkanmu mengerjakan pekerjaan itu lagi. Dia lebih suka bila menyambutmu di dalam rumah ini sebagai keluarga. Lagipula sejak dulu kau adalah keluarga di rumah ini, kan?"
"Semua pelayan pasti akan bergosip tentang itu!"
"Terserah mereka, selagi mereka tidak mengatakan hal seperti itu langsung di depan wajahmu, kan? Belakangan ini, Ayah sering menanyakanmu. Sepertinya ayah melupakan keberangkatanmu ke Jeju. Kau tau tidak? Di selalu berteriak memanggilmu untuk membawakannya obat!" Jongin tersenyum mengerti.
Park Jung Soo memang sangat cerewet semenjak ia menjadi sakit-sakitan beberapa tahun belakangan. Ia sangat merindukan mendiang putri bungsungnya dan tidak ada seorangpun yang memungkiri itu. Jung Soo bahkan memanggil Jongin dengan sebutan Daehyun. Tapi semenjak Baekhyun datang ke rumah ini, ia tidak pernah melakukan itu lagi. Jung Soo sudah bisa membedakan Daehyun dengan Jongin. Bahkan kasih sayangnya kepada Jongin tidak berkurang, malah semakin bertambah.
Jongin menghela nafas bila mengingat semuanya. Jung Soo belum pernah melihat Haowen, kan? Seharusnya Jongin membawa Haowen untuk melihat pamannya yang sedang sakit meskipun Haowen sama seperti Jongin, tidak boleh memanggil keluarganya dengan sebutan-sebutan yang bukan julukan kehormatan. Tapi selama ini Jongin tidak pernah merasa kalau semua itu adalah masalah. Hanya dirinya dan ibunya yang tau tentang hubungannya dalam keluarga ini. Bahwa Park Jung Soo adalah kakaknya dari ayah yang sama, itu berarti Yoogeun sedang bermain dengan bibi kecilnya saat ini. Apakah Haowen akan mengetahui kenyataan ini kelak?
Park Jung Soo duduk dengan tenang di atas ranjangnya, punggungnya bersandar pada bantal-bantal yang disusun tinggi. Seharusnya ia keluar dari rumah itu sekali-sekali untuk menghirup udara bebas. Semua orang di rumah memiliki ide seperti itu, Tapi Jung soo selalu menolak. Menurutnya tidak ada satu hal-pun yang paling diinginkan oleh seseorang yang sakit sepertinya selain berbaring di kamarnya yang nyaman. Jongin ataupun pelayan lain tidak ada yang mampu membantah.
"Siapa yang ingin kau pertemukan denganku?" Suara berat Jung soo terdengar serak.
Mungkin untuk hari ini, kata-kata itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Memang masih terlalu pagi, tapi meskipun sedang sakit Jung soo selalu bangun pagi.
"Tunggu sebentar, Tuan!"
Jongin berbisik lalu berjalan ke dekat pintu dan meminta seseorang masuk. Yeri datang sambil menggendong Haowen yang dibungkus selimut berwarna merah jambu. Ia adalah bayi yang hangat.Dengan sedikit usaha, Jongin mengambil bayinya dari dalam gendongan Yeri lalu meletakkannya di pangkuan Jung soo. Melihat Haowen, Jung soo benar-benar terhibur. Satu lagi bayi hadir di dalam rumahnya yang sepi.
"Siapa namanya?" Suara serak Jung Soo terdengar lagi.
Jongin perlahan-lahan berusaha duduk di tepi ranjang untuk bisa lebih dekat dengan Jongin. Ia menyentuh kepalanya sejenak lalu berujar lembut.
"Haowen."
"Bayi perempuan?"
"Ya, dia cantik kan?"
"Cantik sekali. Sepertimu." Jongin tersenyum.
Hingga kini Jung Soo belum bertanya tentang asal-usul Haowen. Anak siapa dia dan siapa orangtuanya. Mungkin Jung Soo sudah diberi tau, atau mungkin Jung Soo lebih suka menganggap kalau bayi itu turun dari surga untuknya.
