3/5/11 8:57 PM, Gue mulai nulis.

HELLO! HELL – 0 ~!

Kuliah semakin menggila.. (bunuh ajah gue! BUNUH!) bulan MEI ini NGAMBIL SABUK IJO! (MATI DAH GUE) BLERGH...

[gue juga sibuk nyelesein persona4, XD~ KYAAA, udah nonton Hakuouki? Bishounen semua... Uweee –nosebleed]

KYAAAA! Apa kalian merindukan gue? RINDU 'kan? Rindu pengen ngebunuh?

GLEK! Bwergh... Gue udah nyoba nulis! Udah! Cuma kayaknya tangan dan otak gue gak kerja berbarengan. Jadi... Yah, gitu lah... AHAHAHA!

(sankyuu buat Kyuu-chan, yang ngasih ide! UWOW! –hug- NYAAAAN)

Btw, kalo kalian mau marah-marah... Dateng ajah ke wall fb gue (lol). Maksudnya... Review kalian kali ini, tolong diisi dengan kata-kata menyenangkan (maksa).

STAY TUNE!

.

.

Disclaimer:: Masashi Kishimoto & Co.

Berdasarkan Serial TV 'Princess Hours' dan,

Manga Korea berjudul 'Goong' by Park, So Hee.

Warning:: Fluff, Lots of Love... Dont push your luck, kiddo... And, this is not the end. ITACHI is HERE! Queen of Drama, jeng jeng!

Beta:: KyuubiMeiHime.

-Ai_Shirohime-Presenta-

-Palace_Story-

.

Round 20. –They call me heart breaker. But i know You want me-

.

.

Naruto menahan nafas dalam-dalam saat nyeri dan mual menyerang sekujur badannya, ia tidak terlalu biasa dengan perasaan ini meski sudah sering mengalami. Ahh... Baru sekarang ia merasa menyesal sudah memilih untuk mengandung...

"Naruto?"

Sepasang tangan menopang kedua bahunya yang bergetar, memalingkan mata birunya dari dinding, ia menemui sosok kusut Sasuke dengan muka khawatir. Tersenyum kecil, ia berusaha menjawab, "Aku tidak apa-apa" namun ia tidak bisa menemukan suaranya, yang hilang di dalam tenggorokan.

Si Uchiha mengernyitkan alis hitamnya, "Hei? Kenapa?" tanyanya cemas. Ia langsung mengangkat tubuh Naruto ke dalam pelukannya saat melihat air muka si Blonde yang tidak bagus. "Kamar mandi?" tanyanya pendek. Tanpa menunggu jawaban, ia segera berjalan ke arah kamar mandi di sisi lain ruangan.

Naruto hanya tersenyum kecil, tangannya yang menggenggam erat baju Sasuke.

Rasanya ia seperti jatuh cinta sekali lagi. Ia menyukai perubahan ini... Namun, baginya... Mau Sasuke seperti apa pun juga, ia tetap akan setia dan menyerahkan separuh hatinya secara cuma-cuma... Seluruhnya juga boleh...

"Sasuke..."

.

Semua perubahan Sasuke dimulai sejak seminggu lalu. Dimulai dari pertemuan kembali sepasang kekasih di kamar rumah sakit. Tidak romantis, tidak ada hiasan, tidak ada lilin ataupun bunga. Namun bagi mereka, inilah awal baru yang akan membuat hubungan mereka semakin erat.

"Jadi... Mereka sudah berdua sudah berbaikan?" Shikamaru menghirup kopi kalengan ke dalam mulutnya. Ia berulang kali menggelengkan kepala, berharap minuman berkafein ini mengusir kantuk. Sebelum ini ia sesungguhnya sudah makan sepiring omurice bersama Chouji (yang sekarang tidur lelap di dalam mobil di parkiran), tetapi karena Temujin mengajaknya ke cafetaria, mau tidak mau ia membeli sesuatu.

Temujin terkekeh, menyambar roti digenggamannya dengan gigitan penuh, sebelum menjawab santai, "Sepertinya begitu." Ini makanannya pertama hari ini, saking sibuknya dengan masalah orang lain ia sampai lupa untuk sarapan dan makan siang. Selain beberapa bungkus roti kare, ia juga membeli sebotol minuman bervitamin C tinggi untuk kebutuhan tubuhnya. Sebenarnya ia tidak suka makan malam, ia punya disiplin keras akan jadwal makan namun jika tidak makan malam ini, ia tidak akan punya tenaga lagi untuk menjaga Naruto. Walau sudah ada Sasuke di atas sana, bersama si Blonde.

Keduanya termangu di ruang tunggu di lantai bawah rumah sakit setelah membeli sejumlah makanan dari cafetaria. Tadi sore Temujin dan Shikamaru melihat sang pangeran tergesa berlari dari mobil menembus hujan ke arah rumah sakit, saat siap menyapa, si Raven tampak tidak peduli dan masuk lift. Mereka mengikutinya dari belakang, namun tidak ikut masuk ke dalam ruangan karena suara pertengkaran terdengar dari arah kamar.

Setelah menunggu cukup lama, entah kenapa suara pertengkaran itu mereda digantikan kebisuan. Apakah mereka salah dengar atau tidak, tetapi sempat terdengar bunyi ranjang berderit. Kemungkinan besar karena ada beban lain yang menaikinya, juga gerakan tidak simetris yang menggerakkan ranjang ke arah lain.

Well, kalian tahu 'kan apa yang terjadi.

Temujin dan Shikamaru memutuskan untuk meninggalkan suami-istri itu dan membiarkan mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai pasangan.

"Yah, aku harap benar begitu..." ujar Shikamaru pendek. Ia berdiri dari tempat duduk dan melemparkan kaleng kopi ke dalam kotak sampah. Lalu mengeluarkan sebungkus permen karet, dan mengunyahnya lambat-lambat.

"Hm? Apa kau tidak yakin?" Temujin menolak permen karet yang disodorkan Shikamaru dengan melambaikan tangannya, meneruskan mengunyah roti kare di dalam mulut hingga halus.

Shikamaru kembali menghenyakkan tubuhnya di atas kursi di samping Temujin, lalu menatap langit-langit rumah sakit yang putih bersih. "Bukan begitu... Aku takut kalau ini adalah ketenangan sebelum datangnya badai..." ia berkata dengan nafas berat.

Aura dingin malam hari membuat keduanya menggigil, di luar masih hujan dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti dalam waktu dekat. Keduanya terperangkap dalam pikiran masing-masing, menghitungi detik-detik yang bergulir dalam diam. Menunggu masalah apa lagi yang akan menghadang, yang tiap kali selalu lebih besar dari sebelumnya.

.

Sasuke yang tadinya memeluk Naruto sampai ikut terjatuh ke atas ranjang, mulai menarik dirinya untuk menjauh.

Ia tidak berharap untuk mendapatkan maaf dari si Blonde.

Namun ia tidak menyangka, Naruto menarik tangannya dan mulai mendekat dengan pandangan memelas.

Jantungnya hampir berhenti berdetak.

Dalam diam, Sasuke membiarkan Naruto membenamkan diri di dadanya, isakan berbisik di dalam hening.

Waktu berjalan tak berhenti namun terasa lambat, seperti keabadian.

Keduanya sama sekali tidak ada keinginan untuk menghidupkan lampu atau menarik selimut yang jatuh ke atas lantai.

Bahkan makan malam terlupakan dan tak menghiraukan desahan dari dalam perut.

Ataupun degupan jantung yang hebat, entah dari dada siapa.

Karena perbedaan tinggi atau apa, Naruto hanya bisa mendekap dada Sasuke dengan tangan dan mukanya. Membiarkan bau si pangeran mengisi paru-paru dan memabukkan otaknya seperti heroin. Membulatkan tangan di depan badan si Raven karena tak yakin bisa merangkul tubuh kekar itu sepenuhnya, Naruto bernafas lambat dengan gugup.

Rasanya baru kali ini, mereka berpelukan cukup lama.

