BAD BEHAVIOUR © Seynee

Characters © Masashi Kishimoto

Translator : Aika Harumi

Chapter 25

.

.

Sai suka berpikir selain menjadi seorang pengusaha paling sukses diusianya, ia juga seorang pelukis. Seorang seniman, kau akan menjadi—seseorang yang bisa melihat fisik luar, seseorang yang bisa menemukan keindahan di balik celah dan ruang, seseorang yang bisa benar-benar melihat.

Sakura selalu terlihat anggun. Dia tidak sepenuhnya menakjubkan, tapi Sai tahu keindahan dan ia tahu Sakura menarik. Sebenarnya, jika Sakura dilukis dia akan menjadi lukisan yang sangat bagus sekarang, berdiri bangga dengan sebuah senyuman bermain di bibirnya dan bersikap dengan sangat sempurna kepada siapa pun yang menghampirinya. Sakura tersenyum pada setiap orang yang tersenyum padanya, merespon dengan jelas, suara yang tenang saat bertanya, dan mengangguk sopan kepada setiap orang yang tertangkap pandangannya. Kepalanya terangkat tinggi, dagunya didongakkan ke atas, bahasa tubuhnya formal, berhati-hati, tapi tidak kaku. Mungkin hal yang paling aneh adalah matanya; sementara bibirnya melengkung dan tawa lolos dari tenggorokannya, mata emerald-nya tidak tersenyum. Sebaliknya, dua hal itu terpisah, tidak terhubung—nyaris dingin.

Sebuah paradox.

Ketika Sakura melihat Sai, ia tersenyum dan berbicara, suaranya terlalu rendah untuk didengar orang lain kecuali Sai: "Gaunku gatal."

"Terlihat bagus dengan sepatumu."

"Sepatuku juga gatal," gumam Sakura pelan, tetap tersenyum seperti tidak ada yang salah, "Sai, aku tidak menikmati ini sama sekali!"

"Aku percaya kau tidak harus menikmatinya," jawab Sai datar, "Selain itu, kau melakukannya dengan baik. Seperti seharusnya."

Sakura menghela napas. "Benar."

Pesta tahunan Miyazawa merupakan acara berkumpul bagi semua orang yang terlibat dalam satu hal atau lainnya dengan perusahaan, dari karyawan, dewan direksi, sampai klien dan cukup banyak orang lainnya. Tujuannya sederhana—untuk menunjukkan betapa ramahnya orang-orang Miyazawa—dan ini lebih seperti pesta perayaan lainnya, dengan wine mahal dan dekorasi yang indah. Malam ini juga merupakan malam yang dipilih Akihito untuk memperkenalkan Sakura—dengan resmi—kepada masyarakat, di awal acara, sebagai 'anggota keluarga Miyazawa yang hilang dan akhirnya ditemukan'. Meskipun Akihito telah menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya diajukan saat konferensi pers yang dijadwalkan dalam waktu dekat, itu tidak mengurangi lautan reporter dan wartawan yang berdesak-desakan di ruangan, semua dengan mata dan telinga mengelilingi Sakura.

Seiring dengan pengetahuan bahwa Sasuke mungkin ada di sini malam ini, tidak juga menenangkan kegelisahannya.

Jadi Sakura berdiri di sana, berjuang menjaga ketenangannya dengan segelas wine di tangan, mengamati ruangan. Ia bersikap sesuai yang diharapkan: sopan mempesona tanpa terlalu ramah atau hangat. Ia melakukannya dengan baik, mungkin karena ia pernah melakukannya pada makan malam bulanan beberapa hari lalu. Sesuai dengan yang Akihito katakan, akan sangat sulit untuk membedakan antara buatan dengan yang asli setelah beberapa bulan bersama Ougi dan hidup sebagai seorang Miyazawa.

Mengganti nama telah menjadi bagian paling pertama dalam kesepakatan. Prosesnya lambat, dan banyak masalah hukum yang harus diselesaikan. Hal ini pasti menimbulkan banyak hal, tapi Sakura bisa menggunakan waktu itu untuk beradaptasi.

