Reply review dulu... ^^
IXA Cross: APA? Nggak ada kemajuan? He... menyelamatkan Yangmei tuh emang butuh proses... nggak segampang membalikkan tangan... Wewww... Dan nggak mungkin Yangmei bisa normal cuma dalam 1 chap... XDDDDD
Fansy Fan: Glad you like it... ^^ Yeah, it's dangerous... and this chap will prove it...
Yulius: Sama2... (tapi loh masih lebih bagus keindahan alam Wu... XP)
Putri: Owalah... XDDDD Yahhh... kalo punya waktu baca, yaaa~ Biar jelas getu... XDDDDDD Oh, dan kalo tentang suaranya Lu Xun, suaranya kayak gabungan suaranya Jay Zhou ama Hero TVXQ... XDDDDDD *dinuklir gara2 ngomong nggak masuk akal...*
ShaYuuRan: Owww... saya kira bakal pake Yan Lu mengingat Yan Lu akan muncul di FF ini... XDDDDD (ditunggu, ya... ^^v) Kalo itu... wkwkwk... silahkan baca di chap ini! ^^
Di chap sebelumnya saya lupa kasih tahu kenapa ada bagian Lu Xun menikmati pemandangan alam Shu...
Alasan saya nulis itu gini: Pas saya nulis, saya kebetulan setelah dengerin kuliah tentang eco-architectur (alias arsitektur ramah lingkungan). Trus saya mulai menyadari bahwa ternyata alam kita ini udah mulai rusak. Nah, saya pengen menyampaikan itu supaya readers yang baca bisa tergerak menjaga lingkungan (halah! sok bijak! XDDDDD). Makanya ada bagian yang kayak getu... XDDDDD
Dan satu lagi. Di chap ini, saya berpikiran buat memasukkan POVnya Zhou Ying juga... (mengingat dia satu party ama Lu Xun... XDDDDD) Jadi, mungkin setelah ini Zhou Ying juga bisa dimasukkin POVnya... di later chapter, mungkin Zhao Yun juga bisa nimbrung... XDDDDD
Happy reading!
Zhou Ying
Masih tengah malam...
Aku terbangun dengan sendirinya. Ahhh... Rasanya seperti mimpi saja. Sekarang aku bukan lagi putri dari Penasihat Zhou yang setiap harinya mendekam di perpustakaan untuk belajar strategi. Bukan juga putri yang biasa menjaga aturan dalam berbicara dan bertata krama. Sekarang aku sudah pengembara. Seorang Gaibang yang dikatakan sebagai masyarakat rendahan. Padahal, aneh juga aku yang sama sekali tidak bisa bertarung ini bisa menjadi seorang Gaibang.
Tapi aku baru sadar sesuatu. Kenyataan yang sekarang terjadi adalah seperti ini. Kehidupan di Istana Jian Ye-lah yang sekarang menjadi seperti mimpi.
Hanya saja, ada satu hal yang membuatku tidak menyesali keputusanku ini.
Memang benar sekarang aku jadi tahu bahwa Yangmei, kakak sepupuku itu, sudah dikendalikan oleh suatu makhluk yang tersebutkan dalam legenda-legenda sebagai musuh sang Phoenix. Bahkan aku sendiri, tanpa kusadari, makin masuk berlarut-larut ke dalam kisah legenda ini, meski aku mungkin bukan siapa-siapa di sini.
Yang membuatku tidak menyesal adalah Lu Xun.
Aku benar-benar senang bisa menemukannya, meski aku belum bisa kembali ke Wu karena kami pun masih perlu mencari Yangmei.
Dan ngomong-ngomong tentang Lu Xun... dimana dia sekarang?
Kulihat di sekelilingku, tidak ada seorang pun selain Huo Li. Lu Xun tidak ada! Dia lagi-lagi menghilang!
Aku cepat-cepat berdiri kemudian berlari ke arah tempatnya tadi duduk. Tidak ada apapun disana selain selembar kain yang tadi digunakannya sebagai selimut. Saat itulah, mulailah berbagai macam pikiran buruk bermunculan di kepalaku.
Tengah berpikir, Huo Li mengendusi tubuhku secara tiba-tiba!
"Aiya, Huo Li! Kau membuatku kaget!" Seruku sambil menepuk kepalanya. "Ngomong-ngomong, apa kau lihat Lu Xun ada dimana?"
Kuda itu tidak menjawab.
Bodoh, tentu saja dia tidak bisa menjawab. Dia tidak akan mengerti. Mungkin yang bisa mengerti dia dan yang dia mengerti hanya Lu Xun saja. Aku juga tidak tahu kenapa, tetapi sepertinya antara Lu Xun dan Huo Li ada sebuah ikatan yang sangat kuat. Bahkan kalau seandainya berbicara, mereka bisa mengerti satu sama lain...
Aku langsung berlari ke arah barang-barang bawaanku, kemudian mengambil busur dan tempat panahku. "Huo Li! Aku akan mengejar Lu Xun!" Kataku. "Kau tunggu di sini atau mau ikut?"
Kuda itu langsung menghalangi jalanku, kemudian meringkik sekali. Mungkin ini maksudnya dia tidak ingin aku pergi. "Huo Li, aku hanya mencari tuanmu sebentar saja, kok..." Jawabku. "Kalau sudah selesai, aku akan kembali."
Kali ini dia menggeleng, dan sama sekali tidak berpindah dari tempatnya.
"Huo Li... ayolah..." Pintaku. "Apa kau tidak takut kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya? Coba pikirkan. Tadi itu masih pagi, masih aman untuknya di tengah hutan ini. Tapi sekarang kan tengah malam? Apa kau tidak takut kalau seandainya ada apa-apa dengan Lu Xun? Bagaimana kalau seandainya dia diserang hewan buas, atau bertemu dengan gerombolan perampok?"