Ia jadi terbiasa dengan suhu badan Sasuke, yang hangat dan membuatnya tidak membutuhkan selimut atau baju sekalipun.

"Nnh..." tiba-tiba si Raven mengeratkan lagi rangkulannya, pipi Naruto merah di kedua sisi. Entah karena sulit bernafas atau malu. Si Pangeran mencium kepalanya, melingkarkan tangan di pinggang Naruto dan kakinya melintang di atas badan si Blonde. Seperti sedang memeluk guling, guling yang hangat dan bisa bernafas.

"Sasuke" Naruto memanggil nama si pangeran dengan nada sumbang, membuat ketenangan si Raven sedikit terganggu.

"Apa, Dobe?"

"Teme..." ia tersenyum malu, lalu memasukkan kepalanya lagi ke pelukan Sasuke.

"Hn." Si Raven bersyukur, Naruto sudah kembali ke pribadi yang selama ini ia kenal.

Dalam diam ia berjanji untuk tidak menghancurkan kepercayaan yang ia dapatkan lagi.

Sasuke menjulurkan salah satu tangannya menyentuh pinggang Naruto dengan sengaja, "H-hei! Ahahaha... Ge-geli tahu! Sa-Ahahaha!" Si Blonde bergerak kanan kiri, berusaha menjauhkan tangan si pangeran dari badannya. "Sasuke..." ia mengerucutkan bibirnya saat menemui senyuman sinis khas Uchiha terpasang di wajah sang suami.

"Kau duluan yang mulai menggodaku 'kan?" lirih Sasuke jenaka, Naruto bisa mencium bau mint dari mulutnya, ia jadi ingin mencium bibir itu.

Entah kapan suasana kaku di antara mereka mencair, tetapi terlepas dari hal itu keduanya kini sudah lebih rileks dan santai. Saling berpelukan, tubuh yang bersentuhan dengan dahi yang saling menempel. Keduanya menghirup udara yang sama, dalam jarak tak lebih dari 10cm dan mata yang tak berkedip, menatap satu sama lain.

"Mata birumu cantik sekali" ungkap Sasuke sambil merabai kelopak mata Naruto, ia betul-betul terpesona dengan azure eyes itu, yang mampu berbinar-binar dalam gelap. Seperti ada glitter berlebih di atas permukaan kelereng mahal.

Naruto tersenyum, ia merabai dada Sasuke dengan kedua tangannya sebelum menjawab, "Ya, keturunan dari ayahku..." lalu naik, untuk menusuri rahang tegas si Raven dengan ujung jarinya.

Merabai punggung si Blonde, ia bergerak memutar seperti yang selama ini seorang dayang lakukan padanya saat ia bersedih. Entah kenapa, gerakan ini cukup menenangkannya, saat ia lelah oleh jadwal istana dan rindu pada sentuhan ibu.

Apa ini yang diharapkan Naruto? Sentuhannya?

"Sentuh aku di sini Sasuke..." mata Naruto mengarah ke arah perutnya.

"Hah? Kau sungguh-sungguh mau aku menyentuh Mr. Happy itu sekarang?" Sasuke mengedipkan matanya tak percaya, namun tidak menolak jika Naruto ingin sedikit 'lime' sekarang.

"Bukan itu bodoh! Tapi perutku! Ya, ampun dasar mesum..." mukanya merah padam menahan malu dan marah, memukul lengan si pangeran keras-keras.

"Aku bercanda, Dobe!" Sasuke berusaha menghindar dengan turut marah. Ia menarik tangannya dari punggung Naruto dan menusuri tubuh kurus itu hingga tiba di atas perut.

"Ya, tentu saja..." ujar si Blonde sarkastik, tetapi ia tiba-tiba berhenti bernafas saat tangan Sasuke merabai perutnya dengan lambat. Ada sensasi aneh yang menggelitik, naik dari ujung jari-jari Sasuke dan mendorongnya untuk rileks, melepaskan segalanya.

"Dobe..."

"Hn!" Naruto menirukan kata-kata milik si Raven, ia berharap Sasuke tidak melihat dan menyadari kalau ia gemetar dan jantungnya berdegup kencang.

"Kau... Membuncit?" yeah, benar-benar mengacaukan mood. Naruto segera melupakan sensasi yang ia rasakan dan menepis tangan Sasuke dari permukaan perutnya.

"Tentu saja, a... Aku 'kan hamil!" ia berkata kesal, dan membulatkan pipinya. Si Raven kembali mengelus perut Naruto, ia tidak menyangka kalau di dalam Naruto ada kehidupan berupa hasil 'kelakuan'nya selama ini.

"Ya, aku tahu..." Sasuke tersenyum simpul, lalu meletakkan lagi tangannya di tengah perut Naruto.

"U-un... Ge-geli... Sasukeee..."

"Apa anak ini akan mirip denganmu?" bisik si pangeran, membuat Naruto sedikit terkejut.

Naruto terkekeh lalu menjawab santai, "Pasti mirip denganmu, Teme!"

Kembali memeluk Naruto erat, Sasuke menempelkan dahinya dan menatap mata biru Naruto tajam, "Anak ini keturunan Uchiha... Apa pernah kau melihat seorang Uchiha berambut pirang?" goda si Blonde, membalas tatapan si pangeran, lalu memainkan ujung hidungnya dengan ujung hidung mancung Sasuke.

Sedikit gemas, Sasuke akhirnya menjorokkan bibirnya menyentuh bibir Naruto untuk meraih kecupan kecil, "Kau benar... Tidak ada Uchiha berambut pirang dan jika ada itu pasti kau, dobe..." tangannya mengelus ujung-ujung rambut pirang Naruto.

"Ini alami, tahu... Lagi pula aku tidak cocok berambut hitam sepertimu." Membalas elusan si pangeran, Naruto merapikan poni Sasuke yang menutupi wajahnya. Dalam diam, ia mengagumi rambut sehalus sutra hitam itu yang selalu terlihat berkilau dan dirawat teratur, tidak seperti miliknya yang kuning juga acak-acakan.

"Hei... Apa kau memang mau berbagi dengan Karin?" tanya si Raven pelan, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menikahi Karin setelah bersama Naruto. Tidak tahu kenapa... Apa ia memang terperangkap dalam cinta sejak pertemuan pertama pada si Blonde?

"I-itu... Ka-kalau, ka-kau mau... Aku tidak keberatan..." Naruto terbata, nafasnya jadi cepat dan keringat dingin turun dari pelipis, ia tidak menyangka Sasuke akan membawa topik ini. Ia cukup menyesal telah berkata seperti itu beberapa saat yang lalu.

Si Raven menghelakan nafas pendek, lalu menepuk bahu Naruto untuk menenangkannya, "Jangan memaksakan diri, dobe... Aku, aku tidak pernah berpikir untuk menikahi Karin. Kurasa dengan satu pasangan sudah cukup merepotkan... Apalagi kau akan melahirkan."

"Benarkah?" si Blonde mengerjab, sedikit tidak percaya. Tetapi perasaan takut dan gugupnya mulai sirna.

Menarik tangan Naruto ke depan bibir, Sasuke menciumi tiap bonggol tangan itu dengan hati-hati, "Iya... Aku juga tidak berniat, membagimu dengan orang lain..."

"Dasar posesif..." membuang pandangan ke samping, Naruto mencemberutkan mulutnya dengan pipi merah.

"Hn,... Tapi kau cinta pada orang posesif ini..."

Tepat sasaran, Sasuke menusuk hati Naruto dengan keras.

"Uhhhh..." hatinya jadi mengkerut menatapi wajah tampan Sasuke.

"Oi, Dobe..." Sasuke menarik pandangan Naruto dengan menjilat salah satu jari di genggamannya.

"Apa?" jawab si Blonde lirih, ujung jarinya yang sensitif menjalarkan panas dari permukaan lidah Sasuke ke pemikirannya. Ia harus menutup mata saat getaran mengaliri tubuhnya.