Bagian kedua dari kesepakatan… Sakura masih tidak tahu apa itu. Ia seharusnya sudah melihat itu, tapi ia terlalu asyik dengan hal lain yang membuatnya benar-benar mengabaikan kemungkinan itu. Sekarang hal itu sudah ada di depannya dan ia harus memutuskannya. Nanti, syukurlah bukan malam ini.

"Senyum."

Mendengar peringatan Sai, Sakura menyadari ia sudah merengut. Spontan ia mengatur kembali ekspresi wajahnya, bibirnya membentuk senyum kecil lagi, kerutan di antara alisnya menghilang seakan itu tidak pernah ada sebelumnya. Ia menerima lengan Sai saat pria itu menariknya mendekat, tangan Sai melingkari pinggangnya.

"Apa—?"

"Senyum."

Sakura melakukan seperti yang dikatakan, membiarkan tatapannya menjelajah ke sekeliling ruangan seraya merapatkan dirinya pada Sai.

Dan kemudian, tentu saja, Sakura melihatnya.

o.o.o.o.o

Sasuke menelan ludah.

Sakura terlihat cantik. Nyaris tenang, dan begitu… begitu acuh tak acuh.

Itu sangat tidak pas, sangat salah—ironisnya lagi, itu cocok untuknya dalam ketidakwajaran, dengan cara berbeda. Lengan Sai merengkuhnya dan dia merapat pada pria itu, dan Sasuke hampir bisa melihat penghalang yang Sai buat di antara mereka dan seluruh dunia. Sakura sedang tersenyum sekarang, mengangguk pada Sai saat mereka bicara satu sama lain. Sasuke terlalu jauh untuk membaca gerak bibir mereka, tapi beberapa orang akan menarik kesimpulan bahwa mereka adalah pasangan, saling memberikan kenyamanan, suasana santai terpancar dari mereka berdua dan betapa dekatnya mereka berdiri satu sama lain. Yang terburuk dari semuanya, Sakura terlihat seperti tidak keberatan, bahkan menerima perlindungan Sai…

Seakan Sakura memang seharusnya di sana, berada dalam rangkulan Sai.

Dan bukan di sini bersamaku, sebagian dari dirinya—pikiranya? Hatinya?—berbisik mengejek, berkhianat.

Mata Sasuke menyipit. Ini konyol, tentu saja, mengingat ada jarak dalam hubungan mereka dan betapa kecilnya pengetahuannya tentang dunia Sakura sekarang.

"Minum, Sasuke?"

Sasuke menerima gelas dari Naruto dan meneguk isinya. Kuat, rasa agak pahit menyambutnya, meskipun begitu ia masih tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Sakura.

"Jadi dia sedang berdiri dengan siapa?"

"Arakaki Sai," jawab Sasuke kaku. "Mantan pacarnya."

"Benarkah," nada senang terkandung dalam suara Naruto, "Mantannya, eh? Mereka terlihat mempunyai hubungan yang… sangat akrab. Agak romantis." Sebagian dari dirinya ingin tertawa ketika Sasuke menatap tajam tapi ia menahannya, tahu kalau masih ada hal yang bisa dipancing. "Bagaimana bisa seperti itu?"

Dengan tak acuh, Sasuke mengaku, "Aku tidak tahu."

"Baiklah," mulai Naruto, memberikan nada mengejek pada Sasuke, "Kau akan tahu jika kau bertanya padanya. Sekarang, mungkin?"

Bagian tergila dari otak Sasuke menyetujuinya, berteriak nyaring, pada saran Naruto. Bagian warasnya mengatakan bahwa jika ia menghampiri Sakura dengan ceroboh, kesempatan yang sebenarnya tidak pernah ia dapatkan akan sia-sia. Dan hey, apakah ia punya banyak kesempatan malam ini.

Sasuke meletakkan gelasnya ke atas meja. "Mungkin."

o.o.o.o.o

Sasuke menatap tepat ke arah Sakura.

Mustahil untuk benar-benar melewatkannya, dengan intensitas yang diberikan mata itu. Mata yang sama yang berkerut dengan kebahagiaan setiap kali dirinya membuat sebuah lelucon, mata yang sama yang dipenuhi dengan kenakalan ketika mereka saling mengejek, mata yang sama yang tepaku pada wajahnya tepat saat ini, meskipun ia berada di lengan Sai dan Sai mengajaknya ke lantai dansa…

Mata yang sama yang, dengan ironinya disadari Sakura, telah terbakar dengan kebencian beberapa hari lalu.