Apapun yang aku katakan itu, bukan itu yang kukhawatirkan. Lu Xun sangat akrab dengan hewan, bahkan mungkin juga dengan binatang buas. Dan lagi, kemampuan bertarungnya itu, meskipun pas-pasan, tetap cukup untuk mengalahkan gerombolan perampok. Yang aku takutkan hanyalah Yangmei. Kalau benar yang Lu Xun ceritakan selama ini bahwa Yangmei berusaha membunuhnya, menyuruhnya masuk ke Paoluo, mengajaknya bertarung hidup dan mati, maka aku harus menghentikan itu.
Huo Li, mulai diam sejenak. Mungkin dia mulai menganggap benar perkataanku itu. Tidak hanya itu, sepertinya dia sekarang mempersilahkan aku untuk naik ke atas punggungnya. Jadi, aku melakukannya.
"Huo Li, kita cari Lu Xun, ya?" Kataku padanya sementara dia mulai berlari. "Cari di hutan ini, sampai ketemu!"
Ya, aku harus menghentikan Lu Xun.
Tapi, pertanyaannya, apa aku bisa?
-o-o-o-o-o-o-
Lu Xun
"Meimei..."
Dia berbalik. Sepertinya sangat kaget saat menemukanku berjalan keluar dari balik sebuah pohon. Aku hanya bisa membalas itu dengan senyuman tipis, wajah yang menyiratkan kelelahan, juga sorot mata yang lembut. Pasti dia akan langsung menyerangku lagi. Kalau boleh berharap, aku ingin sekali dia tersenyum lebar, kemudian meghampiriku, berlari mendapatiku dan langsung memelukku sambil berkata 'akhirnya kamu kuketemukan!'
Tapi, di luar dugaanku dan juga harapanku, dia tidak bergerak sedikit pun. Masih menatapku dengan tatapan heran dan shock.
"K-kau..." Suaranya bergetar, begitu juga tangannya yang sekarang teracung lurus menudingku. "... Kau datang sendiri kemari? Kenapa?"
Aku menunduk dalam-dalam. Langkahku berhenti di titik itu. "Aku ingin kau kembali, Meimei..." Jawabku dengan suara lemah. "Kalau aku terus lari darimu, bagaimana caraku bisa membawamu kembali?"
Untuk sesaat, hanya ada keheningan di antara kami berdua. Ketika tidak ada satu suara pun, barulah aku menyari betapa sepinya tempat ini. Hanya ada bunyi semilir angin saja.
"Bodoh kau..." Katanya pada akhirnya dengan suara pelan, sebelum tiba-tiba ia meledak-ledak. "Aku ini benci sekali padamu! Aku tidak mau pulang! Pokoknya aku tidak mau bersamamu! TITIK!" Sekarang, kedua belah tangannya menutupi wajahnya. "Ya Tian... Kenapa kau tidak bisa sedikit saja melupakan aku? Tidak perlu lagi kau peduli padaku!"
"Jadi... itu keinginanmu?"
Dia tidak menjawabku, malah balik bertanya. "Kalau kau sendiri? Apa maumu? Apa yang membuatmu mau datang kemari?"
Aku diam. Hening beberapa saat sambil memikirkan apa yang harus kukatakan padanya. Seumur hidup, belum pernah sesulit ini aku menyampaikan perasaanku pada seseorang. "Aku hanya ingin membawamu pulang, Meimei..." Jawabku sambil mendesah. Ya, aku tahu dia akan menolak. Tapi sekali lagi kukatakan. "Ada sesuatu yang tidak mungkin bisa kuceritakan sekarang. Tapi demi menyelamatkanmu... aku tidak boleh lari... aku harus..." Mataku kupalingkan ke arah lain, berusaha untuk tidak melihatnya. Sambil berusaha memperjelas suaraku, aku menjawabnya. "Demi menyelamatkanmu, Meimei, aku harus menerima apapun yang akan kau lakukan padaku..."
Yang terdengar bukan suara bentakan atau tawa mengejeknya. Aku langsung berbalik saat mendengar suara seperti sesuatu yang terjatuh, diiringi dengan isak tangisnya. Rupanya... Yangmei jatuh berlutut di tanah, dengan kedua tangan masih menutupi wajahnya. Yangmei... menangis? Apakah akhirnya suaraku sampai pada hatinya?
"Kau... kau sampai melakukan itu untukku?" Kata-katanya terdengar putus-putus. "Aku ini sungguh sudah tidak layak lagi untuk menjadi seseorang yang kau sayangi... Kau lebih baik pergi dariku! Aku ini cuma kutukan saja untukmu!"
Ahhh... Yangmei... benarkah akhirnya aku bisa mendapatkannya kembali? Perlahan, dengan memberanikan diri aku melangkah ke arahnya. Yangmei... kalau dia menangis seperti itu, aku jadi ingin menghampiri dan menghiburnya, menghapus airmatanya seperti saat kami kecil dulu. "Meimei..." Tangisannya masih belum berhenti, bahkan sesudah mendengar suaraku. "Dengar, aku tidak peduli tentang itu semua. Kau jangan pernah berpikiran seperti itu lagi." Kemudian aku menarik nafas panjang sebelum melanjutkan. "Aku benar-benar sayang padamu, tidak peduli sekarang atau dulu..."
"Lu Xun..." Suaranya melemah. "Aku... kalau kau masih sesayang itu padaku..." Dia tiba-tiba saja mengangguk kuat-kuat. "Ya... aku ingin pulang..."
Mataku langsung melebar. Benarkah? Benarkah Yangmei akan kembali? Aku tidak tahu lagi bagaimana caraku menjelaskan kebahagiaanku ini. Yangmei akan kembali! Akhirnya... Sungguh, ini sangat sulit dipercaya! Ah, ini bukan mimpi, kan? Jangan-jangan, ini hanya mimpi indah saja, padahal sesungguhnya ini cuma khayalan.