"Hai, Debby. Lihat hidungmu. Kau mirip sekali dengan ibumu. Semoga kau menyenangkan sepertinya setelah besar nanti." Jung Soo tersenyum lebar, ia memandangi Haowen lama dan bergumam tidak tentu tentang harapan-harapannya.
"Siapa ayahnya?"
Jongin menelan ludah, akhirnya Jung Soo menanyakannya. Ia menoleh kepada Yeri dan meminta gadis itu keluar. Yeri menurut setelah mengatakan kalau dirinya akan menunggu di dekat tangga saja. Dengan sungkan Jongin memandang Jung Soo lagi.
"Maaf, tuan. Bisakah kau mengatakannya lagi?"
"Bayimu, siapa Ayahnya?"
"Maksudmu? Tidakkah ada yang memberi tahu padamu kalau Haowen adalah putri Baekhyun dan Chanyeol?"
"Aku sudah lama hidup di dunia ini. Aku tau kalau ini bukan anak mereka. Bayimu ini hanya memiliki kemiripan denganmu. Dia punya hidung yang sama, alisnya, kau lihat? Semua orang boleh tertipu. Tapi aku tidak. Aku ikut membesarkanmu dan mustahil bagiku untuk tidak bisa membedakan mirip siapa bayi ini."
"Benarkah? Dan apakah kau akan mengusirku dan memisahkanku dari anakku seperti yang pernah kau lakukan pada Kyungsoo? Berapa lama aku harus mengasingkan diri sebelum kembali ke rumah ini lagi. Tuan, Bolehkah aku menunda hukumanku? Haowen masih menyusu dan Yeri masih sangat muda untuk menjadi ibu seorang diri."
"Kenapa kau mengatakan itu? Kau sangat yakin kalau aku akan menghukummu?"
"Hanya itu yang pantas kudapatkan!"
"Aku tidak bisa melakukan itu padamu. Aku bisa bersikap kejam kepada siapa saja tapi bukan padamu." Park Jung Soo bersungut-sungut lalu kembali menatap Haowen.
Meskipun wajahnya sudah kembali ceria, tapi hati Jung Soo sangat bersedih. Ia tau kenyataannya. Tau bahwa Jongin adalah adiknya. Tapi ia tidak mungkin mengaku dan merusak nama keluarganya. Bukankah tidak penting sebagai siapa Jongin dibesarkan? Yang terpenting adalah seberapa besar kasih sayang yang dia dapatkan. Jung Soo selalu berusaha bersikap adil antara Jongin dan Jiyeon. Bulir air matanya tiba-tiba saja jatuh. Ia sudah sangat tua, entah kapan akan kehilangan nyawanya. Tapi Jung Soo memiliki keponakan baru yang berada dalam gendongannya. Ia ingin Haowen segera dewasa dan memanggilnya dengan sebutan paman. Akankah?
"Ada apa denganmu, Tuan?"
"Aku hanya, ummm..." Jung Soo kikuk.
Ia tidak tau harus memberi alasan apa. Dengan berat hati ia mengangkat wajahnya dan menatap Jongin yangberada di hadapannya.
"Siapa ayahnya, kau tidak ingin memberi tau padaku?" Jongin menggeleng.
"Dia tidak punya ayah."
"Lalu bagaimana bila dia bertanya suatu saat nanti. Apa yang akan kau katakan padanya?"
"Akankah aku mengatakannya. Baekhyun dan Chanyeol ingin mengadopsinya jika saja aku tidak membantahnya. Haowen putriku, tapi dia akan lebih baik bila hidup sebagai putri mereka. Tapi aku juga tidak ingin mendengar Haowen memanggil orang lain dengan sebutan ibu. Aku ingin bersamanya selamanya, melihatnya dewasa. Dan haruskah Haowen menerima kalau dia terlahir tanpa seorang ayah?"
Tbc.
Novel by PHOEBE
Makasih Reviewnya :))
Btw, beberapa chapter lagi sehun tau kalo haowen anaknya yaaa... :D