Hanya satu hal yang jelas: jika Sasuke ada di sini, itu artinya Akihito benar-benar melakukannya sesuai permintaannya dan sekarang sedang menunggu Sakura melaksanakan bagiannya dalam kesepakan.

Wajah Sakura mengerut dalam kecemasan, dan matanya fokus pada pria yang sedang menggandengnya.

"Sai." bisik Sakura, "Menurutmu apa yang Akihito-san inginkan dariku? Dia tidak mungkin hanya ingin aku mengganti namaku, kan?"

Pria itu menatapnya, ekspresi terhibur melintas di wajahnya, "Apakah kau sudah memikirkan tentang itu sepanjang waktu?"

"Aku—aku sepertinya harus," gumam Sakura, sedikit membela diri, rona menghiasi wajahnya, "Maksudku, aku tidak tahu apa yang bisa diperkirakan, seperti… apa dia akan memberiku kontrak kerja? Memotong lima puluh persen gajiku?"

"Sakura," Sai menghela napas, "Kau lupa kalau kau berurusan dengan Miyazawa Akihito. Dia tidak butuh lebih banyak uang dari yang dimilikinya sekarang."

"Bukan berarti dia tidak menginginkannya. Aku hanya—"

"Kau tak perlu memikirkan hal itu sekarang," ucap Sai tenang. "Kita akan membicarakannya nanti."

Sakura tersenyum lemah. "Oke."

"Bagus," sahut Sai, "Karena Uchiha Sasuke di sini."

Sakura berputar—ini waktunya—dan dengan cepat kembali melingkari lengan Sai, wajahnya memutih seputih kertas dan matanya membelalak. Sasuke memang berada di seberang lantai dansa dengan tekad di wajahnya, matanya terpaku pada mereka.

Dalam keputus-asaan, Sakura mencengkeram bahu Sai, memohon dengan matanya. "Tetap bersamaku."

"Ya."

Sasuke sudah berdiri di depan Sakura dalam waktu kurang dari tiga detik.

"Sakura," ucap Sasuke, dan, dengan sedikit enggan, menambahkan, "Sai."

"Ah, Sasuke," balas Sai lemah, perlahan namun ia tidak membiarkan Sakura pergi, lengannya mengencang melingkari pinggangnya. "Aku tidak sadar kalau kita saling memanggil dengan nama depan."

"Waktu telah berubah," balas Sasuke kaku, kemudian menoleh ke wanita yang terlindungi dalam lengan Sai. "Sakura…"

"Halo," Sakura tersenyum, tapi kehangatan itu tidak sampai ke matanya, "Aku tidak mengira akan melihatmu di sini malam ini. Selamat datang. Apa kau menikmati wine-nya? Mereka mengimpornya terutama dari… dari mana, Sai?"

"Côte de Nuits," tambah Sai santai.

"Ah, benar, Côte de Nuits!" Sakura melambaikan tangannya dan tertawa ringan, "Bodohnya aku."

Tenggorokan Sasuke mengetat. Ia tidak menduga ini. Ia kira Sakura akan memukulnya, mungkin. Menamparnya, menendangnya, meninjunya, bahkan mungkin berteriak memaki di wajahnya. Itu hal yang ia tahu pantas diterimanya dan lebih dari siap untuk menerimanya. Tapi ini…

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari kakek-ku transaksi itu tidak terjadi," lanjut Sakura tenang. Menggelengkan kepalanya, ekspresinya berubah menjadi prihatin. "Sayang sekali. Perusahaan Uchiha pasti akan menjadi lebih baik di bawah perusahaan kami."

"Sakura…"

"Ya?"

"Mengapa…" Sasuke berhenti sejenak, merasa ragu, "Mengapa kau bersikap seperti ini?"

Sudut bibir Sakura mengetat. "Mengapa aku bersikap seperti apa?"

"Seperti… bukan dirimu," jawab Sasuke, hampir tak terdengar.

Seperti kau adalah seorang Miyazawa. Seperti aku benar… namun aku tidak ingin menjadi benar. Aku ingin diriku salah, hanya tentang ini.