Sasuke menarik nafas dalam-dalam, ia membingkai wajah Naruto dengan tangan, membuat si Blonde membalas tatapannya, "Ich Liebe dich..." bisiknya pelan. Ia merasa perlu mengatakan ini pada Naruto, mengungkap isi hati terdalam yang baru ia temukan tadi.

Naruto berkedip beberapa kali, "Huh? Bahasa apa itu?" ia merasa pernah mendengar kata-kata ini entah di mana... Di kelas bahasa asing 'kan? Entahlah... Ia tidak pernah serius belajar kecuali saat kelas seni saja.

"Jerman." Dan Sasuke tidak mengharapkan Naruto mengerti.

"Hoeeeh... Apa artinya?"

Menyentil lembut dahi Naruto dengan jari tengahnya, Sasuke berkata datar, "Kau bodoh sekali..."

"HEEEEE... Artinya bukan 'aku menyukaimu'? Atau 'aku mencintaimu'? Atau 'aku menyayangimu'?" Naruto bangkit dari pelukan Sasuke, ia duduk dengan muka cemberut, sedikit kecewa pada jawaban si Pangeran. Ia mengharapkan kata-kata romantis namun yang didapat hanya ejekan lagi...

"Percaya diri sekali kau, Dobe... Sudah, ayo tidur, sudah malam..." Sasuke menyembunyikan wajahnya yang sedikit bersemu di balik gelapnya malam, ia tidak menyangka Naruto masih begini keras kepala walau sedang sakit.

"Hue... Ayo Sasuke... Apa artinya? Aku penasaran nih..." menggoyang-goyangkan tubuh Sasuke di sampingnya, Naruto berusaha mendapatkan perhatian si Raven.

"Diam Dobe, aku ngantuk!" tetapi Sasuke menepis tangan Naruto dengan memegangi lengan itu erat-erat.

"Bohong! Ayo~ apa artinya... Ump!" Sasuke menarik lengan Naruto dengan kuat, hingga si Blonde jatuh ke atas badannya lalu ia mengangkat wajah untuk menemui bibir pink Naruto. Menyerahkan ciuman basah, lambat tetapi pasti Sasuke menjilati bibir bawah si Blonde. Ia mengisapi bibir itu pelan, membasahi permukaannya dengan ludah dari lidahnya.

Tangannya merabai punggung si Blonde yang sudah melemah di atas tubuhnya, ia tersenyum saat lidah Naruto berpartisipasi dengan malu-malu. Naruto meremas kemeja Sasuke, sementara tangannya yang lain menyentuh rambut hitam si Raven.

Nafasnya terengah, Sasuke menjilat daun telinga Naruto sebelum membisikkan "Ayo tidur." Ia mencuri lagi satu ciuman kecil.

Dalam keadaan berpelukan, keduanya terlelap meneguk mimpi.

Berdoa semoga esok, ini tetap kenyataan dan semuanya akan baik-baik saja.

.

"Hei." Karin mendongak, menemui wajah Sai yang berdiri di depannya mengenakan jubah hitam. Ia sekejab melihat bayangan Sasuke di dalam sosok ini.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Sai?" tanya Karin heran. Ia memang mengatakan akan pergi ke Inggris tetapi tidak menyangka Sai akan menyusulnya ke sini.

"Aku datang menemuimu... Kamu sendiri kenapa duduk sendirian di sini?" Sai mengambil posisi di samping Karin, yang duduk di atas kursi panjang taman, tempatnya menemui Sasuke beberapa waktu lalu.

Tersenyum tipis, Karin meniup ujung tangannya yang membeku, "Entahlah..." udara pagi di Inggris memang benar-benar dingin, namun tanpa alasan pasti ia ingin menikmati pagi di sini.

Tempat terakhirnya bersama Sasuke dalam keadaan saling mencintai.

Sai mengerutkan alis tipisnya, ia sudah mengspekulasi apa yang sebenarnya terjadi. Ia sejak awal sudah menentang niatan Karin untuk menemui Sasuke sendirian dan mengajaknya pergi bersama. Namun si wanita menolak dan berkata urusan antara ia dan Sasuke hanya bisa diselesaikan sekarang.

Ia menerima kenyataan bahwa ia hanya sekedar teman bagi Karin dan memutuskan untuk menarik diri.

Namun saat kabar kehamilan Naruto terbongkar, ia dengan segera terbang ke Inggris. Ia punya firasat buruk dengan apa yang akan dilakukan Karin. Karin adalah wanita dengan tujuan pasti, ia hanya punya satu misi yaitu berhasil.

Dan jika tidak berhasil jawabannya adalah mati.

"Kamu tidak seperti Karin yang kukenal..." ia mengulurkan tangan, menggapai rambut Karin yang tampak acak-acakan karena ikut terikat di syal yang melingkar di lehernya.

"Memangnya selama ini aku terlihat seperti apa di matamu?" tanya Karin tanpa membalas pandangan Sai.

"Kamu adalah wanita terkuat dan paling pintar yang pernah aku temui... Dan sekarang semua itu sirna seperti disapu badai..." Kata Sai sungguh-sungguh, demi Sasuke selama ini ia sudah mengalah terlalu banyak.

Karin terkekeh lambat, menoleh ke arah Sai hanya untuk tersenyum kecil, "Kalau begitu, sekarang artinya kamu kecewa menemukan aku begini lemah, ya?"

Sai menggertakkan giginya, bukan karena dingin melainkan karena geram, dengan cepat ia membentangkan tangan untuk menangkap tubuh Karin dalam pelukannya.

"Sai! Apa yang..." Karin terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Sai, ia merasakan pipinya sedikit demi sedikit terbakar, melelehkan beku yang melingkupinya.

Sai dengan erat, keras kepala tidak mau melonggarkan pelukannya, ia meletakkan kepalanya di bahu Karin, "Tidak... Aku tidak kecewa... Aku malah sadar, kalau kamu juga manusia... Yang punya kelemahan dan kekurangan..." bisiknya pelan.

Air mata menggumpal dibalik mata Karin, ia tahu pasti hidungnya mengalirkan ingus sekarang, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin menikmati keadaan ini, saat ia akhirnya menemukan orang yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Saat ia lemah dan kehilangan arah untuknya berjalan mengarungi bahtera kehidupan.

"Kamu punya aku, Karin..."

Menutup matanya, Karin menyerahkan diri dalam ciuman Sai yang terasa hangat dan menenangkan.

Betapa butanya ia selama ini, sama butanya dengan Sasuke. Mereka terus-terusan mencari cinta, saat cinta itu berada di dekat mereka. Diam dan sabar menunggu mereka sadar dan membuka mata bahwa mereka tidak perlu pergi ke ujung dunia, hanya untuk mencari sebuah cinta.

.

Pagi hari-hari berikutnya, Sasuke pun masih tetap ada di sana. Masih memeluknya. Masih bersamanya hingga sekarang.

Ia tersenyum lebar, saat mengingat wajah khawatir Sasuke ketika menemaninya menemui dokter kandungan. Ia ingin tertawa saat dokter kandungan itu dengan berani 'memarahi' Sasuke karena menjadi suami yang tidak becus. Si pangeran juga dipaksa berjanji untuk tidak akan pernah lagi membiarkan Naruto terbengkalai dan meninggalkannya berhari-hari tanpa pesan.

Hari-hari dalam minggu ini begitu terlihat hangat, penuh cinta, jam-jamnya terasa begitu lama dan menyenangkan.

Membuatnya takut... Membuat Naruto bertanya-tanya, apakah ini mimpi? Tidak ada kehidupan yang akan selalu membahagiakan seperti ini...

Hah... Hentikan, cobalah berpikir positif Uzumaki! Teriak Naruto dalam hati. Ia lelah terus-terusan khawatir, sejak kapan ia jadi selemah ini? Sejak kapan ia mulai memikirkan segala detail dan hal-hal kecil yang biasanya ia tidak ambil pusing.

Ia harus dengan segera kembali ke dirinya yang dulu.