"Lu Xun," Suaranya memanggilku kembali. "Bantu aku berdiri, ya? Setelah itu, kita akan pulang ke Wu sama-sama..."
Aku mengangguk, meski dengan wajah tertutup tangannya sendiri dan kepala tertunduk itu, dia tidak akan melihatku. Aku mengulurkan tangan kananku di depannya. Sekarang aku tidak perlu takut lagi. Dia bisa menyentuhku, dan tidak akan terbakar. Akhirnya, Yangmei melepaskan tangannya dari wajahnya, kemudian tangan kirinya menerima uluran tanganku.
"Meimei..."
Belum sempat apa yang kukatakan selesai, bahkan belum selesai aku melihatnya berdiri sepenuhnya, sekujur lengan kananku menjadi sakit sekali! "AHHHH! Meimei!"
"Hahaha!" Itu adalah suara tawa Yangmei! Barulah saat itu aku sadar, Yangmei tidak sungguh-sungguh! Dia cuma bersandiwara!
Sepasang mataku melihat lengan kananku yang luar biasa sakitnya. Tumbuhan-tumbuhan aneh yang belum pernah kulihat sebelumnya melilit tanganku, kuat sekali sampai tanganku menjadi dingin karena tidak dialiri darah. Ketika mataku mengikuti sulur-sulur tumbuhan yang panjang itu, aku menemukan bahwa mereka berasal dari tangan Yangmei sendiri...
Sementara aku mati-matian menahan sakit, dia merapat padaku. Tangannya yang bebas memain-mainkan rambut di depan telingaku yang terkepang. "Lu Xun... Lu Xun..." Desahnya sambil menggeleng perlahan dan mendecakkan lidah. "Kau ini benar-benar polos dan naif sekali, ya? Bagaimana kau bisa sampai mengira aku serius?" Kemudian dia tertawa lagi.
"M-meimei..."
"Kenapa, hmmm?" Tanyanya dengan nada merendahkan, terutama saat melihatku menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahku. "Kau masih mengira aku akan kembali?"
Aku tetap diam dan menunduk.
"Oh iya! Ngomong-ngomong, tadi pagi menyenangkan sekali ya melihatmu bermain bersama binatang-binatang hutan itu. Pemandangan yang indah sekali!" Ujarnya, tanpa menjelaskan padaku apa maksudnya itu. Ahhh... tapi di tengah kesakitan yang kurasakan ini, bagaimana aku bisa mendengarnya? Tanganku... seperti akan putus saja rasanya...
Ujung jari tangan kanannya yang bebas menyentuh tanganku yang terlilit. Untuk sesaat, aku membuka mataku. "Aku selalu bingung. Kenapa ya setiap kali kamu membelaikan tangan satu kali saja, banyak binatang berkerumun padamu?" Ia menatap tanganku, dalam sekali. "Apa benar karena seperti Phoenix itu sendiri, tanganmu selalu bisa menciptakan gerakan yang lembut dan indah?"
Sekali lagi aku cuma bisa diam. Entah kata-katanya itu dimaksudkan untuk memuji, atau mengejek, atau mungkin sebagai peringatan bahwa ia akan melakukan sesuatu yang buruk sesudah ini? Rasanya begitu. Yang pasti, semakin lama belitan ini semakin kuat! Tulang hastaku rasanya hampir retak seluruhnya! Sekuat tenaga, aku menggigit bibirku untuk menahan sakit ini.
"Tapi keindahan itu kan enaknya bukan cuma dipandangi..." Katanya dengan suara rendah, nyaris seperti bisikan. "Enak juga kalau dirusak, kan?"
Waktu itu, aku seakan merasa jantungku ditikam. Sulur tumbuhan itu, entah bagaimana, memunculkan duri-duri yang tajam dan mengiris. Ughhh... sakit sekali. Dengan kecepatan luar biasa, ujung duri-duri itu masuk, kemudian menusuk setiap permukaan pembuluh darahku, sebelum akhirnya cairan merah itu seperti terperas keluar dari kulitku oleh eratnya lilitan sulur.
"Wuahhh... menyenangkan! Menyenangkan sekali!" Serunya kegirangan seperti anak kecil saat melihat kesakitanku. Kemudian dengan tangannya yang masih bebas, ia memelukku erat-erat. "Wah... wah... Lu Xun, kelihatannya aku harus berterima kasih ya? Aku senang bisa bermain denganmu!"
Aku bingung harus menjawab apa. Akhirnya, aku hanya diam, seperti biasa. Cuma diam saja, itu satu-satunya yang bisa aku lakukan. Ternyata, menggigit bibir bukan hanya untuk menahan sakit, tetapi untuk mempertahankan mulut agar tetap terkatup rapat-rapat.
Kepalaku kutundukkan dalam-dalam, sedari tadi aku berusaha menyembunyikan wajahku darinya. Aku tidak habis mengerti... kenapa Yangmei bisa membenciku sampai seperti ini sekarang? Bukankah pada awalnya dulu dia sangat sayang padaku? Kenapa hanya dalam waktu beberapa minggu di Istana Wei saja, dia sudah begini cepat membenciku? Padahal... sejujurnya aku tidak pernah ingat kapan aku bersalah padanya...
Benar kata T'an Mo... saat aku menemukan Yangmei, dia tidak akan mau kembali, dia tidak akan berterima kasih karena aku mencarinya. Justru sebaliknya, dia begitu membenciku sampai-sampai dia senang melihatku seperti ini... Padahal, yang kulakukan ini hanya untuknya, cuma untuknya saja.
Yangmei... kembalilah...