Tapi Sakura juga mengenalnya begitu baik.

"Seperti seorang Miyazawa?" tebak sakura, "Itu karena aku memang Miyazawa. Kau benar tentang semuanya, tapi… sekarang aku bisa melihat kalau kau tidak menduganya, kan?" rasa kasihan memenuhi matanya. "Oh, Sasuke."

Suaranya alami. Mengoyak. Suaranya tidak dingin, tapi acuh tak acuh. Tidak ramah. Itu bukan Sakura, Sasuke menyadarinya dengan kepahitan. Suara Sakura seharusnya hangat, ramah, Sakura. Dan sial, Sakura tidak seharusnya menatapnya seperti itu. Dia tidak seharusnya menatapnya seolah-olah apa pun yang mereka miliki semata-mata hanya bisnis, seolah-olah dia tidak mengenalnya sebelumnya, seolah-olah apa pun yang telah terjadi di antara mereka sudah berlalu dan selesai. Dia seharusnya menjadi… Sakura. Hangat. Polos. Bukan seperti ini. Dia seharusnya… tidak.

Tidak. Tidak.

"Aku—aku perlu bicara denganmu." Spontan Sasuke meraih tangan Sakura.

"Tidak!"

Mata Sasuke membelalak saat Sakura menyentak lengannya darinya, dengan kasar, seolah-olah sentuhannya menyakitkan, seolah-olah sentuhannya membakar.

Sakura, juga, terkejut mendengar betapa dingin suaranya. Terlebih, ia terkejut pada apa yang dirasakannya saat jari-jari Sasuke menyapu kulitnya. Hanya butuh satu detik bagi Sakura untuk menyadari hal tak menyenangkan mengencang dan memelintir perutnya.

Terlalu cepat. Terlalu menyakitkan. Menatap Sasuke sambil memikirkan kejadian ketika pertemuan terakhir mereka, dan untuk sesaat, hanya itu yang dapat Sakura pikirkan. Kata yang diucapkan Sasuke di depan wajahnya. Bagaimana matanya penuh dengan kebencian dan muak. Bagaimana suaranya terdengar setajam silet. Berapa banyak ketidakpercayaan yang Sasuke tunjukkan padanya, dan…

Dan oh, betapa itu menyakitkan.

Sakura menatap tangan Sasuke, kemudian menarik tatapannya ke wajah pria itu, mengulangi dengan lembut dan lebih tenang: "Tidak."

Sakura tidak percaya, ekspresi terluka melintas di mata Sasuke, begitu kuat, begitu nyata yang untuk sedetik membuat Sakura lupa cara bernapas.

"Aku perlu bicara denganmu," ulang Sasuke setelah ia kembali tenang, dan tatapannya memohon pada Sakura, "Secara pribadi."

"Apa pun yang ingin kau bicarakan denganku, Sai boleh mendengarnya juga," balas Sakura dengan ketenangan yang sudah kembali, "Sasuke-san."

Suffix itu lebih menusuk dirinya daripada namanya di bibir Sakura, karena dengan itu Sakura menempatkan Sasuke di tempatnya—yang mana bukan di sebelah Sakura, di depan Sakura, atau di mana pun di dekat Sakura. Jika ia adalah Uchiha Sasuke dan dia adalah Miyazawa Sakura, maka itu hanya berarti satu hal: hubungan mereka tidak ada. Mereka bahkan bukan kenalan, apalagi teman.

Mereka bukan apa-apa.

Sasuke bukan apa-apa

Ini yang telah kau lakukan padanya, kau brengsek, sebuah suara mengejek terdengar dari dalam kepalanya, dan dengan perasaan hampa Sasuke menyadari itu adalah suaranya sendiri, inilah yang telah kau lakukan padanya. Semua ini kesalahanmu, kau sampah. Sebuah keajaiban dia masih di sini, setelah apa yang kau lakukan padanya. Dia tidak lari saat melihatmu. Dia masih bisa tersenyum dan bersikap ramah. Dan siapa yang kau salahkan? Dirimu sendiri. Kau melakukan ini padanya. Kau, hanya kau. Apa kau senang sekarang?