Mata birunya menemui wajah tidur Sasuke yang begitu tenang, ia merasakan angin sejuk menggelitiki hati, memaksa jarinya naik untuk menyentuh permukaan kulit Sasuke. Yang terlalu indah, terlalu bersih untuk ukuran pria, selalu membuatnya berpikir; perawatan apa yang dilakukan si pangeran untuk mendapatkan kulit ini?

Naruto merabai rahang pucat Sasuke dihadapannya dengan hati-hati, menyingkirkan rambut yang menutupi wajah tampan itu dari pandangannya. Sasuke bernafas dengan tenang, udara yang keluar dari hidungnya menerpa Naruto, membuat si Blonde sedikit iri, kenapa bau mulut si pangeran sama sekali tidak busuk di pagi hari.

"Tidak ada jerawat... Komedo... Bekas luka saja tidak ada... Hebat..." lirih Naruto pelan.

"Itu yang kau katakan setelah mengganggu tidurku, Dobe?"

Sasuke membuka mata hitamnya, Naruto hanya tersenyum lebar namun tidak menarik tangannya dari wajah si Pangeran. Ia malah menggeser tangannya ke belakang kepala Sasuke, ia memajukan wajahnya menemui bibir tipis si Pangeran. "Ohayo..." bisiknya di bibir Sasuke.

Menyeringai, Sasuke membuka mulutnya untuk menjulurkan lidah dan menjilat permukaan bibir Naruto, "Yeah..." tidak perlu waktu lama, untuknya memasukkan lidah ke dalam mulut si Blonde.

"Asal kau tahu... Semua Uchiha memang sudah terlahir dengan kulit seperti ini." Ejek Sasuke, yang sudah menerka bahwa Naruto iri pada kehalusan kulitnya, ia begitu ingin tertawa saat menemui wajah si Blonde yang merah padam.

"M-memangnya kenapa? Aku tidak iri kok!" sahut Naruto kesal, ia lalu sedikit mundur untuk memberi ruang bernafas baginya. Jika terlalu berlama-lama seperti ini, rasa 'haus'nya pasti segera bangkit, apalagi sudah hampir tiga minggu lebih ia tidak 'melakukan' apapun.

"Hey..." Sasuke menarik dagu Naruto untuk menemui wajahnya. Ia tersenyum kecil saat melihat semu merah mewarnai pipi cokelat si Blonde.

"Apa?" jawab Naruto, sambil cemberut.

"Hari ini kau harus check-up ke rumah sakit."

Naruto ber-doeeeng ria, ia mengerjabkan mata beberapa kali untuk menyakinkan bahwa kata-kata itu memang berasal dari Sasuke. "Eh?"

Menarik kaos yang ia lempar tadi malam di sudut ranjang, Sasuke memakainya lagi dan bersiap untuk bangkit dari ranjang. Ia melirik Naruto dari sudut mata, "Apa?" tanyanya heran, saat menemukan wajah melongo si Blonde.

"Eh-eh? N-nggak apa-apa kok! Uhhh..." Naruto merutuk di dalam hati, apalagi saat merasakan ketegangan tadi semakin 'menurun' dan 'mendingin'. Tetapi ia tetap tersenyum, membalas uluran tangan Sasuke yang mencoba membantunya untuk berdiri, keluar dari ranjang.

Namun saat berdiri, Naruto tiba-tiba menemukan dirinya terperangkap 'penjara tangan' Sasuke hingga terdorong ke dinding. "Teme! Sakit tahu! Ommph!" kata-katanya habis dihirup oleh bibir si Raven. Satu persatu, tulang-tulang punggungnya dirabai oleh permukaan tangan dingin Sasuke, mengalirkan sentruman yang memaksa ia menutup mata.

"Let's play..." Bisik Sasuke sebelum menjilat daun telinga Naruto, "Check up bisa menunggu."

Naruto menggertakkan giginya menahan agar desahan tidak keluar, "Te-teme..."

.

"Tempat ini masih tidak berubah." Menghirup dalam-dalam udara lembab yang melingkari badannya, ia berjalan tegap sambil menghitungi langkahnya di atas batu-batuan taman.

Memang menyenangkan kembali ke sini setelah beberapa tahun menyendiri di luar negeri, namun sungguh tidak enak saat tidak bisa menghadiri pernikahan sang adik. Bisa-bisanya anak itu mendahuluinya yang lebih tua, bahkan sama sekali tidak memberikan kabar!

Scarf di lehernya menggantung perlahan tertiup angin, sebuah tas mengalung dari punggung, ia masih berjalan dengan langkah pasti. Rambut hitamnya berkilauan tertimpa cahaya matahari, bermain-main dengan udara dan terikat rapi di belakang lehernya. Ia memanjangkan rambutnya setelah keluar dari istana, dan sama sekali tidak ingin memotongnya lagi.

Toh, ia sudah lelah dengan peraturan-peraturan itu.

"Ah! Ita-!" ia terkejut, mendengar sebuah suara kaget dari arah belakangnya.

Ia menoleh ke arah suara itu, "Shisui." Senyuman mengambang di wajah, menatap sosok familiar yang dulu sering menjadi temannya bermain.

Teman pertamanya.

Juga orang terakhir yang ia temui sebelum meninggalkan istana.

Shisui berlari kecil mendekatinya, ia terlihat sama seperti dulu. Masih tetap polos dan baik hati, "Kapan anda kembali?" ia sangat senang melihat sosok itu membalas senyumannya, sangat senang sampai menyesal kenapa mereka terlahir dalam darah yang sama. Dengan cepat, ia memberikan pelukan 'persahabatan'.

Setelah perbincangan kecil, ia dan sosok itu berjalan beriringan.

"Bagaimana dengan adik kecilku? Masalah apa yang ditimbulkannya setelah kepergianku?" ia melirik muka Shisui yang sedikit terkejut, apakah ia menanyakan pertanyaan yang salah? Mungkin saudara jauhnya itu tidak akan menyangka bahwa ia masih ada sedikit kepedulian pada istana.

Meski sejak kecil ia tidak pernah tertarik pada tahta raja.

Mengambil nafas dalam-dalam, Shisui menyunggingkan senyuman kecil sembari menjawab lambat, "Tidak ada masalah berarti, Itachi-sama... " dokumen tebal di pelukannya makin masuk ke dalam pelukannya, seolah jadi barang yang begitu penting.

Sedikit mengganggu intuisi Itachi yang tajam.

Tentu saja ia tidak terlalu yakin pada jawaban Shisui yang terdengar muluk, apa istana pernah mengalami satu hari saja tanpa masalah? Jangan bercanda...

"Apa anda tidak mengabari pihak kerajaan? Saya terkejut dengan kepulangan Anda, karena tidak ada sambutan atau pemberitahuan sebelumnya..." lirih Shisui, rambut hitamnya berkibar ditiupi angin.

Seringai licik mengembang di wajah pucat Itachi, "Aku ingin memberikan kejutan untuk Sasuke..." ujung scarfnya tertiup angin.

"Eh? M-maaf?"

Itachi merasakan urat di kepalanya menegang, "Ayolah, Shisui... Jangan terlalu formal begitu!" tanpa basa-basi, ia mengalungkan lengan kirinya di leher Shisui.

"Y-yang Mulia!" nafas Shisui melonjak, merasakan debaran aneh di dalam dadanya.

Itachi dengan tidak peduli, melanjutkan perjalanannya meski Shisui mengikutinya dengan langkah terseok.

Ia menyongsong bangunan Istana, yang sama sekali tidak berubah... Masih menakutkan... Masih penuh misteri... Masih saja egois seperti dulu.

Apa ia harus menyesal dilahirkan dalam aliran darah Uchiha?

Jangan bercanda... Ia bukan Uchiha Itachi jika merengek seperti itu...

.

Di ruangan tengah Istana mereka, Sasuke membolak-balik berkas-berkas kerajaan di pangkuannya, sesekali mengangkat pandangannya untuk mengawasi gerakan si Blonde yang duduk manis di sebelahnya.