Tiba-tiba pipiku disentuh oleh tangan dingin Yangmei. Sambil tetap berusaha tidak menunjukkan wajahku, aku menatapnya dalam-dalam. "Wah, Lu Xun... pantas saja dari tadi kau diam saja..." Kemudian tangannya berpindah ke bibir bawahku yang kugigit kuat-kuat. "Kau dari tadi menggigit bibirmu, sih... sampai berdarah begitu..."
Kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku. "Apa tidak sakit kalau kau gigit terus? Hmmm? Sudah... jangan digigit terus..." Jadi, menuruti perkataannya, aku perlahan merenggangkan gigiku. Baru saat itu aku sadar, bibirku sampai berdarah karena menggigitnya terlalu kuat. Tubuhku sekarang bergetar hebat, bukan hanya karena perasaan takut tetapi juga karena mati-matian menahan sakit. Entah apa yang akan dilakukannya sekarang...
Sesuatu yang basah tiba-tiba menyentuh kulit di bawah bibirku, dimana darah mengalir di atas permukaannya. Rupanya Yangmei, Yangmei yang sedang menjilat darahku!
"Meimei...!" Pekikku dengan suara yang pelan. "Menjijikkan... jangan lakukan itu...!"
"Tapi aku suka, kok..." Balasnya sambil tertawa kecil. Tangannya yang bebas sekarang ada di belakang kepalaku, kemudian mendorong wajahku agar makin mendekat padanya. Aku hanya membiarkannya melakukan apa yang dia mau, tanpa sedikit pun melawan.
Padahal dia hanya melakukannya beberapa detik, tetapi terasa berjam-jam untukku berada di dekatnya sekarang. Rasanya berat sekali kalau setiap detik berlalu hanya berarti baginya untuk menyiksaku seperti ini. Ahhh... sungguh aku sangat ingin pergi dari tempat ini, tetapi ada perasaan lain yang memaksaku untuk terus berada bersamanya.
Sampai pada satu titik, aku berkata dalam hati. "Meimei..." Sepertinya pikiran dalam hatiku ini keluar dalam suara desahan. "Kapan kau mau kembali...?"
Aku tidak tahu suara seperti apa yang terdengar di telinganya. Yang jelas, dia tiba-tiba saja berhenti. Tangannya kini ia letakkan di pelipisku, kemudian memaksaku untuk menatapnya lekat-lekat. Kali ini, aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajahku darinya. Yangmei melihat semuanya sekarang...
"Lu Xun?" Panggilnya, dengan suara aneh yang dia buat terdengar sangat polos. "Kau menangis?"
Ya, bagaimana bisa tidak menangis kalau kau jadi seperti ini? Begitulah jawabku dalam hati, tapi tidak sampai keluar. Selalu seperti ini, kan? Kapanpun aku bertemu Yangmei seperti ini, pasti aku tidak bisa mengendalikan airmata yang keluar dari mataku. Kenapa itu bisa terjadi, aku juga tidak tahu kenapa.
"Benar-benar seperti kolam emas, ya?" Tanya Yangmei dengan suara yang polos, seperti dulu sekali. "Ah, tidak salah jika waktu pertama kali bertemu, aku hampir saja mencungkil matamu, kan?" Pertanyaan itu, entah harus kuanggap sebagai ejekan atau pujian. Sambil bergumam, tangannya semakin dekat pada mataku, dan semakin pula aku memalingkan wajahku darinya. "Berair seperti danau ... bening seperti kristal... bercahaya seperti emas..."
Kukunya yang tajam itu nyaris saja menusuk mataku. Tapi tiba-tiba tangannya ia tarik kembali!
Tidak hanya itu, tanaman berduri yang tadinya membelit tanganku, tiba-tiba masuk kembali ke telapak tangan Yangmei! Sementara dia sendiri, sekarang jatuh tepat di depan kakiku!
"AHHHHHHH!"
Yangmei! Dia mengerang kesakitan secara sangat tiba-tiba! Tubuhnya sekarang roboh, melingkar dan bergetar seperti menahan sakit. kedua kakinya tertekuk sampai lututnya menyentuh dada. Matanya tertutup rapat-rapat. Satu tangannya mengepal sementara yang lain berusaha menggapai bahu belakangnya.
Kenapa ini bisa terjadi?
Aku bahkan tidak sempat berpikir untuk melihat sekelilingku. Yang kupikirkan cuma Yangmei saja. Hanya sekilas, cukup sepersekian detik saja waktu untuk memikirkan apa aku perlu menolongnya? Bagaimana kalau dia menolak lagi?
Ah, sudahlah. Aku sudah tahu kok dia akan melakukannya. Tapi aku kan tidak peduli?
Segera aku berlulut di sisinya. "Meimei, ada apa?" Seperti yang sudah kuduga, dia menatapku dengan tatapan seperti hewan buas yang terluka, seolah aku yang baru saja melukainya. Padahal dia tahu dengan jelas aku tidak melakukan apapun. Meski dia meneriakiku, "Pergi kau! Jangan dekati aku!", aku tidak mengubah keputusanku untuk mendekat padanya.
"Meimei..." Ternyata di balik bahunya, ada sebuah anak panah menancap. Aku bahkan tidak berpikir kepunyaan siapa panah itu. Tangan kiriku menopang tubuhnya, sementara tangan kananku, tangan yang berdarah olehnya ini, menyentuh anak panah itu. Aku tahu dengan pasti dia sedang berusaha menjauh, tapi dengan keadaannya seperti ini, tentu saja mustahil. Yangmei bukan orang yang biasa merasa sakit. Pasti dia rapuh sekali jika terluka.
Itulah alasan kenapa sejak awal aku ingin menyelamatkannya.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, aku menggenggam batang anak panah itu. Bukan hanya dia yang kesakitan, aku pun ikut merasakan kesakitannya. Tanganku yang hampir remuk rasanya, ketika memegang anak panah ini, sama menyakitkannya dengan bahunya yang terus menerus berdarah.