Sasuke mendongak, dan tiba-tiba Sai melangkah di antara mereka, dengan lembut melingkarkan lengannya di bahu Sakura. Hati Sasuke menjadi lebih hampa ketika ia menyadari Sakura tidak menolak perlindungan itu.

"Sakura," ucap Sasuke parau dan agak memohon, nyaris putus asa, "Sakura, maafkan aku. Aku sungguh menyesal. Hanya… bisakah kita bicara? Aku sudah—sudah begitu bodoh, dan aku perlu… bicara denganmu. Aku tidak… aku… hanya beri aku waktu sebentar. Dengarkan aku selama lima menit. Lima menit, hanya itu yang kupinta, Sakura—kumohon—"

Sakura sedikit menegang, tatapannya jatuh pada cengkraman Sasuke di pergelangan tangannya. Sasuke mengutuk dalam hati—ia tidak sadar dirinya meraih tangan Sakura lagi—dan segera melepaskannya. Cengkramannya pasti sangat kencang sampai meninggalkan garis merah di kulit putih Sakura tepat di mana ia menggenggamnya.

Dan kemudian Sakura menggelengkan kepalanya, bibirnya ditekan kuat seraya dirinya mengangkat tangannya ke dada, seolah mencari perlindungan.

Hati Sasuke semakin hampa. "Sakura—"

"Sasuke."

Sasuke terdiam.

Bibir sakura melengkungkan sebuah senyuman, senyuman sedih. "Apa lagi yang harus dibicarakan?"

Sasuke membuka mulutnya, tapi Sakura menggelengkan kepada, dan wanita itu terlihat hancur hingga membuat hati Sasuke seolah terhantam sesuatu dan hancur berkeping-keping.

Sai mengeratkan rangkulannya pada Sakura, melangkah ke depan melindunginya sekarang, dan menatap Sasuke. "Aku pikir dia tidak ingin bicara denganmu, Sasuke-san." Suaranya terdengar senang namun aneh saat ia bicara, meskipun sinar di matanya mengatakan hal sebaliknya. "Mungkin kau harus pergi."

"Aku hanya…" suara Sasuke tersendat dan berhenti. Hatinya tercekat meskipun ia mundur. "Aku…" ia merasa ragu, jelas terlihat sedih. "Maafkan aku." Kata itu menghambur keluar dari mulutnya bahkan sebelum ia sadar bahwa kata-kata itu mengambang di pikirannya. "Maafkan aku. Aku sungguh menyesal."

Ia berbalik dan menghilang di kerumunan.

o.o.o.o.o

Sai tidak suka bagaimana ini berlangsung.

Di dalam rangkulannya adalah wanita yang dulu ia cintai, wanita yang dulu memiliki hatinya, wanita yang ingin ia lindungi dengan hidupnya—dan masih seperti itu, bahkan sampai sekarang, bahkan saat semuanya berbeda, bahkan saat mereka tidak seperti dulu, terutama ketika mereka tidak seperti diri mereka yang dulu.

Karena Sakura yang ini bukan Sakura yang ia kenal. Bahkan tidak dekat.

"Sakura."

Perlahan, wanita berambut merah muda itu mengangkat pandangannya ke wajah Sai, menatap matanya tanpa berkedip. Ada ketenangan menakutkan di udara dari diri Sakura, sangat kontras dengan ekspresinya beberapa detik yang lalu. Wanita itu tersenyum, tapi itu bukan senyuman milik Sakura. Sial, dia tersenyum tapi itu bukan sebuah senyuman—Sai bahkan tidak tahu bagaimana itu bisa.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sai.

"Jelas, aku tidak memikirkan apa-apa," balas Sakura, "Tapi tak apa. Ini sudah berakhir dan selesai."

"Jangan bohong."

"Aku tidak berbohong." Seolah untuk menegaskan, Sakura tersenyum pada Sai lagi, cerah dan bersinar.

Sai menyipitkan matanya. "Jangan tersenyum seperti itu," ucapnya, "Itu tidak cocok untukmu."

Senyum itu menghilang saat Sakura menyandar padanya, lengan Sai melingkar di pinggangnya reflex, spontan.

"Maafkan aku," Sakura berbisik di pundak Sai, "Aku sungguh, sungguh menyesal."