Naruto mengunyah lambat-lambat potongan apel yang dibawakan dayang sesuai dengan menu dari dokter. Ia sebenarnya lebih menyukai jeruk, tetapi Sasuke –yang kini jadi begitu peduli, melarangnya karena kandungan vitamin C jeruk terlalu banyak dan tidak sesuai anjuran dokter.

Mata birunya mengedip beberapa kali, sewaktu ada sesosok pria tidak dikenal yang mempunyai wajah sama dengan Sasuke berdiri di ambang pintu. Otot-otot di kepalanya mengejang,

Apa ini yang disebut dopperlgangger?

B-bukannya hal semacam itu akan dilihat seseorang menjelang kematiannya? Tapi 'kan... seharusnya ia melihat kembarannya, bukan kembaran orang lain!

"Aniki!" Sasuke menjatuhkan hampir semua berkas dipangkuannya ke atas lantai, dengan langkah tergesa menghampiri sosok itu. Mengejutkan si Blonde.

"Heh? Aniki?" masih menggigit bagian apelnya, Naruto memiringkan kepala ke samping, tanda tidak mengerti.

Dengan mantap, Itachi melangkah maju untuk menyalami sang adik, atau memeluknya... Ya, ia lebih dahulu menemui Sasuke daripada Ibunya yang entah sedang ada di mana. Ia juga tidak terlalu berharap bisa menemui sang ayah dan jam segini Ibu Suri pasti sedang asyik menonton dorama atau drama korea dengan judul erotis.

"Kapan kau sampai?" Suara Sasuke –anehnya, sedikit meninggi dan raut wajahnya menjadi relax. Meski Itachi yakin, sang adik tidak terlalu senang dengan kepulangannya, "Baru saja. Jadi bagaimana kabarmu?" Sang kakak meluruskan kaki, mengistirahatkan tubuh di atas sofa empuk di seberang Sasuke dan 'istri'nya. Yang memasang wajah kaku dan tidak sekalipun menaikkan pandangannya, membuat Itachi menyeringai licik. "Aku dengar kau menikah Sasuke... Jadi... Ini pasanganmu, yah?" godanya pelan.

Sasuke membalas seringai Itachi – ia mengerti betul keinginan Itachi yang bermaksud untuk menggoda Naruto. Ia paling suka dengan permainan pikiran milik sang kakak.

"Ah, iya... Ini Naruto." Ujarnya sambil memegangi kedua pundak si Blonde agar bertemu pandang dengan sang kakak.

"E-eh? Uhm... Se-selamat siang, saya Naruto." Naruto berdiri cepat lalu dengan kaku menunduk dalam-dalam (90 derajat), memberikan penghormatannya yang pertama pada sang kakak mertua.

Yang baru kali ini ia lihat.

Dan entah kenapa, Naruto jadi mengerti dari mana asal kelicikan Sasuke.

Itachi menusuri figure si Blonde hampir tidak berkedip, tidak melewatkan satu jengkal pun dari pengawasan mata tajamnya. Meneliti keaslian warna pirang di rambut Naruto, setelah mendapati bahwa bulu mata dan alisnya berwarna senada, ia cukup yakin warna itu bawaan lahir.

Tidak ada yang istimewa, pikirnya.

Memang imut, cukup manis, tubuh yang menggoda.

Tapi hanya sebatas itu saja. Apa bagusnya? Sampai membuat Sasuke rela menyerahkan kebebasannya sebagai pria lajang?

"Tipemu berubah ya, Otouto." Ujarnya pelan, sambil mengusap dagu. Itachi melepaskan scarf dari leher, mencoba membuat dirinya sesantai mungkin. Perjalanan dari Canada tidak sebentar. Ia yakin di malam ini akan tidur sampai besok siang.

Sasuke menatap sang kakak dari ujung matanya, "Hn." Memangnya kau saja yang menyadari itu? Ia berkata dalam hati.

Gumpalan kecil yang menarik perhatian Itachi dari tadi (yang jelas aneh, untuk ukuran tubuh Naruto, tidak mungkin 'kan seorang bangsawan terjangkit busung lapar?) otak dan nuraninya segera menyatu. Ia mengerti maksud dari perubahan anatomi badan si Blonde, menghitung dari jumlah bulan pernikahan mereka. "Fufufu... Kelihatannya progressnya berjalan nyata, ya?"

Sasuke mendengus, seringai tanda bangga terpasang di wajahnya.

Sementara itu, Naruto yang masih bingung, tidak bisa mengikuti arah pembicaraan dua kakak adik Uchiha di hadapannya.

Apa? Apa ini gaya bicara Uchiha? Penuh bahasa isyarat? Teriak si Blonde galau di dalam hati.

"E-eh? E-tto?" Naruto menggigit bibir bawahnya, merasa diserang oleh glare Itachi. Ia menarik ujung kemeja si Raven.

Merasakan gemetar dari tubuh Naruto, Sasuke dengan cepat menarik masuk si istri ke dalam pelukannya, "Yah... Maaf saja kalau aku mendahuluimu, Aniki." Ujarnya sambil menciumi dahi Naruto.

"Silakan saja, aku tidak peduli." Balas Itachi, yang kini harus melihat pertunjukkan 'french kiss' sang adik secara langsung.

.

Akhirnya Itachi memutuskan diri untuk menemui Ratu. Ia pun mengajak Sasuke bersamanya (Si adik, yang anehnya, memaksa Naruto untuk tinggal karena masih tidak sehat). Ia menyamakan langkahnya dengan Sasuke, menyusupkan tangannya ke dalam kantong celana. Itachi membuka obrolan, "Bagaimana dengan Raja? Apa beliau sehat?"

Bertahun setelah kepergiannya dari istana, entah kenapa ada sedikit kerinduan pada sang ayah. Sedikit.

"Hn," jawab Sasuke dengan dengusan. Tampak terganggu dengan angin sore yang dari tadi menerpa rambutnya.

Itachi mengerti bahasa isyarat Sasuke (toh, ialah yang mengajarkan bahasa itu pada Sasuke). "Baguslah... Oh, ya. Aku belum mengucapkan selamat atas pernikahanmu."

Menoleh sebentar, Sasuke membalas ucapan selamat dari sang kakak, "Aku tidak berharap apa-apa darimu."

"Che..." si kakak terkekeh, matanya menatap bangunan istana utama yang makin mendekat.

"..." Sasuke melirik Itachi, lalu mendengus pelan. Sebenarnya ia cukup terkejut dengan kepulangan Itachi. Ia memikirkan kenapa timingnya cukup tepat di saat ia yakin akan ada masalah datang dan ia membutuhkan bantuan.

Yah, bukan berarti ia begitu mengharapkan bantuannya...

Itachi menoleh, memasang wajah serius sambil berkata datar, "Wanita itu kembali lagi 'kan? Kau harus hati-hati." Ia menunjukkan kata-kata itu untuk Yuu. Memang dari awal, ia tidak pernah menyukai wanita itu... Apalagi sewaktu pengusiran Yuu dan Gaara dari istana, ia sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Latar belakang masalah, penyebab dan perlawanan Yuu.

Jadi, singkat kata. Wanita itu pasti kembali untuk membalas dendam.

Mendengus untuk kesekian kalinya hari ini, Sasuke membalas ucapan Itachi dengan santai, "Aku tahu." Toh, ia bukan anak kecil lagi sekarang.

Ia sudah punya seseorang yang membutuhkan perlindungannya.

Kembali tertawa kecil, Itachi menepuk pundak si adik pelan, "Hei, aku sudah pulang... Kau bisa menceritakan apa pun yang mengganggu pikiranmu." Ia berhenti tepat di depan tangga istana utama, sementara Sasuke lanjut menaiki tangga.

"Hn," Si Raven tersenyum kecil. Sangat kecil malah. Memperlambat langkah, menunggu sang kakak yang tiba-tiba berhenti.

Ia cukup mengerti, setelah sekian lama meninggalkan istana pasti saat kembali akan ada perasaan tidak enak dan canggung.

Toh, Itachi yang dianggap Sasuke sebagai 'setan paling licik', juga sempat menjadi manusia.

Manusia yang tentu mengenal rasa takut.