Kali ini aku benar-benar kesakitan. Bukan karena lukaku sendiri. Tetapi aku melihatnya mengaduh dengan suara pelan, tetapi pada saat yang sama berusaha mati-matian untuk menutupinya dariku. Wajahnya sampai memerah, entah karena menahan marah atau sakit. Mungkin dua-duanya. Karena itulah, aku berusaha selembut mungkin melepaskan panah itu darinya. Sungguh, aku tidak bisa melihatnya kesakitan seperti itu.
Aneh bukan?
Rasanya anak panah ini benar-benar panjang sekali. Aku sampai menahan nafas dalam-dalam. Melihat Yangmei yang kesakitan seperti itu, apa boleh buat? Perlahan aku merengkuh kepalanya dalam pelukanku. Aku ingin sekali mengatakan padanya bahwa ia tidak perlu menahan tangis dan sakit itu. Kalau dia mau menangis, tidak apa-apa. Egonya itu tidak akan mengurangi harga dirinya di depanku. Tapi, sayangnya, yang keluar dari mulutku cuma sebuah desahan, "Meimei..."
Dia memekik satu kali ketika panah itu sudah terlepas dari bahunya. Sekali lagi tangan kananku kuletakkan di atas lukanya yang menganga itu. "Meimei... Jangan bergerak dulu..." Tanganku bercahaya, dan saat itulah aku menggunakan kekuatanku untuk menyembuhkannya. Sungguh ironis sekali, tanganku yang berdarah sana-sini ini akibat perbuatannya, tetapi dengan tangan yang sama aku menyembuhkan lukanya.
"Lu Xun!"
Satu suara itu, disusul derapan kaki kuda, mengagetkan baik aku maupun Yangmei. Rupanya, yang menembakkan panah itu pada Yangmei adalah pendatang baru itu, dan dia adalah Zhou Ying! Huo Li, kudaku yang kupercaya untuk menjaganya itu sekarang menjadi tunggangannya untuk mencariku kemari.
Baik aku maupun Yangmei tidak dapat berbuat maupun berkata apa-apa sangking terkejutnya. Sampai ketika Zhou Ying benar-benar dekat, barulah ia sadar siapa gadis dalam pelukanku ini.
Bagaimana perasaan Zhou Ying melihat kakak sepupunya dalam kondisi seperti ini, aku tidak tahu. Yang pasti, yang kulihat sekarang adalah dia menutup mulutnya dengan tangannya, membekap mulutnya sendiri agar tidak berseru. Busur yang tadi dipegangnya sampai terjatuh.
"Meimei? Itu kau?" Tanyanya nyaris menjerit.
Tentu saja Zhou Ying tidak percaya. Yangmei sekarang sudah berubah. Rambutnya tidak lagi perak, melainkan menjadi hitam. Warna matanya juga sekarang berubah merah. Wajahnya yang polos sudah tidak ada lagi sekarang.
Sementara aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri, tiba-tiba sebuah dorongan keras hampir menghempaskanku ke tanah. Yangmei-lah yang mendorongku.
"Kau! Kau kira apa yang sedang kau lakukan!" Hentakan Yangmei itu tidak bisa kujawab. Aku hanya bisa melihat nafasnya yang memburu, serta matanya yang menatapku dengan tatapan marah yang sama. "Aku benci kau! Jangan dekati aku lagi!"
Sesudah berkata begitu, dia lari ke dalam kegelapan hutan.
"Meimei!" Aku segera bergerak mencarinya. Tetapi saat aku mengejarnya, dia sudah lenyap dalam kegelapan dan keheningan. Bukan hanya sosoknya yang tidak kutemukan. Suara langkah kakinya sama sekali tidak terdengar lagi.
Yangmei... sampai kapan aku harus kehilangan dia terus seperti ini?
"Lu Xun..." Aku segera menoleh ke belakang. Rupanya Zhou Ying.
"Zhou Ying..." Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Apakah aku harus berterima kasih? Tetapi, kenapa justru yang keluar dari mulutku malah tuduhan padanya, yang sampai membuatnya kegt bukan main? "Kenapa kau melepaskan panah itu pada Meimei?"
Dia menunduk dalam-dalam. "M-maaf, Lu Xun..." Suaranya pelan sekali, sama pelannya dengan suara daun kering yang bergeserkan dibawah sepatu kami. "Aku... aku tidak tahu kalau itu Meimei..." Ungkapnya dengan suara terputus-putus. "Kukira kau sedang dalam bahaya... maafkan aku..."
Melihat Zhou Ying seperti itu, aku juga mana bisa marah padanya? Dan lagi, memang tidak sepantasnya aku marah, bukan? Dia sedang berusaha menolongku. "Sudahlah..." Kataku sambil menghela nafas. "Ayo kita kembali saja."
Perjalanan kami kembali ke daerah kami bermalam tidak terlalu panjang. Tetapi keheningan yang mencekamlah yang membuat perjalanan ini terasa berjam-jam.
Ketika sudah hampir dekat, barulah aku sadar sesuatu. Tangan kananku masih terluka parah! Itupun baru aku sadar ketika tak sengaja tanganku menyenggol sebuah batang pohon yang kasar. Aku memekik pelan dan segera Zhou Ying melemparkan pandangannya padaku.
"Lu Xun! Ada apa?" Ketika sudah dekat dengan api unggun, barulah dia melihat keadaan tanganku yang sudah seperti bukan tangan manusia lagi. "Ya Tian! Ini... Jangan-jangan ini Meimei yang melakukannya padamu!"