Sai tertawa datar. "Maaf untuk apa?"

"Semuanya." Suara Sakura teredam. "Karena menjadi menyedihkan. Karena tersenyum dengan begitu bodoh. Karena… tidak cukup kuat. Aku hanya—" ia tersedak, dan Sai mengeratkan pelukannya, "Aku melihatnya dan aku berantakan. Itu bodoh. Itu menyedihkan," ia tertawa, dan saat ia menarik diri, masih di dalam pelukan Sai, wajahnya tiba-tiba kembali ceria, "Aku tidak siap melihatnya, tapi tak apa. Ini sudah berakhir dan selesai. Bahkan, aku pikir aku hampir melampauinya. Aku tidak memikirkannya begitu—"

"Sakura, kau tidak perlu berbohong."

"Tapi—"

"Kau tidak perlu berbohong," ulang Sai, "Tidak denganku. Lagi pula kau tidak bisa bohong padaku. Dan kau juga tidak bisa benar-benar berbohong padanya. Kau pembohong yang buruk, Sakura. Jangan pernah mencobanya."

Sakura menegang selama sedetik, namun kemudian bibirnya melengkung sedih. "Itu benar," ia tertawa, nyaris pahit, "Kau selalu bisa membacaku, kan? Aku tidak pernah bisa berbohong padamu. Tidak dulu, tidak sekarang… tidak selamanya, mungkin."

"Kau tidak perlu berbohong," ucap Sai, lebih lembut kali ini, "Tidak denganku."

Kemudian ia memeluk Sakura dan mulai menggerakkan kakinya, tangannya jatuh ke pinggang Sakura, menghiburnya dengan satu-satunya cara yang ia tahu. Sebagai balasan, Sakura mengaitkan lengannya ke belakang leher Sai dan menempel padanya sedekat mungkin, wajahnya masih terkubur di bahu Sai, mengikuti gerakannya dalam tarian pelan.

"Aku tahu," bisik Sakura, "Aku tahu."

Mereka tetap seperti itu untuk waktu yang sangat, sangat lama.

o.o.o.o.o

Di suatu tempat di sudut ruangan, memengang segelas wine dan menyeringai pada diri sendiri melihat kejadian yang berlangsung di depannya, Akihito merasa sangat, sangat senang.

Sakura dan Sai terlihat berada dalam pelukan yang sangat intim, menempel satu sama lain seraya berdansa perlahan. Lebih penting lagi, wartawan berbondong-bondong di sekitar mereka seperti elang tapi mereka terlalu larut dalam dunia mereka sendiri bahkan untuk menyadarinya! Semuanya akan berjalan persis seperti yang diinginkannya, dan ia tidak bisa merasa lebih bahagia.

Ini, Akihito memutuskan, sangat mudah. Terlalu mudah.

Tiba-tiba, jari Yukina yang melingkar di lengannya mengencang, mengeluarkannya dari lamunannya.

"Yukina, apa—"

"Akihito," potong Yukina segera, terlihat nyaris ketakutan saat ia mengintip ke arah pintu masuk aula, "Katakan padaku… apakah mataku menipuku?"

Merasa bingung, Akihito mengikuti tatapannya tanpa bicara.

Di bawah gerbang perak yang merlangkung di sana, berdiri seorang wanita dalam balutan gaun biru kehijauan, rambut kuning kemerahannya dihiasi dengan sebuah jepitan cantik, mata hijau viridiannya menyapu seluruh ruangan dengan tertarik. Ada keanggunan tersendiri dalam caranya bersikap, rahasia kecil bermain di matanya. Ketika ia mulai berjalan, langkahnya lambat tapi anggun, bahkan saat ia berbalik untuk memberikan isyarat pada pria yang mengawalnya. Ia menatap sekeliling aula sebelum matanya akhirnya menemukan Akihito, dan dengan sangat tenang, senyum elegan melengkung di bibirnya saat hijau tua bertemu hijau tua.

Gelas Akihito terjatuh dengan bunyi pelan, dan anggur merah itu menyebar seperti darah, membuat noda jelek dan besar di atas karpet.

.

.

.

TBC

.

.

Terima kasih sudah membaca, review, follow, dan favorite.