"Fu." Itachi memukul lengan Sasuke pelan, seolah-olah itulah cara ia berterima kasih.

Tidak peduli, si Raven mengikuti langkah sang kakak, merangkak naik ke depan gerbang pintu istana utama.

Melewati penjaga, beberapa dayang, yang memasang muka kaget dan tidak percaya, keduanya sampai di depan ruangan sang Ratu berada.

Menarik nafas dalam-dalam, Itachi memegangi pegangan pintu geser dengan keras, sementara Sasuke hanya diam sambil menatap bosan.

Ia sengaja menyuruh para penjaga untuk tidak memberitahukan kedatangannya.

Itachi tertegun, mendapati Ibunya duduk bersila menatap dokumen-dokumen. Wajah anggun itu, sanggulnya yang menjulang, juga untaian hanbok berkilauan yang dikenakannya. Semua hal-hal kecil yang luput dari perhatiannya, kini terlihat mencolok dan begitu menohok hati Itachi.

Kerinduan memaksanya untuk tersenyum.

"Itachi!" Ratu Mikoto mengangkat pandangan, menemui sosok anak sulungnya diambang pintu. Air mata memaksa keluar dari kelenjarnya, dengan cepat ia berdiri menyongsong Itachi.

Si anak melebarkan lengannya untuk menangkap Ratu Mikoto dalam sebuah pelukan hangat, "Ibu!" ia membenamkan wajahnya di leher sang ibu, menikmati wangi yang ia rindukan. Wangi yang selalu mengantarkannya ke tidur lelap.

Ratu Mikoto memerah, ia berulang kali menepuk punggung sang anak, "H-hei, ini tidak sopan, Itachi!" bisiknya, memaksa untuk marah. Tidak kontras dengan wajah senangnya yang pelan-pelan tampak di permukaan.

Seolah tidak peduli, Itachi menyusupkan tangannya di pinggang Mikoto, "Bu... Sekali ini saja... Aku sudah bertahun-tahun tidak pulang." Jawabnya pelan, menyembunyikan wajah di leher Mikoto.

Sasuke terdiam, lalu memutuskan untuk menjauh.

Menjauh dari mereka yang seolah-olah ingin mengejek sifat anti sosialnya.

.

Di salah satu ruangan istana Pangeran, terlihat Naruto tengah duduk bersila di depan meja pendek, ia membulatkan pipinya sambil memajukan badan ke arah Temujin yang memasang wajah kerepotan.

Temujin yang seharusnya memberikan pelajaran kini dipaksa si Blonde untuk menjelaskan strata tingkatan Pangeran jika ditambahkan Itachi. Yah, termasuk pelajaran juga... Tapi, ia tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang tidak wajar mengenai mantan putra mahkota.

Ia tidak ingin menimpakan lagi masalah ke pundak Naruto.

"Eh? Aku tidak mengerti Temujin~ Coba jelaskan lambat-lambat..." keluh Naruto, menggaruk-garuk kepalanya.

Menghela nafas untuk kesekian kalinya, Temujin memegangi map hitam di tangannya, lalu memulai menjawab si Blonde, "Ufh... Begini, Yang Mulia, menurut pangkat yang ada tahun ini, Itachi-sama berada di posisi ketiga jika dihitung dengan keberadaan Pangeran Gaara." Ia berujar lambat, berharap Naruto segera menangkap maksud dari ucapannya.

Masih agak lambat mengerti, Naruto memiringkan kepala ke samping, "Kenapa begitu?" tanyanya sambil menggigit kuku.

Mengelus kepalanya yang pusing, Temujin mencoba bersabar dan kembali bersuara lambat, "Dikarenakan, posisi putra mahkota yang seharusnya milik Itachi-sama, tidak berlaku lagi sejak tiga tahun lalu. Ia mengundurkan diri dari tahtanya dan memilih tinggal di luar negeri."

Si Blonde mengerucutkan bibir, "Egoiiisnya... Jadi, dia itu menyerahkan segalanya untuk Sasuke?" ia mencibir pelan.

Kembali menghela nafas, Temujin cukup bersyukur Naruto sudah mengerti maksud dari perkataannya "Ya, walaupun begitu... Ia menyerahkan tahtanya karena masalah lain." Ia berujar sambil membulatkan dua telapak tangan di atas map hitam.

"Masalah apa?" Naruto mengernyitkan alisnya yang kecoklatan, tampak semakin penasaran.

Mengalihkan pandangannya ke arah lain, Temujin sepertinya salah berucap dan menyesali kelalaiannya. Bagaimana pun juga, ia tetaplah kasim istana yang harus menjaga kebanggaan bangsawan yang sempat ia layani, "Uhm... Saya tidak bisa mengatakannya, Yang Mulia."

"Ehhhh? Kenapa?" Sang bangsawan kecewa, semakin memajukan bibirnya keluar. Ia benar-benar ingin tahu, soal pria menakutkan itu... Kenapa ia harus muncul sekarang? Kenapa semuanya harus terjadi sekarang.

Masih tidak mampu membalas tatapan memelas Naruto, Temujin masih kekeuh menolak menjawab, "Ini di luar wewenang saya."

"Ah... Membosankan..." Naruto melipat tangan dan menenggelamkan kepalanya di atas meja, yang penuh dengan dokumen-dokumen tua menyangkut sejarah kerajaan. Temujin lagi-lagi menghela nafas, kali ini nafas lega, ia tersenyum simpul sambil meminta maaf dalam hati. Dalam perjanjiannya saat masuk ke istana, ia sudah menetapkan diri akan berusaha sebaik-baiknya mengendalikan semua rahasia yang sudah dipercayakan padanya.

Apa lagi untuk rahasia sebesar ini... Bukan waktu yang tepat bagi Naruto untuk mengetahuinya.

Bahkan jika bisa, ia tidak perlu mengetahuinya sama sekali.

TOK-TOK.

Terdengar ketukan pelan dari luar ruangan, terlihat bayangan kepala nanas dan Temujin dengan segera mengetahui identitas dari pemilik bayangan tersebut.

"Ah? Ada apa, Shikamaru-san?" Si kasim segera berdiri menyongsong pintu dan membukanya sedikit. Ia cukup terkejut menemukan ekspresi serius di wajah bosan Shikamaru.

Shikamaru tampak melipat sebuah amlop cokelat dalam genggamannya, "Bisa keluar sebentar?" ia berbisik kecil sekali. Temujin mendapati cahaya ketakutan di mata cokelat Shikamaru, si kasim semakin curiga.

Tak disangka Naruto dengan cepat membuka lebar pintu geser dan mendorong Temujin keluar, ia tersenyum lebar, "Eh? Kalian berdua ini~ apaan siiih... Ngobrol berdua saja!" suaranya terdengar lebih ceria dan meninggi.

Tidak sesuai dengan raut muka Shikamaru yang tiba-tiba saja mengeruh. Layaknya wajah orang yang baru saja menerima kabar kematian atau baru saja tertimpa sial, mengundang kecurigaan Temujin semakin dalam.

Memahami keinginan Shikamaru, Temujin segera berdiri di depan si Blonde sambil memegangi bingkai pintu geser menggunakan dua tangannya.

Ia mencoba menghalangi mata penuh rasa ingin tahu Naruto, "Maaf, Naruto-sama. Bisa tinggalkan kami?" katanya sambil tersenyum formal.

Di balik punggungnya Shikamaru dengan cepat menyadari perubahan ekspresi wajahnya dan terburu-buru menyembunyikan amplop dipegangan ke dalam jas.

"Eh? Oke-oke! Dasar gak asik!" Naruto kembali masuk ke dalam ruangan lalu meraih PSP dari dalam laci lemari. Temujin menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini, berterima kasih pada kelemotan si Blonde,lalu menutup pintu rapat-rapat.

Ia mengangguk pada Shikamaru, memutuskan bahwa tempat ini tidak cocok untuk berdiskusi dan ia sudah memperkirakan bahwa Shikamaru sudah tentu akan membicarakan hal super penting.

Atau mungkin super gawat.