Aku cuma bisa mengangguk lemah sambil duduk bersandar pada sebuah batang pohon. Zhou Ying langsung sibuk mengambil perban serta obat yang memang sengaja ia bawa dari Wu, kemudian mulai mengobati lukaku.
Ketika cairan obat itu menyentuh lukaku, aku mengernyit sedikit, dan Zhou Ying langsung tahu itu. "Maaf! Sakit ya?" Tentu saja sakit, apalagi yang menyebabkan luka ini adalah orang yang paling aku sayangi. "Tahan sedikit, ya? Tidak akan lama, kok..."
Sekali lagi aku mengangguk, membiarkannya membebat lukaku.
-o-o-o-o-o-o-
Zhou Ying
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Lu Xun.
Sementara aku mengobati tangannya, beberapa saat aku menatap wajahnya. Aku berusaha untuk mengerti apa yang dirasakannya sekarang, tetapi bagaimana caranya? Itulah sebabnya aku tidak berani mengatakan apapun, sebab aku tidak bisa mengerti perasaannya.
Dia benar-benar sayang pada Yangmei.
Sungguh, kalau tahu dia akan seperti ini, dari awal aku tidak akan mencoba-coba untuk ikut campur dan menembakkan panah itu. Tapi aku juga tidak bisa diam dan hanya melihatnya seperti itu tanpa melakukan apapun. Kupikir, mungkin jika aku tidak datang lebih cepat, entah apa yang akan terjadi padanya.
Tadi pagi dia masih bisa bermain dengan burung-burung, mengelus kepala seekor kijang kecil, menggendong kelinci hutan, bahkan menyembuhkan burung yang terluka. Tetapi sekarang, gara-gara orang yang paling dia sayangi itu sendiri, tangannya sampai seperti ini. Dan yang lebih gilanya lagi, tadi dia menggunakan tangannya sendiri, tangannya yang sudah terluka seperti ini, untuk menyembuhkan luka Yangmei.
Sungguh, sekalipun Yangmei adalah kakak sepupuku sendiri, tetapi bagaimana aku bisa tidak marah melihatnya memperlakukan Lu Xun seperti ini? Apa salah Lu Xun padanya?
Aku sungguh tidak bisa mengerti perasaan Yangmei yang membenci orang yang sangat menyayanginya tanpa alasan.
Tetapi aku lebih tidak bisa mengerti lagi perasaan Lu Xun yang menyayangi orang yang sangat membencinya tanpa alasan.
Sementara Yangmei melukai Lu Xun, Lu Xun malah menyembuhkannya. Bukankah sangat kontras sekali apa yang mereka berdua lakukan? Kenapa kejadian yang seperti ini bisa terjadi? Perasaan kedua orang ini, kenapa sangat sukar untuk dimengerti?
Jika semua perkataan yang Lu Xun katakan padaku benar, dan aku yakin memang itu bukan kebohongan, berarti tidak ada alasan bagi Yangmei untuk membencinya, kan? Benar, kan? Tidak ada satu pun gadis di dunia ini yang tidak akan berterima kasih kalau kekasihnya sampai mengorbankan begitu banyak hal untuknya. Yah, kecuali mungkin hanya Yangmei saja.
Mungkin Lu Xun tidak sadar, dan tidak akan pernah sadar, segala sesuatu yang dia ceritakan itu membuatku semakin iri pada kakak sepupuku.
Dan tentang Lu Xun sendiri, aku juga tidak habis pikir kenapa dia sampai melakukan sebanyak itu untuk gadis yang sekarang benar-benar benci padanya. Dan satu hal lagi yang menjadi perkiraanku. Lu Xun memang kelihatan sangat sedih, tetapi tidak ada satu tanda pun yang menunjukkan bahwa dia terkejut melihat Yangmei yang berubah seperti itu, entah dari bagaimana dia menceritakan segala sesuatunya padaku, sampai detik ini. Kurasa, mungkinkah... mungkinkah sejak awal Lu Xun sudah tahu Yangmei akan melakukan semua ini padanya? Meski sesudah dia berbuat sebegitu banyaknya untuk Yangmei?
Kalau memang benar itu yang terjadi, maka mungkin sampai kapapun aku tidak akan tahu apa yang dirasakan Lu Xun sebenarnya.
Bayangkan saja, dia sudah tahu bahwa dengan menjalani segala perintah Cao Pi demi keselamatan Yangmei, termasuk menikahi Putri Mingzhu, Yangmei sendiri akan berbalik membencinya. Jadi, kenapa dia melakukan itu? Sungguh, kalau aku menjadi Lu Xun, dan sejak awal aku sudah tahu Yangmei akan melakukan ini, aku tidak akan segan-segan menolak perintah Cao Pi dan meninggalkannya di Istana Wei.
Pikir-pikir, bukankah sejak awal apa yang dilakukan Lu Xun itu di luar perkiraanku?
Bahkan sampai saat ini.
Di wajahnya, aku sama sekali tidak menemukan penyesalan. Maksudku, dia sama sekali tidak menyesal menjalani semua masa-masa terkelam dalam hidupnya di Istana Wei demi Yangmei. Dia bahkan tidak menyesal sudah meninggalkan Chang An, dengan segala kesempatannya menjadi Kaisar, atau pulang kembali ke Wu dan menjalani kehidupannya seperti sedia kala. Dia malah memilih untuk mencari Yangmei, dan dia sama sekali tidak menyesal dengan pilihannya itu, tidak peduli apa yang telah dan akan dia jalani.
"Selesai!" Kataku saat pekerjaanku telah usai.
Sebelum aku kembali ke tempatku duduk, Lu Xun menyunggingkan seulas senyum. "Terima kasih." Wajahnya yang diterangi cahaya api itu membuat kulitnya seolah bersinar keemasan. Matanya yang lembut dan senyumnya yang tulus...