Perasaannya semakin tidak tenang sewaktu mengikuti Shikamaru berjalan ke ruangan jauh di belakang istana.

Mereka berdua berhenti tepat di depan pintu gudang. Setelah menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitar dengan gemetar, Shikamaru mengeluarkan amplop cokelat lusuh dari dalam jasnya.

Temujin mengenyitkan alis, menggigit bibir bawahnya sambil menerima amplop itu.

Ia harus memastikan apakah penglihatannya benar setelah melihat lembaran-lembaran foto kusut dari dalam amplop.

Tidak ia sadari, tangannya sudah bergetar dan keringat dingin turun dari pelipis.

"Da-dari mana asalnya barang ini?" ia pun tidak bisa bersuara lurus, euforianya dipenuhi oleh ratusan rasa yang tumpah ruah menyesaki intuisi dan akal sehat.

Shikamaru menggeleng berulang kali, ekspresinya pun tidak lebih baik dari Temujin. "Entahlah... Aku menemukan ini tadi pagi, di kotak surat di istana ini." Ia menutupi dahinya yang penuh keringat.

Semakin tidak mengerti dan terkejut, "A-pa? Artinya surat ini melewati pengawasan istana? Tidak mungkin!" nada suaranya meninggi, ini sangat mengejutkannya sampai ia lepas kendali seperti ini.

Kenapa? Apa ini konspirasi untuk menggulingkan Naruto? Sasuke? Atau mungkin Itachi?

Siapa manusia licik yang melakukan ini?

"Benar! Hal yang seharusnya tidak terjadi! Aku mencurigai keterlibatan orang dalam..." ucapan Shikamaru pun tidak meringankan beban dipundaknya, yang tiba-tiba saja semakin memberat.

Foto-foto itu semakin kusut dalam pegangannya sama halnya dengan dahi Temujin yang berkedut-kedut penuh guratan amarah.

Menarik nafas dalam-dalam, Temujin berusaha menemukan ketenangan dari dasar hatinya, ia tidak boleh seperti ini... Ia harus berkepala dingin dan membantu Naruto sekuat tenaga. Ia tidak boleh membuat sang bangsawan kembali berduka dan menyaksikkan wajah sedih itu sekali lagi, "Aku harus segera melaporkan ini ke Yang Mulia Ratu."

"Ah! Jangan dulu Temujin-san! Aku pikir lebih baik jika mendiskusikan ini dengan Shisui-san. Ia 'kan tangan kanan permaisuri." Saran si kepala nanas bijak. Ia pun sudah kembali ke dirinya.

Temujin tersenyum kaku, lalu memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop.

"Baiklah. Ayo segera bergerak."

.

Angin mengetuk-ngetuk kaca jendela, sedikit menganggu konsentrasi Naruto dari layar PSP hitamnya. Ia berulang kali harus me-restart permainannya yang harus kalah di tengah jalan. Pikirannya semakin jenuh saat melihat kali ini ia pun tidak akan menang melawan com.

Padahal ia sudah membuat chara utama dilengkapi persenjataan dan social linknya penuh hingga menggabungkan beberapa persona. Kali ini persona trinity yang selalu ia sukai tampak terlalu sulit dan memberatkan pikirannya.

Seandainya ia bisa me-restart hidupnya...

Atau paling tidak melengkapi diri dengan senjata.

Selama ini ia memasang wajah ceria dan seolah-olah sudah melupakan semua kejadian suram yang ia alami... Padahal sebenarnya, ia masih terluka dan takut.

Ia masih sering bermimpi buruk.

Mimpi di mana ia kehilangan semua yang ia miliki sekarang.

Dunia saat hampir seluruh orang berbalik dan melupakannya.

Mengatupkan kelopak matanya rapat-rapat, Naruto bisa melihat kembali gambaran mimpi menakutkan itu.

Berulang kali ia ingin mengatakan mimpi ini pada orang lain... Pada Sasuke... Agar, paling tidak beban di punggungnya sedikit berkurang... Namun, ia tidak bisa...

Semakin ia pikirkan dan coba katakan...

Semakin ia takut bahwa semua itu akan benar-benar menjadi kenyataan...

Suara game membangunkan Naruto dari pemikirannya, ia ternganga menatap layar PSP yang kini berkedip-kedip di atas meja.

Dalam sekejab ia mendapatkan lagi semangat untuk bangkit...

Entah dari mana...

Mungkin dari perutnya yang kini mulai membesar.

Saat kekalahan semakin intens, Naruto dengan kesal mendorong PSP-nya jauh-jauh. Sambil mengerucutkan bibir, ia menatap sekeliling ruangan dan tetap tidak menemukan apapun yang menarik.

Setelah meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku, si Blonde berbaring di atas lantai tatami dengan kedua tangan melebar.

"Huh... Membosankan..." sungut Naruto sambil menguap.

Ia sama sekali tidak menyadari sesosok bayangan berdiri di depan pintu ruangan, "Hei." Pintu terbuka sedikit, terungkaplah identitas asli si bayangan.

Mata birunya melebar, "Ah? G-gaara-denka..." ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan si rambut merah itu.

Ia malah hampir melupakan keberadaannya setelah kejadian waktu itu.

Ia bingung harus memasang ekspresi apa.

Si Red-headmengenakan kemeja hitam dengan t-shirt abu-abu sebagai dalaman lalu celana jeans hitam kusam. Ia benar-benar terlihat 'sedikit' kacau dari dirinya yang biasa. Bahkan rambut merahnya tidak lagi berkilau dan wajahnya pucat.

Gaara membuka pintu geser lebar-lebar agar ia muat untuk masuk ke dalam ruangan sementara itu, Naruto segera bangun dan melipat kakinya membentuk posisi duduk bersimpuh.

Tampak agak tidak nyaman, Gaara menatap Naruto dengan pandangan sedih, "Uh... Apa kabar?" sapanya pelan. Dalam hati, baik Naruto dan Gaara sudah berteriak-teriak putus asa.

Sedikit terkaget, Naruto mencoba menjawab sapaan itu dengan normal, "Uhm-... B-baik kok.." uuh... ia malah terbata.

Tersenyum kecil, Gaara mengambil posisi duduk tidak jauh dari Naruto, namun jarak mereka tidak sedekat dulu. Mau tidak mau si Red-head masih merasa tidak pantas untuk bersikap friendly dengan Naruto. Ia sungguh menyesal sampai tidak bisa tidur. Ia benar-benar malu, kenapa bisa terbakar api cemburu sampai mampu berevolusi ke bentuknya yang terburuk.

Ia mengambil nafas dalam-dalam, mencoba menemukan keberanian dalan tumpukan rasa bersalah di dalam hati, "Hei... Begini.. Aku mau minta maaf soal kemarin." Gaara berkata lambat, matanya menatap lurus ke arah lantai.

Kembali terkejut, Naruto mengulum bibirnya, ia pun semakin gugup dan bingung harus berkata apa. "Kemarin? A-ah... Iya. Tidak apa-apa kok."

Naruto bingung... Maaf? Kenapa maaf? Apa yang perlu dimaafkan?

"…" Gaara mencengkram tangannya kuat-kuat, ia begitu merasa bersalah... Mengapa Naruto hanya berkata seperti itu? Apa ia tidak mau memaafkannya? Atau malah tidak menyadari kemarahannya waktu itu? Ia kehabisan alasan dan kata-kata...

Apa mata biru itu benar-benar sudah dibutakan oleh pesona Sasuke?

Merasakan adanya ketidak-yakinan, Naruto mencoba tersenyum lebar sambil menggaruk kepala belakangnya, "Eh? Beneran! Aku nggak apa-apa kok." Ia pun mengeluarkan suara ceria, meski yakin pasti sangat terdengar dibuat-buat.

Meneguk ludah yang semakin mengeringkan tenggorokannya, Gaara mengangkat pandangan menemui wajah Naruto, "Jadi... Kabar itu... Benar?" tanya Gaara, ia sendiri hampir tidak percaya pada mulutnya yang bersuara.

Pundak Naruto mengejang, "Kabar? Ah? Itu bener kok... Masa hal begitu aku bohong." mengerjabkan matanya beberapa kali. Ia baru mengerti maksud pertanyaan Gaara. Ia menjawab malu-malu, dengan pipi bersemu, Naruto mengalihkan penglihatan ke arah lain, tanpa sadar tangan kanannya sudah berada di atas perut.

Si Red-head tidak merasakan air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Ia bahkan tidak waspada saat isakan menyusup keluar, "... Uh." Tiba-tiba saja, satu persatu butiran air asin itu turun tanpa menyentuh pipinya.

Padahal ia sudah berjanji tidak akan menangis lagi...

Lalu kenapa sekarang?

Kenapa harus di depan orang yang begitu berharga baginya?

Apa karena... Karena kini ia tidak lagi bisa memiliki Naruto?

Melihat tetesan air mata membasahi punggung tangan Gaara, Naruto dengan cepat mengangkat matanya dan menemui wajah penuh emosi milik si Red-head. "Eh-eh? Denka? Gaara-denka? Ke-kenapa?" ia membingkai wajah Gaara dengan kedua tangannya, mencoba menghapus jejak air mata di pipi dan ujung mata si pangeran.

Gaara mencoba menghentikan isakan dan tangisannya, namun ia begitu rindu pada sentuhan Naruto hingga tidak mampu berpikir lagi. Tanpa pikir panjang, ia segera mengalungkan lengannya, merangkul si Blonde dalam dekapan, mencoba mengerti kenapa kehangatan itu bisa mengacaukan ketenangannya, "A-ku... Uuuh..."

Naruto tidak mampu berbuat banyak, karena merasa begitu bersalah ia tidak mencoba melepaskan pelukan Gaara, "J-jangan nangis... Eh..." dengan lambat, ia mengelus punggung si pangeran seperti yang ibunya sering lakukan dulu. Tetesan air mata kini membasahi permukaan lehernya, Naruto tidak tahu harus bagaimana lagi, ia kehabisan kata-kata untuk menghentikan tangisan Gaara.

Mungkin Gaara butuh waktu.

Waktu untuk mengerti.

Sebab Naruto tidak pernah berpikir tentangnya melebihi Sasuke.

Dan ia akan selamanya jadi 'teman' untuk Naruto.

.

Hampir dua jam Gaara tidak mau melepaskan dekapannya sampai Naruto mengeluh tidak bisa bernafas. Si pangeran meminta maaf berulang kali dengan mata bengkak serta muka merah akibat menangis, Naruto hanya tertawa dan langsung memaafkannya. Walau tidak mengerti apa alasan si pangeran kedua menangis. Ia maklum dan sadar bahwa setiap manusia membutuhkan waktu di mana mereka bisa berhenti sejenak dan menjadi egois.

Ia merasa beruntung bisa menjadi orang yang melihat air mata si pangeran.

Ia pun yakin bahwa air mata itu sangat langka, mengingat sifat Gaara yang begitu cool dan sangat menjaga image.

"Uwaaaaah... Capek!"

Memegangi pundaknya yang sedikit nyeri, Naruto berjalan menjauhi pintu utama istana setelah mengantarkan kepulangan si pangeran kedua, ia menuju kamarnya untuk mendapatkan tidur yang layak.

Sekejab pikirannya segera melayang pada Sasuke yang belum kembali sejak tadi siang, namun ia hanya tersenyum kecil sambil menyakinkan diri sendiri bahwa si putra mahkota pasti pulang nanti malam.

Cahaya matahari yang kemerahan menerangi koridor istana melalui cela-cela jendela di dinding. Sebelum mencapai lokasi kamarnya, Naruto melewati sebuah ruang kosong tempat menyimpan berkas-berkas. Matanya segera tertumpuk pada sebuah amplop cokelat tebal di atas lantai.

"Heh? Apa ini? Aku tidak pernah lagi dapat surat sejak masuk istana." tangannya meraih amplop itu dari atas lantai, tanpa pikir panjang segera membukanya.

Menemukan lembaran-lembaran foto ukuran besar.

Pikirannya membeku untuk beberapa detik.

Lalu dunia di sekitarnya mulai berputar begitu cepat dan mual menghampiri.

Pandangannya menggelap, seperti ada puluhan titik hitam mengaburkan mata.

Hatinya lagi-lagi kembali retak.

Ada sebuah belati menusuknya.

"S-a? Sasuke? I-ini... Pa-pasti bohong 'kan…?" Naruto bersuara serak, hampir seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Begitu banyak foto adegan Karin dan Sasuke di berbagai tempat.

Mereka tertawa.

Bergandengan tangan.

Saling berbalas senyum.

Berciuman dengan bebas di taman kota.

Duduk berdekatan sambil menikmati snack.

Melakukan semua hal yang sepasang kekasih wajar lakukan.

Hal-hal yang bahkan belum pernah Naruto rasakan.

Karin dan Sasuke…

Sasuke…

Saat ia harus menanggung fakta kehamilannya yang begitu mengejutkannya, si putra mahkota malah bersenang-senang.

Bersama orang lain.

Bukan dirinya.

Kenapa harus begitu menyakitkan?

Kenapa harus begitu menyedihkan?

Kenapa ia harus begitu lemah?

Kenapa Sasuke?

Naruto tidak peduli pada tubuhnya yang mulai terasa ringan dan bergerak jatuh tertarik gravitasi.

Atau pada lembaran-lembaran foto yang berterbangan di udara sekitarnya.

Ia hanya menginginkan kedamaian sekarang.

Dalam kegelapan abadi.

terkadang ia menyalahkan cintanya yang begitu besar pada Sasuke, sampai-sampai mau membuang harga diri dan moral.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

6886 words! Diitung tanpa gue masukin Author notes! UWOW~ panjang banget ya…

= w =

Makasih bgt buat yang udah nyempetin review~ [ yang mau reviewnya gue bales, ngomong ajah~ ntar gue PM~ asal punya akun ffn ] Yang mau di add fb, tulis ajah ntar gue add.

Terus yang pertama kali ngereview, SANKYUU~ -hug, HUG! Makasih udah mau mencintai gue. Hehehee

Yang minta ide… GUE JUGA MAU IDE! Huhuhu…

Yang udah SMS… Makasih ya. w v

(buat yang nunggu apdetan fic gue, mending kalian alert fic ini ajah… Jadi kalo diapdet, pemberitahuannya langsung masuk ke e-mail eluh~)

Percakapan nggak penting dengan beta

Tanya: kira2 kemana ajah gue 3 bulan ini? hibernasi

Jawab: Ujian? Maen game? Ujian? Maen game? Euh, gw udah nyebut maen game belom? XDD

Tanya: kangen gak ama gue? –LOL

Jawab: Kangeeennnn~…. Ama fic-nyah… *kicked*

Tanya: gue ngeselin ya? XDD

Jawab: Hohohohohohoho, tentu tidak… Paling ntar gw kirim paket kilat isi bom klo lewat 6 bulan ga apdet…(- ) *twitch*

*Beta's comment : Fiuuhh, akhirnya cooling down dan bisa sdikit tarik napas, karena sebelumnya cenatcenut, tarik urat, nyesek, mbleberan aer mata, cekotcekot (ShiroChan, lo mw ngebunuh gw n reader ya?). Fluff, Sasuke tobat, Karin tobat, Tachi-nii is back… *sigh* Tapi… endingnya bikin jantungan lagi, beneran mati deh gw.."orz
Adegan ranjang SasuNaru, *ehem* maksudnya pas mereka lagi di tempat tidur, dengan Sasuke yang arah otaknya selalu 'ke sana' itu mengingatkan saia sama Brian/Justin-nya 'Queer as Folk', tv series yg baru2 ini saia gandrungi… Ada yang tau?
Ayo, semangat, ShiroChan~! Good luck buat turnamennya~
~(˘˘~) ~(˘˘)~ (~˘˘)~

*nari hula2*

OKEH REVIEW MINNA!