Entah akan berapa kali lagi aku bisa melihatnya seperti itu. Seandainya saja aku jadi Yangmei, aku bisa melihatnya begitu setiap aku bertemu dengannya. Tapi ironisnya, justru Yangmei yang setiap saat, malah ingin menyingkirkan senyuman itu dan menggantinya dengan tangisan. Alasannya kenapa, juga tidak pernah bisa aku perkirakan.
Tidak berapa lama kemudian, Lu Xun tertidur. Hanya tinggal aku sendiri saja yang masih terjaga. Yah, bagaimana mungkin aku bisa tidur kalau aku baru saja melihat sesuatu yang untukku sangat mengerikan, dan membuat otakku begitu penuh dengan pikiran? Sementara anehnya, justru Lu Xun sendiri yang mengalami bisa tidur dengan tenang. Mungkin dia lelah sekali setelah apa yang dialaminya, karena itu dia bisa tidur dengan cepat sekali.
Saat aku menatapnya sekali lagi, aku menemukan sesuatu yang menarik.
Baru aku sadar sekarang, ada sesuatu di balik lengan bajunya. Rupanya setangkai mawar.
Ah, benar juga! Pagi ini, aku melihat Lu Xun melakukan sesuatu yang sangat aneh. Tadi, entah datangnya darimana, beribu-ribu tangkai mawar hitam menyerang kami secara membabi buta, dan baru berhenti sesudah Lu Xun terkena salah satu mawar itu. Sesudah itu, entah apa yang dilakukannya, mawar yang tadinya berwarna hitam itu berubah menjadi putih. Dan sekarang, mawar itu masih ada padanya.
Mawar hitam, ya? Aneh... apa sekarang Yangmei menggunakan ini sebagai senjata?
Mungkin juga. Bukankah tadi aku melihatnya mengikat tangan Lu Xun dengan sulur-sulur berduri, seperti tangkai bunga mawar? Tapi, bukan hanya itu saja masalahnya. Mawar hitam itu sepertinya sedang ingin menyampaikan suatu pesan tersirat, oleh karena itu sekarang mawar itu berubah jadi putih. Ini pasti ada artinya.
Dan Lu Xun pasti sudah tahu itu.
Anehnya, dia tidak pernah sekalipun memberitahuku darimana Yangmei bisa mengendalikan beribu-ribu mawar sebagai senjatanya. Dan setahuku tidak ada satu ilmu pun di dunia yang bisa mengubah warna mawar, bukan?
Hmmm... aku jadi makin tertarik menyelidikinya.
Dengan sangat hati-hati, aku mengambil mawar putih itu sebagai petunjuk, kemudian mulai berjalan ke tempat tadi aku menemukan Lu Xun dan Yangmei di tengah hutan. Untung saja tidak jauh. Ah, memang dari tadi aku melihat beberapa jejak lain dalam perjalananku kemari, tetapi aku sama sekali tidak sadar kalau ternyata ini saling berhubungan satu sama lain...
Di tanah, tempat aku melangkah, aku menemukan banyak tangkai mawar yang tergeletak begitu saja, semuanya berwarna hitam. Mawar-mawar hitam ini sama persis dengan yang menyerang kami tadi pagi. Jangan-jangan, Lu Xun pun tadi sempat diserang menggunakan mawar-mawar ini.
Ah, ternyata benar dugaanku. Mawar-mawar ini bukan hanya sekedar untuk 'dekorasi' atau disebar-sebar Yangmei begitu saja tanpa alasan. Bukan juga hanya digunakan untuk menambahkan suasana yang menyeramkan. Tetapi memang semua mawar ini digunakan untuk menyerang Lu Xun. Bagaimana aku bisa tahu? Sebab, pada mawar-mawar itu aku menemukan sebagian yang dilumuri atau terkena percikan darah. Sudah tentu ada beberapa yang berhasil mengenai Lu Xun, seperti halnya tadi pagi.
Hei, kalau ini memang persis seperti tadi pagi, apa mungkin Lu Xun sempat... menangis? Tapi, bukankah memang wajar jika seorang Lu Xun akan menangis melihat seorang Yangmei yang sangat disayanginya menyakitinya seperti itu?
Kuambil setangkai mawar hitam itu, kemudian mengamatinya beberapa saat. Kalau dilihat-lihat lagi, mawar ini sekarang bukan berwarna hitam, tetapi berwarna merah...
Sampai saat ini, masih saja aku tidak bisa menemukan apa-apa! Hah! Betapa bodohnya aku! Kenapa justru di saat-saat seperti ini otakku tidak bisa berjalan? Oh, betapa inginnya aku memaki diriku sendiri...
Akhirnya, dengan perasaan kecewa bukan main, aku kembali lagi, kali ini dengan membawa satu lagi kuntum bunga mawar. Kedua-duanya kusimpan baik-baik di balik bajuku selama perjalanan, takut kalau seandainya terjatuh. Dalam perjalanan pun, aku masih tak henti-hentinya memikirkan tentang mawar-mawar ini.
Sial sekali, sampai aku sampai ke tempat awal, tidak ada satu pun hal yang berhasil kutemukan.
Dengan perasaan kesal bukan main, aku duduk kembali di bawah sebuah pohon sambil menghela nafas panjang. Dulu, saat masih kecil dulu, aku beberapa kali bisa menebak pikiran Lu Xun, yahhh... meski tidak terlalu sering, sih. Tetapi setidak-tidaknya, aku masih jauh lebih baik ketimbang Yangmei. Sayang sekali kali ini aku menjadi orang yang sangat bodoh dan tidak tahu apa-apa. Bahkan Yangmei yang dulu kuanggap sangat bodoh saja sekarang tahu lebih banyak dariku. Atau mungkin, apa aku terlalu ikut campur, ya?
Aku hanya bisa kembali berbaring. Kedua bunga mawar yang kusimpan di balik bajuku kukeluarkan.
Eh? Tunggu!
Aneh! Kenapa sekarang warna kedua mawar ini sama persis? Putih dengan sedikit cahaya perak?
Mawar yang berwarna merah itu tentu karena terkena darah, bukan? Saat mengenai Lu Xun, pasti bunga itu terlumuri darahnya. Sekarang, karena kusimpan di balik bajuku, cairan merah itu terserap dalam kain, dan sekarang meninggalkan kelopak mawar ini hampir kering.
Cepat-cepat aku mengambil air, kemudian membersihkannya baik-baik.
Sungguh, aku berani bersumpah tadi aku melihat bunga ini berwarna hitam, tetapi diselimuti warna merah. Tetapi setelah bekas darah itu hilang, yang tertinggal adalah warna putih...
Kedua bunga ini sekarang berwarna sama persis!
Bukan hanya itu... tadi pagi, kalau tidak salah aku pun melihat ini, bukan? Lu Xun, dengan telapak tangannya yang masih berdarah, menggenggam bunga mawar ini. Bagaimana pun dia menyembunyikannya, aku tahu saat itu dia menangis, dan airmatanya juga ikut membasahi kelopak mawar yang sudah terlumuri darahnya sendiri.
Darah dan airmata...
Astaga... jangan-jangan...
Ya Tian... kenapa Lu Xun tidak pernah memberi tahu ini padaku?
Jadi begitu artinya bunga mawar ini. Mawar ini bukan cuma senjata Yangmei, tetapi perlambangan untuk Yangmei sendiri! Lu Xun tahu maksudnya, tetapi Yangmei tidak.
Dan sekarang, aku juga tahu...
Tiba-tiba, segala hal yang kuingat tentang legenda mengenai Phoenix teringat kembali di kepalaku. Dan kalau dihubung-hubungkan satu sama lain, semua ini membentuk benang merah yang sangat jelas, yang aneh, rumit seperti teka-teki, tetapi akhirnya aku berhasil menemukannya.
Dan hasilnya, semua ini benar-benar di luar akal sehatku.
Yang dilakukan Yangmei luar biasa gilanya, tetapi yang dilakukan Lu Xun jauh lebih gila lagi...
Kutatap sosok Lu Xun yang sedang tertidur pulas.
Entah kenapa, tangisku tiba-tiba pecah begitu saja...
Kedua tanganku sekarang kugunakan untuk menutup mulutku, sambil memendam isakanku.
Ini tidak adil! Sungguh tidak adil! Kenapa Lu Xun? Dia tidak salah apa-apa! Dia sudah menyayangi Yangmei begitu rupa, sampai memberikan apapun yang dia punya untuknya! Dan sekarang, kenapa ada lagi yang masih dituntut darinya? Kenapa? Apa Lu Xun sedang dipaksa untuk melewati semua ini? Kalau memang iya, siapa yang bisa memaksanya? Tidak ada yang berhak melakukan itu!
Dan kalau tidak, kenapa ini semua terjadi? Apa dia sendiri yang memilih jalan ini?
Yangmei... betapa beruntungnya kau. Tetapi, kenapa kau tidak juga sadar?
Kurasa, petualangan ini akan jadi petualangan yang luar biasa berat. Melihat Lu Xun bersama Yangmei tentu saja membuatku sakit hati. Tetapi melihat Lu Xun terus-menerus sedih dan disakiti oleh Yangmei membuat hatiku lebih sakit lagi. Cara satu-satunya untuk menghentikan penderitaan Lu Xun adalah dengan membuatnya bersama-sama dengan Yangmei. Kesimpulannya, daripada harus melihat Lu Xun menderita karena tidak bersama Yangmei, aku memilih melihatnya berbahagia dengan Yangmei.
Kurasa, sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Putri Mingzhu.
Bagaimanapun aku membenci Yangmei setelah melihat apa yang dia perbuat pada Lu Xun, aku tetap tidak boleh memendam perasaan seperti itu. Bukan hanya karena dia itu kakak sepupuku, tetapi karena Lu Xun sangat sangat sayang padanya. Dan kalau aku ingin bisa membantu, atau setidaknya hanya bersimpati padanya, aku harus berusaha menyayangi Yangmei juga, bagaimanapun aku jijik pada tindakan dan keadaannya sekarang.
Memang benar dulu dia itu putri. Dia manis dan lucu, sangat menyenangkan meski kadang agak nakal. Sifatnya yang kekanakan tetapi polos itu membuatnya bisa bergaul dengan semua orang. Yah, memang awalnya dia seperti mawar yang putih bersih, sama sekali tidak ada cacat sama sekali.
Tetapi sekarang dia kan jauh berbeda? Dia licik, haus darah bahkan kudengar dia sudah membunuh entah berapa banyak orang sampai sekarang, termasuk Kaisar Xian dan Putri Mingzhu. Bahkan yang paling menjijikkan adalah, dia berusaha untuk membunuh Lu Xun! Orang yang paling menyayanginya dan ingin menyelamatkannya, tidak perduli bagaimanapun keadaannya sekarang.
Sungguh, memikirkan itu semua bisa membuat siapapun gila.
Membenci orang yang membenci kita itu luar biasa mudah.
Mencintai orang yang mencintai kita juga sama mudahnya.
Membenci orang yang mencintai kita itu tidak masuk akal.
Tetapi mencintai orang yang membenci kita, apalagi jika orang itu tidak layak dicintai, itu lebih tidak masuk akal lagi.
Anehnya, semua itu terjadi.
Wokey... that's all for now...
Wahhh~ saya ini kok suka banget bikin sesuatu yang ironis, yaaa... Wewwww...
Next chapnya minggu depan!
Review, please... ^^ hehehe...
